• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

14

A. Kerangka Teori 1. Tinjauan Umum tentang Penuntutan

a. Pengertian Penuntutan

Menurut Pasal 1 ayat (7) KUHAP, “Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang- undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan”.

Definisi ini mirip dengan definisi Wirjono Prodjodikoro, namun perbedaannya ialah dalam definisi Wirjono Prodjodikoro disebut dengan tegas “terdakwa”, sedangkan dalam KUHAP tidak.

“Menuntut seorang terdakwa di muka Hakim Pidana adalah menyerahkan perkara seorang terdakwa dengan berkas perkaranya kepada hakim, dengan permohonan, supaya hakim memeriksa dan kemudian memutuskan perkara pidana itu terhadap terdakwa.” (Wirjono Prodjodikoro, 1974:

34).

Pasal 137 KUHAP menentukan bahwa penuntut umum yang berwenang melakukan penuntutan terhadap siapapun yang didakwa melakukan suatu delik dalam daerah hukumnya dengan melimpahkan perkara ke pengadilan yang berwenang mengadili (Andi Hamzah, 1990:

162).

b. Wewenang Jaksa dan Penuntut Umum

Menurut E. Bonn dan R.H.K Sosrodanukusumo, (pendapatnya masih berdasarkan Herziene Inlandsch Reglement (HIR)), seorang jaksa mempunyai daerah hukum masing-masing sesuai dengan daerah hukum masing-masing sesuai dengan daerah hukum Pengadilan Negeri di mana dia diangkat (E. Bonn dan R.H.K Sosrodanukusumo, 1958: 100). Seorang jaksa di kejaksaan tinggi atau di kejaksaan agung hanya dapat menuntut orang

(2)

jika ia terlebih dahulu diangkat untuk kejaksaan negeri yang daerah hukumnya dilakukan delik tersebut. Dalam praktik, seorang jaksa yang ditempatkan di suatu kejaksaan tinggi atau di kejaksaan agung yang akan menjadi penuntut umum suatu delik di suatu pengadilan negeri, ia diangkat terlebih dahulu (didetasir) di kejaksaan negeri yang wilayah hukumnya sama dengan pengadilan negeri tersebut (Andi Hamzah, 1990: 162).

Mengenai kebijakan penuntutan, dalam Pasal 139 KUHAP, penuntut umumlah yang menentukan suatu perkara hasil penyidikan apakah sudah lengkap ataukah tidak untuk dilimpahkan ke pengadilan negeri untuk diadili. Menurut pertimbangan penuntut umum, suatu perkara tidak cukup bukti-bukti untuk diteruskan ke pengadilan ataukah perkara tersebut bukan merupakan suatu delik, maka penuntut umum membuat suatu ketetapan mengenai hal itu (Pasal 140 ayat (2) butir a KUHAP). Isi surat ketetapan tersebut diberitahukan kepada tersangka dan bila ia ditahan, wajib dibebaskan (Pasal 140 ayat (2) butir b KUHAP). Ditentukan selanjutnya bahwa turunan ketetapan tersebut wajib disampaikan kepada tersangka atau keluarga atau penasihat hukum, pejabat rumah tahanan negara, penyidik, dan hakim (Pasal 140 ayat (2) butir c KUHAP). Ini biasa disebut sebagai Surat Perintah Penghentian Penuntutan.

Mengenai wewenang penuntut umum untuk menutup perkara demi hukum seperti tersebut dalam Pasal 140 ayat (2) butir a pedoman pelaksanaan KUHAP memberi penjelasan bahwa “perkaranya ditutup demi hukum” diartikan sesuai dengan Buku I Bab VIII Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang hapusnya hak menuntut tersebut dalam Pasal 76, 77, dan 78 KUHP, (nebis in idem, terdakwa meninggal, dan lewat waktu) (Andi Hamzah, 1990: 163).

Kewenangan penuntut umum harus sesuai dengan undang-undang:

The constitutionally limited role of the prosecutor is to “take care that the laws be faithfully executed”– that is, to enforce the policies laid down in laws enacted by the legislature. Whether this was ever true, it is certainly not the case today that prosecutors are merely enforcing pre-established rules. Armed with expansive criminal codes and broadly worded statutes, plus

(3)

the ability to threaten harsh and mandatory sentences, prosecutors have so much leverage in negotiations with defendants that they have, for all practical purposes, taken on the role of adjudicator as well. The prosecutor alone decides a defendant’s liability and sentence (Rachel E. Barkow, 2009: 1).

Terjemahan bebas: Peran konstitusional terbatas jaksa adalah untuk "menjaga agar hukum akan dieksekusi dengan tepat" - yaitu, untuk menegakkan kebijakan yang ditetapkan dalam undang-undang, yang disahkan oleh legislatif. Apakah ini benar, hal ini tentu tidak terjadi hari ini, bahwa jaksa hanya menegakkan aturan yang ditetapkan sebelumnya. Dengan berbekal kode pidana dan undang-undang yang luas, ditambah dengan kemampuan untuk mengancam dengan hukuman yang berat dan yang menjadi kewajiban, jaksa memiliki begitu banyak pengaruh dalam negosiasi dengan terdakwa yang mereka miliki, untuk semua tujuan praktis, diambil pada peran hakim juga. Jaksa sendiri yang memutuskan kewajiban bagi terdakwa dan hukumannya.

Hal yang perlu diperhatikan ialah ketentuan bahwa jika kemudian ternyata ada alasan baru untuk menuntut perkara yang telah dikesampingkan karena kurang bukti-bukti, maka penuntut umum dapat menuntut tersangka (Pasal 140 ayat (2) butir d KUHAP). Dari ketentuan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ketetapan penuntut umum untuk menyampingkan suatu perkara (yang tidak didasarkan kepada asas oportunitas), tidak berlaku asas nebis in idem (Andi Hamzah, 1990: 163).

Selanjutnya ditentukan dalam Pasal 141 KUHAP bahwa penuntut umum dapat melakukan penggabungan perkara dengan satu surat dakwaan.

Tetapi, kemungkinan penggabungan itu dibatasi dengan syarat-syarat oleh pasal tersebut. Syarat-syarat itu adalah (Andi Hamzah, 1990: 163-164):

1) Beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh seorang yang sama dan kepentingan pemeriksaan tidak menjadikan halangan terhadap penggabungannya;

2) Beberapa tindak pidana yang bersangkut-paut satu dengan yang lain; dan 3) Beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut-paut satu dengan yang

lain, akan tetapi satu dengan yang lain itu ada hubungannya, yang dalam hal ini penggabungan tersebut perlu bagi kepentingan pemeriksaan.

(4)

Apa yang dimaksud dengan kata “penggabungan tersebut perlu bagi kepentingan pemeriksaan” tidak disebut, dan penjelasan pasal tersebut mengatakan cukup jelas. Yang dijelaskan ialah kata “bersangkut-paut”

(Andi Hamzah, 1990: 164):

1) oleh lebih dari seorang yang bekerja sama dan dilakukan pada saat yang bersamaan;

2) oleh lebih dari seorang pada saat dan tempat yang berbeda, akan tetapi merupakan pelaksanaan dari permufakatan jahat yang dibuat oleh mereka sebelumnya; atau

3) oleh seorang atau lebih dengan maksud mendapatkan alat yang akan dipergunakan untuk melakukan delik lain atau menghindarkan diri dari pemindahan karena delik lain.

Kebalikan dari penggabungan perkara, penuntut umum dapat memecahkan perkara menjadi lebih daripada satu. Hal itu diatur dalam Pasal 142 KUHAP (Andi Hamzah, 1990: 164).

2. Tinjauan Umum tentang Surat Dakwaan a. Pengertian Surat Dakwaan

Dakwaan mempunyai peran sangat penting dalam penyelesaian suatu perkara. Dalam mengadili suatu perkara haruslah ada surat dakwaan sebagai dasar dari terlaksananya penyelesaian kasus pidana. Surat dakwaan sangat diperlukan, karena dalam surat dakwaan berisi tentang unsur-unsur pidana yang dilakukan oleh terdakwa, tetapi masih bersifat sementara karena belum dibuktikan.

Surat dakwaan dikeluarkan penuntut umum atau jaksa yang menangani suatu perkara pidana. Surat dakwaan sangat berguna untuk hakim, jaksa, bahkan terdakwa. Untuk terdakwa atau penasihat hukum surat dakwaan ini memiliki arti penting dalam menyiapkan hal-hal terutama yang menyangkut pembelaan.

Rumusan surat dakwaan harus sejalan dengan hasil pemeriksaan penyidikan. KUHAP tidak mengatur mengenai pengertian surat dakwaan,

(5)

karena pembentuk undang-undang menganggap bahwa pengertian surat dakwaan lebih tepat jika dibahas dalam ilmu pengetahuan hukum acara pidana.

Menurut A. Karim Nasution, surat dakwaan adalah suatu surat atau akta yang memuat suatu perumusan dari tindak pidana yang dituduhkan, yang sementara dapat disimpulkan dari surat-surat pendahuluan yang merupakan dasar bagi hakim untuk melakukan pemeriksaan, yang bila ternyata cukup terbukti, terdakwa dapat dijatuhi hukuman (A. Karim Nasution, 1981: 75).

Menurut M. Yahya Harahap, surat dakwaan merupakan surat atau akta yang memuat rumusan tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa yang disimpulkan dan ditarik dari hasil pemeriksaan penyidikan, dan merupakan dasar serta landasan bagi hakim dalam pemeriksaan di muka sidang pengadilan (M. Yahya Harahap, 2012: 387).

Dari kedua definisi yang dipaparkan oleh A. Karim Nasution dan M.

Yahya Harahap, terdapat beberapa persamaan, yaitu:

1) Bahwa surat dakwaan merupakan akta, yang harus memenuhi unsur- unsurnya, meliputi tanggal pembuatan dan tanda tangan pembuatnya;

2) Dalam surat dakwaan mengandung isi tentang uraian tindak pidana yang didakwakan beserta waktu dan tempat dilakukannya tindak pidana; dan 3) Fungsi surat dakwaan adalah sebagai dasar pemeriksaan perkara di

sidang pengadilan.

b. Fungsi Surat Dakwaan

Surat dakwaan adalah surat atau akta yang sangat penting kedudukannya dalam proses penyelesaian perkara pidana. Memperhatikan fungsinya yang sedemikian penting, maka dapat dikatakan bahwa surat dakwaan menduduki posisi sentral dalam proses penyelesaian perkara di sidang pengadilan.

Dapat dikatakan pula bahwa surat dakwaan merupakan dasar dimulainya suatu proses pidana, sehingga kedudukan jaksa yang bertugas

(6)

membuat surat dakwaan dikatakan sebagai awal dalam pemeriksaan perkara pidana.

Disamping itu, surat dakwaan juga mempunyai fungsi bagi penuntut umum, hakim, maupun terdakwa sendiri.

1) Bagi Penuntut Umum

Sama seperti yang sudah disinggung sebelumnya, surat dakwaan sebagai dasar dimulainya perkara pidana, oleh karena itu, berdasarkan surat dakwaan, penuntut umum meminta agar perkara tersebut diperiksa dan diputus dalam sidang pengadilan.

Dalam tahap selanjutnya, surat dakwaan menjadi dasar pembuktian atau dasar yuridis, dasar tuntutan pidana, dan akhirnya merupakan dasar upaya hukum.

2) Bagi Hakim

Fungsi surat dakwaan bagi hakim sebagai dasar pemeriksaan, batasan ruang lingkup pemeriksaan, dasar pertimbangan, dan dasar pengambilan keputusan tentang bersalah atau tidaknya terdakwa dalam tindak pidana yang didakwakan.

3) Bagi Terdakwa

Bagi terdakwa atau penasihat hukumnya, surat dakwaan merupakan dasar untuk mempersiapkan pembelaan (Harun M. Husein, 1994: 94).

c. Syarat-syarat Surat Dakwaan

Pasal 143 ayat (2) KUHAP menetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam penyusunan surat dakwaan. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut (M. Yahya Harahap, 2012: 391):

1) Syarat Formil

Dalam surat dakwaan ini harus memuat tanggal dan tanda tangan dari penuntut umum pembuat surat dakwaan. Disamping itu, juga harus memuat secara lengkap identitas terdakwa yang meliputi nama lengkap, tempat lahir, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan.

(7)

Syarat formil ini harus dipenuhi guna mencegah terjadinya kekeliruan mengenai orang atau pelaku yang diajukan sebagai terdakwa dalam perkara pidana yang bersangkutan.

2) Syarat Materiil

Syarat materiil berkaitan dengan isi atau materi dakwaan, yaitu uraian mengenai tindak pidana yang didakwakan dan waktu, serta tempat tindak pidana dilakukan.

Tujuan penetapan syarat materiil ini adalah agar terdakwa mengerti tentang apa yang didakwakan padanya dan hal ini dimaksudkan agar terdakwa tersebut dapat mempersiapkan pembelaan.

Kedua syarat tersebut harus dipenuhi agar surat dakwaan dapat dikatakan sah. Bila syarat formil tidak dipenuhi, maka surat dakwaan dapat dinyatakan batal, sedangkan tidak terpenuhinya syarat materiil mengakibatkan surat dakwaan batal demi hukum.

d. Bentuk-bentuk Surat Dakwaan 1) Dakwaan Tunggal

Bentuk dakwaan ini digunakan apabila berdasarkan hasil penelitian terhadap materi hanya satu tindak pidana saja yang didakwakan. Dalam menyusun dakwaan tersebut tidak terdapat kemungkinan-kemungkinan alternatif, atau kemungkinan untuk merumuskan tindak pidana lain sebagai penggantinya, maupun kemungkinan-kemungkinan untuk mengkombinasikan tindak pidana dalam surat dakwaan.

Dalam perumusan dakwaan tunggal dijumpai dalam tindak pidana yang jelas serta tidak mengandung faktor “penyertaan”

(mededaderschap) atau faktor “perbarengan” (concursus), maupun faktor

“alternatif” atau faktor “subsidair”.

Contohnya dari hasil pemeriksaan penyidikan cukup nyata tindak pidana yang dilanggar berupa pencurian biasa yang diatur dalam Pasal 362 KUHP. Perbuatan tersebut hanya dilakukan sendiri oleh terdakwa,

(8)

tidak menyentuh faktor yang bersifat alternatif atau concursus. Jika demikian halnya, cukup merumuskan dakwaan dalam bentuk surat dakwaan biasa yang bersifat tunggal, yakni berupa uraian yang jelas memenuhi syarat formal dan materiil yang diatur dalam Pasal 143 ayat (2) KUHAP (M. Yahya Harahap, 2012: 398).

2) Dakwaan Alternatif

Dalam praktik peradilan, sering dakwaan alternatif disebut dengan istilah dakwaan saling “mengecualikan” atau dakwaan relatif atau berupa istilah dakwaan “pilihan (keuze tenlastelgging)”. Pada dakwaan alternatif, hakim dapat langsung memilih untuk menentukan dakwaan mana yang sekiranya cocok serta sesuai dengan hasil pembuktian di persidangan (Lilik Mulyadi, 2007: 87).

Dalam surat dakwaan ini terdapat beberapa dakwaan yang disusun secara berlapis, lapisan yang satu merupakan alternatif dan bersifat mengecualikan dakwaan pada lapisan lainnya. Bentuk dakwaan ini digunakan bila belum didapatkan suatu kepastian tentang tindak pidana mana yang paling tepat dapat dibuktikan.

Dalam dakwaan alternatif, meskipun dakwaan terdiri dari beberapa lapisan, namun hanya satu dakwaan saja yang dibuktikan tanpa harus memperhatikan urutannya dan jika salah satu telah terbukti, maka dakwaan pada lapisan lainnya tidak perlu dibuktikan lagi.

Menurut van Bemmelen, dakwaan alternatif dibuat dalam dua hal, yaitu sebagai berikut (Andi Hamzah, 2012: 185):

a) Jika penuntut umum tidak mengetahui secara pasti perbuatan mana dari ketentuan hukum pidana sesuai dakwaan nantinya akan terbukti di persidangan (misalnya, suatu perbuatan apakah merupakan penadahan atau mengangkut kayu tanpa dokumen yang sah);

b) Jika penuntut umum ragu terhadap peraturan hukum pidana mana yang akan diterapkan oleh hakim atas perbuatan yang menurut pertimbangannya telah nyata terbukti.

(9)

Dalam hal dakwaan alternatif yang sesungguhnya, maka menurut van Bemmelen, masing-masing dakwaan tersebut saling mengecualikan satu sama lain (Andi Hamzah, 2012: 185). Hakim dapat mengadakan pilihan dakwaan mana yang telah terbukti dan bebas untuk menyatakan bahwa dakwaan kedua yang telah terbukti tanpa memutuskan terlebih dahulu tentang dakwaan pertama.

Dasar pertimbangan penuntut umum dalam menyusun surat dakwaan alternatif karena adanya keragu-raguan tentang tindak pidana apa yang paling tepat untuk didakwakan, sehingga surat dakwaan yang dibuat merupakan alternatif bagi hakim untuk memilihnya. Hal ini bertujuan untuk memperkecil lolosnya terdakwa dari dakwaan.

Dakwaan ini biasanya digunakan dalam hal antara kualifikasi tindak pidana satu dengan kualifikasi tindak pidana yang lain yang menunjukkan ciri atau corak yang sama atau hampir bersamaan.

Contohnya, jaksa dalam surat dakwaan merumuskan dua atau lebih dakwaan kepada terdakwa sehubungan dengan tindak pidana yang dilakukannya. Salah satu dakwaan berisi rumusan, “terdakwa melakukan pencurian berdasarkan Pasal 362 KUHP”. Lalu dalam dakwaan berikutnya jaksa penuntut umum merumuskan: “atau melakukan tindak pidana penadahan berdasarkan Pasal 480 KUHP”. Jadi, antara satu dakwaan dengan dakwaan yang lain tersirat kata “atau” yang memberi pilihan kepada hakim untuk menerapkan salah satu diantara dakwaan- dakwaan yang diajukan. Itu sebabnya bentuk dakwaan alternatif disebut dakwaan yang memberi kesempatan kepada hakim memilih salah satu diantara dakwaan yang diajukan dalam surat dakwaan.

Dakwaan alternatif bersifat dan berbentuk alternative accusation atau alternative tenlastelegging dengan cara pemeriksaan:

a) Periksa dan pertimbangkan dulu dakwaan urutan pertama, dengan ketentuan:

(10)

(1) Apabila dakwaan urutan pertama terbukti, pemeriksaan terhadap dakwaan yang selebihnya (urutan kedua atau ketiga) tidak perlu lagi diperiksa dan dipertimbangkan;

(2) Penjatuhan hukuman didasarkan pada dakwaan yang dianggap terbukti.

(a) Jika dakwaan urutan pertama tidak terbukti, barulah hakim melanjutkan pemeriksaan terhadap dakwaan urutan berikutnya, dengan ketentuan:

(i) Membebaskan terdakwa dari dakwaan urutan pertama yang tidak terbukti;

(ii) Menjatuhkan hukuman berdasarkan dakwaan urutan berikutnya yang dianggap terbukti.

(b) Bisa juga membebaskan terdakwa dari seluruh dakwaan yang diajukan, apabila satu pun diantara dakwaan tidak ada yang terbukti.

3) Dakwaan Kumulatif

Dakwaan kumulatif dibuat oleh jaksa atau penuntut umum apabila seorang atau lebih terdakwa melakukan lebih dari satu perbuatan pidana, yakni perbuatan tersebut harus dianggap berdiri sendiri atau juga dapat dikatakan tidak ada kaitan satu dengan lainnya.

Ciri utama dakwaan kumulatif adalah dengan mempergunakan istilah dakwaan kesatu, kedua, ketiga, dan seterusnya. Antara dakwaan kesatu, kedua, dan ketiga masing-masing berdiri sendiri-sendiri. Pada dakwaan kesatu, kedua, dan ketiga masing-masing dapat diberikan pilihan pasal-pasal, seperti dakwaan subsidairitas (bersusun lapis), misalnya, dakwaan kesatu primer: “melanggar Pasal 355 ayat (2) KUHP”, kemudian dakwaan kedua primer: “melanggar Pasal 353 KUHP”, kemudian subsidair: “melanggar Pasal 351 KUHP”, begitulah seterusnya (Lilik Mulyadi, 2007: 89).

Contohnya, seseorang didakwa bersama-sama melakukan tindak pidana pembunuhan (Pasal 338 jo. Pasal 55 ayat (1) KUHP, kemudian

(11)

melakukan perbuatan melawan petugas (Pasal 214 KUHP), serta membawa senjata tajam tanpa izin (Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12/Drt/1951).

4) Dakwaan Subsidair

Pada hakikatnya, dakwaan subsidair hampir sama dengan jenis dakwaan alternatif. Akan tetapi, perbedaannya kalau dalam dakwaan alternatif hakim dapat langsung memilih dakwaan yang sekiranya cocok dengan pembuktian di persidangan, sedangkan pada dakwaan subsidair hakim terlebih dahulu mempertimbangkan dakwaan terberat (misalnya, primer). Apabila dakwaan primer tidak terbukti, kemudian hakim mempertimbangkan dakwaan berikutnya (subsidair) dan seterusnya.

Sebaliknya, apabila dakwaan primer telah terbukti, dakwaan selebih- lebihnya (subsidair dan seterusnya) tidak perlu dibuktikan lagi.

Ciri utama dari dakwaan subsidair adalah disusun secara berlapis- lapis, yaitu dimulai dari dakwaan terberat sampai yang ringan, berupa susunan secara primer, subsidair, lebih subsidair, lebih-lebih subsidair, dan seterusnya atau dapat pula disusun dengan istilah terutama, penggantinya, penggantinya lagi, dan seterusnya (Lilik Mulyadi, 2007:

102).

5) Dakwaan Kombinasi

Dalam bentuk dakwaan kombinasi, dakwaan dikombinasikan atau digabungkan antara dakwaan kumulatif dengan dakwaan alternatif atau subsidair. Timbulnya bentuk ini seiring dengan perkembangan di bidang kriminalitas yang semakin variatif baik dalam bentuk atau jenisnya, maupun dalam modus operandi yang dipergunakan.

Misalnya didakwakan:

Kesatu

Primer : Pembunuh berencana (Pasal 340 KUHP);

Subsidair : Pembunuh biasa (Pasal 338 KUHP);

Lebih Subsidair : Penganiayaan yang mengakibatkan matinya orang (Pasal 351 ayat (3) KUHP).

(12)

Kedua

Primer : Pencurian dengan pemberatan (Pasal 363 KUHP);

Subsidair : Pencurian (Pasal 362 KUHP); dan Ketiga : Perkosaan (Pasal 285 KUHP).

3. Tinjauan Umum tentang Pembuktian a. Pengertian Pembuktian

Dalam arti luas, pembuktian adalah membenarkan hubungan hukum.

Jadi apabila hakim mengabulkan tuntutan penggugat, berarti bahwa hakim menarik kesimpulan, bahwa apa yang dikemukakan oleh penggugat sebagai hubungan hukum antara penggugat dan tergugat adalah benar, sehingga

“membuktikan” dalam arti yang luas dapat diartikan sebagai suatu fakta yang memperkuat kesimpulan hakim dengan syarat-syarat bukti yang sah (R. Soepomo, 1980: 63). Dalam arti sempit, pembuktian hanya diperlukan apabila apa yang dikemukakan oleh penggugat itu dibantah oleh tergugat, artinya apa yang dibantah tidak perlu dibuktikan.

Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan undang-undang yang boleh dipergunakan hakim dalam membuktikan kesalahan yang didakwakan. Persidangan pengadilan tidak boleh sesuka hati dan semena-mena membuktikan kesalahan terdakwa (M.

Yahya Harahap, 2012: 273).

b. Teori-Teori Pembuktian 1) Conviction-in-Time

Sistem pembuktian conviction-in-time menentukan salah tidaknya seorang terdakwa, semata-mata ditentukan oleh penilaian keyakinan hakim. Keyakinan hakim yang menentukan keterbuktian kesalahan terdakwa. Darimana hakim menarik dan menyimpulkan keyakinannya, tidak menadi masalah dalam sistem ini. Keyakinan boleh diambil dan disimpulkan hakim dari alat-alat bukti yang diperiksanya dalam sidang pengadilan. Bisa juga hasil pemeriksaan alat-alat bukti itu diabaikan

(13)

hakim dan langsung menarik keyakinan dari keterangan atau pengakuan terdakwa (M. Yahya Harahap, 2010: 277).

2) Conviction-Raisonee

Dalam sistem ini pun dapat dikatakan “keyakinan hakim” tetap memegang peranan penting dalam menentukan salah tidaknya terdakwa.

Akan tetapi, dalam sistem pembuktian ini, faktor keyakinan hakim

“dibatasi”. Jika dalam sistem pembuktian conviction-in-time peran

“keyakinan hakim” leluasa tanpa batas maka pada sistem conviction- raisonee, keyakinan hakim harus didukung dengan “alasan-alasan yang jelas”. Hakim wajib menguraikan dan menjelaskan alasan-alasan apa yang mendasari keyakinannya atas kesalahan terdakwa. Tegasnya, keyakinan hakim dalam sistem conviction-raisonee, harus dilandasi reasoning atau alasan-alasan, dan reasoning itu harus masuk

“reasonable”, yakni berdasar alasan yang dapat diterima (M. Yahya Harahap, 2010: 278).

3) Pembuktian Menurut Undang-undang Secara Positif (Positief Wettelijk Bewijstheorie)

Pembuktian menurut undang-undang secara positif merupakan pembuktian yang bertolak belakang dengan sistem pembuktian menurut keyakinan atau conviction-in-time. Pembuktian menurut undang-undang secara positif, “keyakinan hakim tidak ikut ambil bagian” dalam membuktikan kesalahan terdakwa. Keyakinan hakim dalam sistem ini, tidak ikut berperan menentukan salah atau tidaknya terdakwa. Sistem ini berpedoman pada prinsip pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan undang-undang. Untuk membuktikan salah atau tidaknya terdakwa semata-mata “digantungkan kepada alat-alat bukti yang sah”, bila sudah dipenuhinya syarat-syarat dan ketentuan pembuktian menurut undang-undang. Hal ini sudah cukup menentukan kesalahan terdakwa tanpa mempersoalkan keyakinan hakim (M. Yahya Harahap, 2010: 278).

(14)

4) Pembuktian Menurut Undang-undang Secara Negatif (Negatief Wettelijk Stelsel)

Sistem pembutian menurut undang-undang secara negatif merupakan teori antara sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif dengan sistem pembuktian menurut keyakinan atau conviction-in-time. Sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif merupakan keseimbangan antara kedua sistem yang saling bertolak belakang secara ekstrim. Dari keseimbangan tersebut, sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif menggabungkan ke dalam dirinya secara terpadu sistem pembuktian menurut keyakinan dengan sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif. Dari hasil penggabungan kedua sistem dari yang paling bertolak belakang itu, terwujudlah suatu sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif. Rumusannya berbunyi: salah tidaknya seorang terdakwa ditentukan oleh keyakinan hakim yang didasarkan kepada cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang (M. Yahya Harahap, 2010: 278-279).

c. Asas-asas Pembuktian

Pembuktian mempunyai fungsi penting sebagai sarana dalam menemukan kebenaran materiil dari apa yang didakwakan oleh penuntut umum. Terdapat prinsip-prinsip dalam pembuktian, yaitu:

1) Hal-hal yang dimuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)

Asas ini terdapat dalam Pasal 184 ayat (2) KUHAP yang berbunyi: “Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan”. Lazimnya bunyi rumusan Pasal 182 ayat (2) ini selalu disebut dengan istilah notoire feiten notorious (generally known) yang berarti setiap hal yang sudah umum diketahui tidak lagi perlu dibuktikan dalam pemeriksaan sidang pengadilan (M. Yahya Harahap, 2010: 276).

Mr. H. Tirtaamidjaja, seperti dikutip oleh Leden Marpaung, menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa dan keadaan-keadaan yang telah

(15)

diketahui umum tidak memerlukan pembuktian, hal itu bukanlah dianggap telah diketahui oleh hakim, misalnya hal, bahwa anjing adalah binatang, atau bahwa hidup manusia itu tidak kekal ataupun bahwa emas kuning warnanya (Leden Marpaung, 2011: 26).

2) Kewajiban seorang saksi

Kewajiban seorang menjadi saksi diatur dalam penjelasan Pasal 159 ayat (2) KUHAP yang menyebutkan bahwa orang yang menjadi saksi setelah dipanggil ke suatu sidang pengadilan untu k memberikan keterangan tetapi dengan menolak kewajiban itu ia dapat dikenakan pidana berdasarkan undang-undang yang berlaku, demikian pula dengan ahli.

3) Satu saksi bukan saksi (unus testis nullus testis)

Prinsip satu saksi bukan saksi (unus testis nullus testis) dimuat dalam Pasal 185 ayat (2) KUHAP yang berbunyi, “Keterangan seorang saksi saja tidak cukup membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya” (Andi Hamzah, 1990: 247).

Menurut KUHAP, keterangan satu saksi bukan saksi hanya berlaku bagi pemeriksaan biasa dan pemeriksaan singkat, tidak berlaku bagi pemeriksaan cepat. Hal ini disimpulkan dari Pasal 184 KUHAP sebagai berikut: “Dalam acara pemeriksaan cepat, keyakinan hakim cukup didukung satu alat bukti yang sah”. Jadi, ini berarti satu saksi, satu keterangan ahli, satu surat, satu petunjuk, atau keterangan terdakwa disertai keyakinan hakim cukup sebagai alat bukti untuk memidana terdakwa dalam perkara cepat (Andi Hamzah, 1990: 249).

4) Pengakuan terdakwa tidak menghapuskan kewajiban penuntut umum membuktikan kesalahan terdakwa

Asas ini terdapat dalam Pasal 189 ayat (4) KUHAP yang berbunyi,

“Keterangan terdakwa saja tidak cukup membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai dengan alat bukti lain”. Pengakuan menurut KUHAP, bukan merupakan alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang

(16)

sempurna atau bukan volledig bewijs kracht. Juga tidak memiliki kekuatan pembuktian yang menentukan atau bukan beslissende bewijs kracht. Pengakuan atau keterangan terdakwa bukan alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian sempurna dan menentukan, sehingga penuntut umum dan persidangan tetap memiliki kewajiban untuk membuktikan kesalahan terdakwa dengan alat bukti yang lain (M. Yahya Harahap, 2010: 275).

5) Keterangan terdakwa hanya mengikat pada dirinya sendiri

Apa yang diterangkan terdakwa dalam persidangan di pengadilan hanya boleh diterima dan dikaui sebagai alat bukti yang berlaku dan mengikat bagi diri terdakwa sendiri. Hal ini sejalan dengan bunyi Pasal 189 ayat (3) KUHAP yang berbunyi, “Keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri”. Menurut asas ini, apa yang diterangkan seseorang dalam persidangan dalam kedudukannya sebagai terdakwa, hanya dapat dipergunakan sebagai alat bukti terhadap dirinya sendiri. Jika dalam suatu perkara terdakwa terdiri dari beberapa orang, masing-masing keterangan terdakwa hanya merupakan alat bukti yang mengikat kepada dirinya sendiri. Keterangan terdakwa A tidak dapat dipergunakan terhadap terdakwa B, demikian sebaliknya (M. Yahya Harahap, 2010: 321).

d. Jenis-jenis Alat Bukti Menurut KUHAP

Jenis alat bukti menurut Pasal 184 KUHAP, adalah:

1) Keterangan Saksi

a) Pengertian saksi yang diatur dalam Pasal 1 butir 26 KUHAP

Saksi adalah seorang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidik penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri.

Sedangkan, keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai sesuatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu.

(17)

b) Syarat sahnya keterangan saksi

(1) Harus mengucap janji atau sumpah

Menurut ketentuan Pasal 160 ayat (3) KUHAP, sebelum saksi memberikan keterangan “wajib mengucapkan” sumpah atau janji. Adapun sumpah atau janjinya adalah dilakukan menurut cara agamanya masing-masing dan lafal sumpah atau janji berisi bahwa saksi akan memberikan keterangan yang sebenar-benarnya dan tiada lain daripada yang sebenarnya. Akan tetapi, Pasal 160 ayat (4) KUHAP memberi kemungkinan untuk mengucapkan sumpah atau janji setelah saksi memberikan keterangan. Dengan demikian, saat pengucapan sumpah atau janji, pada prinsipnya wajib diucapkan sebelum saksi memberikan keterangan, dan tapi dalam hal yang dianggap perlu oleh pengadilan, sumpah atau janji dapat diucapkan sesudah saksi memberikan keterangan (M.

Yahya Harahap, 2012: 286).

(2) Keterangan saksi yang bernilai sebagai bukti

Tidak semua keterangan saksi yang mempunyai nilai sebagai alat bukti. Keterangan saksi yang mempunyai nilai adalah keterangan yang sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam Pasal 1 angka 27 KUHAP, yaitu: yang saksi lihat sendiri, saksi dengar sendiri, saksi alami sendiri, serta menyebut alasan dari pengetahuannya itu (M. Yahya Harahap, 2012: 287).

(3) Keterangan saksi harus diberikan di sidang pengadilan

Agar supaya keterangan saksi dapat dinilai sebagai alat bukti, keterangan itu harus yang dinyatakan di sidang pengadilan.

Hal ini sesuai dengan penegasan Pasal 185 ayat (1) KUHAP, karena keterangan yang dinyatakan di luar sidang pengadilan (outside court) bukan alat bukti, tidak dapat dipergunakan untuk membuktikan kesalahan terdakwa (M. Yahya Harahap, 2012:

287).

(18)

(4) Keterangan seorang saksi saja dianggap tidak cukup

Bertitik tolak dari ketentuan Pasal 185 ayat (2) KUHAP, keterangan seorang saksi saja belum dapat dianggap sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa, atau unus testis nullus testis. Ini berarti jika alat bukti yang dikemukakan penuntut umum hanya terdiri dari seorang saksi saja tanpa ditambah dengan keterangan saksi yang lain atau alat bukti yang lain, kesaksian tunggal yang seperti ini tidak dapat dinilai sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa sehubungan dengan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. (M. Yahya Harahap, 2012: 288).

(5) Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri

Dengan adanya beberapa saksi dianggap keterangan saksi yang banyak itu telah cukup membuktikan kesalahan terdakwa, namun pendapat yang demikian keliru, karena keterangan saksi yang dihadirkan dan didengar keterangannya di sidang pengadilan secara kuantitatif telah melampaui batas minimum pembuktian, belum tentu keterangan mereka secara kualitatif memadai sebagai alat bukti yang sah membuktikan kesalahan terdakwa. Tidak ada gunanya menghadirkan saksi yang banyak, jika secara kualitatif keterangan mereka saling berdiri sendiri tanpa adanya hubungan antara yang satu dengan yang lain (M. Yahya Harahap, 2012:

289).

2) Keterangan Ahli

Keterangan seorang ahli disebut alat bukti pada urutan kedua dalam Pasal 183 KUHAP. Ini berbeda dengan HIR dahulu yang tidak mencantumkan keterangan ahli sebagai alat bukti. Keterangan ahli sebagai alat bukti tersebut sama dengan Ned.S.v. dan hukum acara pidana modern di banyak negeri.

(19)

3) Alat Bukti Surat

Selain Pasal 184 yang menyebutkan alat-alat bukti, maka hanya ada satu pasal saja dalam KUHAP yang mengatur tentang alat bukti surat, yaitu Pasal 187.

4) Alat Bukti Petunjuk

Alat bukti petunjuk menurut Pasal 188 ayat (1) KUHAP adalah:

petunjuk adalah perbuatan, kejadian, atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.

Menurut Pasal 188 ayat (2) KUHAP, petunjuk hanya dapat diperoleh dari:

a) Keterangan saksi;

b) Surat; dan

c) Keterangan terdakwa.

5) Keterangan Terdakwa

Keterangan terdakwa menurut Pasal 189 KUHAP adalah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Dalam Pasal 189 ayat (3) KUHAP tertuang bahwa keterangan terdakwa hanya dapat digunakan terhadap dirinya.

4. Tinjauan tentang Tindak Pidana Persetubuhan Anak di Bawah Umur a. Pengertian Anak

1) Pengertian Anak Menurut Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak

Pasal 1 ayat (4) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak merumuskan bahwa Anak yang Menjadi Korban Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak Korban adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang mengalami

(20)

penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana.

2) Pengertian Anak Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak

Pengertian anak berdasarkan Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yaitu seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

3) Pengertian Anak Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Pengertian kedudukan anak dalam KUHP diletakkan dalam pengertian anak yang bermakna penafsiran hukum secara negatif.

Artinya, seorang anak yang berstatus sebagai subjek hukum yang seharusnya bertanggung jawab terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh anak itu sendiri, ternyata karena kedudukan sebagai seorang anak yang belum dewasa diletakkan sebagai orang yang mempunyai hak-hak khusus dan perlu untuk mendapatkan perlindungan menurut ketentuan hukum yang berlaku. Pasal 45 KUHP mendefinisikan anak yang belum dewasa adalah mereka yang belum berusia 16 (enam belas) tahun. Oleh karena itu, apabila tersangkut dalam perkara pidana, hakim boleh memerintahkan supaya si tersalah dikembalikan kepada orangtuanya, walinya, atau pemeliharanya dengan tidak dikenakan suatu hukuman atau memerintahnya supaya diserahkan kepada pemerintah dengan tidak dikenakan suatu hukuman. Ketentuan Pasal 45, 46, dan 47 KUHP ini dihapuskan dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.

4) Pengertian Anak Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Pengertian anak menurut hukum perdata dibangun dari beberapa aspek keperdataan yang ada pada anak sebagai seseorang subjek hukum yang tidak mampu. Aspek-aspek tersebut adalah status belum dewasa (batas usia) sebagai subjek hukum dan hak-hak anak di dalam hukum perdata.

(21)

Pasal 330 KUHPerdata memberikan pengertian anak adalah orang yang belum dewasa dan seseorang yang belum mencapai usia batas legitimasi hukum sebagai subjek hukum atau layaknya subjek hukum nasional yang ditentukan oleh perundang-undangan perdata. Dalam ketentuan hukum perdata anak mempunyai kedudukan sangat luas dan mempunyai peranan yang amat penting, terutama dalam hal memberikan perlindungan terhadap hak-hak keperdataan anak, misalnya dalam masalah pembagian harta warisan, sehingga anak yang berada dalam kandungan seseorang dianggap telah dilahirkan bilamana kepentingan si anak menghendaki sebagaimana yang dimaksud oleh Pasal 2 KUHPerdata.

5) Pengertian Anak Menurut Undang-Undang Hak Asasi Manusia

Pengertian anak menurut Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pengertian yang ditetapkan oleh Undang-Undang Dasar 1945, yaitu setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya. Makna anak dalam Hukum Tata Negara, anak berhak untuk mendapatkan status atas perlindungan dari kewajiban-kewajiban hukum baik untuk dipelihara atau direhabilitasi dari perbuatan pidana atau perbuatan melanggar hukum lainnya. Pengertian yang diperoleh dari status anak menurut Hukum Tata Negara adalah kedudukan anak sebagaimana yang ditetapkan oleh undang-undang atau perundang-undangan lainnya.

Kedudukan anak yang demikian sangat bergantung pada status orang tua, keanggotaan dalam keluarga, dan juga kedudukan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.

6) Pengertian Anak Menurut Undang-Undang Perkawinan

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak mengatur secara langsung tolok ukur kapan seseorang digolongkan sebagai anak, akan tetapi hal tersebut tersirat dalam Bab II Undang-

(22)

undang Perkawinan, yaitu Pasal 6 ayat (2) yang memuat ketentuan syarat perkawinan bagi orang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun mendapati izin kedua orang tua. Dalam Pasal 7 ayat (1) Undang- undang Perkawinan juga memuat batasan minimum usia untuk dapat kawin bagi pria adalah 19 (sembilan belas) tahun dan wanita 16 (enam belas) tahun.

b. Pengertian Persetubuhan

Persetubuhan dalam arti biologis adalah suatu perbuatan yang memungkinkan terjadinya kehamilan (untuk prokreasi), sehingga harus terjadi (Handoko Tjondroputranto, 1988: 53):

1) Erectio penis;

2) Penetratio penis ke dalam vagina; dan 3) Ejaculatio dalam vagina.

Jika ketiga unsur ini diisyaratkan oleh hukum, maka ejaculatio dalam vagina dengan mudah ditiadakan, misalnya dengan kondom atau coitus interruptus. Oleh karena itu, maka Ilmu Hukum hanya mengharuskan adanya suatu penetratio penis ke dalam vagina.

Jadi kesimpulannya, yaitu bahwa persetubuhan adalah hubungan kelamin laki-laki dengan kelamin perempuan dimana harus adanya erectio penis dan penetratio penis ke dalam vagina, serta adanya ejaculatio dalam vagina. Hal inilah yang menjadi dasar utama untuk mengetahui terjadinya hubungan seksual atau persetubuhan.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), pengertian persetubuhan tertuang dalam Pasal 285 KUHP yang isinya, “Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama duabelas tahun”.

Yang dimaksud dengan persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur yaitu persetubuhan dengan wanita bukan istrinya yang umurnya belum genap 15 (lima belas) tahun. Berdasarkan Pasal 287 KUHP, jika umur wanita itu belum genap 12 (dua belas) tahun maka termasuk delik

(23)

biasa dan jika umurnya sudah genap 12 (dua belas) tahun tetapi belum genap 15 (lima belas) tahun maka termasuk delik aduan. Sedangkan yang dimaksud persetubuhan dengan wanita tidak berdaya sebagaimana diuraikan dalam Pasal 286 KUHP ialah persetubuhan dengan wanita bukan istrinya yang keadaan kesehatan jiwanya tidak memungkinkan wanita itu dapat diminta persetujuannya ataupun izinnya.

Pelaku pemerkosaan dapat digolongkan ke dalam lima kategori, yaitu:

1) Immature

Para pelaku melakukan pemerkosaan disebabkan oleh ketidakmampuan mengidentifikasikan diri mereka dengan peran seksual sebagai orang dewasa.

2) Frustated

Para pelaku melakukan kejahatannya sebagai reaksi melawan frustasi seksual yang sifatnya emosional terhadap orang dewasa. Biasanya pelaku beralih kepada anak-anaknya sendiri, ketika merasa tidak seimbang dengan istrinya.

3) Sociopathic

Para pelaku pemerkosaan yang melakukan perbuatannya dengan orang yang sama sekali asing baginya, suatu tindakan yang keluar dari kecenderungan agresif yang terkadang muncul.

4) Pathological

Para pelaku pemerkosaan yang tidak mampu mengontrol dorongan seksual sebagai hasil psikosis, lemah mental, kelemahan organ tubuh, atau kemerosotan sebelum waktunya (premature senile deterioration).

5) Miscellaneous

Yang tidak termasuk semua kategori tersebut di atas.

Persetubuhan sendiri dibedakan menjadi dua macam, yaitu persetubuhan yang dilakukan secara legal dan persetubuhan yang dilakukan secara tak legal. Persetubuhan terhadap wanita dianggap legal jika wanita

(24)

itu sudah cukup umur, tidak dalam ikatan perkawinan dengan laki-laki lain, dan dilakukan dengan izinnya atau dengan persetujuannya. Berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia, seorang wanita dianggap cukup umur dalam soal persetubuhan jika ia sudah genap berumur 15 (lima belas) tahun.

Pada umur tersebut ia sudah dianggap mampu memahami risiko-risikonya dan oleh karenanya ia dapat menentukan sendiri apakah ia akan menyetujui suatu persetubuhan atau tidak. Namun persetubuhan dari seorang wanita yang tidak sehat akalnya tidak dianggap sah, meskipun wanita itu sudah berumur 15 (lima belas) tahun. Ikatan perkawinan dapat dianggap sebagai persetujuan atau izin bagi suami untuk melakukan persetubuhan dengan isterinya. Jika persetubuhan dilakukan dengan tidak mengindahkan prinsip- prinsip di atas maka persetubuhan tersebut dianggap tak legal dan dapat dipidana.

Berdasarkan KUHP, persetubuhan tak legal terdiri atas persetubuhan yang dilakukan didalam perkawinan dan persetubuhan yang dilakukan diluar perkawinan. Yang dimaksud persetubuhan tak legal yang dilakukan di dalam perkawinan disini adalah persetubuhan yang dilakukan terhadap isterinya sendiri yang belum cukup umur dan persetubuhan tersebut telah menimbulkan luka-luka. Ancaman hukumannya berdasarkan Pasal 288 KUHP ialah penjara selama-lamanya 4 (empat) tahun, jika mengakibatkan luka berat maka ancaman hukumannya 8 (delapan) tahun dan jika mengakibatkan mati ancaman hukumannya 12 (dua belas) tahun. Sedangkan persetubuhan tak legal yang dilakukan diluar perkawinan adalah persetubuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dengan wanita yang bukan isterinya. Dengan kata lain antara laki-laki dan wanita yang melakukan persetubuhan itu tidak berada dalam ikatan perkawinan.

(25)

B. Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Keterangan:

Bagan kerangka pemikiran di atas menjelaskan alur pemikiran penulis terhadap mengangkat, menggambarkan, menelaah, dan menjabarkan, serta menemukan jawaban atas rumusan masalah penelitian hukum ini, tinjauan

Perkara Persetubuhan Anak

Penuntutan di Persidangan

Pembuktian Dakwaan Penuntut Umum Bentuk

Dakwaan

Dakwaan Alternatif

Metode Pembuktian

Putusan

(26)

penggunaan dakwaan berbentuk alternatif dan metode pembuktiannya dalam pemeriksaan perkara persetubuhan anak di bawah umur.

Dimulai dari perkara persetubuhan anak di bawah umur, tindak pidana persetubuhan yang melibatkan anak di bawah umur. Dalam proses persidangan, hakim telah memanggil saksi, dimana saksi tersebut menerangkan sebenar- benarnya tentang apa yang didengarnya sendiri, yang dilihatnya sendiri, atau yang dialaminya sendiri.

Dakwaan yang digunakan dalam putusan ini adalah dakwaan alternatif.

Penuntut Umum dalam surat dakwaan alternatif merumuskan 2 (dua) atau lebih dakwaan kepada terdakwa sehubungan dengan tindak pidana yang dilakukannya.

Jadi, antara satu dakwaan dan dakwaan yang lain tersirat kata “atau” yang memberi pilihan kepada hakim untuk menerapkan salah satu diantara dakwaan- dakwaan yang diajukan.

Dalam kasus ini, Penuntut Umum bertindak sebagai aparat yang diberi wewenang untuk mengajukan segala daya upaya membuktikan kesalahan yang didakwakannya kepada terdakwa. Dari alat bukti dan barang bukti yang telah dihadirkan di persidangan, hakim menjatuhkan putusan terhadap terdakwa yang telah terbukti secara bersalah melakukan tindak pidana membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya.

Referensi

Dokumen terkait

Penju Penjualan alan prod produk uk koper koperasi asi secara tunai tidak dicatat di buku harian ini dan karena penjualan secara kredit tidak akan secara tunai tidak dicatat di

Selain penentuan awal waktu salat dengan cara melihat langsung dari fenomena Matahari dan metode hisab yang terdapat pada kitab-kitab klasik dan buku-buku falak,

Pada hasil yang telah ditunjukkan di atas, terbukti secara ilmiah bahwa tanah yang digunakan memiliki signifikansi yang baik dalam menyisihkan senyawa fosfat daripada

 Kiranya dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kualitas bahan tambah yang digunakan sebagai campuran batako, penggunaan abu sekam padi sebagai bahan

Skripsi ini berjudul “SIMULASI PERFORMANSI TURBIN ANGIN TIPE DARRIEUS H-ROTOR MENGGUNAKAN PROFIL SUDU NACA 4415 TERHADAP VARIASI PANJANG CHORD DAN TIP SPEED RATIO DENGAN

Dalam melaksanakan transaksi jual beli, hal yang penting diperhatikan adalah mencari barang yang halal dan dengan jalan yang halal pula artinya carilah barang yang halal

tersebut membuat masyarakat Melayu di Malaysia tidak menyenangi akan hal itu, karena bagi mereka masyarakat Melayu yang berada di Thailand Selatan adalah bagian dari

Demikian halnya, Layanan Pengusulan dan Penganugerahan Satya Lancana Karya Satya mendapat predikat Baik (81,91) dari survei pada 31 responden, terdapat unsur layanan ; (U6)