• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE MEMAHAMI AGAMA ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "METODE MEMAHAMI AGAMA ISLAM"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

METODE MEMAHAMI AGAMA ISLAM

A. Pendahuluan

Muhammadiyah mendefinisikan agama Islam sebagai sesuatu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. adalah apa yang diturunkan di dalam al-Qur’an dan yang tersebut dalam Sunnah yang maqbulah berupa perintah-perintah, dan larangan-larangan serta petunjuk/inspirasi untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat.

1

Definisi ini menunjukkan bahwa Islam merupakan sebuah sistem universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Ajaran Islam diyakini dapat memenuhi kebutuhan manusia secara komprehensif. Jika manusia menaati ajaran agama ini maka dapat menjadi sarana baginya untuk mencapai kebaha- giaan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Sebagai sebuah sistem, Islam memiliki sumber ajaran yang lengkap, yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Rasulullah menjamin, jika seluruh manusia memegang teguh al-Qur’an dan Sunnah dalam kehidupannya, maka ia tidak akan pernah tersesat selama-lamanya (HR. Muslim).

1

PP Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, (Yogyakara: Suara

Muhammadiyah, 2013), hlm. 278. Di naskah HPT ini masih tertulis sunnah yang shahih tetapi

saat ini sudah diubah menjadi sunnah yang maqbulah, lihat juga Asjmuni Abdurrahman, Manhaj

Tarjih Muhammadiyah: Metode dan Aplikasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 183.

(2)

Al-Qur’an dipandang sebagai sumber ajaran dan sumber hukum Islam yang pertama dan utama, sedangkan sunnah merupakan sumber hukum kedua setelah al-Quran. Nilai kebenaran al-Qur’an bersifat mutlaq (absolut, qath’i), karena al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang transendental, mengandung mu’jizat, dan tidak akan ada seorang pun yang mampu membuat tandingannya (QS. 26: 192-193 & QS. 16:102). Mengenai hadis (sunnah) yang dapat menjadi hujah adalah sunnah makbulah seperti ditegaskan dalam Putusan Tarjih Jakarta tahun 2000. Istilah sunnah makbulah merupakan perbaikan terhadap rumusan lama dalam HPT tentang definisi agama Islam yang menggunakan ungkapan

“sunnah sahihah”.

Istilah sunnah sahihah sering menimbulkan salah faham dengan mengi- dentikkannya dengan hadis sahih. Akibatnya hadis hasan tidak diterima, padahal sudah menjadi ijmak seluruh umat Islam bahwa hadis hasan juga menjadi hujah agama. Oleh karena itu untuk menghindarkan salah paham tersebut rumusan itu diperbaiki sesuai dengan maksud sebenarnya rumusan bersangkutan, yaitu bahwa yang dimaksud dengan sunnah sahihah adalah sunnah yang bisa menjadi hujah, yaitu hadis sahih dan hadis hasan. Karenanya dalam rumusan baru dikatakan “sunnah makbulah”, yang berarti sunnah yang dapat diterima sebagai hujah agama, baik berupa hadis sahih dan maupun hadis hasan.

Hadis daif tidak dapat dijadikan hujah syar’iah. Namun ada suatu perke- cualian di mana hadis daif bisa juga menjadi hujah, yaitu apabila hadis tersebut:

1) banyak jalur periwayatannya sehingga satu sama lain saling menguatkan, 2) ada indikasi berasal dari Nabi saw,

3) tidak bertentangan dengan al-Qur’an,

4) tidak bertentangan dengan hadis lain yang sudah dinyatakan sahih,

5) kedaifannya bukan karena rawi hadis bersangkutan tertuduh dusta dan pemalsu hadis.

2

Ketika al-Qur’an dan hadis dipahami dan dijadikan sebagai objek kajian, maka muncullah penafsiran, pemahaman, dan pemikiran. Demikian juga lahirlah berbagai jenis ilmu Islam yang kemudian disebut “Dirasah Islamiyyah”

2

Syamsul Anwar, “ Manhaj Tarjih & Ijtihad Muhammadiyah” , Makalah pada Darul Arqam

dan Latihan Instruktur Nasional, 19 Desember 2009 di Pusbang Kaliurang Yogyakarta, hlm. 3-4.

(3)

atau Islamic Studies. Jika al-Qur’an dan Sunnah, dipahami dalam bentuk pengetahuan Islam, maka kebenarannya berubah menjadi relatif, dan tidak lagi mutlak. Hal ini karena pemahaman, pemikiran dan penafsiran merupakan hasil upaya manusia dalam mendekati kebenaran yang dinyatakan dalam wahyu Allah (al-Qur’an) dan sunnah Rasulullah Saw. Karena produk manusia maka hasilnya relatif bisa benar, tapi juga bisa salah. Bisa benar untuk waktu tertentu, tapi tidak untuk waktu yang lain.

Untuk memahami al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber ajaran Islam, maka diperlukan berbagai pendekatan metodologi pemahaman Islam yang tepat, akurat, dan responsibel. Dengan demikian, diharapkan Islam sebagai sebuah sistem ajaran yang bersumber pada al-Qur’an dan Hadis, dapat dipahami secara terpadu dan komprehensif.

B. Pengertian Metode dan Metodologi

Kata metode berasal dari bahasa Yunani methodos, sambungan kata depan meta (menuju, melalui, mengikuti) dan kata benda hodos (jalan, perjalanan, cara, arah) kata methodos sendiri lalu berarti: penelitian, metode ilmiah, hipotesis ilmiah, uraian ilmiah. Metode ialah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu. Metodologi berasal dari kata metode dan logos. Metodologi bisa diartikan ilmu yang membicarakan tentang metode-metode.

3

Pengertian metode berbeda dengan metodologi. Metode adalah suatu jalan, petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis, sehingga memiliki sifat yang prak- tis. Adapun metodologi disebut juga science of methodos, yaitu ilmu yang membicarakan cara, jalan atau petunjuk praktis dalam penelitian, sehingga metodologi penelitian membahas konsep teoritis berbagai metode.

4

Dapat pula dikatakan bahwa metodologi penelitian adalah membahas tentang dasar- dasar filsafat ilmu dari metode penelitian, karena metodologi belum memiliki langkah-langkah praktis, adapun derivasinya adalah pada metode penelitian.

Bagi ilmu-ilmu seperti sosiologi, antropologi, politik, komunikasi, ekonomi, hukum, serta ilmu-ilmu kealaman, metodologi adalah merupakan dasar-dasar filsafat ilmu dari suatu metode, atau dasar dari langkah praktis penelitian.

3

Anton Bakker, Metode-Metode Filsafat, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984 ), hlm. 10.

4

Surajiyo, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 90.

(4)

Metode bisa dirumuskan suatu proses atau prosedur yang sistematik berdasarkan prinsip dan teknik ilmiah yang dipakai oleh disiplin bidang studi untuk mencapai suatu tujuan. Adapun metodologi adalah pengkajian mengenai model atau bentuk metode, aturan yang harus dipakai dalam kegiatan ilmu pengetahuan. Jika dibandingkan antara metode dan metodologi, maka meto- dologi lebih bersifat umum dan metode lebih bersifat khusus. Dengan kata lain dapat dipahami bahwa metodologi bersangkutan dengan jenis, sifat dan bentuk umum mengenai cara-cara, aturan dan patokan prosedur jalannya penyelidikan, yang mengambarkan bagaimana ilmu pengetahuan harus bekerja.

Adapun metode adalah cara kerja dan langkah-langkah khusus penyelidikan secara sistematik menurut metodologi itu, agar tercapai suatu tujuan, yaitu kebenaran ilmiah.

Persoalan dalam memahami agama Islam dalam artikel perkaderan Baitul Arqam ini dibatasi pada pembahasan tentang ragam metode dalam memahami agama Islam, adapun pembahasan metodologinya akan diurai secara menda- lam pada materi Darul Arqam tingkat Pusat. Namun sebelum menjelajahi ragam metode tersebut perlu juga diurai sekilas tentang urgensi metodologi atau metode dalam memahami agama Islam.

C. Urgensi Metodologi dalam Memahami Islam

Mukti Ali pernah membuat ilustrasi yang menarik tentang kenapa Eropa menghabiskan waktu seribu tahun dalam keadaan stagnasi, namun setelahnya mampu bangkit menjadi maju dalam waktu singkat. Lalu, ia meminjam ilustrasi Ali Syariati, mengapa Yunani, di masa kuno memiliki segudang filosof yang genius seperti Aristoteles (384-322 SM) dan Plato (366-347 SM) namun tidak mampu melahirkan kemajuan peradaban dunia, sedangkan Eropa pasca renai- sans dengan para ilmuan yang biasa, tidak sejenius para filosof Yunani, contoh- nya Roger Bacon (1214-1294) dan Francis Bacon (1561-1626), berhasil mewu- judkan peradaban baru dunia. Jawaban singkatnya adalah karena mereka menguasai metodologi. Meskipun genius, para filosof Yunani tidak menemukan metode yang tepat, sedangkan ilmuan Eropa meski tidak genius namun mereka pada abad 15-16 itu menemukan metode yang tepat dan sesuai untuk mengem- bangkan sains dan peradaban

5

.

5

Mukti Ali, Metode Memahami Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), hlm. 27-31

(5)

Metode yang tepat dimaksud adalah metode ilmiah, khususnya metode eksperimen. Melalui metode ini penelitian terhadap fenomena alam semesta dilakukan dengan tepat sehingga melahirkan hukum-hukum, bahkan pada tahap berikutnya dilahirkan teori-teori. Sains dan teknologi di Eropa dan atau di Barat menjadi modern berkat penemuan hukum-hukum dan teori kealaman tersebut. Sebaliknya di Yunani alam dilihat penuh dengan kacamata mitos yang mengajarkan manusia harus tunduk kepada alam. Tetapi, dengan metode ilmiah, hasil-hasil eksprimen menunjukkan bahwa gejala alam, yang semula mitos, bisa diobservasi, diprediksi, ditaklukkan bahkan dimanfaatkan untuk kebutuhan dan kemudahan hidup manusia.

6

Ilustrasi di atas bisa membantu memberikan pemahaman pada kita bahwa dengan metode mempelajari Islam yang tepat akan membawa umat Islam pada perkembangan ilmu-ilmu dan pemahaman keagamaan yang lebih sesuai dengan semestinya, baik dalam ukuran agama maupun kehidupan umat manu- sia dewasa ini.

Studi agama pada dasawarsa terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup pesat, seiring dengan semakin beragamnya objek kajian dan metode kajiannya. Sebagai objek kajian, agama Islam dapat diposisikan sebagai doktrin, realitas sosial atau fakta sosial. Islam sebagai doktrin memposisikan wahyu yang kebenarannya bersifat mutlak. Islam dalam pengertian ini adalah al- Qur’an dan Sunnah yang meliputi ajaran-ajaran, norma-norma, aturan-aturan dan sebagainya yang bersifat normatif. Sedangkan Islam sebagai realitas sosial merupakan kenyataan dan fakta agama dalam pengamalan masyarakat dan peradaban Islam (praktik sosial, budaya, politik, ekonomi, dan lain-lain). Jika paradigma pertama, agama sebagai doktrin, menunjukkan bahwa Islam sebagai kebenaran, ajaran, norma-norma dan keyakinan yang bersumber dari wahyu Tuhan. Maka, paradigma kedua, Islam sebagai realitas, menunjukkan tentang kondisi riil Islam, baik menyangkut masyarakat, peradaban maupun sejarah Islam. Jika paradigma pertama adalah Islam dilihat sebagai konsepsi ideal maka paradigma kedua melihat Islam sebagai realitas historis.

Munculnya dua objek kajian di atas melahirkan dua pendekatan utama dalam studi agama yaitu, pertama, pendekatan yang dikembangkan dari paradigma Islam sebagai doktrin. Yaitu suatu pendekatan yang memandang

6

Moh. Nurhakim, Metodologi Studi Islam, (Malang: UMM Press, 2004), hlm. 10.

(6)

agama dari dimensi ajaran-ajaran yang pokok dan asli dari Tuhan. Kedua, pendekatan yang dikembangkan dari paradigma Islam sebagai realitas. Yaitu suatu pendekatan yang memandang agama sebagai realitas yang bersifat empirik atau historis. Pendekatan yang pertama inilah yang disebut dengan pendekatan normatif, dan yang kedua disebut pendekatan historis.

7

Pendekatan normatif dan historis menimbulkan perbedaan dalam menjelas- kan Islam. Dalam sudut pandang normatif Islam dilihat sebagai agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan yang berkaitan dengan urusan akidah dan syariah. Sedangkan dalam pendekatan historis maka Islam tampil sebagai sebu- ah disiplin ilmu yang terbuka terhadap analisis-kritis, metodologis dan empiris.

8

Kajian yang memposisikan agama sebagai doktrin menggunakan pendekatan teologis (normatif), sedangkan kajian yang memposisikan agama sebagai reali- tas sosial lebih tepat menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial seperti sosio- logi, antropologi, sejarah, hermeneutika dan lain-lain.

Berdasarkan uraian di atas, tampak bahwa dalam melakukan studi terhadap Islam diperlukan metodologi yang tepat agar dihasilkan suatu kesimpulan mengenai Islam dalam keseluruhan aspek ajarannya secara tepat pula. Baik mengenai Islam sebagai sumber ajaran, Islam sebagai pemahaman, maupun Islam sebagai pengamalan. Termasuk di dalamnya ialah bagaimana cara yang cepat dan tepat mempelajari sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Selain itu, dalam memahami masalah-masalah agama tidak saja diperlukan pendekatan kaidah-kaidah ilmiah, tapi juga diperlukan pendekatan imaniah, yakni yang berdasar pada keyakinan dan keimanan.

Berbagai pendekatan yang dipergunakan dalam memahami Islam meliputi pendekatan teologis normatif, antropologis, sosiologis, psikologis, historis, kebudayaan dan pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan pende- katan di sini adalah cara atau sudut pandang seorang pembelajar dalam mende- kati, memandang, membahas dan menganalisis suatu objek kajian dengan menggunakan ilmu-ilmu atau teori-teori tertentu sehingga mendapat kesim- pulan yang tepat. Sedangkan metode dipahami lebih sempit dari pendekatan.

Metode memiliki arti cara atau jalan yang dipilih dalam upaya memahami

7

Baca lebih lanjut Amin Abdullah, Studi Agama Normativitas atau Historisitas? (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 1996).

8

Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2001), hlm. 92-93.

(7)

sesuatu. Dalam hal ini, memahami ajaran agama yang bersumber dari al- Qur’an dan Sunnah.

D. Metode-Metode Memahami Islam

Metode atau cara bisa mengantarkan seseorang untuk memahami sesuatu dengan baik, dan sebaliknya. Demikian halnya seseorang bisa berhasil atau gagal dalam suatu urusan antara lain disebabkan oleh karena soal cara.

Dengan metode seseorang bisa langsung sampai kepada substansi masalah, ada yang hanya sampai pada antara, dan ada pula yang meleset. Demikian urgensinya cara itu, selanjutnya dapat dilihat pada rumus di bawah ini.

Pesan Cara Hasil

+ – – – + – + + +

Rumusan di atas mengantarkan kita kepada suatu pemikiran bahwa dalam banyak hal ada orang yang gagal atau sukses karena faktor cara/metode.

Demikian halnya dengan berbagai upaya kita selama ini dalam memahami Islam dan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari sedikit tidaknya dipengaruhi dari metode dalam memahami Islam. Al-Qur’an con- tohnya, meskipun satu bentuknya atau sama di seluruh dunia tetapi menyang- kut tafsir memahaminya sangat beragam yang diantaranya dipengaruhi oleh faktor metode tafsir al-Qur’an.

Optimalisasi pemahaman terhadap Islam hingga sekarang ini dapat disaksikan dari pemikiran dan amal keagamaan masyarakat muslim. Dalam hubungannya dengan ini, kita tidak bisa terlalu heran jika kemudian melihat ada orang yang hanya memperlihatkan salah satu aspek dari ajaran Islam, karena sebatas itulah yang ia pahami mengenai ajaran Islam yang ia pelajari dan yakini. Beredarnya buku-buku yang membahas Islam dengan menyertakan label-label tertentu adalah salah satu contoh dari apa yang dimaksudkan di sini.

Karena manusia diberi akal dan Allah SWT memerintahkan kita untuk

mempergunakannya secara maksimal, maka dari waktu ke waktu para ahli

terus menerus melakukan berbagai kajian melalui berbagai disiplin ilmu yang

(8)

dikuasainya. Kajian-kajian itu juga dipengaruhi pula oleh berbagai pengalaman keagamaan yang bersangkutan, riset, dan analisis teks baik yang dilakukan oleh para sarjana muslim sendiri maupun non-muslim.

Kajian atau studi mengenai pemahaman Islam adalah bagian dari kajian ilmu-ilmu keagamaan. Guna mengetahui berbagai pendapat yang dimaksud, berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat tentang bagaimana metode memahami Islam.

Nasruddin Razak, dalam bukunya, Dienul Islam menawarkan empat cara dalam memahami Islam dan agar terhindar dari salah paham terhadap Islam

9

, yaitu:

1. Islam harus dipelajari dari sumber aslinya, al-Qur’an dan Sunnah. Kekeliruan kebanyakan muslim dalam memahami Islam diantaranya karena telalu menyandarkan pengetahuan agamanya terhadap ulama semata tanpa upaya untuk menelusuri dan mengonfirmasikannya lebih lanjut dengan sumber ajaran Islam yang paling otoritatif, yakni al-Qur’an dan Sunnah. Hal ini diperparah lagi dengan pengenalan agama melalui kitab-kitab agama (fikih dan tasawuf, misalnya) yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Mempelajari Islam dengan cara demikian dapat menimbulkan sakrali- sasi pemikiran agama atau menganggap pemikiran manusia sebagai agama itu sendiri di satu sisi, pada sisi yang lain menjadikan dinamisasi ajaran Islam menjadi tersendat.

2. Islam harus dipelajari dengan integral, tidak dengan cara parsial, artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Memahami Islam secara parsial akan membahayakan, menim- bulkan skeptis, bimbang dan penuh keraguan. IIustrasi sederhananya seperti hikayat pengenalan gajah dari empat orang buta. Bagi mereka yang meme- gang ekornya akan berkesimpulan gajah itu panjang seperti cambuk. Bagi yang memegang kakinya akan berpendapat bahwa gajah seperti pohon kelapa, dan yang kebetulan memegang telinganya mengatakan bahwa gajah itu lembek dan lebar, sementara yang memegang perutnya memahami bahwa gajah itu laksana barang tergantung yang besar.

3. Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar dan sarjana-sarjana Islam, karena pada umumnya mereka memiliki pema-

9

Nasruddin Razak, Dienul Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1977), hlm. 49-50.

(9)

haman Islam yang baik, yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktik ibadah yang dilakukan setiap hari. Poin ketiga yang dikemukakan oleh Nazruddin ini tentu tidak menafikan lahirnya berbagai pemikiran Islam yang lahir dari outsiders (non-muslim) yang juga sangat kental dengan khazanah pemikiran Islam yang ilmiah dan kritis. Namun menyangkut studi agama objektivitas atau netralitas tidaklah merupakan kriteria utama dan satu- satunya dalam proses penelitian agama, tetapi penilaian subjektif juga merupakan unsur penting dan merupakan kriteria yang menentukan dalam proses mempelajari dan memahami agama.

10

Adanya unsur refleksi agamis peneliti yang bersifat subjektif tidak menghalangi dan mengurangi nilai ilmiah penelitian agama. Tetapi justru dengan refleksi semacam ini fenomena keagamaan dapat dipahami dengan bahasa yang lebih tepat.

4. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan teologi normatif yang ada dalam Al-Qur’an, baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris dan sosiologis yang ada di masyarakat.

11

Rekomendasi ini menjadi penting karena banyak pembelajar Islam lebih mempelajari kenyataan umat Islam an sich, tapi justru tidak mempelajari agama Islam itu sendiri. Mengambil kesimpulan tentang Islam dari sampel historisitas umat Islam ini menjadikan pemahaman Islam menjadi tidak valid dan juga tidak representatif.

Sementara itu, Mukti Ali melihat ada tiga varian dalam penggunaan metode studi agama. Pertama, aliran yang menekankan bahwa cara untuk mendekati agama itu semestinya sui generis

12

dan tidak bisa dihubungkan dengan metode-

10

A. Mukti Ali, “Penelitian Agama (Suatu Pembahasan tentang Metode dan Sistem)” dalam A. Makmur Makka (ed.), 70 Tahun B.J. Habibie (Jakarta: Pustaka CIDESINDO, 1996), hlm. 32.

11

Nasruddin Razak, Dienul Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1977), hlm. 49-50.

12

Sui generis adalah suatu metode yang menganut paham bahwa agama hanya bisa dikaji oleh orang-orang yang beragama artinya agama hanya bisa dijelaskan oleh agama itu sendiri pada aspek kepenganutan. Dengan kata lain, dalam diskursus keagamaan sesungguhnya manusia selalu berada pada dimensi historis dan tidak pernah sampai pada dimensi normatif agama. Dimensi normatif agama seperti dijelaskan Mukti Ali bersifat sui generis artinya agama menyangkut persoalan-persoalan ketuhanan, kepercayaan, keimanan, credo, pedoman hidup, ultimate concern dan begitu seterusnya. Atau seperti yang sering dikatakan oleh para teolog:

“agama dalam arti yang sebenar-benarnya bukanlah untuk diperdebatkan atau diilmiahkan, melainkan untuk diamalkan dan dihayati. Disinilah personal agama sebagai suatu yang

“diyakini” dan “dihayati”.

(10)

metode dalam bidang ilmu pengetahuan lain. Kedua, aliran yang menyatakan bagaimanapun dan apapun masalah yang diteliti metode yang sah untuk digunakan adalah metode ilmiah (scientific method). Istilah “ilmiah” di sini dipergunakan dalam arti ganda: dalam arti sempit, ia menunjukkan metode- metode yang dipergunakan pada ilmu alam; dan dalam arti yang luas, ia me- nunjuk pada suatu prosedur yang bekerja dengan disiplin yang logis dan utuh dari premis-premis yang jelas. Ketiga, aliran yang menghendaki adanya metode sintesis dalam studi agama, yakni perpaduan antara metode sui generis dan metode ilmiah. Aliran kedua yang berpihak pada metode ilmiah dalam studi agama menentang adanya pluralisme dan dualisme metode semacam ini.

13

Mukti Ali memilih metode yang ketiga, yakni agama harus diteliti dengan menggunakan metode gabungan. Menurutnya, satu metode saja tidak cukup untuk mempelajari Islam, karena Islam bukan agama yang monodimensi.

Mempelajari Islam dengan berbagai aspeknya tidaklah cukup dengan meng- gunakan metode ilmiah saja, demikian pula tidak bisa hanya secara doktriner.

Tetapi pendekatan ilmiah dan doktriner harus digunakan bersama. Ahli-ahli ilmu pengetahuan (termasuk orientalis), menurutnya, mendekati Islam dengan menggunakan metode ilmiah saja. Dampaknya, meski menarik tetapi sebe- narnya mereka tidak memiliki pemahaman secara utuh. Mereka hanya menge- tahui aspek eksternalnya saja dari Islam. Sebaliknya, ulama terbiasa memahami Islam dengan cara doktriner dan dogmatis, yang sama sekali tidak berhubungan dengan realitas yang ada di masyarakat sehingga interpretasinya tidak dapat diterapkan dalam masyarakat. Karena itu, pendekatan ilmiah-cum-doctriner harus dipergunakan, pendekatan scientific-cum-suigeneris harus diterapkan.

Inilah yang dimaksud metode sintesis.

14

Mukti Ali juga menjelaskan tiga cara dalam mendekati dan memahami agama Islam. Ketiganya itu adalah metode naqli (tradisional), aqli (rasional), dan kasyfi (mistis). Menurut Mukti Ali, ketiga metode ini dalam tingkatan yang berbeda-beda diterapkan oleh para ulama dalam usaha memahami agama Islam. Pengikut Hambali dalam memahami Islam mempertahankan metode

13

A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, (Bandung: Mizan. 1996), hlm. 74-76.

14

A. Mukti Ali, “Metodologi Ilmu Agama Islam” dalam Taufik Abdullah dan Rusli Karim (ed.), Metodologi Penelitian Agama Sebuah Pengantar (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1991),hlm.

47-48.

(11)

tradisional. Mereka menentang pemikiran-pemikiran yang bebas tentang agama yang mengabaikan teks (al-Qur’an dan Sunnah) serta juga menentang pendekatan agama secara mistis dalam tindakan. Sebaliknya Abu Hanifah cenderung kepada rasionalisme dan spekulasi dalam bidang aqidah dan hukum.

Adapun pendekatan mistis banyak digunakan dalam bidang politik oleh di antara golongan Syiah, yang berusaha mencari arti yang tersebunyi dari al- Qur’an.

Usaha besar telah dilakukan untuk mengkompromikan ketiga metode ini, umpamanya yang dilakukan oleh al-Asy’ari dalam mengkompromikan antara pendekatan tradisionalis dengan rasional dan usaha al-Ghazali dalam meng- harmoniskan antara pendekatan tradisionalis dan mistis. Sekalipun orang yang disebut belakangan ini berusaha untuk menggabungkan tiga metode tersebut, tetapi perjalanan sejarah pemikiran dunia menunjukkan bahwa hal itu tak terwujud. Bahkan orang mempunyai kesan bahwa pengaruh al-Ghazali dalam pemikiran dunia Islam adalah kepada pendekatan agama secara mistis dan metode secara rasional ditinggalkan. Sudah barang tentu ini bukan maksud Al-Ghazali, tetapi itulah kecenderungan pemikiran dalam sejarah dunia Islam.

15

Metode lain untuk memahami Islam yang diajukan Mukti Ali adalah metode tipologi. Metode ini berisi klasifikasi topik dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama.

Pendekatan ini digunakan oleh sarjana-sarjana Barat untuk memahami ilmu- ilmu manusia. Dalam hal agama Islam, kita dapat mengidentifikasikan lima aspek atau ciri dari agama itu, diantaranya:

1. Aspek Ketuhanan

Agar dapat mengetahui lebih luas tentang Islam, yang perlu kita ketahui pertama adalah Tuhan. Untuk mengenal Allah SWT, kita harus kembali kepada al-Quran dan Sunnah yang telah menerangkan dengan jelas tentang ajaran tauhid dan sifat-sifat Tuhan.

2. Aspek Kitab Suci

Aspek kedua untuk mengetahui Islam adalah mempelajari Kitab sucinya yaitu al-Quran. Allah SWT telah menjadikan al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk),

15

Mukti Ali, “Pengembangan Metode Memahami Agama Islam “, makalah dalam Seminar Studi Islam Asia Tenggara di Universitas Muhammadiyah Surakarta, 19-21 Maret 1990. Hlm. 1

& 18.

(12)

bayyinah (penjelas) dan furqon (pembeda) bagi orang beriman. Maka belajar Al-Qur’an berarti belajar untuk mendapatkan petunjuk, penjelas dan pembeda tentang mana perintah, larangan dan inspirasi dari Allah SWT buat kehidupan manusia.

3. Aspek Kenabian

Aspek ketiga dalam usaha untuk memahami agama Islam adalah mempelajari pribadi Nabi Muhammad SAW. sebagai uswatun hasanah. Mengenal pribadi Nabi SAW. dalam semua konteks kehidupannya akan mendekatkan kita kepada pemahaman yang utuh tentang Islam.

4. Aspek Suasana dan Situasi dimana Nabi muncul

Aspek ini mengajak pembelajar untuk menelaah waktu, suasana, dan situasi hadirnya seorang nabi dalam Islam. Akan kelihatan corak dakwahnya, pendekatan sosial-keagamaannya maupun relasi sosialnya.

5. Aspek Orang- orang terkemuka

Aspek kelima dalam memahami agama Islam adalah dengan meneliti orang- oranng terkemuka, atau individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu. Misalnya keempat sahabat Nabi Muhammad SAW. (khulafa ar-rasyidin).

Dengan mempelajari kehidupan dan ide-ide empat orang tersebut kurang lebih dapat mewakili corak dan tingkatan masyarakat yang pertama kali didakwahi oleh Nabi. Orang dapat memahami akibat-akibat yang ditimbulkan oleh risalah Nabi Muhammad.

16

Putusan Tarjih Muhammadiyah tahun 2000 di Jakarta memberikan tawaran tentang tiga pendekatan dalam memahami Islam yaitu pendekatan bayani, burhani, dan irfani.

17

Secara epistemologis ijtihad Bayani adalah suatu cara memperoleh pengetahuan dengan berpijak pada nash baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung artinya menggunakan nash atau teks suci sebagai sumber pengetahuan yang jadi. Dengan demikian informasi hukum yang dimunculkan nash diambil secara apa adanya. Sedangkan secara tidak langsung maksudnya melakukan penyimpulan hukum dengan berpijak pada nash tersebut. Dalam ungkapan lain porsi nash dalam ijtihad bayani sangat dominan daripada porsi penalaran akal.

16

A. Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama…, op. cit. hlm. 51-52.

17

Syamsul Anwar, “Manhaj Tarjih…hlm. 5.

(13)

Pendekatan burhani dalam pengetahuan adalah pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pengamatan indera, eksperimen dan hukum-hukum logika. Dalam kaitannya dengan nash sebagai sumber kebenaran pendekatan burhani merupakan perpaduan antara kebenaran nash dengan realitas kongkrit dalam satu jalinan. Jika menghitung porsi akal dalam metode ijtihad burhani perannya lebih besar daripada dalam metode bayani karena di sini akal digunakan untuk mengkorespondensi kebenaran nash. Contoh pendekatan burhani adalah ijtihad mengenai hisab, yang menggunakan ilmu pengetahuan yang berkembang tentang penentuan awal bulan.

Adapun pendekatan irfani secara metodologis dipraktikkan dengan lebih bertumpu pada instrumen pengalaman batin, zauq, qalb, wijdan, bashirah atau intuisi. Sedangkan metodenya mempraktikkan kasyf dan iktisyaf. Contoh penggunaan metode irfani dalam hukum Islam adalah menggunakan pakaian rapi yang menutup aurat secara maksimal. Berdasarkan hadis menutup aurat dan rukun shalat itu tidak disebutkan akan tetapi secara irfani tidak dinyatakan benar karena tidak memenuhi unsur kebaikan kepada Allah.

Memahami Islam dengan berbagai metode sebagaimana dipaparkan di atas, setidaknya dapat menjadi masukan dalam upaya mengaktualkan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat yang senantiasa berubah. Namun metode- metode tersebut suatu saat juga mungkin akan dianggap tidak memadai lagi dalam mencandra ajaran Islam yang kontekstual, sehingga diperlukan pende- katan dan metode-metode baru yang harus digali oleh para pembaharu Islam.

E. Penutup

Metode adalah masalah yang sangat penting dalam upaya memahami aga-

ma Islam. Metode diperlukan untuk menghasilkan pemahaman Islam yang

utuh dan komprehensif. Upaya penggunaan ragam metode juga dapat menjadi

pintu untuk menampilkan kembali Islam yang memiliki sejumlah khasanah

dan warisan intelektual dari masa lalu hingga sekarang. Kepentingan menjawab

tantangan zaman juga banyak terpengaruh oleh pemikiran dan cara berpikir

umat Islam tentang agamanya, dengan pola pikir ilmiah-cum-doctriner. Hal

ini tentu membutuhkan kemampuan metodologis dalam melakukan studi

tentang Islam dalam berbagai dimensinya itu melalui prosedur yang tepat

agar sesuai dengan tantangan yang dihadapi.

(14)

Pluralitas metode dalam memahami Islam menunjukkan kekayaan makna dan pesan al-Qur’an, sebagai sumber asasi dan legislasi Islam, sehingga ken- dati lautan dijadikan tinta untuk menulis wahyu Tuhan, air laut itu akan habis ditulis. Namun adagium ini tidak memiliki arti pada dirinya ketika metode pemahaman agama Islam hanya mengandalkan pendekatan teologis-normatif semata yang bersifat apologis, romantis dan subjektif tetapi juga perlu dileng- kapi kadar muatan paradigma ilmu pengetahuan yang analitis, kritis, metodo- logis, historis dan empiris dalam memahami agama. Dengan jalan ini harapan- nya agama Islam bisa ikut terlibat secara aktif dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekedar disampaikan dalam khutbah, melain- kan secara konsepsional-operasional menunjukkan cara-cara yang paling efek- tif dan elegan dalam mengatasi problematika kehidupan manusia. [MKh]

Daftar Pustaka

Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 2008).

Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006).

_______, dkk, Re-Strukturisasi Metodologi Islamic Studies Mazhab Yogyakarta, (Yogyakarta: Suka Press & Jurnal Al-Jamiah, 2007).

_______, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996).

Asjmuni Abdurrahman, Memahami Makna Tekstual, Kontekstual dan Liberal: Koreksi Pemahaman atas Loncatan Pemikiran, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2008).

Endang Saefuddin Anshari, Kuliah Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1986).

_______, Wawasan Islam: Pokok-Pokok Pikiran tentang Paradigma & Sistem Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 2004).

Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI-Press, 1985).

Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, (Bandung: Mizan. 1996), _____, Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam, (Bandung: Mizan, 1991).

_____, Metode Memahami Agama Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991).

M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam: Dalam Teori dan Praktik, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 1998).

Taufik Abdullah,dkk., Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar, (Yogyakarta:

Tiara Wacana,1990).

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaian siswa juga beranggapan bahwa mereka menyukai guru yang mengirim makalah dengan email (54%), namun ada beberapa siswa manyatakan ketidaksukaan mereka

Tahapan seleksi full paper akan dilaksanakan secara online, kemudian peserta yang dinyatakan lolos 10 finalis terbaik akan mengikuti Grand Final ELCCO 2021 secara daring melalui

Desa Adat Cipang Kiri Hulu berasal dari seluruh wilayah Desa Cipang Kiri Hulu Kecamatan Rokan IV Koto;.

Kedudukan Pancasila sebagai sumber hukum dasar negara Indonesia, makna isi Pembukaan UUD 1945, Kedudukan. Pembukaan UUD 1945

Andalas Fiddina Agrotama x Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh penulis di lapangan, diketahui proses pemindahan buah dari tempat pencucian buah menuju

menyampaikan materi yang dipelajari dalam tiap kelompoknya. Aspek memilih sendiri sumber belajar dengan indikator meliputi: memanfaatkan tempat atau lingkungan sekitar

Pada kelompok ikan yang diberi perlakuan vaksin bakteri polivalen memberikan peningkatan titer antibodi yang sama dengan kelompok ikan yang diberi perlakuan