30
PENGARUH PEMBERIAN UDANG REBON (Acetes sp.) KERING TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN BAWAL (Colossoma macropomum)
Rapida1, Jurniati2, Harfika Sari Baso2, Siswati2
1. Mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Andi Djemma 2. Dosen Fakultas Perikanan Universitas Andi Djemma
Abstract. This study aims to determine the growth and survival of pomfret with different formulations of dry (rebon shrimp) feed Freshwater pomfret. (Colossoma macropomum) is one of the freshwater fishery commodities that has important economic value. Freshwater pomfret is widely cultivated because the production process is quite short and is a type of fish that is resistant to disease. Feed is a source of energy for fish to move, grow and defend against disease. Rebon shrimp (Acetes sp.) is one of the marine products of the type of crustaceans but with a very small size compared to other types of shrimp. The method used was a completely randomized design method (CRD) with 4 treatments and 3 replications. The study was conducted for 42 days, the parameters observed were growth, survival and feed conversion. With doses in the treatment A = 25% + 75% pelleted rebon shrimp, B = 50% rebon shrimp + 50% pellet and C = 75% rebon shrimp + 25% pellet.
Keywords : Colossoma macropomum, rebon shrimp, growth and survival rate.
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan bawal (Colossoma macropomum) dengan formulasi pakan udang rebon (Acetes sp.) kering yang berbeda. Ikan bawal air tawar merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memiliki nilai ekonomis penting. Ikan bawal air tawar banyak dibudidayakan karena proses produksinya yang cukup singkat dan termasuk jenis ikan yang tahan terhadap serangan penyakit. Pakan merupakan sumber energi bagi ikan untuk bergerak, tumbuh dan bertahan terhadap penyakit. Udang rebon (Acetes sp.) adalah salah satu hasil laut dari jenis udang-udangan namun dengan ukuran yang sangat kecil dibandingkan dengan jenis udang-udangan lainnya. Adapun metode yang digunakan adalah metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 3 ulangan. Penelitian dilakukan selama 42 hari, parameter yang diamati adalah pertumbuhan, kelangsungan hidup dan konversi pakan. Dengan dosis pada perlakuan A = udang rebon 25%+75% pellet, B = udang rebon 50%+50% pellet dan C = udang rebon 75% +25% pellet.
Kata kunci: Ikan bawal, udang rebon, pertumbuhan dan kelangsungan hidup.
PENDAHULUAN
Ikan bawal (Colossoma macropomum) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memiliki nilai ekonomis penting (Yulianti, 2007), awalnya diperdagangkan sebagai ikan hias, namun karna memiliki pertumbuhan yang relatif cepat dan rasa dagingnya enak, maka masyarakat menjadikan ikan tersebut sebagai ikan konsumsi, kelulusan hidupnya tinggi, cara pemeliharaan sederhana, dapat dipelihara dengan kepadatan tinggi dan juga merupakan produksi ekspor yang penting (Arie, 2005).
Ikan bawal air tawar mulai banyak dibudidayakan karena proses produksinya yang cukup singkat dan termasuk jenis ikan yang tahan terhadap serangan penyakit. Konsumsi benih ikan bawal di Sulawesi sangat tinggi, banyak dicari oleh konsumen karena memiliki rasa daging yang enak. Pada tahun 2021 di Luwu Raya harga jual ikan bawal mencapai Rp 40 ribu/kg karena produksi ikan bawal mengalami peningkatan setiap tahunnya
Pakan dibutuhkan oleh ikan sebagai sumber energi dan pertumbuhan, pakan merupakan biaya variabel terbesar dalam proses produksi yaitu sekitar 60-70% dari biaya produksi (Murtidjo, 2001), Untuk mengurangi biaya pakan tersebut, dibutuhkan alternatif bahan pakan yang relative lebih murah dan kurang dimanfaatkan.
Salah satu alternatif pakan yang dapat digunakan unuk bahan pakan yaitu udang rebon Udang rebon merupakan jenis udang-udangan yang dikonsumsi masyarakat sebagai kebutuhan pangan sehari-hari digunakan sebagai bahan dasar terasi. Udang rebon mudah didapatkan karena banyak diperjual belikan oleh masyarakat dengan harga yang relatif murah, hasil penelitian Sholicin, et, al. (2012), juga menunjukkan penambahan udang rebon kering kememberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ikan. Berdasarkan uraian
31 tersebut maka dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan bawal dengan pakan udang rebon kering dengan dosis yang berbeda.
.
METODOLOGI
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Balai Benih Ikan Salupao, Kelurahan Maroangin, Kecamatan Telluwanua, Kota Palopo.pada Bulan September sampai November 2021.
Gambar 1. Lokasi Penelitian Alat dan bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Jenis alat yang digunakan
No Nama Alat Fungsi
1 Baskom Wadah penelitian
2 pH meter Mengukur kadar keasaman air 3 Timbangan digital Menimbang bobot hewan uji
4 Thermometer Mengukur suhu
5 Aerator Suplay oksigen
6 Serok kecil Mengambil hewan uji
7 Kamera Dokumentasi kegiatan
8 Alat tulis Menulis hasil kegiatan
9 Blender Menghaluskan pakan hewan uji
10 Tapisan Mengambil hewan uji
11 Sipon Membersihkan kotoran
Bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:
Tabel 2.bahan yang digunakan
No Nama Bahan Fungsi
1 Benih ikan bawal (C.
macropomum)
Hewan uji
2 Udang rebon Bahan pakan alami Tahapan penelitian
Tahap awal dalam penelitian ini yaitu melakukan aklimatisasi selanjutnya menyiapkan 90 ekor benih ikan bawal (C. macropomum) dengan masing-masing 10 ekor/wadah penelitian. Wadah yang digunakan adalah baskom dengan kapasitas volume air 35 L. Setelah itu pemasangan aerator pada wadah penelitian.
Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pukul 07.00 WITA dan pada pukul 17.00 WITA.
Perlakuan pada penelitian ini yaitu formulasi pakan dengan perbandingan masing-masing udang rebon pada setiap perlakuan. Pakan dibuat dalam bentuk pellet. Kemudian dilakukan pergantian air sebanyak 15 L dalam 2 kali seminggu setelah pemberian pakan terakhir yaitu sore hari.
32 Pelaksanaan penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini terdiri dari 3 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu:
Perlakuan A= formulasi 25% udang rebon + 75% pellet Perlakuan B= formulasi 50% udang rebon + 50% pellet Perlakuan C= formulasi 75% udang rebon + 25% pellet
Pemberian pakan uji 3% dari berat biomassa ikan bawal air tawar (C. macropomum)
Gambar 2. Letak wadah penelitian Keterangan:
A = Pemberian pakan udang rebon 25% + 75% pellet B = Pemberian pakan udang rebon 50% + 50% pellet C = Pemberian pakan udang rebon75% + 25% pellet
Teknik Pengumpulan Data
Data hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA), jika terdapat pengaruh maka dilanjutkan dengan uji lanjut BNT.
1. Parameter uji
a. Pertumbuhan mutlak/pertambahan bobot
Perhitungan pertumbuhan mutlak menggunakan rumus Effendie (1997) sebagai berikut:
G = Wt – Wo Keterangan:
G = Pertumbuhan mutlak(g)
Wt = Bobot total ikan uji pada akhir (g)
Wo = Bobot total ikan uji pada awal percobaan (g) b. Kelangsungan hidup (Survival rate)
Rumus yang digunakan untuk mengetahui persentase kelangsungan hidup ikan uji menurut Effendie (2004) adalah.
SR =𝑁𝑡
𝑁𝑜𝑥100%
Keterangan:
SR = Kelangsungan hidup (%) Nt = Jumlah ikan akhir pemeliharaan No = Jumlah ikan awal pemeliharaan
c. Rasio konversi pakan (FCR)
Rasio konversi pakan dihitung dengan rumus Kusrianti et al. (2012).
FCR= 𝐹
𝑊𝑡−𝑊𝑜
Keterangan:
FCR = Rasio konversi pakan
F = Jumlah pakan yang diberikan (g)
Wt = Bobot biomassa ikan uji pada akhir penelitian (g) Wo = Bobot biomassapada awal penelitian (g)
B2 C2 B1
B3 C3 A1
A2
C1 A3
33 d. Kualitas Air Pengukuran
Parameter kualitas air seperti suhu dan pH dilakukan pada pukul 06.00 wita dan 16.00 WITA HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan Mutlak
Hasil pengukuran pertumbuhan mutlak ikan bawal (C. macropomum) selama 42 hari dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini.
Gambar 3. Grafik pertumbuhan mutlak ikan bawal (C. macropomum)
Hasil penelitian selama 42 hari dapat dilihat bahwa pertumbuhan yang terbaik pada perlakuan B berat 5,42 Gram dengan (50 % udang rebon dan 50% pellet), kemudian perlakuan A 4,56 gram dengan (25% udang rebon dan 75% pellet) dan perlakuan yang terendah adalah C 4,22 gram dengan (75% udang rebon dan 25 pellet). Hasil uji analisis dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa pengaruh pemberian udang rebon terhadap ikan bawal berpengaruh sangat nyata. Dimana F tabel<F hitung (4,07 < 16,20). Berdasarkan hasil uji analisis tersebut selanjutnya dilakukan uji beda nyata terkecil. Pada uji BNT menghasilkan nilai rata- rata yang dapat dilihat lampiran 4.
Tingginya pertambahan bobot pada perlakuan B disebabkan karena adanya perbedaan pemberian dosis yang berbeda pada setiap perlakuan ditandai dengan tingginya pemberian dosis pada perlakuan B karena semakin tinggi pemberian dosis pada suatu perlakuan dapat meningkatkan pertumbuhan ikan tersebut. Semakin tinggi pemberian dosis pada suatu pakan maka semakin dapat menunjang pertumbuhan ikan karena kandungan nutriennya (Zhang et al., 2009)
Pertumbuhan benih ikan bawal (C. macropomum) sangat erat kaitannya dengan kebutuhan protein yang dibutuhkan karena protein merupakan sumber energi utama yang dapat menunjang pertambahan bobot.
Kandungan nutrisi udang rebon mengandung air19,00%, protein kasar 48,29%, abu 16,05, dan lemak kasar 3,62%. Menurut Marzuki et al,. (2012) semakin tinggi kadar protein yang diberikan, semakin tinggi nilai berat akhir ikan dengan kondisi berat awal yang sama, begitu juga terhadap pertumbuhan berat mutlak.
Pertumbuhan dipengaruhi oleh tingkah laku ikan bawal pada saat proses pemberian pakan dan diduga udang rebon berada diatas permukaan air, sehingga menyebabkan air tidak cepat kotor yang dapat mempermudah benih ikan bawal air tawar untuk memakan pakan perlakuan yang diberikan tanpa mengeluarkan banyak energi untuk mengejar. (Effendie, 2002) mengatakan bahwa faktor kemudahan mendapatkan makanan juga menentukan kehidupan benih ikan.
Ikan membutuhkan energi untuk bergerak, mencari dan mencerna pakan, untuk meningkatkan pertumbuhan. Semakin banyak energi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka semakin banyak pula jumlah pakan yang diperlukan untuk dikonsumsi (Goddard, 1996) dalam wulandari, (2006).
Survival Rate (SR)
Survival rate (SR) ikan bawal (C. macropomum) selama penelitian dapat dilihat pada gambar 4. Hasil menunjukkan bahwa kelangsungan hidup yang paling tinggi terdapat pada perlakuan B disusul oleh perlakuan A dan C, pada perlakuan B menunjukkan tingkat kelangsungan hidup 70% hal ini dikarenakan pada perlakuan B dosis berbanding seimbang antara 50:50% (udang rebon dan pellet) sedangkan pada perlakuan A perbandingan dosis 25:75% (udang rebon dan pellet) dan pada perlakuan C perbandingan dosis 75:25% (udang rebon dan pellet). Hasil uji analisis dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa pengaruh pemberian udang rebon terhadap ikan bawal berpengaruh tidak nyata dimana F table > F hitung (4.07 > 2.00).
4,56 5,42
4,22
0 1 2 3 4 5 6
A B C
BERAT (GRAM)
PERLAKUAN
34 Gambar 4. Survival rate ikan bawal (C. macropomum)
Husein (1985) dalam Sinaga dkk. (2015), bahwa nilai kelangsungan hidup ikan dapat dikatakan baik apabila > 50%, sedangkan nilai kelangsungan hidup < 30% dikatakan tidak baik. Dalam penelitian yang dilakukan selama 42 hari masing-masing perlakuan dikatakan baik karena kelangsungan hidup berada diatas 50% yaitu pada perlakuan A 63.3 %, B dengan jumlah 70% dan perlakuan C dengan 63.3%.
Tingkat kelangsungan hidup pada setiap perlakuan disebabkan karena terjadinya perubahan lingkungan dari lingkungan yang lama ke lingkungan yang barunya. Kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya kualitas air (amonia, suhu dan pH), pakan, umur ikan, lingkungan dan kondisi kesehatan ikan (Adewolu et al., 2008). Fajar (1998) dalam Sukoso (2002) menyatakan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh manajemen kualitas air.
Rasio Konversi Pakan
Rasio Konversi Pakan selama penelitian ditunjukkan pada Gambar 5 di bawah ini
Gambar 5. Rasio konversi pakan
Rasio korversi pakan yang dilakukan selama penelitian 42 hari diperoleh terendah pada perlakuan B= 1,93 gram diikuti perlakuan A= 2,79 gram dan tertinggi perlakuan C= 3,22 gram. Hasil uji analisis dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa pengaruh pemberian pakan udang rebon terhadap ikan bawal (C. macropomum) berpengaruh sangat.nyata DimanaF tabel < F hitung (4.07 < 13.75). Hal ini disebabkan karena proses penyerapan makanan ikan bawal (C. macropomum) sangat baik.
Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa semakin rendah nilai jumlah konversi pakan maka semakin baik dan efesien untuk diterapkan dan digunakan dalam kegiatan budidaya. Menurut Effendi (2004) dalam Santoso dan Hermawansyah (2011) bahwa konversi pakan tergantung pada spesies ikan yang dilihat dari kebiasaan makan, dan ukuran tubuhnya. Selain itu konversi pakan juga dipengaruhi oleh kualitas air, serta kualitas pakan yang diberikan. Fujaya (2002), semakin kecil rasio konversi pakan maka pakan yang
63,3
70
63,3 58
60 62 64 66 68 70 72
A B C
SR (%)
PERLAKUAN
2,79
1,93
3,22
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5
A B C
FCR (GRAM)
PERLAKUAN
35 dikonsumsi itu bagus untuk menunjukkan pertumbuhan ikan pemeliharaan dan sebaliknya semakin besar rasio konversi pakan menunjukkan pakan yang diberikan tidak efektif untuk menunjang pertumbuhan ikan.
Nilai rasio konversi pakan pada penelitian ini berpengaruh sangat nyata disebabkan kualitas pakan yang diberikan untuk setiap perlakuan pada benih ikan bawal tergolong baik dandipengaruhi banyaknya jumlah pakan yang dapat menunjang pertambahan bobot. Hal ini sesuai sesuai pendapat Mudjiman (2003), kualitas pakan dipengaruhi oleh daya cerna atau daya serap benih ikan terhadap pakan yang dikomsumsi. Minggawati (2006) menyatakan bahwa konversi pakan dan laju pertumbuhan juga bergantung pada kandungan nutrient
yang terdapat pada pakan. Berdasarkan uji analisis tersebut selanjutnya dilakukan uji beda nyata terkecil. Pada uji BNT dapat dilihat perubahan nilai rata-rata yang dapat dilihat dilampiran 5.
Pemberian pakan yang diberikan pada perlakuan B, A dan C tergolong baik dan jumlahnya mencukupi kebutuhan nutrisi ikan bawal sehingga dapat menunjang kecepatan laju pertumbuhan ikan bawal. Amri dan Khairuman 2002, bahwa apabila pakan yang diberikan berkualitas baik, jumlahnya mencukupi dan kondisi lingkungan mendukung maka dapat dipastikan laju pertumbuhan ikan menjadi cepat sesuai yang diharapkan, sebaliknya apabila pakan yang diberikan berkualitas jelek, jumlahnya tidak mencukupi dan kondisi lingkungannya tidak mendukung dapat dipastikan pertumbuhan ikan akan terhambat.
Kualitas Air
Kualitas air sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan bawal air tawar (C. macropomum) Adapun parameter kualitas air adalah Suhu dan pH.
Tabel 3. Kisaran parameter kualitasair berupa suhu dan pH
Parameter Perlakuan
Kisaran Toleransi
A B C
Suhu(oC) 28-29OC 28-29OC 29-29OC 27,7-29OC Kordi (2010)
PH 7-7,5 ppm 7-7,5 ppm 7-7,5pmm 7-8 (Kordi, 2010)
Suhu merupakan salah satu factor yang penting dalam kegiatan budidaya perikanan. Semakin tinggi suhu air semakin aktif pula metabolisme ikan begitu pula sebaliknya kondisi suhu sangat berpengaruh terhadap kehidupan ikan. Pada suhu rendah ikan akan kehilangan nafsu makan dan menjadi lebih rentang terhadap penyakit. Pengukuruan kualitas air di lakukan setiap dua kali sehari selama penelitian hasil penkuran kualitas air yang didapatkan selama penelitihan masih dalam kisaran optimal.Suhu yang diamati dalam penelitian menunjukkan pada kisaran 27oC-29OC karena sudah sesuai dengan kisaran suhu optimum untuk ikan bawal air tawar yaitu 25-30oC Kordi (2010). Menurut Madinawati (2011), suhu yang sesuai akan meningkatkan aktivitas makan ikan sehingga menjadikan ikan menjadi lebih cepat tumbuh.Dalam budidaya ikan bawal air tawar nilai pH yang dianjurkan adalah 7-8 (Kordi, 2010). Berdasarkan hal tersebut maka pH air dalam penelitihan ini sudah sesuai dengan kisaran pH yang dianjurkan yaitu berada pada kisaran 7-7,5.
KESIMPULAN
Pengaruh pemberian pakan udang rebon terhadap pertumbuhan ikan bawal (C. macropomum) menunjukkan hasil terbaik pada perlakuan B dengan dosis 50% udang rebon dan 50% pakan komersil sedangkan kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan B yaitu 70 %.
DAFTAR PUSTAKA
Adewolu M.A, C.A Adenji, A.B Adejobi. 2008. Feed utilization, growth and survival of Clarias gariepinus (Burchell 1882) fingerlings cultured under different photoperiods. Aquaculture. 283 : 64-67.
Arie, U. 2005. Budidaya Bawal Air Tawar (untuk Konsumsi dan Hasil). Penebar Swadaya, Jakarta.
Bugri, J. 2006. Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhanbenih Ikan Gurame (Osphronomus goramy) LAC. Ukuran 2 CM Skripsi. Institut Pertanian Bogor (tidak dipublikasikan).
Pertumbuhan Ikan Nila Larasati ( Oreochromis niloticus) di Tambak dengan Pemberian Ransum Pakan dan Padat Penebaran yang Berbeda. Jurnal Kelautan Tropis. 19(2): 131-142.
Effendi, 2002. Bilogi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara. Bogor.
Effendie I. 2004. Pengantar Akuakultur. Jakarta: Penebar Swadaya.
Fujaya, Y. 2002. Fisiologi ikan. Dasar-dasar pengembangan teknologi perikanan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, Jakarta, 139 hlm.
36 Hakim, L. L. 2009. Upaya Forum Lingkar Kampus Kembangbiakan Ikan Bawal (2-habis): Mudah Dibudidayakan. Punya Nilai Ekonomis Tingg. Didownload dari hhtp://www.radar-bogor.co.id.
Tanggal 3 Maret 2021.
Hoar, W. S. 1979. Fish Physiology Vol. III Bionergetics and Growth. Academic Press. New York. 70.
Khairuman dan K. Amri. 2009. Bisnis dan Budidaya Intensif Bawal Bawal Air Tawar. Gramedia. Jakarta . 105 hlm.
Kordi, K. M. G. H., 2010. Budidaya Bawal Air Tawar di Kolam Terpal. Penerbit ANDI. Yogyakarta.
Kusriani, p. widjanarko, N. Rohmawati. 2012. Uji pengaruh sublethal pestisida diazinon 60 EC terhadap rasio konversi pakan (FCR) dan dan pertumbuhan ikan Mas (Cyprinus carpio L). Jurnal Penelitian Perikanan, 1(1):36-42.
Madinawati, N., Serdiati dan Yoel. 2011. Pemberian pakan yang Berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus). Media litbang Sulteng IV (2):83- 87
Martin ,S. N and Gunzman E. C. 1994. Effect of drying method of bovine biod on the performance io growing diets for tambaqui Colossoma macropomum Cuvier 1818 (Caracoidea): feeding on artificial diets.
Aquaculture. 12(4): 6
Marzuki, 2002, Metodelogi Riset, Yogyakarta: Aditya Medika
Marzuki, M. Astuti, N.W.W, Ketut Suwirya, 2012, Pengaruh kadar protein dan rasio pemberian pakan terhadap pertumbuhan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Teknologi Kelautan Tropis.
Bali. 1(4) 55-65.
Minggawati, I, 2006. Pengaruh Padat Penebaran yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila GIFT (Oreochromis sp)yang dipelihara dalam Baskom Plastik. Journal of Trofical Fisheries. 1(2):119-125 Mudjiman, A. 2003. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.197 Hal
Mudjiman, 2011. Makanan Ikan. Penerbit Swadaya. Jakarta
Murtidjo, B. A. 2001. Pedoman Meramu Pakan Ikan. Kanisius.Yogyakarta. 128 hlm.
Narimawati, Umi, 2008, Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, Teori dan Aplikasi. Bandung:
Agung Media
Pillary TVR 2004. Budidaya dan Itu Lingkungan. Kedua Edisi. Inggris: Penerbitan Blackwell.
Santoso, L. dan Agusmansyah. 2011. Pengaruh Subtitusi Tepung Kedelai Dengan Tepung Biji Karet Pada Pakan Buatan Terhadap Pertumbuhan Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum). Jurnal Perikanan Terubuk. Pekanbaru. 39 (2):4-50.
Sinaga, D., Syammaun, U. Nurmatias. (2015). Tingkat Penggunaan Azolla pinnata pada Pakan Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan.
Fakultas Pertanian. Universitas Sumatra Utara.
Steffens, W. 1989. Beberapa sifat biologis dan ekologis ikan semah (Tor douronensis) di Danau Kesrinci dan Sungai Meragin. Jurnal Penelitian Indonesia, 5(4): 1-6
Subhan, R.Y. 2014 Penebaran Sistem Resirkulasi Pada Proses Domestikasi Ikan Juaro, Skripsi, Fakultas Perikanan san Kelautan. Universitas riau. Pekanbaru.
Sukoso. 2002. Pemanfaatan Mikroalga dalam Industri Pakan Ikan. Agritek YPN. Jakarta.
Sulistyaansyah, Y. 2013. Pengaruh Pemberian Kalsium Karbonat (CaCo3) Pada Media Bersalinitas Untuk Pertimbuhan Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum) Skripsi. Institut Pertanian Bogor (tidak dipublikasikan).
Wulandari, A. R. 2006. Perairan salinitas terhadap kelangsungan hidup dan Pertumbuhan Benih Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum). Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor
Zhang, Li-Li. Q. C. Zho, Y. Q. Cheng. 2009. Effect of dietary carbohydrate level on growth performance of juvenil spotted Babylon (Babylonia areolata Link 1807). Aquaculture 295 (3-4): 238-242.