Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum
Available online http://ojs.uma.ac.id/index.php/gakkumKedudukan Hukum Akta Notaris dihadapan para
Penghadap berkaitan dengan Hak Nasabah Perbankan
The Legal Position of the Notary Deed Before the Facilitators
in relation to Banking Customer Rights
Lia Azrina
Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Syiah Kuala, Indonesia Diterima: Desember 2020; Disetujui: Juni 2021; Dipublish: Juni 2021
*Coresponding Email: [email protected] Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kedudukan akta notaris yang tidak dibacakan dihadapan para pihak serta menjelaskan konsekuensi hukum yaitu berupa sanksi dan mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan notaris tidak membacakan akta notaris sebelum akta tersebut ditandatangani oleh para pihak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum empiris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa notaris sesuai dengan aturan undang-undang yang berlaku memiliki kewajiban untuk membacakan akta notaris didepan para pihak sebelum akta ditandatangani dan disahkan untuk menjamin akta notaris tersebut memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna. Faktor penyebab akta tidak dibacakan oleh notaris adalah karena untuk menghemat waktu dan akta dibacakan oleh staf notaris.Kesimpulannya akta notaris yang tidak dibacakan didepan para pihak tetap mengikat para pihak yang tertera dalam akta tersebut, namun apabila dikemudian hari terjadi permasalah seperti wanprestasi kekuatan pembuktian akta tersebut dapat menjadi kekuatan dibawah tangan dan/atau batal demi hukum sesuai dengan keputusan pengadilan. Pembacaan akta melalui video conference mungkin saja bisa menjadi wacana untuk memberikan kemudahan bagi notaris untuk memenuhi kebutuhan akan akta otentik yang semakin meningkat, walaupun pembacaan akta melalui video conference sangat mustahil untuk dijalankan mengingat penandatangan akta harus dilakukan segera setelah pembacaan akta notaris didepan para pihak oleh notaris.
Kata Kunci: Kedudukan Hukum; Akta Notaris; Hak Nasabah Perbankan;
Abstract
This study aims to determine the position of the notary deed that is not read out in front of the parties and to explain the legal consequences, namely in the form of sanctions and to find out what factors cause the notary not to read the notary deed before the deed is signed by the parties. The research method used is empirical legal research methods. The results show that notaries in accordance with the applicable laws have the obligation to read out the notary deed in front of the parties before the deed is signed and legalized to ensure that the notary deed has perfect evidentiary power. The factor that causes deeds not to be read out by the notary is because to save time and the deed is read out by the notary's staff. In conclusion, the notarial deed which is not read out in front of the parties remains binding on the parties stated in the deed, but if in the future problems such as default, the power of proof of the deed may become under-the-hand power and / or null and void in accordance with a court decision. Reading deeds via video conference might be a discourse to make it easier for notaries to fulfill the increasing need for authentic deeds, even though reading deeds via video conference is impossible to carry out considering the signing of the deed must be done immediately after reading the notary deed in front of the parties by the notary public.
Keywords: Legal Position; Notary Deed; Banking Customer Rights;
How to Cite: Azrina, L. (2021). Kedudukan Hukum Akta Notaris dihadapan para Penghadap berkaitan dengan Hak
36
PENDAHULUAN
Notaris memiliki peranan penting dalam proses pengikatan jaminan antara kreditor dengan debitor berupa pengikatan hak tanggungan dan akta perjanjian kredit. Sebagai salah satu bentuk upaya dalam menegakkan kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum antara kreditor dan debitor adalah dengan adanya Notaris. Notaris memiliki peran dan tanggung jawab besar dalam kehidupan masyarakat. Pelaksanaan hukum pembuktian adalah dengan adanya keberadaan Notaris. Dalam membuat aktanya Notaris harus dapat memberikan kepastian hukum kepada masyarakat pengguna jasa Notaris. Dalam hal ini Notaris dan produk aktanya dapat diartikan sebagai upaya negara dalam menciptakan kepastian dan perlindungan hukum bagi setiap rakyatnya.
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut UUJN) berbunyi: “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta Autentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.” Pembuatan akta Autentik ada yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dalam rangkamenciptakan kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum. Selain akta Autentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris, bukan saja karena diharuskan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga karena dikehendaki oleh pihak yang berkepentingan untuk memastikan hak dan kewajiban para pihak demi kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan sekaligus bagi masyarakat secara keseluruhan. Dalam hal menjalankan tugasnya.
Notaris harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan agar akta yang dibuat menjadi akta Autentik. Dalam Pasal 1868 KUHPerdata “suatu akta Autentik adalah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-Undang oleh atau dihadapan pejabat umum yang berwenang untuk itu di tempat akta itu dibuat”. Akta Autentik harus memenuhi apa yang dipersyaratkan dalam Pasal 1868
KUHperdata, sifatnya kumulatif atau harus meliputi semuanya.
Akta-akta yang dibuat, walaupun ditandatangani para pihak, namun tidak memenuhi persyaratan Pasal 1868 KUHperdata, tidak dapat diperlakukan sebagai akta Autentik, hanya mempunyai kekuatan sebagai tulisan di bawah tangan (Pasal 1869 KUHperdata).
Kewajiban-kewajiban Notaris dalam menjalankan jabatannya diatur dalam Pasal 16 UUJN. Berdasarkan Pasal 16 UUJN, Notaris diwajibkan untuk bertindak jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum; membuat akta dalam bentuk minuta akta dan menyimpannya sebagai bagian dari protokol Notaris.
Selain itu notaris diwajibkan untuk melekatkan surat dan dokumen serta sidik jari penghadap pada minuta akta; mengeluarkan grosse akta, salinan akta, atau kutipan akta berdasarkan minuta akta; memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini, kecuali ada alasan untuk menolaknya; merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan Akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain;
Terakhir notaris diwajibkan untuk membacakan Akta di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi, atau 4 (empat) orang saksi khusus untuk pembuatan Akta wasiat di bawah tangan, dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan Notaris.
Notaris harus bertindak hati-hati dan cermat serta teliti dalam menjalankan prosedur untuk membuat akta Autentik. Pada saat awal para pihak menghadap, Notaris memiliki 2 (dua) fungsi. Pertama, menyerap keinginan para pihak dengan tepat. Untuk menyerap keinginan para pihak dengan tepat, Notaris harus banyak bertanya kepada para pihak supaya Notaris mengetahui apa yang diinginkan oleh para pihak.
Umumnya di Indonesia para pihak yang menghadap Notaris adalah orang yang buta hukum, sehingga mereka belum memahami pembuatan akta berdasarkan hukum yang menggunakan bahasa-bahasa hukum
selanjutnya akan dibuat akta di hadapan Notaris yang berisi kehendak kedua belah pihak dan dibuat berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku. Kemudian Notaris menjelaskan maksud dari draf tersebut kepada para pihak, jika draf tersebut telah sesuai dengan keinginan para pihak, Notaris membuat minuta akta. Setelah dibuat minuta akta, pada hari yang telah ditentukan, para pihak datang menghadap dan Notaris kemudian membacakan serta menjelaskan isi akta tersebut kepada para pihak. Setelah itu akta dibacakan, maka kedua pihak, saksi dan Notaris.
Akta Notaris merupakan alat pembuktian yang sempurna, terkuat dan penuh sehingga selain dapat menjamin kepastian hukum, akta Notaris juga dapat menghindari terjadinya sengketa. Menuangkan suatu perbuatan, perjanjian, ketetapan dalam bentuk akta Notaris dianggap lebih baik dibandingkan dengan menuangkannya dalam surat di bawah tangan, walaupun ditandatangani di atas materai, yang juga diperkuat oleh tanda tangan para saksi.
Alasan yang terjadi di lapangan adalah Notaris hadir tetapi pembacaan akta dilakukan oleh staf Notaris padahal kewajiban Notaris lah untuk membaca akta tersebut. Pada saat perjanjian akan berlangsung juga terdapat kejadian Notaris tidak membacakan akta dan Notaris langsung menyarankan para pihak untuk langsung menandatangani akta tersebut. Hal ini sering terjadi di bank-bank yang ada di Aceh. Pada PT. Panin Bank Tbk dan PT. BTN Tbk, dimana hal tersebut menjadi hal yang lumrah dan dianggap biasa.
Tahun 2018 pada PT. Panin Bank Tbk, jumlah akta sebanyak 222 akta, dengan akta perharinya mencapai satu sampai lima akta. Saat melakukan akad, akta yang dibacakan secara keseluruhan berjumlah 150 akta, sedangkan yang tidak dibacakan berjumlah 72 akta. Dari persentase yang kita lihat maka hampir 50% akta yang tidak dibacakan oleh Notaris.
Tahun 2018 pada PT. BTN Tbk, jumlah akta sebanyak 2112, dengan akta perharinya mencapai satu sampai lima akta. Saat pelaksanaan akad, akta yang dibacakan oleh Notaris sebanyak 1250 akta, sedangkan yang tidak dibacakan sebanyak 862 akta. Maka dilihat dari persentasenya terdapat sekitar 40% akta yang tidak dibacakan oleh Notaris.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian hukum empiris yaitu mengkaji pelaksanaan atau implementasi ketentuan hukum positif (perundang- undangan) dan kontak secara faktual pada setiap peristiwa tertentu yang terjadi dalam masyarakat guna mencapai tujuan yang ditentukan. Penelitian hukum empiris dilakukan melalui studi lapangan untuk mencari dan menentukan sumber hukum dalam arti sosiologis sebagai keinginan dan kepentingan yang ada di dalam masyarakat (Mukti & Yulianto, 2012). Kriteria yang digunakan pada penelitian ini yakni mengkaji ketentuan hukum yang berlaku serta apa yang terjadi dalam kenyataannya di masyarakat dengan menggunakan data yang ada. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu suatu cara analisis hasil penelitian yang menghasilkan data deskriptif analitis, yaitu data yang dinyatakan secara tertulis atau lisan serta juga tingkah laku yang nyata, yang diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh (Yulianto, 2010).
Studi penelitian dilakukan di Banda Aceh. Data primer yang diperoleh terutama dari hasil penelitian empiris, yaitu penelitian yang dilakukan langsung di dalam masyarakat. Sumber data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber utama yakni para pihak yang menjadi objek dari penelitian ini. Data primer dalam penelitian ini adalah data yang dihasilkan melalui wawancara secara langsung. Data primer yang didapatkan dalam penelitian ini melalui hasil wawancara dengan beberapa pegawai Bank Panin dan Bank BTN, Notaris Banda Aceh, Masyarakat yang menggunakan jasa Notaris.Bahan hukum sekunder, yaitu data penunjang data primer yang berasal dari buku atau literatur yang berkaitan dengan ojek penelitian khususnya yang berkaitan dengan kenotariatan, perbankan dan jaminan.Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Bahan hukum tersier yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa Kamus Hukum, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ensiklopedia dan lain-lain.
38
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Tinjauan Analisa terhadap Kewajiban Notaris atas Pembacaan Akta didepan para Pihak.
Akta merupakan istilah yang berasal dari Bahasa Belanda yaituacte atau akta dan dalam Bahasa Inggris disebut act ataudeed. Secara etimologis, menurut S.J. Fachema Andreas, kata akta berasal dari bahasa Latin yaitu acte berarti geschrift atau surat (Santoso, 2016). Pitlo sendiri memberi arti akta yaitu surat yang ditandatangani, diperbuat untuk dipahami sebagai bukti dan untuk dipergunakan oleh orang untuk keperluan siapa surat itu dibuat.” Sementara itu menurut Sudikno Mertokusumo, akta merupakan surat yang diberi tanda tangan yang memuat didalamnya peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar suatu hak atau perikatan yang dari awal sengaja dibuat untuk pembuktian (Mertokusumo, 2010)
Salah satu fungsi akta adalah sebagai alat bukti. Dalam hukum perdata telah diatur mengenai alat bukti yaitu dalam Pasal 1866 KUHperdata yaitu terdiri dari alat bukti tertulis, pembuktian dengan saksi, persangkaan-persangkaan, pengakuan dan sumpah. Akta sendiri merupakan salah satu bukti tertulis, yang dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu, Surat yang berbentuk akta dan surat-surat lain yang bukan berbentuk akta (Hamzah, 1989) dalam (Artsilia, 2010).
Sebuah akta merupakan surat yang berisikan suatu keterangan yang dapat menjadi bukti yang dibutuhkan oleh para pihak, oleh sebab itu dalam akta tersebut harus berisikan peristiwa yang menjadi dasar dari sebuah perikatan. Peristiwa yang dimaksud tersebut merupakan peristiwa hukum yang akan menjadi dasar adanya perikatan. Apabila hal ini tidak dapat dipenuhi maka sebuah surat tidak dapat dikatakan sebagai akta karena tidak dapat digunakan sebagai bukti telah adanya suatu perikatan.
Apabila suatu saat terjadi persengketaan, maka akta tersebut harus dapat digunakan sebagai bukti dipengadilan. Oleh karena itu apabila sebuah surat dibuat bukan dimaksudkan untuk dijadikan bukti, maka surat tersebut juga tidak dapat digolongkan dalam bentuk akta. Sebuah akta juga akan menimbulkan hak bagi para pihak, jadi apabila
ada salah satu pihak yang merasa haknya telah dilanggar maka harus dapat dibuktikan melalui akta tersebut yang merupakan alat bukti. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 1865 KUHperdata yang menyatakan bahwa setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa maka diwajibkan padanya untuk membuktikan adanya haka tau peristiwa tersebut. Hal ini membuktikan bahwa syarat tertulis pasa suatu akta merupakan suatu hal yang mutlak. Kemudian, surat merupakan alat bukti tertulis dibedakan menjadi dua macam, yaitu akta dan surat-surat lainnya yang bukan akta yang merupakan surat yang dibuat bukan dengan tujuan sebagai alat bukti dan belum tentu ditandatangani. Sementara itu, mengenai akta sendiri dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: a. Akta otentik; dan
b. Akta bukan otentik (akta dibawah tangan). Pembuktian dengan tulisan dilakukan dengan tulisan-tulisan otentik maupun dengan tulisan-tulisan dibawah tangan, hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 1867 KUHperdata. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa akta yang dapat dijadikan sebagai bukti yaitu terdiri dari akta otentik dan akta dibawah tangan.
Dalam Pasal 1874 KUHperdata menyebutkan bahwa akta dibawah tangan merupakan akta yang ditandatangani dibawah tangan, surat, register-register, surat-surat urusan rumah tangga dan lainnya yang dibuat tanpa perantara seorang pejabat umum yang memiliki kewenangan dalam membuat akta. Akta dibawah tangan sengaja dibuat sebagai alat bukti telah terjadinya suatu perbuatan hukum. Namun, oleh karena akta dibawah tangan hanya dibuat oleh para pihak saja maka kekuatan mengikatnya hanya sebatas pada pihak yang membuatnya saja yaitu sesuai dengan Pasal 1338 KUHperdata yang menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya. Akta dibawah tangan tetap memiliki kekuatan pembuktian yang sah apabila para pihak yang membuat akta
tersebut mengakui isi akta dan tanda tangan yang ada pada akta tersebut.
Artinya kebenaran sebagai suatu akta otentik bukan disebabkan oleh bentuk akta itu sendiri, melainkan pejabat yang membuat akta tersebut memang memiliki kewenangan untuk membuat akta. Mengenai kekuatan pembuktian suatu akta dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
Lahiriah. Artinya akta notaris
membuktikan sendiri keabsahannya sebagai akta otentik berdasarkan dengan keadaan lahirnya akta tersebut. Akta ini sendiri harus memenuhi asas “acta publica probant seseipsa” yang berarti bahwa akta tersebut lahir dan terlihat sebagai akta otentik yang memenuhi aturan hukum mengenai syarat-syarat akta otentik oleh undang-undang. Sampai terbukti sebaliknya maka akta tersebut akan tetap menjadi akta otentik. Oleh karena itu apabila ingin menyangkal keotentikan akta, maka harus ada pihak yang membuktikan bahwa akta tersebut tidak memenuhi syarat lahiriah. Dan beban pembuktian tersebut berada pada pihak yang hendak menyangkalnya. Point penting dalam pembuktian akta sebagai akta otentik disini adalah bahwa adanya tanda tangan notaris yang terdapat dalam minuta dan salinan, serta akta telah terdiri dari awal akta sampai akhir.
Formil, Akta otentik memiliki sebuah
kepastian hukum dimana yang terdapat dalam akta otentik merupakan sesuatu yang benar tanpa adanya rekayasa. Dimulai dari uraian kehendak para pihak untuk menghadap langsung seorang notaris yang kemudian dicantumkan dalam akta sesuai dengan aturan pembuatan akta. Dengan kata lain sifat otentik sebuah akta secara formil betujuan untuk memberikan sebuah kebenaran dan kepastian mengenai waktu para pihak menghadap notaris yaitu pada hari, bulan, tahun dan pada jam apa, dituliskan juga mengenai siapa saja yang menghadap pada saat itu yang kemudian akta tersebut harus disertai dengan tanda tangan para pihak, saksi dan notaris serta dimana akta tersebut dibuat. Kemudian disamping itu nilai pembuktian formil lainnya adalah notaris harus membuktikan juga kebenaran dari segala yang dilihat, didengar, disaksikan dan dialami sendiri sebagai pejabat umum pembuat akta, dan segala keterangan yang diuraikan oleh para pihak semuanya dituangkan dalam akta tersebut. Sementara itu
bedanya dengan akta dibawah tangan adalah akta dibawah tangan hanya memiliki nilai pembuktian formil apabila para pihak yang menandatangani akta tersebut mengakui kebenaran bahwa tanda tangan tersebut adalah tandatangannya, apabila mereka menyangkal, maka kekuatan pembuktian formil tersebut hilang.
Materiil, Kekuatan pembuktian secara
materiil adalah kepastian dari materi yang terdapat dalam akta tersebut, dengan maksud bahwa segala sesuatu yang tertuang dalam akta adalah pembuktian yang sah untuk pihak-pihak yang membuat akta tersebut, kecuali ada pembuktian sebaliknya. Segala pernyataan para pihak akan dituangkan dalam akta oleh notaris dan pernyataan tersebut akan dianggap benar. Artinya apabila ada sesuatu yang tidak benar, maka para pihak sendiri yang menanggung akibatnya. Sementara notaris sendiri tidak pernah terlibat dalam kebenaran mataeriil, karena tugas notaris hanya menuangkan semua yang dikehendaki oleh para pihak dalam sebuah akta. Artinya notaris hanya bertanggung jawab mengenai kekuatan formil dari sebuah akta dan notaris sendiri tidak memiliki tanggung jawab untuk terlebih dahulu harus menyelidiki segala kebenaran materiil yang dikehendaki oleh para pihak.
Seorang notaris dalam menjalankan tugas jabatannya yaitu memberikan pelayanan kepastian hukum dalam bentuk akta otentik. Fungsi utama jabatan notaris adalah yang pertama yaitu memberikakan kepastian hukum kepada masyarakat atas setiap pengesahan dari pengikatan-pengikatan hukum. Yang kedua adalah notaris memiliki kewenangan yang diberikan oleh undang-undang sebagai pejabat negara untuk memberikan penguatan hukum atas pengikatan-pengikatan hukum. Kedua hal ini bertujuan untuk memberikan rasa aman dan ketentraman pada masyarakat yang membutuhkan.
Pertanggung jawaban berarti kewajiban memberikan jawaban yang merupakan perhitungan atas semua hal yang terjadi dan kewajiban untuk memberikan pemulihan atas kerugian yang mungkin ditimbulkannya (Sugeng, 2010). Sementara itu berkaitan dengan kewenangan notaris secara etimologi kata kewenangan berasal dari Bahasa inggris yaitu “Authority” yang berarti kewenangan
40 yang berwenang atau yang memiliki kewenangan (Adnani, 2019).
Sesuai dengan Pasal 2 ayat 1 UU Nomor 2 Tahun 2014 seorang notaris memiliki tempat kedudukan didaerah kabupaten/kota yaitu kedudukan dimana notaris tersebut diangkat oleh kantor Kementerian Hukum dan HAM RI, dalam menjanlankan tugas jabatannya seorang notaris memiliki cakupan wilayah kerja yaitu meliputi seluruh wilayah provinsi dari tempat kedudukannya. Dengan kata lain, seorang notaris tidak boleh menjalankan jabatannya diluar tempat kedudukannya dan hanya boleh memiliki satu kantor yaitu ditempat kedudukannya tersebut.
Adapun tugas-tugas yang dilakukan oleh notaris diantaranya adalah membuat akta. Akta yang dimaksud disini adalah akta otentik yang dibuat oleh atau dihadapan notaris sesuai dengan bentuk dan tata cara yang telah ditetapkan dalam undang-undang. Mengenai bentuk-bentuk akta otentik yang dibuat sesuai dengan kewenangan notaris telah diatur dalam Pasal 15 UU No. 30 Tahun 2004 tentang jabatan Notaris yang menyatakan bahwa: a) Notaris berwenang membuat akta otentik yang berkenaan dengan semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang telah diatur oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh para pihak untuk dinyatakan dalam bentuk akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, sepanjang semua perbuatan itu tidak dikecualikan kepada pejabat lainnya yang telah diatur dalam undang-undang; dan b)Notaris berwenang mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat dibawah tangan dengan mendaftarkan dalam buku khusus serta membukukannya.
Sementara itu notaris dalam membuat akta memiliki wewenang yaitu:
a. Kewenangan notaris sepanjang menyangkut akta yang dibuatnya tersebut; Wewenang notaris dalam membuat sebuah akta otentik bersifat umum, sementara pejabat lainnya bersifat khusus. Hal ini dapat dilihat dari notaris yang memiliki wewenang untuk membuat akta sepanjang tidak ada pihak lain atau pejabat lain yang ditentukan oleh undang-undang. Artinya
notaris juga berwenang membuat akta otentik disamping juga dapat dibuat oleh pejabat lainnya.
b. Notaris berwenang sepanjang menyangkut dengan orang-orang untuk kepentingan siapa akta itu dibuat; Mengenai orang dan untuk siapa akta tersebut dibuat harus memiliki keterkaitan yang jelas. Misalnya sebuah akta jual beli dengan surat kuasa, harus jelas pihak penjual akan menjualnya untuk siapapun. Dalam menentukan keterkaitan sejenis itu, maka notaris harus memperhatikan keaslian surat-surat yang dibutuhkan. Walaupun mengenai keaslian dari surat tersebut bukan menjadi tanggung jawab notaris, tapi seringkali saat terjadinya suatu masalah seringkali notaris dianggap sebagai orang yang mempermudah untuk dilakukannya sebuah tindak pidana.
c. Notaris berwenang sepanjang menganai tempat dimana akta itu dibuat;
Setiap notaris sesuai dengan keinginannya memiliki tempat kedudukan dan berkantor diwilayah jabatannya meliputi satu provinsi.
d. Notaris berwenang sepanjang mengenai waktu pembuatan akta tersebut.
Dalam menjalankan tugas dan jabatannya, seorang notaris harus dalam status aktif yang berarti bahwa notaris tersebut tidak dalam keadaan cuti atau diberhentikan sementara waktu.
Dalam Pasal 1 huruf 2 UUJN diberikan kekhususan pada notaris yaitu pejabat sementara notaris, yaitu seorang notaris yang untuk sementara waktu menjabat sebagai notaris untuk menjalankan jabatan notaris yang meninggal dunia, diberhentikan atau diberhentikan sementara. Dalam hal ini, timbul suatu permasalahan yaitu bahwa ketika seorang notaris sudah meninggal dunia dan diberhentikan atau diberhentikan sementara maka kewenangan yang melekat padanya juga sudah tidak ada lagi, jadi tidak perlu lagi adanya seorang notaris pengganti.
Akta otentik merupakan alat bukti yang sempurna yang memiliki arti yuridis. Dengan kata lain, akta otentik hanya mengikat para pihak yang terlibat dalam akta tersebut sesuai dengan yang disebutkan didalamnya yang melahirkan hak dan kewajiban bagi para pihak. Berikut ini ada beberapa karakter
yuridis yang terdapat dalam akta otentik, adalah:
a. Dalam proses pembuatannya, sebuah akta harus sesuai dengan yang ditentukan oleh UUJN;
b. Pembuatan akta otentik adalah semata-mata karena keinginan para pihak, artinya notaris bukan termasuk pihak dalam akta tersebut;
c. Akta tersebut harus disertai dengan tanda tangan notaris, namun notaris tidak terikat sama sekali dengan isi dari akta itu sendiri. Karena notaris hanya sebagai perantara pejabat umum yang diberikan wewenang sebagai syarat sahnya sebuah akta otentik;
d. Seluruh isi yang disebutkan dalam akta tersebut mengikat para pihak didalamnya dan tidak dapat ditafsirkan lain dari yang disebutkan akta tersebut, karena akta otentik memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna; dan
e. Pembatalan akta tidak dapat dilakukan secara sepihak kecuali para pihak yang disebutkan didalam akta tersebut setuju dalam hal itu. Apabila salah satu pihak ingin membatalkan akta, maka harus mengajukan permohonan ke pengadilan umum untuk pembatalan aktanya. Apabila notaris terbukti melakukan kesalahan yang melanggar aturan yang adal dalam UUJN yang memiliki sebab akibat dengan Pasal 1869 KUHperdata yang menimbulkan dampak pada keotentikan sebuah akta sehingga akta tersebut hanya memiliki kekuatan pembuktian di bawah tangan (Adjie, 2011). Sementara bagi pihak yang merasa dirugikan, bisa menuntut ganti rugi, biaya dan bunga kepada notaris. Berikut ini ada beberapa penyebab akta otentik dapat terdegradasi menjadi akta dibawah tangan:
1. Tidak terpenuhinya ketentuan dalam Pasal 16 ayat (9) UUJN yaitu notaris harus membacakan akta dihadapan para pihak dan saksi (minimal 2 orang). Hal ini bertujuan untuk menjelaskan kepada para pihak bahwa isi dari akta tersebut telah sesuai dengan keinginan para pihak. Setelah akta dibacakan, maka notaris wajib mencantumkan pernyataan pada bagian akhir akta bahwa akta tersebut telah dilakukan pembacaan dihadapan para pihak yang kemudian ditutup dengan tanda tangan para pihak, saksi dan notaris. Dalam hal ini, notaris bisa saja untuk
tidak membacakan akta didepan para pihak, apabila para pihak itu sendiri yang memintanya dengan syarat bahwa akta tersebut telah dibaca sendiri dan dipahami oleh parah pihak mengenai segala isinya. Namun hal ini harus dicantumkan pada bagian akhir akta bahwa akta tidak dilakukan pembacaan dan disetiap halaman minuta akta terdapat paraf para pihak, saksi dan notaris. Apabila hal ini tidak dilakukan oleh notaris, maka akta itu hanya memiliki kekuatan pembuktian di bawah tangan saja, karena apabila dilihat dari aspek formil maka ada syarat yang tidak terpenuhi yang mengakibatkan terjadinya cacat dalam bentuk akta.
2. Tidak terpenuhinya aturan dalam Pasal 41 UUJN yang menunjuk pada Pasal 39 dan Pasal 40. Dalam Pasal 38 dijelaskan mengenai bentuk akta dari awal sampai akhir akta, syarat ini harus dipenuhi untuk menghindari akta yang cacat dalam bentuknya. Kemudian pada Pasal 39 dan Pasal 40 dijelaskan mengenai kecakapan bertindak untuk melakukan perbuatan hukum. Artinya seorang notaris sebagai pejabat umum harus melewati batas umur yang sudah ditentukan oleh undang-undang serta sehat jasmani dan rohaninya sesuai dengan yang ditentukan oleh undang-undang mengenai orang yang dapat melakukan perbuatan hukum. Berikut adalah penjelasan mengenai Pasal 38 UUJN:
a. Akta terdiri dari beberapa bagian yaitu awal akta, badan akta, dan bagian akhir akta.
b. Awalan akta berisi judul, nomor, jam, hari, tanggal, bulan, tahun, nama lengkap notaris dan tempat kedudukan notaris. c. Badan akta yang merupakan inti dari isi
akta ini sendiri harus memuat tentang: Identitas penghadap atau orang yang sedang diwakili mereka yang berisi informasi tentang nama lengkap, pekerjaan, tempat tinggal, kewarganegaraan, tempat tanggal lahir, kedudukan, jabatan.
Keterangan tentang kedudukan untuk bertindak sebagai para pihak.
Isi akta berupa keinginan atau kehendak untuk dari para pihak.
Identitas sebagai saksi pengenal. d. Bagian akhir akta yang berisi tentang; e. Pembacaan akta yang telah disinggung
dalam Pasal 16 ayat (1) huruf m atau Pasal 16 ayat (7).
42 f. Keterangan mengenai penandatangan,
tempat dilakukan penandatanganan dan penerjemah akta jika ada.
g. Identitas setiap saksi akta.
h. Keterangan bahwa tidak ada perubahan dalam proses pembuatan akta atau adanya perubahan dalam pembuatan akta yang dapat berupa penggantian, coretan, atau penambahan serta jumlah perubahannya. i. Untuk akta notaris pengganti atau pejabat
sementara notaris, selain memuat aturan diatas, juga memuat tentang nomor dan tanggal pengangkatan serta pejabat yang mengangkatnya.
Pasal 39 UUJN mengatur mengenai persyaratan penghadap, yaitu sebagai berikut: a. Syarat sebagai penghadap yang
menghadap notaris harus memiliki minimal umur 18 tahun tahun atau sudah pernah menikah dan cakap untuk melakukan sebuah perbuatan hukum; b. Notaris harus mengenal penghadap atau
dikenalkan oleh dua orang saksi yang sudah berusia 18 tahun atau sudah pernah menikah dan telah cakap melakukan perbuatan hukum atau dikenalkan oleh dua orang penghadap lainnya.
c. Proses pengenalan tersebut harus dimuat secara tegas dalam akta.
Dalam Pasal 40 menjelaskan mengenai perlunya saksi dalam sebuah akta serta persyaratan saksi, yaitu:
a. Minimal dua orang saksi harus hadir pada saat pembacaan akta oleh notaris, kecuali peraturan undang-undang mengatur lain; b. Persyarat untuk menjadi saksi adalah
sebagai berikut:
c. Minimal telah berumur 18 tahun atau sudah pernah menikah;
d. Cakap untuk melakukan suatu perbuatan hukum;
e. Paham dan mengerti Bahasa yang dipakai dalam akta;
f. Dapat memberikan tanda tangan dan paraf;
g. Tidak meiliki hubungan keluarga ataupun darah sampai derajat ketiga dengan notaris ataupun para pihak.
h. Notaris harus kenal dengan saksi tersebut, atau penghadap memperkenalkan saksi tersebu kepada notaris atau menerangkan
identitasnya dan kewenangannya kepada notaris.
i. Proses pengenalan atau keterangan identitas dan kewenangan saksi dimuat secara tegas dalam akta.
3. Tidak terpenuhinya ketentuan yang terdapat dalam Pasal 44 UUJN yaitu yang mengatur mengenai syarat formil. Didalam Pasal tersebut dijelaskan bahwa setelah notaris membacakan akta maka akta harus ditandatangani oleh para pihak, saksi dan notaris. Apabila terdapat pihak yang tidak dapat memberikan tandatangan maka harus dijelaskan alasannya mengapa dan alasan tersebut dimuat secara tegas dibagian akhir akta. Apabila akta dibuat dalam bahasa asing maka penerjemah resmi harus ikut serta dalam penandatanganan akta tersebut. Semua proses mulai dari pembacaan, penerjemahan atau penjelasan dan penandatanganan harus dinyatakan pada bagian akhir akta.
4. Notaris melanggar ketentuan yang terdapat dalam Pasal 48 UUJN yaitu ketentuan yang mengatur mengenai isi akta tidak boleh diubah dengan cara diganti, ditambah, dicoret, disisipkan, dihapus, dan atau ditulis tindih. Namun hal itu bisa saja dilakukan apabila ditambahkan paraf atau terdapat tanda tangan pengesahan dari pihak, saksi dan notaris atas setiap perubahan tersebut.
5. Tidak dipenuhinya ketentuan dalam Pasal 49 UUJN yang mengatur mengenai letak perubahan isi akta yang disebutkan dalam Pasal 48 ayat (2). Ketentuan tersebut menyatakan bahwa letak perubahan isi akta dibuat disisi kiri akta, apabila tidak dapat dilakukan pada sisi kiri maka harus dibuat pada akhir akta sebelum penutup dengan cara menunjuk bagian yang diubah atau dengan cara menyisipkan tambahan. Perubahan tidak sah apabila tidak ditunjukkan bagian yang diubah tersebut.
6. Tidak terpenuhinya ketentuan dalam Pasal 50 UUJN yaitu ketentuan yang mengatur mengenai perubahan dengan cara pencoretan.
7. Tidak dipenuhinya ketentuan dalam Pasal 51 UUJN yaitu notaris memiliki kewenangan membetulkan kesalahan tulis dan atau ketikan pada minuta akta yang sudah ditandatangani dihadapan para pihak dan saksi.
8. Melanggar ketentuan yang terdapat dalam Pasal 52 UUJN yang mengatur mengenai notaris tidak berwenang membuat akta otentik untuk diri sendiri atau orang lain yang memiliki hubungan darah atau hubungan dari perkawinan ataupun melalui perantara kuasa
Implikasi Hukum Akibat Akta Notaris Terdegradasi Menjadi Akta Dibawah Tangan serta Faktor Penyebab Akta Tidak Dibacakan Oleh Notaris Didepan Para Pihak
Berdasarkan hasil penelitian pada tahun 2018 di kota Banda Aceh pada PT. Panin Tbk. terdapat 222 akta. Dari 222 akta tersebut 150 akta disertai dengan pembacaan akta didepan para pihak sementara terdapat 72 akta yang tidak dibacakan didepan para pihak. Sementara pada PT. BTN Tbk, pada tahun 2018 terdapat 2112 akta yang ditandatangi di bank tersebut. Dari semua akta tersebut terdapat 862 akta yang tidak dibacakan didepan para pihak dan 1250 akta telah dibacakan didepan para pihak.
Dalam ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf i UUJN disebutkan bahwa notaris memiliki kewajiban untuk membacakan akta dihadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling kurang dua orang saksi dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan notaris. Ketentuan ini kembali dipertegas dalam Pasal 44 UUJN yang menyatakan bahwa segera setelah akta dibacakan, akta tersebut ditandatangani oleh para pengahadap, saksi dan notaris. Kecuali apabila terdapat penghadap yang tidak bisa membubuhkan tanda tangan dengan menyebutkan alasannya dengan jelas. Ketentuan pembacaan dan penandatanganan tersebut merupakan suatu kesatuan dari peresmian sebuah akta (verlijden). Kemudian makna dari kata di hadapan adalah dalam penandatanganan akta tersebut hadirnya seorang notaris dalam proses peresmian akta atau face to face sebagaiman sesuai dengan Pasal 16 ayat 1 UUJN.
Alat bukti tertulis selain dari akta otentik juga adal ada alat tertulis lainnya yaitu akta dibawah tangan yaitu akta yang dibuat oleh para pihak yang bersangkutan yang ditandatangani oleh para pihak yang bersangkutan tidak dihadapan notaris atau tanpa perantara seorang pajabat umum. Akta otentik akan kehilangan otentisitasnya apabila
tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam Pasal 1868 KUHperdata serta syarat materil dan syarat formil dalam pembuatannya seperti yang terdapat dalam Pasala 1869 KUHperdata yaitu suatu akta yang tidak dapat diperlakukan sebagai akta otentik, baik karena tidak berwenangnya atau tidak cakapnya pejabat umum yang bersangkutan maupun karena cacat dalam bentuknya, mempuanyai kekuatan sebagai tulisan dibawah tangan bila ditandatangani oleh para pihak.
Dalam Pasal 1869 KUHperdata disebutkan ada tiga factor yang membuat suatu akta otentik berubah kekuatan pembuktiannya dan tidak diperlakukan sebagai akta otentik apabila:
a. Pejabat yang membuat akta tersebut tidak berwenang;
b. Pejabat yang membuat akta otentik tidak cakap; dan
c. Akta yang dibuat tersebut cacat dalam bentuknya.
Sebuah akta otentik yang terdegradasi kekuatan pembuktiannya menjadi akta dibawah tangan sesuai dengan Pasal 1869 KUHperdata adalah disebabkan karena satu atau beberapa factor tersebut diatas terjadi sehingga akta itu hanya sebagai akta dibawah tangan yang ditandatangani oleh para pihak. Jadi, tanda tangan merupakan syarat mutlak untuk suatu akta agar dapat dijadikan sebagai alat bukti. Dalam Pasal 1869 KUHperdata ditegaskan bahwa akta otentik tersebut dibuat oleh pejabat yang tidak berwenang dalam hal pembuatan akta, atau tidak cakap dalam hal pembuatan akta otentik maupun akta tersebut memiliki suatu cacat atas bentuknya, akan tetapi akta tersebut ditandatangani oleh para pihak, maka akta tersebut memiliki kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan.
Akibat hukum yang ditimbulkan dari akta notaris yang cacat hukum dalam pembuatannya adalah akta tersebut kehilangankeotentikannya, kemungkinan ini dapat terjadi dengan adanya putusan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Penyelesaian hukum yang dapat ditempuh dari peristiwa tersebut adalah menghukum pihak yang menyebabkan akta tersebut cacat hukum serta hilang keotentisitasnya. Apabila disebabkan oleh tindakan notaris, maka pihak yang dirugikan dapat menuntut notaris yang bersangkutan, akan tetapi hal ini disebabkan
44 oleh pihak-pihak yang berkepentingan, maka beban tanggung jawab akan diberikan pada pihak-pihak tersebut.
Sanksi sebagai akibat sebuat akta mempunyai kekuatan pembuktian sebagai akta dibawah tangan dan akta menjadi batal demi hukum merupakan sanksi eksternal, yaitu berupa sanksi terhadap notaris yang menjalankan tugas jabatannya dengan mengabaikan kewajiban yang harus dilakukannya. Maksud dari akta yang batal demi hukum adalah akta tersebut yang dibuat oleh notaris tidak mempunyai kekuatan mengikat karena akta tersebut batal dengan sendirinya. Oleh karena itu, batalnya suatu akta seperti itu yang tidak meminta pembatalan pada pengadilan, maka tidak dapat digunakan sebagai dasar para pihak untuk menggugat ganti rugi akibat pembatalan akta karena tidak ada dasar dengan batalnya akta tersebut (Subekti, 2001) dalam (Deviana, 2019). Sedangkan mengenai batalnya akta tersebut menjadi batal demi hukum tidak ada penjelasan lebih lanjut lagi.
Implikasi hukum akibat penurunan nilai akta otentik menjadi akta dibawah tangan terhadap Bank sesuai dengan Pasal 1313 KUHperdata disebutkan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengaitkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Hal ini sesuai dengan system hukum nasional yang menyebutkan istilah perjanjian atau kontrak memiliki unsur-unsur yaitu pihak-pihak yang kompeten, pokok yang disetujui, pertimbangan hukum, perjanjian timbal balik, serta hak dan kewajiban timbal balik (Effendi, 2015).Sementara itu, dalam Pasal 1320 KUHperdata disebutkan bahwa keabsahan suatu perjanjian harus sesuai dengan syarat-syarat berikut ini:
a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
c. Suatu hal tertentu; dan d. Suatu sebab yang halal.
Setiap pembuatan akta yang dilegalisasi notaris wajib dibacakan dan dijelaskan oleh notaris serta harus ditandatangani dihadapan notaris yang bersangkutan, baik itu akta
otentik maupun akta dibawah tangan. Hal ini sesuai dengan yang telah ditentukan pada Pasal 16 ayat (1) UUJN. Hal ini tentu saja berlaku pada perjanjian kredit yang dibuat dalam bentuk akta otentik. Oleh karena ini apabila perjanjian kredit yang berbentuk akta otentik tersebut hanya akan memiliki kekuatan pembuktian akta dibawah tangan, jika pembacaan akta tidak dilakukan oleh notaris. Maka tanpa syarat pengecualian seperti yang telah disebutkan dalam Pasal 16 ayat (7) UUJN sesuai juga dengan Pasal 1875 KUHperdata maka ada kemungkinan bahwa akta dibawah tangan tidak diakui. Oleh karena itu suatu akta dibawah tangan tidak memiliki kekuatan pembuktian lahiriah.
Menurunnya status perjanjian kredit baik itu yang berbentuk akta otentik maupun akta dibawah tangan yang telah dilegalisasi notaris tentunya akan memicu kerugian bagi bank. Kerugian ini dapat terjadi apabila debitur bank melakukan wanprestasi dan mencari celah hukum dengan mengajukan gugatan kepada bank yang menyatakan bahwa penjanjian kreditnya tidak dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku. Dalam hal ini akta otentik yang dibuat tidak dibacakan didepan para pihak sehingga menjadi hanya akta dibawah tangan.
Seperti yang telah diketahui bahwa akta dibawa tangan tidak memiliki kekuatan pembuktian lahiriah, kekuatan pembuktiannya bersifat pembuktian formil, yaitu apabila tanda tangan dibawah akta itu diakui kebenarannya oleh pihak yang membuat perjanjian dibawah tangan. Hal ini merupakan kelemahan dari akta dibawah tangan bahwa apabila terjadi wanprestasi oleh debitur yang kemudian menempuh jalur hukum melalui proses pengadilan.
Maka oleh karena itu apabila debitur tersebut menyangkal atau memungkiri tanda tangnnya, hal ini akan berakibat mentahnya kekuatan hukum akta dibawah tangan yang telah dibuat tersebut(Naja, 2005) dalam (Musyafah, 2019).
Apabila dilihat berdasarkan pada Pasal 1875 KUHperdata, maka akta dibawah tangan juga memiliki kemungkinan tidak diakui. Perjanjian kredit yang berbentuk akta dibawah tangan, apabila tidak diakui oleh debiturnya, maka beban pembuktian ada pada bank. Akta
dibawah tangan tersebut yang tidak diakui harus diakui oleh pihak bank yang membawanya sebagai alat bukti.
Hal ini tentu saja berbeda dengan perjanjian kredit yang berbentuk akta otentik, dimana apabila terdapat pengangkalan terhadap akta otentik, maka pihak yang berkewajiban untuk membuktikan adalah pada pihak yang menyangkal akta tersebut. Sehingga apabila harus dibawa ke pengadilan, maka pihak debitur adalah pihak yang harus membuktikan bahwa akta otentik tersebut tidak benar.
Turunnya status perjanjian kredit tentu saja akan merugikan pihak bank, karena hal itu akan memberikan celah untuk seseorang untuk mempermasalahkan hal tersebut. Apabila nantinya terbukti perjanjian kredit tidak dilaksanakan dengan sebagaimana mestinya, maka akan mengakibatkan perjanjian berkahir dengan penghapusan perjanjian kredit tersebut. Dimana hal ini juga bisa berdampak pada perjanjian pinjamannya. Suatu perjanjian dapat berakhir salah satunya karena putusan hakim. Perjanjian hapus karena putusan hakim apabila salah satu pihak menuntut pengakhiran perjanjian dan tuntutan tersebut dikabulkan oleh hakim (Setiawan, 1999) dalam (Kuntjoro, 2016).
Hapusnya perjanjian pokok tersebut dapat menyebabkan hapusnya perjanjian accessoirnya, dengan hapusnya perjanjian penjaminan, maka pihak bank tidak dapat mengeksekusi benda jaminan untuk melunasi piutangnya apabila debitur melakukan wanprestasi. Bank sendiri tidak dapat berbuat apa-apa untuk mendorong agar debitur memnuhi janjinya, khususnya mengenai pembayaran kembali.
Notaris memiliki wewenang yang merupakan kewenangan atribusi yang telah diatur dalam undang-undang tentang jabatan notaris dalam membuat akta otentik dari objek yang diperjanjikan dalam akta tersebut sesuai dengan wilayah kerja dari notaris tersebut yang bersangkutan, termasuk pula untuk membacakan dan menandatangani akta yang dibuatnya tersebut. Oleh karena itu, notaris harus bertanggung jawab atas kewenangan yang melekat padanya tersebut. Roscoe Pound dalam (Kurniawan, 2018) memberikan pendapat mengenai tanggung jawa yaitu yang terkait dengan suatu kewajiban untuk meminta ganti rugi dari seseorang yang
terhadapnya telah dilakukan suatu perugian (injury), baik oleh orang yang pertama itu sendiri maupun oleh sesuatu yang dibawah kekuasaannya.
Dalam peraturan perundang-undangan jabatan notaris telah ditentukan bahwa seorang notaris memiliki kewajiban yang harus dilakukan. Apabila kewajiban tersebut dilanggar, maka akan dikenakan sanksi padanya. Pasal 16 ayat (1) UUJN telah ditentukan mengenai kewajiban notaris yaitu diantaranya adalah membacakan akta yang telah dibuatnya dihadapan para pihak dan dihadiri paling sedikit 2 orang saksi atau 4 orang saksi untuk pembuatan khusus akta wasiat dibawah tangan, dan ditandatangani pada saat itu juga oleh para pihak. Oleh karena itu, maka pembacaan akta harus dilakukan oleh notaris dalam membuat sebuah akta otentik. Pembacaan akta merupakan bentuk dari verlijden atau peresmian dari akta otentik selain kewajiban untuk penandatangan akta itu sendiri. Maka dari itu, setiap akta otentik yang dibuat diwilayah jabatan notaris tersebut harus dibacakan didepan para pihak sebelum dilakukan penandatangan akta, pembacaan tidak boleh diwakili oleh orang lain selain notaris itu sendiri. Pembacaan akta tersebut sebenarnya sangat bermanfaat bukan bagi para penghadap saja, melainkan bagi notaris juga. (Mido et al, 2018)
Pembacaan akta tersebut juga merupakan syarat untuk menentukan kekuatan pembuktian formil yang menyataan bahwa akta notaris harus disertai dengan kapasitas mengenai apa yang dinyatakan dan juga kepastian mengenai apa saja yang dikatakan dalam akta tersebut merupakan sebuah kebenaran dan telah sesuai dengan kehendak para pihak yang menghadap notaris (Swandewi, 2016). Adapun berkaitan dengan kewajiban untuk pembacaan akta didepan para pihak, Pasal 17 ayat (7) UU Nomor 2 Tahun 2014 memberikan pengecualian akan hal itu. Notaris diperbolehkan untuk tidak membacakan aktanya apabila para pihak menginginkan akta tersebut untuk tidak dibacakan dan membacakannya sendiri sehingga para pihak merasa sudah mengerti dengan isi akta. Akan tetapi, keadaan yang tersebut ikut mengharuskan notaris untuk menyatakan pengecualian pembacaan akta tersebut pada bagian penutup akta, disertai dengan paraf pada setiap halaman dari minuta
46 tersebut oleh para pihak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pembacaan akta tidak wajib dilakukan selama sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan tersebut, sehingga kewajiban pembacaan akta tersebut tidak selalu menjadi keharusan.
Hal ini berbeda dengan apabila notaris secara sengaja tidak membacakan akta yang dibuatnya tersebut walaupun notaris berada diwilayah jabatannya, atau notaris sedang tidak berada diwilayah jabatannya sehingga para penghadap dilayani oleh karyawan atau asisten notaris, atau bisa juga terjadi akta tersebut dibacakan hanya sebagian saja dan akta tersebut dibacakan tapi tidak dilakukan oleh notaris itu sendiri, atau para pihak menghendaki akta tersebut untuk tidak dibacakan tapi keterangan tersebut tidak disebutkan pada akhir akta. Begitu pula apabila para penghadap menginginkan untuk tidak dibacakan aktanya, notaris tidak boleh mencantumkan diakhir akta bahwa akta telah dibacakan oleh notaris didepan para pihak dan para pihak telah mengerti denga nisi akta. Hal ini mengakibatkan bahwa akta tersebut tidak sesuai dengan kehendak para pihak, yang bisa saja mengakibatkan bahwa ada hal-hal yang terdapat dalam akta yang tidak dimengerti oleh para pihak sehingga akan menimbulkan salah pengertian mengenai isi akta. Hal ini kemungkinan akan menimbulkan wanprestasi oleh salah satu pihak atau akta tidak dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Apabila dikemudian hari ternyata terjadi wanprestasi karena alasan tidak mengerti dengan isi dari akta tersebut maupun karena akta tersebut berbeda dengan apa yang diinginkan oleh para penghadap, maka fungsi dari akta yang sebenarnya tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Jika notaris terbukti dengan sengaja tidak melakukan pembacaan akta didepan para pihak sebelum ditandatangani maka notaris dapat dinyatakan bersalah secara administrasi dan dapat dikenakan saksi administrasi, keperdataan dan pidana (Arifaid, 2017). Walaupun tanggung jawab notaris hanya sebatas kerugian yang dari para pihak sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 1365 KUHperdata, tapi tidak serta merta notaris dapat mengesampingkan hal tersebut. Hal ini lebih lanjut lagi untuk dilihat bahwa
apabila notaris tidak dapat membayar ganti rugi materiil yang dialami para pihak dan disertai dengan keputusan pengadilan akan hal ini, maka notaris dapat dinyatakan pailit oleh pengadilan.
Kepailitan dapat dijadikan alasan sehingga menimbulkan pemberhentian sementara notaris dari jabatannya seperti yang ditentukan dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a UUJN. (Rahman, 2017)
Berbagai alasan kenapa akta tidak dibacakan oleh harus dilihat terlebih dahulu situasi yang terjadi dilapangan. Karena notaris merupakan sebuah jabatan profesi yang ditentukan khusus oleh undang-undang, maka tidak menutup kemungkinan bagi notaris dalam menjalankan jabatannya mengalami beberapa kendala yang mengharuskannya untuk mencari solusi agar kebutuhan masyarakat akan akta otentik tetap dapat terpenuhi dan tentu saja tidak bertentangan dengan hukum, sehingga akta tersebut diakui oleh hukum.
Sebagaimana yang dipaparkan oleh salah satu notaris di kota Banda Aceh Yuniarti, Sh., M.Kn. bahwasanya kemungkinan besar akta tidak dibacakan didepan para pihak adalah karena dalam satu waktu notaris mengurus beberapa akta sekaligus, namun apabila secara bersamaan harus membacakan akta yang secara garis besar isi aktanya sama, maka notaris hanya perlu membacakan sekali tapi beberapa pihak sekaligus dari 5-10 akta yang perlu ditandatangani mendengarkan secara bersamaan.
Hal tersebut dikarenakan pada intinya isi akta tersebut sama. Misalnya disebuah bank pada satu waktu terdapat beberapa orang yang akan membuat akta kredit, maka proses pembacaan akta dilakukan sekali saja tapi semua pihak mendengarkan dengan catatan masing-masing pihak dijelaskan point utama dari akta yang mengikatnya. Karena menurutnya semua notaris mengerti mengenai kewajiban yang harus dilakukannya sehingga mustahil apabila notaris tidak membacakan akta tersebut.
Dalam kasus lainnya, menurut notaris yang juga melaksanakan jabatannya di kota Banda Aceh yaitu Dian Sutari W.,S.H.,M.Kn. pembacaan akta oleh staf notaris memiliki kemungkinan untuk diterapkan dengan
catatan bahwa apabila para pihak kurang paham dengan isi akta, maka notaris sendiri yang akan menjelaskannya. Karena staff notaris juga merupakan saksi bagi notaris itu sendiri, maka akta yang dibacakan oleh staff notaris memiliki kemungkinan untuk dilakukan. Sementara alasan sibuknya para notaris dalam menjalankan tugas jabatannya menjadi alasan yang paling berpengaruh ketika akta tersebut tidak dibacakan. Kedudukan hukum atas akta yang tidak dibacakan tetap otentik, namun apabila terjadi suatu masalah kedepannya maka akta tersebut bisa saja hanya memiliki kekuatan pembuktian dibawah tangan berdasarkan keputusan pengadilan. Akan tetapi, apabila semua persyaratan otentik suatu akta termasuk pembacaan akta oleh notaris didepan para pihak tetap dijalankan. Maka, tidak ada alasan apapun untuk para pihak menghindari status hukum yang terikat dengan akta tersebut. Karena akta otentik mengikat para pihak didalamnya dan dinyatakan benar seperti apa yang terdapat dalam akta tersebut dengan kekuatan pembuktian yang sempurna.
SIMPULAN
Dalam pembuatan akta otentik, telah ditentukan bahwa notaris wajib memuat kehendak para pihak dan tidak melanggar norma-norma yang ada di masyarakat maupun norma hukum. Akta notaris yang tidak dibacakan didepan para pihak tetap mengikat para pihak yang tertera dalam akta tersebut, namun apabila dikemudian hari terjadi permasalah seperti wanprestasi kekuatan pembuktian akta tersebut dapat menjadi kekuatan dibawah tangan dan/atau batal demi hukum sesuai dengan keputusan pengadilan. Tidak dibacakannya akta notaris sebelum dilakukan penandatanganan bisa saja terjadi karena waktu yang singkat sehingga mempersingkat proses pengesahan akta.
Pembacaan akta melalui video conference mungkin saja bisa menjadi wacana untuk memberikan kemudahan bagi notaris untuk memenuhi kebutuhan akan akta otentik yang semakin meningkat, walaupun pembacaan akta melalui video conference sangat mustahil untuk dijalankan mengingat penandatangan akta harus dilakukan segera setelah pembacaan akta notaris didepan para pihak oleh notaris.
DAFTAR PUSTAKA
Adjie, H. (2011). Kebatalan dan Pembatalan AktaNotaris. Refika Aditama.
Adnani, A. (2019). Perbedaan Unsur-Unsur “Menyalahgunakan Kewenangan” Dalam Peraturan Perundang-Undangan Peradilan Administrasi Dan Peradilan Tindak Pidana Korupsi, Dan Apakah Konsekuensinya Terhadap Pertanggungjawaban Pidana Korupsi. Ensiklopedia Sosial Review, 1(2). Arifaid, P. (2017). Tanggung Jawab Hukum Notaris
Terhadap Akta In Originali. Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan, 5(3), 510-520.
Artsilia, R. (2010). Kewajiban Notaris Dalam Membacakan Akta (Doctoral Dissertation, Universitas Airlangga).
Deviana, M. P. (2019). Pelaksanaan pengaduan ingkar kewajiban (wanprestasi) dalam perjanjian jual beli Online kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia di hubungkan dengan Pasal 1243 KUHperdata: studi kasus
Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia (Doctoral dissertation, UIN Sunan Gunung Djati Bandung).
Effendi, P. (2015). Kedudukan Para Pihak Dalam Perjanjian Satandar Perbankan Ditinjau Dari KUHperdata Dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Jurnal Pro Hukum: Jurnal Penelitian Bidang Hukum Universitas Gresik, 4(2).
Kuntjoro, N. (2016). Efektivitas Pengawasan Majelis Pengawas Daerah (MPD) Kota Yogyakarta Terhadap Perilaku Notaris di Kota Yogyakarta menurut Kode Etik Notaris. Lex Renaissance, 1(2), 5.
Kurniawan, I. W. A. (2018). Tanggung Jawab Notaris Atas Akta yang Tidak Dibacakan Dihadapan Para Penghadap. Acta Comitas: Jurnal Hukum Kenotariatan, 3(3).
Mertokusumo, S. (2010). Hukum acara perdata Indonesia. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Mido, M. T. C., Nurjaya, I. N., & Safa’at, R. (2018). Tanggung Jawab Perdata Notaris terhadap Akta yang Dibacakan oleh Staf Notaris di Hadapan Penghadap. Lentera Hukum, 5(1), 156-173.
Musyafah, A. A. (2019). Implikasi Yuridis Terhadap Bank Akibat Penurunan Status Perjanjian Kredit dari Akta Otentik Menjadi Akta di Bawah Tangan. Law, Development & Justice Review, 2(1), 85-103.
Rahman, Y. (2017). Limitasi Pertanggungajawaban Notaris Terhadap Akta Otentik Yang Dibuatnya. Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum.
Santoso, Urip. (2016). Pejabat Pembuat Akta Tanah, Perspektif Regulasi, Wewenang, dan Sifat Akta. Jakarta: Prenadamedia.
48
Sugeng Istanto, F. (2010). Hukum Internasional. Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.
Swandewi, I. A. P. (2016). Pengesahan Akta Notaris Bagi Penghadap yang Mengalami Cacat Fisik. Acta Comitas, 1.
Yulianto, A., & Mukti, F. (2012). Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris. Pustaka Belajar, Yokyakarta.
Yulianto Achmad, M. F. (2010). Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris.