• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Hasil Dan Pembahasan. yang dipimpin oleh seorang Kapolsek bernama AKP Mujito, S.H., M.H.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III Hasil Dan Pembahasan. yang dipimpin oleh seorang Kapolsek bernama AKP Mujito, S.H., M.H."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

41 BAB III

Hasil Dan Pembahasan

A. Gambaran Umum Polsek Pogalan

Kepolisian sektor Pogalan dari aspek geografisnya adalah bagian dari kepolisian resort Trenggalek provinsi jawa timur, merupakan satuan kerja kewilayahan yang terletak dijalan Bendorejo nomor 1 Kabupaten Trenggalek yang dipimpin oleh seorang Kapolsek bernama AKP Mujito, S.H., M.H.

AKP dan dibantu seorang Wakapolsek berpangkat Iptu, keduanya merupakan unsur pimpinan. Untuk melaksanakan tugas pimpinan dan pengolaan organisasi unsur pimpinan dibantu unsur pembantu staf pimpinan yaitu Sikeu (seksi keuangan) dan Sinum (seksi umum). Kemudian adanya unsur pembantu staf pelaksanaan yaitu pembinaan bagsunda (bagian sumber daya), perencanaan Bagren (bagian perencanaan) dan operasional yaitu Sat Binmas.

25

1. VISI DAN MISI a. Visi POLRI

Terciptanya keamanan dalam negeri dari segala bentuk ancaman dan gangguan berupa kejahatan guna terlaksananya Pembangunan Nasional dalam rangka tercapainya masyarakat yang damai dan sejahtera.

25Polres Trenggalek, Profil Polres Trenggalek. Dalam https://reskrimpolrestng.wordpress, access 17 Agustus 2017.

(2)

42 Polri memiliki kemampuan profesional dalam melaksanakan tugasnya dan dapat dipercaya oleh masyarakat.

b. Misi POLRI

Misi Polri adalah Tugas Pokok Polri sebagaimana tercantum dalam Undang Undang RI No.2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia :

1) Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;

2) Menegakkan hukum; dan

3) Memberikan perlindungan pengayoman dan pelayanan masyarakat.

2. TUGAS POKOK

Penjabaran tugas pokok (Pasal 14 UU No.2 Tahun 2002):

Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam pasal 13, Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas:

a. Melaksanakan pengaturan penjagaan, pengawalan ,dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan;

b. Menyelenggarakan segalah kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan;

c. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perUndang Undangan;

d. Turut serta dalam pembinaan hukum nasional;

e. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum.

(3)

43 B. Gambaran Umum Balai Besar Jalan Nasional Jawa Timur

Balai Besar/Balai Pelaksanaan Jalan Nasional merupakan unit pelaksana yang berada di bawah Direktur Jenderal Bina Marga dan Kementrian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat. Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Jawa Timur berlokasi di Jl. Raya Waru No.20, Kedungrejo, Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. BBPJN Jawa Timur dipimpin oleh bapak Ir. I Ketut Darmawan, MMT.

1. Tugas BPPJN

Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VIII mempunyai tugas melaksanakan perencanaan, pengadaan, pembangunan dan preservasi jalan dan jembatan, penerapan sistem manajemen mutu dan pengendalian mutu pelaksanaan pekerjaan penyediaan dan pengujian bahan dan peralatan serta keselamatan dan laik fungsi jalan dan jembatan sesuai dengan ketentuan peraturan perUndang Undangan.

2. Fungsi BPPJN

a. penyiapan data dan informasi sebagai bahan penyusunan program pembangunan jaringan jalan dan penyusunan rencana pelaksanaan penyelenggaraan jaringan jalan;

b. pelaksanaan dan pengendalian analisis mengenai dampak

lingkungan;

(4)

44 c. persiapan, penyusunan rencana dan dokumen pengadaan barang

dan jasa serta pelaksanaan pengadaan barang dan jasa;

d. pelaksanaan analisis harga satuan pekerjaan jalan dan jembatan;

e. pelaksanaan dan pengendalian pengadaan tanah jalan nasional;

f. pelaksanaan mitigasi dan penanggulangan bencana yang berdampak pada jalan;

g. pengendalian dan pengawasan konstruksi pelaksanaan pembangunan jaringan jalan nasional termasuk jalan bebas hambatan dan jalan tol serta penyesuaian kontrak pelaksanaan konstruksi;

h. pelaksanaan audit keselamatan jalan;

i. pelaksanaan pemantauan dan evaluasi standar pelayanan minimal jalan;

j. pelaksanaan penerapan sistem manajemen mutu dan pengujian mutu konstruksi;

k. pengadaan, pemanfaatan, penyimpanan, pemeliharaan, dan pelayanan bahan dan peralatan jalan dan jembatan;

l. pelaksanaan urusan kepegawaian dan hukum;

m. pelaksanaan pengamanan fisik dan sertifikasi hasil pengadaan tanah jalan nasional;

n. pelaksanaan, pengendalian, pengawasan, dan pengamanan fungsi

serta manfaat jalan nasional dan penetapan leger jalan nasional;

(5)

45 o. pelaksanaan penyusunan laporan akuntansi keuangan dan akuntansi

barang milik Negara selaku Unit Akuntansi Wilayah;

p. pelaksanaan pengadaan barang dan jasa dan Unit Layanan Pengadaan (ULP);

q. Pelaksanaan penyusunan laporan akuntansi keuangan dan akuntansi barang milik negara selaku Unit Akuntansi Wilayah.

r. pelaksanaan administrasi umum,urusan tata usaha dan rumah tangga Balai Besar serta koordinasi dengan instansi terkait dan komunikasi publik.

26

C. Upaya Yang Dilakukan Oleh Kepolisian Polsek Pogalan Dalam Mencegah Korban Kecelakaan Lalu Lintas Akibat Jalan Rusak

Musibah merupakan peristiwa yang tidak mungkin dielakkan lagi namun dapat diminimalisir, salah satunya adalah kecelakaan dalam berlalu lintas. Setiap manusia pasti tidak menginginkan hal yang buruk akan menimpa dirinya. Seringnya kita mendengar dan mengetahui terjadinya kecelakaan lalu lintas, membuat kita harusnya bisa lebih waspada dan berhati- hati dalam berkendara.

Namun, masih banyak juga pengendara kendaraan yang tidak memperhatikan keselamatannya sendiri. Terjadinya kecelakaan dalam berlalu lintas dapat dikarenakan oleh beberapa faktor, antara lain faktor manusia, kendaraan, cuaca dan kondisi jalan.

26Balai, Profil Balai Besar Jalan Nasional dalam http://www.balai8.net access 17 Agustus 2017.

(6)

46 Tugas Kepolisian Republik Indonesia mengenai kecelakaan lalu lintas tercantum dalam pasal 227 Undang-Udang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Isi dari pasal tersebut yaitu:

a. Mendatangi tempat kejadian dengan segera;

b. Menolong korban;

c. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian perkara;

d. Mengolah tempat kejadian perkara;

e. Mengatur kelancaran arus Lalu Lintas;

f. Mengamankan barang bukti; dan Melakukan penyidikan perkara

Untuk memperdalam pembahasan mengenai korban kecelakaan lalu lintas penulis melakukan wawancara bersama Kapolsek Kepolisian Sektor Pogalan yaitu Bapak Mujito S.H,,M.H pada tanggal 06 July 2017. Dari hasil wawancara penulis dengan Bapak Kapolsek diperoleh data korban kecelakaan lalu lintas di Jalan Tulungagung-Trenggalekdiwilayah hukum Polsek Pogalan dalam kurun waktu sembilan (09) bulan terakir sebagai berikut :

DATA KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS KEPOLISIAN SEKTOR POGALAN

JUMLAH LAKA LANTAS OKTOBER 2016 - JULY 2017

NO BULAN JUMLAH

LAKA

KORBAN LUKA RINGAN

KORBAN LUKA BERAT

1 OKTOBER 3 2 1

2 NOVEMBER 2 2 0

3 DESEMBER 5 3 2

4 JANUARI 4 1 3

5 FEBRUARI 6 3 3

(7)

47

6 MARET 2 2 0

7 APRIL 0 0 0

8 MEI 3 3 0

9 JUNI 3 2 1

Dari tabel jumlah korban kecelakaan lalu lintas yang penulis dapatkan dari Polsek Pogalan diatas tidak terdapat kecelakaan lalu lintas yang disebabkan jalan rusak. Data yang di dapatkan oleh kepolisian diatas merupakan data kecelakaan secara umum di jalan raya Tulungagung- Trenggalek yang didominasi kecelakaan lalu lintas antara sesama pengguna jalan.

Namun, dari hasil wawancara yang dilakukan penulis bersama dengan

Kepala Dusun Bendo Desa Bendorejo selaku perwakilan masyarakat yaitu

bapak Karyono pada tanggal 06 July 2017. Penulis mendapatkan keterangan

bahwa sebenarnya terdapat banyak kasus kecelakaan lalu lintas diakibatkan

jalan rusak di ruas Jalan Nasional Tulunggagung-Trenggalek. Bapak Karyono

menyatakan bahwa banyak korban kecelakaan mendapatkan kerugian fisik

maupun materi. Akan Tetapi, masyarakat tidak ada yang ingin melapor

kepada pihak kepolisian. Menurut keterangan Bapak Karyono hal tersebut

terjadi dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut :

(8)

48 1. Kecelakaan yang di alami oleh korban disebabkan oleh kekurang waspadaan dari diri korban sendiri sehingga mengalami kecelakaan di ruas jalan rusak.

2. Masyarakat enggan berurusan dengan pihak kepolisian dikarenakan kurang terdapatnya trust dari masyarakat kepada institusi kepolisian dalam menyelesaikan masalah yang dialami.

3. Masyarakat tidak mengetahui bahwa kerugian yang dialami pada saat terjadinya kecelakaan jika dikarenakan jalan rusak dapat di berikan ganti rugi oleh pemerintah.

27

Alasan-alasan tersebut diatas yang melatar belakangi keengganan masyarakat untuk melapor kepada pihak aparat kepolisian pada saat mengalami kecelakaan lalu lintas akibat jalan rusak.

Untuk mengetahui permasalahan tersebut secara lebih dalam penulis menemui salah satu warga desa Bendorejo yaitu Bapak Supriayadi yang beralamat di RT 03 RW 01 dusun Bendo desa Bendorejo. Penulis mengetahui informasi alamat korban tersebut dari Bapak Karyono.

Bapak Supriyadi lima puluh empat (54) Tahun sebagai korban kecelakaan lalu lintas akibat jalan rusak menuturkan kepada penulis mengenai kronologi kecelakaan yang dialami beliau. Korban sudah tidak ingat tanggal peristiwa tersebut namun, hanya mengingat hari dan bulan peristiwa itu terjadi.

27Hasil Wawancara Dengan Karyono, Kepala Dusun Bendo Desa Bendorejo, Tanggal 06 July 2017.

(9)

49 Pada awal bulan Agustus tahun 2016 malam hari Bapak Supriyadi sedang mengendari sepeda motor Yamaha MX miliknya dengan Nomor polisi AG 3534 XY. Korban berencana bepergian menuju Kec. Trenggalek Pukul 19.00 WIB namun, ketika korban meleawati ruas 1KM Jl. Nasional Tulungangung-Trenggalek beliau terjatuh akibat jalan berlubang yang tertutup oleh genangan air. Menurut pengakuan beliau pada sore harinya pada hari itu hujan deras selama kurang lebih tiga(3) jam. Korban menuturkan bahwa dirinya tidak menyadari adanya lubang di jalan raya karena kondisi penerangan kurang dan faktor pengelihatan korban sedikit terganggu karena faktor usia.

Korban mengalami keseleo pada kaki sebelah kiri dan beberapa luka lecet di kaki serta tangan pada saat korban menopang tubuhnya saat terjatuh.

Sepeda motor yang dikendarai korban mengalai kerusakan pada body depan.

Pada bagian samping kiri body depan Jupiter MX milik korban pecah dan harus diganti. Setelah korban terjatuh warga sekitar segera menolong dan membawa korban ke tepi jalan. Karena ketidak tahuan korban serta masyarakat maka kasus kecelakaan tersebut tidak dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Bapak Supriyadi tidak melaporkan ke pihak kepolisian karena beberapa alasan sebagai berikut :

1. Korban tidak mengetahui hak-hak korban kecelakaan lalu lintas akibat

jalan rusak

(10)

50 2. Korban malas berurusan dengan kepolisian karena takut bila diminta uang

oleh kepolisian

3. Korban mengiklaskan kecelakaan tersebut dengan alasan sebab kecelakaan tersebut karena kekurang hati-hatian dari korban sendiri

Pada saat terjadinya kecelakaan, Bapak Supriyadi mengatakan bahwa kelengkapan surat berkendar telah dibawa dan motor yang dikendarinya dalam keadaan standart serta tidak menyalahi aturan yang ada.

28

Menurut analisa penulis, bila korban berani melapor ke pihak kepolisian maka kepolisan dapat membuatkan berita acara pemeriksaan (BAP) dalam peristiwa kecelakaan tersebut. Kemudian korban harus melakukan visum ke rumah sakit terdekat supaya mendapatkan bukti dari pihak rumah sakit bahwa korban mendaptkan luka. Setelah mendapatkan BAP beserta hasil visum dari rumah sakit, korban dapat melaporkan peristiwa tersebut ke dinas pekerjaan umum (PU) untuk mendapatkan ganti kerugian berupa biaya pengobatan dan perbaikan sepeda motor.

Dalam peristiwa kecelakaan yang dialami Bapak Supriyadi, ruas jalan yang berlubang dan pada saat itu belum di berikan tanda adanya kerusakan jalan. Maka dari itu penyelenggara jalan secara otomatis bertanggung-jawab dalam kecelakaan tersebut serta harus memberikan ganti kerugian kepada korban. Pihak penyelanggara jalan dapat dituntut pidana bila tidak memenuhi hak-hak korban kecelakaan lalu lintas akibat jalan rusak sesuai dengan Pasal

28Hasil Wawancara Dengan Supriyadi, Korban Kecelakaan Lalu Lintas Akibat Jalan Rusak, Tanggal 05 Oktober 2017.

(11)

51 24, Pasal 240 dan Pasal 273 Undang – Undang No.22 Thaun 2009 Tentang Lalu Lintas

Pasal 24

(1) Penyelenggara Jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki Jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas.

(2) Dalam hal belum dapat dilakukan perbaikan Jalan yang rusak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelenggara Jalan wajib memberi tanda atau rambu pada Jalan yang rusak untuk mencegah terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas.

Palas 240

1. Pertolongan dan perawatan dari pihak yang bertanggung - jawab atas terjadinya kecelakaan lalu lintas atau pemerintah.

2. Ganti kerugian dari pihak yang bertanggung - jawab atas terjadinya kecelakaan lalu lintas; dan

3. Santunan kecelakaan lalu lintas dari perusahaan asuransi.

Pasal 273

1) Setiap penyelenggara Jalan yang tidak dengan segera dan patut

memperbaiki Jalan yang rusak yang mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) sehingga menimbulkan

korban luka ringan dan/atau kerusakan Kendaraan dan/atau barang dipidana

(12)

52 dengan penjara paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp.12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan luka berat, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp.24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

(3) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp.120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah).

(4) Penyelenggara Jalan yang tidak memberi tanda atau rambu pada Jalan yang rusak dan belum diperbaiki sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp.1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah).

Karena terjadi beberapa masalah yang penulis jabarkan diatas maka kepolisian Polsek Pogalan melakukan tindakan-tindakan pencegahaan sebagai berikut:

1. Melaksanakan pengaturan lalu lintas secara rutin pada pagi hari

pukul 06.30 – 08.00 WIB dan pada sore hari pukul 16.00 – 18.00

WIB. Upaya ini dilakukan di beberapa persimpangan jalan yang ada

di kecamatan Pogalan sekaligus di titik-titik kerusakan jalan. Hal

tersebut bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan lalu

(13)

53 lintas dan mempermudah aparat kepolisian dalam mengetahui terjadinya kecelakaan lalu lintas yang bisa terjadi kapan saja.

2. Pengalihan arus lalu lintas dari Jalan Nasional Tulungagung- Trenggalek menuju jalan alternatif di desa Bendorejo. Upaya ini dilakukan bila terjadi kemacetan parah di Jalan Nasional Tulungagung-Trenggalek dengan tujuan mengurai kemacetan dan mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas.

3. Mengajak masyarakat untuk membuat rambu-rambu/tanda-tanda yang memberikan informasi kepada pengguna jalan bahwa terdapat kerusakan jalan di beberapa ruas Jl. Nasional Tulungagung- Trenggalek.

Menurut teori efektifitas hukum yang di kemukakan oleh Soerjono Sukanto bahwa efektif atau tidaknya suatu hukum ditentukan oleh 5 (lima) faktor, yaitu :

1. Faktor hukumnya sendiri (Undang Undang).

2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.

3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.

4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku

atau diterapkan.

(14)

54 5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang

didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

29

Bila ditinjau satu persatu melalui teori efektivitas hukum maka pelaksanaan perlindungan hukum bagi korban kecelakaan lalu lintas perlu dibenahi dan ditingkatkan lagi.

Faktor pertama yaitu Undang Undang lalu lintas sebagai dasar polisi bertindak masih ada beberapa hal yang perlu diperjelas. Dalam Undang Undang No.22 Tahun 2009 Tentang Lalu lintas belum diatur secara jelas mengenai hak dan kewajiban pengguna kendaraan. Contohnya bila terjadi kecelakaan lalu lintas yang korbanya belum memenuhi kriteria layak jalan sesuai Undang Undang. Menurut Kapolsek Pogalan meskipun suatu korban kecelakaan lalu lintas belum memenuhi kewajiban berkendara sesuai Undang Undang tetap dapat diberikan hak-hak korban kecelakaan lalu lintas meskipun kewajiban pengendara belum dipenuhi. Dasar kepolisian memberikan hak tersebut hanya berdasarkan asas kemanusiaan belum berdasarkan Undang Undang.

30

Kedua, mengenai aparat penegak hukum yaitu Kepolisian Sektor Pogalan. Menurut analisa penulis, kinerja dari kepolisian masih perlu ditingkatkan lagi. Petugas kepolisian Polsek Pogalan memang telah melaksanakan tugas sesuai dengan aturan yang ada serta memberikan

29Soerjono Soekanto, Penegakan Hukum (Bandung: Bina Cipta, 1983), 80.

30Hasil Wawancara Dengan Moejito, Kepala Kepolisian Sektor Pogalan, Tanggal 06 July 2017

(15)

55 tindakan-tindakan pencegahan kecelakaan lalu lintas. Akan tetapi, masih ada beberapa pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi oleh kepolisian.

Hal utama yang harus dibenahi oleh kepolisi Polsek Pogalan adalah meningkatkan kembali trust (kepercayaan) dari masyarakat. Sebab-sebab yang mendasari minimnya laporan mengenai kecelakaan lalu lintas akibat jalan rusak ialah kurangnya kepercayaan dari masyarakat kepada instansi kepolisian. Hal tersebut dikarenakan masih banyak terjadi praktek-praktek penyuapan yang dilakukan oleh beberapa oknum kepolisian. Maka, dari itu kepolisian harus segera berbenah untuk menjalankan tugas dengan bersih, transparan dan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Faktor ketiga, yaitu sarana dan prasarana yang ada di Kepolisian Sektor Pogalan. Sarana yang dimiliki polsek pogalan seperti lampu lalu lintas, peluit petugas, rompi hijau dan lain lain sebenarnya sudah memadai namun, keterbatasan personil membuat pihak kepolisian tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik sesuai harapan masyarakat. Petugas harus menyesuaikan dengan personil yang ada sehingga diberlakukanya sistem bershift untuk setiap personil unit lalu lintas. Terkadang keterbatasan personil tersebut membuat anggota unit lain turut serta membantu unit lalu lintas dalam melaksanakan tugas. Unit lalu lintas di polsek Pogalan hanya berjumlah 9 personil.

Mengenai prasarana di wilayah hukum polsek pogalan ada beberapa

yang tidak memadai. Prasarana yang tidak memadai tersebut meliputi kondisi

(16)

56 jalan yang berlubang, marka jalan yang sudah memudar dan keterbatasan akses jalan alternatif bila terjadi kemacetan parah. Pada saat terjadi kemacetan parah akibat rusaknya Jalan Nasional Tulungangung-Trenggalek pihak kepolisian sempat mengalihkan arus lalu lintas ke jalan alternatif yaitu jalan desa Bendorejo. Namun, hal itu justru menimbulkan masalah baru dikarenakan jalan desa menjadi rusak setelah dilewati kendaraan-kendaraan berat.

Faktor keempat yaitu masyarakat yang menjadi faktor penting terlaksananya efektivitas hukum di suatu daerah. Masyarakat yang bertempat tinggal di desa Bendorejo sangat mendukung dan menaati peraturan perundang undangan yang ada seperti menggunakan alat keselamatan berkendara, mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan sebagainya. Akan tetapi, banyak dari warga masyarakat yang tidak mengetahui mengenai hak-hak korban kecelakaan itu sendiri.

Faktor terakir yaitu mengenai budaya, masyarakat warga desa Bendorejo sudah menjadikan tertib lalu lintas sebagai budaya. Akan tetapi, hal itu baru diterapkan oleh masyarakat kalangan usia dewasa hingga lansia.

Bapak Kapolsek Pogalan menuturkan bahwa, budaya tertib berlalu lintas oleh

masyarakat ini belum dilaksanakan dengan baik oleh kalangan muda

utamanya kalangan remaja di desa Bendorejo. Kalangan remaja di desa

Bendorejo masih memiliki kesadaran yang kurang mengenai tertib berlalu

lintas di jalan raya. Hal tersebut mengakibatkan data kepolisian mengenai

(17)

57 korban kecelakaan lalu lintas dengan luka ringan di dominasi kalangan remaja.

Penulis menggunakan teori efektivitas hukum dalam menganalisa fakta- fakta dari hasil penelitian dengan alasan untuk mengetahui bahwa pelaksanaan perlindungan hukum bagi korban kecelakaan lalu lintas sudah atau belum sesuai dengan tujuan Undang Undang lalu lintas. Efektivitas dapat diartikan sebagai suatu proses pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Suatu usaha dapat dikatakan efektif bila sudah tercapai tujuanya.

Bila disimpulkan dari data-data yang penulis jabarkan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perlindungan hukum bagi korban kecelakaan akibat jalan rusak belumlah efektif.

D. Upaya Hukum Yang Dapat Ditempuh Korban Kecelakaan Lalu Lintas Akibat Jalan Rusak

Setiap korban kecelakaan lalu lintas akibat jalan rusak memiliki hak untuk mendapatkan pertolongan pertama, ganti kerugian berupa biaya pengobatan serta kerusakaan kendaraan yang diatur dalam pasal 240 Undang Undang No.22 tahun 2009 mengenai lalu lintas dan angkutan jalan. Ganti kerugian tersebut ditujukan kepada pihak yang bertanggung-jawab atas terjadinya kecelakaan lalu lintas bisa kepada perorangan atau pemerintah.

Sesuai dengan Pasal 273 Undang Undang No.22 Tahun 2009 Tentang

Lalu lintas Penyelenggara Jalan yang tidak dengan segera dan patut

memperbaiki Jalan yang rusak yang mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas

(18)

58 sehingga menimbulkan korban luka ringan dan/atau kerusakan Kendaraan dan/atau barang dipidana dengan penjara paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

Jika mengakibatkan luka berat, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah). Lebih lanjut, jika mengakibatkan orang lain meninggal dunia, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah). Jika penyelenggara jalan tidak memberi tanda atau rambu pada Jalan yang rusak dan belum diperbaiki, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah).

Mengenai penggantian kerugian terhadap pengendara yang menjadi korban, diatur dalam Pasal 236 ayat (1) UU LLAJ, yaitu pihak yang menyebabkan terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas (dalam hal ini penyelenggara jalan) wajib mengganti kerugian yang besarannya ditentukan berdasarkan putusan pengadilan.

Kewajiban mengganti kerugian pada Kecelakaan Lalu Lintas yang

hanya mengakibatkan kerusakan Kendaraan dan/atau barang dapat dilakukan

di luar pengadilan jika terjadi kesepakatan damai di antara para pihak yang

terlibat.

(19)

59 Pada praktiknya, pihak yang menyebabkan kerugian karena kecelakaan lalu lintas dapat dihukum untuk membayar sejumlah ganti kerugian berdasarkan putusan pidana maupun putusan perdata.

Penyelanggara Jalan yang dalam hal ini diwakili oleh Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) juga dapat digugat perdata jika tidak melakukan ganti kerugian terhadap korban kecelakaan lalu lintas akibat jalan rusak sesuai amanah Undang Undang lalu lintas. Maka, korban kecelakaan lalu lintas dapat mengajukan gugatan terhadap BBPJN karena telah melakukan perbuatan melawan hukum.

Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatige daad) dalam konteks perdata diatur dalam Pasal 1365 Kitab Undang Undang Hukum Perdata atau Burgerlijk Wetboek (“BW”), dalam Buku III BW, pada bagian “Tentang perikatan-perikatan yang dilahirkan demi Undang Undang”, yang berbunyi:

“Tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.”

31

Menurut Rosa Agustina, dalam bukunya Perbuatan Melawan Hukum, terbitan Pasca Sarjana FH Universitas Indonesia (2003), dalam menentukan suatu perbuatan dapat dikualifisir sebagai melawan hukum, diperlukan 4 syarat:

31Hukumonline, Perbuatan Melawan Hukum dalam http://www.hukumonline.com, access 1 September 2017.

(20)

60 1. Bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku

2. Bertentangan dengan hak subjektif orang lain

3. Bertentangan dengan kesusilaan

4. Bertentangan dengan kepatutan, ketelitian dan kehati-hatian

32

Keterangan yang penulis dapat dari hasil wawancara dengan Bapak Dana Prasetyo selaku staff humas BBPJN mengenai gugatan perbuatan melawan hukum dari korban kecelakaan lalu lintas di ruas jalan nasional Tulungagung – Trenggalek hingga saat ini belum ada. Namun, bila terjadi kecelakaan dan mengakibatkan korban dikarenakan rusaknya jalan pihak Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Jawa Timur selaku penyelenggara jalan menyatakan siap melaksanakan ketentuan yang berlaku sesuai dengan Undang – Undang no 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.

Bapak Dana mencontohkan dengan kasus kecelakaan sebuah truk yang disebabkan jalan rusak di Kabupaten Gresik pada tahun 2013. Pihak BBPJN melakukan ganti kerugian terhadap pemilik truk ditambah dengan biaya rumah sakit perawatan supir truk yang mengalami patah tulang tangan sebelah kanan.

Menurut penuturan Bapak Dana

33

, pengajuan hak ganti kerugian korban kecelakaan lalu lintas akibat jalan rusak kategori jalan nasional dapat

32Rosa Agustina. 2003. Perbuatan Melawan Hukum. Penerbit Pasca Sarjana FH Universitas Indonesia.

33 Hasil Wawancara Dengan Dana Prasetyo, Staff Humas BBPJN, Tanggal 06 Agustus 2017.

(21)

61 diajukan ke petugas pembuat komitmen (PPK) yang berada di dinas pekerjaan umum kabupaten/kota ditempat kejadian perkara. Setelah PPK mendapatkan aduan maka akan diteruskan kepada Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Provinsi kecelakaan tersebut terjadi dan menunggu proses ganti rugi.

Syarat-syarat pengajuan pengaduan kecelakaan lalu lintas akibat jalan rusak sebagai berikut :

1. Menunjukan kartu tanda penduduk (KTP)

2. Menunjukan berita acara pemeriksaan (BAP) dari kepolisian 3. Menunjukan hasil visum dari rumah sakit

34

E. Kendala yang di hadapi aparat kepolisan dan pihak penyelanggara jalan dalam pemberian perlindungan hukum bagi korban kecelakaan lalu lintas

1. Polsek Pogalan

Ada beberapa faktor kendala yang di hadapi oleh Polsek Pogalan dalam melaksanakan perlindungan perlindungan hukum terhadap korban kecelakaan lalu lintas akibat jalan rusak.

Faktor pertama yaitu mengenai peran aktif masyarakat untuk melaporkan setiap kejadian kecelakaan lalu lintas. Kapolsek Pogalan menuturkan

35

bahwa saat ini masyarakat kurang mempercayai polisi untuk menyelesaikan segala macam perkara yang berkaitan dengan kecelakaan

34Hasil Wawancara Dengan Dana Prasetyo, Staff Humas BBPJN, Tanggal 06 Agustus 2017.

35Hasil Wawancara Dengan Moejito, Kepala Kepolisian Sektor Pogalan, Tanggal 06 July 2017.

(22)

62 lalu lintas, padahal dalam Undang Undang telah diatur bahwa kepolisian memiliki wewenang dalam perkara lalu lintas. Bila masyarakat sangat aktif dalam melaporkan setiap kejadian kecelakaan lalu lintas yang terjadi di wilayah hukmnya maka hal tersebut akan memudahkan kepolisian dalam melaksanakan perlindungan hukum bagi korban kecelakaan lalu lintas secara optimal.

Faktor kedua mengenai sarana dan prasarana. Dari hasil wawancara penulis dengan Kapolres Pogalan mengenai kendala-kendala yang diahadapi pada saat melaksanakan tugas , beliau menjelaskan bahwa keterbatasan jumlah personil di Polsek Pogalan menjadi salah satu faktor yang menghambat pelaksanaan perlindungan hukum bagi korban kecelakaan lalu lintas. Menurut penjelasan beliau bahwa jumlah anggota unit lalu lintas hanya berjumlah 9 orang di polsek Pogalan, hal ini menyebabkan petugas kepolisian harus memakai sistem shift dalam berjaga di kantor dan tidak bisa selalu berada di lapangan untuk memantau situasi.

36

2. Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional

Kendala – kendala yang dihadapi oleh BBPJN dalam melakukan perlindungan hukum bagi korban kecelakaan lalu lintas yaitu:

a) Masalah Pendanaan.

Dari penuturan narasumber, dana yang diberikan pemerintah pusat sering terlambat dalam proses pencarian membuat terhambatnya ganti

36Hasil Wawancara Dengan Moejito, Kepala Kepolisian Sektor Pogalan, Tanggal 06 July 2017.

(23)

63 rugi.

b) Pertanggung-jawaban

Saling tumpang tindihnya mengenai pihak yang berkewijaban bertanggung-jawab atas suatu kecelakaan lalu lintas menjadi faktor penting penghambat pelaksanaan perlindungan hukum bagi korban kecelakaan lalu lintas. Beliau menjelaskan bahwa tumpang tindih pihak yang bertanggung atas sebuah kecelakaan lalu lintas sering terjadi di lapangan. Beliau memberi contoh ada sebuah mobil yang diasuransikan mengalami kecelakaan akibat rusaknya jalan. Dalam contoh kasus tersebut pihak BBPJN tidak melakukan ganti kerugian karena sudah di laksanakan oleh pihak asuransi.

37

37Hasil Wawancara Dengan Dana Prasetyo, Staff Humas BBPJN Tanggal 06 Agustus 2017.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut beliau dengan anak 5 orang yang diberikan kepada mereka, nampanya menjad PNS tidak bisa menjamin masa depan anak-anak kami, sehinga dengan peluang ada

Yang bertanda tangan di bawah ini saya, Arie Pramudhita Hartanto, menyatakan bahwa skripsi dengan judul: ANALISIS PENGARUH KEDISIPLINAN, GAYA KEPEMIMPINAN, DAN

Penulis memfokuskan kajian dalam skripsi ini, dengan berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut: pertama apa

Dari uji F dapat diketahui apakah semua variabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pendidikan dan tenaga kerja yang dimasukkan dalam model memiliki pengaruh secara

Dari hasil analisis data dan pembahasan tersebut di atas tentang “pengaruh penggunaan media audio visual terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII pada

Hasil pengujian organoleptik (Tabel 4), menunjukkan bahwa produk mi yang diformulasi dengan rasio subtitusi tepung jagung modifikasi 50% memiliki kekenyalan, warna,

Adanya unsur Ca dan Si merupakan elemen-elemen yang terkandung dalam mineral silikat; unsur S diperkirakan belerang sulfat dan piritik (hasil analisis petrografi); Cu,