RESUME PERPAJAKAN
BEA MATERAI
DOSEN MATAKULIAH :
ANDHIKA WAHYUDIONO, S.Pd., M.Pd
KELOMPOK 12:
MAHASISWA
HANNY USWAH / 21201749
TRI WAHYU PRIMADANI / 21201733
M. TAUFIK / 21201745
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
BANYUWANGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
ADMINISTRASI PUBLIK
BEA MATERAI A. Dasar Hukum Bea Materai
Undang-Undang tentang Bea Meterai diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 10 tahun 2020 tentang Bea Meterai. UU 10 tahun 2020 tentang Bea Meterai mencabut Undang-Undang Nomor 13 tahun 1985 tentang Bea Meterai. UU 13 tahun 1985 tentang Bea Meterai memang sudah berusia 35 tahun, dan sebelum ada UU 13 tahun 1985 tentang Bea Meterai pengaturan Meterai dilaksanakan dengan aturan yang lebih renta lagi yaitu Aturan Bea Meterai 1921 (Zegelverordening 1921 ) (Staatsblad Tahun 1921 Nomor 498) yang tentu sahaja telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 2 Prp Tahun 1965 (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 121), yang telah ditetapkan menjadi Undang-undang dengan Undang-undang Nomor 7 tahun 1969 (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 38).
UU 10 tahun 2020 tentang Bea Meterai memiliki pertimbangan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman yaitu perkembangan teknologi dan komunikasi serta kelaziman internasional dalam kegiatan perekonomian, perlu dibuat ketentuan perundang-undangan yang memberikan kemudahan dan ketertiban administratif dalam pengelolaan dan pengawasan penerimaan perpajakan. Selain tentu saja agar tata cara perpajakan dan pendapatan negara dalam hal Bea Meterai dapat lebih optimal, transparan, paperless dan progresif.
Bea Meterai menurut Undang-Undang Nomor 10 tahun 2020 tentang Bea Meterai adalah pajak atas Dokumen. Dokumen adalah sesuatu yang ditulis atau tulisan, dalam bentuk tulisan tangan, cetakan, atau elektronik, yang dapat dipakai sebagai alat bukti atau keterangan (kertas dan bukan kertas). Meterai adalah label atau carik dalam bentuk tempel, elektronik, atau bentuk lainnya yang memiliki ciri dan mengandung unsur pengaman yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, yang digunakan untuk membayar pajak atas Dokumen.
Pertimbangan Undang-Undang Nomor 10 tahun 2020 tentang Bea Meterai, adalah:
a. bahwa untuk meningkatkan peran serta masyarakat sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban kewarganegaraan secara berkeadilan dan untuk mengoptimalkan
penerimaan negara, perlu upaya penghimpunan dana pembiayaan yang memadai dan mandiri untuk melaksanakan pembangunan nasional, yang bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
b. bahwa untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan komunikasi serta kelaziman internasional dalam kegiatan perekonomian, perlu dibuat ketentuan perundang-undangan yang memberikan kemudahan dan ketertiban administratif dalam pengelolaan dan pengawasan penerimaan perpajakan;
c. bahwa Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan hukum, kebutuhan masyarakat, dan kebutuhan tata kelola Bea Meterai sehingga perlu diganti;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Bea Meterai;
Berikut adalah isi UU 10 tahun 2020 tentang Bea Meterai, bukan format asli:
UNDANG-UNDANG TENTANG BEA METERAI BAB I KETENTUAN UMUM Pasal Pasal Pasal Pasal 1111 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Bea Meterai adalah pajak atas Dokumen.
2. Dokumen adalah sesuatu yang ditulis atau tulisan, dalam bentuk tulisan tangan, cetakan, atau elektronik, yang dapat dipakai sebagai alat bukti atau keterangan.
3. Tanda Tangan adalah tanda sebagai lambang nama sebagaimana lazimnya dipergunakan, termasuk paraf, teraan atau cap tanda tangan atau cap paraf, teraan atau cap nama, atau tanda lainnya sebagai pengganti tanda tangan, atau tanda tangan elektronik sebagaimana dimaksud dalam undang-undang di bidang informasi dan transaksi elektronik.
4. Meterai adalah label atau carik dalam bentuk tempel, elektronik, atau bentuk lainnya yang memiliki ciri dan mengandung unsur pengaman yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, yang digunakan untuk membayar pajak atas Dokumen.
5. Pihak Yang Terutang adalah pihak yang dikenai Bea Meterai dan wajib membayar Bea Meterai yang terutang.
6. Pemeteraian Kemudian adalah pemeteraian yang memerlukan pengesahan dari pejabat yang ditetapkan oleh Menteri.
7. Setiap Orang adalah orang perseorangan dan/atau badan, baik yang berbentuk badan hukum maupun tidak berbadan hukum.
8. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan.
Pasal Pasal Pasal Pasal 2222
1. Pengaturan Bea Meterai dilaksanakan berdasarkan asas: a. kesederhanaan;
b. efisiensi; c. keadilan;
d. kepastian hukum; dan e. kemanfaatan.
2. Pengaturan Bea Meterai bertujuan untuk:
a. mengoptimalkan penerimaan negara guna membiayai pembangunan nasional secara mandiri menuju masyarakat Indonesia yang sejahtera;
b. memberikan kepastian hukum dalam pemungutan Bea Meterai; c. menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat;
d. menerapkan pengenaan Bea Meterai secara lebih adil; dan
e. menyelaraskan ketentuan Bea Meterai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
BAB II
PENGERTIAN BEA MATERAI
Bea materai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen yang besifat perdata untuk digunakan di pengadilan.dikenai bea materai antara lain adalah dokumen yang berbentuk surat yang memuat jumlah uang, dokumen yang bersifat perdata, dan dokumen yang digunakan di muka pengadilan misalnya dokumen kontrak
pengadaan meja kursi kantor, dokumen perjanjian pembanagunan gedung kantor dengan pengusaha jasa konstruksi, dan dokumen kontrak pengadaan jaga tenaga kebersihan. Nilai bea materai yang berlaku saat ini Rp. 3.000,00 dan Rp. 6.000.00 yang disesuaikan dengan nilai dokumen dan penggunaam dokumen. Bea materai tidak diperlukan nomor identitas baik untuk wajib pajak maupun objek pajak. Pembayaran bea materai terjadi terbelih dahulu daripada saat terutang. Waktu pembayaran dapat dilakukan secara isidentil dan tidak terikat waktu.
OBJEK, TARIF, DAN SAAT TERUTANG BEA METERAI Bagian Kesatu
Objek Bea Meterai Pasal 3 1. Bea Meterai dikenakan atas:
a. Dokumen yang dibuat sebagai alat untuk menerangkan mengenai suatu kejadian yang bersifat perdata; dan
b. Dokumen yang digunakan sebagai alat bukti di pengadilan.
2. Dokumen yang bersifat perdata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi: a. surat perjanjian, surat keterangan, surat pernyataan, atau surat lainnya yang
sejenis, beserta rangkapnya;
b. akta notaris beserta grosse, salinan, dan kutipannya;
c. akta Pejabat Pembuat Akta Tanah beserta salinan dan kutipannya; d. surat berharga dengan nama dan dalam bentuk apa pun;
e. Dokumen transaksi surat berharga, termasuk Dokumen transaksi kontrak berjangka, dengan nama dan dalam bentuk apa pun;
f. Dokumen lelang yang berupa kutipan risalah lelang, minuta risalah lelang, salinan risalah lelang, dan grosse risalah lelang;
g. Dokumen yang menyatakan jumlah uang dengan nilai nominal lebih dari Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) yang
h. Dokumen lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Bagian Kedua Tarif Bea Meterai
Pasal Pasal Pasal Pasal 5555
Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dikenai Bea Meterai dengan tarif tetap sebesar Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah).
Pasal Pasal Pasal Pasal 6666
1. Besarnya batas nilai nominal Dokumen yang dikenai Bea Meterai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf g dapat diturunkan atau dinaikkan sesuai dengan kondisi perekonomian nasional dan tingkat pendapatan masyarakat.
2. Besarnya tarif Bea Meterai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dapat diturunkan atau dinaikkan sesuai dengan kondisi perekonomian nasional dan tingkat pendapatan masyarakat.
3. Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dapat dikenai Bea Meterai dengan tarif tetap yang berbeda dalam rangka melaksanakan program pemerintah dan mendukung pelaksanaan kebijakan moneter dan/atau sektor keuangan.
4. Perubahan besarnya batas nilai nominal Dokumen yang dikenai Bea Meterai sebagaimana dimaksud pada ayat (1), besarnya tarif Bea Meterai sebagaimana dimaksud pada ayat (2), atau Dokumen dan besaran tarif tetap yang berbeda sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Pasal Pasal Pasal Pasal 7777 Bea Meterai tidak dikenakan atas Dokumen yang berupa:
a. Dokumen yang terkait lalu lintas orang dan barang: 1. surat penyimpanan barang;
2. konosemen;
3. surat angkutan penumpang dan barang;
4. bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang;
5. surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim; dan
6. surat lainnya yang dapat dipersamakan dengan surat sebagaimana dimaksud pada angka 1 sampai dengan angka 5;
b. segala bentuk ijazah;
c. tanda terima pembayaran gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan pembayaran lainnya yang berkaitan dengan hubungan kerja, serta surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran dimaksud;
d. tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara, kas pemerintah daerah, bank, dan lembaga lainnya yang ditunjuk oleh negara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan ;
e. tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara, kas pemerintah daerah, bank, dan lembaga lainnya yang ditunjuk oleh negara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan ;
f. kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu yang berasal dari kas negara, kas pemerintahan daerah, bank, dan lembaga lainnya yang ditunjuk berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan;
g. tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi;
h. Dokumen yang menyebutkan simpanan uang atau surat berharga, pembayaran uang simpanan kepada penyimpan oleh bank, koperasi, dan badan lainnya yang menyelenggarakan penyimpanan uang, atau pengeluaran surat berharga oleh kustodian kepada nasabah;
i. surat gadai;
j. tanda pembagian keuntungan, bunga, atau imbal hasil dari surat berharga, dengan nama dan dalam bentuk apa pun; dan
k. Dokumen yang diterbitkan datau dihasilkan oleh Bank Indonesia dalam rangka pelaksanaan kebijakan moneter.
Bagian Ketiga
Saat Terutang Bea Meterai Pasal
Pasal Pasal Pasal 8888 1. Bea Meterai terutang pada saat:
a. Dokumen dibubuhi Tanda Tangan, untuk:
1. surat perjanjian beserta rangkapnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a;
2. akta notaris beserta grosse, salinan, dan kutipannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf b; dan
3. akta Pejabat Pembuat Akta Tanah beserta salinan dan kutipannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf c.
b. Dokumen selesai dibuat, untuk:
1. surat berharga dengan nama dan dalam bentuk apa pun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf d; dan
2. Dokumen transaksi surat berharga, termasuk Dokumen transaksi kontrak berjangka, dengan nama dan dalam bentuk apa pun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf e.
3. Dokumen diserahkan kepada pihak untuk siapa Dokumen tersebut dibuat, untuk: surat keterangan, surat pernyataan, atau surat lainnya yang sejenis, beserta rangkapnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a; Dokumen lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf f; dan Dokumen yang menyatakan jumlah uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf g.
4. Dokumen diajukan ke pengadilan, untuk Dokumen yang digunakan sebagai alat bukti di pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b.
5. Dokumen digunakan di Indonesia, untuk Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) yang dibuat di luar negeri.
BAB III
PIHAK YANG TERUTANG DAN PEMUNGUT BEA METERAI Bagian Kesatu
Pihak Yang Terutang Bea Meterai Pasal
Pasal Pasal Pasal 9999
1. Dokumen yang dibuat sepihak, Bea Meterai terutang oleh pihak yang menerima Dokumen.
2. Dokumen yang dibuat oleh 2 (dua) pihak atau lebih, Bea Meterai terutang oleh masing-masing pihak atas Dokumen yang diterimanya.
3. Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Dokumen berupa surat berharga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf d, Bea Meterai terutang oleh pihak yang menerbitkan surat berharga.
4. Dokumen yang digunakan sebagai alat bukti di pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b, Bea Meterai terutang oleh pihak yang mengajukan Dokumen.
5. Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 yang dibuat di luar negeri dan digunakan di Indonesia, Bea Meterai terutang oleh pihak yang menerima manfaat atas Dokumen.
6. Ketentuan Pihak Yang Terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) tidak menghalangi pihak atau para pihak untuk bersepakat atau menentukan mengenai pihak yang membayar Bea Meterai.
Bagian Kedua Pemungut Bea Meterai
Pasal Pasal PasalPasal 10101010
1. Pemungutan Bea Meterai yang terutang atas Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) dapat dilakukan oleh pemungut Bea Meterai.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan pemungut Bea Meterai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Menteri.
Pasal Pasal PasalPasal 11111111 1. Pemungut Bea Meterai wajib:
a. memungut Bea Meterai yang terutang atas Dokumen tertentu dari Pihak Yang Terutang;
b. menyetorkan Bea Meterai ke kas negara; dan
c. melaporkan pemungutan dan penyetoran Bea Meterai ke kantor Direktorat Jenderal Pajak.
2. Pemungut Bea Meterai yang tidak melaksanakan kewajiban pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan/atau huruf b, diterbitkan surat ketetapan pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang ketentuan umum dan tata cara perpajakan.
B. Pengertian Bea Materai
1. Bea Materai Termasuk Pajak
Bea materai termasuk pajak yaitu pajak atas dokumen. Tidak semua dokumen menjadi objek dan sasaran pengenaan Bea Materai. Jadi pengenaannya terhadap dokumen terbatas hanya kepada dokumen yang disebutkan dalam perundang-undangan perpajakan. Dokumen sendiri diartikan sebagai kertas yang berisikan tulisan yang mengandungg arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan / pernyataan bagi serorang dan/ pihak-pihak yang berkepentingan. Sedangkan pengertian Benda Materai menurut ketentuan peraturan yang berlaku adalah materai tempel dan kertas materai yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Suatu dokumen yang telah diberi Bea Materai, sesuaii dengan kondisi masyarakat baru berlaku bila telah ditandatangani. Tandatangan sebagai mana lazimnya dipergunakan, termasuk pula parap, teraan atau cap tandatangan atau cap parap, cap nama atau tanda lainya sebbagai pengganti tandatangan. Suatu dokumen dapat dilakukan pemateraian kemudian yaitu suatu cap pelunasan Bea Materai yang dialkukan oleh pejabat Pos atas permintaan pemegang dokumen yang Bea Materainya dilunasi sebagaimana mestinya. Pemateraian kemudian ini, sesuai dengan ketentuan undang-undangnya dapat dilakukan oleh pejabat Pos dan Giro (sekarang PT Pos Indonesia) yang diserahi tugas melayani permintaan pemateraian.
2. Perubahan
Undang-undang No 13 Tahun 1985 yang mengatur tentang Bea Materai ini, tidak banyak mengalami perubahan seperti pada UU perpajakan lainya.
Perbuahan yang terjadi sesuai denggan peraturan permerintah Nomor 7 Tahun 1995 Tentang Perubahan Tarif Bea Materai dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 182/KMK. 04/1995 tanggal 1 Mei 1995 yaitu :
· Tarif atas dokumen yang semula dikenakan Bea Materai. Tarif yang semula dikenakan bea materai sebesar Rp. 500,00 berubah menjadi Rp. 1000,00. Tarif tunggal atas cek dan bilyat dan giro yang yang semula
dikenakan Bea Materai sebesar Rp. 500,00 berubah menjadi Rp. 1000,00 tanpa batas pengenaan besarnya nominal; perubahan Batasan harga nominal dokumen tidak terutang Bea Materai semula tidak lebih dari Rp. 100.000,00 berubah tidak lebih dari Rp. 250.000,00.
· Perubahan bentuk, ukuran, warna, dan jenis kertas materai tempel; pengelola dan penjual Benda Materai adalah perum Pos dan Giro (sekarang PT Pos Indonesia) dan penjual benda materai adalah PT Bank Rakyat Indonesia (persero); perubahan untuk semua dokumen sudah harus dibubuhi materai sesuai dengan Peraturan Pemerintah tersebut diatas terhitung sejak tanggal 16 Mei 1995.
C. Objek dan Tarif Bea Materai
Objek atau dokumen yang dikenakan Bea Materai dapat dikumpulkan dalam 3 (tiga) kelompok yaitu :
1. Kelompok Dokumen Tidak Terkait Nilai Nominal.
Kelompomk dokumen yan tidak dikaitkkan dengan besarnya nilai nominal yang tercantum dalam dokumen, yang terutang Bea Materai sebesar Rp. 2.000,00. a. Surat perjanjian dan suarat-surat lainya yang dibuat dengan tujuan untuk
digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata.
b. Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangkap-rangkapnya.
c. Akata-akta notaris termasuk salinannya.
d. Dokumen yang dikunakan sebagai alat pembuktian dimuka pengadilan : - Surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggan
- Surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Materai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujun lain atau digunkan oleh orang lain, lain dari maksud semula.
2. Kelompok Dokumen Yang Terkait Nilai Nominal.
Kelompok dokumen yang dikaitkan dengan besarnya nilai nominal yang tercantum dalam dokumen, yang terutang Bea Materai Sebesar Rp. 2000,00. a. Surat yang memuat jumlah uang lebih dari Rp. 1.000.000,00
- Yang menyebutkan penerimaan uang
- Yang menyatakan pembukaan uang atau penyimpanan uang dalam rekening Bank.
- Yang berisi pemberitahuan saldo rekening Bank
- Yang berisi pengakuan bahwa utang uang seharusnya dilunasi atau diperhitungkan.
b. Surat berharga seperti wese, promes, dan aksep, yang bernilai lebih dari Rp. 1.000.000,00
c. Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun, sepanjang harga nominalnya lebih dari Rp. 1.000.000,00
3. Kelompok Dokumen Terutang Bea Materai Tetap
Kelompok dokumen yang tanpa batas pengenaan bbesarnya nilai nominal, yang terutang Bea Materai sebesar Rp. 1000,00. Termasuk dalam kelompok ini adalah cek dan bilyet giro yang ditarik berapapun besarnya, terutang Bea Materai Tetap Sebesar Rp. 1.000,00.
D. Tidak Terutang Bea Materai
Dokumen yang tidak terutang Bea Materai adalah semua dokumen pada dasarnya dikaitkan dengan tujuan penggunaan atau pemakaian dari dokumen tersebut. Sepanjang tujuan penggunaanya atau pemakaianya tidak berubah atau tidak digunakan oleh orang lain, lain dari maksud semula arau tidak digunakan sebagai alat pembuktian dimuka pengadilan, maka atas dokumen tersebut harus dibubuhi Bea Materai sebesar Rp. 2.000,00. Pembubuhan Bea Materai tersebut dilakukan dengan cara pemateraian kemudian tanpa dikenakan sanksi berupa denda sebesar 200%.
Dokumen yang termasuk kelompok yang tidak terutang Bea Materai adalah sebagai berikut :
1. Dokumen yang berupa : - Surat penyimpanan barang - Konosemen
- Surat angkutan penumpang dan barang
- Keterangan pemindahan yang dituliskan diatas - Bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang
- Surat pnegirirman barang untuk dijual atas tanggungan pengiriman - Surat-surat lainya yang dapat disamakan dengan surat-surat lainya 2. Segala bentuk ijazah
3. Tanda terima gaji, uang tunggu, pension, uang tunjangan dan pembayaran lainya yang ada kaitanyya dengan hubugan kerja serta surat-surat yang diserahkan untuk mendapata pembayaran.
4. Tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara, kas pemerintah daerah dan Bank
5. Kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainya yang dapat disamakan dengan itu dari kas negara, kas pemerintah daerah, dan Bank 6. Tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi 7. Dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uanga tabungan
kepada penabung oleh Bank, koperasi dan badan-badanlainya yang bergerak dibidang tersebut.
9. Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek dengan nama dan dalam bentuk apapun.
E. Saat Terutang Bea Materai
Saat terutang bea materai atas dokumen yang digunakan dalam lalu lintas, ditentukan dalam hal :
1. Dokumen yang dibuat oleh satu pihak adalah pada saat dokumen itu diserahkan. Dalam hal dokumen itu dibuat oleh pihak seperti kuitansi, cek, dan sejenisnya terutang adalah saat dokumen itu diserahkan dan diterima oleh pihak untuk siapa dokumen itu dibuat. Saat itulah dokumen itu terutang Bea Materai dan bukan saat dokumen ditandatangani.
2. Dokumenyang dibuat oleh lebih dari satu pihak adalah pada saat selesainya dokumen itu dibuat.
Dalam hal dokumen dibuat lebih dari satu pihak seperti perjanjian jual-beli, sewa-menyewa dan lain sejenisnya. Saat terutang bea materai adalah pada saat dokumen itu selesai dibuat dalam arti selesai ditanda tangani oleh yang bersangkutan.
3. Dokumen yang dibuat diluar negeri adalah pada saat digunakan di Indonesia. Suatu dokumen yang dibuat diluar negeri, kemudian dibawa ke Indonesia dan pada saat itu belum akan digunakan atau masihh disimpan, maka atas dokumen itu belum akan digunakan atau masih disimpan, maka atas dokumen itu belum terutang Bea Materai. Caranya dengan membawa dokumen tersebut ke kantor pos untuk dilakukan oemeteraian kemudian tanpa dikenakan denda.
Bea materai terutang oleh pihak yng menerima atau pihak yang mendapata manfaat dari dokumen, kecuali pihak atau pihak-piihak yang bersangkutan menentukan lain. Dalam hal dokumen dibuat sepihak, seperti pembuatan kuitansi, maka bea materai terutang oleh sipenerima kuitansi. Dalam hal dokumen dibuat 2 (dua) pihak atau lebih, seperti contoh surat perjanjian dibawah tangan maka masing-masing pihak terutang bea materai atas dokumen yang diterimanya.
Jika surat perjanjian dibuat dengan akta notaris, maka bea materai yang terutang bai katas asli sahih yang disimpan oleh notaris maupun salinanya yang diperuntukan pihak-pihak yang bersangkutan oleh pihak-pihakyang mendapat manfaat dari dokimen tersebut yaitu pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Seandainya pihak atau pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain, maka bea bea materai terutang oleh pihak atau pihak-pihak yang ditentukan dalam dokumen
tersebut yaitu ditanggung oleh satu orang tertentu yang secara tegas disebutkan alam perjanjian.
F. Tata Cara Pelunasan
Pada umunya Bea Materai atas dokumen dilunasi dengan materai emurut tarif yang ditentukan dalam UU Bea materai. Di samping itu dengan keputusan Menteri keuangan dapat ditetapkan cara lain pelunasan bea materai. Tata cara pelunasan bea materai yang saat ini telah dipergunakan adalah dengan cara :
1. Menggunakan benda materai (materai tempel dan kertas materai)
2. Menggunakan mesin teraan untuk membubuhkan tanda tera sebagai pengganti benda materai diatas dokumen
3. Menggunakan pencetakan “lunas bea materai” atas dokumen yang akan digunakan.
4. Menggunakan komputerisasi yang dicetak pada surat tagihan PT perusahaan listrik negara, perusahaan daerah air minum, dan PT Telkom kepada para pelangganya.
G. Sanksi Perpajakan
Apabila bea materai tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya maka akan dikenakan denda administrasi sebesar 200% dari bea materai yang tidak tau kurang dibayar. Cara pelunasan bea materai atas dokumen tersebut tidak dibenarkan dilakukan sendiri oleh pemegang dokumen, tetapi harus dilunasi dengan pemeteraian kemudian oleh pejabat kantos pos dan giro (sekarang PT pos Indonesia). Pemeteraian kemudian tersebut dilakukan atas pokok bea materai ditambah dengan denda sebesar 200% dan harus dilunasi sekaligus pada waktu bersamaan.
H. Penggunaan Dan Pelunasan Bea Materai
Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea Materai, disebutkan kalau fungsi materai adalah pajak dokumen yang dibebankan oleh negara untuk dokumen tertentu. Jadi pada dasarnya, bea meterai adalah pajak atau objek
pemasukan kas negara yang dihimpun dari dana masyarakat yang dikenakan terhadap dokumen tertentu.
Karena itu, dokumen berharga yang dibubuhi meterai akan dianggap sah selama memenuhi ketentuan pasal 1320 KUHPerdata. Jika dokumen tersebut ingin digunakan sebagai alat bukti di pengadilan, harus dilunasi bea meterai yang terutang.
Namun, bukan berarti setiap dokumen perlu dibubuhi meterai, kok. Jika tidak dibubuhi meterai, tidak akan menjadikannya sebagai tidak sah. Tetapi, dokumen itu tidak dapat digunakan sebagai alat bukti di pengadilan.
I. Nilai Materai Dan Perbedaan Penggunaannya :
Mungkin Anda sering melihat salah satu persyaratan dalam pembuatan dokumen berharga adalah materai Rp6.000. Tapi tahukah kalau nilai bea materai itu ada lebih dari 1 dengan penggunaannya pada dokumen yang berbeda-beda? Berdasarkan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2000, berikut tarif bea materai dan perbedaan penggunaannya:
Nilai Meterai Rp6.000
· Dokumen yang disebutkan pada poin sebelumnya (poin 1-6).
· Surat yang memuat jumlah uang (poin nomor 4) dan surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep (poin nomor 5) yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp1.000.000 (satu juta rupiah).
· Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal lebih dari Rp1.000.000.
· Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal lebih dari Rp1.000.000.
Nilai Meterai Rp3.000
· Surat yang memuat jumlah uang (poin nomor 4) dan surat berharga seperti wesel, promes, dan aksep (poin nomor 5) yang mempunyai harga nominal lebih dari
Rp250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) sampai dengan Rp1.000.000 (satu juta rupiah).
· Cek dan bilyet giro tanpa batas pengenaan besarnya harga nominal.
· Efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang mempunyai harga nominal sampai dengan Rp1.000.000.
· Sekumpulan efek dengan nama dan dalam bentuk apapun yang tercantum dalam surat kolektif yang mempunyai jumlah harga nominal sampai dengan Rp1.000.000.
J. KETENTUAN KHUSUS
Dokumen yang dibuat di luar negeri pada saat digunakan di Indonesia harus telah dilunasi Bea Meterai yang terutang dengan cara pemeteraian kemudian.
· Pejabat Pemerintah, hakim, panitera, jurusita, notaris, dan pejabat umum lainnya, masing-masing dalam tugas atau jabatannya tidak dibenarkan: · Menerima, mempertimbangkan atau menyimpan dokumen yang Bea
Meterainya tidak atau kurang dibayar;
· Melekatkan dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar sesuai dengan tarifnya pada dokumen lain yang berkaitan;
· Membuat salinan, tembusan, rangkapan atau petikan dan dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dibayar;
· Memberikan keterangan atau catatan pada dokumen yang tidak atau kurang dibayar sesuai dengan tarif Bea Meterainya.
· Pelangganan terhadap ketentuan tersebut dikenakan sanksi administratif sesuai Peraturan perundang-undangan yang berlaku.
K. Ketentuan Pidana Bea Materai
Selain mengatur mengenai cakupan, jenis, dan tarif bea materai, Undang-Undang No. 10/2020 tentang Bea Materai (UU Bea Meterai) juga menetapkan ketentuan mengenai larangan dan pidana. Ketentuan tersebut mengikat setiap subjek yang diatur dalam undang-undang ini.
Larangan dan pidana yang diatur tidak hanya berlaku terhadap pihak-pihak yang terutang atas bea meterai saja, tetapi juga terhadap pejabat pemungut bea meterai. Namun, ketentuan yang berlaku terhadap kedua subjek tersebut berbeda sesuai dengan kewajiban mereka masing-masing yang diatur dalam UU Bea Meterai. Teruntuk pejabat yang berwenang dalam pemungutan bea meterai, secara khusus diatur ketentuan mengenai larangan yang berlaku bagi mereka dalam Pasal 21 UU Bea Meterai. Berdasarkan pasal tersebut, ditetapkan bahwa bagi pejabat yang berwenang dalam pemungutan bea meterai, dilarang untuk menerima, mempertimbangkan, atau menyimpan dokumen yang bea meterainya tidak atau kurang dibayar.
Ketentuan ini dimaksudkan agar setiap pejabat dalam menjalankan tugas atau fungsi jabatannya, dapat memberi kepastian bahwa bea meterai yang terutang atas suatu dokumen telah dibayar lunas atau belum. Selain itu, pejabat yang berwenang juga dilarang untuk melekatkan dokumen yang dimaksud pada dokumen lain yang berkaitan. Pasal 21 UU Bea Meterai juga menetapkan larangan bagi pajabat yang berwenang dalam pemungutan bea meterai untuk membuat salinan, tembusan,
rangkap, atau petikan; dan memberikan keterangan atau catatan pada dokumen yang dimaksud.Pejabat berwenang yang dimaksud meliputi hakim, panitera, jurusita, notaris, Pejabat Pembuat Akta Tanah, pegawai aparatur sipil negara, anggota Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan pejabat negara. Apabila seorang pejabat yang berwenang terbukti melakukan pelanggaran terhadap ketentuan di atas maka pejabat tersebut akan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Peraturan perundang-undangan yang dimaksud adalah segala peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai disiplin dan kewajiban atau larangan pegawai aparatur sipil negara, pejabat negara, atau pejabat umum lainnya.
Ketentuan Pidana Pasal 24 UU Bea Meterai menetapkan ketentuan pidana yang berlaku terhadap setiap orang. Hal-hal yang dilarang adalah meniru atau memalsukan meterai yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan maksud untuk memakai atau meminta orang lain memakai meterai tersebut. Selain itu, setiap orang dilarang untuk membuat meterai dengan menggunakan cap asli dengan cara melawan hukum, termasuk membuat meterai elektronik dan meterai dalam bentuk lain. Bila seorang penanggung utang bea meterai terbukti melakukan salah satu dari dua tindakan yang dimaksud maka dapat diancam pidana penjara paling lama tujuh tahun dan pidana denda paling banyak Rp500 juta. Selain dua larangan tersebut, Pasal 25 UU Bea Meterai menetapkan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun dan pidana denda paling banyak Rp500 juta bagi setiap orang yang memakai, menjual, menawarkan, menyerahkan, mempunyai persediaan untuk dijual, atau memasukkan meterai yang dipalsukan (atau dibuat dengan cara lain yang melawan hukum) ke wilayah Indonesia Ancaman pidana tersebut juga berlaku terhadap orang yang melakukan tindakan serupa dengan barang yang telah dibumbuhi meterai tersebut. Terakhir, Pasal 26 UU Bea Meterai juga menetapkan ancaman pidana penjara paling lama tiga tahun atau pidana denda paling banyak Rp200 juta bagi setiap orang yang menghilangkan tanda yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa meterai tersebut tidak dapat dipakai lagi dan kemudian menggunakannya atau meminta orang lain untuk menggunakan lagi meterai tersebut. Ancaman pidana yang sama juga berlaku bagi setiap orang yang menghilangkan tanda tangan, ciri, atau tanda saat dipakainya meterai yang telah dipakai; atau memakai, menjual, menawarkan, menyerahkan, mempunyai persediaan untuk dijual, atau memasukan meterai yang dimaksud ke wilayah Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Pajak, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Katentuan Umum Tata Cara Perpajakan Seagaimana Telah Diubah Dengan UU No. 9 Tahun 1994, 1994.
Peratutan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1994 Tentang Pajak Penhasilan Atas Hadiah Undian 1994.
www.online-pajak.com/tentang-pajak-pribadi/bea-materai.
www.jogloabang.com/pustaka/uu-10-2020-bea-meterai.
news.ddtc.co.id/ketentuan-larangan-dan-pidana-dalam-uu-bea-meterai-26562
https://www.administrasidesa.com/2016/09/ketentuan-tentang-bea-materai.html#gsc.tab=0
Peraturan pemerintah Nomor 51 tahun 1994 yang telah diubah dengan peraturan pemerintah Nomor 27 Tahun 1996 tentang pembayaran pajak penghasilan dari pengalihan Hak Atas Tanah Dan/ Bangunan, 1996.