commit to user
i
“PRAKTIK MANAJEMEN LABA DAN EVALUASI KINERJA
PERUSAHAAN DI SEKITAR INITIAL PUBLIC OFFERING”
(Studi kasus pada perusahaan yang melakukan IPO di BEI tahun 2005-2009)
Skripsi
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Syarat-Syarat
untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta
Oleh :
SEPTIAN WAHYU A. P. NIM. F0307081
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
commit to user
commit to user
iv
MOTTO
T ”Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan
mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”
(Amsal 9:10)
T ”Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN,
yang menaruh harapannya pada TUHAN!”
(Yeremia 17:7)
T ”Giving my Best, in everything I do,,,”
T “Just keep believing on ur dreams, and make it
happen,,,”
commit to user
v
PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan untuk...
Ø My Awesome GOD, and heavenly Father, Jesus Christ,,, “I tried
to give all my best in this work, Lord.. thank’s for the
blessings..thank’s for the love, and thank’s for the faith..Love U
God”
Ø My Dad, Mom, my Little Sister, Grandma,
Uncles, Aunties, etc,,,,,”thank’s for every
support,,I love u all..”
Ø The “Gumoongs” of PMK FE, thank’s for ur support and
prayers..hehehe, kangen kumpul2, n’ pelayanan bareng lagi sama
kalian...
Ø “Accounting AGENTS 007”,,,,sukses buat kita
commit to user
vi
KATA PENGANTAR
Segala pujian, hormat dan syukur untuk Tuhan Yesus Kristus, buat kasih
setia, pertolongan, penyertaan, dan berkat-berkat yang sangat luar biasa dalam
hidup penulis sampai saat ini, sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“PRAKTIK MANAJEMEN LABA DAN EVALUASI KINERJA
PERUSAHAAN DI SEKITAR INITIAL PUBLIC OFFERING” (Studi kasus
pada perusahaan yang melakukan IPO di BEI tahun 2005-2009), sebagai
tugas akhir guna memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi,
Jurusan Akuntansi, Universitas Sebelas Maret.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini tidak terlepas
dari dorongan dan bantuan banyak pihak. Oleh karenanya, penulis dengan ini
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Wisnu Untoro, M.S., selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Sebelas Maret.
2. Drs. Santoso Tri Hananto, M.Si., Ak., selaku Ketua Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret.
3. Dr. Payamta, M.Si., Ak., CPA., selaku pembimbing skripsi atas semua
kritik, saran, dan perhatianya yang sangat membantu penulis untuk
mencapai hasil yang terbaik.
4. Bapak-bapak dan ibu-ibu dosen, serta karyawan FE UNS, terimakasih-ku
commit to user
vii
5. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu
kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak, penulis harapkan
demi perbaikan yang berkelanjutan.
Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak
yang membutuhkan di kemudian hari. Terimakasih dan God bless you all...
Surakarta, Juli 2011
commit to user
A. Latar Belakang Masalah…...
commit to user
ix
BAB II. LANDASAN TEORI ...
A. Penawaran Saham Perdana (Initial Public Offerings)...
B. Manajemen Laba...
C. Teori Signal (Signalling Theory)...
D. Teori Keagenan (Agency Theory)...
E. Konsep Akrual...
F. Kinerja Operasi Perusahaan...
G. Kerangka Pemikiran...
H. Penelitian Terdahulu...
I. Pengembangan Hipotesis dan Hipotesis...
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ………...
A. Desain Penelitian...
B. Populasi dan Sampel...
C. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data...
D. Variabel Penelitian dan Pengukurannya...
E. Teknik dan Analisis Data...
BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN ………...
A. Hasil Pengumpulan Data...
B. Statistik Deskriptif ...
C. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan...
commit to user
x
1. Uji Normalitas...
2. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan...
a. Pengujian Hipotesis...
b. Pembahasan...
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN...
A. Kesimpulan...
B. Keterbatasan...
C. Saran...
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
52
54
54
70
80
80
81
commit to user
Tabel Statistik Deskriptif Total Accrual...
Tabel Statistik Deskriptif Kinerja Keuangan...
Tabel Test of Normality Kinerja Perusahaan...
Tabel Ringkasan Hasil Perhitungan Total Accruals...
Tabel Hasil Non Discretionary Accruals sebelum IPO..
Tabel Hasil Non Discretionary Accruals setelah IPO....
Tabel Hasil Discretionary Accruals...
Tabel Hasil Uji Homogenitas Variansi...
Tabel Hasil Uji Homogenitas Covarian...
Tabel Hasil Uji MANOVA...
Tabel Hasil Uji MANOVA...
Tabel Hasil Uji Wilcoxon ROA...
Tabel Hasil Uji Wilcoxon ROE...
Tabel Hasil Uji Wilcoxon GPM...
Tabel Hasil Uji Wilcoxon OPM...
Tabel Hasil Uji Wilcoxon NPM...
commit to user
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Perusahaan Sampel...
Lampiran 2 Data NI dan CFO sebelum IPO...
Lampiran 3 Data NI dan CFO setelah IPO...
Lampiran 4 Data Total Accruals sebelum dan setelah IPO...
Lampiran 5 Data Discretionary Accruals...
Lampiran 6 Data Rasio Kinerja Keuangan sebelum IPO...
Lampiran 7 Data Rasio Kinerja Keuangan setelah IPO...
Lampiran 8 Statistik Deskriptif menggunakan SPSS 16...
Lampiran 9 Hasil Uji Normalitas Discretionary Accruals....
Lampiran 10 Hasil Uji Normalitas Data Kinerja Keuangan....
Lampiran 11 Hasil Uji WilcoxonDiscretionary Accruals....
Lampiran 12 Hasil Uji MANOVA Kinerja Keuangan.......
Lampiran 13 Hasil Uji Wilcoxon ROA...
Lampiran 14 Hasil Uji Wilcoxon ROE...
Lampiran 15 Hasil Uji Wilcoxon GPM...
Lampiran 16 Hasil Uji Wilcoxon OPM...
commit to user
commit to user
xiii
“PRAKTIK MANAJEMEN LABA DAN EVALUASI KINERJA
PERUSAHAAN DI SEKITAR INITIAL PUBLIC OFFERING”
(Studi kasus pada perusahaan yang melakukan IPO di BEI tahun 2005-2009)
ABSTRAK
SEPTIAN WAHYU A. P. NIM. F0307081
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk meneliti keberadaan manajemen laba pada perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO, dan melakukan evaluasi kinerja keuangan perusahaan-perusahaan tersebut, sebagai
bukti keberadaan manajemen laba tersebut. Penelitian ini menghitung
discretionary accruals satu tahun sebelum IPO dan satu tahun setelah IPO untuk melihat keberadaan manajemen laba. Untuk meneliti evaluasi kinerja keuangan digunakan beberapa rasio keuangan seperti ROA, ROE, GPM, OPM, dan NPM.
Metode dalam pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan
menggunakan Uji statistik non parametrik berupa Uji Wilcoxon dan Uji Manova sebagai alat uji penelitian, karena distribusi data tidak normal. Sampel yang digunakan yaitu perusahaan yang melakukan IPO di BEI pada tahun 2005-2009.
Hasil dari seleksi data dengan menggunakan metode purposive sampling
menyatakan bahwa sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 37 perusahaan dan dikarenakan menggunakan rentang waktu penelitian 2 kali 5 tahun maka jumlah sampel yang ada 74 sampel.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa (1) tidak terdapat indikasi manajemen laba di sekitar IPO, (2) evaluasi kinerja keuangan secara simultan menunjukkan adanya perbedaan kinerja pada waktu sebelum dan setelah IPO. Evaluasi secara parsial ROA juga menunjukkan ada perbedaan kinerja sebelum dan setelah IPO. Evaluasi kinerja secara parsial ROE, GPM, OPM, dan NPM tidak menunjukkan adanya perbedaan kinerja sebelum dan setelah IPO.
commit to user
xiv
“PRAKTIK MANAJEMEN LABA DAN EVALUASI KINERJA
PERUSAHAAN DI SEKITAR INITIAL PUBLIC OFFERING”
(Studi kasus pada perusahaan yang melakukan IPO di BEI tahun 2005-2009)
ABSTRACT
SEPTIAN WAHYU A. P. NIM. F0307081
The purpose of this study was to examine the existence of earnings management in companies that go public, and evaluate the financial performance of such companies, as evidence of the existence of earnings management. This study compute the discretionary accruals of one year before the IPO and one year after the IPO to examine the existence of earnings management. To investigate the evaluation of financial performance used some financial ratios like ROA, ROE, GPM, OPM and NPM.
The method of sampling using purposive sampling and using non-parametric statistical test of Wilcoxon test and MANOVA test as a tool of research trials, because the data distribution is not normal. The sample used is a company doing an IPO on the Indonesia Stock Exchange in 2005-2009. The results of data selection by using purposive sampling method that samples used in this study as many as 37 companies and due to the use of the study period of 5 years in 2 times the existing number of samples 74 samples.
The results of statistical analysis showed that: (1) there is no indication of earnings management around the IPO, (2) the simultaneous evaluation of financial performance reflects differences in performance on the time before and after the IPO. Partial evaluation of return on assets (ROA) also showed differences in performance before and after the IPO. Performance evaluation of partial ROE, GPM, OPM and NPM showed no difference in performance before and after the IPO.
commit to user
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perusahaan, dalam usaha pencapaian tujuan-tujuannya, akan membuat
perencanaan-perencanaan baik dalam bidang pembelanjaan, produksi, dan
pemasaran. Riyanto (1994), menyatakan bahwa masalah dana pembelanjaan
merupakan masalah utama dalam perusahaan, dimana ketika perusahaan
gagal mendapatkan dana untuk menjalankan satu fungsi dalam perusahaan,
maka akan menghambat setiap proses lain dalam perusahaan.
Pada saat perusahaan tidak memiliki cukup dana untuk melakukan
ekspansi, atau melakukan perkembangan dalam usahanya, maka pertumbuhan
perusahaan yang seharusnya dapat berjalan lancar menjadi terhambat. Dalam
usaha pemenuhan dana ini, perusahaan akan dihadapkan pada beberapa
pilihan mengenai sumber dana perusahaan: (1) laba ditahan, (2) utang kepada
kreditur, (3) penawaran saham kepada publik atau Initial Public Offerings
(IPO). Masing-masing pilihan diatas memiliki kelebihan dan kekurangan.
Laba ditahan merupakan sumber dana yang berasal dari internal
perusahaan sendiri, dalam pemakaiannya perusahaan tidak harus memberikan
konsekuensi apapun, akan tetapi dana yang diperoleh dari cara ini, jumlahnya
terbatas (Andriyanti, 2007) dalam Hastoro dan Yuliana (2010).
Utang kepada kreditur adalah pilihan kedua yang lebih fleksibel,
commit to user
2 tetapi utang ini menuntut pembayaran bunga dan ketika perusahaan gagal
membayar kewajibannya, kreditur berhak memaksa perusahaan untuk
melikuidasi aset perusahaan yang menjadi agunan utang tersebut (Andriyanti,
2007) dalam Hastoro dan Yuliana (2010).
Penawaran perdana kepada publik (Initial Public Offerings atau IPO)
merupakan pilihan ketiga bagi perusahaan. IPO, menurut Payamta (1998),
dapat diartikan sebagai penjualan saham oleh perusahaan untuk yang pertama
kalinya. Kelebihan IPO dibanding dengan sumber dana yang lain adalah,
adanya peningkatan sumber dana perusahaan, yang juga meningkatkan pos
modal saham dalam laporan keuangan, sehingga ekuitas perusahaan
meningkat, sehingga perusahaan bebas untuk melakukan investasi dari dana
tersebut.
Setelah melakukan IPO, maka struktur perusahaan yang sebelumnya
merupakan perusahaan tertutup, berubah menjadi perusahaan publik atau
perusahaan terbuka. Dari perubahan struktur perusahaan tersebut, maka
timbul konsekuensi yang harus diterima oleh perusahaan. Salah satu
konsekuensi yang harus diterima oleh perusahaan adalah, adanya kewajiban
transparansi atas pelaporan keuangan dalam perusahaan. Transparansi ini
menjadi begitu penting, karena menyangkut kepentingan para stakeholders
perusahaan seperti kreditur, supplier, terlebih bagi investor modal yang telah
menanamkan dananya pada perusahaan, dan hal ini merupakan salah satu
commit to user
3 Kewajiban transparansi ini hanya akan diberlakukan pada perusahaan
setelah IPO, sedangkan untuk periode sebelum IPO, perusahaan tidak akan
diwajibkan untuk mempublikasikan laporan keuangannya secara terbuka
kepada publik. Sebelum melakukan IPO, perusahaan dituntut untuk
menyajikan laporan prospektus perusahaan, sebagai salah satu syarat untuk
melakukan IPO. Prospektus ini merupakan satu-satunya informasi yang
dimiliki investor mengenai perusahaan dan laporan keuangan perusahaan
pada periode sebelum IPO, sehingga informasi yang dimiliki oleh investor
mengenai perusahaan sangatlah terbatas. Keterbatasan informasi yang
diperoleh investor mengenai perusahaan ini disebut asimetri informasi.
Dengan adanya asimetri informasi pada periode sebelum IPO, manajemen
perusahaan cenderung akan melakukan manajemen laba pada periode
sebelum IPO tersebut, dengan tujuan untuk membentuk persepsi investor
yang positif terhadap perusahaan (Kiswara, 1999) dalam Saiful (2004).
Salah satu hal yang menjadi pertimbangan dari investor, sebelum
menanamkan modalnya dalam perusahaan adalah, tingkat keuntungan dari
perusahaan tersebut (Hastoro dan Yuliana, 2010). Hal ini menyebabkan
munculnya kecenderungan manajemen untuk membuat laba agar terlihat baik
di mata investor, terlebih di sekitar periode IPO perusahaan tersebut, agar
investor tertarik untuk menanamkan modalnya pada perusahaan.
Tindakan mengelola laba agar terlihat lebih baik inilah yang disebut
dengan manajemen laba. Schipper (1989) dalam Wild et. al., (2005)
commit to user
4 sengaja dalam proses penentuan laba, yang biasanya untuk memenuhi tujuan
pribadi. Irawan dan Gumanti (2010) menyatakan bahwa perusahaan yang
memiliki laba yang konsisten, memiliki harga saham yang relatif lebih tinggi,
dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki laba tidak konsisten. Hal ini
menjelaskan, mengapa manajemen memiliki kecenderungan untuk
menggunakan metode akuntansi tertentu, untuk mengatur laba sebelum
melakukan IPO, adalah untuk menarik minat investor.
Manajemen laba dapat menyebabkan pengungkapan informasi dalam
pelaporan kinerja perusahaan tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
Hal ini dapat mengakibatkan para pemakai laporan keuangan tidak
memperoleh informasi keuangan yang akurat untuk dijadikan acuan dalam
pengambilan keputusan (Wahyuningsih, 2007). Salah satu pemakai dari
laporan keuangan tersebut ialah investor. Kecenderungan manajemen untuk
melakukan manajemen laba di periode sekitar IPO, akan sangat berpengaruh
pada pengambilan keputusan investor. Investor bisa saja salah menentukan
langkah, dengan melakukan investasi pada perusahaan yang sebenarnya
kurang prospektif, akan tetapi tidak dapat dideteksi oleh investor, karena
tertutup oleh laba yang meyakinkan. Hal ini dapat menyesatkan investor
dalam mengestimasi return yang diharapkan akan diterima investor di masa
mendatang.
Akibat dari adanya praktik manajemen laba dalam perusahaan, seperti
telah diungkapkan oleh Lo (2007), dalam penelitian khabash dan
commit to user
5 banyak pihak. Pihak-pihak yang berpotensi untuk dirugikan, kembali lagi,
adalah investor modal, bank atau kreditur, pemerintah atau regulator,
supplier, customer, dan pesaing. Pihak-pihak tersebut dapat menjadi korban
dikarenakan, mereka dapat membuat keputusan atas dasar informasi yang
tidak tepat (Al-khabash dan Al-Thuneibat, 2009).
Schipper, (1989) dalam Wild et. al. (2005) menyatakan bahwa
asal-usul munculnya manajemen laba adalah dari kebijakan akuntansi itu sendiri.
Kebijakan akuntansi akrual, disebut-sebut sebagai penyebab manajemen
dapat melakukan manajemen laba, karena manajemen akan memiliki
kebebasan untuk mengaplikasikan kebijakan akuntansi dalam perusahaan.
Akuntansi akrual menjadi salah satu pilihan untuk melakukan manajemen
laba karena, dalam pengaplikasian akuntansi akrual, manajemen diberikan
kebebasan untuk memilih metode akuntansi mana, yang akan digunakan
dalam pelaporan keuangan perusahaan. Kebebasan ini memberikan
kesempatan kepada manajemen, untuk mengatur laba dengan cara mengatur
angka-angka akrual, sehingga akan diperoleh laba yang diinginkan. Metode
ini disebut sebagai metode discretionary accruals.
Alasan penggunaan metode discretionary accruals, sebagai alat untuk
melakukan manajemen laba dikarenakan sifat dari akrual itu sendiri yang
dipandang sebagai metode yang lebih baik daripada metode cash, karena
dengan digunakannya metode accrual, akan mengurangi masalah waktu dan
ketidakcocokan (mismatching) dalam pengukuran arus kas (Dechow, 1994)
commit to user
6 merupakan bagian dari total accrual, yang dalam perhitungan laba total
accrual tersebut terdiri atas discetionary dan non discretionary accrual. Non
discretionary accrual merupakan komponen akrual yang terjadi secara alami
atau wajar seiring dengan perubahan aktivitas perusahaan. Discretionary
accrual adalah komponen akrual yang berasal dari rekayasa manajemen
(earning management). Discretionary accrual berhubungan dengan harga
saham, laba yang akan datang, serta aliran kas (Subramanyam, 1996) dalam
Wahyuningsih (2007).
Beneish (2001) dalam Wahyuningsih (2007), menyatakan penyebab
berkembangnya manajemen laba yang berbasis akrual: (1) Akuntansi akrual,
merupakan bagian dari prinsip akuntansi yang berterima umum, sedangkan
manajemen laba lebih mudah terjadi pada laporan yang berbasis akrual,
daripada laporan yang berbasis kas. (2) Mempelajari akuntansi akrual, akan
mengurangi masalah dalam mengukur dampak, dari berbagai pilihan metode
akuntansi terhadap laba. (3) Apabila indikasi manajemen laba tidak dapat
diamati dari akrual, maka investor tidak akan dapat menjelaskan dampak dari
manajemen laba pada penghasilan yang dilaporkan perusahaan.
Dalam praktik, metode yang diterapkan dalam pelaporan akuntansi,
dapat mempengaruhi hasil akhir dari laporan keuangan perusahaan. Hal ini
dapat menjadi keuntungan bagi manajemen, karena mereka dapat memilih
metode yang akan dipakai dalam pelaporan akuntansi perusahaan mereka,
baik dalam perhitungan keuntungan ataupun penilaian keuangan. Dengan
commit to user
7 akan memicu manajemen untuk melaporkan keuntungan yang diinginkan,
dan mencapai tujuan manajemen sendiri, sehingga kualitas laporan keuangan
menurun.
Berbicara mengenai hubungan antara praktik manajemen laba, dengan
kinerja perusahaan, dapat dilihat bahwa sebenarnya perubahan kinerja
perusahaan merupakan suatu bukti dari ada atau tidaknya praktik manajemen
laba dalam perusahaan. Demi menarik minat investor, manajemen cenderung
memberikan sinyal positif kepada calon investor. Sinyal positif yang ingin
diberikan manajemen kepada calon investor, dapat diwujudkan dengan cara
melakukan manajemen laba untuk memperlihatkan kinerja yang baik dalam
prospektus penawaran, sehingga nilai perusahaan dimata investor akan
meningkat. Namun, sinyal positif ini tidak akan bertahan dalam waktu yang
panjang, hal ini tercermin dalam laporan keuangan yang menyatakan adanya
penurunan kinerja yang dilaporkan oleh perusahaan (Teoh et. al., 1998)
dalam Suprianto (2008). Manajemen laba yang dilakukan pada periode
sekitar IPO, meskipun akan menambah nilai perusahaan, karena laba
perusahaan terlihat baik dimata calon investor, dan mengakibatkan respon
pasar yang positif pada periode tersebut, akan tetapi praktik manajemen laba
ini, juga mengakibatkan penurunan kinerja (underperformance) beberapa
tahun setelah penawaran perdana (IPO) (Suprianto, 2008). Dengan
melakukan manajemen laba sebelum IPO, manajemen menggeser laba
commit to user
8 periode setelah IPO, laba perusahaan akan menurun, sehingga dapat
dikatakan bahwa kinerja perusahaan menurun setelah IPO.
Penilaian kinerja suatu perusahaan merupakan hal yang sangat penting
dilakukan oleh manajemen, pemegang saham, pemerintah, maupun oleh
stakeholder yang lain, karena menyangkut distribusi kesejehteraan diantara
mereka (Payamta, 1998). Investor akan sangat bergantung pada isi dari
laporan keuangan, yang merupakan sumber utama informasi keuangan
mengenai perusahaan (Jones 2010: 370) untuk menilai kinerja perusahaan
tersebut. Untuk menilai kinerja perusahaan, dapat digunakan rasio-rasio
keuangan. Suatu rasio keuangan akan bermanfaat bila diinterpretasikan dalam
perbandingan dengan (1) rasio tahun sebelumnya, (2) standar yang ditentukan
sebelumnya, (3) dan rasio pesaing (Wild, et. al., 2005: 38).
Rasio Tingkat Pengembalian atas investasi (Return On Investment)
dipergunakan untuk menilai kompensasi keuangan kepada penyedia
pendanaan ekuitas dan utang (Wild, et. al., 2005: 39). Rasio-rasio tersebut
adalah, Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE).
Rasio Kinerja Operasi (Operating Performance Ratio) dipergunakan
untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba melalui
pendapatan yang diterima perusahaan dari aktivitas operasinya pada suatu
periode tertentu. Adapun rasio yang digunakan untuk analisis adalah Gross
Profit Margin (GPM), Operating Profit Margin (OPM), Net Profit Margin
commit to user
9 Penelitian mengenai manajemen laba dalam akuntansi, menarik untuk
dilakukan, karena manajemen laba itu sendiri sering dilakukan oleh
manajemen perusahaan, yang biasanya untuk memenuhi kepentingan pribadi,
akan tetapi keberadaannya tidak dapat dipersalahkan. Bukti dari pernyataan
diatas adalah, banyaknya penelitian yang membahas tentang manajemen laba,
antara lain: Aharony et. al. (1993), Gioielli dan Carvalho (2008), Teoh et. al.
(1998), Irawan dan Gumanti (2010), Saiful (2004), Hastoro dan Yuliana
(2010). Akan tetapi dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya, ditemukan bahwa hasilnya tidak konsisten, dan cenderung
membingungkan.
Beberapa penelitian terdahulu mengenai manajemen laba di sekitar
IPO, telah banyak dilakukan. Penelitian-penelitian tersebut tidak bisa
memberikan hasil yang konsisten, tetapi cenderung memberikan hasil yang
berbeda-beda. Beberapa peneliti menyatakan menemukan adanya indikasi
manajemen laba disekitar IPO, akan tetapi beberapa peneliti lain menyatakan
bahwa hasil penelitiannya tidak menemukan adanya indikasi manajemen laba
disekitar IPO. Aharony et. al. (1993) menyatakan bahwa manajemen laba
tidak ditemukan dalam periode sekitar IPO. Penelitian yang dilakukan oleh
Gioielli dan Carvalho (2008) tidak menemukan manajemen laba di periode
sebelum dan setelah IPO, hanya menemukan manajemen laba tepat pada
periode IPO dilakukan. Namun berbeda dengan penelitian Friedlan (1994)
dalam (Suprianto, 2008), dan Teoh et. al. (1998) yang menemukan bukti kuat
commit to user
10 Penelitian serupa juga dilakukan oleh beberapa peneliti di Indonesia,
antara lain, Joni dan Jogiyanto (2009), menemukan adanya manajemen laba
pada periode sebelum dan setelah IPO, hasil yang sama ditunjukkan pada
penelitian Hastoro dan Yuliana (2010), yang menemukan bahwa manajemen
laba lebih besar ketika periode satu tahun sebelum IPO, daripada satu tahun
setelah IPO. Penelitian Saiful (2004) secara parsial menemukan bahwa dua
tahun sebelum dan setelah IPO terdapat manajemen laba, akan tetapi pada
periode satu tahun sebelum dan setelah IPO tidak ditemukan adanya indikasi
manajemen laba. Penelitian Irawan dan Gumanti, (2010), serta Irawan dan
Gumanti (2005), tidak menemukan adanya manajemen laba di sekitar IPO,
dan mendukung hasil dari Aharony et. al., (1993).
Penelitian mengenai evaluasi kinerja operasi disekitar periode IPO
pernah dilakukan oleh Saiful (2004), Hastoro dan Yuliana (2010), dan
Suprianto (2008), penelitian tersebut hanya membahas mengenai Return on
Asset (ROA) saja, sebagai proksi kinerja operasi, padahal sebenarnya masih
banyak rasio lain untuk menilai kinerja operasi perusahaan. Wild et. al.
(2005) dalam bukunya menyatakan beberapa rasio profitabilitas yang dapat
digunakan untuk melakukan analisis profitabilitas perusahaan, antara lain,
ROA, ROE, GPM, OPM, dan NPM.
Mengingat begitu pentingnya masalah manajemen laba bagi para
stakeholder perusahaan yang melakukan IPO, dan masih adanya perbedaan
hasil penelitian-penelitian sebelumnya mengenai manajemen laba disekitar
commit to user
11 perusahaan dalam periode di sekitar IPO, menjadi motivasi dilakukannya
penelitian ini. Untuk mengkaji lebih dalam mengenai manajemen laba dan
kinerja keuangan pada perusahaan-perusahaan yang melakukan IPO, maka
diambil sebuah judul “PRAKTIK MANAJEMEN LABA DAN
EVALUASI KINERJA PERUSAHAAN DI SEKITAR INITIAL PUBLIC
OFFERING” (Studi kasus pada perusahaan yang melakukan IPO di BEI
tahun 2005-2009).
Penelitian ini merupakan modifikasi dari penelitian Saiful (2004) yang
meneliti mengenai hubungan manajemen laba dengan kinerja operasi dan
return saham di sekitar IPO, dan penelitian Hastoro dan Yuliana (2010) yang
meneliti masalah manajemen laba disekitar Penawaran Harga Saham Perdana
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya
yaitu, (1) penelitian ini mencoba untuk mengkaji lebih dalam mengenai
manajemen laba dalam perusahaan yang melakukan IPO pada rentang waktu
yang berbeda, yaitu tahun 2005-2009, dan melakukan evaluasi kinerja operasi
dalam periode sebelum dan setelah IPO, (2) mengubah sampel, dengan tidak
membedakan jenis perusahaan yang terdaftar di BEI agar sampel lebih luas,
dan dapat digeneralisasi, (3) menambah variabel kinerja keuangan ROE
(Return on Equity), GPM (Gross Profit Margin), OPM (Operating Profit
Margin), dan NPM (Net Profit Margin) sebagai proksi tambahan untuk
commit to user
12
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penelitian ini dapat
dirumuskan ke dalam dua permasalahan.
1 Adakah indikasi manajemen laba yang dilakukan perusahaan, selama
periode sebelum dan setelah IPO?
2 Apakah ada perbedaan antara kinerja keuangan perusahaan sebelum
IPO dengan setelah IPO?
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1 Untuk menguji secara empiris mengenai keberadaan manajemen laba
selama periode sebelum dan setelah IPO.
2 Untuk menguji secara empiris perbedaan kinerja keuangan perusahaan,
sebelum dan setelah IPO.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini antara
lain adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Akademis
Secara Akademis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi bagi perkembangan teori di Indonesia, khususnya mengenai
commit to user
13 2. Manfaat Praktis
a. Bagi Manajemen Perusahaan
Penulis berharap agar penelitian ini dapat menjadi wacana
serta referensi bagi penentuan kebijakan-kebijakan perusahaan
serta dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam
pengambilan keputusan oleh manajemen perusahaan.
b. Bagi Investor
Penulis berharap penelitian ini dapat berguna bagi para
investor ataupun calon investor untuk lebih mengerti tentang
kelayakan suatu perusahaan sebagai tempat berinvestasi, sehingga
tidak mengalami kerugian dikemudian hari.
c. Bagi Pemerintah
Bagi regulator, terutama BAPEPAM penelitian ini dapat
bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan
kebijakan-kebijakan dalam pasar modal terkhusus terkait masalah
commit to user
14
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Penawaran Saham Perdana (Initial Public Offerings)
Initial Public Offerings (IPO) adalah penjualan saham perusahaan
untuk pertama kali yang dilakukan di pasar perdana (Suprianto, 2008).
Setelah perusahaan melakukan penjualan saham, maka struktur kepemilikan
perusahaan tersebut akan berubah, dan hal ini menuntut adanya transparansi
informasi dalam perusahaan. Perusahaan ini harus memberikan informasi
yang transparan kepada publik baik dalam periode sebelum IPO ataupun
periode setelah IPO.
Pada periode sebelum IPO, transparansi tersebut diperlukan sebagai
prasyarat untuk pengajuan IPO, misalnya laporan prospektus, sedangkan
untuk periode setelah IPO, perusahaan harus melaporkan setiap informasi dan
mengungkapkannya sebagai konsekuensi, karena telah menjadi perusahaan
publik yang tercatat dalam pasar modal.
Beberapa keuntungan berikut, akan diterima perusahaan ketika menjadi
perusahaan publik:
1. Sumber Pendanaan
Masalah yang sering menjadi kendala utama dalam perusahaan
adalah, kurangnya dana untuk pengembangan, baik untuk penambahan
modal kerja atau untuk ekspansi usaha. Salah satu pilihan yang dapat
commit to user
15 sahamnya sehingga kendala keuangan dapat teratasi. Dengan menjual
sahamnya kepada publik seperti ini, perusahaan akan memperoleh dana
dalam jumlah yang besar.
2. Keuntungan Kompetitif dalam Usaha
Setelah menjadi perusahaan publik, perusahaan akan memperoleh
banyak keuntungan untuk pengembangan usaha di masa mendatang, antara
lain, perusahaan dapat mengajak para partner kerjanya (supplier, buyer)
menjadi salah satu pemegang saham perusahaan, dengan cara menjual
saham perusahaan kepada mereka. Pada saat hal tersebut terjadi, hubungan
antara perusahaan dan partner-nya tidak lagi hanya sebatas hubungan
bisnis, tetapi akan terjalin suatu hubungan yang lebih baik, yaitu loyalitas
mereka terhadap perusahaan akan meningkat, karena mereka memiliki
kepentingan dalam perusahaan, yaitu sebagai pemegang saham.
3. Kesempatan Merger atau Akuisisi atas Perusahaan Lain.
Merger atau akuisisi merupakan salah satu usaha yang banyak
dilakukan manajemen untuk mengembangkan perusahaan yang
dijalankannya. Dengan adanya merger atau akuisisi, maka suatu
perusahaan dapat dibeli kepemilikannya oleh perusahaan lain. Melakukan
merger atau akuisisi merupakan kebebasan bagi setiap perusahaan yang
terdaftar di pasar modal. Perusahaan publik yang sahamnya
diperdagangkan di bursa, akan lebih mudah melakukan pembiayaan untuk
merger atau akuisisi, melalui penerbitan saham baru, yang digunakan
commit to user
16 4. Kemampuan Going Concern yang lebih baik
Kemampuan going concern bagi perusahaan adalah kemampuan
untuk tetap dapat bertahan dalam kondisi apapun termasuk dalam kondisi
yang dapat mengakibatkan bangkrutnya perusahaan, seperti gagalnya
pembayaran hutang kepada pihak ketiga, perubahan pasar yang
mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk bertahan di bidang
usahanya. Dengan menjadi perusahaan publik, kemampuan perusahaan
untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya akan jauh lebih baik
dibandingkan dengan perusahaan tertutup.
5. Meningkatkan Citra Perusahaan
Dengan menjadi perusahaan publik, maka perusahaan akan selalu
mendapat perhatian media dan komunitas keuangan. Hal ini berarti bahwa
perusahaan tersebut terus dipublikasi, sehingga dapat citra perusahaan
akan meningkat. Peningkatan citra tersebut tentunya akan memberikan
dampak positif bagi pengembangan usaha di masa depan.
Suatu perusahaan yang memutuskan untuk menjual sahamnya, untuk
menjadi perusahaan publik, memiliki beberapa kewajiban yang harus
dilakukan. Payamta (1998) dalam penelitiannya menyatakan beberapa
konsekuensi yang harus dilakukan perusahaan publik tersebut:
1. Kewajiban keterbukaan (full disclosure) mengenai informasi yang
disajikan ke publik.
2. Kewajiban mengikuti peraturan pasar modal.
commit to user
17
4. Kewajiban membayar deviden atau bunga.
5. Kewajiban untuk selalu berusaha meningkatkan pertumbuhan
perusahaan.
B. Manajemen Laba
Rizqiani (2009), mengatakan bahwa perilaku manajemen laba dapat
diartikan sebagai perilaku manajemen memanipulasi laba dengan mengurangi
alokasi pada pos aktiva tidak berwujud yang memiliki implikasi jangka
panjang seperti riset dan pengembangan, iklan dan promosi serta pelatihan
karyawan untuk tujuan jangka pendek. Definisi lain dari manajemen laba
adalah, intervensi manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan laba,
yang biasanya untuk memenuhi tujuan pribadi (Schipper, 1988) dalam Wild
et. al., (2005).
Scott (2000) dalam Saiful (2004) menyatakan bahwa ada dua cara
berpikir mengenai manajemen laba, yang pertama manajemen laba adalah
tindakan oportunistik manajemen untuk memaksimalkan utilitasnya. Kedua,
perspektif kontrak efisien, ketika manajemen laba dilakukan untuk
menguntungkan semua pihak didalam kontrak.
Scott (2006), dan Wahyuningsih (2007) menyatakan beberapa faktor
yang mendorong manajemen untuk melakukan manajemen laba. (1) Rencana
bonus (bonus schemes). Manajer yang bekerja berdasarkan kontrak bonus
akan mengatur laba yang dilaporkan supaya terlihat baik, sehingga bonus
yang akan diterima di masa depan dapat dimaksimalkan. (2) Kontrak hutang
commit to user
18 pada posisi yang diinginkan oleh perusahaan. (3) Motivasi politik (political
motivation). Ketika perusahaan mengalami periode keuntungan yang tinggi,
manajemen justru memiliki kecenderungan untuk melakukan manajemen
laba, dengan menurunkan laba untuk mengurangi visibilitasnya, agar
mendapatkan kemudahan dan fasilitas tertentu dari pemerintah. (4) Motivasi
pajak (taxation motivation). Perusahaan akan cenderung memilih metode
akuntansi yang dapat menyebabkan laba yang harus dilaporkan lebih rendah,
sehingga pajak yang harus dibayar kepada pemerintah juga menjadi rendah.
(5) Pergantian Chief Executive Officer (CEO). CEO yang mendekati akhir
jabatannya akan cenderung melakukan income maximization untuk
meningkatkan bonus mereka. (6) Penawaran saham perdana (Initial Public
Offerings). Perusahaan yang akan melakukan IPO cenderung melakukan
income increasing untuk menarik minat calon investor.
Beberapa strategi manajemen dalam melakukan earning management
menurut Wild et. al., (2005) dan Scott (2006) adalah:
1. Meningkatkan Laba (Increasing Income), yaitu strategi manajemen
untuk membuat laba yang dilaporkan pada periode kini meningkat,
sehingga kinerja perusahaan dipandang baik.
2. Mandi Besar (Big Bath), yaitu strategi yang dilakukan melalui
penghapusan sebanyak mungkin pada satu periode, biasanya dipilih
periode yang terburuk.
3. Meminimalkan Laba (Income Minimalization), yaitu strategi yang
commit to user
19 dipilih oleh perusahaan yang memiliki visibilitas secara politik,
selama periode tertentu memiliki profitabilitas yang tinggi.
4. Perataan Laba (Income Smoothing), yaitu strategi yang dilakukan
manajer untuk meningkatkan atau menurunkan laba yang
dilaporkan untuk mengurangi fluktuasinya, misal tidak melaporkan
bagian laba pada periode baik ini untuk disimpan dan dilaporkan
pada masa mendatang ketika keadaan buruk, sehingga tren laba
terlihat baik.
Manajemen laba yang dipaparkan dalam penelitian ini adalah
manajemen laba di dalam periode sekitar IPO. Ketika perusahaan melakukan
penawaran sahamnya untuk yang pertama kali (IPO), maka perusahaan akan
membuat laporan prospektus, yang merupakan satu-satunya bahan bagi calon
investor untuk mengetahui nilai perusahaan tersebut. Dengan keterbatasan
informasi yang dimiliki oleh calon investor atau disebut juga asimetri
informasi, akan mendorong manajemen untuk memanfaatkan kesempatan ini
atau disebut juga opportunistic behaviour untuk mempengaruhi keputusan
calon investor dengan mengatur tingkat laba perusahaan (Irawan dan
Gumanti, 2010), dan (Elwakiel, 2005).
Hastoro dan Yuliana (2010) dalam penelitiannya, menyatakan bahwa
discretionary accruals sebagai proksi manajemen laba ditemukan lebih besar
pada periode satu tahun sebelum IPO jika dibandingkan dengan periode satu
commit to user
20
C. Teori Signal (Signalling Theory)
Teori sinyal muncul karena adanya asimetri informasi antara
perusahaan dengan pihak eksternal. Hal ini menjelaskan mengapa perusahaan
mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada
pihak eksternal, yaitu karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai
perusahaan dan prospek yang akan datang daripada pihak luar (investor,
kreditor). Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya
perusahaan memberi sinyal kepada pengguna laporan keuangan, yang berupa
informasi mengenai apa yang telah dilakukan manajemen untuk mewujudkan
tujuan pemilik perusahaan, yang dapat berupa promosi atau informasi lain
yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik dari yang lain (Sari
dan Zuhrotun (2006).
Kurangnya informasi pihak luar mengenai perusahaan, menyebabkan
mereka memberikan penilaian yang rendah untuk perusahaan. Perusahaan
dapat meningkatkan nilainya, dengan mengurangi informasi asimetri. Salah
satu cara untuk mengurangi asimetri informasi adalah, dengan memberikan
sinyal pada pihak luar, salah satunya berupa informasi keuangan yang dapat
dipercaya dan akan mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan
yang akan datang (Wolk et. al., 2000).
Gumanti (2009) mengemukakan bahwa bagaimanapun bentuk sinyal
yang dikeluarkan, dimaksudkan untuk menyampaikan sesuatu agar pihak
eksternal memberikan penilaian yang berbeda atas perusahaan. Teori sinyal
commit to user
21 memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa
informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk
merealisasikan keinginan pemilik.
D. Teori Keagenan (Agency Theory)
Pemikiran teori ini, didasarkan atas adanya perbedaan informasi antara
atasan dan bawahan, atau antara kantor pusat dan cabang, dari sudut pandang
teori ini, prinsipal (pemilik atau manajemen puncak) membawahi agen
(karyawan atau manajer yang lebih rendah) untuk melaksanakan kinerja yang
efisien (Ikhsan dan Ishak, 2008).
Pada dasarnya teori keagenan ini mulai muncul ketika seorang yang
disebut prinsipal (pemilik) mempekerjakan seorang lain yang disebut agen
untuk melaksanakan pekerjaan untuk kepentingan pemilik dan pengambilan
keputusan dalam pekerjaan tersebut. Contohnya ketika pemilik atas saham
suatu perusahaan (prinsipal), mempekerjakan seorang CEO (agen) untuk
menjalankan perusahaan. Pemisahan kepemilikan dalam perusahaan seperti
ini dapat memicu timbulnya konflik kepentingan antara prinsipal dan agen
(Jensen dan Meckling, 1976) dalam Wahyuningsih (2007).
Konflik kepentingan seperti ini sudah pasti akan terjadi, dimana
manajemen tetap akan memikirkan kepentingannya dibanding memikirkan
kepentingan pemilik, sehingga dalam praktiknya manajemen akan mengelola
perusahaan dan berusaha membuat kinerja yang sepertinya bernilai lebih
dimata pemilik. Pernyataan tersebut didukung oleh Jensen dan Meckling
commit to user
22 manajemen dan pemilik akan semakin besar ketika kepemilikan manajemen
atas perusahaan semakin kecil. Manajemen cenderung akan mementingkan
diri sendiri dibanding perusahaan, akan tetapi ketika kepemilikan manajemen
atas perusahaan besar, maka manajemen akan berusaha membuat kinerja
yang baik bagi perusahaan karena akan berdampak bagi dirinya sendiri.
Untuk meminimalkan konflik kepentingan tersebut diperlukan sebuah
laporan pertanggungjawaban yang baik dari agen kepada prinsipal. Laporan
tersebut berupa laporan keuangan yang dibuat dengan data-data keuangan dan
akuntansi dalam perusahaan, sehingga dengan adanya laporan tersebut,
diharapkan prinsipal dapat menilai kinerja dari agen yang dipekerjakannya
dan laporan tersebut juga digunakan sebagai dasar pemberian kompensasi
bagi agen tersebut berdasarkan kinerja yang dicapai.
Laporan keuangan tersebut agar lebih dapat dipercaya harus diaudit
oleh auditor independen, sehingga pemilik dapat sepenuhnya mempercayai
angka-angka yang dibuat manajemen sebagai pertanggungjawabannya, tanpa
tertipu oleh adanya salah saji atau perekayasaan informasi keuangan oleh
manajemen demi kepentingannya sendiri.
Dalam kaitannya dengan manajemen laba disekitar IPO, kecenderungan
yang dimiliki manajemen ketika memanfaatkan asimetri informasi calon
investor adalah melakukan manajemen laba, untuk menarik perhatian calon
commit to user
23
E. Konsep Akrual
Didalam akuntansi terdapat dua jenis basis pengukuran, accrual basic
dan cash basic. Accrual basic mengakui pendapatan pada saat transaksi dan
mengakui beban yang terkait dengan pendapatan tersebut pada periode yang
sama, tanpa memperhatikan penerimaan kas atas pendapatan tersebut.
Dengan dasar akrual, transaksi diakui dan dicatat pada saat kejadian dalam
laporan keuangan pada periode yang bersangkutan (Wahyuningsih, 2007).
Sedangkan cash basic mengakui penghasilan dan beban atas dasar kas tunai
yang diterima.
Konsep akrual sesuai dengan konsep dasar akuntansi yaitu matching
principle (menandingkan pendapatan dengan beban). Dalam konsep ini,
pengakuan beban atau pendapatan diakui dalam satu periode akuntansi tanpa
mempertimbangkan adanya penerimaan kas tunai. Dengan demikian, aset,
kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban diakui pada saat terjadinya, bukan
pada saat kas atau setara kas diterima.
Selanjutnya, konsep akrual seperti ini memungkinkan dilakukannya
manajemen laba oleh manajemen untuk menaikkan atau menurunkan angka
akrual dalam laporan laba rugi (Hidayati & Zulaikha, 2003) dalam
Wahyuningsih (2007). Perekayasaan laba juga dapat dilakukan dengan
mendistorsi laba dengan cara menggeser periode pengakuan biaya dan
pendapatan (Fischer & Rozenzweig, 1995) dalam Wahyuningsih (2007).
Konsep akrual terdiri atas discretionary accrual dan non discretionary
commit to user
24 bebas, tidak diatur, dan merupakan pilihan kebijakan manajemen, sedangkan
non discretionary accrual adalah pengakuan laba akrual yang wajar, tidak
dipengaruhi kebijakan manajemen, serta tunduk pada suatu standar atau
prinsip akuntansi yang berlaku umum, dan jika standar tersebut dilanggar
akan mempengaruhi kualitas laporan keuangan (Wahyuningsih, 2007).
F. Kinerja Operasi Perusahaan
Perusahaan yang akan melakukan IPO akan berusaha menggeser laba
periode yang akan datang ke periode sekarang untuk menarik perhatian calon
investor. Hal ini akan mengakibatkan laba periode sekarang dilaporkan lebih
tinggi dibandingkan dengan laba periode yang akan datang. Sehingga laba
dan kinerja perusahaan setelah IPO cenderung menurun (Suprianto, 2008).
Ahmad-Zaluki (2008) juga menyatakan bahwa dalam waktu IPO sampai tiga
tahun setelahnya kinerja operasi perusahaan terus menurun, hal ini
disebabkan perusahaan tersebut melakukan manajemen laba ketika go public.
Hastoro dan Yuliana (2010) menemukan penurunan kinerja setelah IPO
yang diperlihatkan dari turunnya Return on Asset (ROA). Begitu juga hasil
dari penelitian Saiful (2004), dinyatakan bahwa kinerja operasi setelah IPO
turun. Penelitian tersebut juga hanya menggunakan ROA sebagai proksi
kinerja operasi. Akan tetapi berbeda dengan temuan Gonzalez (2008), yang
tidak menemukan adanya penurunan kinerja operasi bank setelah IPO.
Dalam hubungannya dengan IPO, kinerja operasi adalah faktor penting
yang harus diketahui dan dipertimbangkan oleh calon investor sebelum
commit to user
25 yang baik akan membuat kinerja yang baik pula, dalam hal ini calon investor
harus dapat melihat kecenderungan kinerja perusahaan di masa depan dengan
mempertimbangkan manajemen laba yang mungkin dilakukan manajemen
perusahaan, yang nantinya dipastikan akan berimbas pada kinerja operasi di
masa depan.
Salah satu alat analisis kinerja operasi yang berhubungan dengan
investor adalah analisis profitabilitas, yaitu evaluasi atas tingkat
pengembalian investasi perusahaan. Analisis ini mencakup evaluasi atas dua
sumber daya perusahaan dan profitabilitasnya, juga evaluasi atas margin
(bagian penjualan yang tidak tertutup biaya) dan perputaran (pemakaian
modal) (Wild, et. al., 2005). Analisis profitabilitas yang akan digunakan
dalam penelitian ini adalah Tingkat pengembalian atas investasi (ROI) yang
didalamnya ada Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE). Dan
yang kedua adalah kinerja operasi, yang didalamnya berisi margin laba kotor
commit to user
26
G. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat digambarkan sebagai
berikut:
Tabel II. 1
Kerangka Pemikiran Teoritis
Sebelum IPO Beda Setelah IPO
Discretionary Accruals ? ?
Return on Asset ? ≠ ?
Return on Equity ? ≠ ?
Gross Profit Margin ? ≠ ?
Operating Profit Margin ? ≠ ?
Net Profit Margin ? ≠ ?
Ada Perbedaan
H. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang mengenai topik ini dilakukan oleh Saiful
(2004) yang berjudul “Hubungan Manajemen Laba (Earnings Management)
dengan Kinerja Operasi dan Return Saham di Sekitar IPO”. Penelitian ini
menghasilkan temuan bahwa terjadi manajemen laba di periode sekitar IPO,
pada periode dua tahun sebelum IPO dan dua tahun setelah IPO, akan tetapi
tidak ditemukan adanya manajemen laba pada periode satu tahun sebelum IPO
commit to user
27 setelah IPO kinerja operasi lebih rendah, begitu juga return saham pada
periode setelah IPO rendah.
Penelitian lain tentang manajemen laba adalah penelitian Aharony et.
al., (1993), penelitian ini tidak menemukan adanya manajemen laba di sekitar
periode IPO, hasil ini berkebalikan dengan penelitian Friedlan (1994).
Penelitian lain adalah penelitian Hastoro dan Yuliana (2010) yang
berjudul “Manajemen Laba Disekitar Penawaran Harga Saham Perdana
(Initial Public Offering / IPO) pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di
Bursa Efek Indonesia”, penelitian ini meneliti tentang penerapan manajemen
laba perusahaan pada periode sekitar IPO, dan menguji pengaruhnya terhadap
ukuran perusahaan dan kinerja operasional perusahaan. Hasil dari penelitian
ini menunjukkan bahwa, ditemukan adanya manajemen laba yang lebih besar
pada periode sebelum IPO, dibanding dengan periode setelah IPO. Ukuran
perusahaan tidak berpengaruh signifikan dan kinerja operasional berpengaruh.
Penelitian ini mengambil variabel dalam rentang tahun 2000 sampai 2008, dan
menguji data dengan menggunakan uji beda dengan uji statistik one sample
t-test dengan taraf signifikansi 0,05, statistik deskriptif, dan uji statistik.
Joni dan Jogiyanto (2009) menemukan adanya manajemen laba dari
periode dua tahun sebelum IPO sampai lima tahun setelah IPO. Penelitian ini
menggunakan pendekatan yang berbeda, yaitu Instrumental Variable seperti
pada penelitian Kang dan Sivaramakrishnan (1995).
Penelitian Irawan dan Gumanti (2010), dan Irawan dan Gumanti
commit to user
28 berbeda dengan penelitian Hastoro dan Yuliana (2010), Suprianto (2008),
akan tetapi mendukung hasil penelitian Aharony (1993) dan hasil penelitian
Saiful (2004) secara parsial, yang menyatakan tidak menemukan manajemen
laba pada periode satu tahun sebelum dan setelah IPO.
Penelitian mengenai kinerja perusahaan secara khusus di periode sekitar
IPO adalah penelitian Payamta (1998), yang berjudul “Evaluasi Kinerja
Perusahaan Perbankan Sebelum dan Sesudah Menjadi Perusahaan Publik di
Bursa Efek Jakarta (BEJ).” Penelitian ini menemukan bahwa secara serentak
tidak ada perbedaan yang signifikan kinerja bank yang diukur dengan rasio
CAMEL untuk periode sebelum ataupun sesudah IPO.
Ahmad-Zaluki (2008), meneliti kinerja operasi perusahaan dengan
menggunakan proksi current accruals, dan menemukan hasil bahwa kinerja
operasi perusahaan cenderung turun sampai tiga tahun setelah IPO, yang
dipengaruhi oleh manajemen laba.
Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian yang
dilakukan kali ini, akan meneliti ada tidaknya manajemen laba di sekitar IPO.
Selanjutnya, sebagai buktinya akan dilakukan evaluasi atas kinerja keuangan,
yang diproksikan pada beberapa rasio profitabilitas yang sering dijumpai
dalam laporan keuangan perusahaan, atau database keuangan yang lazim
digunakan. Rasio-rasio tersebut yaitu: Return on Asset (ROA) dan Return on
Equity (ROE), margin laba kotor (GPM), margin laba operasi (OPM), dan
margin laba bersih (NPM) dari laporan keuangan perusahaan yang melakukan
commit to user
29
I. Pengembangan Hipotesis dan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara tentang rumusan masalah
penelitian yang belum dibuktikan kebenarannya (Priyatno, 2010). Penelitian
ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya manajemen laba di periode
perusahaan melakukan IPO, yaitu pada satu tahun sebelum dan sesudah IPO,
dan mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan, sebagai bukti ada tidaknya
manajemen laba.
Manajemen laba yang dilakukan oleh manajemen perusahaan, terlebih
di periode sekitar IPO, dapat membuat investor tertarik akan perusahaan
mereka, hal ini dirasa menguntungkan oleh perusahaan, tetapi jika investor
tidak cukup cakap dalam memilih perusahaan, maka ia tidak akan bisa
memilih mana perusahaan yang sebenarnya layak untuk didanai.
Perusahaan yang melakukan manajemen laba menjelang IPO berusaha
menggeser laba periode yang akan datang ke periode sekarang, sehingga laba
periode sekarang akan dilaporkan lebih tinggi daripada laba mendatang, hal
ini akan mengakibatkan kinerja perusahaan menurun pada periode setelah IPO
(Saiful, 2004).
a. Manajemen Laba dan IPO
IPO merupakan pasar perdana bagi suatu perusahaan untuk
menawarkan efeknya (saham, obligasi, dan surat-surat berharga lainnya)
kepada publik. Bagi suatu perusahaan, IPO merupakan sarana untuk
mendapatkan modal untuk pengembangan bisnis perusahaan dan sebagai
commit to user
30 perusahaan dengan terbuka. Fabozzi (1999) dalam Hastoro dan Yuliana
(2010) menyatakan bahwa IPO bermanfaat untuk memberikan
keuntungan kompetitif pengembangan usaha, meningkatkan kemampuan
going concern, dan meningkatkan citra perusahaan.
Hastoro dan Yuliana (2010) melakukan penelitian mengenai
manajemen laba di sekitar IPO pada 32 perusahaan manufaktur dan
menemukan bahwa tingkat manajemen laba ditemukan lebih besar ketika
sebelum IPO dibandingkan setelah IPO. Saiful (2004) melakukan
penelitian serupa dan mendapatkan hasil yang sama dengan penelitian
Hastoro dan Yuliana (2010), yaitu manajemen laba periode dua tahun
sebelum IPO lebih besar dibanding dua tahun setelah IPO. Berkebalikan
dengan temuan tersebut, penelitian Saiful (2004) pada periode satu tahun
sebelum IPO, dan satu tahun setelah IPO tidak menemukan adanya
manajemen laba.
Teoh et al. (1998b) dalam Gioielli dan Carvalho (2008)
menyatakan bahwa manajemen laba memang lebih banyak ditemukan
pada perusahaan yang melakukan IPO jika dibandingkan dengan
perusahaan yang tidak melakukan IPO.
Hasil penelitian yang berbeda, dinyatakan oleh Irawan dan
Gumanti (2010), yaitu tidak ditemukannya indikasi manajemen laba pada
periode sebelum dan setelah IPO, hasil tersebut mendukung penelitian
Gumanti dan Swastika (2005), Irawan dan Gumanti (2008) dan Aharony
commit to user
31 Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil temuan dari
penelitian-penelitian sebelumnya belumlah konsisten, dan masih
membingungkan, sehingga dari kesimpulan tersebut, diajukan hipotesis
sebagai berikut:
Ha1: Terdapat indikasi manajemen laba dalam perusahaan yang
terdaftar di BEI, dalam periode sebelum dan setelah IPO.
b. Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan
Saiful (2004) menyatakan bahwa perusahaan yang melakukan
manajemen laba sebelum IPO akan menggeser pendapatan di masa depan
menjadi pendapatan periode ini, sehingga laba ketika IPO terkesan baik.
Hal ini mempengaruhi laba atau kinerja perusahaan setelah IPO yang
lebih rendah jika dibanding dengan sebelum IPO.
Kinerja operasi menurut Hastoro dan Yuliana (2010), adalah
kemampuan kegiatan operasional perusahaan dalam mencapai tujuan
yang telah direncanakan. Hastoro dan Yuliana (2010) menyatakan alat
pengukuran kinerja operasi yaitu dengan analisis rasio, seperti rasio
likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas.
Beberapa penelitian yang sudah ada, seperti penelitian Saiful
(2004), Hastoro dan Yuliana (2010), Suprianto (2008), Laughran dan
Ritter (1997) hanya menggunakan ROA sebagai proksi kinerja operasi,
sedangkan untuk menilai kinerja suatu perusahaan, terdapat berbagai
macam rasio pengukur. Dalam penelitian ini, akan dipakai beberapa rasio
commit to user
32 mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atau
keuntungan. Profitabilitas suatu perusahaan mewujudkan perbandingan
antara laba dengan aset atau modal yang menghasilkan laba tersebut.
Rasio-rasio tersebut adalah: Return on Asset (ROA) dan Return on Equity
(ROE). margin laba kotor (GPM), margin laba operasi (OPM), dan
margin laba bersih (NPM).
Return on Asset (ROA) adalah indikator kemampuan perusahaan
untuk memperoleh laba atas sejumlah aset yang dimiliki. Return on
Equity (ROE) adalah indikator kemampuan perusahaan dalam mengelola
modal yang tersedia untuk mendapatkan laba bersih. Margin laba kotor
(GPM) adalah perbandingan antar penjualan bersih dikurangi dengan
harga pokok penjualan dengan tingkat penjualan, rasio ini
menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai dari jumlah penjualan.
Margin laba operasi (OPM) adalah margin yang mengukur tingkat
keuntungan perusahaan dari kegiatan operasi utamanya. Margin laba
bersih (NPM) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur laba bersih
sesudah pajak lalu dibandingkan dengan volume penjualan.
Berdasarkan uraian diatas, penulis mengajukan hipotesis sebagai
berikut:
Ha2: Terdapat perbedaan Kinerja keuangan perusahaan yang
diukur dengan rasio profitabilitas antara sebelum dan setelah
commit to user
33 Untuk mengetahui kinerja-kinerja keuangan perusahaan tersebut
secara parsial, yaitu dilihat dari masing-masing rasio keuangan apakah
berbeda dalam periode sebelum IPO dan setelah IPO, dan apakah akan
mendukung hasil kinerja yang diukur secara serentak, maka diajukan
hipotesis sebagai berikut:
Ha3: Berdasarkan tingkat pengembalian aktiva (ROA), terdapat
perbedaan kinerja perusahaan antara sebelum dan setelah
IPO.
Ha4: Berdasarkan tingkat pengembalian ekuitas (ROE), terdapat
perbedaan kinerja perusahaan antara sebelum dan setelah
IPO.
Ha5: Berdasarkan margin laba kotor (GPM), terdapat perbedaan
kinerja perusahaan antara sebelum dan setelah IPO.
Ha6: Berdasarkan margin laba operasi (OPM), terdapat perbedaan
kinerja perusahaan antara sebelum dan setelah IPO.
Ha7: Berdasarkan margin laba bersih (NPM), terdapat perbedaan
commit to user
34
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam penelitian studi peristiwa (event study)
karena meneliti keberadaan manajemen laba dengan menggunakan
perhitungan discretionary accruals dan mengevaluasi kinerja pada perusahaan
yang melakukan IPO disekitar periode IPO dengan menggunakan uji
Peringkat Tanda Wilcoxon (Wilcoxon’s Signed Ranks Test) dan Uji Manova.
Penggunaan alat uji ini didasarkan atas pernyataan Manurung (1993) dalam
Payamta (1998) yaitu, data yang ada pada BEI tidak mencerminkan data yang
berdistribusi normal, sehingga metode non parametrik dianggap lebih sesuai
dalam penelitian yang mengunakan data-data di BEI.
B. Populasi dan Sampel
1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan kelompok orang, kejadian, atau
hal minat yang ingin peneliti investigasi (Sekaran, 2006:121). Menurut
pendapat lain, populasi dapat pula didefinisikan sebagai totalitas
semua nilai yang mungkin, hasil hitungan ataupun pengukuran
kuantitatif tentang karakteristik tertentu semua anggota kumpulan
commit to user
35 Dalam setiap penelitian ilmiah selalu dihadapkan pada
masalah populasi dan sampel, karena populasi dan sampel penelitian
merupakan sumber data yang akan digunakan untuk mencapai tujuan
penelitian. Populasi penelitian yang bersifat ilmiah dapat diperoleh
dengan motede yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah
pula.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan go
public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun
2005-2009. Penggunaan semua sektor dalam penelitian ini dikarenakan
terbatasnya perusahaan yang melakukan IPO setiap tahunnya dan
untuk memperluas sampel penelitian, sehingga dengan menggunakan
semua sektor diharapkan hasil penelitian ini nanti dapat
digeneralisasikan ke setiap sektor. Dengan memilih tahun 2005-2009
peneliti ingin menggali lebih dalam mengenai manajemen laba pada
perusahaan yang melakukan IPO.
2 Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian dari populasi (Sekaran, 2006 : 123).
Pengertian lain, sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti
(Priyatno, 2010 : 8). Dengan demikian sampel lebih kecil dari
populasi.
Sampel penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI) yang melakukan IPO pada tahun
commit to user
36
purposive sampling, pemilihan kelompok subjek didasarkan pada ciri
atau sifat yang dipandang memiliki sangkut paut yang erat dengan ciri
atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya.
Purposive Sampling adalah metode pengambilan informasi dari
target-target tertentu yang memberi informasi yang diperlukan oleh
peneliti berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya
(Sekaran, 2006 : 136). Dengan metode purposive sampling ini
diharapkan dapat mewakili populasinya dan tidak menimbulkan bias
bagi tujuan penelitian. Sampel dipilih dengan kriteria sebagai berikut :
a. Perusahaan yang sahamnya aktif diperdagangkan, memiliki
laporan keuangan lengkap minimal 2 tahun sebelum IPO dan
tetap terdaftar minimal 1 tahun setelah IPO berturut-turut
selama periode 2005 sampai dengan 2009 untuk
membandingkan adanya manajemen laba 1 tahun sebelum IPO
dan 1 tahun setelah IPO. Dalam hal ini dibutuhkan data
perusahaan dari tahun 2003 sampai 2010 untuk menghitung
discretionary accruals.
b. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah
komponen-komponen dalam laporan keuangan, seperti laba bersih,
penjualan, arus kas, total aset, ROA, ROE, GPM, OPM, dan
commit to user
37 c. Data rasio keuangan didapatkan dari Indonesian Capital
Market Directory (ICMD), dan dari ringkasan kinerja, yang
terdapat pada website Bursa Efek Indonesia www.idx.co.id.
C. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data
1 Sumber Data
Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yang
diperoleh dari annual report ataupun laporan keuangan auditan
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun
2005-2010 yang telah dipublikasikan dan tersedia di database IDX
Statistics 2005-2010 serta Indonesian Capital Market Directory
(ICMD) tahun 2006-2010. Data dalam penelitian ini juga diperoleh
dari homepage BEI yaitu www.idx.co.id.
2 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data menggunakan metode Content analysis,
yaitu metode pengumpulan data penelitian dengan menggunakan
teknik observasi dan analisis terhadap isi atau pesan dari suatu
dokumen (antara lain : iklan, kontrak kerja, laporan, notulen, rapat,
surat, jurnal, majalah, surat kabar dll).
Content analysis dilaksanakan dengan cara melakukan
observasi atas laporan keuangan perusahaan yang menjadi sampel
penelitian. Observasi dilakukan dengan objek penelitian laporan
commit to user
38
Dengan metode Content analysis, laporan keuangan yang telah
diidentifikasi sesuai dengan kriteria yang dijadikan data dalam
penelitian ini kemudian dianalisis guna mendapatkan data mengenai
discretionary accruals dan total accruals yang merupakan data untuk
mengetahui ada tidaknya earning management perusahaan di sekitar
IPO.
Selain menggunakan metode Content analysis, dalam
pengumpulan data juga digunakan metode dokumentasi. Dengan
metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti
buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat,
catatan harian dan sebagainya. Dengan metode dokumentasi ini data
dalam neraca dan laporan laba/rugi dikumpulkan guna menghitung
nilai rasio kondisi keuangan perusahaan, discretionary accruals dan
total accruals.
D. Variabel Penelitian dan Pengukurannya
Variabel adalah suatu konsep yang beragam atau bervariasi (Priyatno,
2010 : 8). Menurut pengertian lain, variabel dapat juga diartikan sebagai
obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian
(Arikunto, 2002 : 96).
a. Manajemen Laba
Dalam penelitian ini untuk mengukur ada tidaknya
manajemen laba digunakan pendekatan total accruals untuk mencari