• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika Seorang Pelajar

N/A
N/A
alma nadvi

Academic year: 2022

Membagikan "Etika Seorang Pelajar"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

ETIKA SEORANG PELAJAR

(Analisis Pemikiran Az-Zarnuji Dalam Kitab Ta’lim Muta’allim)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Ushul Tarbiyah dan Teknik Penulisan

Dosen : Ustadzah Khodijah mufidah

Disusun Oleh : Khonsa’ AL Mardliyyah NIM : TM.04.20.019

PROGRAM STUDI TA’HIL AL-MUDARRISAT MA’HAD ALY DARUSY SYAHADAH

BOYOLALI JAWA TENGAH 2022

(2)

A. Latar belakang masalah

Pendidikan Islam adalah penataan individual dan sosial yang dapat menyebabkan seseorang tunduk dan taat pada ajaran agama Islam dan menerapkannya secara sempurna di dalam kehidupan individu dan masyarakat. Hampir semua bangsa di dunia sepakat bahwa kekuatan pendidikan merupakan penentu dalam memajukan sebuah bangsa.

Agama Islam datang dengan memuliakan sekaligus mengaktifkan kerja akal serta menuntunnya ke arah pemikiran Islam yang Rahmatan lil Alamin. Manusia harus dapat menggunakan kecerdasan yang dimilikinya untuk kesejahteraan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat. Akal sebagai dasar dari ilmu pengetahuan memberikan kemampuan kepada manusia untuk membedakan antara yang baik dan buruk dan dapat memberikan argumen tentang kepercayaan keberagamannya. dengan kemampuan akal untuk berpikir ini manusia mampu menentukan pilihan yang terbaik untuk dirinya dan agamanya.

Allah SWT berfirman di dalam Al Quran surat Al Mujadalah ayat 11 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:

‘berlapang-lapanglah dalam majelis’ maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’

maka berdirilah niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”1

Dalam tafsir Al Maraghi disebutkan, ayat ini menunjukkan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang mukmin dengan mengikuti perintah Allah dan Rasulullah, khususnya orang yang berilmu di antara

1 QS. Al Mujadalah ayat 11.

(3)

mereka beberapa derajat dalam hal pahala dan keridhoan. Allah sangat memuliakan orang orang yang berilmu pengetahuan.2

Maka untuk mencapai kekuatan pendidikan tersebut diperlukan pemahaman yang benar dan mendalam agar proses transfer ilmu tidak berjalan sia-sia. Yang melatarbelakangi Imam Az-Zarnuji dalam penyusunan kitab Ta’lim Muta’allim: Thariq al-Ta’allum adalah fenomena para pelajar pada masanya yang telah mempelajari ilmu yang banyak dan bersungguh sungguh, tetapi tidak mendapatkan hasil yang sepadan. Studi kasus yang dilakukan Az-Zarnuji menyatakan bahwa banyak dari para pelajar yang tidak mengetahui metode belajar yang benar dan tidak memenuhi syarat-syarat pelajar.3

B. Biografi Imam Zarnuji

Nama lengkapnya adalah Nu’man bin Ibrahim bin Khalil az-Zarnuji Tajuddin. Julukan yang disandangnya adalah Burhanuddin al-Islam, yang artinya “Sang Petunjuk Agama Islam”. Ia termasuk salah seorang pakar pendidikan Islam pada masa klasik. Imam Az-Zarnuji dikenal sebagai pengarang kitab Ta’lim Muta’allim: Thariq at-Ta’allum yang sangat masyhur, terutama di kalangan pesantren di tanah air.4

Az-Zarnuji adalah seorang ulama yang tidak diketahui secara pasti tanggal kelahirannya. Tetapi mengenai wafatnya ada dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan wafat pada tahun 591 Hijriyah atau 1195 Masehi.

Pendapat kedua menyatakan ia wafat pada tahun 840 Hijriyah atau 1243 Masehi. Ada juga yang mengatakan hidupnya semasa dengan Ridhaudin an- Naisaburi, yang hidup antara tahun 500-600 H.5

2 Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al Maraghi, (Semangat: Toha Putra, 1993), Juz 28, Hal. 25.

3 Az-Zarnuji, Ta’lim Al Muta’allim Pentingnya Adab Sebelum Ilmu, Terj. Abdurrahman Azzam, (Solo: Aqwam, 2019), Cet. IV, hal. 35.

4 Yanuar Arifin, Pemikiran Emas Para Tokoh Pendidikan Islam, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2018), Cet. 1, Hal.189.

5 Ibid.

(4)

Pada masa belajar, Az-Zarnuji berguru kepada banyak ulama. di antaranya yaitu Imam Burhanuddin Ali bin Abi Bakar al-Farghinani, Imam Fakhr al-Islam Hasan bin Mansur al-Farghani, Imam Zahiruddin al-Hasan bin Ali al-Marghinani, Imam Fakhr ad-Din al-Khasani, dan banyak ulama masyhur lainnya. Ia juga belajar ke berbagai tempat, diantaranya Bukhara dan Samarkand, selain tanah kelahirannya Persia.6Maka dapat diidentifikasi bahwa pemikiran intelektualitasnya sangat dipengaruhi oleh paham fiqih yang berkembang pada masa itu. Fiqih Madzhab Hanafi.

Kitab Ta’lim Muta’allim: Thariq at-ta’allum adalah karya Az-Zarnuji yang berhasil selamat dari serangan bangsa mongol. Sementara itu kitab- kitabnya yang lain diyakini musnah karena serangan bangsa mongol yang berhasil membumihanguskan Baghdad.7

C. Pemikiran Pendidikan Imam Zarnuji

Burhanuddin al-Zarnuji adalah tokoh yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan. Jauh sebelum dunia barat menawarkan metode belajar yang beragam, Az-Zarnuji telah menjabarkan idenya tentang konsep belajar. Karena kitab yang dikarangnya termasuk literatur tertua dan banyak dipakai di madrasah-madrasah yang berkembang pada saat itu hingga saat ini.8

Dari berbagai konsep pembelajaran yang ditulisnya, penulis mengambil garis besar isi buku yaitu terkait etika seorang pelajar dalam belajar:

1. Memilih Ilmu pengetahuan

Jangan sampai ilmu yang dipelajari adalah ilmu yang tidak dibutuhkan dan sedikit yang bisa diamalkan darinya. Maka yang perlu dipelajari pertama kali adalah belajar tentang cara belajar. Tidak hanya

6 Yanuar Arifin, Pemikiran Emas Para Tokoh Pendidikan Islam, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2018), Cet. 1, Hal. 191.

7 Ibid.

8 Arif Muzayin Shofwan, “Metode Belajar Menurut Imam Zarnuji”, Jurnal Briliant, Vol. 02, 2017, hal. 409.

(5)

tentang apa yang dipelajari, tetapi juga bagaimana dan mengapa mempelajarinya.9 Karena umur sangat pendek dan ilmu sangat banyak.

2. Mempelajari ilmu para Ulama

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba Nya hanyalah ulama”10

Yang dimaksud ulama dalam ayat ini adalah ulama yang mengetahui ma’rifah kepada Allah. Berdasarkan perkataan Rabi’ bin Anas Radhiyallahu’anhu, “Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah. Maka ia bukanlah seorang yang berilmu (walaupun ilmunya banyak)”11 maka lebih diutamakan belajar dari guru yang memiliki rasa takut kepada Allah.

3. Memilih guru yang professional

ketika seorang pelajar berguru bukan pada ahlinya dan kurang kapasitasnya, maka yang dihasilkan adalah kesesatan dan kebodohan yang baru sehingga semakin jauh dari kebenaran. Ada dua kriteria professionalisme guru yang harus diketahui. Pertama, memiliki standar mental, spiritual, intelektual, etika, fisik dan psikis. Kedua, memiliki kapasitas yang tinggi dalam keilmuan dan pengalaman. Jika keduanya telah ada pada guru, maka proses pembelajaran akan lebih kondusif.12 4. Memiliki kesabaran dan ketabahan dalam belajar

Dalam belajar diperlukan kesabaran dan ketabahan yang tinggi.

Karena tanpa keduanya tidak akan sampai pada tujuannya. Maka perlunya manajemen waktu siang dan malam sebaik mungkin, dan memanfaatkan

9 Bobby de Porter dan Mike Hernacki, Quantum Learning, Terj. Alwiyah Abdurrahman, (Bandung: Kaifa, 2016), hal. 2.

10 Surat Fathir, ayat 28.

11 Muhammad bin Utsman Adz-Dzahabi, Dosa-Dosa Besar, Terj. Imtihan Asy-Syafi’i, (Solo: Pustaka Arafah, 2017), Cet.11, hal. 241.

12 Rusdiana dan Yeti Heryati, Pendidikan Profesi Keguruan, (Bandung: Pustaka Setia, 2015), cet. 1, hal. 53.

(6)

usia semaksimal mungkin karena usia yang tersisa adalah waktu yang tak ternilai.13

5. Tidak boleh menuruti hawa nafsu

Setiap manusia pasti memiliki keinginan yang kuat di dalam dirinya terhadap sesuatu. Maka seorang pelajar seyogyanya menjauhkan diri dari hal-hal yang membuatnya lalai. Sebagaimana perkataan Sufyan ats- Tsauri rahimahullah, “Pelajarilah Ilmu, Jagalah wibawanya, dan jangan mencampurnya dengan senda-gurau, karena ia akan dibenci oleh hati”

Seorang yang berilmu pasti berusaha keras mencapai puncak tertingginya. Maka jangan sampai puncak yang diinginkannya adalah selain keridhoan dari Allah. Karena ketika seseorang menuruti hawa nafsunya terutama ketika belajar, maka kemuliaan tidak akan sampai padanya.14

6. Menghormati ilmu dan ahlu ilmu

Ilmu adalah amal shalih yang paling utama dan ibadah yang paling mulia dan utama diantara ibadah-ibadah sunnah. Sesungguhnya Agama Islam hanya akan tegak dengan jihad dan Ilmu. Kedua hal ini adalah sebuah keharusan. Rasulullah Shalallohu’alaihiwasalam tidak akan memerangi suatu kaum sebelum sampai dakwah kepada mereka. maka kedudukan ilmu lebih penting daripada perang. Sangat berbeda juga halnya seorang yang beribadah berdasarkan ilmu dan tanpa ilmu. Maka kemuliaan seseorang terletak pada ilmunya.15

7. Bersungguh-sungguh dalam belajar

13 Ibnu Jamaah, Adab Fondasi Ilmu, Terj. Muhammad Zaini, dkk, (Sukoharjo: Taujih, 2021), cet. 1, hal. 162.

14 Ibnu Al-Jauzi, Shaid Al-Khatir Nasihat Bijak Penyegar Iman, Terj. Abdul Majid, (Yogyakarta: Darul Uswah, 2002), hal. 228.

15 Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Panduan Lengkap Menuntut Ilmu, Terj. Abu Haidar Al-Sundawy, (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2017), cet. VII, hal. 10.

(7)

Ada setidaknya enam syarat yang harus dimiliki seorang pelajar yang disebutkan Az-Zarnuji dalam syairnya16: pertama memiliki sikap cerdas, kedua semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi, ketiga sabar, keempat biaya yang cukup, kelima pengarahan dari guru, terakhir waktu yang lama tentunya dengan ketekunan.17

Kesimpulan

Pemikiran Az-Zarnuji yang tertuang dalam karya tulisnya sangat berdampak baik bagi dunia pendidikan Islam hingga saat ini. bahkan menjadi buku pegangan pada mata pelajaran adab di berbagai pesantren salaf. Meski termasuk literatur tertua tetapi teorinya sangat relevan dan dapat digunakan hingga saat ini.

Daftar Pustaka

16 Az-Zarnuji, Ta’lim Al Muta’allim Pentingnya Adab Sebelum Ilmu, (Solo: Aqwam, 2019), Cet. IV, hal. 61.

17 Khorial Robany, Skripsi: Syarat Belajar Menurut Syaikh Az-Zarnuji dan Menurut Hadits Nabi Muhammad SAW, (Surabaya: Universitas Islam Negri Sunan Ampel, 2015) hal. 169.

(8)

Al Quran Al Karim

Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. 1993. Terjemah Tafsir Al Maraghi. Semarang: Toha Putra.

Az-Zarnuji. 2019. Ta’lim Al Muta’allim Pentingnya Adab Sebelum Ilmu. Diterjemahkan oleh Abdurrahman Azzam. Solo: Aqwam.

Arifin, Yanuar. 2018. Pemikiran Emas Para Tokoh Pendidikan Islam. Cet. 1. Yogyakarta: IRCiSoD.

Shofwan, Arif Muzayin. “Metode Belajar Menurut Imam Zarnuji”, Jurnal Briliant, Vol. 02, 2017 Porter, Bobby de dan Mike Hernacki. 2016. Quantum Learning. Diterjemahkan oleh Alwiyah

Abdurrahman. Bandung: Kaifa Publishing.

Adz-Dzahabi, Muhammad bin Utsman. 2017. Dosa-Dosa Besar. Diterjemahkan oleh Imtihan Asy- Syafi’i. Cet.11. Solo: Pustaka Arafah.

Heryati, Yeti dan Rusdiana. 2015. Pendidikan Profesi Keguruan. Cet. 1. Bandung: Pustaka Setia.

Jamaah, Ibnu. 2021. Adab Fondasi Ilmu. Diterjemahkan oleh Muhammad Zaini, dkk. cet. 1.

Sukoharjo: Taujih.

Al-Jauzi, Ibnu. 2002. Shaid Al-Khatir Nasihat Bijak Penyegar Iman. Diterjemahkan oleh Abdul Majid.

Yogyakarta: Darul Uswah.

Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 2017. Panduan Lengkap Menuntut Ilmu. Diterjemahkan oleh Abu Haidar Al-Sundawy. cet. VII. Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir.

Az-Zarnuji. 2019. Ta’lim Al Muta’allim Pentingnya Adab Sebelum Ilmu. Cet. IV. Solo: Aqwam.

Robany, Khorial. 2015. Skripsi: Syarat Belajar Menurut Syaikh Az-Zarnuji dan Menurut Hadits Nabi Muhammad SAW. Surabaya: Universitas Islam Negri Sunan Ampel.

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum, dalam kitab ini al-Zarnuji menawarkan konsep guru, seperti guru adalah harus ‘alim (profesional), wara’ (orang yang dapat menjauhi diri dari perbuatan tercela),

Keunikan dan kelebihan kitab Ta’lim al-Muta’allim adalah ketika az-Zarnuji sudah mampu merumuskan bahwa pendidikan itu mempuyai urgensi dan pemahaman tentang keutamaan

Pertama : Pembelajaran kitab Ta`limul Muta`alim di Pondok Pesantren Langitan dikaji untuk kurikulum santri tingkatan Madrasah Tsanawiyah, tujuan yang ingin

Pada mata pelajaran Ta`limul Muta`alim, metode yang digunakan adalah metode pemaknaan arab pegon, dimana santri memaknai kitab kuning dengan menggunakan bahasa jawa akan

Jadi perspektif pendidikan Islam tentang pendidik dan peserta didik menurut pemikiran Burhanuddin Az-Zarnuji dalam penulisan ini adalah bagaimana Az-Zarnuji

Relevansi nilai pendidikan karakter dalam kitab Ta‟limul Muta‟allim dan Ayyuhal Walad terhadap Pendidikan Agama Islam Nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab Ta‟lim

Hasyim, Fuad.Etika Mengajar dalam Kitab Adab al‟alim wa al- Muta‟alim dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam Kajian Pemikiran syaikh Hasyim Asy‟ari, Skripsi: UIN Sunan Kalijaga

Peranan Muatan Lokal kitab Ta‟limul Muta‟alim dan Pembiasaan Keagamaan dalam Membentuk Akhlak Siswa kelas X di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Darul Ulum Muncar Banyuwangi Adapun