• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Penentuan Biaya Pokok Proses

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sistem Penentuan Biaya Pokok Proses"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Sistem Penentuan

Biaya Pokok Proses

Disusun Oleh:

 Ine Trisnawati 65 1300 11

 Reni Setiawati 65 1300 17

 Mara Satria

65 1300 31

 Annisa Suciati 65 1300 75

(2)

Definisi...

Sistem Penentuan Biaya Pokok Preses

adalah

“suatu sistem penentuan biaya pokok

yang dipakai perusahaan-perusahaan

yang mengasilkan produk yang serupa

atau mempunyai aliran produksi

terus-menerus

dimana

produk

tersebut

diproduksi secara massa dan dalam

jangka waktu yang sudah ditentukan.”

(3)

Karakteristik Perusahaan yang

Berproduksi Secara Proses

 Sistem produksi merupakan sistem yang

berjalan terus-menerus

 Produk yang dihasilkan merupakan produksi

massal dan bersifat seragam (homogen)

 Tujuan produksinya adalah untuk

membentuk persediaan (inventory)

(4)

Perbedaan Metode Harga Pokok Proses dan

Metode Harga Pokok Pesanan

Keterangan Metode Biaya Pokok

Pesanan

Metode Biaya Pokok Proses

Dasar kegiatan produksi Pesanan langganan Budget biaya produksi Tujuan produksi Untuk melayani pesanan Untuk persediaan yg

akan dijual Betuk produksi Tergantung spesifikasi

pemesan

Homogen & standar

Biaya produksi dikumpulkan

Setiap pesanan Setiap satuan waktu/periode Kapan biaya produksi

dihitung

Pada saat pesanan selesai

Pada akhir periode

Menghitung harga pokok

Harga pokok pesanan ttt Jumlah produksi

pesanan ybs

Harga pokok periode ttt Jumlah produksi periode ybs

Contoh perusahaan Percetakan, kontraktor, konveksi pakaian, dll

Semen, textil, elektronik, dll

(5)

Jumlah Unit Equivalen

Pada penetapan biaya pokok proses untuk unit yang baru

selesai dinyatakan dalam istilah “Jumlah Unit Eqiuvalen”

Jumlah Unit Equivalen adalah

pernyataan keluaran dalam

bentuk takaran (dosis) atau jumlah (amount) sumber daya yang

dipakai baginya.

Maka dari itu suatu unit equivalen dianggap sebagai

kumpulan pemakaian kerja yang diperlukan untuk memproduksi

satu unit keluaran fisis yang lengkap/selesai.

Dengan kata lain,

suatu unit equivalen adalah suatu ukuran faktor-faktor produksi

yaitu bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead

pabrik

(6)

Perbandingan Antara Penetapan

Biaya Pesanan dan Penetapan Biaya Proses

Persediaan Barang dalam Proses

Persediaan Barang Jadi

1. Untuk Penetapan Biaya Pesanan

Sewaktu pekerjaan individual diselesaikan PEK 1 PEK 2 PEK 3 PEK 1 PEK 2 PEK 3

Sumber: Buku Pengantar AKUNTANSI MANAGEMEN Jilid 2 – Edisi keenam, Hal. 3

Satuan atau kelompok individual merupakan bahan langsung, tenaga kerja langsung dan overhead pabrik yang dialokasikan

Pesanan cenderung dibuat khusus (custom-made), sehingga persediaan relatif rendah karena barang cepat dikirim kepaca pelanggan

Ikhtisar :

(7)

Perbandingan Antara Penetapan

Biaya Pesanan dan Penetapan Biaya Proses

Sumber: Buku Pengantar AKUNTANSI MANAGEMEN Jilid 2 – Edisi keenam Hal. 3

2. Untuk Penetapan Biaya Proses

Persediaan Barang dalam Proses Persediaan Barang Jadi Ikhtisar : Barang dlm Proses Dept. 1 Barang dlm Proses Dept. 2 Perincian : Produk

Tidak ada perbedaaan antara satuan atau kelompok individual. Bahan, Tenaga Kerja dan Overhead dialokasikan ke Proses 1, Proses 2 dst. Sewaktu satuan-satuan selesai, mereka dipindahkan ke persediaan Barang Jadi menurut Biaya Satuan rata-rata.

Kumpulan satuan-satuan yang sama disimpan stock menurut biaya Produksi satuan Rata-rata.

Sewaktu unit-unit dlm proses akhir diselesaikan

(8)

Ilustrasi Penetapan Biaya Proses

Sumber: Buku Pengantar AKUNTANSI MANAGEMEN Jilid 2 – Edisi keenam Hal. 5

Persediaan Barang dalam Proses Persediaan Barang Jadi Ikhtisar : Barang dlm Proses Dept. Pabrikase Barang dlm Proses Dept. Perakitan Perincian : Produk dlm Persediaan

Pada saat unut dlm proses akhir diselesaikan

Diselesaikan dan ditransferke

(9)

Lima Langkah Pokok Akuntansi Dalam

Penentuan Biaya Proses

Langkah 1 : Ikhtisarkan jumlah unit fisis

Langkah 2 : Hitung keluaran dlm jumlah betuk

equivalen

Langkah 3 : Ikhtisarkan biaya total yg harus

dipertangungjawabkan, yg merupakan

debet total dalam barang dalam proses

Langkah 4 : Hitung Biaya Perunit

Langkah 5 : Hitung biaya total dari barang yg selesai

dan sedang dlm proses

(10)

Contoh Soal Metode Harga Pokok Proses

~ Dua Departemen ~

PT. Rempong memiliki dua departemen produksi dalam mengolah produknya yakni departemen A dan departemen B. Berikut ini disajikan data produksi dan biaya untuk kedua departemen tersebut:

Dep A Dep B

Produk dimasukan dalam proses 4.000 unit Produk selesai & ditransfer ke dept B 3.000 unit

Produk selesai & ditransfer ke gudang 3.000 unit Produk dalam proses akhir 1000 unit 500 unit

Tingkat Penyelesaian

Biaya Bahan Baku 100%

Biaya Bahan Penolong 100% 60%

Biaya Tenaga Kerja 40% 30%

(11)

Lanjutan Soal Metode Harga Pokok Proses

Dua Departemen

Data Biaya Produksi Dep A Dep B

Biaya Bahan Baku Rp 10.500.000

Biaya Bahan Penolong Rp 7.000.000 Rp 6.930.000 Biaya Tenaga Kerja Rp 10.200.000 Rp 11.025.000 Biaya Overhead Pabrik Rp 7.202.500 Rp 18.900.000 Berdasarkan informasi diatas maka tentukan

a. Hitunglah harga pokok produksi per unit dept A

b. Hitunglah hpp selesai dan ditransfer ke dept B serta persediaan produk dalam proses akhir dep A

c. Buatlah jurnal dept A

d. Hitunglah biaya produksi per unit yang ditambahkan

e. Hitunglah hpp jadi dan persediaan produk dalam proses f. Buatlah jurnal biaya dept B

(12)

Penyelesaian...

(Dept. A)

1. BBB Rp. 10.500.000,- 3.000+(1.000x100%) = 4.000 10.500.000 : 4.000 = 2,625 2. BBP Rp. 7.000.000,- 3.000+(1.000x100%) = 4.000 7.000.000 : 4.000 = 1750 3. BTK Rp. 10.200.000,- 3.000+(1.000x40%) = 3.400 10.000.000 : 3.400 = 3000 4. BOP Rp. 7.202.500,- 3.000+(1.000x35%) = 3.350 7.202.500 : 3.350 = 2150 9525 a. Harga produk jadi yang ditransfer ke dept B

3000 x 9525 = Rp. 28.575.000,-

b. Harga pokok produksi yang masih dalam proses akhir yang dihasilkan pada dept A : BBB : (1000 X 100 %) X Rp. 2.625 = Rp. 2.625.000,- BBP : (1000 X 100 %) X Rp. 1.750 = Rp. 1.750.000,- BTK : (1000 X 40 %) X Rp. 3000 = Rp. 1.200.000,- BOP : (1000 X 35 %) X Rp. 2150 = Rp. 752.500,- + Rp. 6.327.500,-

(13)

Pencatatan Jurnal-jurnal

yang Diperlukan

(Dept A)

1. Pancatatan Pamakaian Bahan Baku

- BDP – BBB Dept. A Rp. 10.500.000,-

- Persediaan Bahan Baku Rp. 10.500.000,-

2. Pencatatan Pemakaian Bahan Penolong

- BDP – BBP Dept. A Rp. 7.000.000,-

- Persediaan Bahan Penolong Rp. 7.000.000,-

3. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja

- BDP – BTK Dept. A Rp. 10.200.000,-

- Biaya Gaji & Upah Rp. 10.200.000,-

4. Pencatatan BOP

- BDP – BOP Dept. A Rp. 7.202.500,-

(14)

Pencatatan Jurnal-jurnal

yang Diperlukan

(Dept A)

5. Mencatat Produk Selesai

- Persediaan Barang Jadi Rp. 28.575.000,-

- BDP – BBB Dept. A Rp. 7.875.000,- - BDP – BBP Dept. A Rp. 5.250.000,- - BDP – BTK Dept. A Rp. 9.000.000,- - BDP – BOP Dept. A RP. 6.450.000,-

6. Mencatat HPP Produk dlm Proses yg Belum Selesai

- Persediaan Produk dlm Poses Rp. 6.327.500

- BDP – BBB Dept. A Rp. 2.625.000,- - BDP – BBP Dept. A Rp. 1.750.000,- - BDP – BTK Dept. A Rp. 1.200.000,- - BDP – BOP Dept. A Rp. 752.500,-

(15)

1. BBB

2. BBP Rp. 6.930.000,- 3.000+(500x60%)= 3.300 6.930.000 : 3.300 = 2.100 3. BTK Rp. 11.025.000,- 3.000+(500x30%)= 3.150 11.025.000 : 3.150 = 3.500 4. BOP Rp. 18.900.000,- 3.000+(500x30%)= 3.150 18.900.000 : 3.150 = 6.000 11.600 d. Harga Pokok Produk Selesai yg ditransfer oleh Dept. B ke gudang:

3.000 x (11.600 + 9525 ) = Rp. 63.375.000,-

e. Harga Pokok Produksi yang masih dalam Proses BBB : 500 X Rp.9525,- = Rp. 4.762.500,- BBP : (500X60%) x 2.100 = Rp. 630.000,- BTK : (500X30%) x 3500 = Rp. 525.000,- BOP : (500X30%) x 6000 = Rp. 900.000,- + Jumlah HPP Akhir Rp. 6.817.500,-

Penyelesaian...

(Dept. B)

(16)

Pencatatan Jurnal-jurnal

yang Diperlukan

(Dept. B)

1. Pencatatan Pemakaian Bahan Penolong

- BDP – BBB Dept. B Rp. 6.930.000,-

- Persediaan Bahan Penolong Rp. 6.930.000,-

2. Pencatatan Biaya Tenaga Kerja

- BDP – BTK Dept. B Rp. 11.205.000,-

- Biaya Gaji & Upah Rp. 11. 205.000,-

3. Pencatatan BOP

- BDP – BOP Dept. B Rp. 18.900.000,-

(17)

Pencatatan Jurnal-jurnal

yang Diperlukan

(Dept. B)

4. Mencatat Harga Pokok Produk Jadi yllg ditransfer ke Gudang

- Persediaan Produk Jadi Rp. 63.375.000,-

- BDP – BBB Dept. B Rp. 28.575.000,- - BDP – BBP Dept. B Rp. 6.300.000,- - BDP – BTK Dept. B Rp. 10.500.000,- - BDP – BOP Dept. B RP. 18.000.000,- 5. Mencatat Harga Pokok Persediaan dlm Proses yg Belum Selesai diolah oleh Dept. B

- Persediaan Produk dlm Proses Rp. ,-

- BDP – BBB Dept. B Rp. 4.762.500,- - BDP – BBP Dept. B Rp. 630.000,- - BDP – BTK Dept. B Rp. 525.000,- - BDP – BOP Dept. B RP. 900.000,-

Gambar

Ilustrasi Penetapan Biaya Proses

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PEMILIHAN METODE ALOKASI BIAYA BERSAMA DALAM PENENTUAN HARGA POKOK PRODUK PER UNIT PADA

Harga pokok produksi adalah semua biaya yang telah dikorbankan dalam proses produksi atau kegiatan mengubah bahan baku menjadi produk selesai yang meliputi biaya bahan baku,

System penentuan harga pokok produk berdasarkan biaya normal, merupakan kombinasi antara biaya yang sesungguhnya terjadi (untuk biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung),

 BOP pada Metode Harga Pokok Proses adalah biaya produksi selain biaya bahan baku, biaya bahan penolong, dan biaya tenaga kerja, baik langsung maupun

Jurnal untuk mencatat Harga Pokok Produk dalam proses yang belum selesai diolah Dep. B pada akhir bulan

Biasanya unit cacat sebesar 10 % dari unit output bagus yang telah selesai, yaitu untuk setiap 10 unit bagus diproduksi, terdapat 1 unit kecacatan normal. Ringkasan data untuk Juli

Harga pokok produksi merupakan total dari biaya produksi yang terdiri dari komponen bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang ditambah dengan

Perhitungan harga pokok produksi per satuan departemen B Unsur biaya produksi Total biaya Unit ekuivalensi Biaya produksi per kg Tenaga kerja Overbead pabrik 270.000 405.000