• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V SIMPULAN DAN SARAN"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

179

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan riset penelitian yang dilakukan dari mulai proses identifikasi permasalahan sampai proses analisis, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

™ Sebagian besar masyarakat memiliki respon yang negatif terhadap bisnis yang menjalankan pemasaran berbasiskan Multi Level Marketing. Berdasarkan hasil penelitian, awareness masyarakat terhadap bisnis yang menjalankan konsep Multi Level Marketing adalah pada faktor pemasar MLM ( 28.9% ), produk ( 23.2% ), dan perusahaan MLM ( 22.6% ). Dengan begitu dapat disimpulkan selama ini, ketiga faktor ini telah berpengaruh dalam pembentukan respon negatif masyarakat.

™ Respon masyarakat tidak dipengaruhi oleh faktor status keanggotaan karena dari hasil pengujian statistik dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara faktor keanggotaan dengan respon yang dimiliki seseorang. Jika seseorang merasa suatu sistem tidak sesuai dengan pemikiran dan harapan yang selama ini diyakini-nya, maka kemungkinan besar orang tersebut akan merespon negatif terhadap hal tersebut. Walaupun statusnya merupakan bagian dari

(2)

suatu sistem. Bahkan mungkin saja apabila seseorang tersebut sudah tidak bisa sejalan lagi, maka orang tersebut akan memutuskan keluar dari sistem. Sebanyak 35.8% dari 95 orang responden yang saat ini masih menjalani bisnis MLM, sudah pernah mengalami pengalaman keluar dari perusahaan tempatnya bernaung. Hal ini dipengaruhi oleh banyak aspek, diantaranya : tidak ada support system, sistem bagi hasil tidak merata, kualitas produk rendah, harga produk mahal, dan kurangnya perusahaan mengenalkan produk.

™ Dalam mengetahui respon masyarakat terhadap pemasaran MLM dapat diukur dengan menggunakan empat variabel, yaitu konsep bisnis, MLM, produk, faktor internal, dan faktor eksternal.

Gambar 5.1 Hasil Analisis Faktor

Respon Konsep Bisnis (72.3%) Produk (13.5%) Internal (11%) Eksternal (12.1%)

(3)

¾ Faktor konsep bisnis memiliki pengaruh yang signifikan terhadap respon. Berdasarkan hasil tersebut berarti sistem konsep yang berjalan serta peraturan yang berlaku dalam bisnis yang menjalankan pemasaran yang berbasiskan konsep Multi Level Marketing ini memiliki pengaruh terhadap pembentukan respon dalam masyarakat.

¾ Faktor produk memiliki pengaruh yang signifikan terhadap respon. Produk merupakan sentral yang menghubungkan antara perusahaan dengan customer. Oleh karena itu, sangat besar sekali pengaruh produk terhadap pembentukan respon.

¾ Faktor harga produk tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap respon. Berarti perbedaan harga produk yang dijual pada sistem konvensional dengan produk yang dijual secara MLM memiliki perbedaan yang tidak terlalu signifikan.

¾ Faktor internal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan respon. Kecenderungan seseorang dalam menanggapi sesuatu pasti diawali dari belief yang ada dalam diri orang tersebut. Jika belief yang ada sesuai dengan kenyataan yang ditemui, maka akan dapat menumbuhkan respon yang positif. Sebaliknya jika beliefs yang dimiliki seseorang tidak sesuai dengan kenyataanya, maka akan menumbuhkan respon negatif.

¾ Faktor eksternal memiliki pengaruh yang signifikan terhadap respon. Manusia dikenal sebagai makhluk sosial, sehingga besar

(4)

sekali pengaruh pihak eksternal terhadap pembentukkan sikap maupun respon seseorang.

Saran

Rekomendasi yang dapat diberikan penulis dari hasil penelitian yang telah dilakukan selama ini adalah sebagai berikut :

™ Bagi perusahaan MLM

Dalam usaha mengubah perspektif masyarakat terhadap bisnis Multi Level Marketing, sekaligus mengurangi respon negatif masyarakat terhadap bisnis tersebut, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan MLM, diantaranya :

ƒ Melakukan pengenalan produk kepada masyarakat. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar dapat menumbuhkan awareness kepada masyarakat terhadap produk yang ditawarkan, sehingga masyarakat memperoleh gambaran mengenai produk yang dijual karena selama ini sering kali masyarakat tidak mengetahui / mengenal produk yang ditawarkan, sehingga menimbulkan keraguan bagi customer untuk membeli produk tersebut. Oleh karena itu, perusahaan MLM seharusnya mengutamakan pengenalan produk terlebih dahulu sebelum menekankan pada peluang bisnis yang ada.

(5)

ƒ Memberlakukan sistem Customer Relationship Management ( CRM ) untuk meningkatkan pelayanan terhadap customer. Sebagian besar bisnis MLM hanya fokus pada usaha mendapatkan customer baru ( acquiring ), sehingga mereka lupa dengan customer lamanya. Padahal, usaha yang mereka butuhkan untuk mendapatkan customer baru jauh lebih besar daripada mempertahankan customer yang sudah lama. Lebih banyak waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan customer baru. Oleh karena itu, perusahaan MLM perlu melakukan kegiatan retention pada customer yang ada, sehingga customer dapat tetap loyal terhadap perusahaan. Pengintegrasian konsep CRM ini, bisa dilakukan dengan cara melibatkan Information Technology di dalamnya. Mengingat pada saat ini MLM masuk pada tahap Universal ( Gelombang IV ), dimana pada tahap ini dilakukan proses otomatisasi yang membuat bisnis semakin mudah diakses oleh para pelaku bisnis MLM ini. Aplikasi web dan layanan mobile dapat dijadikan alternatif solusi dalam penerapan konsep CRM ini. ƒ Mengubah konsep sistem yang berjalan dalam MLM agar lebih

transparansi dan tidak terlalu rumit. Dari beberapa bisnis MLM yang sudah ada selama ini, sebagian besar masyarakat merasa konsep sistem MLM menipu dan sulit dimengerti. Padahal dalam pelaksanaannya faktor ini memegang peranan yang cukup penting karena merupakan interpretasi awal bagi seorang calon customer

(6)

untuk memutuskan apakah akan bergabung atau tidak dalam bisnis MLM. Sehingga harusnya konsep sistem MLM dirancang lebih mudah dan menarik. Namun hal ini memerlukan pembelajaran lebih lanjut lagi dari per masing – masing perusahaan MLM.

ƒ Pemberian pelatihan kepada distributor / pemasar MLM tentang bagaimana cara melaksanakan bisnis MLM secara intensif agar para distributor / pemasar tersebut tidak menggunakan cara yang salah dalam melakukan pemasaran, walaupun memang pada kenyataannya pemasaran yang dilakukan harus gencar dan agresif, tetapi tidak perlu memaksa calon customer yang pada akhirnya mengakibatkan image para pemasar menjadi negatif di hadapan customer. Menurut hasil kuisioner yang diperoleh, sebagian besar para pelaku bisnis MLM memutuskan untuk tidak melanjutkan menjalankan bisnis MLM karena mereka mengalami kesulitan dalam mendapatkan downline. Oleh karena itu, perlu adanya support dari perusahaan dalam membimbing para downline agar bisa membentuk jaringan pemasarannya.

ƒ Memberlakukan kontrol dan audit bagi para pemasar bisnis MLM, sehingga pemasar tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak image perusahaan MLM, seperti melakukan penipuan terhadap calon customer, misalnya: sewaktu ingin melakukan prospek pemasar MLM kerap kali berusaha mengajak calon customer untuk ikut seminar atau meminta untuk ketemuan dengan

(7)

alasan-alasan tertentu yang menutupi maksud sebenarnya. Hal ini sangat sering dilakukan oleh para pemasar MLM, sehingga mengakibatkan si calon customer merasa tertipu dengan ajakan orang tersebut dan pada akhirnya menjauhi pemasar MLM tersebut.

ƒ Perubahan pada sistem bagi hasil.

Selama ini sebagian besar MLM menetapkan bobot terbesar dalam sistem bagi hasil MLM terdapat pada kegiatan rekrutmen anggota baru. Bonus yang diterima pemasar MLM akan jauh lebih besar jika mereka berhasil mendapatkan anggota baru daripada menjual produk. Jika dilihat dari konsep bisnis MLM, sebenarnya konsep sistem MLM merupakan bagian dari direct selling marketing. Dimana pada konsep bisnis tersebut bonus diberikan ketika mereka menjual produk. Oleh karena itu, perlu dilakukan perhitungan ulang terhadap bobot dalam pemberian bonus, sehingga para pelaku / pemasar tidak terlalu concern pada rekrutmen semata. ƒ Mengasosiasikan produk dengan suatu event ataupun kelompok

khusus. Hal ini dilakukan dengan cara, seperti memberikan pengumuman bahwa berapa persen dari harga yang dibayar customer akan disumbangkan untuk membantu korban bencana alam di suatu daerah tertentu. Hal ini bisa menumbuhkan awareness masyarakat terhadap perusahaan.

(8)

™ Bagi Masyarakat dan Customer

Masyarakat merupakan titik pusat dari pelaksanaan kegiatan Marketing, tanpa adanya dukungan dari masyarakat, maka suatu perusahaan tidak akan ada artinya. Oleh karena itu, sekiranya masyarakat harus open minded dan lebih bijaksana dalam melihat konsep sistem MLM ini. Jangan karena segelintir perusahaan MLM yang menerapkan konsep sistem yang salah mengakibatkan seluruh perusahaan MLM menjadi bad image dengan menyebarkan isu - isu yang belum tentu kebenarannya. Selain itu, masyarakat juga dituntut lebih selektif dalam memilih perusahaan MLM. Harus cari tahu segala informasi yang berkaitan dengan perusahaan tersebut, pastikan seluruh konsep sistem-nya clear dan memang murni MLM bukan piramida ataupun money game. Ada beberapa kriteria yang harus dimiliki suatu perusahaan MLM yang bisa digunakan sebagai kiat dalam memilih suatu perusahaan MLM, diantaranya ( Supiansyah, 2007 ) :

ƒ Pastikan bahwa perusahaan MLM yang dipilih telah terdaftar sebagai anggota APLI ( Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia ). APLI bekerja untuk memajukan, melindungi, dan mengayomi industri direct selling atau MLM. APLI sangat aktif dalam memerangi skema piramida dan sangat menentang praktek - praktek money game. Mereka yang menjadi anggota APLI hanyalah perusahaan yang dianggap betul – betul memenuhi syarat sebagai

(9)

perusahaan penjual langsung. Karena itulah, melalui APLI kita juga bisa mengenali mana perusahaan yang MLM dan mana yang bukan. ƒ Pastikan bahwa perusahaan MLM yang dipilih menjual produk

-produk yang inovatif dan revolusioner. Produk yang dijual haruslah beranekaragam dengan harga yang bisa terjangkau oleh berbagai segmen pembeli. Selain itu, pastikan bahwa ada layanan purna jual dan jaminan terhadap pengguna produk dari dampak – dampak yang mungkin tidak diharapkan. Bagaimanapun hebatnya suatu perusahaan MLM tidak akan bisa berkembang jika produk – produk yang dijual tidak berdaya jual tinggi dan tidak memberikan layanan purnajual serta jaminan perlindungan terhadap para penggunanya. ƒ Pastikan bahwa perusahaan MLM yang dipilih memiliki sistem

support yang bisa menunjang setiap distributornya untuk mencapai peringkat tertinggi dan pastikan bahwa perusahaan MLM tersebut memiliki marketing plan yang berpihak pada distributor dan telah teruji mengantar distributor – distributornya meraih peringkat tertinggi dan memperoleh penghasilan yang diharapkan.

ƒ Pastikan bahwa perusahaan MLM yang dipilih memiliki susunan BOD ( Board of Director ) yang betul - betul memahami karakteristik dari bisnis MLM dan susunan BOD tersebut juga berisikan orang – orang yang sudah banyak makan asam garam di industri MLM. Kepahaman dari BOD akan bisnis MLM akan sangat menguntungkan mengingat suatu perusahaan MLM dituntut

(10)

memiliki visi dan misi yang jelas sehingga perusahaan tersebut bisa berkembang sesuai dengan yang diharapkan dan dapat diterima tidak saja oleh pasar domestik melainkan oleh pasar internasional. Dengan kata lain pilihlah perusahaan MLM yang bersifat global, dimanapun kita menjalankan bisnis tersebut bisa diterima oleh pasar dan tetap bisa dijalankan.

ƒ Pastikan perusahaan MLM yang dipilih merupakan perusahaan yang cukup bonafid dan memiliki modal yang cukup kuat untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan dan kelangsungan bisnis MLM yang dijalankan.

™ Bagi Pemerintah

Pemerintah harus memberikan dukungan pada perusahaan yang menjalankan pemasaran berbasiskan Multi Level Marketing dengan membuat peraturan - peraturan yang jelas mengenai pendirian badan usaha serta dilakukan controlling secara rutin agar tidak ada lagi perusahaan MLM yang sewenang - wenang membuat aturan yang dapat merugikan masyarakat dan berimbas pada perusahaan MLM lainnya. Bagaimanapun juga bisnis ini sebenarnya masih memiliki potensial untuk berkembang di Indonesia, mengingat kondisi perekonomian Indonesia yang masih belum membaik, sehingga hanya sedikit lapangan kerja yang tersedia. Dengan bisnis MLM ini berarti membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat Indonesia.

(11)

Keterbatasan Penelitian

Singkatnya waktu penelitian membuat hasil penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan, diantaranya :

1. Ruang lingkup penelitian ini hanya mencakup wilayah Jakarta saja, sehingga kemungkinan hasil dari penelitian tidak bisa mewakili secara menyeluruh masyarakat Indonesia.

2. Pengidentifikasian masalah yang ditemukan hanya berdasarkan hasil Group Interview pada pelaku bisnis MLM Amway, QuestNet, Prudential, Oriflame, dan Tian Shi. Sedangkan jumlah perusahaan yang menjalankan konsep pemasaran MLM yang tercatat pada departemen perdagangan sebanyak 157 perusahaan. ( Anonymous1, 2008 ). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian pada seluruh perusahaan tersebut agar identifikasi yang dilakukan dapat mencakup seluruh permasalahan yang ada.

3. Perlu dilakukan riset kualitatif secara mendalam terhadap masyarakat agar mengetahui solusi apa yang bisa diambil untuk mengurangi respon negatif yang terjadi.

Usulan Penelitian Lebih Lanjut

Penelitian yang dilakukan masih dalam taraf pengidentifikasian masalah secara umum dengan berpatokan pada metode kuantitatif, sehingga masih memungkinkan diadakan penelitian lebih lanjut untuk memperoleh

(12)

hasil penelitian yang lebih akurat lagi. Adapun permasalahan yang dapat diteliti lebih lanjut adalah sebagai berikut :

1. Penelitian secara mendetail mengenai pelaksanaan konsep sistem per perusahaan yang menjalankan konsep bisnis berbasis Multi Level Marketing, baik dalam hal perekrutan, pendaftaran anggota, penjualan, dll.

2. Perhitungan sistem bagi hasil yang berlaku pada masing – masing perusahaan yang menjalankan konsep MLM berbeda – beda. Hal ini juga perlu di-research lebih lanjut. Sehingga bisa mengetahui sebenarnya sistem bagi hasil yang seperti apa yang diminati masyarakat.

3. Saat ini perkembangan e-commerce ikut membantu perkembangan MLM. Bahkan seakan – akan industri e-commerce memang tercipta untuk MLM. Hal ini mendorong perusahaan – perusahaan MLM tersebut untuk semakin meningkatkan mutu mereka dalam persaingan yang semakin instan. Para pakar marketing mulai memperhitungkan sinergi e-commerce dengan MLM. Bagaimana seandainya e-commerce sebagai industri dengan perkembangan tercepat di dunia digabungkan dengan MLM sebagai industri dengan konsumen paling ’loyal’. Apakah MLM akan merajai perekonomian dan perdagangan dunia ? Apakah hal tersebut juga bisa mengubah ataupun mengurangi respon negatif yang ada di dalam masyarakat. Hal ini juga perlu dilakukan pembelajaran lebih lanjut.

Gambar

Gambar 5.1 Hasil Analisis Faktor   Respon Konsep Bisnis   (72.3%)   Produk    (13.5%)  Internal (11%)    Eksternal      (12.1%)

Referensi

Dokumen terkait

hipotesis peneliti, dilakukan analisis statistik dengan analisis regresi. Cara pengambilannya menggunakan teknik random sampling, yaitu cara pengambilan/pemilihan

Hasil penelitian menunjukkan produksi rumah tangga nelayan sebesar 5,43 ton, curahan jam kerja nelayan memungkinkan untuk mencari pekerjaan alternatif untuk mengisi waktu,

Ekowisata mangrove di Pantai Muara Indah dinilai layak untuk dikembangkan dengan skor 69,5, namun pada beberapa aspek yang masih belum sesuai untuk pengembangan

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan tingkat pengetahuan perawat tentang perawatan terapi intravena terhadap kejadian phlebitis di bangsal

Isi ini harus sesuai dengan judul penelitian yang dilakukan, sehingga sangat bermanfaat untuk pembahasan hasil penelitian, dengan demikian Tinjauan Pustaka bukan hanya

Namun hasil penelitian terbaru dengan tahapan pengolahan yang berbeda dari tahapan di atas, memberikan standar kualitas minyak nyamplung yang lebih baik.. Tahapan pengolahan

Sehingga tujuan dari penelitian ini yakni untuk memperbaiki nilai penetrasi pada penelitian sebelumnya dengan menentukan karakteristik aspal sintetis dari campuran plastik

Hal ini juga terjadi pada ada tes pertama FR hanya menjawab 2 soal dari 5 soal, tidak menjawab butir soal karena tidak memahami konsep dalam menyelesaikan soal sehingga