MEMBANGUN HUTAN
TANAMAN MERANTI
Gusti Hardiansyah
2012
BAB 1
MENGGUGAT EKSISTENSI HUTAN HUJAN TROPIS INDONESIA
Daratan Indonesia dengan luas ± 189,15 juta hektar memiliki kawasan hutan seluas 143,57 juta hektar atau sekitar 76 % dari keseluruhan luas total wilayah daratan. Sesuai dengan letak1 serta karakteristik iklim2, hutan alam di Indonesia termasuk ke dalam kategori hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis didefinisikan sebagai hutan yang selalu hijau, tidak pernah menggugurkan daun, tinggi 30 m (tetapi biasanya jauh lebih tinggi), bersifat higrofil, serta banyak terdapat liana berbatang tebal dan epifit berkayu maupun bersifat herba3.
Karakteristik umum sekaligus keunggulan yang dimiliki hutan hujan tropis adalah (1) keanekaragaman (diversitas) jenis yang tinggi4, (2) lingkungan yang konstan atau sedikitnya perubahan musim, dan (3) siklus hara tertutup. Diversitas jenis yang tinggi mengakibatkan kontribusi masing-masing jenis terhadap populasi sangat kecil, bahkan sering dijumpai dalam satu plot yang berukuran beberapa acre hampir semua jenis pohon penyusun hanya diwakili oleh satu individu5. Sedangkan dampak dari karakteristik iklim hujan tropis menyebabkan proses dekomposisi dan proses mineralisasi berjalan cepat. Di sisi lain, besarnya curah
1 Berdasarkan tata letaknya, hutan hujan tropis dibedakan ke dalam tiga wilayah iklim tropis yaitu American Tropical Rain Forest, African Tropical Rain Forest, dan Indo – Malayan Tropical Rain Forest (Whitmore, 1975; Jacob, 1988)
2 Iklim hutan tropis umumnya masuk ke dalam tipe A atau B dalam klasifikasi Schmidt dan Fergusson (Whitmore, 1975), yaitu mempunyai curah hujan rata-rata 1.600 – 4.000 mm per tahun dengan temperatur berkisar antara 20oC - 28oC dan rata–rata kelembaban relatifnya 80 % (Ewusie, 1980). Lebih jauh, Whitmore menyatakan bahwa hutan hujan tropika di Indonesia terdapat di daerah-daerah dengan ketinggian 0 - 4.100 meter di atas permukaan laut (dpl).
3 Richard, 1964.
4 Potensi kekayaan keanekaragaman hayati hutan alam tropis Indonesia tercatat antara lain terdiri dari 10% spesies bunga dunia (ketujuh terbanyak), 12% spesies mamalia dunia (terbanyak dengan 515 jenis), 16% dari spesies reptil dan amphibi (ketiga terbesar dengan 60 spesies), 17%
spesies burung dunia (keempat terbesar dengan 1.519 jenis), 25% spesies ikan dunia, dan terbesar dalam spesies kupu-kupu (121 jenis), serta terbesar dalam diversiti palm (lebih dari 400 spesies dan 25.000 tumbuhan berbunga).
5 Terdapat beberapa studi yang menunjukkan kondisional tersebut. Richard, 1973 melaporkan hasil pengukuran yang dilakukan di hutan hujan tropika dataran rendah di Malaysia terhadap individu pohon yang berdiameter 30 Cm ke atas pada plot seluas 2 hektar dijumpai sekitar 100 jenis. Sementara Partomiharjo et. al, melaporkan pada hutan dataran rendah di Wanariset Kalimantan Timur pada petak ukur 10,5 hektar ditemukan sebanyak 406 jenis yang mencakup 178 genera dan 57 famili, pohon-pohon yang berdiameter setinggi dada di atas 10 Cm. Terakhir, Abdul Hadi dkk melaporkan bahwa pada 25 plot di hutan primer Taman Nasional Gunung Leuser Sumatera terdapat 332 jenis yang mencakup 179 genera dan 68 famili.
hujan berakibat pada tingginya proses pencucian (leaching)6. Terakhir, kondisi tanah di hutan hujan tropis bersifat miskin akan unsur hara. Berbagai karakteristik tersebut merupakan sifat-sifat alami penting yang harus menjadi pertimbangan utama dalam menerapkan sistem pengelolaan hutan hujan tropis. Artinya, penerapan sistem pengelolaan hutan hujan tropika harus bertumpu pada berbagai karakteristik fisik tegakan hutan, kondisi sosial, ekonomi, serta budaya masyarakat lokal yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan7. Dalam bahasa teknis kehutanan, sistem pengelolaan hutan alam tropis populer dikenal dengan istilah sistem silvikultur.
6 Kondisi ekologis tersebut direspon secara adaptif oleh species-species penyusun hutan hujan tropika dengan mengembangkan mekanisme tertentu yang memungkinkan mereka memperkecil kehilangan hara, seperti konsentrasi akar terletak di dekat permukaan tanah dan mengadakan simbiose dengan mikoriza (Jordan, 1991).
7 Salah satu ciri hutan hujan tropis Indonesia adalah banyaknya kelompok komunitas yang hidup dan bergantung pada sumber daya hutan. Komunitas tersebut umumnya memiliki pola hidup subsisten, memiliki sistem dan tata nilai tertentu yang sama yang tergabung dalam sebuah komunitas, yang seringkali disebut dengan komunitas adat.
KOTAK 1.1.
HUTAN HUJAN TROPIS :
SIFAT DAN KEKHASAN KARAKTERISTIK
Sekitar 76 % atau 143,57 juta hektar luas daratan Indonesia terdiri dari kawasan hutan.
Sesuai dengan letak serta karakteristik iklimnya, hutan alam di Indonesia termasuk ke dalam kategori hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis di Indonesia sebagian besar adalah dataran rendah dan umumnya didominasi oleh jenis-jenis pohon yang termasuk suku Dipterocarpaceae. Jenis-jenis tersebut merupakan pohon-pohon besar pembentuk lapisan tajuk atas, sedang jenis lainnya pada umumnya mendominasi lapisan tajuk di bawahnya.
Lebih jauh, dijelaskan bahwa pada distribusi horisontal pada umumnya jenis-jenis Dipterocarpaceae mempunyai distribusi mengelompok, sedang jenis-jenis non Dipterocarpaceae mempunyai distribusi random.
Hutan tropis Indonesia terletak di kawasan hutan yang masuk ke dalam kategori Indo – Malayan Tropical Rain Forest dengan karakteristik umum, antara lain (1) keanekaragaman (diversitas) jenis yang tinggi, (2) konstannya lingkungan atau sedikitnya perubahan musiman, dan (3) siklus hara tertutup. Selain karakteristik hutan hujan tropis yang dipengaruhi oleh unsur-unsur abiotik, seperti iklim dan sifat kimia tanah, hutan hujan tropis juga memiliki karakteristik yang bersumber dari unsur-unsur biotik, yaitu struktur dan komposisi hutan.
Di sisi lain, dampak dari karakteristik iklim hujan tropis menyebabkan proses dekomposisi dan proses mineralisasi berjalan cepat. Selain itu, besarnya curah hujan juga berakibat pada tingginya proses pencucian (leaching). Terakhir, kondisi tanah di hutan hujan tropis bersifat miskin akan unsur hara. Berbagai karakteristik tersebut merupakan sifat-sifat alami penting yang harus menjadi pertimbangan utama dalam menerapkan sistem pengelolaan hutan hujan tropis.
Sumber : Berbagai literatur yang diolah
Selain karakteristik hutan hujan tropis yang dipengaruhi oleh unsur-unsur abiotik, seperti iklim dan sifat kimia tanah, hutan hujan tropis juga memiliki karakteristik yang bersumber dari unsur-unsur biotik, yaitu struktur dan komposisi hutan. Struktur suatu vegetasi didefinisikan sebagai organisasi dalam ruang, tegakan, tipe vegetasi atau asosiasi tumbuhan dengan unsur utamanya adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tumbuhan8. Lebih jauh, struktur vegetasi hutan dapat dibagi menjadi tiga komponen, yaitu (1) struktur vertikal (stratifikasi berdasarkan lapisan tajuk), (2) struktur horisontal (stratifikasi berdasarkan persebaran spasial individu suatu jenis dalam populasi), dan (3) kelimpahan jenis. Di samping ketiga komponen tersebut, masih terdapat struktur di dalam satuan waktu, yaitu (1) suksesi dan (2) klimaks, yang hanya dipusatkan pada struktur spatial yang merupakan struktur yang berhubungan dengan waktu.
Hutan hujan tropis di Indonesia sebagian besar berada di dataran rendah dengan ciri umum didominasi oleh jenis-jenis pohon yang termasuk suku Dipterocarpaceae. Jenis-jenis tersebut merupakan pohon-pohon besar pembentuk lapisan tajuk atas, sedangkan jenis lain umumnya mendominasi lapisan tajuk di bawahnya. Lebih jauh, dijelaskan bahwa pada distribusi horisontal biasanya jenis-jenis Dipterocarpaceae mempunyai distribusi mengelompok, sedangkan jenis-jenis non Dipterocarpaceae memiliki distribusi random.
Secara legalitas, berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Tahun 1983, kawasan hutan Indonesia terdiri dari Hutan Lindung (HL) ± 30.316.218 Ha (21%), Hutan Konservasi (HK) ± 18.725.324 Ha (13%), Hutan Produksi (HP) ± 64.391.990 Ha (45%) dan Hutan Produksi yang dapat dikonversi (HPK) ± 30.131.716 Ha (21%).
Grafik 1.1. Prosentase Kawasan Hutan Indonesia Berdasar Tata Guna Hutan Kesepakatan Tahun 1983
HL 21%
HK 13%
HP 45%
HPK 21%
Sumber: Baplan Dephut, 1983
8 Dansereau dalam Dumbois dan Ellenberg, 1974.
Dengan prosentase kawasan hutan seluas itu, telah menempatkan Indonesia sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Zaire.
Kawasan hutan hujan tropis tersebut merupakan aset yang memiliki potensi sosial ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat dan Bangsa Indonesia. Potensi tersebut tidak hanya terbatas pada hasil hutan berupa kayu –dari kawasan hutan alam produksi- yang telah menempatkan Indonesia dalam jajaran elite negara penghasil produk-produk hutan tropis utama di pasar internasional dunia. Lebih dari itu potensi hasil-hasil hutan non kayu dalam bentuk flora dan fauna, bahan baku obat-obatan, sumber pangan maupun perdagangan karbon memiliki nilai yang tak kalah tinggi. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kesadaran masyarakat global akan pentingnya pelestarian hutan hujan tropis, maka produk-produk hasil hutan non kayu pada masa akan datang diyakini akan memiliki nilai ekonomi yang tidak kalah potensialnya dibandingkan dengan nilai ekonomi hasil hutan berupa kayu.
Selain manfaat ekonomi yang dapat diperhitungkan (tangible), hutan alam tropis juga memiliki berbagai manfaat yang tidak dapat diperhitungkan secara langsung (intangible), terutama yang berorientasi pada kepentingan konservasi dan lingkungan, baik di kawasan hutan konservasi maupun hutan lindung.
Bentuk-bentuk manfaat ekologis tersebut, antara lain sebagai pengatur tata air, pencegah terjadinya pemanasan iklim global, serta penyerap emisi gas karbon.
Fungsi-fungsi hutan alam tropis yang bersifat intangible tersebut sangat erat kaitan dengan keseimbangan ekosistem planet bumi. Dengan demikian, masyarakat dunia internasional merasa turut berkepentingan terhadap terwujudnya kelestarian hutan hujan tropis, khususnya kelestarian fungsi konservasi dan lingkungan.
Persoalannya, dalam beberapa tahun terakhir justru muncul sebuah gugatan terhadap eksistensi hutan hujan tropis Indonesia. Gugatan tersebut terutama bertumpu pada fakta betapa besar laju kerusakan hutan tropis yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. Implikasinya, tekanan–tekanan berbagai pihak, mulai di tingkat lokal, regional maupun internasional menuntut agar dilakukan penghentian terhadap proses perusakan hutan hujan tropis Indonesia. Tekanan-tekanan tersebut, antara lain dilakukan melalui upaya-upaya ekonomis seperti melakukan boikot terhadap produk-produk kayu tropis Indonesia, maupun upaya-upaya politis melalui tuntutan penerapan pembatasan
jatah tebangan, hingga tuntutan penerapan kebijakan moratorium penebangan hutan.
1.1. POTRET BURAM HUTAN TROPIS INDONESIA
Hutan hujan tropis primer merupakan ekosistem yang dinamis sekaligus sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan. Tipe hutan yang ada tersebut berbeda-beda dalam struktur dan komposisinya dari suatu tempat ke tempat lain dan selalu berubah sepanjang waktu, tergantung pada pengaruh faktor lingkungan9. Proses permudaan alam di hutan tropika sangat kompleks, meskipun terlepas dari campur tangan manusia hutan hujan tropis keadaannya akan tetap stabil, sebab mempunyai keseimbangan yang dinamis. Apabila pohon-pohon besar mati mereka akan segera diganti oleh jenis-jenis pohon yang sama atau berbeda, sehingga tidak dapat disangkal proses permudaan alam didukung oleh adanya celah (gap) akibat pohon mati, tumbang, atau sebab-sebab lain yang terjadi pada hutan yang bersangkutan. Kondisi tersebut diartikan dengan istilah ekosistem hutan dalam kondisi keseimbangan yang dinamis (a dynamic equillibrium). Bahkan, dalam batas-batas tertentu, celah yang terbentuk secara alamiah mempunyai sifat dan peranan yang sama dengan gangguan akibat penebangan atau perladangan berpindah.
Dalam konteks kegiatan pengusahaan hutan, praktek penebangan merupakan salah satu faktor penyebab utama terjadinya kerusakan hutan10, selain faktor lain seperti api yang menjadi sumber terjadinya kebakaran hutan maupun penggembalaan ternak11. Kerusakan hutan alam produksi akibat penebangan dapat berupa celah sebagai akibat hilangnya tajuk bagian atas, kerusakan pada tegakan tinggal, serta kerusakan habitat tanahnya. Secara teknis, penebangan hutan alam akan mengakibatkan menurunnya kelimpahan dan keragaman jenis di dalam hutan alam sampai dalam bentuk perubahan struktur dan bentuk komunitas flora–fauna dan berakhir pada kerusakan ekosistem.
9 Soedirman dan Ruhiyat, 1991.
10 Praktek penebangan hutan dapat dilakukan secara legal maupun secara ilegal, baik di kawasan hutan alam produksi maupun di kawasan-kawasan konservasi dan hutan lindung.
11 Hal ini berbeda dengan kerusakan yang terjadi di kawasan hutan tanaman, dimana selain faktor-faktor tersebut disebabkan pula oleh faktor serangan hama dan penyakit. Kondisi tegakan yang bersfat monokultur menyebabkan daya tahan tegakan hutan tanaman cenderung lebih rentan dibandingkan tegakan hutan alam. Selain itu serangan hama dan penyakit berdampak sangat besar terhadap keseluruhan kondisi tegakan.
Namun demikian, sesungguhnya sejak awal design pengelolaan hutan alam produksi di luar Jawa yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi melalui kegiatan penebangan hutan untuk memperoleh hasil hutan berupa kayu telah disadari akan menimbulkan kerusakan. Kerusakan tersebut secara konseptual harus dapat dikendalikan melalui sistem pengelolaan hutan. Secara teknis, sistem pengelolaan hutan disebut dengan sistem silvikultur. Melalui sistem silvikultur tertentu diharapkan akan diperoleh optimasi produksi ekonomi dan manfaat jasa lingkungan ekosistem suatu kawasan hutan melalui cara pengaturan penebangan dan permudaan hutan. Sistem silvikultur tersebut haruslah merupakan sistem yang sesuai untuk diterapkan pada hutan hujan tropis Indonesia, khususnya hutan alam produksi di luar Jawa. Lebih jauh, penerapan sistem silvikultur bertujuan untuk mengatur pemanfaatan hutan alam produksi serta meningkatkan nilai hutan baik kuantitas maupun kualitas pada areal bekas tebangan, agar terbentuk tegakan campuran yang diharapkan dapat berfungsi sebagai penghasil kayu penghara industri kehutanan secara lestari.
Atas dasar landasan filosofis, logika, serta konseptualisasi sistem pengelolaan hutan alam produksi berdasarkan sistem silvikultur tertentu tersebut, maka pada dasawarsa 60-an dimulailah awal kegiatan pengusahaan hutan yang diilakukan secara mekanis dengan basis sistem Hak Pengusahaan Hutan (HPH).
Dalam skala luas, kegiatan pengusahaan hutan berbasis sistem HPH menghasilkan serangkaian kegiatan penebangan dalam skala luas. Celah – sebagai dampak kegiatan penebangan- sebagai salah satu bagian penting dari dinamika pertumbuhan, diharapkan akan menjadi salah satu instrumen terwujudnya permudaan melalui proses suksesi. Besarnya skala penebangan HPH akan menghasilkan celah yang luas pada tajuk hutan dan menghasilkan suksesi dari jenis-jenis pionir yang dapat menghambat regenerasi spesies- spesies primer.12 Di sisi lain, tanah menjadi lebih padat dan terkikis, menjadi terbuka, mudah tererosi, dan unsur hara hilang. Lebih jauh, teknik penebangan menyebabkan kerusakan ekstensif terhadap tegakan sisa dan membuat hutan kekurangan sapihan dan semai dari spesies - spesies penghasil kayu komersial.
Pertanyaan yang timbul kemudian adalah bagaimana dengan aspek kelestarian hutan. Dengan kata lain mekanisme seperti apa yang dibutuhkan agar
12 Appanah dan Nor (1991).
sumber daya hutan dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut terletak pada input-input manajemen yang diterapkan pada sistem pengelolaan hutan yang dikenal dengan sistem silvikultur.
Melalui sistem ini, pengelolaan hutan tidak hanya berupa aktivitas ekstraksi kayu semata, tetapi juga manajemen pohon dengan berbagai teknik pengelolaan berdasarkan modifikasi kondisi alami. Diharapkan, produktivitas hutan kian meningkat dan berkesinambungan setelah diterapkannya sistem silvikultur.
Dalam rangka mewujudkan konsep tersebut, maka sebagai tindak lanjut dari implementasi Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1970 ditetapkan Keputusan Direktur Jendral Kehutanan No. 35/Kpts/DD/I/1972 tentang Pedoman Tebang Pilih Indonesia (TPI), Tebang Habis dengan Penanaman, Tebang Habis dengan Permudaan Alam dan pedoman pengawasannya. Sebagai upaya penyempurnaan keputusan tersebut, pada tanggal 19 September 1989 ditetapkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 485/Kpts-II/1989 tentang Sistem Silvikultur Pengelolaan Hutan Alam di Indonesia13.
13 Dalam keputusan tersebut ditetapkan antara lain pengelolaan hutan produksi dapat dilakukan dengan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), Tebang Habis dengan Permudaan Alam (THPA) dan Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB).
KOTAK 1.2.
KERUSAKAN HUTAN :
POTRET BURAM HUTAN TROPIS INDONESIA
Fakta hari ini adalah sebuah potret buram tentang semakin menurunnya kualitas dan kuantitas hutan alam tropis Indonesia. Meskipun secara konseptual pengelolaan hutan alam tropis telah dilakukan berdasarkan sistem silvikultur tertentu guna mengatur pemanfaatan serta meningkatkan nilai hutan pada areal bekas tebangan secara lestari.
Namun kenyataannya, konsep tidaklah selalu sama dengan realitas di lapangan.
Terdapat beberapa indikator yang mampu menunjukkan bahwa kuantitas dan kualitas hutan tropis Indonesia mengalami penurunan. Dalam konteks penurunan kuantitas kawasan hutan, mengacu data penetapan kawasan hutan Indonesia berdasarkan TGHK mencapai 143,57 juta hektar. Kini, dua puluh tahun kemudian luasan kawasan hutan tropis telah mengalami penurunan secara signifikan. Berdasarkan data Badan Planologi, Departemen Kehutanan tahun 2003, luas kawasan hutan tropis Indonesia mencapai 109,35 juta hektar. Dalam kurun waktu hampir dua dekade telah terjadi konversi kawasan hutan menjadi kawasan non hutan seluas hampir 34 juta hektar. Dengan demikian, setiap tahun rerata laju kerusakan hutan mencapai 1,7 juta hektar. Sementara dalam konteks penurunan kualitas kawasan hutan, mengacu pada data Badan Planologi, Departemen Kehutanan, Tahun 2000, konfigurasi kondisi hutan tropis telah mengalami perubahan.
Dewasa ini luasan hutan rusak di dalam kawasan hutan mencapai 59,62 juta hektar, sementara luasan hutan rusak di luar kawasan hutan mencapai 42, 11 juta hektar. Tentu saja sangat memprihatinkan.
Sumber : Berbagai literatur
Berbagai sistem silvikultur di atas bertujuan mengatur pemanfaatan hutan alam produksi serta meningkatkan nilai hutan baik kuantitas maupun kualitas pada areal bekas tebangan, sehingga terbentuk tegakan campuran yang diharapkan dapat berfungsi sebagai penghasil kayu penghara industri secara lestari. Karenanya, dalam upaya mencapai tujuan di atas, tindakan silvikultur dalam hal permudaan hutan diarahkan pada: (1) pengaturan komposisi jenis pohon di dalam hutan yang diharapkan lebih menguntungkan baik ditinjau dari segi ekologi maupun ekonomi, (2) pengaturan struktur/kerapatan tegakan yang optimal dalam hutan, yang diharapkan dapat memberikan peningkatan potensi produksi kayu bulat dari keadaan sebelumnya, (3) terjaminnya fungsi hutan dalam rangka pengawetan tanah dan air, serta (4) terjaminnya fungsi perlindungan hutan.
Di sinilah tampak persoalan mulai berawal. Seringkali konsep tidak selamanya sesuai dengan realitas. Alih-alih memperoleh output yang lebih baik secara kuantitas maupun kualitas, dari hari ke hari kondisi hutan alam tropis Indonesia justru kian menghasilkan kuantitas dan kualitas yang semakin menurun akibat praktek penebangan tanpa diiringi penanaman. Entah dimana mata rantai tahapan kegiatan yang lepas atau tidak “nyambung”, kenyataannya dari hari ke hari potret hutan alam produksi kian buram karena terus mengalami penurunan14. Apa yang pernah diramalkan oleh Myers (1980) yang menyatakan bahwa hutan tropika basah di dunia yang berjumlah 830 juta hektar kini sedang menuju kepada kemusnahan mendekati kenyataan. Myers memprediksikan, dengan tingkat kehilangan hutan seluas 40 hektar per menit atau 21 juta hektar per tahun maka dalam 25 hingga 30 tahun mendatang bagian terbesar dari hutan tropika basah akan berubah menjadi lahan yang tidak produktif lagi, yaitu belukar dan alang- alang15. Sebagai perbandingan, dalam sepuluh tahun terakhir, Thailand telah kehilangan 25 % hutannya, sementara Philipina kehilangan 14 % hutannya dalam
14 Fenomena yang terjadi bisa saja karena murni faktor teknis, dimana pihak perusahaan HPH tidak mematuhi setiap tahapan kegiatan sebagaimana diwajibkan dalam sistem silvikultur yang dijadikan acuan. Misalnya, penebangan yang melebihi kapasitas, tidak melakukan kegiatan pemeliharaan tegakan tinggal, tidak melakukan kegiatan penanaman perkayaan, tidak melakukan kegiatan perlindungan hutan dan sebagainya. Atau, terdapat faktor lain yang bersifat eksternal, seperti lemahnya pengawasan, tekanan yang terlalu besar dari oknum birokrasi yang menyebabkan timbulnya ekonomi biaya tinggi. Ujung-ujungnya, pihak HPH mengurangi realisasi kegiatan pengelolaan hutannya.
15 Manan, Syafii. 1998. Hutan Rimbawan dan Masyarakat. Penerbit IPB Press. Bogor.
waktu 5 tahun16. Prediksi tersebut tampaknya sesuai dengan dokumen World Bank yang menyebutan bahwa bila laju kerusakan hutan tropis Indonesia tidak dapat dihentikan maka hutan alam tropis di Sumatera akan punah pada tahun 2005 sementara hutan alam tropis Kalimantan akan punah pada tahun 2010.17
Dalam konteks Indonesia, terdapat beberapa indikator yang mampu menunjukkan bahwa kuantitas dan kualitas hutan tropis Indonesia mengalami penurunan. Dalam konteks penurunan kuantitas kawasan hutan, mengacu data penetapan kawasan hutan Indonesia berdasarkan TGHK pada tahun 1983 yang mencapai 143,57 juta hektar. Kini, dua puluh tahun kemudian luasan kawasan hutan tropis telah mengalami penurunan secara signifikan. Berdasarkan data Badan Planologi, Departemen Kehutanan Tahun 2003, luas kawasan hutan tropis Indonesia mencapai 109,35 juta hektar. Dalam kurun waktu hampir dua dekade telah terjadi konversi kawasan hutan menjadi kawasan non hutan seluas hampir 34 juta hektar.18
Grafik 1.2. Perbandingan Luas Kawasan Hutan Indonesia Berdasar Tata Guna Hutan Kesepakatan antara Tahun 1983-2003
143.57
109.35
0 50 100 150
1983 2003
Luas TGHK 1983 Luas TGHK 2003
Sumber: Baplan, Dephut 2003
Dengan demikian, setiap tahun rerata laju kerusakan hutan mencapai 1,7 juta hektar19. Sementara dalam konteks penurunan kualitas kawasan hutan, mengacu pada data Badan Planologi, Departemen Kehutanan, tahun 2000, konfigurasi kondisi hutan tropis telah mengalami perubahan. Dewasa ini luasan
16 Ibid.
17 Iskandar & Nugraha. 2004. Politik Pengelolaan Sumber Daya Hutan Issue dan Agenda Mendesak. Penerbit Wana Aksara. Banten.
18 Konversi tersebut terjadi sebagai akibat berbagai kebijakan, antara lain konversi kawasan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, pemukiman, industri dan berbagai kepentingan lainnya.
19 Data laju kerusakan hutan melonjak drastis sejak krisis ekonomi 1997 dan gerakan reformasi 1998, menurut data APHI laju kerusakan hutan tropis sebelum kedua peristiwa tersebut mencapai 800.000 hektar – 900.000 hektar per tahun. Berdasarkan berbagai sumber, pada tahun 2000 laju kerusakan hutan melonjak menjadi 1,6 juta hektar per tahun. Pada tahun 2003, laju kerusakan hutan kembali meningkat menjadi sekitar 2,8 juta hektar per tahun.
hutan rusak di dalam kawasan hutan mencapai 59,62 juta hektar, sementara luasan hutan rusak di luar kawasan hutan mencapai 42,11 juta hektar.20 Tentu sangat memprihatinkan.
Dampak potret buram kondisi hutan hujan tropis segera tampak. Di tingkat lokal hampir setiap tahun di musim kemarau, bencana kebakaran hutan menjadi peristiwa rutin yang mengganggu aktivitas masyarakat luas serta merugikan secara sosial ekonomi. Penerbangan mengalami gangguan, proses belajar mengajar terhambat, masyarakat terserang jenis-jenis penyakit pernapasan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain bencana kebakaran hutan, akibat kerusakan hutan tropis juga menimbulkan bencana kekeringan di musim kemarau. Padi mengalami gagal panen alias puso yang mengakibatkan timbulnya bahaya kelaparan. Belum lagi, musim kemarau yang berkepanjangan mengakibatkan jalur-jalur transportasi sungai di berbagai wilayah pedalaman mengalami gangguan. Pasokan logistik pun tersendat. Ujung-ujungnya masyarakat kembali dilanda bahaya bencana kelaparan. Apabila pada musim kemarau terancam bencana kekeringan dan kebakaran hutan, maka di musim penghujan pun bencana alam sebagai akibat semakin menurunnya kuantitas dan kualitas hutan hujan tropis selalu mengintai. Ancaman bencana banjir dan tanah longsor selalu menghantui, bahkan menjelma menjadi peristiwa rutin setiap tahun.
Kerugian baik jiwa maupun material yang diderita sangat besar. Selain berbagai dampak di atas, potret buram hutan hujan tropis pun menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kelangsungan kegiatan pengusahaan hutan.
Selain itu, di tingkat global juga telah terjadi dampak negatif akibat kerusakan hutan. Beberapa gejala yang mulai menunjukkan peningkatan sebagai akibat kondisi tersebut adalah meningkatnya efek rumah kaca akibat meningkatnya gejala pemanasan global, terjadinya perubahan iklim yang bersifat ekstrim sehingga menimbulkan bencana banjir di musin hujan dan bencana kekeringan pada musim kemarau. Bencana lain yang termasuk di dalamnya adalah terjadinya proses penipisan lapisan ozon yang selama ini menjadi pelindung planet bumi. Jelas, bila berbagai dampak negatif di atas tidak segera ditanggulangi maka diprediksi bumi sebagai ekosistem tempat tinggal seluruh umat manusia akan mengalami berbagai degradasi yang secara langsung
20 Iskandar & Nugraha,. 2004. Politik Pengelolaan Sumber Daya Hutan. Issue dan Agenda Mendesak. Wana Aksara. Banten.
maupun tidak langsung akan berdampak terhadap kelangsungan dan keberlanjutan kehidupan seluruh umat manusia di muka bumi ini.
1.2. LAMPU MERAH PENGUSAHAAN HUTAN INDONESIA
Aktualisasi konsep pembangunan sektor kehutanan melalui kegiatan pengusahaan hutan berbasis sistem HPH memang cukup beralasan, mengingat perekonomian negara dinilai amat buruk pasca pergantian kepemimpinan nasional –dari rezim Orde Lama kepada rezim Orde Baru- pada awal tahun 1970-an. Defisit anggaran negara melonjak dan angka inflasi pun sangat tinggi yang menghantarkan negara dalam keadaan krisis. Bahkan, nyaris bangkrut.
Dalam rangka mengatasinya maka berbagai potensi yang dimiliki, terutama potensi sumber daya alam diupayakan agar dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Hal ini cukup logis, sebab potensi sumber daya alam tersedia melimpah dan dapat dimanfaatkan secara mudah, murah dan cepat. Akibatnya, dalam waktu relatif pendek pemanfaatan sumber daya alam mampu menghasilkan dana segar dalam jumlah besar. Sumbangan tersebut dimaksudkan untuk membantu menggerakkan kembali roda pembangunan.
Sebagai landasan teknis sektoral, Pemerintah kemudian menerbitkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kehutanan. Dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya hutan, diterbitkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 76/Kpts/EKKU/3/1969 tentang Pedoman Umum Eksploitasi Hutan yang dimaksudkan untuk menyeragamkan pedoman eksploitasi hutan.21 Ketentuan-ketentuan tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1970 tentang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH).
Ditetapkannya pengaturan pengelolaan hutan melalui Peraturan Pemerintah tersebut dengan pertimbangan bahwa sumber daya hutan Indonesia merupakan potensi kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan dengan segera secara maksimal dalam rangka pembangunan ekonomi nasional. Untuk itu, pemanfaatan
21 Secara substansial, keputusan tersebut mengatur kegiatan pelaksanaan eksploitasi hutan dalam tujuh tahapan kegiatan, yang meliputi (1) perencanaan, (2) pemberian batas dan pembagian areal, (3) inventarisasi hutan, (4) penebangan dan pembagian batang, (5) penyaradan dan pengumpulan, (6) pengangkutan, dan (7) inventarisasi tegakan sisa dan pembersihan areal bekas tebangan.
hutan secara maksimal perlu dilakukan melalui aktivitas pengusahaan hutan dan pemungutan hasil hutan secara maksimal pula.
Hak Pengusahaan Hutan22 atau biasa disingkat dengan istilah HPH pada dasarnya hanya diberikan untuk penebangan dengan cara tebang pilih atas dasar kelestarian hutan. Pengolahan dan pemasaran hasil hutan dibebani kewajiban untuk mengadakan permudaan secara alami atau buatan serta pemeliharaan hutan. Hak diberikan kepada perusahaan milik negara, perusahaan swasta maupun perusahaan campuran selama 20 tahun. Melalui perangkat tersebut, era pengelolaan hutan oleh swasta dimulai. Keterlibatan swasta dalam mengelola hutan sebagaimana diatur dalam PP No. 21/1970 merupakan upaya percepatan pemanfaatan sumber daya hutan. Di sisi lain, Pemerintah pada saat itu memang tidak memiliki modal yang memadai sehingga perlu melibatkan pihak swasta – baik modal asing maupun modal domestik- secara penuh.
Pasca penetapan kebijakan dan berbagai ketentuan turunannya, segera mengalir investasi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sebagaimana konsep awalnya, masuknya aliran investasi berhasil menggerakkan unit-unit usaha di sektor kehutanan. Secara kuantitas unit usaha HPH melonjak dari 18 unit di Tahun 1968 menjadi 101 unit di tahun 1972. Pada tahun yang sama, produksi kayu bulat pun melonjak dari 3,3 juta meter kubik menjadi 16,9 juta meter kubik. Lonjakan produksi tersebut berbanding lurus dengan besaran peningkatan dana yang dihasilkan. Di tengah langkanya pendanaan, jumlah dana yang dihasilkan dari sektor kehutanan jelas menjadi sumber pendapatan yang signifikan terhadap perekonomian negara.
Dalam perkembangannya, peran sektor kehutanan menjadi kian besar.
Terlebih ketika booming pendapatan yang berasal dari minyak bumi di awal dekade 1980-an mulai mengalami penurunan. Sektor kehutanan menjelma menjadi penyumbang devisa terbesar dari sektor non migas. Apalagi sektor ini memiliki keunggulan produk yang bersifat local content sehingga devisa yang dihasilkan bersifat netto. Kelebihan lain, sektor kehutanan bersifat padat karya sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar, mampu membangun
22 Hak Pengusahaan Hutan adalah hak untuk mengusahakan hutan di dalam suatu kawasan hutan yang meliputi kegiatan-kegiatan penebangan kayu, permudaan dan pemeliharaan hutan, pengolahan dan pemasaran hasil hutan sesuai dengan Rencana Karya Pengusahaan Hutan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku serta berdasarkan azas kelestarian hutan dan azas perusahaan.
pusat-pusat pertumbuhan di daerah terpencil, membuka keterisoliran daerah pedalaman, dan menggunakan hampir seluruh bahan baku dari dalam negeri.
Dengan berbagai kontribusi di atas tak pelak sektor kehutanan memegang peran yang sangat penting dan strategis. Keberadaan dan peran sektor kehutanan tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan nasional. Selama hampir empat dasa warsa sejak dimulainya program pembangunan di era Orde Baru pada awal dekade tahun 1970, kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi upaya terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam perspektif sosial ekonomi, sektor kehutanan setiap tahun rata-rata menghasilkan devisa tak kurang dari US$ 7–8 milyar23 dengan nilai investasi keseluruhan mencapai US $ 27,7 milyar. Sektor kehutanan juga menyumbangkan pendapatan negara yang berasal dari rente ekonomi pengusahaan hutan berupa pajak maupun pungutan non pajak24. Selain itu, melalui dunia usahanya sektor kehutanan juga mampu menyerap tenaga kerja langsung maupun tak langsung sebanyak 4 juta orang dengan multiplier effect sebesar 16–20 juta orang25. Berbagai peran dan kontribusi sektor kehutanan di atas semakin substansial karena karakteristik dunia usahanya mampu menciptakan pusat-pusat pengembangan dan pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah terpencil di pedalaman. Sehingga dalam perspektif sosial budaya, kondisi tersebut sangat berdampak terhadap keberhasilan proses integrasi sosial kultural atas kemajemukan beragam komunitas di berbagai wilayah Indonesia.
23 Nilai tersebut merupakan sumbangan devisa kedua terbesar dari sektor non migas setelah tekstil dan produk tekstil (TPT), meskipun secara substansial devisa sektor kehutanan bersifat netto karena hampir semua komponennya bersifat lokal (local content).
24 Tercatat terdapat 13 item pungutan rente ekonomi yang secara keseluruhan mencapai 40 % – 45 % atau sekitar US$ 36 dari total biaya produksi setiap meter kubik kayu bulat.
25 Dengan kondisi demografi Indonesia yang kini menduduki urutan keempat terbesar di dunia, maka faktor penciptaan peluang usaha sekaligus penyerapan tenaga kerja akan sangat berpengaruh terhadap stabilitas sosial, politik dan keamanan.
Namun kondisional tersebut pada akhirnya dewasa ini telah berubah menjadi sebuah anti klimaks. Dengan semakin menurunnya kuantitas dan kualitas hutan alam produksi, maka kelangsungan dan keberlanjutan kegiatan pegusahaan hutan juga mengalami ancaman serius. Aktivitas HPH yang kegiatannya berbasis pada pembalakan hutan alam produksi dari hari ke hari semakin menurun, baik dalam konteks jumlah manajemen unit HPH, luasan konsesinya maupun produksi kayu bulat yang dihasilkan. Sebagai ilustrasi, dalam
KOTAK 1.3.
KERUSAKAN HUTAN :
LAMPU MERAH PENGUSAHAAN HUTAN INDONESIA
Hari ini pengusahaan hutan Indonesia berada dalam sebuah kondisi antiklimaks. Setelah hampir tiga dekade berperan penting sebagai salah satu tulang punggung sektor usaha negara melalui kontribusi devisa, pendapatan negara maupun penyerapan tenaga kerja.
Namun, dalam perjalanannya peran tersebut berangsur-angsur semakin berkurang. Gegap gempita sektor kehutanan mulai menghilang bersamaan dengan semakin habisnya sumber daya hutan. Tak pelak, kerusakan hutan telah menyebabkan lahirnya situasi lampu merah bagi pengusahaan hutan di Indonesia.
Tengok fakta berikut. Aktivitas HPH yang kegiatannya berbasis pada pembalakan hutan alam produksi tersebut dari hari ke hari semakin menurun, baik dalam konteks jumlah manajemen unit HPH, luasan konsesinya, maupun produksi kayu bulat yang dihasilkan.
Sebagai ilustrasi, dalam satu dekade terakhir, sejak tahun 1997, jumlah HPH di Indonesia mencapai 450 unit dengan luas areal konsesi mencapai 52.813.041 hektar. Total kayu bulat dari berbagai jenis yang dapat diproduksi pada saat itu mencapai 23.950.247 meter kubik. Sementara pada tahun 2000, jumlah HPH di Indonesia mengalami penurunan menjadi 407 atau turun sekitar 9.56 % dengan luas areal konsesi mencapai 37.471.714.
hektar atau mengalami penurunan sebesar 29,05 %. Sedangkan total produksi kayu bulat pada tahun tersebut hanya mencapai 13.059.808 meter kubik atau hanya sekitar 54,53 % dari total produksi semula. Bahkan, pada tahun 2003, kondisi pengusahaan hutan semakin memburuk, yang tercermin dari jumlah HPH yang masih bertahan hanya mencapai 270 unit manajemen atau hanya sekitar 66,34 % dari jumlah semula, luasan areal konsesi 28.085.864 hektar atau hanya sekitar 74,95 dari luasan semula serta produksi kayu bulatnya mencapai 6,7 juta meter kubik atau menurun 48,69 %.
Selain dari konteks kuantitas manajemen unit HPH yang terus menurun, terancamnya kelangsungan kegiatan pengusahaan hutan sektor hulu juga tercermin dari konfigurasi tingkat kerusakan hutan alam tropis Indonesia, yang didominasi oleh besarnya kerusakan hutan di dalam kawasan hutan produksi. Mengacu pada data Badan Planologi, Departemen Kehutanan, tahun 2000, konfigurasi kondisi hutan tropis telah mengalami perubahan. Dewasa ini luasan luasan hutan rusak di luar kawasan hutan mencapai 42,11 juta hektar. Sementara luasan hutan rusak di dalam kawasan hutan mencapai 59,62 juta hektar atau sekitar 54,52 %. Konfigurasi luasan kerusakan hutan di dalam kawasan hutan terdiri dari 44,42 juta hektar atau 74,51 % kerusakan hutan berada di kawasan hutan produksi, sementara kerusakan hutan di kawasan hutan lindung seluas 10,52 juta hektar atau 17, 64 % dan kerusakan di kawasan hutan konservasi tak lebih dari 4,69 juta hektar atau 7,87 %.
Ancaman kelangsungan sektor kehutanan di atas sungguh sangat ironis, karena hutan adalah sumber daya alam yang dapat terbaharui.
Sumber : Berbagai literatur yang diolah
satu dekade terakhir, sejak tahun 1997, jumlah HPH di Indonesia mencapai 450 unit dengan luas areal konsesi mencapai 52.813.041 hektar. Total kayu bulat dari berbagai jenis yang dapat diproduksi pada saat itu mencapai 23.950.247 meter kubik26 Sementara pada tahun 2000, jumlah HPH di Indonesia telah mengalami penurunan menjadi 407 atau menurun sekitar 9.56 % dengan luas areal konsesi mencapai 37.471.714. hektar atau mengalami penurunan sebesar 29,05 %.
Sedangkan total produksi kayu bulat pada tahun tersebut hanya mencapai 13.059.808 meter kubik atau hanya sekitar 54,53 % dari total produksi semula.27 Bahkan, pada tahun 2003, kondisi pengusahaan hutan semakin memburuk, yang tercermin dari jumlah HPH yang masih bertahan hanya mencapai 270 unit manajemen atau hanya sekitar 66,34 % dari jumlah semula, luasan areal konsesi 28.085.864 hektar atau hanya sekitar 74,95 % dari luasan semula serta produksi kayu bulatnya mencapai 6,7 juta meter kubik atau menurun 48,69 %.28
Grafik 1.3. Dinamika Kondisional HPH
Berdasar Jumlah, Luas Areal Konsesi dan Produksi Kayu Bulat
450 52813041
23950247
407 37471714
13059808 270 28885864
6700000
0 10000000 20000000 30000000 40000000 50000000 60000000
1997 2000 2003
Jml HPH Luas Produksi
Sumber: Baplan, Dephut 2003.
Selain dari konteks kuantitas manajemen unit HPH yang terus menurun, terancamnya kelangsungan kegiatan pengusahaan hutan sektor hulu juga tercermin dari konfigurasi tingkat kerusakan hutan alam tropis Indonesia, yang
26 Anonimous. 1997. Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan. Badan Pusat Statistik.
Jakarta. Indonesia.
27 Anonimous. 2000. Statistik Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan. Badan Pusat Statistik.
Jakarta. Indonesia.
28 Anonimous. 2003. Rangkuman Data Strategis Kehutanan 2003. Departemen Kehutanan.
Jakarta.
didominasi oleh besarnya kerusakan hutan di dalam kawasan hutan produksi.
Mengacu pada data Badan Planologi, Departemen Kehutanan, tahun 2000, konfigurasi kondisi hutan tropis telah mengalami perubahan. Dewasa ini luasan hutan rusak di luar kawasan hutan mencapai 42,11 juta hektar. Sementara luasan hutan rusak di dalam kawasan hutan mencapai 59,62 juta hektar atau sekitar 54,52 %.29 Konfigurasi luasan kerusakan hutan di dalam kawasan hutan terdiri dari 44,42 juta hektar atau 74,49 % kerusakan hutan berada di kawasan hutan produksi, sementara kerusakan hutan di kawasan hutan lindung seluas 10,52 juta hektar atau 17, 64 % dan kerusakan di kawasan hutan konservasi tak lebih dari 4,69 juta hektar atau 7,87 %30.
Grafik 1.4. Prosentase Luas Kerusakan Hutan Tropis Indonesia di Dalam Kawasan Hutan, Tahun 2000
HP 74.49%
HL 17.64%
HK 7.87%
Sumber: Baplan, Dephut 2000
Bagaimanapun, kendala dan hambatan yang dihadapi setiap unit manajemen HPH dari hari ke hari kian besar. Secara teknis kehutanan, dari sisi sumber daya hutan luasan hutan alam produksi primer yang dapat dibalak menggunakan sistem silvikultur TPTI semakin terbatas besarnya. Demikian pula dengan potensi tegakannya yang semakin berkurang. Padahal hampir seluruh manajemen unit HPH kegiatannya berbasiskan pada sistem silvikultur TPTI dengan sumber ekstraksi utama adalah kawasan hutan alam produksi primer.
Bila melihat konfigurasi luas hutan primer, jumlah HPH, dan produksi kayu bulat yang dihasilkan dari kegiatan pembalakannya, maka sesungguhnya tebangan hutan alam saat ini memang sudah sangat terbatas. Justru sebagian
29 Iskandar & Nugraha. 2004. Politik Pengelolaan Sumber Daya Hutan. Issue dan Agenda Mendesak. Wana Aksara. Banten.
30 Surat Forum Pemerhati Kehutanan (FPK) kepada Presiden RI Megawati Soekarno Putri tentang
“Potensi dan Kontribusi Sub Sektor Kehutanan dalam Pembangunan Nasional”, Jakarta, 10 Nopember 2003.
besar unit manajemen HPH, terutama Izin Usaha Pemanfaatan hasil Hutan kayu (IUPHHK) pembaharuan banyak di antara kawasan konsesinya didominasi oleh kawasan hutan sekunder atau kawasan bekas tebangan (Logged Over Area atau LOA). Apalagi izin HPH 100 hektar yang diterbitkan oleh Bupati. Kegiatan pembalakannya sama sekali tidak memiliki landasan sistem silvikultur. Kalaupun ada, acuan yang menjadi dasar penerapan sistem silvikulturnya tidak jelas karena kegiatan usahanya bersifat jangka pendek. Banyak di antara izin-izin konsesi 100 hektar tersebut semata-mata hanya merupakan kegiatan pembalakan. Tidak ada proses pengelolaan permudaan, apalagi kegiatan penanaman kembali.
Atas dasar realitas yang berkembang di atas, pertanyaan kritis yang mengemuka terhadap praktek pengelolaan hutan alam produksi adalah Apakah sistem silvikultur TPTI telah gagal dalam mewujudkan konsep dan tujuannya.
Utamanya melestarikan fungsi ekonomi pengusahaan hutan yang tercermin dari tercapainya optimalisasi pertumbuhan permudaan sebagai tegakan komersial pada siklus tebang berikutnya. Tentu jawabannya tidaklah mudah, apalagi sederhana. Ketidakmampuan setiap unit manajemen HPH dalam menerapkan sistem silvikultur sebagai landasan utama aktivitas pengusahaan hutan tidak semata-mata disebabkan faktor-faktor yang bersifat teknis semata. Justru, faktor- faktor non teknis adakalanya lebih dominan dalam mempengaruhi kinerja penerapan sistem silvikultur TPTI.
Namun berdasar realitas yang berkembang dewasa ini, sangat diperlukan sebuah dialektika tentang upaya penyelamatan kehutanan sektor hulu. Selama ini, saran dan rekomendasi yang bersifat solutif lebih banyak bersifat non teknis karena masalah teknis dianggap bukan lagi menjadi kendala mengingat kapasitas dan kompetensi rimbawan Indonesia yang relatif telah mumpuni. Padahal, dengan melihat realitas persoalan pengusahaan hutan secara teknis, sumber kekacauan sesungguhnya terletak dari pengabaian penerapan sistem silvikultur sebagai landasan pengelolaan hutan alam produksi. Karenanya, dewasa ini justru perlu diupayakan sebuah rekomendasi yang bersifat teknis, yang berkaitan dengan upaya “revisi” terhadap sistem silvikultur yang telah ada. Terdapat tiga kemungkinan, (1) apakah sistem silvikultur yang ada masih layak dipertahankan, (2) apakah sistem yang sudah ada tetap dipertahankan dengan berbagai penyempurnaan, ataukah sebaliknya (3) perlu dilakukan perubahan total terhadap sistem silvikultur yang telah ada, diganti sistem silvikutur baru yang akan lebih
mampu mengakomodir kondisi pengusahaan hutan alam di Indonesia sesuai dengan perkembangan dan perubahan yang bersifat multidimensi. Sebuah sistem yang tidak hanya sebatas dalam konteks percepatan permudaan dan penanaman areal bekas tebangan, namun juga harus mampu mengakomodir faktor-faktor ekologi dan sosial ekonomi lainnya, seperti kondisi keanekaragaman hutan alam, potensi konflik kawasan, ancaman perambahan, peluang penyerapan tenaga kerja, akses dan kemudahan pengawasan maupun berbagai aspek lain yang lebih luas.**********