2. LANDASAN TEORI
2.1. Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan adalah suatu pembangunan yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi hak generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan sumber daya (The Brundtland Report, CIB-Agenda 21,1999:35), sedangkan berdasarkan undang-undang nomor 32 tahun 2009 pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Hal ini berarti semua pemanfaatan sumber daya harus dilakukan secara terpadu untuk dapat memenuhi kebutuhan generasi masa kini dan mendatang. Prinsip dari pembangunan berkelanjutan adalah untuk mencapai keharmonisan dan keseimbangan antara manusia dan alam.
Sejarah dari sustainable development dimulai dari dikeluarkannya World Conservation Strategy oleh International Union For Conservation of Nature and Natural Resources dengan sasaran mendukung pembangunan berkelanjutan melalui perlindungan terhadap sumber daya alam. Pada tahun 1987 World Commission on Environment and Development mengeluarkan sebuah laporan berjudul Our Common Future dimana kali pertama dicetuskan konsep pembangunan berkelanjutan, selanjutnya pada tahun 1992 bertempat di Rio de Janiero Perserikatan Bangsa Bangsa mengadakan United Nations Conference on Environtment and Deveploment atau yang lebih dikenal dengan nama KTT Bumi atau Earth Summit yang dihadiri oleh delegasi dari 179 negara termasuk Indonesia. Pertemuan itu menghasilkan keputusan bahwa Agenda 21 menjadi sebuah gerakan global untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan oleh karena itu setiap negara diharapkan membuat Agenda 21 nasional yang menyesuaikan dengan kondisi di negara itu sendiri.
Proyek konstruksi banyak menggunakan material alam dan energi dapat memberikan dampak negatif bagi lingkungan pada saat ini dan juga di masa yang
akan datang. Cara yang dapat dilakukan dalam pembangunan berkelanjutan untuk dapat mengurangi dampak lingkungan dan tingkat penggunaan energi adalah dengan menggunankan konsep reduce, refurbish, reuse dan recycle. Sustainable construction menggabungkan antara paradigma lama yaitu mengenai biaya, mutu, dan waktu ke dalam paradigma baru (Gambar 2.1). Paradigma baru ini bertujuan untuk kepuasan manusia, minimalisasi pengaruh buruk terhadap lingkungan, dan minimalisasi konsumsi energi (Augenbroe, 1998).
Gambar 2.1. Konsep Konstruksi Berkelanjutan (Augenbroe, 1998)
2.2. Peraturan Pemerintah tentang Pembangunan Berkelanjutan
Pemerintah sangat menyadari pentingnya pembangunan berkelanjutan. Hal ini dapat dilihat dari keluarnya tiga buah produk hukum yang berkaitan dengan lingkungan diantaranya:
1. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung yang dijabarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
2. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Penyelenggaraan Lingkungan Hidup
3. Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 38 Tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau
Dalam undang-undang nomor 28 tahun 2002 tentang bangunan gedung, pada pasal 2 pemerintah telah mensyaratkan bahwa penyelenggaraan bangunan gedung harus berlandaskan atas manfaat, keselamatan, keseimbangan, serta keserasian bangunan gedung dengan lingkungannya. Pasal 11 undang-undang tersebut menyebutkan bahwa sebuah bangunan tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan, fungsi lindung kawasan, atau fungsi prasarana dan sarana umum. Di samping itu, bangunan yang menimbulkan dampak penting bagi lingkungan juga sudah harus memenuhi persyaratan pengendalian dampak lingkungan.
Pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung juga disebutkan pada pasal 15 ayat 2 bahwa bangunan yang menimbulkan dampak penting bagi lingkungan harus mendapat pertimbangan teknis dari tim ahli bangunan gedung dan dengan mempertimbangkan pendapat publik. Pasal 21 sampai dengan 25 undang-undang nomor 28 tahun 2002 tentang bangunan gedung juga menjelaskan mengenai persyaratan kesehatan bangunan gedung yang meliputi sistem penghawaan, pencahayaan, sanitasi, dan penggunaan bahan bangunan gedung yang mana tidak boleh menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Pasal 42 undang-undang tersebut juga menjamin peran serta masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan pertimbangan kepada instansi yang berwenang terhadap kegiatan penyelenggaraan yang menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan.
PP Nomor 36 Tahun 2005 juga telah mengakomodasi konsep bangunan hijau, seperti yang tertuang dalam pasal 47 dimana setiap bangunan gedung harus menggunakan bahan bangunan yang aman bagi kesehatan pengguna bangunan gedung dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Yang dimaksud dengan tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan adalah : a. Menghindari timbulnya efek silau dan pantulan bagi pengguna bangunan
gedung lain, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya;
b. Menghindari timbulnya efek peningkatan suhu lingkungan di sekitarnya;
c. Mempertimbangkan prinsip-prinsip konservasi energi, dan d. Mewujudkan bangunan gedung yang serasi dan selaras dengan
lingkungannya.
Pemanfaatan dan penggunaan bahan bangunan lokal juga harus sesuai dengan kebutuhan dan memperhatikan kelestarian lingkungan. Dalam hal pengondisian udara, pasal 50 PP ini juga menginstruksikan agar mempertimbangkan prinsip- prinsip penghematan energi dan kelestarian lingkungan.
Pemerintah DKI Jakarta telah dengan detil mengatur tentang bangunan hijau dengan diterbitkannya Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2012 tentang bangunan gedung hijau. Peraturan mengenai bangunan hijau ini diwajibkan bagi bangunan pelayanan pendidikan yang >10.000 m2, bangunan gedung perhotelan dan pelayanan kesehatan yang >20.000 m2, dan bangunan hunian gedung rumah susun, gedung perkantoran, dan perdagangan yang >50.000 m2. Persyaratan teknis bangunan gedung hijau untuk bangunan gedung baru meliputi:
a. efisiensi energi;
b. efisiensi air;
c. kualitas udara dalam ruang;
d. pengelolaan lahan dan Iimbah; dan e. pelaksanaan kegiatan konstruksi.
Kriteria efisiensi energi meliputi:
a. sistem selubung bangunan;
b. sistem ventilasi;
c. sistem pengkondisian udara;
d. sistem pencahayaan;
e. sistem transportasi dalam gedung; dan f. sistem kelistrikan.
Untuk efisiensi air meliputi perencanaan peralatan saniter hemat air dan perencanaan pemakaian air. Refrigeran tata udara yang digunakan juga harus mengandung material yang aman dan tidak berbahaya bagi penghuni dan lingkungan dan tidak boleh mengandung Chloro Fluoro Carbon (CFC).
Peraturan gubernur ini juga telah mengacu pada beberapa Standar Nasional Indonesia (SNI). yaitu:
a. Perencanaan mengenai OTTV mengacu pada SNI 03-6389 tentang Konservasi Energi Selubung Bangunan pada Bangunan Gedung.
b. Perencanaan ventilasi mekanis dan pengondisian udara mengacu pada versi terakhir dari SNI 03-6572 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung.
c. Perencanaan sistem ventilasi mekanis dan sistem pengkondisian udara mengacu pada versi terakhir dari SNI 03-6390 tentang Konservasi Energi Sistem Tata Udara pada Bangunan Gedung.
d. Perencanaan sistem pencahayaan alami mengacu pada versi terakhir dari SNI 03-2396 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Alami pada Bangunan Gedung.
e. Perencanaan sistem pencahayaan buatan mengacu pada versi terakhir dari SNI 03-6197 tentang Konservasi Energi Sistem Pencahayaan Buatan pada Bangunan Gedung.
f. Perencanaan sistem transportasi dalam gedung dan perhitungan terhadap beban dan waktu penggunaan mengacu pada versi terakhir dari SNI 03-6573 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Transportasi Vertikal dalam Gedung.
g. Peralatan sanitasi yang hemat air dan Perencanaan pemakaian air mengacu pada versi terakhir dan SNI 03-6481 tentang Sistem Plumbing.
Pergub ini juga mengatur mengenai persyaratan pelaksanaan kegiatan konstruksi yang mana harus memerhatikan:
a. Keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan;
b. Konservasi air pada saat pelaksanaan kegiatan konstruksi (water conservation management); dan
c. Pengelolaan limbah B3 kegiatan konstruksi.
2.3. Konsep Green Building
Pembangunan dapat menyebabkan masalah bagi lingkungan sekitar, kesehatan, dan masalah ekonomi. Konsep bangunan hijau dapat diintegrasikan pada semua tahap pembangunan baik pada saat desain, konstruksi, renovasi hingga dekonstruksi, namun akan lebih baik jika konsep bangunan hijau ini dilakukan mulai dari awal dimulainya proyek konstruksi yaitu mulai dari fase konsep dan desain.
Bangunan hijau adalah bangunan dimana di dalam perencanaan, pembangunan, pengoperasian serta dalam pemeliharaannya memperhatikan aspek – aspek dalam melindungi, menghemat , mengurangi pengunaan sumber daya alam, menjaga mutu baik bangunan maupun mutu dari kwalitas udara di dalam ruangan, dan memperhatikan kesehatan penghuninya yang semuanya berdasarkan kaidah pembangunan berkelanjutan (Green Building Council Indonesia, 2012)
Brenda dan Robert Vale (1996) menyebutkan bahwa terdapat terdapat empat elemen yang perlu dipertimbangkan dalam green building, yaitu: (1) Material, (2) Energi, (3) Air, dan (4) Faktor Kesehatan.
1. Material
Material yang berasal dari alam diharapkan merupakan material yang dapat diperbarui dan merupakan material lokal yang sedapat mungkin diperoleh dekat dengan lokasi proyek. Penggunaan material hijau yang memiliki Life Cycle Analysis seperti energi yang dihasilkan, daya tahan material, minimalisasi limbah, dan dapat untuk digunakan kembali atau didaur ulang merupakan sesuatu nilai tambah.
2. Energi
Dalam bangunan hijau konsumsi energi diharapkan dapat seminimal mungkin sehingga dibutuhkan perencanaan dalam sistem tata udara dan tata cahaya.
Perencanaan dalam pengaturan sirkulasi udara yang optimal diharapkan dapat mengurangi beban konsumsi energi AC. Cahaya matahari juga harus dioptimalkan sebagai sumber penerangan pada siang hari. Bangunan hijau hendaknya memiliki sumber energi alternatif sebagai sumber penghasil listrik terbarukan yang dapat berupa panel surya ataupun turbin angin.
3. Air
Penggunaan air diharapkan seminimal mungkin. Selain itu diharapkan tiap bangunan dapat memiliki sewage treatment plant sendiri sehingga sisa air yang digunakan dapat diolah sehingga bisa digunakan kembali sebagai contoh untuk tangki toilet, penyiram tanaman, dll. Pemilihan jenis sanitair juga harus diperhatikan dengan menggunakan sanitair yang hemat air seperti penggunaan kran otomatis dan juga low-flush toilet.
4. Faktor Kesehatan
Pemilihan material non-toxic akan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, sehingga dapat mengurangi tingkat alergi dan sick building syndrome.
Kualitas udara dalam ruangan juga harus didukung menggunakan sistem ventilasi yang efektif dan alat-alat pengontrol kelembaban yang memungkinkan sirkulasi udara dalam bangunan.
Prinsip-prinsip green architecture (Vale,1996) : a. Hemat energi
b. Memperhatikan kondisi iklim
c. Meminimalkan penggunaan sumber daya
d. Tidak berdampak negatif bagi lingkungan sekitarnya e. Memperhatikan kesehatan dan kenyamanan
f. Menetapkan seluruh prinsip-prinsip green architecture Bangunan hijau memiliki beberapa sifat yaitu:
a. Sustainable
Bangunan hijau tetap bertahan dan berfungsi seiring zaman, konsisten terhadap konsepnya yang menyatu dengan alam tanpa adanya perubahan- perubahan yang signifikan tanpa merusak alam sekitar.
b. Earthfriendly
Bangunan hijau harus ramah lingkungan dimana bangunan bukan hanya tidak merusak lingkungan melainkan juga menggunakan sumber energi dengan efisien.
c. High performance building
Bangunan hijau dapat mengintegrasikan semua atribut high performance building yang meliputi efisiensi energi, ketahanan bangunan, siklus hidup bangunan, dan produktivitas penggunaan bangunan.
Contoh dari pengaplikasian bangunan hijau adalah dengan menggunakan material lokal, material yang ramah lingkungan seperti material daur ulang dan dapat diperbarui, memanfaatkan sumber energi terbarukan seperti listrik yang dihasilkan dari panel surya dan turbin angin, menggunakan atap bangunan sebagai roof garden, dan menangkap air hujan sebagai sumber air alternatif dalam bangunan.
Menurut United States Environmental Protection Agency, keuntungan yang dapat diperoleh dalam pengaplikasian bangunan hijau dapat ditinjau dari 3 aspek, yaitu:
1. Aspek lingkungan
a. Melindungi lingkungan sekitar b. Meningkatkan kualitas udara dan air c. Mengurangi limbah
d. Melindungi sumber daya alam 2. Aspek ekonomi
a. Mengurangi biaya operasional
b. Membuka pasar baru bagi produk ramah lingkungan c. Meningkatkan produktivitas
d. Mempercepat pencapaian break event point 3. Aspek sosial
a. Meningkatkan kenyamanan dan kesehatan b. Meningkatkan estetika
c. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat luas
Suatu bangunan dapat disebut sudah menerapkan konsep bangunan hijau apabila berhasil melalui suatu proses evaluasi untuk mendapatkan sertifikasi bangunan hijau. Di dalam evaluasi tersebut tolok ukur penilaian yang dipakai adalah Sistem Rating.
2.4. Greenship Indonesia
Green Building Council Indonesia (GBCI) adalah lembaga independen dan nirlaba yang menyelenggarakan kegiatan sertifikasi bangunan hijau di Indonesia berdasarkan sistem penilaian yang disebut Greenship Rating Tools. Penilaian greenship rating tools menggunakan sistem rating yang juga digunakan oleh beberapa negara yang terlebih dahulu mengikuti gerakan bangunan hijau.
Sistem Rating adalah suatu alat yang terdiri dari butir-butir dari aspek yang dinilai yang disebut rating dan setiap butir rating mempunyai nilai. Apabila suatu bangunan berhasil melaksanakan butir rating tersebut, maka mendapatkan nilai dari butir tersebut. Kalau jumlah semua nilai yang berhasil dikumpulkan
bangunan tersebut dalam melaksanakan sistem rating tersebut mencapai suatu jumlah yang ditentukan, maka bangunan tersebut dapat disertifikasi pada tingkat sertifikasi tertentu.
Sebelum melalui proses sertifikasi, proyek harus memenuhi kelayakan yang ditetapkan oleh GBC Indonesia, yaitu:
1. Minimum luas gedung adalah 2500 m2
2. Fungsi gedung sesuai dengan peruntukan lahan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah / Kota setempat
3. Kepemilikan rencana Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) / Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)
4. Menyesuaikan gedung terhadap standar ketahanan gempa
5. Kesesuaian gedung terhadap standar keselamatan untuk kebakaran 6. Kesesuaian gedung terhadar standar aksesibilitas penyandang cacat 7. Kesediaan data gedung untuk diakses GBCI terkait proses sertifikasi Greenship rating tools memiliki 6 kategori utama, yaitu:
1. Pengembangan lahan tepat guna (Appropriate Site Development) 2. Konsevasi dan efisiensi energi (Energy Efficiency and Conservation) 3. Konservasi air (Water Conservation)
4. Penggunaaan dan pemilihan material (Material Resources and Cycle) 5. Kenyamanan dan kesehatan dalam ruang (Indoor Health and Comfort) 6. Manajemen lingkungan gedung (Building Environment Management) Pada masing-masing kategori tersebut terdapat beberapa parameter untuk diimplementasikan atau menjadi acuan dalam mengembangkan pembangunan berkelanjutan. Parameter penilaian greenship dibagi menjadi 3 yaitu kriteria prasyarat, kriteria kredit, dan kriteria bonus. Kriteria prasyarat adalah kriteria yang ada di setiap kategori dan harus dipenuhi sebelum dilakukannya penilaian lebih lanjut berdasarkan kriteria kredit dan kriteria bonus. Kriteria Prasyarat ini tidak memiliki nilai seperti kriteria lain karena kriteria ini merupakan syarat penilaian kriteria kredit dan kriteria bonus. Apabila salah satu prasayarat tidak dipenuhi, maka kriteria kredit dan kriteria bonus dalam kategori yang sama dari gedung tersebut tidak dapat dinilai.
Kriteria kredit adalah kriteria yang ada di setiap kategori dan tidak harus dipenuhi. Pemenuhan kriteria ini tentunya disesuaikan dengan kemampuan gedung tersebut. Bila kriteria ini dipenuhi, gedung yang bersangkutan mendapat nilai dan apabila tidak dipenuhi, gedung yang bersangkutan tidak akan mendapat nilai. Kriteria berikutnya adalah kriteria bonus yaitu kriteria yang hanya ada pada kategori tertentu yang memungkinkan pemberian nilai tambahan. Kriteria ini tidak harus dipenuhi karena pencapaiannya dinilai cukup sulit dan jarang terjadi di lapangan, sebagai contoh kewajiban untuk memenuhi sumber daya listrik suatu bangunan dari sumber daya terbarukan seperti turbin angin dan panel surya. Oleh karena itu, gedung yang dapat memenuhi kriteria bonus dinilai memiliki prestasi tersendiri. Total penilaian kriteria prasyarat, kredit, dan bonus dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Kriteria Sistem Penilaian Pada Greenship Rating Tools
Kategori Prasyarat
Prasyarat Kredit Bonus Total ASD Appropriate Site Development 1 7 - 8 EEC Energy Efficiency and Conservation 2 4 1 7
WAC Water Conservation 2 6 - 8
MRC Material Resources and Cycle 1 6 - 7 IHC Indoor Health and Comfort 1 7 - 8 BEM Building Environment Management 1 7 - 8
Jumlah Total Kriteria 1 46
Tahap penilaian greenship terdiri dari 2 bagian yaitu:
1. Design Recognition (DR)
Penilaian greenship pada tahap design recognition terdiri dari:
Platinum : Minimum persentase 73% dengan 56 poin Gold : Minimum persentase 57% dengan 43 poin Silver : Minimum persentase 46% dengan 35 poin Bronze : Minimum persentase 35% dengan 27 poin 2. Final Assesment (FA)
Penilaian greenship pada tahap final assesment terdiri dari:
Platinum : Minimum persentase 73% dengan 74 poin
Gold : Minimum persentase 57% dengan 58 poin Silver : Minimum persentase 46% dengan 47 poin Bronze : Minimum persentase 35% dengan 35 poin
2.5. Waktu Pelaksanaan Proyek Konstruksi
PMBOK (Project Management Body Of Knowledge) menyatakan bahwa waktu merupakan salah satu hal pokok yang penting untuk diperhatikan dalam suatu manajemen proyek. Sebuah proyek konstruksi memerlukan rencana penjadwalan yang akan mengatur waktu pelaksanaan proyek. Tidak terpenuhinya jadwal yang telah dibuat dapat menyebabkan terjadinya keterlambatan pada proyek konstruksi.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Kaming pada tahun 1997 diketahui ada beberapa faktor yang mempengaruhi waktu pelaksanaan proyek konstruksi yaitu:
a. Kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi b. Estimasi material yang tidak akurat
c. Prediksi yang tidak akurat untuk hasil pekerjaan d. Prediksi yang tidak akurat untuk produktifitas alat e. Tidak cukupnya material
f. Tidak cukupnya alat g. Kurangnya keahlian kerja
h. Lokasi proyek yang susah dijangkau i. Perencanaan yang kurang baik j. Rendahnya produktifitas pekerja k. Perubahan desain
Penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Widhiawati (2009) menyebutkan bahwa faktor tenaga kerja merupakan faktor utama yang menyebabkan keterlambatan dimana faktor yang paling mempengaruhi adalah faktor keahlian tenaga kerja. Hal ini diperjelas oleh Choi (2009) bahwa kurangnya pengetahuan dan sumber daya manusia mengenai green buiding akan memperpanjang durasi pengerjaan proyek. Hambatan dalam konsep green building juga ditemui pada pemilihan konsultan perencana, kontraktor, dan pemilihan material sehingga dapat menambah waktu pengerjaan proyek.
Sebuah proyek konstruksi terdiri dari beberapa fase untuk memudahkan kontrol dan juga untuk mengetahui hubungan antara aktivitas pada sebuah proyek.
Fase-fase yang disebut project life cycle ini terdiri dari (Barrie & Paulson,1992):
(1) Konsep, (2) Desain, (3) Procurement, (4) Konstruksi, dan (5) Serah Terima (Gambar 2.2).
1. Konsep
Fase ini merupakan tahap awal kegiatan proyek. Pada fase ini dilakukan identifikasi dan penyelesaian masalah yang akan timbul dari suatu proyek.
Fase konsep ini meliputi studi kelayakan secara ekonomi, analisa resiko dan juga analisa dampak lingkungan.
2. Desain
Fase ini terdiri dari dua bagian yaitu perencanaan preliminary dan detil desain. Pada perencanaan preliminary kriteria dari sebuah proyek berupa konsep bangunan dan penataan lahan telah ditentukan. Pada fase detail desain dilakukan perencanaan proyek yang lebih detil sehingga dapat menghasilkan sebuah gambar konstruksi. Dokumen detail desain akan disusun secara terperinci sebagai dasar dari proses procurement dan panduan pelaksanaan.
3. Procurement
Procurement atau pengadaan ini terdiri dari dua bagian yaitu pemilihan dan penunjukan kontraktor, dan pemilihan material dan peralatan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan. Proses procurement ini dapat segera dilakukan setelah fase desain selesai menghasilkan spesifikasi dan gambar kerja yang lengkap kecuali bila kontrak berjenis design and build, maka fase desain dan procurement ini dapat berjalan beriringan.
4. Konstruksi
Setelah desain selesai dan telah dilakukan penentuan kontraktor, maka selanjutnya proyek memasuki fase konstruksi. Pada saat kegiatan pelaksanaan ini berlangsung diperlukan pula beberapa proses manajemen untuk memantau dan mengontrol penyelesaian proyek.
5. Serah Terima
Tahap ini merupakan akhir dari aktivitas proyek dimana proyek telah diselesaikan dan dilakukan testing and commissioning pada fungsi-fungsi
bangunan. Bila bangunan tersebut telah memenuhi maka dilakukan serah terima kepada pemilik.
Project life cycle sangat berguna untuk mengetahui awal dan berakhirnya suatu proyek. Setiap fase dari proyek selalu menghasilkan suatu produk yang telah disetujui yang akan digunakan sebagai awal dari fase berikutnya. Sebagai contoh hasil dari fase desain menghasilkan sebuah gambar kerja yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pada fase konstruksi.
• Feasibility Keuangan
• Analisa Konsep &
Teknis
• Analisa Dampak Lingkungan
• Konsep Bangunan
• Penataan Lahan
• Gambar Konstruksi
• Pemilihan &
Penunjukan Kontraktor
• Penentuan Material &
Peralatan Kerja
• Pelaksanaan
• Struktur
• Arsitektur
• Mekanikal &
Elektikal
• Testing &
Commissioning Serah Terima Procurement
Konsep Desain Konstruksi
• Serah Terima
Gambar 2.2. Project Life Cycle