Dino Mortiony Fenomeno Pekerio Migron.... 289
FENOMENA PEKERJA MIGRAN INDONESIA:
FEMINISASI MIGRASI
PHENOMENON OF INDONESIAN MIGRANT WORKERS:
FEMINIZATION OF MIGRATION
Dina
Martiany'
Naskah
diterima
29 November 2013, disetujui 18 Desember 2013I
.
.More women ore now migroting independently in seorch of iobs, rother thon as -fomity dependents trovelling with'
t heir husbonds or ioining them abrood'")
Human Development Report 2009, UNDP'obs'/'ct
Migront workers are often called as heroes of foreign exchonge, because they generote remittonces obout 700 trillion rupiohs every yeor. The majority
of
migront workers ore women,working as domestic workers (PRT), and susceptibleof
vorious problems. This poper describes the phenomenon known os the feminizotion of migrotion. The anolysis showed thot the feminization of migration is not simply look ot the quontity,but olso the complexity of the specific issues thot arise aso
migrant worker. Problems and vulnerabilities foced, nomely: strotificotion in the labor market;conditions and exploitative working time; timitotions mobilization and communication limitations; harassment and gender-bosed violence; human trafficking; ond forced lobor, os well as a bon on family reunification in the country plocement.By understonding the root couses ond vulnerabitities in the feminization of migrotion, policy ond the protection of migrant workers are expected to be more gender perspective.
Keywords: women workers, migront workers, domestic workers (PRT), the feminizotion of migration, women workers
p rote ctio n m ig ra nt wo rke rs
abstrak
pekerja migran seringkali disebut pahlawan devisa, karena setiap tahun menghasilkan remitansi hingga Rp100 triliun.
Mayoritas pekerja migran berjenis kelamin perempuan, bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT), dan rentan mengalami berbagai permasalahan. Tulisan ini mendeskripsikan mengenai fenomena yang dikenal sebagai feminisasi migrasi tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa feminisasi migrasi bukan sekedar melihat kuantitas, tetapi juga kompleksitas permasalahan spesifik yang muncul sebagai pekerja migran perempuan. Permasalahan dan kerentanan yang dihadapi yaitu: stratifikasi
di
pasar tenaga kerja; kondisi dan waktu kerja yang eksploitatif; keterbatasan mobilisasi dan keterbatasan komunikasi; pelecehan berbasis gender dan kekerasan; perdagangan manusia (human trofficking) dan kerja paksa; serta larangan melakukan reunifikasi keluargadi
negara penempatan. Dengan memahami akar permasalahan dan kerentanan dalam feminisasi migrasi, kebijakan dan upaya perlindungan pekerja migran diharapkan akan lebih berperspektif gender.Kata Kunci: pekerja perempuan, pekerja migran, perempuan, pekerja rumah tangga (PRT), feminisasi migrasi, perlindungan pekerja perempuan
l.
PendahuluanA. Latar Belakang
Pembahasan
mengenai pekerja
migranselalu menarik untuk dicermati. lsu ini
terusberkembang dalam berbagai aspek
sepertiketenagakerjaan, hubungan bilateral
antar' Peneliti Muda Bidang Studi Kemasyarakatan Studi Khusus Gender pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data, dan Informasi (P3Dl) Sekretariat Jenderal DPR Rl. Alamat e-moil: [email protected].
negara, perlindungan Hak Asasi
Manusia(HAM), dan perlindungan Hak
AsasiPerempuan.
Menurut
Pasal2 Ayat 1
Konvensi Internasionaltentang
Perlindungan Hak PekerjaMigran dan Anggota Keluarganya,
pekerjamigran merupakan seseorang yang
akan,tengah atau telah melakukan kegiatan
yang290
mendapat bayaran dalam suatu negara di mana
ia bukan warga negaranya.l
Organisasi Perburuhan Internasional(lnternational
LabourOrganisation/lLOl mendefinisikan
pekerjamigran sebagai seseorang yang
bermigrasi,atau telah bermigrasi dari satu negara
kenegara lain untuk bekerja, dengan
sebuahgambaran bahwa orang tersebut
akandipekerjakan oleh seseorang yang
bukandirinya sendiri, termasuk siapapun
yang biasanya diakui sebagai seorang migran.Keterbukaan ekonomi dan perdagangan
bebas, merupakan salah satu
penyebabterjadinya peningkatan arus pekerja
migrandari negara berkembang ke negara
maju.Negara maju dengan pertumbuhan
ekonomi yang semakin pesat, membutuhkan tambahantenaga kerja sektor formal maupun
informal.Sebaliknya,
pertumbuhan ekonomi di
negaraberkembang
belum memberikan
kesempatan kerja yang luas pada warga negaranya. Pekerjamigran muncul sebagai akibat
peningkatanangkatan kerja yang tidak diiringi
dengan pen ingkatan ketersediaan lapangan pekerjaan.Survei Angkatan Kerja
Nasional (Sakernas)pada Februari 2OI2
menunjukkan tingkat penganggurandi
Indonesia masihrelatif tinggi.
Jumlah pengangguran atau pencari kerjatercatat
sebanyak7,6L
Jutaorang
(6,320/o) dari Angkatan Kerja yangada.2
Pencari kerja yangtidak
berhasil memperoleh pekerjaandi
dalamnegeri,
banyakyang pada akhirnya
terdoronguntuk menjadi pekerja migran di luar
negeri.Adanya kemiskinan dan munculnya
harapanuntuk mendapatkan penghasilan yang
lebihbaik di luar negeri juga menjadi faktor pendorong pekerja migran. Menurut
data Badan Nasional Penempatandan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), sampai saatt Definisi Pekerja Migran menurut pasal 2 Ayat 1 Konvensi Internasional tentang Perlindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia pada L2 April 2012 melafui Undang-Undang Nomor 6Tahun 2OL2.
'Sumber berasal dari Data dan Informasi penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri, disusun oleh Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan Badan Penelitian, Pengembangan, dan Informasi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.l. Tahun 2012.
Kojion Vol. 18 No. 4 Desember 2073 .
ini
setidaknyaterdapat
6,5juta
pekerja migran lndonesia yang tersebardi
143 negara.3Berdasarkan data yang
berkembangdari tahun ke tahun, dapat diketahui
bahwamayoritas pekerja migran Indonesia
adalahperempuan. Dari jumlah seluruh
pekerjamigran yang tersebar di berbagai
negaraterdapat 78% pekerja migran
perempuan.oCatatan akhir tahun Perlindungan
PekerjaMigran yang dikeluarkan lnternotionol
LobourOrganisation (lLO) Indonesia pada
Desember 2OL2 pun menyatakan hal yang sama.t Pekerjamigran
Indonesiaterbanyak berjenis
kelamin perempuandan bekerja
padasektor
informal,terutama
sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT).Sebagai gambaran bahwa jumlah
pekerjamigran perempuan dan pekerja migran
disektor informal merupakan mayoritas,
dapat dilihat pada dua tabel di bawah ini:Tabel 1
Jumlah Penempatan TKI Berdasarkan Jenis Kelamin
t Jumhur
Hidayat-Kepala BNP2TKI, TKI Keluar Negeri Jangan karena
Terpaksa. Kamis,
19
September 2OL3, berita pada situs http ://www.bnp2tki.ao.idlberita-mainmenu-231/9844-tki-ke-luar- neseri-iansan-karena-teroaksa.html, diakses pada tanggal 17 Oktober 2013.a Dewi Novrianti-Pusat Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia (Ul), yang disampaikan dalam acara Diskusi publik: Akses Terhadap Keddilan di lndonesio, di Jakarta pada Selasa, 22 Maret 2011. Berita diakses dari http://www.bnp2tki.eo.idlberita-mainmenu-23U4207- perempuan-masih-mendominasi-tki.html, pada tanggal 1O Oktober 20L3.
s Afbert Bonasah at, Briefing Jurnalis: Cototan Akhir Tohun perlindungon Pekerjo Migran presentasi ILO Jakarta disampaikan pada acara peringatan Hari Migran Internasional 18 Desember 2012.
Sumber: Statistik Penempatan-BNp2TKl, 2012 (diolah).
Dino Martiony Fenomeno Pekeria Migron'...
Tabel 2
Jumtah Penempatan TKI Berdasar Sektor 12006-2or2
tali:::
i:!i
$fi!w;
t. iaudi Arabia 36,496 L,5t4,424 1,600,920
2 Malaysia 32O,9t61,870,580 2,691,496 3. laiwan 54,t32 141,068 195,200
4. Singapura 11,155 ,-39,762 ,_50,9L7
5. Jni Emirat Arab 19,205 239,504 258,709 6. {ong Kong 3,394 2L7,870 22L,264
Sumber: Statistik Penempatan-BNP2TKl, 2012 (diolah).
Saudi Arabia, MalaYsia,
Taiwan,Singapura, Uni Emirat Arab, dan
Hongkongmerupakan negara tujuan
penempatanterbesar
darl
pekerja migranIndonesia.
Dapatdilihat pada Tabel 1 di atas, jumlah
pekerjamigran perempuan di
negara-negara tersebutjauh
lebih banyak dibandingkan pekerja migranlaki-laki, kecuali di Malaysia. Sementara
itu, Tabel 2 menunjukkanjumlah
pekerja migran disektor informal jauh lebih
banyak daripada disektor formal. Di luar jumlah pekerja
migranyang
penempatannyatercatat, masih
banyak pekerja migran ilegal yang tidak tercatat.Keberadaan pekerja migran
tersebut,perempuan dan laki-laki,
sesungguhnyamerupakan aset bangsa yang
mampumenghasilkan devisa negara dalam
jumlahbesar. Mereka memberikan
kontribusilangsung bagi
pelaksanaanpembangunan
didalam negeri, dengan mengurangi
jumlah penganggurandan angka kemiskinan.
Rata-rata jumlah
remitansi/remittance6
yangdikirimkan oleh pekerja migran ke dalam negeri
mencapai sekitar 100 triliyun rupiah
setiap6 Pengertian Remittonce menurut www.thefreedictionarv.com adalah
"the sending of money to someone ot o distance" atau penSiriman uang
untuk seseorang
di
tempat yang jauh. Sementara IFAD (The lnternotionol Fundfor
Agriculturol Development) pada situs http://www.ifad.orslremittances/maos/ menyebutkan bahwa Remittance adalah "the portion of migrant workers' eornings sent hometo their fomilies" atau bagian dari pendapatan yang dihasilkan oleh pekerja migran yang dikirimkan ke rumah untuk keluarga mereka'
29t
tahunnya. Data
Bank Indonesia menunjukkanjumlah remitansi pekerja migran
selamasemester pertama tahun
2OL3,yaitu
Januarisampai Juni 2OL3 mencaPai
sebesar3.7L5.5L6.4LL,4! Dolar Amerika atau
setaradengan Rp 36.891.362.448.889,90
(36,89triliyun
rupiah), dengan asumsi kurs pada posisi Juni 2013 sebesar Rp 9.929,00 per 1 dolar.TMelihat
padajumlah remitansi di
atas,maka dapat diperhitungkan bahwa
pekerjamigran perempuan adalah
penyumbangremitansi yang terbesar. Remitansi
yangdiperoleh
pekerjamigran
perempuan biasanyadikirimkan ke keluarga di daerah
asal.Dipergunakan untuk memenuhi
biayakebutuhan
sehari-hari, biaya
pendidikan anak,kesehatan, membayar hutang, kredit
motor, renovasi rumah, bahkanmodal usaha.
Pekerjamigran perempuan adalah pahlawan
devisayang selama ini berkontribusi
bagi pembangunan bangsa.B. Perumusan Masalah
Dari gambaran data tersebut,
daPatdikatakan bahwa telah terjadi
fenomenafeminisasi migrasi pada pekerja
migranIndonesia.
Feminisasimigrasi terjadi
ketikakuantltas pekerja migran berjenis
kelaminperempuan lebih banyak dan
menjadimayoritas dibandingkan dengan pekerja migran laki-laki.
Meskipun demikian,
pemaknaanfeminisasi migrasi bukan hanya
sekedarkuantitas. Tetapi
secara substansial termasukdominasi pada jenis pekerjaan di
ruangdomestik yang secara stereotipe
selaludilekatkan dengan perempuan. Begitu
puladengan berbagai permasalahan yang
rentandihadapi oleh pekerja migran
perempuan.Selama ini, di satu sisi, pekerja
migranperempuan sering disebut
sebagai pahlawandevisa, di sisi lain, pekerjaannya
sebagaipekerja migran menghadapi
permasalahanyang kompleks. Permasalahan
komplekstersebut maslh ditambah pula
dengan' Kirimon TKI Semester t 2073 Mencopoi Rp36,89 Triliyun. Selasa, 3
September 2OL3, berita pada http://www.bnp2tki.go.idlberita- mainmenu-231/876&kiriman-uang-tki-semester-i-2013-mencapai-rp- 3689-triliun.html.
292
permasalahan
spesifik yang muncul
sebagai akibat mereka berjenis kelamin perempuan.Bertolak dari berbagai gambaran di atas,
maka dalam tulisan ini akan dibahas
lebihmendalam bagaimana fenomena
feminisasi migrasiterjadi
padapekerja migran
Indonesia.Permasalahan dirumuskan sebagai berikut:
a. Bagaimanakah gambaran
permasalahan pekerja migran perempuan;b. Apakah pemahaman mengenai
fenomena feminisasi migrasi pekerja migran Indonesia,akan berdampak pada upaya
penanganan permasalahan pekerja migran secara umumdan pekerja migran perempuan
secarakhusus?
C. Tujuan Penulisan
Tulisan
ini akan
menggambarkan lebihmendalam bagaimana fenomena
feminisasi migrasiterjadi
pada pekerjamigran
lndonesia,termasuk kompleksitas permasalahan
yangdihadapi pekerja migran
perempuan.Harapannya dengan memahami fenomena dan permasalahan feminisasi migrasi
tersebut,
akandapat membantu upaya
penangananpermasalahan pekerja migran
khususnyapekerja migran
perempuan. Selainitu,
tulisanini diharapkan dapat menjadi masukan
bagiAnggota
DPR-RIdan Tim
Pengawas TenagaKerja Indonesia (Timwas TKt)
DPR-R| dalam menjalankanfungsi
legislasidan
pengawasan terhadap perlindungan TKl.D.
Kerangka Pemikiran1. Feminisasi Migrasi pekerja
Migran lndonesiaPara ahli menyebut saat
ini
dunia global berada pada Era Migrasi, karena didukung olehkelima fenomena ciri migrasi saat ini,
yaitu:globalisasi (ada lebih banyak negara
yangterlibat gerakan migrasi);
percepatan(tercermin
dalam peningkatanjumlah
migran);diferensiasi (migran pindah ke satu negara yang
memiliki berbagai etnis dan
kelompok);politisasi (kebijakan dalam negeri,
hubunganbilateral dan regional, kebijakan
keamanannasional
negarayang dipengaruhi oleh
risikomigrasi internasional); dan feminisasi
(migranKajian Vol. 78 No.4 Desember 2073
perempuan meningkat secara masif).8 Di antara
berbagai fenomena migrasi yang terjadi
saat ini, perlu diakui bahwa migrasi sangat berwajah perempuan.Sebagaimana yang dinyatakan
olehUnited Nations (UN) bahwa saat ini
migrasidunia berubah menjadi berwajah
perempuan.Secara dramatis perempuan dan
anakperempuan
kini
mewakili sekitar setengah darilebih dari 214 juta migran di seluruh
dunia,termasuk pekerja migran.s
pesatnyapertumbuhan pekerja migran perempuan
itusering disebut sebagai feminisasi
migrasi.Bagaimanapun pengalaman pekerja
migranperempuan dan laki-laki seringkali
berbeda.Perempuan dan laki-laki
menunjukkanperbedaan dalam perilaku migrasi
mereka, menghadapi peluang yang berbeda,dan
harusmenghadapi risiko serta tantangan
yang berbeda.Perspektif gender memainkan
peranpenting dalam menentukan jenis
pekerjaanuntuk
pekerja migran perempuan dan laki-laki.Selama beberapa tahun terakhir, di
negara- negara berkembang dengantuntutan
ekonomiyang lebih tinggi,
semakin banyak perempuan bekerjadi
ruangpublik.
Perubahan situasi ini,menyebabkan peningkatan
permintaan (demand) PRTmigran.
PRT migran dibutuhkanuntuk membantu pekerjaan domestik
paraperempuan yang bekerja di ruang
publik.Berdasarkan pembagian kerja
gender,pekerjaan
domestik
selamaini identik
denganperempuan, sehingga muncul peluang
bagiperempuan dari negara berkembang,
untuk memenuhi (supply) permintaan tersebut.Sebagai
contohnya di Uni
Emirat Arab.Pasar
dan ekonomi global yang
berkembangpesat saat ini membawa dampak
perubahansosio kultural masyarakat. Wacana
globaltentang persamaan hak perempuan
dalamruang publik mulai diterima, terutama
hakuntuk
mendapatkan pendidikandan
kemudianbekerja. Begitu pula halnya dengan
para8 Dafam lhe Female Face of Migrotion, Background poper dikeluarkan oleh CARITAS Internationalis, tanpa tahun, hal. 2.
e Over 700 Million Women Leod Migront Workers Worldwide,pada situs htto://www.ipsnews.net/2O13loplover-1OO-million-women-lead_
migrant-workers worldwide/.
Dino Mortiony Fenomeno Pekerjo Migran....
perempuan kelas menengah
di
Uni Emirat Arabyang mulai ingin menikmati waktunya
tanpamengerjakan pekerjaan domestik.
Meskipundemikian, di satu sisi ada upaya untuk tetap mempertahankan nifai tradisional,
bahwa perempuantetap
bertanggungjawab
terhadappekerjaan domestik.lo Di sinilah
munculkebutuhan untuk memiliki
PRT sebagai orangyang mendapat 'pelimpahan'
tanggung jawab pekerjaan domestik dalam suatu rumah tangga.PRT migran didominasi
oleh
perempuanyang memiliki keterampilan dan
pendidikanrendah. Mereka bermigrasi didorong
olehberbagai faktor, antara lain:
kemiskinan, pengangguran,hambatan sosial budaya
danjenis
kelamin, serta ingin terlepasdari
masalahpribadi atau keluarga. Faktor lainnya
adalahkeinginan untuk meningkatkan ekonomi
danmenjamin kelangsungan hidup
keluarga.Pekerjaan sebagai PRT
migran
menyebabkanperempuan rentan terhadap
eksploitasi.Bekerja di rumah-rumah pribadi
membuatotoritas
pemerintahantidak dapat
melakukanpengawasan yang memadai. Selain
itu,kerentanan yang dialami pekerja
migranperempuan disebabkan karena
pekerjaandomestik termasuk dalam sektor
informalekonomi,
sehinggatidak dijamin oleh
legislasidan jaminan sosial di negara
penempatan.Demikian
pula
denganjaminan
kesejahteraan dan kesehatan yang tidak jelas.Fenomena feminisasi migrasi
diIndonesia
yang telah terjadi sejak era
OrdeBaru,
menunjukkanadanya
pergeseran ruang kerjapublik
menjadi kerjadomestik.ll
Selamatahun
2OO4-2OLO,pengiriman pekerja
migranIndonesia ke berbagai negara
penempatan didominasioleh perempuan. Mereka
bekerjadi
sektorinformal seperti
PRT,boby sitter,
danperawat manusia lanjut usia
(manula).Feminisasi migrasi sangat
terkait erat
dengannilai patriarki,
yang menempatkan perempuanto Sulistyowati lrianto, AkJeJ Keodilon dan Migrasi Gtobot: Kisoh Perempuon tndonesio Pekerjo Domestik di uni Emirot Arob, Jakarta:
Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011, hal.3.
tt Bahtiar Effendy, Kata Pengantar dalam buku Negaro dan Buruh
Miqron Perempuon: Menelooh Kebijokon Perlindungan Maso Pemerintohon Susilo Bambang Yudhoyono 2OM-2O70, Ana Sabhana Azmy, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2012, hal. xiii.
293
di ruang kerja
domestak,mendapatkan
upah murah dan perlindungan yang minim.12Permasalahan
pekerja
migran perempuan dalam fenomena feminisasi migrasibukan hanya disebabkan karena
adanyastereotipe berdasar gender.
Melainkankerentanan mengalami diskriminasi
berdasarkebangsaan, etnis, dan kelas.
Piperl3menjelaskan bahwa majikan di
negarapenempatan memiliki preferqnsi
memilihpekerja migran dari
kebangsaan,etnis,
dan kelas sosialtertentu.
Ada perbedaan upah dantunjangan yang dikelompokkan
berdasar pada kebangsaan,etnis, dan kelas sosial.
LaporanBank Dunia Tahun
200614mencatat
bahwapekerja migran perempuan lndonesia
yang bekerja sebagai PRT, pekerja harian pada sektorpertanian dan industri, pengasuh orang
tua,penjaga toko dan pelayan di
Malaysia mendapat upah 400MYR (sekitar 132 USD) perbulan. Dibandingkan dengan PRT
migranperempuan
asal Filipinayang mendapat
upah 750RM (sekitar 248 USD).Kesenjangan upah ini terjadi
karenapekerja migran Filipina lebih
berpendidikan,memifiki kompetensi dan skill, serta
memilikikemampuan Bahasa lnggris.
Preferensiterhadap pekerja migran
perempuanberdasarkan, kebangsaan, etnis atau
kelasmenunjukkan feminisasi migrasi
yangdipertajam dengan diskriminasi
berdasar kebangsaan, etnis, dan kelassosial.
Akibatnya, PRT migran perempuan asal Indonesia semakin berada di stratifikasi pekerja kelas yang rendah.Hal ini yang menyebabkan mereka
seringkali mengalami diskriminasi berlipat ganda.2.
Dampak Feminisasi MigrasiDi negara asal pekerja
migranperempuan, dampak feminisasi
migrasi12 Ana Sabhana Azmy, Negoro don Buruh Migron Perempuan:
Menelaoh Kebijokan Perlindungan
Moso
Pemerintohon Susilo Bambong Yudhoyono 2(n4-207O, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2Ot2,hal2.lt
Nicofa Piper, Rights of Foreign workers ond the Politics of Migrotion insouth-Eost ond Eost Asia, lnternotionol Migration tounol,YoL 42 (5l..Oxford: International Organization of Migration, 2004. Dalam Patricia Yocie Hierofani, Norm Socidlizotion of Women Migront Workerc' Rights:
The Role of Nationdl Humon Rights Commissions af lndonesio and Moloysio, tesis pada Universitas Lund, 2011.
'n lbid.
294
berpengaruh terhadap keluarga
yang ditinggalkan.Terutama
mempengaruhi kondisikesehatan, pendidikan, hubungan sosial
dankestabilan keluarga. Perempuan
yangmeninggalkan keluarga
sesungguhnyamengalami beban psikologis dan
emosional yang lebih besar dibandingkan dengan laki-laki.Selama bertahun-tahun, bekerja jauh
danmeninggalkan anak-anak mereka
sendiri
untukmengasuh anak-anak majikan. Di
daerahasalnya, anak-anak menjadi terlantar
danhubungan dengan suami rentan
mengalamigangguan. Secara khusus, anak-anak
yang ditinggalkan cenderung mengalami ketidakstabilanemosi dan
prestasi pendidikan menurun.Migrasi dalam waktu yang
lamamenyebabkan anak-anak tumbuh
tanpakehadiran dan kasih sayang nyata dari
ibu mereka. Definisi dasar kasih sayang seorang ibupun mengalami perubahan, dari sosok
yang mengayomi dan mengasuh secara fisik, mental,dan emosional, menjadi sosok
pemenuhkebutuhan material dan harapan
kehidupanyang lebih baik.ls Tentu saja kondisi
inimenimbulkan dilema bagi pekerja
migranperempuan. Dilema yang belum
tentu
dihadapi oleh pekerja migran laki-laki. Hal ini disebabkan karena adanyastereotipe yang
menempatkanperempuan sebagai ibu dan isteri
yangbertanggung jawab terhadap baik
atau buruknya suatu keluarga dan anak-anak.Meskipun demikian, feminisasi
migrasitidak
hanya memberi dampak negatif terhadap pekerja migranperempuan.
Di sisi lain, migrasimampu memenuhi ekspektasi
perempuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.Sebagai
contoh, penelitian oleh UN
Womenmenunjukkan bahwa perempuan
pekerjamigran Asia
Selatanyang
kebanyakan adalahpekerja rumah tangga, mendapatkan
dampakpositif
migrasi,mereka
merasalebih
berdaya,sehingga rasa percaya diri dan
kemandirian meningkat.Migrasi dapat berkontribusi
padakesetaraan gender dan pemberdayaan
bagitt Dafam The Femole Face of Migration, Background poper dikeluarkan oleh CARITAS Internationalis, tanpa tahun, hal. 11.
tujian Vol. 78 No.4 Desember 2013
pekerja migran perempuan. Mereka
dapatmemiliki pendapatan dan status,
otonomi, kebebasan,dan
hargadiri.
Dengan bermigrasi,seorang pekerja perempuan
mengalamipengalaman
hidup
yangjauh
berbeda. Migrasimenyebabkan adanya kontak dengan
dunia luar yanglebih
luasdari
pada hanya berada dikampung halaman atau bekerja di
dalamnegeri.
Pekerjamigran
menghadapi berbagaitantangan eksistensial baru dan
berpeluang melakukan komunikasi dengan penduduk lokaldi
negarapenempatan.
Bahkan mereka dapat menjadi agen tronsculturolity.Tinggaldi
negaralain, membuat perempuan
memilikipengetahuan, ide dan norma-norma
sosial baru.Hal ini juga berpengaruh
terhadap status dan kondisi sosial merekadi
negara asal.Pekerja migran perempuan dapat
berperanserta dalam meningkatkan
perekonomian danmemberikan suara dalam
pengambilan keputusan di keluarga. Suara mereka akan lebihdidengar dan dihargai. Dengan
pengalaman bekerjadi
luar negeri dan mampu mengirimkanremitansi untuk keluarga, posisi
perempuandalam keluarga pun mengalami
perubahan positif. Adanya kepercayaandiri
dan kesadaranakan hak-hak, akan memungkinkan
merekauntuk berpartisipasi secara penuh
dalam masyarakat. Memperjuangkan suara kelompokyang mengalami diskriminasi
ataukepentingannya kurang
terartikulasikan, seperti: perempuan, anak-anak, dan orang tua.ll.
PembahasanSecara umum, permasalahan
pekerjamigran dapat dihadapi pada masa
pra-penempatan, penempatan, dan
purna_penempatan.
Permasalahanpekerja
migran merupakanhal
seriusyang
harus diselesaikansecara komprehensif. Kekerasan,
ancamanhukuman penjara, eksekusi hukuman
mati, upah yang tidak dibayar, dan korban trofficking, adalah beberapa permasalahan pekerja migranyang seringkali terjadi. pemetaan
danpemahaman terhadap permasalahan
pekerjamigran perempuan merupakan bagian
darifenomena feminisasi migrasi.
AdaDina Mortiany Fenomeno Pekeria Migron....
permasalahan yang secara spesifik dialami oleh
perempuan pekerja migran dikarenakan
ia berjenis kelamin perempuan.Dalam bagian Pembahasan ini
akandiuraikan lebih mendalam
mengenaipermasalahan pekerja migran
perempuansebagai bagian
dari
feminisasimigrasi.
Selainitu,
pembahasanberikutnya bertujuan
untuk memahami feminisasi migrasi yang diharapkandapat
menjadiframe work dalam
penanganan permasalahan pekerja migran perempuan.A. Permasalahan Pekerja
Migran
PerempuanSebagai mayoritas secara
jumlah,pekerja
migran
perempuanjuga
mendominasijumlah pekerja migran yang
menghadapi berbagai permalahantersebut di atas.
Mulai dari overstayers, penipuanoleh
calo, dokumen ilegal, hukuman pidana, upah tidak dibayar, dan berbagai bentuk kekerasan.Adapun akar permasalahan
pekerja migran yang dapat ditelaah yaitu:1. Lapangan pekerjaan di lndonesia
yang sangatterbatas.
Kondisiini telah
menjadi permasalan sejak lamadan
menjadi catatanpenting agar terus dilakukan
perbaikan,sehingga pekerja migran lebih
dapat diberdayakan di tanah air;2. Tingkat pendidikan dan
kompetensi.Umumnya pekerja migran asal
Indonesia memilikitingkat
pendidikan dan kompetensiyang rendah. Hal ini menjadikan
mereka berada sulit berkomunikasi dan menjalankan pekerjaandengan baik di tempat
pemberikerja di negara penempatan; dan
3. Sistem perekrutan, pemberangkatan,
danpenempatan pekerja migran yang
belum dilaksanakan dengan baik dan sesuai denganperaturan. Hal ini menyebabkan
parapekerja migran lebih cenderung
memilihuntuk menjadi pekerja migran yang
ilegal daripadaterdaftar dan mengikuti
prosedurresmi.
Akibatnya, pekerja migran seringkalimenjadi korban perdagangan
manusia/
trofficking.
Bahkanpekerja
migranperempuan rentan menjadi
korban295
trafficking untuk dijadikan pekerja
seks dineSara penempatan.
Beberapa
waktu yang lalu,
Pemerintahmelalui Kementerian Luar Negeri
mengklaimjumlah total kasus Warga Negara
lndonesia (WNl), khususnya pekerja migrandi
luar negerisemakin menurun. Tabel
dibawahmenggambarkan penurunan jumlah
kasus WNI/PekerjaMigran
di luar negeri.Tabel 3
Kasus
WN|/Pekerja
Migrandi
Luar Negeri ,,Iup!ah Kasus '-...,parerja , i,:',i.,:MiCfan :' 20LL 38.880 kasus 20.921 kasus2013 9.359 kasus 8.287 kasus
Sumber: Kementerian Luar Negeri, Agustus 2013.
Lebih jauh lagi, menurut
data KementerianLuar Negeri pada bulan
Agustus 20L3, setidaknya sepanjang tiga tahun terakhir,jumlah kasus pekerja migran yang
terdata semakinmenurun
dantingkat
penyelesaiannyaoleh pemerintah semakin meningkat. Hal
ini sebagaimanatergambar pada tabel di
bawah ini.Tabel 4
Persentase Kasus
WN|/Pekerja
Migran yang Dapat Diselesaikan.Tahun ,,rasui Wtttt .. (asus PekCtja Migran
2011 80p% 533%
2013 54.7% 88,5%
Sumber: Kementerian Luar Negeri, Agustus 2013.
Penurunan ini dapat
terjadi
dikarenakansejumlah kebijakan yang
diterapkanpemerintah.
Salah satunya adalah moratorium pengiriman TKIke
negara-negaraseperti
ArabSaudi, Syria, dan Yordania.
Moratorium ternyata membawa dampak positif bagi pekerjamigran Indonesia. Sebagai contoh,
sejakdiberlakukannya moratorium,
terjadi perubahan pendekatan pemerintah Arab Sauditerhadap Indonesia terkait
ketenagakerjaan.Misalnya, Arab Saudi saat ini telah
memiliki296
meningkatkan
proporsi gaji untuk
PRT migran, misalnyadari 600
Riyal,kini ada
peningkatanhingga 1.500 Riyal. Meskipun
demikian,pemerintah tetap akan mengambil
langkah strategis dengan melakukan misi menghentikan pengiriman PRT migran, padatahun
2OI7 yangakan datang. Hal ini juga akan
diimbangidengan langkah strategis lainnya
dan penyusunan peta jalan (road mop).Meskipun
pemerintah
telah menyatakan adanyapenurunan
kasus, namunpada kenyataannya permasalahan
pekerjamigran Indonesia masih sangat
kompleks.Salah satunya
yaitu
permasalahanpelik
yang sedang dihadapioleh
pekerja migran Indonesiaoverstayers di Saudi Arabia.
Merekamengalami kesulitan mengurus
perpanjangan dokumen izintinggal.
Sejak Mei 20L3 yang lalu,Pemerintah Kerajaan Arab Saudi
telahmemberikan Amnesti (pemutihan)
kepadapekerja migran overstoyers Indonesia.
padasaat berakhir tanggal 3 November
20L3,tercatat 73.656 orang belum
menyelesaikandokumen dan terancam dirazia
sertadideportasi. Sebanyak LS.57L orang
telah mendapatkan dokumen ketenagakerjaan resmi,sebanyak 6.035 orang telah mendapat
exitpermit untuk pulang ke
Indonesia,dan
5.973orang di antaranya terdata sudah pulang
ke TanahAir. Jumlah pekerja migran yang
telahmengurus dokumen jati diri dan
perjalanan berupa Surat Perjalanan Laksana paspor (SpLp) dari KJRI diJeddah Arab Saudi mencapai 95.262 orang.t6Sementara itu, permasalahan
pekerja migran lain yang masih terusterjadi
hingga saatini
adalahdeportasi atau
pemulangan massalpekerja migran bermasalah melalui
berbagai pelabuhan di daerah perbatasan. Salah satunyayaitu melalui Pelabuhan Sri Bintan
pura,Tanjung Pinang, provinsi Kepulauan
Riau.Mereka dideportasi dari lmigrasi
KerajaanMalaysia dikarenakan dokumen ilegal
atautelah
habis masa berlakunya. Hal initentu
saja'" Amnesti TKt di Arob Soudi Berokhir. Senin, 4 November 2013. Berita pada
TKI-di-Arab-5audi-Berakhir, diakses 4 November 2013.
Kojian Vol. 18 No. 4 Desember 2013
menjadi permasalahan krusial karena deportasi dilakukan hampir setiap minggu.
Menurut
datadari
SatuanTugas
PenangananTenaga
KerjaIndonesia (TKl) Bermasalah
pemerintahEmbarkasi/Debarkasi Tanjung Pinang,
sejaktahun 2005 hingga Oktober 2Ot3
jumlahpekerja migran bermasalah yang
telahdideportasi dari Malaysia sebanyak
15.730 orang.17Permasalahan lainnya, menurut
dataMigrant Care, sampai dengan Oktober
20L3terdapat
265 orang pekerja migran yang masih menghadaplancaman hukuman mati,
karenadidakwa membunuh, mengedarkan
narkoba, dan tindakankriminal lainnya.
Darijumlah
itu,diperkirakan cukup banyak pekerja
migranperempuan yang mengalami
permasalahan hukum, bahkan terancam hukumanmati.
Tabel5 di bawah menunjukkan beberapa
contohpekerja migran perempuan yang
mengalamiancaman hukuman mati, yaitu:
Tabel 5
Contoh Kasus Pekerja
Migran
perempuan yang Terancam HukumanMati
17
Presentasi Satgas penanganan WNI/TKI bermasalah Debarkasy'Embarkasi Tanjung pinang, provinsi Kepulauan Riau _ Disampaikan dihadapan Tim pengawas TKt DpR-Rt, pada tanggal 3 Desember 2013 di Tanjung pinant.+"
:+p|g;: KasusSatinah Semarang
Divonis
bersalahmembunuh majikannya Nura
Al
Gharib pada2009.
Satinahterancam
hukuman pancung, sampai saatini
PemerintahIndonesia menyatakan
belum
mampu membayar uang Diyat sebesar 18 Miliar.Tuti Tursilawati
Majalengka
Dituduh
membunuh majikannya Suud Al-Qtaibi pada 2010. Tuti
mengaku
terpaksamembunuh
karenamembela diri
akan diperkosa. persidangan masih berjalan sampai saat ini.Aminah dan Darmawati
Kalimantan Selatan
Dituduh
membunuhdan
memutilasiseorang pekerja migran
bernama
Amnah.Keduanya divonis mati
pada 20 Juni
2010.Saat ini sedang dalam
proses
pengajuanpengampunan ke Raja Arab Saudi.
SitiZainab Bekasi
Dituduh
membunuh isteri majikannya yangbernama Hurah binti
Abdullah
Duhem AlMaruba. Divonis pada
tahun 2009 dan masih menunggu pernyataan maaf dari anak laki-laki korban.
Wilfrida Soik
Kab.
Belu, NTTDiancam
hukumanmati oleh
MahkamahTinggi Kota
Bharu,Kelantan.
la
dituduh melakukanpembunuhan
majikannya, Yeap Seok
Pen
pada tanggal 7 Desember 2010. Hasildiplomasi
yangdilakukan
olehPemerintah lndonesia
berhasil
membuatpihak
pengadilan menunda putusan selaterhadap
kasustersebut,
hinggatanggal
17
November 2013.Dino Mortiany Fenomeno Pekeria Migron....
Sumber:'Arab Saudi Akhirnya Mau Lindungi TKl", Liputan Nasional Koran Sindo, Kamis, 18 Juli 2013, hal. 8-9 dan sumber lainnya.
Selain
itu,
masih banyak pekerja migranperempuan yang
mengalamaberbagai
kasushukum di
negarapenempatan. Di bawah
inikompilasi data beberapa kasus yang
dialami oleh pekerja migran perempuan:297
Tabel 6
Contoh Kasus Pekerja
Migran
PerempuanSumber: "Arab Saudi Akhirnya Mau Lindungi TKl", Liputan Nasional Koran Sindo, Kamis, 18 Juli 2013, hal. 8-9.
,.HlSq.
..tAiat ,r,,i:,|(,, .1u5,Y€ng:,lj,rdihidipi
Nia Cahyani
27
Sep 20L2Gegerbitung, Sukabumi
Mengalami
patah
tulangjari
kaki dan tangan, akibat disiksamajikan
diDaman, Arab Saudi.
Rohana binti Ahmad
2
Juni20L2
Sumbawa, NTB
Korban pelecehan
seksual oleh
anak majikan.
Rohana bekerja delapan bulan tanoa dieaii.
Neneng Sri Karwati
13 Nov 20L2
Sukabumi Disiksa majikan Jeddah, karena dituduh memiliki sihir.
oleh di
ilmu
Warsinem binti Karsidi
10 Mei 20L3
Banjarnegara Dipaksa
bekerja
olehmajikan
selama
19tahun
sejakSeptember 1993.
Aminah binti Uyum
31
Mei 2013Cianjur, Jabar
Meninggal dunia di Arab
Saudi, diduga karena disiksa oleh
maiikannva.
Ani Rohaeni
24 Juni 2013
Banjaran, Bandung
Disiksa majikan hingsa buta.
298
Permasalahan terjadi di
negarapenempatan berkaitan erat
denganpermasalahan sejak pra penempatan
ataumasih di dalam negeri. Apakah
karenadokumen yang
tidak
resmi, prosedur yang tidak sesuai,atau
persiapanlatihan
kerja yangtidak memadai.
Permasalahanpekerja migran
dinegara penempatan menjadi semakin
sulitditangani
karenaperlindungan yang
diberikan oleh pemerintah pun sangatminim.
Selama ini, pekerja migran masihdilihat
sebagai komoditas penghasildevisa bagi negara, bukan
sebagaiwarga negara yang harus
dilindungisepenuhnya. Perlindungan hukum
melaluiundang-undang yang memposisikan
pekerjamigran sebagai subyek perlindungan
yangmemiliki hak-hak dan bukan hanya
obyeksemata.
Hasilkajian Migrant
Caredan
Tahir FoundationlTmenunjukkan bahwa
selama ini,perlindungan pekerja migran dalam UU
No.39/tahun 2OO4 tentang PPTKILN
belummemasukkan prinsip-prinsip
standarinternasional pengaturan
ketenagakerjaanmenurut
lLO. Hasil penelitiannya menunjukkanbahwa selama 43 tahun sejak
L97O-2OL3,kebijakan perlindungan dan
penempatanpekerja migran lndonesia justru
bersifat eksploitatif dantidak protektif.
B.
Memahami Feminisasi Migrasi untuk
Penanganan Permasalahan Pekeria Migran PerempuanSecara umum, migrasi dan
pekerjamigran
perempuanseringkali
dipandang tidakberbeda dengan migrasi dan pekerja
migran laki-laki.lsu yang
menyangkutremitansi/pengiriman uang,
ketenagakerjaan, penempatan,kompetensi, dampak
sosial, dantransfer nilai antar budaya. Tetapi
apabiladilakukan kajian mendalam terhadap
akar penyebab munculnya permasalahan,nilai
yangdianut dan kondisi di negara
penempatan,dampak
sosialjangka panjang, serta
dampak pada keluarga dan anak-anak yang ditinggalkan,maka persoalan pekerja migran
perempuan"
Selusur Kebijakon (Minus) Perlindungan Buruh Migron tndonesio, buku hasil kajian Migrant Care dan Tahir Foundation yang ditulis oleh Wahyu Susilo, Anis Hidayah, dan Mulyadi, Jakarta: Migrant Care, 2013.Kajion Vol. 78 No.4 Desember 2073
semestinya dilihat berbeda.
Fenomenafeminisasi migrasi yang terjadi pada
pekerjamigran perempuan perlu diperhatikan
secara serius.Sebagai bagian dari
fenomenafeminisasi migrasi, pekerja migran
PRTperempuan seringkali mengalami permasalahan
spesifik atau kerentanan
yangdisebabkan karena berjenis
kelaminperempuan. Ditambah lagi, kerentanan
yangharus mereka hadapi karena bekerja
sebagaipekerja domestik. Permasalahan
dan kerentanan tersebut, antara lain:181.
Stratifikasidi
pasar tenaga kerjaPasar
tenaga kerja di negara tempat bekerja migran dipisahkan
berdasarkan pada kebangsaan,jenis kelamin, etnis, kelas,
danmodal sosial. Berbagai faktor yang
dapatmenyebabkan permasalahan bagi
pekerjamigran perempuan saling terkait satu
samalain, yaitu: kekuasaan, jenis
kelamin,kebangsaan, etnis, kelas. Faktor
tersebut menciptakan stratifikasi pasar tenaga kerja bagipekerja migran perempuan, ydhg
berimplikasi padapreferensi pemberi kerja dalam
memilih pekerja migran,memberi
upah dan tunjangan.Pekerja migran perempuan yang
miskin, berasaldari
desadi
negara berkembang, tidakmemiliki
keterampilan, pendidikan rendah, danminim pengetahuan mengenai hak
pekerja,masuk pada stratifikasi rendah. Kondisi
ini membuat merekarentan
karenatidak
memilikikekuatan untuk mengubah
subordinasistruktural dalam ekonomi global atau
tidak memiliki pilihan pekerjaan yang lebih layak.2.
Kondisi danwaktu
kerja yangeksploitatif Sebagai pekerja dengan
stratifikasiterendah,
PRTmigran perempuan
seringkalimengalami upah yang tidak dibayar,
waktu kerja yang tanpa batas,tidak
diberikan istirahat yang cukup atau harilibur,
dantidak
mendapat18 Nicofa Piper, Rights of Foreign Workers and the potitics of Migrotion insouth-Eost and East Asio, lnternotionol Migrotion tounal,yol.42 (Sl.
Oxford: International Organization of Migration, 2004. Oalam patricia Yocie Hierofani, Norm Sociolization of Women Migront Workers' Rights: The Role of Notionol Human Rights Commissions of lndonesia ond Moloysio, tesis pada Universitas Lund, 2011.
Dino Mortiany Fenomeno Pekeria Migron....
tunjangan kesejahteraan.
Humon
Rights Wotchmencatat PRT migran perernpuan
dari Indonesiadi
Malaysia paling banyak mengalamikondisi eksploitatif. Hal mendasar
yangmenyebabkan kondisi eksploitatif ini
karenaadanya kelanggengan stereotipe
bahwapekerjaan domestik merupakan
tanggungjawab
perempuan.
Pekerja migran perempuandianggap sebagai substitusi dari
majikanperempuannya
yang bekerja di ruang
publik.Selain itu, pekerjaan rumah tangga
belumdiakui sebagai pekerjaan dalam
Undang- Undang Ketenagakerjaan Malaysia Tahun 1955.Tanpa adanya pengakuan PRT sebagai pekerja,
di negara asal maupun negara
penempatan,maka kondisi kerja pekerja migran
PRT akan sulit diperbaiki.3.
Keterbatasanmobilisasi dan
keterbatasan komunikasiMenurut Humon
Rights Watch majikanseringkali melarang pekerja migran
PRTperempuan keluar rumah, karena
takut
merekamelarikan diri, berhubungan dengan
laki-laki lokal dan kemudianhamil. Atau
dikhawatirkanpara pekerja akan belajar dari luar
mengenaihak-haknya sebagai pekerja. Di
Malaysia,hukum nasional memperbolehkan
majikanuntuk menyita
pasporpekerja migran
dengan alasan keamanan. Adanyaketentuan
tersebut,menyebabkan PRT migran perempuan
sulituntuk menghindar dari kondisi kerja
yangeksploitatif atau
situasiburuk.
Apabila merekameninggalkan rumah majikan tanpa
paspor, merekarentan untuk ditahan dan
dideportasi.Majikan juga seringkali membatasi
akseskomunikasi PRT migran perempuan ke keluar:ga mereka.
4.
Pelecehan berbasis gender dan kekerasanPekerja migran perempuan
rentanmengalami kekerasan psikologis, fisik
dankekerasan seksual yang disebabkan
karenaberjenis kelamin perempuan. Menurut
wawancara yang dilakukanoleh Human
RightsWotch dengan PRT Indonesia di
Malaysia,kekerasan psikologis biasanya
berupapenghinaan, ancaman dan
dilecehkan;299
kekerasan fisik mulai dari
menendang,pemukulan, kekerasan dengan benda
tajam;dan kekerasan seksual seperti meraba-raba dan membelai, bahkan pemerkosaan.
5.
Perdaganganmanusia (humon trofficking)
dan kerja paksaPekerja
migran sangat rentan
menjadikorban perdagangan manusia,
terutamamereka yang berangkat dengan cara
ilegal.Perdagangan manusia berhubungan
dengan masalahpekerja migran
Perdagangan manusiamerupakan permasalahan berbasis
gender.Pekerja migran perempuan lebih
rentanmenjadi korban
trafficking.
Mereka mengalami penipuan sejakawal
keberangkatan,dan
pada akhirnya dijadikan pekerja seks ataudi tempat hiburan, atau
melakukankerja
paksadi toko- toko
atau restoran tanpa dibayar.6.
Laranganmelakukan reunifikasi
keluarga di negara penempatanKeberadaan PRT migran
perempuandipandang hanya dari perspektif
ekonomi,sebagai bagian dari angkatan kerja,
bahkanseringkali dianggap sebagai
komoditaspenghasil devisa. Akibatnya, aspek
sosial budayaperempuan pekerja migran
diabaikan.Pada umumnya kebijakan migrasi di
negarapenempatan yang berada di Asia Timur
dan Tenggaramemiliki karakter untuk
membatasijumlah
migrasi; membatasi durasitinggal
dankerja pekerja migran, dan
mencegah integrasi pekerja migran dengan penduduk lokal. Dengankondisi seperti ini, kebijakan migrasi
hanya meninggalkan sedikit ruang untuk menetap danberkeluarga. Sebagai contoh,
kesepakatanantara
Pemerintah Indonesia dengan Malaysiamenyebutkan bahwa Pemerintah
Malaysiatidak mengizinkan PRT migran
perempuanuntuk hamil, menikah dengan
penduduksetempat,
dan
membawa anggota keluarga ke Malaysia.Dengan memahami
berbagaipermasalahan sebagai akibat
feminisasimigrasi, maka perlindungan dan
penempatanpekerja migran Indonesia harus
dilakukan dengan mengintegrasikanprinsip
perlindungan300
HAM dan Hak
Perempuan.
Revisi UU PPTKILNharus memuat prinsip-prinsip tersebut,
tidak hanyabersifat netral gender dan
memandang sama permasalahan pekerja migran perempuandan laki-laki. Apalagi fenomena
feminisasimigrasi masih akan terus berlanjut
sampai masa yang akandatang.
UU PPTKILN yang baru semestinya mengedepankan pnnsrpperlindungan terhadap pekerja migran,
UU yang ada saatini
masih didominasi pengaturanmengenai penempatan saja. Begitu
puladengan Undang-Undang mengenai
pekerja rumah tanggadi
negarakita.
Selainitu
secarainternasional pemerintah perlu melobby
agar negara-negarapenempatan dapat
menyusun domestic workers low.lmplementasi dari
Undang-UndangNomor 6 Tahun zOtZ tentang
PengesahanKonvensi lnternasional Mengenai Perlindungan Hak-Hak
Seluruh Buruh Migran dan
Anggota Keluarganyajuga
sangatdiperlukan.
MigrantCare dan Tahir Foundation2o dalam
hasilkajiannya menyatakan bahwa
ratifikasikonvensi harus diimplementasikan
dalambentuk
kebijakan-kebijakanyang lebih
konkritdan operasional, sehingga dapat
menjadipanduan politik luar negeri lndonesia
dalammelakukan diplomasi perlindungan
pekerjamigran. UU
PPTKILNpun perlu
mengadopsiprinsip-prinsip konvensi ini. Terutama
untukmencegah dan menghapuskan
eksploitasiseluruh pekerja migran dan
anggotakeluarganya di seluruh proses
migrasi,termasuk mencegah terjadinya
perdaganganmanusia.
Dimanapekerja migran
perempuan selamaini
yang paling banyakmenjadi
korban eksploitasi dan perdagangan manusia.Untuk meningkatkan level
stratifikasi PRTmigran domestik, pemerintah
hendaknyadpaat meningkatkan pelaksanaan
pelatihankerja, kursus bahasa, dan kompetensi
bagipekerja migran domestik.
Peningkatanterhadap kompetensi ini menjadi
sangatpenting bagi
PRTmigran perempuan,
karenameskipun mereka bekerja di ruang
domestik20 Wahyu Susifo, Anis Hidayah, dan Mulyadi, Selusur Kebijokon (Minus)
Perlindungon Buruh Migran lndonesio,buku hasil kajian Migrant Care dan Tahir Foundation, jakarta: Migrant Care, 2013.
Kojian Vol. 78 No. 4 Desember 2073
tetapi mereka memiliki keterampilan
dalammelakukan berbagai pekerjaan
domestik.Dengan meningkatnya skill, mereka
akanmenjadi lebih percaya diri
menghadapiberbagai situasi di
tempat
majikan.Hal ini dapat menghindari
pekerja migran perempuandari
kerentanan mengalamidiskriminasi secara suku bangsa, etnis,
dankelas sosial. Kepercayaan diri ini
pulasemestinya dapat membantu pekerja
migranperempuan dapat melindungi diri
danmenghindari terjadinya pelecehan
seksual, kekerasan,dan upah yang tidak
dibayarkan.Bagaimanapun peningkatan skil/ dan stratifikasi kelas pekerja
dapat
meningkatkan posisi tawardan upah pekerja migran
perempuanlndonesia.
Selain itu, pemerintah juga
harusmemperluas sosialisasi dan
penyebaraninformasi mengenai persiapan pra-penempatan
dan
penempatan kepada masyarakat luas dancalon pekerja migran di seluruh
wilayah.Terutama kantong-kantong pekerja migran
didaerah
perbatasanyang rawan
penyeludupanpekerja migran ilegal, tanpa dokumen,
danperdagangan manusia (human
trafficking).Penyebab
semakin maraknya pekerja
migran ilegal, salah satunya sebagai dampak dari biayapenempatan pekerja migran yang
mahal.Laporan World Bonk menunjukkan
biayarekrutmen tertinggi di dunia adalah
pekerjamigran
Indonesia sebesar2.L75
USD. Sebagaiperbandingan, di Filipina yang
perlindunganpekerja
migrannyalebih baik
biaya rekrutmensudah termasuk tinggi, yaitu sebesar
L.7OOUSD,
di
Srilangkasebesar 1.250
USD,dan
di Thailand sebesar 1.500 USD.Oleh karena itu, pemerintah
harusmelakukan perubahan dan penurunan
biayarekrutmen
sehinggatidak
memberatkan calonpekerja migran yang mayoritas
memilikiketerbatasan biaya. Terutama calon
pekerjamigran perempuan yang seringkali
memilikiakses terbatas terhadap harta dan
tidak memiliki penghasilan sendiri di daerah asal.Dino Mortiony Fenomeno Pekerjo Migran....
lll.
KesimpulanBerdasarkan berbagai
uraian
mengenaiberbagai
permasalahanyang dialami
pekerjamigran perempuan, maka dapat
dipahamidengan jelas bahwa migrasi
bukanlah fenomenanetral
gender. Fenomenaini
sangatlekat dengan permasalahan
diskriminasigender. Feminisasi migrasi bukan
sekedardominasi pekerja migran perempuan
secarakuantitas saja. Termasuk di
dalamnya,permasalahan dan kerentanan yang
sering dialami secara spesifik karena mereka berjeniskelamin perempuan.
Permasalahan tersebut menjadi semakin kompleks karena mereka /ow-skilled dan bekerja di ruang
domestik.Stereotipe masyarakat yang
memandang bahwa pekerjaan domestikbernilai
rendah danmenjadi tanggung jawab utama
perempuan,menempatkan posisi pekerja
migran perempuan semakin rendah.Dengan memahami feminisasi
migrasimaka semakin menegaskan bahwa
sangatdiperlukan integrasi perspektif gender
dalamupaya penanganan permasalahan
pekerjamigran. Terutama dalam
merumuskankebijakan perlindungan bagi pekerja
migran,perlu ada perlindungan khusus bagi
pekerjamigran perempuan. Migrasi perempuan
tidakboleh dilarang atau dihentikan,
namunpemerintah harus mampu untuk
membuatproses migrasi yang lebih aman.
Diperlukanadanya peraturan yang
komprehensif;koordinasi antar stake holders;
pelatihan keterampilan, bahasa,dan finansial
bagi calonpekerja migran; serta kerja sama
yangmenguntungkan kedua belah pihak
dengannegara penempatan. Peraturan yang
sensitif gender, dilengkapi dengan data gender pekerjamigran, dan dimulai dengan analisis
gender terhadap akar permasalahan pekerja migran.301
Oleh karena itu, pembahasan
revisi Undang-UndangNo. 39 Tahun 2004
tentangPenempatan dan Perlindungan Tenaga
KerjaIndonesia di Luar Negeri (UU
PTKILN)hendaknya dapat dipercepat. UU PPTKILN yang akan
datang
haruslebih berperspektif
gender.Dengan mengintegrasikan prinsip perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Hak Perempuan,