• Tidak ada hasil yang ditemukan

NERACA BAHAN MAKANAN (NBM) DAN POLA PANGAN HARAPAN (PPH) Andra Vidyarini Tim Pengajar Survei Konsumsi Prodi Ilmu Gizi FIKES - UHAMKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "NERACA BAHAN MAKANAN (NBM) DAN POLA PANGAN HARAPAN (PPH) Andra Vidyarini Tim Pengajar Survei Konsumsi Prodi Ilmu Gizi FIKES - UHAMKA"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

NERACA BAHAN MAKANAN (NBM)

DAN POLA PANGAN HARAPAN (PPH)

Andra Vidyarini Tim Pengajar Survei Konsumsi Prodi Ilmu Gizi FIKES - UHAMKA

(2)

Pertimbangan Penyusunan NBM

UU 18/2012: Pangan

Bab IV : Ketersediaan Pangan

Pemerintah & Pemda bertanggung jawab atas:

▪ ketersediaan pangan,

▪ ketersediaan pangan di daerah, dan

pengembangan produksi pangan lokal di daerah

→ menjamin kecukupan pangan masyarakat

(3)

NERACA BAHAN MAKANAN (NBM)

NBM adalah daftar yang memuat tentang jumlah pangan yang tersedia dalam suatu wilayah atau negara dalam satu tahun

• Daftar memuat : Ketersediaan pangan untuk dikonsumsi oleh penduduk, produksi masukan/keluar), perubahan stok, impor, ekspor, pakan, bibit dan industry makanan dan bukan makanan serta jumlah pangan tercecer

NBM termasuk dalam survey konsumsi pangan → untuk melihat ketersediaan pangan tiap wilayah → didapatkan hasil berupa kecukupan energi per kapita per hari

• Hasil NBM → rata – rata kecukupan gizi perkapita/hari, rata – rata konsumsi energi menurut kelompok pangan (gr/kapita/hari)

(4)

NBM (cont)

Kelompok pangan → padi – padian, umbi – umbian, pangan hewani, minyak/lemak, buah/biji berminyak, kacang – kacangan, gula, sayur, buah, dan lainnya

Perhitungan didasarkan pada jumlah penduduk tengah tahun

Setiap kelompok bahan pangan menampilkan jumlah konsumsi energi (kkal/kapita/hari)

NBM merupakan gambaran neraca sumberdaya daya pangan yang terdiri dari komponen pengadaan/penyediaan (supply) dan penggunaan (utilization) pangan

(5)
(6)

TUJUAN NBM

Mengetahui gambaran pengadaan (produksi, impor, stok/cadangan)

Mengetahui penggunaan serta ketersediaan pangan untuk konsumsi penduduk maupun perubahannya di suatu wilayah pada waktu tertentu (setiap tahun)

Memperoleh gambaran detail tentang tingkat ketersediaan pangan

(defisit atau surplus), swasembada pangan, ketergantungan pada impor, efisiensi pasca panen; kompetisi penggunaan pangan untuk manusia dan ternak (pangan versus pakan); kecenderungan produksi, ekspor, impor, stok pangan maupun kualitas/ komposisi pangan yang tersedia

(7)

PRINSIP NBM

Penyajian data → tabel menggambarkan situasi dan kondisi ketersediaan pangan untuk konsumsi penduduk suatu wilayah

NBM menyajikan rata – rata jumlah pangan tersedia untuk dikonsumsi penduduk per kapita (kg/kap/tahun atau g/kap/hari atau zat gizi tertentu/kap/hari)

Fungsi NBM → menyediakan informasi ketersediaan pangan dalam satu wilayah dan mengetahui konsumsi zat gizi tertentu penduduk per kapita

Rumus perhitungan ketersediaan pangan :

TD = O –  St + M – X – (F + S + I + W)

Keterangan :

TD = ketersediaan pangan untuk dikonsumsi penduduk;

O = Produksi masukan/ keluaran;  St = Perubahan stok;

M = Impor;

X = Ekspor;

F = Pakan;

S = Bibit;

I = Industri (makanan dan bukan makanan);

W = Tercecer

(8)

8

1. PENYEDIAAN PANGAN DALAM NEGERI (jumlah & sumber) : a. Produksi

b. Impor

c. Perubahan Stok

2. PENGGUNAAN PANGAN (jumlah & jenis) : a. Ekspor

b. Pakan

c. Bibit/benih d. Industri e. Tercecer

f. (Tersedia untuk) Konsumsi

Informasi utama dalam NBM :

(9)

1. Pengadaan pangan

- Tingkat ketergantungan pada impor (Menggambarkan besarnya porsi impor terhadap total pangan tersedia) Tingkat/Rasio ketergantungan impor

= Import / (produksi + impor - eksport) x 100 - Trend produksi, impor dan stok

- Tingkat swasembada/self sufficiency Tingkat/Rasio swasembada

= Produksi / (produksi + impor - eksport) x 100

Informasi detail dalam NBM

(10)

10

2. Penggunaan pangan

Trend Ekspor

Kompetisi Manusia & Ternak (Pangan Vs Pakan) : (menggambarkan porsi bahan pangan yang digunakan untuk pakan/industri peternakan)

Tingkat efisiensi pasca panen/ tercecer(Menggambarkan besar-kecilnya kehilangan pasca panen)

3. Kualitas/komposisi pangan yang tersedia

(menggambarkan kualitas pangan yang tersedia ditinjau dari sisi keragamannya, misal menggunakan komposisi dan Skor keragaman ketersediaan (PPH)

4. TINGKAT KETERSEDIAAN

Tingkat ketersediaan: menggambarkan rasio antara pangan yang tersedia dengan yang dibutuhkan (Angka Kecukupan Gizi) pada waktu tertentu = dihitung dengan membagi jumlah energi/zat gizi

yang tersedia dengan angka kecukupan gizi

Seringkali dalam Publikasi NBM ditampilkan dalam bentuk kontribusi kelompok pangan terhadap total ketersediaan pangan (dalam bentuk energi)

Laju tingkat ketersediaan mengindikasikan perkembangan kemampuan daerah dalam penyediaan pangan antar waktu

(11)

No Jenis data pokok Sumber data

1 Jumlah penduduk Daerah Dalam Angka; Statistik Daerah

2 Produksi pangan Daerah Dalam Angka; Statistik Daerah (BPS), Statistik Sektoral (kerjasama BPS dan sektoral : Dinas THP, Dinas Peternakan & Perikanan, Dinas Perkebunan), Laporan tahunan Sektoral

3 Impor/ekspor pangan Dinas Indag

4 Perubahan stok Bulog divre…..(“hanya beras”)

5 Pakan, Bibit, Tercecer Tim NBM Pusat, angka teknis sektoral : Dinas THP, Dinas Peternakan & Perikanan, Dinas Perkebunan 6 Penggunaan untuk industri

(makanan & non makanan) Tim NBM Pusat, angka teknis sektoral : : Dinas THP, Dinas Peternakan & Perikanan, Dinas Perkebunan

7 Konsumsi pangan (sebagai

estimasi impor pangan) Dinas Kesehatan/BPS 8 Kandungan energi, protein, lemak,

BDD (bagian yang dapat dimakan)

Kemenkes/Persagi

Tatacara Penyusunan NBM :

Jenis dan sumber data

(12)

TEKNIK PENYUSUNAN NBM

Jenis data yang dihitung dalam NBM : 1. Kolom 1 : Jenis bahan makanan

2. Kolom 2 dan 3 : Produksi (masukan dan keluaran) 3. Kolom 4 : Perubahan stok

4. Kolom 5 : Impor

5. Kolom 6 : Persediaan dalam negeri/daerah sebelum ekspor 6. Kolom 7 : Ekspor

7. Kolom 8 : Persediaan dalam negeri / daerah

8. Kolom 9 – 14 : Pemakaian/penggunaan dalam negeri/daerah 9. Kolom 15 – 19 : Ketersediaan konsumsi pangan per kapita

(13)

13 ▪ Jenis pangan dalam NBM → komoditas utama (asal) dan komoditas/produk turunan, yang lazim atau umum

dikonsumsi oleh masyarakat suatu negara/daerah yang datanya tersedia secara kontinyu dan resmi.

▪ Data pengadaan/penyediaan pangan : produksi, impor dan ekspor, perubahan stok (yang diperoleh dari stok awal dan akhir tahun).

➢Data produksi (kolom 2), impor (kolom 5), ekspor pangan (kolom 7), penggunaan terutama untuk industri bukan

makanan (kolom 12)

➢Data perubahan stok (kolom 4)

Diperbanyak Oleh MWA Training & Consulting Lembaga Tata Kelola Ketahanan Pangan

(14)

14

➢Faktor konversi untuk penyusunan NBM mencakup produksi dan penggunaan pangan

→ Faktor konversi untuk menghitung produksi : tahap memproduksi, proses pengolahan hingga siap

untuk dibeli konsumen

Misal: gabah kering panen --- gabah kering giling- -- beras, yaitu untuk mengisi kolom (2) dan (3).

→ Faktor konversi untuk penggunaan pangan : bahan baku industri, kebutuhan pakan,

bibit/benih serta tercecer/rusak/waste. yaitu untuk mengisi kolom (9) sampai dengan kolom (13)

→ Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM)

Diperbanyak Oleh MWA Training & Consulting

Lembaga Tata Kelola Ketahanan Pangan 14

(15)

15

➢Memanfaatkan Data Konsumsi Pangan

Diperbanyak Oleh MWA Training & Consulting Lembaga Tata Kelola Ketahanan Pangan

Bila Data Pokok tidak tersedia/kecil (data produksi, stok, impor, ekspor, bibit, pakan, industri) dengan asumsi komoditas tersebut diproduksi oleh suatu wilayah

1. Gunakan data hasil survei konsumsi pangan) yaitu konsumsi per kapita/hr

2. Dengan mengasumsikan beda antara konsumsi dengan ketersediaan sekitar 10 %, maka data konsumsi tsb (butir 1) harus di mark up 10 % untuk mendapatkan data

ketersediaan

3. Kalikan data ketersediaan tsb (butir 2) dengan 365 hr

kemudian letakkan di kolom 15 (ketersediaan per kapita per tahun dalam satuan kg/tahun)

4. Kalikan kolom 15 dengan penduduk dibagi 1000,

kemudian isikan ke kolom 14 (bahan makanan dalam satuan 000 ton)

5. Isian kolom 14 akan sama dengan isian pada kolom 8, kolom 6, dan kolom 3

(16)

Bila Data Pokok tidak tersedia (data produksi, stok, impor, ekspor, bibit, pakan, industri) dengan asumsi komoditas tersebut tidak

diproduksi oleh suatu wilayah

1.

Langkah 1 s.d. 4 sama dengan slide sebelumnya

2.

Isian kolom 14 akan sama dengan isian pada

kolom 8 dan kolom 6

3.

Oleh karena komoditas tersebut tidak diproduksi maka untuk pengadaan dalam negeri

komoditas tsb diasumsikan hanya berasal dari impor (kolom 5), berarti isian kolom 5 sama

dengan isian kolom 6

16

(17)

❖ dipantau secara berkala

❖ dievaluasi dampak terhadap ketersediaan dan usaha pangan domestik

❖ diatur untuk melindungi kepentingan domestik, produsen dan konsumen Pelaku : - Perdagangan oleh Masyarakat

- Pengaturan, Pelayanan oleh Pemerintah

Impor : Sejumlah bahan makanan yg masuk ke dalam negeri/

wilayah dari negara/wilayah administratif lain (perdagangan antar pulau/antar propinsi)

Ekspor : Jumlah pangan (menurut jenis) yg keluar ke negeri/

wilayah administratif lain (perdagangan antar pulau/antar propinsi)

Penelusuran Arus Pangan (Ekspor Impor)

17

(18)

CARA PENYUSUNAN NBM

(19)

Jenis Bahan Makanan

Produksi

Masukan Keluaran

Peru- Bahan

Stock Impor

1 2 3 4 5

Penyediaan Dalam Negeri

Sebelum Ekspor

6

TABEL NBM, WILAYAH…… TAHUN …… satuan…)

Penyediaan Dalam Negeri

8

Bibit

Makanan Non Makanan

9 11 12

Pakan 10

Pemakaian Dalam Negeri Diolah Untuk

Eksport

7

TercecerYang

13

Bahan Makanan

14

TahunKg/ Gram/

Hari

15 16

Ketersediaan Per Kapita

Energi Kalori/

Hari 17

Protein (gr/

Hari 18

Lemak (gr/

Hari 19

Jumlah penduduk

(20)

Kolom 1 : Jenis Bahan Makanan

No Kelompok Bahan Pangan Jenis Bahan Makanan

1. Padi-padian Gandum beserta produksi turunannya : tepung gandum/tepung terigu; gabah (gabah kering giling) beserta produk turunannya : beras; jagung (pipilan);

jagung basah

2. Makanan berpati Ubi jalar, Ubi kayu dengan produksi turunannya : gaplek dan tapioka; tepung sagu yang merupakan produksi turunan dari sagu

3. Gula Gla pasir dan gula merah (gula mangkok, gula aren, gula semut, gula siwalan dll) baik hasil olahan pabrik maupun rumahtangga

4. Buah/biji berminyak Kacang tanah berkulit beserta produksi turunannya : kacang tanah lepas kulit;

kedelai; kacang hijau; kelapa daging (produksi turunan dari kelapa berkulit), kopra (turunan dari kelapa daging)

5. Buah-buahan Alpokat, jeruk, duku, durian, jambu, mangga, nanas, pepaya, pisang, rambutan, salak, sawo, lainnya

6. Sayur-sayuran bawang merah, ketimun, kacang merah, kacang panjang, kentang, kubis, tomat, wortel, cabe, terong, petsai/sawi, bawang daun, kangkung, lobak, labu siam, buncis, bayam, bawang putih, lainnya

(21)

Kolom 1 : Jenis Bahan Makanan

No Kelompok Bahan Pangan Jenis Bahan Makanan

7. Daging daging sapi, daging kerbau, daging kambing, daging domba, daging

kuda/lainnya, daging babi, daging ayam buras, daging ayam ras, daging itik, jeroan semua jenis

8. Telur telur ayam buras, ayam ras, itik, telur unggas lainnya

9. Susu susu sapi, susu olahan impor yang disetarakan susu segar

10. Ikan tuna/cakalang/tongkol, kakap, cucut, bawal, teri, lemuru, kembung, tenggiri, bandeng, belanak, mujair, mas, udang, rajungan dan kepiting, kerang darah, cumi-cumi dan sotong, lainnya

11. Minyak & lemak Nabati : minyak kelapa, minyak sawit, minyak kacang tanah, minyak kedelai, minyak jagung

Hewani : lemak sapi, kerbau, kambing/domba, babi

(22)

Semua bahan makanan yg lazim/dapat dikonsumsi oleh penduduk di wilayah bersangkutan, baik yg diperdagangkan maupun tidak.

Susunan jenis bahan makanan pada NBM sebagai berikut :

1. Padi-padian : Gandum, jagung, sorgum/cantel & produksi turunan 2. Makanan berpati : Ubi kayu, ubi jalar, sagu dan produksi turunannya

3. Gula : Gula pasir, gula merah (gula mangkok, gula aren, gula semut, gula siwalan, dll)

4. Buah/biji berminyak :

a. Kacang hijau, kelapa, kacang tanah, kedelai, kacang mete, kemiri, kacang bogor

b. Kelapa diolah menjadi kopra → minyak goreng sehingga produk turunannya termasuk kelompok minyak dan lemak

5. Buah-buahan : sumber vitamin dan mineral dari bagian tanaman yang berupa buah (alpokat, jeruk, duku, durian, jambu, mangga, nanas, pepaya, pisang, rambutan, salak, sawo, lainnya)

6. Sayuran : bagian tanaman berupa daun, bunga, buah, batang atau umbi, umumnya berumur kurang dari satu tahun (bawang merah, ketimun, kacang merah, kacang panjang, kentang, kubis, tomat, wortel, cabe, terong, petsai/sawi, bawang daun, kangkung, lobak, labu siam, buncis, bayam, bawang putih, lainnya

Jenis Bahan Makanan (Kolom 1)

(23)

7. Daging : bagian hewan yang disembelih atau dibunuh dan lazim dimakan manusia, kecuali yang telah diawetkan dengan cara selain pendinginan (daging sapi, daging kerbau, daging kambing,

daging domba, daging kuda/lainnya, daging babi, daging ayam buras, daging ayam ras, daging itik, jeroan semua jenis)

8. Telur adalah telur unggas : telur ayam buras, ayam ras, itik, telur unggas lainnya

9. Susu adalah cairan yg diambil dari ambing ternak perah sehat dgn cara pemerahan yg benar, terus menerus dan tidak ditambahkan sesuatu dan atau ditambahkan di dalamnya sesuatu bahan yang lain (susu sapi, susu olahan impor yang disetarakan susu segar)

10. Ikan : segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan (tuna/cakalang/tongkol, kakap, cucut, bawal, teri, lemuru, kembung, tenggiri, bandeng, belanak, mujair, mas, udang, rajungan dan kepiting, kerang darah, cumi-cumi dan sotong, lainnya)

11. Minyak dan lemak:

• Nabati : minyak kelapa, minyak sawit, minyak kacang tanah, minyak kedelai, minyak jagung

• Hewani : lemak sapi, lemak kerbau, lemak kambing/domba, lemak babi

Jenis Bahan Makanan (Kolom 1)

(24)

Jenis Bahan Makanan (Kolom 1)

• Semua bahan makanan yg lazim/dapat dikonsumsi oleh penduduk di wilayah bersangkutan, baik yg diperdagangkan maupun tidak.

• Susunan jenis bahan makanan pada NBM sebagai berikut :

1. Padi-padian : Gandum, jagung, sorgum/cantel & produksi turunan 2. Makanan berpati : Ubi kayu, ubi jalar, sagu dan produksi turunannya 3. Gula : Gula pasir, gula merah (gula mangkok, gula aren,

gula semut, gula siwalan, dll) 4. Buah/biji berminyak :

a. Kacang hijau, kelapa, kacang tanah, kedelai, kacang mete, kemiri, kacang bogor

b. Kelapa diolah menjadi kopra → minyak goreng sehingga produk turunannya termasuk kelompok minyak dan lemak

(25)

Kolom 2 dan 3 : Produksi (masukan dan keluaran)

Jumlah hasil dari proses produksi pertanian baik belum/sudah mengalami proses pengolahan, terdiri atas input dan output

Masukan / Input (2) : unsur produksi dalam bentuk asli maupun olahan yg akan mengalami proses selanjutnya

Keluaran / Output (3) : unsur produksi hasil turunan (perlu angka konversi dari input ke output)

(26)

Kolom 2 (cont)

Produksi komoditas tanaman pangan mencakup hasil seluruh panen (tua/muda), baik yang berasal dari lahan sawah maupun lahan kering serta lahan lama atau baru.

Produksi komoditas hortikultura berada dalam bentuk segar yang mencakup hasil seluruh panen, baik yang dipanen sekaligus maupun yang dipanen berkali-kali, sehingga pengisiannya langsung dimasukkan ke kolom 3 (keluaran) kecuali untuk bawang merah dan bawang putih pengisiannya dimulai dari kolom (2).

Komoditas holtikultura tidak dapat langsung dikonsumsi dalam bentuk segar (kering panen) sehingga harus melewati proses pengeringan menjadi kering konsumsi.

Produksi komoditas peternakan daging dihitung dari jumlah pemotongan resmi (RPH) ditambah perkiraan pemotongan tak resmi. Produksi daging (masukan) dinyatakan dalam bentuk karkas dari semua jenis ternak, (keluaran) dalam bentuk daging murni. Jeroan dihitung → total persentasi berat karkas masing-masing jenis dan langsung dimasukkan ke kolom (3)

Produksi perikanan : semua hasil penangkapan ikan/binatang air lainnya yang ditangkap dari sumber perikanan alami atau dari tempat pemeliharaan baik yang diusahakan oleh perusahaan perikanan maupun rumahtangga perikanan

Produksi minyak nabati didasarkan pada jumlah yang diolah untuk makanan, kecuali minyak sawit merupakan produksi asli. Produksi untuk lemak hewani didasarkan pada persentase berat karkas masing-masing jenis daging, langsung dimasukkan ke kolom (3).

(27)

Kolom 4 dan 5 (Perubahan stok dan Impor)

• Perubahan Stok (Kolom 4)

Selisih antara persediaan akhir periode dengan awal periode :

(+) bila stok meningkat → ketersediaan turun

(-) bila stok turun → ketersediaan meningkat

• Impor (Kolom 5)

Sejumlah bahan makanan yg masuk ke dalam negeri/wilayah dari negara/ wilayah administratif lain (perdagangan antar pulau/antar propinsi)

(28)

28

• Ketersediaan dalam Negeri sebelum Ekspor (Kolom 6)

Sejumlah bahan makanan yang berasal dari produksi (keluaran) dikurangi perubahan stok ditambah impor (kolom 3 – kolom 4 + kolom 5)

• Ekspor (Kolom 7)

Jumlah pangan (menurut jenis) yg keluar negeri/ wilayah administratif lain

• Ketersediaan dalam negeri (Kolom 8)

Produksi (keluaran) - perubh stok + impor – ekspor (kolom 6 – kolom 7)

Kolom 6, 7 dan 8(Ketersediaan sebelum ekspor, ekspor

dan ketersediaan setelah Ekspor)

(29)

29 Pemakaian/penggunaan dalam negeri (Kolom 9-14)

Jumlah pangan yang digunakan di dalam negeri/wilayah administratif tertentu, mencakup :

• Pakan (% x kolom 8)

• Bibit/benih

• Penggunaan untuk industri (makanan & non makanan

• Penyusutan (tercecer) (% x kolom 8)

• Bahan makanan (kol 8 – kol 9 - kol 10 – kol 11 kol 12 – kol 13)

(Perlu faktor estimasi utk berbagai pemanfaatan tsb)

(30)

30

• Ketersediaan per kapita (Kolom 15-19)

Sejumlah bahan makanan yang tersedia untuk

dikonsumsi setiap penduduk suatu negara/ daerah

dalam suatu kurun waktu tertentu, dinyatakan dalam : 1) kg/kap/thn atau gr/kap/hr

2) zat gizi (energi, protein dan lemak perkapita/

hari) → perlu DKBM / TKPI

(31)

31

Cara perhitungan kolom 15 - 19

Kolom 15 = Kolom (14) x 1000 Jumlah penduduk Kolom 16 = Kolom (15) x 1000

365

Kolom 17 = {Kolom (16) x Energi x BDD}

100

Kolom 18 = {Kolom (16) x Protein x BDD}

100

Kolom 19 = {Kolom (16) x Lemak x BDD}

100

INGAT!

SATUAN

(32)

CATATAN ! PENULISAN ANGKA DALAM NBM

Data pada NBM menggunakan satuan ribu ton dalam bentuk dua digit dibelakang koma

Kolom 2-14 dan 17: bilangan bulat

Kolom 15, 16, 18, 19: bilangan pecahan dua desimal

Bilangan di belakang koma yang nilainya kurang dari setengahnya dibulatkan ke bawah

Bilangan di belakang koma yang nilainya lebih dari setengahnya dibulatkan ke atas

Bilangan di belakang koma yang nilainya sama dengan setengah dan di depannya bilangan ganjil, maka pembulatannya ke atas

Bilangan di belakang koma yang nilainya sama dengan setengah dan di depannya bilangan genap, maka pembulatannya ke bawah

Semua bilangan desimal ketiga dan keempat lebih dari limapuluh, desimal kedua dibulatkan ke atas

Semua bilangan desimal ketiga dan keempat kurang dari limapuluh, dan desimal kedua ganjil, desimal kedua dibulatkan ke atas

Semua bilangan desimal ketiga dan keempat kurang dari limapuluh, dan desimal kedua genap, desimal kedua dibulatkan ke bawahJika tidak tersedia data hendaknya diisi dengan notasi strip (-)

Jika data tersedia, tapi besarnya kurang dari 500 ton hendaknya ditulis dengan notasi nol (0) untuk NBM Nasional

Jika data tersedia, tapi besarnya kurang dari 500 kg hendaknya ditulis dengan notasi nol (0) untuk NBM Regional

(33)

33

Pengisian NBM berurutan kolom demi kolom (kolom 1 ke 19):

1. Kolom 1 : Jenis Bahan Makanan, ditulis nama seluruh bahan makanan sesuai dengan kelompok komoditas.

2. Kolom 2 : Produksi (masukan), ditulis angka produksi yang masih akan mengalami perubahan bentuk (bila ada) sesuai dengan kelompok komoditasnya.

3. Kolom 3 : Produksi (keluaran), ditulis angka unsur produksi yang merupakan produksi asli yang diperoleh dari kegiatan berproduksi dan belum mengalami perubahan atau produksi turunan yang sudah mengalami perubahan.

4. Kolom 4 : Perubahan Stok, ditulis angka perubahan stok (bila ada) berikut tanda negatif (-) atau positif (+).

5. Kolom 5 : Impor, ditulis angka jumlah bahan makanan yang masuk dari negara lain atau wilayah lain baik melalui darat, perairan maupun udara

6. Kolom 6 : Penyediaan Dalam Negeri sebelum Ekspor, ditulis angka hasil dari Kolom (3) dikurangi Kolom (4) ditambah Kolom (5).

7. Kolom 7 : Ekspor, ditulis angka jumlah bahan makanan yang dikeluarkan dari wilayah administratif/daerah ke luar negeri maupun ke wilayah lain baik melalui darat, perairan maupun udara.

8. Kolom 8 : Penyediaan Dalam Negeri, ditulis angka hasil Kolom (6) dikurangi Kolom (7) 9. Kolom 9 : Pakan, tuliskan angka pakan pada kolom 9

10. Kolom 10 : Bibit/Benih, tuliskan angka kebutuhan bibit pada kolom 10

(34)

Pengisian NBM berurutan kolom demi kolom, lanjutan

11. Kolom 11 : Diolah untuk Makanan, ditulis angka banyaknya komoditas bahan makanan yang berasal dari penyediaan dalam negeri yang diolah untuk makanan.

12. Kolom 12 : Diolah untuk Bukan Makanan, ditulis angka banyaknya komoditas bahan makanan yang berasal dari penyediaan dalam negeri yang diolah untuk keperluan bukan makanan

13. Kolom 13 : Tercecer, ditulis angka hasil perkalian persentase tercecer dengan penyediaan dalam negeri untuk masing-masing komoditas.

14. Kolom 14 : Bahan Makanan, ditulis angka jumlah bahan makanan yang tersedia untuk dikonsumsi penduduk. Merupakan hasil dari : Kolom (8) – (9) – (10) – (11) – (12) – (13).

15. Kolom 15 : ditulis hasil pembagian Kolom (14) dengan jumlah penduduk pertengahan tahun, kemudian dikalikan 1000 (konversi ton ke kg), dengan satuan kg/tahun.

16. Kolom 16 : ditulis angka hasil pembagian Kolom (15) dengan 365 hari dikali 1000 (konversi kg ke g), dengan satuan g/hari.

17. Kolom 17 : Energi (Kkal/hari), ditulis angka hasil perkalian Kolom (16) dengan persen bagian yang dapat dimakan (bdd) dan kandungan energi dari 100 g bahan makanan.

18. Kolom 18 : Protein (g/hari), ditulis angka hasil perkalian Kolom (16) dengan persen bagian yang dapat dimakan (bdd) dan kandungan protein dari 100 g bahan makanan.

19. Kolom 19 : Lemak (g/hari), ditulis angka hasil perkalian Kolom (16) dengan persen bagian yang dapat dimakan (bdd) dan kandungan lemak dari 100 g bahan makanan.

(35)

35

1. Data penduduk pertengahan tahun

Sebelum tahun 2000, data penduduk tengah tahun, termasuk penduduk asing yang mukim min 6 bln (BPS/Kantor statistik) dihitung dengan rumus :

Jenis, Sumber dan Persyaratan Data/Informasi dalam Penyusunan NBM

 Penduduk tengah tahun ‘99 = ( Pddk’98 +  Pddk’99) 2

Sejak tahun 2000, data penduduk tengah tahun → data proyeksi

Sensus Penduduk tahun 2000 (BPS/Kantor statistik), termasuk data penduduk asing yang bermukim di Indonesia minimal 6 bulan.

(36)

2. Data pangan

• Jenis pangan dalam NBM → komoditas utama (asal) dan

komoditas/produk turunan, yang lazim atau umum dikonsumsi oleh

masyarakat suatu negara/daerah yang datanya tersedia secara kontinyu dan resmi.

• Data pengadaan/penyediaan pangan : produksi, impor dan ekspor, perubahan stok (yang diperoleh dari stok awal dan akhir tahun).

• Data produksi, (kolom 2), impor (kolom 5) dan ekspor pangan (kolom 7) serta penggunaan terutama untuk industri bukan makanan (kolom 12) tersedia di Badan Pusat Statistik (BPS) dan perubahan stok (kolom 4) terdapat di Badan Urusan Logistik (Bulog).

(37)

Dalam penghitungan NBM selama ini, penggunaan kelapa untuk diolah menjadi kopra diperkirakan 45 % dari total penyediaan dalam negeri (kolom 8)

Penghitungan untuk tingkat regional, penggunaan kelapa untuk diolah menjadi minyak seharusnya berasal dari data riil pemakaian kelapa untuk pabrik minyak baik perusahaan maupun perorangan. Demikian juga

dengan industri non makanan.

Data produksi kelapa dalam bentuk equivalent kopra, sehingga

dikonversikan menjadi kelapa daging (dikalikan 100/45 = 222%) dan diisikan pada kolom (3).

Kolom (2) kelapa daging diubah menjadi kelapa berkulit (dikalikan 100/24

= 416%)

37 5b.Pengisian kolom NBM : Perilaku/komoditas pangan Komoditas Perkebunan

Kelapa

(38)

Kelapa daging/kopra

Kolom (2) berasal dari kolom (11) kelapa daging

Kolom (3) kelapa daging dirubah menjadi kopra dengan konversi 45%

Pengisian hanya sampai kolom (13), kolom (14 – 19) kosong, karena kopra tidak langsung dikonsumsi manusia, melainkan diolah lebih lanjut menjadi minyak goreng

38

Kopra/minyak goreng

Kolom (2) berasal dari kolom (11) kelapa daging/kopra pada kelompok buah/biji berminyak

Kolom (3) 60 % X kolom (2)

(39)

39

Kolom (2) dri kolom (11) minyak sawit

Kolom (3) dari minyak sawit yang dirubah menjadi minyak goreng dengan konversi 68,28%

Minyak sawit/minyak goreng

Minyak sawit

Produksi tanaman kelapa sawit = minyak sawit (CPO) dan inti sawit, namun yang dicakup dalam NBM hanya CPO saja (kolom 3)

Kolom (2) dapat diisikan dalam bentuk Tandan Buah Segar (TDS) = 100/22,01 x kolom (3)

Pengisian hanya sampai kolom (13) karena minyak sawit tidak dapat langsung dikonsumsi manusia

(40)

40 Kolom (3) sumber data Ditjen Perkebunan, berupa produksi gula pasir yang dihasilkan pabrik gula

Gula pasir

Tercecer

• Sejumlah bahan makanan yang hilang atau rusak, sehingga tidak dapat dimakan oleh manusia, yang terjadi secara tidak disengaja, sejak bahan makanan tersebut diproduksi hingga tersedia untuk konsumen.

Besaran konversi tercecer untuk kelompok ikan adalah 3 persen.

Komoditas Perikanan & Kelautan

(41)

41

Komoditas Peternakan (contoh sumber data : Statistik Peternakan, Dinas Peternakan tahun….)

• Produksi daging dalam bentuk karkas (kolom 2)

• Dari karkas dikonversi ke daging murni sebesar 74,95%

(kolom 3)

• Kolom 9, 10, 11, 12 tidak ada

Daging

• Kolom (2) dari kolom (2) komoditas daging sapi dalam bentu karkas

• Kolom (3) dari karkas dirubah menjadi lemak dengan konversi 3 %

• dst

Lemak sapi

(42)

42 (1). MODEL PERHITUNGAN POPULASI

Pt = Po + Bt - Dt - St - Et + it , dimana Pt = Populasi akhir tahun t

Po = Populasi awal tahun t

Bt = Kelahiran selama tahun t Dt = Kematian selama tahun t St = Pemotongan selama tahun t Et = Ekspor selama tahun t

it = impor selama tahun t SATUAN POPULASI

* 10 ribu ekor (10 X 10^3 ekor)

* 10 ribu Satuan Ternak (ST) atau Animal Unit (AU)

(43)

43

PS = Pop.s x % betina produktif x m dimana,

PS = Produksi Susu

m = Parameter produktivitas susu Pop.s = Populasi sapi perah

• Produksi Susu

PT = pop.u x % betina produktif x p dimana,

PT = Produksi Telur

p = Parameter produktivitas telur unggas Pop.u = Populasi unggas

• Produksi Telur

PD = k. St dimana,

PD = Produksi Daging

k = Berat karkas (dari studi atau reguler sampling)

St = Jumlah pemotongan ternak tahun t

• Produksi Daging

(44)

44

• Data produksi gandum tidak tersedia, maka pengisian kolom (2) dan (3) = tidak ada dan ditulis “(-)“.

• Gandum berasal dari impor, isi kolom 5 (sumber data BPS).

• Gandum juga diekspor, isi kolom 7 (sumber dari BPS)

• Tidak ada pengunaan untuk pakan (kolom 9), bibit (kolom 10), diolah untuk bukan makanan (kolom 12) dan tercecer (kolom 13)

• Penyediaan Gandum dalam negeri digunakan untuk diolah untuk makanan (kolom 11) : biji gandum belum dapat dikonsumsi

manusia/penduduk, sehingga Kolom (14) s.d Kolom (19) tidak diisi dan ditulis strip = ”(-)”

Komoditas Tanaman Pangan/hortikultura

I.1. Gandum

(45)

45

• Masukan (kolom 2) berasal dari kolom (11) komoditas gandum yang akan diolah lebih lanjut menjadi tepung gandum (kolom 3) dengan angka konversi 72%.

• Tepung gandum juga berasal dari impor, isi kolom 5 (sumber data BPS)

• Tepung gandum juga diekspor-termasuk dalam bentuk produk olahan, isi kolom 7 (sumber data BPS)

I.2. Tepung Gandum

(46)

46

• Masukan (kolom 2) tidak ada (-), karena bentuk produksi yang

tersedia gabah kering giling sehingga langsung isi keluaran (kolom 3), sumber data Ditjen Tanaman Pangan dan BPS

• Gabah juga berasal dari impor, isi kolom 5 (sumber data BPS)

• Gabah juga diekspor, isi kolom 7 (sumber data BPS)

• Gabah digunakan untuk pakan (kolom 9), bibit (kolom 10), diolah untuk bukan makanan (kolom 12) dan tercecer (kolom 13) serta diolah untuk makanan (kolom 11) = kolom 8 – 9 – 10 – 12 – 13

• Gabah belum dapat dikonsumsi manusia/penduduk, sehingga Kolom (14) s.d Kolom (19) tidak diisi dan ditulis strip = ”(-)”

I. 3. Padi gagang/gabah

(47)

47

• Masukan (kolom 2) berasal dari kolom 11 komoditas padi gagang/gabah

• Gabah juga berasal dari impor, isi kolom 5 (sumber data BPS)

• Gabah juga diekspor, isi kolom 7 (sumber data BPS)

• Gabah digunakan untuk pakan (kolom 9), bibit (kolom 10), diolah untuk bukan makanan (kolom 12) dan tercecer (kolom 13) serta diolah untuk makanan (kolom 11) = kolom 8 – 9 – 10 – 12 – 13

• Gabah belum dapat dikonsumsi manusia/penduduk, sehingga Kolom (14) s.d Kolom (19) tidak diisi dan ditulis strip = ”(-)”

I. 4. Gabah/beras

(48)

48

Untuk jagung basah, data produksinya tidak tersedia, maka penghitungan ketersediaan dilakukan dari data konsumsi yang berasal dari Survey Sosial Ekonomi (Susenas) – lihat slide no 123 dan 124

I. 5. Jagung basah

Karena data produksi gaplek tidak tersedia, maka pengisian

dimulai dari kolom diolah untuk industri bukan makanan (kolom 12), ekspor (kolom 5) dan impor (kolom 7) berupa gaplek,

tepung gaplek dan chip.

1.6. Ubi kayu/ Gaplek

(49)

49

Kolom (3) sumber data Ditjen Tanaman pangan dan BPS Kolom (11) = merupakan penjumlahan kolom (2) komoditi ubikayu/gaplek dan ubikayu/tapioka

1.7. Ubi kayu/ Tapioka

1.8. Ubi kayu

Pengisian dimulai dari kolom diolah untuk industri bukan makanan (kolom 12), ekspor (kolom 5) dan impor (kolom 7)

Pengisian dimulai dari kolom (3), karena data yang tersedia dalam bentuk biji kering, sumber data Ditjen Tanaman pangan dan BPS.

Kolom (2), dilakukan dengan cara mengkonversikan kolom (2) dengan besaran konversi kacang tanah lepas kulit ke kacang tanah berkulit sebesar 167 %.

1.9. Kacang tanah lepas kulit

(50)

50

Pengisian dimulai dari kolom (11), data berasal dari (kolom 2) kacang tanah lepas kulit

Kacang tanah berkulit yang tercecer 5%, tidak ada penggunaan untuk pakan, bibit dan industri bukan makanan maka untuk

industri makanan sebesar 95%

Kolom (8) = 100/95 X kolom (11) Kolom (13) = 5% X kolom (8)

1.10. Kacang tanah berkulit

(51)

51

Mengapa data NBM tidak dimanfaatkan?

- Tidak akurat ?

- Tidak tepat waktu ? - Tidak informatif ?

- Tidak pernah diinformasikan?

(52)

POLA PANGAN HARAPAN (PPH)

(53)

DEFINISI PPH

pendekatan PPH (ukuran keseimbangan gizi dan keanekaragaman pangan)

semakin tinggi skor PPH, konsumsi pangan semakin beragam dan seimbang pemenuhan keseimbangan gizi yang didasarkan pada konsep triguna pangan

keseimbangan jumlah antar kelompok pangan merupakan syarat terwujudnya keseimbangan gizi

konsep gizi seimbang → keseimbangan antara asupan (konsumsi) zat gizi dan kebutuhannya, maupun jumlahnya antar waktu makan

(Hardinsyah et al. 2001)

(54)

Pola Pangan Harapan (PPH) atau Desirable Dietary Pattern

jumlah dan jenis pangan yang didasarkan pada sumbangan energi/kelompok pangan (baik secara absolut maupun relatif) untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi (Hardinsyah, et al. 2001)

dapat memenuhi tidak hanya kecukupan gizi (nutritional adequancy), tetapi sekaligus memenuhi keseimbangan gizi (nutritional balance) yang didukung cita rasa (palatability), daya cerna (digestability), daya terima masyarakat

(acceptability), kuantitas dan kemampuan daya beli (affortability).

Menurut FAO RAPA 1998 :

PPH adalah komposisi kelompok pangan utama yang bila dikonsumsi dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya.

PPH : susunan beragam pangan yang didasarkan atas proporsi keseimbangan energi dari 9 kelompok pangan dengan mempertimbangkan segi daya terima, ketersediaan pangan, ekonomi, budaya dan agama.

(55)

55

• keragaman pangan (horizontal & vertikal) sesuai potensi lokal

• mutu & keseimbangan gizi ketersediaan pangan penduduk skor pangan (dietary score) → skor PPH.

Skor PPH  ketersediaan pangan semakin beragam dan seimbang.

Mengapa harus PPH ?

(56)

Menghitung skor PPH(menghitung bobot/rating)

Tiga Guna Makanan

Sumber Tenaga (KH, lemak)

1. Serealia……….. 50 % 2. Umbi-umbian ……… 6 % 3. Minyak & lemak…….10 % 4. Biji dan buah

Berminyak.…………. 3 % 5. Gula ……… 5 %

33.3 : 74 = 0.5 Sumber Zat

Pembangun (Protein)

1. Pangan hewani…... 12 % 2. Kacang-kacangan.. 5 %

33.3 : 17 = 2 Sumber Zat Pengatur

(Vitamin & Mineral) 1. Sayur dan Buah….. 6%

33.3 : 6 = 5 Lain-lain 1. Minuman & Bumbu...3%

33.3

33.3 33.3 Tiga

Guna Makanan

Sumber Tenaga (KH, lemak)

1. Serealia……….. 50 % 2. Umbi-umbian ……… 6 % 3. Minyak & lemak…….10 % 4. Biji dan buah

Berminyak.…………. 3 % 5. Gula ……… 5 %

33.3 : 74 = 0.5 Sumber Zat

Pembangun (Protein)

1. Pangan hewani…... 12 % 2. Kacang-kacangan.. 5 %

33.3 : 17 = 2 Sumber Zat Pengatur

(Vitamin & Mineral) 1. Sayur dan Buah….. 6%

33.3 : 6 = 5 Lain-lain 1. Minuman & Bumbu...3%

33.3

33.3 33.3

(57)

57

1. Pengelompokan pangan 2. Konversi jenis dan satuan

3. Menghitung ketersediaan/konsumsi energi menurut kelompok pangan

4. Menghitung total energi

5. Menghitung kontribusi energi dari setiap kelompok pangan (%)

6. Menghitung skor PPH aktual

7. Menghitung skor PPH berdasarkan kecukupan energi

8. Gunakan maksimum skor PPH 9. Menghitung total skor PPH

Bagaimana cara menghitung PPH ?

(58)

58

PERBANDINGAN PPH FAO-RAPA, MENEG PANGAN 1994, DEPTAN 2001

No Kelompok Pangan

FAO-RAPA Meneg Pangan (1994) Deptan (2001)

gr/ kap/

% Min-Max % Bobot Skor % Bobot Skor hari

1 Padi-padian 40.0 40.0-60.0 50.0 0.5 25.0 50.0 0.5 25.0 300.0

2 Umbi-umbian 5.0

0.0-8.0 5.0 0.5 2.5 6.0 0.5 2.5 100.0

3 Pangan Hewani 20.0 5.0-20.0 15.3 2.0 30.6 12.0 2.0 24.0 150.0

4 Minyak dan

Lemak 10.0 5.0-15.0 10.0 1.0 10.0 10.0 0.5 5.0 25.0

5 Buah/biji

berminyak 3.0 0.0-3.0 3.0 0.5 1.5 3.0 0.5 1.0 10.0

6 Kacang-

kacangan 6.0 2.0-10.0 5.0 2.0 10.0 5.0 2.0 10.0 35.0

7 Gula 8.0 2.0-15.0 6.7 0.5 3.4 5.0 0.5 2.5 30.0

8 Sayur dan Buah 5.0 3.0-8.0 5.0 2.0 10.0 6.0 5.0 30.0 250.0

9 Lain-lain 3.0 0.0-5.0 0.0 0.0 0.0 3.0 0.0 0.0 (25)

Total 100 100 93.0 100 100

Sumber : Hardinsyah, N.Sinulingga, D. Martianto (2000)

(59)

No Kelompok Pangan

Berat setara pangan (gr/kap/hr)

Jumlah Energi (kkal/kap/hr)

%

AKE Bobot Skor PPH

1. Padi-padian 300.0 1100 50.0 0.5 25.0

2. Umbi-umbian 110.0 132 6.0 0.5 2.5

3. Pangan hewani 165.0 264 12.0 2.0 24.0

4. Minyak dan lemak 22.0 220 10.0 0.5 5.0

5. Buah/biji berminyak 11.0 66 3.0 0.5 1.0

6. Kacang-kacangan 28.0 110 5.0 2.0 10.0

7. Gula 33.0 110 5.0 0.5 2.5

8. Sayur dan buah 275.0 132 6.0 5.0 30.0

9. Lain-lain - 66 3.0 0.0 0.0

Jumlah 2200 100.0 100.0

Tabel . Jumlah, Komposisi dan skor PPH ideal KETERSEDIAAN PANGAN penduduk Indonesia untuk hidup sehat

(60)

60

1. Pengelompokan pangan

No Kelompok Pangan Jenis Komoditas (kelompok PPH) 1 Padi-padian beras dan olahannya, jagung dan

olahannya, gandum dan olahannya 2 Umbi-umbian ubi kayu dan olahannya, ubi jalar,

kentang, talas, dan sagu (termasuk makanan berpati)

3 Pangan Hewani daging dan olahannya, ikan dan olahannya, telur, serta susu dan olahannya

4 Minyak dan lemak minyak kelapa, minyak sawit, margarin, dan lemak hewani

5 Buah/biji berminyak kelapa, kemiri, kenari, dan coklat

(61)

61

Pengelompokan pangan (Lanjutan..)

No Kelompok Pangan Jenis Komoditas (kelompok PPH)

6 Kacang-kacangan kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, kacang merah, kacang polong, kacang mete, kacang tunggak, kacang lain, tahu, tempe, tauco, oncom, sari kedelai, kecap

7 Gula gula pasir, gula merah, sirup, minuman jadi dalam botol/kaleng.

8 Sayur dan Buah sayur segar dan olahannya, buah segar dan olahannya, termasuk emping

9 Lain-lain aneka bumbu dan bahan minuman seperti terasi, cengkeh, ketumbar, merica, pala, asam, bumbu masak, terasi, teh dan kopi

(62)

2. Menghitung ketersediaan energi menurut kelompok pangan

No Kelompok pangan

Energi Kal/org/

hr

%

AKG Bobot Skor AKG

Skor PPH

Skor maks

1 Padi-padian 1561

2 Umbi-umbian 251

3 Pangan hewani 124

4 Minyak dan lemak 282

5 Buah/Biji Berminyak 19

6 Kacang-kacangan 126

7 Gula 79

8 Sayur dan Buah 150

9 Lain-lain 0

Total

(63)

3. Menghitung total energi

No Kelompok pangan Energi

Kal/org/hr % AKG

Bobot Skor

AKG Skor

PPH Skor maks

1 Padi-padian 1561

2 Umbi-umbian 251

3 Pangan hewani 124

4 Minyak dan lemak 282 5 Buah/Biji Berminyak 19

6 Kacang-kacangan 126

7 Gula 79

8 Sayur dan Buah 150

9 Lain-lain 0

Total 2592

Total energi (Kal/kap/hari)

= energi padi-padian + umbi-umbian+ …… + energi lain-lain

(64)

65

4. Menghitung kontribusi energi dari setiap kelompok pangan (%)

Contoh : Kontribusi energi kelompok padi-padian (% AKG)

= energi kelompok padi-padian x 100%

AKG ketersediaan No Kelompok pangan Energi

Kal/org/

hr

% AKG

Bobot Skor AKG

Skor PPH

Skor maks

1 Padi-padian 1561 71.0

2 Umbi-umbian 251 11.4

3 Pangan hewani 124 5.6 4 Minyak dan lemak 282 12.8

5 Buah/Biji Berminyak 19 0.9

6 Kacang-kacangan 126 5.7

7 Gula 79 3.6

8 Sayur dan Buah 150 6.8

9 Lain-lain 0 0.0

Total 2592 117.8

(65)

66

5. Mencantumkan bobot atau rating setiap kelompok pangan

No Kelompok pangan Energi

Kal/org/

hr

% AKG

Bobot Skor AKG

Skor PPH

Skor maks

1 Padi-padian 1561 71.0 0.5

2 Umbi-umbian 251 11.4 0.5

3 Pangan hewani 124 5.6 2.0

4 Minyak dan lemak 282 12.8 0.5

5 Buah/Biji Berminyak 19 0.9 0.5

6 Kacang-kacangan 126 5.7 2.0

7 Gula 79 3.6 0.5

8 Sayur dan Buah 150 6.8 5.0

9 Lain-lain 0 0.0 0.0

Total 2592 117.8

(66)

67

6. Menghitung skor AKG (berdasarkan kecukupan energi)

Skor AKG = % AKG x bobot No Kelompok pangan Kalori %

AKG

Bo bot

Skor AKG

Skor PPH

Skor maks

1 Padi-padian 1561 71.0 0.5 35.5

2 Umbi-umbian 251 11.4 0.5 5.7

3 Pangan hewani 124 5.6 2.0 11.3

4 Minyak dan lemak 282 12.8 0.5 6.4

5 Buah/Biji Berminyak 19 0.9 0.5 0.4

6 Kacang-kacangan 126 5.7 2.0 11.4

7 Gula 79 3.6 0.5 1.8

8 Sayur dan Buah 150 6.8 5.0 34.0

9 Lain-lain 0 0.0 0.0 0.0

Total 2592 117.8 106.6

(67)

68

7. Menetapkan Skor PPH setiap kelompok pangan dgn memperhatikan skor maks

No Kelompok pangan Kalori % AKG

Bobot Skor AKG

Skor PPH

Skor maks

1 Padi-padian 1561 71.0 0.5 35.5 25.0 25.0

2 Umbi-umbian 251 11.4 0.5 5.7 2.5 2.5

3 Pangan hewani 124 5.6 2.0 11.3 11.3 24.0

4 Minyak dan lemak 282 12.8 0.5 6.4 5.0 5.0

5 Buah/Biji Berminyak 19 0.9 0.5 0.4 0.4 1.0

6 Kacang-kacangan 126 5.7 2.0 11.4 10.0 10.0

7 Gula 79 3.6 0.5 1.8 1.8 2.5

8 Sayur dan Buah 150 6.8 5.0 34.0 30.0 30.0

9 Lain-lain 0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

Total 2592 117.8 106.6 86.0 100.0

Catatan : skor PPH diperoleh dengan membandingkan skor AKG dan skor maksimum tiap kel pangan. Apabila skor AKG > skor maks maka skor PPH kel pangan tersebut adalah sebesar skor maksimum dan sebaliknya.

(68)

ANALISIS DAN INTERPRETASI

1. Membandingkan ketersediaan/konsumsi pangan aktual dengan harapan (PPH) pada tiap kelompok pangan dan mendiskusikan kemungkinan

penyebab dan alternatif solusinya.

2. Membandingkan ketersediaan/konsumsi energi aktual dengan harapan (PPH) pada setiap kelompok pangan dan mendiskusikan kemungkinan penyebab dan alternatif solusinya

3. Membandingkan kontribusi ketersediaan/konsumsi energi (% AKG) dengan komposisi energi harapan (PPH) dan mendiskusikan kemungkinan penyebab dan alternatif solusinya.

4. Membandingkan skor PPH ketersedian/ konsumsi energi dengan skor yang diharapkan

5. Menganalisis tren skor PPH dan mendiskusikan kemungkinan penyebab dan alternatif solusinya

6. Implikasi → rekomendasi kebijakan/ program

(69)

(sasaran skor 100 tahun 2020)

St = S0 + n(S2020-S0)/dt

Keterangan :

St = skor mutu pangan tahun t

S0 = skor mutu pangan tahun awal S2020 = skor mutu pangan tahun 2020

dt = selisih waktu antara tahun 2020 dengan tahun awal n = selisih tahun yang dicari dengan tahun dasar

Proyeksi skor & komposisi PPH

Interpolasi linier, asumsi :

(70)

Contoh Penghitungan Proyeksi skor &

komposisi PPH Tahun 2008

S2008 = S2005 + 3 (S2020 – S2005)/(2020-2005)

= 74,8 + 3 (100 – 74,8) / 15

= 79,8

St = S0 + n (S2020-S0)/dt

Dengan rumus yang sama dapat dihitung proyeksi proporsi masing- masing kelompok pangan

(71)

No.

Kelompok Pangan 2005 2007 2008 2010 2020

1. Padi-padian 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0

2. Umbi-umbian 1.3 1.5 1.5 1.7 2.5

3. Pangan Hewani 15.5 16.7 17.2 18.4 24.0

4. Minyak dan Lemak 5.0 5.0 5.0 5.0 5.0

5. Buah/biji berminyak 0.6 0.6 0.7 0.7 1.0

6. Kacang-kacangan 7.5 7.8 8.0 8.3 10.0

7. Gula 1.8 1.9 1.9 2.0 2.5

8. Sayur dan Buah 18.0 19.6 20.4 22.0 30.0

9. Minuman dan Bumbu 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

Skor PPH 74.8 78.1 79.8 83.2 100.0

Proyeksi Pola Pangan Harapan Konsumsi Pangan

Gambar

Tabel . Jumlah, Komposisi dan skor PPH ideal  KETERSEDIAAN PANGAN penduduk Indonesia untuk hidup sehat

Referensi

Dokumen terkait