Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
88
ICON MINIATUR PATUNG DI PANTAI
LOSARI SEBAGAI STRATEGI CITRA DAN
BRANDING BUDAYA
Irfandi Musnur1 Mustika Syarifuddin2 Universitas Mercu Buana1
IAIN Pare-Pare2
[email protected] ABSTRAK
Sebagai kota yang sadar akan kebutuhan promosi tetntu tidak lepas dari strategi Branding. Setiap kota memiliki cara utuk memperkenalkan dirinya melalui beberpa bentuk. Seperti yogyakarta dengan kemampuan menciptakan brandnya sebagai kota pelajar, kota Jakarta yang Metropolitan, surabaya yang ramah dan lainnya. Makassar merupakan kota berkembang yang tak lepas dari kebutuhan promosi untuk tetap dikenal dikalangan Masyarakat Indonesia, maka dari itu melalui riset ini mencoba menjelaskan dan megungkap bagaimana strategi branding Makassar melalui representasi icon miniatur kota di pantai losari. Patung miniatur yang dihadirkan sebagai upaya branding Kota Makassar melalui representasi budaya dan tradisi-tradisi suku bugis. Beberapa icon yang dimunculkan diantaranya miniatur miniatur kerbau, penari toraja, tenun perempuan mandar, perahu phinisi, pa’raga, dan becak. Hal menarik yang menjadi diskursus adalah ketika setiap kota di Indonesia memiliki sentral icon, namun makassar dapat menciptakan identifikasi yang beragam dalam stu lokasi wisata. Menilik fakta tersebut, maka kehadiran riset yang dilakukan sebagai upaya membahas bagaiman citra budaya yang tercermin dalam karya seni patung sebagai icon dan branding kota. Sebagai bahan pembahasan menarik pada riset ini adalah, diantara beragam budaya dalam suku bugis, bagaiman proses memilih dan menentukan idetifikasi visualisi pada icon representasi pada karya seni patung di Pantai Losari. Berdasarkan hal tersebut Riset ini berupaya mengungkap apakah kemunculan ini merupakan bagian strategi serta bagaimana memastikan objek icon ini merupakan sebuah representasi. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan metode kulitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, studi literatur dan wawancara. Pendekatan teoritik yang digunakan adalah beberapa teoritik Branding maupun promosi kota dan teori-teori representasi dan iconic. Sebagai Pembahasan, melalui kasus ini branding city merupakan pendekatan teori yang dapat digunakan untuk pemaknaan.
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
89
PENDAHULUAN
Sulawesi selatan merupakan salah satu kota yang juga memiliki nilai popularitias diantara provinsi lainnya di Indonseia. Selain Pulau jawa dengan kota Jakarta, yogyakarta, dan kota lainnya, Sulawesi selatan juga memiliki Kota-Kota yang menarik untuk dijkunjungi. Kendati objek wisata yang dimiliki masih minim, namun sisi lain seperti kuliner dan kegiatan kesenian terbuka untuk menjadi bahan pertimbangkan. Sulawesi selatan memiliki kota sentral yang dikenal dengan kota Makassar. Kota ini dijuluki sebagai kota daeng (kota para daeng) dengan julukan kota “Ayam Jago dari timur” melalui sejarah pahlawan Sultan Hasanuddin. Kota Makassar merupakan kota sentral berpadunya beragam suku Bugis dengan kekayaan adat istiadat, kesenian, makanan khas yang dapat meninggalkan kerinduan oleh para pengunjungnya.
Sebagian besar masyarakat yang mendiami kota Makassar di daratan Sulawesi selatan adalah Suku Bugis. Selain julukan ayam jago, di Indonesia Suku bugis dikenal dengan suku yang memiliki kemampuan berlayar yang baik, bahkan mereka mampu membangun konstruksi armada perahu yang sangat baik pula. Perahu tesebut dikenal dengan nama “pinisi”, yang mampu mengarungi samudra sampai ke penjuru Dunia. Melalui kemampuan berlayar yang handal, masyarakat Bugis dapat dikenal dibelahan dunia. Bahkan Citra Perahu phinisi telah menjadi representasi pelaut Suku Bugis. Gambaran phinisi pernah menjadi hiasan ilustratif pada uang kertas pecahan seratus rupiah di Indonesia tahun 1990 an.
Beragam budaya yang dimiliki oleh suku Bugis menjadi modal besar bagi para Rebrender dalam mempromosikan suku Bugis di Kota Makassar. Seiring berkembangnya brading kota melalui pariwisata di Negara-negara khususnya Indonesia, kota Makassar memiliki peluang dalam promosi kota melalui citra budaya dan tradisinya. Untuk itu beberapa upaya telah dialkukan Salah satuya dengan merespon daerah wisata Pantai Losari di daerah anjungan bibir pantai selat makassar. Pantai ini menjadi iconik dikalangan warga Makassar maupun masyarakat Indonesia. Melalui kepedulian pemerintah atas pentingnya tempat ini, maka pada tahun 2011, Pantai Losari diperbaharui dengan beberapa
peru-Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
90 bahan yang menarik. Perubahan tersebut terlihat dari hadirnya beberapa icon-icon miniatur karya seni patung sebagai representasi budaya kesukuan Bugis (khususnya mandar, toraja dan Bugis secara Umum).
Patung miniatur yang dihadirkan sebagai upaya branding Kota Makassar melalui representasi budaya dan tradisi-tradisi suku bugis. Beberapa icon yang dimunculkan diantaranya miniatur miniatur kerbau, penari toraja, tenun perempuan mandar, perahu phinisi, pa’raga, dan becak. Hal menarik yang menjadi diskursus adalah ketika setiap kota di Indonesia memiliki sentral icon, namun makassar dapat menciptakan identifikasi yang beragam dalam stu lokasi wisata.
Menilik fakta tersebut, maka kehadiran riset yang dilakukan sebagai upaya membahas bagaiman citra budaya yang tercermin dalam karya seni patung sebagai icon dan branding kota. Sebagai bahan pembahasan menarik pada riset ini adalah, diantara beragam budaya dalam suku bugis, bagaiman proses memilih dan menentukan idetifikasi visualisi pada icon representasi pada karya seni patung di Pantai Losari. Berdasarkan hal tersebut Riset ini berupaya mengungkap apakah kemunculan ini merupakan bagian strategi serta bagaimana memastikan objek icon ini merupakan sebuah representasi. Untuk mengungkap hal tersebut maka Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan metode kulitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Pendekatan teoritik yang digunakan adalah beberapa teoritik Branding maupun promosi kota dan teori-teori representasi dan iconic. Sebagai Pembahasan, melalui kasus ini strategi visual merupakan pendekatan teori yang dapat digunakan untuk melihat bentuk strategi promosi kota.
Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah bersifat deskriptif kualitatif dengan mengandalkan data-data yang dianalisis berdasarkan visual, strategi dan citra. Metodologi kualitatif merupakan kegiatan penelitian yang dapat memberikan data deskriptif baik yang tertlis dengan kata-kata maupun lisan dari narasumber yang dapat diamati dengan baik (Bogdan, 1982). Dalam ilmu pengetahuan sosial yang mengedepankan kemandirian dalam riset
meru-Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
91 pakan tradisi tertentu dari penelitian kualitatif. Berdasarkan hal tersebut penelitian kualitatif berupaya memaknai sebuah penelitian melalui pengamatan mendalam pada manusia berdasarkan ungkapan bahasa dan peristilahannya (Gallagher & Kirk, 1986).
Melalui pendekatan tersebut, melalui riset ini berupaya memaknai secara kualitatif bagaimana icon Makassar dapat dipilih dan dimunculkan sebagai representasi maupun daya tarik bagi yang melihatnya. Penelitian Kualitatif disadari hanya mampu berupaya mengungkap sebuah pemaknaan saja, kebernaran yang ditawarkan hanyalah memunculkan sebuah variabel-variabel kebenaran dari sudut pandang tertentu. Untuk itu, penelitian tentang icon patung miniatur di Pantai losari sebagai citra Kota Makassar hanya memculkan kebenaran dari sudut pandang pembacaan strategi citra dan branding kota.
Bagi Sugiyono menjelaskan bahwa untuk memahmai penelitian kualitatif dapat ditlusuri melalui paradima postpositivism. Pada kondisi alamiah, penelitian kualitatif meniti beratkan pemaknaan pada peneliti sebagai perangkat penting (subjek utama). Kondisi data yang dianalisis berdasarkan data yang ditranggulasikan (gabungan). Pengambilan keputusan pemaknaan penelitiaan berdasarkan generalisasi (induktif). Pola ini dapat diartikan sebagai sebuah pengambilan keputusan berdasarkan kasus yang kecil sebagai pemaknaan saecara umum.
“Penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan. Jadi, tidak menggunakan desain yang telah disusun secara ketat dan kaku sehingga tidak dapat diubah lagi. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, tidak dapat dibayangkan sebelumnya tentang kenyataan-kenyataan ganda di lapangan; kedua, tidak dapat diramalkan sebelumnya apa yang akan berubah karena hal itu akan terjadi dalam interaksi antara peneliti dengan kenyataan; ketiga, bermacam sistem nilai yang terkait hubungan dengan cara yang tidak dapat diramalkan”.
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
92 Penelitian icon minatur patung dipatan Losari kota Makassar dimaknai dengan menyimpulkan data secara Deduktif. Berdasarkan kasus tersebut dapat menjadi sebuah Variabel teoritik yang dapat diujikan kembali dalam pola kuantitatif. Upaya penelitian ini berusaha memberikan pemaknaan tentang sebuah strategi branding budaya melalui citra budaya dalam visualisasi patung Miniatur di sebuah kota. Berdasarkan hal tersebut hasil analisis diharapkan dapat memberikan variabe teoritik tentang sebuah strategi citra budaya melalui visualisasi budaya dari suku itu sendiri.
Dengan menimbang latar belakang di atas, maka dirumuskan beberapa masalah dan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana bentuk citra Budaya pada Kota Makasaar dalam beberapa patung miniatur di pantai Losari ?
2. Apa bentuk strategi yang tercipta dalam icon miniatur di pantai losari sebagai branding budaya kota Makassar?
PEMBAHASAN
Branding identitas kota (city branding) telah banyak dilakukan oleh banyak negara-negara di Dunia. Adanya penanda sebagai sebuah Identitas sangat penting sebagai sarana identifikasi ketika berkunjung disebuah Negara. Hasrat eksistensi manusia ketika berada disebuah tempat menjadi motivasi tersendiri untuk dapat ditampilkan dan dipublikasikan. Untuk itu, Kota perlu memiliki penanda identifikasi yang dapat menjadi representasi kota itu sendiri. Hal ini dapat ditemui dibeberapa negara-negara terkenal seperti Paris dan Mesir. Paris dikenal dengan menara eivel, sedangkan Mesir tidak bisa dipisahkan dari identitas piramida. Menara eivel maupun Piramida mesir merupakan warisan budaya konstruksi yang kini menjadi icon sebuah kota maupun negara. Berdasarkan prinsip icon sebagai visual representasi, Kota dapat menggunakannya sebagai media strategi Branding identitas. Perlu disadari, bahwa identitas kota dapat dimuat melalui pendekatan muatan sejarah dan budaya sebuah kota itu sendiri.
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
93 Layaknya kota-kota dibelahan dunia, Indonesia juga memiliki beragam icon kota baik sebagai representasi Indonesia maaupun kota itu sendiri. Dapat dilihat dibeberapa daerah tempat wisata seperti peniggalan candi, tugu kota, museum, keraton dan lain sebagainya. Bahkan sebagian besar daerah-daerah di Indonesia dapat dikenal melalui peninggalan-peninggalan tersebut. Pelestarian pun dilakukan sebagai upaya dalam menjamin keberlangsungan eksistesi peninggalan-peninggalan sejarah Indonesia.
Salah satu bentuk upaya pelestarian peninggalan sejarah dan kebudayaan adalah eksistensi melalui pariwisata dan branding. Branding kebudayaan dan peninggalan sejarah inilah kemudian dapat diimplementasikan melalui icon kota maupun Negara sekalipun. Relasi keberlangsungan eksistensi kebudayaan dan branding kota tidak dapat dilepaskan sebagai sebuah kesatuan. Dalam konteks ini, hubungan mutualisme antara peninggalan sejarah budaya dan citra kota saling mendukung satu sama lainnya. Dapat dipahami bahawa sebuah kota dapat dikenal dengan adanya ikonik kebudayaan dan sejarah begitupun sebaliknya. Hubungan ini dapat dilihat pada kasus yang terjadi pada penelitian ini yakni kebudayaan suku bugis yang diiconkan dalam sebuah branding kota di salah satu pariwisata Makassar.
Suku bugis yang mendiami kawasan sulawesi selatan terbagi atas beberapa subsuku yang menyebar dikawasan tersebut. Suku Bugis dapat diartikan sebagai suku yang memilki cabang kesukuan dibeberapa daerah. Setiap daerah subsuku ini memiliki pemahaman kebugisan yang berbeda walaupun dengan naungan prrinsip yang sama. Perbedaan ini dapat dilihat baik dari segi bahasa (bahasa Bugis Makassar, wajo, mandar, luwu dll), tradisi, rumah adat dan kesenian. Bagian kesukuan Bugis ini terbagi atas Suku Bugis Makassar, mandar, wajo, luwu, bone dan soppeng. Jika ditelisik lebih dalam, meskipun berada dinaungan prinsip kebugisan namun mereka memilki keunikan dalam kebudayaan masing-masing. Beberapa penelitian pernah mengungkap alasan perbedaan tersebut adalah salah satunya perspekstif letak geografis. Masyarakat bugis di daratan Sulawesi selatan tersebar dalam pemukiman
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
94 pinggiral laut, dipegunungan dan didaratan persawahan. Hal ini menimbulkan perbedaan cara pandang dalam menjalani kehidupan sehingga kebudayaan Bugis memiliki banyak ragam tradisi (Pelras, 2006).
Melalui konteks kebudayaan suku Bugis yang sangat beragam menjadi modal materi bagi Branding kota di Makassar. Hal ini terealisasi dalam branding kota melalui kebudayan bugis di Pantai Losari Makassar. Pantai losari merupakan salah satu daerah pesisir yang berada di kota Makassar dengan keindahan pemandangan yang luar biasa. Berdasarkan data sejarah, pada tahun 1945 pemerintah wali kota Makassar mendirikan beton sepanjang 910 meter sebagai upaya menahan derasnya obak diselat Makassar. Lambat laun bangunan beton tersebut menjadi kawasan hiburan bagi masyarakat setempat, sehingga menjadi kawasan wisata Makassar. Pada masa itu pemeritanhan masih dipegan oleh NICA DM van Switten (1945-1946) yang kemudian memberikan nama LOSARI. (Kavaratzis, 2004).
Gambar 1. Pantai Losari
Sampai saat ini pantai losari dikenal sebagai daerah wisata kota yang menarik untuk dikunjungi oleh para pendatang di Kota Makassar. Tidak hanya sebagai lokasi wisata, namun ditempat tersebut sebagai pusat event-event nasional dan hiburan lainnya. Melihat peluang tersebut maka Pemerintah Kota berinisiatif menjadikan daerah tersebut sebagai icon dan representasi kota Makassar. Sebagai kawasan iconik, maka dihadirkan beberapa patung miniatur sebagai icon-icon dari kesukuan Bugis dari beberapa daerah. Patung miniatur yang ditampilkan tersebut merepresentasikan subsuku dari beberapa daerah
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
95 suku Bugis seperti Mandar, Toraja dan identitas suku Bugis sendiri. Di anjungan pantai losari sendiri terbagi atas anjungan Bugis, anjungan pantai losari, anjungan toraja dan mandar.
Gambar 2. Patung Pa’raga
(Sumber: Google image https://2.bp.blogspot.com)
Salah satu patung miniatur sebagai representasi Bugis adalah karya seni pantung pa’raga, sebagai bagian dari warisan budaya tradisi olahraga tradisonal suku Bugis zaman dahulu. Sebuah penelitian (Harwandi, n.d.) menjelaskan bahwa tradisi pa’raga merupakan kegiatan pertunjukkan yang dilakukan dalam acara pelantikan raja atau Somba (dalam bahas Bugis Makassar). Dalam tradisi Bugis dipercayai bahwa tradisi pa’raga ditemukan oleh seseorang yang bernama “To manurung” dari kayangan dengan bola yang tebuat dari bahan emas. Seiring berjalannya waktu, eksistensi pa’raga berlanjut dengan ditemukannya lokasi kampung pa’raga di daerah dusun Kaemba (desa ujung buloa) Maros. Sampai saat ini tradisi pa’raga masih sering ditampilkan dalam beberapa kegiatan-kegiatan adat di masyarakat bugis. Dilangsir dalam kompas.com, menjelaskan bahwa pertunjukan pa’raga biasanya dilakukan oleh 6 orang menggunakan bola takraw diiringi dengan musik khas Bugis. Olahraga ini tetap digeluti oleh beberapa kalangan masyarakat meskipun terbilang minoritas, sehingga masih layak dinyatakan eksis di Sulawesi-Selatan. Hal ini didukung oleh masih terlihatya aktifitas pelatihan oleh beberapa komunitas pa’raga di Kota Makassar. Dipantai losari patung miniatur patung pa’raga ditampilkan melalui visualisasi adegan tiga
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
96 orang dengan memainkan bola takraw. Melalui kesan patung yang dramatik memberikan daya tarik untuk diabadikan dalam sebuah foto.
Selain karya seni patung pa’raga yang ditampilkan di pantai losarai, di anjungan Mandar terdapat karya seni patung seorang perempuan dengan adengan mebuat tenun sutera. Tardisi tenun sebenarnya tidak hanya berasal dari Bugis namun juga terdapat dibeberapa suku di Indonesia. Bahkan berdasarkan berberapa oppini penelitian menegaskan bahwa tenun merupakan warisan budaya China yang masuk ke Indonesia. Melalui fakta dari data yang ditemukan, dapat dijelaskan bahwa keberadaan patung adegan tenun dipantai losari semata-mata hanya berupaya menampilkan eksistensi peremupuan tenun mandar. Hampir semua kesukuan bugis baik makassar, bone, wajo, mandar dan lainnya memiliki tradisi tenun. Bahkan selain mandara, suku bugis wajo (sengkang) juga terkenal dalam produksi tenun suteranya sejak dulu. Di Anjungan pantai losari justru yang ditampilkan adalah tradisi tenun versi Bugis Mandar. Suku Bugis Mandar mengenal kegiatan tenun dengan istilah pattene, perempuan Mandar sejak dulu dikenal sebagai pattene yang sangat kuat dan handal. Dalam penelitian Widya Kartika (Widya Kartia, 2016) menjelaskan bahwa tradisi tenun Oleh suku Bugis Mandar merupakan penyumbang terbesar dalam produksi hasil tenun di Indonesia sejak dahulu. Kehadiran dan pemilihan patung perempuan mandar di anjungan patai losari (khususnya anjungan mandar) berupaya merepresentasikan perempuan Bugis secara umum. Dilangsir dari sejarah bahwa kegiatan tenun oleh masyarakat Bugis memang diperuntukkan bagi perempuan untuk menjaga kehormatan mereka. Suku bugis dikenal sangat ketat dalam menjaga kehormatan perempuan dengan tradisi meyimpan anak gadis dalam ruangan tersendiri. Diruangan itulah perempuan menghbiskan waktunya dengan kegiatan tenun agar terhindar dari pandangan lelaki Bugis.
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
97
Gambar 3. Patung Miniatur Pa’Tennung (Sumber: Google image http://wartatimur.com)
Dianjungan toraja, terdapat beberapa icon miniatur patung seperti kerbau albino, penari toraja dan rumah tongkonan. Bebeda dengan anjungan lainnya baik bugis maupun mandar, dominasi icon rpresentasi tentang toraja lebih terlihat menonjol. Hal ini berkaitan dengan kekuatan suku toraja yang sangat kental sampai saat ini. Tradisi mereka dikenal dengan “hidup berdam-pingan dengan kematian” yang dapat disetarakan dengan zaman Ghotic di daratan Barat. Eforia mereka tentang kematian melebihi kehidupannya yang dijalaninya, sehingga kebanyakan masyarakat suku Bugis toraja menghbiskan hidupnya mencari nafkah untuk persiapan kematian. Dalam upacara mem-peringati kematian seseorang di Suku Bugis toraja diadakan pesta dengan mengorbankan kerbau pilihan. Untuk keluarga yang memilki derajat yang lebih tinggi biasanya menggunakan kerbau albino dengan harga yang cukup mahal. Kerbau albino merupakan hewan yang sangat identik dengan kebuudayaan suku Bugis Toraja. Eksistesni patung kerbau albino di Anjungan pantai losari menjadi saksi dan bukti indentifikasi keberadaan tradisi toraja.
Rumah tongkonan dan tari toraja juga merupakan salah satu tradisi dan arsitekstur yang patut untuk dilestarikan oleh Masyarakat Bugis. Paslnya, rumah tongkonan telah menjadi icon rumah adat sulawesi-selatan sejak dulu kendati tidak sumua masyarakat suku bugis menggunakannya. Pada dasarnya rumah adat di Sulawesi selatan memiliki beragam kosntruksi tergantung daerah dan kesukuan Bugisnya. Berkaitan dengan anjungan toraja, maka pilihan icon
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
98 asitektur rumah tongkonan mejadi representasi yang sesuai. Sedangkan patung penari toraja ditampilkan sosok perempuan dengan gestur tari serta pakaian adat khas toraja. Di Anjungan toraja terdapat tiga icon miniatur sebagai identitas dan visual identifikasi budaya yakni kebudayaan tradisi tari, arsitektur, dan kerbau .
Gambar 4. Patung Icon kerbau albino, tongkonan, dan penari toraja
(Sumber: Google image Kumparan.com, Google image travel.detik.com, Google image Tribunnews.com)
Hal menarik lainnya adalah, diantara beberapa ikon dengan konteks tradisi dan kebudayaan Bugis, terdapat beberapa karya seni patung dengan konteks profesi pekerjaan masyarakat di Makassar. Berbeda dengan perahu phinisi yang telah dikenal sejak dahulu becak merupakan salah satu warisan alat trasportasi tertua makassar. “daeng becak” merupakan julukan yang sangat lazim didengar dikalagan masyarakat Makassar. Julukan ini diberikan bagi orang-orang yang memiliki profesi sebagai tukang becak. Daeng Becak merupakan sebuah profesi pekerjaan yang sejak dulu ada di makassar. Kemiripan ini dapat dilihat di Kota Yogyakarta yang memilki budaya becak yang sama. Kehadiran miniatur ikon becak dihadirkan sebagai bentuk penghargaan bagi “daeng becak” Makassar sebagai salah satu kendaraan yang fenomenal di Makassar. “julukan daeng becak” menjadi iconic dikalangan masyarakat Makassar, tentunya sebagai bentuk representasi yang patut untuk dipertimbangkan.
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
99
Gambar 5. Patung Miniatur Becak Makassar
(Sumber: Google image Tribunnews.com, http://www.bennyrhamdani.com)
Branding kota juga telah menjadi kebutuhan dalam dunia Pariwisata, beberapa penelitian telah membahas hal tersebut, salah satunya Berdasrakan jurnal Bambang Widodo dan Mite Setiansah (Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed Purwokerto (dalam judul jurnal STRATEGI PENCITRAAN KOTA (CITY BRANDING) BERBASIS KEARIFAN LOKAL (Studi Kasus di Kota Solo, Jawa Tengah dan Kabupaten Badung, Bali). Peneitian ini menemukan bahwa kota solo perlahan telah melakukan branding kota melalui selogan untuk menampilkan visi kota mereka. Selogan tentang visi menjadi “the wish image” bagi kota solo yang mampu memberikan citra bagi yang mendengar dan melihatnya. Branding kota solo dalam selogan dikenal dengan “Solo. The Spirit of Java” (Jiwa jawa) yang ditulis dalam dokumen sosialisasi Identitas daerah Subosukawonosraten. Citra ini dibentuk untuk memberikan pemahaman bahwa kota Solo merupakan jiwa dari Jawa. Penelitian ini menjelaskan bahwa berdasarkan prinsip branding, Solo telah membentuk sebuah upaya citra sebagai indentitas yang dapat dipahami oleh Masyarakat. Berbeda dengan kota Bandung, selogan yang ditamoilkan adalah “Melangkah Bersama Membangun Badung yang Shanti dan Jagadhita Berdasarkan Tri Hita Karana”, semangat ini merupakan upaya dalam mebangun citra tentang Kota Badung yang dapat menyelaraskan tiga bentuk kehidupan yang harmonis baik Manusia dan Tuhan, manusia dan sesama, dan Alam). Berdasarkan penelitian tersebut menjadi bahan diskusi bahwa Icon Makassar sebagai bentuk identifikasi menampilkan citra visual sedangkan solo dan Bandung menampilkan melalui selogan.
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
100 Konsep teoriktik branding city Kavaratzis menjelaskan bahwa, pada prosesnya, komunikasi dalam branding kota (city) dapat dilakukan dengan tiga proses maupun tahapan yakni (1) Komunikasi Primer, (2) Komunikasi Sekunder, (3) dan Komunikasi Tersier.
“Konsep komunikasi Primer dalam branding city meliputi komunikasi yang ditampilkan melalui konteks Desain, Arsitektur, Ruang Publik, dan Pertunjukan Seni. Dengan behavior (kualitas pelayanan, peristiwa, insentif finansial, dan peluang yang tersedia), infrastructure (aksesibilitas, fasilitas budaya dan pariwisata) serta organizational structure (budaya internal, komunitas lokal, sinergi, dan partisipasi warga kota)”.
Berdasarkan teori dan konsep Kavaratis dalam jurnal Bambang Widodo memiliki relasi dalam konsep pembangunan citra budaya icon miniatur patung dipantai losari sebagai branding Budaya. Melalui konsep komunikasi oleh Kavaratis, icon patung miniatur di Pantai Losari adalah wujud dari komunikasi maupun identifikasi tentang budaya-budaya yang dimilki di beberapa Daerah di Sulawesi Selatan. Identitas ini dibentuk dari konteks kategori tradisi budaya pertunjukan, Arsitektur, budaya rutinitas popular. Dari segi arsitektur suku suku bugis khususnya Bugis Toraja tercermin dalam icon miniatur rumah tongkonan, sedangkan pertunjnukan dapat dilihat adegan patung Pa’Raga, dan Penari toraja. Sedangkan citra daerah lainnya ditampilan dengan budaya rutinitas populer masyarakat Makassar seperti perempuan tenun mandar, daeng becak makassar dan phinisi (pelaut) .
Bentuk citra Budaya yang ditampilkan dalam icon miniatur patung di Pantai losari dapat terjelaskan melalui obejek-objek yang dipilih dan ditampilkan dalam kesenian patung. Pada dasarnya icon patung di Pantai losari berupaya menarasikan keanekaragaman Budaya suku bugis. Suku Bugis memiliki banyak jejak tradisi yang terbilang unik dibeberapa Daerah. Inilah yang menjadi penelusuran dan pertimbangan pengambilan keputusan objek identitas yang
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
101 dapat mewakilkan sebuah tempat dan budaya subsuku dalam Bugis. Sebagaimana yang telah diketahui sebelumnya bahwa suku bugis terdiri dari subsuku seperti Bugis mandar, bugis Makassar, Bugis Wao, Bugis Luwu, bugis toraja.
Bentuk kesukuan yang dimiliki oleh bugis yang beragam melahirkan beberapa cerminan budaya yang berbeda-beda. Untuk itu, di anjungan pantai Losari menampilkan identitas kesukuan tersebut melalui kanekaragaman budaya disetiap subsuku. Bentuk Citra yang dibangun kota Makassar di anjungan pantai Losari tidak dihadirkan dalam bentuk selogan maupun taglaine seperti kota solo dan bandung, namun ditampilkan dengan komunikasi Visual dengan muatan identifikasi budaya. Menariknya adalah, melihat konteks budaya media sosial saat ini Kota Makassar memiliki peluang besar dalam segi promosi Wisata.
Kontes budaya media sosial saat ini mejadi motivasi eksistensi bagi tiap orang. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa, orang-orang yang berkunjuang pada sebuah tempat tentu menginginkan adanya penanda. Hadirnya icon dengan konteks mengenalkan budaya suku Bugis dalam bentuk patung tentu saja menjadi strategi yang menarik. Orang-orang yang berkunjung tentu saja akan menjadi agen-agen promosi melalui rekaman foto di media sosial mereka. Secara praktis citra dan branding kota Makassar melalui visualisasi budaya dapat eksis dengan mudah.
Strategi komunikasi visual memiliki komponen prinsip yakni adanya target, kreatifitas komunikasi, kreatifitas visual dan kemampuan memilih media distibusi yang sesuai. Dalam branding kota (City Branding) juga menganut prinsip strategi komunikasi visual. Menurut Hendra pada dasarnya city branding dapat dipahami sebagai upaya dalam menciptakan identitas kota atau sebuah daerah agar dapat dikenal, baik tourist, investo, talent, event (target pasar). Untuk melakukan branding kota sebagai identitas dapat dilakukan dengan menggunakan strategi icon, slogan, pameran, kegiatan-kegiatan, komunitas dan posisi yang relevan. Sebagai bentuk strategi sebuah kota harus memiliki
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
102 pemikiran analitik dalam melihat target-target pasar dan menentukan media promosi.
Upaya mencitrakan sebuah kota bagi masyarakat khususnya target sasaran sebagai tujuan, metode city branding merupakan salah satu pendekatan strategi yang dapat dilakukan. Melalui city branding, posisionig kota dapat diatur sedemikian rupa sehingga mampu mencapai tujuan yang ingin dicapai. city branding merupakan strategi sebuah kota atau daerah yang digunakan untuk mengungkap sebuah identitas kota, melalui keunggulan dan keunikan yang dimiliki oleh kota atau daerah tersebut dan dapat tertanam dibenak khalayak melalui sebuah nama, logo, simbol, produk layanan, karya seni, desain dan lain sebagainya.
Makassar merupakan salah satu kota yang telah berupaya melakukan branding kota yang tercermin dalam ikon representasi (melalui karya seni) budaya di Anjugan Pantai Losari. Berdasarkan pemaknaan, strategi city branding yang terterap adalah pendekatan branding citra melalui penggambaran Budaya dan sejarah Makassar. Menariknya, media yang digunakan adalah patung miniatur sebagai bentuk penyampaian pesan. Lepas dari apakah itu merupakan upaya strategi atau bukan, namun pesan tentang budaya kesukuan di Sulawesi-selatan dapat didistribusikan, minimal dipertanyakan. Keberadaan patung-patung miniatur di pantai losari menjadi pengetuk Mnemonic Device (objek dengan muatan memory pengalaman) bagi masyarakat setempat. Selain itu, keberadaan patung tersebut menjadi sarana bagi pengunjung untuk mengenal dan mempertanyakan kebudayaan Suku Bugis. Posisi pantai losari secara strategis menjadi tempat yang sangat relevan bagi distribusi maupun transaksi kebudayaan melalui media seni dan visual. Melalui patung miniatur sebagai icon representasi kebudayaan suku-suku bugis Sulawesi selatan, menjadi akses (jembatan) pengetahuan bagi masyarakat setempat dan pengunjung. Tidak hanya sekedar menjadi akses pengetahuan namun juga sebagai akses branding kota melalui agen-agen dokumentasi pengunjung.
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
103
PENUTUP
Terlepas dari adanya upaya Strategi citra dan branding Budaya melalui karya seni patung di pantai losari, dapat dimaknai bahwa pada dasarnya kehadiran patung tersebut telah menjadi bentuk komunikasi primer dengan pendekatan (1) Konteks tradisi budaya (2) Arsitektur rumah adat, (3.) rutinitas populer. Ketiga pemaknaan pendekatan ini secara sadar menjelaskan tentang terjadinya sebuah proses strategi yang baik, lepas dari terkonsep maupun tidak. Lokasi strategis Pantai Losari menawarkan mediasi pertukaran pengetahuan yang memudahkan promosi Kebudayaan Suku Bugis dan Identitas Kota Makassar. Secara langsung, keberadaan patung sebagai icon sekaligus visual komunikasi dengan mudah terdistribusi melalui agen-agen pengunjung dimedia sosial. Pemanfaatan motivasi eksisteni masyarakat dalam tradisi media sosial memberikan peluang besar bagi branding Kota Makassar dan Budaya tradisi Bugis. Antara Kota, sejarah peninggalan, kebudayaan, tradisi, budaya populer adalah komponen mutualisme yang akan daling mendukung dalam konteks branding kota. Setiap Kota memiliki masyarakat, setiap masyarakat pasti ada dalam lingkup keukuan, setiap suku memilki sejarah peninggalan dan kebudayaan. Untuk itu Kota yang memiliki kemenarikan yang baik adalah kota yang memiliki modal sejarah dan budaya yang dapat dibranding dengan Baik.
Copyright © 2020, Jurnal IMAGINARIUM, P-ISSN:2716-215X
104
KEPUSTAKAAN
Gallagher & Kirk. (1986). Educating Exceptional Chi1dren (5th editio). Houghton Mifflin Company.
Harwandi. (n.d.). “Permainan Paraga Sebagai Olahraga Tradisional Masyarakat Suku
Bugis Makassar Di Sulawesi Selatan. Universitas Sebelas Maret.
Kavaratzis, M. (2004). From City Marketing to City Branding: Towards a Theoritical Framework for Developing City Brands. Place Branding, Vol.1 No.1.
Pelras, C. (2006). Manusia Bugis, Diterjemahkan dari Bahasa Inggris: The Bugis oleh
Abdul Rahman Abu, Hasriadi, dan Nurhady Sirimorok. Nalar.
Widya Kartia. (2016). “Peran Perempuan Penenun Kain Mandar (Panette) Terhadap
Kesejahteraan Keluarga Di Desa Karama Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar.” Uin Alauddin Makassar.
https://2.bp.blogspot.com/-. ---. http://www.bennyrhamdani.com/2016/01/menikmati-karya-seni-di-pantai-losari.html. ---. CLtwissto9E/VpybLGiz8FI/AAAAAAAAJ_A/nKrTGsuvsh8/s1600/DSC_1576. ---. https://kumparan.com/kumparannews/foto-menikmati-pagi-di-pantai-losari-1rYp9WA5N7u. ---. https://travel.detik.com/dtravelers_photos/u-3953947/belum-ke-makassar-kalau-belum-ke-sini/5. ---. https://cdn2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/Replika-becak-makassar.jpg. ---. http://wartatimur.com/tentang-anjungan-toraja-dan-mandar-di-losari.html.