• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS LAND RENT SAWAH IRIGASI DAN LAHAN TERBANGUN DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS LAND RENT SAWAH IRIGASI DAN LAHAN TERBANGUN DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

RATRI ARIANI A14062726

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN

DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011

ANALISIS LAND RENT SAWAH IRIGASI DAN LAHAN TERBANGUN

DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN

(2)

RINGKASAN

RATRI ARIANI. Analisis Land Rent Sawah Irigasi dan Lahan Terbangun di

Kecamatan Depok Kabupaten Sleman. Dibawah Bimbingan ASDAR ISWATI dan KHURSATUL MUNIBAH.

Pesatnya perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Sleman yang pada awalnya terjadi di wilayah Kecamatan Depok, kini telah merambah ke daerah-daerah lainnya. Perubahan terjadi baik di lokasi yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta, maupun di lokasi lain yang terimbas pembangunan kota. Berdasarkan PP No.16/2004 tentang Penatagunaan Tanah, Kabupaten Sleman direncanakan memiliki lahan pertanian seluas 24.646 Ha, namun realita yang ada berdasarkan data tahun 2005 seluas 30.238 Ha. Dengan demikian jumlah lahan pertanian yang boleh dikonversi untuk non pertanian seluas 5.592 Ha. Untuk jumlah lahan non pertanian direncanakan seluas 19.875 Ha. Tujuan dari penelitian ini meliputi, (1) Mengidentifikasi land rent sawah irigasi dan lahan terbangun jenis penggunaan lahan di Kecamatan Depok. (2) Mengetahui sebaran land rent sawah irigasi dan lahan terbangun di Kecamatan Depok. (3) Menganalisis tingkat kesesuaian penggunan lahan sawah irigasi dan lahan terbangun terhadap Rencana Tata ruang Wilayah (RTRW).

Kegiatan yang dilakukan dalam penelitian adalah (1) persiapan data, (2) Pemetaan penggunaan lahan dari citra Quickbird tahun 2005, (3) Pengecekan lapang dan pengumpulan data, (4) Analisis data.

Nilai land rent sawah irigasi di Kecamatan Depok memiliki rata-rata sebesar Rp 2181,79/m2/tahun dengan variasi nilai Rp 612/m2/tahun sampai dengan Rp 3576/m2/tahun. Nilai land rent rata-rata lahan terbangun di Kecamatan Depok sebesar Rp 945.341/m2/tahun dengan variasi nilai Rp 3.436/m2/tahun sampai dengan Rp 7.116.667/m2/tahun.

Nilai land rent sawah irigasi di Kecamatan Depok terbesar terdapat di Desa Maguwoharjo dikuti Desa Condongcatur dan Desa Caturtunggal. Desa Maguwoharjo dengan pola tanam padi-bawang merah-padi memiliki nilai land rent rata-rata sebesar Rp 3.277/m2/tahun dan variasi nilai Rp 2.988/m2/tahun sampai dengan Rp 3.576/m2/tahun. Desa Caturtunggal dan Desa Condongcatur dengan pola tanam padi-bera-padi memiliki nilai land rent rata-rata untuk sawah irigasi di Desa Caturtunggal sebesar Rp 846/m2/tahun dengan variasi nilai Rp 612/m2/tahun sampai dengan Rp 1.087/m2/tahun dan nilai land rent rata-rata untuk Desa Condongcatur sebesar Rp 878/m2/tahun dengan variasi nilai nilai Rp 612/m2/tahun sampai dengan Rp 1424/m2/tahun.

Nilai land rent lahan terbangun terbesar di Desa Caturtunggal diikuti Desa Condongcatur dan Desa maguwoharjo. Nilai land rent lahan terbangun di Desa Caturtunggal rata-rata Rp 1.387.184/m2/tahun dengan variasi nilai Rp 3.484/m2/tahun sampai dengan Rp 7.116.667/m2/tahun. Nilai land rent lahan terbangun di Desa Condongcatur rata-rata Rp 917.852/m2/tahun dengan variasi nilai Rp 5.081/m2/tahun sampai dengan Rp 5.282.000/m2/tahun, dan Nilai land rent lahan terbangun di Desa Maguwoharjo rata-rata Rp 359.462/m2/tahun dengan variasi nilai Rp 6.467/m2/tahun sampai dengan Rp 1.394.286/m2/tahun.

(3)

Kesesuaian penggunaan lahan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah tahun 2005-2014 berpengaruh atas tingkat perkembangan desa, dimana sebesar 32,87 % dari total luas sawah irigasi di Kecamatan Depok peruntukannya tidak sesuai dengan RTRW yang seharusnya dijadikan kawasan Perkotaan, 67,13% luas sawah irigasi peruntukannya telah sesuai sebagai lahan pertanian daerah sub urban/urban. Sebesar 74,75% dari total luas lahan terbangun di Kecamtan Depok peruntukannya telah sesuai sebagai kawasan perkotaan dan sebesar 25,25% lahan terbangun telah beralih fungsi yang seharusnya diperuntukkan sebagai lahan pertanian daerah sub urban/urban.

(4)

SUMMARY

RATRI ARIANI

.

Analysis Land Rent of Irrigated Land and Built-up Area in Depok Sub District, Sleman Regency. (Under Supervision of ASDAR ISWATI and KHURSATUL MUNIBAH.)

Rapid changes in land use in Sleman District that originally occurred in the area of Depok sub district, has currently spread to other regions. The change was identified either directly the adjacent city of Yogyakarta, as well as areas affected by urban development. Beside on Government Regulation No.16/2004 about Land Stewardship, Sleman Regency is planned for an area of 24,646 ha of agricultural land and reality based on 2005 data covering 30 238 ha. Thus the amount of farmland that can be converted into non-agricultural area 5592 ha. In RTRW 2005-2014 the number space in the area for non agricultural land of 19.263 ha is planned, and which had been built into the yard area of 18,663 Ha.

The research aims were : (1) Analysis land rent of the land irrigated and building area types of land use in Kecamatan Depok. (2) Analysis the distribution of land rent of the land irrigation and build area in the District of Depok (3) Analysis of land suitability of irrigated land and built-up area with the Regional Plan for spatial planning (RTRW).

The activities carried out in this research was (1) data preparation, (2) land use interpretation and mapping from Quickbird imagery in 2005, (3) Check and data collection, (4) data analysis.

Land rent of irrigated paddy field in Depok sub district have an average of Rp 2182/m2/year with variant Rp 612/m2/year up to Rp 3576/m2/year, and land rent of built-up area have an average Rp 945.341/m2/year with variant Rp 3.436/m2/year up to Rp 7.116.667/m2/year.

Land rent of irrigated paddy field in Depok sub district the largest ware in Maguwoharjo village followed Condongcatur Village and Caturtunggal Village. Maguwoharjo Village apply the cropping pattern of paddy-onion-paddy. The village has land rent have an average Rp 3.277/m2/year with variant Rp 2.988/m2/year up to Rp 3.576/m2/year. Caturtunggal Village and Condongcatur Village apply cropping paddy-fallow-paddy have land rent in Caturtunggal village have an average Rp 846.28/m2/year with variant Rp 612/m2/year up to Rp 1.087/m2/year and at Condongcatur Village have an average Rp 878/m2/year with variant Rp 612/m2/year up to Rp 1.424/m2/year.

Land rent of built-up area in Depok sub district the largest ware in Caturtunggal village followed Condongcatur Village and Maguwoharjo Village. Land rent of built-up area in Caturtunggal village have an average Rp 1.387.184/m2/ year with variant Rp 3.484/m2/year up to Rp 7.116.667/m2/year. Land rent of built-up area in Condongcatur village have an average Rp 917.852/m2/ year with variant Rp 5.081/m2/year up to Rp 5.282.000/m2/year, and land rent of built-up area in Maguwoharjo village have an average Rp 359.462/m2/ year with variant Rp 6.467/m2/year up to Rp 1.394.286/m2/year,

These accordance with the Regional spatial plan (RTRW) 2005-2014 which affect the level of development of the village where 32.87% of the total area of land irrigated in the designation of the Depok sub district does not match

(5)

the spatial urban areas which should be used, 67.13% of the proper allocation of irrigated rice as a sub urban areas of agricultural land / city. Amounting to 74.75% of the total land allotment has been right up Kecamtan Depok as urban areas and 25.25% of the land has raised the switching function of agricultural land should be designated as sub-urban / urban.

(6)

ANALISIS LAND RENT SAWAH IRIGASI DAN LAHAN

TERBANGUN DI KECAMATAN DEPOK

KABUPATEN SLEMAN

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh RATRI ARIANI

A14062726

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA LAHAN

DEPARTEMEN ILMU TANAH DAN SUMBERDAYA LAHAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011

ANALISIS LAND RENT SAWAH IRIGASI DAN LAHAN TERBANGUN

DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 07 Januari 1989. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak Mudjijono S. Pd dan Ibu Muryani.

Penulis mengawali pendidikan formal di SD Negeri 04 Parung (1994 - 2000) lalu dilanjutkan ke SLTP Negeri 6 Bogor (2000 - 2003) dan SMU Negeri 5 Kota Bogor (2003 - 2006).

Pada tahun 2006 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan pada tahun 2007 penulis ditempatkan oleh IPB di Program Mayor Manajemen Sumberdaya Lahan, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian.

Selama menjadi mahasiswa penulis aktif bergabung dalam berbagai kegiatan salah satunya organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (HMIT) sebagai staf divisi Kewirausahaan periode 2008/2009 dan menjadi beberapa panitia kegiatan kemahasiswaan antara lain MPKMB 2007/2008, Seminar Nasional “Soil and Mining” (tahun 2008). Selain itu penulis berkesempatan menjadi asisten praktikum untuk beberapa mata kuliah diantaranya: mata kuliah Pengantar Ilmu Tanah (semester ganjil tahun ajaran 2009/2010), mata kuliah Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, serta mata kuliah Perencanaan Tata Ruang dan Penatagunaan Lahan (semester ganjil tahun ajaran 2010/2011).

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini yang berjudul ”Analisi Land rent Sawah Irigasi dan Lahan Terbangun di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman” sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian Bogor.

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Ir. Asdar Iswati M. S selaku dosen pembimbing skripsi I yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, serta dukungan dalam penelitian ini selama masa penelitian maupun penulisan skripsi.

2. Dr. Khursatul Munibah M. Sc selaku dosen pembimbing skripsi II yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, serta dukungan dalam penelitian ini selama masa penelitian maupun penulisan skripsi.

3. Dyah R Panuju S.P M.Si selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan dan pengarahan dalam meyusun skripsi ini.

4. Keluarga tercinta mama, papa, mas Panji dan d’hardjos family atas doa, dukungan, kasih sayang, cinta, perhatian, kepercayaan dan kesabaran sampai pada saat ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

5. Nuroby atas doa dan seluruh kasih sayang, cinta, kesabaran, perhatian dan pengertiannya.

6. Seluruh staf dan dosen pengajar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Mba Dian, Mba Ema.

7. Teman teman seperjuangan Tim tos++ (Intan Laksmita Sari, Sony Nugroho, dan Uli K Theresia Siagian), Putri Yuniastuti, Vitta Puspita M,

(9)

Fanissa Ruliyani, Dempo Satriandu, Maulana Wijaya, Prito Rayesha, Richard Gunawan atas segala bantuan, dukungan dan canda tawa yag telah di lalui bersama.

8. Teman “the planners” 43 Laboratorium Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Agata, Onie, Mila, atas segala dukungan dan kerjasamanya. 9. Soilers 43 lainnya yang telah banyak memberikan bantuan, semangat, dan

dukungan, serta kenangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

10. Mas Shofa, Richo Richardi, Dessy Hapsari, Diah Sabatini S, atas semua bantuan yang telah diberikan selama melakukan penelitian di Yogyakarta. 11. Teman-teman Inter Club Indonesia (ICI) Jogja, ICI Bogor, #ICIBimbang

yang telah memberikan keceriaan selama penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak agar skripsi ini menjadi sempurna dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Bogor, Juni 2011

(10)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Analisis Land Rent Sawah Irigasi dan Lahan Terbangun di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman.

Nama : Ratri Ariani NRP : A14062726

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Ir. Asdar Iswati, M.S Dr. Khursatul Munibah, M.Sc NIP. 19600410 198503 2 001 NIP. 19620515 199003 2 001

Mengetahui

Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Lahan Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc NIP. 19621113 198703 1 001

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ……… iii

DAFTAR GAMBAR ………... iv

DAFTAR LAMPIRAN ………... v

I. PENDAHULUAN ………... 1

1.1. Latar Belakang ………... 1

1.2. Tujuan Penelitian ……….. 2

II. TINJAUAN PUSTAKA ………... 3

2.1. Penggunaan Lahan ………... 3

2.2. Perubahan Penggunaan lahan ………... 5

2.3. Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent) ………... 6

2.4. Sawah Irigasi ………. 9

2.5. Lahan Terbangun ……….. 10

III. BAHAN DAN METODE ………... 11

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ………. 11

3.2. Bahan dan Alat ……….. 11

3.3. Metode Penelitian ……….. 12

3.3.1. Persiapan ……….. 12

3.3.2. Pengumpulan Data ……….……... 14

3.3.2.1. Pengecekan Lapang ……….... 14

3.3.2.2. Pengumpulan Data Land Rent ……… 15

3.3.3. Analisis Data ……….... 17

3.3.3.1. Interpretasi Visual Penggunaan lahan ……… 17

3.3.3.2. Analisis Entropi ……….. 18

3.3.3.3. Analisis Land Rent……….. 19

3.3.3.4. Analisis Kesesuaian Pengalokasian Penggunaan Lahan dengan Peta RTRW ……. 20

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH ……….. 21

4.1. Keadaan Iklim dan Topografi ……….. 21

(12)

4.3. Kondisi Sosial Ekonomi ……….. 21

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ………... 24

5.1. Penggunaan Lahan Kecamatan Depok ……….... 24

5.1.1. Interpretasi Penggunaan Lahan dari Citra Quickbird ……… 24

5.1.2. Penggunaan Lahan ……….. 28

5.1.3. Nilai Entropi ……….... 31

5.2. Nilai Land Rent Sawah Irigasi dan Lahan Terbangun Kecamatn Depok ………... 32

5.3. Nilai Land Rent Sawah Irigasi dan Lahan Terbangun di Setiap Desa ……….. 34

5.4. Kesesuaian Pengalokasian Penggunaan Lahan Sawah irigasi dan Lahan Terbangun dengan RTRW ….... 37

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ……….. 40

6.1. Kesimpulan ………. 40

6.2. Saran ……… 41

DAFTAR PUSTAKA ……….. 43

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Teks

1 Sistem Kalsifikasi Tutupan Lahan USGS Tahun 1972 ……… 5 2 Nilai Land Rent Sawah Irigasi dan Lahan Terbangun di

Kecamatan Depok ……… 32

3 Nilai Land Rent Lahan Terbangun Sesuai dengan

Kegiatan Usaha ……… 33

4 Nilai Land Rent Sawah Irigasi dan Lahan Terbangun Setiap

Desa ………... 35

5 Nilai Land Rent Lahan Terbangun di Setiap Desa ………... 36 6 Tingkat Kesesuaian Penggunaan Lahan dengan RTRW Setiap

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Teks

1 Ilustrasi Ricardiant Rent ………... 7

2 Ilustrasi Locational Rent ……….... 8

3 Peta Lokasi Penenlitian ……….. 12

4 Bagan Alur Penelitian ………... 13

5 Peta Distribusi Sample Sawah Irigasi ………. 15

6 Peta Distribusi Sample Latan Terbangun ………... 16

7 Lahan Terbangun Pemukiman di Kecamatan Depok ……… 24

8 Lahan Terbangun yang Dijadikan Industri di Kecamatan Depok ………... 25

9 Sawah Irigasi dan Saluran Irigasi Primer di Kecamatan Depok ………... 26

10 Kebun Campuran di Kecamatan Depok ………... 27

11 Penggunaan Lahan Tegalan di Kecamatan Depok ………... 27

12 Lahan Terbuka di Kecamatan Depok ………... 28

13 Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Depok ……….. 29

14 Luasan Penggunaan Lahan per Desa di Kecamatan Depok ……….. 30

15 Grafik Entropi Penggunaan Lahan Kecamatan Depok …….. 32

16 Peta Arahan RTRW Kecamatan Depok ………. 38

17 Grafik Kesesuain Penggunaan Lahan Dengan RTRW ………... 39

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Koordinat GPS Lokasi Contoh Untuk Sawah Irigasi …….. 47

2 Koordinat GPS Lokasi Contoh Untuk Lahan Terbagun ….. 48

3 Kuesioner Pengumpulan Data Land Rent ………... 49

4 Perhitungan Nilai Land Rent Jasa Foto Copy …………... 53

5 Perhitungan Nilai Land Rent Rumah Tinggal …………... 55

6 Perhitungan Nilai Land Rent Jasa Warung Makan ……... 56

7 Perhitungan Nilai Land Rent Jasa Kos-kosan …………... 58

8 Data Input dan Output Sawah Irigasi ………... 60

(16)

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan suatu wilayah salah satunya ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan perubahan penggunaan lahan. Demikian juga yang terjadi dengan Kecamatan Depok yang dulunya merupakan desa dan sekarang mulai beralih menjadi wilayah desa kota yang mengalami kondisi peralihan. Perkembangan yang terjadi di kecamatan ini dipengaruhi oleh banyaknya perguruan tinggi yang ada di wilayah ini baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta. Perkembangan wilayah ini hendaknya juga didukung oleh prasarana dan utilitas pendukung dasar seperti jalan, drainase, jaringan jalan, listrik dan air bersih.

Pesatnya perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Sleman yang pada awalnya terjadi di wilayah Kecamatan Depok, kini telah merambah ke daerah-daerah lainnya, baik yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta, maupun daerah yang terimbas akibat pembangunan kota, misalnya daerah Banyuraden, Nogotirto, maupun sebagian Kecamatan Ngaglik dan Mlati. Berdasarkan penelitian Badan Pusat Statistik (BPS) faktor-faktor yang mempengaruhi penyusutan lahan pertanian antara lain adanya peningkatan harga tanah non pertanian yang relatif tinggi, adanya kesenjangan produktifitas untuk pertanian dan non pertanian serta pertumbuhan investasi.

Berdasarkan PP No.16/2004 tentang Penatagunaan Tanah, Kabupaten Sleman seluas 57.482 Ha direncanakan untuk lahan pertanian seluas 24.646 Ha. Namun realita yang ada berdasarkan data BPS tahun 2005 luas lahan pertanian 30.238 Ha di Kabupaten Sleman.

Dalam RTRW tahun 2006-2016 luas lahan non pertanian direncanakan 19.263 Ha, dan yang telah terbangun menjadi pekarangan seluas 18.663 Ha. Dengan demikian penggunaan lahan untuk budidaya non pertanian yang masih tersedia sampai dengan tahun 2016 seluas 600 Ha. Oleh karena itu Pemkab Sleman melalui Badan Pengendalian Pertanahan Daerah (BPPD) tetap fokus mengemban tugas mengendalikan perubahan penggunaan lahan pertanian di Kabupaten Sleman maksimal 600 Ha selama kurun waktu 10 tahun ke depan

(17)

dengan asumsi pertambahan penduduk 1,62% per tahun. Selama tahun 2005 BPPD telah menolak ijin perubahan penggunaan tanah sebanyak 109 buah, dengan luas lahan yang dikendalikan 11,69 Ha. Sebagian besar penolakan yang dikeluarkan tersebut disebabkan ketidaksesuaian dengan tata ruang sebesar 99 %, selebihnya berdasar kasus tertentu, misalnya pembangunan yang menyebar dan meloncat. Pada tahun 2001 – 2003 kesadaran masyarakat dalam mengajukan ijin pembangunan tergolong rendah sehingga banyak perubahan fungsi lahan yang tidak terpantau. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan transparansi proses perijinan sejak dibentuknya BPPD di Kabupaten Sleman maka konversi lahan yang berijin pada tahun 2004 – 2005 meningkat.

Perubahan lahan pertanian menjadi lahan non pertanian pada tahun 2001 seluas 16 Ha. Selanjutnya pada tahun 2002 sampai dengan tahun 2005 perubahan yang sama berturut-turut sebesar 35 Ha, 43 Ha, 104 Ha, dan 158 Ha. Dari data tersebut menunjukkan sebelum ada BPPD perubahan penggunaan tanah seluas 94 Ha, sedangkan setelah ada BPPD penyusutan seluas 262 Ha. Jumlah pengurangan luas lahan pertanian selama 5 tahun terakhir 356 Ha. Adapun faktor pemicu konversi tanah yang begitu besar antara lain karena adanya pembangunan stadion, pembangunan kampus terpadu, sekolah model serta pembangunan dan peningkatan jalan. Dalam kurun waktu 10 tahun ke depan (2006 -2010) sesuai dengan Rencana Tata ruang Wilayah (RTRW) tanah yang dapat dikonversi hanya seluas 600 Ha.

1.2. Tujuan Penelitian

Berdasarkan kondisi yang telah diuraikan, maka tujuan dari penelitian ini meliputi :

1. Mengidentifikasi land rent sawah irigasi dan lahan terbangun di Kecamatan Depok.

2. Mengetahui sebaran land rent sawah irigasi dan lahan terbangun di Kecamatan Depok.

3. Menganalisis tingkat kesesuaian penggunan lahan sawah irigasi dan lahan terbangun terhadap Rencana Tata ruang Wilayah (RTRW).

(18)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penggunaan Lahan

Lahan merupakan sumberdaya pembangunan yang memiliki karakteristik antara lain (1) luasan relatif tetap, dan (2) memiliki sifat fisik yang bersifat spesifik lokasi seperti jenis batuan, kandungan mineral, topografi dan lain sebagainya. Menurut FAO (1976) dalam Balai Penelitian Tanah (2003), lahan merupakan bagian dari bentang alam dimana lingkungan fisik seperti topografi, tanah, hidrologi dan keadaan vegetasi alami yang meliputinya serta secara potensial akan mempengaruhinya terhadap penggunaan lahan. Untuk menjamin kelestarian sumberdaya lahan, pemanfaatan lahan memerlukan arahan disesuaikan dengan sifat fisiknya tersebut (Dardak, 2008).

Penggunaan lahan (land use) diartikan sebagai bentuk campur tangan manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spiritual. Secara umum penggunaan lahan dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan non-pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibedakan atas lahan tegalan, sawah, kebun karet, hutan produksi, dan sebagainya. Penggunaan bukan pertanian dapat dibagi atas permukiman perkotaan dan pedesaan , industri, rekreasi, dan sebagainya (Arsyad,1989). Penggolongan penggunaan lahan secara umum, adalah: pertanian tadah hujan, pertanian beririgasi, padang rumput, kehutanan, atau daerah rekreasi. Tipe pengunaan lahan merupakan penggunaan lahan yang diuraikan secara lebih terperinci sesuai dengan syarat-syarat teknis untuk suatu daerah dengan keadaan fisik dan sosial ekonomi tertentu, yaitu menyangkut pengelolaan, masukkan yang diperlukan, dan keluaran yang diharapkan secara spesifik (Rayes, 2007).

Penggunaan lahan merupakan proses yang dinamis, berubah terus menerus, sebagai hasil perubahan pola dan besarnya aktivitas manusia sepanjang waktu, sehingga masalah yang berkaitan dengan lahan merupakan masalah yang kompleks (Saefulhakim dan Nasoetion, 1995).

Di Indonesia penggunaan lahan memiliki tujuan umum yaitu untuk menjamin pengadaan pangan, sebagai sumber devisa bagi pembangunan untuk

(19)

pemukiman dan sarana atau prasarana fasilitas umum dan konservasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola dan jenis penggunaan lahan di Indonesia adalah sifat fisik lahan (iklim, topografi, drainase, sifat fisik dan kimia tanah), kondisi faktor budaya dan ekonomi serta kebijakan pemerintah. Besarnya kontribusi faktor-faktor tersebut akan sangat beragam menurut waktu dan ruang (Lopulisa, 1995).

Teknik interpretasi penggunaan lahan pada citra penginderaan jauh dapat dilakukan dengan dua cara yaitu,

1. Interpretasi Visual

Interpretasi data penginderaan jauh secara manual adalah interpretasi data penginderaan jauh yang mendasarkan pada pengenalan ciri (karakteristik) objek secara keruangan (spasial). Karakteristik objek yang tergambar pada citra dapat dikenali berdasarkan 9 unsur-unsur interpretasi yaitu, (1) rona/warna, (2) ukuran, (3) bentuk, (4) tekstur, (5) pola, (6) bayangan, (7) situs, (8) asosiasi.. Interpretasi ini dilakukan pada citra yang dikonversi dalam bentuk foto (Sutanto, 1986).

2. Digital Image Processing

Interpretasi secara digital merupakan evaluasi kuantitatif tentang informasi spektral yang disajikan pada citra. Analisis digital dapat dilakukan melalui pengenalan pola spektral dengan bantuan komputer. Dasar interpretasi ini berupa klasifikasi pixel berdasarkan nilai spectral dan dapat dilakukan dengan cara statistik. (Purwadhi, 2001)

Proses interpretasi penggunaan lahan diklasifikasikan menurut sistem USGS tahun 1972 yang dimodifikasi (Tabel 1). Sistem ini dapat digunakan untuk citra dengan resolusi tinggi dengan skala menengah (1 : 25.000 dan 1 : 10.000) seperti SPOT dan Quickbird. Penggunaan skala berpengaruh terhadap pemilihan kedetailan klasifikasi, dimana semakin besar skala yang digunakan maka pengklasifikasian akan semakin detail (Danoedoro, 1996).

Untuk mengukur bagaimana proporsi suatu jenis penggunaan lahan cenderung menyebar atau terkonsentrasi dapat menggunakan nilai entropi sebaran spasial tipe penggunaan lahan. Semakin tinggi nilai entropi maka tipe penggunaan lahan tersebut semakin menyebar pada suatu wilayah sehingga dapat mengkontrol penggunan lahan yang ada agar tidak terjadi ketimpangan penggunaan lahan dan

(20)

tetap mengupayakan adanya ruang terbuka hijau yang dapat menjadi daerah resapan sehingga tetap sesuai dengan penataan ruang yang telah direncanakan pemerintah.

Tabel.1 Sistem Klasifikasi Tutupan Lahan USGS tahun 1972

No Tutupan Lahan

1 Kota dan Daerah Terbangun

2 Lahan Pertanian 3 Peternakan 4 Lahan vegetasi/tumbuahn 5 Air 6 Lahan Basah 7 Lahan Kosong 8 Tundra 9 Salju/Es abadi

2.2. Perubahan Penggunaan Lahan

Perubahan penggunaan lahan atau alih fungsi lahan adalah perubahan fungsi yang terjadi pada suatu lahan dalam kurun waktu yang berbeda. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut yaitu faktor politik dan faktor ekonomi. Faktor politik dapat mempengaruhi pola perubahan terhadap suatu lahan karena adaya kebijakan yang diambil oleh pengambil keputusan. Faktor ekonomi adalah perubahan pendapatan serta pola konsumsi yang menyebabkan kebutuhan akan ruang dan tempat rekreasi meningkat sehingga terjadilah perubahan penggunaan lahan (Dirjen, 2008).

Permintaan akan sumberdaya lahan yang semakin meningkat disebabkan oleh meningkatnya aktifitas pembangunan dan keterbatasan serta karakteristik sumberdaya lahan mendorong beralih fungsinya lahan-lahan pertanian ke non-pertanian (Lopulisa, 1995).

Menurut Nasoetion dan Winoto (1996) ada dua faktor yang langsung menentukan proses alih fungsi lahan baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu (1) sistem kelembagaan yang dikembangkan oleh masyarakat dan pemerintah, dan (2) sistem non-kelembagaan yang berkembang secara alamiah di dalam masyarakat. Sistem kelembagaan yang dikembangkan oleh masyarakat dan pemerintah antara lain direpresentasikan dalam bentuk terbitnya beberapa peraturan mengenai konversi lahan.

(21)

Jumlah penduduk yang meningkat berpengaruh terhadap peningkatan kebutuhan pangan dan perumahan. Kebutuhan lahan dalam pemenuhan kebutuhan pangan perumahan telah menyebabkan pergeseran pola penggunaan lahan seperti pertanian semusim di daerah-daerah yang semestinya tidak diperbolehkan. Sedangkan penggunaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah ruang dan kesesuaian lahan menyebabkan dampak lingkungan yang kurang menguntungkan, seperti terjadi erosi, menurunnya fungsi hidrologis hutan, terjadinya degradasi lahan dan meningkatnya lahan kritis serta kerusakan lingkungan (Desman, 2007).

Alih fungsi lahan sawah di Jawa mencapai 22.000 ha selama kurun waktu 1987 sampai 1993, untuk konversi lahan sawah sekitar 100.000 ha (sampai akhir 2000). Dalam hal ini dapat berpengaruh terhadap ketahanan pangan (Dirjen, 2008). Lebih lanjut Witjaksono (1996) menjelaskan bahwa alih fungsi lahan memiliki lima faktor sosial yang mempengaruhinya, yaitu perubahan perilaku, hubungan pemilik dengan lahan, pemecahan lahan, pengambilan keputusan, dan apresiasi pemerintah terhadap aspirasi masyarakat. Dengan asumsi pemerintah sebagai pengayom dan abdi masyarakat, seharusnya dapat bertindak sebagai pengendali terjadinya alih fungsi lahan.

2.3. Nilai Ekonomi Lahan (land rent)

Land rent merupakan selisih penerimaan dan biaya dalam satu unit satuan lahan. Menurut Soeharjo dan Patong (1973) penerimaan usaha tani terdiri dari tiga komponen, yaitu hasil produk, produk yang dikonsumsi sendiri oleh keluarga, dan kenaikan nilai inventaris. Selanjutnya juga dinyatakan bahwa usaha tani merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh hasil produksi di lapangan pertanian, pada akhirnya akan dinilai dari biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh, dimana selisih dari keduanya merupakan pendapatan kegiatan usahanya.

Menurut Barlowe (1978) manfaat ekonomi dianggap sebagai suatu surplus yang merupakan bagian dari jumlah nilai produk atau total pendapatan dari sisa setelah pembayaran yang didasarkan pada jumlah faktor biaya atau total biaya. Manfaat ekonomi suatu lahan umumnya dapat dinilai dari pendapatan bersih per meter persegi lahan per tahun untuk penggunaan tertentu. Manfaat

(22)

ekonomi lahan ditentukan oleh dua faktor, yaitu kualitas lahan sebagai mana yang dijelaskan dalam teori ricardiant rent (Gambar 1) dan faktor lokasi yang menjadi prinsip utama konsep locational rent (Gambar 2).

Gambar 1. Ilustrasi Ricardiant Rent

Gambar 1 menjelaskan kondisi kualitas lahan yang berbeda mempengaruhi nilai lahan. Tanah A dan tanah B dengan biaya sebesar Q memiliki jumlah produksi yang berbeda. Tanah A memiliki produksi sebesar OY1 dab tanah B memiliki produksi sebesar OY2 maka nilai akan lahan yang harus di bayar untuk kualitas lahan yang berbeda dengan biaya yang sama pada tanah A dan B adalah selisih dari OY1 dengan OY2.

Gambar 2 menjelaskan bahwa nilai lahan dipengaruhi oleh letak lahan tersebut terhadap pusat aktifitas/kegiatan. Lahan A akan memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan lahan B karena jaraknya yang lebih dekat. Biaya yang harus dikeluarkan untuk perbedaan letak lahan ini adalah selisih dari AA1 dengan BB1 (Reksohadiprojo dan Karseno,1997).

Dalam kenyataannya nilai dan fungsi lahan tidak hanya ditentukan oleh dua faktor terbsebut tetapi juga ditentukan oleh faktor sosial yang keudian dikenal

PRODUKSI BIAYA Q Y1 Y2 TANAH A TANAH B Q2 Q1

O

(23)

Gambar 2. Ilustrasi Locational Rent

sebagai sociocultural rent dan manfaat ekologi atau disebut juga ecological rent dan banyak faktor yang belum diketahui. Dengan demikian pemanfaatan lahan harus memenuhi persyaratan kesesuaian (suitability) secara fisik dan biologi, secara ekonomi menguntungkan (feasible) dan secara kelembagaan dapat dierima oleh masyarakat.

Bersadarkan penelitian yang dilakukan oleh Sehani (2007) nilai land rent penggunaan lahan sawah di Kabupaten Karanganyar dengan pola tanam padi-padi-padi memiliki nilai Rp 1.344,36/m2/tahun sampai dengan Rp 2.623,53/ m2/tahun. Sawah dengan pola tanam padi-bera-padi memliki nilai yag lebih kecil yaitu sebesar Rp. 0,67/ m2/tahun sampai dengan Rp 2.179,12/ m2/tahun dan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Rumiris (2008) nilai land rent pertanian di Kecamatan Dramaga adalah sebesar Rp 44,12/ m2/tahun sampai dengan Rp. 1.070,44/ m2/tahun.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rumiris (2008) nilai land rent lahan terbangun pemukiman di kecamatan Dramaga memiliki rentang nilai antara Rp 208,33/ m2/tahun sampai dengan Rp 35.069,33/ m2/tahun.

B1 A1 A B JARAK PUSAT KEGIATAN LOCATIONA L RENT NILAI RENT

(24)

2.4. Sawah Irigasi

Sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dibatasi oleh pemantang, saluran untuk menyalurkan air, yang biasanya ditanami oleh padi sawah tanpa memandang darimana diperolehnya lahan tersebut (Deptan,2000). Sawah dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya sawah berpengairan, sawah tadah hujan, sawah pasang surut, sawah lebak, dan lain-lain.

Sawah berpengairan dibedakan menjadi sawah beririgasi teknis, sawah beririgasi setengah teknis dan sawah berpengairan sederhana. Yang dimaksud sawah beririgasi teknis adalah sawah yang memperoleh pengairan dimana saluran pemberi terpisah dari saluran pembuangan dengan penyedia dan pembagi irigasi dapat sepenuhnya diatur dan diukur dengan mudah. Saluran induk serta pembuangannya dibangun, dikuasai, dan dipelihara oleh pemerintah. Sawah beririgasi setengah teknis adalah sawah berpengairan teknis tetapi pemerintah hanya menguasai bangunan penyadap untuk mengatur dan mengukur pemasukan air, sedangkan jaringan selanjutnya tidak diukur dan dikuasai pemerintah. Sawah berpengairan sederhana adalah sawah yang memperoleh pengairan dimana cara pengairan dan pembuangannya belum diatur, walaupun pemerintah telah membangun sebagian dari jaringan tersebut, misalnya bendungan. Sedangkan sawah tadah hujan adalah sawah yang pengairannya hanya tergantung pada air hujan (BPS, 1998).

Luas sawah di Indonesia lebih kurang 8,6 juta ha dan terus menyusut dari waktu ke waktu. Sawah tersebut terdiri dari sawah Irigasi seluas 7.314.740 Ha dan sawah non irigasi seluas 1.265.304 Ha.Luas sawah di Pulau Jawa lebih kurang 4,2 juta ha, di Pulau Sumatera seluas 2,3 juta ha dan pulau jawa menjadi sentra sawah nasional. Pada tahun 1994 – 2004 luas sawah di luar pulau Jawa terjadi peningkatan seluas 602 ribu ha. Pertumbuhan luas sawah tersebut sebagian besar terdapat di Pulau Sumatera, yaitu seluas 460 ribu ha atau lebih kurang 76,42% dari keseluruhan pertumbuhan luas sawah di Indonesia. Sedangkan dalam kurun yang sama terjadi penyusutan luas sawah kelas satu di wilayah Pulau Jawa dan Bali seluas 36.798 ha atau sekitar 3.679 ha/tahun (BPN, 2007).

(25)

2.5. Lahan Terbangun

Pada dasarnya lahan terbangun memiliki pengertian yang hampir sama dengan fasilitas karena memiliki pengertian yang luas meliputi prasarana dan sarana. Prasarana atau infrastruktur adalah alat atau tempat yang paling utama dalam kegiatan sosial atau ekonomi, sedangkan sarana adalah alat pendukung dari prasarana (Jayadinata, 1992). Sehingga ruang terbangun memiliki pengertian sebagai ruang-ruang dalam kota atau wilayah, baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area vertikal/horizontal dimana dalam pengguanaannya tinggi dan memiliki aspek fungsional yang jelas pada dasarnya lebih bersifat ekonomis memiliki bentuk bangunan. Dalam ruang terbangun, pemanfaatannya lebih berbentuk prasarana ruang tertutup, yaitu :

1. Sebagai perlindungan, yaitu rumah

2. Sebagai unit pelayanan umum, yaitu prasarana kesehatan dan keamanan misalnya balai pengobatan, rumah sakit, pos pemadam kebakaran, pos polisi, dsb

3. Sebagai kehidupan ekonomi, misalnya : pasar, bangunan bank, bangunan pusat perbelanjaan, bangunan pabrik, dsb

4. Sebagai unit kebudayaan pada umumnya, misalnya : bangunan kantor pemerintahan, bangunan sekolah, bioskop, musium, gedung perpustakaan, dsb.

(26)

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Kecamatan Depok Kabupaten Sleman yang

terdiri dari Desa Caturtunggal, Desa Maguwoharjo dan Desa Condongcatur (Gambar 3). Kecamatan Depok terletak di Kabupatan Sleman propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geeografis Kabupaten Sleman terletak antara 7º 34’ 51” dan 7º 47’ 30” LS dan antara 107º 15’ 03” dan 107º 29’ 30” BT. Kecamatan Depok termasuk daerah daratan yang relatif rendah, mempunyai kemiringan wilayah 0 – 2%. Secara administratif, Kecamatan Depok mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kecamatan Ngaglik dan Kecamatan Ngemplak Sebelah Timur : Kecamatan Kalasan

Sebelah Barat : Kecamatan Mlati

Sebelah Selatan : Kecamatan Gondokusuman Kota Yogyakarta dan Kecamatan Banguntapan Kab. Bantul

Analisis data dilakukan di Bagian Perencanaan Pengembangan Wilayah, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan Februari – September 2010

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Citra Quickbird Kabupaten Sleman tahun 2005, peta penggunaan lahan tahun 2008 dengan skala 1: 50000 yang bersumber dari citra landsat tahun 2000, Peta Administrasi, Peta Jalan, Peta RTRW Kabupaten Sleman tahun 2008 dengan skala 1:53.000, Data Potensi Desa (PODES) tahun 2008 dan data Monografi desa tahun 2008.

Peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah seperangkat komputer dan perangkat lunak yang terdiri dari, Arc View versi 3.3, microsoft office excel, microsoft office word, dan GPS Garmin.

(27)

Gambar.3 Peta Lokasi Penelitian

3.3. Metode Penelitian

Pelaksanaan penelitian terdiri dari empat tahap kegiatan yaitu : (1) tahap persiapan data, (2) tahap pemetaan penggunaan lahan, (3) tahap pengecekan lapang dan pengumpulan data, (4) tahap analisis data. Bagan alur penelitian dari metode penelitian ini disajikan pada Gambar 4.

3.3.1. Persiapan

Dalam tahap persiapan dilakukan pengumpulan data dan koreksi geometrik. Data yang dikumpulkan berupa citra Quickbird Kabupaten Sleman tahun 2005, peta penggunaan lahan, Peta Administrasi, Peta Jalan Peta RTRW Kabupaten Sleman, data Potensi Desa (PODES) tahun 2008 data monografi desa. Koreksi gometrik dilakukan untuk merujuk citra Quickbird ke peta topografi, sehingga kedua data tersebut kompatibel secara geografis.

(28)

Proses geometrik dilakukan dengan merektifikasi citra ke Peta Topografi (image to map rectification) berdasarkan GCP (Ground Control Point). Titik GCP yang digunakan adalah gunung merapi, bandara, stadion, dan Lapangan softball.

Menurut Short 1982 dalam Sutanto 1986 akurasi dapat dilihat dengan perhitungan Root Mean Square-error (RMS-error). Pada umumnya akurasi yang tinggi diperoleh jika nilai RMS-error kurang dari satu dengan distribusi GCP yang merata baik pada citra maupun pada peta. Nilai RMS-error dihitung berdasarkan persamaan berikut :

RMS-error =

Dimana, x dan y adalah koordinat masukan (input) yang diperoleh dari peta topografi (baris dan kolom)

X da Y adalah koordinat untuk citra yang dikoreksi.

3.3.2. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Jenis data primer yang dikumpulkan dalam penelitian berupa citra Quickbird Kabupaten Sleman tahun 2005, data input-output penggunaan lahan sawah irigasi dan lahan terbangun.

Data sekunder yang digunakan dalam penelitian berupa peta penggunaan lahan tahun 2008 dengan skala 1 : 50.000 yang bersumber dari citra landsat tahun 2000, Peta Administrasi, Peta RTRW Kabupaten Sleman, Data Potensi Desa (PODES) tahun 2008 data Monografi desa dan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Data tersebut diperoleh dari pemerintahan kecamatan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sleman, Dinas Pertanian Kabupaten Sleman dan instansi terkait lainnya.

Pengumpulan data dibagi menjadi dua tahapan yaitu (1) pengecekan lapang untuk mengecek kebenaran hasil interpretasi di lapang, (2) pengumpulan data untuk analisis land rent.

3.3.2.1. Pengecekan Lapang

Kegiatan pengecekan lapang untuk mengetahui kondisi penggunaan lahan sebenarnya di lapangan di Kecamatan Depok. Pengecekan lapang dilakukan pada

(29)

23 titik untuk sawah irigasi dan sebanyak 26 titik untuk penggunaan lahan lahan terbangun yang tersebar di setiap desa. Untuk menentukan lokasi titik pengecekan lapang tersebut digunakan GPS. Koordinat penggunaan lahan sawah irigasi disajikan pada Lampiran 1 dan sebaran lokasi pengecekan lapang pada Gambar 5 serta koordinat penggunaan lahan lahan terbangun pada Lampiran 2 dan sebaran titik lokasi pengecekan lapangnya pada Gambar 6.

3.3.2.2. Pengumpulan Data Land Rent

Pengumpulan data land rent dilakukan dengan teknik wawancara dengan alat bantu kuesioner (Lampiran 3). Jenis data primer yang dikumpulkan untuk perhitungan land rent penggunaan lahan sawah irigasi meliputi : varietas, produksi, harga jual, pendapatan, biaya variabel, biaya tetap, modal (input), dan harga minimum atau maksimum. Jenis data primer yang dikumpulkan untuk perhitungan land rent lahan terbangun adalah identitas responden, kondisi sosial

Gambar 5. Peta Distribusi Sampling Sawah Irigasi

# # # # # # # # # # # # # # # # # ## # # # # S1cc S2cc S3cc S4cc S5cc S6cc S1ct S2ct S3ct S1mg S2mg S3mg S4mg S5mg S6mg S7mg S8mg S4ct S5ct S6ct S10mg S11mg S9mg 7°48' 7°48' 7°47' 7°47' 7°46' 7°46' 7°45' 7°45' 7°44' 7°44' 110°22' 110°22' 110°23' 110°23' 110°24' 110°24' 110°25' 110°25' 110°26' 110°26' 110°27' 110°27' Legenda : Desa Caturtunggal Desa Condongcatur Desa Maguwoharjo

#Titik Cek Lapang

S1-6 ct = Titik Sample di Desa Caturtunggal S1-6 cc = Titik Sample di Desa Condondcatur S1-10 mg = Titik Sample di Desa Maguwoharjo

Sumber :

Citra Quickbird Tahun 2005 Koordinat GPS Hasil Cek Lapang 2010

N

(30)

Gambar 6 Peta Sebaran sampling lahan terbangun

responden yang meliputi kondisi fisik bangunan rumah (dilihat dari keadaan rumahnya apakah tipe rumah sangat sederhana, sederhana, atau tergolong rumah mewah), penghasilan per bulan, pendidikan, luas pemilikan lahan, posisi bangunan, dan jarak dengan jalan aspal, jenis pekerjaan, pendapatan, dan jumlah rata-rata pengeluaran.

Jumlah responden yang diwawancarai untuk sawah irigasi sebanyak 25 dan untuk lahan terbangun sebanyak 42. Responden sawah irigasi adalah anggota gabungan kelompok tani (GAPOKTAN) Sidomulyo Kecamatan Depok. Respoden lahan terbangun terdiri dari pemilik jasa kos-kosan 8, warung makan 8, foto copy 12, dan rumah tinggal 14. Sebagian besar responden lahan terbangun memiliki kegiatan jasa dan usaha dengan input cukup besar dan secara produktif menghasilkan. Penentuan lokasi ini didasarkan pada kondisi wilayah Kecamatan Depok sebagian besar berkembang sebagai pusat pendidikan.

# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # T1ct T2ct T3ct T4cc T5cc T4ct T5ct T6ct T7ct T8ct T1cc T2cc T3cc T9ct T5cc T6cc T7cc T8cc T1mg T2mg T3mg T4mg T5mg T6mg T10ct T11ct 7°48' 7°48' 7°47' 7°47' 7°46' 7°46' 7°45' 7°45' 7°44' 7°44' 110°22' 110°22' 110°23' 110°23' 110°24' 110°24' 110°25' 110°25' 110°26' 110°26' 110°27' 110°27' Legenda : Desa Caturtunggal Desa Condongcatur Desa Maguwoharjo

#Titik Cek Lapang

T1-11 ct = Titik Sample di Desa Caturtunggal T1-9 cc = Titik Sample di Desa Condondcatur T1-6 mg = Titik Sample di Desa Maguwoharjo

Sumber :

Citra Quickbird Tahun 2005 Koordinat GPS Hasil Cek Lapang 2010

N

(31)

3.3.3. Analisis Data

3.3.3.1. Interpretasi Visual Penggunaan Lahan

Interpretasi penggunaan lahan dilakukan secara visual pada citra Quickbird dengan pendekatan unsure-unsur interpretasi yang di dukung dengan pengecekan lapang. Unsur interpretasi citra tersebut adalah rona/ warna, ukuran, bentuk, tekstur, pola, bayangan, situs, asosiasi (Sutanto, 1986) :

1) Rona, adalah tingkat kegelapan atau kecerahan suatu objek pada citra. Rona dapat pula diartikan sebagai tingkat dari hitam ke putih atau sebaliknya.pada citra quickbird Kecamatan Depok objek yang banyak memantulkan atau memancarkan tenaga ke arah sensor menimbulkan rona yang cerah. Sebaliknya objek yang banyak menyerap tenaga atau sedikit memantulkan tenaga menimbulkan rona yang gelap.

2) Bentuk, ialah konfigurasi atau kerangka suatu objek. Bentuk beberapa objek demikian mencirikan sehingga citranya dapat diidentifikasi langsung hanya berdasarkan kriteria ini, misalnya beberapa bentuk yang harus di identifikasi adalahn bentuk gedung sekolah atau bangunan pemerintahan yang berupa huruf L atau U, dan sungai dikenali dari bentuknya yang panjang dan berkelok kelok serta seluruh bentuk khas yang terlihat di citra. 3) Ukuran, erat kaitanya dengan skala pada citra. Untuk mengukur ukuran

objek pada citra maka skala citra harus dipertimbangkan. Ukuran suatu objek meliputi dimensi jarak, luas, tinggi, lereng, dan volume.

4) Tekstur, adalah frekuensi perubahan rona pada citra fotografi. Tekstur merupakan kenampakan yang tidak bisa dibedakan secara individual. Tekstur merupakan hasil gabungan dari bentuk, ukuran, pola, bayangan dan ronanya.

5) Pola, ialah hubungan spasial objek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau hubungan merupakan karakteristik bagi banyak objek alamiah maupun bangunan dan akan memberiakn suatu pola yang membantu penafsir untuk mengenali objek tertentu. Pengenalan objek melalui pola pada citra Quick Bird misalnya, kompleks perumahan yang dikenali dengan pola yang teratur dengan bentuk rumah yang ukurannya seragam, dan menghadap ke arah jalan.

(32)

6) Bayangan, objek yang tidak tertembus cahaya akan menyebabkan terdapatnya ssuatu daerah yang tidak terkena sinar secara langsung yang disebut dengan bayangan. Hal ini menyebabkan objek pada daerah tersebut akan samar-samar bahkan tidak tampak pada citra. Jadi bayangan dapat bersifat menyembunyikan objek yang terdapat di suatu daerah. Namun ada juga objek-objek tertentu yang justru tampak lebih jelas karena adanya bayangan, misalnya cerobong asap atau tembok stadion.

7) Situs, adalah letak suatu objek. Sawah mempunyai situs di dekat aliran sungai/air, karena sawah pada umumnya memerlukan pengairan yang cukup.

8) Asosiasi, adalah keterkaitan antara objek satu dengan objek yang lainnya. Bandara dikenali karena ada lapangan tempat parkir pesawat.

3.3.3.2. Analisis Entropy

Pengertian entropi adalah semakin beragam aktifitas atau semakin luas jangkauan spasial, maka semakin tinggi entropi wilayah, artinya wilayah tersebut semakin berkembang (Indeks entropi tinggi = tingkat perkembangan juga tinggi). Keunggulan dari konsep ini karena dapat digunakan untuk : (1) memahami perkembangan suatu wilayah; (2) memahami perkembangan atau kepunahan keanekaragaman hayati; (3) memahami perkembangan aktifitas perusahaan; dan (4) memahami perkembangan aktifitas suatu sistem produksi pertanian dan lain-lain (Saefulhakim, 2006). Persamaan umum entropy adalah sebagai berikut :

S = -

Σ

P

ij

l

n

P

ij

Dimana, S = Entropy

Pi = Peluang Kejadian i (luas setiap penggunaan lahan) i = Jenis penggunaan lahan

(33)

Analisis entropy dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan lahan yang paling menyebar di Kecamatan Depok. Penggunaan lahan dengan nilai entropi yang tinggi akan dipilih unutk dilakukan analisis land rent.

3.3.3.3. Analisis Land Rent

Dalam Pravitasari, 2007 Land rent adalah keuntungan yang diperoleh dengan melakukan aktifitas pada suatu luasan lahan selama kurun waktu satu tahun. Manfaat ekonomi dari suatu lahan umumnya dapat dinilai dari pendapatan bersih per m2 lahan per tahun penggunaan tertentu.

Secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

Dimana,

P1, P2 ,….. Pn : Volume output produksi

H1, H2 ,….. Hn : Harga output produksi

B1, B2 ,…... Bn : Input produksi

1,2,3….,n : Contoh ke-

Output :

1. Sawah irigasi adalah berupa hasil produksi dari total luas yang dimanfaatkan

2. Lahan terbangun adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan penerimaan dari pemanfaatan lahan terbangun

Input :

1. Sawah irigasi adalah berupa biaya variable (pupuk, pestisida,bibit) dan biaya tetap (cangkul,spreyer), tenaga kerja

2. Lahan terbangun adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dari pemanfaatan lahan terbangun seperti listril, air, gas, kbersihan, keamanan, dll.

(34)

3.3.3.4. Analisis Kesesuaian Pengalokasian Penggunaan Lahan dengan Peta RTRW

Dalam menganalisis kesesuaian pengalokasian penggunaan lahan dengan peta RTRW dilakukan dengan cara menumpang tindihkan peta penggunaan lahan Kecamatan Depok dengan peta RTRW Kecamatan Depok sehingga dapat di lihat kesesuainan pengalokasian penggunaan lahannya dengan RTRW Kecamtan Depok.

(35)

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH

4.1. Keadaan Iklim dan Topografi

Suhu udara rata-rata di Kecamatan Depok 26 sampai dengan 32 derajat celcius dan curah hujan rata-rata 2704 mm/tahun. Wilayah kecamatan ini merupakan dataran rendah terletak pada ketinggian 150 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan sekitar 2%. Jenis tanah di Kecamatan Depok alluvial dengan bahan induk dari Gunung Merapi. Wilayah ini mempunyai topografi datar, sehingga mempunyai lahan yang baik untuk pemukiman dan pertanian. Hal ini menyebabkan pesatnya perubahan lahan di Kecamatan Depok.

4.2. Penggunaan Lahan

Kecamatan Depok mempunyai luas wilayah 3.555 ha, merupakan wilayah

dengan pertumbuhan paling pesat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, berada di Kawasan Utara Aglomerasi Kota Yogyakarta. Depok istimewa dengan keberadaan berbagai perguruan tinggi, obyek vital (bandar udara Adisucipto Yogyakarta, Stadion Maguwoharjo, dan Markas Polda DIY) dan kawasan pemukiman baru (Pemerintah Kabupaten Sleman, 2010).

Depok merupakan kawasan aglomerasi Kota Yogyakarta sehingga penggunaan lahan di wilayah Kecamatan Depok hampir seluruhnya merupakan lahan terbangun di bagian Utara dan Selatan yang digunakan dalam berbagai macam peruntukan (pemukiman, pemerintahan, pendidikan, usaha). Penggunaan lahan lain yang terdapat di Kecamatan Depok adalah lahan sawah yang sebagian besar menggunakan irigasi teknis seluas 511,75 ha yang sebagian besar terdapat di bagian timur (Desa Maguwoharjo).

4.3. Kondisi Sosial Ekonomi

Jumlah penduduk di Kecamatan Depok tahun 2007 sebanyak 121.305 jiwa, yang terdiri dari 62.770 jiwa laki-laki dan 58.535 jiwa perempuan, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 34.974 Kepala Keluarga yang tersebar dalam 3 desa yaitu (1) Desa Caturtunggal terdiri dari 20 padukuhan, (2) Desa

(36)

Condongcatur terdiri dari 10 padukuhan, (3) Desa Maguwoharjo terdiri dari 20 padukuhan (Pemerintah Kecamatan Depok, 2008).

Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam pengembangan sumber daya manusia. Kemajuan suatu bangsa banyak ditentukan oleh kualitas pendidikan penduduknya. Beberapa faktor utama yang mendukung penyelenggaraan pendidikan adalah ketersediaan sekolah yang memadai dengan sarana prasarananya, pengajar dan keterlibatan anak didik, maupun Komite Sekolah. Kecamatan Depok merupakan kecamatan yang memiliki fasilitas pendukung pendidikan serta tenaga pengajar pendidikan yang terlengkap di Kabupaten Sleman, karena Kecamatan Depok merupakan kawasan yang dikembangkan untuk pusat pendidikan. Fasilitas pendidikan yang terdapat di Kecamatan Depok SLB sebanyak 4 unit, TK sebanyak 57 unit, Sekolah Dasar (SD) negeri sebanyak 44 unit dan swasta sebanyak 10 unit, SMP negeri sebanyak 6 unit dan swasta sebanyak 10 unit, SMA negeri sebanyak 4 unit dan Swasta sebanyak 12 unit. Di tingkat perguruan tinggi Kecamatan Depok memiliki akademi sebanyak 10 unit, Politeknik sebanyak 2 unit, sekolah tinggi sebanyak 8 unit dan universitas sebanyak 11 unit.

Sebagian besar penduduk di Kecamatan Depok bekerja di bidang jasa sebanyak 29514 jiwa dan yang bekerja di bidang perdagangan sebanyak 6931 jiwa. Bidang pekerjaan lain yang merupakan mata pencaharian sebagian penduduk di Kecamatan Depok adalah bidang pertanian sebanyak 2384 jiwa, bidang industri sebanyak 2117 jiwa dan bidang konstruksi/bangunan seebanyak 2240 jiwa.

Sarana Perekonomian di Kecamatan Depok tahun 2007 antara lain : pasar umum 5 buah, pertokoan 1.678 buah, warung kios 2.405 buah, restoran 135 buah, hotel 39 buah, tempat rekreasi (gedung bioskop, pertunjukan kesenian, kolam renang, dan taman hiburan) 18 buah, lembaga keuangan (BANK/KUD) 13 buah.

Lahan pertanian yang berupa tanah sawah di Kecamatan Depok seluas 554,50 ha, dengan prosentase sebesar 15,59% dari total luas wilayah Kecamatan Depok. Luas lahan sawah dengan sistem irigasi seluas 511,75 ha, sedangkan sisanya seluas 42,75 dengan sistem tadah hujan. Banyaknya populasi peternakan yang terbanyak berasal dari domba sebanyak 3.051 ekor, kemudian kambing dan

(37)

sapi potong masing-masing 2.522 ekor dan 1.642 ekor. Sedangkan populasi unggas, jumlah terbesar adalah ayam potong yaitu 36.000 ekor, diikuti ayam buras dan puyuh masing-masing 21.010 ekor dan 18.000 ekor (Bappeda Kabupaten Sleman, 2008).

(38)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Penggunaan Lahan Kecamatan Depok

5.1.1. Interpretasi Penggunaan Lahan dari Citra Quickbird

Hasil interpretasi penggunaan lahan dari Citra Quickbird Kecamatan Depok adalah Kawasan permukiman, kawasan industri, sawah irigasi, kebun campuran, tegalan, lahan terbuka, dan bandara.

Kawasan Pemukiman

Karakteristik pemukiman pada citra Quickbird memiliki rona cerah dan berwarna putih atau coklat dengan tekstur agak kasar, berbentuk empat persegi panjang, terdapat bayangan di tengah-tengah bagian atapnya, dan ukuran rumah relatif kecil, biasanya terletak di dekat jalan serta cenderung berkelompok, berpola teratur, atau terkelompok sesuai dengan blok-blok atau berpola acak sembarang. Karakteristik yang terlihat di lapang dominan berada di pinggir jalan utama, dekat dengan pusat perdagangan, dekat dengan aktivitas pendidikan, dan jarak antar bangunan yang sempit. Gambar 7 adalah foto lahan terbangun di Kecamatan Depok.

(a) Desa Caturtunggal (b) Desa Maguwoharjo

(c) Desa Condongcatur

(39)

Kawasan Industri

Karakteristik kawasan industri pada citra Qiuckbird memiliki rona cerah dan berwarna putih Rona cerah dan berwarna putih, berbentuk persegi panjang, beberapa gedung menyatu dengan jarak dekat dan berpola teratur, berukuran besar memanjang. Di lapang karakteristik yang terlihat untuk penggunaan lahan ini adalah letaknya yang jauh dari pemukiman, dan dominan berada diantara lahan yang terbuka dengan beberapa gedung yang menyatu. Kondisi keberadaan kawasan industri yang ada di lapang dapat dilihat pada Gambar 8.

(a) Desa Caturtunggal (b) Desa Condongcatur

(c) Desa Maguwoharjo

Gambar 8. Lahan Terbangun yang Dijadikan Industri di Kecamatan Depok

Sawah Irigasi

Kenampakan sawah irigasi pada citra sangat terlihat jelas dengam rona yang bervariasi dari cerah hingga terang dan berbentuk petak-petak persegi panjang dengan vegetasi yang homogen. Pada kondisi di lapang pada lahan sawah t terdapat saluran irigasi yang ada sangat baik dan teratur. Sebagai contoh saluran irigasi yang berada di antara petakan sawah di Desa Caturtunggal (Gambar 9a) dan di Desa Maguwoharjo (Gambar 9b dan Gambar 9c).

(40)

Interpretsi badan air pada lahan sawah dilakukan hanya pada selokan Mataram yang digunakan sebagai saluran irigasi primer sawah yang ada di Kecamatan Depok, dengan ciri terdapat tembok pembatas di sisi kanan dan kiri saluran air (Gambar 9d).

(a) Desa Caturtunggal (b) Desa Maguwoharjo

(c) Desa Maguwoharjo (d) Selokan Mataram Gambar 9. Sawah Irigasi dan Selokan Mataram di Kecamatan Depok

Kebun Campuran

Kebun campuran pada citra memiliki rona yang cerah dan warna hijau tidak merata, karena vegetasinya yang heterogen, terletak diantara pemukiman dan diantara sawah serta tegalan. Pada kondisi di lapang terlihat jenis pohon yang ada di dalam kebun campuran tersebut adalah pohon jati, pohon waru, serta beberapa jenis pepohonan lainnya. Kondisi tersebut dijumpai di Desa Maguwoharjo (Gambar 10a) dan di Desa Condongcatur (Gambar 10b).

Tegalan

Penggunaan lahan tegalan memiliki kenampakan di citra berona cerah dengan tekstur yang kasar dan terdapat bekas tanah yang telah diolah. Kepadatan

(41)

(a) Desa Maguwoharjo (b) Desa Condongcatur Gambar 10. Kebun Campuran di Kecamatan Depok

vegetasinya lebih jarang dan pendek jika dibandingkan dengan kebun campuran. Karakteristik tegalan di lapang vegetasi yang dijumpai antara lain tanaman tebu di Desa Maguwoharjo (Gambar 11a) dan tanaman jagung di Desa Caturtunggal (Gambar 11b).

(a) Desa Maguwoharjo (b) Desa Condongcatur Gambar 11. Penggunaan Lahan Tegalan di Kecamatan Depok

Lahan Terbuka

Karakteristik lahan terbuka pada citra memiliki rona yang cerah, terdapat sedikit sekali vegetasi di lahan tersebut. Melalui pengecekan lapang, lahan terbuka banyak ditemukan di antara lahan terbangun baik pemukiman maupun lahan terbangun lainnya. Penggunaan lahan terbuka di lapang sebagai contoh adalah lapangan softball (Gambar 12a), dan lapangan sepak bola (Gambar 12b).

Berdasarkan hasil yang telah diuraikan di atas penggunaan lahan untuk kawasan pemukiman dan kawasan industri memiliki beberapa perbedaan

(42)

(a) Desa Caturtunggal (b) Desa Condongcatur Gambar 12. Lahan Terbuka di Kecamatan Depok

mendasar yaitu, ukuran dari kenampakan tiap individu bangunan untuk industri pada citra lebih besar dan kawasan industri hampir semua berwarna putih dan berbentuk memanjang karena terdapat beberapa gedung yang menyatu dengan jarak yang dekat.

Perbedaan kenampakan sawah irigasi, kebun campuran, dan tegalan adalah teksturnya. Penggunaan lahan sawah irigasi bertekstur halus karena vegetasinya seragam, sedangkan penggunaan lahan kebun campuran bertekstur kasar karena jenis vegetasinya lebih beragam, dan terletak diantara pemukiman. Demikian halnya penggunaan lahan tegalan yang bertekstur kasar karena terdapatnya bekas tanah yang telah di olah dan kepadatan vegetasinya lebih jarang dan pendek jika dibandingkan dengan kebun campuran.

Penggunaan lahan bandara mamiliki ciri nampak lapangan yang luas, datar dan tekstur halus. landasan yang lurus, lebar dengan pola yang teratur nampak jelas. Terdapat gedung terminal dan tempat parker pesawat dan berada di suatu kawasan khusus daerah militer.

5.1.2. Penggunaan Lahan

Peta Sebaran penggunaan lahan di Kecamatan Depok hasil interpretasi citra Quickbird disajikan pada Gambar 13. Gambar 13 menunjukkan bahwa jenis penggunaan lahan di Kecamatan Depok, terdiri dari penggunaan lahan terbangun, penggunaan lahan sawah irigasi, kebun campuran, tegalan, dan lahan terbuka. Luas penggunaan lahan terbangun sebesar 1849,27 ha. Penggunaan lahan ini

(43)

Gambar 13. Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Depok

tersebar hampir di seluruh desa di Kecamatan Depok karena lokasinya yang strategis dan peningkatan jumlah penduduk yang terjadi tiap tahun. Sesuai dengan data BPS Kabupaten Sleman jumlah penduduk di Kecamatan Depok cenderung bertambah tiap tahun. Pertambahan penduduk dari tahun 2007 – 2009 adalah sebanyak 121.305 jiwa, 182.151 jiwa dan 184.407 jiwa. Pertambahan jumlah penduduk ini yang menyebabkan lahan terbangun sangat besar proporsinya dan tersebar luas hampir di seluruh Kecamatan Depok dan kondisi ini pula yang mendukung kecamatan ini menjadi kawasan Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta (APY). Kawasan aglomerasi yaitu pengumpulan atau pemusatan suatu aktifitas dalam lokasi atau kawasan tertentu, Proses ini terjadi akibat dari pertumbuhan ekonomi yang pesat sehingga memberikan keuntungan bagi daerah pusatnya (Richardson, 1997). Proses aglomerasi yang terjadi di Kecamatan Depok

7°48' 7°48' 7°47' 7°47' 7°46' 7°46' 7°45' 7°45' 7°44' 7°44' 110°22' 110°22' 110°23' 110°23' 110°24' 110°24' 110°25' 110°25' 110°26' 110°26' 110°27' 110°27' N Sumber :

Citra Quickbird Tahun 2005 Pengecekan Lapang Legenda : Badan Air (Selokan Mataram) Tegalan Lahan Terbuka

Penggunaan Lahan Ha Luas %

46,62 1,35 190,63 5,51 11,31 0,33 Bandara Kebun Campuran Sawah Irigasi Lahan Terbangun

Penggunaan Lahan Ha Luas %

1849,27 53,41

589,71 17,03

381,76 11,03

285,38 8,24

(44)

didukung dengan adanya sistem jaringan transportasi jalan berupa ring road kawasan APY yang difasilitasi berupa angkutan trans jogja.

Gambar 13 juga menunjukkan penggunaan lahan sawah irigasi di Kecamatan Depok seluas 589,71 ha dari total luas wilayah. Luas ini tetap dipertahankan karena menurut data BPS Kabupaten Sleman sebanyak 2.384 jiwa penduduk Kecamatan Depok memiliki mata pencaharian petani. Selain itu sudah adanya sistem irigasi teknis yang teratur di kecamatan ini menjadikan luas lahan sawah irigasi tidak banyak terkonversi menjadi lahan terbangun.

Penggunaan lahan di setiap desa di Kecamatan Depok disajikan pada Gambar 14. Gambar 14 menujukkan bahwa penggunaan lahan yang dominan di setiap desa di Kecamatan Depok adalah lahan terbangun diikuti sawah irigasi, kebun campuran, tegalan, lahan terbuka dan badan air. Lahan terbangun terbesar berada di Desa Caturtunggal diikuti Desa Condongcatur dan Desa Maguwoharjo. Luas lahan terbangun di Desa Caturtunggal yaitu 733,58 ha. Desa ini berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta di sebelah selatan. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor penyebab

a

Gambar 14. Luasan Penggunaan Lahan per Desa di kecamatan Depok

Sawah Irigasi Lahan Terbang un Kebun Campur an Tegalan Lahan Terbuka Badan Air Bandara Condongcatur 119,93 560,00 92,93 68,83 17,05 2,02 0,00 Caturtunggal 162,11 733,58 48,39 27,21 11,13 5,45 0,00 Maguwoharjo 307,67 555,69 144,06 94,59 18,44 3,84 381,76 Total 589,71 1849,27 285,38 190,63 46,62 11,31 381,76 0,00 100,00 200,00 300,00 400,00 500,00 600,00 700,00 800,00 Lu as (h a)

(45)

luasnya lahan terbangun di desa ini. Dengan kondisi tersebut maka kecenderungan untuk merubah lahan menjadi lahan terbangun sangat besar. Luas penggunaan lahan untuk lahan terbangun di Desa Condongcatur sebesar 560 ha. Luas lahan tersebut masih dapat bertambah karena banyaknya pusat pelayanan pendidikan dan terdapat pusat aktifitas pemerintahan di desa ini menyebabkan desa ini terus mengembangkan infrastruktur pendukungnya.

Penggunaan lahan sawah irigasi terluas di Desa Maguwoharjo yaitu 307,67 ha, Lokasi desa ini berjarak 10 km dari Kota Yogyakarta sehingga potensi untuk perubahan lahan dari pertanian ke non pertanian lebih kecil dibandingkan desa tetangganya yaitu Desa Caturtunggal dan Condongcatur yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta. Jarak dengan Yogyakarta mempengaruhi laju dari perubahan konversi dari sawah menjadi lahan terbangun. Selain itu bertani merupakan mata pencaharian utama warganya sehingga sawah irigasi menyebar merata di desa ini.

Selain penggunaan lahan sawah irigasi, di Desa Maguwoharjo terdapat penggunaan lahan kebun campuran, tegalan dan lahan terbuka diamana ketiganya terluas dibandingkan dengan dua desa lainya, luas penggunaan lahan tersebut secara berturut-turut adalah 144,06 ha, 94,59 ha, dan 18,44 ha. Letak ketiga penggunana lahan ini beberapa berada diantara permukiman warga dan banyak pula terdapat berdampingan dengan sawah irigasi. Hal ini dapat menunjukkan bahwa Desa Maguwoharjo terkonsentrasi di bidang pertanian.

5.1.3. Nilai Entropi

Ketujuh penggunaan lahan yang telah diinterpetasi dihitung nilai entropinya seperti disajikan pada Gambar 15. Gambar 15 menunjukkan bahwa dua nilai entropi tertinggi adalah penggunaan lahan terbangun dan sawah irigasi. Nilai entropi yang tinggi menunjukkan konsentrasi geografis yang merata. Hal ini menjelaskan bahwa lahan terbangun dan sawah irigasi memiliki sebaran yang paling luas yaitu menyebar merata di ketiga desa Kecamatan Depok. Dengan Penggunaan lahan yang dominan tersebut maka akan berpengaruh terhadap tingkat perkembangan wilayah yang dipengaruhi oleh nilai land rent (Yanto,

(46)

1997) sehingga nilai entropi ini dijadikan dasar untuk memilih tipe penggunaan lahan yang akan dianalisis nilai land rentnya.

Gambar 15. Grafik Entropi Penggunaan Lahan Kecamatan Depok

5.2. Nilai Land Rent Sawah Irigasi dan Lahan Terbangun Kecamatan Depok

Nilai land rent sawah irigasi dan lahan terbangun di Kecamatan Depok tersaji dalam Tabel 2.

Tabel. 2 Nilai Land Rent Sawah Irigasi dan Lahan Terbangun di Kecamtan Depok

No Penggunaan Lahan Nilai Land Rent (Rp/m2/tahun)

Minimum Maksimum Rata-rata

1 Sawah Irigasi 612 3.576 2.182

2 Lahan Terbangun 3.436 7.116.667 945.341

Tabel 2 menunjukkan bahwa rata-rata nilai land rent sawah irigasi lebih kecil dari rata-rata nilai land rent lahan terbangun. Rendahnya nilai land rent sawah irigasi ini dikarenakan harga jual komoditi pertanian yang rendah sehingga mempengaruhi nilai outputnya. Walaupun petani di Kecamatan Depok sangat terorganisir dalam pengadaan bibit, pupuk, pestisida dan keperluan pertanian yang lainnya, serta mengadakan pertemuan tingkat kecamatan dalam jangka waktu 3-4 bulan sekali untuk melaporkan perkembangan, mendapatkan penyuluhan

Badan Air (Selokan Mataram) Bandara Kebun Campuran Lahan Terbangun Lahan Terbuka Sawah Irigasi Tegalan Entropi 0,019 0,243 0,206 0,335 0,058 0,301 0,160 0,000 0,050 0,100 0,150 0,200 0,250 0,300 0,350 0,400

Entropi

Gambar

Gambar 1. Ilustrasi Ricardiant Rent
Gambar 5. Peta Distribusi Sampling Sawah Irigasi
Gambar 6 Peta Sebaran sampling lahan terbangun
Gambar 8. Lahan Terbangun yang Dijadikan Industri di Kecamatan Depok
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui pengaruh waktu perendaman air kelapa pada tempe biji kecipir terhadap kadar protein dan nilai organoleptik dan mengetahui berapa lama waktu

Internet adalah teknologi yang mengantarkan manusia untuk sampai pada kehidupan virtual yang merupakan kehidupan ke duanya ( second life ). Pada masyarakat Indonesia,

#anker Pankreas merupakan tumor ganas yang berasal dari sel$sel yang melapisi #anker Pankreas merupakan tumor ganas yang berasal dari sel$sel yang melapisi

3. Hasil usaha dibagi sesuai dengan persetujuan dalam akad, pada setiap bulan atau waktu yang telah disepakati. Bank selaku pemilik modal menanggung seluruh

Namun karena persoalan hukum yang dihadapi oleh umat Islam selalu berkembang dan merupakan persoalan hukum baru dimana al-Qur’an, al-Sunnah dan Ijma’ para sahabat

Hasil dari analisis leverage attributes atau atribut sensitif pada dimensi sosial yang memiliki nilai RMS ≥ 2% yaitu, pengetahuan tentang usahatani komoditas

DEPARTMENT OF SUNNI THEOLOGY ALIGARH MUSLIM UNIVERSITY. ALIGARH (INDIA)

Menurut Prayitno (2006:75) beberapa sebab gangguan emosi yang dialami remaja pada masa pubertas adalah sebagai berikut: 1) Merasa kebutuhan fisik mereka tidak terpenuhi