7 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
Adapun beberapa hasil temuan penelitian terhadulu yang membahas membahas tentang dampak peristiwa dan dapat dijadikan sebagai refesensi untuk pengetahuan yang lebih luas terhadap variable-variabel terkait, diantaranya adalah :
Penelitian yang dilakukan oleh (Amri, 2020) dengan judul penelitian “Dampak Covid-19 Terhadap UMKM di Indonesia”. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan mengetahui dampak pandemic virus corona terhadap UMKM yang ada di Indonesia. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah kondisi UMKM saat pandemic terus mengalami penurunan kapasitas produksi dan penghasilan.
Penelitian yang dilakukan oleh (Kurniawan, 2020) dengan judul ”Review Integratif Mengenai Pandemic Covid-19 dan Dampaknya Terhadap Industri Minuman Kopi”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak yang diakibatkan dari pandemic covid-19 terhadap industri kopi serta langkah apa yang dilakukan agar dapat mempertahankan usaha kopi saat pandemic covid-19. Metode penelitian ini adalah dengan kajian literatur. Hasil penelitian ini adalah pandemic covid-19 memberikan beberapa dampak diantaranya penurunan harga kopi dan menurunnya minat daya beli konsumen terhadap
kopi. Untuk mempertahankan usahanya, pengusaha kedai kopi disarankan untuk mematuhi protokol kesehatan sesuai dengan anjuran pemerintah.
Penelitian yang dilakukan oleh (Prakoso, 2020) dengan judul penelitian “Dampak Coronavirus Disease (Covid-19) Terhadap Industri Food & Beverages”. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui dampak dari coronavirus disease terhadap industri food beverages di Indonesia. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Hasil penelitian ini yaitu coronavirus disease memberikan dampak terhadap penurunan pendapatan dan pengurangan karyawan.
Penelitian yang dilakukan oleh (Rahardja, 2021) dengan judul penelitian “Dampak Covid-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar Pada Perilaku Konsumen Bidang Makanan dan Minuman di Era New Normal di Jakarta dan Tangerang”. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh covid-19 dan pembatasan perilaku konsumen saat new normal pada bidang makanan dan minuman di Jakarta dan Tangerang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji validitas, reliabilitas, normalitas, multikolinearitas, heterokedestisitas, spearman dan regresi linier berganda. Hasil penelitian ini yaitu covid-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memiliki pengaruh secara signifikan dan positif terhadap perilaku konsumen saat new normal pada bidang makanan dan minuman yang ada di Jakarta dan Tangerang.
Penelitian yang dilakukan oleh (Suhery et al., 2020) dengan judul penelitian “Analisis Dampak Covid-19 Terhadap UMKM (studi Kasus : Home
Industri Klepon di Kota Baru Driyorejo)”. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi industri klepon di Kota Baru Driyorejo saat terjadinya pandemi covid-19. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan menganalis dengan metode SWOT. Hasil dari penelitian ini adalah dampak dari adanya pandemi covid-19 pendapatan yang diperoleh para pengusaha klepon mengalami penurunan sebesar 60% dari sebelum pandemic covid-19.
Relevansi dari 5 penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan sekarang yaitu sama-sama meneliti dampak pandemic covid-19. Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini yaitu terdapaat perbedaan pada variabel yang diteliti, metode yang diteliti dan juga objek yang diteliti.
B. Tinjauan Pustaka
1. Dampak Pandemic Covid-19
Pandemic covid-19 telah menimbulkan banyak penderitaan. Hal ini dikarenakan masyarakat yang diharuskan untuk tetap tinggal di rumah agar tidak tertular covid-19. Sehingga begitu banyak kerugian yang dirasakan oleh masyarakat secara global baik itu kehilangan pekerjaan, larangan dalam perjalanan seperti pada industri penerbangan, pembatalan acara olahraga dunia dan semacamnya dan hingga pada larangan pertemuan secara massal yang mempengaruhi berbagai acara dan industri hiburan. Covid-19 tidak hanya merugikan, namun juga memiliki banyak dampak yang dapat mengguncang permintaan dan penawaran disetiap bidang usaha. Tentunya hal ini membuat pengaruh terhadap perekonomian tiap negara hingga sistem keuangan secara global.
Menurut (Ozili & Arun, 2020) dampak pandemic covid-19 terhadap global diantaranya pada sektor keuangan atau bank dan fintech yaitu perlambatan makroekonomi menyebabkan peningkatan kredit bermasalah pada sektor perbankan. Hal ini menyebabkan lebih sedikit biaya yang dapat dikumpulkan oleh bank sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap keuntungan bank. Bsinis fintech juga kehilangan keuntungan dan secara negatif mempengaruhi investasi ekuitas pemodal. Sedangkan pada sektor pasar uang atau pasar saham, adanya pandemic covid-19, secara global membuat kehilangan nilai 6 trilliun dollar selama 6 hari sehingga membuat harga harga saham di pasar uang turun.
Pandemic covid-19 telah menjadi penyebab dari perlambatan pertumbuhan ekonomi baik di indonesia maupun di luar negeri. Bank Indonesia sendiri menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tertekan hingga pada tingkat 2,1%. Selain itu, proyeksi pertumbuhan yang biasanya mencapai 5% hanya dapat tercapai 2,5% atau di bawah 5% (Caraka et al., 2020). Dalam jurnal (WWD, 2020) juga menjelaskan bahwa akibat adanya pandemic covid-19 di Indonesia, dampak yang bisa dirasakan pada sektor ekonomi diantaranya seperti : penurunan PMI Manufacturing Indonesia yang mencapai 45,3% pada bulan Maret 2020, kegiatan import juga mengalami penurunan pada triwulan 1, inflasi yang mencapai angka 2,96% year-on-year (yoy) yang disumbang dari harga emas dan komoditas pangan, terjadi PHK besar-besaran dimana 90% atau sekitar 1,5 juta pekerja di rumahkan dan 10% para pekerja terkena PHK,
terganggunya aktivitas penerbangan sehingga menurunkan pendapatan pada sektor tersebut, hilangnya devisa pariwisata akibat dari penurunan penempatan 6 ribu hotel atau mencapai 50% (Hanoatubun, 2020).
Pandemic covid-19 ini juga memberikan dampak pada Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM . Dampak dari pandemic covid-19 ini menyebabkan turunnya permintaan seperti daya beli dan konsumsi masyrakat sehingga juga berdampak pada pemutusan hubungan kerja dan juga berhentinya pembayaran kredit. Menurut kementrian koperasi dan usaha kecil menengah melaporkan terdapat sekitar 37.000 Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM yang terkena dampak serius dari pandemic covid-19. Dengan rincian sekitar 56 persen melaporkan terjadinya penurunan penjualan, 22 persen kesulitan dalam pembiayaan, 25 persen terjadi masalah dalam pendistribusian barang dan 4 persen kesulitan dalam mendapatkan bahan baku (Pakpahan, 2020).
Dampak pandemic covid-19, skala usaha dapat menentukan keberlanjutan usaha. Usaha Kecil dan Mikro (UKM) memiliki ketahanan operasional lebih rendah daripada usaha skala besar. Artinya, Usaha Kecil dan Mikro (UKM) lebih rentan terkena dampak pandemic covid-19 dibandingkan usaha berskala besar. Saat usaha berskala besar terkena dampak covid-19, mereka bisa meemberhentikan sementara kegiatan operasi saat pandemic covid-19 terjadi dan melanjutkan kembali kegiatan operasi mereka saat sudah kembali normal. Hal tersebut dikarenakan usaha skala besar memiliki modal dan pembiayaan yang memadai. Tidak seperti
Usaha Kecil dan Mikro (UKM) saat terkena dampak, mereka tidak mampu kembali beroperasi saat keadaan sudah normal dikarenakan modal yang mereka miliki sudah terkikis untuk biaya hidup keluarga (Budastra, 2020).
2. Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM
2.1 Definisi Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM
Dalam UU tahun 2008 no 20 menjelaskan pengertian usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah sebagai berikut :
1) Usaha Mikro
Menurut (Hadiyati, 2011), usaha mikro ialah usaha milik perorangan atau badan usaha perorangan yang sesuai dengan kriteria usaha mikro dalam UU tahun 2008 no 20 sebagai berikut :
a) Kekayaan bersih yang dimiliki tidak lebih dari Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Kekayaan tersebut tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
b) Penjualan tahunan yang dimiliki juga tidak lebih dari Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah).
Adapun ciri-ciri usaha mikro yaitu sebagai berikut (Indriyatni, 2013) :
a) Barang atau komoditi tidak tetap, dapat berganti sewaktu-waktu b) Tempat usaha sewaktu-waktu bisa berpindah
c) Masih menggabungkan antara keuangan pribadi dengan keuangan usahanya
d) Rata-rata tingkat pendidikan terakhirnya rendah
e) Tidak memiliki surat izin usaha atau seperti persyaratan legalitas lainnya
f) Dalam hal modal, sebagian hanya mengakses ke lembaga keuangan non bank
2) Usaha Kecil
Menurut (Hadiyati, 2011), usaha kecil ialah usaha yang berdiri sendiri dan dilakukan oleh perorangan atau dilakukan oleh badan usaha dan bukan termasuk anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki sesuai dengan kriteria usaha kecil yang sudah diatur dalam UU tahun 2008 no 20 sebagai berikut :
a) Kekayaan bersih yang dimiliki lebih dari Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah). Kekayaan tersebut tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
b) Hasil penjualan per tahun yang dimiliki lebih dari Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) sampai Rp 2.500.000.000 (dua miliar lima ratus juta rupiah).
Adapun ciri-ciri yang dimiliki usaha kecil sebagai berikut (Mariana, 2012) :
a) Barang atau komoditi tetap atau tidak mudah berganti barang atau komoditi dalam usahanya
c) Administrasi keuangan masih tergolong sederhana. Tetapi, uang perusahaan dengan uang pribadi sudah mulai dipisah
d) Pemilik usaha sudah memiliki pengalaman yang bagus dalam hal berwirausaha
e) Memiliki surat izin usaha atau seperti persyaratan legalitas lainnya f) Untuk keperluan modal, sebagaian sudah mengaksesnya ke Bank g) Manajemen usaha yang dibuat belum terlalu baik meskipun tidak
semua pengusaha kecil seperti itu. 3) Usaha Menengah
Menurut (Hadiyati, 2011), usaha menengah ialah usaha yang berdiri sendiri dilakukan perorangan atau badan usaha yang bukan termasuk anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian dengan usaha kecil atau usaha besar dengan kriteria yang diatur dalam UU tahun 2008 no 20 sebagai berikut :
a) Kekayaan bersih yang dimiliki lebih dari Rp 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp 10.000.000.000 (sepuluh miliyar rupiah). Kekayaan itu tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
b) Hasil penjualan tahunan yang dimiliki lebih dari Rp 2.500.000.000,- (dua miliyar lima ratus juta rupiah) sampai paling banyak Rp 50.000.000.000 (lima puluh milyar rupiah).
Adapun ciri-ciri usaha menengah yaitu sebagai berikut (Mariana, 2012) :
a) Manajemen dan organisasi yang dimiliki lebih baik dan lebih modern
b) Manajemen keuangan yang teratur dengan menerapkan system akuntansi
c) Sudah menerapkan pengelolaan dan organisasi perburuhan seperti memberikan jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek)
d) Persyaratan legalitas seperti izin usaha, NPWP dan lainnya sudah lengkap
e) Memiliki akses pada sumber pendanaan perbankan
Sumber daya manusia yang dimiliki umumnya sudah terdidik dan terlatih
2.2 Permasalahan Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM
Permasalahan yang sering terjadi pada Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM diantaranya seperti :
1. Permodalan
Permasalahan yang terkait dengan permodalan, dikarenakan seperti :
a) Kesulitan untuk akses ke bank, hal tersebut dikarenakan ketidaktahuan tentang persyaratan collateral yang artinya masih banyak UMKM yang belum terjaring
b) UMKM masih belum mengetahui bagaimana cara untuk memperoleh dana dari selain perbankan yang bisa dipergunakan untuk alternative pembiayaan
c) Tidak memiliki modal pada saat terdapat pesanan untuk produknya atau bisa disebut membutuhkan dana cepat untuk memenuhi pesanannya.
2. Pemasaran
Pemasalahan yang terjadi terkait dengan pemasaran pada UMKM, dikarenakan seperti :
a) Sulit mengetahui selera pasar, mengenali para pesaing dan produknya, mengerti tentang kelebihan dan kelemahan produknya dari pesaing dan memposisikan produknya di pasar
b) Terbatasnya sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki, sehingga sulit untuk mencari pasar
c) Standart yang dimiliki produk lemah atau kualitas produk tidak sesuai dengan deskripsi yang tertera
d) Kepercayaan konsumen hilang karena terbatasnya dana yang dimiliki sehingga tidak mampu memenuhi permintaan konsumen dalam jumlah besar
Dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah ada beberapa faktor yang menjadi penghambat dalam pengembangan, diantaranya adalah faktor internal, merupakan masalah klasik yang dialami para Usaha Mikro Kecil Menengah seperti minimnya permodalan dan kemampuan
dalam manajemen, produksi, dan juga sumber daya manusia. Selain itu juga ada faktor eksternal, merupakakn masalah yang berasal dari pembina dan pengembang Usaha Mikro Kecil Menengah. Masalah yang terjadi seperti tidak adanya program dan monitoring yang tumpang tindih, dan solusi yang diberikan tidak tepat dengan sasaran (Primiana, n.d.).
2.3 Ketahanan Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM Terhadap Guncangan
Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM bisa dibilang sebagai usaha yang mampu bertahan sejak terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1998 sampai krisis keuangan global. Hal ini sudah disepakati oleh peneliti ekonomi dari Bank Dunia, ekonomi kerakyakatan dan pejuang reformasi bahwa usaha kecil dan menengah tahan terhadap guncangan krisis moneter (Sari, 2014).
Menurut Buchari Alma (2007) dalam jurnal (Sari, 2014) juga menjelaskan bahwa krisis ekonomi yang sudah melanda di berbagai dunia salah satunya Asia Tenggara pada akhir abad 20 adalah krisis ekonomi yang menyebabkan colapsnya perekonomian di berbagai Negara. Krisis ekonomi tersebut berdampak juga pada perusahaan besar yang ada di berbagai negara tidak terkecuali perusahaan di Indonesia juga ikut terkena dampak. Perusahaan besar yang ada di Indonesia terpaksa gulung tikar karena terjadinya krisis tersebut. Tetapi saat terjadinya krisis, para Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM lebih mampu menghadapi krisis. Hal
tersebut terjadi karena para perusahaan besar lebih mengandalkan pinjaman dan modal gabungan dimana saat nilai dollar menguat dibanding rupiah para pengusaha kesulitan untuk membayar saat sudah memasuki jatuh tempo. Sedangkan Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM modal yang digunakan adalah modal milik pribadi.
Dalam jurnal (Hasanah, 2017), Hill (2001) menyatakan bahwa Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM memiliki peran penting terhadap perekonomian Indonesia karena Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM memiliki kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja, pemerintah Indonesia juga memprioritaskan Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM , kebijakan perekonomian juga sesuai dengan karakteristik UMKM, bisa berkontribusi untuk pertumbuhan industri, berkontribusi dalam mengembangkan usaha yang dijalankan para pribumi asli Indonesia, dan Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM terbukti bisa tahan terhadap tempaan dan deraan krisis ekonomi yang pernah dialami Indonesia pada tahun 1997-1998.
Sedangkan menurut (Nugroho & Negara, 2020) saat pandemic covid-19, Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM merupakan pilar perekonomian yang paling rentan. Dimana pandemic covid-19 telah mengganggu ekosistem bisnis. Sebelum pandemic, bisnis mikro mencapai 98% (atau 63,3 juta) dari total bisnis, sedangkan UKM sekitar 1,4% (atau 843 ribu) . Berbeda dengan krisis keuangan pada tahun 1997 - 1998 ketika
Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM menjadi pilar ketahanan ekonomi Indonesia.
3. Tenaga Kerja
3.1 Definisi Tenaga Kerja
Pengertian tenaga kerja menurut Pasal 2 ayat 2 UU No 13 Tahun 2013 adalah setiap orang baik laki-laki atau perempuan yang sedang atau akan melakukan pekerjaan, baik terikat hubungan kerja atau tidak terikat hubungan kerja untuk menghasilkan barang atau jasa guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Artinya, setiap orang yang mampu melakukan perkerjaan disebut sebagai tenaga kerja (Asyhadie & Kusuma, 2019).
Menurut (Sumarsono, 2009) tenaga kerja bisa juga disebut dengan angkatan kerja (labor force) dan bukan angkatan kerja (non labor force). Angkatan kerja adalah penduduk yang bersedia dan mampu secara fisik dan jasmani melakukan pekerjaan. Angkatan kerja juga sebagai perwakilan dalam penawaran kerja atau disebut sebagai Suply of Labor. Menurut (simanjuntak 1995:3) penduduk yang mencari pekerjaan digolongkan sebagai berikut :
1) mereka yang belum pernah bekerja dan sedang mencari pekerjaan 2) mereka yang sudah pernah bekerja tetapi saat ini menganggur dan
Angkatan kerja (labor force) yang digolongkan bekerja adalah sebagai berikut :
1) Mereka yang sudah melakukan pekerjaan selama satu minggu dengan tujuan memperoleh penghasilan dengan lama bekerja minimal selama dua hari
2) Mereka yang tidak melakukan pekerjaan selama satu minggu, tetapi mereka sedang melakukan pekerjaan dibidang keahilannya yang sedang tidak masuk karena sakit, cuti dan sebagainya. Contohnya seperti dokter, tukang cukur, dan lainnya.
Bukan angkatan kerja (non labor force) merupakan bagian dari tenaga kerja yang tidak terlibat dalam kegiatan produktif untuk memproduksi barang dan jasa atau yang tidak mampu mencari pekerjaan. Yang termasuk dalam golongan bukan angkatan kerja menurut (simanjuntak, 1995:6) adalah golongan yang masih menempuh pendidikan atau bersekolah, golongan mengurus rumah tangga, dan golongan lainnya seperti penerima pendapatan dari hasil sewa atas milik, hidupnya bergantung pada orang lain karena sudah lanjut usia.
Bagian dari tenaga kerja tetapi tidak terlibat dalam kegiatan produktif seperti memproduksi barang dan jasa disebut dengan bukan angkatan kerja. Menurut (Simanjuntak.1995:6) bukan angkatan kerja merupakan bagian dari tenaga kerja yang tidak mampu mencari pekerjaan. Golongan yang disebut sebagai bukan angkatan kerja adalah sebagai berikut :
1) Masih Menempuh Pendidikan
Maksud dari masih menempuh pendidikan adalah mereka yang duduk di sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan kegiatan mereka hanya menuntut ilmu.
2) Pengurus Rumah Tangga
Maksud dari pengurus rumah tangga adalah mereka yang kegiatan sehari-harinya mengurus rumah tangga tanpa ada imbalan atau upah.
3) Golongan lain
Maksud dari golongan lain adalah mereka yang mendapatkan pendapatan tetapi tidak melakukan kegiatan, seperti hasil sewa kepemilikan dan bunga simpanan. Selain itu seseorang yang hidupnya bergantung pada orang lain juga termsuk dalam golongan ini.
3.2 Penyerapan Tenaga Kerja
Dalam buku (Malik, n.d.), penyerapan tenaga kerja menurut (Simanjuntak, 1985:74) adalah permintaan turunan atau derived demand dari perubahan permintaan konsumen terhadap output perusahaan. Sehingga penyerapan tenaga kerja sendiri terjadi apabila terdapat penambahan permintaan dari barang yang diproduksi.
Menurut (Nicholson, 1995; Sudarsono; 1988) fungsi penyerapan tenaga kerja sendiri bisa diturunkan dari fungsi produk marginal tenaga kerja. Fungsi tersebut diturunkan dari proses optimalisasi dengan asumsi sebagai berikut :
1) Dengan mengelola penggunaan faktor produksi dengan efisien sehingga menghasilkan kurva permintaan tenaga kerja berhimpit dengan kurva produktivitas marjinal dengan slope negative maka pengusaha akan berusaha memaksimalkan keuntungan.
2) Hubungan diantara kedua faktor produksi yaitu faktor modal dan tenaga kerja tergantung pada teknologi produksi yang digunakan 3) Seluruh biaya tenaga kerja seperti biaya kesehatan, hak cuti, transport
dan dana pension dianggap sebagai upah. 4) Pasar tenaga kerja memiliki sifat kompetitif
Berdasarkan asumsi diatas, perubahan variabel-variabel pokok dalam perusahaan (teknologi yang diterapkan, upah, struktur modal, efisiensi perusahaan, aspek manajerial dan produktivitas total) juga menentukan penyerapan tenaga kerja (Simanjutak, 1985: Ehrenberg dan Smith, 1988).
Permintaan tenaga kerja dibagi menjadi dua, yaitu dalam jangka panjang dan jangka pendek. Permintaan tenaga kerja jangka pendek diartikan sebagai selama waktu tersebut terdapat input produksi yang tidak dapat dirubah, seperti modal. Tidak mudah juga untuk menambah dan mengurangi tenaga kerja yang disebabkan adanya perubahan upah dalam permintaan tenaga kerja jangka pendek, hal ini dikarenakan perlu penyesuaian terlebih dahulu terhadap modal, prosedur, bahan mentah dan tata ruang. Sedangkan menurut (Wartakusumah,1990:17-42) dalam jangka panjang, pengusaha bebas mengkombinasikan jumlah tenaga kerja dan modal, karena input produksi dapat berubah.
Dua hal yang mempengaruhi terjadinya perubahan tingkat upah terhadap permintaan tenaga kerja yaitu:
1) Efek produksi (Output Effect) adalah kenaikan tingkat upah diikuti dengan kenaikan biaya produksi dan menaikkan harga jual per produk. Tetapi jika tidak diikuti dengan kenaikan permintaan produk dan turunnya jumlah produksi, maka akibat yang dialami yaitu berkurangnya tenaga kerja.
2) Efek subtitusi (substitution effect) adalah menggantikan kebutuhan tenaga kerja dengan mesin jika upah naik dan harga barang modal tidak berubah.
3.3 Tenaga Kerja Dalam Industri Kecil
Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM memiliki banyak peranan penting, salah satunya yaitu dalam penyerapan tenaga kerja. Menurut prabowo dalam jurnal (Ratnasari & Kirwani, 2013), jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM memiliki pengaruh positif terhadap tenaga kerja. Semakin banyak jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM , maka permintaan tenaga kerja juga akan ikut meningkat. Artinya, semakin banyak jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah yang berdiri di suatu daerah di Indonesia maka semakin banyak juga tenaga kerja yang terserap.
Jumlah tenaga kerja pada Usaha Mikro Kecil Menengah diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) : Usaha Mikro mempekerjakan 1 sampai 4 tenaga kerja, Usaha kecil memperkerjakan 5 sampai 19 tenaga kerja dan usaha menengah mempekerjakan 20 sampai 99 tenaga kerja.
2. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Perindustrian No 64 Tahun 2016 jumlah tenaga kerja pada industri kecil hanya memperkerjakan tidak lebih dari 19 orang tenaga kerja dan untuk industri menengah, hanya memperkerjakan paling sedikit 20 orang tenaga kerja.
4. Pendapatan
Dalam jurnal (Arifini & Mustika, 2013) bagi pelaku ekonomi, pendapatan adalah uang yang sudah diterima oleh perusahaan dari pelanggan sebagai hasil dari penjualan barang dan jasa. Pendapataan juga bisa diartikan dengan jumlah penghasilan, baik itu perorangan atau keluarga dalam bentuk uang yang diperoleh dari keberhasilan usahanya (Tohar, 2000). Sedangkan dalam jurnal (Maheswara et al., 2016), menurut (Paula, 2005) pendapatan adalah unsur yang paling penting dalam perdagangan, dalam suatu usaha tentunya kita ingin mengetahui berapa nilai atau total dari pendapatan yang sudah kita peroleh selama menjalankan usaha tersebut.
Pendapatan setiap orang tidak selalu sama atau pendapatan setiap orang bisa saja berbeda dengan yang lainnya tergantung dari produktivitas dan keuletan seseorang individu dalam mewujudkan segala pendapatan. Menurut sigit purnomo, tinggi rendahnya pendapatan sesorang tergantung pada keuletan dan keahilan mereka dalam bekerja, ketersediaan kesempatan kerja, kegiatan dan kecakapan bekerja, kekayaan yang dimiliki dan banyak sedikitnya modal yang dikeluarkan.
Menurut (Boediono, 1982) dalam jurnal (Rakhmawati, 2009) total pendapatan merupakan perkalian antara produk yang diperoleh dengan harga jual. Pendapatan dapat dirumuskan sebagai berikut :
𝑇𝑅 = 𝑃 × 𝑄
Dimana
TR = Total pendapatan yang diterima, P = Harga jual produk atau unit, dan Q = Hasil produksi yang dicapai.
Sedangkan pendapatan bersih merupakan selisih dari total pendapatan yang diterima dengan total biaya yang dikeluarkan dalam produksi. Pendapatan bersih dapat dirumuskan sebagai berikut :
Pd = TR – TC
Dimana
Pd = Pendapatan bersih, TR = Total pendapatan, dan
TC = Total biaya.
Pendapatan yang diterima seseorang menurut (Boediono, 2002) dipengaruhi tiga faktor, yaitu faktor produksi yang dimiliki, harga per unit dari faktor produksi, dan hasil kegiatan sebagai kerja sampingan. Adapun tiga konsep pendekatan dalam perhitungan pendapatan menurut (Sukirno, 2004) dalam jurnal (Arifini & Mustika, 2013), yaitu :
1) Pendekatan Produksi (Production Approach) yaitu menghitung semua nilai tambah produksi barang atau jasa yang sudah didapatkan dalam kurun waktu tertentu.
2) Pendekatan Pendapatan (Income Approach) yaitu menghitung semua nilai balas jasa yang didapat pemilik factor produksi dalam kurun waktu tertentu.
3) Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach) yaitu menghitung segala pengeluaran dalam waktu tertentu.
Pendapatan yang diperoleh para penjual dipengaruhi beberapa faktor, menurut (Basu, 2008) faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan tersebut adalah :
1) Modal, Untuk memperoleh keuntungan maksimal para pengusaha tentu membutuhkan modal yang digunakan untuk operasional usahanya. 2) Kondisi pasar, hal ini berhubungan dengan lokasi yang dipilih para
pedagang untuk berdagang, selera pembeli serta keadaan dan jenis pasar.
3) Kemampuan pedagang, untuk mendapatkan penghasilan yang sesuai harapan, kemampuan pedagang dibutuhkan untuk menarik perhatian para pembeli sehingga pembeli tertarik terhadap barang yang dijual. 4) Organisasi, keuntungan yang diperoleh akan semakin besar jika
frekuensi penjualan yang dimiliki semakin tinggi.
5) Faktor lainnya, faktor lain yang mempengaruhi pedapatan dari penjualan produk seperti meningkatkan pemasaran dan branding produk.
C. Hubungan Antar Variabel
1. Dampak Covid-19 Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja
Menurut (Cakranegara, 2020) penyerapan tenaga kerja di Indonesia kebanyakan pada sektor informal. Sedangkan sektor informal bergantung pada aktivitas ekonomi. Tetapi saat pandemic covid-19 ini, kebijakan Pembatasan Berskala Besar yang membuat aktivitas ekonomi menjadi menurun membuat para pemilik usaha tidak memiliki pendapatan. Langkah yang diambil pemilik usaha untuk mengurangi beban, mereka harus melakukan penghematan dalam kegiatan operasionalnya. Dimulai dengan mengurangi biaya yang tidak perlu, tidak memperpanjang karyawan kontrak, mengurangi kapasitas dan minimum hingga pegawai tetap di rumahkan, dan pemutusan hubungan kerja.
Pandemi covid-19 juga berdampak pada tenaga kerja sektor formal. Tenaga kerja di sektor formal yang paling terkena dampak adalah mereka yang bekerja di sektor industri perjalanan seperti travel, perhotelan, acara
dan hiburan (Middia Martanti et al., 2021). Selain itu, pekerja rentan juga terdampak pandemic covid-19. Pekerja rentan ialah mereka yang memiliki kondisi hidup tidak menentu dalam hal pendapatan, jam kerja dan jaminan kesehatan. Selama ini mereka bergantung pada pendapatan yang mereka terima setiap harinya. Sehingga dengan adanya pandemic covid-19 ini berpengaruh terhadap kualitas hidup dan pendapatan mereka (Syahrial, 2020).
2. Dampak Covid-19 Terhadap Pendapatan
Menurut (Santika & Maulana, 2020) pandemic covid-19 saat ini memberikan dampak yang menyebabkan pendapatan yang diterima para UMKM menjadi menurun, orderan yang diterima juga menurun, serta terjadinya kendala-kendala yang berkaitan dengan kegiatan usaha seperti pemasaaran, distribusi dan produksi. Akibat dari pandemic covid-19 ini, membuat sebanyak 73,3% usaha mikro menghentikan usahanya untuk sementara waktu. Sedangkan untuk usaha mikro yang menghentikan usaha selamanya terdapat 3,3%. Sehingga pada saat ini mereka yang menutup usahanya dikategorikan sebagai pengangguran karena mereka tidak mempunyai pendapatan.
Perubahan perilaku masyarakat dimasa pandemic covid-19 seperti menurunnya daya beli konsumen yang diakibatkan konsumen memilih untuk berhemat dan tidak berpenghasilan menjadi salah satu factor terjadinya penurunan omset. Selain itu juga terdapat factor lain yang dapat menyebabkan omset menurun karena konsumen takut membeli secara
langsung. Meskipun pembelanjaan secara online saat ini sudah menjamur, tetapi juga banyak masyarakat yang belum terbiasa berbelanja secara online. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga salah satu faktor yang menyebabkan omset penjualan menjadi turun (Soetjipto, 2020).
D. Kerangka Pikir
Perlu adanya kerangka pemikiran teoritis untuk mengetahui masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu :
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Pandemic Covid-19
- Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) - Menjaga Jarak (Social
Distancing) - Stay At Home
1. Jam operasional lebih pendek
2. Pembatasan jumlah pengunjung
Penyerapan tenaga kerja 1. Jam operasional lebih
pendek 2. Pembatasan jumlah pengunjung Pendapatan usaha Strategi mempertahankan usahanya
E. Hipotesis
Berdasarkan dari kerangka pikir diatas, maka dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut :
H1 : Terdapat perbedaan signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja kedai kopi saat sebelum pandemic covid-19 dan saat pandemic covid-19 di sentra kopi sudimoro Kota Malang.
H2 : Terdapat perbedaan signifikan terhadap pendapatan kedai kopi saat sebelum pandemic covid-19 dan saat pandemic covid-19 di sentra kopi sudimoro Kota Malang.