• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan sempit. Secara umum, kontrak yang ada mungkin memiliki implikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan sempit. Secara umum, kontrak yang ada mungkin memiliki implikasi"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Perjanjian

Menurut J. Satrio perjanjian dapat diartikan Dapat diartikan secara luas dan sempit. Secara umum, kontrak yang ada mungkin memiliki implikasi hukum yang diinginkan oleh para pihak (dan dianggap diinginkan). Dalam arti sempit, perjanjian ini hanya dipetakan pada hubungan hukum di bidang hukum harta benda1. Menurut Muhamad Abdul Kadiria mereformasi pengertian Pasal 1313 KUHPerdata2 sebagai berikut: Yang dikatakan perjanjian adalah perjanjian di mana dua orang atau lebih saling berjanji untuk melakukan sesuatu di bidang properti.3

Profesor Subekti menjelaskan pengertian kontrak sebagai berikut.

“Hubungan hukum antara dua atau dua pihak karena salah satu pihak berhak menuntut sesuatu dari pihak lain dan pihak lain berkewajiban untuk

memenuhi tuntutan itu,”4 Lewat adanya kontrak maka akan timbul perikatan ubungan hukum yang membawa hak dan kewajiban semua pihak yang mengadakan kontrak. Ini berarti mematuhi isi kontrak yang dibuat oleh para pihak dalam kontrak. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kontrak mempunyai

1 Satrio, 2001. Hukum PerikatanPerikatan Yang Lahir Dari Perjanjian Buku I.

2 1313 KUHPerdata

3 Muhammad, Abdulkadir, 2000. Hukum Perdata Indonesia. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

4 https://www.jurnalhukum.com/pengertian-perikatan

(2)

fungsi yang sama dengan hukum, tetapi hanya berlaku bagi pembuatnya secara khusus.

Yahya Harahap Secara singkat, mengemukakan definisi perjanjian sebagai berikut: Relevansi hukum properti antara satu orang atau lebih yang memberi mereka kekuatan untuk hak untuk mendapatkan manfaat dan kewajiban untuk memenuhi kewajiban pihak lain untuk mendapatkan keuntungan.”.5

Suatu perjanjian dapat dikatakan sah dan dikelompokkan kedalam 2 bagian, yaitu syarat subyektif dan obyektif. Syarat subyektif sendiri merupakan syarat yang berhubungan dengan para pihak, jika syarat ini tidak dipenuhi maka dapat dibatalkan, selama perjanjian yang disebut tidak terpenuhi itu belum dibatalkan maka perjanjian tersebut tetap mengikat seperti perjanjian yang bersifat sah6. Lalu ada syarat obyektif merupakan syarat yang berhubungan dengan obyek perjanjian sesuai dalam Pasal 1320 KUHPerdata,7 dengan ketentuan:

a) Harus ada kesepakatan dari para pihak yang membentuk perjanjian.

b) Harus ada keahlian dalam membentuk perjanjian.

c) Terdapat objek yang nanti digunakan untuk perjanjian.

d) Sesuai dengan ketentuan UU dan tidak dilarang.

5 Harahap, M. Yahya, 1986. Segi-Segi Hukum Perjanjian. Cetakan Kedua. Bandung: Alumni

6 Hartana, 2016. HUKUM PERJANJIAN (DALAM PERSPEKTIF PERJANJIAN KARYA PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN BATUBARA)

7 Pasal 1320 KUHPerdata

(3)

Berbeda dengan syarat subyektif, syarat obyektif jika tidak terpenuhi maka perjanjian tersebut akan dibatalkan demi hukum (null and void) (J. Satrio).

B. Leasing (Sewa Guna Usaha)

Leasingdiambil dari kata berbahasa Inggris ‘to lease’ yang memiliki arti “menyewakan”, leasing biasa disebut sebagai sewa guna usaha.

Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bersama Menteri Perindustrian, Perdagangan, juga Menkeu No. N.KEP-122/MK/IV/2/1974, Nomor32/M/SK/2/1974, Nomor 30/Kpb/l/1974 mengenai pemberian izin terhadap usaha leasing, Leasing memiliki definisi yaitu penyediaan biaya bagi perusahan dalam wujud barang modal yang akan digunakan dalam kurun waktu yang telah ditentukan, berdasarkan pembayaran yang dilakukan berkala dan juga hak pilih perusahaan dalam membeli barang modal atau melakukan perpanjangan waktu leasing yang didasarkan pada nilai sisa yang sesuai kesepakatan. Berdasarkan Kepmenkeu RI No. 1169/KMK.01/1991 Mengenai Kegiatan Sewa Guna Usaha, Pasal 1 huruf (a) , Leasing berarti mendanai suatu perusahaan dalam bentuk barang modal yang dilaksanakan dengan hak pilih (finanace leaset) atau dilakukan tanpa hak pilih (operating lease) yang akan digunakan dalam kurun waktu tertentu berdasarkan pembiayaan secara berkala.

Pengertian pembayaran konsumen adalah kegiatan sebuah lembaga yang dilaksanakan untuk melakukan pembiayaan dengan menyediakan dana untuk Mengutamakan kebutuhan debitur, debitur membayar sesuai kesepakatan

(4)

yang disepakati. Istilah bahasa Inggris untuk pembiayaan konsumen adalah pembiayaan konsumen. Pembiayaan konsumen sama dengan kredit konsumen.

Perbedaannya hanya pada lembaga pemberi dana. Perusahaan keuangan bertanggung jawab untuk menyediakan biaya pembiayaan konsumen, sedangkan tugas Bank memberikan kredit konsumen. Kredit konsumen di Inggris diatur dalam Undang-Undang Kredit Konsumen 1974 (Consumer Credit Act, 1974).8

Menurut Equipment Leasing Association, "sewa adalah perjanjian antara lessee dan lessor mengenai sewa peralatan modal yang dipilih oleh lessee. Lessor berhak memilih barang modal dan lessee berhak menggunakan barang tersebut menurut sewa tetap untuk waktu tertentu. Dari pengertian di atas, kia dapat menarik kesimpulan bahwa lessing perlu terdiri dari beberapa unsur pengertian, yaitu:

a. Keuangan Perusahaan

b. Menyediakan barang modal

c. Periode tertentu

d. Pembayaran pada tahap

e. Ada hak opsi .

f. Ada nilai sisa yang diakui C. Perjanjian Sewa Guna Usaha

8 Undang-Undang Kredit Konsumen 1974 (Consumer Credit Act, 1974).

(5)

Pasal 1338 KUH Perdata9 adalah dasar hukum utama, sebab pada pasal ini telah mengatur tentang perikatan. Setiap perikatan yang telah diciptakan oleh suatu pihak maka perikatan tersebut diberlakukan sebagai UU oleh pihak yang membuat. Pasal tersebut adalah suatu cerminan dari asas “kebebasan berkontrak”. Asas ini diartikan sebagai suatu asas yang mana para pihak diberi kebebasan dalam membuat kontrak dan kebebasan mengatur kontrak, dengan syarat harus sesuai dengan ketentuan pada perjanjian (Pasal 1320 KUHPdt), tidak adanya larangan dari UU, sesuai dengan hal yang wajar terjadi, dan pelaksanaannya harus disertai itikad yang baik.

Menurut Keputusan Menteri Keuangan No1169/KMK.01/1991 Pasal 910, terdapat perjanjian yang harus ada dalam sewa guna usaha, antara lain:

a. Macam-macam kesepakatan pembayaran sewa guna usaha;

b. Nama beserta alamat dari pihak-pihak;

c. Nama, versi, macam-macam dan tempat pemakaian barang modal;

d. Jangka waktu sewa guna usaha;

e. Pilihan untuk lessee dalam hal kesepakatan pembayaran sewa guna usaha;

f. Adanya tanggung jawab pihak atas barang yang disewakan atau barang modal.

9 Pasal 1338 KUHPerdata

10 Keputusan Menteri Keuangan No1169/KMK.01/1991 Pasal 9

(6)

g. Total Harga Pendapatan, Pembayaran, Jumlah Pinjaman, Pinjaman Pokok, Biaya Jasa Sewa, Deposit, Nilai Sisa, Klausul Jaminan Barang Modal Sewa.

h. Ketentuan untuk memfasilitasi penghentian operasi leasing dan menentukan kerugian barang modal dan kerugian yang ditanggung oleh lessee karena kerusakan barang modal.11

Berdasarkan perjanjian-perjanjian diatas maka sewa guna usaha memilki beberapa sifat, yaitu:

a. Konsensual merupakan pejanjian dimana para pihak melakukan kesepakatan mengenai brang-barang modal beserta harganya, yang berarti perjanjian sewa guna usaha tercipta saat sudah dilakukan kesepakatan mengenai kurun waktu kontrak dan masa barang modal secara murah dan pembayaran dilakukan secara bertahap;

b. Formal merupakan perjanjian kesepakatan yang dilakukan oleh para pihak disertai pernyataan dalam akta tertulis, sehingga pada perjanjian ini selalu disertai dengan surat perjanjian yang dibentuk oleh lessor;

c. Perjanjian sewa guna usaha memiliki sifat mengikat merupakan perjanjian yang lessor bentuk dan lessee secara sah terikat dengan UU;

d. Asas kepribadian dari perjanjian sewa guna usaha, dimana pada hal ini terkandung hak dan kewajiban bagi lessor juga lessee. Kewajiban lessor

11 Yatini, dan Wahyuni Safitri, Penyelesaian Sengketa Konsumen Di Lembaga Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Samarinda, 2014.

(7)

yaitu memberikan barang modal, sedangkan lessee memiliki kewajiban menerima dan memakai barang modal yang diberikan lessor setelah mereka memenuhi kewajiban terhadap perjanjian sewa guna usaha.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa perjanjian sewa guna usaha hanya terikat pada lessee dan lessor.12

1. Proses Terjadinya Sewa Guna Usaha

a. Proses Pra-kontraktual (sebelum dilakukan perjanjian) Proses ini memiliki beberapa kegiatan, yaitu sebagai berikut:

1. Negosiasi (tawar menawar) adalah proses pertama yang ditempuh calon lessee dengan supplier, mereka melakukan tawar menawar dalam hal menentukan dan menawarkan harga dan barang modal sewa guna usaha;

2. Konfirmasi (pemberitahuan) adalah proses berikutnya yang ditempuh pihak lessee dan supplier setelah mereka mencapai kesepakatan barang modal sewa guna usaha beserta biayanya, Penyewa kemudian mengajukan aplikasi kepada lessor yang meminta penyediaan opsi pinjaman sewa. Pada langkah ini, calon penyewa harus melengkapi aplikasi yang disediakan oleh pemilik.;

3. Melakukan pengecekan kelayakan, melakukan pemeriksaan formulir permohonan, persyaratan, melakukan pengamatan terhadap usaha yang dilakukan oleh calon lessee;

12 Ibid.

(8)

4. Keputusan adalah tahap akhir bagi pihak lessor menentukan keputusan mengenai fasilitas sewa guna usaha akan diserahkan kepada calon lessee atau tidak13.

b. Tahap Kontraktual (terjadinya perjanjian)

Proses ini adalah tahap dimana dilakukan penandatangan perjanjian antara pihak calon lessee dengan pihak lessor. Penandatanganan perjanjian tersebut adalah bentuk kesepakatan lessee terhadap isi perjanjian yang sudah pihak lessor bentuk. Tahap ini menjadi tanda bahwa kedua belah pihak antara lessee dan lessor sudah setuju untuk melakukan hak dan kewajiban mereka masing- masing berdasarkan perjanjian yang ada.10

2. Hak dan Kewajiban Lesee dan Lessor a. Hak dan Kewajiban Lessee

Lesse memiliki hak dalam perjanjian sewa guna usaha, yaitu sebagai berikut:

1) Memperoleh fasilitas berupa dana yang digunakan untuk membeli peralatan modal sewa dari lessor. Secara hukum, kepemilikan barang adalah milik lessor, dan lessee hanya menguasainya secara fisik (beneficiary). Penyewa menjadi properti hanya jika dia membayar sewa secara penuh dan menggunakan hak suaranya.

13 Ibid.

(9)

2) Barang yang dibawa oleh pemasok akan diterima tepat waktu sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam proses pembelian.

3) Setelah masa kontrak berakhir, penyewa dapat menggunakan hak suara.

Lessee juga memiliki kewajiban pada perjanjian sewa guna usaha:

1) Pembayaran sewa bulanan sesuai jumlah dan jangka waktu yang ditentukan.

2) Asuransikan barang sewaan itu sendiri atau tunjukkan kepada lessor.

3) Pembayaran nilai sisa pada saat opsi untuk membeli aset sewaan dilaksanakan.

4) Seorang akuntan bersertifikat akan meninjau dan membuat catatan untuk diberikan kepada pemilik. 14

b. Hak dan Kewajiban Lessor

Lessor memiliki hak dalam perjanjian sewa guna:

1) Tanda terima angsuran sewa yang dibayarkan oleh penyewa untuk jumlah dan jangka waktu yang disepakati.

2) Bukti kepemilikan properti sewaan.;

3) Lessor mengarahkan lessee agar melakukan pembayaran angsuran, menuntut return, melakukan pengakhiran perjanjian secara sepihak apabila terjadi sesuatu hal seperti kelalaian lessee, harga barang yang merosot, lessee mengalami kebangkrutan, lessee terlibat masalah perdata atau pidana, lessee

14 Ibid.

(10)

lalai dalam menjaga barang sehingga terjadi kerusakan atau barang hilang.

Lessor memiliki kewajiban dalam perjanjian sewa guna usaha:

1) Menyerahkan pendanaan kepada lessee dalam hal membeli barang yang telah menjadi objek perjanjian.

2) Memberikan barang secara tepat waktu, hal pertama yang harus lessor lakukan adalah menghubungi pihak supplier.

3) Setelah lessee memanfaatkan hak pilihnya untuk membeli, maka lessor harus memberikan bukti pengalihan hak milik barang objek perjanjian kepada lessee15.

3. Tanggung jawab Para Pihak

Lessee memiliki tanggung jawab, meliputi:

a. Penggunaan barang, lessee memiliki tanggung jawab terhadap barang objek perjanjian, lessee harus menggunakan barang tersebut dengan baik;

b. Merawat barang, lessee wajib mematuhi nasihat dari supplier mengenai perawatan dan penyimpanan barang;

c. Jika penyewa mendeteksi cacat yang terlihat atau tidak terlihat pada barang yang tercakup dalam kontrak, tetapi tidak segera melaporkannya kepada pemasok (7 hari setelah pengiriman barang), penyewa harus

15 Ibid.

(11)

bertanggung jawab untuk kinerja berikutnya: Harus. Kewajiban sebagai pihak dalam kontrak.

d. Segala yang terjadi terhadap barang perjanjian secara penuh lessee harus bertanggung jawab seperti ketika adanya kerusakan atau kehilangan dalam keadaan apapun16.

Lessor memiliki tanggung jawab, meliputi:

a. Jika lessor menerima tanda terima barang dan permintaan pembayaran, lessor bertanggung jawab penuh untuk membayar pemasok untuk pembelian barang yang dikontrakkan.

b. Pemberi pinjaman bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pemasok mengirimkan barang tepat waktu dan sesuai dengan yang ditentukan dalam pesanan.;

D. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen

Dalam UU mengenai Perlindungan Konsumen terdapatt dua jenis cara dalam menyelesaikan sengketa konsumen yaitu dengan melalui pengadilan dan luar pengadilan. Dalam Pasal 45 ayat (1) UUPK menyatakan : “Apabila konsumen merasa telah mengalami kerugian akibat pihak pelaku usaha maka konsumen dapat menggugatnya melalui lembaga yang mampu menyelesaikan sengketa lewat peradilan yang ada di lingkungan peradilan umum”. 17

16 Ibid.

17 Pasal 45 ayat (1) UUPK

(12)

Cara menyelesaikan sengketa di luar lingkungan peradilan ternyata baru diketahui lewat Pasal 47, sedangkan Pasal 45 malah menyatakan bahwa lembaga khusus berperan dalam menyelesaikan sengket di luar pengadilan18. Pasal 47 UUPK19 menyatakan : “Menyelesaikan sengketa di luar pengadilan dilaksanakan guna mendapatkan kesepakatan tentang besaran ganti rugi atau tentang tindakan yang dilakukan untuk menjamin tidak terulangi lagi masalah kerugian yang dialami konsumen”20.

BPSK merupakan lembaga yang bertugas memeriksa masalah sengketa konsumen, yang berfungsi seperti pengadilan. BPSK tidak menyelesaikan sengketa dengan cara damai, tetapi BPSK memeriksa sengketa dengan dasar hukum. Maka dapat disimpulkan bahwa BPSK melakukan tugasnya dengan tetap berpedoman kepada Undang-Undang yang berlaku21.

Tiap daerah telah membentuk BPSK yang berfungsi dalam menyelesaikan sengketa di luar pengadilan. Dengan terciptanya lembaga BPSK maka penanganan sengketa kosumen akan berjalan dengan mudah, cepat, dan murah. Bisa dikatakan cepat karena dalam penangan sengketa lewat lembaga BPSK harus dilakukan pemutusan dalam tenggang waktu 21 hari kerja dan tidak ada kemungkinan untuk melakukan banding yang akan membuat lama berjalannya proses penyelesaian perkara, kebijakan tersebut telah diatur dalam

18 Pasal 45 UUPK

19 Pasal 47 UUPK

20 Janus Sidabalok, 2006,Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, hal.144.

21 Ibid.

(13)

Pasal 54 ayat (3) dan Pasal 55 UUPK22. Hal ini membuat konsep dasar yang ditetapkan BPSK menjadi final dan mengikat. Kemudian, prosedur penyelesaian mudah karena mudah dikelola dan Anda dapat melakukannya sendiri tanpa bantuan perwakilan hukum. Harga versi trialnya sangat terjangkau oleh konsumen, sehingga sangat murah. Jika keputusan BPSK diterima oleh kedua belah pihak, keputusan tersebut bersifat final dan mengikat dan tidak perlu dibawa ke pengadilan. Keberadaan BPSK diharapkan dapat mengurangi beban prosedural. Ada dasar hukum pembentukan BPSK. Dengan kata lain, ada Pasal 49 (1) UUPK dan Pasal 2 Kepmenperindag No.350/MPP/Kep/12/200120, yang mengatur bahwa BPSK wajib untuk semua kota atau kabupaten.

Pasal 54 ayat (3) UUPK menuturkan : cara menyelesaikan sengketa konsumen yang dilakukan dengan konsialiasi, arbitrase, mediasi merupakan hasil dari keputusan BPSK yang memiliki sifat final dan mengikat sehingga dapat diartikan sengketa sudah selesai dan pihak yang terlibat dipaksa melakukan kewajiban sesuai dengan keputusan. Asas res judicata menyatakan bahwa apabila suatu putusan tidak dapat ditempuh melalui jalur hukum, maka putusan tersebut dinyatakan final23. Berdasarkan asas ini, keputusan BPSK harus dianggap sebagai keputusan final (kracht van gewijsde), tetapi jika pasal itu dikaitkan dengan Pasal 56 (2) UUPK 24, para pihak adalah keputusan BPSK,

22 Pasal 54 ayat (3) dan Pasal 55 UUPK

23 Pasal 54 ayat (3) UUPK

24 Pasal 56 (2) UUPK

(14)

Anda dapat melakukannya setelah itu. selesai. Namun demikian, kami akan mengajukan "banding" ke pengadilan, dengan ketentuan bahwa ini harus dilakukan setidaknya 14 hari setelah pemberitahuan dikeluarkan. Pernyataan ini jelas bertentangan dengan prinsip pengambilan keputusan yang final dan mengikat BPSK. Keputusan Presiden Nomor 90 Tahun 2001 menyatakan bahwa pelaksanaan misi BPSK akan dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk membantu konsumen mencapai BPSK. Kami telah memutuskan untuk membuatnya nyaman . Inpres tersebut tidak membatasi kewenangan BPSK, sehingga konsumen bebas mengadu ke BPSK di wilayah manapun yang mereka pilih.25

Pasal 50 UUPK menyatakan bahwa badan BPSK terdiri atas: Ketua yang juga menjadi anggota. b. Wakil presiden yang juga menjadi anggota. c.

anggota. Setiap Sekretariat BPSK terdiri dari seorang Sekretaris Jenderal dan anggota yang pengangkatan dan pemberhentiannya menjadi tanggung jawab Menteri Perindustrian dan Perdagangan26, yang diatur dalam Pasal 51 (1) dan (2) UUPK 27. Selain UUPK, BPSK diatur lebih lanjut dalam Kepmenperindag No. 301/MPP/Kep/10/200126 tentang Pengangkatan, Pemberhentian, dan Keanggotaan Sekretariat BPSK. Pasal 54 (2) UUPK menyatakan bahwa

25 Keputusan Presiden Nomor 90 Tahun 2001

26 Pasal 50 UUPK

27 yang diatur dalam Pasal 51 (1) dan (2) UUPK

(15)

masalah yang tertunda akan ditetapkan oleh Ketua BPKS dan akan diputuskan oleh Parlemen dengan dukungan Perdana Menteri28. Mewakili semua unsur, unsur pemerintahan, unsur konsumen, dan unsur pelaku usaha. Pasal 18 SK Memperindag No.350/MPP/Kep/12/2001, menyatakan yang menjabat sebagai Ketua Majelis BPKS harus dari unsur Pemerintah, walau yang terpilih tidak memiliki latar belakang pendidikan hukum. Sengketa konsumen, di sisi lain, dapat diselesaikan melalui arbitrase atau mediasi. Hal ini memungkinkan pihak yang berwenang untuk menentukan siapa ketua majelis dari unsur pemerintah atau anggota parlemen terpilih dari konsumen. Ini adalah sektor dan pelaku ekonomi adalah ketua BPSK.29

Ketua BPSK menetapkan bahwa Panitera BPSK diambil dari anggota sekretariat. Panitera memiliki tugas yang terdiri dari :

a. Melakukan pencatatan selama berjalannya proses dalam menyelesaikan sengketa konsumen;

b. Bertanggungjawab atas penyimpanan berkas perkara;

c. Bertanggungjawab dalam penjagaan barang bukti;

d. Memberikan bantuan kepada majelis dalam penyusunan putusan;

e. Memberikan bantuan dalam menyampaikan keputusan kepada para konsumen maupun pelaku usaha;

f. Melakukan pembuatan berita mengenai acara persidangan;

28 Pasal 54 (2) UUPK

29 Pasal 18 SK Memperindag No.350/MPP/Kep/12/2001

(16)

g. Memberikan bantuan kepada majelis dalam melaksanakan tugas menyelesaikan sengketa.

Pasal 52 UUPK jo Kepmenperindag No.350/MPP/Kep/12/2001 mengenai Penyelenggaraan Tugas dan wewenang BPSK yaitu :

a. Melaksanakan dan berupaya menyelesaikan sengketa konsumen melalui arbitrase, mediasi, atau mediasi.

b. Meyediakan wadah konsultasi tentang upaya perlindungan konsumen.

c. Mengawasi proses penempatan klausa standar.

d. Penyampaian laporan kepada penyidik apabila terjadi pelanggaran hukum.

e. Penyelidikan dan penyidikan sengketa perlindungan konsumen.

f. Bersedia menerima segala bentuk pengaduan konsumen, baik secara tertulis maupun tertulis, atas pelanggaran perlindungan konsumen.

g. Memanggil pelaku usaha yang diduga melanggar perlindungan konsumen.

h. Menghadirkan saksi, saksi, ahli, atau orang yang terlibat dalam pelanggaran hukum.

i. Apabila pelaku ekonomi dan perorangan sebagaimana dimaksud pada huruf (h) tidak mengikuti panggilan BPSK, dapat meminta bantuan penyidik.

(17)

j. Menerima dan menyelidiki surat, dokumen, dan alat bukti lain yang digunakan dalam penyidikan.

k. Buat keputusan untuk menentukan apakah konsumen telah dirugikan.

l. Mengirimkan hasil keputusan yang dibuat kepada pelaku ekonomi yang melanggar aturan perlindungan konsumen.

m. Menetapkan sanksi administratif bagi pelaku usaha yang melanggar hukum.30

Prinsip dasar dalam menyelesaikan sengeketa di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), sebagai sebuah lembaga yang berada di luar pengadilan yang bertugas dalam penyelesaian sengketa maka BPSK memiliki ciri-ciri yang unik, adapun prinsip dasar yang digunakan dalam menyelesaikan sengketa sebagai berikut:

1. Menyelesaikan masalah sengketa melalui BPSK berdasarkan pemilihan sukarela dari para pihak yang terlibat sengketa.

Apabila para pihak sudah memilih menyelesaikan masalah di BPSK, maka harus memilih untuk diselesaikan menggunakan salah satu cara dari beberapa cara BPSK yakni konsiliasi atau arbitrase atau mediasi.

2. Bukan berjenjang, apabila para pihak sudah menteapkan untukmelakukan penyelesaian menggunakan cara konsiliasi

30 Pasal 52 UUPK jo Kepmenperindag No.350/MPP/Kep/12/2001 mengenai Penyelenggaraan Tugas dan wewenang BPSK

(18)

tetapi mengalami kegagalan, maka dapat mengajukan penyelesaian menggunakan cara mediasi atau arbitrase.

3. Rekonsiliasi oleh para pihak Jika para pihak sepakat untuk arbitrase atau mediasi, maka masalah tersebut akan diselesaikan sepenuhnya oleh para pihak, baik secara tunai maupun secara mencicil. BPSK sendiri hanya bertindak sebagai perantara dan BPSK berkewajiban memberikan saran, masukan dan informasi mengenai kandungan perlindungan konsumen.

4. Penyelesaian oleh Majelis, apabila masalah diselesaikan dengan car arbitrase maka masalah akan diselesaikan sepenuhnya oleh BPSK baik dalam bentuk dan besarnya ganti kerugian.

5. Tanpa Pengacara, pada dasarnya penyelesaian sengketa konsumen yang tidak menggunakan pengacara melalui BPSK, hal ini berdasrakan prinsip dimana BPSK memprioritaskan penyelsaian dnegan musyawarah kekeluargaan, bukan dengan tekanan hukum yang kuat, kaku, dan ketat sebab yang diharapkan adalah penyelesaian berupa win win solution.

6. Penyelesaian sengketa BPSK yang murah, cepat dan mudah bersifat gratis baik bagi konsumen maupun pengusaha, memiliki waktu penyelesaian yang relatif cepat, dan dalam waktu 21 hari sejak keputusan BPSK dibuat.

(19)

Konsumen bisa melakukan pengaduan ke BPSK selama syarat-syarat berikut terpenuhi :

1. Konsumen yang terlibat dalam pengajuan klaim hanya dapat menerima jika proses pengajuan dilakukan oleh konsumen akhir. Dimulai dengan peran konsumen akhir, dimungkinkan untuk mengajukan gugatan terhadap pelaku usaha melalui BPSK, termasuk orang asing yang berada di Indonesia.

Persidangan oleh organisasi konsumen dan persidangan LPKSM yang memiliki tujuan yang sama atau yang ditetapkan sebagai persidangan kelas tidak dapat diajukan di BPSK, tetapi dapat diajukan di pengadilan negeri.

2. Konsumen dapat mengajukan pengaduan ke BPSK. Dalam hal ini, pihak yang dapat mengajukan pengaduan adalah pelaku usaha alam, hukum, atau non- korporasi, termasuk BUMD dan BUMN, tetapi tidak ada pengaduan dari para pihak yang berupa instansi atau Lembaga pemerintahan

3. Konsumen dapat mengajukan pengaduan kepada BPSK berupa barang dan/jasa terkait dengan skala pelanggaran. Ini dilarang bagi pengusaha berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen, yaitu

a. Tidak memenuhi standar produk, b. Kesalahpahaman informasi,

c. Metode penjualan yang berpotensi berbahaya, d. Perbedaan dalam janji,

e. klausa buku.

(20)

Konsumen dapat mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan melalui kantor BPSK. Anda juga dapat mengajukan melalui agen atau ahli waris jika kondisi konsumen adalah:

1. Meninggal dunia2.

2. Orang sakit atau lanjut usia yang tidak dapat mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan berdasarkan surat dokter atau KTP tanpa tanda penduduk (KTP).

3. Anda belum mencapai usia dewasa menurut hukum dan peraturan yang berlaku.

4. Orang Asing (WNA)

E. Metode Penyelesaian Sengketa Perjanjian Leasing di BPSK Kabupaten Berau

Mediasi

Penyelesaian sengketa melalui mediasi berdasarkan Pasal 1 Nomor 1029 KMPP 350/MPP/12/2001 merupakan sengketa di luar pengadilan yang dilakukan oleh pihak yang bersengketa, mediator BPSK bertanggung jawab untuk memberikan nasihat dan penyelesaian kepada pihak yang bersengketa. adalah solusi. H. Konsumen dan pelaku bisnis, terserah pelakunya31. Prosedur ini dilakukan secara mandiri oleh kedua belah pihak yaitu pelaku ekonomi dan konsumen, dengan dukungan Majelis32 (Pasal 5

31 Pasal 1 Nomor 1029 KMPP 350/MPP/12/2001

32 Pasal 5 (2) KMPP 350/MPP/12/2001

(21)

(2) KMPP 350/MPP/12/2001). Parlemen bertindak sebagai mediator yang misinya memberikan nasihat, petunjuk, usul, dan cara lain untuk menyelesaikan suatu sengketa. Namun, segala keputusan penyelesaian sengketa sepenuhnya diserahkan kepada pengusaha dan konsumen dan ditentukan dengan kesepakatan tertulis.. Dalam penyelesaian sengketa memalui cara mediasi, majelis yang bertugas memiliki tugas sebagai berikut:

a. Melakukan pemanggilan kepada pihak yang bersengketa yaitu pihak usaha dan konsumen;

b. Melakukan pemanggilan saksi dan ahli apabila dibutuhkan;

c. Memberikan majelis kepada yang bersengketa;

d. Mendamaikan antara pihak yang bersengketa;

e. Memberikan saran atau nasihat kepada pihak yangbersengketa mengenai penyelesaian sengketa sesuai dengan aturan undang-undang perlindungan konsumen. Majelis memiliki tugas selama proses mediasi, yaitu:

a. Menyerahkan segala proses penyelesaian secara penuh mengenai besaran ganti rugi;

b. Berlaku secara aktif dalam memberikan nasihat, saran, petunjuk, dan cara-cara lain dalam penyelesaian sengketa;

c. Menerima hasil musyawarah lalu mengeluarkan putusan;

Referensi

Dokumen terkait

LAPORAN PELAKSANAAN PATROLI TERPADU PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN Tanggal 13 Juli 2016 LOKASI SASARAN NO PROVINSI DAOPS/ KABUPATEN/ KOTA KECAMATAN DESA/

Penggugat adalah merek terkenal, namun dari dalil-dalilnya yang menyatakan: bahwa merek Penggugat telah didaftar selain di Indonesia juga di dunia, bahwa Tergugat I

Pembangunan perdesaan melalui sistem pertanian berkelanjutan yang didukung oleh komoditi unggulan dalam pendekatan agropolitan diharapkan dapat memberikau solusi yang

Puji syukur kehadirat Tuhan yang maha esa, oleh karena anugerah-Nya yang melimpah, kemurahan dan kasih setia yang besar sehingga penulis dapat menyelesaikan

Dengan demikian, perencanaan strategis harus menganalisa faktor faktor strategis suatu usaha (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada pada saat

Sebagai seorang ketua Sekretariat kongres Maria Ullfah dengan tegas mengatakan kepada organisasi perempuan yang masuk ke dalam Gerakan Massa untuk memilih Kongres

Estimasi kondisi keuangan perusahaan untuk jangka panjang yang akan datang, Estimasi kondisi keuangan perusahaan untuk jangka panjang yang akan datang, yang menunjukkan

terbentuk warna merah pada medium setelah ditambahkan a- napthol dan KOH, artinya hasil akhir fermentasi bakteri ini bukan asetil metil karbinol (asetolin). Selain uji