ISBN : 978-602-440-772-8
Kehutanan
AAN KEHUTANAN MELALUI AGROFORESTRI: Sebuah Upaya Penyelesaian Konflik di KHDTK Labanan
Catur Budi Wiati | S. Yuni Indriyanti | Khuswantoro Akhadi Agung Suprianto | Subarudi
MEMBANGUN KEMITRAAN KEHUTANAN MELALUI
AGROFORESTRI:
Sebuah Upaya Penyelesaian Konflik di KHDTK Labanan KEMITRAAN
KEHUTANAN MELALUI
AGROFORESTRI:
Sebuah Upaya Penyelesaian Konflik di KHDTK Labanan
Balai Besar Peneliti an dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) dalam melaksanakan kegiatan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan. Meskipun baru dijalankan dalam 4 (empat) tahun terakhir sejak munculnya Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) No. P.39/Menhut-II/2013 tentang Pemberdayaan Masyarakat Setempat melalui Kemitraan Kehutanan dan kemudian digantikan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PermenLHK) No. P.83/MenLHK/Setjen/Kum.1/2016 tentang Perhutanan Sosial, namun B2P2EHD berharap buku ini dapat sebagai bahan pembelajaran untuk berbagai pihak yang saat ini sedang mengupayakan penyelesaian konfl ik melalui kegiatan Kemitraan Kehutanan. Kemitraan Kehutanan adalah metode yang dipilih B2P2EHD untuk menyelesaikan konfl ik yang terjadi di KHDTK Labanan karena Kemitraan Kehutanan ti dak hanya bertujuan memberikan keadilan dan kepasti an hukum untuk berakti vitas di dalam KHDTK Hutan Penelitian Labanan, namun juga dapat meningkatkan kemandirian serta kesejahteraan masyarakat sekitar.
Penerbitan/Percetakan dibiayai oleh:
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipeterokarpa
Jalan A.W. Syahranie No.68, Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur Telp.+62541206364, Fax.+62541742298
E-mail: [email protected] Website: http://www.diptero.or.id PT Penerbit IPB Press
Jalan Taman Kencana No. 3, Bogor 16128
Telp. 0251 - 8355 158 E-mail: [email protected]
MEMBANGUN KEMITRAAN KEHUTANAN MELALUI AGROFORESTRI
Sebuah Upaya Penyelesaian Konflik di KHDTK Labanan
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa
2019
Penerbit IPB Press
JalanTaman Kencana No. 3, Kota Bogor - Indonesia
C.01/07.2019
Penulis:Catur Budi Wiati S. Yuni Indriyanti Khuswantoro Akhadi
Agung Suprianto Subarudi
Editor:
Sulistya Ekawati Soni Trison
MEMBANGUN KEMITRAAN KEHUTANAN MELALUI AGROFORESTRI
Sebuah Upaya Penyelesaian Konflik di KHDTK Labanan
Penulis:
Catur Budi Wiati | S. Yuni Indriyanti | Khuswantoro Akhadi Agung Suprianto | Subarudi
Editor:
Sulistya Ekawati | Soni Trison Pengarah:
Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa Penanggung Jawab:
Kepala Bidang Data, Informasi dan Kerja Sama Penyunting Bahasa:
Aditya Dwi Gumelar Desain Sampul:
Muhamad Ade Nurdiansyah Penata Isi:
Muhamad Ade Nurdiansyah | Alfyandi Korektor:
Dwi M Nastiti Jumlah Halaman:
154 + 18 halaman romawi Edisi/Cetakan:
Cetakan 1, Juli 2019 PT Penerbit IPB Press Anggota IKAPI
Jalan Taman Kencana No. 3, Bogor 16128 Telp. 0251 - 8355 158 E-mail: [email protected] Penerbitan/Pencetakan dibiayai oleh:
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa Jl. A.W. Syahrani No. 68, Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur Telp. 0541 – 206364, Fax : 0541 – 742298
E-mail: [email protected], Website : http://www.diptero.or.id ISBN: 978-602-440-772-8
Dicetak oleh Percetakan IPB, Bogor - Indonesia Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan
© 2019, HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku
Pengutipan
Membangun Kemitraan Kehutanan melalui Agroforestri; Sebuah Upaya Penyelesaian Konflik di KHDTK Labanan/Penulis, Wiati, C.B., Indriyanti, S. Y., Akhadi, K., Supriant A. & Subarudi; Editor: S. Ekawati & S. Trison –
Cetakan 1 – Bogor – IPB Press, 2019. xviii. 154 hlm; 21 cm
Kata Pengantar
Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Penelitian Labanan mempunyai nilai penting dalam mendukung upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Di KHDTK tersebut terdapat Plot STREK (Silvicultural Techniques for the Regeneration of Logged Over Area in East Kalimantan), sebuah plot penelitian permanen yang dibangun 28 tahun lalu yang memiliki keunggulan data dan informasi dari hasil kegiatan monitoring dan assesment serta memungkinkan untuk dilakukan kajian dan evaluasi bagi bentuk pengelolaan hutan alam produksi. Selain Plot STREK, di KHDTK ini juga terdapat beberapa plot hasil dari berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan, kegiatan pendidikan dan pelatihan serta upaya konservasi bagi orang utan. Mengingat pentingnya dan besarnya manfaat dari KHDTK ini maka segala kegiatan perambahan atau gangguan di KHDTK yang dilakukan oleh masyarakat sekitar dengan alasan apapun perlu segera mendapatkan penyelesaian.
Buku ini menarasikan pengalaman Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) dalam melaksanakan kegiatan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan. Meskipun baru dijalankan dalam 4 (tahun) tahun terakhir sejak munculnya Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) No. P.39/Menhut-II/2013 tentang Pemberdayaan Masyarakat Setempat Melalui Kemitraan Kehutanan dan kemudian digantikan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PermenLHK) No.
P.83/MenLHK/Setjen/Kum.1/2016 tentang Perhutanan Sosial, namun B2P2EHD berharap buku ini dapat sebagai bahan pembelajaran untuk berbagai pihak yang saat ini sedang mengupayakan penyelesaian konflik
melalui kegiatan Kemitraan Kehutanan. Kemitraan Kehutanan adalah metode yang dipilih B2P2EHD untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di KHDTK Hutan Penelitian Labanan karena Kemitraan Kehutanan tidak hanya bertujuan memberikan keadilan dan kepastian hukum untuk beraktivitas di dalam KHDTK Hutan Penelitian Labanan namun juga dapat meningkatkan kemandirian serta kesejahteraan masyarakat sekitar.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan buku ini. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Dr. Ir. Sulistya Ekawati, M.Si (Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dan Dr.
Soni Trison, S.Hut, M.Si (Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor) yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mencurahkan pemikirannya menjadi editor buku ini. Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna karena itu kritik serta saran dari banyak pihak masih kami harapkan untuk penyempurnaannya.
Semoga buku ini dapat bermanfaat.
Samarinda, Juni 2019 Kepala Balai Besar,
Ir. Ahmad Saerozi NIP. 19591016 198802 1 001
Daftar Isi
Kata Pengantar ...vii Daftar Isi ...ix Bagian 1
Selayang Pandang KHDTK Labanan
1. Sejarah Pembangunan Plot STREK dan KHDTK Labanan ... 1 2. Rencana Pengelolaan KHDTK Labanan ... 5 3. Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Budaya Masyarakat Sekitar
KHDTK Labanan ... 8 4. Pemanfaatan KHDTK Labanan oleh Masyarakat ... 13 Bagian 2
Konflik di KHDTK Labanan dan Dampaknya
1. Kronologis Konflik Pembukaan Lahan di KHDTK Labanan ... 15 2. Faktor Penyebab Terjadinya Konflik Pembukaan Lahan
di KHDTK Labanan ... 19 3. Dampak Kerusakan Akibat Konflik Pembukaan Lahan
di KHDTK Labanan ... 23 Bagian 3
Upaya Penegakan Hukum di KHDTK Labanan
1. Perlindungan dan Pengamanan KHDTK Labanan ... 27 2. Penindakan Hukum di KHDTK Labanan
oleh Tim Gakkum KLHK ... 31 3. Respons Masyarakat terhadap Operasi
Penindakan Hukum ... 33
Bagian 4
Pembangunan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan 1. Konsep Kemitraan Kehutanan dan Sejarah
Implementasinya di KHDTK ... 37 2. Upaya Penyelesaian Konflik dan Sosialisasi Kegiatan
Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan ... 44 3. Penyusunan Database Calon Mitra Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan ... 49 4. Penyusunan Rencana Kerja Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan ... 55 5. Penyusunan Surat Perjanjian Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan ... 60 6. Pelaksanaan Pembangunan Demplot Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan ... 63 7. Permasalahan dalam Pelaksanaan Pembangunan
Demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan ... 73 8. Penguatan Kelembagaan Pembangunan Demplot Kemitraan
Kehutanan di KHDTK Labanan ... 85 Bagian 5
Pembelajaran dari Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan 1. Dampak Pembangunan Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan terhadap Penurunan Konflik ... 91 2. Tantangan dalam Pembangunan Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan ... 96 3. Membangun Kemandirian Mitra untuk Meningkatkan
Keberhasilan ... 100 4. Dukungan Para Pihak terhadap Kemitraan Kehutanan
KHDTK Labanan ... 106 5. Rekomendasi untuk Percepatan Pelaksanaan
Kemitraan Kehutanan ... 108 Daftar Pustaka ...115
Daftar Tabel
1. Risalah plot pada plot STREK RKL 1 dan RKL 4 di KHDTK Labanan ...3
2. Sejarah kerja sama plot STREK dan penetapan KHDTK Labanan ...5
3. Sejarah terbentuknya desa/kampung sekitar KHDTK Labanan ...10
4. Kependudukan desa/kampung sekitar KHDTK Labanan ...11
5. Penggunaan lahan desa/kampung sekitar KHDTK Labanan ...12
6. Kronologi konflik di KHDTK Labanan ...17
7. Luas pembukaan lahan di KHDTK Labanan oleh masyarakat sekitar ...24
8. Data plot-plot penelitian yang rusak akibat pembukaan lahan di KHDTK Labanan oleh masyarakat sekitar ...24
9. Perjanjian kerja sama B2P2EHD dengan para pihak dalam perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan ...28
10. Perkiraan jumlah calon mitra Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan...50
11. Rekapitulasi data calon mitra dari masyarakat Dusun Nyapa Indah ...51
12. Rekapitulasi hasil seleksi mitra dari masyarakat Dusun Nyapa Indah ...54
13. Rekapitulasi jenis tanaman yang telah ditanam dan jenis yang ingin ditanam oleh masyarakat Dusun Nyapa Indah ...57
14. Rencana kerja tahunan pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan ...60
15. Pembagian peran dalam pembangunan demplot Kemitraan
Kehutanan di KHDTK Labanan ...63 16. Jenis dan jumlah bibit yang disediakan bagi mitra ...64 17. Jumlah dan jenis bibit bantuan dari BPDASHL Mahakam Berau
untuk pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan ...65 18. Daftar mitra yang mendapatkan bantuan bibit
untuk pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan...67 19. Realisasi penanaman demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK
Labanan ...72 20. Daftar mitra yang memiliki SPKK, mendapat bantuan bibit
dan melaksanakan penanaman di KHDTK Labanan Tahun 2016 ...74 21. Daftar mitra yang tidak memiliki SPKK, mendapat bantuan bibit
dan melaksanakan penanaman di KHDTK Labanan Tahun 2016 ...75 22. Daftar mitra pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan secara mandiri ...76 23. Hasil evaluasi penanaman demplot Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan pada Februari 2017 ...77 24. Hasil evaluasi secara partisipatif penanaman demplot
Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan pada Juli 2017 ...79 25. Hasil evaluasi penanaman demplot Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan berdasarkan kondisi lahan ...80 26. Hasil evaluasi penanaman demplot Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan berdasarkan cara penanaman ...82 27. Pembagian grup dalam kelompok Kemitraan Kehutanan Lebuq
Nyapa Indah ...86 28. Daftar mitra yang melakukan penandatanganan Surat Perjanjian
Kemitraan Kehutanan (SPKK) tahun 2016 dan 2017 ...98 29. Kondisi demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan ...101
Daftar Gambar
1. Plot STREK di KHDTK Labanan ...2
2. Peta plot STREK di KHDTK Labanan ...3
3. Zonasi/blok di KHDTK Labanan ...7
4. Peta desa/kampung sekitar KHDTK Labanan ...8
5. Kantor desa di Kampung Merasa ...9
6. Pintu gerbang ke Dusun Nyapa Indah ...12
7. Manfaat KHDTK Labanan bagi masyarakat Dusun Nyapa Indah ...13
8. Jenis manfaat yang diperoleh dari KHDTK Labanan bagi masyarakat Dusun Nyapa Indah...14
9. Pembukaan Lahan dengan sistem tebas dan bakar oleh masyarakat di KHDTK Labanan ...18
10. Pemahaman responden masyarakat Dusun Nyapa Indah terhadap keberadaan KHDTK Labanan dan batas wilayahnya ...22
11. Pemahaman responden masyarakat Dusun Nyapa Indah terhadap pengelola KHDTK Labanan ...22
12. Peta pembukaan lahan di KHDTK Labanan menurut BKSDA Kaltim ...23
13. Peta kebakaran lahan di KHDTK Labanan menurut hasil citra satelit Landsat 8 USGS, September 2015 ...26
14. Peta kebakaran dan pembukaan lahan di KHDTK Labanan oleh masyarakat sekitar menurut hasil Ground Check ...26
15. Sosialisasi dalam rangka penegakan hukum oleh
Tim Gakkum KLHK ...32 16. Kondisi persemaian PT HLSLL yang dirusak masyarakat
Kampung Merasa ...34 17. Bagan alur pelaksanaan Kemitraan Kehutanan ...39 18. Pertemuan kepala B2P2EHD (Ir. Ahmad Saerozi)
dengan masyarakat Kampung Merasa ...46 19. Pertemuan antar kampung membahas Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan...48 20. Pertemuan B2P2EHD dengan masyarakat Dusun Nyapa Indah
membahas pelaksanaan Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan...56 21. Desain demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan dengan
pola agroforestri ...59 22. Bantuan bibit bagi masyarakat Dusun Nyapa Indah
Untuk pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan ...66 23. Kegiatan penyiapan lahan dan penanaman
dalam pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan ...71 24. Demplot Kemitraan Kehutanan milik Bapak Taufik ...76 25. Pengukuran demplot Kemitraan Kehutanan
oleh siswa-siswi SKMA Samarinda ...78 26. Pemasangan papan nama demplot Kemitraan Kehutanan
di KHDTK Labanan...84 27. Pemeliharaan demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan
bersama masyarakat Dusun Nyapa Indah ...89 28. Ibu Adan Kule, Bapak Ingan Bit, dan Bapak Marten Pattibang
di demplot Kemitraan Kehutanan ...94
xv
29. Sketsa demplot Kemitraan Kehutanan milik Bapak Marten
Pattibang di KHDTK Labanan ...95 30. Tanaman gaharu Bapak Sudin Ncau di demplot
Kemitraan Kehutanan KHDTK Labanan ...101 31. Bantuan racun rumput pemeliharaan demplot
Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan ...103 32. Pemeliharaan di demplot Kemitraan Kehutanan
milik Bapak Bella Samuel ...105 33. Kunjungan sekretaris BLI KLHK (Dr.Ir. Sylvana Ratina, M.Si)
di demplot Kemitraan Kehutanan KHDTK Labanan ...106 34. Sekretaris BLI KLHK (Dr.Ir. Sylvana Ratina, M.Si) dan masyarakat
Dusun Nyapa Indah di demplot Kemitraan Kehutanan
KHDTK Labanan ...111
Daftar Lampiran
1. Berita Acara Hasil Verifikasi Masyarakat dalam Pembangunan Demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan ...120 2. Surat Permohonan Pemanfaatan Lahan di KHDTK Labanan
oleh Masyarakat Dusun Nyapa Indah kepada B2P2EHD 3 ...122 3. SPKK antara B2P2EHD dengan Warga Dusun Nyapa Indah
tanggal 20 September 2016 ...123 4. SPKK antara B2P2EHD dengan Warga Dusun Nyapa Indah
tanggal 6 Oktober 2017 ...132 5. NKK antara B2P2EHD dengan Warga Dusun Nyapa Indah
tanggal 6 Oktober 2017. ...139
Bagian 1
Selayang Pandang KHDTK Labanan
1. Sejarah Pembangunan Plot STREK dan KHDTK Labanan
Keberadaan KHDTK Hutan Penelitian Labanan (selanjutnya digunakan istilah KHDTK Labanan) di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur berawal dari pelaksanaan kerja sama antara Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan sekarang telah berganti nama menjadi Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BLI KLHK) dan PT Inhutani I dengan Pemerintah Perancis yang diwakili oleh CIRAD (The Center de Cooperation Internationale en Recherce Agronomic pone le Developpment) sejak tahun 1989 dengan fokus utamanya adalah membangun Plot STREK (Silvicultural Techniques for the Regeneration of Logged Over Area in East Kalimantan). Plot STREK ini bertujuan mencari keseimbangan yang tepat antara keuntungan produksi dan manfaat bagi lingkungan melalui pengukuran riap pohon setiap tahunnya (Suryanto et al. 2006; B2PD 2015; Susanty et al. 2015; Susanty 2015; Wiati dan Indriyanti 2015).
Gambar 1. Plot STREK di KHDTK Labanan
Luas Plot STREK yang dibangun mencapai ±72 ha di areal bekas penebangan PT Inhutani I (Rencana Kerja Lima Tahunan/RKL 1 dan 4) dengan areal hutan penyangga (buffer zone) seluas 700 ha (Susanty et al. 2015; Susanty 2015). B2P2EHD (2016)a menyebutkan Plot STREK RKL 1 merupakan plot permanen penelitian yang terdiri 6 plot dengan total luasan 24 ha pada kondisi hutan bekas tebangan yang ditinggalkan selama 11 tahun dan diberikan perlakuan penjarangan. Sementara itu, Plot STREK RKL 4 merupakan plot permanen yang terdiri atas 12 plot dengan luas total 48 ha pada kondisi awal hutan primer dengan perlakuan penebangan menggunakan teknik ramah lingkungan (RIL/Reduced Impact Logging) sebagaimana tercantum dalam Tabel 1.
3
Selayang Pandang KHDTK Labanan
Tabel 1. Risalah plot pada plot STREK RKL 1 dan RKL 4 di KHDTK Labanan
RKL Plot Perlakuan
1 4, 5 1, 62, 3
Kontrol (Tanpa Perlakuan) Penjarangan Sistematis
Penjarangan berdasarkan Persaingan Tajuk 4 1, 4, 10
2, 3, 12 5, 6, 7 8, 9, 11
Kontrol (Hutan Primer) RIL dengan dbh ≥ 50 cm RIL dengan dbh≥ 60 cm
Sistem Logging Konvensional dengan dbh ≥ 60 cm Sumber: B2P2EHD (2016)a
Lokasi plot masing-masing dapat dilihat pada Gambar 1 dan pengukuran plot dilakukan secara rutin setiap 2 tahun untuk mendapatkan informasi data potensi tegakan (jumlah pohon, luas bidang dasar), data riap jenis/kelompok jenis, tingkat alih tumbuh (ingrowth), tingkat kematian (mortality), serta informasi pengaruh perlakuan pembalakan dan penjarangan terhadap pertumbuhan hutan. Pengambilan data pengukuran meliputi diameter/keliling pohon, kualitas tajuk dan cahaya, serta kondisi tegakan dan plot secara keseluruhan.
Gambar 2. Peta plot STREK di KHDTK Labanan
Untuk melanjutkan Plot STREK setelah kerja sama dengan Pemerintah Perancis berakhir, Pemerintah Indonesia kemudian melakukan kerja sama dengan Uni Eropa melalui Berau Forest Management Project (BFMP) pada tahun 1996–2001. Proyek BFMP bertujuan sebagai proyek percontohan pengelolaan hutan lestari di tingkat operasional di konsesi Inhutani I Labanan (136.000 ha) dengan mendorong sertifikasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL), pelaksanaan Pembalakan Ramah Lingkungan (RIL) dan Siptop (Sistem Informasi Topografi Pohon). Kegiatan Plot STREK kemudian ditindaklanjuti dengan penetapan areal konsensi PT. Inhutani I Unit Labanan seluas ±142.691 ha sebagai areal penelitian dan kegiatan operasional BFMP melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 866/Kpts-II/1999 tanggal 13 Oktober 1999 (B2P2EHD, 2016)a.
Kerja sama dengan BFMP kemudian berakhir pada Juni 2002 dan dilanjutkan dengan Berau Forest Management Project (BFMP) hingga Juni 2004. Sejak Juni 2004 hingga sekarang pengelolaan Plot STREK kemudian diambil sepenuhnya oleh BLI KLHK dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) ditunjuk sebagai pengelolanya sesuai Surat Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan No. 90/Kpts/VIII/2007. Guna menjamin kepastian hukum Plot Penelitian STREK dan keberlanjutan penelitian- penelitiannya, maka kawasan tersebut ditunjuk menjadi Hutan Penelitian Labanan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.121/
Menhut-II/2007, tanggal 2 April 2007. Kawasan tersebut kemudian akhirnya ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) seluas ±7.959,10 ha berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 64/Menhut-II/2012, tanggal 3 Februari 2012. Sejarah kerja sama dan pemanfaatan di areal KHDTK Labanan dari tahun 1989 hingga 2003 dapat dilihat pada Tabel 2.
5
Selayang Pandang KHDTK Labanan
Tabel 2. Sejarah kerja sama plot STREK dan penetapan KHDTK Labanan Tahun Kronologis Kerja Sama dan Pemanfaatan di KHDTK Labanan
1989 Orientasi lapangan pembangunan Plot STREK kerja sama antara Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Badan Litbang Kehutanan dengan Pemerintah Perancis yang diwakili oleh CIRAD
1990 Pembangunan dan pengukuran Plot STREK pertama kali dimulai (RKL 4)
1996 Kerja sama dengan CIRAD berakhir dan kemudian Pemerintah Indonesia melakukan kerja sama dengan Uni Eropa melalui proyek BFMP
2002 Proyek kerja sama BFMP berakhir kemudian kerja sama dilanjutkan melalui proyek BFBP
2003 Pengelolaan wilayah eks PT Inhutani I Unit Labanan diserahkan kepada PT Hutan Sanggam Labanan Lestari/PT HSLL (perusahaan daerah kerja sama PT Inhutani I dengan Pemkab Berau)
2004 Proyek kerja sama BFBP berakhir, kemudian pengelolaan Plot STREK sepenuhnya menjadi tanggung jawab Badan Litbang Kehutanan yang pengelolaannya diserahkan kepada Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kalimantan (sekarang menjadi B2P2EHD) 2007 Penunjukan kawasan hutan produksi tetap seluas ±7.900 ha di
Kabupaten Berau sebagai KHDTK untuk Hutan Penelitian Labanan sesuai SK Menhut No.121/Menhut-II/2007
2012 Penetapan KHDTK untuk Hutan Penelitian Labanan seluas 7.959,10 ha sesuai SK Menhut No. 68/Menhut-II/2012
Sumber: Wiati dan Indriyanti (2015), diolah
2. Rencana Pengelolaan KHDTK Labanan
Rencana Pengelolaan (RP) KHDTK Labanan merupakan dokumen rencana pengelolaan jangka menengah yang bertujuan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan pengelolaan di KHDTK Labanan pada tahun 2015–
2019. Dokumen RP ini telah disusun B2P2EHD dan disahkan pada tahun 2015. Penyusunan dokumen RP mengacu pada arahan Rencana Strategis (Renstra) Badan Litbang dan Inovasi serta Renstra B2PD tahun 2015–
2019 (Susanty et al. 2015). Selain itu, penyusunan dokumen RP tersebut
juga mengacu pada kriteria yang terdapat dalam draf Permenhut tahun 2014 tentang pedoman penetapan dan pengelolaan kawasan hutan dengan tujuan khusus untuk penelitian dan pengembangan kehutanan serta pendidikan dan pelatihan kehutanan. Dalam draf Permenhut tersebut pemanfaatan KHDTK Litbang terbagi dalam 3 (tiga) peruntukan yaitu: penelitian dasar, penelitian terapan dan/atau untuk penerapan dan pengembangan alih teknologi antara lain diklat, wisata ilmiah dan penyuluhan yang selanjutnya dalam rencana pengelolaan ini disebut blok tujuan lain.
Dokumen RP kemudian menjadi dasar penyusunan Renstra Pengelolaan KHDTK Labanan. Selanjutnya dokumen RP dan Renstra Pengelolaan KHDTK Labanan menjadi acuan untuk penentuan zonasi pemanfaatan kawasan yang mendasarkan pada kriteria pembagian zonasi blok pemanfaatan kawasan dengan menggunakan 2 (dua) pendekatan yaitu pemodelan spasial dan preferensi kondisi aktual. Kriteria untuk pembagian zonasi blok pemanfaatan kawasan tersebut di antaranya:
1) Kondisi biogeofisik kawasan yang sesuai dengan kebutuhan penelitian dan pengembangan
2) Kelas tutupan lahan
3) Jarak terhadap aksesibilitas (buffer)
4) Jarak/radius terhadap pemukiman desa/masyarakat 5) Akomodir kebutuhan masyarakat lokal (fungsi sosial) 6) Areal berpotensi atau rawan konflik
7) Batas luar KHDTK
8) Kondisi dan posisi plot/blok penelitian yang telah terbangun Berdasarkan kriteria tersebut maka dokumen RP KHDTK Labanan membagi KHDTK Hutan Penelitian Labanan menjadi 3 (tiga) zonasi/blok yaitu blok penelitian dasar, blok pengembangan dan blok peruntukan lainnya. Blok penelitian dasar digunakan untuk kegiatan penelitian yang akan dilaksanakan oleh B2P2EHD sesuai RPPI yang ditetapkan. Sementara
7
Selayang Pandang KHDTK Labanan
itu, blok pengembangan ditujukan untuk kegiatan pengembangan baik pengembangan produk iptek maupun kegiatan sosial ekonomi dan kebijakan termasuk kegiatan kemitraan. Untuk blok peruntukan lainnya ditujukan untuk dukungan manajemen, pendidikan, dan pelatihan maupun kegiatan lainnya. Persentase pembagian blok untuk penelitian dasar adalah 72% (5.727,3 ha), blok penelitian pengembangan 18% (1.444,6 ha), sedangkan blok tujuan lain 10% (787,2 ha) sebagaimana diilustrasikan dalam Gambar 3 (Susanty et al. 2015).
Gambar 3. Zonasi/blok di KHDTK Labanan
Seperti lazimnya sebuah perencanaan, meskipun sudah disusun dengan baik, namun jika terjadi permasalahan ataupun hambatan pelaksanaan di lapangan maka perencanaan tersebut bisa direvisi dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan yang terbaru.
3. Kondisi Sosial, Ekonomi dan Budaya Masyarakat Sekitar KHDTK Labanan
KHDTK Labanan termasuk dalam wilayah kelola Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Model Berau Barat, namun secara administrasi wilayah ini berada di 3 (tiga) kecamatan yaitu Kecamatan Sambaliung, Kecamatan Teluk Bayur dan Kecamatan Kelay. Desa/kampung yang berdekatan dengan KHDTK Labanan di antaranya Kampung Long Lanuk (termasuk Dusun Nyapa Indah) di sebelah timur, Kampung Tumbit Dayak di sebelah timur laut, Desa Labanan Makmur dan Desa Labanan Makarti di sebelah utara, serta Kampung Merasa di sebelah tenggara (Gambar 4).
Namun demikian dari desa/kampung tersebut yang berbatasan langsung dengan KHDTK Labanan hanyalah Kampung Long Lanuk (termasuk Dusun Nyapa Indah), Desa Labanan Makarti, dan Kampung Merasa (Wiati dan Indriyani, 2015; Susanty et al. 2015).
Gambar 4. Peta desa/kampung sekitar KHDTK Labanan
9
Selayang Pandang KHDTK Labanan
Penduduk desa/kampung yang berdekatan dengan KHDTK Labanan terbagi atas masyarakat asli yang berasal dari etnis Dayak Gaai serta masyarakat pendatang yang berasal dari etnis Dayak Oma Kulit, Dayak Oma Baka dan etnis Jawa. Etnis Dayak Kenyah Oma Kulit dan Dayak Kenyah Oma Baka dikategorikan pendatang karena umumnya berasal dari Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Sementara itu, etnis asli Dayak Gaai masih dapat ditemui di Kampung Long Lanuk dan Kampung Tumbit Dayak karena kedua kampung tersebut merupakan kampung tua. Dayak Kenyah Oma Kulit dan Dayak Kenyah Oma Baka dapat ditemui di Dusun Nyapa Indah dan Kampung Merasa. Khusus etnis Jawa dapat dengan mudah ditemui di Desa Labanan Makmur dan Desa Labanan Makarti yang berasal dari program transmigrasi. Namun demikian etnis Jawa juga dapat ditemui di Kampung Tumbit Dayak karena kampung ini pernah menerima tambahan penduduk dari program transmigrasi tahun 1993 (Wiati dan Indriyanti 2015).
Gambar 5. Kantor desa di Kampung Merasa
Tabel 3. Sejarah terbentuknya desa/kampung sekitar KHDTK Labanan Kecamatan Desa/
Kampung Tahun
Terbentuk Etnis
Mayoritas Asal Penduduk Teluk Bayur Labanan
Makarti 1984 Jawa Jawa Timur, Jawa
Tengah Jawa Barat, Lombok
Labanan
Makmur 1982 Jawa Jawa Timur, Jawa
Tengah Jawa Barat, Lombok
Sambaliung Long Lanuk*) Asli Gaai Khusus Dusun Nyapa Indah dari Long Noran (Kutai Timur)
Tumbit Dayak Asli Gaai -
Kelay Merasa*) 1968 Kayan,
Kenyah Oma’ Kulit
Long Nawang (Bulungan) Keterangan: *)Desa/kampung yang berbatasan langsung dengan KHDTK Labanan Sumber: Wiati dan Indriyanti 2015; Wiati et al. 2018
Berdasarkan data BPS Kabupaten Berau (2014), Kampung Long Lanuk dan Kampung Merasa mempunyai jumlah penduduk yang lebih sedikit yaitu 627 jiwa dan 906 jiwa. Mayoritas agama penduduk Kampung Long Lanuk dan Kampung Merasa adalah Protestan dan Katolik, sedangkan penduduk Kampung Tumbit Dayak, Desa Labanan Makarti dan Desa Labanan Makmur beragama Islam (Wiati dan Indriyanti 2015). Walau berbeda suku dan keyakinan, tidak pernah dilaporkan ada konflik sosial yang muncul di wilayah ini. Hal tersebut dikarenakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) aktif melakukan dialog untuk menjaga kerukunan suku, agama, ras, dan antar golongan di Kabupaten Berau (Rais 2012).
11
Selayang Pandang KHDTK Labanan
Tabel 4. Kependudukan desa/kampung sekitar KHDTK Labanan Desa/
Kampung Luas Wilayah
(Km2) Jumlah Penduduk
(Jiwa)
Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2)
Mayoritas Agama
Labanan Makarti 14,38 1.038 72,18 Islam
Labanan Makmur 9,52 2.334 245,17 Islam
Long Lanuk 423,69 627 1,48 Protestan/
Katolik
Tumbit Dayak 81,19 1.299 16,00 Islam
Merasa 345,99 906 2,52 Protestan/
Katolik Sumber: Wiati dan Indriyanti 2015; Susanty et al. 2015
Selain berladang berpindah, mata pencaharian penduduk desa adalah berkebun dengan komoditas seperti kakao, karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, cengkeh, dan lada. Selain itu, mereka menanam sayur-sayuran seperti jagung, kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar serta memelihara ternak seperti ayam, itik, sapi dan kambing.
Penghasilan utama mereka adalah dari berkebun, sedangkan hasil panen ladang, sayur-sayuran maupun ternak umumnya hanya untuk dikonsumsi sendiri (Wiati dan Indriyanti 2015).
Khusus warga Dusun Nyapa Indah, masing-masing Kepala Keluarga (KK) mempunyai luas lahan garapan untuk berladang berpindah sekitar 1–2 ha.
Hasil dari kegiatan berladang umumnya untuk mereka konsumsi sendiri, sedangkan pendapatan tunai diperoleh dari hasil panen madu, kebun kakao, karet, palawija, dan buah-buahan. Biaya pengeluaran masing- masing KK tiap bulan mencapai sekitar Rp500.000,00–Rp2.000.000,00 (B2PD 2015).
Gambar 6. Pintu gerbang ke Dusun Nyapa Indah
Berdasarkan data yang ada dari 5 (lima) desa/kampung yang berbatasan dengan KHDTK Labanan, hanya 2 (dua) desa/kampung yang mempunyai tata batas desa yang jelas yaitu Desa Labanan Makmur dan Desa Labanan Makarti. Hal tersebut dapat dipahami karena kedua desa tersebut berawal dari desa transmigrasi.
Tabel 5. Penggunaan lahan desa/kampung sekitar KHDTK Labanan
Desa/
Kampung Sawah (ha) Ladang
(ha) Kebun (ha)
Bangunan &
Pekarangan (ha)
Padang Rumput (ha)
Lainnya (ha)
Luas Total (ha)
Labanan Makarti 70 420 67 93 12 775 1.438
Labanan Makmur - 210 70 90 22 560 952
Long Lanuk - 65 74 37 6 42.187 42.369
Tumbit Dayak 42 80 37 52 3 7.956 8.119
Merasa 280 500 786 - - *) 34.599
*) tidak ada data
Sumber: Wiati dan Indriyanti, 2015; Susanty et al. 2015
13
Selayang Pandang KHDTK Labanan
4. Pemanfaatan KHDTK Labanan oleh Masyarakat
Secara umum masyarakat yang bermukim di sekitar KHDTK Labanan kurang mendapat manfaat secara langsung baik dari manfaat nilai tunai maupun non tunai dari keberadaan sumberdaya hutan yang ada di KHDTK Labanan. Kondisi tersebut diketahui dari hasil penyebaran kuisioner kepada sekitar 64 orang warga Dusun Nyapa Indah pada tahun 2015 yang menunjukkan bahwa KHDTK Labanan tidak terlalu memberi manfaat bagi mereka. Dari 64 responden, yang menyatakan KHDTK bermanfaat hanya 42%, responden yang menjawab tidak bermanfaat 13%, sedangkan sisanya 45% tidak menjawab. Meski 42% menyatakan KHDTK Labanan bermanfaat namun hanya 4% yang menjawab mendapat manfaat berupa Hasil Hutan Kayu (HHK) dan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), sedangkan sebagian besar responden menjawab manfaat lahan sebagai jenis pemanfaatan terbesar (B2PD 2015). Dari hasil observasi di lapangan, warga Dusun Nyapa Indah maupun warga dari desa/kampung lain yang memiliki ladang/kebun di dalam KHDTK Labanan jumlahnya sangat sedikit. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa jawaban dari responden lebih kepada harapan dan bukan pada kenyataan. Terlebih karena pola perladangan berpindah yang mereka lakukan yang membutuhkan lahan di beberapa tempat.
Gambar 7. Manfaat KHDTK Labanan bagi masyarakat Dusun Nyapa Indah
Gambar 8. Jenis manfaat yang diperoleh dari KHDTK Labanan bagi masyarakat Dusun Nyapa Indah
Kuisioner pemanfaatan KHDTK Labanan bagi masyarakat sekitar memang hanya disebarkan oleh B2P2EHD pada warga Dusun Nyapa Indah saja.
Kuisioner tersebut awalnya sempat disebarkan untuk warga kampung yang lain termasuk Kampung Merasa, namun karena situasi kembali tidak kondusif paska kedatangan Tim Gakkum KLHK maka pengisian kuisioner kemudian dibatalkan. Namun demikian hasil kuisiner tersebut serta hasil observasi di lapangan setidaknya menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat sekitar terkait keberadaan sumberdaya hutan di KHDTK tersebut sangat kurang.
Bagian 2
Konflik di KHDTK Labanan dan Dampaknya 1
1. Kronologis Konflik Pembukaan Lahan di KHDTK Labanan
Secara umum upaya penolakan KHDTK Labanan oleh masyarakat sekitar sebenarnya sudah terjadi sejak sebelum kawasan tersebut ditunjuk menjadi KHDTK, tepatnya sejak tahun 2005 sesudah kerja sama kegiatan BFMP berakhir. Hal tersebut dibuktikan dengan rusaknya Kamp STREK di Km 37. Perusakan Kamp STREK dilakukan masyarakat karena menganggap bangunan tersebut tidak lagi dimanfaatkan oleh B2P2EHD. Salah satu staf Pengelola KHDTK Labanan menyebutkan bahwa Kamp STREK yang dibangun dengan dana APBN Tahun Anggaran 1990 hanya dimanfaatkan sampai tahun 2002 saat kegiatan Plot STREK masih aktif berjalan. Bangunan Kamp STREK terdiri atas ruang kantor, barak tempat menginap dan dapur umum. Pada saat kerja sama BFMP, Kamp STREK hanya dimanfaatkan sebagai tempat bermalam saat kegiatan pengukuran Plot STREK. Saat kerja sama BFMP berakhir, bangunan tersebut kemudian dibiarkan tidak terawat. Rusaknya bangunan mendorong sebagian masyarakat melakukan pencurian aset-aset yang masih tertinggal hingga berujung pada klaim
1 Bagian ini sebenarnya sudah pernah dituliskan dalam Wiati dan Indriyanti (2015), namun ditampilkan kembali dalam buku ini untuk memudahkan pembaca memahami jalinan ceritanya secara lengkap
lahan di areal Kamp STREK. Sayangnya, saat itu Pengelola KHDTK Labanan tidak melakukan pengusutan pelaku pencurian maupun klaim lahan namun hanya membuat laporan berita acara terkait rusaknya aset milik negara.
Berakhirnya kegiatan BFMP memang membuat aktivitas di KHDTK Labanan semakin menurun karena hanya dilakukan oleh peneliti-peneliti dari B2P2EHD yang datang beberapa kali dalam setahun. Selain itu, kegiatan pengelolaan hutan oleh PT HSLL di kawasan tersebut intensitasnya semakin berkurang karena sesuai dengan Rencana Kerja Tahunan (RKT) tahun itu PT HSLL telah memindahkan lokasi kerja mereka ke RKL 5 di wilayah Segah. Kondisi ini diduga yang menyebabkan kegiatan perambahan dan penebangan liar mulai banyak dilakukan oleh penduduk desa/kampung di sekitar KHDTK Labanan. Beberapa warga dari Kampung Merasa maupun Dusun Nyapa Indah mengklaim bahwa mereka telah memiliki lahan di dalam/sekitar Plot STREK sebelum kawasan tersebut ditetapkan sebagai KHDTK. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya patok-patok klaim lahan masyarakat yang banyak ditemukan di dalam kawasan KHDTK Labanan.
Hanya saja karena Pengelola KHDTK Labanan aktif melakukan tindakan preventif berupa sosialisasi serta pemasangan papan-papan peringatan maka kegiatan pembukaan lahan maupun penebangan liar tidak semakin meluas.
Gangguan di KHDTK Labanan akibat aktivitas masyarakat lokal secara nyata baru terjadi sekitar bulan Juli 2013 saat salah seorang warga Kampung Merasa melakukan pembukaan lahan di dalam plot penelitian untuk tujuan pembuatan ladang. Penanganan kegiatan pembukaan lahan ini sudah dilakukan oleh Pengelola KHDTK Labanan dengan meminta bantuan aparat kepolisian, namun sayangnya tidak ada tindakan penangkapan. Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa penangkapan sulit dilakukan karena pelaku sudah melarikan diri sebelum operasi penangkapan (Wiati dan Indriyanti 2015). Kronologi beberapa kejadian penting pemanfaatan dan konflik di KHDTK Labanan dapat dilihat pada Tabel 6.
17
Konflik di KHDTK Labanan dan Dampaknya
Tabel 6. Kronologi konflik di KHDTK Labanan
Tahun Kejadian Penting
2005/2006 Kamp STREK dirusak oleh masyarakat 2007 SK Penunjukan Hutan Penelitian Labanan 2008 Kegiatan tata batas sementara
2009 Kegiatan tata batas definitif
2011 Sosialisasi oleh Pengelola KHDTK Labanan di Kampung Merasa, Kampung Long Lanuk, Dusun Siduung Sei Lais - Labanan Makarti 2012 SK Penetapan KHDTK untuk Hutan Penelitian Labanan
2013 Sosialisasi oleh Pengelola KHDTK Labanan di Dusun Nyapa Indah 2013 Plot Penelitian mulai dirusak pertama kali oleh warga Kampung
Merasa
2014 Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) oleh BPDASHL Mahakam Berau dan PT Nusantara Berau Coal (NBC) mulai dijalankan di KHDTK Labanan
2014 Center Orangutan Protection (COP) memulai aktivitas di KHDTK Labanan
2015 Penandatanganan Kerja sama Pengamanan Hutan antara B2P2EHD, PT Berau Coal, Dinas Kehutanan Kabupaten Berau (Dishut Kab. Berau), Balai Konservasi Sumberdaya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim)
2015 Penangkapan pelaku illegal logging oleh Pengelola KHDTK Labanan bekerja sama dengan BKSDA Kaltim dalam kawasan Dusun Nyapa Indah
2015 Klaim lahan dan kegiatan perladangan mulai dilakukan oleh warga Kampung Merasa di KHDTK Labanan
2015 Klaim lahan juga dimulai oleh warga Dusun Nyapa Indah di KHDTK Labanan
2015 Operasi Gabungan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Tim Gakkum KLHK)
2015 Pengrusakan dan pembakaran rumah serta persemaian milik PT HSLL
2015 Sosialisasi kegiatan kemitraan kehutanan di KHDTK Labanan mulai dilakukan oleh B2P2EHD
Sumber: B2PD (2015); Wiati dan Indriyanti (2015)
Pembukaan lahan secara besar-besaran terjadi pada Mei 2015 oleh warga Kampung Merasa di Km 33 arah sebelah kanan jalan poros Berau – Samarinda, tepatnya di kanan kiri eks jalan logging menuju RKL 1 Plot STREK. Lahan dibuka secara berkelompok yang rata-rata terdiri atas 25 KK. Penentuan posisi setiap KK dilakukan dengan mengundi untuk mendapatkan lahan selebar 50 m (mengikuti arah jalan sarad menuju RKL 1 Plot STREK). Sementara itu, panjang lahan diserahkan kepada kemampuan masing-masing KK yang berkisar antara 100–200 m. Pembukaan lahan oleh warga Kampung Merasa kemudian diikuti oleh warga Dusun Nyapa Indah yang membuka lahan di pinggir jalan arah sebelah kiri jalan poros Berau–Samarinda, tepatnya di Km 28–Km 35. Pembukaan lahan tersebut dilakukan sebagai cara mengantisipasi masuknya warga Kampung Merasa ke dalam wilayah mereka. Sebulan kemudian, warga Kampung Merasa juga membuka lahan di Km 27–Km 33 arah sebelah kanan jalan poros Berau–
Samarinda. Kondisi ini kemudian mendorong warga dari desa/kampung lain salah satunya adalah dari Desa Labanan Makarti (khususnya warga dari RT 9) untuk juga melakukan pembukaan lahan di KHDTK Labanan.
Gambar 9. Pembukaan lahan dengan sistem tebas dan bakar oleh masyarakat di KHDTK Labanan
19
Konflik di KHDTK Labanan dan Dampaknya
Informasi dari tokoh-tokoh masyarakat desa sekitar KHDTK Labanan menyebutkan bahwa sebelum penunjukan KHDTK Labanan telah ada kesepakatan tidak tertulis di antara mereka tentang klaim penguasaan lahan di dalam wilayah tersebut. Kesepakatan tersebut menyebutkan bahwa untuk wilayah sebelah kiri jalan poros Berau–Samarinda Km 24–Km 28 dimiliki oleh warga Desa Long Lanuk, Km 28–Km 35 dimiliki oleh warga Dusun Nyapa Indah dan Km 35–Km 36 dimiliki oleh warga Kampung Merasa.
Untuk wilayah sebelah kanan jalan poros Berau–Samarinda Km 24–Km 27 dimiliki oleh warga Desa Siduung Indah dan Desa Labanan Makarti serta Km 27–Km 36 dimiliki oleh warga Kampung Merasa. Kesepakatan tersebut yang menjadi alasan warga Kampung Merasa yang meski secara wilayah administratif masuk dalam Kecamatan Kelay melakukan pembukaan lahan di dalam wilayah KHDTK Labanan meski wilayah tersebut sudah masuk dalam Kecamatan Teluk Bayur.
2. Faktor Penyebab Konflik Pembukaan Lahan di KHDTK Labanan
Pada awalnya sebagian besar warga Kampung Merasa mengaku melakukan pembukaan lahan di KHDTK Labanan untuk mencari lokasi ladang baru yang lebih mudah diakses. Hal tersebut disebabkan oleh ladang yang sebelumnya lebih banyak berlokasi di daerah pinggir sungai yang mengharuskan mereka menggunakan ketinting jika pergi berladang. Biaya bahan bakar kendaraan bermotor yang jauh lebih hemat dari kentinting serta selesainya kegiatan pengaspalan jalan poros Berau–Samarinda pada awal tahun 2015 mendorong warga lebih memilih untuk membuat ladang di pinggir jalan. Namun demikian pemilihan lokasi lahan pertama kali yang dibuka oleh warga Kampung Merasa yaitu di Km 33 tepatnya di bekas jalan logging RKL 1 Plot STREK sering kali menjadi pertanyaan banyak pihak.
Jika alasan memilih lokasi yang lebih mudah diakses, semestinya mereka membuka lahan di sepanjang pinggir jalan poros dan bukan masuk jauh ke dalam KHDTK Labanan. Kondisi ini yang mendorong B2P2EHD mencari
alasan sebenarnya warga Kampung Merasa melakukan pembukaan lahan di dalam KHDTK Labanan. Hasil identifikasi B2P2EHD mengenai alasan warga Kampung Merasa melakukan pembukaan di antaranya (Wiati dan Indriyanti 2015):
1) Potensi batubara di dalam KHDTK Labanan yang tinggi.
Isu batubara paling banyak diperbincangkan masyarakat saat pembukaan lahan pertama kali oleh warga Kampung Merasa di dalam wilayah KHDTK Labanan. Isu ini sangat kuat karena di wilayah bekas jalan masuk RKL 1 Plot STREK (Km 33) banyak ditemukan singkapan batubara. Warga berharap akan mendapat ganti rugi kepemilikan apabila nantinya KHDTK Labanan diperbolehkan untuk ditambang.
KHDTK Labanan sendiri masuk dalam wilayah kuasa pertambangan PT Berau Coal. Saat ini perusahaan tersebut sedang melakukan eksploitasi di sebelah timur KHDTK Labanan.
2) Lahan untuk berladang sudah habis oleh perkebunan kelapa sawit.
Sebagian warga Kampung Merasa menyebutkan bahwa ladang-ladang yang berada di sepanjang kanan kiri jalan menuju Kampung Merasa saat ini telah berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit. PT Rimba Anugerah Kaltim (PT RAK) saat ini memiliki izin operasi usaha perkebunan kelapa sawit di sebelah barat wilayah Kampung Merasa.
Wilayah yang dimiliki perusahaan tersebut tadinya terdapat banyak ladang-ladang milik masyarakat. Kondisi tersebut dijadikan alasan mereka untuk membuka lahan di dalam KHDTK Labanan.
3) Kebun kakao rusak karena aktivitas penambangan batu bara.
Beberapa warga Kampung Merasa maupun Dusun Nyapa Indah mengeluhkan rusaknya kebun-kebun kakao milik mereka yang berada di sebelah hulu Kampung Long Lanuk akibat aktivitas penambangan batu bara. Perusahaan tambang yang bernama PT Kaltim Jaya Bara (PT KJB) beroperasi di wilayah ini dan merusak sebagian kebun-kebun kakao milik masyarakat. Rusaknya kebun-kebun tersebut mendorong warga harus mencari lokasi baru untuk dijadikan kebun, termasuk dalam wilayah KHDTK Labanan.
21
Konflik di KHDTK Labanan dan Dampaknya
Pembukaan lahan pertama kali oleh warga Kampung Merasa merupakan pemicu awal konflik terbuka di KHDTK Labanan. Konflik di KHDTK Labanan semakin meluas karena pembukaan lahan yang dilakukan warga Kampung Merasa memicu warga dari desa/kampung yang lain untuk melakukan hal yang sama. Beberapa penyebab semakin meluasnya konflik pembukaan lahan di KHDTK Labanan di antaranya (Wiati dan Indriyanti 2015), yaitu:
1) Lemahnya penegakan hukum di KHDTK Labanan
Lemahnya penegakan hukum di KHDTK Labanan merupakan penyebab utama meluasnya konflik di wilayah tersebut. Pengelola KHDTK Labanan tidak memiliki sumberdaya manusia yang dapat melakukan tindakan penangkapan maupun penyidikan kasus kehutanan.
Beberapa kasus sebelumnya seperti perusakan Kamp STREK sekitar tahun 2005/2006 maupun perusakan plot penelitian pada Juli 2013 tidak dapat ditangani oleh Pengelola KHDTK Labanan secara tuntas.
Kondisi ini yang menyebabkan masyarakat desa/kampung sekitar tidak merasa takut untuk melakukan kegiatan ilegal di dalam kawasan KHDTK Labanan.
2) KHDTK Labanan kurang dikenal oleh masyarakat sekitar
Penyebab lain terjadinya konflik pembukaan lahan di KHDTK Labanan adalah kurang dikenalnya KHDTK maupun B2P2EHD oleh masyarakat sekitar. Meski sudah ditunjuk sejak 2007 dan ditetapkan pada 2012 sebagai KHDTK untuk Penelitian, ternyata masih banyak masyarakat desa/kampung sekitar yang tidak mengetahui keberadaan KHDTK Labanan maupun batas-batasnya. Masyarakat melakukan pembukaan lahan di dalam KHDTK Labanan karena menganggap bahwa wilayah tersebut adalah hutan lindung yang tidak bertuan dan boleh dimanfaatkan oleh siapa saja.
Kondisi ini ditunjukkan dari hasil penyebaran kuisioner yang menunjukkan dari 64 responden masyarakat Dusun Nyapa Indah, sebanyak 90%
responden tidak mengetahui keberadaan KHDTK Labanan. Sebagian besar responden bahkan tidak mengetahui batas-batas KHDTK Labanan.
Gambar 10. Pemahaman responden masyarakat Dusun Nyapa Indah terhadap keberadaan KHDTK Labanan dan batas wilayahnya
Selain tidak mengetahui keberadaan KHDTK Labanan dan pal batas wilayahnya, responden dari Dusun Nyapa Indah juga tidak mengenal pihak pengelola KHDTK Labanan. Dari hasil kuisioner dapat diketahui bahwa masyarakat Dusun Nyapa Indah lebih mengenal Dishut Kab. Berau dibanding KLHK. Dan tentu saja mereka tidak dapat membedakan satuan kerja di bawah KLHK yaitu B2P2EHD, BKSDA Kaltim atau institusi di bawah KLHK yang lain.
Gambar 11. Pemahaman responden masyarakat Dusun Nyapa Indah terhadap pengelola KHDTK Labanan
23
Konflik di KHDTK Labanan dan Dampaknya
3. Dampak Kerusakan Akibat Konflik Pembukaan Lahan di KHDTK Labanan
Pembukaan lahan di KHDTK Labanan oleh masyarakat sekitar menyebabkan banyak terjadi kerusakan papan-papan informasi dan plot-plot penelitian yang selama ini telah dibangun oleh B2P2EHD (B2PD 2015). Hasil laporan Tim Pengumpulan Bahan Keterangan (Tim Pulbaket) yang dilakukan tanggal 8–12 Agustus 2015 oleh BKSDA Kaltim dengan nomor S.481/
BKSDA-1.6/2015 tanggal 19 Agustus 2015 mengenai kegiatan pembukaan lahan di KHDTK Labanan menyebutkan bahwa luasan lahan yang diklaim oleh masyarakat pasca pembukaan lahan mencapai luas sekitar 500 ha.
Jumlah tersebut dengan pertimbangan bahwa pembagian lahan dilakukan masyarakat mencapai luas rata-rata 1 ha dengan ukuran lebar sekitar 50 m sejajar jalan dan panjang ke dalam sekitar 200 m (50 x 200 m). Sumber yang sama menyebutkan bahwa saat itu terdapat 22 (dua puluh dua) titik pembukaan lahan yang berupa penebasan semak dan penebangan pohon dengan luas mencapai ±88,4 ha (B2PD 2015).
(Sumber: B2PD 2015)
Gambar 12. Peta pembukaan lahan di KHDTK Labanan menurut BKSDA Kaltim
Namun hasil ground check B2P2EHD bersama perwakilan masyarakat, Kecamatan Kelay dan Kecamatan Sambaliung tanggal 30 Nopember–8 Desember 2015 menunjukkan dampak pembukaan lahan yang lebih luas.
Pembukaan oleh masyarakat sekitar di KHDTK Labanan terbagi atas 2 (dua) kelompok yaitu warga Kampung Merasa dan warga di luar Kampung Merasa yang terdiri atas warga Dusun Nyapa Indah, warga Kampung Siduung dan Desa Labanan Makarti (khususnya warga RT 9). Bila dihitung dari luasan total KHDTK Labanan, pembukaan lahan oleh masyarakat sekitar mencapai 2,96% atau 235,80 ha (B2PD 2015).
Tabel 7. Luas pembukaan lahan di KHDTK Labanan oleh masyarakat sekitar
No Kelompok Masyarakat Luas yang Terbakar (ha)
Luas KHDTK
(ha) % Kerusakan
1 Kampung Merasa 150,13 7959,1 1,89
2 Non Kampung Merasa 85,67 7959,1 1,08
Jumlah Total 235,80 7959,1 2,96
Sumber: B2PD (2015)
Namun demikian jika diperhitungkan pada luas plot-plot penelitian yang rusak, kerugian akibat pembukaan lahan di KHDTK Labanan oleh masyarakat sekitar sebenarnya cukup luas yaitu sekitar 64,61 ha. Untuk kelompok warga Kampung Merasa, luas plot penelitian yang rusak mencapai 49,19 ha, sedangkan untuk warga di luar Kampung Merasa mencapai 15,42 ha (B2PD 2015).
Tabel 8. Data plot-plot penelitian yang rusak akibat pembukaan lahan di KHDTK Labanan oleh masyarakat sekitar
No Plot Penelitian Luas yang Rusak
(ha) Total Luasan
(ha) Persentase A Kelompok Masyarakat
Kampung Merasa 49,19 349
1 Bina Pilih 7,37 24 30,71%
25
Konflik di KHDTK Labanan dan Dampaknya
No Plot Penelitian Luas yang Rusak
(ha) Total Luasan
(ha) Persentase
2 Rehabilitasi DAS 25,79 285 9,05%
3 SILINT 15,07 36 41,86%
4 STREK RKL I PLOT 2 sq 3
& sq 4 0,96 4 24,00%
B Kelompok Masyarakat
Non Merasa 15,42 104
1 In-Situ Keruing 2,03 12 16,92%
2 Kebun Benih Keruing 7,71 25 30,84%
3 Kebun Benih Meranti 4,15 50 8,30%
4 Kebun Benih
Tengkawang 1,12 5 22,40%
5 SILINT 0,41 12 3,42%
Jumlah Total Terdampak 64,61 453 14,26%
Sumber: B2PD 2015; Wiati et al. 2018
Catatan: Beberapa plot penelitian yang rusak baru pada tahap kondisi persiapan (penentuan lokasi dan persiapan jalur tanam)
Data kerusakan plot penelitian belum menggambarkan data sebenarnya karena ground check dilakukan tanpa disaksikan oleh wakil warga dari Kampung Merasa. Pada awalnya B2P2EHD telah berusaha agar kegiatan pengukuran dapat didukung oleh seluruh masyarakat yang melakukan pembukaan lahan terutama warga dari Kampung Merasa dan Dusun Nyapa Indah. Namun karena sampai dengan batas akhir waktu kegiatan warga Kampung Merasa masih menolak dilakukan kegiatan pengukuran, maka akhirnya pengukuran hanya dilakukan bersama warga Dusun Nyapa Indah yang disaksikan pihak Kecamatan Kelay, Kecamatan Sambaliung dan KPHP Model Berau Barat. Dalam rangka memverifikasi data penghitungan Tabel 8. Data plot-plot penelitian yang rusak akibat pembukaan lahan di
KHDTK Labanan oleh masyarakat sekitar (lanjutan)
luasan maka hasil ground check juga dikompilasikan dengan data kebakaran lahan dari Citra Satelit Landsat 8 USGS yang diakses Bulan September 2015 (B2PD 2015).
(Sumber: B2PD 2015)
Gambar 13. Peta kebakaran lahan di KHDTK Labanan menurut hasil citra satelit Landsat 8 USGS, September 2015
(Sumber: B2PD 2015)
Gambar 14. Peta kebakaran dan pembukaan lahan di KHDTK Labanan oleh masyarakat sekitar menurut hasil Ground Check
Bagian 3
Upaya Penegakan Hukum di KHDTK Labanan
1. Perlindungan dan Pengamanan KHDTK Labanan
Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) No. 45 Tahun 2004 Pasal 5, perlindungan dan pengamanan hutan didefinisikan sebagai usaha untuk mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, bencana alam, hama dan penyakit serta mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan, investasi dan perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan.
Sesuai dengan PP tersebut maka tugas perlindungan dan pengamanan untuk kawasan hutan dengan tujuan khusus diserahkan kepada pengelola kawasan. Khusus untuk KHDTK Labanan tugas perlindungan dan pengamanan menjadi tanggung jawab B2P2EHD.
Perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan mempunyai permasalahannya sendiri. Selain luas kawasan yang cukup besar, KHDTK Labanan juga mempunyai ancaman tersendiri dengan adanya jalan poros Berau–Samarinda yang membelah kawasan tersebut. Keberadaan jalan poros tersebut memang berdampak positif dalam memudahkan akses
bagi berbagai kegiatan ekonomi masyarakat, namun keberadaan jalan poros juga berdampak negatif pada meningkatnya gangguan masyarakat sekitar terhadap KHDTK Labanan.
Dalam rangka tugas perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan, B2P2EHD kemudian mengangkat 3 (tiga) orang tenaga pengamanan.
Jumlah tenaga pengamanan ini masih jauh dari ideal dibandingkan dengan luasan KHDTK yang mencapai 7.959,10 ha. Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah berupa patroli perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan dari kegiatan pencurian kayu, perambahan serta kebakaran hutan. Patroli perlindungan dan pengamanan hutan dapat dilakukan secara mandiri maupun bergabung dengan pihak lain.
Solusi mengatasi minimnya tenaga pengamanan di KHDTK Labanan, B2P2EHD menjalin kerja sama dengan banyak pihak, di antaranya adalah BKSDA Kaltim (Seksi Konservasi Wilayah I Berau), Dishut Kab. Berau, Kepolisian Resort Berau (Polres Berau) dan PT Berau Coal. Terkait dengan hal tersebut pada tanggal 08 April 2014, B2P2EHD telah melakukan penandatanganan kesepakatan bersama Pengamanan KHDTK untuk hutan penelitian Labanan Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur dengan BKSDA Kaltim, Dishut Kab. Berau, Polres Berau dan PT Berau Coal.
Tabel 9. Perjanjian kerja sama B2P2EHD dengan para pihak dalam perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan
No Nama Mitra Judul Dokumen No Dokumen Jangka Waktu 1. BKSDA Kaltim Kesepakatan Bersama
tentang Pengamanan KHDTK untuk Hutan Penelitian Labanan di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur
PKS.87/VIII/
Lit.7/2014 PKS.21/BKSDA- 1.4/2014 075/226/DKB.
IV/2014 001/BC-B2PD/
DIR/MOU-CA/
II/2014 tanggal 8 April 2014
2 tahun (berakhir setelah perjanjian kerja samadibuat)
2. Dishut Kab.
Berau 3. Polres Berau 4. PT Berau Coal
29
Upaya Penegakan Hukum di KHDTK Labanan
No Nama Mitra Judul Dokumen No Dokumen Jangka Waktu 5. Pusat
Perlindungan Orangutan (Centre for Orangutan Protection/COP)
Perjanjian kerja sama tentang Penyediaan Areal KHDTK untuk Hutan Penelitian Labanan untuk Pembangunan Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orang Utan dan Sarana Prasarana Pendukungnya dalam Mendukung Kegiatan Penelitian
PKS.121/VIII/
Lit.7.3/2014 01/HQ-05/
COP/2014 Tanggal 14 Mei 2014
5 tahun
6. PT Berau Coal Perjanjian kerja sama tentang Pengamanan KHDTK untuk Hutan Penelitian Labanan di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.
PKS.38/VIII/
Lit.7.3/2015 007/BC-BBPD/
DIR/AGR-CA/
III/2015 Tanggal 19 Maret 2015
3 tahun
BKSDA Kaltim menjadi mitra utama dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan karena B2P2EHD tidak memiliki Polisi Kehutanan (Polhut) yang mempunyai kewenangan untuk melakukan penyidikan dan penegakan kasus kehutanan. Kerja sama ini terbukti efektif saat Pengelola KHDTK Labanan bersama dengan BKSDA Kaltim berhasil melakukan penangkapan dan penyitaan barang bukti kegiatan illegal logging di jalan masuk menuju KHDTK Labanan melalui jalan hauling PT KJB (B2PD 2014).
Dishut Kab. Berau dilibatkan dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan oleh B2P2EHD karena lokasi KHDTK berada dalam wilayah pengelolaan KPHP Model Berau Barat yang saat itu masih menjadi bagian dari Dishut Kab. Berau.
PT Berau Coal dilibatkan dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan karena wilayah konsesi tambangnya berbatasan langsung dengan KHDTK Labanan, khususnya di sisi bagian barat. Menurut perjanjian kerja sama Tabel 9. Perjanjian kerja sama B2P2EHD dengan para pihak dalam
perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan (lanjutan)
yang disepakati bersama, PT Berau Coal bersama B2P2EHD berkewajiban dalam melaksanakan kegiatan pengamanan, sosialisasi dan pemeliharaan batas KHDTK. Selain itu, PT Berau Coal berkewajiban juga menyediakan tenaga pengamanan serta sarana prasarana pengamanan. Perjanjian kerja sama antara B2P2EHD dengan PT Berau Coal dibuat sebagai tindak lanjut dari kesepakatan bersama yang telah dibuat setahun sebelumnya.
Polres Berau dilibatkan oleh B2P2EHD dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan untuk membantu BKSDA Kaltim dalam rangka penanganan kasus hukum kehutanan.
Selain menjalin kerja sama perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan dengan BKSDA Kaltim, Dishut Kab. Berau, Polres Berau dan PT Berau Coal, B2P2EHD juga menjalin kerja sama dengan COP. COP adalah salah satu lembaga yang bekerja untuk perlindungan orang utan dan habitatnya.
Lembaga ini sejak tahun 2014 telah meminta izin kepada B2P2EHD untuk membangun lokasi rehabilitasinya di dalam wilayah KHDTK Labanan.
B2P2EHD menjalin kerja sama perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan bersama COP, karena keberadaannya dapat dianggap sebagai perpanjangan tangan dari B2P2EHD. Kegiatan yang dilakukan COP di antaranya adalah pemberian informasi dan data-data adanya gangguan di lapangan serta pemberian pemahaman tentang pentingnya menjaga hutan khususnya kepada masyarakat sekitar.
Dalam melakukan kegiatan perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan, B2P2EHD memang mengalami beberapa hambatan terutama berkaitan dengan luasnya wilayah pengamanan, minimnya tenaga pengamanan baik dalam jumlah maupun kapasitas, minimnya sarana prasarana pendukung seperti kendaraan patroli roda dua maupun roda empat, sulitnya jaringan komunikasi, dan minimnya dana pengamanan.
Kegiatan perlindungan dan pengamanan KHDTK Labanan dari gangguan masyarakat menjadi hal terberat karena pemahaman masyarakat sekitar terhadap keberadaan KHDTK Labanan masih rendah seperti yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya (lihat Gambar 3). Terkait dengan
31
Upaya Penegakan Hukum di KHDTK Labanan
hal tersebut salah satu tugas utama Pengelola KHDTK Labanan saat ini adalah memberikan pemahaman yang cukup kepada masyarakat sekitar tentang pentingnya keberadaan KHDTK Labanan serta manfaat yang bisa didapatkan oleh mereka. Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk kegiatan pengamanan pre-emtif yang dilakukan oleh B2P2EHD melalui pembinaan dan penyuluhan terhadap masyarakat sekitar KHDTK Labanan.
Selain melakukan kegiatan pengamanan pre-emtif, B2P2EHD juga melakukan kegiatan pengamanan preventif berupa patroli pengamanan bersama.
2. Penindakan Hukum di KHDTK Labanan oleh Tim Gakkum KLHK
Operasi Gabungan Tim Gakkum KLHK dilakukan sebagai tanggapan dari hasil laporan Tim Pulbaket oleh BKSDA Kaltim dengan nomor S.481/
BKSDA-1.6/2015 tanggal 19 Agustus 2015 mengenai kegiatan pembukaan lahan di KHDTK Labanan. Tim Gakkum KLHK yang melakukan aksinya pada tanggal 31 Agustus 2015 di KHDTK Labanan berasal dari 3 (tiga) institusi yaitu BKSDA Kaltim (khususnya Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat/SPORC), Dishut Kab. Berau (polisi kehutanan/polhut) dan Polres Berau. Seperti lazimnya kegiatan penindakan hukum, Tim Gakkum KLHK melakukan operasinya secara rahasia. Kondisi tersebut yang menyebabkan B2P2EHD tidak banyak mengetahui mengenai waktu dan rencana-rencana aksi penindakan hukum yang dilakukan Tim Gakkum KLHK.
Sementara itu, beberapa bulan sebelum kedatangan Tim Pulbaket, B2P2EHD sebenarnya sudah melakukan kegiatan sosialisasi tentang Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan. Sayangnya kegiatan Kemitraan Kehutanan yang dilakukan oleh B2P2EHD di KHDTK Labanan tidak masuk dalam laporan Tim Pulbaket. Padahal kedatangan Tim Pulbaket ke KHDTK Labanan sendiri dilakukan pada saat B2P2EHD melakukan kegiatan lanjutan berupa pertemuan antar kampung untuk sosialisasi Kemitraan Kehutanan.
Dari berbagai sumber, B2P2EHD memperoleh informasi bahwa Tim Gakkum KLHK tidak melakukan penangkapan pelaku pembukaan lahan di KHDTK Labanan dalam tindakan hukum yang dilakukannya. Aksi Tim Gakkum KLHK hanya berupa kegiatan tatap muka langsung dengan masyarakat untuk memberikan penjelasan mengenai tidak diperbolehkannya melakukan kegiatan-kegiatan yang merusak hutan termasuk perladangan di dalam KHDTK. Selain itu juga dilakukan pemasangan papan-papan larangan yang bertuliskan “dilarang untuk dan atau melakukan kegiatan dalam bentuk apapun”. Pelarangan oleh Tim Gakkum KLHK mengacu pada PP No. 45 Tahun 2004 tentang perlindungan hutan, di mana masyarakat tidak diperbolehkan membuka lahan untuk perladangan di dalam KHDTK.
(Sumber: Dishut Kab. Berau)
Gambar 15. Sosialisasi dalam rangka penegakan hukum oleh Tim Gakkum KLHK
33
Upaya Penegakan Hukum di KHDTK Labanan
Penyampaian sosialisasi dilakukan di depan masyarakat dari Kampung Merasa yang kebetulan saat itu sedang melakukan kegiatan gotong-royong penanaman padi sehingga yang hadir bukan hanya para laki-laki namun juga kaum perempuan yang sebagian juga membawa anak-anaknya yang masih kecil untuk membantu kegiatan penanaman. Kegiatan gotong- royong melakukan penanaman padi sendiri merupakan budaya masyarakat sekitar KHDTK Labanan, di mana pemilik lahan akan mendapat bantuan tenaga dari warga lain dan sebagai kompensasinya pihak pemilik lahan akan menyediakan makanan untuk seluruh warga yang datang membantu.
Oleh karena itu, biasanya pemilik lahan yang melakukan penanaman padi akan membangun pondok kerja berupa tenda serta menyediakan peralatan yang dibutuhkan termasuk peralatan masak.
3. Respon Masyarakat terhadap Operasi Penindakan Hukum
Hanya berselang sehari setelah operasi gabungan Tim Gakkum KLHK, masyarakat Kampung Merasa melakukan perusakan bangunan persemaian milik PT HSLL yang lokasinya berdekatan dengan KHDTK Labanan. Adanya aksi perusakan ini membuat B2P2EHD mempertanyakan mengapa aksi perusakan tersebut terjadi. Dari berbagai pihak, B2P2EHD mendapat informasi bahwa perusakan yang dilakukan masyarakat Kampung Merasa saat itu adalah sebagai bentuk kekecewaan mereka atas tindakan operasi penegakan hukum yang dilakukan oleh Tim Gakkum KLHK. Saat itu masyarakat kurang mendapat penjelasan mengenai aksi penegakan hukum tersebut dan beredar rumor di masyarakat bahwa aksi penegakan hukum yang dilakukan oleh Tim Gakkum KLHK dilakukan dengan cara yang kurang santun. Di mana operasi penegakan hukum oleh Tim Gakkum KLHK dilakukan kepada warga yang sedang beristirahat di pondok kerja dengan membawa senjata api berupa senapan laras panjang sehingga menimbulkan rasa takut terutama bagi kaum perempuan dan anak-anak yang juga berada di tempat tersebut.