AKIBAT HUKUM PENYERAHAN
BERKAS PENYIDIKAN PERKARA PIDANA YANG TIDAK CUKUP BUKTI
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
Program Studi Ilmu Hukum
Oleh:
MOHAMMAD RAMADHAN NPM: 10742011533
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MADURA
2017
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
NAMA : Mohammad Ramadhan NPM : 10742011533
PRODI : ILMU HUKUM
JUDUL : AKIBAT HUKUM PENYERAHAN BERKAS PENYIDIKAN PERKARA PIDANA YANG TIDAK CUKUP BUKTI
Skripsi ini diajukan dalam rangka memenuhi tugas akhir untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum
pada Fakultas Hukum Universitas Madura
Disetujui Untuk Diajukan kepada Panitia Ujian Skripsi
Pamekasan, 14 Agustus 2017
Pembantu Dekan I, Pembimbing,
Dr. NADIR, S.H., M.H. ACHMAD RIFAI, S.H., M.Hum.
Mengetahui:
DEKAN,
WIN YULI WARDANI, S.H., M.Hum.
LEMBAR PENGESAHAN
Diterima dan disahkan oleh Panitia dalam sidangnya pada:
Hari/tanggal : Selasa, 29 Agustus 2017
Pukul : 13.20 WIB
Tempat : A6
PANITIA PENGUJI
Penguji I, Penguji II,
MUHAMMAD, S.H., M.H H. GATOT SUBROTO, S.H.,M.Hum
Penguji III,
ACHMAD RIFAI, S.H., M.Hum.
Mengetahui:
DEKAN,
WIN YULI WARDANI, S.H., M.Hum.
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:
Nama : Mohammad Ramadhan
NPM : 10742011533
Fakultas : Hukum Program Studi : Ilmu Hukum
Menerangkan dengan sebenarnya bahwa skripsi saya dengan judul :
“Akibat Hukum Penyerahan Berkas Penyidikan Perkara Pidana yang Tidak
Cukup Bukti”
Merupakan skripsi asli/orisinal hasil penelitian saya dan bukan merupakan skripsi duplikasi atau plagiasi.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya,
Apabila ternyata pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia dikenakan sanksi serta gelar kesarjanaan saya dibatalkan.
Pamekasan, 14 Agustus 2017 Yang Membuat Pernyataan,
MOHAMMAD RAMADHAN NPM: 10742011533
ABSTRAK JUDUL:
Akibat Hukum Penyerahan Berkas Penyidikan Perkara Pidana Yang Tidak Cukup Bukti
NAMA:
Mohammad Ramadhan
Penyimpangan penyidikan dalam praktik demikian banyak yang tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam KUHAP. Penyidik tidak jarang karena mempunyai kewenangan dan kekuasaan melaksanakan penyidikan dilaksanakan dengan tanpa memberikan hak-hak pada tersangka. Hak tersangka yang seharusnya memperoleh hak untuk didampingi Penasihat Hukum, hal ini tidak diberikan. Terlebih lagi syarat minimum terpenuhi dua alat bukti dalam proses penyidikan sebagaimana disyaratkan dalam KUHAP tidak jarang juga disimpangi. Sehingga cukup alasan untuk mengangkat permasalahan tentang Bagaimanakah kedudukan hukum penyerahan perkara pidana penyidik kepada Penuntut Umum? dan Bagaimanakah akibat hukum terhadap berkas perkara pidana yang tidak cukup bukti?
Penelitian yang digunakan guna menjawab permasalahan tersebut adalah penelitian non eksperimen. Adapun Pendekatan masalah dalam penelitian ini adalah bersifat pendekatan normatif, yaitu suatu usaha mendekatkan masalah yang diteliti dengan sifat hukum yang normatif, yaitu ketentuan-ketentuan yang diatur dalam KUHAP.
Permasalahan di atas dijadikan dasar untuk melakukan penelitian, sehingga dapat diketahui bahwa penyidik setelah menyempurnakan berkas perkaranya, maka penyidik harus melaksanakan tahap I yaitu menyerahkan berkas perkaranya kepada Penuntut Umum. Setelah Penuntut Umum menyatakan cukup bukti atau tidak cukup bukti, maka Penuntut Umum dapat menerbitkan P-21 atau P-18 dan P-19. Jika berkas tersebut cukup bukti, maka penyidik harus melakukan tahap II yaitu menyerahkan tersangka dan barang bukti. Namun bilamana Penuntut Umum menyatakan tidak cukup bukti, maka berkas harus dikembalikan kepada penyidik.
Kata Kunci: Akibat Hukum. Berkas Perkara Pidana, Tidak Cukup Bukti
MOTTO
Artinya:
"Ya Tuhan, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zhalim, dan selamatkanlah kami dengan curahan rahmat-Mu dari tipu daya
orang- orang yang kafir." (Qs. Yûnus: 85-86).
Skripsi ini saya persembahkan untuk:
Kedua orang tua saya;
Anak dan isteri saya, dan
Almamater saya
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul
“Akibat Hukum Penyerahan Berkas Penyidikan Perkara Pidana yang Tidak Cukup Bukti”.Shalawat beserta salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, sehingga kepada umatnya hingga akhir zaman, Amin.
Alhamdulillah penulis dapat merampungkan Skripsi ini untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan studi serta dalam memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Program Studi Ilmu Hukum di Universitas Madura Pamekasan.
Keberhasilan penulis skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Win Yuli Wardani, SH., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum 2. Achmad Rifai, SH., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing
3. Ayah dan Ibuku yang senantiasa selalu mendoakan dan memberikan motivasi demi kesuksesan ananda.
4. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan dan dorongan kepada keberhasilan penyusunan skripsi ini.
Akhirnya, Bagi para pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini semoga amal dan kebaikannya mendapat balasan yang berlimpah dari Allah SWT.Amiin.
Pamekasan, 14 Agustus 2017 Penulis,
MOHAMMAD RAMADHAN NPM: 10742011533
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN ... iv
ABSTRAKSI ... v
MOTTO ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ixi
BAB I : PENDAHULUAN 1. Permasalahan: Latar Belakang dan Rumusannya ... 1
2. Penjelasan Judul ... 4
3. Alasan Pemilihan Judul ... 6
4. Tujuan Penulisan ... 7
5. Metodologi ... 8
6. Sistematika Pertanggungjawaban ... 11
BAB II : KEDUDUKAN HUKUM PENYERAHAN BERKAS PERKARA PIDANA KEPADA PENUNTUT UMUM 1.Kedudukan Hukum Berkas Perkara Pidana ……… ……... ……17
2. Berkas Perkara Pidana dan Kekuatan Hukumnya ………33 BAB III : AKIBAT HUKUM UNSUR TINDAK PIDANA TIDAK
TERPENUHI DALAM BERKAS PERKARA PIDANA
1.Berkas Perkara Pidana sebelum Dilimpahkan kepada Penuntut Umum.……….…39 2. Akibat Hukum Berkas Perkara Pidana Tidak Cukup Bukti,.……..48 BAB IV : PENUTUP
1. Kesimpulan ………. 61
2. Saran-saran……….. 62
DAFTAR PUSTAKA …...………59
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku-buku
Andi Hamzah, 2001, Hukum Acara Pidana Indonesaia, Cet.I, Sinar Grafika, Jakarta,
Adnan Buyung Nasution, 2007, Bantuan Hukum Di Indonesia, LP3ES, Jakarta, Chalirul Huda, 2007, Reformasi Hukum Acara Pidana Indonesia dalam RKUHP.
Makalah dalam Diskusi Ilmiah “dari KUHAP ke R-KUHAP”, Universitas Padjajaran Bandung,2 Juni 2007
Darwan Prints, 1989, Hukum Acara Pidana suatu Pengantar, Cet.I, Djambatan, Jakarta
J.C.T. Simorangkir et al, 2000, Kamus Hukum, Cet. VI, Sinar Grafika, Jakarta, L.J. Van Apeldoorn, 2001, Penganatar Ilmu Hukum, Cet. 29, Pradnya Paramita,
Jakarta
Philipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Di Indonesia, Cet.I, Bina Ilmu, Surabaya
Lilik Mulyadi, 2007, Hukum Acara Pidana Normatif, Teoritis, Praktik dan Permasalahannya, , Cet. I, Alumni, Bandung
Martiman Prodjohamidjojo, Komentar atas Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Cet.I, tanpa penerbit, Jakarta, 1982
Mohammad Taufik Makarao dan Suhasril, 2004, Hukum Acara Pidana dalam Teori dan Praktek, CetII, Ghalia Indonesia, Jakarta
Nikolas Simanjuntak, 2009, Acara Pidana Indonesia dalam Sirkus Hukum, Cet. I, Ghalia Indonesia,
Osman Simanjuntak, 1994, Tehnik Penuntutan dan Upaya Hukum, Cet.-, Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta
Ratna Nurul Afiah,1986 Praperadilan dan Ruang Lingkupnya, Cet.I, Akademika Pressindo, Jakarta
R. Soesilo, 1991, Hukum Acara Pidana (Prosedur Penyelesaian Perkara Pidana menurut KUHAP bagi Penegak Hukum), Cet.II, Politeia, Bogor
64
Sudikno Mertokusumo, 2009, Hukum Acara Perdata Indonesia, Cet.I, Liberty, Yogyakarta
W.J.S. Poerwadarminta, 1984, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Cet.VII, Balai Pustaka, Jakarta
B. Perundang-undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata
Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
BAB IV PENUTUP
1. Kesimpulan
Kedua permasalahan sebagaimana dirumuskan dalam bab satu bagian latar belakang tersebut, telah dibahas dalam bab-bab uraian pembahasan yang kesimpulannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Kedudukan hukum perkara pidana yang berkasnya telah diserahkan kepada Penuntut Umum, adalah menjadi tanggung jawab penuh dari Penuntut Umum.. Adapun penyidik tanggung jawabnya atas tersangka dan barang buktinya secara yuridis telah dilimpahkan kepada Penuntut Umum, dengan dasar pertimbangan bahwa penyidik telah sejak awal memberitahukan kepada Penuntut Umum atas perkara pidana yang ditanganinya dalam SPDP, apalagi penyidik kemudian melanjutnya pelimpahan berkas perkaranya kepada Penuntut Umum. Konsekuensi logisnya, Penuntut Umum tahu akan perkara tersebut, sehingga Penuntut Umum dapat mengambil langkah untuk minta penyidikan tambahan atau menyatakan berkas perkara pidana telah cukup lengkap.
b. Akibat hukum terhadap berkas perkara pidana yang diserahkan pada Penuntut Umum adalah Penuntut Umum tidak dapat mengembalikan berkas tersebut setelah penyidik melakukan penyidikan tambahan sesuai petunjuk Penuntut Umum. Bilamana Penuntut Umum menghendaki penyidikan tambahan lagi,
62
maka penyidik dapat menerimanya. Namun jika penyidik menyatakan penyidikan telah optimal, maka tidak alasan bagi Penuntut Umum untuk mengembalikan berkas pidana tersebut. Penuntut Umum harus menerima untuk selanjutnya mempertimbangkan, apakah cukup bukti untuk dilakukan penuntut atau dilakukan penghentian penuntutan.
2. Saran
Dengan adanya fakta di atas, maka pihak pemerintah melalui institusi terkait untuk segera melakukan tindakan-tindakan:
a. Terhadap Penuntut Umum yang masih melakukan tindakan pengembalian berkas perkara pidana, sementara hasil penyidikan telah optimal, maka dipandang perlu bagi penyidik untuk membuat laporan kemajuan atas perkara pidana dimaksud kepada atasan penyidik dengan memberikan tembusannya kepada atasan Penuntut Umum dalam jenjang hirarki;
b. Setiap Penuntut Umum harus diberikan buku pedoman sejenis Himpunan Juklak dan Juknis tentang Proses Prapenuntutan, sehingga tidak ada lagi Penuntut Umum yang mengembalikan berkas perkara pidana yang telah optimal.