• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1.1 Latar Belakang

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan dengan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat setiap tahunnya. Pertumbuhan penduduk tersebut dapat terlihat dari catatan Sensus Penduduk (SP) yang diperoleh dari tahun 1930 hingga tahun 20051. Pada Tabel 1, ditunjukkan data penduduk Indonesia dari tahun 1930 sampai 2005, dimana pada setiap pelaksanaan sensus, yaitu 10 tahun sekali penduduk Indonesia selalu meningkat.

Menurut Suyono dan Rohadi (2007), peningkatan penduduk yang terus bertambah membuat pemerintah khawatir akan peningkatan kematian ibu hamil, kematian bayi dan anak, penyebaran penyakit menular, dan gizi anak yang buruk.

Setiap masalah tersebut akan berdampak pada mutu manusia yang rendah dan pemutusan sekolah. Hal ini mengakibatkan keluarga dan pemuda tidak dapat mempergunakan kesempatan yang terbuka dengan baik. Ketidakmampuan ini bukan karena keluarga dan pemuda tidak mahir serta terampil tetapi sukarnya mendapatkan modal. Oleh karena itu, Yayasan Damandiri yang dalam visi dan misinya memiliki kepedulian dan komitmen yang tinggi terhadap pengembangan sumber daya manusia, khususnya melalui pemberdayaan keluarga dengan prioritas pada pengentasan kemiskinan, meningkatkan inisiatif untuk memelopori dan menganjurkan pembentukan Pos Pemberdayaan Keluarga, yang disingkat Posdaya. Pembangunan manusia dan keluarga tidak saja menjadi tanggung jawab dan monopoli pemerintah, namun memerlukan kerjasama dan partisipasi masyarakat (Suyono dan Rohadi, 2007).

1 Diakses dari http://www.datastatistik-

indonesia.com/component/option,com_tabel/kat,1/idtabel,111/itemid,164/ pada tanggal 30 Desember 2010.

(2)

Tabel 1. Data Penduduk Indonesia Tahun 1930-2005

Provinsi Penduduk (Juta)

1930 1961 1971 1980 1985 1990 1995 2000 2005 1. Jawa dan Madura 41.7 63.0 76.1 91.3 99.9 107.6 114.7 121.3 128.5 2. Sumatera 8.2 15.7 20.8 28.0 32.6 36.5 40.8 42.5 46.0 3. Kalimantan 2.2 4.1 5.2 6.7 7.7 9.1 10.5 11.3 12.1 4. Sulawesi 4.2 7.1 8.5 10.4 11.6 12.5 13.7 14.9 15.8 5. Pulau lainnya 4.6 7.1 8.6 11.1 12.3 13.7 15.0 15.1 16.5 6. Total 60.9 97.0 119.2 147.5 164.1 179.4 194.8 205.1 218.9 Sumber: BPS, berbagai publikasi

Menurut Suyono dan Rohadi (2007), Posdaya adalah forum kebersamaan yang anggotanya melakukan aktivitas nyata dalam gerakan pembangunan di lingkungan pemukiman yang paling bawah, yaitu di tingkat RT, RW, dukuh atau dusun. Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) sebagai pusat pengembangan swadaya masyarakat di tingkat akar rumput, baik di pedesaan maupun di perkotaan, yang menekankan kepada pemberdayaan keluarga dengan prioritas pada pengentasan kemiskinan. Melalui Posdaya, keluarga-keluarga sebagai anggota diarahkan untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong dan bersama-sama melakukan kegiatan pemberdayaan keluarga, terutama untuk memperluas cakupan dan meningkatkan mutu pendidikan dan pelayanan kesehatan serta untuk mengembangkan kewirausahaan.

Tujuan pemberdayaan adalah kemandirian, maka prioritas utama program yang ditawarkan adalah kesertaan seluruh keluarga yang bergabung dengan Posdaya dalam bidang ekonomi produktif. Kesertaan dalam kegiatan ekonomi ini akan menghasilkan kemandirian dalam bidang ekonomi dan mengantar partisipasi yang lebih tinggi dalam bidang pendidikan dan keterampilan, serta kesehatan dan lingkungan yang mendukung hidup lebih sejahtera (Suyono dan Rohadi, 2007).

Dalam kenyataannya, mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam program Posdaya itu sulit. Beberapa mahasiswa yang Kuliah Kerja Profesi (KKP) di Posdaya, menyebutkan bahwa sulitnya mengubah perilaku dan pengetahuan masyarakat sehingga masyarakat tidak berpartisipasi secara penuh dalam

(3)

pelaksanaan program Posdaya. Selain itu tidak sedikit Posdaya yang sudah dibentuk di Indonesia, tidak dapat berkembang dengan baik karena partisipasi dari masyarakat yang kurang, terutama Posdaya yang dibentuk oleh mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Profesi (KKP) karena sebagian besar tidak ada keberlanjutannya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat ialah kemauan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Kemauan dipengaruhi oleh motivasi untuk ikut serta dalam program Posdaya. Menurut Uno (2007) dalam Fibriana (2009), motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang untuk bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Motivasi lebih dekat pada kemauan melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan.

Motivasi dipengaruhi oleh persepsi positif dari masyarakat karena persepsi merupakan produk atau proses psikologi yang dialami seseorang setelah menerima stimuli yang mendorong tumbuhnya motivasi untuk memberikan respon melakukan atau tidak melakukan suatu kegiatan. Persepsi dapat berupa kesan, penafsiran atau penilaian berdasarkan pengalaman yang diperoleh. Dalam hubungan ini persepsi merupakan suatu proses pengambilan keputusan tentang pemahaman seseorang kaitannya dengan suatu objek, stimuli atau individu lainnya (Sudrajat, 2003 dalam Yuwono, 2006). Masyarakat akan ikut berpartisipasi dalam program Posdaya jika tujuan program Posdaya menguntungkan dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Jika program-program Posdaya berhasil maka akan menciptakan keluarga yang mandiri dan sejahtera.

Posdaya Mandiri Terpadu adalah salah satu Posdaya yang pembentukannya difasilitasi dan didampingi oleh P2SDM IPB. Posdaya Mandiri Terpadu berada di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.

Posdaya dibentuk di desa tersebut karena melihat potensi sumber daya alam yang tidak dapat dikembangkan dengan baik oleh masyarakat karena keterbatasan modal masyarakat dan pengetahuan masyarakat yang rendah. Berdasarkan data monografi Desa Cikarawang yang termasuk keluarga miskin berjumlah 777 KK.

Kemiskinan terjadi disebabkan oleh pendidikan masyarakat yang rendah sehingga

(4)

lapangan kerja buat mereka sedikit dan kesejahteraan masyarakat menurun. Oleh karena itu, P2SDM membentuk suatu forum, yaitu Posdaya Mandiri Terpadu agar masyarakat dapat melakukan aktivitas dalam gerakan pembangunan secara bergotong royong dan bekerjasama dalam mewujudkan keluarga sejahtera.

Cakupan sasaran masyarakat Posdaya Mandiri Terpadu adalah satu desa.

Cakupan ini begitu luas sehingga dikhawatirkan tidak terjalin komunikasi yang baik antara pengurus Posdaya dengan masyarakat sehingga partisipasi masyarakat berkurang dalam pelaksanaan program Posdaya. Oleh karena itu, penelitian ini melihat persepsi dan motivasi berperanserta peserta Posdaya dan menganalisis mengenai hubungan antara persepsi dan motivasi berperanserta pada peserta Posdaya Mandiri Terpadu dalam program Posdaya.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa pada penelitian ini mengkaji hubungan antara persepsi dan motivasi berperanserta peserta Posdaya dalam partisipasi melaksanakan program Posdaya.

Kemudian secara spesifik penelitian ini memusatkan perhatian pada permasalahan yang disebutkan di bawah ini:

1. Bagaimana gambaran persepsi dan motivasi berperanserta peserta Posdaya dalam Posdaya Mandiri Terpadu?

2. Bagaimana hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal peserta Posdaya dengan persepsi peserta Posdaya terhadap Posdaya Mandiri Terpadu?

3. Bagaimana hubungan antara persepsi peserta Posdaya dan motivasinya dalam berperanserta pada Posdaya Mandiri Terpadu?

1.3 Tujuan

Berdasarkan perumusan yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan dilaksanakannya penelitian ialah:

1. Mendeskripsikan persepsi dan motivasi berperanserta peserta Posdaya dalam Posdaya Mandiri Terpadu.

(5)

2. Menganalisis hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal peserta Posdaya dengan persepsi peserta Posdaya terhadap Posdaya Mandiri Terpadu.

3. Menganalisis hubungan antara persepsi peserta Posdaya dan motivasinya dalam berperanserta pada Posdaya Mandiri Terpadu.

1.4 Kegunaan Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang bermanfaat bagi:

1. Peneliti, dapat menerapkan teori-teori dan menambah pengetahuan tentang pengertian Posdaya, tujuan Posdaya, peranan Posdaya, program-program yang dilaksanakan oleh Posdaya, persepsi dan motivasi berperanserta masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam melaksanakan suatu program.

2. Kalangan akademis, penelitian ini menjadi bahan kajian lebih lanjut dari segi teoritis maupun segi praktis mengenai persepsi dan motivasi berperanserta dalam suatu program.

3. Instansi yang terkait, dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam melakukan tindakan memberikan pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat. Selain itu juga dapat memberikan manfaat bagi pembaca sebagai sumber penambah wawasan, terutama orang yang hendak meneliti tentang Posdaya atau KKP di Posdaya.

Gambar

Tabel 1. Data Penduduk Indonesia Tahun 1930-2005

Referensi

Dokumen terkait

1. Jumlah jalan poros desa yang rusak berat berjumlah satu ruas, jalan lingkungan rusak berat berjumlah 8 ruas, rusak sedang 6 ruas, jembatan rusak berat berjumlah dua

Berdasarkan hasil perhitungan analisis Location Quotient (LQ) terdapat 4 (empat) sektor yang merupakan sektor basis/potensial di propinsi Jawa Barat yaitu sektor industri

Soal 3 Bobot 2,5 Kunci Kompetensi Dasar MENGGUNAKAN ALAT UKUR WATT METER PADA TEGANGAN AC Materi.. Menerangkan terminal – terminal yang ada pada peralatan

“Analisis Pengaruh Kepemilikan Institusional, Komite Audit, Komisaris Independen, dan Audit Report Lag terhadap Integritas Laporan Keuangan (Studi Empiris pada

Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui cara model quantum teaching dalam meningkatkan pengetahuan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana gempa bumi di sekolah

Untuk Mengetahui Pengaruh Penggunaan Metode Sorogan terhadap Kemampuan Membaca Kitab Safinah Al-Najah Santri Putra Usia 13-15 Tahun Pondok Pesantren Assalafie Babakan

telah didapat pada tahap Think. 3) Aktivitas Share dilakukan secara berkelompok untuk mempresentasikan hasil kesepakatan pada tahap Pair di depan kelas. Pada tahap

Model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu model pembelajaran yang dilakukan secara bekerjasama antara anggota satu dengan yang lainnya didalam kelompok tersebut