• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Penelitian Tindakan dan Pendidikan 5(2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Penelitian Tindakan dan Pendidikan 5(2)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Meningkatkan Hasil Belajar IPA Materi Konduktor dan Isolator Melalui Metode Eksperimen Pada Siswa Kelas VI SD Negeri 1

Baru Kecamatan Labuan Amas Selatan

Mursalehah

*

Sekolah Dasar Negeri 1 Baru Labuan Amas Selatan Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan

• Terima: 10-2-2019 • Revisi: 1-4-2019 • Terbit Daring: 30-5-2019

Abstrak

Proses pembelajaran IPA di SD Negeri 1 Baru belum sepenuhnya bisa melibatkan peran aktif siswa. Pembelajaran lebih sering disajikan melalui metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Oleh karena itu siswa cenderung pasif dan kegiatan pembelajaran menjadi kurang bermakna sehingga hasil belajar IPA tidak maksimal. Cara yang sesuai untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan metode eksperimen. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019 dengan subjek 9 orang siswa kelas VI SD Negeri 1 Baru. Penelitian dilakukan 2 siklus dan setiap siklus melalui 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data pada penelitian terdiri atas hasil belajar siswa dan data keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru yang dikumpulkan melalui tes dan observasi. Data tentang keterlaksanaan pembelajaran dianalisis secara deskriptif dengan menghitung frekuensi dan persentase (%) aspek yang diamati. Data hasil belajar siswa dianalisis secara deskriptif dengan menghitung ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Penelitian menyimpulkan, hasil belajar siswa dapat ditingkatkan melalui pembelajaran dengan metode eksperimen dari nilai rata-rata 60 dengan ketuntasan 22% pada siklus I menjadi 95,55 dengan ketuntasan 100% pada siklus II. Keterlaksanaan kegiatan pembelajaran dapat meningkat dari 79% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II.

Kata-kata kunci: Hasil belajar, konduktor dan isolator, eksperimen

———

* Korespondensi. Mursalehah: E-mail: [email protected]

(2)

1. Pendahuluan

Guru sebagai pendidik dan pengajar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Pada setiap inovasi pendidikan khususnya dalam perubahan kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari upaya pendidikan selalu saja bermuara pada guru. Hal ini menunjukkan betapa eksisnya peran guru dalam dunia pendidikan.

Hal tersebut seperti disebutkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas bahwa tenaga kependidikan bertugas melaksanakan adminsitrasi, pengelolaan, pengembangan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan dan satuan pendidikan.

Guru memiliki posisi yang sangat penting dan menentukan keberhasilan pendidikan. Guru berada pada lini paling depan dalam keterlaksanaan proses pembelajaran di sekolah. Guru merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas kualitas dan kebermaknaan proses pembelajaran di dalam kelas.

Dalam hal ini kinerja guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran.

Guru hendaknya dapat mengarahkan dan membimbing siswa untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar sehingga tercipta suatu interaksi yang baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa.

Terjadinya proses pembelajaran itu ditandai dengan dua hal yaitu siswa menunjukkan keaktifan, seperti tampak dalam jumlah curahan waktu untuk melaksanakan tugas ajar, dan terjadi perubahan perilaku yang selaras dengan tujuan pengajaran yang diharapkan.

Keaktifan dan perubahan perilaku siswa dalam proses pembelajaran dapat diwujudkan guru melalui berbagai upaya seperti penggunaan berbagai metode pembelajaran yang sesuai. Pada kenyataannya dari hasil temuan di lapangan masih banyak guru yang belum mampu menerapkan metode-metode pembelajaran dengan baik. Kondisi tersebut juga terjadi di SD Negeri Tabudarat Hulu Kecamatan Labuan Amas Selatan. Guru umumnya hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi dan diakhiri dengan pemberian tugas. Kondisi demikian jika dibiarkan terus maka dapat menghambat proses pembelajaran dimana hasil belajar tidak akan dicapai dengan maksimal.

Guru seharusnya mampu memilih dan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien sesuai

tujuan yang diharapkan. Peranan guru dalam menentukan metode pembelajaran sangatlah penting, sehingga guru dapat lebih bertindak sebagai fasilitator.

Peneliti berupaya melakukan pendekatan kepada guru melalui perbincangan untuk mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam memilih metode pembelajaran yang tepat dan sesuai. Guru di SD Negeri Tabudarat Hulu umumnya mengalami masalah dalam menentukan kegiatan pembelajaran dengan metode yang dipilihnya.

Mengacu pada hasil di atas, maka guru dan peneliti melakukan kesepakatan untuk memperbaiki kondisi yang ada melalui kegiatan supervisi klinis. Secara umum supervisi klinis diartikan sebagai bentuk bimbingan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannya melalui siklus yang sistematis. Siklus sistematis ini meliputi: perencanaan, observasi yang cermat atas pelaksanaan dan pengkajian hasil observasi dengan segera dan obyektif tentang penampilan mengajarnya yang nyata.

Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru, khususnya dalam penampilan mengajar, berasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkat laku mengajar tersebut (John J. Bolla dalam Purwanto 2009).

Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional (Sahertian, 2008).

Secara teknik supervisi klinis adalah suatu model supervisi yang terdiri atas tiga fase, yaitu: 1) pertemuan perencanaan; 2) observasi kelas; dan 3) pertemuan balik. Supervisi klinis adalah proses membantu guru memperkecil ketidaksesuaian (kesenjangan) antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal (Keith Acheson dan Meredith D. Gall dalam Purwanto, 2009).

Tingkah laku mengajar yang ideal diantaranya dapat ditunjukkan dari kemampuan guru menggunakan berbagai metode pembelajaran yang sesuai. Menurut Sudjana (2005) metode mengajar adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungna pembelajaran. Metode yang baik diharapkan dapat meningkatkan aktivitas kegiatan belajar siswa. Dengan kegiatan belajar mengajar

(3)

terciptalah interaksi edukatif yang dinamis. Proses interaktif itu akan berjalan baik, kalau siswa lebih banyak aktif dibandingkan dengan guru, oleh karenanya metode mengajar yang baik adalah metode yang menumbuhkan kegiatan belajar siswa.

Titik sentral yang harus dicapai oleh setiap kegiatan belajar mengajar adalah tercapainya tujuan pengajaran. Guru sebagai salah satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode yang bagaimana yang akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran (Djamarah dan Zain, 2006). Pemilihan dan penentuan metode ini didasari adanya metode-metode tertentu yang tidak bisa dipakai untuk mencapai tujuan tertentu.

Metode apapun yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, sudah seharusnya siswa diposisikan sebagai pusat perhatian utama. Pola pembelajaran di kelas tidak hanya dilakukan oleh didatik-metodik apa yang digunakan, melainkan juga bagaimana peran guru dalam memperkaya pengalaman belajar siswa.

Menurut Roestiyah (dalam Djamarah dan Zain, 2006), dalam kegiatan belajar mengajar guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus mengajar. Dengan demikian, metode mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

2. Metodologi

Metodologi memberikan gambaran yang jelas terhadap pencapain tujuan penelitian (Dalle, 2010;

Dalle et al., 2017). Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dilaksanakan di SD Negeri Tabudarat Hulu Kecamatan Labuan Amas Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada semester genap tahun ajaran 2016/2017 dengan subjek guru kelas IV, V, dan VI. Prosedur penelitian dilakukan mengacu pada pendapat yang dikemukakan oleh Kemmis dan M. Taggart, dengan menggunakan model spiral atau siklus melalui empat langkah pokok yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (action), observasi (observing), dan refleksi (reflection).

Tahap perencanaan mencakup semua perencanaan tindakan seperti menyusun perencanaan tindakan supervisi, menyiapkan lembar observasi dan daftar pertanyaan, serta membuat alat penilaian untuk

mengukur kemampuan guru. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini adalah melaksanakan proses supervisi berdasarkan skenario yang sudah dirancang.

Saat kegiatan supervisi berlangsung peneliti melakukan pengamaan dengan menggunakan lembar pengamatan yang bertujuan untuk memperoleh data kemampuan guru dalam menggunakan metode pembelajaran. Pada akhir siklus dilakukan analisis dan refleksi atas proses dan hasil pelaksanaan tindakan sebagai acuan untuk merencanakan tindakan pada siklus berikutnya.

Data tentang kemampuan dalam menggunakan metode pembelajaran dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk memperoleh data penggunaan metode pembelajaran oleh guru dalam proses pembelajaran, sedangkan wawancara dan dokumentasi dilakukan untuk memperoleh data pendukung terkait penggunaan metode oleh guru. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan nilai yang diperoleh guru dan menafsirkannya dengan kategori penilaian.

3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Hasil Penelitian Siklus I

Kemampuan guru kelas IV, V, dan VI di SD Negeri Tabudarat Hulu dalam menggunakan metode pembelajaran masih dalam kategori kurang dengan nilai rata-rata 2,63. Metode yang digunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran juga terlihat belum bervariasi meliputi ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas.

3.2 Hasil Penelitian Siklus II

Pada pelaksanaan siklus II kemampuan guru kelas IV, V, dan VI dalam menggunakan metode pembelajaran mengalami peningkatan yang signifikan dengan nilai rata-rata mencapai 3,61 sehingga diperoleh hasil yang sangat memuaskan. Metode pembelajaran yang digunakan juga semakin bervariasi selain metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas yang sudah digunakan pada siklus sebelumnya guru juga mampu menggunakan metode inkuiri, CTL, konstruktivisme, dan metode discovery.

3.3 Pembahasan

Pelaksanaan supervisi klinis pada dasarnya difokuskan pada perbalikan pengajaran dengan melalui siklus yang sistematis dari tahap perencanaan,

(4)

pengamatan, dan analisis intelektual yang intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan mengadakan modifikasi rasional. Berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan supervisi klinis di SD Negeri Tabudarat Hulu target yang diharapkan adalah kemampuan guru dalam menggunakan metode pembelajaran dengan asumsi bahwa melalui penerapan metode yang tepat maka proses pembelajaran dapat dioptimalkan sehingga prestasi belajar siswa menjadi meningkat.

Indikator yang dijadikan dasar penilaian atas kemampuan guru SD Negeri Tabudarat Hulu dalam menggunakan metode pembelajaran meliputi 6 aspek yaitu kesesuaian metode dengan tujuan dan materi pembelajaran, metode dapat memotivasi belajar siswa, dapat melibatkan siswa dalam pembelajaran, dapat mengefektifkan kegiatan pembelajaran, dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pada siklus I kemampuan guru di SD Negeri Tabudarat Hulu dalam menggunakan metode pembelajaran masih tergolong kurang dengan nilai rata-rata 2,63. Metode yang digunakan guru dalam melaksanakan pembelajaran juga terlihat belum bervariasi meliputi ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas yang biasa digunakan guru sebelum dilakukan pelaksanaan tindakan.

Pada pelaksanaan siklus II kemampuan guru dalam menggunakan metode pembelajaran mengalami peningkatan yang signifikan dengan nilai rata-rata mencapai 3,61 sehingga diperoleh hasil yang sangat memuaskan. Metode pembelajaran yang digunakan juga semakin bervariasi selain metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas yang sudah digunakan pada siklus sebelumnya guru juga mampu menggunakan metode inkuiri, CTL, konstruktivisme, dan metode discovery.

Berdasarkan pencapaian tersebut di atas, maka tujuan dari supervisi klinis yang antara lain membantu guru mengembangkan kompetensinya, dapat tercapai dengan optimal. Hal demikian diperkuat dari pernyataan guru kelas IV dalam kegiatan wawancara yang menyatakan bahwa “melalui latihan, bimbingan dan dukungan pada kegiatan supervisi kemampuan kami dalam menggunakan alat peraga menjadi lebih maksimal”.

Guru kelas V memberikan penyataan bahwa

“beberapa indikator yang semula kurang kami pahami, saat ini sudah bisa dipahami dengan baik. Kami juga bisa menerapkan seluruh metode yang sudah tercatat dalam RPP”. Demikian juga dengan guru kelas VI yang menyatakan “beberapa metode baru kami terapkan, dan hal tersebut ternyata hasilnya luar biasa terhadap

peningkatan keaktifan dan motivasi siswa untuk belajar.

Ini tentu sangat positif karena kelas VI merupakan masa-masa menjelang ujian nasional yang butuh kesungguhan siswa dalam memahami materi”.

Peningkatan kemampuan guru SD Negeri Tabudarat Hulu dalam menggunakan metode pembelajaran terjadi karena melalui supervisi klinis guru dapat lebih terbuka untuk menyampaikan berbagai permasalahan khususnya dalam menggunakan metode pembelajaran. Dengan begitu peneliti bersama guru dapat mencari solusi bersama untuk mengatasi masalah tersebut. Di samping itu peneliti memandang guru sebagai teman sejawat dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah sehingga guru merasa lebih nyaman dalam mengikuti kegiatan bimbingan dan pembinaan yang peneliti lakukan.

Supervisi klinis dilakukan dalam bentuk bimbingan atau berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan perintah atau instruksi atasan pada bawahan. Aspek dan jenis keterampilan yang akan disupervisi diusulkan oleh guru atau sebuah kesepakatan hasil kajian bersama antara guru dengan supervisor. Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengar daripada memberikan arahan apalagi perintah (Solo, 1983).

4. Simpulan dan Saran

Mengacu pada hasil penelitian dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan, melalui supervisi klinis kemampuan guru SD Negeri Tabudarat Hulu dalam menggunakan metode pembelajaran dapat ditingkatkan dari 2,63 dalam kategori kurang pada siklus I menjadi 3,61 dalam kategori sangat memuaskan pada siklus II. Guru juga mampu menggunakan metode pembelajaran yang lebih bervariasi dari sekedar ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas yang sudah biasa dilakukannya dengan metode lain seperti inkuiri, CTL, konstruktivisme, dan metode discovery.

Kemampuan menggunakan metode pembelajaran merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru karena akan sangat membantu dalam mencapai target pembelajaran. Jadi sangat bijaksana jika guru berusaha mencari masukan tentang berbagai metode pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan kegiatan yang akan dilakukan tanpa meninggalkan faktor siswa, lingkungan, dukungan media, dan sumber belajar agar hasilnya lebih maksimal.

(5)

Daftar Rujukan

Dalle, J. (2010). Metodologi umum penyelidikan reka bentuk bertokok penilaian dalaman dan luaran: Kajian kes sistem pendaftaran siswa Indonesia. Thesis PhD Universiti Utara Malaysia.

Dalle, J., Hadi, S., Baharuddin, & Hayati, N. (2017). The Development of Interactive Multimedia Learning Pyramid and Prism for Junior High School Using Macromedia Authorware.

The Turkish Online Journal of Educational Technology, November. 714-721.

Djamarah, S.B. & Zain, A. (2006). Strategi Belajar Mengajar.

Jakarta: Rineka Cipta

Purwanto, N. (2009). Administrasi dan Supervisi Pendidikan.

Bandung: Remaja Rosdakarya

Sahertian, P.A. (2008). Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengambangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta

Solo, J.L. (1983). Pendekatan dan Teknik-teknik Supervisi Klinis.

Jakarta: Departemen P dan K, Ditjen Pend. Tinggi (PPLPTK) Sudjana, N. (2005). Strategi Pembelajaran. Bandung: Alfabeta Pemerintah Indonesia. (2003). Undang-undang Nomor 20 Tahun

2003 tentang Sisdiknas. Jakarta: Sekretariat Negara.

(6)

Referensi

Dokumen terkait

29 Dengan mengusung nilai budaya dalam sebuah teknologi canggih seperti robot yang memiliki kemampuan untuk meringankan pekerjaan manusia Jepang mampu membuat robot

6LPSXODQ SHQHOLWLDQ LQL PHQXQMXNNDQ DGDQ\D SHUEHGDDQ GDUL NRQVHS WHRULWLN VHEHOXP\D GLPDQD NRPSHWHQVL LGHDOQ\D PHPLOLNL SHQJDUXK \DQJ OHELK WLQJJL GLEDQGLQJNDQ GHQJDQ PRWLYDVL

Manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah dapat memberikan pengetahuan pada peneliti dan masyarakat umum tentang kondisi optimum reaksi alkoholisis minyak jarak oleh minyak

Pengertian pembiayaan menurut UU No. 10 tahun 1998 pasal 1 ayat 12 tentang perbankan yang menyatakan bahwa “Pembiayaan berdasarkan prinsip syari’ah adalah penyediaan uang

study. 3) Ada kontribusi pembelajaran matematika kontekstual yang dikembangkan terhadap hasil belajar matematika SD Selo Boyolali. 4) Ada kontribusi faktor-faktor

Peran Ibu Sebagai Pendidik Remaja dengan Kesiapan Menghadapi Menarche Pada Siswi Usia 10-12 Tahun di SD Negeri 3 Sedayu Bantul. Yogyakarta Tahun 2009

Wajib Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum adalah orang pribadi atau badan yang menurut Peraturan Perundang-undangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan

Pasal 3 ayat (2) tersebut telah memberikan jaminan terhadap seseorang untuk mendapatkan kepastian hukum dan perlakuan yang sama di depan hukum sehingga