• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 1 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 1 Universitas Kristen Petra"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1 Universitas Kristen Petra

2.1. Restrukturisasi Hutang

Definisi hutang menurut Kieso dan Weygant (1998:40) adalah pengorbanan manfaat ekonomi dimasa mendatang sebagai akibat dari kewajiban yang timbul sekarang ini, saat perusahaan wajib memindahkan aktiva atau jasa kepada perusahaan lain di masa yang akan datang sebagai akibat dari transaksi atau kejadian di masa lalu. Definisi hutang menurut Siegel (1994:128) adalah uang atau jasa yang dipinjamkan oleh pihak lain, merupakan kewajiban resmi dari sebuah usaha yang timbul baik dari perjanjian tertulis maupun lisan. Sementara hutang adalah sebuah instrumen bisnis yang krusial bagi perkembangan sebuah perusahaan, namun adakalanya karena alasan tertentu perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya sehingga perusahaan harus melakukan restrukturisasi hutang.

2.1.1. Pengertian Restrukturisasi Hutang

Menurut Joel G. Siegel dan Jae K. Shim (1994:129), Restrukturisasi hutang ( Debt Restructuring) adalah:

a. “Penyesuaian atau penyusunan kembali struktur hutang yang mencerminkan kesempatan kepada debitur merencanakan pemenuhan kewajiban keuangannya. Penjadwalan diperlukan ketika debitur menghadapi kesulitan keuangan. Perjanjian untuk mengubah struktur dapat disebabkan oleh tindakan legal atau berdasarkan persetujuan sederhana dari pihak yang bersangkutan.”

b. “Penyusunan kembali struktur hutang didasarkan pada keputusan manajemen keuangan sukarela, misalnya untuk mengubah hutang jangka pendek menjadi hutang jangka panjang.”

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa restrukturisasi hutang merupakan suatu proses untuk merestruktur hutang bermasalah dengan tujuan memperbaiki posisi keuangan dari debitur maupun kreditur. Restrukturisasi hutang perlu dilakukan untuk mengatasi kredit bermasalah yang dialami

(2)

Universitas Kristen Petra

perusahaan-perusahaan di Indonesia, baik perusahaan manufaktur, perusahaan jasa maupun perusahaan dagang. Kredit bermasalah ini mempunyai dampak yang sangat luas terhadap seluruh aspek perekonomian di Indonesia. Untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul akibat dari adanya kredit macet ini, pemerintah Indonesia memberikan atau memprioritaskan untuk melakukan restrukturisasi hutang pada sektor perbankan dengan pertimbangan bahwa sektor perbankan adalah bagian yang penting dalam perekonomian Indonesia, dimana apabila perbankan tersebut sehat maka perekonomian negarapun juga mengarah ke arah yang positif dan akan berdampak ke semua sektor perekonomian.

Dari sisi debitur, restrukturisasi hutang merupakan suatu tindakan yang perlu diambil sebab perusahaan tidak memiliki lagi kemampuan atau kekuatan untuk memenuhi commitment-nya kepada kreditur. Commitment yang dimaksud adalah dimana debitur tidak dapat lagi memenuhi perjanjian yang telah disepakati sebelumnya dengan kreditur, sehingga mengakibatkan gagal bayar. Dan apabila perusahaan tidak melakukan restrukturisasi hutangnya maka akan timbul wanprestasi atau cacat yang dapat mengakibatkan masalah besar bagi kelansungan hidup suatu perusahaan. Dampak yang akan timbul antara lain: a). Pihak debitur akan mengalami kesulitan untuk memperoleh dana dimasa yang akan datang nantinya, b). Nilai saham yang dimiliki oleh pihak debitur akan mengalami penurunan, disamping itu nilai usaha yang dimilikinya pun juga akan mengalami penurunan nilai, c). Pihak kreditur dapat mengumumkan bahwa pihak debitur yang bermasalah sudah pailit atau bangkrut, d). Beban dan biaya yang dikeluarkan oleh pihak debitur akan dapat membengkak atau lebih besar daripada biasanya didalam memperoleh dana dimasa yang akan datang, e). Pihak debitur akan memiliki reputasi yang jelek didalam dunia usaha. Berdasarkan dampak yang ada ini, pihak debitur yang bermasalah sangat diarahkan untuk mengambil langkah atau melakukan restrukturisasi hutangnya guna menghindari masalah-masalah yang mungkin bakal terjadi.

Tujuan diadakannya restrukturisasi hutang bagi pihak debitur adalah sebagai berikut: a). Untuk dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing yang lebih bagus. Penataan dan perbaikan sektor keuangan perusahaan akan dapat dicapai apabila perusahaan tersebut dalam kondisi sehat, efisiensi, kuat, b). Dengan

(3)

Universitas Kristen Petra

melakukan restrukturisasi hutang maka perusahaan akan dapat memiliki lebih banyak lagi alternatif pilihan pembayaran, yaitu caranya berunding dengan kreditur dan melalui suatu argument yang cukup, sehingga tercapai kesepakatan atau win-win solution. Argument yang dimaksud adalah dimana pihak debitur mampu menunjukkan bahwa keadaannya benar-benar dalam posisi kesulitan keuangan.

2.1.2. Proses Restrukturisasi

Menurut IAI dalam PSAK No.54 (1999:1), restrukturisasi hutang bermasalah terjadi jika berdasarkan pertimbangan ekonomi atau hukum, kreditur memberikan konsesi khusus kepada debitur yaitu konsesi yang tidak akan diberikan dalam keadaan tidak terdapat kesulitan keuangan di pihak debitur.

Konsesi ini dapat berasal dari perjanjian antara kreditur dan debitur , atau dari keputusan pengadilan, atau dari peraturan hukum. Restrukturisasi hutang bermasalah dapat terjadi sebelum, pada, atau sesudah tanggal jatuh tempo hutang yang tercantum dalam perjanjian, dan akan terdapat rentang waktu diantara saat perjanjian, keputusan pengadilan dan sebagainya.

2.1.3. Model Restrukturisasi Hutang

Dalam memilih dan menentukan model yang sesuai didalam melakukan restrukturisasi hutang maka sangat tergantung pada kepentingan/tujuan dari kedua belah pihak yaitu debitur maupun kreditur. Apabila perusahaan debitur sudah tidak memiliki prospek usaha yang menguntungkan dimasa yang akan datang maka pemilik maupun pengelola perusahaan debitur mungkin akan memutuskan untuk tidak melakukan restrukturisasi hutangnya karena perusahaan sudah tidak lagi mempunyai nilai ekonomi lagi dan apabila tetap melakukan restrukturisasi hutang, dapat menyebabkan pemborosan dana. Dan jika dilihat dari pihak kreditur mereka akan melihat upaya restrukturisasi hutang debitur tersebut sebagai suatu tindakan yang tidak ekonomis dan efisien sebab perusahaan debitur tersebut sudah tidak memiliki prospek yang bagus di masa yang akan datang. Banyak faktor- faktor yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan oleh kedua belah pihak sebelum melakukan restrukturisasi.

(4)

Universitas Kristen Petra

Ada beberapa model restrukturisasi hutang perusahaan yang telah diperkenalkan dalam dunia bisnis (commercial practise) antara lain:

1. Haircut

Haircut diartikan sebagai potongan atau pengurangan atas pembayaran bunga maupun hutang yang dilakukan oleh pihak debitur. Dari kepentingan kreditur, model haircut disepakati dengan pertimbangan adalah kreditur memerlukan dana/likuiditas dan/atau debitur tidak memiliki prospek di masa yang akan datang sehingga kreditur perlu mengantisipasi potensi kerugian yang lebih besar dimasa yang akan datang, misalnya tidak tertagihnya seluruh tagihan kepada debitur. Di lain pihak dari kacamata debitur, haircut sangat membantu untuk mengurangi kewajiban keuangan yang menjadi beban perusahaan di tengah keadaan perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan.

2. Stretching (Reschedulling)

Streching diartikan sebagai memperpanjang jangka waktu pengembalian hutang atau penjadwalan kembali terhadap hutang debitur pada pihak kreditur dan biasanya dengan memberikan grace period dalam jangka waktu tertentu, misalnya 3-5 tahun.

3. Debt-Equity SWAP

Debt-equity SWAP merupakan suatu langkah yang diambil oleh pihak kreditur karena kreditur tersebut melihat dan mengamati bahwa perusahaan dari debitur yang mengalami masalah keuangan tersebut mempunyai nilai ekonomi yang baik di masa yang akan datang, dan ini merupakan cara yang baik bagi kreditur untuk menambah laba, yaitu dengan cara reklasifikasi tagihan debitur menjadi penyertaan modal.

4. Debt To Asset Swap

Debt To Asset Swap merupakan pengalihan harta yang dimiliki oleh pihak debitur dimana pihak debitur sudah tidak sanggup lagi untuk melunasi kewajibannya lagi kepada pihak-pihak yang memberi pinjaman kepadanya. Dan

(5)

Universitas Kristen Petra

pengalihan harta atau aset yang dimiliki oleh debitur ini ditujukan untuk dikuasai oleh kreditur, pihak bank, atau BPPN.

5. Kombinasi

Tindakan penyelamatan dapat juga merupakan kombinasi, misalnya rescheduling dengan reconditioning, rescheduling dengan restructuring, dan reconditioning dengan restructuring atau gabungan dari rescheduling, reconditioning, dan restructuring.

2.2. Aspek PPh atas restrukturisasi hutang

Pajak penghasilan dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Pada prinsipnya, setiap tambahan kemampuan ekonomis dari kegiatan restrukturisasi hutang perusahaan dapat dikenakan pajak. Contohnya pembebasan hutang dalam suatu proses restrukturisasi hutang perusahaan, oleh perpajakan diakui sebagai penghasilan atas dibebaskannya dari kewajiban membayar hutang tersebut.

2.3. Implikasi perpajakan atas restrukturisasi hutang 2.3.1. Implikasi perpajakan atas hair cut bagi debitur

Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-05/PJ.42/1999 tentang Pengakuan Penghasilan Bagi WP tertentu tanggal 11 Februari 1999 menyebutkan: WP tertentu yang memperoleh pembebasan hutang dari kreditur dapat memilih pengakuan penghasilannya, sekaligus dalam tahun pajak diperolehnya pembebasan hutang tersebut; atau dialokasikan dalam jangka waktu 5 tahun dengan jumlah yang sama besar yaitu 20% dari jumlah hutang yang dibebaskan, yang dimulai dari tahun pajak yang diperolehnya penghasilan tersebut, WP tertentu wajib memberitahukan pilihan pengakuan penghasilan kepada KPP tempat WP terdaftar paling lambat pada saat SPT tahunan PPh dimasukkan. Jika WP tersebut tidak memberitahukan maka pengakuan penghasilannya dianggap dilakukan sekaligus. Dalam Pasal 31B (dan penjelasannya) UU PPh No 17 tahun 2000 beberapa keringanan kebijakan perpajakan atas hair cut antara lain: a). Mendapat pembebasan pajak sebesar 30%

(6)

Universitas Kristen Petra

dari pajak penghasilan atas restrukturisasi hutang berlaku untuk restrukturisasi hutang tahun 2000, 2001, dan 2002. Selain itu, mendapatkan pembebasan pemajakan atas keuntungan dari pembebasan hutang sampai dengan Rp.

350.000.000,- ( Peraturan Pemerintah No. 131 Tahun 2000), b). Keringanan kebijakan perpajakan terhadap pembebasan hutang berupa penundaan pengakuan penghasilan untuk debitur dalam jangka waktu 5 tahun.

Perhitungan jumlah PPh terhutang debitur didapatkan dengan cara:

pertama, menjumlahkan penghasilan neto dan keuntungan atas hair cut/ jumlah pembebasan atau pemotongan hutang, jika ada kompensasi rugi yang masih boleh dikompensasikan maka boleh dijadikan pengurang sehingga dihasilkan nilai penghasilan kena pajak. Atas penghasilan kena pajak ini dikalikan tarif PPh progresif badan untuk mendapatkan jumlah pajak penghasilan (misal “x”).

Langkah kedua, jumlah pembebasan hutang dikurangi kompensasi rugi (jika ada) . Atas penghasilan kena pajak ini dikalikan tarif PPh progresif badan untuk mendapatkan jumlah pajak penghasilan atas pembebasan hutang (misal “y”).

Jumlah pajak penghasilan atas pembebasan hutang ini dikalikan 30 % karena dibebaskan dari obyek pajak sebesar 30 % dari pajak terhutang ( hasilnya dimisalkan “z”). Sehingga jumlah pajak penghasilan yang harus dibayar oleh debitur adalah x – z. Sedangkan pajak penghasilan yang dapat diangsur paling lama 5 tahun didapatkan dari nilai y – z. Perhitungan pemajakan ini berlaku untuk pembebasan hutang lebih dari Rp. 350.000.000,-.

2.3.2. Implikasi Perpajakan atas Stretching(Reschedulling)

Karena penjadwalan kembali hutang pokok tidak menyebabkan tambahan kemampuan ekonomis debitur, maka tidak ada objek pemajakan, sehingga bebas pajak penghasilan.

2.3.3. Implikasi Perpajakan atas Debt to Equity SWAP

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2001 tentang pemberian keringanan pajak penghasilan kepada wajib pajak yang melakukan restrukturisasi hutang usaha melalui lembaga khusus yang dibentuk pemerintah dalam hal perubahan hutang menjadi penyertaan modal kreditur, besarnya jumlah

(7)

Universitas Kristen Petra

penyertaan modal tersebut untuk kepentingan perpajakan harus sama dengan nilai hutang debitur. Dalam hal hutang dilunasi melalui perubahan bentuk menjadi penyertaan modal yang jumlahnya lebih kecil, maka selisihnya merupakan keuntungan karena pembebasan utang bagi debitur dan penghapusan piutang bagi kreditur berdasarkan suatu perjanjian. Sebaliknya apabila jumlah penyertaan modal lebih besar dari nilai hutang yang harus dilunasi, maka selisihnya merupakan penghasilan bunga bagi kreditur dan biaya bunga bagi debitur.

2.3.4. Implikasi Perpajakan atas Debt to Asset SWAP

Pajak penghasilan yang terutang atas keuntungan yang diperoleh debitur karena pengalihan harta kepada kreditur (debt to asset swap) untuk penyelesaian hutang dibebaskan sepanjang pengalihan harta tersebut dinilai sebesar nilai buku fiskal harta pihak yang mengalihkan. Apabila terdapat selisih lebih nilai buku harta diatas nilai hutang, atas selisihnya merupakan kerugian debitur yang dapat dikurangkan dari penghasilan kena pajak. Sebaliknya, Selisih lebih nilai hutang diatas nilai buku harta merupakan keuntungan debitur yang merupakan obyek pajak penghasilan.

Keringanan pajak penghasilan atas restrukturisasi hutang ini diberikan dengan beberapa pembatasan sebagai berikut: berlaku untuk restrukturisasi hutang tahun 2000, 2001, dan 2002. Restrukturisasi setelah lewat masa tersebut tidak mendapat keringanan. Pembatasan waktu ini nampak sebagai instrumen akselerasi minat restrukturisasi hutang, restrukturisasi hutang harus dilaksanakan melalui mediasi Prakarsa Jakarta. Walaupun kelihatannya agak bersifat monopolistik, kebijakan ini mungkin dimaksudkan untuk memudahkan pengawasan, keringanan pajak diberikan secara individual (kepada debitur dan kreditur) berdasarkan rekomendasi Komite Kebijaksanaan Sektor Keuangan yang berada di bawah koordinasi Menteri Koordinator bidang perekonomiaan. Rekomendasi ini mungkin dikaitkan dengan adanya istilah debitur dan kreditur kooperatif.

2.4. Kinerja Keuangan

Untuk menilai Kinerja keuangan suatu perusahaan diperlukan pelaksanaan kegiatan analisa laporan keuangan.

(8)

Universitas Kristen Petra

2.4.1. Teknik Analisa Laporan Keuangan 1. Analisa Perbandingan Laporan Keuangan

Analisa perbandingan laporan keuangan adalah metode dan teknik analisa dengan cara memperbandingkan laporan keuangan untuk dua periode atau lebih, dengan menunjukkan: 1) Data absolut atau jumlah-jumlah dalam rupiah, 2) Kenaikan atau penurunan dalam jumlah rupiah, 3) Kenaikan atau penurunan dalam prosentase, 4) Perbandingan yang dinyatakan dengan rasio, 5) Prosentase dari total.

2. Analisa Rasio

Analisa rasio keuangan sangat diperlukan untuk penilaian prestasi usaha suatu perusahaan. Untuk itu diperlukan suatu ukuran tertentu (rasio/indeks) yang menunjukkan hubungan antara dua atau lebih data keuangan. Menurut Drs. S.

Munawir, Ak (1996:37), analisa rasio adalah suatu metode analisa untuk mengetahui hubungan dari pos-pos tertentu dalam neraca atau laporan rugi laba secara individu atau kombinasi dari kedua laporan tersebut. Dari pendapat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dilakukannya analisa rasio adalah untuk menyajikan suatu cara guna mengungkapkan kondisi keuangan, kesehatan dan kinerja keuangan suatu perusahaan.

Berikut ini akan dijelaskan mengenai masing-masing rasio yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja suatu perusahaan:

a. Analisa likuiditas / Liquidity ratio

Analisa likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rasio keuangan yang biasa dipakai untuk mengukur kondisi likuiditas perusahaan adalah current ratio. Current ratio diperoleh dengan jalan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar.

Rasio ini menunjukkan sampai sejauh mana tagihan-tagihan jangka pendek dari para kreditor dapat dipenuhi dengan aktiva yang diharapkan akan dikonversi menjadi uang tunai dalam waktu dekat.

Current ratio = Current Asset Current Liabilities

(9)

Universitas Kristen Petra

Semakin tinggi nilai rasio tersebut semakin besar pula jaminan yang dimiliki oleh perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

b. Analisa Aktivitas / Activity Ratio

Analisa aktivitas digunakan untuk mengukur sampai seberapa jauh tingkat efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya.

Semua rasio aktivitas ini melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis aktiva. Rasio-rasio aktivitas menganggap bahwa sebaiknya terdapat suatu keseimbangan yang layak antara penjualan dengan berbagai unsur aktiva yaitu persediaan, piutang, aktiva tetap dan aktiva lain sebagainya.

Beberapa rasio yang digunakan untuk menilai tingkat aktivitas perusahaan, yaitu

1. Total Assets Turnover/ Perputaran Total Aktiva.

Total Assets Turnover adalah rasio yang mengukur perputaran atau pemanfaatan dari semua aktiva perusahaan, yaitu dengan jalan membagi penjualan dengan total aktiva.

Total Assets Turnover = Sales Total Assets

Semakin tinggi nilai rasio ini, maka perusahaan semakin baik dalam memanfaatkan asset keseluruhan yang telah diinvestasikan ke perusahaan.

2. Receivables turnover/ Perputaran Piutang

Rasio ini untuk mengukur likuiditas dari piutang perusahaan, seberapa cepat piutang dilunasi dalam satu tahun.

Receivables turnover = Sales

Account Receivables

3. Inventory Turnover/ Perputaran persediaan Inventory Turnover = Cost of goods sold

Inventory

(10)

Universitas Kristen Petra

Rasio ini didefinisikan sebagai beban pokok penjualan dibagi dengan persediaan. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan persediaan lebih cepat terjual.

c. Analisa Leverage/Rasio Solvabilitas

Rasio ini mengukur seberapa jauh perusahaan menggunakan hutang. Beberapa analis menggunakan istilah rasio solvabilitas, yang berarti mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya.

Analisa ini berguna untuk melihat dua aspek penting dari sisi modal, yaitu:1).

Melihat modal yang dimiliki oleh sebuah perusahaan, apakah jumlahnya sebanding dengan jumlah hutangnya. Dengan demikian dapat diketahui resiko usaha perusahaan. Bila ternyata jumlah modal lebih kecil dari jumlah hutangnya, maka resiko usaha perusahaan lebih banyak ditanggung oleh para pemegang saham. 2). Lebih banyaknya dana yang berasal dari pihak ketiga menunjukkan bahwa perusahaan memperoleh manfaat untuk memutarkan dana tersebut hanya dengan modal yang relatif kecil.

Beberapa rasio keuangan yang digunakan untuk menilai tingkat Leverage adalah:

1. Total Debt Ratio

Total Debt Ratio adalah kemampuan setiap harta dari perusahaan yang dapat dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutang.

Total Debt Ratio = Total Debt Total Assets

Semakin kecil rasio ini maka semakin banyak harta dari perusahaan yang dapat dijadikan jaminan terhadap hutang-hutang perusahaan tersebut.

2. Debt to Equity Ratio

Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan dana yang dibelanjai dengan hutang, atau berapa bagian dari modal sendiri yang digunakan untuk menjamin hutang.

Debt to Equity Ratio = Total Debt

(11)

Universitas Kristen Petra

Total Equity

Semakin kecil rasio ini semakin kecil hutang yang harus ditanggung oleh perusahaan sehingga perusahaan akan semakin baik dalam memutarkan modal untuk memperoleh keuntungan.

3. Times Interest Earned Ratio

Rasio ini mengukur seberapa besar laba operasi (terkadang juga ditambah dengan penyusutan) mampu membayar bunga hutang.

Times Interest Earned = Earnings Before Interest and Tax

Interest

Semakin tinggi rasio ini maka kemampuan perusahaan membayar bunga pinjaman semakin besar.

d. Analisa keuntungan / Profitability Ratio

Rasio-rasio ini dimaksudkan untuk mengukur tingkat efektivitas yang dicapai oleh usaha operasional perusahaan, sesuai dengan hasil akhir dari berbagai kebijaksanaan dan keputusan yang telah dilaksanakan dalam periode berjalan.

Adapun beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat keuangan perusahaan adalah:

1. Net Profit Margin

Rasio ini mengukur laba (bersih) dari setiap penjualan.

Net Profit Margin = Net Income Sales

Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi laba bersih dari penjualan yang diperoleh perusahaan

2. Return On Assets (ROA)

Rasio ini menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan. Dengan kata lain, rasio ini digunakan untuk menggambarkan produktivitas perusahaan tersebut.

Return On Assets (ROA) = Net Income Total Assets

(12)

Universitas Kristen Petra

Semakin tinggi nilai return on assets dapat dikatakan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan semakin besar.

3. Return On Equity (ROE)

Return On Equity adalah rasio yang menggambarkan kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham preferen atau saham biasa.

Return On Equity (ROE) = Net Income Total Equity

Semakin tinggi rasio ini menunjukkan kemampuan dari modal sendiri dalam menghasilkan keuntungan semakin baik.

2.5. PPh Terutang

Besarnya pajak penghasilan yang terutang adalah perkalian antara penghasilan kena pajak dengan tarif pajak penghasilan pasal 17. Sedangkan penghasilan kena pajak diperoleh dari penghasilan bruto dikurangi pengurangan yang diperbolehkan menurut perpajakan. Dengan demikian, penghasilan kena pajak merupakan dasar penghitungan untuk menentukan pajak yang terutang.

2.6. Pengaruh Restrukturisasi Hutang Terhadap PPh terutang Badan

Potongan/pembebasan hutang dan atau bunga yang diterima debitur, oleh Pasal 4 ayat (1) huruf k UU PPh dipandang sebagai suatu kenaikan (tambahan) kemampuan ekonomis wajib pajak (debitur) dan oleh karenanya akan dikenakan Pajak Penghasilan, kecuali keuntungan dari pembebasan hutang sampai jumlah tertentu akan dibebaskan dari obyek pemajakan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 131 Tahun 2000 jumlah tersebut adalah Rp. 350 juta. Selain itu, pembebasan hutang dan atau bunga akan menurunkan beban bunga yang harus dibayar perusahaan dalam suatu periode sehingga meningkatkan laba sebelum pajak perusahaan. Peningkatan laba sebelum pajak menaikkan besarnya PPh terutang badan dalam suatu periode.

Penjadwalan kembali hutang (reschedulling) dapat menunda tanggal jatuh tempo pembayaran kembali hutang atau bunga. Karena penjadwalan

(13)

Universitas Kristen Petra

kembali tidak menyebabkan tambahan kemampuan ekonomis debitur, maka tidak ada obyek pemajakan. Tetapi dalam perhitungan laba/rugi perusahaan debitur, penjadwalan kembali hutang atau bunga akan meringankan beban bunga yang harus dibayar perusahaan dalam suatu periode sehingga meningkatkan laba sebelum pajak perusahaan. Peningkatan laba sebelum pajak menaikkan besarnya PPh terutang badan dalam suatu periode.

Dalam hal perubahan hutang menjadi penyertaan modal (Debt To Equity Swap) dimana nilai penyertaan modal sama dengan nilai hutang dibebaskan dari obyek pajak penghasilan. Tetapi dalam perhitungan laba/rugi perusahaan debitur, perubahan hutang menjadi penyertaan modal akan mengurangi jumlah hutang debitur sehingga meringankan beban bunga yang harus dibayar perusahaan dalam suatu periode sehingga meningkatkan laba sebelum pajak perusahaan.

Peningkatan laba sebelum pajak menaikkan besarnya PPh terutang badan dalam suatu periode.

Dalam hal pengalihan harta kepada kreditur (Debt To Asset Swap) dimana nilai harta sama dengan nilai hutang dibebaskan dari obyek pajak penghasilan. Tetapi dalam perhitungan laba/rugi perusahaan debitur, pengalihan harta kepada kreditur akan mengurangi jumlah hutang debitur sehingga meringankan beban bunga yang harus dibayar perusahaan debitur dalam suatu periode sehingga meningkatkan laba sebelum pajak perusahaan. Peningkatan laba sebelum pajak menaikkan besarnya PPh terutang badan dalam suatu periode.

2.7.Pengaruh Restrukturisasi Hutang Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan.

Pada dasarnya setiap perusahaan memiliki kondisi yang berbeda-beda, sehingga adalah sangat sulit untuk memaparkan bagaimana pengaruh restrukturisasi hutang terhadap kinerja keuangan perusahaan. Untuk mengetahui secara tepat bagaimana pengaruh restrukturisasi hutang terhadap kinerja keuangan perusahaan, seorang analis harus mendapatkan laporan keuangan dan sejumlah informasi yang cukup. Namun secara teori, pengaruh restrukturisasi hutang terhadap kinerja keuangan dapat dilihat sebagai berikut: Dengan adanya keringanan pembebasan/pemotongan hutang dan keringanan penjadwalan kembali

(14)

Universitas Kristen Petra

hutang yang jatuh tempo, jumlah hutang yang harus dipikul perusahaan semakin rendah. Besarnya current asset dibagi nilai current liability yang lebih kecil akan dihasilkan nilai current ratio yang lebih tinggi. Dari segi aktivitas perusahaan, jika restrukturisasi yang terjadi pada perusahaan tidak mempengaruhi nilai pembelian dan penjualan perusahaan, maka nilai receivables turnover dan inventory turnover tidak mengalami perubahan. Demikian juga halnya dengan nilai total assets turnover tidak akan berubah jika restrukturisasi yang terjadi pada perusahaan tidak mempengaruhi nilai pembelian dan penjualan, kecuali jika terdapat perbedaan jumlah saldo kas dan setara kas pada neraca.

Pada dasarnya perusahaan yang melakukan restrukturisasi hutang akan menghasilkan nilai total debt ratio dan debt to equity yang lebih rendah, karena adanya restrukturisasi hutang menyebabkan total hutang perusahaan menjadi lebih kecil. Perusahaan yang melakukan restrukturisasi hutang akan menghasilkan nilai times interest earned yang lebih tinggi, karena beban bunga yang dipikul perusahaan setiap periodenya lebih rendah, besarnya laba sebelum bunga dan pajak dibagi nilai beban bunga yang lebih rendah akan menghasilkan times interest earned yang lebih tinggi.

Pada dasarnya perusahaan yang melakukan restrukturisasi hutang akan menghasilkan net income yang lebih tinggi akibat berkurangnya hutang yang harus dipikul, sehingga meningkatkan nilai net profit margin, return on assets, return on equity perusahaan.

Dalam hal penyelesaian hutang dengan pengalihan harta kepada kreditur (Debt To Asset Swap), total assets perusahaan akan menjadi lebih rendah sehingga akan menghasilkan nilai total assets turnover yang lebih tinggi. Nilai total debt ratio dan nilai return on assets akan berubah sesuai perubahan nilai jumlah hutang , total aktiva dan laba bersih perusahaan.

Dalam hal perubahan hutang menjadi penyertaan modal (Debt To Equity Swap), nilai debt to equity ratio dan return on equity akan berubah sesuai perubahan nilai jumlah hutang, total ekuitas, dan laba bersih perusahaan.

Referensi

Dokumen terkait

Hal yang membedakan Gus Dur dengan para da’i lainnya, adalah bahwa Gus Dur atau Abdurrahman Wahid sosok pembela bagi mereka orang-orang terancam maupun tertindas

(SE) , beberapa proses pengadaan barang/ jasa dalam metode ini sudah dilakukan secara interaktif melalui Internet, se- hingga panitia pengadaan barang/jasa

Pada mata kuliah ini juga dibahas klassifikasi tumbuhan tingkat tinggi, karakter, karakteristik tumbuhan, bentuk morfologi organ vegetatif dan organ generatif

Vodja prodaje v okviru svojega PSK-ja sodeluje pri oblikovanju VPC, oblikovanju sistema popustov, določanju nivoja kupcev, cenovno spremlja konkurenco ter nadzira oblikovanje

Simpulan ini merupakan proses re-check yang dilakukan selama penelitian dengan cara mencocokkan data dengan catatan-catatan yang telah dibuat. peneliti dalam melakukan

Pemberian bahan mineral (pasir vulkan, terak baja, dolomit, dan abu serbuk gergaji) berpengaruh sangat nyata meningkatkan DHL, K-tukar, Ca-tukar, Mg-tukar, kejenuhan basa, rasio

Kanula khusus yang mengalirkan darah arteri langsung ke vena yang berdekatan. Kanula arteri dan vena dihubungan dengan konektor sehingga pada saat dialisa konektor

Dengan pengertian bahwa teknologi mencakup bioteknologi, dan bahwa akses dan pengalihan teknologi di antara para Pihak merupakan unsur-unsur penting bagi pencapaian tujuan