i
DUNIA KERJA BURUH WANITA INDUSTRI GARMEN
(Survey Industri Garmen di wilayah Karangjati, Ungaran, Jawa Tengah)
Oleh:
DYAH SARASWATI HEDWICH NIM: 212012603
KERTAS KERJA
Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari
Persyaratan-Persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi
FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI : MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA 2016
ii
iii
iv
v
ABSTRACT
The purpose of the study is to describe and analyze the milieu of women labour who work for garment industry from seven aspects. The first is the work motivation (1), the second is working environment (2), the third is the risks (3), the fourth is workload (4), the fifth is the superior’s treatment (5), the sixth is the worker’s relationship treatment (6), and the seventh is the welfare of women labour (7). Accidental sampling was applied as a sampling method.
The selected respondents were those who met accidentially. The responden criteria in this study was the women labour who works for garment industries in Karangjati,Ungaran,Central Java. The analysis technique used in this research was qualitative descriptive statistic. The result of analysis are the work motivation found within very good category. Work environment and its risk, superior’s treatment are all found within good category. At the same time, workload, worker’s relationship treatment and the welfareness of women labour are within sound category level.
Key words : women labour, garment industry, work motivation, work environment, risks, workload, superior’s treatment, worker’s relationship treatment, welfareness.
SARIPATI
Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis dunia kerja buruh wanita pada industri garmen yang dilihat dari 7 (tujuh) aspek yaitu (1) Motivasi kerja, (2) Suasana lingkungan kerja, (3) Risiko kerja, (4) Beban kerja, (5) Perlakuan atasan, (6) Perlakuan rekan kerja, dan (7) Kesejahteraan buruh wanita. Metode pengambilan sampel menggunakan accidental sampling, dimana pengambilan sampel dengan memilih responden yang kebetulan dijumpai. Kriteria pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah buruh wanita yang bekerja pada industri garmen di wilayah Karangjati, Ungaran, Jawa Tengah.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan dunia kerja buruh wanita industri garmen dengan melihat 7 (tujuh) aspek berupa motivasi kerja masuk dalam kategori sangat baik, dan suasana lingkungan kerja, risiko kerja serta perlakuan atasan masuk dalam kategori baik, sedangkan beban kerja, perlakuan rekan kerja serta kesejahteraan buruh wanita masuk dalam kategori cukup baik.
Kata kunci: dunia kerja buruh wanita, industri garmen, motivasi, suasana lingkungan kerja, risiko, beban kerja, perlakuan atasan, perlakuan rekan kerja, kesejahteraan.
1 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Munculnya industrialisasi membuka peluang bagi wanita yang berpendidikan terbatas untuk memasuki pekerjaan di pabrik sebagai buruh, sehingga wanita dapat turut berperan secara ekonomi menghasilkan uang untuk kehidupan diri maupun keluarganya. Hal ini dapat dilihat dari adanya penambahan penghasilan keluarga, dan pemberian jaminan sosial yang diberikan perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung (Widanti, 2005). Soepomo (2003) mendefinisikan buruh sebagai seseorang yang menjalankan pekerjaan untuk atasannya, dalam hubungan kerja dengan menerima upah. Hak-hak buruh di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 meliputi hak atas pengupahan, hak atas kesejahteraan, hak waktu kerja, hak atas waktu istirahat dan cuti, hak keselamatan dan kesehatan kerja, dan hak khusus bagi buruh wanita.
Industri garmenmerupakan industri penyumbang devisa terbesar di Indonesia, setelah minyak dan gas bumi (MIGAS) dengan pangsa pasar antara 3% - 4% dari total nilai ekspor dunia di pasar internasional. Industri tersebut merupakan industri padat karya, dimana sebagian besar proses pengolahan bahan baku menjadi barang jadi masih menggunakan tenaga manusia sehingga sangat rentan dengan masalah ketenagakerjaan.
Kesuksesan industri garmen tergantung pada apakah industri tersebut mampu mengelola pekerjanya. Kualitas pekerjaan akan berpengaruh pada hasil akhir dan tingkat efisiensi (Khaniaanisah, 2012).
Dalam kegiatan produksi, industri garmen memiliki buruh pria dan wanita dengan usia kerja 15-55 tahun, dimana buruh wanita memiliki prosentase lebih tinggi. Salah satu indikator yang menunjukkan peran serta wanita dalam dunia kerja yang semakin meningkat. Dalam perkembangannya, industri garmen lebih membutuhkan buruh wanita
2
karena dianggap memiliki ketelitian tinggi (Murniarti, 2004). Namun, keterlibatan wanita menjadi tenaga kerja di sektor industri, tak lepas dari berbagai tindakan diskriminasi yang terjadi di lingkungan tempat mereka bekerja. Wanita masih dianggap sebagai tenaga kerja nomor dua dan upah tenaga kerja wanita diperlakukan berbeda dengan pria, dilihat dari risiko serta beban kerjanya (Safitri, 2006).
Buruknya kondisi buruh wanita disebabkan adanya suatu ketidakadilan gender sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan antara yang diterima buruh wanita dengan buruh pria yaitu perbedaan upah, pembagian kerja, jenjang karier, penyediaan fasilitas kerja, hingga pelecehan seksual yang berakibat merugikan buruh wanita itu sendiri, karena mereka terus-menerus dalam kondisi tertindas (Daulay, 2006).
Berkaitan dengan kasus pelecehan seksual yang dialami oleh buruh wanita, berdasarkan catatan tahunan yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan pada tahun 2012 terdapat 216.156 kasus pelecehan seksual dan sebanyak 2.521 kasus pelecehan seksual tersebut dialami oleh buruh wanita. Para buruh wanita kerap menjadi obyek pelecehan seksual di dalam maupun diluar pabrik dan pelakunya bisa dari siapa saja, mulai dari atasan hingga teman buruh pria (Jumingsih, 2013).
Lembaga Swadaya Masyarakat yang tergabung dalam Komite Aksi Perempuan melakukan survey terhadap buruh wanita salah satunya di industri garmen. Hasil survey menyatakan posisi buruh wanita semakin lemah, mereka rentan mengalami berbagai persoalan seperti upah rendah, lembur paksa yang tidak dibayar, kondisi dan fasilitas kerja yang buruk, tidak tersedianya pojok air susu ibu (ASI), pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak tanpa alasan yang jelas, hak untuk mendapatkan cuti tahunan, cuti haid, cuti hamil dan hak atas fasilitas yang aman untuk buruh wanita yang bekerja lembur hingga malam hari, belum dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku, serta pelecehan dan
3
kekerasan seksual di lingkungan kerja yang membuat buruh wanita merasa tidak nyaman dalam bekerja (Ardiyanti, 2016).
Arief (2013) mencatat banyaknya industri padat karya yang ada dan berkembang di Kabupaten Semarang dengan mayoritas industri garmen karena kawasan di Kabupaten Semarang yang strategis serta tenaga kerja yang melimpah membuat banyaknya perusahaan–perusahaan membangun kawasan industri di wilayah tersebut. Adanya industri tersebut selain bertujuan menambah profit bagi perusahaan juga bisa berdampak untuk kesejahteraan pekerjanya, tetapi kenyataannya perusahaan malah mementingkan profitnya saja tanpa ada kesetaraan dalam mempekerjakan pekerjanya. Hal tersebut terbukti dengan adanya peluang kerja buruh wanita yang mendominasi dibandingkan buruh pria karena adanya anggapan jika sumber tenaga wanita banyak dan dapat di gaji dengan murah sesuai upah minimum regional (UMR) Kabupaten Semarang.
Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan lemahnya posisi para buruh wanita industri garmen dilihat dari risiko serta beban kerja, dan kurangnya kesejahteraan yang diberikan perusahaan kepada buruh, sehingga menarik untuk diteliti bagaimana sebenarnya dunia kerja buruh wanita pada industri garmen di wilayah Karangjati, Ungaran, Jawa Tengah dimana wilayah tersebut merupakan kawasan industri yang didominasi oleh industri garmen.
1.2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis dunia kerja buruh wanita industri garmen yang dilihat dari 7 (tujuh) aspek yaitu (1) motivasi kerja, (2) suasana lingkungan kerja, (3) risiko kerja, (4) beban kerja, (5) perlakuan atasan, (6) perlakuan rekan kerja, dan (7) kesejahteraan buruh wanita.
1.3. Persoalan Penelitian
Dari uraian diatas, yang menjadi persoalan penelitian adalah sebagai berikut:
4
1. Bagaimana motivasi kerja buruh wanita industri garmen?
2. Bagaimana suasana lingkungan kerja buruh wanita industri garmen?
3. Bagaimana risiko kerja buruh wanita industri garmen?
4. Bagaimana beban kerja buruh wanita industri garmen?
5. Bagaimana perlakuan atasan buruh wanita industri garmen?
6. Bagaimana perlakuan rekan kerja buruh wanita industri garmen?
7. Bagaimana kesejahteraan buruh wanita industri garmen?
Perbedaan penelitian ini dari penelitian sebelumnya adalah penelitian ini memberi gambaran dunia kerja buruh wanita dari 7 (tujuh) aspek, dengan mengambil sampel penelitian buruh wanita industri garmen di wilayah penelitian pada industri garmen di Karangjati, Ungaran, Jawa Tengah.
1.4. Manfaat Penelitian
Diharapkan hasil penelitian ini memberi gambaran bagaimana dunia kerja buruh wanita industri garmen jika dilihat dari 7 (tujuh) aspek, kemudian memberi informasi lebih mendalam bagi perusahaan industri garmen dalam mengelola tenaga kerja sehingga dengan pengelolaan yang baik dapat meningkatkan kualitas pekerjaan, serta bagi seluruh buruh wanita yang bekerja pada industri garmen untuk lebih mengenal, mengerti dan memahami bagaimana sebenarnya dunia kerja mereka.
2. TELAAH TEORITIS
2.1. Buruh Wanita Industri Garmen
Soepomo (2003) mendefinisikan buruh sebagai seseorang yang menjalankan pekerjaan untuk atasannya, dalam hubungan kerja dengan menerima upah atau imbalan.
Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 mencatat buruh adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa untuk pemenuhan
5
kebutuhan hidup sendiri maupun masyarakat. Munculnya industrialisasi membuka peluang bagi wanita yang berpendidikan terbatas untuk memasuki pekerjaan di pabrik sebagai buruh demi menghasilkan uang untuk kehidupan diri maupun keluarganya (Widanti, 2005). Dalam perkembangannya, industri garmen lebih membutuhkan buruh wanita karena dianggap memiliki ketelitian tinggi, namun disisi lain buruh wanita dianggap tidak produktif karena fungsi biologisnya seperti haid, hamil, dan menyusui (Murniarti, 2004).
Buruh wanita industri garmen memiliki karakteristik tertentu yang dapat dilihat dari segi ekonomi dan sosial. Dilihat dari latar belakang sosial, buruh wanita biasanya berasal dari keluarga golongan menengah ke bawah. Buruh wanita tersebut memiliki keterbatasan dalam segi keahlian. Buruh wanita biasanya hanya bisa menjahit. Dari segi ekonomi, buruh wanita memiliki pendapatan ekonomi yang lemah dan berpendidikan rendah (Hutagalung, 1992). Permasalahan buruh wanita industri garmen adalah tingginya perbedaan imbalan dan penghargaan yang diterima antara buruh wanita dan pria. Wanita masih dipandang hanya sebagai pelengkap dari pria, sehingga upah atau imbalan yang diterima lebih kecil. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam hal pendidikan dan keterampilan, buruh wanita masih sangat terbelakang, meskipun sebenarnya bila diberikan kesempatan yang sama, tidak sedikit buruh wanita yang mampu berprestasi dengan buruh pria (Sajogyo, 1983). Menurut Pratiwi (2009), terdapat perbedaan pembagian kerja berdasarkan gender, buruh wanita ditempatkan pada bagian sewing (menjahit), finishing (pasang kancing atau label) dan packing (pengemasan), yang membutuhkan ketelitian tinggi, sedangkan buruh pria di tempatkan pada bagian service mesin, gudang mesin dan ekspedisi. Kemudian terdapat perbedaan jaminan kerja yang diberikan perusahaan, buruh pria mendapatkan jaminan kerja yang lebih banyak dibandingkan buruh wanita. Sama halnya seperti jaminan kerja, buruh pria mendapatkan
6
jaminan keluarga lebih banyak dibandingkan dengan buruh wanita. Hal ini disebabkan adanya anggapan bahwa pria memiliki tanggungan hidup yang banyak sebagai kepala keluarga.
Ardiyanti (2016) mencatat lemahnya posisi buruh wanita industri garmen karena mereka rentan mengalami berbagai persoalan seperti upah rendah, lembur paksa yang tidak dibayar, kondisi dan fasilitas kerja yang buruk, tidak tersedianya pojok air susu ibu (ASI), pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak tanpa alasan yang jelas, hak untuk mendapatkan cuti tahunan, cuti haid, cuti hamil dan hak atas fasilitas yang aman untuk buruh wanita yang bekerja lembur hingga malam hari, belum dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku, serta pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kerja.
Menurut Jumingsih (2013), buruh wanita masih dianggap tenaga kerja nomor dua dalam industri garmen, sehingga kerap diperlakukan tidak nyaman oleh atasannya. Buruh wanita industri garmen kerap menjadi obyek pelecehan seksual di dalam maupun diluar pabrik dan pelakunya bisa dari siapa saja, mulai dari atasan hingga teman buruh pria. Hal tersebut biasanya terjadi ketika para buruh melakukan kerja lembur hingga malam hari dan tidak disediakan transportasi yang aman.
Selain itu, komponen kebutuhan hidup layak (KHL) yang menjadi penentu upah buruh belum mencakup kebutuhan buruh wanita secara spesifik. Anggapannya adalah buruh wanita hanya menambah nafkah keluarga. Padahal, faktanya banyak sekali buruh wanita yang merupakan kepala keluarga, bahkan orang tua tunggal. Komponen kebutuhan hidup layak (KHL) menggunakan persepsi kebutuhan buruh yang lajang. Jadi, tidak ada tunjangan bagi buruh yang sudah berkeluarga (Anwar, 2015).
2.2. Hak-Hak Buruh Di Indonesia
Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, hak-hak buruh di Indonesia meliputi:
7 1. Pengupahan
Setiap pekerja atau buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja atau buruh.
Kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja atau buruh meliputi:
1. upah pokok, 2. upah kerja lembur,
3. upah untuk pembayaran pesangon,
4. upah untuk pekerja atau buruh yang tidak masuk kerja karena sakit sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan,
5. upah untuk pekerja atau buruh yang tidak masuk kerja karena menikah, menikahkan, mengkhitankan, membabtiskan anaknya, isteri melahirkan atau keguguran kandungan, suami atau isteri atau anak atau menantu atau orang tua atau mertua atau anggota keluarga dalam satu rumah meninggal.
Pengusaha menyusun struktur dan skala upah dengan memperhatikan golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan, dan kompetensi.
Ketentuan mengenai struktur dan skala upah diatur dengan Keputusan Menteri.
2. Kesejahteraan
Setiap pekerja atau buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja.
Jaminan sosial tenaga kerja dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
8
Untuk meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja atau buruh dan keluarganya, pengusaha wajib menyediakan fasilitas kesejahteraan.
Penyediaan fasilitas kesejahteraan dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pekerja atau buruh dan ukuran kemampuan perusahaan.
Ketentuan mengenai jenis dan kriteria fasilitas kesejahteraan sesuai dengan kebutuhan pekerja atau buruh dan ukuran kemampuan perusahaan diatur dengan Peraturan Pemerintah.
3. Waktu Kerja
Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja.
Waktu kerja sebagaimana dimaksud meliputi:
1. 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau
2. 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.
Pengusaha yang mempekerjakan pekerja atau buruh melebihi waktu kerja harus memenuhi syarat:
1. ada persetujuan pekerja atau buruh yang bersangkutan.
2. waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu.
Pengusaha yang mempekerjakan pekerja atau buruh melebihi waktu kerja wajib membayar upah kerja lembur.
4. Waktu Istirahat dan Cuti
Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja atau buruh.
Waktu istirahat dan cuti meliputi:
9
1. istirahat antara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam setelah bekerja selama 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tersebut tidak termasuk jam kerja,
2. istirahat mingguan 1 (satu) hari untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 2 (dua) hari untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu, 3. cuti tahunan, sekurang-kurangnya 12 (dua belas) hari kerja setelah
pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 (dua belas) bulan secara terus menerus.
Pekerja atau buruh wanita yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.
Pekerja atau buruh wanita berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.
Pekerja atau buruh wanita yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.
Pekerja atau buruh wanita yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.
Pengusaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada pekerja atau buruh untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan agamanya.
Pekerja atau buruh tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi.
Pengusaha yang mempekerjakan pekerja atau buruh untuk bekerja pada hari-hari libur resmi berdasarkan kesepakatan antara pekerja atau buruh dengan pengusaha.
10
Pengusaha yang mempekerjakan pekerja atau buruh yang melakukan pekerjaan pada hari libur resmi wajib membayar upah kerja lembur.
5. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas:
1. keselamatan dan kesehatan kerja, 2. moral dan kesusilaan,
3. perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama.
Untuk melindungi keselamatan pekerja atau buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya kesehatan dan keselamatan kerja.
Perlindungan yang dimaksud dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
6. Pekerja atau Buruh Wanita
Pekerja atau buruh wanita yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 s.d. 07.00.
Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja atau buruh wanita hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 s.d. pukul 07.00.
Pengusaha yang mempekerjakan pekerja atau buruh wanita melebihi jam kerja normal wajib:
1. memberikan makanan dan minuman bergizi,
2. menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.
11
Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja atau buruh wanita yang bekerja melebihi jam kerja normal.
2.3. Permasalahan Ketidakadilan Gender dalam Industri Garmen
Daulay (2006) mencatat beberapa permasalahan ketidakadilan gender pada buruh wanita industri garmen, sebagai berikut:
1. Jenis pekerjaan. Pada pabrik-pabrik ada jenis pekerjaan yang dikerjakan untuk buruh wanita, untuk pekerjaan mekanik walaupun bisa saja dilakukan oleh wanita yang mempunyai keterampilan mekanik, tapi ada anggapan bila dilakukan wanita akan dianggap kurang pantas. Pada industri garmen ada pembagian kerja yang tegas antara buruh wanita dan pria. Buruh wanita biasanya ditempatkan pada bagian yang membutuhkan ketelitian dan tidak membutuhkan kekuatan fisik yang berat seperti bagian pattern making (membuat pola), sewing (menjahit), finishing (pasang kancing atau label), dan packing (pengemasan). Sedangkan buruh pria ditempatkan pada bagian pemotongan, mesin, dapur dan sebagainya. Hal ini berdasarkan bahwa pekerjaan-pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang kuat. Terdapat beberapa perbedaan peran dalam pekerjaan wanita dan pria. Misalnya di bagian potong terdapat buruh wanita dan pria. Pekerjaan wanita mendapatkan bagian untuk mengukur dan mengatur ukuran, sebab pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian dan buruh wanita dianggap lebih teliti. Sementara pria berperan dalam potong memotong kain yang jumlahnya banyak dan tebal serta berat.
2. Penyediaan fasilitas kerja yang berbeda. Dalam penyediaan fasilitas kerja, wanita memerlukan tempat yang berbeda dengan pria seperti tersedianya kamar mandi atau WC yang memenuhi standar untuk kesehatan reproduksi. Biasanya di pabrik jarang sekali ada fasilitas kesehatan wanita di dalam memperhatikan kesehatan reproduksinya. Hal ini tergambar juga pada perolehan cuti masa hamil muda, mereka
12
tidak mendapat cuti hamil. Padahal usia kehamilan muda membawa risiko kehamilan yang rentan terhadap keguguran. Hal ini belum lagi kasus mesin pabrik yang tidak sesuai dengan postur tubuh kebanyakan orang Indonesia. Kondisi ini bisa membahayakan buruh terutama yang sedang hamil.
3. Perbedaan pemberian upah. Kebijakan upah yang didasarkan pada kebutuhan fisik minimum (FKM) juga dipertimbangkan adanya perbedaan kebutuhan dasar antara buruh wanita dan pria. Perhitungan FKM ini dipengaruhi anggapan umum bahwa wanita bukan sebagai pencari nafkah utama keluarga, sehingga dalam penentuan komponen upah ini, standar yang digunakan adalah kebutuhan fisik pria. Kebutuhan fisik minimum (FKM) selayaknya memasukkan unsur-unsur kebutuhan dasar wanita misalnya berkaitan dengan fungsi reproduksinya untuk membeli keperluan ketika menstruasi setiap bulannya. PenelitianMaine Wolf (1980) dalam Yasanti (1998) yang dilakukan di daerah Jawa Tengah bahwa buruh pria memperoleh upah lebih tinggi dari buruh wanita dengan pekerjaan yang sama.
4. Jenjang karier. Buruh pria lebih berpeluang meniti jenjang karier hingga posisi pengawas bahkan koordinator shift, sedangkan buruh wanita hanya sebagai ketua regu (karu). Kondisi ini memperlihatkan bahwa buruh wanita tidak dipercaya karena masih ada pengelompokan gender dan rata-rata berpendidikan rendah.
5. Pelecehan seksual. Hal ini sering terjadi pada buruh wanita, tidak lepas dari konsep nilai yang melihat bahwa wanita sebagai gender yang layak untuk mendapat godaan, walaupun berkembang menjadi pelecehan. Tindakan sewenang-wenang yang menyebabkan terjadinya pelecehan seksual dan kekerasan di tempat kerja. Tidak ada jaminan keamanan yang membuat wanita memiliki kekuatan untuk terlibat dalam suatu pekerjaan. Pelecehan ternyata tidak hanya dilakukan oleh atasan tetapi juga oleh rekan kerja dan pria secara umum. Rekan kerja menjadi pengganggu yang cukup
13
potensial. Gangguan ini sering menyebabkan buruh wanita meninggalkan tempat kerja dan keluar, meskipun tidak ada jaminan untuk tidak akan dilecehkan di tempat yang baru.
2.4. Dunia Kerja Buruh Wanita Industri Garmen
Pada industri garmen, dunia kerja buruh wanita dapat diuraikan menjadi 7 (tujuh) aspek, sebagai berikut:
1. Motivasi Kerja.
Mulyasa (2003) mendefinisikan motivasi sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Sardiman (2006) mencatat fungsi motivasi sebagai dorongan timbulnya suatu kelakuan atau perbuatan, berfungsi untuk mengarahkan perbuatan pada pencapaian tujuan yang diinginkan, dan berfungsi sebagai penggerak dimana besar kecilnya motivasi menentukan cepat lambatnya suatu pekerjaan.
Indikator motivasi kerja diukur dengan pernyataan berikut:
Motivasi bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup 2. Suasana Lingkungan Kerja.
Nitisemito (2000) mendefinisikan suasana lingkungan kerja sebagai segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Sedarmayanti (2001) mencatat beberapa faktor yang mempengaruhi terbentuknya suasana lingkungan kerja antara lain penerangan atau cahaya di tempat kerja, temperatur atau suhu udara di tempat kerja, sirkulasi udara di tempat kerja, dekorasi di tempat kerja, serta keamanan di tempat kerja.
Indikator suasana lingkungan kerja diukur dengan pernyataan berikut:
Perusahaan memberikan fasilitas kerja yang lengkap dan layak pakai
Perusahaan memberikan penerangan dan ventilasi yang cukup
14
Perusahaan memiliki kondisi mesin yang layak
Perusahaan menyediakan kursi yang sesuai dan layak
Perusahaan menyediakan ruang makan
Perusahaan menyediakan kamar mandi atau WC yang memenuhi standar untuk kesehatan reproduksi
3. Risiko Kerja.
Basyaib (2007) mendefinisikan risiko sebagai peluang terjadinya hasil yang tidak diinginkan sehingga risiko hanya terkait dengan situasi yang memungkinkan munculnya hasil negatif serta berkaitan dengan kemampuan memperkirakan terjadinya hasil negatif tersebut.
Indikator risiko kerja diukur dengan pernyataan berikut:
Buruh wanita sering kerja lembur karena tidak memenuhi target
Perusahaan memotong gaji jika buruh terlambat masuk kerja
Perusahaan memotong gaji jika buruh ijin atau tidak masuk kerja 4. Beban Kerja.
Suwatno (2003) mendefinisikan beban kerja sebagai kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi secara sistematis dengan menggunakan teknik analisa beban kerja, atau teknik manajemen lainnya dalam jangka waktu tertentu.
Indikator beban kerja diukur dengan pernyataan berikut:
Gaji yang diterima sudah sesuai dengan beban kerja
Gaji yang diterima cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup
Perusahaan mewajibkan untuk melakukan kerja lembur ketika tidak memenuhi target
Perusahaan memberikan upah untuk kerja lembur
Perusahaan memberikan upah lembur yang sesuai
15 5. Perlakuan Atasan.
Perlakuan atasan berkaitan dengan kepemimpinan, Thoha (1983) mendefinisikan kepemimpinan sebagai aktivitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain supaya mereka mau diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu.
Indikator perlakuan atasan diukur dengan pernyataan berikut:
Atasan memperlakukan buruh dengan baik
Atasan memberikan motivasi dan semangat kerja
Buruh wanita tidak pernah mendapat pelecehan dan kekerasan seksual pada saat pulang lembur malam
6. Perlakuan Rekan Kerja.
Indikator perlakuan rekan kerja diukur dengan pernyataan berikut:
Hubungan kerjasama dengan rekan kerja terjalin dengan baik
Buruh wanita mendapat perlakuan yang sama dengan buruh pria dalam hal gaji
Buruh wanita mendapat perlakuan yang sama dengan buruh pria dalam hal pekerjaan
Buruh wanita mendapat perlakuan yang sama dengan buruh pria dalam hal fasilitas
Buruh wanita tidak pernah mendapat pelecehan dan kekerasan seksual pada saat pulang lembur malam
7. Kesejahteraan Buruh Wanita.
Dipoyudo (1995) mendefinisikan kesejahteraan sebagai suatu keadaan dimana kebutuhan manusia dipenuhi dengan wajar, secara terus-menerus dan secara kongkrit itu berarti tersedianya barang dan jasa kebutuhan hidup tidak hanya untuk
16
memungkinkan hidup tetapi juga untuk mempermudah sehingga orang-orang dapat hidup layak, mengembangkan diri dan mencapai kesejahteraan lahir dan batin.
Indikator kesejahteraan buruh wanita diukur dengan pernyataan berikut:
Buruh wanita mendapat tunjangan hari raya (THR) setiap tahun
Buruh wanita mendapat tunjangan masa kerja dan tunjangan keluarga
Buruh wanita mendapat hak cuti tahunan, haid, hamil, dan melahirkan
Buruh wanita mendapat tunjangan transportasi
Buruh wanita mendapat tunjangan makan yang layak
Buruh wanita mendapat jaminan kesehatan dan keselamatan kerja (K3)
Buruh wanita mendapat fasilitas BPJS, asuransi jiwa, dan asuransi pendidikan anak
3. METODE PENELITIAN 3.1. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah buruh wanita yang bekerja pada industri garmen di wilayah Karangjati, Ungaran, Jawa Tengah. Sampel penelitian sebanyak 300 responden buruh wanita yang bersedia mengisi kuesioner secara lengkap.
3.2. Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dimana pengambilan sampel dengan memilih siapa yang kebetulan dijumpai (Supramono dan Haryanto 2003).
Kriteria pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah buruh wanita pada industri garmen di wilayah Karangjati, Ungaran, Jawa Tengah. Wilayah Karangjati, Ungaran, Jawa Tengah dipilih sebagai sampel karena wilayah tersebut merupakan kawasan industri yang didominasi oleh industri garmen.
17 3.3. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang dikumpulkan langsung dari individu-individu yang diselidiki (Sugiyono, 2010). Dalam penelitian ini data primer diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada buruh wanita yang bekerja pada industri garmen di wilayah Karangjati, Ungaran, Jawa Tengah.
Pernyataan-pernyataan yang diajukan kepada para responden dikelompokkan menjadi 7 (tujuh) aspek yaitu (1) motivasi kerja, (2) suasana lingkungan kerja, (3) risiko kerja, (4) beban kerja, (5) perlakuan atasan, (6) perlakuan rekan kerja, dan (7) kesejahteraan buruh wanita. Penelitian ini menggunakan skala Likert dari skala 1-5, dimana angka 1 mewakili jawaban Sangat Tidak Setuju (STS) dan angka 5 mewakili jawaban Sangat Setuju (SS).
3.4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif kualitatif. Analisis statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data dan sampel atau populasi sebagaimana adanya (Sugiyono, 2010). Penelitian deskriptif mempunyai data yang dapat dianalisis dengan statistik maupun non statistik (Arikunto, 2005). Penelitian kualitatif sering juga menggunakan data statistik yang telah tersedia sebagai sumber data tambahan bagi keperluannya. Analisis statistik deskriptif dilakukan secara sederhana menggunakan software microsoft Excel 2010, dengan mengelompokkan data-data yang sudah terkumpul, menghitung skor, kemudian membuat analisis dan interpretasi dari hasil yang telah diolah.
Metode pengumpulan dan analisis data yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Menentukan indikator yang bertujuan untuk melihat dunia kerja buruh wanita terdiri dari variabel-variabel pernyataan untuk mengetahui dunia kerja mereka.
18
2. Masing-masing pernyataan kemudian disajikan dalam suatu kuesioner dan diisi oleh responden buruh wanita industri garmen di wilayah Karangjati, Ungaran, Jawa Tengah.
3. Masing-masing variabel pernyataan tersebut kemudian diolah dan diberi skor dengan ketentuan sebagai berikut:
𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 =Skor tertinggi − Skor terendah Jumlah Kategori
(Sugiyono, 2003)
Dengan demikian dapat diperoleh interval untuk kategori jawaban yaitu:
5−1
5 = 0,80
Interval dari masing-masing kategori dapat ditentukan dengan skor berikut:
Sangat buruk = 1,00 – 1,80 Buruk = 1,81 – 2,61 Cukup baik = 2,62 – 3,42
Baik = 3,43 – 4,23
Sangat baik = 4,24 – 5,00
19
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Proses Produksi Industri Garmen
Secara umum proses industri garmen dapat dilihat dalam gambar 1 berikut ini:
Gambar 1. Proses Produksi Industri Garmen
Proses produksi pembuatan garmen dimulai dari pengecekan kain di ruang penyimpanan kain, kemudian proses desain dan pembuatan pola, grading dan marker, kemudian dilanjutkan ke proses pembuatan sample dan pemotongan kemudian dilakukan proses pengepresan. Setelah bagian-bagian yang terpotong tadi dipres maka dilanjutkan ke proses produksi (penjahitan). Proses penjahitan ini dilakukan per satuan sehingga untuk menjahit satu kemeja terkadang bisa mencapai 100 variasi proses penjahitan. Oleh karena itu produksi garmen di kenal dengan proses piece to piece. Setelah dijahit maka dilanjutkan proses penyempurnaan atau penyelesaian akhir, seperti pemasangan kancing, label, pembersihan dan penyetrikaan dan kemudian dilakukan pengepakan dan pengiriman ke konsumen (www.betterfactory.com).
Storage/ raw materials
Pattern making
Sample production
Cutting area Production area Finishing area Washing and
drying
Ironing area Packing area
Shipping area
Records area
Export
20
Karakteristik pekerjaan di industri garmen umumnya adalah proses material handling (angkat-angkut), posisi kerja duduk dan berdiri, membutuhkan ketelitian cukup tinggi, tingkat pengulangan kerja tinggi pada satu jenis otot, berinteraksi dengan benda tajam seperti jarum, gunting dan pisau potong, terjadi paparan panas di bagian pengepresan dan penyetrikaan dan banyaknya debu-debu serat dan aroma khas kain, getaran, panas dari mesin jahit dan lainnya. Untuk itu desain tempat kerja di industri garmen akan sangat berpengaruh bagi kinerja karyawan (www.betterfactory.com).
4.2. Gambaran Umum Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini dideskripsikan berdasarkan usia, divisi, masa kerja dan pendidikan terakhir, sebagai berikut:
Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Kelompok Usia Responden Jumlah Prosentase
Muda 17-29 Tahun 206 68,7%
Tua 30-42 Tahun 94 31,3%
Total 300 100%
Sumber: data primer diolah 2016
Berdasarkan data tabel 1 diatas, sebagian besar responden berusia 17-29 tahun dengan prosentase 68,7%. Pada umumnya buruh di industri garmen didominasi oleh buruh wanita dengan usia yang relatif muda yang dipandang lebih produktif dalam kegiatan produksi.
Keberadaan buruh wanita muda ini menunjukkan pekerjaan menjahit dalam industri garmen adalah memang pekerjaan wanita yang utama dalam mencukupi kebutuhan hidup.
21
Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Divisi Divisi Jumlah Prosentase
Pola/Potong 41 13,7%
Menjahit 128 42,7%
Pasang Kancing 56 18,7%
Setrika 40 13,3%
Pengemasan 35 11,6%
Total 300 100%
Sumber: data primer diolah 2016
Tabel 2 diatas menunjukkan sebagian besar responden berasal dari divisi menjahit (42,7%) dan divisi pasang kancing (18,7%). Hal ini dapat dipahami karena pekerjaan menjahit dan pasang kancing umumnya merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh wanita dengan tingkat konsentrasi, kerapian, dan ketelitian yang tinggi.
Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja Masa Kerja Jumlah Prosentase 1 sampai 7 tahun 193 64,3%
8 sampai 15 tahun 101 33,7%
16 sampai 22 tahun 6 2%
Total 300 100%
Sumber: data primer diolah 2016
Tabel 3 diatas menunjukkan sebagian besar responden memiliki masa kerja antara 1 sampai 7 tahun (64,3%). Hal ini menunjukkan pekerjaan sebagai buruh pada industri garmen adalah alternatif pilihan pekerjaan yang menjanjikan karena tidak ada pilihan pekerjaan yang lain. Data juga menunjukkan sebanyak 2% dari responden memiliki masa kerja 16 sampai 22 tahun. Semakin menguatkan dugaan peneliti akan tidak adanya pilihan pekerjaan yang lain bagi mereka.
22
Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan Terakhir Jumlah Prosentase
SD/Sederajat 19 6,3%
SMP/Sederajat 66 22%
SMA/SMK/Sederajat 215 71,7%
Total 300 100%
Sumber: data primer diolah 2016
Tabel 4 diatas menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan SMA/SMK/Sederajat (71,7%). Menurut responden, sebagian besar buruh wanita terpaksa mencari pekerjaan setelah mereka lulus sekolah SMA/SMK/Sederajat, karena tidak adanya biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Masih ditemui responden yang sudah berumah tangga yang kemudian memilih pekerjaan sebagai buruh dalam rangka membantu kepala keluarga menafkahi keluarganya. Kondisi tersebut, dapat disimpulkan sebenarnya buruh wanita di industri garmen memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi walaupun mereka tidak memiliki keterampilan dan keahlian (skill) khusus.
4.3. Analisis Dunia Kerja Buruh Wanita Industri Garmen
Untuk mengetahui bagaimana dunia kerja buruh wanita pada industri garmen, yang meliputi bagaimana motivasi kerja, suasana lingkungan kerja buruh wanita di industri garmen, risiko kerja, beban kerja buruh wanita, perlakuan atasan, perlakuan rekan kerja buruh wanita, serta bagaimana kesejahteraan buruh wanita tersebut pada industri garmen di wilayah Karangjati, Ungaran, Jawa Tengah. Adapun hasilnya ditampilkan pada tabel berikut:
23
Tabel 5. Motivasi Kerja
No Indikator STS (1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) Total Rata-
Rata
F % F % F % F % F % F %
1.
Motivasi bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup
0 0,00% 0 0,00% 5 1,67% 127 42,33% 168 56,00% 300 100,00% 4,54
Rata-rata 0,00% 0,00% 1,67% 42,33% 56,00% 4,54
Sumber: data primer diolah, 2016 4.3.1. Motivasi Kerja
Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi kerja buruh wanita pada industri garmen masuk pada kategori sangat baik dengan perolehan rata-rata jawaban setuju (42,33%) dan sangat setuju (56%). Buruh wanita menganggap motivasi bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah jawaban yang tepat dimana responden mengakui keberadaan buruh wanita tidak lepas dari ketidakberdayaan dirinya dalam keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup yang makin tidak terjangkau. Responden mengaku jika ia masih gadis dan belum menikah terpaksa bekerja karena orang tuanya tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan hidupnya, jika buruh adalah istri yang bekerja, bisa jadi karena suami yang bekerja serabutan mendapat upah tak tentu dan tidak sebanding dengan kebutuhan keluarga. Jadi, penulis menarik kesimpulan bahwa buruh wanita industri garmen bukanlah kelompok pengejar materi demi gengsi, melainkan bekerja sekedar untuk bertahan hidup karena kemiskinan dan keterbatasan keahlian (skill) telah mendorong mereka untuk ikut berkontribusi dan mencari rejeki.
24
Tabel 6. Suasana Lingkungan Kerja
No Indikator STS (1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) Total Rata-
Rata
F % F % F % F % F % F %
1.
Perusahaan memberikan fasilitas kerja yang lengkap dan layak pakai
32 10,67% 34 11,33% 18 6,00% 189 63,00% 27 9,00% 300 100,00% 3,48
2.
Perusahaan memberikan penerangan dan ventilasi yang cukup
5 1,67% 8 2,67% 13 4,33% 216 72,00% 58 19,33% 300 100,00% 4,05
3.
Perusahaan memiliki kondisi mesin yang layak
22 7,34% 39 13,00% 19 6,33% 163 54,33% 57 19,00% 300 100,00% 3,65
4.
Perusahaan menyediakan kursi yang sesuai dan layak
3 1,00% 7 2,33% 8 2,67% 221 73,66% 61 20,34% 300 100,00% 4,10
5.
Perusahaan menyediakan ruang makan
8 2,67% 91 30,33% 20 6,67% 178 59,33% 3 1,00% 300 100,00% 3,26
6.
Perusahaan menyediakan kamar mandi/WC yang memenuhi standar untuk kesehatan reproduksi
29 9,67% 134 44,66% 16 5,33% 119 39,67% 2 0,67% 300 100,00% 2,77
Rata-rata 5,50% 17,39% 5,22% 60,33% 11,56% 3,55
Sumber: data primer diolah, 2016
4.3.2. Suasana Lingkungan Kerja
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suasana lingkungan kerja buruh wanita pada industri garmen masuk pada kategori baik dengan perolehan rata-rata jawaban setuju (60,33%) dan sangat setuju (11,56%). Responden memberi penilaian baik pada fasilitas kerja yang diberikan oleh perusahaan baik fasilitas kerja yang lengkap dan layak pakai, penerangan dan ventilasi yang cukup, kondisi mesin yang layak, tersedianya kursi yang
25
sesuai dan layak digunakan menjadi bukti penilaian buruh wanita dengan perolehan prosentase tinggi pada pernyataan setuju. Namun demikian, masih ditemui beberapa kendala dalam fasilitas kerja, pada beberapa sudut masih ditemukan fasilitas penerangan yang tidak baik (bolam lampu mati dan belum diganti) dan masih ditemukan kursi duduk tanpa penyangga punggung. Hal tersebut akan membuat tidak nyaman pada saat buruh wanita bekerja. Daulay (2006) mencatat kasus mesin pabrik yang tidak sesuai dengan postur tubuh kebanyakan orang Indonesia, dan tentunya kondisi ini bisa membahayakan buruh wanita terutama yang sedang hamil.
Untuk penilaian responden terhadap ruang makan dan kamar mandi atau WC yang memenuhi standar untuk kesehatan reproduksi yang disediakan perusahaan hanya memperoleh penilaian cukup baik dengan perolehan (59,33%) untuk tersedianya ruang makan yang memadahi serta (39,67%) untuk kamar mandi atau WC yang memenuhi standar untuk kesehatan reproduksi dari responden. Selain itu, data juga menunjukkan masih adanya responden yang menjawab tidak setuju dengan prosentase yang cukup besar yaitu (30,33%) bagi tersedianya ruang makan yang memadahi dan (44,66%) bagi tersedianya kamar mandi atau WC yang memenuhi standar untuk kesehatan reproduksi.
Hal ini, ditunjukkan masih adanya ruang makan yang disediakan perusahaan hanya beratapkan seng dengan deretan kursi dan meja yang berjajar panjang dan membuat buruh wanita harus rela berdesak-desakan antri mendapatkan jatah makan siang, tidak semua buruh mendapatkan kursi untuk menikmati jatah makan siang mereka. Akhirnya, mereka mengaku makan dengan berdiri atau jongkok di sudut-sudut ruang makan. Waktu istirahat makan siang yang terbatas membuat mereka menggunakan waktu istirahat tersebut hanya sesaat (makan, ke kamar mandi, sholat, dan beberapa mengaku sempat tertidur karena capek). Selain itu, responden mengaku menu makan siang kurang bergizi karena yang disajikan hanya nasi beberapa sendok makan dengan lauk 1 (satu) potong tempe atau tahu
26
dan sambal saja. Responden mengeluh tenaga diperas untuk mencapai target tanpa adanya asupan makanan yang bergizi. Jika diuangkan, jatah makan siang buruh wanita hanya berkisar Rp. 1.500 sampai Rp. 2.500 per hari. Menurut Wahyuni (2015), tak sampai disitu, tidak adanya fasilitas air minum yang layak di beberapa pabrik juga memaksa buruh wanita terutama yang sedang hamil (berusaha lebih keras dalam mempertahankan kesehatan janinnya). Mereka mengaku meminum air rebusan dari kaleng besar yang biasanya digunakan untuk memanaskan setrikaan, atau air minum isi ulang yang terkadang ditemukan lumut dan air tersebut tampak keruh.
Fasilitas kamar mandi atau WC tidak memenuhi standar kesehatan reproduksi juga menjadi bukti penilaian responden terhadap penyediaan kamar mandi atau WC yang dirasa masih belum memenuhi harapan mereka. Ayu (2013) mencatat fasilitas kamar mandi atau WC yang tersedia di pabrik tidak terpisah antara pria dan wanita. Kemudian responden juga mengakui jika fasilitas kamar mandi atau WC yang ada tidak dipisahkan antara pria dan wanita, tidak adanya tempat khusus bagi ibu menyusui yang ingin memerah air susu ibu (ASI), terpaksa menggunakan kamar mandi atau WC tersebut walaupun sebenarnya mereka tidak nyaman karena dianggap tidak steril. Adanya batasan waktu yang diberikan perusahaan seperti waktu maksimum 5 (lima) menit untuk buang air besar dan buang air kecil, membuat responden buruh wanita selalu terburu-buru kembali ke area pabrik.
27
Tabel 7. Risiko Kerja
No Indikator STS (1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) Total Rata-
Rata
F % F % F % F % F % F %
1.
Saya sering kerja lembur karena tidak memenuhi target
8 2,67% 15 5,00% 78 26,00% 168 56,00% 31 10,33% 300 100,00% 3,66
2.
Perusahaan memotong gaji jika saya terlambat masuk kerja
7 2,33% 28 9,33% 6 2,00% 185 61,67% 74 24,67% 300 100,00% 3,97
3.
Perusahaan memotong gaji jika saya ijin atau tidak masuk kerja
3 1,00% 14 4,66% 5 1,67% 200 66,67% 78 26,00% 300 100,00% 4,12
Rata-rata 2,00% 6,33% 9,89% 61,45% 20,33% 3,92
Sumber: data primer diolah, 2016 4.3.3. Risiko Kerja
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden secara rata-rata memberi pernyataan baik pada risiko kerja buruh wanita di industri garmen. Hal ini ditunjukkan dengan jawaban setuju pada poin indikator perusahaan memotong gaji jika buruh terlambat masuk kerja (61,67%), memotong gaji jika ijin atau tidak masuk kerja (66,67%) serta kerja lembur jika tidak memenuhi target (56%). Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan menerapkan disiplin kepada para buruh sehingga risiko yang didapat jika tidak memenuhi target produksi per hari maka diwajibkan untuk melakukan kerja lembur dan jika terlambat atau tidak masuk kerja maka dipotong gaji.
28
Tabel 8. Beban Kerja
No Indikator STS (1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) Total Rata-
Rata
F % F % F % F % F % F %
1.
Gaji yang diterima sudah sesuai dengan beban kerja
22 7,34% 218 72,66% 40 13,33% 20 6,67% 0 0,00% 300 100,00% 2,19
2.
Gaji yang diterima cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup
20 6,67% 203 67,67% 56 18,66% 21 7,00% 0 0,00% 300 100,00% 2,26
3.
Perusahaan mewajibkan untuk melakukan kerja lembur ketika tidak memenuhi target
0 0,00% 0 0,00% 46 15,34% 214 71,33% 40 13,33% 300 100,00% 3,98%
4.
Perusahaan memberikan upah untuk kerja lembur
0 0,00% 0 0,00% 0 0,00% 260 86,67% 40 13,33% 300 100,00% 4,13
5.
Perusahaan memberikan upah lembur yang sesuai
11 3,67% 39 13,00% 115 38,34% 121 40,33% 14 4,66% 300 100,00% 3,29
Rata-rata 3,54% 30,67% 17,13% 42,40% 6,26% 3,17
Sumber: data primer diolah, 2016 4.3.4. Beban Kerja
Hasil penelitian menunjukkan penilaian responden terhadap beban kerja buruh wanita masuk dalam kategori cukup baik dimana responden buruh wanita mengaku gaji yang mereka terima belum sesuai dengan beban kerja selama ini. Sebanyak 72,66% responden menyatakan tidak setuju pada poin pernyataan gaji yang diterima sudah sesuai dengan beban kerja dan 67,67% pada poin pernyataan gaji yang diterima cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya, gaji yang diterima oleh buruh wanita pada industri garmen sudah sesuai dengan upah minimum regional (UMR) Kabupaten Semarang sebesar Rp. 1.610.000,00 per bulan. Namun, dengan gaji tersebut
29
responden mengaku masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga selama 1 (satu) bulan berjalan karena rata-rata buruh wanita tersebut memiliki suami yang bekerja serabutan dengan upah tak tentu atau malah menganggur, anak-anak yang masih kecil dan sekolah, serta biaya untuk makan, biaya kebutuhan hidup (belanja kebutuhan rumah tangga) yang semakin tinggi, belum lagi membayar listrik dan air setiap bulannya.
Perhitungan upah lembur yang tidak transparan, tidak adanya bonus atau insentif bagi buruh yang berhasil memenuhi target produksi, posisi kerja duduk dan berdiri selama 8 (delapan) jam yang melelahkan membuat beban kerja buruh wanita ini semakin berat.
Pada indikator perusahaan memberikan upah lembur yang sesuai memperoleh penilaian cukup baik dimana responden mengaku upah lembur yang mereka terima hanya sebesar Rp. 8.000 per jam, itupun tidak diberikan tambahan jatah uang makan dan uang transportasi. Padahal, jika terpaksa lembur, buruh wanita harus bekerja sampai jam 6 (enam) sore, 8 (delapan) malam, hingga 10 (sepuluh) malam (dari jam kerja normal 7 pagi sampai 4 sore) tanpa adanya tunjangan transportasi yang diberikan perusahaan.
Selain menghabiskan sebagian besar tenaga dan waktunya untuk bekerja di pabrik, para buruh juga harus mengurus anak di rumah. Bahkan buruh wanita tersebut hanya bisa mengurus anak mereka ketika pulang dari kerja lembur, sekitar jam 6 (enam) sore, 8 (delapan) malam hingga 10 (sepuluh) malam dan masih harus membuat makanan dan pekerjaan rumah tangga lainnya.
30
Tabel 9. Perlakuan Atasan
No Indikator STS (1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) Total Rata-
Rata
F % F % F % F % F % F %
1.
Atasan
memperlakukan saya dengan baik
12 4,00% 18 6,00% 38 12,66% 226 75,34% 6 2,00% 300 100,00% 3,65
2.
Atasan memberikan motivasi dan semangat kerja
11 3,67% 19 6,33% 122 40,67% 132 44,00% 16 5,33% 300 100,00% 3,41
3.
Saya tidak pernah mendapat pelecehan dan kekerasan seksual pada saat pulang lembur malam
0 0,00% 110 36,66% 12 4,00% 145 48,34% 33 11,00% 300 100,00% 3,34
Rata-rata 2,56% 16,33% 19,11% 55,89% 6,11% 3,47
Sumber: data primer diolah, 2016 4.3.5. Perlakuan Atasan
Hasil penelitian menunjukkan penilaian responden terhadap perlakuan atasan masuk dalam kategori baik dimana responden mengaku atasan memperlakukan buruh dengan baik (75,34%) serta atasan memberikan motivasi dan semangat kerja pada buruh (44%).
Namun masih ditemui adanya perlakuan atasan yang tidak menyenangkan yang dialami para buruh. Jumisih (2014) mencatat buruh yang bergerak di sektor padat karya dimana 99% adalah buruh wanita paling sering mendapatkan perilaku tidak menyenangkan dari atasannya. Tindakan asusila juga dilakukan oleh atasan, supervisor, personalia, dan staff lain dalam pabrik.
Pada indikator pernyataan apakah responden buruh wanita pernah mengalami pelecehan dan kekerasan seksual selama dalam pabrik maupun saat pulang lembur malam di luar pabrik, responden menyatakan 48,34% tidak pernah mendapat pelecehan dan kekerasan seksual tersebut. Sedangkan sisanya, 36,66% mengaku pernah mendapat pelecehan kekerasan seksual yang terjadi di dalam area pabrik maupun saat pulang
31
lembur malam di luar pabrik. Menurut Jumingsih (2013) tidak disediakannya transportasi yang aman bagi buruh wanita sehingga saat pulang malam setelah lembur kerja mereka berpeluang untuk dilecehkan baik oleh satpam, buruh pria, maupun orang lain di luar pabrik (tukang ojek, kernet bus, penjual makanan kaki lima dan gerobak di sekitar area pabrik). Herdiyani (2013) mencatat pelecehan seksual yang terjadi pada buruh wanita beragam modusnya, mulai dari pelecehan fisik yang mengarah ke perbuatan seksual (seperti mencium, mencubit, menepuk dan lain-lain), pelecehan isyarat (seperti bahasa tubuh yang mengarah hubungan seksual), serta pelecehan psikologis misalnya permintaan dan ajakan terus menerus dan tidak diinginkan. Data pasti jumlah kasus pelecehan seksual di tempat kerja sulit diperoleh karena selama ini kasus-kasus pelecehan seksual yang dialami buruh wanita tidak terungkap ke publik. Buruh wanita yang menjadi korban pelecehan seksual jarang yang mau mengadukan kasusnya ke perusahaan, apalagi jika pelakunya adalah atasannya. Buruh wanita yang menjadi korban pelecehan seksual biasanya merasa malu dan takut, jika ia melapor, maka bentuk intimidasi akan ia terima, bahkan ancaman di PHK oleh atasan dan pihak perusahaan.
Para buruh wanita lebih memilih diam dalam kasus pelecehan daripada harus kehilangan pekerjaannya.
32
Tabel 10. Perlakuan Rekan Kerja
No Indikator STS (1) TS (2) N (3) S (4) SS (5) Total Rata-
Rata
F % F % F % F % F % F %
1.
Hubungan kerjasama dengan rekan kerja terjalin dengan baik
10 3,33% 57 19,00% 83 27,66% 133 44,34% 17 5,67% 300 100,00% 3,30
2.
Saya mendapat perlakuan yang sama dengan buruh pria dalam hal gaji
2 0,67% 29 9,67% 14 4,66% 244 81,33% 11 3,67% 300 100,00% 3,78
3.
Saya mendapat perlakuan yang sama dengan buruh pria dalam hal pekerjaan
10 3,33% 252 84,00% 16 5,33% 17 5,67% 5 1,67% 300 100,00% 2,18
4.
Saya mendapat perlakuan yang sama dengan buruh pria dalam hal fasilitas
1 0,34% 30 10,00% 26 8,66% 225 75,00% 18 6,00% 300 100,00% 3,76
5.
Saya tidak pernah mendapat pelecehan dan kekerasan seksual pada saat pulang lembur malam
0 0,00% 110 36,66% 12 4,00% 145 48,34% 33 11,00% 300 100,00% 3,34
Rata-rata 1,53% 31,87% 10,06% 50,94% 5,60% 3,27
Sumber: data primer diolah, 2016
4.3.6. Perlakuan Rekan Kerja
Hasil penelitian menunjukkan penilaian responden terhadap perlakuan rekan kerja masuk dalam kategori cukup baik dimana responden mengaku mendapat perlakuan yang sama dengan buruh pria dalam hal gaji serta mendapat perlakuan yang sama dengan buruh pria dalam hal fasilitas. Secara keseluruhan responden mengaku gaji yang mereka terima sama dengan gaji buruh pria yaitu sesuai upah minimum regional (UMR) Kabupaten Semarang sebesar Rp. 1.610.000,00 dan memperoleh fasilitas yang sama dengan buruh pria. Namun, dalam hal pekerjaan, sebanyak 84% responden buruh wanita
33
mengaku mendapat perlakuan yang tidak sama dengan buruh pria, sebagai contoh kesempatan bekerja buruh wanita akan tetap seperti itu (menjadi buruh wanita yaitu menjahit, pasang kancing, setrika, dan pengemasan) sedangkan bagi buruh pria dimungkinkan memperoleh alternatif pekerjaan lain sebagai pengawas, koordinator shift, tenaga pengatur mesin dan listrik (engineering) atau bahkan level supervisor produksi.
Pada indikator hubungan kerjasama dengan rekan kerja terjalin dengan baik responden memberi penilaian setuju sebanyak 44,34%. Karena mereka harus bekerja dalam satu team dan proses produksi berurutan membuat buruh wanita tersebut harus bekerjasama secara kompak dengan rekan 1 (satu) baris atau line nya supaya dapat segera mencapai target produksi per hari. Jika ada salah satu buruh pada bagian tertentu dalam 1 (satu) baris atau line yang terhenti tentunya akan mengganggu kelangsungan proses produksi pada bagian tersebut. Masih ditemui ada beberapa buruh wanita yang mendapat komplain dari pengawas atau supervisor karena hasil produksi pada bagian tersebut tidak sesuai dengan sampel yang ditentukan perusahaan dan harus mengulang kembali jahitan tersebut. Inilah yang membuat kadang terjadi selisih paham (cekcok) kecil antara buruh wanita dan rekan kerjanya juga kepada pengawas atau supervisor.
Pada indikator pernyataan apakah responden buruh wanita pernah mengalami pelecehan dan kekerasan seksual selama dalam pabrik maupun saat pulang lembur malam di luar pabrik, responden menyatakan 36,66% pernah mendapat pelecehan seksual yang terjadi di dalam area pabrik maupun saat pulang lembur malam di luar pabrik. Menurut Jumingsih (2013) tidak disediakannya transportasi yang aman bagi buruh wanita sehingga saat pulang malam setelah lembur kerja mereka berpeluang untuk dilecehkan baik oleh satpam, buruh pria, maupun orang lain di luar pabrik (tukang ojek, kernet bus, penjual makanan kaki lima dan gerobak di sekitar area pabrik).