• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA. tumbuh tegak dengan tinggi mencapai cm, dan berbentuk rumpun. Menurut

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA. tumbuh tegak dengan tinggi mencapai cm, dan berbentuk rumpun. Menurut"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

5

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Bawang Merah

Bawang merah ( Allium ascalonicum L.) merupakan tanaman musiman yang tumbuh tegak dengan tinggi mencapai 15-40 cm, dan berbentuk rumpun. Menurut Tjitrosoepomo (2010), bawang merah dapat dlklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Liliales

Famili : Liliaceae Genus : Allium

Spesies : Allium ascalinicum L.

Gambar 1. Tanaman Bawang Merah

Bawang merah menjadi komoditas sayuran unggulan yang dibudidayakan

oleh petani secara terus - menerus. Bawang merah termasuk ke dalam kelompok

tanaman rempah yang digunakan sebagai bumbu penyedap makanan dan obat

tradisonal. Selain itu bawang merah juga merupakan sumber pendapatan yang

(2)

memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, 2005)

Bawang merah memiliki morfologi yang dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu akar, batang, daun, bunga, buah dan biji. Bawang merah memiliki sistem perakaran dangkal dan bercabang akar tanaman bawang merah berbentuk serabut.

Batang bawang merah berupa batang sejati (discus) yang memiliki bentuk seperti cakram yang digunakan sebagai melekatnya akar dan mata tunas, diatas discus terdapat batang semu yang tersusun dari pelepah-pelepah, batang semu berada dalam tanah akan berubah bentuk menjadi umbi lapis. Tanaman bawang merah memiliki daun berbentuk silindri dan bagian ujung daun runcing berwarna hijau, daun terletak melekat pada tangkai. Ujung tanaman bawang merah (titik tumbuh) terdapat kuntum bunga yang berbentuk melingkar seperti payung (Sudirja, 2007).

Umbi bawang merah pada umumnya dapat terbentuk di daerah dengan suhu udara rata-rata 22

o

C, tetapi umbi terbaik terdapat di daerah yang memiliki suhu udara yang panas. Menurut Istina (2016) umbi bawang merah akan terbentuk lebih besar jika tanaman mendapat penyinaran lebih dari 12 jam. Bawang merah tumbuh di dataran rendah sampai tinggi (0-1000 m dpl) dengan ketinggian 0-450 m dpl dan membutuhkan sinar matahari yang tinggi (minimal 70% penyinaran) dengan suhu 25

o

C - 32

o

C. Tanaman bawang merah dapat tumbuh dengan bagus pada tanah yang gembur, mengandung bahan organlk dan banyak air. Jarak tanam yang digunakan dalam penanaman bawang merah yaitu 15 x 15 cm, 15 x 20 cm dan 20 x 20 cm.

Dosis pemupukan bawang merah yang digunakan yaitu 200 kg/h N, 90 kg/ha P

2

O

5

(3)

dan 100-150 kg/ha K

2

O. Umbi bawang merah dipanen pada saat tanaman berumur 55 hari sampal 65 hari (Suparman, 2010).

2.2 Ulat Bawang (Spodoptera exigua)

Menurut Direktorat Perlindungan Hortikultura Spodoptera exigua dapat diklaslfikasikan sebagai berlkut :

Filum : Arthropoda.

Kelas : lnsecta.

Ordo : Lepidoptera.

Famili : Noctuldae.

Genus : Spodoptera.

Species : Spodoptera exigua Hubner.

Spodoptera exigua mengalami metamorphosis sempurna yaitu dari telur

menjadi larva, larva menjadi pupa, pupa menjadi imago atau serangga dewasa. Siklus hidup Spodoptera exigua pada budidaya bawang merah dipengaruhi oleh temperatur.

Suhu optimal untuk perkembangan Spodoptera exigua yaitu sekitar 28

o

C, kelembaban 70% .

1. Telur.

Imago betina meletakkan telur pada malam hari secara berkelompok, telurnya

berbentuk oval. Satu kelmpok telur terdapat 30-100 butir telur. Dalam waktu 2-4 hari

telur tersebut dapat menetas dan pada umumnya menetas di pagi hari (Rahayu dan

Nur Berlian, 2004)

(4)

2. Larva.

Larva Spodoptera exigua memiliki tipe kepala Hypognatus (Vertikal) yang dapat dilihat dari bagian mulut yang mengarah ke bawah. Larva memiliki bentuk panjang bulat, berwarna hijau dengan kepala berwarna kuning kehkijauan. Larva aktif pada malam hari. Stadium larva berlangsung 8-10 hari. Stadium larva terdiri atas 5 instar. Larva instar pertama memiliki panjang 1,2–15 mm, larva instar dua 2,5,–3 mm, larva instar tiga 6,2–8 mm, larva instar empat 12,5–14 mm dan instar lima 16,5–

20 mm. Larva instar akhir Spodoptera exigua bergerak dan menjatuhkan diri ketanah dan setelah berada dalam tanah larva tersebut memasuki masa prapupa dan kemudian berubah menjadi pupa setelah mengalami ganti kulit terakhir.

3. Pupa.

Pupa Spodoptera exigua mempunyai alat tambahan yang melekat pada tubuh pupa. Bentuk pupa dapat dibedakan berdasarkan posisi alat tambahan yang dibawanya (tungkai, sayap, antena dan lainnya). Pupa berwarna coklat muda, memiliki panjang 9-11 mm. Pupa banyak dljumpai pada pangkal batang, terlindung dari daun kering. Pupa akan berkembang menjadi ngengat atau imago dalam waktu 5 hari (Zheng, 2011).

4. Imago.

Ngengat merupakan serangga dewasa memiliki sayap depan berwarna kelabu

gelap dan sayap belakang berwarna agak putih terdapat bintik-bintik hitam, sayap

belakang berwarna lebih terang dengan tepi yang bergaris-garis hitam. Panjang tubuh

(5)

ngengat berkisar antara 10-14 mm dengan rentangan sayap imagonya antara 1-1.5 inch. Sayap depan berwarna kelabu hingga coklat kelabu dengan garis-garis yang kurang tegas (Udiarto, dkk 2005). Daur hidup sekitar 21 hari. Pada suhu 30°C- 33

0

C lamanya daur hldup sekltar 15-17 hari (Moekasan, dkk., 2000).

Gambar 2.

A: Telur, B: Larva, C: Pupa, D: Imago Spodoptera exigua Sumber: (Fattah dan Ilyas, 2016)

Ulat Spodoptera exigua menyerang daun dengan menggerek ujung pinggiran

daun, terutama pada bagian daun yang masih muda. Ulat bawang merah melubangi

bagian ujung daun kemudian masuk ke dalam daun. Sehingga, pinggiran dan ujung

daun terlihat bekas gigitan, daun terlihat bercak bercak putih dan tampak

menerawang tembus cahaya, akibatnya daun jatuh terkulai. Tanaman inang

Spodoptera exigua antara lain asparagus, kacang-kacangan, bit, brokoli, bawang

putih, bawang merah, cabai, kentang, lobak, bayam dan tomat (Febrianasari dkk.,

2014).

(6)

Gambar 3. Serangan Spodoptera exigua Sumber: (Febriansari dkk, 2014) 2.3 Penggunaan Feromon Exi pada Tanaman Bawang Merah.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen) mengembangkan inovasi teknologi feromon seks untuk mengendalikan hama ulat bawang. Feromon sebagai penarik serangga jantan dewasa dipasang pada alat perangkap berupa toples plastik. Penggunaan feromon lebih efektif, dan ramah lingkungan dibandingkan dengan pengendalian menggunakan insektisida. Feromon seks diaplikasikan saat tanaman berumur 3 hari setelah tanam. Cara penggunaan feromon yaitu dengan meletakkan pada perangkap dengan digantungkan di dalam toples bagian bawahnya diisi air sabun (Haryati &

Nurawan, 2009). Perangkap feromon ditempatkan pada pinggiran pertanaman bawang merah dengan ketinggian 30 cm di atas permukaan tanah dengan jarak masing-masing perangkap 15 m (Haryati & Nurawan, 2009).

Feromon seks pada ulat bawang merah diproduksi oleh imago betina pada

malam hari, yang digunakan untuk mengundang imago jantan untuk proses

perkawinan. Peran feromon seks dalam perilaku perkawinan berhasil dimanfaatkan

untuk memanipulasi dan menangkap imago jantan. Pengkajian penggunaan, feromon

(7)

seks, untuk mengendalikan ulat Spodoptera exigua dilakukan pada tahun 2007 di lokasi Prima Tani Desa Playangan Kabupaten Cirebon dengan luas 25 ha. Kegiatan dilaksanakan oleh kerja sama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat dengan BB Biogen dan Kelompok Tani Bahari I. Pengkajian menunjukkan penggunaan feromon seks dapat mengendalikan ulat Spodoptera exigua. Lahan tanaman bawang merah yang tidak menggunakan feromon seks disemprot insektisida 12 kali untuk mengendalikan ulat Spodoptera exigua dan 3 kali untuk mengendalikan hama lalat (Lyriomyza sp.), yang artinya selama pertumbuhan tanaman dilakukan penyemprotan insektisida setiap 2 hari sekali. Pada pertanaman yang dipasang feromon seks rerata imago jantan yang tertangkap yaitu mencapai 200 (Haryati &

Nurawan, 2009).

Gambar 4. Pemasangan Feromon exi.

(Haryati dan Nurawan. 2009) 2.4 Feromon Exi

Feromon merupakan zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin yang digunakan untuk mengenali sesame jenis, individu lain serta zat yang berguna untuk membantu proses reproduksi oleh makhluk hidup (Haryati dan Nurawan 2009).

Feromon merupakan senyawa yang dilepas oleh salah satu jenis serangga yang dapat

(8)

mempengaruhi serangga yang sejenis dengan adanya tanggapan fislologi tertentu (Moekasan, dkk, 2013). Berbeda dengan hormon, feromon menyebar pada luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies.). Istilah feromon (pheromone) berasal dari bahasa Yunani, yaitu phero, yang artinya pembawa dan mone, sensasi (Haryati & Nurawan, 2009). Feromon memiliki sifat tidak dapat dilihat, mudah menguap, tidak dapat diukur, tetapi ada dan dapat dirasakan. Proses perkawinan serangga dipengaruhi oleh feromon seks yang diproduksi oleh seranggaa betina untuk menarik seranggaa jantan (Allison dan Carde 2007) dalam (Moekasan dkk., 2013). Feromon seks dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan serangga hama, yaitu untuk memantau serangga hama, sebagai perangkap massal imago, mengganggu perkawinan (matting distruption), dan bila feromon dikombinasikan dengan insektisida dapat bersifat sebagai pembunuh (attracticide) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2007 dalam (Haryati &

Nurawan, 2009). Feromon seks memiliki sifat yang spesifik untuk aktivitas biologis,

dimana jantan atau betina dari spesies yang lain tidak akan merespons terhadap

feromon yang dikeluarkan betina atau jantan dari spesies yang berbeda. Beberapa

keunggulan feromon seks yaitu bersifat selektif pada spesies hama tertentu, mampu

menekan populasi serangga, bersifat ramah lingkungan, dan menurunkan biaya

penggunaan insektisida (Samudra, 2006). Penggunaan feromon seks, dapat

menurunkan intensitas serangan ulat Spodoptera exigua hingga 8% dibandingkan

dengan cara petani yang mencapai 25% (Haryati & Nurawan, 2009).

(9)

2.5 Penggunaan Tanaman Aromatik pada Tanaman Bawang Merah.

Pengendalian hama berbasis ekologi tidak hanya terbatas sebagai teknologi, tetapi juga berkembang menjadi suatu konsep mengenai proses penyelesalan masalah ekologi (Subiyakto, 2011). Subiyakto (2011) mengatakan pengendalian hama berbasis ekologi disesuaikan dengan masalah yang ada disetiap lokasi dan lebih menekankan pada pengelolaan proses dan mekanisme ekologi lokal dari pada intervensi teknologi.

Pengendalian dengan sistem tanam tumpangsari dengan tanaman budidaya

memiliki manfaat yang baik dan aman karena tidak menimbulkan pencemaran

lingkungan. Menurut Stehr (1982) dalam (Kristanto dkk., 2013) mengatakan, pola

tanam dengan sistem tumpangsari artinya memodifikasi ekosistem yang dapat

memberikan beberapa keuntungan, yaitu penjagaan fase musuh alami yang tidak

aktif, penjagaan keanekaragaman komunitas, penyediaan inang alternatif, penyediaan

makanan alami, pembuatan tempat berlindung musuh alami dan penggunaan

insektisida yang selektif. Tumpangsari antara tanaman pokok dengan jenis tanaman

lain dapat mengurangi populasi hama. (Kristanto dkk., 2013) menjelaskan

tumpangsari dapat memperbesar keanekaragaman jenis tanaman. Pola tanam

tumpangsari dapat menurunkan serangan hama dengan mencegah penyebaran hama

karena adanya pemisahan tanaman yang rentan, salah satu jenis tanaman berperan

sebagai tanaman perangkap hama, dan salah satu jenis tanaman menjadi penolak

hama dari jenis tanaman yang lain (Kristanto dkk., 2013).

(10)

2.6 Tanaman Aromatik

2.6.1 Tanaman Seledri

Tanaman seledri merupakan tanaman semusim yang berasal dari daerah subtropis, khususnya wilayah di sekitar Laut Tengah (Mu, 2019). Menurut Agus (2008) seledri dibagi menjadi tiga golongan, yaitu seledri daun (Apium graveolens L var. secalinum alef), seledri batang (Apium graveolens L var. sylvestre alef..) dan seledri umbi (Apium graveolens L var. rapaceum alef,,). Seledri yang paling banyak ditanam di Indonesia adalah seledri daun. Menurut Mursito (2002) tanaman seledri diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae.

Divisi : Spermatophyta.

Sub divisi : Angiospermae.

Kelas : Dicotyledonae.

Ordo : Apiales / Umbelliflorae.

Famili : Apiaceae / Umbelliferae.

Genus : Apium.

Spesies : Apium graveolens L.

Gambar 5. Tanaman Seledri

(11)

Tanaman seledri merupakan tanaman semak dengan tinggi kurang lebih 50cm dan mempunyai bau aromatik yang khas. Tanaman seledri memiliki akar tunggang.

Batangnya tidak berkayu, beruas bercabang tegak dan berwarna hijau. Daun berbentuk menjari, majemuk serta menyirip. Pangkal dan ujung daun berbentuk runcing dan tepi daun beringgit. Tanaman seledri memiliki bunga majemuk berbentuk payung dan berwarna hljau, buah_tanaman seledri berbentuk kotak dengan warna hijau kekuningan (Haryoto, 2009).

Tanaman seledri memiliki beberapa kandungan bahan kimia yaitu flavonold, saponin, tanin 1%, minyak atsiri 0,033%, flavo-glukosida (apiin), aplgenin, fitosterol, kolin, lipase, pthalides, asparagine, zat pahit, vitamin (A, B dan C) dan alkaloid (Saputra dan Fitria, 2016). Tuetun et al (2008) dalam (Moekasan, (2019) mengatakan bahwa didalam tanaman seledri terdapat 3-n-butyl-tetrahydrophthalide (92,48%), beta-selinene (5,10%), dan gamma-selinene (0,68%), yang bersifat penolak bagi nyamuk.

2.6.2 Tanaman Kemangi

Tanaman kemangi merupakan tanaman tahunan yang tumbuh liar dan mudah

didapatkan. Tanaman kemangi tumbuh ditempat terbuka dan tidak tahan terhadap

kekeringan. Tanaman kemangi sejenis tanaman hemafrodit yang tumbuh di daerah

tropis. Tanaman kemangi saat ini memiliki manfaat sebagai hasil alam yang menjadi

nilai ekonomi tinggi. Biasanya kemangi dijadikan sebagai pelengkap masakan atau

sebagai lalapan. Kemangi juga dapat digunakan sebagai obat, pestisida nabati,

penghasil minyak atsiri, sayuran_dan minuman penyegar (Susanto dkk., 2013).

(12)

Menurut Hasan dkk (2016) tanaman kemangi mengandung flavonoid, glikosiit, asam galliic dan_esternya, asam cafeiic, dan minyak atsiri yang mengandung eugenol (70,5%) sebagai komponen utama. Menurut Kurniasih (2011) Sistematika kemangi diklasifikasikan sebagal beriikut :

Kingdom : Plantae.

Subkingdom : Tracheobionta.

Divisio : Spermatophyta.

Sub Divisi : Angiospermae.

Kelas : Dycotyledonae.

Sub Kelas : Asteridae.

Ordo : Tubiflorae.

Familia : Labitae.

Genus : Ocimum.

Species : Ocimum sanctum L.

Gambar 6. Tanaman Kemangi

Tanaman kemangi memiliki morfologi tajuk membulat, herba tegak,

bercabang banyak. Akar tunggang dan berwarna putih. Daun kemangi tersusun dalam

bentuk pasangan yang bertentangan dan tersusun dari arah atas dan bawah. Bunga

pada tanaman kemangi yang tersusun pada tangkal, bunga kemangi berbentuk

(13)

menegak. Jenis bunga hemafrodit berwarna putih dan wangi. Tanaman kemangi memiliki buah dengan bentuk kotak dan berwarna_coklat tua. Biji berukuran kecil berwarna coklat (Ridwan dan Isharyanto, 2016). Ridwan dan Isharyanto, (2016) mengatakan minyak atslri dengan bahan aktif eugenol dan sineol yang terkandung pada daun kemangi mempunyai potensi sebagai larvasida dan hormon juvenile yang menghambat perkembangan larva nyamuk (Anopheles aconitus). Eugenol dan methyl clavical yang terdapat pada kemangi yang diduga berfungsi sebagai larvasida.

Minyak kemangi berfungsi sebagai larvasida dengan cara kerja sebagai racun kontak

(contact poison) melalui permukaan tubuh larva karena fenol (eugenol) mudah

terserap melalui kulit (Ridwan dan Isharyanto., 2016). Senyawa yang banyak

ditemukan dalam minyak atsiri ini antara lain 1,8-sineol, trans-beta-ocimen, kamfor,

linalool, metil klavikol, geraniol, citra eugenol, metil sinamat, metil eugenol, beta-

bisabolen dan beta-kariopilen. Menurut Koul et al. (2008) dalam Moekasan (2019)

aktivitas biologi minyak atsiri terhadap serangga dapat bersifat menolak (repellent),

menarik (attractant), racun kontak (toxic), racun pernafasan (fumigant), mengurangi

nafsu makan (antifeedant), menghambat peletakan telur (ovipotion deterrent),

menghambat pertumbuhan, menurunkan fertilitas, serta sebagai anti serangga vector.

Referensi

Dokumen terkait

Hama yang telah dilaporkan terdapat pada tanaman jambu biji di berbagai negara antara lain lalat buah, kutu kebul, kutu putih, kutu perisai, kutu daun, kutu tempurung, Helopeltis

Untuk mendapatkan rona merah yang menarik, pilihlah warna pada sediaan pewarna pipi yang sesuai dengan warna kulit wajah.. Warna merah muda yang paling lembut

Untuk menentukan tipe penggunaan yang sesuai pada suatu wilayah, diperlukan evaluasi kesesuaian lahan lahan secara menyeluruh dan terpadu (intergrated), karena masing-masing