• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia sudah dikenal memiliki ragam wisata, salah satunya adalah wisata kuliner yang menunjukkan cita rasa khas daerah masing - masing dan sering kali lebih diminati oleh masyarakat. Seiring berjalannya waktu, globalisasi menyebabkan masuknya beragam kuliner baru seperti kuliner khas Jepang yang semakin populer di kalangan muda – mudi Indonesia.

Hal itu dapat dilihat pada komunitas – komunitas Jepang yang ada di Indonesia, seperti contoh Japanesia (komunitas pecinta Jepang Indonesia). Dalam komunitas membahas tentang berita, event, musik, anime, manga, hiburan, permainan (action figure, moket dan barang koleksi asli Jepang), lifestyle, bahasa, fashion (cosplay) dan minuman serta makanan khas Jepang seperti sushi.

(japanesia.org, 2011)

Keberadaan komunitas pecinta budaya populer Jepang tersebut memberikan fenomena baru terhadap kuliner Indonesia untuk mencoba makanan khas ‘Negeri Sakura’. Fenomena itu tidak hanya terjadi pada ibu kota saja, tetapi meluas ke berbagai daerah salah satunya Bandung.

Bandung merupakan salah satu kota besar yang memiliki berbagai macam tempat wisata kulinernya. Selain itu, masyarakat khususnya remaja muda Bandung pun sudah sering membuat berbagai event yang berkaitan dengan Jepang. Minat masyarakat Bandung yang cukup besar, membuat banyak restoran khusus yang menyajikan serta menawarkan menu makanan dengan cita rasa maupun nuansa khas Jepang.

Dalam perkembangannya tidak hanya restoran besar yang menyajikan

kuliner Jepang, tetapi juga usaha kecil dan menengah. Hal itu dikarenakan

banyaknya tanggapan positif dari masyarakat Bandung terhadap jenis usaha

tersebut. Saat ini, tidak jarang terlihat jenis usaha kedai yang menyediakan menu

makanan khas Jepang dengan menggunakan mobil sebagai tempat berjualan atau

(2)

2 tenda sederhana di pinggir jalan yang membuat kuliner Jepang semakin terjangkau oleh berbagai kalangan.

Seiring bertambahnya jumlah dari jenis usaha kedai sushi di Bandung, maka semakin diperlukannya identitas untuk masing – masing usaha kedai dengan tujuan sebagai pembeda antara yang satu dengan lainnya, dan dalam hal ini disebut dengan brand. Melalui brand , sebuah usaha akan memiliki konsep atau image sendiri yang nantinya dapat menyesuaikan serta menyusun strategi yang tepat dan efektif sehingga dapat mencapai target pasarnya.

Salah satu jenis usaha kedai sushi di Bandung adalah Sushi Boon yang menyajikan menu makanan khas Jepang seperti sushi, donburi dan sashimi.

Lokasi Sushi Boon berdampingan dengan Factory Outlet Level, Dago – Bandung.

Di Bandung, jenis usaha kedai tumbuh dengan pesat sehingga jarang ditemukan lagi produk – produk ‘tanpa nama’ atau tidak ada label dari usahanya. Hal ini tentunya membuat masing – masing usaha berupaya keras untuk mencapai keberhasilan dengan menarik perhatian konsumen dengan membentuk sebuah identitas. Jika identitas usaha telah dibentuk, maka akan terciptanya suatu image untuk melambangkan perusahaan secara keseluruhan, dalam hal tersebut image yang dibentuk harus sejalan dengan rencana perusahaan sebagai pembeda antara usaha yang satu dengan lainnya.

Identitas dari suatu usaha sangatlah penting dan sudah menjadi sebuah kebutuhan, karena identitas dapat membantu dalam pembentukan strategi komunikasi, branding dan marketing dari perusahaan hingga sampai kepada konsumen untuk rencana saat ini maupun yang akan datang. Strategi komunikasi, branding dan marketing dari sebuah identitas akan berpengaruh pada pembawaan perusahaan terhadap target pasarnya, akankah memberikan efek positif atau negatif. Jika identitas usaha sudah kuat didalam benak target pasarnya, maka akan timbul nilai yang berarti bagi perusahaan maupun pada setiap produknya.

Banyaknya jumlah kedai sushi di Bandung membuat persaingan antar

kedai semakin ketat. Agar bisa bersaing atau berkompetisi dengan usaha kedai

sushi lainnya, dibutuhkannya branding khususnya pada Sushi Boon. Hingga saat

ini, Sushi Boon masih belum mengangkat image serta kurangnya media promosi

yang telah dilakukan sebelumnya sehingga beberapa masyarakat Bandung pun

(3)

3 belum mengetahui Sushi Boon. Mengingat semakin banyaknya jenis usaha kedai sushi di Bandung, maka semakin sulit pula untuk mencapai target pasar serta meraih keuntungan yang lebih besar.

I.2 Permasalahan

I.2.1 Identifikasi Masalah

Dari latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya maka penulis dapat mengidentifikasi beberapa masalah, di antaranya sebagai berikut :

• Bandung merupakan salah satu kota yang masyarakatnya memiliki minat terhadap kuliner Jepang cukup besar, sehingga mulai bermunculan restoran maupun usaha kecil dan menengah mengangkat makanan khas Jepang ;

• Dengan berkembangnya jumlah dari jenis usaha kedai sushi di Bandung maka semakin diperlukannya identitas (brand) untuk masing – masing usaha kedai agar dapat memberikan informasi serta meningkatkan daya tarik dan minat beli konsumen ;

• Salah satu jenis usaha kedai di Bandung adalah Sushi Boon yang menyajikan menu makanan khas Jepang tetapi, Sushi Boon masih belum mengangkat image dan kurangnya media promosi untuk bersaing dengan kompetitor ;

• Brand Sushi Boon masih kurang dikenal oleh masyarakat.

I.2.2 Rumusan Masalah

Dari beberapa permasalahan diatas, penulis dapat menyimpulkan :

Bagaimana membangun brand Sushi Boon guna memberikan informasi yang konsisten, meningkatkan daya tarik maupun minat beli konsumen ?

(4)

4 I.3 Fokus

Penulis membatasi permasalahan dalam Tugas Akhir, yaitu :

Membangun brand untuk objek perancangan Sushi Boon yang dilakukan selama Tugas Akhir. Branding dilakukan dengan membuat perancangan konsep outlet sampai dengan media promosi dan disesuaikan target pasarnya, yaitu :

- Target primer yaitu remaja perempuan, siswi SMP sampai dengan kuliah, tinggal di Bandung dan merupakan calon konsumen (belum pernah membeli atau mengunjungi Sushi Boon);

- Target sekunder yaitu remaja laki – laki, siswa SMP sampai dengan kuliah dan keluarga yang tinggal di Bandung.

I.4 Tujuan Perancangan

Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah membangun brand guna memberikan informasi yang konsisten, meningkatkan daya tarik maupun minat beli konsumen, sehingga Sushi Boon dapat bersaing atau berkompetisi dengan usaha kedai sushi lainnya.

I.5 Cara Pengumpulan Data

Penulis menggunakan beberapa cara pengumpulan serta analisis data, yaitu :

• Pengamatan obyek (observasi langsung) untuk menganalisis lokasi seperti outlet, konsumen, maupun gaya visual pada logo, maupun tiap media promosi yang sudah dilakukan oleh Sushi Boon.

• Dokumentasi foto secara langsung dari pihak yang terkait dengan penulisan, yaitu Sushi Boon di Dago - Bandung sebagai bukti dari observasi.

• Wawancara kepada narasumber, yaitu pemilik dan konsumen Sushi Boon.

• Studi pustaka dari buku sebagai dasar pemikiran penulis, dan artikel pada internet maupun cetak sebagai referensi yang berkaitan dengan topik.

• Analisis data menggunakan tabel perbandingan, marketing mix atau SWOT

analysis.

(5)

5 I.6 Kerangka Perancangan

Latar Belakang Masalah Di Bandung, semakin banyak jenis usaha kedai kecil maupun menengah menyajikan

kuliner khas Jepang, salah satunya adalah Sushi Boon. Tetapi, masyarakat masih

belum mengetahui keberadaan &

informasinya

Rumusan Masalah

Branding untuk target pasar Sushi Boon yaitu remaja perempuan Bandung (SMP s/d kuliah)

Teori - Teori branding - Teori desain media Data

- Hasil wawancara pihak Sushi Boon - Hasil wawancara konsumen -Hasil observasi langsung dan dokumentasi foto

Analisis

Konsep Perancangan

Hasil Perancangan

(6)

6 I.7 Pembabakan

• Bab I Pendahuluan

Pada Bab I, penulis menjelaskan hal-hal yang melatarbelakangi permasalahan, lalu diidentifikasikan satu persatu agar penulis mengetahui berbagai permasalahan yang akan dihadapi. Kemudian terdapat rumusan masalah, fokus, tujuan perancangan, cara pengumpulan data, kerangka perancangan dan terakhir pembabakan yang menjelaskan secara singkat mengenai isi tiap Bab.

• Bab II Dasar Pemikiran

Pada Bab II ini, penulis membahas mengenai teori – teori yang berhubungan atau digunakan sebagai dasar pemikiran saat membuat penulisan. Teori yang digunakan yaitu teori branding dan desain media.

• Bab III Data dan Analisis Masalah

Pada Bab III, penulis menjelaskan mengenai data dan analisis masalah.

Data berupa institusi pemberi proyek, produk, khalayak sasaran dan proyek sejenis yang pernah dilakukan serta penilaiannya. Sedangkan untuk analisis, penulis menggunakan tabel pembandingan, marketing mix atau SWOT anlysis dengan tujuan untuk diterapkan pada strategi penulisan.

• Bab IV Konsep dan Hasil Penulisan

Pada Bab IV, penulis menguraikan konsep komunikasi (ide besar), konsep kreatif (pendekatan), konsep media (media apa saja yang digunakan), serta konsep visual (jenis – jenis huruf, bentuk, warna, gaya visual). Selain itu menguraikan juga hasil penulisan, mulai dari sketsa hingga penerapan visualisasi pada media.

• Bab V Penutup

Pada Bab V berisikan mengenai masukan maupun saran pada waktu

sidang.

Referensi

Dokumen terkait

I.1.2 Kurangnya Pengertian Budaya dan Kebiasaan Orang Jepang Akibatnya karena masyarakat Indonesia lebih mengenal budaya Jepang melalui manga atau sebutan “Komik

Untuk itu, saat ini Kedai Imah Monyet memiliki gagasan untuk mengembangkan usahanya dalam industri makanan dan minuman tersebut, yang semula hanya berupa kedai dan gerai, menjadi

Peneliti ingin mengadaptasi model pembelajaran problem solving di Jepang tersebut untuk menyajikan desain didaktis yang akan dibuat ini, maka dari itu peneliti

Dari segi makanan dan minuman meskipun rata-rata diberikan penilaian baik namun ada beberapa konsumen yang belum merasa terpuaskan dikarenakan kurangnya variasi menu,

Bagaimana cara mengangkat keberadaan dan keutuhan dari dongeng Hihid Kabuyutan sebagai produk kekayaan sastra lisan budaya Sunda melalui suatu media yang digemari pembaca

Sushi merupakan makanan khas Jepang yang pada asal-usulnya berbahan dasar nasi, nori dan bahan-bahan mentah lainnya seperti ikan salmon, tuna, toboki (telur

Makanan juga turut menjadi citra bagi suatu negara, sebagai contoh, dalam kunjungan delegasi tamu negara lain, tentu negara kita akan menjamunya dengan makanan khas nasional

Kemudian, peneliti mengambil celah dari penelitian-penelitian terdahulu dengan mengambil topik mengenai “Diplomasi Ekonomi Jepang Dalam Menghadapi Persaingan Industri Otomotif