b. Penyiapan Lahan
7. Permasalahan Pembangunan Demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK
Labanan
Meski sedari awal B2P2EHD dan masyarakat yang menjadi mitra sudah menyepakati peran masing-masing dalam pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan, namun dalam pelaksanaannya pembagian peran tersebut ternyata sulit untuk diterapkan oleh masyarakat.
Banyak hal yang melatarbelakangi di antaranya karena masalah jauhnya lokasi kegiatan dengan pemukiman, kurangnya kemampuan secara teknis dalam pembangunan demplot serta kesibukan masyarakat akibat banyaknya kegiatan yang dilakukan di kampung baik program internal desa sendiri maupun program yang dibawa oleh pihak luar. Kegiatan yang dibawa oleh pihak luar di Dusun Nyapa Indah di antaranya adalah Tabel 19. Realisasi penanaman demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK
Labanan (lanjutan)
pembangunan persemaian dan patroli bersama masyarakat oleh ForClime yang mendapatkan pendanaan dari Pemerintah Jerman serta sekolah kakao oleh Yayasan Sahabat Cipta yang mendapatkan dana dari program MCAI (Millennium Challenge Account–Indonesia).
Sulitnya memastikan masyarakat untuk menjalankan tanggung jawabnya berdampak pada perubahan nama masyarakat yang bermitra. Pada tahun 2016, dari 25 KK yang telah memiliki SPKK hanya 14 KK yang melakukan penanaman di KHDTK Labanan.
Tabel 20. Daftar mitra yang memiliki SPKK, mendapat bantuan bibit dan melaksanakan penanaman di KHDTK Labanan Tahun 2016
No Nama SPKK Bantuan Bibit Penanaman
1 Mentan Samuel √ Gaharu, durian, S. balangeran √
2 Kitab Surat √ Gaharu, kapur √
3 Kasing Adjang √ Karet, S. leprosula √
4 Samuel Daud √ Gaharu, durian √
5 Bella Samuel √ Karet, S. leprosula
-6 Rustam Ncau √ -
-7 Asep L. B. √ Gaharu, durian, S. balangeran √
8 Njau Imang √ Gaharu, durian, kapur √
9 Kueng Ngang √ Karet, S. leprosula √
10 Buring √ -
-11 Muyang √ -
-12 Alpius Ntam √ Gaharu, S. balangeran √
13 Marten Along √ Gaharu, kapur
-14 Irang Bawan √ Karet, S. leprosula
-15 Kajan √ Gaharu, S. balangeran
-16 Ingan Bit √ Gaharu, kapur √
17 Adan Kule √ Gaharu, S. leprosula √
18 Sudin Ncau √ Gaharu, S. balangeran √
19 Kabi Boro √ -
-75
Pembangunan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan
No Nama SPKK Bantuan Bibit Penanaman
20 Rudiansyah √ -
-21 Ngau Nta √ -
-22 Line Udau √ Gaharu, kapur √
23 Bilung √ Karet, durian, kapur √
24 Baun Ntam √ Gaharu, S. leprosula √
25 Eva √ -
-Sumber: B2P2EHD (2016)
Walau demikian pada saat itu ada 7 KK yang belum melakukan penandatanganan SPKK tetapi melaksanakan kegiatan penanaman di KHDTK Labanan. B2P2EHD memang memperbolehkan masyarakat sekitar melakukan aktivitas pertanian di dalam KHDTK Labanan sepanjang mereka mengakui bahwa kawasan tersebut adalah kawasan hutan negara yang tidak dapat dimiliki dan bersedia mengikuti aturan-aturan yang terkait dengan pengelolaan KHDTK.
Tabel 21. Daftar mitra yang tidak memiliki SPKK, mendapat bantuan bibit dan melaksanakan penanaman di KHDTK Labanan Tahun 2016
No Nama SPKK Bantuan Bibit Penanaman
1 Marten Pattibang - Gaharu, S. leprosula √ 2 Agong Surat - Gaharu, durian, S. leprosula √ 3 Jimmy Jiu - Gaharu, durian, S. balangeran √
4 Larung Awan - Gaharu, kapur √
5 Jesli - Gaharu, S. balangeran √
6 Sem Kule - Karet, S. leprosula √
7 Yusak Bilung - Gaharu, S. balangeran √
Sumber: B2P2EHD (2016)
Tabel 20. Daftar mitra yang memiliki SPKK, mendapat bantuan bibit dan melaksanakan penanaman di KHDTK Labanan Tahun 2016 (lanjutan)
Selain itu sampai pada tahun 2018 ini B2P2EHD mencatat adanya penambahan mitra sebanyak 2 KK yang melakukan pembangunan demplot secara mandiri.
Gambar 24. Demplot Kemitraan Kehutanan milik Bapak Taufik Tabel 22. Daftar mitra pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan di
KHDTK Labanan secara mandiri
No Nama SPKK Cara
Tanam Jenit Bibit yang Ditanam Keterangan 1 Taufik - Mandiri Tanaman buah (jambu, durian,
kelengkeng dan lain-lain) Ada pondok kerja
2 Ahmat Lah - Mandiri Karet Ada pondok
kerja Sumber: B2P2EHD (2017)
77
Pembangunan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan
Untuk mengetahui keberhasilan penanaman demplot Kemitraan Kehutanan yang terbangun, B2P2EHD sebenarnya sudah berupaya melakukan pengukuran untuk mengetahui data yang pasti mengenai jumlah dan jenis bibit yang hidup pada demplot masing-masing mitra.
Pengukuran dilakukan dengan bantuan siswa-siswi Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) Samarinda yang kebetulan saat itu sedang melakukan praktek kerja di KHDTK Labanan. Data ini juga dipergunakan untuk mengetahui jumlah bibit yang efektif disediakan untuk masyarakat.
Namun kondisi demplot yang begitu rimbun tertutup semak belukar maka akhirnya kegiatan pengukuran pada Februari 2017 hanya dilakukan pada 7 (tujuh) demplot milik mitra.
Tabel 23. Hasil evaluasi penanaman demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan pada Februari 2017
No Nama Luas
±(ha) Jumlah bibit
yang diberikan Jumlah bibit
yang ditanam Jumlah bibit yang hidup %
1 Kitab Surat 1 300 96 84 87,5
2 Agong Surat 1 350 152 116 76,3
3 Jimmy Jiu 1 300 166 117 70,5
4 Larung Awan 1 350 72 39 54,2
5 Ingan Bit 1 300 182 107 58,8
6 Adan Kule 1 300 124 16 12,9
7 Sem Kule 0,25*) 75 54 47 87,0
Rata-rata persentase bibit hidup 63,9 Ket: *) luas demplot disesuaikan dengan luas yang diklaim oleh masyarakat
Sumber: B2P2EHD (2017)
Dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa bibit yang berhasil ditanam pada masing-masing demplot Kemitraan Kehutanan rata-rata hanya sekitar 40% dari total jumlah yang diberikan. Hal tersebut disebabkan kondisi lahan yang terkadang sangat curam maupun luas masing-masing demplot yang karena berhimpitan dengan warga lain sehingga luasnya tidak mencapai 1 ha. Sebagian besar bibit yang tidak digunakan ini kemudian dikumpulkan
untuk nantinya diberikan kembali ke masyarakat untuk penyulaman. Dari hasil pengukuran tersebut diketahui bahwa persentase keberhasilan bibit hidup demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan mencapai 63,9%.
Gambar 25. Pengukuran demplot Kemitraan Kehutanan oleh siswa-siswi SKMA Samarinda
Pengukuran belum dilakukan pada seluruh demplot dan untuk mengatasi keterbatasan dana serta sumberdaya manusia maka pada Juli 2017 B2P2EHD menggunakan metode partisipatif dalam pengumpulan data mengenai jumlah dan bibit yang hidup. Pengumpulan data ini dilakukan sebelum pemberian bibit tahap 2 ke masyarakat yang dilakukan pada tahun 2017. Metode partisipatif dilakukan dengan meminta kesediaan masing-masing mitra untuk mengisi tabel yang telah disediakan oleh B2P2EHD. Tidak semua mitra bersedia melakukan pengumpulan data, tetapi data yang diperoleh cukup menjelaskan kondisi bibit yang terjadi setelah 7 bulan penanaman.
79
Pembangunan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan
Tabel 24. Hasil evaluasi secara partisipatif penanaman demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan pada Juli 2017
No Nama Luas
6 Kasing Adjang 1 300 150 121 81
7 Samuel Daud 1 350 175 46 26
8 Bella Samuel 1 300 150 -
-9 Asep L. B. 1 350 175 56 32
10 Njau Imang 1 350 175 2 1
11 Buring 1 350 150 -
-12 Kueng Ngang 1 350 175 161 92
13 Alpius Ntam 1 300 150 30 20
Rata-rata persentase bibit hidup 28,6 Ket: *) tidak ada data, - tidak melakukan penanaman
Sumber: B2P2EHD (2017)
Dari hasil evaluasi partisipatif tersebut dapat diketahui bahwa persentase bibit yang hidup pada demplot Kemitraan Kehutanan secara keseluruhan sangat rendah yaitu rata-rata hanya mencapai 28,6%. Nilai persentase bibit yang hidup hasil pengukuran pada Juli 2017 juga jauh lebih rendah dari hasil pengukuran pada Februari 2017 yang mencapai 63,9%. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam rentang waktu 4 bulan (Februari–Juli 2017) banyak bibit mengalami kematian. Penyebab kematian bibit yang sempat hidup ini diduga karena terbelit liana yang banyak ditemukan di KHDTK Labanan.
Jika diperhatikan dari kondisi lahan, kematian bibit akibat terbelit liana memang sangat mungkin terjadi. Hal tersebut disebabkan sebagian besar demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan dibangun pada kondisi lahan semak dan belukar. Hal yang dimaksud dengan semak dalam tulisan ini adalah lahan didominasi dengan tutupan rumput, sedangkan belukar adalah jika lahan didominasi dengan jenis-jenis macaranga. Perbedaan yang lain adalah saat penanaman pada lahan dengan kondisi semak cukup dibuat jalur, sedangkan pada lahan belukar perlu dibuat lorong.
Tabel 25. Hasil evaluasi penanaman demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan berdasarkan kondisi lahan
No Nama Luas
±(ha) Kondisi Lahan Persentase Bibit yang Hidup (%)
1 Marten Pattibang 1 Belukar *)
2 Mentan Samuel 1 Semak *)
3 Kitab Surat 1 Belukar 33
4 Jimmy Jiu 1 Belukar *)
5 Larung Awan 1 Belukar *)
6 Kasing Adjang 1 Semak 81
7 Samuel Daud 1 Semak 26
8 Bella Samuel 1 Semak
-9 Asep L. B. 1 Semak 32
81
Pembangunan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan
No Nama Luas
±(ha) Kondisi Lahan Persentase Bibit yang Hidup (%)
10 Njau Imang 1 Semak 1
11 Buring 1 Belukar
-12 Kueng Ngang 1 Semak 92
13 Alpius Ntam 1 Belukar-longsor 20
14 Marten Along 1 Belukar
-15 Irang Bawan 1 Belukar
-16 Kajan T. 0,6 Jurang 2
17 Jesli 0,4 Jurang 18
18 Ingan Bit 1 Belukar 46
19 Adan Kule 1 Belukar 10
20 Sudin Ncau 1 Belukar 31
21 Line Udau 0,5 Belukar 7
22 Sem Kule 0,25 Terbuka–bekas tumpukan material tanah
*)
23 Yusak Bilung 1 Belukar *)
24 Bilung 1 Semak 7
25 Baun Ntam 1 Belukar–longsor 20
Ket: *) tidak ada data, - tidak melakukan penanaman Sumber: B2P2EHD (2017)
Dari hasil evaluasi tersebut diketahui bahwa meski mempunyai kondisi lahan yang berbeda, nilai persentase bibit yang hidup pada demplot Kemitraan Kehutanan yang ditanam melalui pola kemitraan kehutanan di KHDTK Labanan tidak dapat menjadi dasar perbandingan. Karena baik pada kondisi semak maupun belukar sama-sama terdapat banyak liana yang berpotensi mematikan tanaman. Oleh karena itu, kegiatan pemeliharaan menjadi hal yang sangat penting dilakukan.
Tabel 25. Hasil evaluasi penanaman demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan berdasarkan kondisi lahan (lanjutan)
Selain kurangnya pemeliharaan, rendahnya persentase bibit hidup pada demplot Kemitraan Kehutanan dengan pola agroforestri di KHDTK Labanan juga disebabkan karena sebagian besar penanaman dilakukan dengan bantuan pihak ketiga (borongan). Penggunaan bantuan pihak ketiga dilakukan atas permintaan dari masyarakat karena kesibukan mereka saat itu dan kepentingan dari pihak B2P2EHD agar pembangunan demplot dapat tetap terlaksana. Meski B2P2EHD membantu masyarakat mencari pihak ketiga yang bersedia melakukan penanaman, namun pembiayaan pihak ketiga ini sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat. Sebagian besar terjadi karena pihak ketiga ternyata banyak yang menyalahi perjanjian dengan tidak melakukan penanaman di lapangan. Hal tersebut karena pengawasan oleh B2P2EHD dan masyarakat dalam kegiatan penanaman oleh pihak ketiga tidak dilakukan.
Tabel 26. Hasil evaluasi penanaman demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan berdasarkan cara penanaman
No Nama Luas
±(ha) Cara Tanam Persentase Bibit yang Hidup (%) 1 Marten
Pattibang 1 Tanam sendiri *)
2 Mentan
Samuel 1 Tanam sendiri *)
3 Kitab Surat 1 Tanam sendiri 33
4 Jimmy Jiu 1 Diborongkan *)
5 Larung Awan 1 Diborongkan *)
6 Kasing Adjang 1 Tanam sendiri 81
7 Samuel Daud 1 Diborongkan 26
8 Bella Samuel 1 -
-9 Asep L. B. 1 Diborongkan 32
10 Njau Imang 1 Diborongkan 1
11 Buring 1 -
-12 Kueng Ngang 1 Diborongkan 92
83
Pembangunan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan
No Nama Luas
±(ha) Cara Tanam Persentase Bibit yang Hidup (%)
13 Alpius Ntam 1 Diborongkan 20
14 Marten Along 1 -
-15 Irang Bawan 1 -
-16 Kajan T. 0,6 Diborongkan 2
17 Jesli 0,4 Diborongkan 18
18 Ingan Bit 1 Diborongkan 46
19 Adan Kule 1 Diborongkan 10
20 Sudin Ncau 1 Diborongkan 31
21 Line Udau 0,5 Diborongkan 7
22 Sem Kule 0,25 Diborongkan *)
23 Yusak Bilung 1 Diborongkan *)
24 Bilung 1 Diborongkan 7
25 Baun Ntam 1 Diborongkan 20
Ket: *) tidak ada data, - tidak melakukan penanaman Sumber: B2P2EHD (2017)
Pada tahun 2017 dan 2018, pemberian bantuan bibit dari B2P2EHD bagi masyarakat untuk pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan sebagian besar diberikan untuk tujuan penyulaman. Walau demikian pada tahun 2017 B2P2EHD tetap membuka peluang pembangunan demplot Kemitraan Kehutanan jika calon mitra lolos seleksi, salah satu contohnya adalah Bapak Joni Superato.
Penyulaman perlu dilakukan karena dari hasil evaluasi, persentase bibit yang hidup dari seluruh bibit yang dibagikan termasuk rendah. B2P2EHD memperkirakan persentase bibit hidup yang rendah disebabkan karena bibit yang ditanam masih dalam kondisi stress setelah perjalanan jauh Tabel 26. Hasil evaluasi penanaman demplot Kemitraan Kehutanan di
KHDTK Labanan berdasarkan cara penanaman (lanjutan)
karena langsung ditanam, penggunaan bantuan pihak ketiga (borongan) menyebabkan kegiatan penanaman kurang maksimal serta kurangnya pemeliharaan menyebabkan bibt banyak yang mati akibat terbelit liana.
Berdasarkan kondisi tersebut maka pada tahun 2018 B2P2EHD mendorong masyarakat untuk melakukan pemeliharaan lebih intensif serta melakukan penyediaan dan penanaman bibit secara mandiri. Untuk memotivasi masyarakat, B2P2EHD menyediakan bantuan polybag dan pengangkutan bibit dari pemukiman ke KHDTK Labanan. Ide dari B2P2EHD tersebut mendapat sambutan baik dari masyarakat, selain karena mereka memahami kondisi yang terjadi juga dikarenakan mereka diperbolehkan memilih sendiri jenis bibit yang akan mereka tanam di KHDTK Labanan (B2P2EHD 2018).
Gambar 26. Pemasangan papan nama demplot Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan
85
Pembangunan Kemitraan Kehutanan di KHDTK Labanan