• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Permainan tradisional merupakan permainan yang diciptakan oleh leluhur kita, mereka membuat permainan dari benda benda atau tumbuhan yang terdapat di alam sekitar. Permainan tradisional sangat erat dengan nilai-nilai filosofis yang luhur. Kandungan nilai luhur tersebutlah yang dapat memberi pengaruh terhadap perkembangan perilaku setiap individu. Dalam sebuah mainan tradisional, sangat banyak manfaat yang dapat kita peroleh, mayoritas permainannya terbuat dari bahan-bahan alami yang bisa ditemui dilingkungan sekitar kita, seperti bambu, rotan, akar-akar pohon yang telah mengering, dan sebagainya. Dengan demikian, kita telah dapat belajar bagaimana caranya berinteraksi dengan alam, saling menghargai, dan melengkapi.

Sebelum melakukan permainan tradisional, terdapat usaha dan melewati proses kreatif.

Artinya, dari sebuah bahan mentah yang didapat di lingkungan sekitar, harus diolah terlebih dahulu, sebelum dapat dipergunakan menjadi sebuah permainan. Proses berfikir kreatif ini memacu daya pikir dan imajinasi seorang anak. Mayoritas mainan tradisional adalah mainan kelompok. Dalam hal ini, secara tidak langsung belajar bagaimana berinteraksi dengan sesama dalam sebuah hubungan sosial yang lebih kompleks. Dalam sebuah permainan diajarkan bagaimana menghargai teman, mau menerima dengan lapang dada ketika kalah bermain, dan mengasah jiwa sosial setiap individu.

Namun seiring perkembangan zaman, permainan tradisional yang ada di masyarakat Indonesia sedikit demi sedikit mulai hilang, permainan tradisional tersisih oleh permainan berteknologi. Televisi dan sejenisnya lebih menarik perhatian. Mainan tradisional sering dianggap kuno dan tidak lagi modern. Modernisasi tak hanya berdampak pada teknologi, namun berdampak juga pada lahan untuk bermain, pembangunan yang mulai pesat mengikis lahan bagi anak-anak untuk bermain sehingga lambat laun permainan tradisonal mulai punah.

Terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan mainan tradisional tak lagi diminati dikalangan anak-anak, selain faktor teknologi serta lahan yang sudah sulit untuk bermain, cuaca yang tak menentu juga mempengaruhi mengingat permainan tradisional banyak yang dilakukan di luar ruangan.

(2)

2 Di Yogyakarta terdapat sebuah museum Anak Kolong Tangga yang memberikian fasilitas bagi masyarakat untuk bernostalgia dengan permainan tradisional jaman dahulu, museum ini memiliki 400 koleksi mainan baik dari dalam maupun luar negeri. Museum ini berdiri karena didasari oleh keprihatinan Mr. Rudi Corens terhadap banyaknya anak-anak dan remaja jaman sekarang yang cenderung melupakan tradisi dan budaya bangsa sendiri, salah satunya adalah mainan dan permainan. Hampir 80% isi museum merupakan koleksi pribadi R. Corens yang disumbangkan untuk Yogyakarta secara cuma-cuma.

Kondisi mainan yang terdapat pada Museum Anak Kolong Tangga tersebut diletakkan pada display kaca, sehingga pengunjung hanya bisa melihat dan tidak dapat melakukan interaksi secara langsung. Museum ini kurang memfasilitasi pengunjung untuk dapat memainkan kembali permainan tradisional.

Rudi Corens, Kurator Museum Anak Kolong Tangga, Yogyakarta, menyampaikan informasi penting saat menjadi narasumber “Diskusi Peran Permainan dan Media Permainan terhadap Perkembangan Psikologi Anak, di Bale Seni Barli, Kotabaru Parahyangan” Para psikolog dan pakar pendidikan di beberapa negara Eropa kini sedang gencar menginventarisasi dan menganalisa permainan tradisional di negara masing-masing. Menurut mereka permainan tradisional anak-anak merupakan sebuah akar budaya suatu bangsa.”

“Bahwa menjaga kelestarian permainan tradisional anak-anak, merupakan suatu upaya meneguhkan jatidiri bangsa maka perlu dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Sebaliknya, bila anak-anak dibiarkan bermain dengan mainan produk negara lain, seperti play station. Maka di masa remaja dan dewasa mereka bakal sulit menemukan jatidiri sebagai anak bangsa. Sebab selama bertahun-tahun mereka memainkan permaian yang tidak membumi.” Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal, Harris Iskandar Ph.D.

Sedangkan di kota Bandung sendiri upaya dalam melestarikan permainan tradisional adalah dengan diadakannya festival Kaulinan Barudak sejak tahun 2012/2013, festival ini dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung, yang diadakan pada triwulan ke 3 pada setiap tahunnya. Lokasi festival ini berada di alun-alun Ujung Berung, festival ini diadakan untuk mengangkat nilai-nilai kearifan lokal budaya Sunda serta untuk meningkatkan kunjungan wisata ke kawasan Ujung Berung, namun jenis permainan yang ditampilkan hanya beberapa saja dikarenakan faktor lokasi yang tidak memadai.

(3)

3 Hal yang melatar belakangi didirikannya Pusat Permainan Tradisional Anak di Pulau Jawa adalah memberikan ruang bagi anak untuk dapat bermain permainan tradisional, serta menambah edukasi bagi masyarakat mengenai jenis mainan tradisional, tidak hanya permainan tradisional Jawa Barat saja melainkan permainan yang ada di pulau Jawa di Kota Bandung.

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

Dari latar belakang yang dibahas, maka dapat diidentifikasi masalah yang ada adalah :

 Terdapat berbagai macam permainan tradisional anak di Pulau Jawa, namun sarana untuk bermain tidak memadai

 Permainan tradisional anak yang terdapat pada area outdoor kurang memperhatikan kenyamanan

 Sarana yang kurang memfasilitasi pengunjung untuk dapat berinteraksi langsung dengan permainan tradisional

1.3 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang ada, maka dapat dirumuskan seperti berikut

1. Bagaimana mendesain interior sarana bermain tradisional anak, yang didalamnya terdapat jenis-jenis permainan khusunya di Pulau Jawa?

2. Bagaimana mendesain interior pusat permainan tradisional yang mengedepankan kenyamanan anak pada saat bermain permainan tradisional?

3. Bagaimana sistem tata letak permainan yang tepat agar anak dapat memainkan permainan tradisional?

1.4 TUJUAN DAN SASARAN PERANCANGAN

Dari masalah-masalah di atas, tujuan dan sasaran perancangan Pusat Permainan Tradisional Anak Di Pulau Jawa ini adalah :

 Membuat desain interior arena permainan tradisional yang sebagian besar merupakan permainan outdoor yang dapat dimainkan pada area indoor dan pengunjung dapat menambah pengetahuan tentang jenis permainan yang ada di Pulau Jawa

 Memberikan fasilitas arena bermain anak, yang mengedepankan kenyamanan khususnya permainan tradisional yang terdapat di Pulau Jawa

(4)

4

 Memberikan fasilitas bermain yang terbagi berdasarkan wilayah yang terdapat di Pulau Jawa, yaitu wilayah Jawa barat mencakup area DKI Jakarta dan Banten, Jawa tengah mencakup DIY dan Jawa timur.

1.5 RUANG LINGKUP PERANCANGAN 1.5.1 Lingkup Definisi

“Perancangan Interior Pusat Permainan Tradisional Anak Di Pulau Jawa”

Yaitu membuat sebuah pusat permainan tradisional yang ada di pulau Jawa, permainan yang membutuhkan area yang luas dapat diminimalisir dengan peraga, ataupun pengunjung dapat memainkan permainan didalam ruangan.

Lingkup Perancangan

Lingkup perancangan Perancangan Interior Pusat Permainan Tradisional Anak Di Pulau Jawa meliputi :

 Interior : Merancang interior ruangan dan area yang dibutuhkan untuk display dan permainan. Bagaimana pengunjung dapat dengan mudah mengetahui jenis-jenis permainan tradisional di pulau Jawa

1.5.2 Lingkup Fisik

 Lokasi Proyek : Lokasi perancangan berada di kota Bandung

 Luasan Bangunan : Luas bangunan yang dibutuhkan dalam perancangan sesuai dengan standar Tugas Akhir.

1.6 METODOLOGI PERANCANGAN

Tahapan-tahapan dalam perancangan sebagai berikut : 1.6.1. Metode Pengumpulan Data

Fisik

 Wawancara

Wawancara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota bandung tentang jenis jenis permainan yang terdapat di Bandung, serta perkembangan permainan tradisional di Kota Bandung.

 Aktivitas

Tinjauan terhadap perilaku pengunjung pada saat bermain pada lokasi survey

 Observasi

(5)

5 Tinjauan terhadap kondisi museum Mainan Kolong Tangga Yogyakarta dan Taman Pintar Yogyakarta.

Non fisik:

 Buku

Mempelajari buku-buku tentang sejarah permainan dan perkembangannya.

 Jurnal

Mencari jurnal-jurnal yang berkaitan dengan pusat mainan anak

 Website

Mencari data-data valid yang berhubungan dengan Perancangan Interior Pusat Perainan Tradisional Anak di Pulau Jawa, seperti jenis jenis permainan tradisional di pulau Jawa.

1.6.2 Pemilahan data dan Programming (Analisis Data) 1. Analisis Site

Menganalisa data lokasi yang nanti akan dirancang dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang dibutuhkan.

2. Analisis Besaran Ruang

Menganalisis besaran ruang yang akan dibangun, apakah sudah sesuai dengan standar perancangan.

3. Analisis Pembangian Ruang 4. Analisis Pola Sirkulasi 5. Analisis Warna

6. Analisis Pencahayaan 7. Analisis Penghawaan 8. Analisis Furniture 9. Analisis Material 1.6.3 Konsep Perancangan

Ide/gagasan dari perancangan yang akan mengarahkan proses perancangan Pusat Permainaan Tradisional Anak di Pulau Jawa

1.6.4 Pengembangan desain

(6)

6 Tahap penerapan konsep ke dalam desain perancangan melalui gambar kerja, perspektif serta maket.

1.6.5 Kesimpulan

Tahap akhir dari perancangan, menyimpulkan secara keseluruhan.

1.7 Sistematika Penulisan

BAB I Tahap Pendahuluan

Yang terdiri atas latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan, sasaran, manfaat serta metodologi dan sistematika pembahasan.

BAB II Tahap kajian Pustaka

Adalah uraian tentang landasan teori yang akan dijadikan dasar untuk mencapai tujuan perancangan.

BAB III Tahap Konsep Perancangan

Ide/gagasan dari perancangan yang akan mengarahkan proses perancangan Perancangan Interior Pusat Permainan Tradisional Anak di Pulau Jawa

BAB IV Tahap Konsep Perancangan, Pengembangan desain

Tahap penerapan konsep ke dalam desain perancangan melalui gambar kerja, perspektif serta maket.

BAB V Kesimpulan, Tahap akhir dari perancangan, menyimpulkan secara keseluruhan.

(7)

7 1.8 KERANGKA PERANCANGAN

908u

Observasi Wawancara Dokumentasi

SITE PLAN

LAYOUT EXISTING

FOTO

LITERATUR Kemajuan teknologi serta modernisasi menjadi faktor

kepunahan permainan tradisional

Merancang fasilitas bermain permainan tradisional bagi anak, karena anak merupakan generasi penerus bangsa.

Mungumpulkan beberapa sumber yang valid untuk memperkuat penulisan

laporan. Data Fisik

Data Non Fisik

Kebutuhan Ruang

Pengguna / aktifitas

Sirkulasi

Organisasi Ruang

Zooning / Blocking

Pengisi Ruang

Furnitur

Penghawaan

Akustik

Pencahayaan

Pembentuk Ruang

Lantai

Dinding

Plafond

Karakter Ruang

Gaya

Konsep

Material

Alur

Suasana LATAR BELAKANG

PERMASALAHAN

TUJUAN PERANCANGAN

PENGUMPULA DATA

ANALISIS DATA

KONSEP

Permainan Tradisional Anak-Anak Merupakan Sebuah Akar Budaya Suatu Bangsa

(8)

8

PENGEMBANGAN DESAIN

FINAL DESAIN

SKETSA ALTERNATIVE DESAIN

LEMBAR KERJA MAKET

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan model Cox Extended tersebut dapat disimpulkan bahwa model terbaik adalah model yang melibatkan dua variabel bebas yaitu umur dan kadar gula darah

Persoalan yang masih dialami bidang energi adalah belum dapat dilayaninya kebutuhan energi listrik oleh jaringan PLN dibeberapa bagi masyarakat di wilayah Kabupaten

Berdasarkan tingkat kemiripan maka dilakukan pemetaan posisi kamera ponsel samsung terhadap ponsel kamera merek lain dengan menggunakan metode multidimensional scaling

merupakan salah satu tujuan manajemen. Pencapaian tujuan untuk meningkatkan nilai perusahaan dapat dilihat dari tingginya harga saham perusahaan dalam perdagangan

Saran yang diberikan peneliti berdasarkan kesimpulan penelitian yang dipaparkan di atas yaitu, sebagai Kepala Sekolah harus menjadi contoh teladan yang bisa menjadi

Biaya yang dikeluarkan di bidang pendidikan sebagai bentuk investasi pada jangka waktu tertentu, di masa yang akan datang harus dapat menghasilkan keun- tungan

Sistem pengon- trolan suhu ruangan secara otomatis pada alat yang dirancang adalah untuk menjaga ruang- an agar tetap stabil sesuai dengan program yang dibuat,