Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Vol.7 Ed.1, 2020 | 1
PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK PENDIDIKAN
ANAK USIA DINI
Veny Yohan SariStaf Program BP PAUD dan Dikmas Maluku Abstract
The use of learning media for early childhood education is un-optimal. Most educators rely on the use of Educational Play Tools (APE) as support tools for Early Childhood Education teaching and learning activities.The difference between intrructinal media and APE, instructional media is designed to be used by children directly without the assistance of educators. Hoowever, APE requires educators as operators because it is only a teaching aid. Educators and institutions need to prepare learning media according to the needs of children. The aim is to support children to understand material easily and quickly. Therefore, an educator needs to know the citeria in choosing yhe correct learning media to be presented to the learning of Early Childhood Education. Selection of the right learning media wil help them more easly understand the material and achieve learning objectives. Educators can also develop learning media as needed, to answer global competition in the 4.0 era.
Keywords : Learning and learning Media, Early Childhood Education
PENDAHULUAN
Pada era generasi 4.0 ini pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, salah satunya yaitu diterapkannya pendidikan anak usia dini dengan tujuan agar putra putri Indonesia ketika melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, telah memiliki bekal pendidikan yang mumpuni. Untuk menunjang kebutuhan pendidikan bagi anak guna memperoleh materi yang mudah dan cepat maka lembaga perlu menyiapkan media yang sesuai dengan kebutuhan. Karena media yang tepat akan membantu lembaga dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Rahayu (2017:2) menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah bentuk penyelenggaraan Pendidikan yang menitik beratkan pada peletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan
emosi dan kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Dimana anak berusaha menguasai simbol-simbol (kata-kata), mengungkapkan pengalamannya meskipun tidak logis (pra-logis). Anak diajak menikmati permainan yang disuguhkan pada proses pembelajaran, secara bertahap anak akan mengikuti aturan permaian termasuk mencerna tujuan dari permainan yang diberikan kepadanya.
Lingkungan belajar pada pendidikan anak usia dini diatur oleh pendidik melalui proses pembelajaran. Adapun lingkungan belajar di sekolah mencakup tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, metodologi pembelajaran dan penilaian pembelajaran. Pada metodologi pembelajaran terdapat dua hal yang saling berhubungan yaitu metode dan media
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Vol.7 Ed.1, 2020 | 2 pembelajaran. Metode pembelajaran
merupa-kan cara pendidik dalam menyajimerupa-kan materi pembelajaran pada anak. Sedangkan media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan dalam pembelajaran. Keduanya saling memiliki keterkaitan, namun media memiliki kedudukan yang sangat penting dalam mencapai tujuan pembelajaran secara efektif.
Asmariani (2017:26) menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran anak usia dini media dapat dijadikan sebagai wahana untuk mendekatkan persepsi dan pemahaman pendidik dengan daya tangkap anak. Media sebagai pembawa informasi atau pesan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Dalam pendidikan anak usia dini media pembelajaran bisa disajikan berupa alat permainan, seperti boneka tangan, boneka jari, balok bangunan, puzzle, bola, permainan prosesi dan sebagainya. Pendidik PAUD masih sering hanya bertumpu pada penggunaan APE sebagai pendukung pembelajaran. Sejatinya pendidik PAUD perlu melakukan inovasi secara berkala terhadap sajian pembelajaran bagi anak usia dini. Media pembelajaran harus disajikan semenarik mungkin agar anak terangsang untuk belajar serta menikmati pembelajaran.
Sistem pendidikan yang umum diterapkan pada pendidikan anak usia dini yaitu bermain sambil belajar. Pusat, teori dan praktek pendidikan dengan memadukan cara mengajar “bermain sambil belajar” yang memadukan kurikulum yang dicanangkan oleh pemerintah. Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang ulang dan menimbulkan kesenangan dan kepuasan bagi diri seseorang. Bermain merupakan kebutuhan setiap anak atau individu, melaui bermain anak akan memperoleh pengetahuanya sendiri dan
membangun pikiranya sendiri. Oleh karena itu sebagian besar pendidikan anak usia dini disajikan dengan kegiatan bernyanyi, alat peraga sederhana serta permainan yang
diberikan membantu meningkatkan
keterampilan anak.
Mengatasi permasalahan diatas maka diperlukan kajian khusus tentang bagaimana seorang pendidik memilih media yang tepat untuk disajikan dalam pembelajaran PAUD. Penggunaan media yang tepat akan membantu anak memahami pesan pembelajaran dengan mudah.
PEMBAHASAN Media Pembelajaran
Kata media berasal dari kata latin, dan merupakan bentuk jamak dari kata medium, secara harfiah mempunyai arti perantara atau
pengantar. Media adalah perantara atau
pengantar dari pengirim pesan ke penerima pesan. Sehingga dalam pembelajaran media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, minat dan perhatian anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Ada beberapa batasan yang dikemu-kakan oleh para ahli tentang pengertian media yang dikutip Susilana dan Riyana (2008: 5) menyebutkan bahwa:
1. Teknologi pembawa pesan yang dapat
dimanfaatkan untuk keperluan
pembelajaran. Jadi media adalah perluasan dari pendidik (Schram, 1977).
2. Sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya (NEA, 1969).
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Vol.7 Ed.1, 2020 | 3 3. Alat untuk memberikan perangsang bagi
anak supaya terjadi proses belajar (Briggs, 1970).
4. Segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan (AECT, 1977).
5. Berbagai jenis komponen dalam lingkungan anak yang dapat merangsang anak untuk belajar (Gagne, 1970).
6. Segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan anak untuk belajar (Miarso, 1989).
7. Media merupakan alat saluran komunikasi, yang jika dipertimbangkan dapat membawa pesan-pesan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran (Heinich, 1993).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas tentang batasan pengertian media, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk penyaluran informasi kepada penerima informasi. Dalam proses pembelajaran pendidik menyampaikan informasi kepada anak didik yang bertujuan agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian anak didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Penggunaan media secara kreatif akan mendorong anak untuk belajar lebih banyak, menikmati proses pembelajaran secara menyenangkan, mengkonstruksi cara berfikir anak didik terhadap hal-hal konkrit, serta mengurangi penafsiran gagal paham pada anak didik. Untuk mengatasi kegagalan komunikasi pada anak didik maka dapat dibantu dengan pemanfaatan media pembelajaran.
Media juga merupakan alat bantu yang digunakan oleh pendidik untuk menerangkan pelajaran pada setiap tema. Dalam usaha
memanfaatkan media sebagai alat bantu, Edgar Dale dalam Arsyad (2013:10) mengadakan klasifikasi menurut tingkat dari yang paling kongkrit ke yang paling abstrak. Rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi. Klasifikasi tersebut dikenal dengan nama kerucut pengalaman dalam menentukan alat bantu yang paling sesuai untuk pengalaman belajar.
Gambar 1. Kerucut Pengalaman Edgar Dale
Pemikiran Edgar Dale tentang kerucut pengalaman (Cone of Eksperience) ini merupakan dasar tentang keterkaitan antara teori belajar dengan komunikasi audiovisual, dimana hasil belajar seseorang diperoleh melalui pengalaman langsung (konkret), kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang. Semakin keatas puncak kerucut semakin abstrak, media penyampai pesan yang digunakan. Proses belajar dan interaksi mengajar tidak harus dari pengalaman langsung tetapi dimulai dengan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kelompok anak didik. Serta rentan usia anak didik yang dihadapi dengan mempertimbangkan situasi belajar.
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Vol.7 Ed.1, 2020 | 4 Pendidikan Anak Usia Dini
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 14 menyatakan “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan
untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”. Rangsangan ini diberikan melalui pembiasaan aktifitas anak yang dilakukan secara berulang-ulang. Sehingga tumbuh kembang anak akan meningkat secara bertahap seiring dengan kemajuan pola pikir dan interaksi anak terhadap lingkungan belajar. Selanjutnya dalam pasal 28 ayat 1 rentang umur anak usia dini adalah 0 hingga 6 tahun, sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0 hingga 8 tahun (masa emas). Adapun ruang lingkup pendidikan anak usia dini, diantaranya: bayi (0-1 tahun), balita (2-3 tahun), kelompok bermain (3-6 tahun), dan sekolah dasar kelas awal (6-8 tahun).
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelengaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletak dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri (Yendra Sari, 2015: 3). Pertumbuhan merupakan proses kuantitatif yang menunjukkan perubahan yang dapat diamati secara fisik. Seperti penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, lingkar kepala dan sebagainya. Sedangkan, perkembangan merupakan proses kualitatif yang menunjukkan
bertambahnya kemampuan (keterampilan) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang beraturan dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Setiap anak memiliki tahap pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda, dengan adanya pendidikan anak usia dini mampu mendukung kemampuan kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, moral, dan agama. Hal tersebut berperan penting dalam pendidikan anak ditahap awal kehidupannya.
Asmariani (2016:29) menyebutkan bahwa usia dini merupakan masa keemasan (the golden age) namun sekaligus sebagai periode yang sangat kritis dalam tahap perkembangan manusia. Selain itu Pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia dini sangat menentukan derajat kualitas kesehatan, intelegensi, kematangan emosional dan produktivitas manusia pada tahap berikutnya. Dengan demikian pengembangan anak usia dini merupakan investasi sangat penting bagi Sumber Daya Manusia yang berkualitas.
Berbagai kebijakan strategis dalam pembangunan sumber daya manusia dilakukan oleh pemerintah guna mengembangkan layanan pendidikan anak usia dini bagi masyarakat. Anak usia dini disiapkan untuk memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. PAUD pada jalur pendidikan formal dapat berupa Taman Kanak-Kanak dan (TK)/ Raudathul Atfhal (RA). PAUD pada jalur pendidikan nonformal dapat berupa Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Vol.7 Ed.1, 2020 | 5 Tujuan utama: untuk membentuk anak
Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan pada masa dewasa.
Tujuan Penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah, sehingga dapat mengurangi usia putus sekolah dan mampu bersaing secara sehat di jenjang pendidikan berikutnya.
Pembelajaran program PAUD harus menciptakan suasana bermain yang aman, nyaman, bersih, sehat dan menarik. Pembelajaran pada PAUD juga disajikan dalam bentuk permainan yang menghadirkan kegembiraan bagi anak didik, hal ini dikenal dengan istilah bermain sambil belajar. Cara mengajar seperti ini dengan memadukan kurikulum yang digariskan oleh pemerintah. Basis dari pembelajaran PAUD yaitu bersosialisasi, bermain dan bergembira. Kurikulum harus dilandasi etika dan moral yang baik. Selain itu pendidik harus mampu mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi sekolah melalui pendekatan holistik terintegrasi. Kurikulum PAUD melalui program holistik integratif meliputi pendidikan, pengasuhan, pemberian kesehatan, asupan gizi,
parenting, rangsangan pendidikan dan perlindungan usia dini. Unsur holistik integratif dengan membuat catatan tertulis tentang riwayat kesehatan anak, riwayat imunisasi anak, deteksi dini tumbuh kembang anak, anak yang memerlukan perhatian khusus serta waktu kunjungan petugas kesehatan.
Pemilihan Media Pembelajaran untuk Pendidikan Anak Usia Dini
Jenis-jenis media pembelajaran sangat beragam, ada media audio, media visual, media audio visual dan multimedia. Ragam media tersebut tidak akan digunakan seluruhnya secara serentak dalam kegiatan pembelajaran. Untuk itu perlu dilakukan pemilihan media tersebut. Pendidik harus mengetahui kriteria dalam pemilihan media pembelajaran bagi anak usia dini.
Media pembelajaran tidak hanya memberikan manfaat yang besar pada anak usia dini namun juga memberikan manfaat bagi tenaga pendidik anak usia dini, sebagaimana manfaat media pembelajaran bagi tenaga pendidik (Khadijah, 2015:95), yaitu:
1) Memberikan pedoman, arahan untuk mencapai tujuan. Dalam mengajar tentunya pendidik harus memiliki pedoman pembelajaran sehingga konsep pembelajaran yang akan dirancang berpatokan pada pedoman pembelajaran dalam mencapai tujuan pembelajaran.
2) Menjelaskan struktur dan urutan pengajaran dengan baik. Media yang digunakan mampu menjelaskan secara detail struktur atau urutan proses pembelajaran yang akan dilakukan dalam satu hari
3) Memberikan kerangka sistematis secara baik.
4) Memudahkan kembali pengajaran terhadap materi pembelajaran. Memberikan keringan-an pada pendidik dalam mengajar
5) Membantu kecermatan, ketelitian dalam penyajian dalam pembelajaran. Membantu pendidik untuk lebih cermat dan teliti dalam pembelajaran.
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Vol.7 Ed.1, 2020 | 6 6) Membangkitkan rasa percaya diri seorang
pengajar. Menghilangkan rasa gugup dan meningkatkan keberanian pada pendidik. 7) Meningkatkan kualitas pembelajaran.
Sedangkan manfaat dari media pembelajaran bagi peserta didik, (Khadijah, 2015:95) yaitu: 1) Meningkatkan motivasi,
2) Memberikan dan meningkatkan variasi belajar anak,
3) Memberikan struktur materi pembelajaran, 4) Memberikan inti informasi kepada anak, 5) Merangsang anak untuk berpikir dan
beranalisis,
6) Menciptakan kondisi dan situasi belajar tanpa tekanan.
Pemilihan media yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran, sangat diperlukan bagi seorang pendidik untuk dapat menentukan pilihannya masing-masing, sesuai dengan kebutuhan pada saat pertemuan dengan harapan media yang dipilih dapat mempercepat proses pelaksanaan pelajaran sehingga tercapai tujuan yang diharapkan. Pada saat media dipilih maka, “pada saat itulah seorang pendidik sudah mampu berpikir bagaimana
encoding, yaitu proses penuangan pesan
kedalam simbol-simbol komunikasi, dan melakukan decoding yaitu proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan pembelajaran”.
Asmiarni (2016:36) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang perlu disikapi dalam pemilihan media pembelajaran adalah: a) komunikatif, b) harga murah, c) nilai kepraktisan dan d) kondisi pemakai. Pendidik perlu menyesuaikan pula dengan metode pembelajaran yang digunakan dikelas serta tujuan pembelajaran. Agar ada korehensi antara media yang digunakan dengan materi pembelajaran yang disampaikan. Secara umum
media pembelajaran mempunyai kegunaan diantaranya: 1) memperjelas penyajian pesan, 2) mengatasi keterbelakangan ruang, 3) meng-atasi sifat pasif anak.
Badru & Cucu (2010:14) menyebutkan bahwa dalam konteks pemilihan media pembelajaran untuk anak usia dini, beberapa dasar pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran tersebut diantaranya adalah :
1. Media pembelajaran yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan pemakai (anak usia dini) yang dilayani serta mendukung tujuan pembelajaran.
2. Media pembelajaran yang dipilih perlu didasarkan atas azas manfaat, untuk apa dan mengapa media pembelajaran tersebut dipilih.
3. Pemilihan media pembelajaran hendaknya berposisi ganda baik berada pada sudut pandang pemakai (pendidik, anak) maupun dari kepentingan lembaga. Dengan demikian kepentingan kedua belah pihak akan terpelihara dan tidak ada yang dirugikan manakala kepentingan masing-masing ada yang kurang selaras.
4.Pemilihan media pembelajaran harus didasarkan pada kajian edukatif dengan memperhatikan kurikulum yang berlaku, cakupan bidang pengembangan yang dikembangkan, karakteristik peserta didik serta aspek-aspek lainnya yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan dalam arti luas.
5. Media pembelajaran yang dipilih hendaknya memenuhi persyaratan kualitas yang telah ditentukan antara lain relevansi dengan tujuan, persyaratan fisik, kuat dan tahan lama, sesuai dengan dunia anak, sederhana, atraktif dan berwarna, terkait dengan
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Vol.7 Ed.1, 2020 | 7 aktivitas bermain anak serta kelengkapan
yang lainnya.
6. Pemilihan media pembelajaran hendaknya memperhatikan pula keseimbangan koleksi (well rounded collection) termasuk media pembelajaran pokok dan bahan penunjang sesuai dengan kurikulum baik untuk kegiatan pembelajaran maupun media pembelajaran penunjang untuk pembinaan bakat, minat dan keterampilan yang terkait. 7. Guna memudahkan memilih media pembela-jaran yang baik perlu kiranya menyertakan alat bantu penelusuran informasi seperti katalog, kajian buku, review atau bekerjasama dengan sesama komponen fungsional seperti pendidik-pendidik atau kepada pimpinan lembaga PAUD dalam forum KKG (kelompok kerja pendidik), misalnya para pendidik dari berbagai lembaga PAUD dimungkinkan untuk saling tukar informasi mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan peningkatan proses belajar mengajar (PBM) dan tentang kondisi keberadaan media pembelajaran yang diperlukan.
Pendidik PAUD bisa melakukan pengembangan media pembelajaran, sesuai dengan kebutuhan. Sebagai contoh media pembelajaran yang telah dikembangkan oleh Saurina (2016:107) yaitu pembuatan media pembelajaran untuk memperkenalkan Binatang Berdasarkan Tempat Hidupnya untuk anak KB usia 3-4 Tahun Menggunakan Augmented
Reality. Media pembelajaran ini menampilkan
objek binatang secara 3D pada smartphone. Anak dapat menangkap pesan langsung dari media tersebut untuk belajar mengenali macam-macam binatang.
Berdasarkan dasar pertimbangan yang telah disebutkan diatas pendidik PAUD harus
bisa memilih media mana yang tepat untuk disajikan dalam pembelajaran. Pendidik PAUD mendemonstrasikan, memberi gambaran yang jelas, dan menarik minat dan gairah belajar anak. Jadi, dasar pertimbangan untuk memilih suatu media yaitu dapat memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan serta pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh penerima dalam hal ini anak PAUD.
PENUTUP
Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi/pesan. Adapun sistem Pendidikan yang diterapkan pada PAUD yaitu bermain sambil belajar. Dimana pembelajaran harus mencakup kegiatan bersosialisasi, bermain dan bergembira. Media sebagai sarana yang tepat untuk menyampaikan pesan guna membentuk pengalaman konkrit bagi anak usia dini. Seorang pendidik harus mampu menyajikan media yang tepat untuk mendukung pembelajaran PAUD. Dengan demikian para pendidik PAUD perlu memahami beberapa dasar pertimbangan dalam pemilihan media pembelajaran PAUD. Hal ini bertujuan agar media yang digunakan dapat memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan serta pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh penerima dalam hal ini anak PAUD.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, A. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta; PT Raja Grafindo Persada. Susilana, Rudi & Riyana, Cepi. 2008. Media
Pembelajaran. Bandung ; CV Wacana
Prima:
Rahayu, Aprianti Y. 2017. Menumbuhkan
Kepercayaan Diri Melalui Kegiatan Bercerita, Jakarta : PT Indeks.
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Vol.7 Ed.1, 2020 | 8 Zaman, Badru & Eliyawati, Cucu. 2010. Media
Pembelajaran Anak Usia Dini.
https://www.academi.edu. (Online), diakses 25 Januari 2020.
Sari, Yendra. 2015. Penggunaan Media
Pembelajaran untuk Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini.https://jurnal.fkip.unila.ac.id.
(Online), diakses 25 Januari 2020. Asmariani. 2016. Konsep Media Pembelajaran
PAUD. Jurnal Al-Afkar, Vol V, Nomor
1, Edisi April
Saurina, Nia. 2016. Pengembangan Media
Pembelajaran untuk Anak Usia Dini.
Jurnal IPTEK, Vol 20, Nomor 1, Edisi Mei
Dewi, Kurnia. 2018. Pentingnya Media
Pembelajaran untuk Anak Usia Dini.
https://jurnal.radenfatah.ac.id. (Online). Diakses 25 Januari 2020.
Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Tahun 2003.
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 9
PERANAN GURU DALAM MEMBIMBING MORAL ANAK DI
KELOMPOK BERMAIN MAWAR FKIP JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS
PATTIMURA AMBON
Hermelina Abarua Dosen PLS FKIP Unpatti AmbonAbstract
This study aims to determine the role of the teacher in guiding moral children in preschool Rose FKIP Ambon and the factors that support and hinder the implementation of moral guardianship of the child. This type of research is a qualitative descriptive analysis used is qualitative analysis by several stages, namely: data reduction, data presentation, and draw conclusions. The results of data analysis showed that (1) The teacher's role in guiding the morals of the children in preschool Rose FKIP Unpatti Ambon is the role of teachers as models, mentors, motivators and assessors (2) The supporting factors in guiding the morals of the children in preschool Rose FKIP Unpatti Ambon among others : the role of family / parents, awareness of the role of teachers and the availability of facilities and infrastructure of learning while inhibiting factors or constraints, among others: the impact of IT development as well as environmental and cultural weakness of learning.
Keywords: The role of the teacher, The child's moral guide.
PENDAHULUAN
Anak usia dini sebagai aset sumber daya manusia yang akan membawa kemajuan dan kebermanfaatan bagi kehidupan bangsa, perlu mendapat perhatian dan pendidikan yang serius dari orang tua maupun guru di sekolah. Peran orang tua dalam membimbing pertumbuhan anaknya sejak usia dini menjadi sangat penting bagi modal kehidupan dan pendidikan anaknya kelak.
Salah satu kewajiban utama orang tua adalah memberikan pendidikan bagi anaknya diantaranya adalah pendidikan moral atau penanaman akhlak terhadap anak. Perkem-bangan moral dan akhlak anak kelak sangat ditentukan sejak usia dini sehingga anak akan terbiasa bersikap baik ataupun sebaliknya. Pendidikan pada usia dini sangat penting dan
mendasar serta sangat menentukan bagi perkembangan kecerdasan moral anak, maka penting bagi orang tua untuk memberikan kesempatan pada anak-anak dan membantu proses perkembangannya melalui pelibatan anak pada lembaga PAUD dengan memilih lembaga pendidikan (PAUD) yang tepat sehingga anak dapat dibimbing dengan baik guna pengembangan kecerdasan dan moralnya. Pentingnya keseimbangan antara pendidikan moral bagi anak usia dini dan kebebasan anak dalam mengembangkan fantasinya, lembaga PAUD memegang peranan yang tidak kalah penting bagi tercapainya peletakan dasar atau berawalnya pendidikan bagi anak usia dini.
Pada kenyataannya guru PAUD belum sepenuhnya mampu dalam membimbing anak didiknya terutama dalam bidang kedisiplinan,
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 10 terlihat ketika peneliti melakukan observasi
pada beberapa PAUD yang ada di Kota Ambon menunjukan bahwa masih ada guru yang kurang tanggap ketika ada anak yang melakukan kesalahan seperti makan sambil berjalan dan berkata dengan kasar, masih membiarkan anak tidak meletakkan mainan pada tempatnya.
Kelompok Bermain Mawar FKIP
Unpatti Ambon sebagai salah satu kelompok PAUD yang ada di Kota Ambon harus mampu menghadapi tantangan yang semakin berat sejalan dengan perubahan masyarakat yang semakin cepat. Untuk menciptakan peserta didik yang berkualitas maka peran guru sangat penting dalam membimbing anak di berbagai bidang pengembangan dan dapat mencetak generasi yang berakhlak mulia serta memiliki kecerdasan moral yang diawali sejak dini.
Peran guru PAUD sebagai salah satu komponen penyelenggara dalam program pendidikan anak usia dini sangatlah penting peranannya dalam meletakan dasar moral bagi seorang anak, karena biasanya anak-anak senang menuruti perintah gurunya. Oleh karena itu seorang guru PAUD harus selalu berupaya dengan berbagai cara dapat membimbing anak agar memiliki kepribadian yang baik, yang dilandasi dengan nilai moral dan agama.
Bertolak dari kenyataan dan persoalan tersebut, untuk meningkatkan efektifitas dan dapat meningkatkan kecerdasan moral anak usia dini, maka perlu adanya peran serta dari pendidik yang profesional dan menggunakan metode yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran. Penelitian ini dilakukan guna mengkaji peranan guru dalam membimbing perkembangan moral anak di Kelompok Bermain Mawar FKIP Unpatti Ambon.
KAJIAN TEORITIS Pengertian Anak Usia Dini
Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar sepanjang rentang pertumbuhan serta perkembangan kehidupan manusia. Masa ini ditandai oleh berbagai periode penting yang fundamental dalam kehidupan anak selanjutnya sampai periode akhir perkembangannya. Masa anak usia dini sering disebut dengan istilah “golden
age” atau masa emas. Pada masa ini hampir
seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat. Perkembangan setiap anak tidak sama karena setiap individu memiliki perkembangan yang berbeda. Menurut Mansur (2005: 88) anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Mereka memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.
Anak usia dini, dilihat dari rentang usia menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ialah anak sejak lahir sampai usia enam tahun. Anak usia dini menurut undang-undang ini berada pada rentang usia lahir sampai usia taman kanak-kanak. Usia anak pada rentang usia 0–6 tahun, proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia, sehingga proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan
yang diberikan pada anak harus
memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan anak (Yuliani Nurani, 2011:6)
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 11 Pada masa kanak-kanak merupakan masa
saat anak belum mampu mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Mereka cenderung senang bermain pada saat yang bersamaan, ingin menang sendiri dan sering mengubah aturan main untuk kepentingan diri sendiri. Dengan demikian, dibutuhkan upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan, baik perkembangan fisik maupun perkembangan psikis. Potensi anak yang sangat penting untuk dikembangkan. Potensi-potensi tersebut meliputi kognitif, bahasa, sosio emosional, kemampuan fisik dan lain sebagainya.
Karakteristik Anak Usia Dini
Anak usia dini memiliki karakteristik yang unik karena mereka berada pada proses tumbuh kembang yang sangat pesat dan fundamental bagi kehidupan berikutnya. Sofia Hartati (2005: 8-9) mengemukan karakteristik anak usia dini antara lain : 1) memiliki rasa ingin tahu yang besar, 2) merupakan pribadi yang unik, 3) suka berfantasi dan berimajinasi, 4) masa potensial untuk belajar, 5) memiliki sikap egosentris, 6) memiliki rentan daya konsentrasi yang pendek, 7) merupakan bagian dari mahluk sosial. Sementara itu, Rusdinal (2005: 16) menambahkan bahwa karakteristik anak usia 5-7 tahun adalah sebagai berikut: 1) anak pada masa praoperasional, belajar melalui pengalaman konkret dan dengan orientasi dan tujuan sesaat, 2) anak suka menyebutkan nama-nama benda yang ada disekitarnya dan mendefinisikan kata, 3) anak belajar melalui bahasa lisan dan pada masa ini berkembang pesat, 4) anak memerlukan struktur kegiatan yang lebih jelas dan spesifik.
Anak usia dini juga dikenal memiliki sikap spontan, baik dalam melakukan aktivitas
maupun saat berinteraksi dengan orang lain. Tidak bisa membedakan apakah perilaku yang ditunjukkan dapat diterima oleh orang lain atau tidak dapat diterima, jika orang dewasa (seperti: orang tua, guru) tidak menyampaikan atau memberitahukan kepada anak secara langsung tentang-perilaku-perilaku yang diharapkan masyarakat, memberikan contoh kepada anak tentang sikap-sikap yang baik, dan membiasakan anak untuk bersikap baik dalam kehidupan sehari-hari di manapun anak berada. Namun yang menjadi bahan pertimbangan dalam pembentukan sikap anak agar menjadi individu yang bersikap baik adalah anak usia dini belum mengetahui banyak hal tentang bagaimana harus berperiku yang dapat diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu peran pendidikan dibutuhkan untuk membantu penanaman nilai-nilai perilaku atau moral pada anak sejak usia dini
Peran Guru PAUD
Guru merupakan bagian yang paling penting dalam memberikan pendidikan dan bimbingan terhadap anak. Guru atau Pendidik bukan lagi sekedar pengajar tetapi adalah agen pembelajaran yang membantu peserta didik yang secara mandiri mengembangkan potensi dirinya melalui olah batin, olah pikir, olah rasa dan olah raga (Soandi, 2010:52).
Peranan guru di PAUD sangat penting,sehingga tidak sembarangan orang bisa menjalankannya. Menurut Udin dalam Wibowo ( 2012: 107-108) bahwa guru PAUD adalah orang yang melaksanakan berbagai paket upaya peningkatan mutu dan inovasi pendidikan, yang bertanggung jawab langsung dalam penyelenggaraan PAUD. Peran guru pada Pendidikan Anak usia Dini (PAUD) sangat penting dalam mengoptimalkan tumbuh
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 12 kembang anak, guru juga pengganti orang tua
saat anak di sekolah.
Menurut Mulyasa (2013:37), dapat diidentifikasi sedikitnya 19 peran guru, yakni guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu (innovator), model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit, pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita, actor, emancipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator.Ada beberapa peran guru dalam penanaman kemandirian anak diantaranya, Sebagai pembimbing, guru berperan membantu anak didik apabila mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan.
Dalam kaitannya dengan pembimbingan moral pada anak usia dini, maka ada beberapa peran yang harus dilaksanakan guru yaitu sebagai model, pembimbingan, pelatih, motivator, dan penilai (sukmawati 2015:90). Sebagai model figur guru adalah manusia yang harus dapat dipercaya dan baik perilakunya. Dalam proses belajar mengajar guru memiliki kapasitas sebagai pendidik, model, atau teladan bagi peserta didiknya. Hal ini sesuai dengan salah satu dari empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru, yaitu kompetensi personal. Kompetensi ini sangat penting terutama pada tingkatan pendidikan anak usia dini. Jarang kita sadari bahwa sesungguhnya anak usia dini mudah sekali meniru apapun yang dilihat dan diperhatikan (masa imitative),
Peran guru sebagai Pembimbing memiliki makna sebagai orang yang
memberikan arahan, memandu, dan
mendampingi anak dalam melaksanakan program pembiasaan. Secara psikologis anak usia dini belum banyak mengenal dan mengalami bagaimana hakikat kehidupan ini. Mereka masih berada pada proses scaffolding
yaitu suatu kondisi ketika anak dalam sikap, perilaku, dan aktivitas hidupnya masih tergantung pada pada bimbingan dari orang yang lebih dewasa, sedangkan peran sebagai Pelatih Anak Usia Dini (kelompok bermain dan TK) adalah sosok manusia yang masih sangat membutuhkan latihan, pengulangan, dan perbaikan berbagai macam perilaku dan perbuatan.
Pengembangan moral sangat
membutuhkan pembiasaan, latihan, dan pengulangan pada bentuk perilaku dan perbuatan positif sehingga hal itu menjadi suatu kebiasaan (habit) dan sebagai Motivator guru berperan sebagai pemberi semangat (motivator), stabilitas motivasi peserta didik sangat perlu dijaga dengan baik dan konsisten. Naik turunya suasana kebatinan peserta didik adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Pada posisinya sebagai motivator, guru seharusnya mendorong anak didik agar memiliki semangat untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Terakhir guru berperan Sebagai Penilai dimana setiap perkembangan dan adanya perubahan dari suatu program pendidikan memerlukan evaluasi. Fungsi evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat pencapaian keberhasilan program sekaligus untuk menentukan langkah-langkah perbaikan.
Perkembangan Moral Anak Usia Dini
Setiawati (2006: 43) Moral berasal dari kata latin mores berarti tatacara, kebiasaan dan adat. Istilah Moral selalu terkait dengan kebiasaaan , aturan, atau tatacara suatu masyarakat tertentu, termasuk pula dalam moral adalah aturan-aturan atau nilai-nilal agama yang dipegang masyarakat setempat. Dengan demikian perilaku moral merupakan perilaku manusia yang sesuai dengan harapan, aturan, dan
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 13 kebiasaan suatu kelompok masyarakat tertentu.
Begitu pentingnya setiap individu mampu melaksanakan moral yang ada di lingkungan tempat tinggalnya sehingga hal tersebut harus dibiasakan, ditanamkan, dan dibina pada anak sejak usia dini.
Ahmad Gunadi (2013: 87) memaparkan bahwa Piaget membagi perkembangan moral anak menjadi 3 fase yaitu: (1) fase absolut; anak menghayati peraturan sebagai suatu hal yang dapat diubah, karena berasal dari otoritas yang dihormatinya. Peraturan sebagai moral adalah obyek eksternal yang tidak boleh diubah, (2) fase realitas; anak menyesuaikan diri untuk menghindari penolakan orang lain. Peraturan dianggap dapat diubah, karena berasal dari perumusan bersama. Mereka menyetujui perubahan yang jujur dan disetujui bersama, serta merasa bertanggung jawab menaatinya, dan (3) fase subyektif; anak memperhatikan motif/kesengajaan dalam penilaian perilaku. Oleh karena itu dalam kegiatan main yang akan dilakukan oleh anak, guru atau orang dewasa dapat mengajukan beberapa aturan yang harus ditaati selama bermain, sekaligus mendiskusikan tentang hadiah (reward) yang akan diberikan kepada anak yang mentaati aturan, dan hukuman
(punishment) yang diberikan kepada anak yang
melanggar aturan yang sudah disepakati. Kemampuan anak untuk melaksanakan aturan main yang sudah disepakati dapat menjadi indikasi tingkat kepatuhan yang dimiliki anak terhadap aturan yang ada. Orang tua, guru, atau orang dewasa yang ada di sekitar anak sebaiknya mampu membimbing anak untuk mematuhi aturan yang sudah disepakati untuk membiasakan anak agar selalu taat pada aturan yang ada di sekitarnya. Syamsu Yusuf (2011: 134) menjelaskan bahwa
perkembangan moral pada anak-anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, yaitu: (1) pendidikan langsung melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah atau yang baik dan buruk oleh orang tua, guru, atau orang dewasa lainnya. (2) identi-fikasi dengan cara meniru penampilan atau tingkah laku moral orang dewasa yang menjadi idolanya. (3) proses coba-coba dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikannya.
METODE
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan subyek penelitian Kepala Sekolah Kelompok Bermain Mawar FKIP Unpatti Ambon (Norce Leha SPd) merangkap sebagai pengajar pada kelompok B, Guru Kelompok Bermain Mawar FKIP Unpatti Ambon yaitu : Penina Tagainau SPd guru pada kelompok A. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 3 Maret sampai tanggal 5 April 2019 bertempat di KB Mawar FKIP Unpatti Ambon. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. dan metode analisis mengggunakan analisis data kualitatif melalui aktifitas data reduction, data
display, and data conclusion drawing verification (Mile dan Huberman) dalam
Sugiyono (2011:246). Uji keabsahan data mengunakan triagulasi sumber.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Peran guru dalam membimbing moral Anak di Kelompok Bermain Mawar FKIP
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 14 Unpatti Ambon dari hasil penelitian yang
diperoleh melalui wawancara terkait dengan terkait dengan peranan guru dalam pembimbingan moral anak menurut NL selaku Kepala sekolah bahwa peran guru dalam mengembangkan Nilai Moral anak dalam kegiatan pembelajaran yaitu dimulai dengan pembuatan RPP mengacu pada pada kurikulum 2013, yang terdiri dari RPPH dan RPPM secara bersama-sama. RPPM dibuat sama tetapi RPPH dibuat dalam tingkat kesulitan yang berbeda dengan mengacu pada kurikulum 2013 dan juga mengacu pada kompetensi dasar nilai agama moral dengan STTPA nilai agama moral (Wawancara tanggal 6 Maret 2019). Hal ini senada dengan PT selaku pengajar bahwa peran guru dalam mengembangkan Nilai Agama Moral yaitu dalam pembuatan RPP mengacu pada pada kurikulum 2013, yang terdiri dari RPPH dan RPPM (Wawancara tanggal 11 Maret 2019).
Hasil observasi (tanggal 7 Maret-1 April 2019) yang dilakukan selama proses pembelajaran menunjukan bahwa pelaksanaan kegiatan pembelajaran guna pembimbingan moral anak telah dilakukan oleh guru dengan melalui aktifitas doa sebelum kegiatan, memberikan pujian dan semangat, memberikan contoh tentang disiplin, penertiban anak-anak dengan meletakan APE pada tempatnya dengan baik dan memberikan contoh saling berbagi diantara anak-anak dan melakukan kegiatan main yang membangun moral anak, juga mengajarkan anak untuk saling menghormati satu sama lain maupun orang yang lebih tua darinya.
Pemahaman akan pentingnya peranan guru ini penting. Menurut NL (Wawancara tanggal 6 Maret 2019) bahwa peran guru yang harus diketahui dan dipahami oleh
masing-masing guru agar dapat melaksanakan tugasnya dalam mendidik dan membimbing anak guna untuk mencetak generasi yang bermoral. Hal ini telah diupayakan pada KB Mawar Unpatti Ambon melalui pendam-pingan/pembinaan bagi guru oleh Kepala Sekolah sebagaimana dikemukakan oleh PL (Wawancara tanggal 11 Maret 2019) bahwa kepala sekolah senantiasa memberikan bimbingan dan arahan bagi setiap guru untuk terus berupaya memberikan contoh yang baik bagi anak sehingga anak dengan sendirinya terbangun moralnya karena mengikuti teladan atau contoh yang dilakukan oleh para guru.
Dalam kaitannya dengan guru sebagai model maka guru harus senantiasa menjaga sikapnya dengan baik. Hal ini penting dilakukan guna memberikan contoh yang baik bagi perkembangan moral anak. Selain itu merupakan salah satu kompetensi personal yang harus dimiliki oleh para guru PAUD. Kompetensi personal (kepribadian) merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif , berwibawa dan menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia (Kunandar, 2009 :75)
Guru PAUD juga berperan sebagai pembimbing dalam kaitannya dengan pengembangan moral anak. Menurut NL selaku kepala sekolah (wawancara tanggal 6 Maret 2019) bahwa peranan guru sebagai pembimbing telah dilakukan dengan memberikan arahan, memandu, dan men-dampingi anak dalam melaksanakan program pembiasaan yang terintegrasi dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Sesuai hasil observasi (tanggal 7 Maret-1 April 2019) yang dilakukan maka nampak guru PAUD KB Mawar Unpatti telah melakukan
pendam-Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 15 pingan bagi anak saat bermain, memberikan
nasihat/arahan bagi anak selama belajar untuk senantiasa bekerjsama/tolong menolong dan memandu anak untuk setiap kegiatan yang dilakukan. Menurut PL selaku guru PAUD KB Mawar (wawancara tanggal 11 Maret 2019) bahwa memang dalam setiap kegiatan guru harus dapat mengarahkan dan memandu anak-anak sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Anak-anak sering mengikuti keinginannya sendiri tetapi dengan bantuan guru maka semua anak-anak dapat menjalani proses pembelajaran yang dipandu atau diarahkan oleh guru. Menghadapi anak-anak yang kurang perhatian guru senantiasa memberikan nasihat dengan memberikan contoh-contoh kepada mereka.
Mencermati peranan guru tersebut apabila dapat dilakukan dengan konsisten maka anak-anak akan terbiasa dengan situasi yang baik dan jika dilakukan secara terus menerus dan anak-anak dapat mengikutinya maka akan menjadi semua pembiasaan yang akan sangat berpengaruh bagi perkembangan moral anak. Tentunya hal ini juga harus dilakukan oleh orang tua di rumah sehingga budaya baik terbagun bagi perkembangan moral anak. Pembiasaan menurut Zainal Aqib (2009:28) merupakan upaya yang dilakukan untuk mengembangkan perilaku anak, yang meliputi perilaku keagamaan, sosial, emosional dan kemandirian. Pembiasaan merupakan proses penanaman kebiasaan. Kebiasaan adalah pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukan secara berulang-ulang untuk hal yang sama. Dengan demikian maka apa yang telah dilakukan oleh guru PAUD KB Mawar Unpatti Ambon adalah hal yang penting untuk terus dilakukan secara
berkelanjutan dari waktu ke waktu, sehingga moral anak akan terus berkembang dengan baik,
Selain sebagai model dan pembimbing guru PAUD juga sebagai motivator untuk senantiasa mendorong anak didik agar memiliki semangat untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Menurut Sardiman (2010:102) Motivasi diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai tujuan.
Hasil observasi yang dilakukan selama penelitian menunjukan bahwa guru PAUD Mawar senantiasa melakukan motivasi bagi anak terutama saat bermain dimana anak-anak yang belum dapat menyelesaikan permainan diberikan semangat untuk menyelesaikannya misalnya untuk permainan menyusun puzzle, menyusun balok dan permainan lainnya. Respon anak yang nampak saat pemberian motivasi yaitu sangat senang dan antusias apabila guru memberikan pembelajaran yang menarik dan yang belum pernah dilakukan oleh anak. Selain itu juga respon yang sering ditunjukkan anak yaitu anak merasa senang jika guru memberikan semangat dalam melakukan kegiatan di kelas
Menurut PL (Wawancara tanggal 17 Maret 2019) bahwa sebagai guru senantiasa memberikan motivasi bagi anak untuk dapat menyelesaikan setiap permainan yang dilakukan, agar anak bisa membangun kepercayaannya bahwa ia memiliki kemampuan dan bisa seperti teman yang lain. Hal ini juga dikemukakan oleh NL selaku Kepala sekolah NL (Wawancara tanggal 17 Maret 2019) bahwa setiap guru PAUD diharapkan berperan untuk memberikan motivasi kepada anak sehingga anak memiliki
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 16 semangat untuk dalam kegiatan belajar dan
bermain. Anak-anak harus tetap dibangun semangatnya untuk melakukan hal-hal yang baik, sehingga terbentuk kemandirian, kepercayaan diri, tidak putus asa yang kesemuanya berguna untuk membangun moral anak.
Motivasi dapat berfungsi untuk merangsang atau menstimulus anak dalam kegiatan belajar agar dapat berlangsung dengan baik. Untuk mencapai tujuan dari pembelajaran maka sangat diperlukan pemberian motivasi belajar oleh guru. Di dalam kegiatan pembelajaran guru dapat membantu anak untuk mengembangkan kemandirian, kepercayaan diri, memberikan dukungan agar anak tidak mudah putus asa. Selain itu juga usaha yang dilakukan guru dengan memberikan pujian kepada anak, dan lagu-lagu tentang tema pembelajaran yang disampaikan. Usaha itu dapat membantu anak menggunakan seluruh potensinya untuk mencapai aktualisasi diri yang maksimal merupakan tugas dan tanggung jawab utama guru.
Upaya pengembangan untuk pembim-bingan moral anak tentunya perlu dievaluasi oleh para guru dan lembaga PAUD. Hal ini berhubungan dengan upaya-upaya perbaikan dan keberlanjutan yang harus dilakukan oleh lembaga PAUD. Terkait dengan hal ini maka peranaan guru adalah sebagai penilai untuk mengetahui tingkat pencapaian keberhasilan program sekaligus untuk menentukan langkah-langkah perbaikan dalam kaitannya dengan pengembangan moral anak. Penilaian juga dapat memberikan umpan balik kepada guru agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses pembelajaran.
Hasil wawancara dengan NL selaku kepala sekolah PAUD KB Mawar Unpatti Ambon (Wawancara tanggal 17 Maret 2019) bahwa penilaian dilakukan melalui penilaian pencapaian perkembangan mingguan yang terdiri dari penilaian ceklis, hasil karya dan catatan anekdot. Hal senada juga dikemukakan oleh PL selaku guru PAUD KB (Wawancara tanggal 17 Maret 2019) bahwa penilaian terhadap anak dilakukan secara mingguan dengan mengunakan penilaian ceklis, hasil karya dan catatan anekdot. Tentunya hal ini masih bersifat umum dalam melihat perkembangan moral anak namun setidaknya lembaga PAUD telah memiliki alat atau instrumen bagi penilaian anak. Format khusus tidak disiapkan oleh lembaga atau guru PAUD dalam melihat tentang penilaian perkembangan moral anak. Namun jika ingin disiapkan format khusus maka dibutuhkan kerjasama multi-disipliner yang terpadu agar informasi yang diperoleh tentang perkembangan moral anak akurat dengan berbagai bentuk pengukuran, instrumen dan strategi penilaian yang hendak digunakan.
Faktor-faktor pendukung dalam hubungannya dengan pembimbingan moral anak pada KB Mawar Unpatti Ambon antara lain :
(1) Peranan Keluarga/Orang tua.
Terlaksananya pembimbingan moral bagi anak juga tak terlepas dari peranan keluarga/orang tua. Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak usia dini. Hal ini dapat dilihat dari keinginan orang tua untuk senantiasa berkomunikasi dengan lembaga terkait dengan perkembangan anak. Hasil-hasil penilaian bagi anak berupa ceklis, catatan anakedot dan hasil karya menjadi pijakan
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 17 bersama. Terkait dengan perkembangan
moral anak guru senantiasa meminta bantuan orang tua untuk membiasakan anak di rumah guna melaksanakan pendampingan bagi anak untuk hal-hal yang positif dan hal ini sangat membantu. Hasil wawancara dengan NL selaku kepala sekolah KB Mawar Unpaati Ambon bahwa memang selain proses pembelajaran di sekolah, orang tua juga diharapkan berperan di rumah untuk dapat membangun moral anak. Hal ini disampaikan pada saat pertemua resmi maupun saat ketemu dan berkomunikasi dengan orang tua.
(2) Kesadaran akan peranan guru PAUD. Tak dapat disangkali bahwa kesadaran akan peranan sebagai guru sangat penting dalam proses pembimbingan moral bagi anak di KB Mawar Unpatti Ambon. Guru PAUD sadar bahwa tanggung jawab yang diemban dalam kegiatan pembelajaran bagi perkembangan anak adalah hal yang penting untuk dilakukan.
(3) Ketersediaan sarana prasarana pendukung, juga merupakan salah satu pendukung kegiatan pembimbingan moral anak di KB Mawar Unpatti Ambon. Ketersediaan APE sangat membantu bagi tumbuh kembang anak dalam aspek pengembangan moral melalui kegiatan-kegiatan belajar dan main yang dilakukan dengan dukungan APE yang cukup memadai, maupun ketersediaan buku-buku bacaan bagi kepentingan para pendidik/pengelola lembaga PAUD,
sedangkan untuk faktor penghambat atau kendala-kendala yang dirasakan yakni :
(1) Dampak perkembangan IT.
Sesungguhnya perkembangan IT cukup membantu masya-rakat dewasa ini namun disisi lainnya berkembangnya IT juga memberikan dampak negatif dimana penggunaan HP, game on-line sangat dirasakan pengaruhnya bagi anak dan ini perlu untuk mendapat perhatian baik oleh guru maupun orang tua di rumah. Anak sering kali sibuk dengan
permainan-permainan yang ada pada HP
dibandingkan dengan kegiatan
pembelajaran dan orang tua seringkali menuruti keinginan anak atas hal ini, (2) Lingkungan dan lemahnya budaya Belajar.
Seringkali tanpa sadar bahwa pembiasaan belajar anak di rumah sudah terlupakan. Hal ini karena perhatian orang tua kepada anak kadang sudah terlupakan akibat sibuk bekerja ataupun karena aktifitas lainnya ataupun karena orang tua yang juga terpengaruh karena perkem-bangan media sosial yang pesat terjadi. Selain itu lingkungan juga turut berpengaruh pada perkembangan anak, dimana situasi lingkungan yang cepat berubah dimana kepedulian terhadap orang lain sudah mengalami penurunan disebabkan kompetisi hidup yang semakin ketat, sehingga hubungan antar masyarakat dalam lingkungan terkadang menjading rengang dan hal ini dirasakan cukup berpengaruh pada perkembangan moral anak, disamping praktek-praktek kekerasan sosial yang sering dijumpai ditengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat terjadi karena anak didik KB Mawar Unpatti Ambon umumnya tinggal di daerah perkotaan.
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 18 Dengan demikian memahami kebutuhan
anak usia dini secara benar dalam pembimbingan moral sangatlah penting bukan untuk lembaga PAUD, Orang tua/keluarga tetapi jauh dari pada itu peranan masyarakat/lingkungan cukup penting.
PENUTUP
Pertama, Peranan guru PAUD KB Mawar
Unpatti dalam pengembangan moral anak telah dilakukan melalui peranan guru sebagai model, pembimbing, motivator dan penilai.
Kedua, Peranan guru PAUD sebagai model
dilakukan melalui pengembangan sikap yang dengan baik guna memberikan memberikan contoh yang baik bagi perkembangan moral anak.
Ketiga, Peranan guru PAUD sebagai pembimbing telah dilakukan dengan memberikan arahan, memandu, dan men-dampingi anak dalam melaksanakan program pembiasaan yang terintegrasi dengan proses pembelajaran yang dilakukan.
Keempat, Peranan guru PAUD sebagai
motivator melalui pemberian motivasi kepada anak selama kegiatan belajar dan bermain dilaksanakan untuk melakukan hal-hal yang baik.
Kelima, Peranan guru PAUD sebagai penilai
guna mengetahui tingkat pencapaian keberhasilan program sekaligus untuk menentukan langkah-langkah perbaikan dalam kaitannya dengan pengembangan moral anak juga memberikan umpan balik kepada guru agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses pembelajaran.
Keenam, Faktor-faktor yang mendukung dalam
pelaksanaan pembimbingan moral anak pada KB Mawar Unpatti Ambon antara lain :
peranan keluarga/orang tua, peranan guru, dan ketersediaan sarana dan prasarana pembe-lajaran pada lembaga PAUD, sedangkan faktor penghambat atau kendala-kendala yakni: dampak perkembangan IT serta lingkungan dan lemahnya budaya Belajar.
Ketujuh, Perlunya kerjasama semua pihak
untuk turut serta dalam pengembangan pendidikan anak bukan saja orang tua di rumah dan pihak sekolah atau lembaga PAUD tetapi masyarakat/lingkungan juga memiliki andil yang cukup besar bagi pendidikan anak usia dini.
DAFTAR PUSTAKA
Farida Agus Setiawati, 2006. Pendidikan
Moral Dan Nilai-Nilai Agama Pada Anak Usia Dini: Bukan Sekedar Rutinitas. Paradigma, No. 02 Th. I p.
41-48
Hartati Sopia. 2005. Perkembangan Belajar
Pada Anak Usia Dini. Jakarta. Grasindo
Kunandar, 2009. Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi, Jakarta: Rajawali Pers
Mansur. 2005. Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam Islam, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
Marijan. 2012. Metode Pendidikan Karakter
Membangun Karakter Anak yang Berbudi Mulia, Cerdas, dan Berprestasi.
Yogyakarta: Sabda Media
Mulyasa, E., 2013. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rusdinal. 2005. Pengelolaan Kelas di Taman
Kanak-Kanak. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 19 R. Andi Ahmad Gunadi. 2013. Membentuk
Karakter Melalui Pendidikan Moral Pada Anak Usia Dini Di Sekolah Raudhatul Athfal (R.A) Habibillah.
Jurnal Ilmiah Widya Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013 p. 85 – 91.
Sardiman. 2011. Interaksi dan Motivasi
Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo
Soandi, Ondi & Suherman Aris., 2010. Etika
Profesi Keguruan. Bandung: Refika
Aditama.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R & D. Bandung :
Alfabeta.
Syamsul Yusuf LN, 2011. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Yuliani Nurani. 2011. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta:
Indeks
Wibowo, Agus. 2012. Pendidikan Karakter
Strategi Membangun Bangsa Berperadaban. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Zainal Aqib, 2009. Belajar dan Pembelajaran
di Taman Kanak-Kanak, Bandung :
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 20
URGENSI LAYANAN DAN KOMPETENSI PENDIDIK PAUD
DALAM PENGELOLAAN PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI
DI MALUKU
Kapraja Sangadji
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Ambon [email protected]
Abstract
Early childhood education is education that is planned and pursued for early childhood which is organized by the community and by the government with the aim of helping all aspects of children's development so that they become complete children according to the goals of national education. Improving the quality of learning management services and early childhood growth and development optimally is a reflection of the performance of PAUD educators.This means that the performance of PAUD educators as a manifestation of their competence will reflect the quality of the process and work results in providing quality learning management services for early childhood. To realize quality early childhood education learning management services, early childhood educators must be able to master and apply a number of competency standards for early childhood educators as a foundation and foundation in developing all children's potential.With the improvement of the quality of learning management services for early childhood, the formulation of the four competencies of early childhood teachers and educators becomes a general and basic framework for optimal early childhood learning management.
Keywords: Educator Services, Competence, Early Childhood.
PENDAHULUAN
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi di abad 21 telah membawa beberapa dampak perubahan, salah satunya adalah pada bidang pendidikan yaitu pendidikan anak usia dini. Perkembangan Pendidikan Anak Usia Dini di Negara Indonesia semakin tumbuh dan berkembang dengan pesat. Seiring dengan perkembangan pendidikan anak usia dini, banyak perma-salahan yang menyertai dalam perkem-bangannya. Menurut Musnar Indra Daulay (2018) menjelasakan sejumlah permasalahan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia yaitu: (1) belum terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan PAUD, (2) kurangnya kualitas dan
kuantitas guru atau pamong PAUD, (3)ku-rangnya animo masyarakat atau kesadaran orang tua tentang urgensi PAUD, (4) kebijakan pemerintah tentang PAUD yang belum memadai, dan (4) kurangnya mutu layanan PAUD, (5) tidak seimbangnya rasio guru dengan murid, (7) minimnya dana, serta (8) rendahnya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan PAUD.
Sejumlah permasalahan tersebut men-jadi fenomena yang cukup miris yang perlu diberikan solusi pemecahannya, mengingat pentingnya pendidikan anak usia dini sebagai lembaga mempunyai tanggung jawab dalam meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak usia dini. Dengan adanya layanan prima dari pengelola lembaga pendidikan anak usia dini
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 21 dalam hal ini adalah pendidik PAUD
merupakan salah faktor satu kunci yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak serta keberlangsungan lembaga tersebut. Hal ini sebagai bukti dari upaya pengelola dan pendidik dalam memberikan layanan pengelolaan yang berkualitas.
Dengan demikian, sangatlah penting pemberian layanan pendidik yang berkualitas dari suatu lembaga pendidikan anak usia dini dalam mengoptimalkan kualitas pembelajaran, sehingga memberikan implikasi positif bagi tumbuh kembang anak. Dengan adanya kualitas layanan pendidik bagi anak usia dini akan semakin baik, akan meningkatkan potensi tumbuh kembang anak. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa lembaga-lembaga PAUD di Maluku yang memberikan layanan pengelolaan pendidikan tidak terlepas dari adanya kendala dalam beberapa aspek. Salah satu kendala yang mendasar adalah pada tenaga pendidik PAUD yaitu masih banyak belum memenuhi kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan standar pendidikan.
Berangkat dari uraian di atas menun-jukkan bahwa layanan pendidik anak usia dini di Maluku belum berjalan optimal. Hal ini perlu mendapatkan perhatian mengingat tumbuh kembang anak sangat penting dan eksistensi pendidik anak usia dini sebagai penyedia layanan pembelajaran sangat diha-rapkan masyarakat. Atas dasar inilah kajian ini akan melihat layanan pendidik pendidikan anak usia dini di Maluku
PEMBAHASAN
Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan adalah proses yang dilakukan dengan perencanaan yang matang untuk
mengembangkan seluruh potensi peserta didik. Pendidikan anak usia dini sangat mendasar guna kelanjutan pendidikan pada jenjang selanjutnya. Apabila dapat dikelola secara arif dan bijaksana maka pada akhirnya memberikan kemaslahatan bagi bangsa dan Negara.
Menurut Undang-Undang SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003, PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lanjutan. Lebih lanjut, dalam pasal 28 UU SISDIKNAS RI No 20 Tahun 2003, menjelaskan bahwa pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui pendidikan formal, nonformal dan/atau informal. Semen-tara penjelasan Indra Daulay (2018) bahwa pembelajaran anak usia dini dilakukan melalui kegiatan bermain yang dipersiapkan oleh pendidik dengan menyiapkan materi dan proses belajar.
Berdasarkan pendapat di atas dapat di-simpulkan bahwa pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang direncaranakan dan diupayakan bagi anak usia dini yang dise-lenggarakan oleh masyarakat maupun oleh pemerintah dengan tujuan untuk membantu seluruh aspek tumbuh kembangan anak agar menjadi anak yang paripurna sesuai tujuan pendidikan nasional. Penjelasan ini sejalan dengan tujuan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini yaitu; (1) Membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya; (2) Membantu menyiapkan
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 22 anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di
sekolah (Raihana, 2018).
Standar Kualitas Layanan Pendidik Anak Usia Dini
Berbagai realita yang menunjukkan bahwa masih banyak tenaga pendidik anak usia dini yang memiliki kualitas layanan dibawah rata-rata. Ini menunjukkan bahwa tingkat kualitas pendidik pada lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini masih rendah. Hal ini menjadi suatu masalah yang patut diperhatikan, mengingat salah satu syarat dalam satandar pendidikan adalah standar pendidik untuk menjadi dasar terhadap kualitas layanan pengelolaan pembelajaran pada lembaga PAUD sangat penting bagi peningkatan tumbuh kembang anak.
Pendirian sebuah lembaga pendidikan anak usia dini harus didasari atas ketentuan yang berlaku. Sebagai mana dijelaskan dalam UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 pasal 62 ayat 2; persyaratan yang dimaksud antara lain: (a) tersedianya kurikulum; (b) adanya peserta didik/siswa/anak didik; (c) ketersediaan tenaga kependidikan (guru dan staf); (d) adanya sarana prasarana yang mencukupi; (e) adanya pembiayaan pendidikan; dan (f) adanya sistem evaluasi. Dengan demikian, untuk mewujudkan layanan pembelajaran yang berkualitas, maka pendidik pada suatu lembaga pendidikan anak usia dini wajib memenuhi salah satu standar pendidikan nasional sebagaimana tersirat dalam Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005, yaitu Standar Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
Standar tersebut di atas, harus menjadi pijakan dan sandaran dalam peningkatan kualitas layanan pengelolaan pembelajaran anak usia dini. Namun pada kenyataan layanan pengelolaan pembelajaran anak usia dini selama ini belum optimal untuk memuasakan bagi anak usia dini/siswa. Hal ini, tidak diimbangi dengan kualitas sumberdaya yang memadai, yaitu kualifikasi dan kompetensi pendidik PAUD belum memenuhi standar yang layak, sehingga proses layanan pembelajaran bagi anak usia dini belum memberikan kepuasan atau harapan anak didik untuk tumbuh kembang secara optimal.
Menurut Sopiatin (2010) berpendapat bahwa kepuasan siswa terhadap pembelajaran dapat dilihat dari 5 dimensi, yaitu:
1. Tangible: demensi fisik. Artinya kemampuan memberi fasilitas sarana dan prasarana sekolah yang memadai untuk menunjang layanan.
2. Assurance: demensi jaminan kualitas yang
berhubungan perilaku guru dalam menanamkan rasa percaya dan keyakinan pada siswa. Demensi meliputi; kompetensi.
3. Emphaty; sikap guru dalam memberikan
layanan secara penuh hati serta memiliki kemampuan memahami perbedaan setiap siswa.
4. Reliability; kualitas layanan dalam pembelajaran menentukan kepuasan siswa. Demensi ini berhubungan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran yang berkualitas.
5. Responveness; kesedian guru untuk mendengar dan mengatasi kesulitasn dan keluhan siswa yang berhubungan dengan persalahan pembelajaran.
Jurnal Ilmiah PATITA –BPPAUD dan Dikmas Maluku Vol.7 Ed.1, 2020 | 23 Tenaga pendidik merupakan salah satu
standar yang perlu mendapat terhatian serius dari pengelola pendidikan anak usia dini karena bersentuhan langsung dengan kualitas layanan pengelolaan pembelajaran pada anak usia dini. Artinya bahwa pendidik sebagai pelaksanaan layanan pembelajaran untuk membantu tumbuh kembang potensi anak usia dini. Keberhasilan upaya membantu tumbuh kembang potensi anak usia dini dalam layanan pembelajaran pendidikan anak usia dini sangat tergantung pada kinerja guru pendidikan anak usia dini.
Sehubungan dengan penjelasan tersebut, Tim Peneliti (2015) menjelaskan bahwa keberhasilan kinerja lembaga ditentukan oleh kinerja guru dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan kaidah profesi guru PAUD. Kinerja guru dapat dilihat dalam melaksanakan berbagai tugas pekerjaan yang mengacu pada standar profesi guru, terutama dalam mengimplementasikan kompetensi sebagai guru yang profesional. Kinerja guru PAUD akan mencerminkan kualitas proses dan hasil kerja dalam memberikan layanan pendidikan anak usia dini. Artinya bahwa kinerja guru PAUD sebagai wujud dari kompetensinya akan mencerminkan kualitas proses dan hasil kerja dalam memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi anak usia dini. Dengan
demikian, kompetensi guru dalam
melaksanakan layanan pengelolaan
pembelajaran pendidikan anak usia dini akan berdampak pada kualitas proses dan hasil tumbuh kembang anak usia dini.
Dalam konteks ini, kompetensi guru telah ditetapkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen serta penjabarannnya dalam Permendiknas Nomor
16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru dan Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 tentang standar PAUD yang diperbaharui melalui Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014. Acuan standar tersebut dapat dijadikan pijakan untuk menggambarkan aspek dan ukuran baku kinerja pendidik PAUD.
Kompetensi Pendidik PAUD Dalam Layanan Pembelajaran
Dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keteram-pilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Sementara menurut Hidayati (2015) berpendapat bahwa sebagai seorang pendidik PAUD yang profesional, hendaknya perlu juga mengetahui standar kompetensi yang harus dimiliki tersebut, sehingga tugas utama pendidik dalam membimbing, memotivasi dan memfasilitasi kegiatan pengasuhan serta pendidikan peserta didik PAUD dapat berjalan dengan optimal.
Seyogianya guru PAUD menguasai 4 kompetensi dengan baik agar dapat memberikan layanan pengelolaan pembe-lajaran pada anak usia dini secara optimal untuk mengembangkan seluruh potensinya, sebagaimana tertuang dalam undang-undang guru dan dosen. Sejalan dengan pendapat Saripudin (2019) bahwa guru yang memiliki
kompetensi atau kecakapan dalam
pembelajaran, maka dikatakan sebagai guru professional. Lebih lanjut oleh Driscoll, Amy dan Nagel, Nancy G dalam Sarifudin bahwa