Website: http://ecampus.iainbatusangkar.ac.id/ojs/index.php/edusainstika
E-mail: [email protected] pp : 50-56
Pengembangan Modul IPA Terintegrasi Al-Qur’an Berbasis Problem Based Learning (PBL) Dengan Strategi Scaffolding di MTsS Koto Tinggi-Pandai Sikek
H Husna1, N Fajar1, D Marneli1, M Haviz1
1 Tadris Biologi, Institut Agama Islam Negeri Batusangkar, Indonesia
Abstract. One of the this researcg is the lack of learning resources used, so the purpose of this research is to find out the result oh the validation and practical results oh the PBL based Al- Quran Integrated Science module og the Scaffolding strategy. The type og research conducted is research develompen or Reasearch and Development with a 4D model (Define, Design, Develop, dan Desseminate). The instruments used are validation sheets, student and educator practical sheets. The results obtained are for the validadot by 3 validators of the IPA module, they got a score of 92% (very valid). The results of the practivality of students are 81% (very practical) and 87% of teacher (very practical). It can be concluded that the developed science module is very valid and practical to use in science learning, especially the human digestive system material.
Keywords: Qur’an integrated module, PBL, dan Scaffolding
1. Pendahulauan
Pendidikan sangat berperan penting dalam menjalani sebuah kehidupan. Dengan adanya pendidikan dapat membentuk manusia yang berkualitas. sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadillah : 11 yang artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Menurut (Suryati et al., 2019) dalam konteks pendidikan (tarbawi) maka hendaknya pendidik dan peserta didik harus : 1) memiliki perencanaan dalam melaksanakan proses pembelajaran, 2) bersikap rendah hati dalam melakukan proses belajar mengajar, 3) patuh terhadap aturan dari pemimpin/guru, dan 4) memiliki semangat sebagai pendidik dan atau peserta didik.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di MTsS Koto Tinggi, bahan ajar yang digunakan selama proses pembelajaran IPA hanyalah buku paket, jumlah buku paket yang tersedia juga terbatas untuk memenuhi jumlah dari peserta didik terutama pada kelas VIII.
Sebagaimana (Hardini et al., 2013) mengatakan bahwa agar pembelajaran IPA dapat berjalan dengan lancar, maka sangat diperlukan penyediaan bahan ajar yang memadai untuk peserta didik. Selain buku, bahan ajar bisa dikembangkan sendiri oleh guru, bahan ajar yang bisa
Modul pembelajaran adalah bahan ajar yang dirancang secara sistematis berdasarkan kurikulum tertentu dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dipelajari secara mandiri dalam satuan kompetensi yang diajarkan (Purwanto, 2007). MTsS Koto Tinggi merupakan pondok pesantren. Agar sesuai dengan kurikulum, maka perlu dikembangkanlah modul IPA terintegrasi Al-Qur’an. Selain itu Al-Qur’an merupakan pedoman hidup manusia, memiliki kandungan makna yang lengkap untuk mengatur semua yang berhubungan dengan manusia (Setiawan,2018:641). Kemudian karena peserta didik kurang terlibat langsung dalam PBM, maka diterapkanlah model pembelajaran yang dapat melibatkan peserta didik secara langsung, model yang dipilih adalah model PBL.
Menurut (Lufri, 2007) model pembelajan merupakan pola atau contoh pembelajaran yang sudah didisain dengan menggunakan pendekatan dan metode atau strategi pembelajaran yang lain, serta dilengkapi dengan langkah-langkah (sintaks) dan perangkat pembelajaran.
Sebagaimana dalam penelitian (Arfiyah et al., 2016) menyatakan bahwa model PBL dapat berpengaruh terhadap motivasi dan belajar peserta didik dengan konsep pembelajaran masalah.
Model PBL memiliki langkah-langkah yaitu : a) Melakukan orientasi masalah kepada peserta didik, b) Mengorganisasikan anak didik untuk belajar, c) Membimbing kelompok investivigasi, d) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan e) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah (Mamin et al., 2018).
Dengan kelebihan yang didapat dari penerapan model PBL, ada beberapa kelemahan dalam penggunaanya seperti peserta didik cenderung merasa diri mereka tidak mampu jika dihadapkan kesebuah permasalahan diluar kemampuannya. Namun kelemahan tersebut dapat diatasi dengan memberikan sebuah strategi, yaitu strategi scaffolding. Scaffolding merupakan bantuan-bantuan yang diberikan kepada peserta didik untuk belajar dan memecahkan masalah.
Bantuan tersebut dapat berupa pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan peserta didik untuk belajar mandiri (Asmidar, 2020).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Budaeng et al., 2017) yang berjudul Pengembangan Modul IPA Terpadu Berbasis Scaffolding pada Tema Gerak Untuk Siswa Kelas VIII SMP/MTs. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa modul IPA Terpadu yang dikembangkan ini, dari segi materi sudah mencapai 85% dengan kategori sangat baik dan kualitas dari segi media dengan persentase 86,6% dengan kategori sangat baik. Sedangkan modul untuk guru menurut ahli materi dan ahli media memiliki kualitas dengan persentase masing-masing 84% (sangat baik) dan 87% (sangat baik), respon guru terhadap modul guru dan modul siswa adalah sangat setuju dengan persentase masing-masing 87,5% dan 89,84%.
Dari 10 siswa SMP Negeri 3 Kepanjen pada uji terbatas, mendapat respon siswa terhadap modul IPA Terpadu siswa adalah sangat setuju dengan persentase 85%.
Modul pembelajaran IPA terintegrasi Al-Qur’an yang dikembangkan ini memuat materi System Pencernaan pada Manusia, dimana banyak dari peserta didik kelas VIII yang kurang memahami materi tersebur, karna berkaitan dengan fisiologi manusia dan tidak memungkinkan jika hanya dijelaskan dengan metode ceramah. Maka berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul ”Pengembangan Modul IPA Terintegrasi Al-Qur’an Berbasis Problem Based Learning (PBL) dengan Strategi Scaffolding di MTsS Koto Tinggi-Pandai Sikek”. Dengan harapan dapat mengatasi keterbatasan sumber belajar khususnya bagi peserta didik, dapat membangkitkan peranan aktif dari peserta didik, dan juga modul yang dikembangkan dapat digunakan oleh guru sebagai sumber belajar karena sudah sesuai dengan kurikulum.
2. Metode
Jinis penelitian yang dilakukan adalah Research and Development. Dimana penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk yang dapat digunakan dalam pembelajaran (Sugiyono, 2007). Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (Kurniawan et al., 2017).
Tahapan pertama dari penelitian ini adalah tahap define. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui dan mengumpulkan masalah mendasar di sekolah yang dibutuhkan dalam pengembangan modul IPA, adapun tahapan ini yaitu : a) analisis awal-akir, b) analisis peserta didik, c) analisis tugas, d) analisis literature, dan e) spesifikasi tujuan pembelajaran. Selanjutnya tahap design, pada tahap ini yaitu merangcang produk yang diinginkan dan membuat produk sampai selesai. Tahap ketiga adalah Develop, modul yang sudah dibuat akan divalidasi oleh validator, kemudian masukan dan saran dari validator terhadap perbaikan modul dilakukan sampai mengasilkan produk yang valid. Tahap ini terdiri dari tahapan a) validasi modul IPA dan b) praktikalitas kepada pendidik dan peserta didik secara terbatas. Tahap terakhir adalah Disseminate, tahap ini tidak dilakukan oleh penulis karena keterbatasan waktu yang penulis miliki.
Dalam mendapatkan hasil data validitas disini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berdasarkan angket dengan menggunakan skala Likert yang berisikan pengskoran seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Skor jawaban menggunakan skala likert
Skor Jawaban
5 Sangat setuju
4 Setuju
3 Netral
2 Tidak setuju
1 Sangat tidak seuju
Setelah mendapatkan hasil validasi oleh validator, masing-masing aspek dicari persentasenya dengan menggunakan teknik analisis data (Riduwan, 2007) dengan menggunakan rumus :
p =𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑥 100
Tabel 2. Skor jawaban menggunakan skala likert.
Range Skor
0%-20% Tidak valid
21%-40% Kurang setuju
41%-60% Cukup Valid
61%- 80% Valid
81%-100% Sangat valid
Sedangkan untuk mendapatkan data hasil Praktikalitas masing-masing aspek dicari persentasenya dengan menggunakan rumus:
p =𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑥 100
Tabel 3. Skor jawaban menggunakan skala likert.
Range Skor
0%-20% Tidak Praktis
21%-40% Kurang Praktis
41%-60% Cukup Praktis
61%- 80% Praktis
81%-100% Sangat Praktis
3. Hasil Dan Pembahasan
Penelitian ini menghasilkan poduk berupa Modul IPA Terintegrasi Al-Qur’an berbasis Problem Based Learning (PBL) dengan Strategi Scaffolding. Modul IPA ini memuat ayat-ayat Al- Qur’an pada materi System Pencernaan Manusia, modul ini dalam pemakainnya memiliki tahapan-tahapan penting dan proses perancangannya. Halaman pertama memuat cover yang berisikan identitas modul, kata pengantar, daftar isi, petunjuk penggunaan, tujuan pembelajaran, peta konsep, dan materi pembelajaran system pencernaan manusia yang terintegrasi Al-Qur’an bebasis PBL dengan strategi scaffolding.
Gambar 1. Cover Modul
Berikut hasil dan pembahasan yang diperoleh saat melakukan validasi dan praktikalitas pada pengembangan modul IPA terintegrasi Al-Qur’an berbasis PBL dengan strategi scaffolding, yang teridi dari :
a) Uji validitas modul
Data hasil validasi modul dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Validasi Modul.
No Aspek Validator JML Skor
Maks
% Ket
1 2 3
1 Syarat didaktif 32 32 27 91 96 95 Sangat valid
2 Syarat konstruk 40 40 33 113 120 94 Sangat valid
3 Syarat teknis 17 20 18 55 60 92 Sangat valid
4 Modul PBL 28 28 24 80 84 95 Sangat valid
Jumlah 117 120 120 339 360 94 Sangat valid
Peneliti melakukan validasi terhadapat modul IPA menggunakan lembar validasi yang divalidasi oleh validator. Dengan menggunakan kesamaan dengan teori yang memadai atau disebut dengan validasi isi dan validasi konstruk (Haviz, 2013). Berdasarkan hasil validasi modul IPA dengan validator, modul IPA mendapatkan rata-rata skor 94% (sangat valid) hal ini dikarenakan modul IPA mencakup : a) Syarat didaktif, dimana modul IPA yang dikembangkan sudah sesuai dengan kurikulum 2013. b) Syarat konstruk, dalam artikel (Septora. R, 2017) menurut Vembriarto ada tahapan-tahapan utama yang perlu tersedia di dalam modul yaitu tinjauan mata pelajaran, pendahuluan, kegiatan belajar, latihan, rambu-rambu jawaban latihan, rangkuman, tes formatif, dan kunci jawaban tes formatis. Hal ini sudah mencakup di dalam modul IPA yang dikembangkan. c) Syarat teknis, modul harus menarik dari segitu tulisan dan gambar yang sesuai dengan materi pembelajaran, hal inipun sudah terdapat di dalam modul
IPA, dan d) Model PBL, modul ini memakai tahapan-tahapan model PBL yang sudah sesuai.
Sehingga modul layak untuk digunakan.
b) Uji Praktikalitas
setelah melakukan uji validasi dan modul IPA layak untuk dilanjutkan ketahap praktikalitas, maka peneliti melakukan uji praktikalitas terbatas kepada peserta didik kelas VIIIB dan guru IPA yang mengajar dikelas VIII. Berikut hasil uji praktikalitas kepada peserta didik dan guru dapat dilihat pada Tabel 5 dan Tabel 6.
Tabel 5. Hasil Praktikalitas oleh Peserta didik.
No Aspek JML Skor
Maks
% Ket
1 Kemudahan penggunaan 312 384 82 Sangat praktis 2 Manfaat yang didapat 417 512 81 Sangat praktis 3 Efektifitas waktu pembelajaran 153 192 80 Praktis
Jumlah 882 1088 81 Sangat praktis
Tabel 6. Hasil Praktikalitas oleh Guru.
No Aspek JML Skor
Maks
% Ket
1 Kemudahan penggunaan 23 28 82 Sangat praktis 2 Manfaat yang didapat 25 28 90 Sangat praktis 3 Efektifitas waktu pembelajaran 11 12 92 Sangat praktis
Jumlah 59 68 87 Sangat praktis
Menurut (Haviz, 2013) aspek kepraktisan ditentukan dari hasil penilaian penggunaan atau pemakian. Penilian kepraktisan oleh pengguna atau pemakai, dilihat dari jawaban-jawaban pertanyaan : apakah produk yang dikembangkan dapat digunakan dalam kondisi normal, dan apakah kenyataan menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan tersebut dapat diterapkan oleh praktisi misalnya pendidik dan peserta didik. Maka peneliti melakukan uji coba praktikalitas kepada guru dan peserta didik secara terbatas.
Uji coba kepraktisan kepada peserta didik dengan jumlah 16 orang dengan penyebaran angket setelah modul IPA terintegrasi al-Qur’an berbasis PBL dengan strategi scaffolding digunakan dalam proses pembelajaran sebanyak tiga kali pertemuan. Hasil angket tersebut menunjukkan bahwa modul IPA mendapatkan kriteria sangat praktis dengan skor 81% dan hasil uji praktikalitas guru mendapatkan rata-rata 87% (sangat praktis), maka dapat dikatakan bahwa modul IPA mudah diaplikasikan, bahasa yang digunakan sederhana, langkah-langkah PBL yang jelas, dan efektif untuk digunakan dalam proses pembelajaran IPA. Dengan dibantu penjelasan guru sehingga peserta didik lebih tertarik dalam melaksanakan proses pembelajaran, karena mereka terlibat langsung dalam proses tersebut. Biasanya hanya mendengarkan guru dalam penyampaian materi sekarang peserta didik dituntut untuk mencari permasalahan sebelum disampaikan materi pembelajaran kepada mereka. Sehingga pembelajaran IPA lebih bermakna dan peserta didik lebih bersemangat dalam proses pembelajaran IPA.
Materi pembelajaran yang disajikan adalah materi System Pencernaan pada Manusia.
Banyak firman Allat SWT yang berkaitan dengan System Pencernaan pada Manusia, mulai dari jenis-jenis nutrisi yang baik bagi kesehatan manusia, organ-organ system pencernaan manusia, dan juga akibat tidak menjaga pola hidup sehat terhadap organ system pencernaan kita. Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya bahwasanya manusia harus memperhatikan makanan,
baik dari segi nutrisi, segi halal, cara mendapatkan, dan mengolah makanan (Kamenag RI&LIPI).
Kemudian selain pengumpulan angket yang disebarkan kepada praktisi, peneliti juga mengumpulkan data hasil praktikalitas dengan lembar wawancara praktikalitas dengan guru IPA kelas VIII yang menggunakan modul IPA terintegrasi al-Qur’an berbasis PBL dengan strategi scaffolding dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, guru IPA sangat setuju dalam penggunaan modul IPA tersebut dalam proses pembelajaran. Dimana proses pembelajaran lebih terarah, peserta didik lebih aktif dan termotivasi dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil skor yang didapat dari hasil penelitian ini, tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Latifah, 2015) yang berjudul Pengembangan Modul IPA Terpadu Terintegrasi Ayat-ayat Al-Qur’an pada Materi Air sebagai Sumber Kehidupan.
Penelitian pengembangan ini memiliki kesimpulan bahwa berdasarkan hasil praktikalitas guru memperoleh skor 86% dan respon peserta didik memperoleh skor 76%.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Modul IPA Terintegrasi Al-Qur’an Berbasis Problem Based Learning (PBL) dengan Strategi Scaffolding di MTsS Koto Tinggi- Pandai Sikek telah memenuhi kriteria sangat valid dengan skor 94%, hasil angket praktikalitas peserta didik mendapatkan kriteria sangat praktis dengan skor 81%, dan hasil angket respon praktikalitas guru mendapatkan kriteria sangat praktis dengan skor 87%.
Pada pembelajaran IPA modul ini sudah dapat membantu guru dalam mengatasi pemasalahan mendasar yaitu kurangnya sumber belajar yang digunakan, dengan terintegrasi Al-Qur’an dapat meningkatkan nilai-nilai keislaman peserta didik sesuai dengan KI 1 pada kurikulum 2013, dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik, membangkitkan keaktifan dan pola pikir kritis peserta didik.
5. Daftar Pustaka
Arfiyah, A., Mulyani, S., & Sapuyto, S. (2016). Pengaruh Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Dilengkapi Dengan Kompendium Al-Qur’an Terhadap Minat Dan Prestasi Belajar Siswa (Pokok Bahasan. Jurnal Pendidikan Kimia, 5(1), 96–104.
Asmidar, P. (2020). Strategi pembelajaran Anak Usia Dini. Edu-Publisher.
Budaeng, J., Ayu, H. D., & Pratiwi, H. Y. (2017). Pengembangan Modul IPA/Fisika Terpadu Berbasis Scaffolding pada Tema Gerak Untuk Siswa Kelas VIII SMP/MTs. Momentum:
Physics Education Journal, 1(1), 31–44. https://doi.org/10.21067/MPEJ.V1I1.1633 Hardini, R. R., Ekawati, E. Y., Fisika, P., & Keguruan, F. (2013). Pengembangan bahan ajar
IPA Terpadu Berbasis Salingtemas Untuk SMP kelas VII Dengan Tema Ekosistem Air Tawar. Jurnal Materi Dan Pembelajaran Fisika (JMPF), 3(1), 9–13.
https://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/fisika/article/view/5544
Haviz, M. (2013). Research and development; penelitian di bidang kependidikan yang inovatif, produktif dan bermakna. Ta’dib, 16(1).
Kemenag Agama RI & LIPI. (2014). Tafsir Ilmi Mengenal Ayat-Ayat Sains dalam Al-Qu’ran Makanan & Minuman. Jakarta : Widya Cahaya
Kurniawan, Dian, & Dewi, S. V. (2017). Pengembangan Perangkat Pembelajaran dengan Media Screebcast-O-Matic Mata Pelajaran Kuliah Kalkulus 2 Menggunakan Model 4D Thiagaran. Jurnal Siliwangi, 3(1).
Latifah, S. (2015). Pengembangan Modul IPA Terpadu Terintegrasi Ayat-Ayat Al-Qur’an Pada Materi Air Sebagai Sumber Kehidupan. Jurnal Ilmiah Pendidikan Fisika Al-Biruni, 4(2),
155–164. https://doi.org/10.24042/jpifalbiruni.v4i2.89 Lufri. (2007). Strategi Pembelajaran Biologi. UNP Press-Padang.
Mamin, R., Yunus, S. R., & Ariska, I. (2018). Efektivitas Penerapan Structure Exercise Method (Sem) Dalam Problem Based Learning (Pbl) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Peserta Didik Kelas Vii Smpn 1 Bua Ponrang. Jurnal IPA Terpadu, 1(2).
https://doi.org/10.35580/IPATERPADU.V1I2.9664 Purwanto. (2007). Pengembangan Modul. Depdiknas.
Riduwan. (2007). Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Alfabeta.
Septora. R. (2017). Pengembangan modul dengan menggunakan pendekatan saintifik pada kelas x Sekolah Menengah Atas. Jurnal Lantera Pendidikan Pusat Penelitian LPPM UM Metro, 2(1). http://ojs.ummetro.ac.id/index.php/lentera/article/view/494
Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta.
Suryati, A., Nurmila, N., & Rahman, C. (2019). KONSEP ILMU DALAM AL-QUR’AN: Studi Tafsir Surat Al-Mujadilah Ayat 11 dan Surat Shaad Ayat 29. Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir, 4(02), 216–227. https://doi.org/10.30868/AT.V4I02.476