• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Perkembangan teknologi dengan kemajuan pesat pada masa sekarang menjadikan batas antara dimensi fisik, digital, dan biologi menjadi samar (Schwab, 2016 dalam Putrawangsa & Hasanah, 2018). Pada era yang juga dikenal sebagai revolusi industri 4.0 ini, penggunaan internet sangat luas dan arus informasi menjadi tak terbatas. Karena abad 21 merupakan era literasi digital yang memiliki informasi berlimpah, siswa harus dapat memilih informasi yang sesuai dan diperoleh dari sumber bermutu tinggi ditinjau dari aspek objektivitas, reliabilitas, dan kemutahiran (Zubaidah, 2016). Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi keahlian yang perlu dikuasai pada masa abad 21. Kompetensi yang perlu dikuasai pada era ini diantaranya adalah “The 4Cs” yang terdiri atas komunikasi, kerja sama, berpikir kritis, dan kreatifitas.

Berkaitan dengan adanya pandemi COVID-19, pembelajaran dilaksana- kan dari rumah sebagaimana dicantumkan dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan agar COVID-19 tidak menyebar lebih lanjut.

Pembelajaran ini biasanya dilakukan secara daring (dalam jaringan) dengan bantuan internet. Dalam pelaksanaan pembelajaran daring terlihat perbedaan yang signifikan antara beberapa siswa di SMA Negeri 7 Surakarta. Berdasarkan hasil penilaian tengah semester siswa menunjukkan adanya siswa yang memperoleh nilai sangat tinggi, namun sebagian siswa memperoleh nilai yang sangat rendah.

Nilai tertinggi yang diperoleh siswa adalah 100, sedangkan nilai terendah yaitu 35. Berdasarkan hasil tersebut terdapat kesenjangan yang besar antara siswa satu dengan lainnya. Adanya perbedaan yang besar dapat disebabkan kesulitan dalam pembelajaran secara jarak jauh atau belajar di rumah dikarenakan perbedaan kondisi antara di rumah dengan di dalam kelas, siswa cenderung menjadi malas dan tidak aktif dalam mengikuti pembelajaran. Oleh karena itu, dalam pembelajaran jarak jauh siswa harus dapat mandiri dalam belajar.

Pembelajaran jarak jauh dapat dipengaruhi berbagai faktor karena perbedaan karakteristik dengan kegiatan pembelajaran tatap muka. Berdasarkan

(2)

2

pernyataan Slameto (Syafi‟i, Mardiyanto, & Rodiyah, 2018: 121) pelaksanaan pembelajaran dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, pengelompokan faktor tersebut dapat digolongkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Kondisi jasmani, psikologi, serta kelelahan siswa merupakan faktor dari dalam diri siswa atau disebut faktor internal, sedangkan faktor dari luar siswa atau disebut faktor eksternal misalnya keadaan keluarga, masyarakat, dan sekolah.

Faktor internal timbul dari dalam diri siswa itu sendiri. Bentuk faktor internal salah satunya adalah motivasi belajar siswa. Karena pembelajaran mandiri, dalam kelangsungan proses pembelajaran siswa tidak lepas dari peran penting motivasi belajarnya. Dengan motivasi belajar besar, siswa akan terdorong oleh kemauan yang timbul dalam dirinya untuk dapat menyelesaikan kesulitan belajar yang ia hadapi. Dengan demikian siswa sanggup untuk belajar sendiri (Basuki, 2015). Namun, dalam pembelajaran daring dapat ditemui siswa yang tidak aktif dalam mengikuti pembelajaran. Contoh tindakan siswa yang mencerminkan hal ini antaran lain keterlambatan bergabung dalam kelas daring, siswa pasif pada kegiatan pembelajaran yang melibatkan tanya-jawab, dan siswa terlambat dalam mengumpulkan tugas atau tidak mengumpulkan sama sekali.

Di sisi lain, faktor yang asalnya dari suasana baik fisik maupun non-fisik di sekitar siswa dikenal sebagai faktor eksternal. Karena pembelajaran jarak jauh dilakukan secara daring di rumah maka lingkungan terdekat siswa adalah keluarga. Karena itulah peran keluarga, terutama orang tua yang merupakan lingkungan belajar terdekat siswa sangat penting. Tingkat pendidikan yang berbeda-beda pada orang tua siswa akan memengaruhi pola pikir dan pengarahan yang diberikan untuk pendidikan anaknya. Melalui pendidikan tinggi yang telah dijalani, orang tua dapat mempunyai pola pikir terbuka dan dapat melengkapi wawasan dalam mendidik anak (Supandi, 2019). Terkait peran orang tua, Matus (2016: 139) berpendapat, “Orang tua siswa yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi biasanya memiliki cita-cita yang tinggi bagi pendidikan anak mereka, sehingga mempengaruhi perhatian orang tua terhadap keberhasilan anaknya di sekolah”.

(3)

3

Kemampuan berpikir kritis diharapkan dapat dilatih sejak masa sekolah, namun akibat pandemi Covid-19 yang mengharuskan siswa untuk belajar dari rumah secara daring, pendampingan belajar siswa menjadi kurang maksimal sehingga sulit untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Dikutip dari Potts, 1994 untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa dapat dilakukan dengan cara membuat kategori, menentukan masalah, dan mengembangkan lingkungan atau suasana yang mendukung (Potts, 1994). Di sisi lain, penelitian oleh Holmes, et.al, 2015 mengajarkan kemampuan berpikir kritis dengan cara membandingkan antara beberapa kelompok yang diberikan perlakuan tertentu dan bagaimana dampak dari perlakuan tersebut (Holmes, Wieman, &

Bonn, 2015). Dalam mengajarkan kemampuan berpikir kritis diperlukan penyusunan materi pembelajaran serta strategi yang sesuai.

Kemampuan berpikir kritis merupakan keahlian yang perlu dimiliki siswa, maka diperlukan pengukuran kemampuan ini untuk mengetahui bagaimana tingkat kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran fisika serta faktor apa saja yang mempengaruhinya, terutama pada masa pembelajaran daring.

Berdasarkan penelitian oleh Susilawati, dkk menunjukkan siswa dengan keterampilan berpikir kritis dalam kategori sedang sebanyak 21%, kategori rendah 64%, dan kategori sangat rendah 15% (Susilawati, dkk., 2020). Penelitian oleh Arini dan Juliadi menunjukkan siswa dengan kemampuan berpikir kritis kelompok tinggi adalah sebanyak 14,28%, kelompok sedang sebanyak 31,43%

siswa, kelompok rendah sebanyak 22,86% siswa, dan 31,43% siswa termasuk dalam kelompok sangat rendah (Arini & Juliadi, 2018). Demikian pula dengan penelitian oleh Rahayu, dkk yang menunjukkan kemampuan berpikir kritis 18,63% siswa sangat tinggi, 42,16% siswa tinggi, dan 29,41% siswa sedang, dan 9,80% siswa rendah (Rahayu, Harijanto, & Lesmono, 2018). Berdasarkan rujukan terhadap penelitian terdahulu yang sudah diungkapkan, siswa mempunyai tingkat kemampuan berpikir kritis yang beragam. Keadaan tersebut dipengaruhi faktor- faktor baik eksternal ataupun internal.

Dari penelitian terdahulu yang telah diungkapkan, pengukuran kemampuan berpikir kritis siswa dilaksanakan pada masa pembelajaran reguler

(4)

4

(langsung), maka dari itu perlu dilakukan pengukuran pada masa pembelajaran daring untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa pada masa ini. Selain itu, penelitian-penelitian sebelumnya hanya menunjukkan pengaruh salah satu fakor terhadap kemampuan berpikir kritis, maka dari itu dilaksanakan penelitian ini yang menunjukkan pengaruh dua faktor secara bersama-sama. Oleh karena itu, untuk mencari tahu bagaimana hubungan antara faktor eksternal dan internal dengan kemampuan berpikir kritis siswa, hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dan motivasi belajar siswa dengan kemampuan berpikir kritis siswa perlu diteliti.

B. Identifikasi Masalah

Merujuk pada latar belakang yang telah diuraikan, permasalahan yang timbul dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Motivasi belajar siswa yang kurang dapat mempengaruhi kegiatan pembelajaran.

2. Lingkungan terdekat saat siswa mengikuti pembelajaran daring adalah orang tua, di mana setiap dari mereka memiliki tingkat pendidikan berbeda sehingga pendampingan belajar yang diperoleh tiap siswa kurang merata.

3. Dalam pembelajaran jarak jauh (pembelajaran daring), siswa kurang menunjukkan sikap aktif ketika mengikuti pembelajaran yang akan mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa.

C. Pembatasan Masalah

Permasalahan yang telah diuraikan di atas perlu dibatasi untuk memfokuskan penelitian. Pembatasan masalah dikhususkan pada dua faktor yaitu tingkat pendidikan orang tua dan motivasi belajar siswa terhadap kemampuan berpikir kritis siswa mata pelajaran fisika khususnya pada materi usaha dan energi. Pemilihan faktor-faktor ini berdasarkan pertimbangan orang tua sebagai lingkungan belajar terdekat siswa di rumah, serta motivasi belajar siswa yang pada penelitian-penelitian sebelumnya berhubungan erat dengan kemampuan

(5)

5

berpikir kritis siswa. Pemilihan materi pokok usaha dan energi disesuaikan pada kurikulum kelas X SMA pada semester genap.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah yang telah diuraikan, dibuat rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua dengan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X MIPA SMA Negeri di Surakarta tahun ajaran 2020/2021?

2. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar siswa dengan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X MIPA SMA Negeri di Surakarta tahun ajaran 2020/2021?

3. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua dan motivasi belajar siswa terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X MIPA SMA Negeri di Surakarta tahun ajaran 2020/2021?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang diuraikan, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X MIPA SMA Negeri di Surakarta tahun ajaran 2020/2021.

2. Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang signifikan antara motivasi belajar siswa terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X MIPA SMA Negeri di Surakarta tahun ajaran 2020/2021.

3. Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua dan motivasi belajar siswa terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X MIPA SMA Negeri di Surakarta tahun ajaran 2020/2021.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teori maupun praktik antara lain:

(6)

6

1. Manfaat Teoretis

a. Memberikan informasi mengenai hubungan antara kondisi tingkat pendidikan orang tua dan motivasi belajar siswa dengan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran fisika.

b. Memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan terutama pada bidang pendidikan dan pengajaran serta menambah referensi bagi penelitian serupa tentang faktor yang berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis khusunya pada mata pelajaran fisika di masa yang akan datang.

2. Manfaat Praktis a. Bagi guru

- Memberikan pertimbangan kepada guru mengenai pentingnya faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa dilihat berdasarkan pengaruh tingkat pendidikan orang tua dan motivasi belajar siswa.

- Memberikan pertimbangan kepada guru untuk memberikan perhatian lebih terhadap kondisi yang berbeda-beda pada tiap siswa.

b. Bagi sekolah

Sebagai informasi kondisi faktual kemampuan berpikir kritis siswa.

Melalui informasi ini, diharapkan sekolah dapat menerapkan kebijakan yang selaras dengan perkembangan masyarakat pendidikan khususnya di lingkungan sekolah.

Referensi

Dokumen terkait

(2) Permohonan pembetulan, pengurangan ketetapan, penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi dan pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini harus disampaikan

Berdasarkan perhitungan jarak genetik dari ketiga lokasi pengambilan ikan Kelabau yang berbeda di Kalimantan Barat, diperoleh nilai jarak genetik terdekat adalah antara

Antara sebab utama wujudnya jurang pendapatan yang agak luas di antara kawasan luar bandar dan kawasan bandar di Koridor Utara adalah kerana aktiviti-aktiviti ekonomi yang

didefinisikan sebagai lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang. HLS dapat digunakan untuk

Penelitian ini merupakan tugas akhir pada Program Studi Magister Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara dengan judul: “Pengaruh

Hasil peramalan dengan tingkat kesalahan yang lebih kecil dari kedua metode JST tersebut akan menunjukkan bahwa metode tersebut baik digunakan untuk

(6) Dalam hal ketentuan mengenai persyaratan intensitas Bangunan Gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum ditetapkan, maka ketentuan mengenai persyaratan intensitas

Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampaui tanpa ada penetapan, Presiden berwenang mengangkat Hakim Agung dari calon yang diajukan Komisi Yudisial