1
SKRIPSI STUDI KOMPARATIF TINGKAT ... MICHAEL HANS HARTOJO
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) merupakan sebuah organisasi kawasan yang mewadahi kerja sama antara 10 negara di Asia Tenggara.
ASEAN dibentuk pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok berdasarkan deklarasi Bangkok oleh 5 negara pendiri ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Saat ini ASEAN telah menaungi 10 negara yang ada di kawasan Asia Tenggara, di antaranya adalah Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Periode 2015 merupakan tonggak utama dalam agenda integrasi ekonomi di kawasan ASEAN, yang ditandai dengan terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pembentukan MEA ini menawarkan peluang berupa pasar yang sangat besar, yaitu sebesar 2,6 triliun USD dan lebih dari 622 juta orang. MEA sendiri merupakan sebuah integrasi ekonomi negara-negara ASEAN dalam menghadapi adanya perdagangan bebas di kawasan ASEAN.
Hadirnya era pasar bebas di kawasan Asia Tenggara melalui MEA tentu akan semakin meningkatkan persaingan dalam dunia bisnis. Salah satu sektor yang akan terdampak oleh adanya MEA adalah industri perbankan, oleh karena itu perbankan diharapkan dapat meningkatkan kinerja dan daya saingnya agar terus dapat menjaga eksistensinya dalam menghadapi persaingan yang ketat di Era MEA ini.
Negara-negara di dunia pada umumnya menjalankan kegiatan ekonomi dengan bergantung pada sektor perbankan. Sektor perbankan masih dianggap sebagai ujung tombak perekonomian, baik itu di negara maju maupun negara berkembang. Salah satu negara yang masih sangat mengandalkan perbankan dalam menjalankan kegiatan ekonominya adalah Indonesia. Selama 5 tahun terakhir ini pembiayaan ekonomi di Indonesia memang masih didominasi oleh sektor perbankan (bank-based country). Hal ini menjadikan sangat penting untuk mengetahui perbandingan tingkat efisiensi relatif antara bank-bank domestik yang
SKRIPSI STUDI KOMPARATIF TINGKAT ... MICHAEL HANS HARTOJO ada di Indonesia dengan bank-bank domestik negara ASEAN-5 lainnya, karena
perbankan yang lebih efisien dapat berkontribusi lebih optimal terhadap pembangunan ekonomi di suatu negara.
Sumber: Bank Indonesia (2019)
Gambar 1.1
Proporsi Pembiayaan Ekonomi Indonesia, 2015-2019
Perbankan memiliki fungsi sebagai lembaga intermediasi keuangan, yang mana berfungsi untuk menghubungkan antara pihak yang kekurangan dana dengan pihak yang kelebihan dana. Dalam menjalankan fungsinya ini, bank menerima dana berupa deposito atau tabungan dari pihak yang kelebihan dana dan kemudian akan menyalurkannya dalam bentuk kredit kepada pihak yang membutuhkan dana.
Menurut Wong dan Deng (2016) dalam Andersen & Tarp (2003) sistem perbankan yang efisien adalah kunci untuk financial development secara keseluruhan dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang.
Indonesia merupakan negara yang tergolong bank-based country, meskipun demikian kinerja perbankan di Indonesia dinilai masih kalah bersaing dengan perbankan dari negara-negara ASEAN-5 lainnya, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam. Tingkat efisiensi perbankan di Indonesia dapat dikatakan adalah yang paling rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN-5 lainnya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka Net Interest Margin (NIM) rata-rata perbankan di Indonesia. NIM merupakan total pendapatan bunga dikurangi total beban bunga dibagi dengan rata-rata aktiva produktif. Menurut
0%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
2015 2016 2017 2018 2019
Persen
Proporsi Pembiayaan Perbankan Proporsi Pembiayaan Non-Bank
SKRIPSI STUDI KOMPARATIF TINGKAT ... MICHAEL HANS HARTOJO Muljawan dkk. (2014) dalam Benda (2010) selain interest rate spread, Net Interest
Margin (NIM) juga dapat digunakan sebagai proksi untuk mengukur tingkat efisiensi perbankan. Rasio NIM yang tinggi menandakan adanya inefisiensi pada perbankan.
Berdasarkan data dari World Bank pada 2010-2017, rasio NIM rata-rata perbankan di Indonesia adalah yang tertinggi di ASEAN. Rata-rata NIM perbankan Indonesia adalah sebesar 6%, kemudian diikuti Filipina 3,6%, Vietnam 3,3%, Thailand 3%, Malaysia 2,7%, dan yang paling rendah adalah Singapura sebesar 1,6%. Dilihat dari data rasio NIM tersebut dapat diketahui bahwa kinerja perbankan di Indonesia adalah yang paling buruk dibanding negara-negara ASEAN-5, sementara itu perbankan di Singapura adalah yang paling baik kinerjanya di antara negara-negara ASEAN karena memiliki nilai rasio NIM yang paling rendah.
Sumber: Global Financial Development - World Bank Data Bank (2017)
Gambar 1.2
Net Interest Margin (NIM) Perbankan Indonesia dan ASEAN-5, 2010-2017
Indikator lain yang dapat digunakan untuk membandingkan kinerja suatu perbankan selain NIM adalah melalui Cost to Income Ratio (CIR). Rasio CIR menunjukkan besarnya biaya overhead yang dikeluarkan oleh pihak bank (biaya yang relatif dapat dikontrol oleh bank) untuk menghasilkan pendapatan sehingga rasio ini dapat mencerminkan efisiensi operasional bank. Formula untuk menghitung CIR adalah biaya overhead dibagi dengan jumlah antara pendapatan
SKRIPSI STUDI KOMPARATIF TINGKAT ... MICHAEL HANS HARTOJO bunga bersih dan pendapatan non-bunga. Nilai CIR yang rendah menunjukkan
bahwa perbankan semakin efisien dan juga sebaliknya apabila rasio CIR tinggi maka perbankan dapat dikatakan cenderung tidak efisien secara operasional.
Gambar 1.3 menunjukkan rasio CIR perbankan Indonesia dan ASEAN-5 dari 2010-2017. Data CIR tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menempati peringkat ke-4 dengan nilai rata-rata CIR sebesar 47,8%, di bawah Singapura dengan 40,1%, Malaysia 42,7%, dan Thailand sebesar 45,4%. Hal ini berarti perbankan di Indonesia masih kurang efisien jika dibandingkan dengan perbankan dari Singapura, Thailand, dan Malaysia. Skor rata-rata CIR Indonesia masih lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Vietnam dan Filipina karena rasio CIR mereka masing-masing berkisar diangka 50,4% dan 58,5%.
Sumber: Global Financial Development - World Bank Data Bank (2017)
Gambar 1.3
Cost to Income Ratio (CIR) Perbankan Indonesia dan ASEAN-5, 2010-2017
Salah satu cara untuk menilai kinerja perbankan sebagai lembaga intermediasi keuangan adalah dengan melihat seberapa besar tingkat efisiensi perbankan tersebut. Efisiensi perbankan dapat diartikan sebagai kemampuan sebuah pihak manajemen/SDM suatu perbankan untuk dapat menghasilkan output semaksimal mungkin dengan menggunakan beberapa input tertentu. Pengukuran tingkat efisiensi suatu perbankan dapat diperoleh dengan cara membandingkan output yang dihasilkan dengan input yang digunakan oleh perbankan tersebut.
SKRIPSI STUDI KOMPARATIF TINGKAT ... MICHAEL HANS HARTOJO Menurut Tan (2016) efisiensi yang lebih tinggi berarti setiap unit/perusahaan
memiliki kemampuan untuk menggunakan jumlah input yang sama untuk menghasilkan volume output yang lebih tinggi. Efisiensi yang lebih tinggi juga dapat diartikan bahwa setiap unit atau perusahaan memiliki kemampuan untuk meminimalkan input untuk menghasilkan volume output yang sama.
Pengukuran kinerja perbankan menggunakan pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA) sangat penting untuk dilakukan agar dapat mengetahui seberapa besar kemampuan bersaing perbankan yang ada di Indonesia dengan perbankan dari negara-negara ASEAN-5 lainnya. Menurut Hadad dkk. (2003) penelitian efisiensi perbankan dengan menggunakan metode DEA dapat memperoleh hasil yang lebih akurat jika dibandingkan dengan menggunakan analisis rasio keuangan. Pernyataan ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Svitalkova (2014) yang menyatakan bahwa beberapa indikator performa perusahaan seperti ROA, ROE, ROI, dan indikator analisis rasio keuangan lainnya memiliki banyak kelemahan dalam menjelaskan tingkat efisiensi suatu perbankan.
Berdasarkan data peringkat 500 bank terbesar di Asia yang dirilis oleh The Asian Banker (TAB), rata-rata perbankan di Indonesia masih kalah peringkatnya jika dibandingkan dengan perbankan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Hal ini mengindikasikan bahwa efisiensi perbankan di Indonesia masih relatif rendah jika dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN-5 lainnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode DEA untuk menghitung tingkat efisiensi perbankan, hal ini sama dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Wong dan Deng (2016) serta Wahyudi dan Azizah (2018).
Penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya oleh Wong dan Deng (2016), yang menggunakan sampel perbankan di ASEAN tanpa membedakan jenis kepemilikan perbankan. Pada penelitian ini, sampel perbankan yang digunakan adalah perbankan domestik atau perbankan lokal yang berasal dari Indonesia dan ASEAN-5. Penelitian ini berbeda dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
SKRIPSI STUDI KOMPARATIF TINGKAT ... MICHAEL HANS HARTOJO Wong dan Deng (2016), yang menggunakan total deposit sebagai output perbankan.
Pada penelitian ini total deposit dianggap sebagai input perbankan mengingat fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi keuangan, selain itu pendapatan non-bunga juga digunakan sebagai output dalam penelitian ini.
Penelitian ini secara model juga berbeda dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wahyudi dan Azizah (2018), yang menggunakan model CRS DEA berorientasi output. Penelitian ini menggunakan model VRS DEA berorientasi input karena asumsi VRS dianggap lebih baik dalam menggambarkan persaingan pada industri perbankan. Penelitian sebelumnya oleh Wahyudi dan Azizah (2018) menggunakan variabel input seperti tunjangan karyawan, aset tetap, dan total deposit, sementara variabel outputnya adalah total pendapatan dan total kredit.
Penelitian ini juga memiliki beberapa kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi dan Azizah (2018), yang mana menggunakan total deposit dan tunjangan karyawan sebagai input serta total kredit sebagai output.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan tingkat efisiensi relatif antara top 3 perbankan domestik yang ada di Indonesia dengan top- 3 perbankan domestik yang ada di 5 negara ASEAN lainnya, yaitu Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Topik ini diangkat karena melihat kondisi perekonomian Indonesia yang masih sangat bergantung pada sektor perbankan dalam pembangunan ekonominya, sehingga perlu diketahui apakah perbankan yang ada di Indonesia sudah efisien dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai lembaga intermediasi keuangan jika dibandingkan dengan perbankan dari negara-negara ASEAN-5 lainnya.
Penelitian mengenai perbandingan tingkat efisiensi top 3 perbankan Indonesia dan ASEAN-5 ini penting dilakukan karena dapat menjadi bahan evaluasi bagi para petinggi atau pembuat kebijakan dalam industri perbankan untuk dapat meningkatkan performa perbankan yang lebih baik lagi agar dapat mencapai kinerja perbankan yang lebih efisien pada periode berikutnya. Informasi yang didapat dari penelitian ini juga akan dapat membantu para investor dalam memilih perbankan yang prospeknya bagus dan memiliki kredibilitas yang baik. Bagi
SKRIPSI STUDI KOMPARATIF TINGKAT ... MICHAEL HANS HARTOJO pemerintah dan para pengambil kebijakan atau banksentral, penelitian ini
diharapkan juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, penetapan kebijakan, serta pengawasan kinerja perbankan di masa depan agar terciptanya kondisi perbankan yang lebih baik, sehat dan efisien.
Penelitian ini sekaligus juga ingin membuktikan dengan menggunakan pendekatan metode Data Envelopment Analysis (DEA) apakah benar kinerja perbankan di Indonesia masih kalah bersaing jika dibandingkan dengan negara- negara ASEAN-5 lainnya, mengingat jika dilihat dari hasil analisis rasio keuangan seperti NIM dan CIR kinerja perbankan Indonesia dinilai masih buruk. Judul studi ini ditulis “Studi Komparatif Tingkat Efisiensi Top 3 Perbankan Domestik Indonesia dengan Negara-Negara ASEAN-5 Menggunakan Pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA)”.
1.2. Kesenjangan Penelitian
Studi tentang perbandingan tingkat efisiensi perbankan di ASEAN dengan menggunakan pendekatan metode Data Envelopment Analysis (DEA) sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh Wai Peng Wong dan Qiang Deng (2016). Kesenjangan penelitian dengan studi ini adalah penelitian sebelumnya hanya mencakup 4 negara di ASEAN saja karena ketidaktersediaan data perbankan, namun pada studi ini telah mencakup jumlah negara yang lebih banyak, yaitu dari 6 negara ASEAN untuk dibandingkan tingkat efisiensinya. Pada penelitian sebelumnya variabel total deposit diperhitungkan sebagai output namun pada penelitian ini variabel total deposit dianggap sebagai input perbankan mengingat fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi keuangan, selain itu penelitian ini juga telah menambahkan variabel pendapatan non-bunga sebagai variabel output perbankan. Penelitian ini juga sudah melakukan spesifikasi sampel perbankan dengan hanya mengambil sampel bank domestik atau bank lokal asal negara tersebut, sementara pada penelitian sebelumnya sampel perbankan yang diambil masih digeneralisasi.
SKRIPSI STUDI KOMPARATIF TINGKAT ... MICHAEL HANS HARTOJO 1.3. Tujuan Penelitian
Membandingkan tingkat efisiensi perbankan antara top 3 perbankan domestik asal Indonesia dengan top 3 perbankan domestik dari negara-negara ASEAN-5.
1.4. Ringkasan Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dalam bentuk data panel.
Dasar metode yang akan digunakan adalah Data Envelopment Analysis (DEA) untuk mengukur tingkat efisiensi relatif perbankan. Penelitian ini mengambil sampel sebanyak 18 bank domestik asal Indonesia dan negara-negara ASEAN-5.
Sampel perbankan dalam penelitian ini adalah bank-bank berstatus top 3 yang ada di Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
1.5. Ringkasan Hasil Penelitian
Perbandingan tingkat efisiensi perbankan antara top 3 perbankan domestik Indonesia dan ASEAN-5 perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana kinerja perbankan domestik Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa top 3 perbankan domestik asal Indonesia dan Filipina merupakan perbankan dengan kinerja yang paling efisien.
Perbankan domestik Indonesia yang terdiri dari Bank Central Asia, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Mandiri serta perbankan domestik Filipina yang terdiri dari Bank of the Philippine Islands, BDO Unibank, dan Metrobank terbukti konsisten menjaga tingkat efisiensi sebesar 1,000 selama periode 2015-2019. Kelompok perbankan domestik asal Vietnam menunjukkan kinerja perbankan yang paling tidak efisien di antara negara-negara ASEAN-6.
Penelitian ini juga membuktikan bahwa analisis rasio keuangan seperti NIM dan CIR tidak dapat dijadikan ukuran pasti untuk menghitung efisiensi suatu perbankan. Terbukti bahwa hasil prediksi tingkat efisiensi perbankan menggunakan analisis rasio keuangan (NIM dan CIR) berbeda dengan hasil pengukuran tingkat efisiensi perbankan menggunakan metode DEA.
SKRIPSI STUDI KOMPARATIF TINGKAT ... MICHAEL HANS HARTOJO 1.6. Kontribusi Riset
Penelitian ini menggunakan data perbankan terbaru dalam 5 tahun terakhir (2015-2019), serta menggunakan sampel perbankan domestik dari 6 negara ASEAN, yang mana jumlah ini lebih banyak dari penelitian-penelitian sebelumnya.
Penelitian ini juga memasukkan sampel perbankan asal Vietnam yang mana belum pernah ada penelitian sebelumnya yang memperhitungkan perbankan dari Vietnam.
Penelitian ini mencoba membandingkan hasil prediksi tingkat efisiensi perbankan menggunakan rasio keuangan (NIM dan CIR) dengan hasil pengukuran tingkat efisiensi perbankan menggunakan metode DEA.
1.7. Sistematika Penelitian
Sistematika penulisan penelitian ini terdiri dari lima bab, yaitu Bab 1 tentang Pendahuluan, Bab 2 tentang Tinjauan Pustaka, Bab 3 tentang Metode Penelitian, Bab 4 tentang Hasil dan Pembahasan, dan Bab 5 adalah Simpulan dan Saran.