• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN AKHLAK PADA GENERASI MILLENIAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDIDIKAN AKHLAK PADA GENERASI MILLENIAL"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

30

PENDIDIKAN AKHLAK PADA GENERASI

MILLENIAL

Fithri Hidayati STAI NU Pacitan [email protected]

Abstrak: Akhak adalah fondasi yang kokoh bagi terciptanya hubungan baik antara hamba dan Allah swt. dan antar sesama manusia. Akhlak yang mulia tidak lahir berdasarkan keturunan atau terjadi secara tiba-tiba. Akan tetapi membutuhkan proses panjang, yakni melalui pendidikan akhlak. Melihat keadaan dunia sekarang ini yang sudah semakin berbeda, atau yang biasa kita sebut dengan zaman milenial sering terjadi penyimpangan moral anak-anak bangsa. Melihat hal tersebut perlu kiranya dunia pendidikan segera membenahi penanaman karakter kepada anak-anak bangsa ini agar mereka menjadi generasi penerus zaman millenial yang tetap dapat menjaga budaya ketimuran yang dimiliki bangsa Indonesia.

Keywords: Pendidikan Akhlak; Generasi Millenial

1. PENDAHULUAN

Dalam dunia pendidikan telah hangat dan banyak dibicarakan mengenai pendidikan karakter/akhlak. Melihat beberapa kasus pelanggaran akhlak yang terjadi pada peserta didik, tampak jelas tidak tertanamnya akhlak atau karakter dengan baik. Dalam UU Sisdiknas no.20 tahun 2003 yang terakhir dijelaskan bahwa pendidikan akhlak (karakter) masih digabung dalam mata pelajaran agama dan sepenuhnya dibebankan kepada guru agama. Karena pendidikan karakter sendiri, yang pelaksanaannya sepenuhnya dibebankan pada guru agama saja. Terang saja hingga kini pelaksanaan dari pendidikan akhlak (karakter) itu sendiri belum mencapai batas yang optimal. Hal ini terbukti dari fenomena sosial yang menunjukkan perilaku yang tidak berkarakter.1

1

Adi Suprayitno dan Wahid Wahyudi, Pendidik an Karakter Di Era Millenial (Yogyakarta: CV BUDI UTAMA, 2020), 1

(2)

31

Perilaku buruknya akhlak (karakter) dapat dilihat secara saksama dengan semakin maraknya terjadi tawuran antar pelajar, adanya pergaulan bebas, dan adanya kesenjangan sosial-ekonomi-politik di masyarakat, kekerasan dan kerusuhan yang mewabah dan merambah di masyarakat, dan masih banyak lagi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan akhlak (karakter) tidak hanya dibebankan kepada guru agama saja, akan tetapi juga pada semua pihak yang berkepentingan serta bersangkutan. Pendidikan akhlak (karakter) merupakan aspek yang penting bagi generasi penerus.2 Seorang individu tidak cukup hanya diberi bekal pembelajaran dalam hal intelektual saja tetapi juga harus diberi bekal dalam hal spiritual dan moral, seharusnya pendidikan akhlak (karakter) diberikan seiring dengan perkembangan intelektualnya yang dalam hal ini harus dimulai sejak dini.

Generasi millennial yang diwakili oleh kids jaman now menjadi jargon sekaligus representasi dari identitas yang tidak lepas dari media berbasis online. Ketika media social menjadi konsumsi sehari-hari tanpa adanya batas yang jelas terhadap paparan berita yang simpang siur, kontroversi dan ujaran kebencian menjadikan anak dan remaja menjadi pihak yang rentan. Keluarga, sekolah, dan masyarakat adalah ruang utama pembentukan karakter dan moral anak dan remaja. Sekolah perlu menggalakkan pendidikan karakter dan moral dengan memperhatikan relasi adaptif pada perkembangan jaman yang sejalan dengan perkembangan mental anak didik.

Melihat beberapa kasus pelanggaran akhlak yang terjadi pada peserta didik, tampak jelas tidak tertanamnya dengan baik mana akhlak yang mesti dijadikan karakter dan mana akhlak yang terlarang. Padahal seseorang akan dikatakan memiliki iman yang benar dan sesuai syariat Islam jika ia memiliki karakter akhlak yang baik. Jika pendidikan akhlak dibangun berdasarkan

worldview yang benar, metode yang tepat, dan praktik yang integral pada setiap

proses pendidikannya, maka bangunan karakter anak didik akan mudah terbentuk, khususnya di lingkungan sekolah.

2

(3)

32

II. PEMBAHASAN

Konsep Tentang Pendidikan Akhlak dan Generasi Millenial A. Pendidikan Akhlak

Pendidikan adalah perbaikan, perawatan, dan pengurusan terhadap pihak yang dididik dengan menggabungkan unsur-unsur pendidikan di dalam jiwanya, sehingga ia menjadi matang dan mencapai tingkat sempurna yang sesuai dengan kemampuannya.3 Di dalam Undang-Undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Salah satu kebijakan strategis pendidikan nasional berfokus pada pendidikan karakter.4 Karakter berasal dari bahasa latin kharakter, kharassein, kharax, dalam bahasa Inggris disebut character.

Para Ulama ilmu akhlak merumuskan definisinya dengan berbeda-beda tinjauan yang dikemukakannya, antara lain:

1. Menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali

Akhlak berasal dari dua kata al-khalq dan al-khuluq. Al-khalq merupakan suatu sifat yang terpatri dalam jiwa, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memikirkan dan merenung terlebih dahulu. Al-khuluq adalah suatu sifat jiwa dan gambaran batinnya.

2. Menurut Muhammad bin Ali asy-Syariif al-Jurjanji

Akhlak adalah istilah bagi sesuatu sifat yang tertanam kuat dalam diri, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa berpikir dan merenung.

3

Ali Abdul Halim Mahmud, Ak hlak Mulia (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), 23 4

Basuki, dkk, Mengenal Profil Sek olah/Madrasah Berdasark an PP.19 tahun 2005

(4)

33

3. Menurut Ahmad bin Mushthafa (Thasy Kubra Zaadah)

Akhlak adalah ilmu yang darinya dapat diketahui jenis-jenis keutamaan. Dan keutamaan itu adalah terwujudnya keseimbangan antara tiga kekuatran, yaitu: kekuatan berpikir, kekuatan marah, kekuatan syahwat.5

Pendidikan akhlak merupakan inti dari pendidikan, akhlak mengarahkan pada perilaku. Akhlakul karimah adalah tatkala perilaku manusia mengikuti aturan Islam dalam setiap aspek kehidupan, sebagaimana terimplikasi dalam hadits ‘Aisyah ra. yang artinya “Akhlak Rasulullah saw. adalah al-Qur’an” (HR. Muslim). Adapun pendidikan diluar pendidikan akhlak hanya bersifat teknis atau life-skill (keterampilan hidup).6

Pendidikan akhlak harus dilakukan secara intensif, supaya anak-anak-anak dapat membentengi perkembangan jasmani dan rohaninya dengan ilmu agama yang ia peroleh di sekolah ataupun di dalam lingkungan keluarganya. Pergaulan anak-anak baik di lingkungan keluarga ataupun lingkungan sekolah harus mendapat perhatian dan bimbingan dari berbagai pihak, sehingga anak benar-benar mendapat pendidikan yang mengarahkan pada pembinaan akhlak yang mulia. Adapun materi akhlak yang diberikan orangtua kepada anak ialah:

1. Akhlak kepada Allah yang mencakup shalat, puasa, membaca al-Qur’an dan berdo’a.

2. Akhlak kepada sesama manusia diantaranya etika terhadap orang tua, etika bersaudara.

3. Akhlak kepada lingkungan seperti membiasakan anak untuk menjaga kebersihan, menyayangi binatang dan tumbuhan.7

5

Ali Abdul Halim Mahmud, Ak hlak Mulia (Jakarta: Gema Insani, 2004), 28-33. 6

Dikutip oleh Jurnal Islamia, Volume. IX, No 1, 2014, 22 7

Dwi Runjani Juwita, “Pendidikan Akhlak Anak Usia Dini di Era Millennial”, At-Tajdid : Jurnal Ilmu Tarbiyah, Vol. 7 No.2 (Juli, 2018), 301-302

(5)

34 B. Generasi Millenial

Terdapat banyak fenomena yang menarik dewasa ini, salah satunya yang sedang ramai dibicarakan di masyarakat adalah generasi milenial. Maraknya budaya global dan gaya hidup pop culture, fenomena ini dianggap sebagai dampak dari arus globalisasi yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Perkembangan teknologi dan informasi telah menghapus batas antarnegara, antarbangsa, dan antarkelas. Salah satu proses penting dari globalisasi adalah melahirkan generasi gadget, istilah yang sering digunakan untuk menandakan lahirnya generasi milenial.8

Untuk mengetahui siapakah generasi millennial diperlukan kajian literature dari berbagai sumber yang merupakan pendapat beberapa peneliti berdasarkan rentang tahun kelahiran. Generasi millennial adalah mereka yang lahir dalam rentang tahun 1980 sampai dengan 2000. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, generasi millennial memiliki karakakter unik berdasarkan wilayah dan kondisi social-ekonomi.

Melihat besarnya pengaruh globalisasi terhadap kehidupan manusia terutama bangsa Indonesia, baik pengaruh positif maupun negative di era sekarang ini perlu adanya daya tangkal dan daya cegah masyarakat yang baik khususnya pada generasi millennial. Salah satu ciri utama generasi milenial ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital.9 Pengaruh era globalisasi membuat tidak sedikit generasi milenial yang terjerat dalam dunia gelap, mulai dari mengkonsumsi minuman beralkohol, seks bebas layaknya suami istri, penggunaan narkoba dan masih banyak lagi.

8

Yanuar Surya Putra, Teori Perbedaan Generasi, Jurnal Stiema, 2017, 7. 9

Statistik Gender Tematik:Profill Generasi Millenial Indonesia (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), 17-18.

(6)

35 III. SIMPULAN

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan akhlak (karakter) adalah sebuah proses atau usaha untuk membentuk perilaku anak yang tercermin dalam kata, sikap, perbuatan melalui bimbingan, pengajaran dan latihan. Pentingnya pembentukan akhlak yang baik pada anak terutama di era yang sekarang ini semakin majunya bidang teknologi yang menjadikan anak dan remaja generasi millennial dengan bebas mengakses segala berita tanpa batas. Beberapa hal yang harus dilakukan oleh orangtua ataupun pendidik dalam hal ini memberikan nasihat-nasihat, membiasakan anak untuk melakukan hal-hal positif dan masih banyak lagi.

(7)

36

DAFTAR RUJUKAN

Basuki, dkk. Mengenal Profil Sekolah/Madrasah Berdasarkan PP.19 tahun 2005

Tentang Standar Nasional Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Felicha, 2010.

Dikutip oleh Jurnal Islamia, Volume. IX, No 1, 2014.

Halim, Ali Abdul Mahmud. Akhlak Mulia. Jakarta: Gema Insani Press, 2004. Kusuma, Doni. A. Pendidikan Karakter. Jakarta: Grasindo, 2007.

Runjani, Dwi Juwita. “Pendidikan Akhlak Anak Usia Dini di Era Millennial”,

At-Tajdid : Jurnal Ilmu Tarbiyah, Vol. 7 No.2 (Juli, 2018)

Statistik Gender Tematik:Profill Generasi Millenial Indonesia (Kementerian

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak)

Suprayitno, Adi dan Wahid Wahyudi. Pendidikan Karakter Di Era Millenial. Yogyakarta: CV BUDI UTAMA, 2020.

Referensi

Dokumen terkait

Dampak negatif dari era globalisasi saat ini adalah bergesernya norma dan nilai moral sehingga menjadi lebih lunak (bisa ditawar). Anak-anak dan remaja adalah generasi yang

Dari pembinaan dan metode yang dipakai dalam pembentukan akhlak tentunya jelas sekali bahwasanya pembentukan akhlak pada anak usia 6-12 tahun adalah hal yang

Paradigma dalam berdakwah di era milinial memberikan pandangan bahwa berdakwah di generasi era milinial yang tergantung pada teknologi dan media sosial sebagai bagian yang

Dengan semakin majunya era pada jaman sekarang ini, banyak dari anak- anak yang masih remaja sudah mulai terpengaruh oleh hal negatif dan cenderung mengesampingkan

Sebagai seorang muslim alangkah baiknya jika mendidik anak- anak atau generasi mereka dengan mengambil uswah keteladanan konkret dari tokoh-tokoh islam seperti halnya para nabi atau

Jurnal Pendidikan Tambusai 7853 Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme Generasi Millenial di Era Globalisasi melalui Pancasila Sahma Nada Afifah Ekaprasetya1, Dinie Anggraeni Dewi2, Yayang

Kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap literasi dengan memberikan literasi pentingnya investasi pada generasi milenial, dan tahap implmenebtasi dengan

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan agar masyarakat indonesia terutama para generasi muda milenial dapat menggunakan perkembangan teknologi di era ini secara efektif dan efisien