• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENENTUAN LEVEL FAKTOR BENANG SLIVER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENENTUAN LEVEL FAKTOR BENANG SLIVER"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PENENTUAN LEVEL FAKTOR BENANG SLIVER YANG OPTIMAL

PADA MESIN CARDING GUNA MEMPERBAIKI KUALITAS

DI PT. INDUSTRI SANDANG NUSANTARA

UNIT PATAL SECANG MAGELANG

APPOINTMENT LEVEL FACTOR SLIVER YARN TO GET OPTIMAL

AT CARDING MACHINE TO QUALITY IMPROVE

IN PT. INDUSTRI SANDANG NUSANTARA

UNIT PATAL SECANG MAGELANG

Heru Kurniawan M1 Moehamad Aman2

1,2

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Magelang

[email protected] ABSTRAK

Di PT. Industri Sandang Nusantara Patal Secang Magelang khususnya pada tahapan proses produksi benang Sliver Carding masih banyak ditemukan hasil yang tidak memenuhi standar mutu yang ditetapkan (cacat). Hal ini disebabkan kurang tepatnya setting parameter proses produksi Sliver Carding. Untuk menghasilkan Sliver Carding yang berkualitas diperlukan setting parameter yang tepat. Penelitian dengan metode Taguchi bertujuan untuk mendapatkan setting parameter yang optimal sehingga mampu menghasilkan benang Sliver Carding yang berkualitas. Data yang dikumpulkan meliputi identifikasi faktor yang berpengaruh, ekperimen awal, dan ekperimen konfirmasi. Pengolahan data dengan metode Taguchi dibedakan atas dua hal, yang pertama untuk melihat pengaruh faktor-faktor terhadap rata-rata persentase jumlah produk cacat, nomor benang, dan tingkat ketidakrataan yang dilakukan dengan analisis variansi terhadap data mentah sedangkan yang kedua untuk melihat pengaruh faktor-faktor terkendali terhadap variabilitas jumlah produk cacat, nomor benang, dan tingkat ketidakrataan yang dilakukan dengan analisis variansi terhadap data mentah yang telah ditransformasikan kedalam S/N ratio. Level faktor optimal hasil percobaan telah memenuhi syarat validasi. Metode Taguchi terbukti bermanfaat bagi perusahaan karena mampu meningkatkan kualitas, dengan memperbaiki nominal nomor benang menjadi 98,891 Yard Per Lbs sehingga berada pada spesifikasi 99,96 Yard per Lbs dengan toleransi kurang lebih 1%, sekaligus dapat menurunkan persentase CV nomor benang, dan dapat menurunkan tingkat ketidakrataan menjadi 2,91% sehingga berada di bawah spesifikasi 5%.

Kata Kunci : Proses Produksi, Taguchi, Kualitas, Optimal. ABSTRACT

In PT. Industri Sandang Nusantara Patal Secang Magelang particularly In course production class of making Sliver Carding yarn muchmore which not to comply with result (reject). This matter is caused less precisely setting parameter of process of the Sliver Carding. To yield the product of Sliver Carding which with quality needed by correct setting parameter. Research with the method Taguchi to get the optimal setting parameter so that able to yield the yarn of Sliver Carding which with quality. Data collected cover to identify

(2)

the factor having an effect on, experiment data of early, and data of confirmation experiment. Data processing by using methods Taguchi differentiated for two matter. First to see the factor influence to percentage mean sum up the handicapped product, number of yarn, and mount the evenness, conducted with the analysis variansi to raw data. influence in control to variabilitas sum up the handicapped product, number of yarn, and mount the uster with the analysis variansi to raw data which have transform into S/N ratio. Factor in control used on trial that is Speed setting (Factor A) owning two Level factor, and fibre length mixture Polyester and Rayon (Factor B), fineness Fibre mixture Polyester and Rayon (Factor C), setting apart among Dish Plate and Takerin (Factor D), setting apart among Takerin and Cylinder (Factor E), setting apart among Cylinder and Flat (Factor F), setting apart among Cylinder and Doffer (Factor G), setting apart among Doffer and Doffer Comb (Factor H) what is each owning three level factor. From analysis obtained by level factor which significant to handicapped product, number of yarn, and mount the evenness that is Factor A level two (140 Yards per men), Factor B level two (38,1 mm), Factor C level three (0,9 denier), Factor D level three (0,01 inch) Factor E level three (0,008 inch), Factor F level three (0,01 inch), Factor G level one (0,004 inch), Factor H level two (0,017 inch). Optimal Level Factor result of attempt have up to standard of validity. Method Taguchi useful to industry because able to increase quality. Able to fix nominal number of yarn become 98,891 Yard Per Lbs on specification 99,96 Yard Per Lbs with tolerance less more 1% all at once reduce the CV number of yarn, and able to reduce uster become 2,91% so that to stay on under specification 5%.

Key Words : Production Process, Taguchi, Quality, Optimal

1. Pendahuluan

Di tengah persaingan yang makin ketat dipasar tekstil dan produk tekstil (TPT) dunia, kalangan pelaku industri tekstil mau tidak mau harus terus berupaya mencari peluang pasar tekstil baru serta terus berupaya meningkatkan daya saing produk tekstil nasional di pasar dunia. Di samping itu mulai tahun 2005 sistem kuota ekspor tekstil sudah tidak ada lagi dalam kegiatan perdagangan tekstil dunia. sehingga upaya untuk mencari peluang-peluang baru di pasar tekstil dunia dan peningkatan daya saing produk tekstil harus tetap dilakukan agar pelaku industri tekstil di Indonesia dapat tetap mempertahankan pangsa ekspor tekstil di pasar dunia tidak hangus direbut negara lain. Upaya mempertahankan pangsa ekspor tekstil di pasar dunia sebetulnya mempunyai arti strategis yang sangat penting bagi perekonomian nasional mengingat

industri tekstil nasional selama ini merupakan salah satu industri unggulan sebagai penghasil devisa ekspor bagi negara yang cukup besar. Oleh karena itu setiap pelaku bisnis yang ingin memenangkan kompetisi dalam dunia industri akan memberikan perhatian penuh kepada kualitas sebagai salah satu strategi utamanya.

Dalam melakukan proses produksi di PT. Industri Sandang Nusantara Patal Secang Magelang, khususnya dibagian proses produksi

Sliver Carding masih banyak

ditemukan hasil yang tidak memenuhi standar (cacat) akibat hasil yang tidak sesuai dengan persyaratan kualitas yang yang ditetapkan, sehingga harus sering dilakukan inspeksi agar kualitas produk tetap terjaga. Sebagai bahan dasar dari tekstil berupa kain tenun (Weaving) dan kain rajut (knitting), benang yang berkualitas harus memenuhi persyaratan tertentu berupa nilai unsur mutu benang, khususnya

(3)

pada bagian proses produksi benang

Sliver Carding persyaratan kualitas Sliver Carding yang harus dipenuhi

antara lain nomor benang (Ne), CV nomor benang, ketidakrataan. Persyaratan-Persyaratan tersebut sangat penting karena pada proses selanjutnya benang mengalami tegangan-tegangan (frictions) kerena adanya tarikan-tarikan sehingga kalau mutu Sliver Carding tidak baik, maka pada proses selanjutnya akan mengalami banyak kendala dan mutu benang tekstil yang dihasilkan pun tidak baik pula. Dalam hal ini parameter yang digunakan perusahaan dalam pembuatan Sliver Carding dipengaruhi oleh beberapa faktor dominan yaitu setting kecepatan (130 yard per menit), Panjang serat campuran Polyester dan Rayon (38,1 mm), Kehalusan serat campuran

Polyester dan Rayon (1.5 denier),

Setting jarak antara Pelat Penyuap dan

Takerin (0.007 inch), Setting jarak

antara Takerin dan Silinder (0.006 inch), Setting jarak antara Silinder dan

Flat (0.008 inch), Setting jarak antara

Silinder dan Doffer (0.004 inch), Setting jarak antara Doffer dan Sisir

Doffer (0.015 inch).

Parameter terbaik dari proses produksi Sliver Carding harus ditetapkan walaupun sudah ada standar-standar yang telah ditetapkan. Tujuannya tentu saja untuk mengurangi reject (cacat) produk. Untuk menjaga kualitas produk-produknya PT. Industri Sandang Nusantara Patal Secang Magelang secara terus menerus melakukan perbaikan didalam melakukan proses produksinya. Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang sudah pernah dilakukan oleh PT. Industri Sandang Nusantara Patal Secang Magelang untuk proses produksi Sliver

Carding, Diperoleh Kombinasi level

faktor terbaik dari percobaan yang pernah dilakukan oleh perusahaan

yaitu setting kecepatan (140 yard per menit) level 2, Panjang serat campuran Polyester dan Rayon (40 mm) level 2 dan (44 mm) level 3, Kehalusan serat campuran Polyester dan Rayon (1.2 denier) level 2 dan (0.9 denier) level 3, Setting jarak antara Pelat Penyuap dan

Takerin (0.009 inch) level 2 dan (0.01

inch) level 3, Setting jarak antara

Takerin dan Silinder (0.007 inch) level

2 dan (0.008 inch) level 3, Setting jarak antara Silinder dan Flat (0.009 inch) level 2 dan (0.01 inch) level 3, Setting jarak antara Silinder dan Doffer (0.005 inch) level 2 dan (0.006 inch) level 3, Setting jarak antara Doffer dan Sisir Doffer (0.017 inch) level 2 dan (0.022 inch) level 3. dari hal tersebut di atas diharapkan mampu menghasilkan produk benang Sliver Carding yang berkualitas baik.

Metode untuk pemilihan kombinasi dari level optimal dari faktor- faktor proses produksi yang tepat digunakan konsep kualitas

Taguchi. Metode Taguchi merupakan

suatu proses untuk menganalisis berbagai variabel dalam jumlah besar dan interaksi diantara berbagai variabel tersebut untuk mencapai mutu yang tertinggi dengan penggunaan waktu dan biaya yang paling kecil.

2. Metode Penelitian

a. Penetapan Karakteristik Mutu Benang yang berkualitas harus memenuhi persyaratan tertentu berupa unsur mutu benang, khusus pada bagian proses produksi Sliver Carding Nomor benang, CV %

nomor benang, U %

(ketidakrataan) dianggap sebagai karakteristik mutu yang harus dicapai oleh perusahaan. Nomor benang, (coefisien variansi) CV %

nomor benang, U %

(ketidakrataan) dipengaruhi oleh faktor terkendali dan faktor Noise. Nomor benang Sliver Carding

(4)

memperlihatkan halus kasarnya benang, semakin mendekati atau hampir mendekati dari nomor benang yang akan dibuat, maka nilainya makin baik. Nomor benang dalam satuan Yard per Lbs. (coefisien variansi) CV nomor benang diperoleh dari perhitungan hasil percobaan rata-rata nomor benang, (coefisien variansi) CV % dalam satuan U % (ketidakrataan), makin rata suatu benang makin kuat benang tersebut dan sebaliknya makin tidak rata makin rendah kekuatannya, ketidakrataan dalam satuan %. Sehingga dapat diketahui bahwa karakteristik mutu

Sliver Carding yang paling

berpengaruh adalah Nomor benang, ketidakrataannya (U %) dan jumlah produk cacat.

b. Mengidentifikasi Faktor Terkendali dan Faktor Noise serta Penetapan Level Faktor Terkendali

1) Memilih faktor-faktor yang mempengaruhi karakteristik mutu dari benang Sliver Carding.

Setelah selesai Penetapan Karakteristik mutu, kemudian Memilih faktor-faktor penyebab atau kategori-kategori yang dapat mempengaruhi karakteristik mutu dari benang Sliver Carding. Faktor penyebab atau

kategori-kategori yang dapat mempengaruhi karakteristik mutu dari benang Sliver Carding meliputi bahan baku,

mesin, metode proses produksi

Sliver Carding, manusia/tenaga

kerja, kondisi lingkungan. 2) Mengidentifikasi Faktor

Kendali dan Faktor Noise Taguchi menggolongkan faktor-faktor dalam

perancangan dan

pengembangan produk atau proses ke dalam dua kelompok, yaitu faktor kendali dan faktor

noise. Faktor terkendali adalah

faktor yang nilainya ingin kita atur atau kendalikan. Faktor terkendali yang ditetapkan (dapat dikendalikan oleh produsen) selama fase perancangan produk, perancangan proses atau selama berjalannya proses, dan tidak dapat diubah oleh pelanggan secara langsung sedangkan faktor noise adalah faktor yang nilainya tidak bisa dikendalikan atau faktor yang nilainya tidak ingin kita kendalikan. Faktor

noise tidak dapat dikendalikan

secara langsung oleh produsen namun bervariasi selama berasa di lingkungan dan penggunaan pelanggan. Setelah diketahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap karakteristis mutu yang manjadi tujuan, selanjutnya dilakukan pemilihan faktor-faktor yang dikendalikan dan faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan. Yang termasuk faktor noise adalah RH ruangan, suhu udara, Supply listrik dan performance pekerja. Sedangkan faktor terkendali terdiri atas kecepatan mesin,

setting mesin proses Sliver Carding. Dalam penelitian ini

faktor-faktor noise tidak dimasukkan ke dalam array, sehingga percobaan hanya dilakukan terhadap faktor-faktor terkendali saja. Untuk menangani faktor noise

dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali untuk masing-masing trial.

3) Penetapan Level Faktor Tekendali

(5)

Pada tahap ini ditentukan nilai level bagi semua faktor kendali dengan memperhatikan batasan-batasan spesifikasi (standarisasi yang berlaku) dan batasan operasional berdasarkan pengalaman perusahaan.

4) Pemilihan Orthogonal Array dan Penempatan Faktor Pemilihan matrik orthogonal

array yang akan digunakan

dalam percobaan dilakukan berdasarkan jumlah derajat bebas dari semua faktor dan interaksi yang terlibat dalam percobaan. Dimana derajat bebas faktor diperoleh dari jumlah level faktor dikurangi satu. Total jumlah derajat bebas semua faktor tersebut menunjukkan jumlah minimal baris yang harus dimiliki oleh matrik orthogonal array yang akan digunakan.

5) Pelaksanaan Percobaan Setelah diperoleh matrik

orthogonal array yang sesuai

dengan jumlah derajat bebas daktor dan interaksi yang terlibat, selanjutnya dilakukan penempatan faktor dan interaksi faktor yang akan digunakan ke dalam matrik

orthogonal array yang terpilih.

Kemudian dilakukan percobaan sesuai dengan kombinasi level faktor yang terdapat dalam matrik orthogonal array. Data yang dicatat adalah jumlah produk cacat produk benang

Sliver Carding yang dihasilkan

dari percobaan.

6) Analisa Hasil Percobaan (ANOVA) terhadap Data Mentah dan Data Rasio S/N serta Penentuan Kombinasi Optimum

Setelah percobaan seluruhnya selesai dilaksanakan, kemudian

dilakukan pengolahan data pengaruh faktor terhadap rata-rata jumlah produk cacat sebagai berikut :

a) Pengaruh faktor terhadap rata-rata

(1) Analisis Variansi (ANOVA)

Pembuatan tabel ANOVA yang memuat derajat bebas (df), jumlah kuadarat (SS) dan rata-rata jumlah kuadrat (MS)

(2) Pooling Faktor (Penggabungan)

Penggabungan faktor dimulai dari jumlah kuadrat terkecil dari faktor yang tidak signifikan dengan jumlah kuadrat kesalahan, sehingga derajat bebas kesalahan mendekati atau sama dengan setengah dari jumlah derajat bebas total. Setelah dilakukan penggabungan lengkapi tabel ANOVA dengan perhitungan Fhitung, F table, SS’, dan persen kontribusi % p).

(3) Penetapan Kombinasi Optimum

Kombinasi level faktor optimum diperoleh dari perhitungan selisih dari respon tiap level faktor. Kemudian urutkan dari selisih tertinggi hingga terendah hingga memberi rangking untuk tiap-tiap faktor. Faktor yang memiliki pengaruh paling signifikan adalah yang memiliki selisih tertinggi (biasanya dipilih tiga faktor).

(6)

Selanjutnya dihitung interval kepercayaan tiap level faktor.

(4) Penetapan Prediksi Rata-rata Optimum Setelah diketahui faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap rata-rata jumlah optimum, maka dapat disusun model persamaan rata-rata prediksi untuk kemudian menghitung interval kepercayaan rata-rata.

b) Pengaruh faktor terhadap nilai variansi (1) Menghitung rasion S/N Untuk menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap variabilitas terlebih dahulu data ditransformasikan ke bentuk rasio S/N, dimana S/N = -10 log MSD. Perhitungan rasio S/N disesuaikan dengan karakteristik kualitas yang menjadi tujuan. (2) Analisis Variansi

(ANOVA)

Pembuatan tabel ANOVA yang memuat derajat bebas (df), jumlah kuadarat (SS) dan rata-rata jumlah kuadrat (MS)

(3) Pooling Faktor (Penggabungan)

Penggabungan faktor dimulai dari jumlah kuadrat terkecil dari faktor yang tidak signifikan dengan jumlah kuadrat kesalahan hingga derajat bebas kesalahan mendekati atau sama

dengan setengah dari jumlah derajat bebas total. Setelah dilakukan penggabungan lengkapi tabel ANOVA dengan perhitungan F-hitung, F-tabel, SS’, dan persen kontribusi % p).

(4) Penetapan kombinasi level optimum

Kombinasi level faktor yang memberikan tingkat optimum diperoleh dari rata-rata S/N tertinggi, setelah dilakukan perhitungan rata-rata rasio S/N tiap level, selanjutnya dihitung interval kepercayaan tiap level faktor.

(5) Penetapan prediksi rata-rata optimum

Rasio S/N optimum dicapai pada rata-rata rasio S/N tertinggi, selanjutnya taksiran rasio S/N optimum dihitung dari beberapa faktor yang signifikan. Jadi faktor yang tidak signifikan tidak diikutsertakan dalam model. Selanjutnya dihitung interval kepercayaannya dan konversikan kembali nilai S/Noptimal ke dalam

nilai MSD. c. Percobaan Konfirmasi

Percobaan konfirmasi dilakukan sebagai upaya pembuktian dari hasil eksperimen terdahulu. Dengan percobaan konfirmasi ini akan dibuktikan apakah penetapan kombinasi faktor dan level pada percobaan awal adalah akurat dan valid. Pembuktian rata-rata pada kondisi optimal yang dihasilkan

(7)

dari kombinasi level yang optimal ini diuji dalam satu interval kepercayaan yang ditentukan untuk mengetahuui apakah hasil yang didapatkan dari eksperimen awal (kombinasi level dan faktor) akan memberikan hasil yang tidak berbeda dengan hasil dari percobaan konfirmasi. Jika interval kepercayaan pada eksperimen konfirmasi sama atau mendekati interval kepercayaan eksperimen sebelumnya, maka penetapan

kombinasi faktor dan level untuk kondisi optimal tersebut dianggap akurat.

3. Hasil dan Pembahasan a. Produk Cacat

Percobaan dilakukan sebanyak 10 kali, masing-masing dengan 50 Yard per Lbs benang Sliver. Percobaan konfirmasi dilakukan dengan menggunakan level faktor yang diusulkan yaitu :

Tabel 1. Parameter Usulan

Faktor Kendali Kode Level 1

Setting kecepatan mesin pada Display A2 140 yard per men

Panjang serat campuran Polyester dan Rayon Panjang serat polyester/rayon

B2 40 mm

Kehalusan serat campuran Polyester dan Rayon

C3 0,9 denier

Setting jarak antara Pelat Penyuap dan

Takerin

D3 0,01 inch

Setting jarak antara Takerin dan Silinder E3 0,008 inch

Setting jarak antara Silinder dan Flat F3 0,01 inch

Setting jarak antara Silinder dan Doffer G1 0,004 inch

Setting jarak antara Doffer dan Sisir Doffer H2 0,017 inch Sumber : PT. Industri Sandang Nusantara Patal Secang Magelang Bagian Proses Produksi

Hasil percobaan tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 2. Hasil Eksperimen Produk Cacat Dengan Parameter Usulan

Nomor Percobaan

Jumlah Produk Cacat

Yard per Lbs % 1 3 5 2 2 3 3 2 1 4 1 2 5 2 4 6 0 0 7 2 4 8 1 2 9 3 5 10 0 0 Rata-rata 1,6 2,6 Std. Deviasi 1,07497 1,8974

(8)

Berdasarkan hasil perhitungan produk cacat Sliver Carding

dengan parameter usulan diperoleh rata-rata produk cacat Sliver Carding 2,6% berada pada sesuai

spesifikasi di bawah 4% (maksimal 4%) proses produksi Sliver

Carding dinilai baik sekali

(berkualitas tinggi) oleh perusahaan dan Sliver Carding bisa berlanjut untuk diteruskan pada proses mesin berikutnya.

MSD = n y y y12 22 ... n2 = 10 0 5 2 4 0 4 2 1 3 52 2 2 2 2 2 2 2 2 2 = 10 S/N = -10 log MSD = -10 log 10 = -10 b. Nomor Sliver Carding

Percobaan juga dilakukan sebanyak 10 kali, masing-masing 6 yard per

Lbs Sliver Carding. Hasil dari percobaan sebagai berikut.

Tabel 3. Hasil Eksperimen Nomor Sliver Carding Parameter Usulan

Nomor Percobaan Ne1 1 97,56 2 99,27 3 100,1 4 99,3 5 99,51 6 98,48 7 97,4 8 99,64 9 99,17 10 98,48 Rata-rata 99 Std. Deviasi 0,8899

Sumber : Data hasil percobaan konfirmasi dengan komposisi usulan telah diolah

Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata Nomor benang Sliver Carding dengan Parameter usulan diperoleh rata-rata Nomor benang Sliver

Carding 99 Yard per Lbs berada

pada spesifikasi Nomor benang

Sliver Carding 99,96 di dalam

toleransi kurang lebih 1% (di

antara maksimal 100,96 Yard per Lbs dan minimal 98,96 Yard per Lbs) maka dinilai berkualitas tinggi oleh perusahaan dan Sliver

Carding bisa berlanjut untuk

diteruskan pada proses mesin berikutnya.

(9)

SSM = n y y y1 2 ... n 2 = 10 98,48 99,51 99,3 100,1 99,27 97,56 = 2 98,48 99,17 99,64 97,4 = 97794,3 Ve = 1 ... 2 2 1 n SS y y y n M = 1 10 98,48 99,51 99,3 100,1 99,27 97,562 2 2 2 2 2 = 97,4 99,64 99,17 98,48 -97794,3 2 2 2 2 = 0,7919 MSD = e e M V V SS n 1 = 0,7919 0,7919 97794,3 10 1 = 12349,22 S/N = -10 log MSD = -10 log 12349,22 = -40,9164 c. Coevisien Variasi (CV%) CV = X SD 100% CV = 99 0,8899 100% CV = 0,8989%

Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata Nomor benang bisa diketahui

Coevisien Variasi (CV%) Sliver

Carding sehingga Dengan

Parameter usulan diperoleh rata-rata Coevisien Variasi (CV%)

Sliver Carding 0.8989% berada

pada Coevisien Variasi (CV%)

Sliver Carding sesuai spesifikasi di

bawah 2% (maksimal 2%) maka

Sliver Carding dinilai berkualitas

tinggi oleh perusahaan dan Sliver

Carding bisa berlanjut untuk

diteruskan pada proses mesin berikutnya.

d. Tingkat Ketidakrataan (U%) Percobaan juga dilakukan sebanyak 10 kali, masing-masing 6 yard

Sliver Carding. Hasil dari

percobaan sebagai berikut.

Tabel 4. Hasil Eksperimen Tingkat Ketidakrataan Parameter Usulan

Nomor Percobaan % 1 4,3 2 3,1 3 2,2 4 3,1 5 2,6 6 3,3 7 3

(10)

8 2,4

9 3,1

10 2

Rata-rata 2,91

Std. Deviasi 0,6573

Sumber : Data hasil percobaan konfirmasi dengan komposisi usulan yang telah diolah

Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata tingkat ketidakrataan

Sliver Carding Dengan Parameter

usulan diperoleh rata-rata tingkat ketidakrataan Sliver Carding

2,91% berada pada spesifikasi di bawah 5% (maksimal 5%) Sliver

Carding dinilai berkualitas tinggi

maka Sliver Carding dinilai baik oleh perusahaan dan Sliver Carding bisa berlanjut untuk

diteruskan pada proses mesin berikutnya . MSD = n y y y 2 n2 2 2 1 ... = 10 2 3,1 2,4 3 3,3 2,6 3,1 2,2 3,1 4,32 2 2 2 2 2 2 2 2 2 = 8,857 S/N = -10 log MSD = -10 log 8,857 = -0,9473 e. Interval Kepercayaan Rata-Rata

Persentase Jumlah Produk Cacat Untuk Eksperimen Konfirmasi

CI = r n Ve F eff v 1 1 ) 45 ; 1 , ( = 10 1 6 1 5,0671 055 , 4 = ± 2,1704

Interval kepercayaan untuk rata-rata persentase jumlah produk cacat sebagai berikut.

2,6 – 2,1704 < µ < 2,6 + 2,1704 0,258 < µ < 4.942

Interval kepercayaan rata-rata persentase jumlah produk cacat

pada eksperimen konfirmasi ini ternyata bersinggungan dengan interval kepercayaan pada eksperimen awal, yaitu 1,5733 <

µ < 5,2747. Ini berarti komposisi

setting parameter hasil percobaan untuk meminimalkan persentase jumlah produk cacat dianggap akurat.

(11)

f. Interval Kepercayaan Rata-Rata nomor benang Eksperimen

CI = r n Ve F eff v 1 1 ) 45 ; 1 , ( = 10 1 6 1 472 , 2 055 , 4 = ± 1,63597

Interval kepercayaan untuk rata-rata nomor benang sebagai berikut. 99 – 1,63597 < µ < 99 + 1,63597

97,364 < µ < 100,63597 Interval kepercayaan rata-rata nomor benang pada eksperimen

konfirmasi ini ternyata bersinggungan dengan interval kepercayaan pada eksperimen awal, yaitu 94,239 < µ < 97,581. Ini berarti komposisi setting parameter hasil percobaan untuk memaksimalkan nomor benang dianggap akurat.

g. Interval Kepercayaan Rata-Rata Tingkat ketidakrataan Untuk Eksperimen Konfirmasi CI = r n Ve F eff v 1 1 ) 45 ; 1 , ( = 10 1 6 1 1,241 055 , 4 = ± 1,159

Interval kepercayaan untuk rata-rata Tingkat ketidakrata-rataan sebagai berikut.

2,91 – 1,159 < µ < 2,91 + 1,159

1,751 < µ < 5,2211

Interval kepercayaan rata-rata Tingkat Ketidakrataan pada eksperimen konfirmasi ini ternyata bersinggungan dengan interval kepercayaan pada eksperimen awal, yaitu 1,629 < µ < 3,461. Ini berarti komposisi setting parameter hasil percobaan untuk

meminimalkan Tingkat

Ketidakrataan dianggap akurat.

h. Perbandingan Karakteristik Proses Sebelum dan Setelah Optimasi

Walaupun faktor terkendali telah dipelajari sedemikian sehingga level faktor ideal telah ditetapkan, suatu faktor terkendali mungkin hanya akan berpengaruh pada rata-rata saja, mungkin hanya berpengaruh pada perbedaannya saja, mungkin berpengaruh pada rata-rata dan perbedaan atau

(12)

mungkin faktor terkendali tersebut tidak berpengaruh pada rata-rata dan perbedaan. Proses yang sedang berjalan dapat ditandai dengan percobaan awal nomor benang

Sliver Carding dimana rata-rata

total percobaan awal nomor benang

Sliver Carding adalah 101,84 Yard

per Lbs dengan standar penyimpangan 1,69389 ini bersama-sama dengan jumlah maksimum percobaan konfirmasi dapat ditandai seperti berikut.

Tabel 5. Perbandingan Karakteristik Proses Sebelum Dan Setelah Optimasi

Nomor Benang Sebelum Optimasi

(Percobaan Awal)

Setelah Optimasi (Percobaan Konfirmasi)

Rata-Rata (y) 101,712 Yard per Lbs 99 Yard per Lbs Standar Deviasi ( ) 1,6939 0,8899

Sumber : Data hasil percobaan yang telah diolah Menggunakan hasil ini, kemudian

kita bandingkan proses sebelum optimasi dan proses setelah optimasi dengan menggunakan alur distribusi normal dimana sumbu y menyatakan frekuensi relatif dan sumbu x menyatakan karakteristik nomor benang Sliver Carding. Untuk mengetahui besarnya frekuensi relatif pada sumbu y dapat menggunakan rumus :

= 2 2 1 2 2 1 y y e

Dengan menyatakan frekuensi relatif, menyatakan standar

deviasi dan y adalah rata-rata. Spesifikasi nomor benang Sliver

Carding adalah 99,96 Yard per Lbs

dengan toleransi kurang lebih 2%. Dan untuk mencari cakupan karakteristik nomor benang Sliver

Carding pada sumbu x dapat

menggunakan rumus : x1 = ( +

3 ) ke kanan dan x2 = ( - 3 ) ke

kiri, hal yang sama dilakukan pada percobaan konfirmasi. Maka dengan menggunakan distribusi probabilitas untuk kurva normal diperoleh :

1) Percobaan awal atau sebelum optimasi a) Frekuensi relatif = 2 6939 , 1 712 . 101 712 . 101 2 1 2 6939 , 1 14 , 3 . 2 1 e = 0,235 b) Cakupan karakteristik

nomor benang Sliver Carding pada sumbu x x1 = (101,712 + 3(1,6939))

= 106,7937

x2 = (101,712 + 3(1,6939))

= 96,6303

2) Percobaan konfirmasi atau setelah optimasi a) Frekuensi relatif = 2 8898 , 0 99 99 2 1 2 8898 , 0 14 , 3 . 2 1 e

(13)

= 0,4484 b) Cakupan karakteristik

nomor benang Sliver Carding pada sumbu x x1 = (101,712 + 3(1,6939))

= 106,7937

x2 = (101,712 + 3(1,6939))

= 96,6303

Alur distribusi normal nomor benang

Slver Carding untuk kondisi-kondisi

yang ada (proses sebelum optimasi) dari nomor benang dibandingkan dengan jumlah maksimum (proses setelah optimasi) ditunjukkan dengan gambar berikut.

Gambar 1. Perbandingan karakteristik proses sebelum dan setelah Optimazition (Sumber : Data hasil percobaan yang telah diolah)

Dari gambar di atas huruf a menunjukkan target nomor benang

Sliver Carding, huruf b menunjukkan

nomor benang Sliver Carding yang ada, dan huruf c menunjukkan nomor benang Sliver sesudah optimasi. Sehingga diketahui bahwa level faktor terkendali yang ideal atau yang sudah ditetapkan terlihat berpengaruh pada rata-rata dan pada perbedaan (variasi). 4. Kesimpulan

a. Faktor-faktor yang menjadi technical respon dalam memperbaiki kualitas produk Sliver

Carding adalah setting kecepatan,

Panjang serat campuran Polyester

dan Rayon, Kehalusan serat campuran Polyester dan Rayon, Setting jarak antara Pelat Penyuap dan Takerin, Setting jarak antara

Takerin dan Silinder, Setting jarak

antara Silinder dan Flat, Setting jarak antara Silinder dan Doffer, Setting jarak antara Doffer dan Sisir Doffer. Sedangkan atribut dari faktor-faktor tersebut yaitu nomor Benang Ne1 beserta (CV Ne1)

Coefisien Variasi yang diketahui

dari nomor benang yang dihasilkan, Ketidakrataan (U%). b. Penerapan metode Taguchi untuk

memperoleh komposisi pembuatan

Sliver Carding yang berkualitas

sangat dipengaruhi oleh persentase 0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5 94 96 98 100 102 104 106 108 NOMOR BENANG FR E K U E N S I R E LA TI F a c b

(14)

cacat terkecil, nomor benang terendah dan tingkat ketidakrataan terendah berdasarkan rata-rata persentase jumlah produk cacat terkecil, nomor benang terendah dan tingkat ketidakrataan terendah dan rasio S/N yaitu setting kecepatan (A2) level 2 (140 Yard

per Lbs), Panjang serat campuran

Polyester dan Rayon (B2) level 2

(38,1 mm), Kehalusan serat campuran Polyester dan Rayon C3

level 3 (0,9 denier), Setting jarak antara Pelat Penyuap dan Takerin D3 level 3 (0,01 inch Setting jarak

antara Takerin dan Silinder E3 level

3 (0,008 inch), Setting jarak antara Silinder dan Flat F3 level 3 (0,01

inch), Setting jarak antara Silinder dan Doffer G1 level 1 (0,004 inch),

Setting jarak antara Doffer dan Sisir Doffer H2 level 2 (0,017

inch).

c. Walaupun kualitas Sliver Carding yang dihasilkan oleh PT. Industri Sandang Nusantara Unit Patal Secang Magelang masih dalam spesifikasi yang ditetapkan tetapi dengan Penerapan metode Taguchi akan bermanfaat bagi perusahaan karena dari hasil perhitungan diketahui mampu memperbaiki kualitas Sliver Carding menjadi lebih baik. Dari eksperimen konfirmasi yang dilakukan terbukti bahwa dengan menerapkan setting parameter usulan dihasilkan rata-rata jumlah Produk Cacat 2,6%. Dan dengan parameter usulan diketahui pula rata-rata jumlah Produk Cacat 2,6% berada pada Produk Cacat Sliver Carding sesuai spesifikasi di bawah 4% (maksimal 4%) proses produksi Sliver Carding dinilai berkualitas tinggi

oleh perusahaan karena itu proses produksi dianggap berjalan normal. Pada nomor benang Sliver Carding diketahui dengan parameter usulan dihasilkan rata-rata Nomor benang

Sliver Carding menjadi 99 Yard

Per Lbs dari rata-rata Nomor benang yang semula menggunakan parameter sesuai kebijakan perusahaan sebesar 101,84 Yard Per Lbs. Dan dengan parameter usulan diketahui pula Nomor benang 99 Yard Per Lbs berada pada spesifikasi yang ditetapkan untuk Sliver Carding yaitu 99,96 yard per Lbs dengan toleransi kurang lebih 1% (di dalam toleransi di antara maksimal 100,96 Yard per Lbs dan minimal 98,96 Yard Per Lbs) dinilai berkualitas tinggi (baik sekali) sehingga Sliver

Carding bisa berlanjut untuk

diteruskan pada proses mesin berikutnya. Pada (Coevisien

Variasi) CV% yang diketahui dari

rata-rata nomor benang Sliver

Carding yang dihasilkan tampak

bahwa parameter usulan mampu menurunkan (Coevisien Variasi) CV% Sliver Carding menjadi 0,8989% dari (Coevisien Variasi) CV% Sliver Carding yang semula menggunakan parameter sesuai kebijakan perusahaan sebesar 1,6633%. Dan dengan parameter usulan diketahui pula (Coevisien

Variasi) CV% Sliver Carding

0,8999% berada pada spesifikasi di bawah 2% (maksimal 2%) Sliver Carding dinilai berkualitas tinggi oleh perusahaan sehingga Sliver

Carding bisa berlanjut untuk

diteruskan pada proses mesin berikutnya. Pada rata-rata tingkat ketidakrataan Sliver Carding

diketahui bahwa dengan parameter usulan dihasilkan rata-rata tingkat ketidakrataan Sliver Carding

menjadi 2,91% dari rata-rata tingkat ketidakrataan Sliver

Carding yang semula

menggunakan parameter sesuai kebijakan perusahaan sebesar 5,25%. Dan dengan parameter usulan diketahui pula rata-rata

(15)

tingkat ketidakrataan Sliver

Carding 2,91% berada pada

spesifikasi di bawah 5% (maksimal 5%) Sliver Carding dinilai berkualitas tinggi oleh perusahaan sehingga Sliver

Carding bisa berlanjut untuk

diteruskan pada proses mesin berikutnya.

Daftar Acuan

Bellavendram, N., 1995. Quality By Design : Taguchi Techniques For Industrial Experimenttation. Prentice Hall, London.

Chang, Peter., 2003. Pengendalian Mutu Terpadu Untuk Industri Tekstil Dan Konfeksi, Penerbit PT. Pradnya Paramita, Jakarta

Komalasari, D., 2003. Penerapan Metode QFD Dan Taguchi Dalam Penentuan Komposisi Bahan Baku Yang Tepat Untuk Memperbaiki Kualitas Produk Paving Di Pabrik Paving Muncul Magelang, (Skripsi). Program studi Teknik Industri, Fakultas

Teknik, Universitas

Muhammadiyah Magelang, Magelang.

Marzuki, 2000. “Metodologi Penelitian”. BPFE-UII. Yogyakarta.

Nurwidiana, 2002. Penerapan Metode Taguchi Dalam Perancangan Parameter Setting Mesin Web Hamada 800 Diagnosa Untuk Memperbaiki Kualitas Produk Cetak Diperusahaan Percetakan Nusantara Magelang, (Skripsi). Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Magelang, Magelang.

Pawitro, dkk., 1975. Teknologi Pemintalan Bagian I, Institute Teknologi Bandung, Bandung.

Peace, S. G., 1993. “Taguchi Methods : A Hands Of Approach”. Addison-Wasley Publishing Company, Massachusetts.

Ross, P.J., 1996. Taguchi Techniques For Quality Engineering 2nd Edition. New York. McGraw Hill.

Sudjana, 2002. Analisis dan Design Eksperimen, Penerbit Tarsito, Bandung.

Sudjana, 1996. Metode Statistika, Penerbit Tarsito, Bandung.

Watanabe, S., H, Sugiarto. N., 1980. Teknologi Tekstil. Association for International Technical Promotion, Tokyo, Japan

W. N. Cyntia, 2005. Penerapan Metode Taguchi Dalam Menentukan Faktor-Faktor Pembuatan Genteng Beton Yang Berkualitas Di Pabrik Piramida Tempuran Magelang, (Skripsi). Program Studi Teknik Industri, Fakultas

Teknik, Universitas

Muhammadiyah Magelang, Magelang.

Gambar

Tabel 1. Parameter Usulan
Tabel 3. Hasil Eksperimen Nomor Sliver Carding Parameter Usulan
Tabel 5. Perbandingan Karakteristik Proses Sebelum Dan Setelah Optimasi  Nomor Benang
Gambar 1. Perbandingan karakteristik proses sebelum dan setelah Optimazition                     (Sumber : Data hasil percobaan yang telah diolah)

Referensi

Dokumen terkait

Parameter aspek teknis yang lain tidak bersifat mutlak sehingga ketika berada pada keadaan di bawah atau di atas batas optimal maka usaha budi daya pembenihan

dilakukan tes IQ, anak yang berada pada tingkat IQ high average (rata-rata) 1 orang, Average (rata-rata) 6 orang, low average (di bawah rata-rata) 6 orang, Borderline 2 orang dan

Penelitian yang bertujuan untuk menentukan faktor dan setting parameter optimal untuk meminimalkan jumlah cacat roti smeer dengan desain eksperimen ini dilakukan di

Parameter yang digunakan adalah jaringan jalan dan sebaran rumah penduduk.Dari hasil analisis SIG dapat diketahui usulan TES berjumlah 39 unit yaitu 8 unit di Desa Naras Satu, 5 unit

perkapita yang dibawah rata-rata, (4) Daerah relatif tertinggal, yaitu daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita yang berada di bawah

Pada gambar 3.4 ditunjukkan proses maksimal drawing sehingga terbentuk produk pada posisi dies berada di titik mati bawah (TMB), dan dies terbuka pada titik mati atas (TMA)

Pada pengujian 5C4 dapat disimpulkan bahwa rata-rata akurasi tertinggi pengujian 4 parameter atau 5C4 adalah 78,75% pada kombinasi parameter A,B,C,D dengan rata-rata waktu

Ukuran lot 24 unit, jumlah rata-rata cacat dalam setiap lot 3 unit, jumlah produk yang diuji 4 unit.. LD/SEM