• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. service, or idea by an identified sponsor, setiap bentuk komunikasi nonpersonal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. service, or idea by an identified sponsor, setiap bentuk komunikasi nonpersonal"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori tentang Periklanan

Menurut Belch & Belch (2009:14), iklan dapat didefinisikan sebagai “any

paid from of nonpersonal communication about an organization, product, service, or idea by an identified sponsor”, setiap bentuk komunikasi

non-personal mengenai suatu organisasi, produk, jasa atau ide yang dibayar oleh

satu sponsor yang diketahui.

Iklan sebagai pengingat sangat penting bagi produk karena periklanan

membantu memelihara hubungan pelanggan agar pelanggan tetap mengingat

produk tersebut (Kotler dan Amstrong,2003:156). Iklan ditujukan untuk

mempengaruhi afeksi dan kognisi, konsumen evaluasi, perasaan, pengetahuan,

makna kepercayaan, sikap, dan citra yang berkaitan dengan produk dan merek

(Peter dan Olson,2000:190).

Menurut Jefkins (1996:30), periklanan merupakan pesan-pesan penjualan

yang paling persuasive yang diarahkan kepada (calon) konsumen yang paling

potensial atas produk barang atau jasa tertentu dengan biaya yang paling

ekonomis. Iklim persaingan usaha yang ketat mengharuskan perusahaan

menentukan tujuan sebelum menjalankan setiap aktivitasnya.

Menurut Kotler dan Keller (2006:569), bahwa tujuan periklanan dapat di golongkan menurut sasarannya, seperti sasaran untuk menginformasikan,

(2)

membujuk dan mengingatkan atau memperkuat. Penjelasannya adalah sebagai

berikut:

1. Periklanan Untuk Memberi Informasi (Informative)

Iklan informatif dimaksudkan untuk menciptakan kesadaran dan

pengetahuan tentang produk baru atau ciri baru produk yang sudah ada.

Biasanya iklan dengan cara ini dilakukan secara besar- besaran pada tahap

awal peluncuran suatu jenis produk dengan tujuan membentuk permintaan

awal. Dalam hal ini, kebutuhan suatu produk yang sebelumnya

“tersembunyi” atau masih berupa persepsi dapat diperjelas lewat iklan.

Pada umumnya, iklan yang bersifat informative digunakan untuk merek

(brand) yang siklus hidupnya berada ditahap perkenalan (introduction

stage).

2. Periklanan Untuk Membujuk (Persuasive)

Iklan persuasif dimaksudkan untuk menciptakan kesukaan, preferensi,

keyakinan, dan pembelian suatu produk atau jasa. Jenis iklan ini dilakukan

dalam tahap kompetitif. Tujuannya adalah membentuk permintaan selektif

produk tertentu. Dalam hal ini, perusahaan melakukan persuasi secara

tidak langsung dengan memberikan informasi tentang kelebihan produk

yang akan merubah pikiran orang untuk melakukan tindakan pembelian.

Pada umumnya, periklanan yang bersifat membujuk digunakan untuk

(3)

2.1.2 Teori Daya Tarik Rasional Periklananan (Rational Advertising)

Menurut Morissan (2010:54), pada dasarnya terdapat berbagai daya tarik

yang dapat digunakan sebagai dasar dalam mempersiapkan suatu pesan iklan.

Daya tarik ini berfokus pada kebutuhan praktis dan fungsional konsumen akan

produk atau jasa dan menekankan ciri-ciri sebuah produk atau jasa akan alasan

menggunakan merek tertentu (Lee, Monle dan Carla Jonhson ,2007:179).

Menurut Morissan (2010:56) rasional dalam periklanan menekankan pada

pemenuhan kebutuhan konsumen terhadap aspek praktis, fungsional, dan

kegunaan produk. Daya tarik iklan dengan berbasis rasionalitas cenderung

bersifat informatif, dan pemasangan iklan menggunakan daya tarik rasionalitas

untuk meyakinkan konsumen bahwa produk mereka memberikan manfaat

tertentu yang dapat memuaskan kebutuhan kebutuhan konsumen.

Menurut Belch & Belch (2001:275) kategori daya tarik rasionalitas

periklanan (rational advertising) adalah atribut, harga, dan populeritas

(endorser).

2.1.2.1 Atribut (Feature Appeal)

Kotler dan Armstrong (2001:354), Atribut adalah sifat-sifat yang

menambah fungsi dasar produk. Menurut Simamora (2003:44), atribut produk

adalah faktor- faktor yang dipertimbangkan oleh pembeli pada saat membeli

produk, seperti kualitas, kelengkapan fungsi (fitur), desain, layanan purnajual,

(4)

Dari kedua pengertian diatas, maka dapat diketahui bahwa atribut adalah

sifat- sifat yang mendasar dari sebuah produk yang akan menjadi

pertimbangan pembeli saat akan membeli sebuah produk. Atribut suatu

produk akan membedakan dengan produk pesaingnya. Umumnya, suatu

produk meskipun sama bentuk kemasannya, pasti memiliki perbedaan. Dalam

atribut produk terdapat komponen atribut produk yang menunjukkan

karakteristik produk dan pada umumnya akan mendapat perhatian konsumen

dalam memilih suatu produk.

Definisi produk menurut William dan Lamanto (2007:119) sekumpulan

atribut yang nyata dan tidak nyata didalamnya sudah tercakup warna,

kemasan, prestise pengecer dan pelayanan dari pabrik, serta pengecer yang

mungkin diterima oleh pembeli sebagai suatu yang bisa memuaskan

keinginannya.

Menurut Tjiptono (2008:104-108) atribut produk meliputi:

1. Merek, merupakan nama, istilah, tanda, simbol atau lambang, desain,

warna, gerak atau kombinasi atribut produk lain yang diharapkan dapat

memberikan identitas dan differensiasi terhadap produk lainnya.

2. Kemasan, merupakan proses yang berkaitan dengan perancangan dan

pembuatan wadah (container) atau pembungkus (wrapper) untuk suatu

produk.

3. Pemberian label (labeling) merupakan bagian dari suatu produk yang

(5)

bisa merupakan bagian dari kemasan atau bisa merupakan etiket ( tanda

pengenal) yang dicantumkan dalam produk.

4. Layanan Pelengkap (suplementari service) dapat diklasifikasikan:

informasi, konsultasi, ordering, hospiteli, caretaking, billing, pembayaran.

Dengan adanya atribut yang melekat pada suatu produk yang digunakan

konsumen untuk menilai dan mengukur kesesuaian karakteristik produk

dengan kebutuhan dan keinginan. Bagi perusahaan dengan mengetahui

atribut- atribut apa saja yang bisa mempengaruhi keputusan pembelian

maka dapat ditentukan strategi untuk mengembangkan dan

menyempurnakan produk agar lebih memuaskan konsumen.

Menurut Kotler dan Amstrong (2008:347) mengelompokkan atribut

produk kepada tiga unsur penting, yaitu kualitas produk (product quality),

fitur produk (product features), dan desain produk (Product design).

1. Kualitas produk (Produk quality)

Kualitas produk menurut Kotler dan Amstrong (2008:347) “The Ability of

a product to perform its funtions” yang berarti kemampuan suatu produk

dalam memberikan kinerja sesuai dengan fungsinya. Kualitas yang sangat

baik akan membangun kepercayaan konsumen sehingga merupakan

penunjang kepuasan konsumen.

2. Fitur Produk (Product features)

Fitur produk merupakan sarana kompetitif untuk membedakan produk satu

dengan produk-produk pesaing seperti yang dikemukakan oleh Kotler dan

(6)

the company’s product from competitor’sproduct, yang artinya fitur adalah

alat untuk bersaing yang membedakan produk suatu perusahaan dengan

perusahaan lainnya. Fitur produk identik dengan sifat dan sesuatu yang

unik, khas dan istimewa yang tidak dimiliki oleh produk lainnya. Biasanya

karakteristik yang melekat dalam suatu produk merupakan hasil

pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus.

3. Desain produk (product design)

Desain memiliki konsep yang lebih luas daripada gaya (style), desain

selain mempertimbangkan faktor penampilan, juga untuk bertujuan

memperbaiki kinerja produk, mengurangi biaya produksi, dan menambah

keunggulan bersaing. Menurut Kotler (2008:347) mengartikan desain atau

rancangan adalah totalitas keistimewaan yang mempengaruhi penampilan

fungsi produk dari segi kebutuhan pelanggan.

2.1.2.2 Harga (Favorable Price Appeal)

Menurut Belch (dalam Morissan 2010,344) menjadikan harga sebagai

faktor dominan dalam pesan iklannya. Iklan dengan daya tarik harga ini paling

sering digunakan oleh perusahaan pengecer (retailer) dalam bentuk

pengumuman promosi penjualan, penawaran khusus, atau penawaran harga

murah setiap hari. Kebanyakan jaringan restoran cepat saji menjadikan daya

tarik harga sebagai bagian penting dari strategi pemasaran mereka melalui

berbagai bentuk promosi seperti menu murah dan strategi iklan mereka

(7)

Dalam pesan iklan, harga merupakan faktor dominan. Iklan dengan daya

tarik ini paling sering digunakan oleh perusahaan dalam bentuk pengumuman

promosi penjualan, penawaran khusus, atau penawaran harga murah setiap

hari. Strategi ini dirancang untuk dapat menyampaikan pesan iklan. Harga

adalah sejumlah nilai yang dipertukarkan untuk memperoleh suatu produk

(Simamora,2001:31) dan harga adalah atribut produk atau jasa yang paling

sering digunakan oleh sebagian besar konsumen untuk mengevaluasi produk

(Suwarman,2004:280).

Banyak faktor yang di pertimbangkan dan banyak pihak yang terlibat

dalam menetapkan harga yang tepat. Bagi perusahaan harga jelas

mempengaruhi keuntungan. Harga tidak boleh lebih rendah dari biaya rata –

rata per produk kalau perusahaan ingin memperoleh keuntungan. Bagi

pembeli, harga memberikan dampak ekonomis. Dampak ekonomisnya adalah

pada daya beli, sebab harga merupakan biaya (cost) bagi pembeli.

Semakin tinggi harga semakin sedikit produk yang bisa mereka beli

sebaliknya, semakin rendah harga semakin banyak produk yang bisa mereka

beli (Simamora,2001:67). Jika ini berlaku untuk suatu produk maka

penurunan harga dapat menciptakan peningkatan permintaan. Itulah sebabnya

penetapan harga yang tepat membutuhkan pemikiran dan sangat tergantung

pada sensitivitas konsumen.

Tujuan perusahaan melalui penetapan harga menurut Kotler (dalam

(8)

1. Bertahan hidup

2. Maksimalisasi laba jangka pendek

3. Memaksimumkan pendapatan jangka pendek

4. Pertumbuhan penjualan maksimum

5. Menyaring pasar secara maksimum

6. Unggul dalam suatu produk

2.1.2.2.1 Orientasi Penetapan Harga

Perusahaan menetapkan suatu harga memiliki tiga maksud yaitu:

1. Berorientasi pada laba

a. Untuk mencapai target laba investasi laba penjualan bersih

b. Untuk memaksimalkan laba

2. Berorientasi pada penjualan

a. Untuk meningkatkan penjualan

b. Untuk mempertahankan atau meningkatkan bagian pasar dan

penjualan

3. Berorientasi pada status quo

a. Untuk menstabilkan laba

b. Untuk menangkal persaingan

2.1.2.2.2 Tujuan Penetapan Harga

Pada dasarnya ada empat jenis tujuan penetapan harga, yaitu :

1. Berorientasi pada laba; asumsi teori klasik menyatakan bahwa setiap

perusahaan selalu memilih harga yang dapat menghasilkan laba paling

(9)

2. Berorientasi pada volume; harga ditetapkan sedemikian rupa agar dapat

mencapai target volume penjualan, nilai penjualan atau pangsa pasar.

3. Berorientasi pada citra; citra suatu perusahaan dapat dibentuk melalui

strategi penetapan harga.

4. Stabilitas harga; tujuan stabilitas dilakukan dengan jalan menetapkan

harga untuk mempertahankan hubungan yang stabil antara harga suatu

perusahaan dan harga pemimpin industri

2.1.2.2.3 Metode Penetapan Harga

Menurut Kotler & Armstrong (2004:447) penetapan harga dapat

dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu :

1. Penetapan harga berdasarkan biaya

a. Penetapan harga berdasarkan biaya plus (cost plus pricing) yaitu

menambah bagian laba (markup) standar ke biaya produk.

b. Analisis titik impas (penetapan harga laba sasaran) yaitu menetapkan

harga pada titik impas atas biaya pembuatan dan pemasaran sebuah

produk, atau menetapkan harga untuk menghasilkan laba sasaran.

2. Penetapan harga berdasarkan nilai (value based pricing)

Yaitu menetapkan harga berdasarkan pada persepsi pembeli tentang nilai,

bukannya pada biaya yang ditanggung penjual.

3. Penetapan harga berdasarkan persaingan (competition based pricing)

Yaitu menetapkan harga berdasarkan harga harga yang ditetapkan oleh

(10)

a. Penetapan harga berdasarkan tender tertutup (sealed bid pricing) yaitu

perusahaan mendasarkan harga produknya pada perkiraannya

mengenai harga yang akan ditetapkan oleh para pesaing, bukannya

pada biaya sendiri atau pada permintaan akan produknya.

2.1.2.2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga

Dalam menetapkan harga, ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu :

1. Faktor internal

a. Tujuan pemasaran

Sebelum menetapkan harga, perusahaan harus memutuskan strategi

produknya. Jika perusahaan telah memilih pasar sasaran dan melakukan

positioning secara hati- hati, maka strategi bauran pemasarannya, termasuk

harga, akan mudah saja. Tujuan pemasaran secara umum adalah :

- Kelangsungan hidup. Untuk menjaga agar pabrik terus berjalan,

perusahaan dapat menetapkan harga yang rendah, dengan harapan dapat

menginkatkan permintaan. Sepanjang harga mereka dapat mentup biaya

variabel dan sebagian biaya tetap, bisni mereka dapat bertahan.

- Maksimalisasi laba sekarang. Perusahaan harus bisa memperkirakan

berapa permintaan dan biaya pada harga harga yang berbeda dan memilih

harga yang akan menghasilkan laba, aliran kas, tingkat pengembalian

investasi (ROI) sekarang yang maksimum.

- Kepemimpinan pasar. Perusahaan yang memiliki pangsa pasar terbesar

(11)

menjadi pemimpin pangsa pasar, perusahaan tersebut menetapkan harga

serendah mungkin.

- Kepemimpinan kualitas produk. Umumnya menghendaki penetapan

harga yang tinggi untuk menutup kualitas kinerja yang lebih tinggi dan

biaya litbang yang tinggi.

b. Strategi bauran pemasaran

Keputusan keputusan harga harus dikoordinasikan dengan keputusan

keputusan desain produk, distribusi, dan promosi untuk membentuk program

pemasaran yang konsisten dan efektif. Berbagai keputusan yang dibuat untuk

variabel- variabel bauran pemasaran lain bisa mempengaruhi berbagai

keputusan penetapan harga

c. Biaya

Biaya menjadi landasan bagi harga yang dapat perusahaan tetapkan atas

produk- produknya. Perusahaan ingin menetapkan harga yang dapat menutup

semua biaya untuk memproduksi, mendistribusikan, dan menjual produk

tersebut dan menghasilkan tingkat hasil investasi yang memadai atas semua

upaya dan risiko yang ditanggungnya.

d. Pertimbangan keorganisasian suatu perusahaan

Manajemen harus memutuskan siapa di dalam organisasi tertentu yang

harus menetapkan harga. Setiap perusahaan berbeda beda dalam menentukan

harga, biasanya di perusahaan kecil, harga ditetapkan oleh manajemen

puncak, sedangkan di perusahaan besar penetapan harga umumnya ditangani

(12)

2. Faktor eksternal

a. Sifat pasar dan permintaan

Sebelum menetapkan harga, pemasar harus memahami hubungan

antara harga produk dan permintaan akan produk tersebut.

b. Persaingan

Faktor eksternal lain yang mempengaruhi keputusan keputusan

penetapan harga adalah biaya dan harga pesaing serta reaksi yang

mungkin dilakukan oleh pesaing atas langkah langkah penetapan harga

yang dilakukan perusahaan tertentu.

c. Unsur-unsur lingkungan

Dalam menetapkan harga, perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain

seperti kondisi perekonomian, karena hal ini berdampak kuat pada

strategi- strategi penetapan harga oleh perusahaan seperti inflasi,

ledakan (bom) dan tingkat suku bunga dapat mempengaruhi keputusan

penetapan harga karena dapat mempengaruhi baik biaya untuk

memproduksi produk maupun persepsi konsumen mengenai harga dan

nilai produk.

2.1.2.3 Populeritas (Endorser)

Menurut Belch & Belch (2001:170) daya tarik populeritas produk

menekankan ketenaran suatu barang atau jasa dengan menampilkan sejumlah

tokoh atau sejumlah ahli yang menggunakan atau merekomendasikan produk

bersangkutan atau sejumlah orang yang berpindah menggunakan produk

(13)

pasar. Tujuan utama daya tarik iklan ini adalah untuk menunjukkan

pemakaian produk secara luas yang membuktikan kualitasnya yang baik dan

anjuran agar konsumen lain yang belum menggunakan harus

mempertimbangkan untuk membelinya.

Iklan dengan menggunakan popularitas endorser memiliki peluang untuk

lebih diingat merek produknya dari pada yang tidak menggunakan endorser

(bintang iklan). Hal ini dapat terjadi dikarenakan masyarakat sudah mengenal

dan familiar dengan nama endorser tersebut, sehingga penyebutan nama

selebriti dapat merujuk pada nama merek dagang yang dia endorse dan

diharapkan mampu meningkatkan nama merek ke dalam ingatan konsumen.

Selebritis sebagai pendukung (endorser) dalam suatu kampanye

periklanan sudah tidak asing lagi ditemui. Penggunaan selebritis sebagai

bintang dalam iklan tertentu dianggap dapat menarik perhatian konsumen

akan produk yang diiklankan. Shimp (2000:460) menyatakan bahwa sekarang

ini banyak konsumen yang mudah mengidentifikasi diri dengan para bintang

ini, seringkali dengan memandang mereka sebagai pahlawan atas prestasi,

kepribadian, dan daya tarik fisik mereka. Sedangkan para pengiklan bangga

menggunakan selebriti dalam iklan mereka karena atribut popularitas yang

mereka miliki, termasuk kecantikan, keberanian, bakat, jiwa olahraga

(athleticisme), keanggunan, kekuasaan dan daya tarik seksual, seringkali

merupakan pemikat yang diinginkan untuk merek-merek yang mereka

dukung. Asosiasi berulang dari suatu merek dengan seorang selebriti akhirnya

(14)

menarik yang serupa dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh selebriti.

Penggunaan endorser diharapkan dapat memberikan asosiasi positif antara

produk dengan endorser. Hal ini dikarenakan selebritis sebagai endorser

adalah wujud nyata dari berbagai image atau asosiasi yang dipikirkan oleh

khalayak sasaran pada suatu merek.

Para pengiklan dan biro-biro periklanan bersedia membayar harga yang

tinggi kepada kaum selebriti tersebut yang disukai dan dihormati oleh

khalayak yang menjadi sasaran dan yang diharapkan akan mempengaruhi

sikap dan perilaku konsumen yang baik terhadap produk yang didukung

(Shimp, 2000:486). Shimp juga menjelaskan faktor-faktor yang

dipertimbangkan ketika mengambil keputusan seleksi selebriti, dimana

faktor-faktor tersebut ialah kredibilitas selebriti, kecocokan dengan khalayak,

kecocokan dengan merek, dan daya tarik selebriti. Dengan kata lain, untuk

menentukan selebriti yang akan digunakan sebagai brand endorser suatu

produk, selebritis harus memiliki kecocokan atau hubungan yang berarti

antara selebriti, khalayak, dan produk itu sendiri (Shimp, 2000:491). Seperti

yang diungkapkan oleh Kotler (2005:216) kredibilitas endorser iklan dapat

dilihat dari pengetahuan khusus yang dimiliki komunikator (expertise),

objektivitas dan kejujuran endorser yang dapat diterima (trustworthiness),

serta daya tarik endorser itu sendiri (likability). Hubungan variabel popularitas

endorser dan efektivitas iklan kredibilitas endorser menjadi salah satu faktor

yang dipertimbangkan oleh responden untuk mempercayai kebenaran isi pesan

(15)

besar tingkat penerimaan kredibilitas endorser, semakin besar kemungkinan

receiver menerima iklan (Assael, 1998:111).

Secara umum pengiriman pesan dengan menggunakan endorser yang

mempunyai kredibilitas yang tinggi akan membuat pesan lebih mudah untuk

dibaca dan dapat lebih berpengaruh terhadap perubahan sikap (Miller &

Baseheart, 1969). Menurut Royan (2004:6) bahwa penggunaan endorser

dalam iklan perlu dievaluasi dengan empat indikator yaitu visibility

(popularitas), credibility (kredibilitas), attraction (daya tarik) dan power

(kekuatan untuk “menggerakkan” target). Melalui penyadaran merek ini

diharapkan masyarakat akan mengenal nama merek dan terus mengingatnya

seiring dengan mereka mengingat siapa endorser-nya. Maka dari itu, adanya

popularitas endorser akan mampu meningkatkan efektivitas iklan produk

tersebut.

Menekankan ketenaran suatu barang atau jasa dengan menampilkan

sejumlah tokoh atau sejumlah ahli yang menggunakan atau

merekomendasikan produk bersangkutan sebagai pemimpin pasar. Tujuan

utama daya tarik ini adalah menunjukkan pemakaian produk secara luas yang

membuktikan kualitasnya yang baik dan anjuran agar konsumen

mempertimbangkan untuk melakukan pembelian nyata.

2.1.2.3.1 Bintang Iklan (Brand Endorser)

Royan (2004:8) menyatakan bahwa seorang selebriti sangat berpengaruh

apabila memiliki kredibilitas yang didukung faktor keahlian, sifat dapat

(16)

endorser adalah seorang pribadi baik itu aktor, artis maupun atlit yang dikenal

masyarakat dan menjadi pujaan, karena prestasinya di suatu bidang dan

digunakan dalam menyampaikan pesan iklan yang dimaksudkan untuk

menarik perhatian sehingga mempengaruhi konsumen sasaran.

2.1.2.3.2 Atribut Endorser

Terdapat lima atribut khusus dalam endorser yang dijelaskan dengan nama

TEARS sebagai berikut :

1. Trustworthiness (dapat dipercaya)

Trustworthiness adalah sikap percaya terhadap produk dari pencitraan

suatu pendukung, ada pun Shimp (2003:28) menjelaskan bahwa

trustworthiness (dapat dipercaya) adalah “trustworthiness refers to the honesty, integrity and believability of a source. Endorser trustworthiness simply reflects tha fact that prospective endorser of a brand vary in the degree to which audience members have faith in what they have to say”. Trustworthiness mengacu pada sejauh mana sumber dipandang memiliki

kejujuran, ketulusan, dan dapat dipercaya.

2. Expertise (keahlian)

Expertise merupakan competitive advantage yang dimiliki pendukung

untuk meyakinkan audience dalam hal keterampilannya. Shimp (2003:32)

menjelaskan bahwa Expertise (keahlian) adalah expertise refers to the

knowledge, experience, or skill possessed by an endorser as they relate to the endorser brand. Keahlian (expertise) mengacu pada pengetahuan,

(17)

dihubungkan dengan merek yang didukung. Seorang endorser yang

diterima sebagai seorang yang ahli pada merek yang didukungnya akan

lebih persuasive dalam menarik audience dari pada seorang endorser yang

tidak diterima sebagai seorang yang ahli.

3. Attractiveness (daya tarik)

Shimp (2003:35) menjelaskan bahwa attractiveness (daya tarik) adalah

Phsycal attractiveness refers to the trait of being regarded as pleasant to look at in terms of perticular group’s concept of attractiveness. Attractiveness (daya tarik fisik) mengacu pada diri yang dianggap sebagai

yang menarik untuk dilihat dalam kaitannya dengan konsep kelompok

tertentu dengan daya tarik fisik.

4. Respect (kualitas dihargai)

Atribut keempat adalah respect, respect merupakan pemberian

penghargaan dari audience terhadap suatu produk setelah melihat dan

mendengar informasi dari endoerser, Shimp (2003:36) menjelaskan bahwa

respect (kualitas dihargai) adalah: Respect represents the quality of being admired or even esteemed due to one’s personal qualities and accomplishments. Respect (kualitas dihargai) berarti kualitas yang dihargai

atau digemari sebagai akibat dari kualitas pencapaian personal.

5. Similarity (kesamaan dengan audience yang dituju)

Atribut terakhir adalah similarity, Shimp (2003:36) menjelaskan bahwa

similarity (kesamaan dengan audience yang dituju) adalah Similarity represents the degree to which an endorser matches an audience in terms

(18)

of charecteristics pertinent to the ondersement relationship-age, gender, ethnictly and so on. Kesamaan dengan audience yang dituju (similarity)

mengacu pada kesamaan antar endorser dan audience dalam hal umur,

gender, etnis, status sosial dan sebagainya.

2.1.3 Teori Tentang Keputusan Pembelian 2.1.3.1 Pengertian Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian menurut Kotler dan Amstrong (2003:234),

keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan

pembelian dimana konsumen benar-benar membeli. Pengambilan

keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang secara langsung

terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang ditawarkan.

Pendapat lain juga dikemukakan Schiffman dan Kanuk (2007:211) yaitu,

keputusan pembelian konsumen adalah seleksi terhadap dua pilihan atau

lebih.

2.1.3.2 Proses Keputusan Pembelian

Menurut Kotler dan Armstrong (2008:245), proses keputusan

pembelian terdiri dari lima tahap: pengenalan kebutuhan, pencarian

informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pasca

pembelian. Proses keputusan pembelian dapat dilihat pada gambar berikut:

Sumber : Setiadi (2008:16) Gambar 2.1 Pengenalan Kebutuhan Pencarian Informasi Evaluasi Alamat Keputusan Pembelian Perilaku Pasca

(19)

Secara rinci diuraikan sebagai berikut:

1. Pengenalan kebutuhan

Pembeli menyadari suatu masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat dipicu

oleh rangsangan internal ketika salah satu kebutuhan normal seseorang (rasa

lapar, haus, seks) timbul pada tingkat yang cukup tinggi sehingga menjadi

dorongan. Kebutuhan juga bisa dipicu oleh rangsangan eksternal. Contohnya,

suatu iklan atau diskusi dengan teman bisa membuat anda berpikir untuk

membeli mobil baru.

2. Pencarian informasi

Konsumen yang tertarik mungkin mencari lebih banyak informasi atau

mungkin tidak. Jika dorongan konsumen itu kuat dan produk yang

memuaskan ada di dekat konsumen itu, konsumen mungkin akan membelinya

kemudian. Jika tidak konsumen bisa menyimpan kebutuhan itu dalam

ingatannya atau melakukan pencarian informasi yang berhubungan dengan

kebutuhan. Contohnya, setelah anda memutuskan memerlukan mobil baru,

paling tidak mungkin anda lebih banyak memperhatikan iklan mobil, mobil

milik teman, dan percakapan tentang mobil. Jumlah pencarian yang anda

lakukan bergantung pada kekuatan dorongan anda. Jumlah informasi yang

anda mulai, kemudahan memperoleh lebih banyak informasi, nilai yang anda

tempatkan pada informasi tambahan, dan kepuasan yang anda dapat dari

pencarian.

Konsumen dapat memperoleh informasi dari beberapa sumber. Sumber ini

(20)

(iklan, wiaraniaga, situs web, penyalur, kemasan, tampilan), sumber publik

(media massa, organisasi pemeringkat konsumen, pencarian internet), dan

sumber pengalaman (penanganan, pemeriksanan, pemakaian produk). Ketika

semakin banyak informasi yang diperoleh, kesadaran konsumen dan

pengetahuan akan merek dan fitur yang tersedia meningkat.

3. Evaluasi alternatif

Evaluasi alternatif yaitu bagaimana konsumen memproses informasi untuk

sampai pada pilihan merek. Konsumen sampai pada sikap terhadap merek

yang berbeda melalui beberapa prosedur evaluasi. Bagaimana cara konsumen

mengevaluasi alternatif bergantung pada pribadi kunsumen dan situasi

pembelian tertentu. Dalam beberapa kasus, konsumen mengunakan kalkulasi

yang cermat dan pemikiran logis. Pada waktu yang lain, konsumen yang

sama hanya sedikit melakukan evaluasi atau bahkan tidak mengevaluasi,

sebagai gantinya mereka membeli berdasarkan dorongan dan bergantung

pada intuisi.

4. Keputusan pembelian

Keputusan pembelian konsumen adalah membeli merek yang paling disukai,

tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan keputusan pembelian.

1. Faktor pertama adalah sikap orang lain.

Jika seseorang yang mempunyai arti penting bagi anda berpikir bahwa

anda seharusnya membeli mobil yang paling murah, maka peluang untuk

membeli mobil yang lebih mahal berkurang.

(21)

Konsumen mungkin membentuk niat pembelian berdasarkan faktor-faktor

seperti pendapatan, harga, dan manfaat produk yang diharapkan. Namun

kejadian tak terduga bisa mengubah niat pembelian.

5. Perilaku pasca pembelian

Perilaku pasca pembelian adalah tahap proses keputusan pembeli dimana

konsumen mengambil tindakan selanjutnya setelah pembelian, berdasarkan

kepuasan atau ketidak puasan mereka. Jika produk tidak memenuhii

ekspektasi, konsumen kecewa; jika produk memenuhi ekspektasi, konsumen

puas; jika produk melebihi ekspektasi, konsumen sangat puas.

2.2 Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian terdahulu dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Peneliti Judul Variabel Teknik Analisis Hasil Novi (2016) Pengaruh kualitas produk dan harga terhadap keputusan pembelian internet high speed Indihome pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis USU Kualitas produk, harga dan keputusan pembelian Analisis Linier Berganda

Hasil analisis regresi, R = 0,557 berarti hubungan antara Kualitas Produk dan Harga terhadap Keputusan Pembelian adalah sebesar 55,7% artinya memiliki hubungan yang erat. Adjusted R Square = 0,295 berarti 29,5% kemampuan Kualitas Produk dan Harga mampu menjelaskan Keputusan Pembelian dan sisanya 70,5% Aprilyana (2009) Analisis pengaruh iklan media televisi terhadap keputusan pembelian Iklan media televisi dan keputusan pembelian Regresi berganda

Dari hasil analisis regresi

linier sederhana menunjukkan bahwa nilai

signifikansi antara iklan media televisi dengan keputusan pembelian

(22)

provider Simpati Pede.

Signifikansi 0,000<0,005 sehingga hubungan kedua variabel tersebut adalah signifikan. Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Grace (2008) Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam memilih operator seluler (studi pada sebuah perguruan tinggi di yogyakarta) Merek, harga, kualitas, promosi dan keputusan konsumen. Regresi berganda

Promosi secara signifikan mempengaruhi keputusan pada aras kepercayaan 5%, karena berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan regresi berganda menghasilkan nilai t hitung masing-masing sebesar 17.226 dengan P-value sebesar 0.000. Kondisi ini menunjukkan bahwa keputusan konsumen dalam memilih operator seluler dipengaruhi oleh kegiatan promosi seperti promosi periklanan, promosi penjualan dengan cara memberikan bonus pulsa atau sms, promosi dengan cara menyelenggarakan event-event yang menarik. Ing (2007) Pengaruh karakteristik selebirti endorser terhadap pencitraan merek dan keputusan pembelian konsumen Karakteristik selebriti endorser, pencitraan merek dan keputusan pembelian Analisis Regresi Linier Berganda

Karakteristik selebirti endorser

berpengaruh signifikan terhadap pencitraan merek dan

keputusan pembelian konsumen Dido Saputra (2005) Pengaruh Harga dan Promosi Penjualan Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen pada Simcard XL di Kota Padang Harga, promosi penjualan dan keputusan pembelian Analisis Regresi Logistik

Harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada kartu XL di kota padang Promosi penjualan tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen pada kartu XL di kota padang

(23)

2.3 Kerangka Konseptual Penelitan

Pemasaran merupakan seni menjual produk dimana memahami dan

mengidentifikasi pelanggan sedemikian rupa adalah tugas utama seorang pemasar

untuk mengetahui barang dan jasa apa yang sesuai dengan pelanggannya. Konsep

pemasaran, sebagai seni menjual produk dalam mencapai tujuan pemasaran

tersebut menegaskan bahwa kunci untuk mencapai tujuan yang di tetapkan adalah

perusahaan tersebut harus menjadi lebih efektif dibandingkan para pesaing dalam

menciptakan, menyerahkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan pada pasar

sasaran yang terpilih (Kotler, 2007:94).

Pemasar dituntut bukan hanya mampu untuk menyediakan peluang tetapi

juga menghadapi tantangan dari perusahaan-perusahaan lain serta selalu

mendapatkan cara terbaik guna merebut dan mempertahankan pangsa pasar.

Perusahaan mulai menyadari perlunya upaya mengintegrasikan berbagai kegiatan

pemasaran yang selama ini dilakukan. Kegiatan pemasaran itu mencakup

memasang iklan, pemasaran langsung, promosi penjualan, penjualan personal,

pemasaran interaktif, hubungan masyarakat. Menurut Morissan (2010:87) Dari

berbagai program komunikasi pemasaran yang ada periklanan (advertising)

merupakan salah satu cara yang dipilih pemasar untuk mempromosikan produk.

Menurut Lee, Monle dan Carla Johnson (2007:116) periklanan adalah komunikasi

komersil dan nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang

ditransmisikan ke suatu khalayak target melalui media bersifat massal seperti

televisi, radio, koran, majalah, directmail, reklame luar ruang, atau kendaraan

(24)

iklan yaitu, daya tarik rasional yang merupakan daya tarik yang terkait dengan

pemenuhan kebutuhan konsumen terhadap aspek praktis, fungsional, dan

kegunaan suatu produk . Dalam hal ini kebutuhan konsumen dapat digunakan

sebagai dasar daya tarik iklan yang berfungsi mempengaruhi konsumen. Alasan

menggunakan daya tarik rasional adalah untuk mempengaruhi konsumen dalam

hal kenyamanan, ekonomi, kesehatan, rekreasi, dan manfaat sensorik seperti

sentuhan, rasa, dan aroma. .

Daya tarik rasional dalam iklan (rational advertising) terdiri dari variabel

atribut, variabel harga dan variabel popularitas (endorser). Dalam menampilkan

sisi rasional yang terkandung dalam sebuah iklan, pemasar biasa menggunakan

media i klan yang menampilkan iklan yang menggunakan atribut. Atribut dalam

periklanan menekankan pada sifat atau kualitas tertentu yang dimiliki suatu

barang dan jasa. Iklan jenis ini cenderung menyajikan banyak informasi yang

diharapkan dapat menimbulkan sikap positif konsumen sehingga dapat digunakan

sebagai dasar bagi keputusan pembelian yang diambil melalui pertimbangan

rasional. Pengaruh atribut terhadap keputusan pembelian yaitu apabila atribut

produk baik maka keputusan pembelian akan meningkat, tetapi apabila atribut

produk buruk maka dapat menyebabkan keputusan pembelian rendah.

Harga juga merupakan kategori yang termasuk dalam daya tarik rasional

dalam periklanan yang akan mempengaruhi pembelian konsumen. Harga

merupakan sejumlah nilai yang dipertukarkan untuk memperoleh suatu produk

(Simamora,2001:46) dan harga adalah atribut produk atau jasa yang paling sering

(25)

(Suwarman,2004:66). Pengaruh harga terhadap keputusan pembelian yaitu apabila

harga produk meningkat maka akan berdampak pada penurunan terhadap

keputusan pembelian konsumen, namun bila harga produk mengalami penurunan

maka akan berpengaruh pada peningkatan keputusan pembelian konsumen.

Selain atribut dan harga, endorser yang merupakan bagian dari populeritas

menekankan ketenaran suatu barang atau jasa dengan menampilkan sejumlah

tokoh yang merekomendasikan produk bersangkutan digunakan oleh konsumen

dan menjadi pemimpin pasar.

Endorser menjadi salah satu kunci utama dalam periklanan. Untuk

menyampaikan pesan dan mempengaruhi konsumen ketika menyaksikan iklan

sehingga konsumen akan tertarik untuk melakukan pembelian. Endorser yaitu

orang atau karakter yang muncul dalam iklan untuk mengkomunikasikan produk

perusahaan baik itu selebritis, tokoh masyarakat, publik figure atau bahkan orang

biasa yang dapat mempengaruhi pikiran konsumen sebagai preferensi dalam

melakukan keputusan pembelian (Engel, Black Well dan Miniard, 1990:176).

Pengaruh populeritas (endorser) terhadap keputusan pembelian apabila iklan

suatu produk menggunakan populeritas endorser maka akan meningkatkan

keputusan pembelian, namun bila iklan suatu produk tidak menggunakan endorser

maka akan menurunkan keputusan pembelian produk tersebut.

Ketiga sub variabel daya tarik rasional periklanan (rational advertising)

tersebut dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Dengan demikian

(26)

Berdasarkan teori tersebut maka kerangka konseptual dapat dibuat secara

sistematis sebagai berikut:

Gambar 2.2

Kerangka Konseptual Penelitian

2.4 Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap rumusan

masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam

bentuk kalimat tanya (Sugiyono, 2012:93). Berdasarkan perumusan masalah dan

kerangka konseptual yang dikemukakan di atas, dapat dirumuskan hipotesis

sebagai berikut :

1. Atribut berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian Indihome Fiber

pada mahasiswa program studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Sumatera Utara.

2. Harga berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian Indihome Fiber

pada mahasiswa program studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Sumatera Utara.

Populeritas (Endorser) (X3)

Harga (X2) KEPUTUSAN

PEMBELIAN

(27)

3. Populeritas (endorser) berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian

Indihome Fiber pada mahasiswa program studi S1 Manajemen Fakultas

Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Atribut, harga, dan populeritas (endorser) secara bersama-sama berpengaruh

positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian Indihome Fiber pada

mahasiswa program studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Gambar

Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu

Referensi

Dokumen terkait

Dari berbagai macam kegiatan hubu- ngan media yang telah dilakukan dan juga eva- luasi dari berbagai macam kegiatan hubungan media yang dilakukan oleh humas UAD, hasil yang akan

Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko yang berhubungan secara bermakna dengan kejadian campak anak usia sekolah dasar pada peristiwa KLB adalah riwayat

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan formulasi tablet effervescentekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dengan variasi kadar pemanis gula

kekuatan otot, meningkatkan lingkup gerak sendi dan meningkatkan kemampuan fungsional pada pasien pre operative canal stenosis akibat spondylolisthesis vertebra lumbal iv dan

Hasil penelitian menunjukkan pembe- rian pupuk N, dan P pada kondisi agroklimat dataran tinggi desa Kayu Giyang, Dieng, mampu memperbaiki produktivitas piretrum

Penyidik membuat laporan dan berita acara proses diversi dan mengirimkan berkas perkara kepada penuntut umum serta melanjutkan proses peradilan pidana dalam hal

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peningkatan keterampilan proses sains calon guru fisika pada kelas yang diterapkan pembelajaran inkuiri lebih

a) Apakah Petugas Kesehatan PONED di Puskesmas Labuhan Bilik sudah mendapatkan pelatihan PONED? Kapan petugas kesehatan PONED mendapat pelatihan PONED? Berapakah jumlah