Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
1
Bab 1
Perkembangan Ekonomi Makro
1.1. KONDISI UMUM
Perekonomian Kepulauan Riau pada tw.I-2008 diperkirakan tumbuh 8,05%, lebih rendah dibanding pertumbuhan tw.IV-2007 sebesar 8,75% (y-o-y). Tinjauan secara triwulan (q-t-q) memperlihatkan perlambatan yang lebih mild, dengan laju pertumbuhan turun dari 1,98% pada tw.IV-2007 menjadi 1,68% pada tw.I-2008. Sesuai dengan karakteristiknya sebagai daerah industri, ekspor dan investasi masih menjadi penggerak utama perekonomian provinsi ini. Aktivitas ekspor antar negara menunjukkan pertumbuhan signifikan dibanding tw.IV-2007 yang tumbuh negatif. Sementara investasi semakin berperan penting dalam mendorong perekonomian. Meningkatnya konsumsi rumah tangga dan swasta turut menopang pertumbuhan pada triwulan laporan. Respon dari sisi penawaran ditandai dengan pertumbuhan hampir seluruh ekonomi di Kepulauan Riau kecuali sektor Pertambangan. Sektor bangunan mencatat pertumbuhan tertinggi disebabkan oleh perkembangan properti yang cukup pesat terutama di kota Batam, namun belum berkontribusi positif bagi pertumbuhan tw.I-2008. Akselerasi pertumbuhan dihasilkan oleh sektor Perdagangan, Pertanian, Keuangan, Pengangkutan, Listrik dan Jasa-jasa terkait perayaan Imlek dan perayaan hari besar lainnya.
Perlambatan ekonomi Kepulauan Riau sebagian besar disebabkan oleh menurunnya kinerja sektor industri pengolahan dan pertambangan.
0 1 1 2 2 3 3 4 q-t-q (%) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 y-o-y (%) qtq yoy qtq 2.6 0.87 0.74 0.2 2.37 2.18 2.4 1.62 1.24 1.98 1.68 0.42 1.96 1 3.19 1.96 1.68 yoy 8.07 7.36 5.99 4.47 4.24 5.59 7.34 8.85 7.64 7.44 6.68 5.43 6.57 5.55 7.11 8.75 8.05 Tw.I-04 Tw.II-04 Tw.III-04 Tw.IV-04 Tw.I-05 Tw.II-05 Tw.III-05 Tw.IV-05 Tw.I-06 Tw.II-06 Tw.III-06 Tw.IV-06 Tw.I-07 Tw.II-07 Tw.III-07 Tw.IV-07 Tw.I-08*
Sumber : BPS *) angka sementara
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
2
Meski pangsanya terus menurun, sektor industri pengolahan tetap memberi kontribusi dominan (59,13%) terhadap pembentukan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepulauan Riau. Turunnya pertumbuhan sektor ini pada tw.I-2008 disebabkan penurunan kinerja industri alat angkutan, mesin dan peralatan. Keadaan ini juga tercermin dari penurunan ekspor barang-barang mesin dan elektronik pada bulan Januari dan Februari 2008. Sementara itu sektor pertambangan tumbuh negatif disebabkan oleh menurunnya realisasi produksi dari pertambangan gas bumi di Natuna yang salah satunya dipicu oleh kenaikan biaya produksi akibat tingginya harga minyak dunia.
Tumbuhnya perekonomian tw.I-2008 juga didukung oleh penguatan sektor keuangan, terutama pada lembaga keuangan non-bank. Meningkatnya kinerja lembaga keuangan non-bank didorong oleh tumbuhnya konsumsi masyarakat terkait produk-produk ritel rumah tangga yang menggunakan pembiayaan non-bank.
1.2. SISI PERMINTAAN
Pertumbuhan ekspor dan investasi barang modal atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menjadi pengerak perekonomian Kepulauan Riau tw.I-2008 dari sisi permintaan. Turunnya laju pertumbuhan (yoy) disebabkan oleh penurunan porsi pengeluaran pemerintah akibat terlambatnya penyelesaian beberapa proyek.
Tabel 1.1 - Laju Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau (berdasarkan harga konstan 2000)
2008
Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I
1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 8.98 8.73 9.21 4.55 4.42 10.33 16.03 19.59 23.04
a. Makanan 15.52 14.94 13.95 7.36 1.51 5.90 12.79 16.48 24.10 b. Non Makanan 4.87 4.86 6.20 2.74 6.43 13.35 18.24 21.67 22.34
2. Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 7.71 2.35 2.61 0.61 2.52 8.53 11.29 15.26 16.74
3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 11.05 13.27 11.44 12.13 8.13 11.50 16.07 20.67 18.06
4. Pembentukan Modal Tetap Bruto -0.13 12.05 30.07 25.11 67.98 28.42 9.94 17.96 26.50
5. Perubahan Stok 22.17 7.85 -94.24 252.51 57.17 -5.38 2,082.19 3.63 27.14 6. Ekspor 16.02 5.51 -59.75 58.87 13.55 -6.73 161.34 -0.79 6.89 a. Antar Negara 15.64 5.50 -60.23 60.46 13.38 -6.95 164.40 -1.00 6.76 b. Antar Pulau 96.85 7.50 -8.20 -26.45 34.39 22.80 21.52 22.86 20.58 7. Impor 7.58 7.34 -1.55 -3.08 20.05 18.24 15.57 13.06 12.95 a. Antar Negara 2.56 42.66 -11.47 -19.45 -14.84 -37.20 -35.57 -1.25 4.25 b. Antar Pulau 7.69 6.64 -1.28 -2.78 20.77 19.70 16.85 13.28 13.08 7.64 7.44 6.68 5.43 6.57 5.55 7.11 8.75 8.05
Produk Domestik Regional Bruto
Komponen 2006 2007
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
3
a. KonsumsiKonsumsi rumah tangga dan swasta mengalami akselerasi (yoy) dibanding triwulan-triwulan sebelumnya, sementara konsumsi pemerintah mengalami tren menurun. Pada triwulan laporan, konsumsi rumah tangga tumbuh 23,04% lebih tinggi dibanding pertumbuhan tw.IV-2007 sebesar 19,59%. Pengeluaran untuk konsumsi makanan meningkat 23,04% dari 16,48% pada triwulan sebelumnya, sementara konsumsi non-makanan naik 22,34% dari 21,67% pada tw.IV-2007. Gejolak harga kebutuhan pokok yang terjadi selama tiga bulan terakhir sangat mempengaruhi tingkat pengeluaran rumah tangga . Sedangkan peningkatan konsumsi non-makanan tercermin dari berbagai indikator konsumsi, antara lain penjualan kendaraan roda empat dan roda dua baru, konsumsi listrik, penjualan semen, serta penyaluran kredit konsumsi oleh perbankan di Kepulauan Riau dimana sebagian besar disalurkan dalam bentuk kredit perumahan (58%) dan kredit kepemilikan kendaraan bermotor (35%).
Grafik 1.2 –Konsumsi Listrik Rumah Tangga
0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 350,000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 0% 4% 8% 12% 16% 20% Konsumsi listrik RT MWh Pertumbuhan Sumber : PT. PLN Batam
Grafik 1.3 –Konsumsi Listrik Usaha/Bisnis
0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 350,000 400,000 450,000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 -10% -5% 0% 5% 10% 15% 20% Konsumsi listrik Usaha/Bisnis MWh
Pertumbuhan Sumber : PT.PLN 0 50 100 150 200 250 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 2006 2007 2 0 0 8 -0.4 -0.3 -0.2 -0.1 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 Kendaraan Roda 4 Pertumbuhan 0 1000 2 0 0 0 3 0 0 0 4 0 0 0 5000 6 0 0 0 7000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 2006 2007 2 0 0 8 -0.6 -0.4 -0.2 0 0.2 0.4 0.6 Kendaraan Roda 2 (RHS) Pertumbuhan
Grafik 1.4 –Volume Kendaraan Roda 4 Baru
Sumber : Dipenda Kepri
Grafik 1.5 –Volume Kendaraan Roda 2 Baru
Sumber : Dipenda Kepri
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
4
Meningkatnya konsumsi ritel rumah tangga juga didukung oleh lembaga pembiayaan non-bank. Hal ini diindikasikan dari relatif lambatnya laju pertumbuhan kredit konsumsi oleh perbankan dibandingkan semester II tahun 2005 seperti yang terlihat pada tabel 1.2 diatas. Penyaluran kredit konsumsi bank umum pada bulan Maret 2007 relatif meningkat sebesar 26,16% dari Rp 2,6 triliun menjadi Rp 3,3 triliun.
Sementara itu, laju pertumbuhan konsumsi pemerintah pada tw.I-2008 melambat, dimana hanya meningkat 18,06% dibanding tw.IV-2007 yang tumbuh 20,67%. Melambatnya pertumbuhan dipengaruhi oleh tertundanya penyelesaian beberapa proyek publik pemerintah yang antara lain disebabkan oleh kenaikan harga -harga bahan bangunan seperti yang terlihat pada tabel 1.3.
Tabel 1.2 – Harga Beberapa Bahan Bangunan
Harga
Sebelumnya Harga Sekarang
(Rp) (Rp)
Semen Tiga Roda (per sak/50 kg) 43000 52000 Semen Padang (per sak/50 kg) 43000 45000 Semen Holcim (per sak/50 kg) 43000 44000
Pasir (per kubik) 60000 62000
Besi Beton 6 mm (per batang/12 mtr) 31000 32000 Besi Beton 10 mm (per batang/12 mtr) 64000 70000 Besi Beton 16 mm (per batang/12 mtr) 165000 169000 Triplek 3mm (per lembar) 36000 39000 Kayu Balok 24 (per batang) 47000 50000
Batu Bata (per buah) 300 350
Pipa 3 inches (per batang) 55000 65000
Paku ¾ (per kg) 8000 10000
Seng 6 feet (per lembar) 21000 25000
Asbes (per lembar) 20000 21000
Bahan Bangunan
Sumber : Survei Batam Pos, 4 Maret 2008 0.00 50,000.00 100,000.00 150,000.00 200,000.00 250,000.00 300,000.00 350,000.00 400,000.00
Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I
2006 2007 2008 0 % 5% 10% 15% 2 0 % 25% Pengeluaran Konsumsi Pemerintah
Pertumbuhan
Grafik 1.8 – Pengeluaran Konsumsi Pemerintah
Sumber : BPS
Grafik 1.7 – Penyaluran Kredit Konsumsi
Sumber : BI Batam 0 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 3,000,000 3,500,000 4,000,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0 10 20 30 40 50 60 Kredit Konsumsi (juta)
Pertumbuhan (%)
Grafik 1.6 – Volume Penjualan Semen
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia -10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 2005 2006 2007 2008 -30% -20% -10% 0% 10% 20% 30% 40% 50% Vol Penjualan Semen (ton)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
5
b. InvestasiPertumbuhan investasi barang modal (PMTB) tercermin dari meningkatnya realisasi investasi di provinsi Kepulauan Riau. Investasi-PMTB tumbuh (yoy) 26,5% pada tw.I-2008, lebih tinggi dibanding pertumbuhan tw.IV-2007 sebesar 17,96%. Pertumbuhan investasi-PMTB sejalan dengan meningkatnya realisasi investasi PMDN dan PMA. Berdasarkan data Otorita Batam, jumlah persetujuan investasi selama bulan Januari s/d. Februari 2008 sebanyak 15 proyek dengan nilai investasi sebesar US$ 22,2 juta. Adapun realisasi investasi pada periode yang sama mencapai US$ 22.229.401 dengan jumlah proyek sebanyak 15 proyek, baik investasi baru maupun proyek perluasan usaha. Jumlah ini naik 56% dibandingkan periode yang sama di tahun 2007 dimana hanya terealisasi 11 proyek. Proyek yang direalisasi antara lain pada bulan Januari 2008, dimana telah diresmikannya 5 perusahaan baru di Kawasan Industri PT. Bintan Offshore, Bintan, yang terdiri dari 4 PMA dan 1 PMDN dengan total investasi mencapai US$ 19 juta.
0 1 2 3 4 5 6 7
Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I
2006 2007 2008 -10% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% PMTB Pertumbuhan (yoy) Grafik 1.9 – Perkembangan PMTB Sumber : BPS
Grafik 1.10 – Perkembangan Investasi PMA
0 10 20 30 40 50 60 70 80 2002 2003 2004 2005 2006 2007 0 50 100 150 200 250 300 350 Persetujuan Inv. Realisasi Inv.
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
6
Meningkatnya investasi barang modal juga tercermin dari peningkatan impor capital goods sampai dengan Februari 2008. Impor capital goods naik 21,97% (yoy) dari US$ 434 juta menjadi US$ 555 juta, lebih tinggi dibanding peningkatan pada tw.IV-2007 yang tercatat sebesar 11,57% (yoy).
Dari sisi perbankan, posisi penyaluran kredit investasi pada bulan Maret 2008 tumbuh 24,22% (yoy) dari Rp 1,8 triliun menjadi Rp 2,2 triliun, lebih tinggi dari posisi pertumbuhan tw.IV-2007 sebesar 22,59% (yoy). Pertumbuhan kredit investasi yang disalurkan perbankan di wilayah Kepulauan Riau menggambarkan peningkatan investasi barang modal dari kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), karena hampir seluruh perusahaan skala besar yang berdomisili di Kepulauan Riau adalah Perusahaan Modal Asing (PMA) dimana kebutuhan pembiayaan diperoleh dari perbankan negara asalnya. 1 10 100 1000 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Persetujuan Inv. Realisasi Inv.
Sumber : BKPM dan Otorita Batam
Grafik 1.11 – Perkembangan Investasi PMDN Grafik 1.12 – Perkembangan Nilai Impor Kepri
Sumber : BI - DSM 0 100 2 0 0 3 0 0 4 0 0 500 6 0 0 700 8 0 0 9 0 0 1,000 2006 2007 2008 0 20 40 60 80 100 120 140 160 Capital Goods Intermediate Goods Consumer Goods Sumber : BI Batam
Grafik 1.13 – Penyaluran Kredit Investasi
0 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 -20 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 Kredit Investasi (juta)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
7
c. Ekspor-ImporSebagai daerah industri kegiatan ekspor-impor memegang peranan yang sangat penting dalam perekonomian Kepulauan Riau, khususnya kota Batam. Hal ini disebabkan karena hampir seluruh PMA yang bertempat di berbagai kawasan industri berfungsi sebagai tempat manufacturing, dimana barang-barang modal yang diimpor akan diekspor kembali baik dalam bentuk barang modal (capital goods) maupun barang olahan (intermediate goods).
Di samping industri besar, aktivitas ekspor-impor juga dilakukan oleh industri menengah dan kecil. Provinsi Kepulauan Riau memiliki keunikan tersendiri karena lokasinya yang sangat berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, sehingga akan lebih efisien mendatangkan barang dari negara tersebut dibanding dari wilayah Indonesia lainnya. Selain kebutuhan pokok, sebagian besar barang sandang dan perumahan berasal dari Singapura dan Malaysia. Karena kondisi geografis daerah yang kurang subur, barang-barang kebutuhan pokok sebagian besar dipasok dari provinsi lain, seperti Medan, Padang dan Pekanbaru. Hal tersebut mengakibatkan aktivitas impor Kepulauan Riau hampir selalu lebih besar dari pada ekspor, seperti dikonfirmasi oleh data Ekspor-Impor Bank Indonesia berikut ini.
0 200,000,000 400,000,000 600,000,000 800,000,000 1,000,000,000 1,200,000,000 1,400,000,000 1,600,000,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 2006 2007 2008
Total Nilai Ekspor Total Nilai Impor
Grafik 1.14 – Perkembangan Nilai Ekspor - Impor
0 500,000,000 1,000,000,000 1,500,000,000 2,000,000,000 2,500,000,000 3,000,000,000 3,500,000,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 2006 2007 2008
Total Volume Ekspor Total Volume Impor
Sumber : BI - DSM
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
8
Peran Singapura sangat menentukan dalam aktivitas perdagangan provinsi Kepulauan Riau. Dari segi ekspor, Singapura menguasai sekitar 70% pasar ekspor, diikuti Eropa (5,1%), Jepang (4,9%), Amerika (4,5%) dan Hongkong (2,4%). Pangsa ekspor ke negara maju (G3) semakin kecil sedangkan ke intraregional Asia semakin besar. Meskipun ketergantungan impor terhadap Singapura semakin berkurang sejak tahun 2003, Singapura masih mendominasi 80% pasar Impor diikuti Jepang (4,43%), Eropa (3,80%), Amerika (3,17%) dan China (1,60%). Adapun peran Hongkong, Cina dan India semakin penting dalam aktivitas perdagangan (ekspor-impor) Provinsi Kepulauan Riau.
Pada bulan Februari 2008, produk ekspor utama meliputi logam dasar (24,6%), elektronik (19,8%), mesin elektrik (16,2%), mesin-mesin dan peralatan mesin (14,5%) serta produk perlengkapan kantor (5,43%). Kelima barang ekpor tersebut sekaligus merupakan produk impor yang dominan. Hal ini mengindikasikan bahwa barang modal yang diimpor akan diekspor kembali dalam bentuk barang modal juga. Dengan demikian data ini mengkonfirmasi bahwa proses manufacturing yang dilakukan industri di Kepulauan Riau lebih kepada proses coating tanpa memberi value added yang signifikan terhadap nilai produk.
Sumber : BI - DSM Sumber : BI - DSM
Tabel 1.3 - Pangsa Ekspor ke Beberapa Negara
2001 2003 2006 2007 AS 4.4 5.2 5.5 4.5 Euro 5.7 6.0 4.9 5.1 Japang 10.2 9.1 5.7 4.9 ASEAN 75.3 73.4 73.6 70.4 Singapore 68.0 65.3 68.6 66.0 Hongkong 0.9 1.6 1.9 2.4 China 0.9 0.9 1.6 2.3 India 0.2 0.3 0.4 0.7 2001 2003 2006 2007 AS 0.23 0.08 1.71 3.17 Euro 1.50 3.58 3.90 3.80 Japang 7.28 2.26 5.42 4.43 ASEAN 67.61 91.34 85.90 84.52 Singapore 66.85 91.17 82.82 80.31 Hongkong 0.00 0.00 0.55 0.51 China 0.82 0.76 0.74 1.60 India 0.08 0.99 0.50 0.25
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
9
Kinerja ekspor Kepulauan Riau pada bulan Februari 2008 menunjukkan penurunan yang signifikan dibanding akhir tahun 2007. Ekspor Februari 2008 tercatat turun sebesar -10,92% dibanding Februari 2007 (yoy) menjadi US$ 493 milyar. Sedangkan pada akhir tahun (tw.IV-2007), nilai ekspor mengalami peningkatan 24,10% dibanding periode yang sama tahun 2007 (yoy). Dibanding posisi Desember 2007, ekspor produk logam dasar dan olahan pada bulan Februari 2008 mencapai US$ 75 juta, diikuti penurunan ekspor elektronik sebesar US$ 30 juta dan perlengkapan kantor sekitar US$ 19 juta.
Sementara itu, laju pertumbuhan (yoy) impor bulan Februari 2008 juga relatif menurun dari 14,1% pada Februari 2007 menjadi 7,8%. Penurunan terbesar terjadi pada produk perlengkapan transportasi serta produk elektronik seperti televisi, radio dan perangkat komunikasi. 0 100,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000 600,000,000 700,000,000 800,000,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 2007 2008 -20% 0% 20% 40% 60% 80% 100% Total Nilai Ekspor
Pertumbuhan (yoy)
Grafik 1.18 – Pertumbuhan Ekspor Kepri
Sumber : BI - DSM 0 100,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000 600,000,000 700,000,000 800,000,000 900,000,000 1,000,000,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 2007 2008 -60% -40% -20% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% 140% Nilai Impor Pertumbuhan
Grafik 1.19 – Pertumbuhan Impor Kepri
Sumber : BI - DSM 0 20,000,000 40,000,000 60,000,000 80,000,000 100,000,000 120,000,000 140,000,000 160,000,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 2006 2 0 0 7 2 0 0 8
Produk Logam Dasar Produk Mesin & Peralatan Produk Perlengkapan Kantor Produk Mesin Elektrik Produk Radio, Tv & Alat Komunikasi
Grafik 1.16 – Perkembangan Nilai Ekspor Produk Utama
Sumber : BI - DSM 0 50,000,000 100,000,000 150,000,000 200,000,000 250,000,000 300,000,000 350,000,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 2006 2007 2008
Produk Logam Dasar Produk Mesin & Peralatan Produk Perlengkapan Kantor Produk Mesin Elektrik Produk Radio, Tv & Alat Komunikasi
Grafik 1.17 – Perkembangan Nilai Impor Produk Utama
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
10
Menurunnya kinerja perdagangan Kepuluauan Riau diduga merupakan efek tidak langsung dari perlambatan ekonomi Amerika Serikat yang berimbas terhadap perekonomian secara global.
Berdasarkan grafik 1.17 dapat terlihat bahwa dampak langsung perlambatan ekonomi Amerika Serikat terhadap penurunan kinerja ekspor Kepulauan Riau sangat kecil, namun menjadi leading penurunan ekspor secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena share ekspor ke Amerika Serikat tidak mencapai 5%, dan mampu dikompensir oleh peningkatan peran intraregional Asia dan Australia. Namun demikian, dampak tidak langsung (second round effect) melambatnya perekonomian Singapura sangat mempengaruhi penurunan ekspor sejak bulan Desember 2007, karena Batam termasuk dalam isi substansial kerjasama Singapura dengan Amerika Serikat dalam Singapore-America Free Trade Agreement (FTA). Hasil asesment menunjukkan bahwa peran Australia, Cina dan India semakin besar dalam mempengaruhi kinerja perdagangan ekspor Kepulauan Riau.
1.3. SISI PENAWARAN
Respon dari sisi penawaran ditunjukkan dengan pertumbuhan positif hampir seluruh sektor ekonomi di Kepulauan Riau, kecuali sektor Pertambangan yang mencatat pertumbuhan negatif. Sebagai daerah industri, sektor Industri Pengolahan sangat berkontribusi terhadap pembentukan PDRB Kepulauan Riau. Di samping itu, keunggulan komparatif faktor lokasi yang berdekatan dengan negara Singapura dan Malaysia menjadikan sektor Perdagangan dan Jasa-jasa semakin berkontribusi terhadap perekonomian.
Grafik 1.20 – Perkembangan Ekspor ke Negara G3
Sumber : BI - DSM 0 200,000,000 400,000,000 600,000,000 800,000,000
Jan'06 Mei'06 Sep'07 Jan'08
0 10,000,000 20,000,000 30,000,000 40,000,000 Total Ekspor AS Euro Japang 0 100,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000 600,000,000 700,000,000
Jan'06 Mei'06 Sep'07 Jan'08
0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000 30,000,000 35,000,000 40,000,000 45,000,000 Total Ekspor Singapore
Hongkong (RHS) China (RHS) India (RHS)
Grafik 1.21 – Perkembangan Ekspor ke Asia
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
11
Secara sektoral, struktur perekonomian provinsi Kepuluan Riau pada tw.I-2008 masih didominasi oleh sektor Industri Pengolahan, Pertambangan, dan Perdagangan. Namun demikian, kontribusi sektor Industri Pengolahan dan Pertambangan dalam pembentukan PDRB semakin kecil. Di lain pihak, peran sektor Perdagangan, Bangunan, Listrik, Pengangkutan, Keuangan dan Jasa-jasa semakin penting terhadap perekonomian Kepulauan Riau. Sedangkan sumbangan ekonomi yang diberikan oleh sektor Pertanian cenderung berfluktuatif dan stagnan.
Fenomena yang menarik adalah terjadinya shifting sektor Bangunan, sehingga perannya terhadap pembentukan PDRB lebih besar dari sektor Keuangan, Pengangkutan dan Pertanian. Kondisi ini tidak terlepas dari perkembangan bisnis properti dan bertumbuhnya proyek-proyek konstruksi sejalan dengan pertumbuhan investasi. Sejak tw.I-2007, sektor Bangunan mencatat tingkat pertumbuhan tertinggi, dimana pada tw.I-2008 tumbuh sebesar 45,93% (yoy).
Tabel 1.5 – Laju Pertumbuhan Ekonomi Tahunan Kepulauan Riau (harga konstan 2000)
Sumber : BPS, diolah
2008
Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I
Pertanian 6.02 7.99 3.98 3.81 1.76 3.45 5.46 9.07 9.84
Pertambangan & Penggalian 1.14 2.44 0.71 2.65 1.18 0.11 -2.42 -3.06 -1.74
Industri Pengolahan 8.15 7.37 7.04 4.75 6.63 4.53 5.86 6.35 4.03
Listrik, Gas & Air Bersih 145.77 143.55 150.21 142.98 4.36 3.36 6.07 9.06 13.49
Bangunan 11.32 13.58 10.04 9.76 17.54 19.59 32.31 46.12 45.93
Perdagangan, Hotel & Restoran 3.05 2.52 2.49 5.70 7.67 10.36 12.96 18.10 23.54 Pengangkutan & Komunikasi 15.25 13.98 10.52 9.19 8.54 9.50 11.36 15.32 18.56 Keuangan, Persewaan & Jasa P'an 6.71 9.82 8.82 7.17 7.54 8.63 10.12 11.51 11.69
Jasa-jasa 4.27 5.05 6.56 7.61 9.81 11.02 12.88 19.16 21.64
PDRB 7.64 7.44 6.68 5.43 6.57 5.55 7.11 8.75 8.05
2006 2007
Lapangan Usaha
Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Tw.I-2008
Pertanian 4.32 4.74 5.14 5.42 5.49 5.32 5.13 4.98 4.93
Pertambangan & Penggalian 20.17 13.62 9.83 8.34 9.68 9.95 10.53 9.75 9.41 Industri Pengolahan 56.97 62.90 64.51 63.01 61.18 60.68 59.95 59.13 57.31 Listrik, Gas & Air Bersih 0.20 0.24 0.27 0.35 0.32 0.31 0.54 0.55 0.56
Bangunan 2.31 2.59 2.94 3.23 3.64 3.77 4.15 5.12 5.89
Perdagangan, Hotel & Restoran 6.84 7.21 7.76 7.85 8.45 8.34 7.91 8.18 9.00 Pengangkutan & Komunikasi 2.73 3.00 3.35 4.47 3.77 3.84 4.01 4.27 4.56 Keuangan, Persewaan & Jasa P'an 4.78 3.81 4.16 5.24 5.31 5.51 5.45 5.51 5.57
Jasa-jasa 1.68 1.88 2.05 2.09 2.15 2.26 2.33 2.52 2.76
Tabel 1.6 – Sumbangan Ekonomi Sektoral (harga berlaku)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
12
a. Sektor Industri PengolahanSektor Industri Pengolahan tumbuh 4,03% (yoy) lebih rendah dibanding pertumbuhan pada tw.IV-2007 sebesar 6,35% (yoy), disebabkan oleh pertumbuhan negatif sub-sektor Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya serta sub-sektor Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki. Sektor Industri Pengolahan sangat berperan penting dalam perekonomian Kepulauan Riau, dimana sumbangannya secara sektoral mencapai 57,31% pada tw.I-2008.
Tumbuhnya sektor ini tidak terlepas dari meningkatnya investasi terutama investasi PMA yang mengalir ke wilayah Kepulauan Riau. Meningkatnya konsumsi listrik sebagai energi vital selain BBM, dapat memberikan gambaran bertumbuhnya sektor ini.
0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 350,000 400,000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 0 50 100 150 200 250 Konsumsi listrik Industri MWh (LHS)
Jumlah pelanggan Industri (RHS)
Grafik 1.24 – Konsumsi Listrik Industri
Sumber : PT. PLN Batam
-60 -50 -40 -30 -20 -10 0 10 20 3 0
Makanan, Minuman dan Tembakau Tekstil, Brg. Kulit & Alas kaki Brg. Kayu & Hasil Hutan lainnya Kertas dan Barang Cetakan Pupuk, Kimia & Brg. dari Karet Semen & Brg. Galian bukan logam Logam Dasar Besi & Baja Alat Angk., Mesin & Peralatannya
Grafik 1.23 – Pertumbuhan Sub-Sektor Industri Pengolahan Tw.I-2008 (y-o-y)
Sumber : BPS, diolah
Grafik 1.22 – Pertumbuhan Sektoral Tw.I-2008 (y-o-y)
Sumber : BPS, diolah - 1 . 7 4 % 4 5 . 9 3 % 4 . 0 3 % 1 3 . 4 9 % 2 3 . 5 4 % 1 8 . 5 6 % 1 1 . 6 9 % 2 1 . 6 4 % 9 . 8 4 % P e r t a n i a n P e r t a m b a n g a n I n d u s t r i L G A B a n g u n a n P e r d a g a n g a n P e n g a n g k u t a n K e u a n g a n J a s a - j a s a
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
13
Pertumbuhan negatif sub-sektor Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya sebesar 0,3% (yoy) sangat mempengaruhi perlambatan sektor Industri, mengingat kontribusinya bagi sektor Industri Pengolahan mencapai 62%. Seperti yang digambarkan pada grafik 1.14 sebelumnya bahwa terjadi penurunan kinerja 5 produk ekspor utama pada bulan Januari dan Februari 2008, dimana selain produk logam dasar adalah bagian dari sub-sektor dimaksud.
Menurunnya kinerja sub-sektor Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki dikonfirmasi oleh penurunan kinerja ekspor dan impor produk-produk tersebut. Seperti yang terlihat pada grafik 1.22, impor Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki turun signifikan pada bulan Januari dan Februari 2008.
Secara garis besar, kegiatan sektor Industri di Kepulauan Riau dilakukan di Kawasan Industri (60%) dan Luar Kawasan Industri (40%). Adapun Kawasan Industri didominasi oleh PMA dengan skala menengah-besar yang banyak menyerap tenaga kerja
dan berorientasi ekspor. Sementara di luar Kawasan Industri sebagian besar adalah
UMKM dengan penyerapan tenaga kerja relatif sedikit dan lebih berorientasi lokal. Dari sisi pembiayaan perbankan, industri skala besar cenderung memperoleh fasilitas kredit dari luar negeri atau negara asal perusahaan. Sedangkan kebutuhan pembiayaan industri UMKM biasanya dipenuhi oleh perbankan daerah. Meski pertumbuhan industri besar cenderung melambat pada tw.I-2008, namun industri UMKM diperkirakan mengalami pertumbuhan positif dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya. Asesmen tersebut didasarkan pada indikator kredit industri perbankan Kepulauan Riau yang memperlihatkan tren meningkat.
0 2,000,000 4,000,000 6,000,000 8,000,000 10,000,000 12,000,000 14,000,000 16,000,000 18,000,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 2006 2007 2008 0 200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 1,400,000 Produk Tekstil Produk Kulit Produk Alas Kaki
Grafik 1.25 – Ekspor Tekstil, Kulit & Alas Kaki Grafik 1.26 – Impor Tekstil, Kulit & Alas Kaki
Sumber : BI - DSM Sumber : BI - DSM 0 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 3,000,000 3,500,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 2006 2 0 0 7 2008 Produk Kulit Produk Tekstil Produk Alas Kaki
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
14
Melambatnya kinerja sektor Industri diduga selain akibat penurunan permintaan Singapura, juga dipengaruhi oleh kondisi politik regional isu Free Trade Zone (FTZ) yang masih belum dapat terlaksana akibat permasalahan struktural yang belum disetujui oleh pemerintah pusat.
b. Sektor Bangunan
Sektor Bangunan mencatat pertumbuhan tertinggi dalam satu tahun terakhir, dimana pada tw.I-2008 tumbuh 45,93% (yoy) meski relatif melambat dibanding tw.IV-2007 yang tumbuh 46,12% (yoy). Akselerasi sektor bangunan dalam satu tahun terakhir selain dihasilkan dari booming industri properti terutama perumahan skala kecil-menengah dan rumah toko (ruko), juga terkait pertumbuhan proyek konstruksi swasta dan pemerintah. Melambatnya pertumbuhan pada tw.I-2008 diduga disebabkan karena terkendalanya distribusi semen merek Semen Padang akibat kerusakan kapal pengangku, serta terhambatnya penyelesaian beberapa proyek pemerintah.
Tertahannya pertumbuhan sektor bangunan dikonfirmasi oleh penurunan volume penjualan semen di Kepulauan Riau pada bulan Januari dan Februari, namun kembali meningkat pada bulan Maret 2008 dan mencatat angka penjualan tertinggi dengan total penjualan sebanyak 69,865 ton atau meningkat 35,32% (yoy) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Indikator lainnya yang menggambarkan melambatnya aktivitas sektor bangunan adalah penurunan impor produk logam dasar seperti besi dan baja, produk kayu, serta perabotan seperti yang terlihat pada grafik 1.28 berikut ini. Komponen bangunan,
Grafik 1.27 – Penyaluran Kredit Sektor Industri
Sumber : BI Batam 0 200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 -30 -20 -10 0 10 2 0 3 0 4 0 5 0 6 0 7 0 8 0 Kredit Industri (juta) Pertumbuhan (%)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
15
terutama besi dan baja merupakan produk yang paling banyak diimpor dari luar negeri khususnya Singapura.
Dari sisi pembiayaan, perbankan di wilayah Kepulauan Riau masih cenderung kurang berminat untuk membiayai sektor properti, terutama sejak bisnis properti mengalami slowdown sejak tahun 2005. Kondisi ini terlihat dari pembiayaan kredit konstruksi yang memasuki fase terendah sejak tahun 2006, meski mulai menunjukkan tren meningkat pada tahun 2008. Untuk merespon booming-nya kembali sektor properti pada tahun 2007, perbankan menyalurkan kreditnya kepada end-user dalam bentuk kredit investasi dan konsumsi (KPR) seperti yang dikonfirmasi oleh indikator kredit konstruksi dan kredit investasi berikut ini.
0 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 -20 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 Kredit Investasi (juta)
Pertumbuhan (%)
Sumber : BI Batam
Grafik 1.30 – Perkembangan Kredit Konstruksi
Sumber : BI Batam
Grafik 1.31 – Perkembangan Kredit Investasi
0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 -50 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 Kredit Konstruksi (juta)
Pertumbuhan (%)
Grafik 1.28 – Perkembangan Penjualan Semen
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia Sumber : BI - DSM
-10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 2005 2006 2007 2008 -30% -20% -10% 0% 10% 20% 30% 40% 50% Vol Penjualan Semen (ton)
Pertumbuhan (%) 0 50,000,000 100,000,000 150,000,000 200,000,000 250,000,000 300,000,000 2006 2007 2008 0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000 30,000,000 Produk Besi & Baja
Produk Kayu Produk Perabot/Furniture
Grafik 1.29 – Perkembangan Impor Produk Besi, Baja, Kayu & Furniture
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
16
0 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 3,000,000 3,500,000 4,000,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0 10 20 30 40 50 60 Kredit Konsumsi (juta)Pertumbuhan (%)
c. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran terus berakselerasi sejak ditetapkannya Batam sebagai kota MICE (Meeting, Incentive, Conference and Exhibition) pada tahun 2007, dimana pada triwulan laporan tumbuh 23,54% (yoy). Sub-sektor Perdagangan besar dan eceran memberi kontribusi dominan dengan tingkat pertumbuhan tw.I-2008 sebesar 22,78%. Meski demikian perumbuhan tertinggi terjadi pada sub-sektor Restoran yakni sebesar 28,6% diikuti sub-sektor Hotel yang meningkat 27,37% dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya (yoy).
Sumber : BI Batam
Grafik 1.32 – Perkembangan Kredit Konsumsi
0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% I II III IV I II III IV I 2006 2007 2008*
Perdagangan Besar & Eceran Hotel
Restoran
Grafik 1.33 – Pertumbuhan (y-o-y) Sub-sektor Perdagangan, Hotel & Restoran
Sumber : BPS Sumber : BPS, diolah
Grafik 1.34 – Tingkat Hunian Hotel Berbintang di Kepulauan Riau 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% Tingkat Hunian 50.3 51.18 53.6 48.7 46.8 48.5 46.5 48.7 48.2 49.51 48.7 56.4 40.7 84.3 Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
17
Tingginya aktivitas di sektor perdagangan, hotel dan restoran dikonfirmasi oleh indikator jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Kepulauan Riau melalui bandara Hang Nadim, serta rata-rata tingkat hunian hotel berbintang (occupancy rate) di Kepulauan Riau.
Jumlah wisatawan domestik dan mancanegara tahun 2007 mengalami lonjakan mencapai 32,6% dibanding tahun 2006. Sedangkan jumlah wisatawan mancanegara s/d. Februari 2008 tercatat sebanyak 164.862 orang, atau meningkat 5,23% dibanding periode yang sama tahun 2007. Bandara Hang Nadim Batam merupakan pintu masuk wisatawan terbesar ketiga setelah Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta dengan pangsa sebesar 18,6% dari total wisatawan mancanegara pada bulan Februari 2008.
Rata-rata tingkat hunian hotel di Kepulauan Riau khususnya Batam meningkat signifikan pada bulan Februari 2008 saat perayan Imlek, dimana banyak wisatawan Singapura dan Malaysia yang berlibur ke Batam. Dari informasi yang diperoleh, tingkat hunian hampir seluruh hotel berbintang di Batam pada saat Imlek mencapai 100%.
0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1998 1999 2000 2 0 0 1 2002 2003 2 0 0 4 2005 2006 2 0 0 7 -30% -20% -10% 0% 10% 20% 30% 40% Jumlah Pengunjung (juta orang)
Pertumbuhan (%)
Sumber : BPS
Grafik 1.35 – Jumlah Wisatawan melalui Bandara Hang Nadim Batam
Tabel 1.7 – Jumlah Wisman berdasarkan Pintu Masuk Periode Jan-Feb (orang)
Sumber : BPS
Keterangan Jan-Feb.2007 Jan-Feb.2008
Soekarno-Hatta 166,913 192,643 Ngurah Rai 238,777 307,000 Polonia 16,977 16,903 Hang Nadim 156,662 164,862 Manado 2,146 2,255 Juanda 19,061 19,446 Entikong 2,416 2,656 Adi Sumarno 1,994 2,977 Minangkabau 3,650 4,088 Lainnya 163,291 171,561 Total 771,887 884,391 0 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0 20 40 60 80 100 120 Kredit Perdagangan, Hotel & Restoran (juta) Pertumbuhan (%)
Sumber : BI Batam
Grafik 1.36 – Perkembangan Penyaluran Kredit Perdagangan, Hotel & Restoran
-200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000
Jan Feb Mar 2005 2006 2 0 0 7 2008 -100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000 800,000 Perdagangan eceran (RHS) Distribusi (LHS) Restoran dan hotel (RHS)
Sumber : BI Batam
Grafik 1.37 –Penyaluran Kredit Perdagangan Eceran, Distribusi, Restotan & Hotel
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
18
Pertumbuhan pembiayaan perbankan pada sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran juga menunjukkan tren meningkat sejak tahun 2006, setelah sempat mengalami fase perlambatan mulai tahun 2003. Pertumbuhan kredit sektor ini sempat mencapai titik terendah pada awal tahun 2006 diduga merupakan dampak dicabutnya kembali hak khusus Batam sebagai kawasan perdagangan bebas pada tahun 2004. Aktivitas perdagangan dan pariwisata Provinsi Kepulauan Riau khususnya Batam mulai kembali bangkit pada semester II-2006.
Pembiayaan terbesar disalurkan kepada sub-sektor perdagangan eceran (52,5%) dan distribusi (22,(%), sedangkan pangsa kredit untuk sub-sektor hotel dan restoran sebesar 16,3%. Total pembiayaan perbankan Kepulauan Riau kepada sektor ini pada bulan Maret 2007 sebesar Rp 2,1 triliun, atau meningkat 28.89% (yoy) dibanding bulan Maret 2007.
d. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan secara konsisten mengalami percepatan hingga pada tw.I-2008 tercatat tumbuh 11,69% (yoy). Sektor Perbankan memiliki pangsa kredit dominan sebesar 67,3%, diikuti sub-sektor Sewa Bangunan dengan share 28,26%. Pertumbuhan sub-sektor Sewa Bangunan melambat menjadi 8,43% (yoy) pada tw.I-2008, sedangkan laju pertumbuhan sub-sektor lainnya mengalami percepatan baik dibanding tw.IV-2007 maupun triwulan yang sama tahun sebelumnya, sebagaimana tergambar pada indikator-indikator utama perbankan.
0% 5% 10% 15% 20% 25% I II III IV I II III IV I 2006 2007 2008 Bank
Lembaga Keuangan Non-Bank Sewa Bangunan Jasa Perusahaan
Sumber : BPS, diolah
Grafik 1.38 – Pertumbuhan per Sub-Sektor
(yoy) Grafik 1.39 –Konsumsi Listrik Usaha/Bisnis
Sumber : PT.PLN Batam Batam 0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 350,000 400,000 450,000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 -10% -5% 0% 5% 10% 15% 20% Konsumsi listrik Usaha/Bisnis MWh
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
19
Sub-sektor Bank meningkat (yoy) 12,95% pada tw.I-2008, sedikit lebih tinggi dibanding peningkatan pada tw.IV-2007 sebesar 12,52%. Tertahannya peningkatan kinerja industri Perbankan disebabkan oleh menurunnya laju pertumbuhan DPK dan Asset. Hal ini diduga terkait dengan sikap pengusaha yang cenderung wait and see terhadap penundaan pemberlakuan kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas (free trade zone ) di kota Batam, Bintan dan Karimun. Keadaan tersebut dikonfirmasi oleh menurunnya laju pertumbuhan kredit kepada sektor Jasa Dunia Usaha, meski mulai berakselerasi memasuki tahun 2008. Secara keseluruhan, peningkatan kinerja perbankan sangat ditentukan oleh pertumbuhan kredit yang diimbangi dengan penurunan jumlah kredit bermasalah (NPL). 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Asset DPK Kredit Sumber : BI Batam
Grafik 1.42 – Pertumbuhan Aset, DPK & Kredit Perbankan
0 200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0 20 40 60 80 100 120 Kredit Jasa Dunia Usaha (juta)
Pertumbuhan (%)
Sumber : BI Batam
Grafik 1.40 – Perkembangan LDR&NPL Perbankan
Sumber : BI Batam
Grafik 1.41 – Penyaluran Kredit Jasa Dunia Usaha
0% 1% 2% 3% 4% 5% 6% 7% 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% NPL (LHS) LDR (RHS)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
20
e. Sektor Pengangkutan dan KomunikasiSektor Pengangkutan dan Komunikasi tumbuh (yoy) 18,56% melebihi pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 15,32%, disebabkan meningkatnya mobilitas barang dan penduduk saat perayaan Imlek. Selain kembali ke daerah asalnya, sebagian penduduk juga merayakan liburan di Singapura atau Malaysia.
Tingginya aktivitas barang/jasa dan penduduk juga dibarengi dengan meningkatnya kebutuhan terhadap komunikasi seperti yang dikonfirmasi pada indikator lalu lintas kapal dan barang di pelabuhan laut Batu Ampar Batam, lalu lintas pesawat di Bandara Hang Nadim Batam serta jumlah pelanggan telepon fixed-line.
0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000 18,000 9 6 97 98 99 00 01 02 03 04 05 06 07 -20% -10% 0% 10% 20% 30% 40% pesawat pertumbuhan -500,000 500,000 1,500,000 2,500,000 3,500,000 4,500,000 9 5 96 97 98 99 00 0 1 0 2 0 3 0 4 0 5 0 6 0 7 ( t o n ) Muat Bongkar
Sumber : Kantor BPP Laut Batu Ampar
Grafik 1.43 – Perkembangan Lalu Lintas Kapal Grafik 1.44 – Perkembangan Lalu Lintas Barang
Grafik 1.45 – Perkembangan Lalu Lintas Pesawat
0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 140,000 9 6 9 7 9 8 99 00 01 02 03 04 0 5 0 6 0 7 -10% -5% 0 % 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% Jumlah Kapal pertumbuhan
Sumber : Kantor BPP Laut Batu Ampar
Sumber : Kantor BPP Laut Batu Ampar
0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 140,000 96 97 98 9 9 00 01 02 03 0 4 0 5 06 - 2 0 % 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% 140% 160% Jumlah Langganan Pertumbuhan
Sumber : Telkom Batam
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
21
Sementara di sisi pembiayaan, kinerja penyaluran kredit kepada sektor pengangkutan menunjukkan tren menurun disebabkan oleh turunnya outstanding kredit sub-sektor pengangkutan umum akibat adanya pelunasan plafon salah satu kreditur di Bank Syariah Mandiri. Sementara posisi kredit sub-sektor biro perjalanan, pergudangan dan komunikasi terus meningkat akibat tingginya aktivitas barang dan jasa ke dan antar wilayah Kepulauan Riau.
f. Sektor Pertambangan dan Penggalian
Sektor Pertambangan dan Penggalian tercatat sebagai satu-satunya sektor yang mengalami pertumbuhan negatif (yoy), dimana pada tw.I-2008 tumbuh -1,74% sedikit membaik dibanding tw.IV-2007 yang tumbuh -3,06%. Keadaan ini disebabkan oleh menurunnya realisasi produksi minyak akibat masalah teknis penggantian peralatan miliki Conoco Phillips di Lapangan Belanak, Natuna. Penggantian peralatan disebabkan kesalahan estimasi kandungan mercuri di lapangan tersebut dimana pada awalnya diperkirakan hanya 54 part per billion (ppb) ternyata mencapai 1.200 ppb. Kesalahan tersebut mengakibatkan produksi minyak Lapangan Belanak turun hampir 50% atau sekitar 10.000-15.000 barel per hari dari target produksi 30.000 barel per hari. Di samping itu, penertiban beberapa areal tambang yang menimbulkan dampak kerusakan lingkungan sejak tahun 2007 masih berpengaruh terhadap melambatnya kinerja sub-sektor Penggalian.
Sub-sektor pertambangan Minyak dan Gas Bumi yang berkontribusi 83,1% terhadap total PDRB sektor Pertambangan dan Penggalian melambat 2,62%
0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 -20 0 20 40 60 80 100 120 140 Kredit Pengangkutan (juta)
Pertumbuhan (%)
Sumber : BI Batam
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
22
dibandingkan tw.I-2007. Sedangkan sub-sektor Pertambangan tana Migas dan Penggalian masing-masing mencatat pertumbuhan 3,97% dan 1,07%.
Adapun daerah yang memberikan kontribusi bagi hasil migas untuk perekonomian Kepulauan Riau adalah Kabupaten Natuna. Di sebelah barat terdapat tambang Gas Alam yang sangat besar yang dikelola oleh Conoco Philips dan Star Energy, sedangkan di sebelah timur terdapat potensi minyak bumi yang akan dieksplorasi oleh Pertamina.
Berdasarkan data Dinas Pertambangan Provinsi Kepulauan yang dirilis oleh BPS, jenis bahan tambang/galian bauksit dihasilkan oleh kabupaten Bintan, Karimun dan kota Tanjung Pinang. Sedangkan pertambangan timah terdapat di kabupaten Karimun dan Lingga. Di samping itu, masih terdapat potensi pertambangan granit yang cukup besar di kabupaten Bintan, seperti yang terlihat pada tabel 1.8 berikut ini.
Tabel 1.8 – Luas Areal & Jumlah Perusahaan Pertambangan Non Migas di Kepulauan Riau Tahun 2005-2006
Bauksit Timah Batu Besi Granit Pasir Darat
Kabupaten/Kota Luas (ha) Jumlah Prshn Luas (ha) Jumlah Prshn Luas (ha) Jumlah Prshn Luas (ha) Jumlah Prshn Luas (ha) Jumlah Prshn 1. Karimun 16.0 00 2 37.847 1 - - 446 11 630 13 2. Bintan 22.3 22 12 - - - - 4.533 5 576 14 3. Natuna - - - - 4. Lingga - 1 39.135 3 43 1 50 1 - - 5. Batam - - - - 6. Tanjung Pinang 2.25 0 5 - - - - Total 40.5 72 20 76.982 4 43 1 5.029 17 1.206 27
Sumber : Badan Pusat Statistik
Melambatnya kinerja sektor Pertambangan dan Penggalian dikonfirmasi oleh turunnya outstanding kredit sektor Pertambangan, terutama pada sub-sektor pertambangan Bijih Logam atau bauksit. Posisi kredit pertambangan Bijih Logam pada bulan Maret 2008 turun Rp 10,2 milyar (27,8%) dibanding posisi bulan sebelumnya menjadi Rp 26,4 milyar. Di samping itu, kredit pertambangan Migas tercatat menurun Rp 9,1 milyar (20,7%) menjadi Rp 34,6 milyar pada posisi Maret 2008.
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
23
g. Sektor PertanianLaju pertumbuhan sektor Pertanian secara konsisten terus meningkat sejak tw.I-2007, dimana pada tw.I-2008 tumbuh (yoy) 9,84% lebih tinggi dibanding pertumbuhan tw.IV-2007 sebesar 9,07%. Akselerasi dihasilkan dari terus meningkatnya pertumbuhan sub-sektor Perikanan yang semakin berperan dalam pembentukan PDRB Provinsi Kepulauan Riau. Sebaliknya, sub-sektor Tanaman Bahan Makanan, Tanaman Perkebunan dan Peternakan mengalami perlambatan dibanding tw.I-2007.
Penurunan kinerja sub-sektor Tanaman Bahan Makanan dan Tanaman Perkebunan diduga merupakan efek dari turunnya luas panen lahan sayur-sayuran dan produksi buah-buahan serta tanaman palawija akibat berlanjutnya musim pengujan di awal tahun 2008, seperti yang digambarkan oleh indikator luas panen dan produksi tanaman buah-buahan, sayur-sayuran serta palawija di kota Batam.
Grafik 1.49 – Pertumbuhan per Sub-Sektor
-50% 0% 50% 100% 150% 200% 250% 300% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 2007 2008 Tanaman pangan Tanaman Perkebunan Perikanan Peternakan Sumber : BPS 0 100 2 0 0 3 0 0 4 0 0 500 6 0 0 700 8 0 0 2 0 0 2 2003 2004 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 ha 0 500 1000 1500 2 0 0 0 2500 3 0 0 0 t o n
Luas Panen Tanaman Buah-Buahan (ha)
Produksi Tanaman Buah-buahan (ton)
Grafik 1.50 – Luas Panen & Produksi Buah-Buahan
Sumber : Dinas Kelautan, Perikanan dan Pertanian Kota Batam
Grafik 1.48 – Penyaluran Kredit Sektor Pertambangan
-10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 2006 2007 2008 ( R p j u t a )
Minyak dan gas bumi Bijih logam Pertambangan Lainnya
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
24
Sedangkan sub-sektor Perikanan pada tw.I-2008 mengalami pertumbuhan 12,62% (yoy), lebih tinggi dibanding tw.IV-2007 yang tumbuh 7,56% (yoy). Kemajuan industri perikanan tidak terlepas dari usaha dan perhatian pemerintah daerah untuk menjadikan sektor ini sebagai competitive advantage provinsi Kepulauan Riau sebagai wilayah perairan. Akselerasi sektor perikanan mampu dikonfirmasi oleh indikator luas panen dan produksi perikanan di kota Batam, dimana hasil produksi Januari-Agustus 2007 telah melampaui hasil produksi Januari-Desember 2006, dengan peningkatan sebesar 2% menjadi 32 juta ton, dengan nilai produksi periode yang sama meningkat 12,2% menjadi Rp 83 milyar.
Sementara dari sisi pembiayaan tidak mampu menggambarkan kinerja sektor Pertanian, dimana pertumbuhan kredit untuk Pertanian cenderung turun. Resistensi
0 50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0 20 40 60 80 100 120 Kredit Pertanian (juta)
Pertumbuhan (%) 0 3000 6000 9000 12000 15000 18000 21000 24000 27000 30000 33000 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007* ha 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 90000 100000 110000 120000 130000 140000 150000 160000 t o n
Produksi Perikanan (ton) Nilai Produksi Perikanan (Rp juta)
Grafik 1.51 – Luas Panen & Produksi Perikanan Grafik 1.52 – Penyaluran Kredit Pertanian
Sumber : BI Batam Sumber : Dinas Kelautan, Perikanan dan Pertanian Kota Batam
*) s/d. Agustus 2007
Grafik 1.52 – Luas Panen & Produksi Palawija
Sumber : Dinas Kelautan, Perikanan dan Pertanian Kota Batam
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 2 0 0 2 2 0 0 3 2004 2005 2006 2007 ha 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 t o n
Luas Panen Tanaman Sayuran (ha) Produksi Tanaman Sayuran (ton)
0 50 100 150 200 250 300 350 400 2002 2003 2004 2005 2006 2007 ha 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 t o n
Luas Panen Tanaman Palawija (ha) Produksi Tanaman Palawija (ton) Grafik 1.51 – Luas Panen & Produksi Sayuran
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
25
perbankan dalam melakukan pembiayaan ke sektor ini tampaknya masih berlanjut disebabkan sangat bergantungnya industri tersebut pada faktor alam.
h. Sektor Jasa - Jasa
Sektor Jasa-jasa semakin berperan penting dalam pembangunan ekonomi Kepulauan Riau, dimana pada tw.I-2008 mengalami pertumbuhan (yoy) sebesar 21,64%, lebih berakselerasi dibanding tw.IV-2007 yang mencatat peningkatan sebesar 19,16%. Pencanangan tahun pariwisata dengan menjadikan Batam sebagai koa MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) mampu meningkatkan pendapatan yang diperoleh dari industri jasa, terutama terkait dengan sarana publik dan aktivitas hiburan.
Program pemerintah daerah kota Batam dalam menata kembali sumber-sumber penerimaan publiknya antara lain dengan menaikkan pajak bandara dan pelabuhan laut memberi kontribusi positif terhadap kinerja sub-sektor Jasa Pemerintahan Umum yang pada tw.I-2008 mengalami pertumbuhan (yoy) 26,95% dibanding triwulan sebelumnya sebesar 24,17%.
Sedangkan meningkatnya pendapatan yang dihasilkan industri jasa swasta dihasilkan oleh sub-sektor Hiburan dan Rekreasi dari 22,25% pada tw.IV-2007 manjadi 27,54% pada triwulan laporan. Peningkatan aktivitas jasa swasta sejalan dengan pertumbuhan pembiayaan perbankan terhadap sektor tersebut.
Sumber : BPS, diolah
Grafik 1.56 – Penyaluran Kredit Sektor Jasa Lainnya
0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 80,000 90,000 100,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 -100 -50 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 Kredit Jasa Lainnya (juta)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
26
i. Sektor Listrik, Gas dan Air BersihSebagai provinsi yang baru berkembang, kebutuhan masyarakat terhadap sarana publik relatif tinggi, sehingga memberikan pengaruh positif terhadap kinerja sektor Listrik, Gas dan Air Bersih dimana pada tw.I-2008 tumbuh (yoy) 13,49%, di atas petumbuhan tw.IV-2007 sebesar 9,06%. Kinerja sektor ini sangat ditentukan oleh persetujuan pemerintah Pusat dan Daerah dalam hal penentuan tarif dasar yang dibebankan kepada masyarakat.
Khusus di kota Batam, sistem pengelolaan sarana Listrik dan Air Bersih memiliki perbedaan dengan beberapa daerah di Indonesia. Sejak awal tahun 2006, pengelolaan kelistrikan oleh PT. PLN Batam dilakukan melalui kerja sama jual-beli tenaga listrik dengan Independend Power Plant (IPP) yang dikelola swasta. Komposisi supply tenaga listrik di kota Batam dilakukan oleh mesin pembangkit PT. PLN Batam sebesar 27%, sedangkan sisanya dipenuhi oleh IPP. Adapun kebutuhan energi mesin pembangkit sebagian besar menggunakan bahan bakar Gas (85%) dan sisanya (15%) menggunakan bahan bakar Diesel. Kondisi ini dikonfirmasi oleh pertumbuhan sub-sektor Gas yang selalu konvergen dengan sub-sektor Listrik, seperti yang terlihat pada tabel berikut ini.
Pertumbuhan sub-sektor Gas pada tw.I-2008 meningkat signifikan dari 8,58% pada tw.IV-2007 menjadi 14,19%, melebihi pertumbuhan sub-sektor Listrik yang meningkat dari 10,44% menjadi 13,53%. Tingginya pendapatan pada sektor Gas lebih disebabkan oleh kenaikan harga jual Gas Industri yang telah disetujui pemerintah pada akhir tahun 2007, dari US$3,38/MMBTU menjadi US$ 5,69/MMBTU. Di sisi lain, tarif
Sumber : BPS
Grafik 1.53 – Pertumbuhan Sub-Sektor Listrik, Gas & Air Bersih
0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16% I II III IV I II III IV I 2006 2007 2008 Listrik Gas Air Bersih
Sumber : PT. PLN Batam, diolah
Grafik 1.54 – Perkembangan Penjualan Listrik & Total Pelanggan PT. PLN Batam
0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000 160000 180000 200000
? ? ? ? ? ? ? Jan Feb Mar
2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 Total Pelanggan (RHS) Total Penjualan MWh (LHS)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
27
dasar listrik PT.PLN Batam belum mengalami kenaikan pada periode yang sama. Adapun PT.PLN Batam baru mengusulkan kenaikan tarif sebesar 12% pada bulan Maret 2008 yang masih dalam proses pembahasan di tingkat pemerintah daerah.
Sementara itu, kebutuhan masyarakat kota Batam terhadap air bersih dikelola secara independen oleh PT. Adhya Tirta Batam. Sub-sektor Air Bersih mencatat pertumbuhan 7,92% pada triwulan laporan, meningkat dibandingkan tw.IV-2007 yang tumbuh sebesar 5,94%. Meningkatnya kinerja sub-sektor Air Bersih tidak terlepas dari perkembangan industri properti yang cukup ekspansif sejak tahun 2007.
Dari sisi pembiayaan, meningkatnya pertumbuhan kredit sektor Listrik, Gas dan Air Bersih cukup mengkonfirmasi kenaikan pendapatan yang diperoleh oleh sektor tersebut. Pembiayaan perbankan Kepulauan Riau pada posisi Maret 2008 sebesar Rp 22,6 milyar atau meningkat 452,8% dibanding posisi kredit bulan Maret 2007, lebih tinggi dibanding posisi Desember 2007 sebesar Rp 22,5 milyar atau tumbuh 364% terhadap posisi Desember 2006 (yoy).
Sumber : BI Batam
Grafik 1.55 – Perkembangan Kredit Sektor Listrik, Gas & Air Bersih
0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 ( R p j u t a ) -500 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 ( % )
Kredit Listrik, Gas & Air Bersih (juta) Pertumbuhan (%)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
28
Bab 2
Perkembangan Inflasi Regional
2.1. KONDISI UMUM
Laju inflasi Provinsi Kepulauan Riau yang diukur Kota Batam pada triwulan I-2008 mengalami peningkatan. Laju inflasi sampai dengan Maret 2008 tercatat sebesar 2,89% (ytd), lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2007 yang mencapai 1,42% (ytd). Sedangkan inflasi tahunan tercatat sebesar 6,41% (yoy) lebih rendah dibandingkan angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 8,17% (yoy). Tekanan inflasi yang cukup tinggi di awal tahun terutama disebabkan oleh pasokan barang kebutuhan pokok masyarakat mengalami gangguan.
GRAFIK 2.1 – PERKEMBANGAN LAJU INFLASI TAHUNAN BATAM & NASIONAL
9,85 9,10 5,16 8,34 8,30 6,88 8,87 6,46 6,63 12,54 4,58 5,35 5,26 6,41 6,20 5,11 6,83 6,27 6,40 8,81 7,40 9,06 6,52 6,59 8,17 4,84 7,69 5,41 5,76 6,83 11,68 7,46 6,95 14,55 17,11 5,77 5,06 6,83 7,12 15,53 15,74 6,6 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 16,00 18,00 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Persen
Kota Batam Nasional
2.2. INFLASI TRIWULANAN (qtq)
Secara triwulanan, laju inflasi Kota Batam juga mengalami peningkatan pada triwulan I 2008 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Jika pada triwulan IV 2007 laju inflasi kota Batam tercatat 1,56% (qtq) maka pada triwulan I 2008 laju inflasi Kota Batam tercatat sebesar 2,89% (qtq). Peningkatan laju inflasi ini disebabkan karena kenaikan harga pangan akibat kelangkaan pasokan dan distribusi yang terganggu akibat cuaca buruk.
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
29
-15,00 -10,00 -5,00 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2003 2004 2005 2006 2007 2008 UMUM / TOTAL BAHAN MAKANANMAKANAN JADI,MINUMAN,ROKOK & TEMBAKAU PERUMAHAN, AIR, LISTRIK, GAS & BHN BAKAR SANDANG
KESEHATAN
PENDIDIKAN, REKREASI DAN OLAHRAGA TRANSPOR, KOMUNIKASI & JASA KEUANGAN
Berdasarkan kontribusinya, kelompok bahan makanan masih merupakan penyumbang utama dalam pembentukan angka inflasi sampai dengan triwulan awal 2008 yang tercatat sebesar 1,85%. Sementara itu kelompok lain memberikan sumbangan inflasi secara total sebesar 0,96%, dimana kontributor utama adalah perumahan, air, listrik dan bahan bakar (0,45%) dan kelompok sandang (0,18%). Peningkatan sumbangan inflasi kelompok bahan makanan yang cukup signifikan pada triwulan laporan (0,97%) terutama disebabkan karena masalah pasokan kebutuhan bahan makanan ke Kota Batam yang terganggu di awal tahun 2008.
Tabel 2.1. Perkembangan Inflasi Triwulanan Kota Batam
Triwulan III-2007 Triwulan IV-2007 Triwulan I -2008
KELOMPOK
Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan
I Bahan Makanan 5,07 1,43 3,16 0,88 6,74 1,85
II Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,32 0,05 0,10 0,01 0,78 0,14 III Perumahan, Air, Listrik &
Bahan Bakar 0,86 0,22 0,91 0,22 1,82 0,45
IV Sandang 1,73 0,08 6,67 0,29 3,98 0,18
V Kesehatan 0,42 0,01 0,64 0,02 4,39 0,13
VI Pendidikan, Rekreasi &
Olahraga 9,85 0,35 0,23 0,01 0,75 0,03
VII Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan 0,16 0,03 0,54 0,09 0,15 0,03
INFLASI 2,14 1,56 2,89
Sumber : BPS (diolah)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
30
2.3. INFLASI BERDASARKAN KELOMPOK BARANGDilihat dari komoditasnya, penyumbang utama inflasi pada triwulan I 2008 masih didominasi dari kelompok makanan (food) antara lain minyak goreng, cabai merah, beras, kacang panjang, tongkol, mujair, sotong dan tahu mentah. Sedangkan penyumbang inflasi terbesar yang bukan berasal dari kelompok makanan (non food) antara lain emas perhiasan dan gas elpiji. Sementara itu, komoditas yang mengalami penurunan harga dan memberikan sumbangan deflasi yang sebagian besar berasal dari kelompok makanan (food) adalah bawang merah, bawang putih, jeruk, bayam, tomat sayur, selar, kentang, udang basah dan ikan kembung.
Tabel 2.2. 10 Komoditas Penyumbang Inflasi dan Deflasi Kota Batam
No. Komoditas Sumbangan Inflasi Komoditas Sumbangan Deflasi 1. Minyak Goreng 0,4717 28,82 Bawang Merah -0,1972 -24,94 2. Cabai Merah 0,3772 36,75 Bawang Putih -0,1397 -34,78
3. Beras 0,3526 7,78 Jeruk -0,0798 -11,98
4. Kacang Panjang 0,1563 4,87 Bayam -0,0690 -10,92 5. Tongkol 0,1519 59,18 Tomat Sayur -0,0426 -11,54 6. Emas & Perhiasan 0,1502 8,16 Selar -0,0241 -2,99 7. Mujair 0,1393 15,37 Kentang -0,0121 -4,41 8. Sotong 0,1318 31,67 Udang Basah -0,0033 -0,41 9. Tahu Mentah 0,1154 49,64 Kerang -0,0024 -2,00 10. Gas Elpiji 0,1094 17,85 Ikan Kembung -0,0018 -0,72
2.3.1. Kelompok Bahan Makanan
Kelompok bahan makanan pada triwulan I 2008 mengalami inflasi sebesar 6,74% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 1,85%. Sementara itu laju inflasi tahunan kelompok bahan makanan tercatat sebesar 12,94% (yoy). Berdasarkan sub kelompoknya inflasi tertinggi berasal dari inflasi sub kelompok kacang-kacangan sebesar 26,89% (qtq) dengan sumbangan inflasi 0,16% diikuti inflasi sub kelompok lemak dan minyak sebesar 24,91% (qtq) dengan sumbangan sebesar 0,52% dan sub kelompok padi-padian, umbi-umbian dan hasil-hasilnya sebesar 8,73% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,46%, terhadap pembentukan inflasi Kota Batam.
Berdasarkan komoditasnya, minyak goreng merupakan penyumbang terbesar pembentukan inflasi Kota Batam pada triwulan laporan yang menyumbang sebesar 0,47% disusul cabai merah dan beras masing-masing sebesar 0,37% dan 0,35%. Sedangkan
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
31
ditinjau dari perkembangan harga secara triwulanan, komoditas tongkol mengalami kenaikan sebesar 59,18% (qtq), tahu mentah mengalami kenaikan sebesar 49,64% (qtq) dan cabai merah mengalami kenaikan sebesar 36,75%(qtq).
Di sisi lain, komoditas bawang merah dan bawang putih merupakan penyumbang deflasi terbesar pada triwulan laporan dengan sumbangan masing-masing sebesar 0,20% dan 0,14%. Sedangkan pada peringkat ketiga penyumbang deflasi adalah komoditas jeruk dengan sumbangan sebesar 0,08%. Sedangkan ditinjau dari perkembangan harga secara triwulanan, komoditas bawang putih dan bawang merah mengalami kenaikan deflasi terbesar dengan kenaikan harga masing-masing sebesar 34,78% (qtq) dan 24,94% (qtq). Komoditas yang mengalami deflasi terbesar berikutnya adalah jeruk yang mengalami deflasi sebesar 11,98 (qtq).
Kenaikan harga untuk kelompok bahan makanan yang cukup tinggi pada triwulan I 2008 antara lain dipengaruhi oleh ketergantungan pasokan kebutuhan pokok dari luar daerah ke Kota Batam yang cukup tinggi. Terjadinya bencana banjir di Jawa Tengah, gelombang tinggi di perairan selat sunda, serta rusaknya infrastruktur jalan membuat arus distribusi komoditas tersebut tidak lancar yang berakibat pada kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok dari kelompok bahan makanan.
Grafik 2.3. Perkembangan Harga Komoditas Bahan Makanan Terpilih
-60,00 -40,00 -20,00 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2003 2004 2005 2006 2007 2008 BERAS MINYAK GORENG CABAI MERAH BAWANG MERAH BAWANG PUTIH
Jika dilihat dari trend perkembangan harga komoditas penyumbang inflasi terbesar, sampai dengan triwulan I 2008 harga beras terus melanjutkan trend peningkatan harga
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
32
sebagaimana yang telah terjadi pada triwulan sebelumnya. Sementara itu, harga minyak goreng yang triwulan sebelumnya sempat mengalami penurunan harga dan memberikan sumbangan deflasi yang cukup besar, pada triwulan laporan minyak goreng justru menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar dengan angka inflasi sebesar 28,82% dengan sumbangan sebesar 0,47%.
Sementara itu, bawang merah yang pada triwulan akhir 2007 menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan harga sebesar 76,41% (qtq) dan sumbangan inflasi sebesar 0,35%, pada triwulan awal 2008 justru menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan angka deflasi sebesar 24,94% (qtq) dengan sumbangan sebesar 0,19%. Penurunan harga bawang merah pada triwulan laporan salah satunya dipengaruhi oleh supply bawang merah yang cukup besar terkait dengan kenaikan harga yang terjadi pada triwulan sebelumnya.
2.3.2. Kelompok Makanan Jadi
Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan I 2008 mengalami inflasi triwulanan sebesar 0,78% (qtq) atau dengan laju inflasi tahunan sebesar 1,48% (yoy). Berdasarkan sub kelompoknya, inflasi tertinggi tercatat pada kelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 3,63% (qtq) dengan sumbangan 0,10% diikuti kelompok makanan jadi sebesar 0,42% (qtq) dengan sumbangan sebesar 0,04%.
Komoditas penyumbang inflasi terbesar pada kelompok ini adalah gula pasir dengan sumbangan inflasi sebesar 0,07% diikuti roti tawar dengan sumbangan inflasi sebesar 0,03% dan minuman ringan dengan sumbangan inflasi sebesar 0,02%. Adapun kenaikan harga yang dialami oleh ketiga komoditas tersebut masing-masing sebesar 9,24% (qtq), 13,93% (qtq), dan 8,25% (qtq).
2.3.3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar
Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada triwulan laporan mengalami inflasi triwulanan sebesar 1,82% (qtq) dengan laju inflasi tahunan sebesar 4,61% (yoy). Berdasarkan sub kelompoknya, inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga sebesar 5,57% (qtq) dengan sumbangan sebesar 0,11%, diikuti oleh sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air dengan inflasi sebesar 1,67% (qtq) dan sumbangan sebesar 0,12%.
Komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah gas elpiji dengan sumbangan inflasi sebesar 0,109%, diikuti oleh sabun detergen bubuk dengan sumbangan inflasi sebesar 0,059%, dan upah pembantu rumah tangga dengan sumbangan inflasi sebesar 0,043% dengan inflasi masing-masing sebesar 17,85% (qtq), 13,32% (qtq) dan 7,41% (qtq).
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
33
2.3.4. Kelompok SandangKelompok sandang pada triwulan I 2008 mengalami inflasi sebesar 3,98% (qtq) dengan laju inflasi tahunan sebesar 13,28% (yoy). Inflasi pada kelompok sandang pada triwulan laporan lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,67% (qtq). Berdasarkan sub kelompoknya, inflasi tertinggi tercatat pada sub kelompok barang pribadi dan sandang lainnya sebesar 12,81% (qtq) dengan sumbangan sebesar 0,150%, diikuti oleh sub kelompok sandang wanita dengan inflasi sebesar 1,83% (qtq) dan sumbangan sebesar 0,024%.
Sedangkan komoditas penyumbang inflasi terbesar adalah emas dan perhiasan sebesar 0,150% dengan inflasi sebesar 15,37% (qtq). Komoditas penyumbang inflasi terbesar berikutnya adalah celana dalam wanita yang memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,01% dengan laju inflasi sebesar 15,06% (qtq). Berdasarkan data BPS, peningkatan harga celana dalam wanita ini adalah yang pertama kali terjadi sejak mengalami kenaikan terakhir pada triwulan II tahun 2005 yang mengalami kenaikan harga sebesar 88,47% (qtq).
2.3.5. Kelompok Kesehatan
Laju inflasi pada kelompok kesehatan di Kota Batam pada triwulan I tahun 2008 sebesar 4,39% (qtq) dengan laju inflasi tahunan sebesar 6,46% (yoy). Inflasi kelompok kesehatan pada triwulan laporan lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,64% (qtq). Berdasarkan sub kelompoknya, inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok jasa kesehatan 13,91% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,087%. Sub kelompok penyumbang berikutnya adalah sub kelompok jasa perawatan jasmani dengan laju inflasi sebesar 3% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,007% yang diikuti oleh sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetika yang mengalami kenaikan harga sebesar 1,98% (qtq) dengan sumbangan sebesar 0,034%.
Sementara itu dari sisi komoditas, penyumbang inflasi terbesar adalah tarif rumah sakit dengan sumbangan sebesar 0,087% dengan inflasi sebesar 29,73% (qtq). Komoditas penyumbang inflasi berikutnya adalah pasta gigi dan sabun mandi dengan sumbangan inflasi masing-masing sebesar 0,010% dan 0,008%. Inflasi yang dialami oleh kedua kelompok tersebut masing-masing sebesar 3,86% (qtq) dan 3,03% (qtq).
2.3.6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada triwulan laporan mengalami inflasi sebesar 0,75% (qtq) dengan inflasi tahunan sebesar 11% (yoy). Berdasarkan sub kelompoknya, inflasi hanya dialami oleh sub kelompok jasa pendidikan yaitu sebesar 1,27% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,03%. Sedangkan dari komoditasnya, penyumbang
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
34
inflasi terbesar untuk kelompok ini adalah jasa pendidikan akademi/perguruan tinggi dan sekolah dasar dengan sumbangan inflasi masing-masing sebesar 0,15% dan 0,11%. Jasa pendidikan perguruan tinggi dan sekolah dasar mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 6,60% (qtq) dan 1,28% (qtq).
2.3.7. Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan
Kenaikan harga yang terjadi pada kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan di Kota Batam pada triwulan I 2008 adalah sebesar 0,15% (qtq) dengan laju inflasi tahunan sebesar 0,87% (yoy). Inflasi kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada triwulan laporan lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,54% (qtq). Berdasarkan sub kelompoknya, laju inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok jasa keuangan dengan angka inflasi sebesar 2,12% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,009%. Sedangkan berdasarkan komoditasnya, inflasi tertinggi disumbangkan oleh mobil sebesar 0,015% (qtq) dengan laju inflasi sebesar 1,15% (qtq).
2.4. Disagregasi Inflasi
Hasil perhitungan disagregasi inflasi di Kota Batam selama triwulan I 2008 menunjukkan bahwa inflasi inti (core inflation) secara tahunan maupun secara triwulanan mengalami kenaikan. Hal yang sama juga terjadi pada inflasi volatile food baik yang meningkat baik secara tahunan maupun triwulanan terhadap triwulan sebelumnya. Sementara itu inflasi administred prices tidak mengalami perubahan baik secara tahunan maupun triwulanan terhadap triwulan IV 2007.
-10,00 -5,00 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00
TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I TW II TW III TW IV TW I
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
IHK Administered Price
Volatile Food Inflasi Inti (Core)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan I - 2008
35
2.4.1. Inflasi IntiInflasi inti (core inflation) Kota Batam yaitu inflasi yang murni dipengaruhi oleh faktor permintaan dan penawaran tercatat secara tahunan mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan inflasi pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,72% (yoy) menjadi sebesar 5,65% (yoy) pada triwulan laporan. Sedangkan secara triwulanan laju inflasi inti Kota Batam mengalami meningkat sebesar 0,36% menjadi sebesar menjadi sebesar 2,27% (qtq). Sumbangan inflasi inti triwulanan pada triwulan I 2008 tercatat sebesar 1,06% meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,96%.
2.4.2. Inflasi Non Inti
Inflasi non inti Kota Batam pada triwulan laporan mengalami peningkatan menjadi sebesar 3,59% (qtq) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,19% (qtq). Peningkatan laju inflasi non inti Kota Batam salah satunya dipengaruhi oleh peningkatan harga untuk barang-barang volatile food karena inflasi administred price pada triwulan I 2008 tidak mengalami perubahan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Tabel 2.3 Disagregasi Inflasi Kota Batam
Triwulan IV-2007 Triwulan I-2008 KATEGORI
Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan Inflasi Inti (Core Inflation) 1,91 0,96 2,27 1,06 Inflasi Non Inti (Non Core Inflation) 1,19 0,58 3,59 1,74 - Administered Price 0,51 0,11 0,51 0,11 - Volatile Food 1,75 0,47 6,06 1,63 Food 1,99 0,90 4,49 1,98 Non Food 1,19 0,64 1,54 0,82 Traded 1,55 1,20 2,19 1,22 Non Traded 1,28 0,34 -17,26 1,59 INFLASI 1.56 2,89 2.4.2.1. Volatile Food
Inflasi volatile food Kota Batam sampai dengan triwulan I tahun 2008 mengalami tercatat sebesar 6,06% (qtq). Peningkatan harga volatile food terutama disumbangkan oleh kenaikan harga kebutuhan pokok dari kelompok bahan makanan seperti minyak goreng, cabai merah dan beras. Minyak goreng mengalami kenaikan harga sebesar 28,82% (qtq) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,47%. Kenaikan harga minyak goreng pada triwulan