• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN DAN PROSEDUR PENETAPAN FATWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEDOMAN DAN PROSEDUR PENETAPAN FATWA"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

PEDOMAN DAN PROSEDUR

PENETAPAN FATWA

Dr. HM. Asrorun Ni

am Sholeh,MA

Sekretaris Komisi Fatwa

Majelis Ulama Indonesia

@ans

(2)

PENGERTIAN

Fatwa adalah jawaban atau penjelasan dari ulama

mengenai masalah keagamaan dan berlaku untuk

umum.

Fatwa MUI adalah fatwa MUI tentang suatu

masalah keagamaan yang telah disetujui oleh

anggota Komisi dalam rapat komisi.

Fatwa Produk Halal adalah fatwa yang ditetapkan

oleh Komisi Fatwa MUI mengenai produk pangan,

obat-obatan dan kosmetika.

(3)

PENGERTIAN

 Auditor Halal adalah orang yang ditugaskan oleh LPPOM MUI untuk

melakukan audit halal setelah melalui proses seleksi yang mencakup kompetensi, kualitas, dan integritas, serta lulus pelatihan yang

diadakan oleh LPPOM MUI, dan berfungsi sebagai wakil dari ulama dan saksi untuk mencari fakta tentang produksi halal di perusahaan.

 Auditing adalah proses pemeriksaan atau penilaian secara

sistematik, independen dan terdokumentasi yang dilakukan oleh Auditor Halal untuk menentukan apakah penerapan Sistem Jaminan Halal berjalan sesuai dengan ketentuan.

 Sertifikat Halal adalah fatwa tertulis yang dikeluarkan oleh MUI

melalui keputusan sidang Komisi Fatwa yang menyatakan kehalalan suatu produk berdasarkan proses audit.

(4)

OTORITAS DAN DASAR FATWA

Penetapan fatwa dilakukan secara kolektif oleh

suatu lembaga yang disebut Komisi Fatwa.

Penetapan fatwa didasarkan pada Al-Quran,

(5)

SIFAT FATWA

Proses penetapan fatwa bersifat :

responsif,

proaktif dan

antisipatif.

Fatwa yang ditetapkan bersifat :

argumentatif (memiliki kekuatan hujjah),

legitimatif (menjamin penilaian keabsahan hukum),

kontekstual (waqi’iy),

aplikatif (siap diterapkan), dan

moderat.

(6)

METODE PENETAPAN FATWA (Ps 5 – 7)

 Sebelum fatwa ditetapkan, dilakukan kajian komperehensif terlebih

dahulu guna memperoleh deskripsi utuh tentang :

obyek masalah (tashawwur al-masalah),  rumusan masalah;

 dampak sosial keagamaan yang ditimbulkan dan titik kritis dari

berbagai aspek hukum (norma syari’ah) yang berkaitan dengan masalah tersebut.

 Kajian komprehensif mencakup:

 telaah atas pandangan fuqaha mujtahid masa lalu, pendapat para

imam madzhab dan ulama yang mu’tabar,

 telaah atas fatwa-fatwa yang terkait, serta

 pandangan ahli fikih terkait masalah yang akan difatwakan.

 Kajian komprehensif antara lain dapat melalui penugasan

(7)

PENETAPAN FATWA

1. Masalah yang ma’lum min al-din bi al-dlarurah  langsung difatwakan dengan menyampaikan hukum sebagaimana apa adanya.

2. Masalah yang terjadi perbedaan pendapat (masail khilafiyah) di kalangan madzhab, maka :

1. Penetapan fatwa didasarkan pada hasil usaha pencapaian titik temu di antara pendapat melalui

metode al-jam’u wa al-taufiq;

2. Jika tidak tercapai titik temu, penetapan fatwa didasarkan pada hasil tarjih melalui metode

muqaranah (perbandingan) dengan menggunakan kaidah-kaidah ushul fiqih muqaran.

3. Masalah yang tidak ditemukan pendapat hukum di kalangan madzhab atau ulama yang mu’tabar, didasarkan pada ijtihad kolektif melalui metode bayani dan ta’lili (qiyasi, istihsaniy, ilhaqiy, istihsaniy dan sad al-dzaraa’i) serta metode penetapan hukum (manhaj)

yang dipedomani oleh para ulama madzhab.

4. Dalam masalah yang terdapat perbedaan di kalangan peserta Rapat, dan tidak tercapai titik temu, maka penetapan fatwa disampaikan tentang adanya perbedaan pendapat

tersebut disertai dengan penjelasan argumen masing-masing, disertai penjelasan dalam

hal pengamalannya, sebaiknya mengambil yang paling hati-hati (ihtiyath) serta sedapat mungkin keluar dari perbedaan pendapat (al-khuruuj min al-khilaaf).

(8)

PROSEDUR RAPAT

Rapat harus dihadiri oleh para anggota Komisi

yang jumlahnya dianggap cukup memadai oleh

pimpinan rapat.

Dalam hal-hal tertentu, rapat dapat menghadirkan

pakar atau tenaga ahli yang berhubungan dengan

masalah yang akan difatwakan.

(9)

Rapat diadakan jika terdapat:

permintaan atau pertanyaan dari masyarakat;

permintaan atau pertanyaan dari pemerintah,

lembaga/organisasi atau MUI sendiri;

perkembangan dan temuan masalah-masalah

keagamaan yang muncul akibat perubahan sosial

kemasyarakatan, kemajuan ilmu pengetahuan dan

teknologi serta seni budaya.

(10)

Pimpinan Rapat

Rapat dipimpin oleh Ketua atau Wakil Ketua

Komisi atas persetujuan Ketua Komisi, didampingi

oleh Sekretaris dan/atau Wakil Sekretaris Komisi.

Jika Ketua dan Wakil Ketua Komisi berhalangan

hadir, rapat dipimpin oleh salah satu pimpinan

Komisi yang hadir.

Selama proses rapat, Sekretaris dan/atau Wakil

Sekretaris Komisi mencatat usulan, saran dan

pendapat Anggota Komisi untuk dijadikan Risalah

Rapat dan Bahan Fatwa Komisi.

(11)

FORMAT FATWA

 Nomor dan Tema Fatwa  Kalimat Basmalah.

 Konsideran yang terdiri atas :

Menimbang; memuat latar belakang dan alasan serta urgensi penetapan fatwa.

Mengingat; memuat dasar-dasar hukum (adillah al-ahkam) yang berbentuk nash syar’i,

terjemah dalam bahasa Indonesia dan penjelasan terkait pemanfaatan dalil sebagai argumen (wajhu al-dilalah)

Memperhatikan; memuat pendapat para ulama, peserta rapat, para ahli dan hal-hal

lain yang mendukung penetapan fatwa.  Diktum yang memuat :

Ketentuan Umum; yang berisi tentang definisi dan batasan pengertian masalah yang

terkait dengan fatwa, jika dipandang perlu

Ketentuan Hukum; yang berisi tentang substansi hukum yang difatwakan.Rekomendasi dan/atau solusi masalah jika dipandang perlu.

(12)

TANDA TANGAN

Fatwa ditandatangani oleh Ketua dan

Sekretaris Komisi.

Terhadap beberapa fatwa yang

membutuhkan penjelasan lebih lanjut,

fatwa dapat diberikan penjelasan agar

dapat dipahami secara utuh oleh

(13)

KEWENANGAN DAN WILAYAH

FATWA (16 – 19)

MUI berwenang menetapkan fatwa mengenai

masalah syari’ah secara umum, baik dalam bidang

akidah, ibadah, maupun akhlak

Kewenangan penetapan fatwa juga meliputi:

faham keagamaan yang muncul di masyarakat,

masalah sosial kemasyarakatan,

masalah pangan obat-obatan dan kosmetika (POM),

masalah yang terkait dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi, serta

(14)

KEWENANGAN DAN WILAYAH

FATWA

Majelis Ulama Indonesia berwenang menetapkan fatwa

yang menyangkut :

 umat Islam secara nasional atau

 masalah-masalah keagamaan di suatu daerah yang berpotensi

meluas ke daerah lain.

Terhadap masalah yang terjadi di daerah dan belum

difatwakan oleh MUI, Majelis Ulama Indonesia Daerah

berwenang untuk menetapkan fatwa terkait masalah

tersebut.

Majelis Ulama Indonesia Daerah yang berwenang

menetapkan fatwa adalah

 Komisi Fatwa MUI Provinsi dan

(15)

KEWENANGAN DAN WILAYAH

FATWA

Terhadap masalah yang telah difatwakan oleh

MUI, MUI Daerah hanya berhak untuk

melaksanakannya.

Pada kasus tertentu di mana Fatwa MUI tidak

dapat dilaksanakan, MUI daerah berkewajiban

untuk berkonsultasi kepada MUI untuk menetapkan

Fatwa Khusus yang terkait masalah tersebut.

(16)

KEWENANGAN DAN WILAYAH

FATWA

Terhadap masalah-masalah yang sangat musykil

dan sensitif, MUI Daerah berkewajiban melakukan

koordinasi dan konsultasi terlebih dahulu kepada

MUI.

(17)

FATWA PRODUK HALAL (20 – 21)

Penetapan fatwa produk halal dilakukan setelah :

adanya laporan hasil pemeriksaan (auditing) oleh Auditor Halal dan  telah melalui proses evaluasi dalam Rapat Auditor LPPOM MUI.

Laporan hasil audit disampaikan oleh Direktur LPPOM MUI

dalam Sidang Pleno Komisi.

Dalam bidang yang memerlukan keahlian fikih secara khusus,

seperti proses penyembelihan dan proses pensucian, Auditor

Halal dalam menjalankan tugasnya disertai oleh Komisi Fatwa.

Sertifikat Halal dikeluarkan oleh MUI setelah ditetapkan status

(18)

RUANG LINGKUP

Penetapan fatwa terhadap produk yang

berskala nasional dan internasional

dilakukan oleh MUI.

Penetapan fatwa terhadap produk yang

berskala lokal dapat dilakukan oleh MUI

Daerah.

(19)

FATWA EKONOMI SYARI’AH

Penetapan fatwa tentang ekonomi syari’ah yang

terkait dengan produk dan jasa keuangan syari’ah

dilakukan oleh DSN-MUI.

Penetapan fatwa tentang ekonomi syari’ah

mengikuti pedoman penetapan fatwa dalam

ketentuan ini.

Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme

penetapan fatwa ekonomi syari’ah diatur oleh

Dewan Syari’ah Nasional.

(20)

LAIN-LAIN

 Di samping penetapan fatwa dengan format sebagaimana diatur

dalam Pasal 13, Komisi Fatwa juga menetapkan fatwa melalui :

 surat dan/atau

 melalui lisan secara langsung tanpa melalui rapat Komisi Fatwa

terhadap masalah yang telah jelas hukum dan dalil-dalilnya (ma’lum min

al-din bi al-dlarurah) dengan menyampaikan hukum sebagaimana apa

adanya.

 Di samping penetapan fatwa, Komisi Fatwa berwenang :

menetapkan Rekomendasi Kesesuaian Syari’ah atas berbagai hal

yang terkait dengan masalah keagamaan praktis untuk menjadi panduan bagi masyarakat.

 Rekomendasi kesesuaian syari’ah diberikan kepada masyarakat

yang mengajukan setelah dilakukan pengkajian dan pendalaman sesuai dengan ketentuan syari’ah.

(21)

Fatwa MUI Sebagai Wadah Ijtihad

Jama’i

Berdasarkan paartisipasi kepesertaan,

ijtihad dikategorikan menjadi dua; (i)

ijtihad personal (ijtihad fardi) dan ijtihad

kolektif (ijtihad jama`i).

Ijtihad jama

i dilakukan oleh sejumlah

(sekelompok) orang yang terdiri atas para

ahli di berbagai bidang, yang secara

kumulatif telah memenuhi persyaratan

yang diperlukan dalam berijtihad.

Wujud kongkrit dari lembaga ijtihad

kolektif ini, di lingkungan MUI antara lain

adalah “Komisi Fatwa”.

(22)

Kelembagaan Fatwa MUI

Komisi Fatwa adalah perangkat

organisasi MUI yang bertugas untuk

menelaah, membahas, dan

merumuskan masalah fatwa

keagamaan.

Kelembagaan Komisi Fatwa berdiri

bersamaan dengan berdirinya MUI,

yakni pada tahun 1975.

(23)

Fatwa Produk Halal

Fatwa Produk Halal adalah fatwa

yang ditetapkan oleh Komisi Fatwa

MUI mengenai produk pangan,

obat-obatan dan kosmetika.

(24)

PENETAPAN FATWA HALAL

Di Indonesia, lembaga yang memiliki

kewenangan mengeluarkan Sertifikat

Halal adalah Majelis Ulama Indonesia

(MUI).

Sebelum penetapan fatwa,

pelaksa-naan teknis auditing dilakukan oleh

LPPOM-MUI.

Penetapan

Fatwa

dilakukan

oleh

Komisi Fatwa MUI.

(25)

Prosedur dan Mekanisme

Penetapan Fatwa Halal… (1)

1. MUI memberikan pembekalan pengetahuan kepada para

auditor LPPOM tentang standar penetapan produk halal.

2. Para auditor melakukan penelitian dan audit ke pabrik-pabrik (perusahaan) yang meminta sertifikasi halal. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:

a. Pemeriksaan secara seksama terhadap bahan-bahan

produk, baik bahan baku, bahan tambahan maupun bahan penolong.

b. Pemeriksaan terhadap bukti-bukti pembelian bahan

produk.

c. Cara pemotongan hewan untuk produk hewani atau

(26)

Prosedur dan Mekanisme

Penetapan Fatwa Halal….. (2)

3. Bahan-bahan tersebut kemudian diperiksa, terutama bahan-bahan yang dicurigai sebagai benda haram atau mengandung benda

haram (najis), untuk mendapat kepastian, serta didiskusikan dan dikaji oleh tim di LP.POM.

4. Pemeriksaan terhadap suatu perusahaan tidak jarang dilakukan lebih dari satu kali; dan tidak jarang pula auditor (LP.POM)

menyarankan –bahkan mengharuskan— agar mengganti suatu bahan yang dicurigai atau diduga mengandung bahan yang

haram (najis) dengan bahan yang diyakini kehalalannya atau sudah berserifikat halal dari MUI atau dari lembaga lain yang dipandang berkompeten, jika perusahaan tersebut tetap

menginginkan mendapat sertifikat halal dari MUI.

5. Hasil audit dan kajian LP.POM tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah Berita Acara yang disebut dengan “Laporan Hasil Auditing LP.POM-MUI” dan kemudian diajukan ke Komisi Fatwa MUI untuk dibahas dalam rapat Komisi Fatwa.

(27)

Prosedur dan Mekanisme

Penetapan Fatwa Halal….. (3)

6. Dalam rapat Komisi Fatwa, pihak LP.POM menyampaikan dan menjelaskan isi Laporan Hasil Auditing, dan kemudian dibahas secara teliti dan mendalam oleh peserta rapat

Komisi.

7. Suatu produk yang masih mengandung bahan yang

jelas-jelas diharamkan atau diragukan kehalalannya, atau terdapat bukti-bukti pembelian bahan produk yang dipandang tidak

transparan oleh rapat Komisi, dikembalikan kepada LP.POM untuk dilakukan penelitian atau auditing ulang ke perusahaan bersangkutan.

8. Sedangkan produk yang telah diyakini kehalalannya oleh peserta rapat, diputuskan fatwa halalnya oleh rapat Komisi tersebut.

9. Hasil rapat Komisi yang berupa keputusan fatwa halal

kemudian dilaporkan kepada Dewan Pimpinan MUI untuk

di-tanfiz-

kan dan dikeluarkan Surat Keputusan Fatwa Halal dalam bentuk Sertifikat Halal.

(28)

Proses Fatwa Produk Halal

Mustafti/ Produsen

KOMISI FATWA

Meminta fatwa (lewat LPPOM)

1. LPPOM menjelaskan hasil auditingnya

2. KF melakukan pendalaman dan pengkajian terhadap substansi masalah

Rapat pleno Komisi

Pleno menyetujui Hasil Audit

Fatwa

(1) (4) (5) (6) LPPOM-MUI Proses Auditing (2) (3)

(29)

Dokumen SJH Pendaftaran Dokumen SertifikatProduk Audit Produk Evaluasi Audit Sidang Komisi Fatwa Sertifikat Halal Audit Memorandum Bahan Tidak Tidak Ya Ya

(30)
(31)

Syukran...

@ans

(32)

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Referensi

Dokumen terkait

Akibat hukum yang timbul setelah ditetapkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah kembali kepada individu masing-masing, bagi umat Islam sudah seharusnya mentaati fatwa yang

METODOLOGI ISTINBATH FIKIH ZAKAT INDONESIA (Studi Terhadap Fatwa-Fatwa Zakat Majelis Ulama

ANALISIS USUL FIKIH TERHADAP FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) NOMOR: 4/MUNAS VII/MUI/8/2005 DAN PEMIKIRAN M.. QURAISH SHIHAB TENTANG

Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pandangan hukum Islam yang terdapat dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga yang

Hotel syariah merupakan salah satu dari Indikator tentang wisata halal, yang telah diatur oleh Fatwa MUI No.108/DSN- MUI/X/2016, di dalam fatwa tersebut, Majelis Ulama

Achmad Boys Awaluddin Rifai, Analisis fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) Nomor 54 Tahun 2006 tentang Syariah Card pada iB Hasanah Card

Namun, untuk menghindari keraguan atas ke-ṣaḥīḥ-an hadis-hadis yang dijadikan sebagai landasan hukum dalam fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

BPRS Metro Madani KC.Daya Murni Tulang Bawang Barat adalah faktor dari keputusan Majelis Ulama Indonesia MUI, Majelis Ulama Indonesia MUI telah meluncurkan keputusan fatwa dalam