1
PENGARUH GENDER RATIO, DEPENDENCY RATIO, DAN
TINGKAT PARTISIPASI ANGKATAN KERJA PEREMPUAN
TERHADAP KEMISKINAN
DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
TAHUN 2010-2017
JURNAL ILMIAH
Disusun oleh:
Ahmad Ridho Rahmani
145020100111025
JURUSAN ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
3
Pengaruh Gender Ratio, Dependency Ratio, dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
Perempuan Terhadap Kemiskinan
di Provinsi Nusa Tenggara Barat
Tahun 2010-2017
Ahmad Ridho Rahmani
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh variabel gender ratio, dependency ratio dan TPAK secara parsial terhadap persentase kemiskinan di Provinsi NTB, (2) mengetahui pengaruh variabel gender ratio, dependency ratio dan TPAK secara simultan terhadap persentase kemiskinan di Provinsi NTB. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dengan pendekatan deskriptif kuantitatif yang menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) gender ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap persentase kemiskinan. Hal tersebut disebabkan oleh perbandingan jumlah penduduk perempuan dengan penduduk laki-laki yang relatif tidak berbeda jauh, pertambahan jumlah penduduk perempuan adalah penduduk yang produktif secara ekonomi (2) dependency ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap persentase kemiskinan. Hal tersebut terkait dengan beberapa upaya pemerintah dan masyarakat dalam hal peningkatan pendapatan, akses lapangan kerja, akses pendidikan dan penurunan tingkat kelahiran serta peningkatan saving, (3) TPAK berpengaruh negatif dan signifikan terhadap persentase kemiskinan. Hal tersebut terkait dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan peluang masuknya perempuan ke dalam angkatan kerja dan mendapatkan akses ke sektor ekonomi yang produktif dilengkapi dengan sistem perlindungan sosial, (3) secara bersama-sama (simultan) gender ratio, dependency ratio dan TPAK memiliki pengaruh yang signifikan terhadap persentase kemiskinan di Provinsi NTB. Hasil penelitian ini akan menjadi bahan informasi dan rekomendasi kebijakan bagi pihak-pihak yang berkaitan dalam menentukan kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan yang tidak hanya berkaitan dengan gender ratio, dependency ratio dan TPAK, tetapi juga terkait dengan beberapa aspek lain dalam konteks kemiskinan dan pembangunan manusia.
Kata kunci: Gender, Ketergantungan, Partisipasi Kerja, Kemiskinan
A. PENDAHULUAN
Kemiskinan adalah kriteria ketika sekelompok orang atau seseorang berada pada kondisi tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk mencapai kemakmuran ekonomi dan standar hidup tertentu. Kriteria dari Bank Dunia (2004), menunjukkan bahwa kemiskinan disebabkan berkurangnya aset untuk mencukupi kebutuhan pangan, sandang, papan dan pendidikan. Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan serta terbatasnya lapangan pekerjaan yang berdampak pada pengangguran juga berkaitan dengan kemiskinan. Oleh karena itu, menurut Bappenas (2018), pengentasan kemiskinan harus dilakukan secara terpadu dan holistik dengan pendekatan yang lintas sektoral. Firman (2006) dan Barika (2013), menyatakan bahwa keadaan yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang berada pada taraf yang dianggap tidak manusiawi disebut juga dengan kemiskinan. Menurut Leasiwal (2013), kemiskinan suatu negara atau daerah dapat tergambar berdasarkan tingkat kesejahteraan penduduk yang mendiami negara/daerah tersebut.
Untuk mewujudkan masyarakat yang makmur, berkeadilan, sejahtera, maju dan berdaya saing dilakukan melalui pembangunan nasional. Pembangunan di berbagai wilayah khususnya kawasan yang masih tertinggal dilakukan dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Salah satu keberhasilan pembangunan nasional adalah strategi pengurangan jumlah penduduk yang miskin. Efektifitas pengurangan kemiskinan merupakan fokus utama sektor andalan pembangunan nasional (Shiddiqoh, 2016). Selain faktor
gender maka rasio ketergantungan (dependency ratio) juga merupakan indikator demografi penting yang dapat
menjadi indikator yang menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau sedang berkembang. Peningkatan angka ketergantungan, makin besar pula beban tanggungan suatu negara/daerah dan menunjukkan semakin rendahnya tingkat partisipasi penduduk dalam pembangunan (BPS, 2017). Apabila pendapatan tenaga kerja sebagian besarnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang menjadi tanggungan
4
maka pembangunan akan terhambat karena salah satu sumber dana yang digunakan dalam pembangunan adalah dana dari masyarakat. Berdasarkan gambaran tersebut, pemerintah dapat mengambil strategi kebijakan yang tepat untuk menjaga kestabilan ekonomi.
Indonesia sebagai negara berpendapatan sedang yang mencapai kemajuan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi dan penanggulangan masalah kemiskinan selama satu dekade terakhir. Pendapatan per kapita kotor nasional secara bertahap meningkat dari US$2,200 di tahun 2000 menjadi US$3,720 di 2009. Ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanannya selama krisis ekonomi global pada tahun 2008-2009. Tingkat kemiskinan telah berkurang di wilayah perdesaan dan perkotaan, dan indikator sosial telah menunjukkan adanya peningkatan kehidupan sosial secara bertahap. Namun demikian, diperkirakan sekitar 31 juta orang masih hidup di bawah garis kemiskinan dan 40 persen dari semua rumah tangga berada sedikit di atas garis kemiskinan nasional, yaitu US$21 per bulan dan masih rentan untuk jatuh ke dalam kemiskinan. Jumlah masyarakat miskin perkotaan semakin meningkat, diproyeksikan hingga 67 persen di tahun 2025. Kemiskinan perkotaan diproyeksikan melebihi kemiskinan perdesaan di tahun 2020.
Gambar 1. Persentase Kemiskinan di Indonesia Tahun 2017
Sumber: BPS, 2017 (Diolah).
Gambar 1. Memperlihatkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah salah satu provinsi yang mengalami pertumbuhan ekonomi paling tinggi dalam tiga tahun terakhir ini. Dalam jangka waktu tersebut, pertumbuhan ekonomi NTB lebih tinggi dari nasional. Namun, masih terdapat banyak penduduk miskin di provinsi tersebut. Momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus juga memperhatikan aspek pemerataan ekonomi, khususnya dalam meningkatkan pendapatan penduduk dan menurunkan angka kemiskinan di NTB. Pendapatan per kapita penduduk NTB saat ini Rp 23,74 juta per tahun atau setengah dari rata-rata nasional. Begitu juga dengan penduduk miskin yang menurun dari waktu ke waktu, tetapi masih di atas angka nasional. Tingkat kemiskinan di Kabupaten NTB dapat diketahui dengan termasuk dalam 10 (sepuluh) provinsi dengan persentase tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia, melalui Gambar 2 berikut.
Gambar 2. 10 (Sepuluh) Provinsi dengan Persentase Tingkat Kemiskinan Tertinggi di Indonesia
Sumber: BPS, 2017 (Diolah). 1 5 ,9 2 9 ,2 8 6 ,7 5 7 ,4 1 7 ,9 1 3 ,1 15,5 9 1 3 ,0 4 5 ,3 6,13 3 ,7 8 7,8 3 12,2 3 1 2 ,3 6 1 1 ,2 5 ,5 9 4 ,1 4 1 5 ,0 5 21,3 8 7 ,8 6 5 ,2 6 4 ,7 6,0 8 6 ,9 6 7 ,9 1 4 ,2 2 9 ,4 8 11,9 7 17,1 4 1 1 ,1 8 18 ,2 9 6 ,4 4 2 3 ,1 2 27,7 6 A C E H S U M A T E R A … S U M A T E R A … R IA U JA M B I S U M A T E R A … B E N G K U L U L A M P U N G K E P U L A U A N … K E P U L A U A N … D K I JA K A R T A JA W A B A R A T JA W A T E N G A H DI … JA W A T IM U R B A N T E N B A L I N T B N T T K A L IM A N T A N … K A L IM A N T A N … K A L IM A N T A N … K A L IM A N T A N … K A L IM A N T A N … S U L A W E S I … S U L A W E S I … S U L A W E S I … S U L A W E S I … G O R O N T A L O S U L A W E S I … M A L U K U M A L U K U … P A P U A B A R A T P A P U A Presentase Kemiskinan 13,1 14,22 15,05 15,59 15,92 17,14 18,29 21,38 23,12 27,76 0 5 10 15 20 25 30 Sumatera Selatan Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Barat Bengkulu Aceh Gorontalo Maluku Nusa Tenggara Timur Papua Barat Papua
5
Berdasarkan Gambar 2. terlihat bahwa provinsi Papua dan Papua Barat memiliki tingkat kemiskinan tertinggi dibandingkan provinsi lainnya, dengan persentase kemiskinan masing-masing mencapai 27,76 persen dan 23,12 persen. Sedangkan provinsi NTB menempati posisi ke-8 (delapan) dengan tingkat kemiskinan sebesar 15,05 persen dari 10 (sepuluh) provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi, di atas nilai kemiskinan nasional (10,64 persen).
Sejak masa pasca-kemerdekaan, masalah kemiskinan di Indonesia menjadi masalah yang serius hingga saat ini (Mirah, 2021), Pemerintah mencanangkan penanggulangan kemiskinan dari tahun ketahun dan terus berupaya semaksimal mungkin dalam peningkatan angka pertumbuhan ekonomi. Salah satu indikator yang digunakan dalam ketenagakerjaan adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAKFaktor-faktor yang mempengaruhi TPAK adalah jumlah penduduk, pendidikan, jenis kelamin dan usia (Mala, 2017). Perkembangan TPAK perempuan cenderung lebih rendah dibandingkan TPAK laki-laki. Perkembangan TPAK perempuan dipengaruhi peran ganda mereka dalam rumah tangga dan komitmen mereka untuk aktif di dalam pasar kerja. Saat memasuki masa perkawinan, melahirkan dan membesarkan anak, perempuan cenderung keluar dari pasar kerja dan bekerja kembali ketika anak-anaknya sudah besar (Kusuma, 2014).
Kemiskinan menjadi masalah yang kompleks dan multidimensional, karena tidak hanya terkait dengan permasalahan pendapatan dan konsumsi, tetapi juga berkaitan dengan rendahnya tingkat partisipasi dalam pembangunan yang terkait dengan masalah gender dan tingkat ketergantungan (Josephine, 2019). Oleh karena itu fokus dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh gender ratio, dependency ratio, dan TPAK perempuan terhadap persentase kemiskinan Kabupaten Kota di Provinsi NTB. Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian maka dipilih judul “Pengaruh Gender Ratio, Dependency Ratio, dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan Terhadap Kemiskinan
di Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2010-2017”.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Teori Kemiskinan
Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan kemiskinan sebagai suatu kondisi yang dialami seseorang dengan konsumsi per kapita per bulan yang tidak mencukupi kebutuhan standar minimum. Garis Kemiskinan (GK) menggambarkan kebutuhan standar minimum yang merupakan batas minimum pengeluaran untuk mencukupi kebutuhan pangan dan non pangan minimum per kapita per bulan. Berdasarkan rekomendasi Widya Karya Nasional dan Gizi tahun 1978, batas pemenuhan minimum setara dengan jumlah pengeluaran dalam rupiah dari bahan pangan dengan energi setiap harinya sejumlah 2.100 kilo kalori untuk setiap orang.
Dimensi kemiskinan menyangkut semua aspek meliputi aspek ekonomi, politik dan sosial-psikologis. Berdasarkan aspek ekonomi, kemiskinan menunjukkan kurangnya sumberdaya untuk pemenuhan kebutuhan hidup dan peningkatan meningkatkan kesejahteraan (Umami, 2013). Kemiskinan berdasarkan sifatnya terdiri atas kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif (Todaro, 1981). Perbedaannya adalah pada kemiskinan absolut ukurannya telah ditentukan terlebih dahulu dengan menggunakan garis kemiskinan sebagai indikator, sementara kemiskinan relatif ditentukan melalui perbandingan relatif tingkat kesejahteraan antar penduduk. Ketimpangan ekonomi dapat dilihat dari penguasaan sumber daya, yang menyangkut pemilikan lahan yang sejak dulu sudah menjadi fenomena yang penting dalam menentukan tingkat kesejahteraan (Jumarianta, 2010).
Konsep Gender Ratio
Konsep gender merujuk pada sekumpulan nilai yang membahas apa yang harus dilakukan oleh perempuan dan apa yang harus dilakukan oleh laki-laki dalam hal ekonomi, politik, sosial-budaya baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat bahkan dalam berbangsa (Syahyuti, 2006), Di Indonesia, bias gender lebih dirasakan oleh kaum perempuan disebabkan terjadinya ketidakadilan. Bias gender juga terlihat secara jelas dalam banyak program intervensi dan pengembangan usaha kecil yang biasanya cenderung lebih mengutamakan kelompok laki-laki sebagai pemilik usaha. Sebagai akibatnya, kelompok pengusaha perempuan lebih ‘diarahkan’ pada program dan intervensi untuk sektor-sektor yang diasumsikan sebagai sektor yang feminim. Dalam bidang-bidang kehidupan lainnya, seperti politik, ekonomi, media massa, pendidikan dan kemasyarakatan, perempuan masih tetap jauh ketinggalan dari laki-laki.
Konsep Dependency Ratio
Dependency ratio merupakan salah satu indikator bonus demografi untuk mendapat kesempatan yang sering
disebut “windows of opportunity”. Bonus demografi memberikan peluang bagi suatu daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Prasyarat penting bagi hal tersebut adalah adanya investasi pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan dan peluang investasi. Indonesia merupakan daerah yang unik terutama dilihat dari keragaman, baik di bidang sosial maupun ekonomi. Salah satu hal yang tampak adalah terjadinya ketimpangan dalam pembangunan, khususnya dari aspek ketersediaan infrastruktur, pendidikan serta kesehatan. Hal tersebut pada akhirnya membawa konsekuensi pada pencapaian bonus demografi (Nugroho, 2019).
6
Bonus demografi secara umum merupakan perubahan komposisi penduduk menurut umur disebabkan penurunan angka fertilitas dan peningkatan angka harapan hidup atau penurunan angka kematian serta peningkatan jumlah imigrasi. Kondisi tersebut ditandai dengan penurunan jumlah penduduk usia 0-14 tahun, sebagai akibat penurunan fertilitas, dan penurunan jumlah penduduk lanjut usia (lansia). Pada saat yang bersamaan penduduk usia produktif mengalami peningkatan mengakibatkan penurunan dependency ratio hingga pada titik tertentu mencapai nilai terendah. Pada saat dependency ratio mencapai titik terendah, maka pada saat tersebut muncul “windows of opportunity”, atau jendela kesempatan. Bonus demografi berakhir ketika jumlah penduduk lansia semakin meningkat sehingga dependency ratio kembali meningkat (Sulistio, 2017). Bonus demografi memiliki sisi positif dan negatif bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Bonus demografi apabila dapat dimanfaatkan dengan optimal menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang baik. Kegagalan pemerintah dalam memanfaatkan kesempatan ini akan membawa beban yang memberatkan negara di masa yang akan datang. Bonus demografi perlu mendapatkan dukungan kebijakan pemerintah khususnya yang terkait dengan bidang kesehatan, ekonomi dan pembangunan manusia Bonus demografi juga berasumsi bahwa sebagian besar atau seluruh tenaga kerja medapatkan kesempatan kerja sehingga terjadi full employment (Sutikno, 2020).
Konsep Tingkat Partisipasi Angkatan kerja (TPAK) Perempuan
Peningkatan serapan tenaga kerja akan berdampak positif pada peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Peningkatan pertumbuhan ekonomi akan menggerakkan produktifitas setiap sektor yang akan membutuhkan banyak tenaga kerja, termasuk tenaga kerja perempuan (Prasasti, 2006). Pertumbuhan ekonomi mempengaruhi perkembangan penyerapan tenaga kerja. Biasanya semakain tinggi pertumbuhan ekonomi cenderung semakin membuka penyerapan tenaga kerja, begitu juga sebaliknya. Sebagian masalah yang muncul di negara yang sedang berkembang antara lain bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta menciptakan lapangan pekerjaan yang mampu menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran. Perubahan jumlah orang yang bekerja baik meningkat maupun menurun yang diakibatkan oleh perubahan faktor tertentu yang mempengaruhinya merupakan gambaran jumlah tingkat penyerapan tenaga kerja (Nurrohman, 2010). Tenaga kerja merupakan modal dasar bagi gerak roda pembangunan dengan jumlah komposisi tenaga kerja yang terus berubah seiring dengan perubahan proses demografi. Komposisi tenaga kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi disebut angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja untuk setiap 100 tenaga kerja disebut dengan TPAK. Penduduk yang ikut serta dalam kegiatan ekonomi adalah penduduk yang telah mencapai usia kerja. Di Indonesia penduduk usia kerja yang dipakai adalah penduduk dengan batasan umur 15 tahun keatas, tanpa batas maksimum, karena umur 65 tahun keatas yang bekerja masih cukup banyak (Hukom, 2014).
Hubungan antara gender ratio dengan kemiskinan
Tujuan pembangunan manusia Indonesia yaitu mencapai kesetaraan gender untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender tidak hanya menjadi masalah wanita tetapi menjadi persoalan pembangunan. Pemberdayaan perempuan terutama dalam masalah ekonomi sangat perlu untuk menunjang pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan (Harahap, 2014). Kegiatan dan hasil pembangunan secara formal seringkali dikuasai oleh laki-laki sedangkan sumber daya yang penting dalam kehidupan suatu masyarakat hampir selalu dikuasai oleh pihak-pihak yang memiliki kekuatan sosial, ekonomi dan politik lebih kuat. Kesempatan dalam alokasi sumber daya menunjukkan bahwa perempuan mengalami ketidaksetaraan gender. Dalam isu gender dan kemiskinan, rumah tangga merupakan salah satu sumber diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan.
Hubungan antara dependency ratio dengan kemiskinan
Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang menggambarkan beban yang harus
ditanggung penduduk yang produktif terhadap hidup penduduk yang belum/tidak produktif (Hatta, 2017). Peningkatan rasio beban penduduk salah satunya disebabkan oleh meningkatnya jumlah kelahiran. Peningkatan fertilitas akan mengakibatkan peningkatan penduduk usia muda yang tidak produktif. Penduduk yang berusia produktif pun akan mengalokasikan pengeluaran yang seharusnya untuk investasi dan saving kepada penduduk usia tidak produktif, yang akan berakibat pelambatan pertumbuhan ekonomi dengan mengupayakan tambahan investasi dan pembukaan lapangan pekerjaan. Selain itu, penyebab lain pada peningkatan rasio beban tanggungan penduduk adalah peningkatan jumlah penduduk tua yang disebabkan oleh angka harapan hidup. Peningkatan penduduk tua yang tidak produktif akan meningkatkan pengeluaran pemerintah untuk dana pensiun dan kesehatan, sehingga pengeluaran pemerintah pada sektor lain seperti terutama sektor investasi akan mengalami penurunan.
Kemiskinan merupakan persoalan yang multidimensional, karena tidak hanya terkait dengan masalah tingkat pendapatan dan konsumsi, tetapi juga berkaitan dengan tingkat partisipasi dalam pembangunan. Peningkatan jumlah penduduk yang tidak diimbangi dengan komposisi yang sesuai menimbulkan berbagai permasalahan baru khususnya dalam bidang ekonomi dan berdampak pada kemiskinan (Wijaya, 2011). Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa rasio ketergantungan berpengaruh terhadap kemiskinan.
7
Hubungan antara TPAK Perempuan dengan Kemiskinan
Perempuan yang memasuki pasar kerja memiliki peluang yang lebih kecil untuk memperoleh pekerjaan daripada laki-laki. Hal ini terjadi karena pengaruh lingkungan yang kurang mendukung seperti pengambilan keputusan dan penguasaan aset yang didominasi laki-laki, perlunya izin suami bila istri ingin bekerja atau berusaha, dan perempuan yang bekerja tetap bertanggung jawab mengelola urusan keluarga. Pekerja perempuan juga mengalami diskriminasi dalam hal penggajian dan kurang mendapat hak-hak yang menyangkut kesehatan reproduksi di tempat kerja (Josephine, 2019).
Konstruksi sosial budaya memposisikan perempuan untuk mengerjakan pekerjaan domestik dan pekerjaan kurang produktif secara ekonomi. Rendahnya kapasitas sumberdaya perempuan menyebabkan perempuan dianggap paling cocok untuk jenis pekerjaan tersebut. Sementara itu, perempuan miskin tidak memiliki prioritas untuk pengembangan sumber daya karena keterbatasan modal, pendidikan, dan keterampilan sehingga berpeluang untuk semakin termarjinalkan ke sektor yang kurang produktif dan berpendapatan rendah. Pada situasi dimana tingkat partisipasi perempuan rendah dalam angkatan kerja, intervensi sebaiknya diarahkan untuk memungkinkan para perempuan dalam rumah tangga miskin memperoleh pekerjaan produktif. Upaya tersebut merupakan cara efektif dalam menurunkan kemiskinan. Langkah-langkah tersebut harus diarahkan untuk memudahkan masuknya perempuan ke dalam angkatan kerja dan mendapatkan akses ke sektor ekonomi yang produktif dilengkapi dengan sistem perlindungan sosial (Diatmika, 2017).
C. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan penekanan analisis pada angka-angka dengan menggunakan rumus statistik. Pendekatan quantitatif adalah bentuk perhitungan yang sistematis dan terencana (Sugiyono, 2012). Metode penelitian quantitatif merupakan metode pada populasi dan sampel tertentu. Pendekatan deskriptif digunakan untuk menggambarkan objek dan hasil penelitian. Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk menemukan signifikansi perbedaan kelompok atau signifikansi hubungan antar variabel yang diteliti (Ghozali, 2006). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang didapatkan dari studi-studi sebelumnya. Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh dari peneliti dan subjek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia. Data-data tersebut diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berupa data time series periode tahun 2010-2017. Data berkala (time series) merupakan data yang dikumpulkan secara berkala dari waktu ke waktu. Pengambilan data ini biasanya digunakan untuk melihat perkembangan dari waktu ke waktu. Data yang dipergunakan meliputi: jenis kelamin, usia produktif dan non produktif, serta persentase kemiskinan. Data penelitian diperoleh dari berbagai literatur, majalah, koran, jurnal dan lain-lain.
Analisis Data Panel
Analisis data yang digunakan adalah analisis data panel untuk menganalisis hubungan antara variabel dependen dan independen. Penggunaan analisis ini karena data terdiri dari beberapa kabupaten/kota dan beberapa periode tahun. Dalam analisis data panel dikenal tiga macam pendekatan yang terdiri dari pendekatan common
effect model (CEM), fixed effect model (FEM), dan random effect model (REM).
Model Penelitian
Penelitian ini menggunakan beberapa variabel dugaan yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan di Provinsi NTB yaitu gender ratio, dependency ratio, dan TPAK perempuan. Berdasarkan variabel tersebut, dibentuk model ekonometrika sebagai berikut:
𝑌𝑖𝑡= 𝛽0+ 𝛽1𝑋1𝑖𝑡+ 𝛽2𝑋2𝑖𝑡+ 𝛽3𝑋3𝑖𝑡+ ℯ𝑖𝑡
Keterangan:
Y : Persentase Penduduk Miskin
β0 : Konstanta β1- β3 : Koefisien regresi X1 : Gender Ratio X2 : Dependency Ratio X3 : TPAK Perempuan ℯ : komponen error
i : cross section: 1, 2, 3, …, 10 (Kabupaten/Kota di Provinsi NTB) t : time series: 1, 2, 3, …, 8 (tahun 2010-2017)
8
Uji Statistik
Dalam uji statistik dilakukan dengan tiga pengujian, yaitu uji parsial (Uji t), uji simultan (Uji F), dan uji koefisien determinasi (Uji R2).
1. Uji Parsial (Uji t)
Uji statistik t pada dasarnya untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel bebas secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2006). Uji t adalah uji hipotesis mengenai koefisien regresi individual. Pengujian ini menentukan apakah H0 diterima atau tidak. H0 menempati posisi yang menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara variabel dependen dan independen. Pengambilan keputusan hasil dari uji t tergantung dari nilai p atau probabilitas lebih kecil atau lebih besar dibandingkan dengan nilai α yang sudah ditentukan.
a. Jika nilai p > α (5%=0,05) maka H0 diterima yang berarti variabel independen berpengaruh tetapi tidak secara signifikan terhadap variabel dependen.
b. Jika nilai p < α (5%=0,05) maka H0 ditolak yang berarti variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.
2. Uji Simultan (Uji F)
Uji F merupakan pengujian signifikansi dari keseluruhan regresi sampel atau pengujian hipotesis secara bersama-sama. Pengambilan keputusan dilihat dari nilai probabilitas F-statistik di mana akan dibandingkan dengan nilai α yang sudah ditentukan.
a. Jika nilai probabilitas F-statistik > α maka H0 diterima yang berarti secara bersama-sama variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
b. Jika nilai probabilitas F-statistik < α maka H0 ditolak yang berarti secara bersama-sama variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
3. Uji Koefisien Determinasi (Uji R2)
Menurut Nasution (2006) uji R2 digunakan untuk menilai kebaikan model yang menunjukkan bagaimana kemampuan dari variabel independen menjelaskan variabel dependen. Nilai dari uji R2 ini memiliki batasan yaitu 0 ≤ R2 ≤ 1, di mana semakin mendekati angka 1 semakin besar kemampuan variabel dependen dijelaskan oleh variabel independen, sisanya dijelaskan oleh error dan begitu juga sebaliknya, jika nilainya mendekati angka 0 maka antara kedua variabel tersebut tidak ada hubungannya.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemilihan Model Regresi Panel
Hasil Chow Test nilai sig atau Cross-section F adalah 0.0000 dengan α = 5% (0.05), nilai sig 0.0000<0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sehingga data panel yang digunakan lebih baik menggunakan FEM
dibandingkan dengan menggunakan CEM. Selanjutnya hasil dari Hausman Test nilai sig atau Cross-section
Random adalah 0.0005 dengan α = 5% (0.05), nilai sig 0.0128<0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sehingga
data panel yang digunakan lebih baik menggunakan FEM dibandingkan dengan menggunakan REM. Dapat disimpulkan bahwa Fixed Effect Model adalah model yang tepat dengan data yang digunakan. Berdasarkan hasil regresi data panel, maka hasil pemilihan model regresi panel diperlihatkan pada Tabel 1. berikut.
Tabel 1. Hasil Pemilihan Model Regresi Panel
Uji Hipotesis Nilai Sig Kesimpulan
Chow Test
H0 : Common Effect Model
0.0000 Fixed Effect Model H1 : Fixed Effect Model
Hausman Test
H0 : Random Effect Model
0.0128 Fixed Effect Model H1 : Fixed Effect Model
Hasil Uji Regresi Data Panel
Hasil uji pemilihan model regresi data panel, Chow Test dan Hausman Test, menghasilkan bahwa model yang tepat untuk digunakan dalam data panel adalah FEM. Selanjutnya hasil pengujian regresi data panel dengan menggunakan FEM, digunakan untuk mengetahui pengaruh dari gender ratio (LOGX1), dependency ratio (LOGX2), dan TPAK perempuan (LOGX3 ) terhadap persentase kemiskinan (LOGY) seperti terlihat pada Tabel 2. berikut:
9
Tabel 2. Hasil Pengujian Regresi
Dependent Variable: LOGY Method: Panel Least Squares Date: 03/17/21 Time: 22:08 Sample: 2010 2017
Periods included: 8 Cross-sections included: 10
Total panel (balanced) observations: 80
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. LOGX1 11.72222 5.366196 2.184456 0.0324 LOGX2 3.979899 0.479547 8.299286 0.0000 LOGX3 -0.176222 0.077536 -2.272773 0.0263 C -28.67394 10.57453 -2.711604 0.0085
Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables)
R-squared 0.966019 Mean dependent var 1.231307 Adjusted R-squared 0.959932 S.D. dependent var 0.145778 S.E. of regression 0.029180 Akaike info criterion -4.082984 Sum squared resid 0.057050 Schwarz criterion -3.695905 Log likelihood 176.3194 Hannan-Quinn criter. -3.927793 F-statistic 158.7224 Durbin-Watson stat 1.092912 Prob(F-statistic) 0.000000
Tabel 2. memperlihatkan hasil pengujian regresi dapat menjelaskan bagaimana pengaruh dari masing-masing variabel independen yaitu gender ratio (LOGX1) dependency ratio (LOGX2), dan TPAK perempuan (LOGX3) terhadap variabel dependen yaitu persentase kemiskinan (LOGY) di Provinsi NTB Tahun 2010-2017.
Pembahasan
Pengaruh Gender Ratio terhadap Persentase Kemiskinan di Provinsi NTB
Hasil regresi menunjukkan bahwa koefisien dari variabel gender ratio bertanda positif dengan nilai sebesar 11.72222 dan nilai signifikansi sebesar 0.0324 (lebih kecil dari α 5% atau 0.05). Artinya bahwa variabel gender
ratio memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap persentase kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi NTB.
Hal ini menunjukkan bahwa jika gender ratio meningkat, maka persentase kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi NTB akan meningkat, begitu pula sebaliknya. Mayoritas penduduk miskin di dunia adalah kaum wanita. Akses kaum wanita ternyata juga sangat terbatas untuk memperoleh kesempatan menikmati pendidikan, pekerjaan yang layak disektor formal, berbagai tunjangan sosial dan program-program penciptaan lapangan kerja yang dilancarkan pemerintah. Hasil regresi menunjukan bahwa gender ratio dan persentase kemiskinan memiliki hubungan positif sehingga kenaikan gender ratio akan menyebabkan kenaikan pada nilai persentase kemiskinan. Kenaikan gender ratio menandakan bertambahnya jumlah penduduk laki-laki dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. Dengan demikian hasil regresi menandakan kenaikan jumlah penduduk laki-laki akan meningkatkan persentase kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi NTB. Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan Todaro (1981) sebelumnya yang mengatakan semakin banyak kaum wanita maka semakin banyak penduduk miskin di suatu daerah.
Pengaruh Dependency Ratio Terhadap Persentase Kemiskinan di Provinsi NTB
Hasil regresi menunjukkan bahwa koefisien dari variabel dependency ratio bertanda positif dengan nilai sebesar 3.979899 dan nilai signifikansi sebesar 0.000 (lebih kecil dari α 5% atau 0.05). Artinya bahwa variabel
dependency ratio memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap persentase kemiskinan di Provinsi NTB. Hal
ini menunjukkan bahwa jika dependency ratio meningkat, maka persentase kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi NTB akan meningkat, begitu pula sebaliknya. Kemiskinan yang disebabkan oleh tingginya angka
dependency ratio sejalan dengan pernyataan Hatta (2017) yang menyatakan bahwa semakin tinggi presentase
rasio beban tanggungan, semakin tinggi beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Selanjutnya Arsyad (2010) menambahkan bahwa penghasilan dari penduduk usia 15-64 tahun akan banyak dialokasikan kepada sektor yang tidak produktif.
10
Sebagian dari pendapatan yang diperoleh seharusnya ditabung untuk kemudian diinvestasikan bagi pembangunan ekonomi terpaksa harus dikeluarkan untuk keperluan sandang dan pangan bagi mereka yang merupakan beban tanggungan penduduk tersebut.
Pengaruh TPAK perempuan Terhadap Persentase Kemiskinan di Provinsi NTB
Hasil regresi menunjukkan bahwa koefisien dari variabel TPAK perempaun bertanda negatif dengan nilai sebesar 0.176222 dan nilai signifikansi sebesar 0.0263 (lebih kecil dari α 5% atau 0.05). Artinya bahwa variabel TPAK perempuan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap persentase kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi NTB. Hal ini menunjukkan bahwa jika TPAK perempuan meningkat, maka persentase kemiskinan Kabupaten/Kota di Provinsi NTB akan menurun, begitu pula sebaliknya. Perempuan selain sebagai ibu rumah tangga, adapula yang merangkap sebagai perkerja yang aktif berkontribusi pada peningkatan pendapatan keluarga. Sama halnya dengan pengaruh masalah gender, maka TPAK perempuan juga berpengaruh negatif terhadap persentase kemiskinan. Hal ini dapat terjadi karena pertambahan jumlah perempuan yang bekerja akan memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan rumah tangga yang akan menurunkan persentase tingkat kemiskinan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Yulianti (2013) yang menyatakan bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia ketenaga-kerjaan bertujuan untuk membantu memenuhi perekonomian rumah tangga, mengentaskan kemiskinan dan memperbaiki tingkat kesejahteraannya. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian Mirah (2020) yang menunjukan bahwa TPAK laki laki dan perempuan mampu memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perkembangan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan angka kemiskinan.
E. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Variabel gender ratio berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap persentase kemiskinan. Hal tersebut
disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk perempuan adalah penduduk yang produktif secara ekonomi, rasio TPAK perempuan yang relatif tinggi, dan sistem nilai sosial, budaya dan ekonomi yang tidak bias gender. 2. Variabel dependency ratio berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap persentase kemiskinan. Hal
tersebut menunjukkan bahwa walaupun angka dependency ratio memberikan dampak pada tingkat kemiskinan di Provinsi NTB, namun beberapa upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam hal peningkatan pendapatan, akses lapangan kerja, penurunan tingkat kelahiran serta peningkatan saving dapat memperkecil pengaruh dependency ratio terhadap kemiskinan.
3. Variabel TPAK perempuan berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap persentase kemiskinan. Hal tersebut disebabkan oleh pertambahan jumlah perempuan yang bekerja akan memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan rumah tangga yang akan menurunkan persentase tingkat kemiskinan di suatu wilayah.
Saran
Berdasarkan kesimpulan pada penelitian ini, maka dapat disampaikan beberapa saran sebagai berikut: 1. Pemerintah diharapkan terus mengupayakan penerapan kebijakan yang memaksimalkan peluang Kesetaraan
Kesempatan Kerja (Equal Employment Opportunity), dan terus meningkatkan jumlah wirausahawati (womenpreneur), serta pemberdayaan perempuan melalui upaya pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta peningkatan jumlah Tenaga Kerja Wanita (TKW).
2. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat mengembangkan sektor usaha yang dapat menampung tenaga kerja usia produktif. Selain itu sosialisasi program Keluarga Berencana (KB) diperlukan untuk memperlambat laju pertumbuhan penduduk dan pemberdayaan ekonomi dan pengelolaan dana pensiun bagi penduduk usia tidak produktif lagi.
3. Pemerintah dan Dunia Usaha diharapkan terus mengupayakan terciptanya peluang kerja bagi perempuan dalam memperoleh akses ekonomi yang dapat memberikan kesempatan kerja yang sama antara laki-laki dan perempuan pada semua sektor perekonomian.
UCAPANTERIMAKASIH
Ucapan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu sehingga jurnal ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih kepada para Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya khususnya dan Jurusan Ilmu Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya yang memungkinkan jurnal ini bisa diterbitkan. Semoga jurnal ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan instansi terkait.
DAFTAR PUSTAKA
11
International Monetary Fund. 2018. The Regional Economic Outlook: Asia and Pacific. Washington: International Monetary Fund.
Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat. 2018. Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam Angka Tahun
2010-2017. Nusa Tenggara Barat: Badan Pusat Statistik Provinsi.
Arsyad, L. 2010. Ekonomi Pembangunan. STM. YKPN, Yogyakarta.
Barika. 2013. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Pengeluaran Pemerintah, Pengangguran dan Inflasi terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi se Sumatera. Jurnal Ekonomi dan Perencanaan Pembangunan, Vol. 05 (No. 01) : 27-36.
Diatmika, I.G.N.D. 2017. Strategi Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Klungkung Provinsi Bali. Disertasi tidak diterbitkan. Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar.
Firman, A dan Herlina, L. 2006. Analisis Kemiskinan dan Ketimpangan Distribusi Pendapatan pada Peternak Sapi Perah (Survey di Wilayah Kerja Koperasi Unit Desa Sinar Jaya Kabupaten Bandung). Jurnal
Sosiohumaniora, Vol. 8 (No. 1) : 68-78.
Ghozali, I. 2006. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alphabetha.
Harahap, R.F.A. 2014. Analisis Pengaruh Ketimpangan Gender terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Tengah. Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UNDIP, Semarang.
Hatta, M dan Azis, A. 2017. Analisis Faktor Determinan Tingkat Kemiskinan di Indonesia Periode 2005-2015.
Jurnal Riset Edisi XIX UNIBOS Makassar, Vol. 3 (No. 008) : 16-32.
Hukom, A. 2014. Hubungan Ketenagakerjaan dan Perubahan Struktur Ekonomi terhadap Kesejahteraan Masyarakat. Jurnal Ekonomi Kuantitatif Terapan. Vol. 7 (No. 2) : 120-129.
Josephine, 2019. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Wanita Indonesia dalam Menyongsong Bonus Demografi Tahun 2010-2017. Tesis tidak diterbitkan. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Brawijaya, Malang.
Jumarianta. 2010. Potret Kemiskinan di Desa Lok Cantung Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Banjar.
Journal of Rural and Development, Vol. 1 (No. 1) : 21-31.
Kusuma, P. 2014. Analisis Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jurnal
Valid, Vol. 11 (No. 2) : 26 – 32.
Laporan World Bank. 2004. Indonesia: Kemiskinan Perkotaan dan Ulasan Program. PNPM Support Facility, Indonesia.
Laporan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2017. www.bappenas.go.id diakses 19 November 2018.
Leasiwal. T.C. 2013. Determinan dan Karakteristik Kemiskinan di Provinsi Maluku. Jurnal Ekonomi Cita
Ekonomika, Vol. VII (No. 2) : 196-303.
Mirah, M.R., Kindangen, P., dan Rorong, IPF. 2021. Pengaruh Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal Pembanguan Ekonomi dan
Keuangan Daerah. Vol. 21 (No. 01) : 85-100.
Nugroho, N.A. 2019. Kebijakan dan Potensi Daerah Menghadapi Bonus Demografi Menutup (Transisi Demografi Lanjut). Jurnal Keluarga Berencana, Vol.4 (No.02) : 47-55.
Nurjanah, I. 2017. Analisis Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan Ditinjau dari Perspektif Ekonomi Islam. Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Raden Intan, Lampung. Nurrohman, R. 2010. Analisis Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja di Provinsi Jawa Tengah.
Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol 8 (No. 1) : 248-260.
Prasasti, D. 2006. Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita 30 Provinsi di Indonesia Periode 1993-2003: Pendekatan Disparitas Regional dan Konvergensi. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 21 (No. 4) : 344 – 360.
Shiddiqoh, H. 2016. Keterkaitan Antara Peranan Wanita dengan Tingkat Kemiskinan di Indonesia. Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB BOGOR.
Sugiyono, 2007. Memahami Penelitian Kuantitatif. Bandung : C.V. Alfabeta.
Sulistio, D.M. 2017. Rasio Ketergantungan, Bonus Demografi, Produk Domestik Bruto Reginal (PDRB), Indeks GINI, Jumlah Penduduk Miskin, Pembangunan Ekonomi, Korelasi, Regresi. Tesis tidak diterbitkan. Fakultas Geografi dan Ilmu Lingkungan, UGM, Yogyakarta.
Sutikno, A.N. 2020. Bonus Demografi Di Indonesia. Jurnal Visioner, Vol. 12 (No. 2) : 421-438.
Syahyuti. 2006. 30 Konsep Penting dalam Pembangunan Pedesaan dan Pertanian. Penjelasan tentang Konsep,
Istilah, Teori dan Indikator serta Variabel. Jakarta : PT. Bina Rena Pariwara.
Todaro, M.P. 1981. Economic Development in the Third World. 2nd ed. New York & London : Longman. Umami, U. 2013. Cara Pandang dan Upaya Pemerintah dalam Mengurangi Kemiskinan. Jurnal Pembangunan
Wilayah dan Kota, Vol. 9 (No. 4) : 343-354.
Wijaya, A.Y. 2011. Pengaruh Jumlah Penduduk, Rasio Ketergantungan, Tingkat Pendidikan dan Jumlah Pengangguran terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Jawa Timur Tahun 2001-2008. Skripsi tidak diterbitkan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UNAIR, Surabaya.
12
Yulianti, R.A., dan Ratnasari, V. 2013. Pemetaan dan Pemodelan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Perempuan di Provinsi Jawa Timur dengan Pendekatan Model Probit. Jurnal Sains dan Seni Pomits, Vol. 2 (No. 2) : 159-164.