RISALAH RAP AT PEMBAHASAN
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN POKOK
PERTAHANAN KEAMANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAN
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PRAJURIT ANGKATAN BERSENJATA REPUBLIK INDONESIA
Tahun Sidang Masa Sidang Rapat ke -Jenis rapat Dengan Sifat rapat Hari/tanggal Pu k ul Temp at Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara Had i r 1987-1988 III 10
Rapat Kerja Panitia Khusus ke-5
Pemerintah Menteri Pertahanan Keamanan
Pemerintah/Menteri Pertahanan Keamanan Republik Indonesia.
Terbuka
Kamis, 21 Januari 1988
09.00-14.00 WIB. dilanjutkan pukul 15.00-17.45 Ruang Rapat Panitia Khusus Gedung Dewan Perwa-kilan R~yat Republik Indonesia.
Dr. A. Baramuli, S.H. Drs. Noer Fata
Pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 dan Daftar Inventarisasi Ma-salah Rancangan Undang-Undang tentang Prajurit
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. 1. - 28 daru 30 Anggota Tetap;
- 13 dari 17 Anggota Pengganti. 2. Pemerintah.
ANGGOTA TET AP PANITIA KHT 1
SUS DPR RI : 1. DR. A Baramuli, S.H.
2. Ors. Sabar Koembino 3. Joni Herlaut Sumardjono 4. H. lmron Rosyadi, S.H. 5. Ors. H. Iman Soedarwo PS. 6. Ors. F. Harefa, S.H.
7. Soesanto Bangoennagoro, S.H. 8. Marzuki Darusman, S.H. 9. Drs. Ardi Partadinata 10. Bagoes Soesanto
11. Dwi Riawenny S. Nasution, BA 12. A.A Oka Mahendra, S.H. 13. Z. Ansori Achmad, S.H. 14. M. Hatta Mustafa 15. Obos Syabandi Purwana 16. Ors. Osman Simanjuntak 17. Ir. Hanoch Eliezer Mackbon 18. H.A. Poerwosasmito 19. A Hartono 20. Soeardi 21. Ors. Soetaryo 22. D.P. Soenardi, S.H. 23. Drs. Soedjadi, S.H.
24. H. Ismail Hasan Metareum, S.H. 25. H. Ali Tamin, S.H.
26. Sukardi Effendi, S.H.
27. H. Soetardjo Soerjo Goeritno, BSc. 28. DjulJ.ri, S.H.
ANGGOTA PENGGANTI P ANITIA KHU SUS DPR RI : 1. Drs. Gatot Soewagio
2. H. Mohammad Taslim Ibrahim 3. Drs. H. M. L. Patrewijaya 4. Tjahjo Koemolo, S.H. 5. Drs. Soewardi Poespojo 6. Amir Yudowinamo 7. Soegiyono 8. Siswadi 9. Waltom Silitonga 10. Poedjo Bintoro 11. R.0.M. Mahdi Tjokroaminoto 12. Ors. Mohammad Husnie Thamrin 13. Budi Hardjono, S.H.
ill. PEMERINTAH :
1. Jenderal TNI (Purn) Poniman 2. Letjen TNI LB. Sudjana 3. Letjen TNI Soegiarto 4. Teddy Rusdy
5. Soetaryo 6. Muntaram
7. Brigjen TNI Muhartono
8. Brigjen TNI Ir. Ibrahim Marzuki 9. Brigjen TNI Kandar
· 10. Laksma TNI Dalem Udayana 11. Brigjen TNI Amir Singgih 12. Kol. Laut R. Susanto, S.H. 13. Kol. Chk A. Sihombing 14. M. Zulkarnaen, S.H. 15. Kaslar 16. Suardi Saibi, S.H. 17. Sutjipto, S.H. 18. T.B. Silalahi 19. Barn bang Hartoyo 20. M. Taha Usman
21. Kol. Inf. Hadi Sutrisno 22. R.B. Iskandar K. 23. Imam Supardi 24. Drs. Sudjadi
25. Eliyas Margiyo, BA.
Menhankam Sekjen Dephankam Kassospol ABRI Asrenum Pangab Waka Bais ABRI Dirjen Persmanvet · Kapusdiklat Dephankam Karo Organisasi Setjen Dep-hankam
Pati Mabes
AD-Karo Hukum Setjen Dephan-kam
Kabag Undang-undang Rokum. Setjen Dephankam
Kasubag Rancang Rokum Set-jen Dephankam
KETUA RAPAT (DR. A. BARAMULI, S.H.): Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Merdeka !
Dengan ini kami menyatakan rapat Panitia Khusus terbuka, dan dinyata-kan terbuka untuk umum.
Saudara-saudara sekalian, qourum hari ini sudah bisa dicapai sehingga rapat kerja dengan Saudara Menteri Pertahanan Keamanan dapat kita terus-kan adapun surat yang masuk adalah dari FKP mengenai rumusan Pasal 14 usulan FKP yang dalam Daftar Inven tarisasi Masalah FKP belum ada rumusan-nya. Ini disertakan di dalam surat ini.
Kemudian saya hanya mengingatkan bahwa ada juga satu surat dari. FABRI tertanggal 18 Januari 1988 mengenai perubahan-perubahan, usul-usul melengkapi Daftar Inventarisasi Masalah, supaya ini diperhatikan oleh Sauda-ra-saudara sekalian dan sudah diperbanyak dan telah diserahkan kepada para anggota kalau ada yang belum terima nanti kami harap supaya Sekretariat menyerahkan dua surat ini yang masuk, karena merupakan kelengkapan darir pada rapat ini.
lalu kedua, kembali lagi saya mengingatkan bahwa catatan rapat notulen yang telah kita laksanakan yaitu mulai tanggal 8 itu ada 5 notulen catatan rapat itu hari ini terakhir Saudara-saudara, untuk diperbaiki, jadi kalau tidak ada perbaikan, maka risalah catatan rapat di atasnya selalu ada catatan belum dikoreksi berarti sudah dikoreksi.
Sedangkan yang Saudara-saudara terima tanggal 18 hari juga terakhir se-bagai catatan rapat belum dikoreksi, besok yaitu Saudara terima catatan ra-pat tanggal 18 Januari 1988 sudah dikoreksi, kalau tidak ada perubahan-peru-bahan dari Saudara, ini mekanismenya, yang Saudara terima hari ini adalah rapat tanggal 19 Januari, jadi tanggal 22 hari Jum'at besok, lusa hari Sabtu, paling lambat tanggal 23 jadi 3 hari, 23 ini sudah dinyatakan sebagai sudah di-koreksi. Jadi kami harapkan supaya Saudara-saudara ada waktu untuk melaku-kan perbaimelaku-kan-perbaimelaku-kan dalam catatan rapat bilamana ada.
Saudara-saudara sekalian demikian apa yang dapat disampaikan dan se-bagai tambahan dari beberapa anggota, saya diberitahukan, bahwa mereka sudah rapat dari tanggal 14 Nopember 1987, sudah 2 bulan katanya, ini saya menerima, ada kebenarannya jadi memang kenyataannya masih sehat semua sebab baru 2 bulan rapatnya. Maksudnya memberitahu supaya jangan ada rapat yang terlalu lama tapi acaranya menurut usaha kita di sini, ya baru 7 pasal mustinya kemarin sampai Pasal 15, jadi kita ketinggalan 8 pasal, mudah-mudahal) hari ini kita dapat membuat 20 pasal, 20 pasal Saudara-saudara, jadi pasal 27 karena kemarin 7 pasal diusahakan 20 pasal, ya kita lihat, yang sudah tercapai 15 barangkali bisa kita pertimbangkan. Jadi hari adalah hari khas sam-pai pukul 14.00 makan siang lalu sholat. Pukul 15.00 WIB kita lanjutkan lagi sampai dengan selesai 20 pasal.
Saudara-saudara, setujukah dengan cara ini? Untuk hari ini? (RAPAT SETUJU)
Dengan demikian kita ma~uki materi yang kemarin adalah tiba-tiba ke-pada halaman 17 darike-pada Daftar Inventarisasi Masalah ini, halaman 17 di da-lam Daftar Inventarisasi Masalah ini kita melihat Bab II dada-lam Rancangan Un-dang-Undang Pengangkatan.
Sebelum saya teruskan, saya ingin memperoleh nama-nama dari masing-masing Fraksi mengenai anggota-anggota Panitia Kerja, anggota-anggota Tim Perumus dan anggota-anggota Tim Kecil.
Kalau belum ada namanya nanti sore supaya mereka anggota-anggota me-ngetahui tugasnya masing-masing supaya tidak menyulitkan, begitu juga dari Pemerintah. Saya kira ini jelas jadi supaya Saudara-saudara dari Fraksi itu memberikan nama-nama kepada Sekretariat atau kepada Wakil Ketua, di sini ada Saudara lmron Rosyadi, itu bisa menerima.riama-nama lalu diteruskan ke Sekretariat atau langsung kepada Sekretariat.
Nama dari mereka yang menjadi anggota Panitia Kerja, anggota Tim Perumus, dan anggota Tim Kecil. Diharapkan supaya hari ini sudah lengkap.
Saudara-saudara sekalain.
Saudara Menteri Pertahanan Keamanan yang saya hormati.
Sekarang kita tiba kepada BAB
IL
halaman 17 tentang pengangkatan di sini ada usul dari FKP oleh karena itu saya persilakan FKP untuk menyam-paikan usulnya.Silakan.
FKP (OBOS SYABANDI PURWANA):
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudara Ketua Panitia Khusus yang saya hormati.
Saudara Menteri Pertahanan Keamanan dan stafyang saya hormati Saudara-saudara Panitia Khusus yang saya hormati,
Di dalam Daftar Inventarisasi Masalah yang diajukan FKP terdapat bebe-rapa kemajuan, yaitU: yang pertama mengenai BAB II diusulkan heading peng-angkatan diganti dengan hakekat prajurit, kemudian mengpeng-angkatan masuk BAB IV dan Pasal 8 dipindah menjadi Pasal 15 baru, ini adalah sebagai kon-sekuensi pembahasan pengajuan usul FKP mengenai sistematika dan mengenai ini nanti mengenai hakekat prajurit akan dibahas setelah kami mengajukan usul penyempumaan Pasal 8.
Kami mulai dengan Pasal 8, yaitu yang menyangkut persyaratan pada da-samya Fraksi kami dapat menerima persyaratan yang diajukan oleh Pemerin-tah dengan beberapa penyempumaan yaitu :
Pertama : Kami mengusulkan penambahan satu persyaratan yang berbunyi : Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencerminan daripada sila Pertama Pancasila, dan yang kami anggap sudah biasa ditemukan da-lam persyaratan-persyaratan yang lain.
Kemudian yang kedua; Kata-kata tidak tercela pada huruf d yaitu berkelaku-an baik ditambah dberkelaku-an tidak tercela, mengingat bahwa berkelakuberkelaku-an tidak baik biasanya didapatkan dari fihak Kepolisian kemungkinan ada hal-hal lain yang dianggap tidak tertampung dalam keterangan kepolisian itu bisa tertampung dalam kata-kata "tidak tercela"
Yang berikutnya, penambahan anak kalimat, yaitu pada huruf f yaitu putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum, yang tetap pada akhir kalimat huruf f, sedangkan kata "sedang" dari huruf f ini, kami sa-rankan untuk dihapus.
Penghapusan kata "sedang" ini kami dasarkan atas pertimbangan bahwa dengan disebutkannya "tidak sedang" kehilangan hak untuk menjadi prajurit, dapat diartikan bahwa seseorang yang pemah kehilangan hak menjadi prajurit masih dapat diterima menjadi prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indo-nesia. Dan akibatnya ialah bahwa dapat saja seseorang residivis misalnya nanti masih dapat diterima sebagai anggota prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Kemudian usul berikutnya adalah penambahan pada penjelasan pasal ini yaitu Ayat (1) huruf d dengan rumusan sebagai berikut : Uadi ini masuk penjelasan nantinya) bukan bekas anggota organisasi terlarang/Partai Komunis Indonesia termasuk organisasi masanya atau bukan seseorang yang terlibat langsung dalam gerakan kontra revolusi G.30.S/PKI atau organisasi terlarang lainnya.
Konkretnya, Pasal 8 Rancangan Undang-Undang rumusannya adalah "ebagai berikut :
I. Persyaratan umum untuk menjadi prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia adalah sebagai berikut :
a. Warga Negara
b. Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa
c. Setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 d. Sudah berumur 18 tahun.
e. Berkelakuan baik dan tidak tercela f. Sehat jasmani dan rohani
(yang dalam Daftar Inventarisasi Masalah rupanya lupa dimuat) g. · Tidak kehilangan hak menjadi prajurit Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia berdasarkan putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Selain itu diusulkan pula penyempurnaan penulisan dalam Ayat (1) ini yaitu huruf besar pada awal kalimat huruf a sampai f diganti dengan huruf kecil dan pada tanda koma (,) pada akhir kalimat huruf a sampai e, diganti titik koma (;)
Pada ayat ke dua, persyaratan-persyaratan lain disesuaikan dengan ke-butuhan dan peraturan Pemerintal1, kami tidak mengusulkan perubahan.
Demikian saran-saran penyempumaan dari FK.P dan atas perhatian, kami ucapkan terima kasih.
KETUA RAPAT:
Barangkali ada yang kelupaan, yaitu penjelasan dari sub c. Setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 saya kira ada penjelasan yaitu tidak pemah melakukan perbuatan yang hertentangan atau perbuatan yang atau terlibat dalam organisasi terlarang.
FKP (OBOS SY AB ANDI PURW ANA) :
Tadi sudah kami kemukakan, itu dimasukkan dalam penjelasan (rupanya di sini ada kekeliruan penjelasannya dimasukkan dalam diktum yang kami sarankan tadi yang di dalam diktum itu dipitldahkan ke penjelasan).
KETUA RAP AT :
Jadi Saudara-saudara, yang dibaca tadi i tu adalah halaman 20 jadi sudah di halaman 20 dari Daftar lnventarisasi Masalah ini, itu Pasal 8, sekarang dari FKP menjelaskan Daftar Inventarisasi Masalah halaman 20 ditambah Daftar Inventarisasi Masalah halaman 22. Begitu Saudara-saudara.
Jadi kita mulai tadi halaman 20 Pasal 8 halaman 20 dari Daftar Inventari-sasi Masalah lalu penjelasan atau uraian selanjutnya dari FKP itu sampai ha-laman 22, sampai haha-laman 22, saya kira ini jelas semua Saudara-saudara sudah melihatnya. Kalau demikian saya persilakan dari FPP karena F ABRI masih tetap di sini, jadi saya lewati, nanti terakhir memberikan tanggapan, jadi FPP dulu yang mempunyai saran.
Silakan dari FPP.
FPP (H. ISMAIL HASAN METAREUM, S.H.): Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudara Pimpinan, Bapak Menteri dan Staf. Hadirin yang kami hormati.
Dari kami hanya sedikit saja tidak banyak yang kami usulkan dan ke-betulan sama sebagian dari usul FKP tadi. Oleh karena itu tidak terlalu banyak yang harus kami jelaskan hanya kalau kemarin kami sudah menyampaikan pandangan agar kita tambahkan mengenai taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, itu untuk menjadikan apa yang kami namakan insan kamil, maka barangkali tepatlah di sini kalau itu kita masukkan di dalam diktum. Kemudian mengenai yang lain sekaligus menanggapi sedikit apa yang dikemukakan oleh FKP tadi dalam kesempatan ini, ada dua tambahan lain yang kami tangkap dari FKP, bahwa rnenarnbah pada butir c barn, tidak tercela, rnungkin hal ini agak sulit kita tafsirkan sebagai istilah hukurn se-hingga kernungkinan perlu dipertirnbangkan kernbali istilah itu berkelakuan baik rnungkin sudah cukup, ini tanggapan karni. Sedangkan yang terakhir yang butir f lama, kami setuju sekali dengan usul dari FKP keputusan
peng-adilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap, jadi bukan istilah hakim yang digunakan.
Kemudian selanjutnya di dalam penjelasan ada satu istilah yang kami ingin mengappeal kita bersama untuk kita tidak usah menggunakan lagi, pada waktu pertama-tama melakukan tindakan kita memakai istilah mereka untuk memukul mereka, tetapi sekarang sudah waktunya kita meninggal-kan istilah-istilah yang dulu digunameninggal-kan yaitu kontra revolusi, sekarang saya kira lebih baik menggunakan istilah yang lain saja supaya masalah-masalah revolusi yang sepi tidak tergambar lagi di dalam mmusan-rumusan yang kita buat sekarang ini sesudah begitu mantap dalam masalah keamanan dan sebagainya.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Jadi ada 3 masalah yang dikemukakan oleh FPP pertama syarat taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sama dengan FKP, lalu kemudian pengertian tidak tercela, kemudian istilah kontra revolusi, supaya dipertimbangkan tidak dipergunakan, ta pi isinya disetujui, hanya istilahnya.
Demikian Saudara FPP. FPDI (D.JCPRI, S.H.):
Saudara Ketua dan Sidang yang kami muliakan.
Dari FPDI mengenai Pasal 8 yang menyangkut persyaratan di sini kami usulkan perubahan di bagian yang pertama soal warga negara seperti usu! yang pertama kemarin kita usulkan untuk ditambah dengan Indonesia, karena mengingat bahwa sud ah banyak pasal yang ditulis.
Yang kedua bagian yang terakhir di sana diketemukan dalam kalimat "tidak sedang kchilangan hak menjadi prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia berdasarkan keputusan hakim". Kata sedang dimohonkan untuk dihapus karena kata ini bisa menimbulkan tafsiran skandal. Lalu keputusan hakim minta ditambah "yang tidak mempunyai kekuatan hukum yang tetap" yang pasti ini sebetulnya yang d.imaksudkan ada yang tetap menurut istilah perundang-undangan. Perlu kami jelaskan, usu! ini didasarkan kepada satu kenyataan bahwa setiap keputusan pengadilan ini berbeda pada umumnya, keputusan pengadilan tingkat pertama berbeda keputusan tingkat pengadilan banding dan dalam kasasi. Agar supaya tidak menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaan apabila keputusan itu sudah mempunyai kekuatan yang tetap saya kira tidak akan tirnbul persoalan. Sebab kalau tidak dijelaskan demikian,
K:~mungkinan dalam keputusan tingkat pertam:i atau di tingkat yang banding akan bisa dilaksanakan sedangkan kalau sudah dilaksanakan kemudian timbul bahwa dalam tingkat kasasi keputusan berbeda. itu akan mengalami kesulitan yang tidak bisa dihindarkan. ltulah latar belakang daripada pengusulan dari FPDI untuk huruf f.
Kemudian penambahan Pasal 8 Ayat (I) g, sebagaimana telah kita utarakan FPDI mengusulkan agar ada penegasan tentang persyaratan ini oleh karena kita ketahui bahwa Partai Komunis Indonesia menurut penilaian kita masih merupakan bahaya yang latent, saya kira tidak ada salahnya kalau dicantumkan 'persyaratan di dalam syarat-sy·arat Pasal 8 ini.
Demikian Saudara Ketua. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Jadi kalau saya bisa resume barangkali yang dimaksud warga negara ini sudah sama dengan Pasal I di depan. Jadi "warga negara ialah warga negara Republik Indonesia". Tetapi di sini masih diulangi oleh FPDI untuk dicantum-kan warga negara Indonesia, mungkin Pemerintah nanti bisa memberidicantum-kan penjelasan, sudah dimuat di Pasal 1.
Lalu kedua mengenai masalah sedang, itu sama dengan apa yang di-kemukakan oleh FKP juga mengenai keputusan hakim, di sini diganti dengan keputusan pengadilan: tapi yang telah mempunyai kekuatan hukum yang pasti itu sama. Cuma tetap masih menggunakan kalimat hakim, syarat yang lain itu disetujui oleh FPDI tidak terlibat dalam organisasi komunis atau organisasi terlarang lainnya, saya kita secara garis besar.
Sekarang saya persilakan dari F ABRI. FABRI (A. HARTONO):
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara Pimpinan Sidang, Saudara Menteri Pertahanan, Sidang yang kami m uliakan.
Untuk Pasal 8 FABRI berpendapat masih tetap rumusan dalam rumusan Ayat (1) Pemerintah. Alasan yang dipergunakan oleh F ABRI adalah bahwa hal-hal yang lebih rinci atau tehnis sebagai uraian lanjut kejelasan dari butir a, butir b, butir c, butir d, butir e, sampai dengan butir f, sudah ditampung dalam Ayat (2) bahwa hal-hal lebih lanjut berdasarkan kebutuhan persyaratan-persyaratan tersebut akan diatur oleh Menteri. Kami menganggap bahwa masalah-masalah tersebut secara tehnis terinci sesuai kebutuhan sudah akan diatur oleh Menteri lebih lanjut karena ada penjelasan dalam Ayat (2), se-hingga kami berpendapat dalam Ayat (1) kit a tidak perlu sampai terlalu terinci atau hal-hal ini kami anggap sudah cukup.
Demikian Bapak Pimpinan dan terima kasih. KETUA RAPAT:
Terima kasih.
Kalau dari Pemerintah ada pandangan mengenai usul dari Fraksi-fraksi ini kami silakan.
PEMERINTAH (MENTER! PERTAHANAN KEAMANAN/PANGAB/ JENDERAL TNI (PURN) PONIMAN):
Saudara Ketua dan Sidang yang terhormat.
Setelah tadi Pemerintah mempelajari usul yang diajukan terutama oleh FKP dan FPP tentang pertambahan syarat bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pemerintah menyambut baik usul yang dimaksud, namun Peme-rintah berpendapat, bahwa penambahan syarat tersebut pada hakekatnya telah tersirat dalam syarat butir c, yakni setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sekalipun demikian apabila Fraksi-fraksi tetap meng-hendaki dimasukkannya syarat tersebut pada prinsipnya Pemerintah tidak keberatan. Selanjutnya terhadap usul FKP dan FPP yang menyangkut syarat pada butir c dan butir f, Pemerintah ingin menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
Pertama terhadap istilah kekuatan hukum yang pasti atau tetap Pemerintah mengusulkan agar dipilih kata yang paling tepat dan baik, Pemerintah menyerahkan sepenuhnya kepada Panitia Khusus untuk me-mutuskan, karena menurut Pemerintah kedua istilah tersebut sama-sama tepat, sama-sama baik dan sama-sama lazim digunaka.n dalam terminologi hukum kita.
Kedua, khusus terhadap kata sedang dalam persyaratan butir f ini Pemerintah berpendapat bahwa penempatan kata "sedang" ini sudah tepat dengan alasan dan pertimbangan sebagai berikut: Bahwa pencabutan hak-hak tertentu sebagai hukuman tambahan yang dijatuhkan berdasarkan ke-putusan hakim dapat bersifat sementara, dalam hal ini hak yang dicabut kembali setelah batas waktu pencabutan tersebut berakhir.
Ketiga, persyaratan butir c yang diusulkan oleh FKP dan persyaratan butir 2, yang diusulkan FPDI yang pada intinya sama menghendaki agar dimasukkan syarat G 30 S/PKI serta organisasi terlarang yang bernaung di bawahnya, Pemerintah dapat memahami maksud FKP dan FPDI, namun Pemerintah berpendapat bahwa hal ini telah dapat diserap dalam syarat butir d, naskah Rancangan Undang-Undang setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pula Pemerintah berpendapat bahwa ini bukan satu-satunya yang berindikasi anti Pancasila, karena kita sama-sama menyadari bahwa golongan ekstrim kanan maupun ekstrim lainnya juga berindikasi anti Pancasila, seperti yang kami uraikan di atas.
Demikian Saudara Ketua. Dan terima kasih.
KETUA RAPAT: Saudara-saudara sekalian.
Demikianlah yang disampaikan Pemerintah, sekali lagi saya silakan dari FKP untuk menyampaikan pendapatnya.
FKP (OBOS SYABANDI PURWANA):
Yang pertama Saudara Ketua, kami setuju bahwa usul kami taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa bisa dibahas nanti di dalam Panitia Kerja memang ini tadi kami jelaskan, jika seandainya ada yang tidak tercakup dalam keterangan yang diberikan sebagai berkeluhan baik, bisa diketahui atau diambil tindakan dengan mencantumkan dengan tidak tercela. Tapi kalau Pemerintah sudah bisa tercakup dengan berkeluhan baik, kami bisa saja menerima alasan tersebut.
Mengenai kontra revolusi tadi yang dikemukakan oleh FPP, kami ber-pendapat bahwa apa yang dikemukakan. oleh Pemerintah bahwa selain komunis yang anti Pancasila atau ada unsur-unsur lain yang anti Pancasila, kami dapat menyetujui kalau seandainya Pemerintah mempunyai perumusan yang lebih luas yang mencakup seluruh unsur yang anti Pancasila yang bisa dimasukkan di dalam penjelasan.
Kemudian mengenai perkataan "sedang" yang di dalam: " ... sedang tidak berhak menjadi anggota prajurit", kami mohon kalau itu sudah tercakup rumusan dari Pemerintah kami dapat mengerti bahwa "sedang" ini bisa saja dihapus. Jadi "sedang" ini tetap berlaku dan tidak dihapus.
Sekian, terima kasih. KETUA RAPAT:
Dari Fraksi-fraksi lain apakah masih ada? Menurut kesimpulan kami, maka usul Pemerintah ini sudah menerima hampir seluruhnya. Jadi kalau diulangi:
Pertama: Dari usul FKP dan FPP:
b. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, itu dapat diterima.
Dalam arti: Setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, nan ti dalam penjelasan diberikan penjelasan lebih 1 uas mencakup semua organisasi atau gerakan yang anti Pancasila, bukan G 30 S/PKI saja. Ini juga Pemerintah bersedia untuk membicarakannya.
Sedangkan: e . . . tidak tercela, FKP sudah menarik usulnya karena sudah dianggap masuk dalam "Berkelakuan baik" sesuai keterangan Peme-rintah.
Tinggal f nya, ini ada usul dari FPDI arti "sedang" rupanya arti "sedang" di sini bukan arti sedang biasa, sedang yuridis. Yaitu ada keputusan hakim yang sementara. Jadi . karena itu disebut; f. Tidak sedang ke-hilangan hak menjadi prajurit ABRI berdasarkan keputusan hakim.
Ini kedua-duanya dapat diterima oleh Pemerintah ini atau rumusan dari FKP, jadi tidak ada masalah.
Kalau demikian halnya, dapatkah hal ini diserahkan kepada Tim Perumus saja, tidak usah Panitia Kerja karena tidak ada masalah dengan penggarisan seperti tadi, dilengkapi dengan penjelasan.
Bagaimana Saudara-saudara, setuju?
(RAPAT SETUJU) Sekarang kita beralih ke Pasal 9.
Pasal 9 ada dari FKP, tapi kelihatannya hanya untuk menyebutkan "masuk pasal baru". Kita sudah sepakat ini kita bicarakan setelah seluruh pasal dibicarakan.
Silakan dari FKP.
FKP (A.A. OKA MAHENDRA, S.H.) :
Sebelum masuk Pasal 9, FKP mengusulkan "Pasal 8 baru". Apakah ini termasuk kategori yang dibicarakan? Setelah pasal-pasal selesai.
KETUA RAPAT:
Kita sudah sepakat, sambil pasal ini berjalan boleh diteruskan oleh FKP sesuai dengan uraian sistimatika itu. Lalu nanti FKP akan merumuskannya itu kami silakan.
Jadi setelah memasuki Pasal 8 apakah ... , sebelum memasuki Pasal 8. FKP (A.A. OKA MAHENDRA, S.H.) :
Kalau diperkenankan sebelum memasuki Pa.sal 9, kami ingin memasuki "Pasal 8 barn" usul FKP, kalau diperkenankan.
KEfUA RAPAT:
Konsensus kita memang kita perkenankan nanti untuk mengisi sistimatikanya kemudian. Tapi mengemukakan di sini diperkenankan.
Kami silakan dari FKP. FKP (SOEGIYONO) :
Sesuai dengan apa yang kita sepakati bersama, maka kami mengajukan "Pasal 8 baru" yang nantinya akan berada dalam posisi persesuaian sistimatika, apabila disetujui. Namun materinya diizinkan untuk dikemuka-kan.
Materi yang akan kami kemukakan adalah berhubungan dengan "Hakekat Prajurit". Mengapa ini dikedepankan pada posisi ini Motivasinya adalah bahwa Hakekat Tentara Nasional Indonesia Prajurit ABRI ini sebenar-nya juga telah diatur di dalam:
1. Doktrin Pertahanan Keamanan Nasional dan Doktrin Perjuangan ABRI, ialah : Catur Dharma Eka Karma (halaman 22 ), ini dengan pengesahan Menutama Hankam Nomor Keputusan B-177/1966 tanggal 21 Nopember 1966.
2. Dharma Pusaka 45: Ini pula terdapat di. dalam Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI Nomor Skep/B.911/11/1972 (halaman 54 ).
3. Doktrin Kekaryaan ABRI (Halaman 34 ).
4. Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI tentang Semangat Pengabdian Prajurit ABRI mengenai Dharma Ksatria Sapta Marga, tahun 1992.
At as dasar landasan-landasan yang mendasar ini, maka FKP mengajukan Hakekat ABRI ini pada forum sekarang ini yang menempatkan Hakekat ABRI ini pada posisi yang lebih atas lagi, yaitu pada undang-undang.
Untuk itu maka kami akan bacakan rumusan yang kita sesuaikan sebagai berikut:
Hakekat Tentara Nasional Indonesia Prajurit ABRI adalah :
"Prajurit pejuang ABRI mengemban Amanat Penderitaan Rakyat, pe-lindung dan pembela kepentingan rakyat yang membaktikan jiwa raga-nya atas panggilan lbu Pertiwi bagi keluruhan Bangsa dan Negara." Dari sini maka akan kita keluarkan suatu penjelasan umum. Penjelasan umum yang sebenamya tertera dalam halaman 1 7 ini akan kami S<trn_paikan sebagai berikut :
Hakekat Prajurit ABRI adalah :
a. Prajurit rakyat Indonesia yang berasal dari bersumber dari rakyat, berjuang bersama-sama rakyat, pelindung, dan pembela kepentingan rakyat.
b. Pejuang Indonesia yang berjuang atas kesadaran untuk membela ke-pen tingan Negara dan Bangsa serta mengisi Kemerdekaan, ia bukan Prajurit sewaan yang menjual tenaganya karena nafsu kebendaan te-tapi karena keinsafan jiwanya atas panggilan Ibu Pertiwi.
c. Prajurit Nasional Indonesia, Prajurit Pancasila dan Sapta Marga yang menegakkan dan membela kepentingan Nasional, sedia membaktikan jiwa dan raganya bagi keluhuran Bangsa dan Negaranya.
Demikian kami kemukakan mengenai Hakekat Prajurit ABRI beserta Penjelasannya yang kami ambilkan dari sumber-sumber yang telah dikeluar-kan dari Keputusan Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI maupun dari Catur Dharma Eka Karma dan Dharma Pusaka.
Jadi makna yang terakhir daripada pengajuan FKP adalah sekali lagi kami tegaskan, kami nyatakan bahwa agar untuk membedakan bahwa ABRI ini identitasnya dibanding dengan AB di Negara-negara lain.
KETUA RAPAT :
Saya hanya ingin menyampaikan kepada Fraksi lain bahwa yang tadi diuraikan oleh FKP terdapat di halaman 17 Daftar Inventarisasi Masalah, itu yang diusulkan oleh FKP untuk dijadikan rumusan "pasal barn". Nanti tem-patnya dibicarakan kemudian. Rumusan itu tadi telah disampaikan sedangkan di dalam halaman 1 7 ini sampai halaman 18 itu menjadi "Penjelasan" dari rumusan "pasal baru", saya kira begitu dari FKP.
Sekarang kami, memang sudah tiba di "Pasal 9" yang tadi halaman 23, jadi sebelum Pasal 9 ini dibicarakan maka oleh FKP dimajukan usul pasal ini, mungkin sebelum "Pasal 8" dibicarakan.
Saya kira jelas, dan sekarang saya persilakan Fraksi-fraksi lain untuk me-nanggapi dari kanan saja FPDI.
Silakan FPDI.
FPDI (BUDI HARDJONO, S.H.):
FPDI memberikan tanggapan demikian, pertama-tama FPDI menghen-daki ada penjelasan atau tanggapan terlebih dahulu sudah barang tentu dari F ABRI, kemudian Pemerintah. Mengingat diusulkannya oleh FKP memang sangat mendasar. Dari FPDI mencatat tambahan sumber-sumber mengenai masalah Keprajuritan tersebut yang dikemukakan sebagai : Catur Dharma Eka Karma, Dharma Pusaka kemudian Keputusan-keputusan Menteri Pertahanan Kearnanan dan sudah kita kenal adalah Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.
Beberapa waktu yang lalu, kalau tidak salah kami mengikuti telah ada su-a tu seminsu-ar bsu-arsu-angksu-ali ysu-ang menyempurnsu-aksu-an rumussu-an-rumussu-an dsu-ari Doktrin Catur Dharma Eka Karma. Dalam pertemuan/seminar yang terakhir dari Pertahanan Keamanan itu apakah butir-butir pikiran, misalnya dari Dharma Pusaka, Keputusan-keputusan Menteri Pertahanan Keamanan tersebut belum tercakup' atau telah tercakup dan apakah telah tertangkap kristalisasi pikiran-pikiran itu dalam satu rumusan yang lebih padat.
Pada dasarnya usul dari FKP itu dari segi isinya memang cukup baik, tapi barangkali dari segi redaksi dipertimbangkan, dari segi kebiasaan penem-patan dalam pasal-pasal hukum barangkali masih disempurnakan.
FPDI belum memberikan suatu keputusan final dalam hal ini, karena masih ingin mendengar pendapat Fraksi-fraksi lain, F A.BRI kemudian Peme-rintah juga barangkali FKP, sehingga dengan demikian memberikan suatu input bagi kami untuk mendalami lebih lanjut.
Sekian, terima kasih. KETUA RAPAT:
Jadi minta penjelasan dari Pemerintah dan pandangan dari Fraksi-fraksi lainnya.
FPP (H. ISMAIL HASAN METAREUM, S.H.):
Kami menyambut dengan baik ide dari FKP ini yang ingin menggambar-kan hakekat dari Prajurit kita, apalagi dengan kalimat terakhir dari Penjelasan tadi yang ingin membedakan antara prajurit kita dengan tentara militer dari negara lain, ini kami sambut dengan baik.
Adapun isi daripada usul yang diajukan oleh FKP itu kami sedang mem-pelajari, oleh karena kalimat beberapa di antaranya terlihat belum begitu menggambarkan apa yang dimaksud, menurut pandangan kami. Apalagi ada kata-kata umpamanya " ... bukan prajurit sewaan ... ", apakah itu perlu di-masukkan ke dalam kalimat-kalimat yang kita ingini mempunyai nilai yang luhur.
Inilah tanggapan kami buat sementara mengenai ide dari FKP dalam usul-nya itu.
Terima kasih. KETUA RAPAT :
Saya kira jelas dari FPP, idenya disetujui hanya redaksionalnya supaya diperbaiki.
Silakan dari F ABRI. F ABRI (A. HARTONO):
Pertama kami jugamenyampaikan salut terima kasih dan gemo1ra. Ide dari FKP yang semua sadar bahwa memang prajurit ABRI ini mem-punyai ciri-ciri tersendiri yang secara panjang le bar sejak Keterangan Pemerin-tah sampai pembahasan-pembahasan hari ini telah kita bahas secara panjang le bar.
Dalam hal ini F ABRI berpendapat bahwa seperti yang telah kita bicara-kan tadi malam dan kemarin siang. Bahwa benar sekali referensi-referensi yang telah diungkapkan FKP ini diambil dari Cadek dan Doktrin Kekaryaan ABRI, Dharma Pusaka. Kembali F ABRI berpendapat bahwa masalah ini adalah ma-salah doktrin dasar dari ABRI.
Kalau kita menunjuk Keterangan Pemerintah sebelum kita memutuskan untuk diadakan pengendapan dan perenungan terhadap masalah ini yang ber-kaitan dengan pembahasan Sapta Marga, maka kami berpendapat bahwa dok-trin dasar dalam urut-urutan hierarki dalam satu kesisteman adalah langsung di bawah ldeologi Negara. Sehingga sampai seberapa jauh masalah ini bila kita kaitkan di dalam tatanan yuridis formal yang ada juga pada tatanan garis yu-ridis formal ini. Sehingga dengan demikian kami berpendapat bahwa rumus-an-rumusan ini pada dasamya kalau kita bereferensi pada salah satu Keputus-an Menteri PertahKeputus-anKeputus-an KeamKeputus-anKeputus-an/PKeputus-anglima ABRI Tahun 1972, buku yKeputus-ang merumuskan segala macam yang akhimya menjadi intisari Sapta Marga.
Ka-rena pada dasamya Sapta Marga adalah kode etik ABRI yang kemarin juga sudah kita jelaskan panjang lebar. Apa sebenamya kode etik ABRI? Adalah pengejawantahan Pancasila ke dalam kehidupan dan tatanan kehidupan selu-ruh warga ABRI. Jadi secara jelas kalau kita melihat marga ketiga, marga per-tama adalah : Kami warganegara. Marga yang lain adalah kami prajurit Ang-katan Bersenjata.
Jadi jelas Pak. Jadi seluruhnya ini sudah terintisarikan ke dalam Sapta Marga. Kalau kita merefer masalah ini, maka kita akan kembali ke Pasal 4. Di mana : "Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia berkewajiban membentuk kepribadian dari yang memancarkan sikap dan perilaku seperti tercermin dalam Sapta Marga."
Sebenamya kalau kita sepakat bahwa bagaimana penguraian, mohon maaf bagaimana kalau buku ini kita taruh dalam penjelasan, maka jelaslah se-benarnya seluruh hakekat, seluruh cerminan, seluruh bentuk struktur prajurit ABRI yang ber Sapta Marga yang pada dasarnya adalah itulah doktrin dasar-nya, yang pada dasarnya juga mencerminkan pengejawantahan Pancasila ke dalam seluruh tatanan kehidupan ABRI.
Itulah Bapak Ketua dan Sidang yang saya muliakan, oleh karena kemarin kita juga sepakat bahwa masalah ini adalah masalah yang sangat penting. Dan Sapta Marga juga kemarin sepakat mungkin perlu kita renungkan, kami ber-pendapat karena ini tidak lepas kaitannya dengan masalah yang sama.
Jadi kesimpulan kami, bahwa apa yang telah diuraikan oleh ide yang sangat bagus tadi memang semua tercermin dalam Cadek dan sebagainya yang sudah disarikan ke dalam Sapta Marga. Oleh karena itu bila kemarin Sapta Marga perlu kita renungkan kembali, renungan bagaimana mewujudkan atau merumuskan yang kristal namun dapat memancarkan seluruh makna, dan di mana letaknya dikaitkan dengan tatanan yuridis formal perundang-undanga~.
Oleh karena itu, bilamana ini disepakati kami berpendapat kami asum-sikan bahwa ini identik dengan permasalahan Pasal 4 Sapta Marga. Karenanya kami menyarankan bagaimana kalau kita memerlukan pendalaman kembali, saya sangat berterima kasih kepada Bapak-bapak dari FPDI dan kalau perlu saya akan pinjamkan buku Sapta Marga ini, mungkm dari sanalah kita akan bisa merumuskan kembali masalah-masalah tersebut.
Kemudian lepas dari masalah itu, menanggapi rumusan yang disarankan FKP tadi kami sependapat bahwa seyogyanya kalau kita ingin memuliakan sesuatu dalam rumusan tidak atau kurang seyogyanya kita menaruhkan ka-limat yang negatif. Jadi kami ambil contoh kaka-limat negatif : " ... ia bukan prajurit sewaan ... " seperti dari rekan FPP. Jadi kalau kita ingin memuliakan seyogyanya yah tidak ditaruh kalimat negatif, ini sekedar pandangan dilihat dari segi redaksional.
Demik.ian kami kira, mudah-mudahan penjelasan kami ini dapat meme-nuhi harapan Bapak-bapak FPDI maupun FPP dengan demikian dapat diper-gunakan sebagai pertimbangan lebih lanjut.
Terima kasih. KETUA RAPAT :
Apakah FKP masih ingin menyampaikan sesuatu ? Saya silakan sebelum Pemerintah.
FKP (AA. OKA MAHENDRA, S.H.) :
FKP tentunya pertama-tama mengucapkan terima kasih sambutan yang diberikan oleh Fraksi-fraksi yang pada umumnya menganggap bahwa ide yang kami kemukakan ini cukup baik. Dan terus terang kami mengakui bahwa ru-musan yang kami ajukan ini memang untuk dimusyawarahkan.
Dasar pikiran kami untuk mengajukan masalah ini adalah:
Pertama : Sebagaimana yang dikemukakan di dalam Keterangan Pemerintah halaman 17 antara lain di situ dikatakan "Sumpah Prajurit, Sapta Marga dan Sumpah Perwira itu merupakan persyaratan yang paling dasar dan paling penting dari segenap persyaratan untuk menjadi prajurit, sehingga oleh sebab itu perlu digariskan melalui undang-undang."
Bertitik tolak dari apa yang disampaikan oleh Pemerintah pada waktu menyampaikan Penjelasan Pemerintah mengenai kedua Rancangan Undang-Undang ini, maka seperti halnya yang dikata-kan tadi terakhir oleh FABRI bahwa sebenamya FABRI me-nyambut adanya suatu kristalisasi yang dapat memancarkan selu-ruh makna dari etik keprajuritan yang dianggap luhur itu dengan rumusan-rumusan yang tentunya tepat dan menggambarkan se-luruh makna yang terkandung di dalamnya.
Oleh karena itulah kami mengusulkan supaya di dalam Rancang-an UndRancang-ang-UndRancang-ang ini dilengkapi dengRancang-an Hakekat Prajurit yRancang-ang sekaligus dapat menjelaskan kepribadian dari prajurit ABRI kita ini. Yang secara ekstrim tadi kami kemukakan dalam rumusan yang tertera Daftar Inventarisasi Masalah memang kami ajukan rumusan yang negatif bukan prajurit sewaan, ini untuk menda-patkan tanggapan bahwa denga demikian akan jelas kelihatan bedanya, beda yang sangat mendasar antara prajurit ABRI de-ngan prajurit-prajurit di Negara lainnya.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa tradisi keprajuritan kita me-mang berbeda dengan tradisi keprajuritan di Negara-negara lain-nya. Tradisi keprajuritan kita adalah tradisi patriotisme, kemarin dikemukakan oleh FPDI. Tradisi keprajuritan kita adalah tradisi
cinta tanah air, itu juga disambut oleh FPDI kemarin. Yang ten-tunya tradisi-tradisi semacam begini yang menggambarkan pri-badi prajurit kita ini mesti tertuang di dalam Hakekat Prajurit itu. Dan begitu juga semangat keprajuritan kita adalah semangat pa-triotisme kebangsaan dan cinta tanah air. Nah inilah sebenarnya yang ingin digambarkan oleh FKP, karena bagaimanapun juga satu perumusan yang padu mengenai Hakekat Prajurit ini akan sangat membantu di dalam menggembleng prajurit-prajurit kita dengan satu rasa kebersamaan, rasa kecintaan kepada tanah airnya dan tentunya juga sikap ketaqwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena bagaimanapun juga tadi di dalam Pasal 8 mengenai Persyaratan Prajurit kita juga mengusulkan tambahan: b. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai syarat untuk bisa menjadi prajurit. Tentunya setelah menjadi prajurit lebih-lebih lagi ia harus taqwa dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang penting ingin kami kemukakan dalam perumusan ini bahwa Prajurit ABRI bersumber dari rakyat dan pelindung, pembela kepentingan rakyat. Berjuang atas dasar kesadaran, kecintaan tanah air dan negaranya dan prajurit kita adalah prajurit nasional dalam perumusan ini atau menurut keterangan Pemerintah adalah Prajurit Kebangsaan yang milik nasional kita. Pimpinan-pimpinan Tentara Nasional Indonesia mengatakan, bahwa satu-satunya milik nasional kita yang tetap utuh dalam berbagai goncangan yang pernah dialami oleh bangsa kita pada zaman perjuangan menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan adalah Tentara Nasional Indonesia merupakan milik nasional kita yang utuh karena dia memiliki kepribadian, memiliki watak khas, memiliki hakiki atau hakekat sebagai prajurit pejuang, pejuang prajurit.
Inilah sekedar tambahan, mudah-mudahan dari pertemuan ini kita dapat menemukan satu rumusan yang dirasakan cukup menurut istilah F ABRI me-rupakan kristal yang dapat memancarkan seluruh makna pribadi prajurit ABRI kita ini.
Terima kasih. KETUA RAP AT :
Say a kira ini cukup jelas untuk FPDI, tidak ada tambahan? (FPDI cukup jelas)
Kami persilakan Pemerintah.
PEMERINTAH (MENTER! PERTAHANAN KEAMANAN/PANGAB/ JENDERAL TNI (PURN) PONIMAN):
Terhadap usul penambahan pasal baru yang akan ditempatkan sebelum Pasal 8 Rancangan Undang-Undang tentang hakekat prajurit ABRI, Pemerin-tah berpendapat bahwa hakekat prajurit ABRI telah tertampung dalam rumus-an Pasal 4 Rrumus-ancrumus-angrumus-an Undrumus-ang-Undrumus-ang serta penjelasrumus-an pasal yrumus-ang bersrumus-angkut- bersangkut-an, yakni tentang Sapta Marga.
Ketujuh marga dalam Sapta Marga itulah sesungguhnya perincian hake-kat prajurit ABRI yakni prajurit pejuang.
Khusus mengenai penambahan pasal baru, yakni mengenai hakekat ABRI sesuai dengan Doktrin ABRI sebagaimana yang menjadi motivasi yang dijelas-kan dalam keterangan FKP tadi, maka semvanya itu telah terumus dan ber-sumber kepada Sumpah Prajurit, Sapta Marga, dan khusus untuk perwira di-tambah dengan Sumpah Perwira Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 12.
Pemerintah setuju dengan apa yang diuraikan oleh FABRI. Dengan de-mikian apa yang dikemukakan oleh FKP sudah tertampung dalam 3 pasal Rancangan Undang-Undang.
Dengan demikian saya sangat menghargai kalau masalah ini untuk jadi renungan daripada kita semua dan tentunya renungan itu akan lebih tepat jika dipergunakan untuk melengkapi penjelasan pasal 4 Rancangan Undang-Un-dang ini.
Demikian, terima kasih Saudara Ketua. KETUA RAPAT:
Terima kasih Saudara Menteri Pertahanan Keamanan. Bagaimana kalau Pimpinan Panitia Khusus mengusulkan supaya usul dari FKP ini pending di-bahas bersama-sama dengan Pasal 4 sekaligus seperti apa yang dikemukakan oleh F ABRI, jadi kita ada waktu sedikit setelah kita bahas seluruhnya.
Bagaimana kalau demikian Saudara-saudara? (RAPAT SETUJU)
Sekarang kami kembali ke halaman 23. Jadi sambil membuka halaman saya ingatkan, bahwa pending itu sudah tiga sampai sekarang:
I. masalah pending di dalam Konsiderans, soal Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974.
2. Soal pending kedua adalah Pasal 4 (Rancangan Undang-Undang, soal Sapta Marga.
3. Soal pending ketiga adalah usul FKP pasal barn tentang hakekat prajurit.
Itu sistimatikanya supaya tidak hilang dari Saudara-saudara, nanti kita kembali kemudian,dus ada tiga.
Sekarang kita masuki Pasal 9.
Mengenai Pasal 9 ini hanya ada usul dari FPP, karena itu kami persila-kan FPP.
FPP (H. ISMAIL HASAN METAREUM, S.H.): Terima kasih Saudara Ketua.
Ada dua bidang yang dalam Pasal 9 ini kami pertimbangkan untuk di-ajukan ke dalam Sidang yang mulia.
Pertama, pada Ayat ( 1) istilah "terpilih" kami usulkan untuk diganti dengan istilah lain, yang kami ketemukan adalah ''lulus ujian" di sini.
Kemudian yang kedua, pada Ayat (2) pengaturan lebih Janjut.
Mengenai yang pertama, kami menganggap bahwa menggunakan istilah "terpilih" ini barangkali kurang begitu menjelaskan kita sendiri apakah yang dimaksudkan dengan fru, sebab istilah "terpilih" itu biasanya untuk yang lain daripada untuk menentukan diterima atau tidaknya seseorang. Jadi kami ingin mengusulkan supaya istilah itu diganti dengan istilah lain, yang kami ketemukan adalah "lulus ujian". Adapun ada istilah lain mari kita bicarakan.
Kemudian yang kedua, oleh karena permasalahan ini adalah termasuk pengaturan, maka di dalarn rangka kita membina hukum nasional dan mem-buat standar dalam bidang hukum kami ingin mengusulkan supaya sesudah Peraturan Pemerintah untuk mengatur ketentuan-ketentuan mengenai penerimaan untuk menjadi prajurit, sesudah Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Menteri. Oleh karena itu maka di dalam menentukan penerimaan seseorang karni rnenganggap belurn rnasuk ke dalarn lingkungan yang sudah khusus. Kalau dalam lingkungan yang sudah khusus mungkin nanti kita bisa pertirnbangkan apakah masih tetap diatur oleh Peraturan Menteri atau Peraturan Pemerintah atau tidak. Ini masih penerimaan daripada Angkatan Bersenjata sendiri, sehingga karni rnenganggap lebih tepat apabila itu diatur oleh Menteri.
Sek.ian, terima kasih. KETUA RAPAT:
Jadi dari FPP itu Ayat (1) redaksional. Ayat (2) mengenai wewenang, apakah wewenang Panglima atau wewenang Menteri. Saya kira jelas, karena itu saya persilakan sekarang dari FPDI, kita putar ke kanan atau kita putar ke FABRI?
F ABRI saya persilakan lebih dahulu. FABRI (A. HARTONO): .
Terirna kasih.
Pimpinan dan Sidang yang saya muliakan.
F ABRI terhadap rumusan Pasal 9 sesuai di dalam Daftar lnventarisasi Masalah bahwa kita tetap, artinya sependapat dengan rurnusan dalarn naskah Rancangan Undang-Undang dari Pemerintah.
Bapak Ketua.
Saya mohon 1zm sekaligus mungkin masalah redaksional "terpilih" dan sebagainya bila diizinkan Bapak Ketua, kami berpendapat kata-kata "terpilih" ini sebenarnya lebih tepat.
Ini sebagai informasi, Pak Ismail, langsung, bahwa kami sendiri 8 tahun menangani pemilihan anggota ABRI cq. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut.
Seperti diketahui, sebagai ilustrasi, yang kita test itu 3 kelompok besar, yaitu psikologi, akademis dan kesehatan, yaitu mulai dari tataran sampai tataran atas. Biasanya ya.ng lulus ujian itu banyak, namun karena alokasi ke-kuatan yang diizinkan terbatas, maka hampir setiap saat kami terpaksa tidak bisa mengambil walaupun mereka lulus ujian. Jadi setiap tahun kita di dalam menambah kekuatan ini mempunyai alokasi-alokasi, sehingga kami meng-hargai sekali arti dari FPP, namun dikaitkan dengan pengertian ini yang telah lulus tidak selalu terpilih untuk masuk menjadi anggota ABRI.
Inilah kenyataan-kenyataan di lapangan yang kami kerjakan selama ini. Namun kami sependapat bilamana ini akan bisa ditambahkan di dalam penjelasan.
Yang kedua, kami kira masalah kewenangan, kami berpendapat bahwa di dalam ketegasan Pasal 36 maupun Pasal 37 Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 kita semua telah memaklumi bahwa syarat dan alokasi penerima-an penambahpenerima-an kekuatpenerima-an setiap saat telah diatur oleh Menteri. Sehingga teknis pelaksanaan terhadap input itu adalah tentu saja secara analogis akan diatur oleh etape berikutnya yaitu diserahkan kepada Panglima ABRI. Kami berpendapat bahwa pemisahan antara persyaratan, dus pengangkat-an ini bisa kita bedakpengangkat-an pengangkat-antara persyaratpengangkat-an itu sendiri dpengangkat-an alokasi jumlah kekuatan memang ditentukan oleh Menteri Pertahanan, namun teknis peng-angkatan dan pemilihan memang sebagai bagian dari sipil menjadi ABRI ini
diwenangkan kepada Panglima sebagai penjabaran kewenangan lanjut. Dan kami berpendapat ini telah sesuai dengan Pasal 36 dan Pasal 37 Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982.
Demikian, Bapak Pimpinan dan Bapak dari FPP, sebagai informasi mudah-mudahan dapat dipergunakan.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
FKP (BAGOES SASMITO):
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Yang terhormat Saudara Pimpinan.
Saudara Menteri Pertahanan Keamanan dengan Staf dan Anggota Panitia Khusus yang kami muliakan.
Mengenai materi Rancangan Undang-Undang Pasal 9, pendapat Fraksi kami menganggap tidak ada permasalahan dan menerima penuh.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Dari FKP tidak ada masalah. Sekarang saya persilakan dari FPDI. FPDI (DJUPRI, S.H.):
Saudara Ketua dan Sidang yang terhormat.
Menanggapi satu usul yang menyangkut Pasal 9, marilah kita baca terlebih dahulu Ayat (1 ): "Setiap warga negara yang memenuhi persyaratan dan terpilih, diangkat menjadi prajurit siswa Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan menjalani pendidikan pertama".
Semula di dalam Daftar lnventarisasi Masalah ini FPDI tidak mencantum-kan, karena menganggap sudah cukup baik Ayat (I) maupun Ayat (2). Kemu-dian setelah ada usu! dari FPP timbul pemikiran baru dari FPDI, bahwa memang seyogyanya lulus ujian itu diselipkan di sana menurut pendapat FPDI, sehingga menjadi: "Setiap warga negara yang memenuhi persyaratan, lulus ujian dan terpilih diangkat menjadi prajurit siswa . . . . ". Pencantuman lulus ujian ini penting, oleh karena mungkin dugaan saya betul dari pihak FPP, kalau tidak ditegaskan di sini kemungkinan yang terpilih itu yang tidak lulus. Lalu kami kaitkan dengan keterangan pengalaman dari pihak F ABRI memang betul bahwa kemungkinan yang ujian 3 .000 orang yang lulus 1.000 orang yang dibutuhkan 300 orang. Sehingga kalau disyaratkan yang lulus itu juga tidak tepat, nanti terikat, undang-undang itu mengikat kita semua, sehingga kalau itu lulus ujian kemudian konsekuensinya yang lulus itu harus diterima.
Demikian menurut tanggapan FPDI. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Jacli kalau pinjam kata-kata Pak Hartono tadi, yang lulus tidak selalu terpilih atau katakan tidak semua terpilih. Sekarang sudah pakai komputer say a kira jadi tidak lagi like in dislike. Sa ya cuma kasih statement.
Jadi saya silakan sekarang Pemerintah mengenai Pasal 9 ini.
Silakan Pemerintah, kalau ada masalah. Jadi hanya dari FPP yang di-dukung oleh FPDI mengenai soal "lulus ujian" ditambahkan dan kedua mengenai wewenang.
Silakan FPP jika masih ada, sebelum Bapak Menteri. FPP (H. ISMAIL HASAN METAREUM, S.H.):
Untuk menanggapi dahulu sedikit sebelum Pak Menteri mengambil keputusan.
KETUA RAPAT:
Memang begitu mekanismenya. Silakan.
FPP (H. ISMAIL HASAN METAREUM, S.H.): Terima kasih.
Tadi kami sudah menjelaskan mengenai masalah istilah ini, kami me-lihat istilah "terpilih" agak janggal karena itu kami mencari jalan lain, yang kami dapati adalah "lulus ujian". Kalau dikatakan lulus ujian di mana-mana bukan hanya di ABRI yang hams lebih ketat di tempat lain pun sekarang ini ada ujian tertulis atau lisan dan ada psikotest termasuk ujian. Apakah i ini tidak bisa diartikan bahwa pada waktu psikotest itu persyaratannya itu ditetapkan, berapa jumlah alokasi kemudian dilihat dari segi psikotest mana yang lebih baik itu yang diterima. Ini termasuk ujian juga dan di mana-mana sekarang bukan hanya untuk ABRI untuk pegawai negeripun barangkali sudah ada di tempat-tempat yang dilakukan psikotest.
Kemudian yang kedua, mengenai masalah Ayat (2) dalam pengantar kami sudah menjelaskan ten tang pasal yang disebut oleh F ABRI tadi, Pasal 36 dan Pasal 37 termasuk ayat yang terakhir, yang kami anggap merupakan landasan pemikiran yang perlu kita pertimbangkan untuk mengatur siapakah yang akan mengatur lebih lanjut terhadap sesuatu undang-undang, dan bukan hanya sama rata apakah sesudah Peraturan Pemerintah, tetapi masih bisa langsung oleh Menteri atau instansi lain.
Di dalam hal ini kami tangkap tadi dari F ABRI suatu hal yang mem-bedakan antara masalah persyaratan dan teknis pelaksanaan. Apabila itu kami ikuti, kami telusuri, maka benar pendapat yang kami sampaikan. Menurut perasaan kami adalah benar yang kami kemukakan, karena Menteri nanti masih harus mengatur tentang persyaratan lanjutan atau sistem tentang penerimaan prajurit ini belum sampai kepada teknis pelaksanaan. Oleh karena itulah maka kami ingin mengusulkan supaya tentang pengaturan ini kita serahkan kepada Menteri.
KETUA RAPAT: Baik dari FPP.
Saya hanya ingin membantu untuk membaca halaman 60, di mana di sini diberikan penjelasan. Kalau itu sudah dibaca saya silakan di halaman 60 Ayat (2 ), jadi itu mengatur mengenai apakah itu wewenang Panglima ataukah wewenang Menteri. Mungkin ini bisa membantu penjelasan pasal ataukah mungkin pasal ini perlu dijelaskan lebih lanjut lagi.
Langsung Menteri atau masih mau menambah dari FPP setelah melihat penjelasan. FPP masih mau menambah.
Silakan.
FPP (H. ISMAIL HASAN METAREUM, S.H.): Terima kasih Saudara Ketua.
Kalau melihat Ayat (2) daripada halaman 60 itu kami menganggap bahwa itu memang benar wewenang Panglima, dalam pengertian bahwa peng-aturan tentang kepangkatan. Tetapi kalau dari Ayat (2) Pasal 9 ini bukan masalah k~pangkatan, tetapi adalah masalah pengaturan terhadap Ayat (I) tentang penerimaan anggota ABRI.
Terima kasih. KETUA RAPAT: Jadi lebih jelas lagi.
Silakan sekarang Pemerintah, Saudara Menteri Pertahanan Keamanan. PEMERINTAH (MENTER! PERTAHANAN KEAMANAN/PANGAB/ JENDERAL TNI (PURN) PONIMAN):
Saudara Ketua dan Sidang yang terhormat.
Setelah kami mendengar dari semua Fraksi, Pemerintah ingin me-nyampaikan pandangan terhadap usul yang diajukan PPP yang menghendaki penggantian kata "terpilih" diganti dengan kata "lulus ujian".
Menurut pendapat Pemerintah kata "terpilih" adalah lebih tepat di-gunakan dalam kaitan dengan materi ayat ini atas pertimbangan sebagai berikut:
Bahwa dalam seleksi penerimaan warga negara untuk menjadi prajurit ABRI yang selama ini berlaku adalah pada dasamya menerima atau alokasi sesuai kebutuhan. Di sini kata-kata "terpilih" berarti mencakup seluruh proses pemilihan dari awal sampai akhir guna mendapatkan calon yang benar-benar memenuhi persyaratan.
Dari sekian banyak warga negara yang lulus ujian seleksi tidak semua-nya terpilih untuk dapat diterima, karena yang lulus ujian lebih basemua-nyak
daripada jumlah yang dibutuhkan. lnilah sekedar satu contoh untuk lebih memudahkan memahami makna kata "terpilih" dalam pasal ini.
Kemudian Pasal 9 Ayat (2) terhadap kewenangan pengaturan lebih lanjut sebagaimana dirumuskan dalam ayat ini Pemerintah berpendapat dan mengusulkan agar rumusan Ayat (2) ini tetap menjadi wewenang Panglima, mengingat bahwa prajurit siswa adalah prajurit ABRI, sehingga pembinaan dan penggunaan prajurit siswa ini juga berada dalam wewenang Panglima. Dan dapat ditegaskan bahwa ketentuan pengaturan perangkat lunak (soft-ware) mengenai pengadaan (werving) memang diatur oleh Menteri, tetapi penyelenggaraan teknis pemilihan dan seterusnya menjadi wewenang
dari-pada Panglima ABRI. ·
Inilah yang berlaku seperti tadi diuraikan oleh F ABRI. Demikian, Saudara Ketua.
Terima kasih.
KE TUA RAP AT:
Sekali lagi kami persilakan FKP setelah mendengarkan Pemerintah sebelum kami merumuskan kesirnpulannya.
Kami silakan untuk rnemberikan pandangan.
FPP (H. ISMAIL HASAN METAREUM, S.H.): Terima kasih Pirnpinan.
Saya kira masalah pokok yang dibicarakan tidak ada perbedaan pokok daripada pembicaraan.
Pertarna, karni sudah juga mengatakan masalah Ayat (1) hanya rnasalah istilah yang karni earl istilah keternu "lulus ujian ", karena kami anggap ke-janggalan rnenggunakan istilah "terpilih" dalarn undang-undang ini. Tetapi kalau itu mau tetap silakan asal pengertian kita sudah sarna. Hanya kami rnohon pengertian kita supaya sebaiknya kita mencari istilah yang lebih tepat untuk persoalan-persoalan yang kita ingin tetapkan sebagai satu rurnusan yuridis.
Kedua, rnengenai rnasalah wewenang, kami bukan rnenitikberatkan pada waktu sesudah diterirna, tetapi pada waktu sebelum diterirna. Karena Ayat (1) ini rnenggambarkan dia diterirna rnenjadi prajurit. Sebelurn dia di-terirna belum merupakan wewenang dari Panglirna. Ini pandangan kami, sesudah dia diterima baru wewenang komando, wewenang dari Panglima. Adapun kalau hendak dijelaskan rnengenai masalah waktu rnenjalani pen-didikan okey kita tambahkan satu penjelasan lain, bahwa sesudah diterirna maka merupakan wewenang Panglima ABRI.
Ini pandangan kami , adapun bagaimana kesimpulannya kami di sini hanya menyampaikan pemikiran. Adapun bagaimana keputusannya tcrserah kepada kita bersama.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Jadi dari FPP kalau Ayat (l) dari Pasal 9 itu untuk bisa diatasi mungkin dalam penjelasan halaman 60 supaya dijelaskan proses terpilih secara singkat saja, sehingga jelas. Penjelasan itu tidak apa panjang karena memang hams panjang.
Waktu saya mengetuai Undang-Undang Mahkamah Agung atau Peradil-an Tata Usaha Negara juga itu ada penjelasPeradil-an 3 halamPeradil-an, jadi tidak apa, rnemang mesti jelas. Jadi itu tidak apa-apa dibikin jelas, saya kira begitu untuk menarnpung dari FPP. Tetapi Ayat (2) ini mernang juga kalau yang dirnaksud FPP dernikian dapat juga ditarnbahkan dalarn Ayat (2) penjelasan, kalau rnernang dernikian, kecuali kalau itu memang prinsip maka ten tu hams dibicarakan lebih lanjut. Jadi kembali lagi kepada FPP kalau ini prinsip dibicarakan lebih lanjut, maka Ayat (2) menjadi wewenang Panitia Kerja, Ayat (1) menjadi wewenang Tim Perumus.
Bagairnana kalau demikian, kami silakan, lalu nanti diperdalarn lagi di Panitia Kerja mengenai Ayat (2).
Silakan FPP masih ada komentar lagi.
FPP (H. ISMAIL HASAN METAREUM, S.H.):
Saya sudah mengatakan tadi, soal keputusan terserah kita bersama. Hanya kalau dimasukkan dalam penjelasan tidak tepat, oleh karena dua permasalahan.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Kalau demikian Ayat (I) masuk Tim Perumus dan Ayat (2) Pasal 9 ini masuk Panitia Kerja.
Pemerintah tidak keberatan?
(Pemerintah tidak keberatan) Silakan F ABRI.
FABRI (A. HARTONO):
Sebelum final Pak, ini pengalaman lagi sedikit. Jadi sebagai informasi, bahwa baik Departemen Pertahanan Keamanan rnaupun Markas Besar ABRI yang mengemban fungsi Pasal 36 dan Pasal 37, ini masing-masing dalam
bidang personil ini memiliki atau mengemban fungsi yang sama, yaitu kalau dapat kami kategorikan dua macam:
1. Kekuatan personil (man power management), dan
2. Yang berkaitan dengan administrasi person!l (administration personnel). Hal ini dimiliki oleh dua-duanya, namun· tentu sifat fungsi pengaturan berbeda.
Dalam administration personnel (administrasi personil) sub fungsi yang satu adalah istilahnya "diaga" atau penyediaan diaga (werving) atau penyediaan tenaga.
Dalam fungsi ini tadi sudah kami cooa kami jelaskan bahwa wewenang yang berada atau diatur oleh Bapak Menteri adalah persyaratan-persyaratan dan alokasi dalam kaitan dengan penyediaan tenaga ABRI secara taat. Nah, dalam fungsi yang berkaitan dengan Panglima ABRI masuk ABRI adalah melaksanakan semua ketentuan-ketentuan dari Menteri yaitu mulai dari melaksanakan penyediaan tenaga werving secara tehnis sampai memilih dan selanjutnya nanti step berikutnya adalah memasukkan ke dalam pen-didikan ini saja Bapak Pimpinan dan sidang saya muliakan sekedar mem-berikan tambahan informasi fungsi-fungsi ini sebetulnya diemban namun berbeda lingkup.
Demikian, terima kasih. KETUA RAPAT:
Jadi dicatat untuk bahan bagi Panitia Kerja apa yang dikemukakan oleh F ABRI. FKP masih ada?
FKP (BAGOES SASMITO):
FKP mendukung pernyataan Pemerintah memasukkan ayat satu di-masukkan dalam Tim Perumus ayat dua dalam Panitia Kerja.
Terima kasih. K.ETUA RAPAT:
Mengucapkan terima kasih kepada FKP dan menanyakan kepada FPDI apakah masih ada pertanyaan lagi.
FPDI: (H. SOETARDJO SOERJO GOERITNO, BSc.): Tidak ada.
KETUA RAPAT:
Mengucapkan terima kasih kepada FPDI.
Selanjutnya merumuskan bahwa Pasal 9 Ayat (1) diselisaikan oleh Tim Perumus tolong anggota-anggotanya perhatikan yang dibicarakan jadi
dengan jelas yang dibicarakan adalah proses terpilih dari yang lulus ujian itu, supaya tegas jangan bertele-tele nan ti jadi jelas ini dari Panitia Khusus yang dibicarakan adalah proses terpilih dari yang lulus ujian. Itu jelaskan bagaimana dalam penjelasan lalu kemudian Pasal 9 Ayat (2) yang dibicara-kan apa wewenang Panglima dan apa wewenang Menteri dalam melaksana-kan Ayat (I) Pasal 9 ini tidak dibicarakan wewenang lain hanya mengenai Ayat (1) saya kira jelas ini dan Saudara-saudara setuju menjadi wewenang Panitia Kerja.
Sekarang Pasal 10, ada usul dari FKP, ada usul dari FPP, saya persilakan dulu FKP karena yang paling panjang usu! dari FKP ini.
Silakan FKP, mengenai soal pembentukan Pasal I 0. FKP (DRS. ARDI PARTADINATA):
Saudara Ketua yang terhormat.
Saudara Menteri Pertahanan Keamanan beserta Staf yang terhormat. Sidang Panitia Khusus yang kami muliakan.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dalam membahas Pasal 10 Rancangan Undang-Undang ten tang Prajurit ini FKP berpendapat bahwa yang pertama terkait dengan usul FKP tentang sistematika yang akan dibahas lebih lanjut FKP mengusulkan pasal ini men-jadi Pasal 17 Bab IV, kemudian yang kedua FKP berpendapat perlu adanya penyempurnaan redaksional yang kami usulkan sebagai berikut:
Perwira Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dibentuk melalui: a. Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia bagi warga negara. b. Pendidikan Perwira bagi Bintara Angkatan Bersenjata Republik
Indo-nesia dan warga negara yang memiliki keahlian tertentu/sarjana. c. Pen.didikan Perwira yang dipadukan dengan perguruan tinggi untuk
tujuan-tujuan tertentu.
Itulah Saudara Ketua pendapat dari FKP. Terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. KETUA RAPAT:
Dari Saudara juru bicara FKP disampaikan terima kasih.
Tentunya perlu diperhatikan penjelasan Pasal 61 kalau usu! FKP diterima tentu penjelasan ini akan disempurnakan apakah tidak kelupaan itu untuk menyampaikan, jadi penjelasan perlu penyempurnaan saya kira demikian sebab ini ada empat kategori diusul oleh FKP menjadi hanya tiga kategori penjelasannya dalam Pasal 61 meliputi empat masalah.
FKP (DRS. ARDI PARTADINATA): Terima kasih Saudara Ketua.
Terkait dengan adanya suatu penyederhanaan perumusan dari FKP maka FKP berpendapat di dalam penjelasan pasal Pt?rlu ada penyempurnaan pe-rumusan penjelasan, pe-rumusan penjelasan dalam pasal tersebut akan kami sampaikan lebih lanjut.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Baik, saya kira jelas F ABRI di sini tetap kemudian dari FPP ada usul. Silakan dari FPP.
FPP (H. ISMAIL HASAN METAREUM, S.H.):
Kami mengusulkan satu saja bagian c terhadap Rancangan Undang-Undang yaitu supaya langsung menunjuk kepada keperluannya, di sini dalam Rancangan Undang-Undang istilahnya sangat umum yaitu pendidikan Per-wira bagi yang berasal langsung dari masyarakat sedangkan yang dimaksudkan di sini adalah Pendidikan Perwira bagi warga negara yang diperlukan keahlian-. nya, barangkali kami hanya menyempurnakan kalimat untuk sesuai to the
point.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Saya kira tidak perlu lagi diuraikan say a kira jelas karena itu saya silakan dari FPDI kalau ada tanggapan terhadap 2 Fraksi tadi, pendapat FKP itu menyusun lebih sederhana, hanya 2 jurus kalau saya lihat di sini, satu jurusan untuk warga negara, satu jurusan untuk pendidikan Perwira yang sub b dan sub c dikombinasi dengan warga negara.
Kami silakan dari FPDI kalau masih menunggu bisa juga F ABRI lebih dahulu lalu kembali ke FPDI, F ABRI lebih dahulu memang FPDI selalu kerja sama dengan F ABRI, jadi silakan F ABRI dahulu.
FABRI (A. HARTONO):
Saya kira tidak dengan FPDI saja Pak? Kerja sama kita dengan keempat Fraksi Pak.
Untuk Pasal 10 F ABRI berpendapat tetap seperti rumusan di dalam Rancangan Undang-Undang, alasan yang kami kemukakan adalah sebagai berikut, karena ini memang di dalam kenyataan keempat macam pendidikan ini tidak bisa dijadikan satu artinya tidak ada satu pendidikan di antara ke-empat pendidikan ini yang bisa dikelompokkan menjadi satu. Sehingga kalau Direktur Jenderal itu menanggapi saran penyempurnaan dari FKP
yang mungkin lebih sederhana namun kalimat ini bisa dikonotasikan sebagai dapat digolongkan menjadi satu golongan 2 macam pendidikan tersebut. Dan kenyataannya 2 macam pendidikan tersebut tidak pernah dapat disatu-kan. Sebab kaiau yang dari butir a pendidikan Petwira bagi yang berasal dari jajaran ABRI yang lazim kita sebut Pendidikan Calon Petwira dari Bintara dan sebagainya, sedang pendidikan yang langsung dari masyarakat ini yang sekarang kita kenal sebagai Pamilwa, (langsung Perwira) dari memang benar para tenaga ahli. Kita manfaatkan para tenaga ahli dari masyarakat karena toh terlalu mahal untuk ABRI mendidik sendiri, sehingga dengan demikian kedua macam golongan pendidikan ini tidak mungkin untuk disatukan se-hingga karena toh kita sudah membagi dalam kategori-kategori jenis pen-didikan saran dari FKP bisa dikonotasikan menjadi bisa satu golongan.
Saran dari FPP kami dapat mengerti masalahnya hal ini sudah dijelas-kan dalam halaman 61, apakah ini masih adijelas-kan kita secara tegas masukdijelas-kan dalam Batang Tubuh atau cukup dalam Penjelasan.
Kami dapat memahami. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
F ABRI memang untuk semuanya. Sekarang silakan FPDI.
FPDI (H. SOETARDJO SOERJO GOERITNO, BSc.):
Jadi sebenarnya mengapa dari FPDI tidak ada usul pendapat karena apa yang dimuat Pasal IO yang diberikan oleh pihak Pemerintah ini cukup jelas, karena di dalam butir a yang ditegaskan juga dengan butir b, butir c, dan butir d kemudian dengan adanya penjelasan ini bagi FPDI sudah cukup jelas oleh karena itu kami adalah pada Pasal IO ini bisa menerima apa yang dikonsepkan oleh pihak Pemerintah namun juga tidak menolak mengenai masalah pemikiran-pemikiran baru yang semuanya adalah untuk penyem-purnaan dari redaksi.
Terima kasih. KETUA RAPAT:
Jadi kalau perlu rumusan ditambah di penjelasan saja, tetapi Batang Tubuh tetap kira-kira demiki~.
Saya persilakan sekali lagi untuk FKP sebagai pengusul, sebelum Pe-merintah memberikan pendapatnya.
FKP (DRS. ARDI PARTADINATA):
Penjelasan lebih lanjut seizin Saudara Ketua akan disampaikan oleh pembicara FKP Saudara Ors. Iman Sudaiwo.
FKP (DRS. H. IMAN SOEDARWO. PS):
Menambah penjelasan yang telah diketengahkan oleh Saudara Ardi demikian pula menanggapi apa yang diketengahkan oleh F ABRI perkenan-kanlah saya mengutarakan beberapa pokok pikiran yang melandasi pangkal tolak FKP. Pikiran untuk menyederhanakan rumusan Pasal IO ini semata-mata hanya ingin mendudukkan pada persoalan bahwa Pasal 10 ini mengatur tentang pendidikan sebagai sarana pembentukan Perwira dan manusia yang menjadi sumber isi pendidikan itu yang diterangkan adalah pendidikan, yang menerangkan adalah isi pendidikan itu, oleh karena kami melihat di sini isinya itu hanya ada 3 maka kami mencoba menyederhanakannya ke dalam 3 golongan ini. Dengan sadar kami menempatkan Akademi pada urutan a, oleh karena sebenarnya Akademi adalah andalan utama pembentukan Per-wira Angkatan Bersenjata kita, sesudah Akademi ini kita mengenal ada pen-didikan Perwira, yang satu memang Perwira tanpa ada paduan sedang yang satunya terpadu.
Kita berbicara tentang pendidikan Perwira, dan yang kita akan terang-kan menerangterang-kan pendiditerang-kan Perwira itu sumbemya yang satu dari anggota Angkatan Bersenjata yang berpangkat tentara, dengan demikian kami memang merinci di sini kalau Pemerintah dalam Rancangan Undang-Undangnya menyebutkan jajaran ABRI kami mencoba menyebutnya secara terinci pasti itu ABRI, sebab kami melihat kemungkinannya untuk memasuki Sekolah Perwira hanyalah Bintara, kecuali jikalau Pemerintah memberi kesempatan juga kepada Tamtama.
Masalah yang kedua dalam kaitan ini, oleh karena Pemerintah di dalam Penjelasan Pasal I 0 juga menyinggung tenaga ahli tertentu a tau sarjana maka alangkah baiknya kalau ini dicantumkan sekaligus di dalam pasal, apabila kita menyaksikan karena sampai sekarang ada kita kenal Sekolah Capa dan Secapawamil maka itu adalah sebutan nama, komplitnya bentuk pendidikan yang hendak ditempuh di dalam Angkatan Bersenjata, pasal ini tidak meng-atur mengenai bentuk konkretnya oleh karena itu maka selayaknya disebut pendidikan Perwira bukan sebagai sebutan kata. Apakah nanti akan menjadi Secapa, Secapawamil atau barangkali malahan Secapa Infantri, Secapa Altileri, Kecabangan dan sebagainya tidak kami permasalahkan di sini. Oleh karena pikiran kami pada pasal berikutnya nanti hal ini perlu diatur kemudian oleh pejabat yang berwenang yang akan kami permasalahkan pada pasal berikutnya nanti.
Sedangkan bagian c Pendidikan Perwira yang dipadukan dengan Per-guruan Tinggi untuk tujuan tertentu inipun merupakan pendidikan Perwira terpadu yang bukan sebutan nama karena kita belum mengetahui apa bentuk