1 BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1. Gambaran Umum Komunitas
Komunitas Hobi Foto Bandung yang disingkat dengan HFB adalah salah satu komunitas yang bergerak pada bidang fotografi di lingkungan Bandung. Komunitas Hobi Foto Bandung didirikan pada tanggal 1 Juli 2007, dan tepat pada tanggal tersebut diadakan hunting pertama, pada awalnya hanya diikuti oleh sepuluh orang fotografer, dan pada saat itu juga mereka terus melakukan hunting bersama. Seiring berjalannya waktu, jumlah orang yang ikut dalam acara hunting semakin banyak, kemudian digagaslah perkumpulan tersebut dijadikan suatu komunitas fotografi yang peduli dengan lingkungan serta budaya di Kota Bandung dan wilayah di sekitarnya yang sampai sekarang dikenal dengan Komunitas Hobi Foto Bandung (HFB), dan sekarang sekretariat dari Komunitas Hobi Foto Bandung adalah berlokasi di Jl. Sederhana 22, Bandung, Jawa Barat dengan alamat website resmi yaitu www.hobifotobandung.com. (http://www.hobifotobandung.com/ sejarah-hfb , diakses 12 Februari 2015)
Kegiatan Komunitas Hobi Foto Bandung rutin digelar setiap bulannya walaupun belum menentu waktunya, kegiatan HFB ini tidak selalu fokus pada satu genre / aliran saja, misalkan modelling yang setiap bulan harus mengadakan hunting dengan para model, akan tetapi Komunitas HFB juga merambah ke banyak aliran seperti macro, landscape, human interest, model, street dan lain-lain. Untuk kegiatan lain yang diadakan oleh Komunitas Hobi Foto Bandung diantaranya adalah pameran yang diadakan dengan tema “Hanya Ada di Bandung” yang diadakan pada tahun 2012 yang diselenggarakan kerjasama Komunitas HFB dengan salah satu Mall di Bandung, acara selanjutnya adalah “Pameran jalanan” yaitu pameran yang digelar di area car
2 free day Dago, kemudian adalah acara hunting steel wool photography, hunting model bertema ’70-an , pajang foto dan agenda hunting lainnya. Selain itu, HFB juga mempunyai program kompetisi foto yang diadakan setiap 2 minggu sekali, yaitu para peserta membuat suatu hasil foto sesuai dengan tema yang sudah ditentukan dan nantinya pemenang akan mendapatkan kesempatan menentukan tema agenda selanjutnya, akan tetapi acara tersebut belum berjalan lagi saat ini.
(wawancara pendiri dan pengurus HFB Muhamad Yoddy, tanggal 24 Januari 2015)
Komunitas Hobi Foto Bandung mempunyai anggota lebih dari 7600 orang baik itu anggota aktif ataupun anggota pasif, keanggotaan Komunitas Hobi Foto Bandung tersebar tidak hanya di Bandung saja bahkan tersebar di Indonesia, untuk keanggotaan juga terbuka bagi semua orang yang ingin bergabung ke dalam komunitas tersebut, anggota yang boleh bergabung tidak hanya yang memiliki kamera DSLR saja, semua perangkat yang ada fasilitas kamera juga diperkenankan untuk bergabung. Selain itu HFB juga tidak menutup kesempatan bagi orang-orang yang tidak memiliki perangkat kamera, komunitas tersebut menyebutnya sebagai seorang penikmat fotografi (wawancara pendiri dan pengurus HFB Muhamad Yoddy, tanggal 24 Januari 2015)
1.1.2. Visi dan Misi Komunitas
Visi dan Misi dari komunitas Hobi Foto Bandung (HFB) adalah sebagai berikut:
Visi
Komunitas pehobi fotografi yang peduli dan berperan aktif terhadap perkembangan lingkungan dan budaya di Kota Bandung dan sekitarnya.
Misi
1. Wadah menjalin persahabatan sesama pehobi fotografi.
2. Berbagi pengetahuan dan keterampilan di bidang fotografi.
3. Mengeksplorasi wawasan tentang lingkungan & budaya di Kota Bandung
3 4. Memberikan sumbangsih, baik dalam karya maupun kegiatan yang berkaitan dengan fotografi, terhadap lingkungan dan budaya di Kota Bandung dan sekitarnya.
1.1.3. Logo Komunitas
Gambar 1.1 Logo Komunitas HFB
Sumber : https://www.facebook.com/groups/hobifotobandung/photos/
(6 Maret 2015) Makna logo Komunitas HFB
1. Warna hijau melambangkan kehidupan, kesegaran, dan pembaharuan.
2. Warna orange melambangkan kreatifitas, semangat, antusiasme dan playfulness.
3. Warna biru melambangkan arti luas tanpa batas, tenang, kesetiaan, kesuksesan.
4. Semua terhimpun dalam sebuah komunitas fotografi yg dilambangkan dengan logo outline kamera
1.1.4. Struktur Komunitas
Komunitas HFB belum memiliki struktural organisasi secara detail dan terstruktur, para pengurus Komunitas HFB hanya menyebut namanya sebagai admin, para admin bertugas untuk mengatur urusan kegiatan Komunitas HFB, komunitas ini akan membentuk struktural hanya pada saat akan diadakan acara tertentu misalkan hunting foto dan pameran.
4 Berikut ini adalah struktur organisasi dari Komunitas HFB saat mengadakan acara hunting foto, pameran dan acara komunitas, seperti pada Gambar 1.2.
Gambar 1.2
Struktur Komunitas Hobi Foto Bandung (HFB) Sumber : Komunitas Hobi Foto Bandung, 2015
1.2. Latar Belakang Penelitian
Salah satu ciri-ciri dari manusia adalah sebagai makhluk sosial yang menyukai hidup secara bersama-sama atau berkelompok. Manusia atau individu bisa berkembang sebagai manusia pada umumnya apabila hidup dan membentuk kelompok sosial dan berinterkasi dengan manusia atau individu lainnya. Suatu kelompok sosial bisa terbentuk karena adanya kesamaan lokasi atau tempat tinggal, kesamaan tujuan dan minat serta kepentingan, ada juga karena adanya kesamaan karakteristik. Salah satu kelompok sosial yang terbentuk karena adanya interaksi antar individu tersebut adalah komunitas. Menurut Peak dalam Iriantara (2007:22) komunitas bukan hanya kumpulan orang atau manusia yang tinggal pada lokasi dan tempat yang sama akan tetapi komunitas juga menunjukkan terjadinya suatu interaksi sosial diantara kumpulan orang tersebut. Iriantara (2007:25) mengatakan bahwa komunitas bisa juga dipandang sebagai interaksi dalam struktur sosial yang berdiam pada lokasi yang berbeda atau bisa juga berjauhan akan tetapi dipersatukan oleh kepentingan dan nilai-nilai yang sama, misalkan komunitas seniman, komunitas pekerja ataupun komunitas pendidikan
Ketua
Sekretaris Bendahara Pelaksana Lapangan
5 Komunitas yang ada dan sedang berkembang di Indonesia saat ini bisa dibilang cukup pesat, komunitas hobi yang berbasis pada kesenangan seringkali menimbulkan suatu ide yang kreatif yang dapat menciptakan suatu peluang baru untuk dijadikan sebagi modal kerja. Komunitas yang berkembang saat ini dapat menciptakan bibit-bibit baru generasi bangsa Indonesia untuk menciptakan Indonesia menjadi lebih baik dan lebih berkembang, dan diharapkan kedepannya berbagai komunitas bisa terus melakukan inovasi untuk membuat suatu terobosan-terobosan baru sehingga bisa menjadi tren di daerah masing-masing.
(http://muda.kompasiana.com/2014/12/07/pentingnya-kehadiran-komunitas- anak-muda-di-sekitar-kita-695733.html, diakses 12 Februari 2015)
Adanya perkembangan komunitas yang pesat di Indonesia diiringi pula perkembangan komunitas di Kota Bandung. Jumlah komunitas di Bandung bisa dibilang banyak, baik yang sudah terdaftar secara resmi maupun yang belum terdaftar secara resmi pada Pemerintah Kota Bandung, bahkan Bandung bisa dikatakan sebagai kota yang memiliki komunitas terbanyak di negara Indonesia.
Berbagai bentuk dan jenis komunitas bisa ditemui di Kota Bandung dengan mudah, mulai dari komunitas yang bergerak pada bidang hobi hingga komunitas yang besar yang dibentuk untuk tujuan tertentu, komunitas yang ada di Kota Bandung kebanyakan juga memiliki tujuan untuk ikut mengharumkan kota Bandung. Banyaknya Komunitas yang ada juga merupakan perwujudan kehidupan warga bandung yang selalu dengan kebersamaan, ( http://sebandung.com/tag/ perkembangan-komunitas-di-bandung/ , diakses 12 Februari 2015)
Selain jumlah dan kegiatannya, berbagai macam jenis komunitas juga berkembang di Kota Bandung baik itu komunitas pada bidang olahraga, kesenian, pecinta lingkungan, komunitas hobi dan lain sebagainya. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung terdapat berbagai komunitas yang bergerak pada bidang kepemudaan dan komunitas sebanyak 177 komunitas yang terdata secara resmi. Data mengenai jumlah komunitas dan organisasi yang terdata secara resmi di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota
6 Bandung serta Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung dapat dilihat pada tabel 1.1
Tabel 1.1
Komunitas Dan Organisasi Yang Terdaftar Secara Resmi Pada Dinas Pemuda Dan Olahraga Serta Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kota Bandung
No Jenis Organisasi dan Komunitas Jumlah
1 Grup Kesenian 565
2 Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) 83
3 Organisasi Kepelajaran 464
4 Organisasi Mahasiswa 110
5 Organisasi kepemudaan lainnya / Komunitas 177
Total 1399
Sumber: Dinas Pemuda dan Olahraga serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung (2014)
Mengenai hal fotografi sudah menjadi suatu life style pada masyarakat saat ini. Hal itu ditandai dengan menjamurnya komunitas fotografi. Produsen kamera pun menikmati tren tersebut, penjualan para produsen kamera melonjak.
Selain menjamurnya komunitas fotografi, tingginya minat terhadap kamera SLR dan DSLR (Digital Single Lens Reflector) disebabkan menurunnya minat masyarakat terhadap kamera pocket. Karena fungsi kamera pocket saat ini sudah bisa digantikan dengan gadget dan smartphone yang memiliki fitur kamera dengan resolusi yang cukup bagus. (http://www.jambiekspres.co.id/berita-788- komunitas-fotografi-menjamur . html, diakses 30 Maret 2015)
Perkembangan komunitas fotografi yang begitu pesat di Indonesia sejalan dengan penjualan kamera di Indonesia. Pada tahun 2013, penjualan kamera secara keseluruhan di Indonesia mencapai 1,3 juta unit. Dari jumlah itu, penjualan kamera DSLR menyumbang 330 ribu unit. (http://tekno.kompas.com /read/2014/06/05/1505004/siapa.penguasa.pasar.dslr.di.indonesia , diakses 30 Maret 2015). Pertumbuhan pasar kamera DSLR (Digital Single Lens Reflector) di Indonesia hampir mencapai 10 persen per tahun. Tercatat pada tahun 2012
7 pasarnya mencapai 300 ribu, kemudian pada tahun 2013 meningkat menjadi 330 ribu, dan tahun 2014 diperkirakan lebih besar lagi yaitu di atas 350 ribu unit. Hal ini beriringan dengan pertumbuhan kelas menengah masyarakat Indonesia yang juga mulai melek dengan teknologi. (http://www.iberita.com/31311/canon- targetkan-penjualan-kamera-dslr-220-ribu-unit , diakses 30 Maret 2015).
Berkembangnya komunitas fotografi yang ada di Indonesia diikuti juga dengan perkembangan komunitas fotografi di Kota Bandung. Menurut data yang dihimpun dari Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung Tahun 2014, jumlah komunitas yang termasuk dalam kategori komunitas film dan foto yang terdaftar secara resmi pada Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung adalah sebanyak 18 komunitas. Tabel 1.2 menunjukkan jenis-jenis komunitas beserta jumlahnya yang berada di Kota Bandung menurut data dari Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung Tahun 2014.
Tabel 1.2
Komunitas yang Terdaftar pada Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung Tahun 2014
No. Jenis Komunitas Jumlah
1. Komunitas Film dan Foto 18
2. Komunitas Kesenian dan Budaya 22
3. Komunitas Kreatif 5
4. Komunitas Otomotif 69
5. Komunitas Peduli Lingkungan 6
6. Komunitas Pendidikan 5
7. Komunitas Pecinta Hewan 6
8. Komunitas Sepeda 3
9. Komunitas Sosial 19
10. Komunitas Teknologi 6
11. Komunitas Lainnya 18
Total 177
Sumber : Data Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung Tahun 2014
8 Berbagai komunitas kreatif tumbuh subur dan berkembang dikota Bandung, begitu juga dengan keberadaan komunitas pecinta fotografi yang menunjukkan peningkatan. Perkumpulan fotografi yang tertua di Indonesia juga ada di Bandung. Untuk mendukung kegiatan komunitas fotografi di Bandung juga dibangun dan diresmikan Taman Cempaka sebagai Taman Foto Bandung oleh pemerintah Kota Bandung. Taman Foto Bandung adalah sebuah ruang publik yang diinisiasi oleh seluruh komunitas dan jejaring fotografi sebagai pusat kegiatan fotografi di kota Bandung. Dalam acara peresmian Taman Foto Bandung turut hadir juga perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung dan perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yaitu Bapak Eddy Susilo (Kasubdit Pengembangan Fotografi, Direktorat Pengembangan Seni Rupa) beliau menyambut baik atas peresmian tersebut dan meminta dukungan serta masukan dari komunitas, industri dan pendidikan bidang fotografi untuk kemajuan pada bidang fotografi. (http://fotografiindonesia.net /2013/12/23/peresmian-taman-foto-bandung/ , diakses 23 Februari 2015)
Dari informasi diatas dapat dilihat bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kota Bandung memang sedang konsen serta berusaha untuk mengembangkan, memfasilitasi dan memajukan komunitas fotografi di Kota Bandung agar lebih maju. Seiring dengan perkembangan komunitas yang relatif cepat dari segi jumlah, dibutuhkan juga strategi pengembangan suatu komunitas agar bisa bertahan, berkualitas dan terus berkembang untuk terus berkarya terutama untuk mengembangkan Bandung. Berkembanganya komunitas fotografi di Kota Bandung juga patut menjadi perhatian bagi Pemerintah Kota Bandung untuk dapat di kembangkan agar memiliki kontribusi untuk membangun kota Bandung.
Salah satu komunitas yang terbentuk berdasarkan kesamaan hobi/minat serta memiliki tujuan untuk mengembangkan Bandung melalui karya maupun kegiatan yang berkaitan dengan fotografi terhadap lingkungan dan budaya di Kota Bandung adalah Komunitas Hobi Foto Bandung (HFB), komunitas ini bergerak pada banyak aliran fotografi (macro, landscape, human interest dan
9 lain-lain) dan tidak semua komunitas fotografi yang ada di Bandung bergerak pada banyak aliran. Komunitas HFB didirikan tahun 2007 dalam perjalanannya mengalami pertambahan anggota pada setiap tahunnnya. Dibalik kesuksesan pada awalnya, ternyata pada tahun 2012 sampai saat ini Komunitas HFB mengalami banyak kendala dan permasalahan yang mempengaruhi performa komunitas, mulai dari kegiatan sampai dengan kendala keanggotaan, permasalahan dan kendala tersebut diantaranya adalah pendataan anggota yang belum maksimal mengakibatkan ketidakpastian data anggota yang berperan aktif dalam komunitas, adanya kendala regenerasi pengurus yang kurang maksimal, belum memiliki struktural komunitas untuk mengatur kegiatannya secara lebih spesifik, selain itu Komunitas HFB juga belum terdaftar pada Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung sehingga belum secara optimal mendapatkan arahan serta pengembangan dari dinas tersebut, permasalahan lain diantaranya adalah menurunnya performa dan kegiatan yang dilakukan, contohnya adalah biasanya hunting foto dilakukan minimal dua kali dalam sebulan, akan tetapi hanya dilakukan 1 kali dalam sebulan bahkan pernah 1 kali dalam kurun waktu 2 bulan.
Memasuki tahun 2014 kegiatan HFB mulai dilakukan kembali tetapi tetap tidak maksimal seperti pada awalnya. Berbagai kendala dan permasalahan tersebut menunjukkan bahwa Komunitas HFB saat ini sedang membutuhkan suatu kajian pengembangan agar bisa bertahan dan terus berkembang. (wawancara pendiri dan pengurus HFB Muhamad Yoddy, tanggal 24 Januari 2015)
Berdasarkan wawancara dengan admin/pengurus sekaligus pendiri dari Komunitas HFB yaitu Muhamad Yoddy, Komunitas HFB membutuhkan suatu pengembangan komunitas dan ingin mengembangkan komunitas ini dengan lebih baik lagi, baik dalam hal kegiatan maupun untuk kontribusinya terhadap lingkungan Kota Bandung dan sekitarnya, agar bisa bertahan, berkembang dan lebih berkualitas. Dalam pengembangan komunitasnya, HFB membutuhkan kajian pengembangan yang tepat dan sesuai.
Berdasarkan pada paparan diatas, penelitian ini diharapkan bisa mengetahui keadaan lingkungan eksernal dan internal serta pengembangan yang
10 tepat untuk Komunitas HFB, sehingga bisa bermanfaat bagi Komunitas Hobi Foto Bandung dalam menentukan langkah pengembangan yang sesuai dengan Komunitas HFB itu sendiri, yang kemudian diharapkan akan berdampak pada kontribusi Komunitas HFB terhadap Kota Bandung baik dalam hal karya maupun kegiatan yang berkaitan dengan fotografi terhadap lingkungan serta budaya di Kota Bandung
Untuk mempunyai rencana pengembangan yang baik, HFB bisa melakukan perumusan perencanaan pengembangan pada komunitas tersebut, yang dilakukan dengan cara analisis lingkungan faktor internal dan lingkungan faktor eksternal komunitas. Menurut Puspitasari (2013:173) analisis lingkungan eksternal dan internal dilakukan untuk mengetahui faktor eksternal dan internal dari suatu organisasi. Menurut Baroto (2014:89) tahap yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan dan faktor ekternal yaitu peluang dan ancaman apa saja yang dihadapi.
Berdasarkan uraian dan latar belakang diatas maka penelitian ini mengambil judul “Kajian Lingkungan Eksternal dan Lingkungan Internal Pada Komunitas Hobi Foto Bandung (HFB) Tahun 2015”
1.3. Perumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kondisi faktor lingkungan eksternal yang mempengaruhi komunitas Hobi Foto Bandung ?
2. Bagaimana kondisi faktor lingkungan internal yang mempengaruhi komunitas Hobi Foto Bandung ?
3. Apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari Komunitas Hobi Foto Bandung saat ini ?
11 1.4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pemaparan dari latar belakang dan perumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui kondisi faktor lingkungan eksternal yang mempengaruhi komunitas Hobi Foto Bandung.
2. Untuk mengetahui kondisi faktor lingkungan internal yang mempengaruhi komunitas Hobi Foto Bandung.
3. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari Komunitas Hobi Foto Bandung saat ini.
1.5. Kegunaan Penelitian
Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kegunaan, baik dari sisi kegunaan secara praktis dan kegunaan akademis.
Kegunaan dari penelitian ini diantaranya adalah untuk : A. Kegunaan Praktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa menjadi informasi yang bermanfaat bagi komunitas HFB, untuk mengetahui keadaan faktor eksternal dan internal sehingga bisa diketahui faktor mana saja yang harus ditingkatkan dalam menentukan pengembangan komunitas HFB agar bisa bertahan dan terus berkembang, sehingga komunitas HFB bisa ikut berkontribusi dan bersinergi dengan pemerintah dalam hal karya dan kegiatan untuk mengembangkan Kota Bandung.
B. Kegunaan Akademis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk lingkup bidang keilmuan manajemen strategi terutama dalam kajian faktor eksternal dan internal pada suatu objek penelitian, serta diharapkan bisa dijadikan sebagai pertimbangan dan referensi pada kegiatan penelitian dan karya ilmiah selanjutnya terkait kajian untuk mengetahui kondisi faktor eksternal dan faktor internal dari suatu objek penelitian.
12 1.6. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran dan penjelasan mengenai penelitian agar mempermudah pembaca untuk memahami isi dari penelitian yang dilakukan, maka disusun sistematika penulisan berisi informasi-informasi mengenai materi dan pembahasan pada setiap bab. Adapun sistematika penulisan penelitian disusun sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini dijelaskan dan dipaparkan mengenai gambaran umum dari objek penelitian, latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, lingkup dari penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN
Pada bab ini dijelaskan tentang kajian pustaka mengenai teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan, serta literatur yang berkaitan dengan penelitian. Pada bab ini meliputi landasan teori, penelitian terdahulu dan kerangka pemikiran, serta lingkup penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini dijelaskan mengenai metode penelitian, pendekatan serta teknik-teknik yang digunakan dalam mengumpulkan, mengolah data dan menganalisis data sehingga bisa menjawab dan menganalisis permasalahan penelitian.
13 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini dipaparkan tentang hasil dari penelitian dan pengolahan data beserta pembahasan secara sistematis sesuai dengan ruang lingkup penelitian dan sesuai dengan tujuan dari penelitian.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini berisi tentang kesimpulan serta saran atas hasil dari penelitian, baik itu saran untuk komunitas yang diteliti maupun saran untuk penelitian selanjutnya.