• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelekatan Teman Sebaya pada Mahasiswa di Masa Pandemi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Kelekatan Teman Sebaya pada Mahasiswa di Masa Pandemi"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

KELEKATAN TEMAN SEBAYA PADA MAHASISWA DI MASA PANDEMI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh:

Anissa Wilis Safitri NIM: 159114021

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2022

(2)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3)

iii

(4)

HALAMAN MOTTO

“Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengira bahwa ia selalu senang” – Imam Syafi’i

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” – QS Al-Baqarah 286

iv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini peneliti persembahkan untuk:

Allah SWT,

Yang senantiasa memberikan keberkahan, kemudahan di setiap langkah peneliti, dan berkat rahmat serta karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan

skripsi ini.

Kedua Orang Tua,

Yang selalu mendoakan, memberi dukungan, serta melimpahi kasih sayang yang tak terhingga pada peneliti sehingga peneliti dapat berada pada titikini.

v

(6)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan di dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya penulisan karya ilmiah.

Yogyakarta, 29 Juni 2022

Peneliti

Anissa Wilis safitri

vi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7)

KELEKATAN TEMAN SEBAYA PADA MAHASISWA DI MASA PANDEMI

Anissa Wilis Safitri

ABSTRAK

Kelekatan teman sebaya merupakan hubungan erat antar individu maupun kelompok yang terbentuk karena adanya rasa nyaman dan aman secara psikologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kelekatan dengan teman sebaya pada mahasiswa di masa pandemi dengan mengenali tingkat kelekatan berdasarkan aspek-aspek kelekatan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian survei deskriptif. Penelitiaan ini bertujuan untuk mengeksporasi tiga hal yaitu insidensi, distribusi dan interelasi.Responden dari penelitian ini berjumlah 238 mahasiswa yang terdiri dari laki-laki maupun perempuan dengan rentan usia 18 – 22 tahun . Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner hasil adaptasi dari Inventory of parent and peer attachment (IPPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelekatan teman sebaya tinggi. Terdapat tiga aspek dalam kelekatan teman sebaya yaitu komunikasi, kepercayaan dan keterasingan, aspek yang paling menonjol yaitu aspek kepercayaan.

Kata kunci : Kelekatan teman sebaya, mahasiswa, remaja

vii

(8)

PEER ATTACHMENT ON COLLEGE STUDENTS DURING PANDEMIC

Anissa Wilis Safitri ABSTRACT

Peer attachment is close relationship between individuals as well as groups formed because of the comfort and secure psychologically. The purpose of this research to find out the picture of attachment with peers in students in times of pandemic by recognizing the level of attachment based on aspects of attachment with quantitative methods and descriptive survey research design. This research aims to export three things incidence, distribution and interrelation. Respondents from this study amounted to 238 students consisting of men and women aged 18-22 years. Data retrieval with a questionnaire adaptation of the Inventory of parent and peer attachment (IPPA). Research result shows that peer attachment is high. There are three aspects of peer attachment, communication, trust and alienation, the most prominent aspect is the aspect of trust.

Keywoard : peer attachment, college student, adolesence

viii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(9)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASIKARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertandatangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Anissa Wilis Safitri

Nomor Mahasiswa 159114021

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada UPT Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

KELEKATAN TEMAN SEBAYA PADA MAHASISWA DI MASA PANDEMI

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lainnya untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Dibuat di : Yogyakarta Pada tanggal : 29 Juni 2022

Yang menyatakan,

Anissa Wilis safitri

ix

(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan YME atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti mampu menyelesaikan studi dan tugas akhir yang berjudul Kelekatan Teman Sebaya pada Mahasiswa di Masa Pandemi. Dalam menyelesaikan tugas akhir ini banyak hal yang terjadi. Jatuh bangun berkali-kali, tenaga yang banyak terkuras, serta memakan waktu yang tidak sebentar. Namun pada akhirnya peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini. Peneliti menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penelitian ini.

Penelitian skripsi ini dapat terselesaikan berkat dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, peneliti ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Y.B Cahya Widiyanto, M. Si., Ph. D., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

2. Bapak Dr.Victorius Didik Suryo Hartoko M. Si., selaku Kepala Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma.

3. Ibu Diana Permata Sari, M.Sc., selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar mendampingi dan membimbing selama proses penelitian sehingga saya akhirnya dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

4. Bapak Cornelius Siswa Widyatmoko M. Psi., selaku dosen pembimbing akademik tahun 2015-2022 yang selalu memberikan saran dan nasehat selama proses administasi di Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma.

5. Seluruh dosen, staff, dan karyawan Fakultas Psikologi Universitas Santa Dharma yang membantu peneliti berkembang selama masa studi.

6. Para partisipan yang bersedia untuk meluangkan waktu mengisi kuesioner sehingga peneliti mendapatkan data untuk diolah sehingga dapat terselesaikan skripsi ini dengan baik.

7. Ayah dan ibu yang sangat luar biasa sabar dan selalu memberikan terbaik untuk saya. Terimakasih telah menjadi penyemangat dalam segala situasi.

x

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(11)

8. Terimakasih untuk diriku sendiri yang bisa sekuat ini bertahan, tetap terlihat seakan semua baik-baik saja dan bahkan bisa mencapai titik ini.

Kamu luar biasa!

9. Keluarga dan saudara-saudara yang telah memberikan dukungan dan perhatiannya.

10. Sahabat-sahabat peneliti, Kinan dan Cellin yang selalu menjadi tempat berbagi keluh kesah. Terimakasih telah sabar memberikan dukungan dan bantuan sehingga terlesaikanya skripsi ini.

11. Mas Edi, mas Valen dan Panca, teman peneliti selalu yang bersedia meluangkan waktu dan tenaganya untuk membantu kala peneliti sedang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas akhir ini.

12. Seluruh teman-teman kelas C angkatan 2015 Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terimakasih atas dinamika selama peneliti berkuliah di sini.

13. Semua pihak yang telah mendukung dalam proses pengerjaan tugas akhir ini yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.

xi

(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING .... Error! Bookmark not defined.

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASIKARYA ILMIAH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pertanyaan Penelitian ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

1. Manfaat Praktis ... 6

2. Manfaat Teoritis ... 6

BAB II ... 7

LANDASAN TEORI ... 7

A. Pengertian Kelekatan Teman Sebaya ... 8

1. Aspek-Aspek Kelekatan ... 8

2. Dampak Kelekatan... 10

B. Perkembangan Remaja ... 10 xii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(13)

C. Kerangka Konseptual ... 13

BAB III... 16

METODE PENELITIAN ... 16

A. Jenis dan Desain Penelitian ... 16

B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 17

C. Responden Penelitian ... 19

D. Instrumen... 19

1. Daya Diskriminasi Item ... 22

2. Validitasi Alat Ukur Kelekatan Teman Sebaya ... 23

3. Reabilitas Alat Ukur Kelekatan Teman Sebaya ... 23

E. Analisis Data ... 24

BAB IV ... 26

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 26

A. Pelaksanaan Penelitian ... 26

B. Hasil Penelitan ... 27

1. Insidensi ... 27

2. Distribusi ... 28

3. Interelasi ... 32

C. Pembahasan ... 33

BAB V ... 38

KESIMPULAN DAN SARAN ... 38

A. Kesimpulan... 38

B. Keterbatasan Penelitian ... 38

C. Saran ... 39

1. Bagi peneliti selanjutnya ... 39

2. Bagi mahasiswa ... 39

DAFTAR PUSTAKA ... 41

xiii

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Blue Print Skala KelekatanTemanSebaya

Tabel 2 Data Deskriptif Kelekatan Teman Sebaya pada Mahasiswa di masa Pandemi dan Hasil Uji Perbedaan dengan One-Sample t-Test (N=238)

Tabel 3 Data deskriptif Distribusi Tingkat Kelekatan Teman Sebaya pada Mahasiswa dimasa Pandemi Menurut Subskala (N=238)

Tabel 4 Data Kelekatan Teman Sebaya dengan Aspek komunikasi Tabel 5 Data Kelekatan Teman Sebaya dengan Aspek keterasingan Tabel 6 Data Kelekatan Teman Sebaya dengan Aspek kepercayaan Tabel 7 Data Uji Linearitas antara Usia dengan Tingkan Kelekatan Tabel8 Hasil Adaptasi Skala Inventory of parent and peer attachment

(IPPA)

xiv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1: Kerangka Konseptual Kelekatan Teman Sebaya Pada Mahasiswa

xv

(16)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia dikenal sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain dalam melakukan setiap aktivitasnya atau dengan kata lain manusia membutuhkan interaksi kelompok dengan manusia lainnya sesuai dengan minat dan tujuannya (Hantono, 2018). Hal ini dikarenakan individu tidak dapat mencapai apa yang ia inginkan hanya dengan seorang diri. Manusia sebagai makhluk sosial juga di karuniai akal sehat dan pikiran sehingga dapat dikembangkan dalam interaksi bermasyarakat.

Dalam mengembangkan interaksi bermasyarakat, salah satu faktor yang memengaruhi yaitu faktor keluarga dan lingkungan. Interaksi individu dengan lingkungan sekitar akan cenderung mengikuti apa yang lingkungannya lakukan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa lingkungan sangat mempengaruhi bagaimana individu bertumbuh kembang secara akademik, pekerjaan maupun dalam menata masa depan.

Perkembangan manusia diawali dari anak-anak, remaja, dan yang terakhir dewasa. Remaja merupakan masa dimana individu mengeksplorasi yang ada pada dirinya seperti peminatan dalam pekerjaan, pemilihan perkuliahan dan permasalahan yang ada disekitarnya melalui gagasanya menurut Arnett (2000). Disisi lain, menurut Daniel Levinson (Arnett, 2000) menyatakan perkembangan pada remaja mempereratrelasi dengan

1

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(17)

2

teman sebaya maupun lingkungan dengan baik. Hal inidikarenakan remaja dihadapkan dengan berbagai pilihan dari mulai persoalan pertemanan, pendidikan, pekerjaan dan juga percintaan yang akan mepengaruhi kehidupannya kedepan. Sehingga membutuhkan figur lain untuk dapat membantunya dalam mengatasi sebuah persoalan.

Namun semenjak masuknya pandemi COVID-19 tahun 2020 pemerintah menghimbau untuk tidak berkerumun guna memutus rantai penyebaran wabah penyakit COVID-19. Pembatasan interaksi secara langsung digantikan dengan sistem daring (dalam jaringan) atau secaraonline. Dampak yang sangat terasa pada sektor pendidikan terkhusus perkuliahan. Hal ini dikarenakan pembelajaran secara daring membuat aktifitas seperti pembelajaran dan kegiatan-kegiatan organisasi kampus lainnya menjadi terhambat. Begitupun dirasakan saat mahasiswa yang baru menginjak bangku perkuliahan, yang seharusnya mereka dapat menyesuaikan diri secara langsung saat ini menjadi terhambat.

Mahasiswa merupakan jenjang tertinggi pada tingkat pendidikan.

Bedasarkan rentang usia pada umumnya mahasiswa berusia antara 17-25 tahun. Mahasiswa sebagai remaja memiliki banyak permasalahan, dimana individu haru mulai menata masa depannya, memilih jenjang karir dan juga percintaan. Problematika remaja yang cukup rumit sering dirasakanpada saat individu menginjak remaja akhir. Remaja akhir memiliki rentan usia yaitu 18-22 tahun (Santrock, 2012).

Tekanan yang sering dirasakan remaja akhir yakni dalam pemilihan jenis pendidikan yang nantinya akan memengaruhi pada

(18)

3

pekerjaan di masa depan, disisi lain permasalah yang dirasakan seperti percintaan dan relasi dengan teman sebaya juga sering terjadi dikalangan remaja. Permasalahan ini penting untuk diperhatikan karena banyak remaja akhir yang kebingungan dalam menentukan pilihan dan keputusan yang akan mempengaruhi masa depannya.

Remaja dengan cenderung lebih mudah membangun relasi sosial baru dengan teman maupun lingkungan luarnya sehingga perlahan mulai lepas dari ikatan emosional dengan orangtua menurut Agustina (2016), hal ini dikarenakan individu mencari figur lekat dari teman sebaya sebagai tempat mencurahkan isi hati dan pikiran untuk nantinya mendapatkan umpan balik berupa saran maupun nasehat (Hazan & Shaver; Schneider &

Younger dalam Rasyid, 2011). Lingkungan positif akan memberikan dampak kemajuan yang baik dari segala bidang salah satu contohnya berprestasi dalam bidang akademik, begitu juga sebaliknya lingkungan negatif akan menghambat perkembangan seseorang seperti menyimpangnya dari nilai-nilai moral.

Kelekatan teman sebaya perlahan mulai tumbuh karena seringnya berinteraksi. Komunikasi yang baik akan menjalin kelekatan yang erat dengan teman-teman sebaya. Kelekatan yang terbentuk karena adanya kecenderungan individu dalam mencari kenyamanan sebagai tempat mencurahkan isi hati dan pikiran untuk nantinya mendapatkan umpan balik berupa saran maupun nasehat (Hazan & Shaver; Schneider &

Younger dalam Rasyid, 2011) yang dipengaruhi tiga hal yaitu komunikasi, PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(19)

4

kepercayaan dan keterasingan. Kelekatan teman sebaya pada remaja akhir sangat penting hal ini dikarenakan usia mereka yang rentan mengahadapi berbagai persoalan sehingga membutuhkan figur lekat sebagai tempat untuk berbagi ataupun bertukar pikiran. Hal tersebut didukung pernyataan Santrock (2012) yang menyatakan bahwa remaja dengan rentan usia ini sedang dihadapkan dengan problematika yang cukup rumit.

Dengan demikian, remaja sangat membutuhkan peran orang lain untuk mendapatkan arahan yang tepat dalam membantu mencari solusi.

Pada fase ini, yang mereka butuhkan adalah nasehat, pendengar yang baik, dan informan yang dapat memberi dampak positif. Mayoritas remaja mempercayakan segala keluh kesah , isi hati dan pikirannya kepada teman sebaya. Hal tersebut didukung pernyataan dari Barrocas (2009) yang mengatakan bahwa kelekatan teman sebaya sebagai sumber keamanan psikologis bagi individu tersebut. Sehingga mereka lebih mempercayakan segala permasalahnnya dengan teman sebayanya dibandingkan dengan orangtua ataupun dewasa lainnya, hal ini dikarenakan teman sebaya dirasa lebih mampu memahami dan mengerti perasaannya.

Remaja cenderung memiliki kemiripan dengan teman sebayanya dari segi gaya, pola pikir sehingga individu mampu memahami tingkah laku teman sebayanya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Neufeld (2004) yang menyatakan bahwa kelekatan teman sebaya merupakan sebuah ikatan yang melekat yang terjadi antara individu dengan teman- temannya, baik dengan seseorang maupun dengan kelompok sebayanya.

(20)

5

Penelitian mengenai kelekatan teman sebaya sudah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Adapun perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya yaitu, pada penelitian ini akan mengulas tiga hal yaitu Insidensi, Distribusi dan Interelasi selain itu padapenelitian sebelumnya lebih banyak membahas mengenai kelekatan teman sebaya dengan konteks lain seperti Penerimaan Diri (Noviana & Sakti , 2015); Regulasi Emosi (Lestari & Satwika, 2018);

Penyesuaian Diri (Septiningwulan & Dewi, 2021). Berbeda dari itu, pada penelitian ini berfokus pada kelekatan teman sebaya di masa pandemi.

B. Pertanyaan Penelitian

Dari latar belakang permasalahan telah diulas, maka peneliti menuliskan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

a. Insidensi : Bagaimana tingkat Peer Attachment pada remaja di masa pandemi?

b. Distribusi : Bagaimana gambaran aspek tingkat kelekatan teman sebaya?

c. Interelasi : Apakah usia mempengaruhi kelekatan teman sebaya?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mencari tahu gambaran kelekatan dengan teman sebaya pada mahasiswa dimasa pandemi dengan mengenali tingkat kelekatan secara menyeluruh berdasarkan aspek pada kelekatan teman sebaya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(21)

6

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran untuk memperkaya pengetahuan mengenai gambaran keletakan teman sebaya dan semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan, berikut manfaat yang dapat diambil dari penelitian yang telah dilakukan:

1. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu gambaran bagaimana gambaran kelekatan teman sebaya yang terjadi pada mahasiswa dalam hal ini remaja selama masa pandemi.

2. Manfaat Teoritis

Penelitian ini nantinya diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan secara umum terutama dalam psikologi, khususnya pengetahuan dengan mendeskripsikan mengenai kelekatan dengan teman sebaya pada kelompok mahasiswa di masa pandemi. Selain itu, penelitian ini dapat berguna untuk peneliti lainnya.

(22)

BAB II

LANDASAN TEORI

Tujuan penulisan pada bagian ini untuk menjelaskan mengenai tahap perkembangan manusia dalam hal ini tugas mahasiswa sebagai remaja. Lalu, penjelasan selanjutnya mengenai kelekatan dengan teman sebaya. Kelekatan teman sebaya meliputi aspek-aspek yang dimiliki oleh kelekatan teman sebaya, dampak positif yang didapatkan dari kelekatan teman sebaya dan alat ukur kelekatan teman sebaya yang akan digunakan.

A. Kelekatan Teman Sebaya

1. Pengertian Kelekatan Teman Sebaya

Kelekatan teman sebaya atau Peer Attachment merupakan kelekatan yang terjadi antara dua orang sebaya atau lebih sehingga membentuk sebuah ikatan erat yang memunculkan rasa nyaman dan aman secara psikologis menurut Septiningwulan& Dewi (2021).

Barrocas (2009) juga menyatakan bahwa ketika individu merasakan aman secara psikologis dengan individu lain maka akan terjalinnya kelekatan teman sebaya.

Kelekatan teman sebaya dipengaruhi oleh tiga hal yaitu kepercayaan, komunikasi dan juga keterasingan (Armsden dan Greenberg dalam Barrocas, 2009). Remaja yang memiliki kelekatan dengan teman sebaya akan lebih terbuka dalam mencurahkan isi hati dan pikirannya ketika sedang menghadapi sebuah permasalahan (Rasyid, 2011). Hal ini dikarenakan remaja merasa lebih mudah

7

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(23)

8

menyampaikan perasaannya kepada teman sebaya dibandingkan dengan orang tua maupun dewasa lainnya Singgih (2000).

Kelekatan teman sebaya, sesuai dengan sebutannya kelompok ini memiliki rentan usia yang tidak jauh beda. Remaja yang memiliki kelekatan erat terhadap teman sebaya akan lebih terbuka dalam mencurahkan isi hati dan pikirannya ketika sedang menghadapi sebuah permasalahan (Rasyid, 2011). Selain itu ia juga akan mendapatkan umpan balik berupa saran maupun nasehat yang dapat memberikan nilai positif pada remaja tersebut.

Remaja yang dapat memilih lingkungan teman secara tepat dapat mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya kearah yang positif (Santrock, 2007). Seperti contohnya bersaing secara prestasi dan mampu memecahkan persoalan bersama dengan baik. Hal itu sesuai dengan pendapat Barrocas (2009), yang mengatakan bahwa secara umum, remaja mencari kedekatan dan kenyamanan dalam bentuk saran atau nasehat kepada teman sebayanya ketika mereka merasa membutuhkannya.

2. Aspek-Aspek Kelekatan

Kelekatan terbentuk karena adanya tiga aspek yaitu komunikasi, kepercayaan dan keterasingan menurut Armsden dan Greenberg (1987). Komunikasi mengacu bagaimana cara individu berkomunikasi dengan orang lain yang nantinya jika komunikasi terjalin dengan baik maka akan tercipta sebuah kepercayaan. Kepercayaan yaitu ketika

(24)

9

individu merasa aman berinteraksi atau berkomunikasi dengan teman sebaya sedangkan yang terakhir, keterasingan mengacu pada kemarahan atau pengabaian emosional dari teman sebaya.

Menurut Armsden dan Greenberg (dalam Barrocas, 2009), berikut tiga aspek kelekatan teman sebaya ada tiga hal yaitu sebagai berikut :

a. Komunikasi

Terciptanya kelekatan karena adanya komunikasi yang baik antara individu dengan teman sebaya. Hal ini ditunjukkan dengan adanya ungkapan perasaan teman sebaya seperti menanyakan permasalahan yang dihadapi individu, meminta pendapat teman sebaya dan teman sebaya membantu individu untuk memahami dirinya sendiri.

b. Kepercayaan

Individu menjalin komunikasi yang baik dengan individu lain maupun kelompok sehingga timbul rasa percaya antar keduanya. Hal tersebut membuat individu mendapatkan rasa aman dan merasa terbantu atas kehadiran individu lain tersebut.

c. Keterasingan

Individu merasa kehadirannya tidak diharapkan oleh orang- orang disekitarnya. Hal tersebut akan membuat seseorang merasa dijauhi dan tidak dibutuhkan sehingga memiliki kelekatan yang rendah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(25)

10

3. Dampak Kelekatan

Remaja yang memiliki kelekatan erat terhadap teman sebaya akan lebih terbuka dalam mencurahkan isi hati dan pikirannya ketika sedang menghadapi sebuah permasalahan (Rasyid, 2011). Dapat dikatakan individu memiliki kelekatan yang baik dengan teman sebaya maka akan mendapatkan banyak hal positif. Berikut beberapa manfaat kelekatan teman sebaya menurut Santrock (2003) yaitu :

a. Kelekatan teman sebaya mampu membuat individu merasa diringankan secara beban, hal ini dikarenakan individu dapat bebas mengekspresikan dan mengungkapkanapa yang sedang ia rasakan

b. Individu mampu mengolah emosi dengan baik c. Individu memiliki harga diri lebih baik

d. Sebagai sumber rasa aman

B. Perkembangan Remaja

1. Pengertian Pekembangan Remaja

Perkembangan manusia diawali dari anak-anak, remaja, dan yang terakhir dewasa. Remaja merupakan masa dimana individu mulai mengeksplorasi dirinya dan lingkungan melalui gagasanya menurut Arnett (2000). Remaja memiliki arti tumbuh untuk mencapai kematangan Hartinah (2009).

(26)

11

Menurut Konopka (dalam dalam Agustiani, 2006) tahapan remaja terdiri atas tiga tingkatan yaitu, 1) remaja awal berusia 12 – 15 tahun pada usia ini remaja mulai mencari jati dirinya ditandai dengan menjauhnya remaja dari lingkungan keluarga maupun orang tua, 2) remaja madya berusia 15 – 18 tahun sedang mengasah dan mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya dan yang terakhir 3) remaja akhir berusia 19 – 22 tahun, pada fase ini remaja mulai membentuk keintiman antar individu mapupun dengan kelompok dewasa lainnya.

2. Tahap Perkembangan Remaja

Setiap remaja akan mengalami perubahan perkembangan fundamental dalam perkembangannya. Menurut Hill (1983, dalam Agustiani, 2006) meliputi tiga hal yaitu :

a. Perubahan Fisik

Perubahan fisik meliputi perubahan secara primer maupun sekunder yang dapat terlihat secara jelas. Hal ini akan membuat penilaian positif maupun negatif individu terhadap dirinya sendiri.

Selain itu, individu akan lebih membatasi privasi dengan keluarganya.

b. Perubahan Kognitif

Perubahan terlihat dari sejauh mana kemampuan individu dalam berpikir secara logis dan kemampuuan dalam hal menyikapi sebuah situasi tertentu .

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(27)

12

c. Perubahan Sosial

Remaja mulai membangun interaksi dengan lingkungan luar dan bermasyarakat. Sehingga akan terbentuk sebuah kelompok atau hubungan antar individu.

3. Tugas Perkembangan Remaja

Tugas perkembangan remaja menurut Hurlock ( dalam Nur &

Daulay, 2021) sebagai berikut :

a. Membangun relasi baru dengan lingkungan maupun masyarakat lainnya,

b. Bersosial aktif dalam bermasyarakat, c. Menerima atas perubahan fisiknya,

d. Memiliki rasa tanggung jawab dan batasan dalam membangun relasi dengan lawan jenis,

e. Mampu mencapai kemandirian secara emosional yang akan lebih mudah jika adanya dukungan teman sebaya,

f. Ekonomi dengan cara mempersiapkan diri dengan pekerjaan, g. Memiliki pandangan dan persiapan terhadap perkawinan, mulai

dari mengenal perilaku seksual,

h. Mendapatkan pengaruh dari teman sebaya yang belum tentu dapat diterima oleh orang tua maupun dewasa lainnya.

(28)

13

C. KerangkaKonseptual

Covid-19 sangat berdampak terhadap kehidupan sehari-hari karena terbatasnya interaksi sosial antar individu yang membuat segala komunikasi hanya dilakukan melalui daring. Hal ini berpengaruh pada hubungan kelekatan teman sebaya pada remaja, maka dari itu penting untuk menjaga komunikasi agar dapat tetap menjaga hubungan kelekatan.

Hal ini didukung dengan pernyataan Baradja (2005) yang mengatakan intensitas komunikasi dan responnya mempengaruhi figur lekat antar individu sehingga seseorang merasa puas.

Setiap individu memiliki figur lekat teman sebaya, terutama individu menginjak masa remajaakan mulai membangun relasi dari lingkungan sekolah hingga masyarat luas lainnya. Pada umumnya figur teman sebaya akan lebih lekat pada remaja akhir.

Remaja akhir merupakan peralihan dari remaja menuju tahap dewasa, pada tahap ini temaja mulai lebih banyak menghabiskan waktunya dengan lingkungan luar daripadabersama lingkungan keluarga. Remaja lebih sering berinteraksi dengan relasi di lingkungan sekolahnya maupun masyarakat luar lainnya.

Interaksi sosial yang intens akan membentuk sebuah kelekatan, dalam hal ini kelekatan dengan teman sebaya. Terdapat tiga aspek penting yang mempengaruhi kelekatan yaitu komunikasi, kepercayaan dan keterasingan.Aspek kepercayaanyaitu kelekatan antara remaja dengan individu atau kelompok terjalin karena adanya rasa kepercayaan, aspek

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(29)

14

komunikasi yaitu untuk mengungkapkan perasaan seperti menanyakan kabar, terakhir aspek keterasingan yaitu penolakan atau penghindaran dari orang lain.

Kelekatan teman sebaya yang terjalin dengan erat akan membuat remaja belajar untuk mengolah emosi sehingga mampu menyikapi setiap persoalan dengan baik. Remaja akan menghadapi berbagai dari mulai penyesuaian diri terhadap lingkungan maupun. Hal ini dikarenakan remaja merasa lebih mudah menyampaikan perasaannya kepada teman sebaya dibandingkan dengan orang tua maupun dewasa lainnya (Singgih, 2001).

Selanjutnya penelitian ini akan memaparkan gambaran secara keseluruhan dan per aspek meliputi insidensi, distribusi dan interelasi dari kelekatan teman sebaya. Insidensi merupakan tingkat kemunculan kasus baru dari kejadian, populasi dan dalam periode tertentu, sedangkan distribusi merupakan hubungan antara nilai-nilai yang dapat diambil variabel dan jumlah relatif kejadian yang terjadi pada setiap nilai dan interelasi merupakan dua cara atau lebih kondisi yang mempengaruhi satu sama lain. Desain penelitian ini dapat membantu dalam peneliti mengeksplorasi tingkat kelekatan teman sebaya dari aspek-aspek terkait.

Gambar 1

(30)

15

Kerangka Konseptual Kelekatan Teman Sebaya Pada Mahasiswa

Interelasi Distribusi

Insidensi

Terbatasnya interaksi secara langsung membuat antar individu hanya dapat

berkomunikasi melalui daring Tejadinya kelekatan teman sebaya dikarenakan beberapa hal : 1. Komunikasi

2. Kepercayaan 3. Keterasingan

Mahasiswa di Masa Pandemi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(31)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Peneltian ini menggunakan metode kuantitatif, dalam metode kuantitatif variabel yang akan diteliti harus dapat berupa data numerik agar dapat dianalis secara statistik Creswell (dalam Supratiknya, 2015).

Penelitian ini menggunakan desain survey deskriptif, Leedy dan Ormorod (dalam Supratiknya 2015) menyatakan survey deskriptif bertujan untuk mengumpulkan informasi tentang atribut tertentu seperti sikap, sifat, pendapat, atau keyakinan mereka mengenai sesuatu dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan dan mereka memberikan jawaban.

Sebelum masuk pada skala penelitian, terlebih dahulu peneliti mengumpulkan data responden seperti usia, semester, fakultas, serta domisili yang berupa isian bertujuan agar memudahkan peneliti untuk mengelompokkan responden. Sasaran pada penelitian ini yakni mahasiswa aktif diseluruh Indonesia, yang berusia 18-22 tahun. Hal tersebut dikarenakan remaja dengan rentan usia ini sedang dihadapkan dengan problematika yang cukup rumit Santrock (2012).

Penelitian ini akan memaparkan gambaran secara keseluruhan dan per aspek meliputi insidensi, distribusi dan interelasi dari kelekatan teman sebaya. Insidensi merupakan tingkat kemunculan kasus baru dari kejadian, populasi dan dalam periode tertentu, sedangkan distribusi merupakan

16

(32)

17

hubungan antara nilai-nilai yang dapat diambil variabel dan jumlah relatif kejadian yang terjadi pada setiap nilai dan interelasi merupakan dua cara atau lebih kondisi yang mempengaruhi satu sama lain. Desain penelitian ini dapat membantu dalam peneliti mengeksplorasi tingkat kelekatan teman sebaya dari aspek-aspek terkait.

B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Variabel pada penelitian ini yaitu kelekatan teman sebaya.

Kelekatan teman sebaya yang dimaksud yaitu terjalinnya sebuah ikatan psikologis antara individu degan individu lain atau kelompok yang telah terjalin dalam jangka waktu cukup lama. Penelitian ini akan mengungkap kelekatan teman sebaya pada mahasiswa di masa pandemi.

Kelekatan teman sebaya pada penelitian ini berdasar pada alat ukur Inventory of parent and peer attachment (IPPA) yang dikembangkan oleh Armsden dan Greenberg (1987) dengan tiga aspek yaitu, komunikasi, kepercayaan, dan keterasingan.

Aspek kepercayaan yaitu individu memiliki teman sebaya yang dimana dirinya dapat merasa nyaman untuk mengutarakan isi hati dan pikirannya, serta mendapatkan umpan balik berupa saran maupun nasehat yang dapat membantu orang tersebut dalam memahami dirinya sendiri.

Aspek komunikasi dimana terjalinnya komunikasi yang baik antar individu menjalin komunikasi yang baik dengan individu lain maupun kelompok sehingga timbul rasa percaya antar keduanya. Hal tersebut

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(33)

18

membuat individu mendapatkan rasa aman dan merasa terbantu atas kehadiran individu lain tersebut.

Aspek keterasingan dimana individu merasa kehadirannya tidak diharapkan oleh orang-orang disekitarnya. Hal tersebut akan membuat seseorang merasa dijauhi dan tidak dibutuhkan sehingga memiliki kelekatan yang rendah.

Berdasarkan dari ketiga aspek diatas maka penelitian ini mencari insidensi, distibusi dan interelasi dari kelekatan teman sebaya. Insidensi pada penelitian ini yaitu tingkat kelekatan teman sebaya pada mahasiswa di masa pandemi yang dapat dilihat melalui alat ukur kelekatan. Distribusi yaitu pembangian tingkat kelekatan teman sebaya berkaitan dengan aspek- aspek kelekatan. Sedangkan Interelasi merupakan hubungan antara usia dengan tingkat kelekatan.

Skor total skala dari pengukuran tingkat kelekatan teman sebaya akan menunjukkan sejauh mana tingkat kelekatan teman sebayapada mahasiswa. Hasil dari penjumlahan seluruh item dibagi dengan jumlah item akan menghasilkan skor skala total. Sedangkan skor keseluruhan dari masing-masing aspek akan menujukkan tingkat kelekatan pada setiap aspek. Cara menghitung total skor dari masing-masing aspek yaitu dengan menjumlahkan seluruh skor item dari masing-masing aspek dibagi dengan banyaknya item dari setiap aspek.

(34)

19

C. Responden Penelitian

Responden dari penelitian ini adalah mahasiswa maupun mahasiswi masih aktif menempuh pendidikan diperguruan tinggi di seluruh Indonesia, berusia 18 – 22 tahun. Untuk mendapatkan partisipan, peneliti menggunakan metode non probability sampling dengan teknik sampling insidensial (Sugiyono, 2013). Teknik ini dipilih karena sesuai dengan tujuan dari penelitian.

D. Instrumen

Inventory of parent and peer attachment (IPPA) merupakan alat ukur yang dikembangkan oleh Armsden dan Greenberg (1987). Skala ini dikembangkan untuk dapat menilai persepsi remaja mengenai dimensi kognitif positif dan negatif dari hubungan kelekatan teman sebaya sebagai sumber keamanan psikologis. Konsep Inventory of Parent and Peer attachment (IPPA) mengacu pada tiga aspek yaitu, kepercayaan, komunikasi, dan keterasingan.

Skala Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) yang berbentuk likert terdiri atas 25 item, masing-masing item diberi rentan nilai 1 “tidak pernah” hingga 4 “selalu”, sehingga responden dapat memilih jawaban yang sesuai dengan suasana hati yang responden rasa sesuai. Skor total kelekatan teman sebaya didapatkan dengan menjumlahkan skor setiap item dengan rentan antara 25 hingga 100.

Semakin tinggi skor yang didapatkan semakin tinggi juga tingkat kelekatan terhadap teman sebaya.Reabilitas Inventory of parent and peer

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(35)

20

attachment IPPA termasuk dalam kategori baik karena menujukkan koefisien alpha Cronbachsebesar 0,81.

Peneliti memilih untuk mengadaptasi Inventory of parent and peer attachment (IPPA) yang dikembangkan oleh Armsden dan Greenberg (1987) sebagai alat ukur tingkat kelekatan teman sebaya karenakan dua hal.

Alasan pertama karena alat ukur ini memang dirancang untuk mengukur tingkat kelekatan antar individu dengan orang tua atau individu dengan teman sebaya. Alasan kedua Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) memiliki kualitas psikometrik yang baik sehingga dapat mengukur tingkat kelekatan teman sebaya dengan valid.

Peneliti menggunakan skala Inventory of parent and peer attachment (IPPA) yang dikembangkan oleh Armsden dan Greenberg (1987) untuk mengumpulkan data mengenai tingkat kelekatan teman sebaya pada mahasiswa dimasa pandemi. Penelitian ini menggunakan skala adaptasi dengan teknik back-translation menurut Brislin (dalam Supratiknya, 2018). Berikut langkah peneliti dalam mengadaptasi skala yang akan digunakan:

1. Skala pada penelitian ini diambil dari jurnal Inventory of parent and peer attachment (IPPA) yang dikembangkan oleh Armsden dan Greenberg (1987) dalam Bahasa Inggris

2. Peneliti memperoleh skala Inventory of parent and peer attachment (IPPA) yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh Claresta Amelia (2014).

(36)

21

3. Peneliti meminta bantuan dosen pembimbing selaku ahli (expert judgjement) untuk melakukan validasi isi yaitu dengan cara memperbaiki item-item yang kurang sesuai.

4. Peneliti meminta bantuan pada rekan yang sudah menjadi sarjana dalam bidang Psikolgi untuk memberkan penilain sebagai peer judgdement.

5. Dari hasil peer judgement tersebut, peneliti dan dosen pembimbing sepakat untuk merubah susunan kalimat dibeberapa item yang dirasa perlu diperbaiki.

6. Peneliti menyusun petunjuk pengerjaan dari 25 item skala yang akan disebar.

Alat ukur Inventory of parent and peer attachment (IPPA) terdiri atas 25 item disusun dengan skala Likert. Setiap item diberikan rentan angka penilaian 1 “tidak pernah” hingga 4 “selalu”, sehingga responden dapat memilih jawaban yang sesuai dengan suasana hati yang responden rasa sesuai. Skor total pada skala dibagi dengan banyaknya item akan diperoleh rata-rata skor, sedangkan skor total didapatkan dari menjumlahkan skor per item. Hal tersebut juga dilakukan untuk menghitung skor setiap aspek yaitu dengan membagi skor total pada setiap aspek dibagi dengan banyaknya item. Skor terendah pada skala ini adalah angka 1 dan skor tertinggi yaitu 4.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(37)

22

Berikut susunan item-item pada skala kelekatan teman sebaya berdasarkan versi asli dari Inventory of parent and peer attachment (IPPA) yang telah peneliti susun sebagai berikut :

Tabel 1

Blue Print Skala Kelekatan Teman Sebaya

No. Aspek Nomor Ketersebaran Item Total Item 1 Kepercayaan 5,6,8, 12,13,14,15,19,20,21 10

2 Komunikasi 1,2,3,7,16,17,24,25 8

3 Keterasingan 4,9,10,11,18,22,23 7

Total Item 25 25

Setelah skala selesai diadaptasi, peneliti melakukan uji skala sebelum yang bertujuan agar dapat mengetahui daya diskriminasi item, validitas, dan koefisien alpha cronbach untuk melihat reabilitasitem. Uji coba skala dilaksanakan pada kamis 21 April hingga senin 25 April 2022, dilakukan secara daring dengan menggunakan Google Form. Peneliti menyebarkan link di seluruh media sosial seperti Instagram, Line, Whatsapp dan meminta bantuan ke beberapa rekan untuk membantu menyebarkanlink tersebut. Pengisian Google Form ditutup setelah memperoleh 62 partisipan telah mengisi skala uji coba.

1. Daya Diskriminasi Item

(38)

23

Supratiknya (2014), mengatakan bahwa daya diskriminasi item menunjukkan kemampuan sebuah item yang akan membuat responden memiliki berbagai cara untuk menjawab.Hasil korelasi masing-masing item dengan skor total skala akan diperoleh daya diskriminasi item.

Skor total skala yang ideal memiliki koefisien item total berada diatas>

0,20 (Supratiknya, 2014).

Dari hasil uji coba menunjukan bahwa skor rit memiliki rentan 0,13- 0,75. Terdapat dua item yang yang korelasi item total kurang dari 0,20 atau kurang memenuhi standar. Akan tetapi, item-item tersebut tetap dipertahankan untuk digunakan dalam penelitian ini. Hal in dikarenakan jika mengapus item dalm proses adaptasi skala maka akan mengancam validitas konstruk dari skala tersebut meurut Hagestad, dkk (2019) .

2. Validitasi Alat Ukur Kelekatan Teman Sebaya

Validitas isi bertujuan untuk melihat kesesuaian antar seluruh aspek yang ada dalam instrumen dengan konstruk yang akan diukur (Supratiknya, 2015). Skala Peer Attachment ini sudah di setujui oleh dosen pembimbing selaku expert judgement untuk digunakan dalam penelitian ini.

3. Reabilitas Alat Ukur Kelekatan Teman Sebaya

Reabilitas merupakan konsistensi hasil pengukuran jika prosedur pengetesannya dilakukan secara berulang kali dalam satu populasi PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(39)

24

individu atau kelompok Creswell (Supratiknya, 2014). Reabilitas mengacu pada konsistensi atau keakuratan hasil tes (Periantalo, 2015) . Hasil uji coba menunjukkan bahwa Alpha Cronbach yang diukur di sample partisipan menunjukkan reabilitas yang baik yaitu 0,814. Hal ini didukung dari pernataan Budi (2006) yang mengatakan bahwa batas skor reliabilitas diatas 0,60 – 0,80 temasuk dalam kategori reliabel.

E. Analisis Data

Berdasarkan desain penelitian survei, penelitian ini akan mengungkap 3 hal yaitu insidensi, distribusi dan intrelasi mengenai kelekatan teman sebaya pada mahasiswa dimasa pandemi. Penelitian ini mengungkap insidensi berupa tingkat kelekatan teman sebaya. Tingkat kelekatan terhadap teman sebayadiperoleh dari membandingkan nilai Mean empirik dan Mean teoritik yang termasuk dalam kategori tinggi atau rendah. Perbandingan tersebut meggunakan uji One Sample t-Test yang memang dirancang untuk menguji rata-rata suatu kelompok sample dan mengetahui rata-rata perbedaan signifikasi dari satu kelompok sample.

Namun sebelumnya terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data yang bertujuan untuk mengetahui persebaran normalitas data jika data yang didapatkan memilki persebaran yang normal dapat dikatakan responden penelitian ini dapat merepresentasikan dengan baik populasi yang sedang diuji.

Penelitian ini juga mengungkap distribusi berupa tingkatan aspek kelekatan teman sebaya pada mahasiswa selama masa pandemi.

(40)

25

Perbandingan Mean setiap aspek kelekatan diuji dengan uji statistik One Way Anova. Pada penelitian ini tidak dilakukan uji homogenitas dikarenakan responden penelitian hanya terdiri dari satu kelompok yang sama.

Selanjutnya, pada interelasi penelitian betujuan menjabarkan antara variabel utama kelekatan teman sebaya dengan variabel demografis usia.

Hal ini dikarenakan usia mepengaruhi kematangan seseorang dalam berpikir dan mengambil keputusan, bagaimana individu menyikapi sebuah arti kelekatan teman sebayamenurut Ariati & Muntamah (2016).Penelitian ini menganalisis apakah terdapat hubungan antara tingkat kelekatan dengan usia menggunakan uji One Way Anova.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(41)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini, peneliti akan menjelaskan mengenai serangkaian proses dalam pengumpulan data, deskripsi partisipan lanjut menjelaskan hasil dari skala pengukuran yang telah diperoleh dengan menggunakan alat ukur Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA). Kemudian dari hasil penelitian akan dikaitkan dengan temuan-temuan penelitian sebelumnya.

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilakukan pada tanggal 12 Mei 2022 hingga 19 Mei 2022. Penelitian dimulai denganmenyebarkuisioner kelekatan teman sebaya yang terdiri atas 25 item berupa kuesioner yang disebarkan melaui Google Form. Responden dari penelitian ini merupakan mahasiswa diseluruh Indonesia semester 2 hingga 8 yang berusia 18 tahun sampai 22 tahun. Pada penelitian ini terdapat beberapa informasi demografis mengenai responden seperti usia, semester, domisili dan fakultas.

Responden penelitian adalah 238 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan berbagai macam fakultas dan tingkat semester. Dari data yang didapatkan tingkat partisipan terbanyak meliputi 76 (32%) partisipan berusia 22 tahun, 134 (56,1%) partisipan berasal dari Yogyakarta, 35 (14,5%) partisipan merupakan mahasiswa fakultas ekonomi, dan 66 (27,7%) partisipan merupakan mahasiswa semester 8.

26

(42)

27

B. Hasil Penelitan

Pada bagian ini, peneliti akan menjabarkan hasil dari penelitian tentang kelekatan teman sebaya guna menjawab pertanyaan penelitian yang telah dicantumkan pada bagian sebelumnya.

1. Insidensi

Insidensi yang dimaksud pada penelitian ini yaitu tingkat kelekatan teman sebaya pada mahasiswa di masa pandemi secara umum. Hasil insidensi didapatkan dari uji perbedaan Mean empirik dan Mean teoritik untuk mengetahui tinggi rendahnya tingkat kelekatan teman sebaya. Mean empirik diperoleh dari rata-rata responden penelitian sedangkan Mean Teoritik diperoleh dengan cara penghitungan secara manual dengan menggunakan skor terendah, skor teringgi dan jumlah item pada masing-masing skala. Langkah pertama peneliti ingin mengetahui persebaran data penelitian, maka dari itu dilakukan uji asumsi normalitas. Menurut Santoso (2010) uji asumsi normalitas data bertujuan untuk memeriksa apakah data penelitian berasal dari populasi yang persebarannya normal atau tidak. Uji normalitas data menunjukkan bahwa hasil tingkat kelekatan teman sebaya pada mahasiswa di masa pandemi secara keseluruhan memperoleh Z Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,07, sedangkan nilai p > 0,05 menunjukkan bahwa data yang diuji terdistribusi secara normal.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(43)

28

Tabel 2

Data Deskriptif Kelekatan Teman Sebaya pada Mahasiswa di masa Pandemi dan Hasil Uji Perbedaan dengan One-Sample t-Test (N=238)

Teoritik Empirik Perbedaan Mean

t df Signifikansi

Mean 62,5 74,21

SD 12,5 9,53 11,71 18,941 237 P< 0,05 Skala menunjukkan Mean Empirik 74,21 (SD = 9,53), sementara Mean teoritik pada skala kelekatan teman sebaya adalah sebesar 62,5 (SD = 12,5). Teknik statistik parametik One-Sample t-Test digunakan untuk membandingkan skor Mean empirik dan Mean teoritik. One- Sample t-Test memperoleh hasil bahwa Mean empirik lebih tinggi daripada Mean teoritik. Perbedaan Mean tersebut terbukti signifikan (t

= 18,941, p< 0,5). Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat kelekatan teman sebaya termasuk dalam kategori tinggi.

2. Distribusi

Distribusi yang diteliti yaitu pembangian tingkat kelekatan teman sebaya berdasarkan aspek kelekatan teman sebaya pada mahasiswa di masa pandemi. Hasil distribusi didapatkan melalui perbandingan tingkat Mean kelekatan teman sebaya antar aspek kelekatan teman sebaya.

(44)

29

Tabel 3

Data deskriptif Distribusi Tingkat Kelekatan Teman Sebaya pada Mahasiswa dimasa Pandemi Menurut Subskala (N=238)

No Aspek Kelekatan Teman Sebaya Mean SD

1 Kepercayaan 28.70 4.975

2 Komunikasi 28.67 4.024

3 Keterasingan 17.42 3.532

Berdasarkan data deskriptif, tingkatan aspek kelekatan teman sebaya pada mahasiswa selama masa pandemi sebagai berikut. Aspek kepercayaan (M=28,70, SD=4,975) berdasarkan hasil perhitungan mean dan standar deviasi peneliti membuat norma untuk mengkategorikan responden sesuai dengan tingkatan aspek kepercayaannya. Peneliti membagi kategorisasi menjadi tiga bagian, yaitu kategori rendah, rata-rata dan tinggi. Kategorisasi tersebut didapatkan dari perhitungan sebagai berikut:

 Kategori rendah = x < M – 1 SD

x < 28,70 – 1 (4,97) x < 23,725

 Kategori rata-rata = M – 1 SD ≤ x < M + 1 SD

28,70 – 1 (4,97) ≤ x < 28,70 + 1 (4,97) 23,72 ≤ x < 33,675

 Kategori tinggi = M + 1 SD ≤ x

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(45)

30

28,70 + 1 (4, 975) ≤ x 33, 675 ≤ x

Tabel 4

Data Kelekatan Teman Sebaya dengan Aspek komunikasi (M=28,67, SD=4,024).

Kategori Frekuensi Presentase

Tinggi 6 2,5 %

Rata - rata 211 88,65 %

Rendah 21 8,82 %

yaitu kelekatan antar remaja dengan individu atau kelompok terjalin karena adanya rasa kepercayaan, aspek komunikasi (M=28,67, SD=4,024)

 Kategori rendah = x < M – 1 SD

x < 28,67 – 1 (4,024) x < 24,646

 Kategori rata-rata = M – 1 SD ≤ x < M + 1 SD

28,67 – 1 (4,024) ≤ x < 28,67 + 1 (4,024) 24,646 ≤ x < 32,694

 Kategori tinggi = M + 1 SD ≤ x

28,67 + 1 (4, 024) ≤ x 32, 694 ≤ x

(46)

31

Tabel 5

Data Kelekatan Teman Sebaya dengan Aspek keterasingan (M=17,42, SD=3,532).

Kategori Frekuensi Presentase

Tinggi 26 10,924 %

Rata - rata 167 70,168 %

Rendah 45 18,907 %

yaitu untuk mengungkapkan perasaan seperti menanyakan kabar, terakhir aspek keterasingan(M=17,42, SD=3,532) yaitu penolakan atau penghindaran dari orang lain.

 Kategori rendah = x < M – 1 SD

x < 17,42 – 1 (3,53) x < 13,89

 Kategori rata-rata = M – 1 SD ≤ x < M + 1 SD

17,42 – 1 (3,53) ≤ x < 17,42 + 1 (3,53) 13,89 ≤ x < 20,95

 Kategori tinggi = M + 1 SD ≤ x

17,42 + 1 (3, 53) ≤ x

20, 95 ≤ x

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(47)

32

Tabel 6

Data Kelekatan Teman Sebaya dengan Aspek kepercayaan (M=28,70, SD=4,975)

Kategori Frekuensi Presentase

Tinggi 99 41,59 %

Rata - rata 134 56,302 %

Rendah 5 1,524 %

Dari hasil yang telah dijabarkan diatas dapat diketahui bahwa aspek tertinggi yaitu kepercayaan disusul dengan aspek komunikasi dan yang terakhir aspek keterasingan.

3. Interelasi

Interelasi yang diteliti yaitu hubungan antara kelekatan teman sebaya dengan variabel demografis yaitu usia. Hasil interelasi didapatkan melalui berbandingan Mean tingkat kelekatan teman sebaya dan usia secara keseluruhan skala dan aspek kelekatan.

Tabel 7

Data Uji Linearitas antara Usia dengan Tingkan Kelekatan

No Df Mean Square F Sig.

1 Combined 4 65,6 .802 .525

2 Linearity 1 108,8 1.320 .250

3 Deviation

Linearity

3 51,2 .625 .600

(48)

33

Berdasarkan hasil uji liniearitas antara variable Kelekatan Teman Sebaya dengan usia responden, didapati bahwa Sig Linearity sebesar 0.25 (a > 0.05). Dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan yang linear dari kedu avariable tersebut, sehingga tidak bisa dilakukan uji korelasi, atau tidak ada hubungan anatara variabel kelekatan teman sebaya dan usia.

C. Pembahasan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai kelekatan teman sebaya dengan menjabarkan tiga hal yaitu, insidensi berupa tingkat kelekatan teman sebaya pada mahasiswa di masa pandemi secara umum, distribusi berisi tingkat kelekatan teman sebaya berdasarkan aspek-aspek kelekatan yang terkait pada mahasiswa, sedangkan interelasi berisi tentang hubungan antara variabel utama kelekatan dengan variabel demografis yaitu usia dimana ketiga hal tersebut akan diukur dengan tiga aspek dari kelekatan yaitu kepercayaan, komunikasi dan interelasi.

Berdasarkan hasil deskripsi responden, terdapat hasil yang tinggi dalam kelekatan teman sebaya pada mahasiswa di masa pandemi. Namun hasil ini bertolak belakang dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa kelekatan teman sebaya pada mahasiswa tidak efektif karena kurangnya interaksi secara langsung antar individu menurut Sutisna dan Widodo (2021).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(49)

34

Dari hasil insidensi menunjukkan bahwa tingkat kelekatan teman sebaya secara umum tinggi, hal ini terlihat dari skor Mean empirik secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai skor Mean teoritik. Hasil ini mendukung kerangka konseptual yang telah dijabarkan sebelumnya bahwa kelekatan teman sebaya pada mahasiswa tinggi karena memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa kelekatan pada remaja termasuk tinggi dan peran teman sebaya sangat berarti bagi kehidupan remaja (Susanti, 2014)

Covid-19 sangat berdampak terhadap kehidupan sehari-hari terutama pada remaja karena terbatasnya interaksi sosial antar individu yang membuat segala komunikasi hanya dilakukan melalui daring atau dalam jaringan. Komunikasi sangat berperan penting dalam individu menjaga dan membangun kelekatan dengan teman sebaya, hal ini didukung dengan pernyataan Baradja (2005) yang mengatakan intensitas komunikasi dan responnya mempengaruhi figur lekat antar individu sehingga seseorang merasa puas. Selain itu, tingkat kelekatan yang tinggi pada mahasiswa di masa pandemi dikarenakan remaja merasa jika mendapatkan rasa aman secara psikologis dari teman sebaya. Hal ini didukung pernyataan dari Barrocas (2009) yang mengatakan bahwa secara umum, remaja mencari kedekatan dan kenyamanan dalam bentuk saran atau nasehat kepada teman sebayanya ketika mereka merasa membutuhkannya.

(50)

35

Hasil distribusi pada penelitian menunjukkan bahwa kelekatan teman sebaya yang tinggi dipengaruhi oleh tingginya aspek dari kelekatan yaitu kepercayaan disusul dengan tingkat aspek kelekatan teman sebaya pada mahasiswa selama masa pandemi sebagai. Aspek kepercayaan yaitu kelekatan antar remaja dengan individu atau kelompok terjalin karena adanya rasa kepercayaan, aspek komunikasi yaitu untuk mengungkapkan perasaan seperti menanyakan kabar, terakhir aspek keterasinganyaitu penolakan atau penghindaran dari orang lain. Figur teman sebaya menjadi salah satu peran penting didalam masa remaja. Hal ini didukung pernyataan Susanti (2014) yang mengatakan bahwa kelekatan teman sebaya sangat berarti bagi kehidupan remaja terutama membantu dalam kecakapan dan kesejahteraan remaja sebagai mahasiswa. Selain itu, terjalinnya komunikasi yang baik akan mempererat kelekatan teman sebaya, hal tersebut didukung pernyataan Baradja (2005) yang mengatakan intensitas komunikasi dan responnya mempengaruhi figur lekat antar individu sehingga seseorang merasa puas.

Hasil insidensi menunjukkan bahwa tingkat kelekatan teman sebaya pada keseluruhan responden secara umum tinggi. Hal ini terbukti dari Mean empirik lebih tinggi dari pada Mean teoritik. Hasil tersebut mendukung kerangka koseptual yang telah dijabarkan sebelumnya bahwa mahasiswa dalam hal ini usia remaja memiliki tingkat kelekatan dengan teman sebaya yang tinggi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(51)

36

Hasil interelasi menunjukkan bahwa tingkatan aspek kelekatan teman sebaya pada mahasiswa selama masa pandemi sebagai berikut, aspek kepercayaan yaitu kelekatan antar remaja dengan individu atau kelompok terjalin karena adanya rasa kepercayaan, disusul dengan aspek komunikasi yaitu untuk mengungkapkan perasaan seperti menanyakan kabar, selanjutnya aspek keterasingan yaitu penolakan atau penghindaran dari orang lain.

Dari penelitian yang telah dilaksanakan didapatkan hasil bahwa tingkat kelekatan teman sebaya pada responden mahasiswa termasuk dalam kategori tinggi. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa dari ketiga aspek kelekatan teman sebaya terdapat dua aspek yang dominan yaitu aspek kepercayaan dan aspek komunikasi. Dari penelitian ini juga menemukan bahwa aspek kepercayaan menjadi peran utama dalam kelekatan teman sebaya, hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan sebagai salah satu dasar individu membangun kelekatan dengan individu lain ataupunkelompok. Selain itu, komunikasi yang terjalin dengan baik akan semakin mempererat kelekatan dengan teman sebaya. Adapun ketebatasan dari penelitian ini yaitu, yang pertama peneliti tidak melakukan penelitian terhadap dua kelompok responden antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak dapat diketahui apakah antara laki-laki dan perempuan memiliki kualitas kelekatan teman sebaya yang sama atau tidak. Yang kedua, minimnya pembahasan pada remaja dari segi penghambat kelekatan dengan teman sebaya. Keterbatasan dalam penelitian ini,

(52)

37

diharapkan peneliti selanjutnya dapat menggembangkan dan menggali lebih tentang kelekatan teman sebaya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(53)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kelekatan teman sebaya pada mahasiswa dimasa pandemi. Dengan menggunakan alat ukur Inventory of parent and peer attachment (IPPA) meliputi tiga aspek yaitu:

komunikasi, kepercayaan dan keterasingan. Berdasarkan analisis dan pembahasan dari penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat kelekatan teman sebaya yang tinggi pada mahasiswa dimasa pandemi.

2. Terdapat tiga aspek kelekatan dengan skor tertinggi yaitu kepercayaan, disusul dengan aspek komunikasi dan yang terakhir aspek keterasingan.

Aspek kepercayaan merupakan kelekatan antar remaja dengan individu atau kelompok terjalin karena adanya rasa kepercayaan, aspek komunikasi yaitu untuk mengungkapkan perasaan seperti menanyakan kabar, terakhir aspek keterasingan yaitu penolakan atau penghindaran dari orang lain.

B. Keterbatasan Penelitian

Terbatasnya konsep dan bahan sehingga membuat penelitian ini kurang maksimal, karena jumlah responden yang relativ masih sedikit.

Sehingga diharapkan pada penelitian selanjutnya mendapatkan responden

38

(54)

39

yang banyak sehingga mampu memberi gambaran mengenai tingkat kelekatan yang lebihluas.

C. Saran

Dari penelitian yang telah dilakukan terdapat kesimpulan dan keterbatasan dalam penelitian ini, maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut:

1. Bagi peneliti selanjutnya

Atas terbatasnya konsep dari penelitian ini, diharapkan peneliti selanjutnya dapat menggembangkan dan menggali lebih tentang kelekatan teman sebaya dari segala sudut pandang terutama membandingkan antara kelekatan teman sebaya pada laki-laki dan kelekatan teman sebaya pada perempuan. Selainitudapat juga dikembangkan dengan mencari tahu kemungkinan yang terjadi apabila kehilangan figur kelakatan.

2. Bagima hasiswa

Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa tingkat kelekatan teman sebaya tinggi dengan aspek kepercayaan yang tinggi. Peneliti menyarankan untuk membangun komunikasi dengan baik sehingga akan tumbuh rasa percaya antar individu maupun kelompok yang akan membuat tingkat kelekatan semakin erat. Individu yang memiliki kelekatan tinggi dapat menjadikan figur kelekatan teman sebagai dukungan positif terutama dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(55)

40

menjalankan rutinitas perkuliahan dan kehidupan sehari-hari. Teman sebaya dapat membantu individu dalam memecahkan persoalan, sebagai tempat berbagi keluh kesah juga menemukan jatidiri individu.

(56)

DAFTAR PUSTAKA

Agustiani, H. (2006). Psikologi Perkembangan Pendekatan Ekologi Kaitannya Dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri pada Remaja. Bandung.

PT. RefikaAditama

Agustina. (2016). Analisis Penggunaan Media Sosial Instagram Terhadap Konsumerisme Remaja di SMA Negri 3 Samarinda. E Journal Ilmu Komunikasi. Vol., No.3.

Armsden, G., & Greenberg, M. T. (2009).Inventory of Parents and Peer Atachment: individual differences and their relatikonship to psychological well-beign on adolescense. Jurnal of Youth and Adolescense, 16 (5): 427- 454.

Arnett, J, J. (2000). Emerging Adulthood: A Theory of Development From the Late Teens Throughthe Twenties.

Diunduh dari : https://www.researchgate.net/publication/12476725 Pada 7 Oktober 2022

Ariati, J., & Muntamah. (2016). Hubungan Antara Kelekatan Terhadap Teman Sebaya dengan Kematangan Karir pada Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Trucuk Klaten. Jurnal mpai, 5 (4): 705-710.

Armsden, G., & Greenberg, M. T. (1987).Inventory of Parents and Peer Atachment ( IPPA ).

Baradja, A. (2005). Psikologi Perkembagan: Tahapan-Tahapan dan Aspek- Aspeknya. Jakarta: Studia Press.

41

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(57)

42

Barrocas, A.L. (2009). Adolescent Attachment to Parents and Peers.

Diunduhdari

http://ejournal.narotama.ac.id/files/barrocas%20thesisfinal.pdf

Bowlby, J. (1982) .Attachment and Loss: 1, Attachment (2nd ed). New York

Diunduh dari

https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=VceyqelKfncC&oi=fnd&

pg=PA29&

ots=5wpPBGB0w&sig=Bgr29VgZcO0XB67jn5ra7wXwJ9Y&redir_esc=y

#vonepage&q&f=false

Hartinah, S. (2008). Perkembangan Peserta Didik. PT RefikaAditama

Lestari, D, A., &Satwika, Y. W. (2018). Hubungan antara Peer Attachment dengan Regulasi Emosi pada SiswaKelas VIII di SMPN 26 Surabaya.

Jurnal Penelitian Psikologi. Vol.5, No. 2: 1-6.

Noviana, S., & Sakti, H. (2015). Hubungan Antara Peer Attachment Dengan Penerimaan Diri Pada Siswa-Siswi Akselerasi. Jurnal Empati. Vol. 4(2):

114-120.

Nur, H., & Daulay, H., (2021). Dinamika Perkembangan Remaja Kencana.

Jakarta

Papalia, D. E., & Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009) . Human Development Edisi10. Jakarta: Salemba Humanika

Rasyid, M. (2011).Hubungan antara Peer Atachment dengan Regulasi Emosi Remaja yang Menjadi Siswa di Boarding School SMA Negri 10 Samarinda. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan.Vol.1.

(58)

43

Robert, E. Slavin. (2000). Education Psychology: Theory and Practice. Pearson Edcation.New Jersey

Santrock, J. W., (2003). Adolescence. Perkembangan Remaja. Edisi Keenam.

Jakarta. Erlangga

Santrock, J, W., (2007). Perkembangan Anak jilid 2. Jakarta.Erlangga Santrock, J, W., (2012). Lifespan Development jilid 2. Jakarta: Erlangga

Septiningwulan, E. Anissa., & Dewi, K. Damajanti. (2021). Hubungan Antara Peer Attachment dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Baru Psikologi UNESA Selama Masa Pandemi. Jurnal Penelitian Psikologi. Vol 8 (8).

Singgih, D. G. (2000). PsikologiPraktis: Anak, Remaja dan Keluarga. Gunung Mulia. Jakarta

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: R&D, Alfabeta Supratiknya., A. (2014). Pengukuran Psikologis. Fakultas Psikologi Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta.

Supratiknya.,A. (2015). Metodologi Penelitian Kuantitatif& Kualitatif dalam psikologi.Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.

Supratiknya., A. (2018). Serba serbi metode & penulisan ilmiah dalam psikologi.

INTERNASIONAL. Kanisius.

Suratman, A. (2013). Hubungan Kualitas Peer Attachment dengan Konsep Diri Pada Remaja Depok. Jurnal Psikologi Universitas Binus. Jakarta..

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(59)

44

Sutisna, D., & Widodo, A. (2021). Hubungan Kelekatan Mahasiswa dalam Pembelajaran Daring di Masa Pandemik Covid-19. Jurnalllmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya.Vol.23, No. 2: 174-188.

Widodo, A., &Sutisna, D. (2021). Hubungan Kelekatan Mahasiswa dalam Pembelajaran Daring Dimasa Pandemik Covid 19. Jurnal ilmiah Kajian Ilmu Sosial dan Budaya.Vol. 23: 174 – 188.

Referensi

Dokumen terkait

HUBUNGAN KONFORMITAS TEMAN SEBAYA DENGAN MOTIVASI MENGAKSES SITUS FACEBOOK PADA

Hasil kategirisasi menunjukkan tingkat risiko penyalahgunaan NAPZA pada subjek penelitian ini tergolong dalam kategori rendah, tingkat kelekatan orang tua-anak pada

Dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara dukungan teman sebaya dengan penyesuaian sosial, diharapkan kepada mahasiswa baru Universitas

Hal ini menunjukkan bahwa kelekatan remaja dalam kelompok teman sebaya yang berperilaku menyimpang akan meningkatkan remaja terlibat dalam kenakalan remaja,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelekatan terhadap teman sebaya memberikan sumbangan efektif yang tidak terlalu besar, hal ini dimungkinkan karena mayoritas siswa kelas XI SMK N 1

Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kelekatan dengan teman sebaya dengan kecenderungan anak menjadi pelaku dan

IMPLEMENTASI KONSELOR SEBAYA TEMAN SEHATI PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI P4K IAIN PURWOKERTO SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto untuk Memenuhi Salah Satu

Hubungan Kelekatan dengan Teman Sebaya dan Kecerdasan Emosi pada Remaja yang Tinggal di Panti Asuhan.. Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, Vol 2, No