1
PT BANK MANDIRI (Persero) Tbk.
INDIKASI STRUKTUR OBLIGASI
Penerbit : PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (“Perseroan”)
Nama Instrumen : Obligasi Berkelanjutan II Bank Mandiri Tahap I Tahun 2020 Jumlah PUB : Rp20.000.000.000.000,- (dua puluh triliun Rupiah)
Nilai Penerbitan Tahap I : Sebanyak- banyaknya sebesar Rp1.000.000.000.000,- (satu triliun Rupiah) Rencana Penggunaan Dana :
Dana Hasil Penawaran Umum Obligasi ini setelah dikurangi biaya-biaya Emisi, seluruhnya akan dipergunakan Perseroan untuk ekspansi kredit dalam rangka pengembangan bisnis.
Tenor : • Seri A : 5 (lima) tahun
• Seri B : 7 (tujuh) tahun Kisaran Kupon : • Seri A : 7,50% - 8,60%
• Seri B : 8,30% - 9,40%
Hasil Rating : idAAA (Triple A, Stable Outlook) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Pembayaran Kupon : Triwulanan
Jaminan :
Obligasi ini tidak dijamin dengan agunan khusus namun dijamin dengan seluruh harta kekayaan Perseroan, baik barang bergerak maupun barang tidak bergerak, baik yang telah ada maupun yang akan ada di kemudian hari, sesuai pasal 1131 dan 1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Hak Pemegang Obligasi adalah pari passu tanpa preferen dengan hak-hak kreditur Perseroan lainnya yang mempunyai peringkat yang sama dengan pemegang Obligasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Penjamin Pelaksana Emisi :
• PT Mandiri Sekuritas (Terafiliasi) • PT Danareksa Sekuritas (Terafiliasi)
• PT BCA Sekuritas • PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk
• PT BNI Sekuritas (Terafiliasi)
Indikasi Jadwal :
Masa Penawaran Awal (bookbuilding) : 6 – 20 April 2020
Perkiraan Tanggal Efektif : 30 April 2020
Perkiraan Masa Penawaran Umum : 5 – 6 Mei 2020
Perkiraan Tanggal Penjatahan : 8 Mei 2020
Perkiraan Tanggal Pengembalian Uang Pemesanan : 12 Mei 2020 Perkiraan Tanggal Distribusi Obligasi Secara Elektronik : 12 Mei 2020 Perkiraan Tanggal Pencatatan di Bursa Efek Indonesia : 13 Mei 2020
SEKILAS MENGENAI PERSEROAN
RIWAYAT SINGKAT PERSEROAN
Perseroan berkedudukan di Jakarta Selatan, didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.75 Tahun 1998, tanggal 1 Oktober 1998, dan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas No.10, tanggal 2 Oktober 1998, sebagaimana dibuat di hadapan Sutjipto, SH, Notaris di Jakarta (”Akta Pendirian”). Akta Pendirian tersebut telah memperoleh persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia, berdasarkan Surat Keputusan No.C2- 16561.HT.01.01.TH.98, tanggal 2 Oktober 1998, didaftarkan di dalam Daftar Perusahaan di Kantor Pendaftaran Perusahaan Kodya Jakarta Selatan, No.3264/BH.09.03/X/98, tanggal 9 Oktober 1998, serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.97, tanggal 4 Desember 1998, Tambahan No.6859.
2 Berikut ini adalah struktur permodalan dan susunan pemegang saham Perseroan pada saat pendirian sebagaimana diuangkapkan dalam Akta Pendirian Perseroan:
Keterangan Nilai Nominal Rp1.000.000,- per saham
Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (Rp) (%)
Modal Dasar 16.000.000 16.000.000.000.000
Modal Ditempatkan dan Disetor
Negara Republik Indonesia 4.000.000 4.000.000.000.000 100
Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh 4.000.000 4.000.000.000.000 100
Jumlah Saham Dalam Portepel 12.000.000 12.000.000.000.000
Pendirian Perseroan dilakukan dengan cara penyetoran secara inbreng atas seluruh saham-saham milik Negara Republik Indonesia (kecuali masing-masing satu saham) dalam masing-masing PT Bank Bumi Daya (Persero), PT Bank Dagang Negara (Persero), PT Bank Ekspor Impor Indonesia (Persero) dan PT Bank Pembangunan Indonesia (Persero) (secara bersama-sama disebut “Bank Peserta Penggabungan”), serta penyetoran sejumlah uang tunai.
Berdasarkan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang dimuat dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No.98, tanggal 24 Juli 1999, dibuat di hadapan Sutjipto, SH, Notaris di Jakarta, antara lain menyetujui dan memutuskan untuk menggabungkan Bank Peserta Penggabungan ke dalam Perseroan, dimana Perseroan akan menjadi perusahaan hasil penggabungan usaha, dan sebagai akibatnya Bank Peserta Penggabungan bubar demi hukum tanpa terlebih dahulu dilakukan likuidasi. Penggabungan usaha tersebut dimuat dalam Akta Merger No.100, tanggal 24 Juli 1999, dibuat di hadapan Sutjipto, SH, Notaris di Jakarta, yang efektif pada tanggal 31 Juli 1999. Dalam rangka penggabungan usaha, akta penggabungan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No.C13.781.HT.01.04.TH.99, tanggal 29 Juli 1999 dan disetujui oleh Gubernur Bank Indonesia dengan Surat Keputusan No.1/9/KEP.GBI/1999 tanggal 29 Juli 1999.
Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir berdasarkan Berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan No.21, tanggal 11 April 2018, yang dibuat di hadapan Ashoya Ratam SH, Mkn, Notaris di Jakarta Selatan, telah dilakukan perubahan atas Pasal 12 ayat (7) dan (8) serta pernyataan kembali seluruh ketentuan Anggaran Dasar Perseroan. Perubahan tersebut telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang telah diterima dan dicatat berdasarkan Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar No.AHU-AH.01.03-0172245, tanggal 30 April 2018; dan terdaftar pada Daftar Perseroan yang dikelola oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia di bawah No.AHU- 0061310.AH.01.11.Tahun 2018, tanggal 30 April 2018. serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.20 tanggal 8 Maret 2019, Tambahan No.7462.
Anggaran Dasar Perseroan telah berlaku secara sah dan sesuai dengan ketentuan Undang-undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta telah memuat ketentuan pokok dari: (i) Peraturan No.IX.J.1 (ii) Peraturan OJK No.32/POJK.04/2014 dan (iii) Peraturan OJK No.33/POJK.04/2014.
3 STRUKTUR ORGANISASI
Berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa No.36, tanggal 24 Agustus 2017, dibuat di hadapan Ashoya Ratam, SH., MKn., Notaris di Jakarta, yang telah diberitahukan kepada Menkumham dan telah diterima dan dicatat berdasarkan Surat No.AHU-AH.01.03-0166888, tanggal 29 Agustus 2017, dan telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan No.AHU-0107350.AH.01.11.Tahun 2017, tanggal 29 Agustus 2017 dan Daftar Komposisi Pemilikan Saham per 29 Februari 2020 yang dikeluarkan oleh PT Datindo Entrycom selaku Biro Administrasi Efek Perseroan adalah sebagai berikut:
Keterangan
Nilai Nominal Rp250,- per saham Jumlah Saham Jumlah Nilai Nominal (%)
(Rp) Modal Dasar
• Saham Seri A Dwiwarna
• Saham Seri B
1 63.999.999.999
250 15.999.999.999.750
0,00 100,00
Jumlah Modal Dasar 64.000.000.000 16.000.000.000.000 100,00
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh:
Negara Republik Indonesia
• Saham Seri A Dwiwarna 1 250 0,00
• Saham Seri B 27.999.999.999 6.999.999.999.750 60,00
Masyarakat (masing-masing di bawah 5%)
• Saham Seri B 18.666.666.666 4.666.666.666.500 40,00
Jumlah Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh 46.666.666.666 11.666.666.666.500 100,00
Saham Seri B Dalam Portepel 17.333.333.334 4.333.333.333.500
4 PENGURUSAN DAN PENGAWASAN
Pada tanggal Prospektus diterbitkan, susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan adalah sebagaimana tercantum dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham No. Akta No.13 tanggal 16 Maret 2020, dibuat di hadapan Utiek R. Abdurachman, SH, MLI, MKn, Notaris di Jakarta, yang telah diberitahukan kepada Menkumham dan telah diterima dan dicatat berdasarkan Surat No.AHU-AH.01.03-0156230, tanggal 20 Maret 2020, dan telah didaftarkan dalam Daftar Perseroan No.AHU-0056961.AH.01.11.Tahun 2020, tanggal 20 Maret 2020 (“Akta No.13/2020”) , yaitu sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama/Komisaris Independen Wakil Komisaris Utama/Komisaris Independen Komisaris
Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris
: : : : : : :
Muhamad Chatib Basri*
Andrinof A. Chaniago*
Ardan Adiperdana Rionald Silaban Nawal Nely*
Arif Budimanta*
Faried Utomo*
Komisaris Independen : Boedi Armanto*
Komisaris Independen : Mohamad Nasir*
Komisaris Independen : Loeke Larasati Agoestina*
Dewan Direksi
Direktur Utama : Royke Tumilaar
Wakil Direktur Utama : Hery Gunardi*
Direktur Corporate Banking : Alexandra Askandar
Direktur Commercial Banking : Riduan
Direktur Treasury, International Banking and Special Asset Management
: Darmawan Junaidi
Direktur Bisnis dan Jaringan : Aquarius Rudianto*
Direktur Operation : Panji Irawan
Direktur Kepatuhan dan SDM : Agus Dwi Handaya
Direktur Hubungan Kelembagaan : Donsuwan Simatupang Direktur Manajemen Risiko : Ahmad Siddik Badrudin Direktur Information Technology : Rico Usthavia Frans Direktur Keuangan dan Strategi : Silvano Winston Rumantir*
Keterangan:
*berlaku efektif setelah lulus dalam uji kemampuan dan kepatutan (fit & proper test) OJK.
PROSPEK DAN KEGIATAN USAHA PERSEROAN
KEGIATAN USAHA
Sesuai dengan Anggaran Dasar, kegiatan usaha Perseroan adalah sebagai berikut:
1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu;
2. Memberikan kredit;
3. Menerbitkan surat pengakuan utang;
4. Membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya:
(a) surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud;
(b) surat pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya yang masa berlakunya tidak lebih lama dari kebiasaan dalam perdagangan surat-surat dimaksud;
5 (c) kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah;
(d) Sertifikat Bank Indonesia (SBI);
(e) obligasi;
(f) surat dagang berjangka waktu sesuai dengan peraturan perundangan;
(g) surat berharga lain yang berjangka waktu sesuai dengan peraturan perundangan;
5. Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah;
6. Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya;
7. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga;
8. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga;
9. Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak;
10. Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek;
11. Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat;
12. Menyediakan pembiayaan dan/atau melakukan kegiatan lain berdasarkan Prinsip Syariah*, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang;
13. Melakukan kegiatan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undanganan.
*dilakukan oleh Entitas Anak
Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud di atas, Perseroan dapat pula:
1. Melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang;
2. Melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau perusahaan lain di bidang keuangan, seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang;
3. Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang;
4. Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan dana pensiun;
5. Membeli agunan, baik semua maupun sebagian, melalui pelelangan atau dengan cara lain dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada Perseroan, dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan secepatnya.
Perseroan merupakan salah satu institusi keuangan terbesar di Indonesia yang menyediakan produk dan layanan jasa perbankan dan non-perbankan baik kepada badan usaha maupun perorangan.
Berdasarkan data per September 2019, Perseroan secara konsolidasi memiliki pangsa pasar aset sebesar 15,34%, pangsa pasar penyaluran kredit sebesar 15,09%, dan pangsa pasar simpanan sebesar 15,13% (sumber: Bank Mandiri konsolidasi dan Statistik Perbankan Indonesia OJK, diolah).
Segmen bisnis Perseroan difokuskan pada segmen Wholesale Banking yang terdiri dari unit bisnis Corporate Banking, Commercial Banking, Hubungan Kelembagaan, dan Treasury & International Banking serta segmen Retail Banking yang terdiri dari unit bisnis Credit Cards, Consumer Loans, Micro Banking, Small & Medium Enterprise Banking, dan Micro Development & Agent Banking. Adapun produk dan jasa utama Perseroan diantaranya, produk simpanan (giro, tabungan, deposito), produk pinjaman (kredit, kartu kredit), dan jasa lainnya (transaksi valuta asing dan surat berharga, layanan keagenan, remittance, trade service, cash management, bank garansi, e-channel, dan bancassurance).
6 Perkembangan bisnis Perseroan tidak terlepas dari dukungan infrastruktur bisnis yang dimiliki oleh Perseroan.
Sampai dengan 31 Desember 2019, Perseroan memiliki jaringan distribusi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, terdiri dari dari 12 Kantor Wilayah, 139 Kantor Cabang, 2.304 Kantor Cabang Pembantu, 140 Kantor Kas, 145 Payment Point, 59 Kas Mobile, dan 27 Kas Mobile Mikro serta 18.291 unit ATM (yang terdiri dari 18.277 ATM yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia dan 14 ATM di luar wilayah Indonesia), dengan dukungan SDM sebanyak 39.065 karyawan. Selain itu, Perseroan juga memiliki jaringan layanan di luar negeri yang terdiri dari 1 cabang di Cayman Islands, 1 cabang di Singapura, 1 cabang di Hong Kong, 1 cabang di Shanghai, dan 2 cabang di Timor Leste, serta 2 anak perusahaan yang berlokasi di London (Inggris) dan di Kuala Lumpur (Malaysia). Perseroan dimiliki secara mayoritas dan dikendalikan oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan porsi kepemilikan saham sebesar 60,00%.
Perseroan juga menyediakan produk dan jasa perbankan yang beragam, diantaranya, produk simpanan (giro, tabungan, deposito), produk pinjaman (kredit, kartu kredit), dan jasa lainnya (transaksi valuta asing dan surat berharga, layanan keagenan, remittance, trade service, cash management, bank garansi, e-channel, dan bancassurance).
Perseroan juga menyediakan layanan jasa keuangan syariah dan non-perbankan melalui beberapa perusahaan anaknya, yaitu layanan produk dan jasa investment banking & pasar modal melalui Mandiri Sekuritas, layanan asuransi jiwa melalui AXA Mandiri, layanan asuransi kesehatan melalui Mandiri Inhealth, layanan asuransi umum melalui Mandiri AXA General Insurance, layanan remitansi melalui Mandiri Remittance, layanan perbankan syariah melalui Bank Syariah Mandiri, layanan bank spesialis (niche) segmen pensiunan dan UMKM melalui Bank Mandiri Taspen, layanan pembiayaan konsumen (multifinance) melalui Mandiri Tunas Finance, dan Mandiri Utama Finance.
Secara konsolidasi, Perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja yang positif di tahun 2019 dengan angka pertumbuhan yang secara umum lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Total aset tumbuh sebesar 9,65% (YoY) menjadi Rp1.318,25 triliun; total kredit tumbuh 10,65% (YoY) menjadi Rp907,46 triliun; dan total simpanan nasabah (termasuk Dana Syirkah Temporer) tumbuh 10,97% (YoY) menjadi Rp933,12 triliun. Secara bottom line, laba bersih konsolidasi tahun 2019 tumbuh signifikan 9,86% (YoY) mencapai Rp27,48 triliun.
Pencapaian kinerja tersebut, yang ditunjukkan dengan peningkatan indikator keuangan, semakin memantapkan langkah Perseroan untuk menjadi “One-stop Provider of Financial Solutions” untuk seluruh nasabahnya serta menjadi pemimpin di industri jasa keuangan.
Kebijakan strategi yang disusun untuk Corporate Plan Restart 2016-2020 merupakan pondasi dari kebijakan strategi yang ditetapkan serta diimplementasikan sepanjang tahun 2019. Saat ini Perseroan tengah melaksanakan Transformasi Tahap 3 untuk mencapai aspirasi di tahun 2020 menjadi Indonesia’s Best, ASEAN’s Prominent. Dalam kondisi perekonomian yang penuh tantangan serta peta persaingan yang semakin ketat, Perseroan melakukan sejumlah strategi bisnis dengan fokus pada (i) Deepen Client Relationship Strategy, (ii) Accelerate The Growth Segment Strategy, dan (iii) Integrate The Group. Selain strategi bisnis tersebut, Perseroan juga mempersiapkan enablers atau dukungan strategis lain yang bersifat bankwide untuk dapat mendukung pencapaian target bisnis dan aspirasi utama.
Dalam melakukan bisnisnya, Perseroan selalu konsisten dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance (GCG)) dan menjamin adanya peningkatan kualitas dalam penerapan GCG. Implementasi GCG secara konsisten terlihat dari peningkatan governance outcome dari tahun ke tahun dan menghasilkan pertumbuhan kinerja keuangan dan kinerja operasional yang berkesinambungan
7 PROSPEK USAHA
A. Perekonomian Nasional
Perlambatan ekonomi global turut berdampak kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sepanjang tahun 2019 pertumbuhan ekonomi ekonomi Indonesia melambat menjadi 5,02% (YoY) dari pertumbuhan pada tahun 2018 yang sebesar 5,17%. Namun demikian kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif lebih stabil dibandingkan dengan negara-negara emerging market lainnya. Sebagai contoh, pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat signifikan dari 6,70% (YoY) pada tahun 2018 menjadi 6,10% (YoY) pada tahun 2019. Sementara India pada periode yang sama juga mengalami perlambatan signifikan dari 7,00% (YoY) menjadi 6,10% (YoY). Relatif stabilnya pertumbuhan ekonomi Indonesia didukung oleh konsumsi dalam negeri yang masih cukup kuat, inflasi dan nilai tukar yang stabil, serta kebijakan akomodatif yang diterapkan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia.
Stabilnya kondisi ekonomi makro juga tercermin dari pergerakan nilai tukar Rupiah yang mengalami apresiasi terhadap USD dengan volatilitas yang lebih rendah dibandingkan tahun 2018. Secara historis, pergerakan Rupiah sepanjang tahun 2019 berada di kisaran Rp13.919 s.d. Rp14.525 per USD. Sementara itu pergerakan Rupiah sepanjang tahun 2018 berada di kisaran Rp13.289 s.d. Rp15.238 per USD.
Indikator neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan relatif lebih baik karena dorongan impor yang turun. Neraca perdagangan sepanjang tahun 2019 tercatat defisit sebesar USD1,8 miliar, turun dibandingkan dengan neraca perdagangan Indonesia pada tahun 2018 yang sebesar USD8,7 miliar. Sementara itu defisit neraca transaksi berjalan mengecil dari 3,30% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan ke-3 tahun 2018 menjadi 2,70% terhadap PDB pada triwulan ke-3 tahun 2019.
Terjaganya laju inflasi, makin stabilnya pergerakan nilai tukar, dan turunnya indikator defisit neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan memberi ruang bagi BI untuk menerapkan bauran kebijakan, melalui instrumen suku bunga dan rasio makroprudensial, yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengantisipasi dampak negatif dari perlambatan ekonomi global. Sepanjang tahun 2019, khususnya pada semester II, BI telah menurunkan bunga acuan (BI 7-day reverse repo rate) sebanyak 100 bps dari 6,00% menjadi 5,00%.
Di samping penurunan suku bunga, kebijakan makroprudensial diambil untuk mendorong pertumbuhan kredit perbankan dengan melonggarkan ketentuan rasio LTV/FTV (loan to value/financing to value) rata-rata 5,00%- 10,00% untuk kepemilikan rumah dan kendaraan, melonggarkan ketentuan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) menjadi 84,00%-94,00%, dari sebelumnya sebesar 80,00%-92,00%, serta memperluas pendanaan perbankan, termasuk pinjaman luar negeri yang pruden di atas 1 (satu) tahun. Perseroan melihat ruang untuk tetap menerapkan kebijakan yang akomodatif masih cukup terbuka ke depan untuk terus mendorong laju pertumbuhan ekonomi domestik secara keseluruhan.
Perseroan cukup optimis pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan akan terus tumbuh lebih tinggi. Di sisi lain, beberapa indikator ekonomi lainnya, seperti inflasi, nilai tukar, dan suku bunga juga akan tetap stabil dan terjaga. Kebijakan yang akomodatif dan konsisten, baik Pemerintah maupun Bank Indonesia dalam meningkatkan daya tarik dan iklim investasi, mendorong kepercayaan investor untuk melakukan ekspansi bisnis secara berkesinambungan.
B. Prospek Industri Perbankan
Kinerja industri perbankan di dalam negeri masih cukup baik di tengah tantangan perlambatan ekonomi global dan domestik. Perlambatan ekonomi domestik turut berdampak kepada turunnya permintaan kredit. Sampai
8 dengan bulan November, pertumbuhan kredit perbankan hanya mencapai 7,1% (YoY), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan kredit pada tahun 2018 yang sebesar 11,8% (YoY).
Di sisi lain, pertumbuhan DPK juga masih sangat lambat yang berdampak kepada kondisi likuiditas yang masih ketat. DPK perbankan sampai dengan bulan November 2019 hanya tumbuh 6,7%, lebih rendah dari pertumbuhan kredit sehingga LDR masih relatif tinggi pada posisi 92,9%. Perlambatan ekonomi juga berdampak kepada kualitas aset perbankan. NPL industri perbankan mengalami kenaikan sepanjang tahun 2019 menjadi 2,8% dari 2,4% pada akhir tahun 2018. Namun demikian, kondisi permodalan perbankan di Indonesia masih cukup kuat, dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) per bulan November 2019 sebesar 23,8%. Selain itu perbankan nasional juga masih mampu mempertahankan tingkat profitabilitas yang cukup baik, dengan rasio Return on Asset (ROA) dan marjin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) masing- masing sebesar 2,5% dan 4,9%, relatif stabil dibandingkan dengan akhir tahun 2018, yang masing-masing sebesar 2,6% dan 5,1%.
Ke depan, industri perbankan di dalam negeri harus tetap fokus kepada kualitas aset agar dapat terus terjaga pertumbuhan kredit yang stabil dan sehat. Perseroan melihat peluang untuk mendorong kredit ke depan masih cukup besar. Terdapat sektor-sektor yang memiliki prospek yang baik dalam beberapa tahun ke depan, terutama sektor-sektor yang berorientasi domestik, seperti Fast Moving Consumer Goods (FMCG), makanan dan minuman, telekomunikasi, jasa kesehatan, edukasi, jasa akomodasi dan penyediaan makanan dan minuman, serta sektor-sektor yang terkait dengan pembangunan infrastruktur, seperti jalan tol dan konstruksi.
Peningkatan penyaluran kredit di sektor-sektor tersebut dapat mengurangi tingginya ketergantungan perekonomian nasional terhadap sektor komoditas (pertanian dan pertambangan) sekaligus meningkatkan peran dalam mendukung program-program Pemerintah, khususnya dalam pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata yang dapat meningkatkan penerimaan devisa negara.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang akan terus membaik dan tetap terjaganya berbagai indikator ekonomi secara keseluruhan, permintaan kredit perbankan juga akan terus meningkat. Hal ini didukung oleh berbagai kebijakan akomodatif dan konsisten yang dilakukan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia. Perseroan memperkirakan pertumbuhan kredit tahun 2020 akan membaik menjadi sekitar 10%-11%, dari perkiraan pertumbuhan kredit tahun 2019, yang sebesar 9,9%. Pertumbuhan DPK juga diperkirakan akan meningkat pada tahun ini menjadi sekitar 8%-9%, dari prediksi tahun 2019 yang sebesar 8,2%. Perseroan cukup optimis pertumbuhan kredit dalam beberapa tahun ke depan akan tumbuh lebih tinggi, dengan berbagai indikator perbankan yang masih terus terjaga, seperti rasio kecukupan modal, likuiditas, dan juga profitabilitas.
C. Persaingan Usaha
Pesaing utama Perseroan adalah bank domestik lainnya dan bank asing yang beroperasi di Indonesia. Perseroan juga menghadapi persaingan tidak langsung dari berbagai jenis perusahaan lembaga keuangan lainnya, seperti multifinance dan perusahaan-perusahaan sekuritas, koperasi simpan pinjam, perusahaan sewa guna usaha dan anjak piutang, perusahaan modal ventura, dan beberapa lembaga pemerintah tertentu yang menyediakan pendanaan pembangunan industri dan kredit ekspor/impor. Secara internasional, Perseroan bersaing dengan berbagai bank dan lembaga keuangan, dimana banyak diantaranya memiliki kegiatan operasional bertaraf global, untuk menyediakan layanan perbankan dan finansial kepada nasabah Indonesia melalui kegiatan operasional di luar negeri. Di samping itu, layanan investment banking, asuransi dan perbankan syariah Perseroan juga menghadapi persaingan dari perusahaan-perusahaan yang memiliki spesialisasi pada masing- masing industri tersebut.
9 Berdasarkan laporan publikasi keuangan (konsolidasi) yang diterbitkan oleh bank-bank komersil di Indonesia, Perseroan menduduki peringkat pertama dalam total aset diantara bank-bank komersil di Indonesia, sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut.
(dalam miliar Rupiah)
Uraian
Perbandingan Total Aset & Kredit 10 Bank Utama (secara konsolidasi) per 30 September 2019
Total Aset Kredit
Mandiri 1.275.670 818.608
BRI 1.305.667 875.128
BCA 893.594 571.090
BNI 815.265 558.674
CIMB Niaga 262.819 188.843
Panin 212.672 142.776
Permata 155.080 102.592
Danamon 195.826 109.631
BII 177.851 119.033
BTN 316.211 256.934
Sumber: Laporan Publikasi Bank – September 2019
Selanjutnya, tabel berikut memperlihatkan jumlah simpanan tidak dikonsolidasi, serta informasi pangsa pasar dari Perseroan dan pesaing utama Perseroan per tanggal 30 September 2019.
(dalam miliar Rupiah, kecuali dinyatakan lain)
Uraian
Perbandingan Pangsa Pasar Simpanan 10 Bank Utama per 30 September 2019
Giro Pangsa
pasar (%) Tabungan Pangsa Pasar (%)
Deposito Berjangka
Pangsa Pasar (%)
Total Simpanan
Pangsa Pasar (%) Mandiri 214.142 15,02% 302.945 16,49% 266.874 10,15% 783.960 13,31%
BRI 168.531 11,82% 374.912 20,41% 370.113 14,07% 913.556 15,51%
BCA 179.163 12,57% 333.558 18,16% 165.212 6,28% 677.932 11,51%
BNI 173.320 12,16% 177.258 9,65% 193.616 7,36% 544.195 9,24%
CIMB Niaga 44.114 3,09% 49.281 2,68% 70.697 2,69% 164.092 2,79%
Permata 28.010 1,96% 20.709 1,13% 53.920 2,05% 102.639 1,74%
Panin 10.046 0,70% 38.054 2,07% 81.231 3,09% 129.332 2,20%
Danamon 15.312 1,07% 37.471 2,04% 56.599 2,15% 109.382 1,86%
BII 18.936 1,33% 17.631 0,96% 53.172 2,02% 89.740 1,52%
BTN 50.412 3,54% 38.954 2,12% 120.495 4,58% 209.861 3,56%
Nasional 1.425.445 100% 1.836.786 100% 2.629.687 100% 5.891.918 100%
Sumber: Laporan Publikasi Bank, Statistik Perbankan Indonesia – September 2019
Tabel berikut memperlihatkan kredit yang diberikan dan total aset tidak dikonsolidasi, serta informasi pangsa pasar dari Perseroan dan pesaing utama Perseroan pada tanggal 30 September 2019.
(dalam miliar Rupiah, kecuali dinyatakan lain)
Uraian
Perbandingan Pangsa Pasar Aset & Kredit 10 Bank Utama per 30 September 2019
Total Aset Pangsa pasar (%) Kredit Pangsa Pasar (%)
Mandiri 1.097.658 13,20% 728.122 13,05%
BRI 1.238.658 14,89% 857.285 15,36%
BCA 875.677 10,53% 570.626 10,22%
BNI 756.756 9,10% 525.533 9,42%
CIMB Niaga 260.882 3,14% 157.809 2,83%
10
(dalam miliar Rupiah, kecuali dinyatakan lain)
Uraian
Perbandingan Pangsa Pasar Aset & Kredit 10 Bank Utama per 30 September 2019
Total Aset Pangsa pasar (%) Kredit Pangsa Pasar (%)
Permata 154.909 1,86% 92.665 1,66%
Panin 192.939 2,32% 135.546 2,43%
Danamon 168.248 2,02% 105.767 1,90%
BII 163.721 1,97% 91.211 1,63%
BTN 316.211 3,80% 233.626 4,19%
Nasional 8.318.280 100% 5.580.714 100%
Sumber: Laporan Publikasi Bank, Statistik Perbankan Indonesia – September 2019
Tabel berikut memperlihatkan Capital Adequancy Ratio (“CAR”), NPL Ratio, Return on Equity (“ROE”) dan Return on Assets (“ROA”) dari Perseroan dan bank-bank besar utama di Indonesia pada tanggal 30 September 2019.
Uraian
Perbandingan Rasio-Rasio Keuangan 10 Bank Utama Posisi tanggal 30 September 2019
CAR (%) Rasio NPL-bruto (%) ROE (%) ROA(%)
Mandiri 22,50% 2,61% 15,27% 3,01%
BRI 21,62% 2,94% 19,16% 3,42%
BCA 23,79% 1,62% 18,03% 3,98%
BNI 19,33% 1,80% 14,73% 2,51%
CIMB Niaga 20,64% 2,65% 8,92% 1,76%
Permata 19,84% 3,33% 7,12% 1,28%
Panin 23,80% 2,95% 8,96% 2,02%
Danamon 23,04% 3,52% 8,91% 2,36%
BII 20,06% 2,78% 5,04% 0,82%
BTN 16,88% 3,54% 5,11% 0,44%
10 Bank 21,65% 2,39% 11,12% 2,16%
Sumber: Laporan Publikasi Bank – September 2019
Dengan semakin gencarnya pemerintah untuk menggalakkan pembangunan infrastruktur nasional dan sejalan dengan perkembangan tren kebutuhan nasabah, Perseroan memperkirakan adanya tingkat persaingan yang lebih tinggi dari berbagai lembaga keuangan yang menawarkan berbagai layanan dan produk perbankan, dengan kemampuan modal yang besar atau memiliki neraca yang lebih kuat. Di samping itu, pesaing domestik Perseroan telah membentuk dan diperkirakan akan terus memperkuat aliansi strategis dengan bank-bank asing yang memiliki kemampuan finansial, manajemen dan sumber daya lainnya yang jauh lebih besar.
Bank asing telah diperbolehkan memiliki kepemilikan pengendali pada bank-bank di Indonesia. Hal ini diperkirakan akan meningkatkan persaingan atas nasabah kredit dan juga atas nasabah deposan dan menyebabkan tekanan terhadap tingkat bunga kredit dan deposito sehingga pada akhirnya mengakibatkan marjin bunga bersih yang lebih kecil.
Di bidang corporate banking, Perseroan bersaing terutama dalam hal pricing/suku bunga (untuk kredit dan simpanan), kekuatan relasi dengan nasabah dan kemampuan menyediakan solusi yang spesifik terhadap kebutuhan nasabah. Pesaing utama Perseroan pada corporate banking adalah bank-bank BUMN dan swasta, seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Central Asia Tbk., dan juga bank-bank asing, seperti Citibank, HSBC dan Standard Chartered Bank.
Di bidang micro and retail banking, Perseroan bersaing dalam hal layanan, kenyamanan dan luasnya jaringan perbankan ritel, yang memungkinkan Perseroan untuk menarik para nasabah yang sensitif terhadap suku bunga
11 simpanan maupun pinjaman, termasuk penyediaan kanal digital untuk kemudahan transaksi nasabah. Pesaing utama Perseroan di antaranya PT Bank Rakyat lndonesia (Persero) Tbk., PT Bank Central Asia Tbk., PT Bank Danamon Indonesia Tbk., dan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk.
Di bidang treasury advisory services untuk nasabah korporasi, Perseroan biasanya bersaing dengan sejumlah bank lain di Indonesia dan bank-bank asing yang memiliki cabang di Indonesia seperti Deutsche Bank dan Citibank.
Indonesia memiliki banyak bank komersil yang bergerak di segmen commercial banking dan consumer banking.
Di bidang commercial banking dan consumer banking, Perseroan bersaing terutama dalam hal jaringan distribusi yang luas, produk yang ditawarkan dan tingkat pelayanan kepada nasabah. Pesaing utama Perseroan di bidang usaha ini adalah bank-bank swasta nasional dan bank-bank BUMN antara lain PT Bank Central Asia Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., dan PT Bank Permata Tbk.
Di bidang investment banking, Perseroan bersaing terutama dalam hal membangun hubungan dengan institusional dan korporasi yang mapan di Indonesia. Pesaing utama Perseroan adalah bank investasi domestik dan regional, termasuk CIMB Securities, Bahana Sekuritas dan Danareksa Sekuritas.
Di bidang asuransi jiwa, Perseroan memanfaatkan keahlian dari mitra joint venture Perseroan, AXA Equitable Life Insurance Company, yang merupakan penyedia asuransi yang diakui secara internasional, dan memiliki basis nasabah yang luas untuk bersaing secara efektif dalam pasar yang sangat tersegmentasi. Pesaing utama Perseroan terdiri dari perusahaan asuransi domestik dan joint venture antara lembaga keuangan domestik dan internasional, termasuk PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) dan PT AIA Financial Indonesia.
Di bidang perbankan syariah, keunggulan utama Bank Syariah Mandiri adalah brand image dari Perseroan dan jaringan layanan syariah terbesar di Indonesia. Di perbankan syariah, pesaing utama Perseroan meliputi bank umum syariah dan unit bisnis syariah dari bank domestik lain yang besar, termasuk PT Bank Muamalat Indonesia Tbk., PT BRI Syariah, dan PT BNI Syariah.
Dalam bidang pembiayaan otomotif (multifinance), di samping memanfaatkan jaringan kantor dan basis nasabah induk usaha yang ada, Perseroan dapat membangun penetrasi pasar yang luas melalui mitra joint venture Perseroan, PT Tunas Ridean Tbk., salah satu jaringan agen terbesar di Indonesia. Pesaing utama Perseroan dalam pembiayaan otomotif adalah PT BCA Finance, PT Astra Sedaya Finance, dan PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance).
KINERJA KEUANGAN PERSEROAN
LAPORAN POSISI KEUANGAN
Tabel di bawah ini menyajikan ikhtisar data keuangan penting Perseroan yang bersumber dari laporan keuangan konsolidasian auditan Perseroan dan Entitas Anaknya tanggal 31 Desember 2019 dan 2018 dan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut yang seluruhnya tercantum dalam Prospektus. Laporan keuangan konsolidasian Perseroan dan Entitas Anaknya tanggal 31 Desember 2019 dan 2018 dan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal tersebut telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (“KAP”) Purwantono, Sungkoro &
Surja, auditor independen, berdasarkan Standar Audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (”IAPI”), dengan opini audit tanpa modifikasian, yang laporannya tercantum dalam Prospektus. Laporan audit tersebut juga berisi paragraf hal-hal lain mengenai penyajian informasi keuangan entitas induk dan penerbitan kembali laporan keuangan untuk dicantumkan dalam Prospektus. Laporan audit KAP PSS tersebut ditandatangani oleh Benyanto Suherman (Rekan pada KAP PSS dengan Registrasi Akuntan Publik No. AP. 0685).
12
(dalam jutaan Rupiah)
Keterangan 31 Desember
2019 2018
ASET
Kas 28.094.267 27.348.914
Giro pada Bank Indonesia 46.490.930 59.852.761
Giro pada Bank Lain - bersih 12.558.297 14.830.772
Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain - bersih 37.568.760 22.515.696
Efek-efek - bersih 71.263.368 63.835.900
Obligasi Pemerintah - bersih 129.000.300 114.284.518
Tagihan lainnya - transaksi perdagangan - bersih 29.104.111 24.809.459
Tagihan atas efek-efek yang dibeli dengan janji dijual kembali - bersih 1.955.363 2.097.629
Tagihan Derivatif 1.617.476 1.798.557
Kredit yang diberikan dan piutang/pembiayaan syariah - bersih 855.846.844 767.761.095
Piutang pembiayaan Konsumen - bersih 18.211.088 16.826.865
Investasi bersih dalam sewa pembiayaan - bersih 3.047.089 3.319.103
Tagihan Akseptasi - bersih 10.058.035 13.592.409
Penyertaan saham - bersih 606.010 421.504
Biaya dibayar dimuka 3.012.550 2.858.186
Pajak dibayar dimuka 1.176.600 1.236.027
Aset tetap - setelah dikurangi akumulasi penyusutan 44.612.199 38.442.696
Aset tidak berwujud - setelah dikurangi amortisasi 3.321.284 2.764.726
Aset lain-lain - setelah dikurangi penyisihan lainnya 16.750.054 18.657.655
Aset pajak tangguhan - neto 3.951.710 4.997.622
JUMLAH ASET 1.318.246.335 1.202.252.094
LIABILITAS
Liabilitas Segera 3.169.451 3.843.194
Simpanan Nasabah 850.108.345 766.008.893
Simpanan dari Bank Lain 13.397.866 16.493.815
Liabilitas kepada Pemegang Polis pada Kontrak Unit-Link 24.037.658 22.357.802 Liabilitas atas efek-efek yang dijual dengan janji dibeli kembali 3.782.055 16.611.528
Liabilitas Derivatif 1.195.022 1.117.677
Liabilitas Akseptasi 10.279.839 13.888.862
Efek-efek yang diterbitkan - bersih 32.245.270 19.088.923
Estimasi Kerugian atas Komitmen dan Kontinjensi 386.039 125.729
Beban yang Masih Harus Dibayar 6.215.561 4.835.467
Utang Pajak 1.286.973 1.087.949
Liabilitas Imbalan Kerja 7.586.150 7.987.887
Provisi 405.312 370.525
Liabilitas Lain-lain 16.861.260 15.795.137
Pinjaman yang diterima - bersih 54.128.562 51.653.982
Pinjaman Subordinasi - bersih 664.217 685.730
JUMLAH LIABILITAS 1.025.749.580 941.953.100
DANA SYIRKAH TEMPORER
Simpanan Nasabah 83.016.203 74.905.079
Simpanan dari Bank Lain 446.027 433.610
JUMLAH DANA SYIRKAH TEMPORER 83.462.230 75.338.689
EKUITAS
Modal Saham 11.666.667 11.666.667
Tambahan Modal Disetor/Agio Saham 17.316.192 17.316.192
Selisih Kurs karena Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing 13.388 112.171
13
(dalam jutaan Rupiah)
Keterangan 31 Desember
2019 2018
Selisih Transaksi dengan Pihak Nonpengendali (106.001) (106.001)
Keuntungan/(kerugian) Bersih yang Belum Direalisasi dari Penurunan Nilai Wajar Efek-efek dan Obligasi Pemerintah yang Tersedia untuk Dijual – Bersih setelah Dikurangi Pajak Tangguhan
1.385.796 (1.638.088)
Bagian efektif lindung nilai arus kas (30.045) (17.030)
Selisih bersih revaluasi aset tetap 30.306.255 26.435.307
Keuntungan Bersih Aktuarial Program Imbalan Pasti – Bersih setelah Dikurangi Pajak
Tangguhan 653.489 348.613
Penghasilan Komprehensif Lainnya 85.052 -
Saldo Laba 143.310.060 127.084.686
Kepentingan nonpengendali atas aset bersih Entitas Anak yang dikonsolidasi 4.433.672 3.757.788
JUMLAH EKUITAS 209.034.525 184.960.305
JUMLAH LIABILITAS, DANA SYIRKAH TEMPORER DAN EKUITAS 1.318.246.335 1.202.252.094
LAPORAN LABA RUGI DAN PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
(dalam jutaan Rupiah)
Keterangan
Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2019 2018
Pendapatan bunga, syariah dan premi - bersih 61.247.691 57.329.765
Pendapatan Operasional Lainnya 26.490.398 27.672.065
Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (11.742.986) (14.394.973)
(Pembentukan)/Pembalikan Penyisihan Estimasi Kerugian atas Komitmen dan
Kontinjensi (262.215) 270.973
Pembentukan penyisihan lainnya (67.262) (61.498)
Keuntungan/(Kerugian) yang Belum Direalisasi dari Kenaikan /(Penurunan) Nilai Wajar Efek-Efek, Obligasi Pemerintah dan Investasi Pemegang Polis pada Kontrak Unit-Link
8.205 (18.483)
Keuntungan dari Penjualan Efek-Efek dan Obligasi Pemerintah 853.850 674.087
Beban Operasional Lainnya (40.076.167) (37.566.139)
Laba Operasional 36.451.514 33.905.797
(Beban)/pendapatan bukan operasional - bersih (10.074) 37.572
Laba sebelum beban pajak dan kepentingan nonpengendali 36.441.440 33.943.369
Total Beban Pajak - bersih (7.985.848) (8.091.432)
Laba Tahun Berjalan 28.455.592 25.851.937
Penghasilan komprehensif lain tahun berjalan – setelah pajak penghasilan 7.211.076 (1.316.749) Total Penghasilan Komprehensif Tahun Berjalan 35.666.668 24.535.188 Laba Per Saham:
Dasar (dalam Rupiah penuh) 588,90 536,04
Dilusian (dalam Rupiah penuh) 588,90 536,04
RASIO-RASIO PERTUMBUHAN
Keterangan
Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2019 2018
Rasio Pertumbuhan
Pendapatan bunga, Syariah dan premi - bersih 6,83% 5,28%
Laba operasional 7,51% 24,79%
14 Keterangan
Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2019 2018
Laba tahun berjalan 10,07% 20,56%
Jumlah aset 9,65% 6,90%
Jumlah liabilitas 8,90% 6,07%
Jumlah dana syirkah temporer 10,78% 13,01%
Jumlah ekuitas 13,02% 8,80%
RASIO-RASIO KEUANGAN
Keterangan
Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2019 2018
Permodalan
Rasio Kecukupan Modal (CAR)*(1) 21,39% 20,96%
Aset Produktif
Aset Produktif & Non Produktif bermasalah terhadap total aset produktif dan aset
non produktif 1,68% 1,91%
Aset produktif bermasalah terhadap total aset produktif*(2) 2,15% 2,42%
CKPN aset keuangan terhadap aset produktif*(3) 2,88% 3,40%
NPL bruto*(9) 2,39% 2,79%
NPL netto*(8) 0,84% 0,67%
Profitabilitas
Imbal hasil aset (ROA)*(4) 3,03% 3,17%
Imbal hasil ekuitas (ROE)*(5) 15,08% 16,23%
Marjin bunga bersih (NIM)*(7) 5,46% 5,52%
Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)*(6) 67,44% 66,48%
Likuiditas
Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM)*(10) 93,93% 96,69%
Kepatuhan (Compliance) – Bank
Persentase pelanggaran BMPK*(+) 0,00% 0,00%
Persentase pelampauan BMPK*(+) 0,00% 0,00%
GWM Utama Rupiah*(11) 6,21% 6,92%
GWM Utama Valuta Asing*(11) 8,10% 8,10%
GWM Sekunder Rupiah*(12) 13,02% 10,14%
Posisi Devisa Neto*(13) 1,19% 0,67%
Solvabilitas
Debt to Asset Ratio (DAR)(14) 7,42% 8,21%
Debt to Equity Ratio (DER)(15) 43,05% 49,18%
* Individu
(+) Per tanggal 31 Desember 2018 dan 2019
1) CAR (Capital Adequacy Ratio) untuk risiko kredit dan risiko operasional yang dihitung berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.11/POJK.03/2016 sebagaimana diubah dengan POJK No.34/POJK.03/2016 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.
2) Rasio Aset Produktif bermasalah terhadap Jumlah Aset Produktif merupakan rasio jumlah aset non-performing terhadap jumlah aset produktif sesuai dengan peraturan BI. Menurut peraturan BI aset produktif terdiri dari giro pada bank lain, penempatan pada bank lain, tagihan spot dan derivatif, surat berharga, surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo), tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali (reverse repo), tagihan akseptasi, tagihan lainnya - transaksi perdagangan, kredit yang diberikan, dan penyertaan pada akhir tahun yang bersangkutan.
15
3) Rasio CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) aset keuangan terhadap aset produktif adalah rasio total CKPN terhadap total aset produktif.
Menurut peraturan BI aset produktif terdiri dari giro pada bank lain, penempatan pada bank lain, tagihan spot dan derivatif, surat berharga, surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo), tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali (reverse repo), tagihan akseptasi, tagihan lainnya - transaksi perdagangan, kredit yang diberikan, dan penyertaan pada akhir tahun yang bersangkutan.
4) ROA (Return on Assets) yang dihitung sesuai peraturan BI adalah rasio pendapatan sebelum pajak untuk tahun yang bersangkutan terhadap rata- rata total aset. Rata-rata total aset dihitung dari rata-rata jumlah total aset setiap bulan selama tahun yang bersangkutan.
5) ROE (Return on Equity) yang dihitung sesuai peraturan BI adalah rasio pendapatan setelah pajak untuk tahun yang bersangkutan terhadap rata- rata ekuitas dalam tahun yang sama. Rata-rata ekuitas dihitung dari rata-rata total modal inti (tier 1) setiap bulan selama tahun yang bersangkutan.
6) Rasio BOPO (Beban operasional terhadap pendapatan operasional) adalah rasio total beban operasional (berdasarkan formula perhitungan Bank Indonesia, termasuk beban bunga) terhadap total pendapatan operasional, masing-masing untuk tahun yang bersangkutan.
7) Rasio NIM (Net Interest Margin) yang dihitung sesuai dengan peraturan BI adalah rasio dari pendapatan bunga bersih untuk masing-masing tahun bersangkutan terhadap rata-rata total aset produktif pada akhir tahun yang bersangkutan.
8) Rasio Net NPL (Non-Performing Loan) adalah rasio total NPL kredit dan pembiayaan/piutang Syariah setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai, terhadap total kredit dan pembiayaan Syariah pada akhir tahun yg bersangkutan.
9) Rasio Gross NPL (Non-Performing Loan) adalah rasio total NPL kredit dan pembiayaan/piutang Syariah terhadap total kredit dan pembiayaan/piutang Syariah pada akhir tahun yang bersangkutan.
10) Rasio RIM (Rasio Intermediasi Makroprudensial) yang dihitung sesuai dengan peraturan BI adalah rasio hasil perbandingan antara kredit yang diberikan dan surat berharga korporasi yang dimiliki, dalam Rupiah dan valuta asing, yang memenuhi persyaratan tertentu dengan Dana Pihak Ketiga dalam bentuk giro, tabungan, dan simpanan berjangka/deposito (tidak termasuk dana antarbank), surat berharga yang diterbitkan, dan pinjaman yang diterima, dalam Rupiah dan valuta asing, yang memenuhi persyaratan tertentu.
11) GWM (Giro Wajib Minimum) dihitung sesuai PBI GWM yang relevan.
12) GWM Sekunder Rupiah, atau saat ini disebut sebagai Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM), dihitung sesuai dengan peraturan BI adalah cadangan likuiditas minimum dalam Rupiah yang wajib dipelihara oleh dalam bentuk surat berharga yang memenuhi persyaratan tertentu, yang besarnya ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar persentase tertentu dari Dana Pihak Ketiga dalam Rupiah.
13) PDN (Posisi Devisa Neto) dihitung sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No.12/10/PBI/2010 tanggal 1 Juli 2010 yang telah diperbaharui oleh Peraturan Bank Indonesia No.17/5/PBI/2015 tanggal 29 Mei 2015 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Bank Indonesia No.5/13/PBI/2003 tentang Posisi Devisa Neto Bank Umum.
14) Debt to Asset Ratio (DAR) dihitung dari total liabilitas berbunga yang hanya dijumlahkan dari total pinjaman dari bank lain, Utang atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo), Surat berharga yang diterbitkan dan Pinjaman yang diterima, dibagi dengan total nilai Aset perseroan.
15) Debt to Equity Ratio (DER) dihitung dari total liabilitas berbunga yang hanya dijumlahkan dari total pinjaman dari bank lain, Utang atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo), Surat berharga yang diterbitkan dan Pinjaman yang diterima, dibagi dengan total nilai Ekuitas perseroan.
FAKTOR RISIKO
RISIKO USAHA YANG BERKAITAN DENGAN PERSEROAN
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, baik penghimpunan dana, pemberian pinjaman maupun penyediaan jasa perbankan lainnya, Perseroan tidak terlepas dari berbagai risiko usaha. Pelaksanaan kegiatan usaha tersebut dapat mengakibatkan timbulnya dampak negatif bagi kelangsungan usaha Perseroan. Risiko-risiko yang akan diungkapkan dalam uraian berikut merupakan risiko yang material bagi Perseroan. Risiko usaha yang berkaitan dengan Perseroan telah disusun berdasarkan dampak dengan bobot tertinggi ke bobot terendah terhadap kinerja Perseroan.
A. RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN BANK SECARA UMUM
Kondisi perekonomian global yang tidak pasti menjadi tantangan utama bagi pertumbuhan industri perbankan saat ini. Persaingan usaha yang semakin ketat, perubahan perilaku konsumen, perkembangan disruptive innovation &
teknologi dan munculnya kompetitor baru non-traditional, serta pengaturan yang lebih ketat dalam industri perbankan memerlukan perhatian khusus bagi bank yang ingin menjadi perusahaan yang berkelanjutan.
Perlambatan ekonomi global secara signifikan juga mempengaruhi kondisi usaha debitur. Debitur-debitur bank yang berorientasi ekspor atau bergerak dalam sektor komoditas merasakan dampak lesunya kondisi perekonomian global.
Bagi debitur yang tidak cukup kuat, kondisi ini membuat kinerja finansial debitur terganggu sehingga berdampak pada kesulitan pemenuhan kewajiban utang pada bank.
Dari sisi persaingan, banyaknya bank yang beroperasi di Indonesia, baik itu bank besar maupun bank kecil, membuat kompetisi perbankan menjadi ketat. Bank-bank utama di Indonesia cenderung beroperasi pada target pasar yang sama yang menjadikan segmen retail dan consumer sebagai target primadona. Persaingan menjadi sengit karena bank asing dan multifinance turut pula masuk untuk menggarap segmen ini. Untuk segmen korporasi, persaingan diperberat dengan persaingan dari perusahaan sekuritas dan jasa pembiayaan ekspor dan impor. Perusahaan sekuritas membantu calon-calon debitur korporasi untuk mengakses pasar modal dan obligasi sehingga mengurangi bagian pembiayaan yang biasanya dilakukan oleh perbankan.
16 Perkembangan teknologi digital dan tren sharing economy saat ini memunculkan start-up yang bergerak pula dalam usaha pembiayaan. Perusahaan financial technology (fintech) ini menawarkan kemudahan dalam pembiayaan kepada calon debitur. Bank yang cenderung lebih prudent karena mengikuti ketentuan regulator harus bersaing dengan perusahaan fintech yang lebih leluasa bergerak dengan model bisnis yang lebih praktis
B. RISIKO USAHA YANG BERKAITAN DENGAN PERSEROAN
Mengingat sebagian besar aset Perseroan berupa kredit maka risiko utama yang dihadapi oleh Perseroan adalah risiko kredit. Di samping risiko kredit, Perseroan melakukan juga pengelolaan risiko-risiko lainnya. Sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.18/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum terdapat 8 (delapan) jenis risiko yang harus dikelola dengan baik oleh Perseroan. Pembahasan jenis risiko yang dihadapi sesuai dengan profil risiko Perseroan dari bobot tertinggi hingga terendah adalah sebagai berikut:
1. Risiko Kredit
Risiko Kredit adalah risiko akibat kegagalan pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Perseroan, termasuk dalam risiko kredit akibat kegagalan debitur, risiko konsentrasi kredit, counterparty credit risk, dan settlement risk. Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti perkreditan (penyediaan dana), treasury dan investasi, serta pembiayaan perdagangan, yang tercatat dalam banking book maupun trading book.
Pemberian kredit dalam jumlah yang signifikan terhadap sekelompok perusahaan atau industri tertentu akan meningkatkan pengaruh risiko ini terhadap kinerja Perseroan. Selain itu, ketidakmampuan counterparty dalam membayar kembali pokok maupun bunga yang dipinjam akan memberikan dampak terhadap penurunan tingkat kolektibilitas dan pendapatan Perseroan.
Saat ini, eksposur Perseroan terhadap segmen korporasi memiliki proporsi tertinggi dibandingkan segmen komersial, SME, mikro dan konsumer.
2. Risiko Operasional
Risiko Operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Perseroan.
Adapun beberapa risiko operasional yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut:
a. Risiko kegagalan sistem teknologi dan informasi seperti malfungsi (malfunction) atau kerusakan sistem (system crash) pada sistem komputer dan teknologi informasi. Eksposur potensi risiko operasional tersebut juga meningkat seiring dengan pertambahan jumlah cabang, jumlah ATM, jumlah EDC, fitur produk layanan e-banking maupun pengembangan jaringan pelayanan lainnya.
b. Risiko kecurangan (fraud) yang merupakan risiko terjadinya tindakan penipuan, penyelewengan, dan/atau penyalahgunaan kuasa jabatan yang dilakukan secara sengaja oleh satu orang atau lebih di antara individual dalam manajemen, karyawan, atau pihak ketiga dan dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau pihak lain dan/atau merugikan Perseroan.
c. Risiko eksternal yang meliputi kejadian force majeure yang meliputi antara lain bencana alam, banjir, gempa bumi, huru hara, terorisme atau pandemik yang dapat menyebabkan gangguan operasional Perseroan, antara lain terhentinya kegiatan usaha dan pelayanan kepada pelanggan Perseroan.
17 Apabila hal-hal tersebut terjadi, maka dapat berdampak negatif terhadap kegiatan dan prospek usaha serta kondisi keuangan Perseroan. Potensi kerugian dapat berupa kerugian finansial atau dampak buruk lainnya, misalnya, kehilangan reputasi dan kepercayaan publik yang berdampak pada kredibilitas Perseroan dan kemampuan untuk bertransaksi, menjaga likuiditas dan memperoleh bisnis baru. Adanya permasalahan yang timbul dalam kegiatan operasional Perseroan dapat mengakibatkan peningkatan biaya operasional dari Perseroan yang pada akhirnya dapat menurunkan laba bersih Perseroan.
3. Risiko Stratejik
Risiko stratejik merupakan risiko akibat dari ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Dalam pengelolaan risiko stratejik, Perseroan melakukan review kinerja dan evaluasi kebijakan penyusunan target bisnis secara berkala dan berkesinambungan, serta apabila diperlukan, mengambil langkah-langkah perbaikan dalam rencana strategi dan target bisnis dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal.
4. Risiko Pasar
Risiko Pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option. Yang termasuk dalam variabel pasar adalah suku bunga dan nilai tukar, termasuk turunan dari kedua jenis risiko pasar tersebut, seperti misalnya perubahan harga option.
Pergerakan nilai tukar yang merupakan bagian dari risiko pasar akan mempengaruhi nilai dari aset dan kewajiban valuta asing yang dimiliki Perseroan. Kondisi ini akan dapat mempengaruhi struktur dan kinerja keuangan Perseroan.
Pergerakan suku bunga dan nilai tukar terjadi dalam waktu yang tidak dapat ditentukan, dimana dengan kondisi seperti ini Perseroan selalu melakukan pengawasan secara terus menerus dari setiap perubahan variabel yang ada. Perubahan variabel yang terjadi secara signifikan akan dapat menurunkan nilai dari portofolio yang dimiliki oleh Perseroan dan apabila hal ini memiliki nilai yang material maka akan dapat berdampak pada kinerja keuangan Perseroan.
5. Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan adalah risiko yang disebabkan Perseroan tidak mematuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku. Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perseroan harus selalu tunduk terhadap peraturan perbankan yang dari waktu ke waktu terus diperbaharui sesuai dengan perkembangan kondisi perbankan nasional. Di samping itu, Perseroan juga tunduk kepada peraturan yang mengatur Perseroan Terbatas, Peraturan BUMN, peraturan di bidang pasar modal (OJK dan Bursa Efek), peraturan terkait Pengendalian Gratifikasi dan pemenuhan ketentuan terkait penerapan program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT).
6. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan Perseroan untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Perseroan.
18 Untuk mengukur besarnya risiko likuiditas, Perseroan menggunakan beberapa indikator, antara lain adalah rasio Giro Wajib Minimum (GWM) pada Bank Indonesia dan Kas, Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM), cadangan likuiditas, Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM), Liquidity Coverage Ratio (LCR), Net Stable Funding Ratio (NSFR), dan ketergantungan terhadap pendanaan nasabah besar.
7. Risiko Hukum
Risiko hukum adalah risiko yang melekat pada setiap produk dan aktivitas Perseroan dan timbul sebagai akibat dari adanya tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis diantaranya ketiadaan atau ketidakcukupan dokumen hukum dan peraturan ataupun adanya kelemahan dalam dokumen perikatan dengan pihak ketiga.
Perseroan senantiasa meningkatkan pengendalian risiko hukum diantaranya dengan menempatkan jajaran Legal Officer di unit-unit kerja Kantor Pusat dan Regional Legal Team pada setiap region yang berkewajiban untuk memastikan setiap kegiatan atau transaksi yang akan atau telah dijalankan Perseroan telah mendapatkan pengamanan dari sisi yuridis.
8. Risiko Reputasi
Risiko Reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap Perseroan. Persepsi tersebut bisa disebabkan oleh pemberitaan maupun pengalaman negatif stakeholder, khususnya nasabah, atas produk dan layanan Perseroan serta kelemahan penerapan tata kelola perusahaan.
Risiko Reputasi dikelola melalui mekanisme monitoring, pengawasan, penanganan dan penyelesaian yang dikoordinasikan oleh Sekretaris Perusahaan dengan didukung oleh unit kerja terkait, termasuk unit kerja Customer Care, unit kerja Legal, unit kerja risiko retail, unit kerja Teknologi Informasi, dan unit kerja Strategic Marketing Communication dengan mengacu pada ketentuan internal dan perundang-undangan yang berlaku.
Di sisi lain, Risiko Reputasi juga dikelola dengan penciptaan persepsi positif melalui pemuatan artikel dan posting positif di media konvensional dan media sosial.
C. RISIKO PEREKONOMIAN YANG BERKAITAN DENGAN PERSEROAN
Risiko perekonomian adalah risiko yang ditimbulkan oleh perubahan kondisi ekonomi yang tidak terduga dan bersifat drastis. Risiko dapat berasal dari dalam negeri seperti perlambatan ekonomi, perubahan stance kebijakan moneter, risiko fiskal, dan perubahan regulasi khususnya di sektor keuangan. Risiko juga dapat muncul dari kondisi global, seperti pelemahan ekonomi dan krisis sektor finansial di negara-negara yang memiliki keterkaitan yang kuat dengan ekonomi dan sektor finansial Indonesia.
Risiko kondisi perekonomian tersebut selanjutnya akan berdampak pada kinerja indikator ekonomi makro nasional, seperti pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, suku bunga, kinerja sektor korporasi nasional, serta indikator-indikator finansial lainnya seperti pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga perbankan, indeks harga saham gabungan, dan imbal hasil surat-surat berharga. Perubahan secara drastis berbagai indikator tersebut akan berdampak kepada aktivitas ekonomi, termasuk aktivitas pengembangan bisnis industri perbankan.
D. RISIKO INVESTASI YANG BERKAITAN DENGAN OBLIGASI
Risiko yang dihadapi investor pembeli Obligasi adalah:
1. Risiko tidak likuidnya Obligasi yang ditawarkan dalam Penawaran Umum ini yang antara lain disebabkan karena tujuan pembelian Obligasi sebagai investasi jangka panjang;
19 2. Risiko gagal bayar disebabkan kegagalan dari Perseroan untuk melakukan pembayaran bunga serta hutang
pokok pada waktu yang telah ditetapkan atau kegagalan Perseroan untuk memenuhi ketentuan lain yang ditetapkan dalam kontrak Obligasi yang merupakan dampak dari memburuknya kinerja dan perkembangan usaha Perseroan.
3. Risiko pasar dari potensi suku bunga pasar yang mengalami peningkatan, sehingga investor akan mendapatkan return dengan suku bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan suku bunga pasar
20 DEBT CAPITAL MARKET TEAM
Ditto Pramudya
[email protected] Ph. 5296 – 9559
Sita Arvianti
[email protected] Ph. 5296 – 9561
Syarif Edwin
[email protected] Ph. 5296 – 9641 Inge I Kencana
[email protected] Ph. 5296 – 9560
Aldri Partamaputra S.
[email protected] Ph. 5296 – 9638
INVESTMENT BANKING TEAM
Shery Juwita Lestari [email protected]
Ph. 5296 – 9588
Kevin Praharyawan
[email protected] Ph. 5296 – 9587
Dimas Arie Purnama Tedjo [email protected]
Ph. 5296 – 9578
Adhita Jona Warsito [email protected]
Ph. 5296 - 9504
Sergio Wibowo [email protected]
Ph. 5296 - 9648
DISCLAIMER:
Informasi yang terdapat dalam dokumen ini diperoleh dari sumber yang dapat dipercaya. Meskipun demikian Mandiri Sekuritas dan atau afiliasinya dan atau pegawainya tidak bertanggung jawab terhadap akurasi ataupun kelengkapan informasi ataupun pendapat yang terdapat dalam dokumen ini. Dokumen ini bukan dan tidak dimaksudkan sebagai penawaran umum atau undangan umum kepada pihak manapun. Pihak manapun yang menerima dokumen ini dilarang untuk menyebarluaskan, menduplikasi atau memperbanyak dengan cara apapun tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Mandiri Sekuritas. Untuk keterangan lebih lanjut, mohon menghubungi telepon kami: 021-526 3445 atau faksimili kami: 021- 526 3507.