berdasarkan PKS tersebut berjumlah sekitar 100.000 batang. Bibit-bibit tersebut berupa Shorea balangeran, Shorea leprosula, kapur, gaharu, mangga, rambutan, duku dan apel. B2P2EHD juga mendapat bantuan bibit dari pihak lain seperti COP. Pada tahun 2016 B2P2EHD telah mendapat bantuan bibit karet dari COP sejumlah 5.000 bibit. B2P2EHD masih mengharapkan dukungan dari berbagai pihak yang bersedia membantu dalam program Kemitraan Kehutanan ini. Dukungan yang diharapkan berupa penguatan kelembagaan, pelatihan-pelatihan wirausaha maupun pengelolaan pasca panen.
Pada tahun 2019 ini B2P2EHD berencana akan mengajukan permohonan Pengakuan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (Kulin KK) ke Menteri LHK dan sedang dalam tahap persiapan melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan. Pada proses ini B2P2EHD mendapat bantuan dan arahan dari BPSKL Wilayah Kalimantan yang ada di Banjarbaru. Proses ini sedikit berbeda dengan pihak lain yang juga sedang mengajukan Kulin KK, karena proses ini seharusnya dilakukan sebelum kegiatan Kemitraan Kehutanan dilakukan, baik oleh Pengelola Hutan maupun Pemegang Izin. B2P2EHD sudah memulai kegiatan pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan sejak tahun 2015 sebelum diberlakukan PermenLHK No. P.83/MenLHK/
Setjen/Kum.1/2016 tentang Perhutanan Sosial. Dengan demikian, seluruh dokumen seperti NKK, peta dan Berita Acara pembentukan kelompok tani sudah dapat diselesaikan oleh B2P2EHD sebelum mengajukan Kulin KK.
5. Rekomendasi untuk Percepatan
Pelaksanaan Kemitraan Kehutanan di KHDTK
Meskipun B2P2EHD baru melaksanakan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan selama 4 (empat) tahun terakhir dan hasilnya belum dapat dipastikan berhasil untuk mengatasi konflik pembukaan lahan yang terjadi,
109
Pembelajaran Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan
namun pengalaman B2P2EHD berharap pengalaman menjalankan kegiatan ini menunjukkan bahwa upaya tersebut tidaklah sia-sia. Oleh karena itu, B2P2EHD berharap pengalaman menjalankan kegiatan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan diharapkan dapat menjadi pembelajaran yang bermanfaat bagi pihak lain yang saat ini juga menjalankan Kemitraan Kehutanan di wilayahnya masing-masing.
Poin penting pertama dari hasil pembelajaran tersebut adalah bahwa menjalankan kegiatan Kemitraan Kehutanan bukan hanya dimaknai B2P2EHD dengan sekadar melibatkan masyarakat dalam proses membangun Kemitraan Kehutanan namun juga sebagai proses belajar agar masyarakat mampu menjalankan komitmen mereka untuk melanjutkan kegiatan Kemitraan Kehutanan yang telah terbangun. Untuk itu sejak awal kegiatan B2P2EHD tidak hanya melibatkan masyarakat secara aktif tetapi juga memastikan mereka memahami tujuan kegiatan dan mendorong meraka untuk melakukan peran dan tanggung jawabnya masing-masing sesuai butir-butir yang termuat dalam kesepakatan. Tanggung jawab mitra dalam kegiatan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan bersifat pribadi, karena pelaksanaannya dilakukan dengan membangun demplot di lahan yang kepemilikannya diklaim secara pribadi. Kondisi ini yang membuat B2P2EHD dalam kegiatan pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan mendesain SPKK dalam bentuk perorangan. SPKK dalam bentuk kelompok tani dibuat hanya untuk memenuhi ketentuan yang tertulis dalam Perdirjen PSKL No: P.18/PSKL/SET/PSL.0/12/2016.
Tujuan SPKK dibuat dalam bentuk perorangan agar masing-masing mitra tidak hanya memiliki bukti legal untuk melakukan aktivitas pemanfaatan lahan di KHDTK Labanan, tetapi juga selalu mengingat peran dan tanggung jawabnya masing-masing sebagai mitra B2P2EHD karena semuanya tertulis dalam SPKK.
Poin penting kedua adalah bahwa komunikasi dan kepercayaan menjadi kunci penting dalam menjalankan Kemitraan Kehutanan terutama jika pendampingan secara intensif minim dilakukan. Idealnya kegiatan Kemitraan Kehutanan akan lebih mudah dilaksanakan jika pendampingan
secara intensif dilakukan oleh pihak yang menjalankannya. Lokasi demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan yang sangat jauh dari Samarinda, tidak adanya tenaga penyuluh kehutanan maupun pendamping lapangan dan tidak tersedianya jaringan komunikasi seluler di Dusun Nyapa Indah menyebabkan B2P2EHD banyak mengalami kendala jika harus melakukan koordinasi dengan masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut, strategi yang dilakukan oleh B2P2EHD adalah dengan membangun kepercayaan dari masyarakat. Jujur dan terbuka seluruh hal terkait dengan kegiatan, terutama mengenai kendala-kendala yang dihadapi B2P2EHD maupun target yang ingin dicapai adalah cara yang dilakukan oleh B2P2EHD dalam membangun komunikasi. B2P2EHD juga sangat membuka diri terhadap ide dan saran dari masyarakat serta sedapat mungkin membantu untuk mewujudkannya. Selain itu, pendekatan secara kekeluargaan juga dilakukan B2P2EHD agar masyarakat Dusun Nyapa Indah menganggap B2P2EHD sebagai bagian dari keluarga yang dapat saling mendukung dalam berbagai situasi demi untuk keberhasilan pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan.
Poin penting ketiga adalah minimnya pembiayaan tidak membatasi kegiatan pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan karena dapat diatasi dengan mendorong masyarakat yang menjadi mitra kegiatan untuk turut berkontribusi dalam kegiatan serta menggalang dukungan dari banyak pihak. B2P2EHD sangat memahami bahwa keterbatasan pendanaan dapat menjadi kendala kegiatan, namun dukungan masyarakat yang menjadi mitra kegiatan menjadi modal utama bagi B2P2EHD dalam pelaksanaan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan. Untuk menekan pembiayaan dalam membangun demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan, B2P2EHD berupaya untuk tidak memberikan upah sebagai imbalan jasa bagi masyarakat. B2P2EHD hanya memberikan bantuan-bantuan berupa bibit, polybag dan racun rumput untuk meningkatkan antusias mitra. B2P2EHD mendorong masyarakat untuk lebih berperan secara mandiri dalam pelaksanaan kegiatan. Selain itu, B2P2EHD juga mendorong pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap keberadaan
111
Pembelajaran Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan
Plot STREK dan KHDTK Labanan untuk memberikan bantuan berupa bibit dan bantuan lain dalam pelaksanaan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan.
Gambar 34. Sekretaris BLI KLHK (Dr.Ir. Sylvana Ratina, M.Si) dan masyarakat Dusun Nyapa Indah di demplot Kemitraan Kehutanan KHDTK Labanan
Terkait dengan hasil pembelajaran yang diperoleh B2P2EHD maka berikut adalah beberapa rekomendasi yang dapat disampaikan untuk percepatan pelaksanaan Kemitraan Kehutanan khususnya bagi pengelola hutan yang akan melaksanakan di wilayah KHDTK, di antaranya:
a. Pengelola hutan bisa saja menjadikan Kemitraan Kehutanan sebagai salah satu solusi penyelesaian konflik bagi masyarakat sekitar, namun sebaiknya berhati-hati terhadap tujuan tersembunyi dari masyarakat yang menjadi mitra. Konflik di KHDTK umumnya terjadi karena adanya klaim lahan oleh masyarakat sekitar dan hal ini dapat diatasi dengan
memberi pemahaman kepada mereka. Hal yang perlu diwaspadai adalah apabila ada pihak-pihak lain yang demi kepentingan bisnis menjadikan masyarakat sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka.
b. Pengelola hutan sebaiknya mempertimbangkan jarak lokasi kegiatan dengan pemukiman petani yang menjadi mitra. Pemukiman yang jauh dari lokasi kegiatan akan berdampak pada kurang maksimalnya tanggung jawab mitra terhadap kegiatan. Pemberian izin bagi mitra untuk mendirikan pondok kerja dapat menjadi salah satu solusinya.
Walau demikian pemberian izin ini harus mendapat pengawasan yang ketat dari pengelola hutan karena dapat berpotensi pada penebangan kayu ilegal di dalam KHDTK ataupun pada pendirian bangunan permanen.
c. Pengelola hutan harus mempertimbangkan pola pemanfaatan sumberdaya hutan yang selama ini dilakukan oleh masyarakat yang menjadi mitra sebelum menentukan bentuk Kemitraan Kehutanan.
Mengenalkan mitra terhadap bentuk pemanfaatan sumberdaya hutan yang belum biasa mereka lakukan dapat berdampak pada rendahnya tingkat keberhasilan kegiatan atau bahkan berisiko pada kegagalan.
d. Pemberian NKK sebagai bentuk legalitas hukum bagi masyarakat mitra yang melakukan kegiatan Kemitraan Kehutanan sudah tepat dilakukan, namun pengelola hutan sebaiknya tidak hanya memberikan bukti legalitas hukum dalam bentuk kelompok tani tetapi juga perorangan yang oleh B2P2EHD dalam hal ini diberikan dalam bentuk SPKK. Pemberian SPKK dalam bentuk perorangan tidak hanya mengikat secara hukum antara pengelola hutan dengan masyarakat yang menjadi mitra, tetapi juga dapat menjadi bukti sah yang dipegang oleh masing-masing mitra.
B2P2EHD sangat menyadari bahwa tulisan ini belum dapat menyajikan informasi-informasi secara menyeluruh terkait pelaksanaan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan. Hal tersebut dikarenakan penelitian ini baru dilakukan selama 4 (empat) tahun terakhir dan belum dapat dikatakan berhasil karena belum dapat menyajikan kondisi-kondisi yang terjadi
113
Pembelajaran Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan
setelah demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan memberikan hasil dalam bentuk tunai baik bagi masyarakat yang menjadi mitra maupun pengelola hutan dalam bentuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). B2P2EHD sepenuhnya menyadari juga bahwa tulisan ini tidak dapat menjadi referensi oleh pihak lain yang ingin melakukan kegiatan Kemitraan Kehutanan di wilayahnya masing-masing, karena pembangunan demplot Kemitraaan Kehutanan di KHDTK Labanan tidak sepenuhnya mengikuti tahapan yang termuat dalam PermenLHK No. P.83/MenLHK/
Setjen/Kum.1/2016 tentang Perhutanan Sosial. Pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan telah dimulai sebelum aturan tersebut dikeluarkan. Bahkan saat ini B2P2EHD masih dalam proses pengajuan Kulin KK kepada Menteri LHK.
B2P2EHD juga menyadari bahwa pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan melalui pola agroforestri bukan satu-satunya jalan yang dapat ditempuh dalam penyelesaian konflik di KHDTK. Langkah-langkah lain seperti melalui penegakan hukum dan mediasi dengan masyarakat dapat saja dilakukan oleh B2P2EHD dengan bantuan pihak lain untuk menyelesaikan masalah konflik di KHDTK Labanan. Namun B2P2EHD lebih memilih penyelesaian konflik melalui pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan dengan harapan agar masyarakat di sekitar KHDTK Labanan memahami bahwa B2P2EHD ingin dianggap sebagai kawan dan bukan sebagai lawan. Melalui aktivitasnya di KHDTK Labanan, B2P2EHD bukan hanya ingin menghasilkan riset-riset yang berkualitas untuk KLHK maupun dunia penelitian namun juga dapat bermanfaat langsung dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Hal tersebut karena KHDTK Labanan bukan hanya milik B2P2EHD namun milik seluruh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Kabupaten Berau dan masyarakat desaa yang bermukim di sekitarnya. Penyelesaian konflik dengan cara ini mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama, namun dengan keseriusan B2P2EHD percaya bahwa penyelesaian konflik di KHDTK Labanan melalui pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan adalah hal yang paling tepat dilakukan.