• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. saja informasi di media massa. Tidak hanya mengakses, masyarakatpun dengan mudah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. saja informasi di media massa. Tidak hanya mengakses, masyarakatpun dengan mudah"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Kemajuan teknologi informasi membuat masyarakat mudah mengakses kapan saja informasi di media massa. Tidak hanya mengakses, masyarakatpun dengan mudah membagikan informasi melalui media sosial. Kemajuan teknologi ini sejalan dengan lahirnya banyak media massa, terutama media online. Bermodalkan website berita sebuah perusahaan media bisa terbentuk. Di Indonesia sendiri kebebasan pers mulai lahir sejak berakhirnya orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto. Sejak jatuhnya era Soeharto, dunia pers mulai menghirup udara bebas, yang sebelumnya mengalami tekanan dari rezim soeharto kala itu. Era reformasi perusahaan tumbuh pesat mulai dari media cetak hingga media elektronik saat ini. Syarat adanya PT (Perseroan terbatas) bagi sebuah perusahaan media menuntut perusahaan itu memiliki system manajemen yang profesional.

Dalam sebuah perusahaan media, wartawan memiliki peran besar dalam menyampaikan informassi kepada publik. Peran seorang wartawan dalam sebuah media sangat menentukan kualitas berita bagi media tersebut. Wartawan sebagai ujung tombak sebuah media memiliki kemampuan merangkai kata menjadi kalimat yang mampu merekontrokusi peristiwa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Informasi yang disampaikan oleh seorang wartawan ini bisa mengubah cara pandang atau pola

(2)

2

pikir masyarakat, informasi dari wartawan ini juga bisa mempengaruhi sosial politik dalam pemerintahan.

Bahkan Kaisar Prancir Napoleon Bonaparte pernah berucap “aku lebih takut pada pena seorang wartawan daripada seribu bedil serdadu musuh”.1 Napoleon Bonaparte sebagai ahli siasat perang lebih takut pada surat kabar daripada ratusan ribu bayonet.

Hal tersebut menggambarkan betapa media punya pengaruh besar dalam kehidupan sosial bernegara. Sebagai ujung tombak media, wartawan memiliki peranan penting dalam penyajian berita bagi sebuah kantor berita. Dalam prakteknya tugas wartawan tidak hanya sebagai penyaji berita, seperti berita kriminal, politik, sosial, ataupun pendidikan, tapi wartawan juga bertugas memberikan hiburan kepada masyarakat. Hal tersebut sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers pada Bab II Pasal 3 ayat 1, yang berbunyi, Pers nasional mempunyai fungsi sebgai media iznformasi, pendidikan, hiburan, dan control sosial.2 Untuk menghasilkan berita yang berkualitas berbagai upaya dilakukan seorang wartawan untuk mendapatkan narasumber utama. Bahkan sebisa mungkin seorang wartawan tidak menyajikan informasi yang berasal dari narasumber sekunder, menyajikan informasi dari narasumber sekunder jika tidak bisa melakukan wawancara langsung dengan narasumber yang diperintahkan oleh kantor. Istilah pemburu berita atau news hunter menjadi sematan bagi para wartawan yang ada dilapangan, hal

1 Mohamad Fhadila Zein. (2013). Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam. Pustaka Al-kautsar.

Hal V

2 Buku Saku, (2019) wartawan. Dewan Pers. Jakarta. Hal 276

(3)

3

tersebut tidak lain demi mendapatkan berita yang faktual. Menjadi pemburu berita sudah menjadi keharusan bagi seorang wartawan, pantang bagi wartawan apalagi media arus utama hanya menunggu informasi dari humas sebuah instansi, karena informasi yang diberikan oleh humas pada wartawan merupakan informasi sekunder yang akan mengasilkan berita normatif dan kering. Berita harus diburu juga disampaikan oleh wartawan senior yang kini menjadi host Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One Karni Ilyas. Menurut Karni Ilyas setiap berita harus diburu untuk mendapatkanya. Pantang bagi wartawan mengeluh atau beralasan jaraknya yang jauh, hujan, atau sulit untuk ketemu dengan narasumbernya. Seorang reporter wajib ketemu narasumber yang ditugaskan kepadanya. Reporter hanya boleh pulang, kalau narasumber menolak memberikan informasi atau mengusir wartawan Karni.3 Bagi pemburu berita perjalan ratusan kilo meter tiap hari menjadi hal biasa, hal ini banyak dialami oleh para wartawan, bahkan lupa makan karena fokus pada tugas mereka.

Lebih ekstrime lagi demi berburu berita taruhan nyawa menjadi resiko pekerjaan seorang wartawan. Demi layar kaca televisi, halaman koran, halaman portal online, dan siaran radio, seorang wartawan rela bertaruh nyawa dalam meliput kasus-kasus seperti tawuran, kejadian bom, kebakaran, demo anarkis dan beragam kasus lain. Umumnya hal-hal tersebut dilakukan oleh wartawan yang bekerja disebuah media arus utama atau dikenal juga dengan sebutan media mainstream.

3 Karni Ilyas (2012) 40 tahun jadi wartwan karni ilyas lahir untuk berita. Gramedia Jakarta. Hal XV

(4)

4

Dibalik sederet kisah perjuangan para jurnalis diatas, yang tidak kalah pentingnya adalah terkait profesionalisme wartawan dalam meliput sebuah peristiwa khusunya peristiwa agama. Seperti diketahui akhir-akhir ini berita terkait isu agama sangatlah banyak, misalnya saja berita terkait penistaan agama pada tahun 2016, berita ini hingga menjadi berita dengan aksi unjuk rassa dengan berjilid-jilid mulai dengan nama demo 212 pada Desember 2016 hingga berlanjut dengan jilid-jilid berikutnya hingga menjadi kegiatan reunian. berita demo ini hampir terjadi di seluruh Indonesia.

Namun berita peristiwa-peristiwa terkait agama terjadi hampir setiap tahun bahkan setiap bulan, misalnya saja berita terkait haji, tentunya berita ini terjadi hampir setiap tahunnya, terkait dengan salat Jumat di masa pandemi. berita-berita seperti ini tidak luput dari perhatian para wartawan televisi khususnya wartawan televisi di TVRI Jawa Barat.

Tentunya berita terkait peristiwa agama tidak jauh berbeda dengan berita-berita peristiwa lainnya. Meski demikian berita terkait peristiwa agama dan berita umum akan memiliki perbedaan khusus, sehingga meliput berita peristiwa umum dan peristiwa agama memerlukan pengetahuan khsusus. Profesionalisme wartawan dalam meliput peristiwa agama ini sangat diperlukan, sebab dalam peristiwa agama memiliki istilah- istilah yang tidak umum dan itu membutuhkan pengetahuan khusus guna memberikan pemahaman yang utuh kepada publik.

Profesionalisme seorang wartawan tentunya sudah diatur dalam kode etik wartawan itu sendiri oleh dewan pers. Dalam kode etik wartawan atau kode etik jurnalis

(5)

5

Wartawan Indonesia diharuskan bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Wartawan Indonesia menempuh cara- cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul. Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

Beberapa bagian kode etik jurnalis di atas harus dimiliki oleh seorang wartawan dalam melakukan peliputan terlebih melakukan peliputan agama. Bagi seorang wartawan televisi, aturan peliputan juga diatur oleh Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dalam kode etik yang diatur IJTI wartawan Televisi harus memiliki sikap berikut: pertama, Jurnalis Televisi Indonesia adalah pribadi mandiri dan bebas dari benturan kepentingan, baik yang nyata maupun terselubung. Kedua, Jurnalis Televisi Indonesia menyajikan berita secara akurat, jujur dan berimbang, dengan mempertimbangkan hati nurani. Ketiga, Jurnalis Televisi Indonesia tidak menerima suap dan menyalahgunakan profesinya.

Untuk mencapai hal itu sudah tentu wartawan baru memiliki kedewasaan pandang dan kematangan pikiran. Ini berati bahwa wartawan itu harus memiliki landasan unsur-unsur yang sehat tentang etika rasa tanggung jawab atas perkembangan budaya masyarakat dimana warwatawan itu bekerja. Landasan unsur-unsur yang sehat ini tidak hanya terdapat dalam norma-norma yang tercantum dalam kode etik saja,

(6)

6

tetapi juga terdapat dalam norma-norma teknis profesi wartawan itu sendiri. Misalnya, dalam mempertimbangkan layak tidaknya suatu berita untuk dimuat terdapat persyaratan harus dipenuhinya unsur-unsur layak berita yang selalu harus diperhatikan oleh setiap wartawan profesional. Salah satunya adalah unsur bahwa berita harus adil dan berimbang.

Tentunya untuk memenuhi kriteria kriteria di atas maka sudah selayaknya wartawan memperbaiki kualitas pendidikan guna menunjang profesionalisme seorang wartawan dalam melakukan peliputan khususnya peliputan terkait dengan peristiwa- peristiwa agama. Di stasiun TVRI Jawa Barat sendiri tidak luput dari berita-berita yang berkaitan dengan peristiwa keagamaan yang terjadi di seputar Jawa Barat. Peristiwa- peristiwa keragaman yang terjadi di Jawa Barat ini menjadi tanggung jawab wartawan yang meliput di daerah-daerah yang sudah ditugaskan oleh TVRI Jawa Barat. Tentunya para peliput atau para wartawan ini memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda- beda, sementara untuk meliput peristiwa agama tentunya memerlukan pengetahuan yang beda dengan meliput peristiwa peristiwa umum, sebab ada istilah-istilah khusus dalam peliputan peristiwa agama tersebut, misalnya saja dalam meliput peristiwa haji.

Berangkat dari hal tersebut maka sangat menarik untuk diteliti terkait “Profesionalisme Waratawan Agama di TVRI Jawa Barat”. Sebab karya wartawan inilah nantinya akan membentuk pola pikIr masyarakat umum.

(7)

7 1.2 Fokus Penelitian

Berdasarkan pemaparan pada latar belakang maka meneliti “Profesionalisme Waratawan Agama di TVRI Jawa Barat” sangat menarik, karena prilaku wartawan sangat unik, selain unik didalamnya mengandung aspek dakwah dan komunikasi.

Profesionalisme wartawan dalam meliput persoalan keagamaan akan memberi dampak besar pada masyarakat. Dampak tersebut bisa berupa dampak positif dan juga dampak negatif apabila tidak informasi yang disampaiakn tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya. Sehingga profesionalisme wartawan sangat dibutuhkan dalam mengawal setiap informasi yang akan di muat dalam satu media. Untuk memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian maka akan difokuskan pada beberapa poin berikut;

1) Pemahaman kode etik jurnalis pada pasal 1 dan 2 2) Pemahaman liputan Cover Both Side

3) Pemahaman istilah-istilan agama Islam dalam peristiwa-perisitiwa besar islam

1.3 Tujuan Dan kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian ini berkaitan dengan fokus penelitian yang sudah ditulis di diatas, maka tujuan penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut.

1) Untuk mengetahui pemahaman wartawan TVRI terkait dengan kode etik jurnalis yang di keluarkan dewan pers pada pasal 1 dan pasal 2.

(8)

8

2) Untuk mengetahui pemahaman wartawan TVRI Jawa Barat terkait dengan pembuatan berita dengan melakukan cover both side.

3) Untuk mengetahui sejauh mana wartawan TVRI Jabar memahami istilah-istilah agama islam dalam perayaan hari-hari besar Islam.

Tentunya penelitian diharapkan dapat berguna didunia akdemisi dan dunia dakwah baik secara teoritis ataupun kegunaan dalam aspek praktis. Berikut kegunaan dalam aspek teoritis maupun secara praktis.

Kegunaan penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Dari aspek teori, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam mengembangkan teori-teori komunikasi khusunya komunikasi dakwah maupun dalam mengembangkan Ilmu Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Dari aspek praktis hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mengembangkan dakwah dan komunikasi dikalangan wartawan dan juga para mahasiswa komunikasi baik yang akan terjun di dunia kewartawanan maupun bagi yang sedang menempuh pendidikan di kampus.

1.3.2 Kegunaan Penelitian

Dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi peningkatkan profesionalisme wartawan agama di kalangan wartawan khususnya wartawan TVRI maupun para calon wartwan dan calon lulusan ilmu komunikasi. Mehami

(9)

9

profesionalisme bagi jurnalis sangatlah penting, dan memahami istilah agama dalam Islam merupakan modal untuk menuju profesionalisme bagi seorang wartawan agama maupun calon jurnalis agama baik dimedia cetak, media elektronik, seperti televise, radio dan juga online yang saat ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.

1.4 Landasan Pemikiran 1.4.1 Penelitian Relevan

Berdasarkan hasil tinjauan pustaka penelitian ini memiliki keterkaitan atau relevansi dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya. Dalam penelitian ini mendapat relevansi pendukung serta pembanding yang memadai. Hal ini bertujuan untuk memperkuat kajian pustaka berupa penelitian jenis yang sebelumnya telah diteliti. Penelitian sebelumnya yang hampir sama diantaranya;

Pertama, penelitian dilakukan oleh Fitrianto dalam bentuk skripsi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau tahun 2021 yang berjudul Profesionalisme Wartawan Peliputan Berita Di TVRI Riau Kepri. Dalam penelitian ini peneliti fitrianto mengupas profesionalisme wartawan TVRI Riau dengan menggunakan metode kuliatatif dengan paradigma interpretatif sehingga bisa menyimpulkan bahwa wartawan TVRI Riau dapat dikatakan profesional karna telah memenuhi beberapa kriteria seperti mengikuti pendidkan dan pelatihan selama 1 tahun, selalu berpenampilan baik, disiplin waktu saat bekerja. Penelitian ini ada keterkaitan

(10)

10

antara penelitian sebelumnya dengan penelitian yang dilakukan dalam penulisan tesis ini. Kesamaan terdekat terletak pada sama-sama meneliti profesionalisme wartawan dalam peliputan berita di TVRI. Namun ada beberapa hal yang membedakan yang pertama penelitian sebelumnya hanya penelitian terkait profesionalisme wartawan sementara penelitian dalam tesis ini meneliti profesionalisme wartawan agama di TVRI. Perbedaan kedua terletak pada lokasi penelitian, peneliti pertama melakukan penelitian di TVRI Riau kepulauan Riau, penelitian dalam tesis ini melakukan penelitian di TVRI Jawa Barat.

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Indrawati, skripsi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, berjudul Analisis Profesionalisme Jurnalis TV One Biro Makassar. Dalam penelitian ini bagaimana Indrawati mengupas profesionalisme wartawan TV One Biro Makasar dengan menggunakan metode kulitatif dengan paradigm deskriptif. Hingga menemukan hasil bahwa Profesionalisme Jurnalis Tvone Biro Makassar dapat dilihat dari tiga kompetensi yakni kesadaran etika dan hukum yang dibuktikan dengan adanya code of conduct tersendiri yang dibuat oleh TV One Makassar selain code of conduct TV One pusat, kode etik jurnalistik, UU Pers No 40 Tahun 1999, dan UU Penyiaran No 32 Tahun 2002. Kesamaan antara skripsi sebelumnya yang ditulis oleh Indrawati dengan penulisan tesis ini sama-sama meneliti tentang profesionalisme wartawan atau jurnalis. Namun yang membedakan antara peneleitian skripsi sebelumnya dengan penelitian tesis ini, pertama penelitian sebelumnya dilakukan pada jurnalis TV One, sementara tesis ini melakukan penelitian

(11)

11

pada wartawan TVRI Jawa Barat. Yang kedua yang membedakan adalah perbedaan tempat Sebelum melakukan penelitian di Makassar sementara penelitian dalam tesis ini melakukan penelitian di di Jawa Barat. Selain itu kesaamaan lain sama-sama melakukan penelitian pada media nasioal pada biro atau kantor perwakilan didaerh tersebut.

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Arif risdiansyah, skripsi universitas Muhammadiyah Sumatera Utara atau UMSU berjudul Profesionalisme Wartawan Dalam Meliput Berita Hard News Di TV MU (TV Muhamadiyah) Biro Medan. Dalam penelitian ini bagaimana Arif Risdiyansyah mengupas profesionalisme wartwan TV Muhamadiyah dalam melakukan bliputan hard news dengan Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif, hingga menemukan sebuah hasil bahwa wartawan yang professional harus berpendidikan Strata 1 (S1), mengikuti Uji Kompetensi Jurnalistik Televisi (UKJT), tidak boleh mengambil hak cipta seseorang, dan tidak boleh menerima (suap) demi kepentingan pribadi. Penelitian ini Arif risdiansyah pelaku peneliti mencoba mengetahui bagaimana profesionalisme wartawan televisi Muhammadiyah dalam meliput berita. Persamaan penelitian sebelumnya dengan penelitian dalam tesis ini. Dimana kedua penelitian ini sama-sama ingin mengetahui sejauh mana profesionalisme wartawan televisi Muhammadiyah dan TVRI dalam melakukan proses peliputan. Terdapat banyak perbedaan yang pertama penelitian sebelumnya hanya melakukan penelitian profesionalisme wartawan, penelitian dalam tesis ini peneliti profesionalisme wartawan agama di TVRI Jawa Barat, perbedaan kedua penelitian sebelumnya

(12)

12

melakukan penelitian pada wartawan televisi Muhammadiyah di Medan, penelitian dalam tesis ini melakukan penelitian pada wartawan agama TVRI Jawa Barat selain objek penelitiannya yang membedakan juga adalah lokasi penelitiannya.

Keempat, dalam skripsi yang ditulis oleh Ari Deri Rapita 2018, dalam skripsinya dengan judul Penerapan Kode Etik Jurnalis dalam proses pembautan berita TVRI di Lampung membahas penerapan kode etik jurnalis dalam membuat berita di TVRI Lampung, penelitian tersebut mengupas bagaimana wartwan TVRI di Lampung menerapkan kode etik jurnalis dalam melakukan peliputan berita. Namun dalam penelitian itu membahas semua jenis berita yang dimuat dilayar kaca TVRI Lampung.

Sehingga berangkat dari karya ilmia tersebut peneliti merasa tertarik dan menarik untuk meliput profesionalisme wartawan agama di lingkungan wartwan TVRI Jawa Barat.

Dengan adanya penelitian ini peneliti berharap dapat mengetahui sejauh mana pemahaman agama wartawan agama di TVRI sehingga wartawan yang bertugas meliput peristiwa agama tersebut bisa profesional dalam dalam melakukan peliputan pada peristiwa agama yang terjadi di wilayah Jawa Barat.

Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Puri Retno Mutia dalam Jurna; yang diteliti pada tahun 2018 dari universitas Riau dengan judul Profesionalisme Wartawan Goriau.Com Dalam Peliputan Berita Media Online. Pada penelitia ini bagamana Puri Retno Mutia mengupas profesionalisme wartawan media online Goriau.Com di riau dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Ada kesamaan dengan penelitian yang dilakukan retno dan penelitian yang dikupas dalam penelitian skripsi ini dimana

(13)

13

sama-sama mengangkat objek penelitian profesionalisme wartawan dalam melakukan proses peliputan berita. Namun ada yang mebedakan antara penelitian yang dilakukan oleh Puri Retno Mutia dengan penelitian ini dimana penelitian sebelumnya mengangkat prifesionalisme wartawan media online sedangkan dalam penelitian menggunakan objek wartawan televisi. Selain perbedaan lain jika penelitian sebelumnya melakukan penelitian di daerah Riau sedangan penelitian dalam tesis dilakukan di jawa barat pada wartawan TVRI Jawa Barat.

(14)

14

NO Nama / Judul Metodologi Tujuan Penelitian Hasil Penelitian Kesamaan Perbedaan

1 Fitrianto/

profesionalisme wartawan peliputan berita di TVRI Riau Kepri.

Penelitian ini menggunakan metode kuliatatif dengan paradigma interpretatif.

Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui profesionalisme wartawan TVRI Riau-Kepri dalam peliputan berita.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan wartawan TVRI Riau dapat dikatakan

profesional karna telah memenuhi beberapa kriteria seperti mengikuti pendidkan dan pelatihan selama 1 tahun, selalu bepenampilan baik, disiplin waktu saat bekerja.

Sama-sama menggunakan subjek

profesionalisme wartawan TVRI

Objek yang digunakan adalah wartawan TVRI Riau. Dan lokasinyapun di Riau.

2 Indrawati/ Analisis profesionalisme jurnalis TV One biro Makassar.

Metode penilitian ini menggunakan metode kulitatif dengan paradigma deskriptif.

Untuk mengetahui struktural TV One dalam bekerja secara

professional dan Untuk mengetahui pola kerja

profesional jurnalis TV One Biro Makassar.

Profesionalisme jurnalis TV One Biro Makassar dapat dilihat dari tiga kompetensi yakni kesadaran etika dan hukum yang dibuktikan dengan adanya code of conduct tersendiri yang dibuat oleh TV One Makassar selain code of conduct TV One pusat, kode etik jurnalistik, UU Pers No 40 Tahun 1999,

Sama-sama menggunakan subjek

profesionalisme pada waratan telvisi.

Indrawati melakukan analisis

profesionalisme wartawan TV One.

(15)

15

dan UU Penyiaran No 32 Tahun 2002.

3 Arif risdiansyah/

profesionalisme wartawan dalam meliput berita hard news di TV MU (TVMuhamadiyah) Biro Medan

Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan

menggunakan metode deskriptif

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana professional wartawan dalam meliput berita.

Kesimpulan dari penelitian, yaitu dari Ketua IJTI , Ketua IJTI Mengatakan wartawan yang professional harus berpendidikan Strata 1 (S1), mengikuti uji kompetensi jurnalistik televise (UKJT), tidak boleh mengambil hak cipta seseorang, dan tidak boleh menerima (suap) demi kepentingan pribadi.

Sama-sama menggunakan subjek

profesionalisme pada waratan telvisi.

Arif risdiansyah meneliti

profesionalsime wartawan televise dengan objek TV MU

(16)

16 4 ARI Deri/

Penerapan Kode Etik Jurnalistik Dalam Proses Pembuatan Berita Di Tvri Lampung

Penelitian ini menggunakan peneliltian dengan metode kulitatif.

Untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan berita di TVRI

Lampung, Untuk mengetahui bagaimana penerapan kode etik jurnalistik digunakan dalam proses pembuatan berita di TVRI Lampung.

berdasarkan data dan teori yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwasanya kode etik jurnalistik dalam proses pembuatan berita di TVRI Lampung sudah

diterapkan walaupn terdapat beberapa

pelanggaran ringan dalam prosesnya tetapi TVRI Tidak pernah mendapakan teguran dari KPI D dan perbedaan yang terjadi antara proses pembuatan berita di TVRI Lampung.

Sama-sama menggunakan subjek

profesionalisme pada waratan telvisi TVRI,

ARI Deri melakukan penelitianya dengan objek TVRI

Lmpung.

(17)

17 5. Puri Retno Mutia/

Profesionalisme Wartawan

Goriau.Com Dalam Peliputan Berita Media Online

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif.

Profesionalisme wartawan GoRiau.com dalam peliputan berita disini dilihat dari bagaimana

seorang wartawan memahami dan mentaati Kode Etik Jurnalistik.

Selain itu wartawan harus selalu

memperhatikan keakuratan berita, serta hanya

menginformasikan yang benar dan faktual.

Berdasarkan hasil penelitian, tidak semua wartawan GoRiau.com profesional dalam peliputan berita media online. Sebagian wartawan GoRiau.com terlihat profesional dalam

menjalankan tugasnya dan menempuh cara yang profesional. Mereka menerapkan point-point penafsiran pada kode etik jurnalistik pasal 2 tersebut dengan baik. Beberapa wartawan senantiasa menunjukkan identitasnya kepada narasumber sebelum melakukan wawancara. Dalam penulisan berita hasil liputannya, wartawan jelas menghormati hak privasi, memuat foto jurnalistik sesuai etika jurnalistik, serta menghasilkan berita yang factual.

Sama-sama menggunakan subjek

profesionalisme pada proses peliputan.

Puri Retno Mutia mengangkat profesionalisme wartawan media Goriau.Com Dalam Peliputan Berita Media Online

(18)

18 1.4.2 Landasan Konseptual

Wartawan atau jurnalis merupakan seseorang yang melakukan proses jurnalistik pada sebuah media massa. Hasil liputan seorang wartawan baru bisa dikatakan sebuah karya jurnalistik jika sudah ditayangkan atau dimuat pada media massa tempat wartawan tersebut bekerja. Dalam prakteknya wartawan terbagi beberapa kategori, wartwan media elektronik, seperti wartawan media televisi, radio, dan media online, dan juga media cetak, seperti Koran, tabloid, dan majalah. Pada dasarnya, wartawan terbagi dalam dua klasifikasi, yakni wartawan media cetak dan wartawan media elektronik. Namun, dalam perkembangannya sekarang ini, berlaku pula sebutan yang lebih spesifik. Wartawan koran, yakni wartawan yang secara khusus hanya bekerja untuk koran atau surat kabar. Misalnya wartawan Kompas, wartawan foto yang ada di Indonesia, wartawan rakyat merdeka, 2 tahun pikiran rakyat dan wartawan Republika. Kemudian ada juga wartawan tabloid atau majalah, mereka yang bekerja di majalah entah majalah berita, hiburan, wanita, atau keluarga juga mendapat sebutan khusus yakni wartawan majalah misalnya wartawan majalah Tempo, wartawan majalah Gatra, dan majalah, Femina. Ataupun wartawan yang bekerja pada radio maupun televisi.4

Pada diri seorang wartawan tersemat kalimat wartwan professional. Professional sendiri mengandung tiga makna, pertama professional adalah kebalikan dari amatir,

4Zaenudin HM. (2019). The Journalist. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Hal 31

(19)

19

kedua, wartawan dituntut melakukan pelatiha khusu, dan ketiga, norma-norma yang mengatur prilakunya dititk beratkan pada kepentingan khalayak pembaaca. 5

Wartawan professional yang kebalikan dari amatir merupakan wartawan yang sudah memiliki jam terbang sudah sejak lama, wartawan seperti ini biasanya sudah banyak menghasilkan karya-karya jurnalistik, biasanya wartwan seperti ini juga disebut sebagai wartwan senior. Wartawan dikatakan professional jika wartwan tersebut sudah menempuh pelatihan-pelatihan jurnalistik. Dalam dunia wartawan dikenal dengan uji kompetensi wartawan, wartawan tersebut nantinya akan mendapatkan kartu uji kompetensi dari Dewan Pers. Sementara wartawan professional ditinjau dari prilaku prilaku individu wartawan berate wartwan tersebut dituntut memahami aturan-aturan yang mengikat profesi tersebut, demi menyajikaan karya yang mencerdaskan khalayak. Profesional dalam pemberitaan ditunjukkan dengan kaidah-kaidah atau adab-adab yang harus diikuti wartawan dalam pemberitaan mereka di bidang hukum. Kaidah-kaidah ini tercantum dalam kode etik jurnalistik. Oleh karena itu wartawan sebagai profesional dalam menjalankan tugasnya oleh kode etik. Ini sama halnya dengan profesi dokter mata cara atau akuntan yang senantiasa berpegang pada kode etik mereka dalam melaksanakan pekerjaannya. Waktu Indonesia saat ini kode etik yang dikenal adalah kode etik jurnalistik yang dikeluarkan oleh dewan pers.6

5 Hikmat Kusumaningrat, Purnama Kusumaningrat. (2014). Jurrnalistik Teori Dan Praktik. Bandung.

PT Remaja Rosdakarya. Hal 115

6 Hikmat Kusumaningrat, Purnama Kusumaningrat. (2014). Jurrnalistik Teori Dan Praktik. Bandung.

PT Remaja Rosdakarya117

(20)

20

Penelitian ini membahas profesionalisme wartawan dari sisi hasil karya jurnistiknya. Dalam membuat berita tentu banyak kaidah-kaidah jurnalitik yang harus ditempuh oleh wartawan sehingga ia dikatakan sebagai wartawan yang professional, baik dari aturan yang telah ditetapkan oleh dewan pers yang tercantum dalam undang- undang pers no 40 tahun 1999 dan juga kode etik jurnalistik yang telah dijeaskan dalam kode etik jurnalistik. Dalam melakukan tugasnya seorang wartawan baru dikatakan professional jika mampu menerapkan hal-hal yang telah diatur oleh kode etik dan kaidah-kaidah jurnalistk dalam melakukan tugas liputannya.

1.4.3 Kode Etik Jurnalitik Pasal 1 dan 2

Perkembangan peradaban tidak hanya membawa perubahan pada kemajuan teknologi namun juga membuat manusia semakin organis dalam profesi yang semakin fariatif. Keragaman profesi tersebut mendorong manusia membentuk asosia profesi, sehingga lahirlah berbagai macam organisisasi profesi, mulai dari guru, dokter, hingga buruh, tidak tercuali profesi wartawan. Keberadaan asosiasi ini tidak hanya sebagai tempat perkumpulan satu profesi namun juga sebagai tempat berlindung dan menjaga profesi tersebut agar tidak melenceng. Keberadaan asosiasi profesi ini dengan perangkat “mekanisme bawaan berupa kode etik profesi sebagai instrument sosial kontrol dan perlindungan bagi keluhuran martabat profesi yang disisi lain melindungi masyarakat dari bentuk penyimpangan dan penyalahgunaan keahlian profesi itu.

Masing-masing profesi memiliki kode etik masing-masing yang berguna menjaga perofesi itu agar tetap berjalan pada koridornya, selain itu kode etik ini juga untuk

(21)

21

menentukan langka organisasi profesi tersebut agar para anggotanya tetap berjalan sesuai dengan kode etik yang telah ditentukan. Kode etik ini juga dapat membuat keteraturan pada anggota organisasi profesi tersebut sehingga apabila dalam keanggotaan organisasi profesi melanggar kode etik bisa menjadi instrument untuk pimpinan organisasi memberikan sangsi sesuai kode etik yang telah disepakati atau yang sudah dibuat tersebut.

Etika sendiri merupakan refleksi kritis bagaimana manusia harus bertindak dalam situasi nyata, etika selalu berpatokan pada baik buruknya tindakan seseorang.

Kode etik profesi lahir dari dalam lembaga atau organisasi profesi itu sendiri yang kemudian mengikat secara moral bagi seluruh anggota yang tergabung dalam organisasi profesi yang satu dengan organisasi lainnya memiliki rumusan kode etik profesi yang berbeda-beda, baik unsur normanya maupun ruang lingkup dan wilayah berlakunya7.

Kode etik profesi lahir atas pemikiran dan prilaku yang sama dalam profesi yang sama, guna menentukan garis daripada pola kerja profesi tersebut. Kode etik sebuah profesi ini bisa saja berubah jika perkembangan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan tak lagi sesuai dengan kode etik yang telah disepakati. Tujuan dari Kode Etik Profesi, antara lain; pertama, Menjunjung tinggi martabat profesi ke-dua, menjaga

7 Yanius Rajalahu (2013). Penyelesaian Pelanggaran Kode Etik Profesi Oleh Kepolisian Republik Indonesia. Dalam Jurnal Universitas Sam Ratulangi.

(22)

22

dan memelihara kesejahteraan anggota ke-tiga, meningkatkan pengabdian para anggota profesi ke-empat, meningkatkan mutu profesi. Ke-lima, meningkatkan mutu organisasi profesi. Ke-enam, meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi. Ke-tujuh mempunyai anggota professional yang kuat dan terjalin erat. Kedelapan, menentukan baku standarnya sendiri.

Kode etik wartawan atau jurnalis telah diatur oleh dewan pers seperti yang dimuat dalam buku saku yang dikeluarkan oleh Dewan Pers. dalam penelitian membahas kode etik jurnalis pada pasal satu dan pasal dua. Pasal satu dalam kode etik jurnalistik membahas bahwa wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buru. Dalam penafsiran pasal satu tersebut pertama, independen berati memberitakan peristiwa atau fakwa seuai dengan hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers. Kedua, akurat berate dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi. Ketiga, berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara. Tidak beritikad buruk berate tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pada pasal 2 dalam kode etik jurnalitik menjelaskan bahwa wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. dalam penafsiran pasal tersebut, cara-cara yang profesional adalah; pertama menujukan identitas diri kepada narasumber, ke-dua, menghirmati hak privasi, ke-tiga, tidak menyuap, ke-empat, menghasilkan berita yang factual dan jelas sumbernya, ke-lima,

(23)

23

rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilrengkapi dengan keterangan tentang sumber yang ditampilkan secara berimbang, keenam, menghormati pengalaman traumatic narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara.

Ke-tuju, tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri. Ke-delapan, penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk meliput berita investigasi bagi kepentingan publik.8 Kode etik tersebut dijalankan oleh wartawan saat melakukan proses peliputan berita untuk mencapai seorang wartawan yang professional.

Meskipun kode tersebut dalam beberapa literasi disebutkan bahwa harus dijalankan saat melakukan proses peliputan berita agar mencapai kategori wartawan profesional, namun pada kenyataannya profesi wartawan adalah sebuah profesi yang melekat pada diri seseorang wartawan tersebut. Sebutan wartawan akan melekat pada diri seseorang meskipun dia sedang tidak melakukan proses peliputan berita, di kalangan masyarakat wartawan tetaplah wartawan meskipun dia sedang bersama keluarga, sedang jalan-jalan, sedang berwisata, ataupun sedang melakukan aktivitas sosial lainnya yang tidak berkaitan dengan kegiatan proses jurnalistik namun, sebutan wartawan tersebut akan tetap melekat pada diri seseorang yang memiliki profesi tersebut. Artinya ketika profesi wartawan tersebut melekat pada diri pelakunya dimanapun dia berada maka akan sepakat dengan kode etik profesi yang di bawahnya,

8Dewan Pers, (2019). Buku Saku Wartawan. Dewan Pers. Hal 36

(24)

24

misalnya saya harus berperilaku sopan santun dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan sosial.

1.4.4 Liputan Cover Both Side

Dalam dunia jurnalistik cover both side sering kita jumpai atau sering kita dengar. Secara sederhana coverbothside berarti pemberitaan yang berimbang, biasanya wartawan akan mewawancarai dua belah pihak objek yang diliputnya. cover both side dalam pemberitaan juga telah diatur dalam kode etik jurnalistik, misalnya saja pada pasal 3 kode etik jurnalistik yang dikeluarkan oleh dewan pers, dalam pasal 3 tersebut dijelaskan bahwa wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Pasal tersebut ditafsirkan dalam beberapa point, pertama, menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu. Ke-dua, berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemerintahan kepada masing-masing pihak secara proporsional. Ke-tiga, opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan hal ini berbeda dengan opini interpretatif yaitu pendapat berupa interpretasi wartawan atas fakta. Ke-empat asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang. Seorang wartawan profesional akan memperhatikan aturan- aturan seperti liputan dengan menggunakan cover both side diatas agar menghasilkan liputan yang baik. Namun dalam prakteknya penerapan cover both side menjadi sebuah keharusan yang akan dilakukan oleh seorang wartawan ketika melakukan peliputan.

(25)

25

Dalam jurnal komparasi kebenaran, keseimbangan, dan netralitas dalam pemberitaan, studi konten analisis terkait pemberitaan pemilu presiden 2014 di harian Kompas dan koran Sindo Jelaskan bahwa makna cover both side adalah peliputan dari banyak sisi yaitu dengan mewawancarai beberapa narasumber. Sementara lawan dari coverbothside adalah berita one side satu berita yang hanya mengangkat pada satu sisi narasumber.9

1.4.5 Istilah-istilah Islam Dalam Peristiwa Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam, karena bulan ini memiliki keistimewaan. Tidak hanya oleh umat Islam pada umumnya, peristiwa bulan Ramadan juga merupakan bulan yang sangat spesial bagi para awak media atau wartawan, karena di bulan ini ada beberapa peristiwa yang kerap menjadi sasaran bagi wartawan untuk melakukan liputan.

Bagi umat Islam bulan Ramadan merupakan bulan yang yang sangat istimewa karena memiliki keutamaan yang tidak bisa didapatkan pada bulan-bulan lain, hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam sabdanya;

9 Emmy Poentarie, (2015). Komparasi Kebenaran, Relevansi, Keseimbangan Dan Netralitas Dalam Pemberitaan. Dalam Jurnal Peneliti Komunikasi dan Media pada Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika, Yogyakarta : Kominfo

(26)

26

حتف ناضمر ءاج اذإ لاق ملسو هيلع الله ىلص الله لوش هنع الله يضر يره يبأ نع رلاا باوبأ تقل هنجلاباوبأ

نيطايشلا تدصو

Artinya; diriwayatkan oleh Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah bersabda: "apabila bulan Ramadan tiba, maka pintu-pintu surga akan dibuka dan pintu-pintu neraka akan ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu." (HR.Muslim).10

Ada beberapa istilah dalam bulan Ramadhan yang sering menjadi sorotan penting bagi wartawan untuk diliput, diantaranya; Shaum, imsak, iftar, takjil, tarawih, iktikaf, tadarus, qiyamul lail, Nuzulul Quran, lailatul qadar, zakat, fidyah. Shaum adalah istilah lain dari berpuasa, imsak adalah waktu dimulainya menahan diri dari hal- hal yang membatalkan puasa, iftar adalah istilah lain dari waktu berbuka puasa, takjil adalah makanan untuk berbuka puasa, dalam istilah lain juga diartikan sebagai gerakan berbuka puasa, tarawih merupakan salat sunnah malam di bulan Ramadan dikerjakan setelah salat isya. Itikaf artinya berdiam diri di masjid untuk berdoa mendekatkan diri kepada Allah. Tadarus artinya membaca al-quran secara bersama-sama. Jam mulai adalah melaksanakan ibadah sunah malam (termasuk salat sunah membaca Alquran dan berdzikir). Nuzulul Quran adalah peristiwa turunnya Alquran pertama kali kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa sallam biasanya diperingati pada hari ke 17 Ramadhan. Lailatul Qadar adalah malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadan, turunnya wahyu Allah subhanahu wa ta'ala yang sering disebut malam yang lebih baik

10 Imam Al-Mundziri, (2017). Ringkasan Sahih Muslim. Bandung : Penerbit Jabal. Hal 230

(27)

27

daripada seribu bulan. Zakat ibadah wajib dengan mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki untuk orang-orang yang membutuhkan. fidyah artinya membayar denda bagi yang meninggalkan puasa akibat sakit atau lanjut usia11.

11Ainal Zahra, (2021). Mengenal Fidyah: Tata Cara Dan Siapa Yang Wajib Membayarnya. Diakses 20 juni 2021. Dari https://www.idntimes.com/business/economy/ainal-zahra-1/cara-membayar- fidyah/2

Referensi

Dokumen terkait

SRT akan mencakup enam fungsi kerja sebagai berikut: (i) penyebaran informasi terkait program yang ada, dan terutama pada program jaminan sosial yang baru saja diluncurkan,

Tim penjaringan dan penyaringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, melaksanakan tugas terhitung sejak tanggal ditetapkannya Keputusan Kepala Desa tentang Pembentukan Tim

Asas tersebut menekankan bahwa realitas tidaklah objektif akan tetapi terejawantahkan dalam pengalaman badaniah (embodied experience). Pengalaman badaniah itu kemudian

Dengan mengolah informasi dari video yang dikirim melalui whatsapp, peserta didik mampu menuliskan contoh kegiatan sebagai upaya pencegahan langkanya sumber daya alam dalam

Saat ini pemerintah akan menggunakan lima opsi dalam strategi pembiayaan APBN 2020 yaitu: (1) optimalisasi sumber internal pemerintah atau non-utang, (2) penarikan

Tidak semua orang dewasa dapat dikategorikan sebagai pendidik atau guru, karena guru harus memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap calon

Penggunaan utang yang tinggi bila dilihat dari sisi pajak pastikan akan menguntungkan bagi perusahaan karena akan berakibat pada pajak yang harus dibayar oleh

Kapolri Jenderal Pol Drs Sutanto begitu percaya akan kepiawaian Benny Mamoto, sehingga ia dalam kapasitas sebagai pimpinan tertinggi di lingkup Polri meminta kepada Benny Mamoto