1
PENGARUH TINGKAT PEMAHAMAN TAX AMNESTY TERHADAP KETERLIBATAN WAJIB PAJAK DALAM TAX AMNESTY
Rosyana Imelda
Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana
PENDAHULUAN
Sebagai salah satu negara berkembang, pajak merupakan pendapatan terbesar negara. Soemitro mengatakan Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Mardiasmo, 2011). Pajak mempunyai beberapa fungsi, diantaranya adalah Fungsi Budgetair. Sebagai fungsi Budgetair, pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya(Mardiasmo, 2011). Menurut Manurung (2013), pemerintah melalui Institusi Kementrian Keuangan menetapkan Rp1.529 triliun untuk membiayai kegiatan penyelenggaraan negara dari mulai membayar gaji pegawai, pemberian subsisdi, membayar utang luar negeri dan pembangunan infrastruktur (Nurhidayah, 2015). Karena manfaat dari pajak sangat tinggi, untuk itu diperlukan kejujuran dalam pembayaran dan pelaporan jumlah kekayaan oleh para wajib pajak.
Pajak merupakan iuran rakyat kepada negara yang bersifat memaksakan dan tidak ada timbal balik secara langsung. Made dan Nyoman (2016:2) menyatakan bahwa rendahnya kepatuhan pajak, dan banyaknya dana yang masih ada di Luar Negeri serta buruknya database perpajakan nasional tentu membutuhkan suatu langkah yang besar untuk melakukan reformasi sistem perpajakan nasional (Bagiada & Damayasa, 2016). Dalam meningkatkan penerimaan dari pajak, Presiden Joko Widodo pada tahun 2016 tepatnya bulan Juli mengesahkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016
2
tentang Tax Amnesty (Pengampunan Pajak). Menurut Suharno (2016) Tax Amnesty adalah peraturan pemerintah yang mewajibkan para Wajib Pajak untuk melaporkan semua harta yang diperoleh pada tahun 2015 dan harta yang diperoleh pada tahun-tahun sebelumnya untuk kemudian dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) untuk kemudian ditebus tunggakannya. Tujuan dari tax amnesty itu sendiri adalah pertama, mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan harta, yang antara lain akan berdampak terhadap peningkatan likuiditas domestik, perbaikan nilai tukar rupiah, penurunan suku bunga, dan peningkatan investasi. Kedua, mendorong reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih valid, komprehensif dan terintegrasi. Ketiga, meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain akan digunakan untuk pembangunan (UU No. 11 Tahun 2016).
Tax Amnesty Periode II mengarah pada UMKM. Hasil Tax Amnesty pada akhir periode II per 31 Desember 2016 yaitu sebesar Rp107 triliun. Dana Rp 107 triliun itu berasal dari tebusan menurut surat Pernyataan Harta (SPH) Rp103 triliun, pembayaran tunggakan Rp3,06 triliun, dan penghentian pemeriksaan bukti permulaan Rp739 miliar. Tebusan menurut SPH itu sendiri bersumber utama dari wajib pajak orang pribadi non usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM) Rp85,8 triliun, wajib pajak badan non-UMKM Rp12,4 triliun, wajib pajak orang pribadi UMKM Rp4,74 triliun, dan wajib pajak Badan UMKM Rp338 miliar (news.ddtc.co.id). Asosiasi Unit Mikro, Kecil, dan Menengah Indonesia (Akumindo) menyebutkan, keikutsertaan UMKM dalam tax amnesty yang masih minim lantaran sosialisasi dari DJP yang masih kurang. Ketua Akumindo Ikhsan Ingratubun menyebutkan masih banyak UMKM yang tidak mengerti tata cara dan prosedur mengikuti tax amnesty (cnnindonesia.com).
Penyelenggara pajak di setiap daerah harus berupaya dan bekerjasama dengan semua pihak dalam menggiatkan kegiatan tax amnesty ini. Persoalan tersebut dibutuhkan pemahaman semua pihak untuk membantu terlaksananya program tersebut. Pemahaman tersebut maksudnya adalah wajib pajak memahami dan sadar pada kewajibannya, yaitu kewajiban menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan pajak pengahasilannya (Kartini, Yuniarta, & Sujana,
3
2017). Ketidakpahaman wajib pajak dalam mengikuti tax amnesty inilah yang membuat belum tercapainya hasil yang diharapkan dari tax amnesty ini. Untuk itu penulis mengambil judul “ Pengaruh Tingkat Pemahaman Tax Amnesty Terhadap Keterlibatan Wajib Pajak Dalam Tax Amnesty”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh tingkat pemahaman wajib pajak terhadap keterlibatan wajib pajak dalam melakukan tax amnesty di lingkungan para pedagang di Kota Salatiga dan memberikan gambaran tentang pemahaman wajib pajak terhadap keberhasilan tax amnesty bagi para pedagang di Kota Salatiga. Tingkat pemahaman seorang wajib pajak dalam mengikuti tax amnesty diketahui melalui seberapa wajib pajak mengetahui dan memahami cara menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT), pembayaran, tempat pembayaran, denda, dan bataswaktu pembayaran atau pelaporan SPT (Herlambang, Hernawati, & Widiastuti, 2018). Para pedagang adalah pedagang yang mempunyai usaha di wilayah Salatiga. Pedagang tersebut adalah pedagang dalam kategori pedagang eceran kecil. Teknik pengambilan sampel yaitu dengan Convenience Sampling. Penelitian ini menggunakan data primer yaitu kuesioner.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan chi square.
TINJAUAN PUSTAKA Pajak dan Wajib Pajak
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sedangkan wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (UU No.16 Tahun 2009, pasal 1).
Tax Amnesty
4
Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak Pasal 1 menyebutkan bahwa:
“Pengampunan Pajak adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkap Harta dan membayar Uang Tebusan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini”.
Subjek dan objek tax amnesty menurut Rhamanda & Prastiwi (2018) subjek mengacu kepada setiap wajib pajak orang pribadi maupun badan yang telah terdaftar dan memperoleh NPWP serta memiliki kewajiban menyampaikan SPT Tahunan, kecuali: a). Wajib Pajak yang sedang dilakukan penyidikan dan berkas penyidikannya telah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan, b). Wajib Pajak yang sedang dalam proses peradilan, c). Wajib Pajak yang sedang menjalani hukuman pidana atas Tindak Pidana di Bidang perpajakan. Sedangkan objek dari tax amnesty ini adalah kewajiban perpajakan yang belum diselesaikan oleh Wajib Pajak yang dalam hartanya belum pernah dilaporkan dalam SPT Tahunan terakhir, berupa Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Pengaruh Pemahaman Tax Amnesty Terhadap Keterlibatan Wajib Pajak Dalam Tax Amnesty
Pemahaman menurut Mutia dalam Nurlaela, Siti, dan Titisari (2017) adalah suatu proses peningkatan pengetahuan secara intensif yang dilakukan seorang individu dan sejauh mana dapat mengerti dengan benar akan suatu permasalahan yang ingin diketahui. Menurut Nafisah (2019) pemahaman wajib pajak terhadap peraturan perpajakan merupakan cara wajib pajak dalam mengetahui dan memahami peraturan perpajakan. Pemahaman menurut Widuri dan Prajogo (2013) dapat diartikan sebagai proses, perbuatan, cara memahami atau memahamkan. Pemahaman tax amnesty disini adalah wajib pajak memahami peraturan perpajakan dan peraturan tax amnesty secara jelas.
Keterlibatan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya keadaan terlibat. Keterlibatan wajib pajak dalam tax amnesty maksudnya adalah wajib pajak yang secara sadar dan sukarela untuk mengikuti program tax amnesty.
5
Sehingga setelah wajib pajak memahami tax amnestywajibpajakjuga ikut terlibat dalam program tax amnesty.
Penelitian yang dilakukan oleh Saleh& Nuryati (2017) menyatakan bahwa respon wajib pajak atas program tax amnesty setelah mengikuti tax amnestywajib pajak menjadi tidak takut melaporkan kewajiban perpajakannya dan keikutsertaan wajib pajak dalam program tax amnesty bahwa seorang teman bisa mempengaruhi seseorang untuk mengikuti tax amnesty.
Penelitian yang dilakukan oleh Purnamasari (2018)menyatakan bahwa penerapan Amnesty Pajak pada UMKM di wilayah Tangerang Selatan khususnya Kecamatan Ciputat Timur, ternyata dapat menstimulus wajib pajak UMKM untuk membayar pajak, akan tetapi belum optimal. Hal ini disebabkan dalam pelaporan wajib pajak UMKM mengikuti Amnesty Pajak terindikasi penyalahgunaan laporan dan belum seluruhnya UMKM mendapat informasi terkait Amnesty Pajak.
Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pemahaman wajib pajak terhadap peraturan perpajakan, maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya(Lailatul, Nurlaela, &
Masitoh, 2018). Jadi semakin tinggi wajib pajak memahami tax amnesty, semakin tinggi pula tingkat keterlibatan wajib pajak berpartisipasi dalam program tax amnesty. Apabila seseorang memiliki persepsi pengetahuan yang luas khususnya pengetahuan mengenai pentingnya pajak yang digunakan untuk membiayai investasi pemerintah, maka kemauan wajib pajak untuk mengikuti program tax amnesty akan meningkat pula (Hadisy, Sujana, & Purnamawati, 2017). Sehingga rumusan hipotesisnya adalah:
H1: Tingkat pemahaman wajib pajak berpengaruh terhadap keterlibatan dalamtax amnesty.
Dari hipotesis di atas, dapat dirangkum model penelitian sebagai berikut:
Tingkat Pemahaman Wajib Pajak
Keterlibatan dalam Tax Amnesty
6
Gambar 1 Kerangka Pemikiran
METODE PENELITIAN Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah para pedagang yang berlokasi di Pasar Raya I dan II Salatiga dengan kriteria Usaha Kecil (Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 pasal 1)dengan kategori pedagang eceran sepertiToko Sepatu, Toko Baju, Toko Kelontong, dan Warung Makan.
Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data primer yaitu dengan menggunakan kuesioner yang disebar langsung kepada pedagang di Pasar Raya I dan II Salatiga. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel independen dan variabel dependen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah keterlibatan wajib pajak, sedangkan variabel independennya adalah pemahaman wajib pajak.
Dasar pemilihan sampel ini menggunakan convenience sampling. Sampel ini menggunakan instrument 5 point yaitu: (1) STS= Sangat Tidak Setuju; (2) TS=
Tidak Setuju; (3) KS= Kurang Setuju; (4) S= Setuju; (5) SS= Sangat Setuju.
Instrument yang digunakan untuk mengukur semua variabel adalah 8 pernyataan.
Definisi Operasional
Berikut adalah definisi operasional dan indikator konsep yang digunakan:
7
Tabel 1
Definisi Operasional Penelitian Nama
Konsep Definisi Konsep Indikator Konsep
Pemahaman Wajib Pajak Terhadap Tax Amnesty
Pemahaman adalah suatu proses peningkatan pengetahuan secara intensif yang dilakukan seorang individu dan sejauh mana dapat mengerti dengan benar alasan suatu permasalahan yang ingin diketahui (Nurlaela, Siti, dan Titisari,2017)
Pemahaman Wajib Pajak mengenai perpajakan yaitu Wajib Pajak mengetahui apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan kewajibannya membayar pajak (Nafisah, 2019)
Harta yang dilaporkan dalam Surat Pernyataan Tahunan (SPT) hanya harta yang belum atau belum seluruhnya dilaporkan dalam SPT.
Yang diikutkan atau dilaporkan dalam Surat Pernyataan Tahunan (SPT) adalah harta tambahanb aru
Harta yang harus dilaporkan adalah harta yang diperoleh dalam periode 1 Januari 1985 – 31 Desember 2015.
(Penerapan Sistem Pelaporan Pajak Self Assessment)
Keuntungan ikut Tax Amnesty adalah semua beban pajak yang seharusnya terutang akan dihapuskan, termasuk denda sanksinya.
Pembayaran uang tebusan dapat dicicil. Namun pada saat penyampaian Surat Pernyataan Tahunan (SPT), uang tebusan sudah harus lunas. Jika belum lunas, SPT tidak dapat diterima.
Keterlibatan Wajib Pajak dalam Tax Amnesty
Wajib Pajak yang secara sukarela untuk mengikuti Tax Amnesty
Keterlibatan artinya ikut terlibat dalam suatu
Mengikuti sosialisasi tentang Tax Amnesty.
Ikut terlibat dalam mengikuti Tax Amnesty.
Ikut terlibat dalamm endorong saudara, teman dan lingkungan
8 keadaan (KBBI Online, 2019)
untuk terlibat dalam Tax Amnesty.
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Profil Responden
Karakteristik responden dalam penelitian ini digolongkan berdasarkan kepemilikan NPWP, jenis kelamin, usia, jenis pedagang, dan pendidikan terakhir.
Tabel 2 Profil Responden
Keterangan Jumlah (orang) Persentase
NPWP Punya 40 100%
Jenis Kelamin Laki-laki 17 42,5%
Perempuan 23 57,5%
Usia
25-35 tahun 7 17,5%
36-45 tahun 7 17,5%
46-55 tahun 14 35%
> 55 tahun 12 30%
Jenis Pedagang
Toko Sepatu 5 12,5%
Toko Baju 10 25%
Toko Kelontong 14 35%
Warung Makan 11 27,5%
Pendidikan Terakhir
SD/Sederajat 10 25%
SMP/Sederajat 9 22,5%
SMA/Sederajat 11 27,5%
Diploma 0 0%
Sarjana 10 25%
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa responden yang mempunyai NPWP adalah sebanyak 40 responden atau 100%, berdasarkan jenis kelamin lebih banyak perempuan yaitu sebanyak 23 orang atau 57,5% dibandingkan laki-laki yaitu sebanyak 17 orang atau 42,5%. Berdasarkan usia, mayoritas responden
9
terbanyak adalah usia 46-55 tahun yaitu sebanyak 14 orang atau 35%.
Berdasarkan jenis pedagang responden terbanyak adalah toko kelontong yaitu sebanyak 14 toko atau 35%, dan berdasarkan pendidikan terakhir responden terbanyak adalah lulusan SMA/sederajat yaitu sebanyak 11 orang atau 27,5%, artinya tingkat pendidikan responden tergolong menengah.
Statistik Deskriptif
Tabel 3
Hasil Statistika Deskriptif
Keterangan N Min Max Mean Std.dev
Pemahaman 40 13 25 19,750 2,55
Keterlibatan 40 6 15 10,550 3,01
Sumber: Data Primer yang diolah dengan SPSS, 2019
Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif di atas menyatakan bahwa variabel pemahaman memiliki rata-rata sebesar 19,750 yang artinya responden memiliki pemahaman yang cukup terhadap tax amnesty.
Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif di atas menyatakan bahwa variabel keterlibatan memiliki rata-rata sebesar 10,550 yang artinya responden memiliki keterlibatan yang cukup terhadap tax amnesty.
Uji Validitas
Hasil validitas kuesiner untuk variabel X1 atau Pemahaman Wajib Pajak dan X2 atau Keterlibatan Wajib Pajak.
Tabel 4 Uji Validitas
Variabel Item
Harga Koefisien r
Simpulan
Pemahaman Wajib Pajak
X11 0,663 Valid
X12 0,898 Valid
X13 0,833 Valid
X14 0,622 Valid
X15 0,801 Valid
Keterlibatan Wajib Pajak Y11 0,958 Valid
10
Y12 0,959 Valid
Y13 0,989 Valid
Sumber: Data Primer yang diolah dengan SPSS, 2019
Berdasarkan tabel diatas, variabel pemahaman wajib pajak dan variabel keterlibatan wajib pajak dinyatakan valid karena memiliki koefisien korelasi
>0,300. Sehingga semua butir pernyataan tersebut dapat digunakan dan dapat dipercaya untuk mengumpulkan data yang diperlukan.
Uji Reliabilitas
Hasil uji reliabilitas pada Pemahaman Wajib Pajak dan Keterlibatan Wajib Pajak Tabel 5
Uji Reliabilitas
Sumber: Data Primer yang diolah dengan SPSS, 2019
Pernyataan dalam kuesioner ini reliabel karena mempunyai Cronbach’sAlpha > 0,300. Hal tersebut ditunjukkan dengan variabel Pemahaman Wajib Pajak yang memiliki Cronbach’s Alpha 0,957 dan Keterlibatan Wajib Pajak memiliki Cronbach’s Alpha 0,984.
Uji Normalitas
Tabel 6 Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Ket N Asymp.sig.(2-tailed
Pemahaman 40 0,000
keterlibatan 40 0,000
Dari nilai Asymp.sig.(2-tailed) untuk pemahaman dan keterlibatan memiliki nilai sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,005, maka variabel pemahaman dan keterlibatan dinyatakan tidak normal.
Variabel
Cronbach's
Alpha Keterangan Pemahaman Wajib Pajak 0,957 Reliabel Keterlibatan Wajib Pajak 0,984 Reliabel
11
Uji Chi Square
Tabel 7 Uji Chi Square
Value df Asymptotic Significance (2- sided) Pearson Chi-Square 99,699 40 0,000
a.52 cells (96,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 0,03.
Pada bagian pearson Chi- Square terlihat nilai Asymp.sig(2-tailed) sebesar 0,000.
Karena nilai Asymp.sig(2-tailed) 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima, yang artinya “terdapat hubungan yang signifikan antara pengaruh pemahaman wajib pajak terhadap keterlibatan dalam taxamnesty”.
Uji Hipotesis Membandingkan Nilai Chi Square dengan 0,05
Berdasarkan output uji chi square diketahui nilai signifikansi (sig.) sebesar 0,000 lebih kecil dari < probabilitas 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima, yang berarti ada pengaruh pemahaman wajib pajak terhadap keterlibatan dalam tax amnesty.
Dari hasil diatas dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel tingkat pemahaman wajib pajak dengan variabel keterlibatan wajib pajak dalam tax amnesty. Ini berarti bahwa semakin wajib pajak memahami tax amnesty semakin tinggi pula keterlibatan wajib pajak terhadap tax amnesty.
Seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Dhila (2018) yang menyatakan bahwa kesadaran wajib pajak memediasi pengaruh tax amnesty terhadap kemauan mengikuti program tax amnesty, meskipun kesadaran wajib pajak tidak memediasi pengaruh sosialisasi tax amnesty dan sanksi tax amnesty terhadap kemauan mengikuti program tax amnesty.
Dari angket yang disebar diketahui bahwa item pernyataan X14 yaitu
“keuntungan ikut tax amnesty adalah semua beban pajak yang seharusnya terutang akan dihapuskan termasuk denda sanksinya”, memiliki nilai yang lebih tinggi
12
dibandingkan dengan pernyataan lainnya, dan item Y12 yaitu “saya ikut terlibat dalam tax amnesty” memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan pernyataan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin wajib pajak memahami tax amnesty, maka wajib pajak semakin terlibat dalam tax amnesty.
KESIMPULAN DAN SARAN
Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh pemahaman tax amnesty terhadap keterlibatan wajib pajak dalam tax amnesty. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemahaman tax amnesty cukup berpengaruh terhadap keterlibatan wajib pajak dalam tax amnesty. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa wajib pajak sudah cukup memahami tax amnesty, hal ini dapat diketahui dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa wajib pajak cukup memahami dan terlibat dalam tax amnesty. Sehingga pemahaman mempengaruhi keterlibatan dalam tax amnesty.
Adapun saran untuk penelitian yang akan mendatang adalah perluas kategori UMKM-nya meliputi Usaha Menengah dikarenakan penelitian ini menggunakan kategori Usaha Kecil untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemahaman tax amnesty terhadap keterlibatan wajib pajak dalam tax amnesty.
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah tidak semua pemilik usaha di Pasar Raya I dan II Salatiga mau dijadikan responden dalam penelitian ini, sehingga peneliti hanya mengambil data dari pemilik usaha yang mau dijadikan responden.
13
DAFTAR PUSTAKA
Bagiada, I Made, dan I Nyoman Darmayasa. “Tax Amnesty Upaya Membangun Sukarela”. Makasar, Simposium Nasional Akuntansi Vokasi V, 2016.
Dhila, N. U. (2018). Pengaruh Sosialisasi Tax Amnesty, Pengetahuan Tax Amnesty, Dan Sanksi Tax Amnesty Terhadap Kemauan Mengikuti Program Tax Amnesty Dengan Kesadaran Wajib Pajak Sebagai Variabel Intervening.
Fauzi, Yuliyanna. (2016). Fiskus Minim, Ditjen Pajak Minta UMKM Aktif Ikut Tax Amnesty. Disadur dari:
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161130062317-78-176195/fiskus- minim-ditjen-pajak-minta-umkm-aktif-ikut-tax-amnesty.
Hadisy, S., EdySujana, S. E., &Purnamawati, I. G. A. (2018). Persepsi Wajib Pajak Mengenai Keadilan Pajak, Pengetahuan Pajak Terhadap Keberhasilan Tax Amnesty Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Singaraja. JIMAT (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi) Undiksha, 8(2).
Haq, Triajie Wahyu El. (2017). Ini Hasil Periode II Tax Amnesty. Disadur dari https://news.ddtc.co.id/pengampunan-pajak-ini-hasil-periode-ii-tax-amnesty- 9055?page_y=0.
Herlambang, A. A. 92018). Dampak Sosialisasi Perpajakan Bagi Pemilik Usaha Pada Sektor Usaha Mikro Dan Kecil: Faktor Pemahaman Dan Kepatuhan Pajak. Ultimaccounting: Jurnal Ilmu Akuntansi, 10(1), 77-95.
https://kbbi.web.id/libat. Diakses pada 7 agustus 2019.
Kartini, N. K. B., Yuniarta, G. A., AK, S., & Edy Sujana, S. E. (2017).Analisis Tingkat Pemahaman Wajib Pajak Indistri Kecil Dan Menengah Pada Pelaksanaan Self Assessment System Dalam Melaksanakan Kewajiban Perpajakan (Studi Pada Industri Kecil Dan Menengah di Kecamatan Buleleng). JIMAT( Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi) Undiksha, 8(2).
Lailatul, L., Nurlaela, S., &Masitoh, E. (2018, October). Pengaruh Pemahaman, Pengetahuan Dan Tax Amnesty Terhadap Kepatuhan Pembayaran Pajak Orang Pribadi. In Prosiding Seminar Nasional: Manajemen, Akuntansi, dan Perbankan (Vol. 1, No. 1, pp. 751-768).
Mardiasmo. Perpajakan Edisi Revisi 2011. Penerbit ANDI. 2011
14
Nafisah, A. J. (2019). Pengaruh Motivasi Spiritual, Sanksi Perpajakan, Pemahaman Wajib Pajak Mengenai Perpajakan Terhadap Kepatuhan Membayar Pajak: Studi Kasus Pemilik UMKM di KPP Pratama Jepara (Doctoral Dissertation, UIN Walisongo Semarang).
Noor Rhamanda, Anugrah., & Prastiwi, D. (2018). Keengganan Wajib Pajak UMKM Untuk Mengikuti Tax Amnesty. Jurnal Akuntansi UNESA, 6(1).
Nurhidayah, S. (2015). Pengaruh Penerapan Sistem E-Filling Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dengan Pemahaman Internet Sebagai Variabel Pemoderasi Pada Kpp Pratama Klaten. Skripsi, Yogyakarta, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.
Nurlaela, S., & Titisari, K. H. (2017). Pengaruh Pemahaman, Pengetahuan dan Tax Amnesty Terhadap Kepatuhan Membayar Pajak Orang Pribadi.
Nuryati, T., & Saleh, M. H. (2017). Pengaruh Respon dan Keikutsertaan Wajib Pajak dalam Program Tax Amnesty terhadap Kepatuhan Wajib Pajak di Bekasi. Jurnal STEI Ekonomi, 26(02), 275.
Prajogo, J. N., & Widuri, R. (2013). Pengaruh Tingkat Pemahaman Peraturan Pajak Wajib Pajak, Kualitas Pelayanan Petugas Pajak, dan Persepsi Atas Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM di Wilayah Sidoarjo. Tax & Accounting Review, 3(2), 175.
Purnamasari, D. (2018). Analisis Penerapan Amnesti Pajak Pada Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Di Wilayah Tangerang Selatan (Bachelor's thesis, Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Suharno. (2016). Panduan Praktis Amnesty Pajak Indonesia. Jakarta :PT Kompas Media Nusantara.
Susunan Dalam Satu Naskah Undang-Undang No.6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan STDD Undang-Undang No 16 Tahun 2009. Pasal 1.
Undang – undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah. Pasal 6.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Pegampunan Pajak. Pasal 1
15
LAMPIRAN 1 KUESIONER PENELITIAN KepadaYth
Bapak/Ibu/Saudara/i Di tempat
Dengan hormat, dalam rangka menyelesaikan penulisan skripsi, saya Rosyana Imelda mahasiswaUniversitas Kristen Satya Wacana dengan ini
menyampaikan kuesioner penelitian untuk membantu saya dalam menyelesaikan tugas akhir program studi S1.
Untuk itu saya sangat berterima kasih jika Bapak/Ibu/Saudara/I dapat meluangkan waktu sekitar lima sampai sepuluh menit untuk mengisi kuesioner ini. Kuesioner ini tanpa identitas dan bersifat sukarela. Partisipan mempunyai kebebasan untuk membatalkannya kapan saja, tanpa konsekuensi. Semua jawaban akan digunakan untuk penelitian akademik saja.
Atas segala bantuan dan partisipasi yang Bapak/Ibu/Saudara/I berikan, saya ucapkan terima kasih.
Hormat Saya,
Rosyana Imelda
16
Demografi Responden
Berikan tanda (√ )sesuai dengan data diri anda:
Anda memiliki NPWP? : Ya Tidak
JenisKelamin : L P
Usia : ….. Tahun
JenisPedagang :Toko Sepatu TokoBaju TokoKelontong WarungMakan
PendidikanTerakhir : SD Diploma
SMP Sarjana
SMA
Bapak/ Ibu dapat memberikan jawaban dengan memberikan tanda (√ ) pada kotak yang sesuai berdasarkan apa yang anda alami dengan petunjuk sebagai berikut:
STS = Sangat Tidak Setuju TS = Tidak Setuju
KS = Kurang Setuju S = Setuju
SS = Sangat Setuju
No. PEMAHAMAN TAX AMNESTY (PENGAMPUNAN PAJAK)
STS TS KS S SS
1 Harta yang dilaporkan dalam surat Pernyataan hanya harta yang belum atau belum seluruhnya dilaporkan dalam SPT.
2 Yang diikutkan atau dilaporkan dalam SPT
17
adalah harta tambahan baru.
3 Harta yang harus dilaporkan adalah harta yang diperoleh dalam periode 1 Januari 1985- 31 Desember 2015. (Penerapan Sistem Pelaporan Pajak Self Assessment) 4 Keuntungan ikut Tax Amnesty adalah
semua beban pajak yang seharusnya terutang akan dihapuskan, termasuk denda sanksinya.
5 Pembayaran uang tebusan dapat dicicil.
Namun pada saat penyampaian surat pernyataan, uang tebusan sudah harus lunas. Jika belum lunas, surat pernyataan tidak dapat diterima.
KETERLIBATAN DALAM TAX AMNESTY
1 Saya mengikuti sosialisasi tentang Tax Amnesty
2 Saya ikut terlibat dalam mengikuti Tax Amnesty
3 Saya ikut terlibat dalam mendorong saudara, teman dan lingkungan saya untuk terlibat dalam Tax Amnesty
LAMPIRAN 2 Tabulasi Data No
Resp NPWP JK USIA JP TP X11 X12 X13 X14 X15
TOTAL
X Y11 Y12 Y13
TOTAL Y
1 YA L 37 TK Sarjana 4 4 4 4 4 20 4 4 3 11
2 YA L 27 TK SMA 4 2 3 4 2 15 2 2 2 6
3 YA L 60 TK SD 4 4 4 4 4 20 2 2 2 6
4 YA P 40 TK SMA 4 4 2 5 2 17 1 4 2 7
5 YA P 48 TK SD 4 4 2 4 4 18 4 4 4 12
18
6 YA P 34 TK Sarjana 2 3 3 3 4 15 2 2 2 6
7 YA P 34 TB SMP 4 2 2 4 4 16 4 4 4 12
8 YA P 34 TB SMA 2 2 4 4 4 16 2 2 2 6
9 YA P 30 TB SMA 4 1 2 4 2 13 2 2 2 6
10 YA P 49 TK SD 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
11 YA L 65 TK SMP 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
12 YA L 39 WM SMP 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
13 YA P 70 TK SMP 4 4 3 4 4 19 2 2 2 6
14 YA L 74 TK SD 4 4 4 4 4 20 2 2 2 6
15 YA P 47 WM SD 3 4 4 5 4 20 2 2 2 6
16 YA L 71 TS SD 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
17 YA L 50 TS SMA 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
18 YA P 35 WM SMA 4 5 4 5 5 23 2 2 2 6
19 YA P 25 TS SMP 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
20 YA L 74 TK SMA 5 5 5 5 5 25 5 5 5 15
21 YA P 45 TK SD 3 4 3 4 4 18 2 2 2 6
22 YA L 69 WM SMP 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
23 YA L 45 WM Sarjana 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
24 YA P 47 TB Sarjana 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
25 YA P 38 TB SMP 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
26 YA L 65 WM Sarjana 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
27 YA P 52 WM SD 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
28 YA L 52 TS Sarjana 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
29 YA L 62 TS Sarjana 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
30 YA P 45 WM SMP 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
31 YA P 54 TB SMA 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
32 YA P 55 TB Sarjana 5 5 5 5 5 25 5 5 5 15
33 YA L 47 TB Sarjana 5 5 5 5 5 25 5 5 5 15
34 YA P 53 TB SMA 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
35 YA P 56 TB Sarjana 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
36 YA P 49 WM SD 4 4 4 4 4 20 4 2 2 8
37 YA P 46 WM SMA 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
38 YA L 57 TK SMA 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
39 YA L 53 TK SMP 5 5 5 5 5 25 5 5 5 15
40 YA P 60 WM SD 4 4 4 4 4 20 4 4 4 12
`LAMPIRAN 3 HASIL UJI VALIDITAS
Correlations
X11 X12 X13 X14 X15 X1
19
X11 Pearson Correlation 1 .509** .374* .534** .257 .663**
Sig. (2-tailed) .001 .017 .000 .109 .000
N 40 40 40 40 40 40
X12 Pearson Correlation .509** 1 .658** .493** .703** .898**
Sig. (2-tailed) .001 .000 .001 .000 .000
N 40 40 40 40 40 40
X13 Pearson Correlation .374* .658** 1 .333* .708** .833**
Sig. (2-tailed) .017 .000 .036 .000 .000
N 40 40 40 40 40 40
X14 Pearson Correlation .534** .493** .333* 1 .287 .622**
Sig. (2-tailed) .000 .001 .036 .073 .000
N 40 40 40 40 40 40
X15 Pearson Correlation .257 .703** .708** .287 1 .801**
Sig. (2-tailed) .109 .000 .000 .073 .000
N 40 40 40 40 40 40
X1 Pearson Correlation .663** .898** .833** .622** .801** 1
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000 .000 .000
N 40 40 40 40 40 40
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Correlations
y11 y12 y13 Y1
y11 Pearson Correlation 1 .846** .932** .958**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000
N 40 40 40 40
y12 Pearson Correlation .846** 1 .942** .959**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000
N 40 40 40 40
y13 Pearson Correlation .932** .942** 1 .989**
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000
N 40 40 40 40
Y1 Pearson Correlation .958** .959** .989** 1
Sig. (2-tailed) .000 .000 .000
N 40 40 40 40
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
20
LAMPIRAN 4 HASIL UJI RELIABILITAS
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on
Standardized Items N of Items
.906 .957 3
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha
Cronbach's Alpha Based on
Standardized Items N of Items
.907 .984 3
LAMPIRAN 5 HASIL Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Pemahaman Keterlibatan
N 40 40
Normal Parametersa,b
Mean 19,7500 10,5500
Std.
Deviation
2,55955 3,01237 Most
Extreme Differences
Absolute 0,336 0,360
Positive 0,336 0,215
Negative -0,314 -0,360
Test Statistic 0,336 0,360
Asymp. Sig. (2-tailed) ,000c ,000c a. Test distribution is normal
b. Calculated from data
c. Lilliefors Significance Correction
LAMPIRAN 6HASILUji Chi Square
Chi-Square Tests
21 Value df
Asymptotic Significance (2-sided)
Pearson Chi-Square 99.699a 40 .000
Likelihood Ratio 53.231 40 .079
Linear-by-Linear
Association 15.002 1 .000
N of Valid Cases 40
a. 52 cells (96.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .03.