8 BAB II
TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Hubungan antara CEO tenure dan tax avoidance telah dibuktikan secara empiris oleh Doho & Santoso (2020) yang bertujuan untuk mengetahui apakah CEO narcissism, CEO tenure, komisaris independen, dan kualitas audit berpengaruh terhadap tax avoidance pada perusahaan sektor non – finansial.
Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu mengumpulkan annual report perusahaan sektor non-finansial yang terdaftar di BEI tahun 2016 – 2018 dengan menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa CEO tenure berpengaruh terhadap tax avoidance. CEO dengan masa jabatan yang lebih lama dapat mengambil keputusan yang lebih bijaksana untuk operasional perusahaan sehingga tindakan tax avoidance yang dilakukan akan lebih kecil. Doho & Santoso (2020) menyatakan bahwa seorang CEO dengan masa jabatan yang lebih lama tidak melakukan tindakan tax avoidance untuk menghindari risiko perusahaan diperiksa fiskus. Saat perusahaan tidak diperiksa oleh fiskus, maka CEO juga akan mendapat imbalan atas hasil kinerjanya.
Penelitian lain dilakukan oleh Goldman et al. (2017) dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana CEO tenure mempengaruhi perencanaan pajak penghasilan perusahaan dan keputusan pelaporan keuangan perusahaan dengan menggunakan perusahaan yang tercatat pada compustat dan execucomp sebagai sampel penelitian. Teknik analisis dalam penelitian ini adalah teknik
analisis regresi kuadrat terkecil biasa yang menunjukkan hasil bahwa CEO tenure berpengaruh terhadap perencanaan pajak yang diprosikan dengan GAAP ETR. Goldman et al. (2017) menyatakan bahwa CEO dengan masa jabatan yang pendek (CEO yang baru menjabat) akan melakukan tindakan tax avoidance untuk meningkatkan laba dan arus kas perusahaan. Dalam hal ini kepentingan CEO adalah untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Jadi semakin pendek masa jabatan CEO, maka tindakan tax avoidance yang dilakukan akan semakin tinggi.
Penelitian mengenai pengaruh capital intensity terhadap tax avoidance telah dilakukan oleh Gula & Mulyani (2020) yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara capital intensity dan deffered tax expanse terhadap tax avoidance. Penelitian ini menggunakan perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI tahun 2014-2018 sebagai sampel. Teknik analisis dalam penelitian adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capital intensity berpengaruh positif terhadap tax avoidance. Gula &
Mulyani (2020) menyatakan bahwa semakin besar intensitas aset tetap suatu perusahaan, semakin besar praktek tax avoidance perusahaan. Aset tetap perusahaan memiliki umur ekonomis yang berbeda – beda dilihat dari peraturan perpajakan Indonesia. Hampir seluruh aset tetap mengalami penyusutan yang akan menjadi biaya penyusutan dalam laporan keuangan perusahaan. Biaya penyusutan ini adalah biaya yang dapat sebagai pengurang laba dalam perhitungan pajak perusahaan. Semakin besar biaya penyusutan
akan semakin kecil laba perusahaan, sehingga semakin kecil total pajak yang harus dibayarkan perusahaan.
Penelitian lain dilakukan oleh Dwiyanti & Jati (2019) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh profitabilitas, capital intensity, dan inventory intensity pada tax avoidance dengan menggunakan perusahaan manufaktur sebagai sampel penelitian. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian adalah analisis regresi linear berganda yang menunjukkan hasil bahwa capital intensity berpengaruh terhadap tax avoidance. Dalam penelitian ini tax avoidance diproksikan dengan effective tax rate (ETR). Dwiyanti & Jati (2019) menyatakan bahwa investasi perusahaan pada aset tetap menyebabkan adanya beban penyusutan. Beban penyusutan akan mempengaruhi pajak perusahaan.
Hal ini dikarenakan beban penyusutan akan mengurangi laba yang menyebabkan rendahnya pajak terhutang perusahaan.
Nugraha & Mulyani (2019) melakukan penelitian yang bertujuan untuk menguji pengaruh karakter eksekutif, kompensasi eksekutif, capital intensity, dan sales growth terhadap tax avoidance dengan leverage sebagai variabel intervening dengan menggunakan perusahaan manufaktur periode 2014 -2017 sebagai sampel. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian adalah analisis regresi linier berganda dan analisis jalur. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa capital intensity berpengaruh terhadap tax avoidance.
Nugraha & Mulyani (2019) menyatakan bahwa investasi pada aset tetap akan menyebabkan adanya beban penyusutan yang dapat mempengaruhi laba perusahaan, sehingga juga akan mempengaruhi kewajiban perpajakan yang
harus dipenuhi oleh perusahaan. Beban penyusutan yang besar dapat menurunkan laba perusahaan, sehingga dapat mengabkibatkan beban pajak perusahaan menurun.
Penelitian Rosa Dewinta & Ery Setiawan (2016) menguji pengaruh ukuran perusahaan, umur perusahaan, profitabilitas, leverage dan pertumbuhan penjualan terhadap tax avoidance dengan menggunakan sampel 176 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Teknik analilisis yang digunakan dalam penelitian adalah analisis regresi linier berganda dengan menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap tax avoidance.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa perusahaan dengan jumlah total aset yang relatif besar cenderung lebih mampu dan lebih stabil dalam menghasilkan laba.
Kondisi tersebut menimbulkan peningkatan jumlah beban pajak sehingga mendorong perusahaan untuk melakukan praktik tax avoidance.
Penelitian Mahanani & Titisari (2016) menguji pengaruh ukuran perusahaan dan sales growth terhadap tax avoidance dengan menggunakan perusahaan manufaktur sektor industri sebagai sampel. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap tax avoidance. Penelitian ini menjelaskan bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka semakin tinggi aktivitas tax avoidance karena perusahaan dengan jumlah total aset yang relatif besar cenderung lebih mampu dan lebih stabil dalam menghasilkan laba, sehingga menimbulkan peningkatan jumlah beban pajak yang mampu mendorong perusahaan untuk melakukan praktik tax avoidance.
Penelitian lain dilakukan oleh V. R. Putri & Putra (2017) dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh leverage, profitability, ukuran perusahaan, dan proporsi kepemilikan institusional terhadap tax avoidance. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2013 - 2015 dengan menggunakan teknik multiple linear analysis. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap tax avoidance. V. R. Putri & Putra, (2017) menyatakan bahwa perusahaan yang berukuran besar akan memiliki sumber daya yang besar yang dapat digunakan dengan tujuan – tujuan tertentu, salah satunya tax avoidance.
B. Teori dan Kajian Putaka 1. Agency Theory
Agency theory memandang perbedaan kepentingan antara agent dan principal. Menurut Muda et al. (2020) konflik agensi akan timbul jika terdapat informasi yang asimetri. Konflik agensi pada penelitian ini yaitu terkait dengan hal pemungutan pajak dan pembayaran pajak. Dalam penelitian ini terjadi perbedaan kepentingan antara perusahaan dan fiskus, dimana perusahaan sebagai agent sedangkan fiskus sebagai principal.
Fiskus memiliki kepentingan untuk meningkatkan penerimaan negara khususnya dari penerimaan pajak dan perusahaan memiliki kepentingan untuk meningkatkan laba perusahaan. Semakin tinggi laba pada sebuah perusahaan maka pajak yang dibayarkan semakin tinggi, sehingga menimbulkan tindakan tax avoidance yang dilakukan oleh perusahaan agar
laba perusahaan tetap tinggi. Perbedaan kepentingan antara fiskus dan perusahaan tersebut yang menyebabkan terjadinya konflik agensi.
2. Tax Avoidance
Tax avoidance adalah usaha perlawanan aktif wajib pajak untuk meringankan beban pajak dengan tidak melanggar undang – undang (Mardiasmo, 2016). Menurut Jusman & Nosita (2020) tax avoidance merupakan usaha wajib pajak dengan mendeteksi celah dalam ketentuan perundang-undangan perpajakan, hingga ditemukan kelemahan dari perundangan-undangan tersebut yang memungkinan untuk dilakukannya tindakan tax avoidance, sehingga dapat menghemat pajak yang akan dibayarkan oleh wajib pajak tersebut.
Perhitungan tax avoidance dapat dilakukan menggunakan beberapa cara diantaranya adalah dengan menggunakan Effective Tax Rate (ETR), Cash Effective Tax Rate (CETR), dan Current Effective Tax Rate (CuETR).
Effective Tax Rate (ETR) adalah perbandingan antara beban pajak penghasilan tahun berjalan dengan laba sebelum pajak. Semakin rendah ETR, maka menunjukkan semakin tinggi tingkat tax avoidance pada perusahaan, sedangkan semakin tinggi ETR, maka semakin rendah tingkat tax avoidance perusahaan (Luke et al., 2016). Cash Effective Tax Rate (CETR) merupakan perbandingan jumlah pembayaran pajak yang dibayarkan perusahaan dengan laba sebelum pajak. Dalam penelitian Rosa Dewinta & Ery Setiawan (2016) semakin tinggi tingkat presentase CETR yaitu mendekati 25%, menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat tax
avoidance. Current Effective Tax Rate (CuETR) merupakan perbandingan pajak kini dengan laba sebelum pajak. Perhitungan tax avoidance menggunakan CuETR sesuai dengan penelitian (Merslythalia & Lasmana, 2017).
3. CEO Tenure
Menurut Yuliana (2011) dalam Putri & Fadhlia (2017) CEO (Chief Executive Officer) adalah eksekutif yang berada di puncak perusahaan yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan dan keberhasilan perusahaan. Di Indonesia, CEO lebih dikenal dengan istilah direktur utama atau presiden direktur yang merupakan sebutan secara umum terhadap pimpinan tertinggi di dalam suatu Perusahaan Terbatas (PT). CEO tenure dalam setiap perusahaan tidak ditentukan dengan batasan – batasan tertentu, namun CEO dipilih berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang biasanya dilakukan setiap tahun. Apabila kinerja dari CEO tersebut dianggap baik, maka para pemegang saham dapat memutuskan memperpanjang masa jabatan CEO, namun apabila pemegang saham merasa kinerja dari CEO tersebut kurang baik, maka pemegang saham dapat memecat CEO melalui RUPS.
CEO dapat dipengaruhi faktor kekuasaan dan kepribadiannya untuk membuat suatu keputusan dalam perusahaan. CEO tenure dapat menjadi tolak ukur kekuasaan seorang CEO (Siren et al, 2018) dalam (Doho &
Santoso, 2020).
4. Capital Intensity
Capital Intensity yaitu seberapa besar investasi yang dilakukan perusahaan dalam bentuk aset tetap (Rifai & Atiningsih, 2019). Andhari, P.
A. S., & Sukartha (2017) menyatakan bahwa investasi dalam aset tetap memperlihatkan banyaknya kekayaan perusahaan yang diinvestasikan pada aset tetap. Semakin besar investasi perusahaan terhadap aset tetap, maka semakin besar perusahaan akan menanggung beban penyusutan. Beban penyusutan ini nantinya akan menambah beban perusahaan yang menyebabkan laba perusahaan menurun. Sehingga berdampak pada pajak yang dibayarkan perusahaan.
5. Ukuran Perusahaan
Cahyono et al., (2016) menyatakan bahwa ukuran perusahaan merupakan skala atau nilai yang dapat mengklasifikasikan suatu perusahaan dalam kategori besar atau kecil menurut berbagai cara yaitu total aktiva atau total aset perusahaan, nilai pasar saham, rata – rata tingkat penjualan dan jumlah penjualan perusahan. Adapun kriteria perusahaan yang diatur UU No. 20 tahun 2008 diuraikan dalam tabel 2.1
Tabel 2.1
Kriteria Ukuran Perusahaan
Ukuran Perusahaan Kriteria
Aset (tidak termasuk tanah dan bangunan)
Penjualan tahunan Usaha Mikro Maksimal 50 juta Maksimal 300 juta Usaha Kecil >50 juta >300 juta – 2,5 M
Usaha menengah >10 juta 2,5M – 50 M
Usaha Besar >10M >50M
Sumber : UU No. 20 tahun 2008
Tandean (2016) menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki total aktiva besar menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah mencapai tahap kedewasaan dimana dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif dan dianggap memiliki prospek yang baik dalam jangka panjang. Menurut Merslythalia & Lasmana (2017) semakin besar ukuran perusahaan, maka transaksi yang dilakukan semakin kompleks. Hal ini dapat memberikan kemungkinan bahwa pihak fiskus tidak menemukan tax avoidance pada transaksi dalam laporan keuangan yang kompleks. Sehingga dapat memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan celah-celah atau kelemahan yang ada pada ketentuan perundang-undangan untuk melakukan tindakan tax avoidance dari setiap transaksi.
C. Perumusan Hipotesis
1. Pengaruh CEO tenure terhadap tax avoidance
Agency theory menyatakan perbedaan kepentingan antara principal dan agent. Dalam hal ini fiskus sebagai principal dan CEO sebagai agent.
CEO tenure yang pendek (CEO yang baru menjabat) akan melakukan tindakan tax avoidance untuk meningkatkan laba dan arus kas perusahaan.
Dalam hal ini kepentingan CEO adalah untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Jadi semakin pendek CEO tenure, maka tindakan tax avoidance yang dilakukan akan semakin tinggi (Goldman et al., 2017). Sedangkan kepentingan fiskus adalah mendapat penerimaaan pajak yang maksimal dari wajib pajak. Sehingga perbedaan kepentingan dari kedua pihak tersebut
menimbulkan konflik agensi. Hal ini sejalan dengan penelitian Doho &
Santoso (2020) bahwa CEO tenure berpengaruh terhadap tax avoidance.
Hipotesis 1 = CEO tenure berpengaruh terhadap tax avoidance 2. Pengaruh capital intensity terhadap tax avoidance
Capital Intensity yaitu aktivitas investasi yang dilakukan perusahaan yang dikaitkan dengan investasi dalam bentuk aset tetap (Jusman & Nosita, 2020). Dalam agency theory dijelaskan perbedaan kepentingan antara agent dan principal. Dalam hal ini terjadi perbedaan kepentingan antara manajer perusahaan dengan fiskus. Kepentingan manajer perusahaan adalah untuk mendapatkan kompensasi yang diinginkan dengan cara meningkatkan kinerja perusahaan. Manajer berperan penting dalam tindakan tax avoidance, karena manajer sebagai pengambil keputusan dalam hal manajemen pajak. Sehingga dalam hal ini manajer dapat memanfaatkan penyusutan aset tetap untuk menekan beban pajak perusahaan. Manajer akan menginvestasikan dana perusahaan ke dalam bentuk aset tetap, dengan tujuan memanfaatkan penyusutannya sebagai pengurang beban pajak.
Sehingga kinerja perusahaan akan meningkat karena adanya pengurangan beban pajak, dan manajer akan memperoleh kompensasi kinerja yang diinginkan. Sedangkan kepentingan fiskus adalah untuk meningkatkan penerimaan pajak. Hal ini sesuai dengan penelitian Gula & Mulyani (2020) yang menjelaskan bahwa capital intensity berpengaruh terhadap tax avoidance karena aset tetap yang besar akan mempunyai beban penyusutan yang besar juga yang dapat dimanfaatkan sebagai tindakan tax avoidance.
Hipotesis 2 = Capital intensity berpengaruh terhadap tax avoidance.
3. Pengaruh ukuran perusahaan terhadap tax avoidance
Ukuran perusahaan mencerminkan seberapa besar sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan, sehingga ukuran perusahaan dianggap mampu mempengaruhi cara perusahaan dalam memenuhi kewajiban pajaknya dan dapat menjadi faktor penyebab terjadinya tindakan tax avoidance (Muda et al., 2020). Ukuran perusahaan yang besar cenderung memiliki sumber daya yang besar untuk memperoleh sumber daya manusia ahli dan kompeten untuk melakukan tax avoidance dengan mencari celah-celah atau kelemahan yang ada pada ketentuan perundang-undangan. Berdasarkan agency theory, agent dalam hal ini perusahaan, akan memaksimalkan kinerjanya melalui sumber daya yang dimiliki dengan menekan beban pajak untuk memaksimalkan laba perusahaan.
Merslythalia & Lasmana (2017) menyatakan bahwa semakin besar ukuran perusahaannya, maka transaksi yang dilakukan semakin kompleks.
Hal ini memungkinan bahwa pihak fiskus tidak menemukan tax avoidance pada transaksi dalam laporan keuangan yang kompleks. Sehingga dapat mendorong perusahaan untuk memanfaatkan celah-celah atau kelemahan yang ada pada ketentuan perundang-undangan untuk melakukan tindakan tax avoidance dari setiap transaksi.
Hasil penelitian Mahanani & Titisari (2016) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap tax avoidance. Perusahaan dengan total aset yang relatif lebih besar cenderung lebih mampu dan lebih stabil
dalam menghasilkan laba, sehingga dalam kondisi tersebut menimbulkan peningkatan jumlah beban pajak yang mampu mendorong perusahaan melakukan praktik tax avoidance.
Hipotesis 3 = Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap tax avoidance
D. Kerangka Pemikiran
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh CEO tenure, capital intensity, dan ukuran perusahaan terhadap tax avoidance pada perusahaan manufaktur. Penelitian ini menggunakan agency theory dimana memandang perbedaan kepentingan antara agent dan principal. Pada penelitian ini yang bertindak sebagai agent adalah perusahaan, sedangkan yang bertindak sebagai principal adalah fiskus. Perusahaan berusaha untuk meminimalkan beban pajak, karena beban pajak merupakan pengurang laba bersih perusahaan. Sedangkan fiskus berusaha untuk memaksimalkan penerimaan pajak dari wajib pajak.
Kerangka pemikiran yang menggambarkan hubungan antara variabel independen dan dependen dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Teoritis CEO Tenure
Ukuran Perusahaan
Capital Intensity Tax Avoidance