• Tidak ada hasil yang ditemukan

SANTRI SEBAGAI REMAJA: KAJIAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SANTRI SEBAGAI REMAJA: KAJIAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

SANTRI SEBAGAI REMAJA:

KAJIAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Abdul Aziz Sebayang [email protected]

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar-Raudlatul Hasanah, Medan

Abstrak

Tulisan ini merupakan studi pustaka terkait keberadaan santri sebagai remaja ditinjau dari sisi psikologi pendidikan. Memahaminya dirasa perlu karena peranannya yang begitu besar terhadap perkembangan Pesantren. Formulasi sajiannya adalah dengan menjelaskan istilah kunci berupa santri dan remaja terlebih dahulu sebelum membahas keberadaan keberadaan santri sebagai remaja. Ditemukan bahwa asrama memegang peranan kunci perkembangan keremajaan santri–untuk tidak juga mengabaikan peran kelas-kelas Pesantren. Di sana, para santri memeroleh pendidikan baik terkait perkembangan kognitif, komunikasi-bahasa dan sosial emosional. Perkembangan-perkembangan mereka tentunya disesuaikan dengan tujuan pendidikan Islam secara mendasar, yaitu akidah, yang itu –meminjam ungkapan Zarkasyi jauh lebih urgent dari dari pelajaran atau pengetahuan yang didapat selama bertahun-tahun hidup di pondok pesantren, karena ia merupakan bekal kelengkapan dalam hidup mereka.

Kata Kunci: Santri, Remaja, Psikologi Pendidikan

A. Pendahuluan

antri, dalam narasi sejarah, merupakan kumpulan pembelajar muda yang memiliki idealisme dan prinsip meneguhkan akidah. Hal ini dapat ditinjau dari latar belakang inisiasi pendirian pesantren itu sendiri. Mukti memaparkan bahwa pada masa Kesultanan Mataram, masyarakat mulai meninggalkan ajaran Walisongo dan beralih kepada ajaran sinkritisme sebagai perpaduan antara ajaran-ajaran Islam dan Hindu. 1 Tohir menyebut bahwa hal itu merupakan dampak dari kekuasaan pihak kerajaan yang melingkupi kerajaan Cirebon, Periangan dan kawasan lainnya di bawah lingkup Mataram sehingga masyarakat dituntut menyesuaikan seluruh tata laksana kerajaan, bahkan jika hal itu tidak sesuai dengan yang dimaksudkan ajaran Islam. 2

Imbasnya pada perkembangan kategorisasi masyarakat yang terbagi kepada tiga golongan; Priyayi sebagai sebutan bagi golongan yang di dalamnya kaum dan kerabat orang- orang keraton. Abangan yaitu mereka yang mendukung ajaran sinkritisme terutama dari para birokrat keraton. Santri yaitu golongan yang mempertahankan ajaran-ajaran Islam

1 Abdul Mukti, “Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam,” Analytica Islamica, 2, 4 (November 2002).h. 23.

2 Ajid thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2004).h.296

S

(2)

14 | Abdul Aziz Sebayang

murni.3 Mereka menolak pengajaran islam-sinkritisme yang dinilai merusak akidah dan mereka ciptakan sebuah lembaga pendidikan berbentuk pesantren untuk memberikan pengajaran pada masyarakat.

Hingga kini, peran santri masih terasa konsisten bahkan menjadikan pesantren semakin berkembang di seluruh daerah di Indonesia maupun di negara Asia tenggara. Di Indonesia sendiri, lembaga itu menjadi solusi bagi para remaja generasi masa depan agar terhindar dari hal yang dapat merusak seperti pergaulan bebas, “menikmati” zat dan aktivitas merusak berbau adiktif yang memengaruhi jiwa dan raga para remaja.

Untuk itu, kegiatan pendidikan memang sangat diperlukan. Terkait dengannya, diperlukan pemahaman jiwa dari remaja itu dengan berbagai potensinya yang dilihat secara cermat dari pengamatan ilmu psikologi pendidikan Islam4 sebagai upaya praktis menggunakan pendekatan bersumber fitrah wahyu atau petunjuk dari Tuhan Maha Pencipta.

Mardianto mendefinisikan konsepsinya sebagai ilmu jiwa yang membahas tingkah laku anak pada proses pendidikan.5 Lebih berorientasi pada hasil pembelajaran, Sudarwan dan Danim kemudian memberi tekanan bahwa psikologi pendidikan adalah ilmu yang memelajari bagaimana manusia belajar dalam tatanan pendidikan yang teratur atau intervensi untuk pembelajaran yang efektif.6 Nata, dalam kajian komprehenship-nya terkait ini memberikan definisi psikologi pendidikan sebagai ilmu yang memelajari gejala dan hakikat jiwa seseorang yang digunakan sebagai landasan untuk membentuk, mengembangkan, memecahkan masalah pendidikan yang didasarkan pada karakteristik dan prinsip–prinsip Islami.7

Dari uraian tersebut di atas, tulisan ini akan mencoba menggambarkan eksistensi santri pondok pesantren dilihat dari ilmu kejiwaannya sebagai remaja. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan formulasi menjelaskan istilah kunci sebelum membahas keberadaan keberadaan santri sebagai remaja.

3 Mukti, “Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam.” h.23

4 Psikologi Pendidikan Islam dari segi kedudukannya memiliki kontroversi pengakuan sebagai sebuah ilmu karena didasari penelitian yang bersifat saitifik, yaitu penelitian empirik dan positivistik yang menggunakan ukuran yang bersifat kuantitatif. Sementara Al-Quran dan Hadis yang digunakan sebagai sumber ilmu tidak diakui sebagai pendekatan saintifik. Selanjutnya, dapat diakui sebagai ilmu, bahkan berasal dari sumber ilmu yaitu wahyu dan intuisi dari Tuhan Semesta Alam, Lihat Abuddin Nata, Psikologi Pendidikan Islam, 1 ed., 1 1 (Depok: PT RajaGrafindoPersada, 2008). h.11-12

5 Mardianto, Psikologi Pendidikan Landasan Bagi Pengembangan Strategi Pembelajaran (Medan: Perdana Publishing, 2014). h. 4

6 Sudarwan dan Khairil Danim, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru, 3 ed. (Bandung: ALFABETA, cv, 2014).h. 7

7 Nata, Psikologi Pendidikan Islam. h.53

(3)

Santri Sebagai Remaja: Kajian Psikologi Pendidikan | 15 B. Pengertian dan istilah kunci

Setiap kajian, secara umum, seharusnya memberi pengantar mengenai istilah yang akan dibahas. Hal itu agar kegiatan yang dilakukan terukur, terbatas dan dapat dipahami.

Daud dalam karya monumentalnya, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Naquib Al-Attas, menyinggung urgensi pemahaman istilah sebagai fokus utama yang seharusnya dicermati kaum intelektual dan peneliti. Ia menyampaikan bahwa istilah atau kata-kata kunci seharusnya diaplikasikan secara tepat dalam konteks bidang semantik yakni bidang yang mengatur penggunaan makna dan pengaruhnya terhadap bidang lain yang bersinggungan dan saling bergeseran satu sama lain.8 Selanjutnya, ia juga menyampaikan bahwa penggunaan istilah dan konsep-konsep kunci dalam kata dasar merupakan bentuk mengeskpresikan makna yang sama dan sistematis.

Gagasan tersebut merupakan sandaran yang kuat mengenai urgensi pemahaman dan penggunaan istilah dan kata kunci dalam sebuah kajian termasuk kajian ini. Berikut pemaparannya:

a. Santri

Santri memiliki asal kata yang beragam. Kata ini, misalnya, dianggap berasal dari

“cantrik” yang merupakan bahasa Sangsekerta yang berarti seseorang yang selalu mengikuti gurunya kemanapun pergi, yang kemudian secara praktis dikembangkan oleh taman siswa dalam sistem asrama yang disebut dengan pariwayatan.9 Kata ini juga diduga berasal dari

“Shantri”, bahasa India, yang berarti orang-orang yang mengetahui buku-buku suci agama Hindu atau orang ahli kitab suci.10 Dalam bahasa India, “saintra” adalah saint (manusia baik) dan tra (suka menolong), sehingga santri adalah manusia baik yang suka menolong.11

Secara istilah, santri didefinisikan Zuhairini yang dikutip Arfandi, sebagai murid- murid yang mengaji agama Islam dan diasramakan di tempat tersebut.12 Menurut tradisinya, santri dibagi menjadi 2 (dua) yaitu santri mukim yaitu murid yang berasal dari daerah jauh dan menetap dalam kelompok pesantren, dan santri kalong yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekitar pesantren, dan tidak bermukim.13

Lebih objektif, prediket santri tidak hanya lahiriyahnya saja (cara berpakaian, peralatan dan tradisi-tradisi yang statis) tetapi dari jiwanya. Zarkasyi menyimpulkan bahwa lima jiwa pesantren yang diusahakan tertanam dalam diri santri adalah “Panca Jiwa”

dengan rincian yaitu keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwwah Islamiyah dan

8 Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, I 1 (Bandung: Mizan, 2003).h.383

9 Abu Yasid, dkk, Paradigma Baru Pesantren Menuju Pendidikan Islam Transformatif (Yogyakarta: 2018, t.t.). h. 154

10 Abu Yasid, dkk. h.154

11 Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam (Ciputat: PT. Logos Wicana Ilmu, 2001). h. 144.

12 Abu Yasid, dkk, Paradigma Baru Pesantren Menuju Pendidikan Islam Transformatif. h. 154

13 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi pesantren: studi pengalaman hidup (Jakarta: LP3S, 2015). h. 89

(4)

16 | Abdul Aziz Sebayang

kebebasan.14 Jiwa-jiwa tersebut menjadi kerangka acuan bagi terciptanya suasana dan sistem nilai kehidupan santri di Pondok Pesantren.

Berdasarkan hal tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa secara umum santri merupakan mereka yang istiqamah mengikuti kyai untuk belajar agama dari kitab-kitab yang diajarkan, berkepribadian baik, suka menolong dengan pengetahuannya. Adapun secara khusus, santri merupakan prediket yang diberikan kepada peserta didik yang belajar dan mondok (menginap) di pesantren untuk memeroleh ilmu dan didikan dari kyai baik secara lahir dengan tradisi-tradisinya maupun secara batin yaitu dengan prinsip dan idealisme yang menjadi bekal para santri dalam menghadapi kehidupan selama menempuh masa pendidikan maupun setelahnya.

b. Remaja

KBBI memaknainya sebagai pribadi yang mulai dewasa; sudah sampai umur untuk kawin.15 Hal yang menarik, dalam kamus besar disinggung juga istilah psikologi dari kata remaja, sebagai serapan lain dari “adolesen” yang memiliki arti masa remaja, berumur kira- kira 9 sampai dengan 21 tahun.16 Secara istilah, Ali dan Asrori menerangkan remaja, di kalangan para ilmuan memiliki banyak penyebutan populer dalam bahasa asing seperti:

adolescene, pubertas dan youth. Kata pertama berasal dari bahasa Latin “adolescene” yang berarti:”tumbuh untuk mencapai kematangan”.17 Kematangan yang dimaksud, terang Hurlock, mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik.18 Istilah pubertas dalam bahasa Inggris dan Puberteit dalam bahasa Belanda bermakna usia kedewasaan.19 Terkait dengan lingkungan pendidikan Islam, kata remaja diistilahkan berbahasa arab yaitu al- Syabāb, al-fatā dan al-Murāhaqah yang tentunya juga memiliki makna-makna tersendiri.

Mu’jam Lisan al-Arab menyebut kata “al-Syabāb” dengan makna al-Fatā yaitu hal yang berkaitan dengan kepemudaan atau remaja dan wa al Hadātsah yaitu yang berkaitan dengan pembaharuan atau hal yang modis dan baru.20 Dalam mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al- Mu’ashirah kata “Syabāb" adalah mereka yang sampai usia baligh dan belum sampai usia dewasa.21

14 Tim Panitia Penulis, K.H. Imam Zarkasyi dari Gontor, I (Ponorogo Jawa Timur: Gontor Press, 1996). h.

58

15 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, “Kamus Bahasa Indonesia” (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008). h. 1191

16 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. h. 13

17 Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: PT.

Bumi Aksara, 2011). h. 9

18 Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, trans. oleh Istiwidayanti dan Soejarwo, V (Jakarta:

Erlangga, 1999). h. 206

19 Sunarto dan B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: PT. Renika Cipta, 2008). h. 51

20 Abu Faḍl Jamāl al-din Muhammad bin Mukarram Ibn Manẓūr al-Afriqy al-Miṣry, “Lisān al-Arab”

(Beirut: Dār ṣādir, t.t.). h. 2180

21 Ahmad Mukhtar Umar, “Mu’jam al-Lughah al-’Arabiyyah al-Mu’aṣirah” (Qohirah: Ᾱlimu al-Kutub, 2008). 1175

(5)

Santri Sebagai Remaja: Kajian Psikologi Pendidikan | 17 Sedangkan makna al-fatā adalah remaja antara usia puber dan usia dewasa atau usia pada akhir usia puber.22 Dalam Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’ashirah kata “al- Murāhaqah" memiliki kandungan makna spesifik yaitu fase usia manusia yang ditandai dimulai dari mimpi basah hingga masa usia matang.23

Sisi lain yang juga ditampilkan istilah-istilah yang diurai di atas adalah pemahaman remaja yang erat kaitannya dengan tercapainya kamatangan seksual ditinjau dari aspek biologis.

C. Santri sebagai Remaja

Pembahasan yang sangat penting mengenai masa remaja adalah penetapan dan batasan usia yang disebut masa remaja. Ditemukan beberapa pendapat para ahli psikologi mengenai hal ini diantaranya:

Al Mighwar, misalnya, dengan mengutip pendapat L.C.T. Bigot. Ph. Kohnstam dan B.G. Palland24 ia membagi kehidupan remaja kepada dua fase: 1. Masa pubertas : 15-18 tahun dan 2. Masa adolescene : 18-21 tahun. Sedangkan menurut F.J. Monks, A.M.P. Knoers dan Siti Rahayu25, ia membagi fase remaja menjadi tiga fase yang bermula dari usia 12 tahun 21 tahun dengan pembagian masa remaja awal: 12-15 tahun, masa remaja pertengahan: 15-18 tahun dan Masa remaja akhir: 18-21 tahun. Al Mighwar juga mengutip pendapat Kwee Soen Liang S.H.26, dengan membagi masa pubertas menjadi tiga dengan mempertimbangkan aspek gender sebagai berikut:

1. Pra pubertas ; Pria : 13-14 tahun Wanita : 12-13 tahun 2. Pubertas ; Pria : 14-18 tahun Wanita : 13-18 tahun 3. Adolescene ; Pria : 19-21 tahun Wanita : 18-21 tahun

Dari beberapa uraian di atas, dapat dipahami bahwa masa remaja merupakan masa dengan usia yang relatif berkembang dengan segala perubahan baik perkembangan fisik, emosi dan psikis (mental) menuju kematangan (usia dewasa). Hal itu karena remaja yang dimaksud para ahli adalah mereka yang berada dalam usia kisar 12 tahun sampai 21 tahun.

Dari aspek gender, wanita cenderung lebih cepat dibandingkan pria. Demikian pula jika ditinjau dari aspek hukum, yang menyimpulkan bahwa (Pasal 7 undang-undang No. 1/1974

22 Ahmad Mukhtar Umar. h. 1672

23 Ahmad Mukhtar Umar. h. 951

24 Muhammad Al-Mighwar, Psikologi Remaja,(Bandung: CV.Pustaka Setia, 2011), h. 60

25 F.J. Monks, Psikologi Perkembangan, trans. oleh Siti Rahayu Hadinoto (Yogyakarta: Gadjah mada University Press, 2006). h. 262

26 Muhammad Al-Mighwar, Psikologi, h. 61-6

(6)

18 | Abdul Aziz Sebayang

Tentang perkawinan)27 usia minimal perkawinan adalah 16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi pria. Dari itu, dapat disimpulkan juga bahwa fase remaja adalah terlepasnya dari usia anak-anak dan juga belum sampai pada usia dewasa.

Terkait dengan kajian mengenai santri, maka kedudukannya sebagai remaja memberikan arti bahwa mereka berhak mendapatkan pendidikan dalam upaya mengembangkan dirinya. Upaya tersebut, dalam kajian psikologis, dirincikan dalam upaya perkembangan kognitif, komunikasi-bahasa dan sosial-emosional.

Pembahasan ringkas teoritisnya adalah sebagai berikut:

a. Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif remaja tergolong pada tahap operasional formal yaitu pada usia 11 tahun ke atas. Dalam usia tersebut, dengan kemampuan intelektual yang sudah mulai menuju kematangan, ia dianggap mampu memikirkan hal-hal yang abstrak menjadi konkret, memaknai kiasan serta simbol dan juga sudah mulai mampu memecahkan berbagai masalah.

Dalam buku Psikologi Remaja, Ali dan Asrori28 memaparkan pendapat Jean Piaget bahwa perkembangan kognitif/intelek manusia menjadi empat bagian:

1. Tahap sensori-motoris, yaitu pada usia (0-2 tahun). Tahap ini ditandai dengan proses pematangan motorik anak. Tahap ini juga dapat dilihat dari gerakan-gerakan dan koordinasi tindakan yang mulai terlatih atau diajarkan.

2. Tahap praoperasional, yaitu pada usia (2-7 tahun). Tahap ini disebut juga intuisi, yaitu sebagai bentuk perkembangan kognitif. Hal ini terlihat dengan kecenderungan alamiah, dan sikap-sikap yang diperoleh dari orang yang berinteraksi di sekitarnya.

3. Tahap operasional konkret, yaitu pada usia (7-11 tahun). Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas yang konkret. Hal ini terlihat dengan keingintahuan mereka yang mulai mengamati hal di sekelilingnya.

4. Tahap operasional Formal, yaitu pada usia (11 tahun ke atas). Pada tahap ini, fungsi kognitif/intelek manusia mencapai tahap maksimal. Hal ini tercermin dengan kemampuan melakukan abstraksi, memaknai kiasan dan simbol serta mampu memecahkan berbagai permasalahan.

Adapun tahap operasional formal, karakteristiknya adalah sebagai berikut:29 1. Individu dapat mencapai logika dan rasio

2. Mampu berpikir logis dengan objek yang yang abstrak

3. Mampu memecahkan masalah yang merupakan persoalan-persoalan bersifat hipotetis 4. Mulai mampu membuat perkiraan di masa depan.

5. Mampu mengintrospeksi diri

27 “Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan” (t.t.).

28 Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi, h. 27-29

29Ibid, h. 32-33

(7)

Santri Sebagai Remaja: Kajian Psikologi Pendidikan | 19 6. Mampu membayangkan peranan–peranan yang kan diperankan sebagai orang dewasa 7. Mampu menyadari diri, mampertahankan kepentingan orang banyak dalam hal ini

adalah masyarakat.

Dengan karakteristik demikian, maka remaja akan terbentuk menjadi pribadi yang kreatif dengan potensi-potensi yang disebut Piaget secara rinci berikut ini:30

1. Remaja sudah mampu melakukan kombinasi tindakan secara dan berdasarkan pemikiran logis

2. Remaja sudah mampu melakukan kombinasi objek–objek secara proporsional

3. Remaja mampu melakukan pemisahan dan pengendalian variable dalam menghadapi masalah yang kompleks

4. Remaja sudah memiliki pemahaman tentang ruang dan waktu relative 5. Remaja sudah mampu berpikir hipotetis

6. Remaja sudah memiliki diri ideal 7. Remaja sudah mengusai bahasa abstrak

Dari penjelasan tersebut, tepat untuk menempatkan santri sebagai remaja yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan. Hal itu karena, meminjam ungkapan al- Mighwar31, mereka sejatinya telah mampu memaparkan pertumbuhan dan perkembangan otaknya sehingga dapat menerima dan mengolah informasi secara abstrak dari lingkungannya. Di lingkungan pesantren, masyhur adagium berbunyi “apa yang kamu lihat, dengar dan rasakan adalah pendidikan”. Dalam konteks tersebut, perkembangan kognitif santri semestinya terjadi.

b. Perkembangan Komunikasi-Bahasa

Perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik secara lisan, tulisan maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat.32 Kemampuan itu, secara umum, dibagi ke dalam empat komponen:33

1. Fonologi (phonology) berkenaan dengan tata cara individu memahami dan menghasilkan bunyi pembicaraan bahasa.

2. Semantic (semancics) berkenaan dengan penguasaan makna kata dan kombinasi kata.

3. Tata bahasa (Grammar) yaitu berkenaan dengan penguasaan kosa kata yang kemudian dimodifikasikan ke dalam makna berdasarkan sintak (aturan susunan kata dalam kalimat) dan morfologi (aplikasi gramatikal meliputi jumlah, penggunaan ketepatan waktu dan lain-lain)

4. Pragmatik (Pragmatics) yaitu berkenan dengan sisi komunikatif bagaimana menggunakan bahasa dengan baik ketika berkomunikasi dengan orang lain.

30Ibid, h. 50

31 Muhammad Al-Mighwar, Psikologi, h. 92

32 Sunarto dan B. Agung Hartono, Perkembangan, h. 136

33 Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi, h. 126

(8)

20 | Abdul Aziz Sebayang

Dalam perkembangannya, ada beragam faktor yang memengaruhi. Sunarto dan Hartono merincikannya sebagai berikut:34

1. Umur, pada masa remaja perkembangan biologis sangat menunjang kemampuan bahasa hingga mencapai tingkat kesempurnaan yang dibarengi oleh tingkat intelektual.

2. Kondisi lingkungan. Perkembangan bahasa di lingkungan akan memberikan andil yang cukup besar. Akan berbeda bahasa di daerah perkotaan akan berbeda dengan daerah pantai, pegunungan dan daerah-daerah lainnya.

3. Kecerdasan. Perbendaharaan kata-kata dan kemampuan menyusun kalimat dengan baik serta memahami atau menangkap maksud suatu pernyataan adalah kecerdasan yang sering dibahasakan sebagai language intelligence.

4. Status sosial ekonomi keluarga. Keluarga yang berstasus sosial ekonomi baik, akan mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa.

5. Kondisi fisik, maksudnya adalah kondisi kesehatan fisik. Bisu, gagap dan tuli juga dapat menggangu perkembangan bahasa.

Sejalan dengan itu, remaja juga dapat digolongkan sebagai pribadi yang berada dalam fase pencarian jati diri. Fase itu menjadikannya mampu membangun dan memiliki bahasa yang berbeda dan khas sebagai dampak dari pencarian jati dirinya. Term populer terkait itu adalah ”bahasa gaul”. Debby Sahertian, dalam catatan Ali dan Asrori, pada tahun 2000, bahkan telah berhasil mengumpulkan kata-kata remaja tersebut dalam kamus khas remaja berjudul “kamus bahasa gaul”.35

Untuk lingkup santri, perkembangan ini sebenarnya telah menjadi perhatian dari banyak pesantren, terutama Pesantren Modern. Tolib menyebut bahwa di antara yang membedakan antara Pesantren Modern dan Pesantren Tradisional adalah pendidikan mengenai berbahasa.36 Namun demikian, mengacu kepada komponen berbahasa yang tertulis di awal pembahasan bagian ini, sebenarnya dapat dipahamkan bahwa Pesantren Tradisional juga melakukannya. Hanya saja; Pesantren Modern berfokus pada pragmatik, sedangkan Tradisional menekankan aspek tata bahasa.

c. Perkembangan Sosio-Emosional

Perkembangan sosial adalah tingkatan jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat luas. Perkembangan emosional adalah luapan perasaan ketika anak berinteraksi dengan orang lain.37 Dari dua definisi tersebut, dapat dipahami bahwa perkembangan sosial-emosional tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Dengan kata lain, membahas perkembangan sosial harus juga melibatkan kajian terhadap emosional.

34Sunarto dan B. Agung Hartono, Perkembangan, h. 139-140

35 Ali dan Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. h. 127

36 Abdul Tholib, “Pendidikan di Pondok Modern,” Jurnal Al-Risalah, 2, 1 (Desember 2015). h.63

37 Suyadi, Ternyata Anakku Bisa Kubuat Genius (Yogyakarta: Powerbooks, 2009). h. 48

(9)

Santri Sebagai Remaja: Kajian Psikologi Pendidikan | 21

“The Californian Adolescent Growth Study” melakukan penyelidikan tentang perkembangan pribadi dan sosial remaja.38 Proses perkembangan pribadi dan sosial remaja digambarkan melalui laporan yang dikutip Rivai sebagai berikut:

1. Sifat-sifat yang disenangi pemuda/remaja putra:

a. Pada usia 11 -13 tahun, sifat-sifat yang disenangi adalah yang mendukung keterampilan dalam bermain seperti agresif dan ngotot.

b. Tiga tahun kemudian, mulai muncul sifat tenang, mempunyai keseimbangan sosial dan mulai menganggap kebiasaan remaja awal adalah kekanak-kanakan.

c. Tiga tahun berikutnya, mulai ada penekanan pada keterampilan-keterampilan sosial serta pandangan-pandangan yang baik untuk menunjang kemampuan berkooperatif.

2. Sifat-sifat yang disenangi pemudi/remaja putri:

a. Pada usia 12 tahun, pemudi memiliki kesenangan berupa sifat persahabatan dan memiliki minat yang sedikit mengenai permainan.

b. Pada tiga tahun berikutnya, terjadi perubahan-perubahan dengan munculnya sifat ramah-tamah, gembira khususnya mulai mencoba aktivitas keolahragaan. Mulai memiliki kemampuan untuk mengorganisasi kegiatan-kegiatan kelompok.

c. Tiga tahun berikutnya, sudah mulai menunjukkan minat untuk mampu melihat perbedaan-perbedaan dalam hubungan social mereka

Dalam hal itu, yang perlu diperhatikan adalah karakteristik perkembangan remaja sebagaimana ditulis Ali dan Asrori39 sebagai berikut:

1. Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan akan pergaulan. Remaja mengalami kebosanan dan mulai sadar akan kesunyian tanpa relasi/pergaulan, oleh sebab itu remaja berusaha mencari hubungan dengan orang lain atau berusaha mencari pergaulan. Perasaan kesunyian disertai kesadaran sosial psikologis yang mendalam, menimbulkan dorongan yang kuat akan pentingnya pergaulan.

2. Adanya upaya untuk memilih nilai-nilai sosial. Pada usia remaja, jika dihadapkan pada suatu norma atau aturan maka akan ada dua cara yang akan dipilih dan ditempuh olehnya. Yaitu pertama, ia akan menyesuaikan diri dengan norma dan aturan tersebut. Yang kedua ia akan tetap pendirian dengan segala akibatnya.

3. Meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis. Masa remaja merupakan masa pertumbuhan dari segala aspek. Perbedaan jenis kelamin pada masa ini mengakibatkan terjadi hubungan sosial yang dihiasi perhatian terhadap lawan jenis sehingga adanya keinginan membangun hubungan social.

4. Mulai memilih karir tertentu, sebenarnya pada masa ini adalah masa pencarian jati diri. Maka, remaja perlu diberi wawasan karier disertai dengan keunggulan dan

38 Melly Sri Sulastri Rivai, Psikologi Perkembangan Remaja (Jakarta: Bina Aksara, 1987). h. 56-57

39Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi, h. 91-92

(10)

22 | Abdul Aziz Sebayang

kelemahannya agar dapat disesuaikan dengan minat dan kemampuan masing-masing remaja.

Jika diamati dalam lingkup Pesantren, baik perkembangan kognitif, komunikasi- bahasa, lebih-lebih sosial-emosional, adalah pendidikan yang ditekankan di asrama-asrama –untuk tidak juga mengabaikan peran kelas. Dalam hal itu, asrama memegang peranan kunci. Zarkasyi menyatakan (pesantren) ... harus berbentuk asrama (full residential boarding school) yang berarti santri wajib tinggal di dalam asrama secara penuh agar program dapat disampaikan dan dilaksanakan secara penuh dalam suatu lingkungan yang memang dirancang untuk mendidik.40

Senada dengan itu, Mighfar mengatakan bahwa pendidikan keagamaan yang ditransformasikan kepada santri tidak hanya pada tataran kognitif saja, bahkan asrama mampu menjadi wahana aktualisasi nilai-nilai Islami yang diperoleh baik dari Kyai, Ustadz, abangan kelas, adik kelas dan teman sebaya.41 Hal tersebut terbukti mampu untuk membentuk dan menghasilkan karakter sosial yang baik seperti melatih kerja sama, setia kawan, menghargai orang lain dan mengamalkan akhlaq dari ajaran Islam secara praktis, dengan demikian kondisi ini tercipta keterampilan sosial dan keterampilan hidup (life skill) para santri.

Lebih lanjut, Yasid menjelaskan bahwa karakter-karakter yang ditanamkan dalam diri santri merupakan karakter dari pondok pesantren itu sendiri, yaitu:42 Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kyai, ketundukan santri pada figur kyai, keserhanaan dan hemat, kemandirian, ta’awun atau tolong-menolong dalam suasana persaudaraan, disiplin dalam memanfaatkan waktu dan ketepatan berpakaian, sikap mental berani menderita pada santri khususnya dalam menyelesaikan pendidikan, kehidupan agama yang baik, dan kultur kitab kuning dan wacana keislaman klasik yang kuat.

Secara eksplisit, Zarkasyi menyatakan dengan tegas dan lugas bahwa isi dari pendidikan pondok adalah pendidikan mental dan karakternya, mental dan karakter santri terdidik itu harus dibekali jiwa yang kuat. Jiwa tersebut yang akan menentukan filsafat kehidupan santri itu, jiwa tersebut disimpulkan secara implisit adalah:43 1. Jiwa keikhlasan, 2. Jiwa kesederhanaan, 3. Jiwa Self help atau berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), 4. Jiwa ukhuwwah diniyah yang demokratis dan 5. Jiwa bebas. Hal tersebut, menurutnya, jauh lebih urgent dari dari pelajaran atau pengetahuan yang didapat selama bertahun-tahun hidup di pondok pesantren, karena hal tersebut merupakan bekal kelengkapan dalam hidup mereka.

40 Abdullah Syukri Zarkasyi: Gontor dan Pembaharuan Pendidikan Pesantren (PT: RajaGrafindo Persada, Jakarta 2005).h.4.

41 Abu Yasid, dkk, Paradigma Baru Pesantren Menuju Pendidikan Islam Transformatif.h.182

42 Abu Yasid, dkk. h.178-180

43 Panitia Penulis, K.H. Imam Zarkasyi dari Gontor. h.427-428

(11)

Santri Sebagai Remaja: Kajian Psikologi Pendidikan | 23 D. Simpulan

Uraian sebagaimana tersebut di atas menegaskan bahwa seharusnya santri, ditinjau dari aspek psikologinya sebagai remaja, merupakan kumpulan pembelajar muda yang memiliki idealisme dan prinsip. Idealisme dan prinsip itu dapat terbentuk melalui jalur pendidikan.

Asrama memegang peranan kunci untuk lingkup pesantren–untuk tidak juga mengabaikan peran kelas. Di sana, para santri sebagai remaja memeroleh pendidikan baik terkait perkembangan kognitif, komunikasi-bahasa dan sosial emosional. Perkembangan- perkembangan mereka tentunya disesuaikan dengan tujuan pendidikan Islam secara mendasar, yaitu akidah, yang itu –meminjam ungkapan Zarkasyi jauh lebih urgent dari dari pelajaran atau pengetahuan yang didapat selama bertahun-tahun hidup di pondok pesantren, karena hal tersebut merupakan bekal kelengkapan dalam hidup mereka.

E. Daftar Pustaka

Abu Faḍl Jamāl al-din Muhammad bin Mukarram Ibn Manẓūr al-Afriqy al-Miṣry. “Lisān al- Arab.” Beirut: Dār ṣādir, t.t.

Abu Yasid, dkk. Paradigma Baru Pesantren Menuju Pendidikan Islam Transformatif. Yogyakarta:

2018, t.t.

Ahmad Mukhtar Umar. “Mu’jam al-Lughah al-’Arabiyyah al-Mu’aṣirah.” Qohirah: Ᾱlimu al- Kutub, 2008.

Ali, Mohammad, dan Mohammad Asrori. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik.

Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2011.

Asrahah, Hanun. Sejarah Pendidikan Islam. Ciputat: PT. Logos Wicana Ilmu, 2001.

Danim, Sudarwan dan Khairil. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru. 3 ed. Bandung:

ALFABETA, cv, 2014.

F.J. Monks. Psikologi Perkembangan. Diterjemahkan oleh Siti Rahayu Hadinoto. Yogyakarta:

Gadjah mada University Press, 2006.

Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan. Diterjemahkan oleh Istiwidayanti dan Soejarwo. V. Jakarta: Erlangga, 1999.

Mardianto. Psikologi Pendidikan Landasan Bagi Pengembangan Strategi Pembelajaran. Medan:

Perdana Publishing, 2014.

Melly Sri Sulastri Rivai. Psikologi Perkembangan Remaja. Jakarta: Bina Aksara, 1987.

Mukti, Abdul. “Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam.”

Analytica Islamica, 2, 4 (November 2002): 23.

Nata, Abuddin. Psikologi Pendidikan Islam. 1 ed. 1 1. Depok: PT RajaGrafindoPersada, 2008.

Panitia Penulis, Tim. K.H. Imam Zarkasyi dari Gontor. I. Ponorogo Jawa Timur: Gontor Press, 1996.

Sunarto, dan B. Agung Hartono. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Renika Cipta, 2008.

Suyadi. Ternyata Anakku Bisa Kubuat Genius. Yogyakarta: Powerbooks, 2009.

thohir, Ajid. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2004.

Tholib, Abdul. “Pendidikan di Pondok Modern.” Jurnal Al-Risalah, 2, 1 (Desember 2015): 63.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. “Kamus Bahasa Indonesia.” Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

(12)

24 | Abdul Aziz Sebayang

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (t.t.).

Wan Mohd Nor Wan Daud. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. I 1.

Bandung: Mizan, 2003.

Zamakhsyari Dhofier. Tradisi pesantren: studi pengalaman hidup. Jakarta: LP3S, 2015.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun masalah yang sering dihadapi pemilik kendaraan diantaranya pemilik kendaraan mengalami kebingungan dalam memilih bengkel dikarenakan kurangnya informasi

Bidan sebagai pelaksana memberikan pelayanan kebidanan pada wanita dalm siklus.. kehidupannya, asuhan neonatus, bayi, dan

Karya ilmiah yang digunakan untuk pengangkatan awal atau kenaikan jabatan fungsional dan kenaikan pangkat peneliti/tenaga kependidikan selain harus memenuhi

Di dalam negeri mangga tetap menjadi buah favorit pada saat musimnya. Buah yang berkualitas tetap memiliki harga yang jauh lebih baik dan dapat menembus pasar untuk kalangan

(11) Berdasarkan pernyataan dari teori Blum tersebut dibuktikan dengan hasil jawaban pada item pernyataan bahwa pekerja mempersepsikan peralatan pemadam kebakaran

Ketika menghadapi masalah yang tidak dapat diantisipasi atau perubahan secara tiba-tiba pada kondisi pasar yang sebaliknya mempengaruhi proyek yang ditugaskan, konsultan

Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki