• Tidak ada hasil yang ditemukan

LINEAR: JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol. 02 No. 03 Maret 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LINEAR: JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol. 02 No. 03 Maret 2018"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN INTENSITAS INTERAKSI SOSIAL PESERTA DIDIK KELAS VIII PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MELALUI DISKUSI KELOMPOK DI SMP

NEGERI 4 BATUI KABUPATEN BANGGAI Oleh:

Almustari Enteding

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tompotika Luwuk Email: [email protected]

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan diskusi kelompok dalam meningkatkan intensitas interaksi sosial peserta didik kelas VIII pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 4 Batui Kabupaten Banggai.Metode penelitian yang digunakan adalah metode tindakan kelas yang dilaksanakan dengan model siklus.Terdapat tiga siklus yang digunakan, dimana siklus II merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari Siklus I, dan Siklus III merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari Siklus II.Teknik analisis data dilakukan dengan menganalisis secara kualitatif data-data yang diperoleh dalam observasi yang dilakukan pada setiap siklusnya.Hasil penelitian yang diperoleh adalah pelaksanaan diskusi kelompok dalam meningkatkan intensitas interaksi sosial peserta didik adalah peserta didik yang semula lemah, tidak percaya diri, dan pasif telah mengalami banyak peningkatan yang signifikan.Interaksi sosial tampak lebih seimbang dan hidup.Peningkatan interaksi sosial peserta didik terjadi akibat dilakukannya refleksi dalam setiap siklus diskusi guna mempertahankan hal yang positif dan menanggulangi hal yang merugikan.

(2)

PENDAHULUAN

Ilmu pendidikan atau disebut sebagai pedagogic dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan merenungkan tentang konsep-konsep dalam mendidik. Istilah pedagigic berasal dari pedagogia yang berarti pergaulan dengan anak-anak (Purwanto, 1998).

Dalam konsep “Model of School

Learning”, Carol (1963: 154)

mengemukakan suatu konsep yang memberikan garis besar faktor-faktor

utama yang mempengaruhi

keberhasilan pelajar dalam kegiatan belajar di sekolah. Konsep Carol diperoleh melalui penelitian-penelitian modern, dengan hasil yang menyatakan bahwa dalam kondisi belajar tertentu di sekolah, waktu yang benar-benar digunakan untuk belajar dan waktu yang dibutuhkan siswa merupakan fungsi karakteristik individu dan pengajaran yang diberikan pada siswa. Waktu yang digunakan ditentukan oleh jumlah waktu yang diinginkan siswa untuk melibatkan diri dalam belajar (yaitu ketekunannya) dan keseluruhan waktu yang diizinkan.

Waktu belajar yang dibutuhkan siswa ditentukan oleh bakat kemampuannya terhadap tugas, oleh mutu pengajaran, dan kemampuannya menangkap pelajaran pelajaran yang ia dapat (Block, 1971:6). Konsep Carol ini dijelaskan lebih lanjut, yaitu bahwa mutu pengajaran yang dihadapi pelajaran dan kemampuannya dalam menangkap pelajaran berinteraksi pada perluasan waktu yang ia butuhkan berdasarkan bakat kemampuannya untuk menguasai pelajaran itu. Jika siswa memiliki bakat bakat yang tinggi dan pengajaran dilakukan dengan mutu

pengajaran yang bagus, maka waktu yang dibutuhkan akan lebih sedikit.

Keseluruhan bentuk tersebut adalah untuk meningkatkan mutu pengajaran dalam hubungannya dengan kemampuan pelajar untuk menangkap apa yang disampaiakan oleh pengajar.Dalam kegiatan belajar kelompok, terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Dalam interaksi tersebut terjadi tukar pendapat, saling bertanya, saling memberi argumen, saling menghormati pendapat orang lain, memberi kesempatan pada orang lain, maupun saling mempertahankan argumen dengan dasar konsep yang benar. Oleh sebab itu, guru dituntut untuk mampu berperan dalam mengendalikan proses diskusi yang baik.

Terkait dengan rincian bagaimana langkah teknis dalam menyukseskan diskusi kelompok kecil, Turney (1973 dalam Mulyasa 2007: 90) mengemukakan bahwa guru harus memiliki kemampuan memimpin diskusi melalui:

Memusatkan perhatian, yang dilakukan dengan cara :

 Merumuskan tujuan diskusi secara jelas

 Merumuskan kembali masalah jika terjadi penyimpangan

 Menandai hal-hal yang tidak relevan dengan diskusi

 Merangkum hasil diskusi

Memperjelas masalah atau urunan siswa, dengan cara:

 Menguraikan kembali dan merangkum pendapat peserta

(3)

 Mengajukan pertanyaan kepada semua anggota kelompok mengenai pendapat anggota kelompok

 Menguraikan setiap gagasan anggota kelompok

Meningkatkan urunan siswa dengan cara:

 Mengajukan pertanyaan kunci yang menantang

 Menghangatkan suasana dengan memberikan pertanyaan yang mengundang perbedaan pendapat

 Memberikan waktu berfikir

 Mendengarkan dengan penuh perhatian

Menyebarkan kesempatan dengan

berpartisipasi melalui:

 Memancing pendapat peserta yang kurang berpartisipasi

 Memberikan kesempatan pertama pada peserta yang kurang berpartisipasi

 Mencegah terjadinya monopoli pembicaraan oleh anak tertentu

 Mendorong anggota untuk mengomentari pendapat temannya

 Meminta pendapat siswa ketika terjadi kebuntuan

Menutup kegiatan diskusi dengan cara:

 Merangkum hasil diskusi

 Tindak lanjut

 Menilai proses diskusi yang telah dilakukan

Apabila guru benar-benar melaksanakan tindakan tersebut, maka guru bukan hanya membimbing peserta didik untuk memecahkan masalah melalui belajar kelompok, akan tetapi juga telah memberikan bimbingan pada peserta didik tentang bagaimana cara belajar kelompok yang baik dan bagaimana melakukan interaksi dengan

orang lain secara baik dan terstruktur. Konsep Turney tersebut menunjukkan bahwa guru diharapkan dapat melatih siswa tentang:

 Kebebasan untuk berpendapat dengan baik

 Turut berpartisipasi aktif dalam bertukar fikiran

 Menghargai pendapat

 Larangan monopoli atau sikap ingin menang sendiri

Berdasarkan konsep-konsep tersebut, terlihat bahwa sangat banyak manfaat yang dapat diperoleh dari belajar kelompok. Disamping guna meningkatkan mutu pendidikan melalui teknik pemecahan masalah secara bersama - sama, juga terlihat adanya pembelajaran tentang cara berinteraksi

dengan orang lain dan

mengembangkan keberanian

berinteraksi secara positif dengan orang lain. Atas dasar kondisi tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Peningkatan Intensitas Interaksi Sosial Peserta Didik Kelas VIII Pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Melalui Diskusi Kelompok di SMP Negeri 4 Batui Kabupaten Banggai.”

Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang penelitian di atas, maka dapat di rumuskan masalah penelitian yaitu:

 Bagaimana pelaksanaan diskusi kelompok pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraann pada peserta didik kelas VIIIA di SMP Negeri 4 Batui Kabupaten Banggai dengan peningkatan intensitas peserta didik dalam melakukan interaksi dengan lingkungan sosialnya?

(4)

 Bagaimana pengaruh diskusi kelompok dalam peningkatan intensitas interaksi sosial peserta didik pada mata pelajaran PKn kelas VIII SMP Negeri 4 Batui Kabupaten Banggai?

Tujuan Penelitian

Adapun Tujuan dalam penelitian ini adalah:

 Untuk mengetahui pelaksanaan diskusi kelompok pada mata

pelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan peserta didik kelas VIIIA di SMP Negeri 4 Batui Kabupaten Banggai tahun pelajaran 2012/ 2013

 Untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan diskusi kelompok dalam peningkatan intensitas interaksi sosial peserta didik pada mata

pelajaran pendidikan

kewarganegaraan kelas VIIIA di SMP Negeri 4 Batui Kabupaten Banggai. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian terdiri dari manfaat teoritis yang berdasarkan berbagai pertimbangan-pertimbangan kontekstual dan konseptual dan manfaat praktis yang tentunya digunakan untuk perbaikan bagi lembaga-lembaga pendidikan yang bersangkutan. Manfaat penelitian dijelaskan sebagai berikut:

Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk menambah khasanah pengetahuan tentang belajar kelompok dan pengaruhnya dalam peningkatan intensitas interaksi sosial peserta didik. Manfaat Praktis

Manfaat penelitian secara praktis diharapkan dapat memiliki kemanfaatan sebagai berikut:

 Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru guna memberikan referensi tentang bimbingan belajar kelompok yang baik yang dapat meningkatkan mutu pendidikan.

 Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pengambil keputusan guna merancang sistem pendidikan dengan menerapkan konsep belajar kelompok.

TINJAUAN PUSTAKA Konsep Lingkungan Sosial

Pengertian lingkungan adalah kondisi-kondisi disekitar individu yang mempengaruhi proses sosialisasinya. Dengan pengertian diatas maka yang dimaksud dengan sosialisasi adalah suatu proses dimana individu mulai menerima dan menyesuaikan diri dengan tingkah laku masyarakat disekitarnya (Kartonosapoetra dan Widyaningsih, 1982: 52). Terdapat beberapa macam lingkungan sosial, diantaranya yaitu:

Lingkungan sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan program bimbingan, pengajaran, dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial.

Sekolah memiliki berbagai peranan terhadap sikap sosial anak. Hurlock (1986) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi

(5)

perkembangan anak, baik dalam cara berfikir, bersikap, maupun cara berperilaku. Hurlock menjelaskan bahwa sikap anak, termasuk didalamnya adalah sikap sosial, memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan sekolah.Sekolah berperan sebagai substitusi keluarga, dan guru merupakan substitusi orang tua. Ada beberapa alasan mengapa sekolah memainkan peranan yang berrati dalam perkembangan kepribadian dan sikap sosial anak, yaitu:

 Para siswa secara kontinyu menghabiskan sebgain waktu hidupnya disekolah

 Sekolah memberikan pengaruh kepada anak secara dini, seiring dengan perkemabngan konsepnya

 Sekolah memberikan kesempatan kepada siswa untuk meraih prestasi (sukses)

 Sekolah memberi kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya dan kemampuannya secara realistis.

Menurut Havighurst (1961: 5), sekolah mempunyai peranan atau tanggung jawab penting dalam membantu para siswa mencapai tugas perkembangannya. Sehubungan dengan hal ini, sekolah seyogyanya berupaya menciptakan iklim yang kondusif atau kondisi yang dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai tugas perkembangan. Menurut Ruter (1995: 426), sekolah yang efektif merupakan sekolah yang memajukan, meningkatkan, atau mengembangkan prestasi akademik, ketrampilan sosial, sopan santun, sikap positif dalam belajar, rendahnya angka absensi siswa (ketertiban), dan memberikan ketrampilan-ketrampilan yang memungkinkan siswa dapat bekerja

dimasa datang. Sementara itu, Johnson (1970: 250) mengemukakan tentang karakteristik sekolah yang efektif dan sehat. Menurutnya, sekolah yang efektif dapat didefinisikan melalui pengukuran tentang:

 Total biaya pendidikan bagi setiap siswa untuk mencapai tingkat kompetensi atau sosialisasi tertentu

 Motivasi atau semangat para personil sekolah dan siswa

 Kemampuan sekolah untuk memiliki personil, fasilitas, material, dan siswa yang baik

 Kemampuan sekolah untuk menempatkan para lulusannya ke sekolah lanjutan atau perguruan tinggi, atau dunia kerja.

Lingkungan Keluarga

Menurut Adiwikarta dan Shaver (1995: 391) berpendapat bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat didunia, atau suatu sistem sosial yang terbentuk dalam sistem sosial yang lebih besar. Bentuk atau pola keluarga yaitu:

 Keluarga inti, yang terdiri atas suami, istri, dan anak-anak yang lahir dari pernikahan keduanya, dan anak yang belum berkeluarga (termasuk anak tiri).

 Keluarga luas, yang keanggotaannya tidak hanya meliputi suami istri dan anak-anak yang belum berkeluarga, akan tetapi juga termasuk kerabat lain yang biasanya tinggal dalam sebuah rumah tangga bersama seperti mertua, adik, kakak ipar atau lainnya, bahkan mungkin pembatu rumah tangga atau orang lain yang tinggal menumpang.

(6)

Kelompok sebagai lingkungan sosial bagi anak memiliki peranan yang cukup penting untuk perkembangan kepribadiannya.Peranan tersebut semakin penting terutama pada saat terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat. Aspek kepribadian anak yang berkembang secara menonjol dalam pengalamannya bergaul dengan teman sebaya adalah:

Social cognition, yaitu kemampuan untuk memikirkan tentang pikiran, perasaan, motif, dan tingkah laku dirinya dan orang lain. Kemampuannya memahami orang lain memungkinkan remaja untuk lebih mampu menjalin hubungan sosial yang lebih baik dengan teman sebayanya. Mereka telah mampu melihat banwa manusia merupakan individu yang unik, dengan perasaan nilai-nilai, minat, dan sifat-sfat kepribadian yang beragam. Kemampuannya ini berpengaruh kuat terhadap minatnya untuk bergaul atau membentuk persahabatan dengan teman sebayanya (Sigelman dan Shaffer, 1995: 372-376).

Conformity, yaitu motif untuk menjadi sama sesuai, seragam, dengan nilai-nilai kebiasaan, kegemaran, atau hobi, atau budaya kelompoknya atau teman sebayanya. Konformitas kepada norma kelompok terjadi apabila:

Norma tersebut secara jelas dinyatakan

 Individu berada dibawah pengawasan kelompok

 Kelompok memiliki sanksi yang kuat

 Kelompok memiliki sifat kohesif (mempengaruhi) yang tinggi

 Hampir tidak ada dukungan terhadap penyimpangan dari norma kelompok (Johnson, 1970: 229). Konsep Interaksi sosial

Belajar mengakibatkan adanya perubahan. Perubahan tersebut mungkin merupakan suatu penemuan informasi atau penguasaan suatu ketrampilan yang telah ada, mungkin juga bersifat penambahan atau perkayaan dari informasi atau pengetahuan atau ketrampilan yang telah ada, bahkan, mungkin pula bersifat reduksi atau menghilangkan sifat kepribadian tertentu atau perilaku tertentu yang tidak dikehendaki (Woodwort dan Mawquis, 1957).

Berdasarkan konsep tersebut, maka pendidikan dapat dianggap sebagai media yang sangat baik untuk mencapai suatu tujuan yang berhasil.Salah satu pendidikan yang perlu diupayakan adalah pendidikan sikap sosial.Sosial berarti kebersamaan (Subroto, 1981).Sikap sosial dapat diartikan sebagai sikap yang mendukung untuk kebersamaan hidup.Oleh karena di Indonesia memiliki asas Pancasila, maka pengertian kebersamaan hidup disini adalah kebersamaan hidup seperti yang sesuai dengan Pancasila sebagai pandangan hidup Bangsa Indonesia. Kebersamaan hidup dalam konsep Pancasila tidak sama dengan pengertian kebersamaan di Negara sosialis, dimana segala kepentingan didasarkan atas asas kebersamaan dan pemerataan kepentingan.

Masa kanak-kanak atau masa sebelum dewasa merupakan masa pembelajaran. Dalam tahap ini, anak lebih mudah meniru apa yang dilihatnya dan apa yang menjadi kebiasaan lingkungannya.

Sikap sosial anak masihlah sangat sederhana, dimana sikap sosial ini merupakan kecenderungan tindakan apa yang paling suka ditiru oleh anak

(7)

dalam kaitannya dengan reaksi yang dilakukan kepada orang lain. Anak belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang nilai-nilai sosial yang memberikan tuntutanan tentang bik-buruknya perilaku. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap sosial anak diantaranya adalah (Gavin, 1987: 24):

 Kebiasaan di lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan terdekat dengan anak sehingga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kepribadian dan sikap sosial anak. Kebiasaan dalam keluarga merupakan hal yang paling mudah diingat oleh anak, sehingga anak cenderung melaksanakan kebiasaan-kebiasaan tersebut di luar lingkungan keluraga.

 Motivasi dari orang tua. Motivasi merupakan unsur yang menjadi keinginan dalam diri manusia untuk melakukan tindakan tertentu. Berdasarkan teori harapan dalam motivasi, motivasi dapat dibangkitkan dari luar melalui pemberian harapan-harapan agar anak melakukan sesuatu. Dengan demikian, orang tua dapat memberikan motivasi melalui pemberian harapan-harapan agar anak melakukan perbuatan yang baik.

 Nilai-nilai yang ditanamkan. Nilai yang dimaksud mencakup nilai-nilai dalam norma kesusilaan, kesopanan, agama, dan kaedah kaedah yang menuntun perilaku manusia lainnya. Penanaman nilai berarti pemberian acuan terhadap cara berperilaku seseorang.

Konsep Diskusi Kelompok

Setiap guru perlu memahami bagaimana proses belajar yang terjadi pada anak didik. Proses belajar mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar. Mengajar bukan sekedar kegiatan mentransfer pengetahuan tetapi merupakan proses membimbing kegiatan belajar anak. Apabila guru memahami bagaimana anak belajar, ia akan dapat memberikan bantuan sesuai dengan yang diperlukan oleh anak didik. Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sehingga anak didik dapat belajar dengan baik.

Sehubungan dengan hal tersebut, dalam proses belajar mengajar terdapat berbagai macam metode yang dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pelajaran kepada anak didik. Salah satu diantara sekian banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru adalah metode diskusi kelompok.

Diskusi kelompok adalah suatu metode belajar antara dua individu atau lebih yang bermanfaat dan berlangsung secara efektif. Dalam hal ini seorang pembimbing harus terampil dalam mengelola metode diskusi kelompok ini.Diskusi kelompok hendaknya terjadi dalam suasana persahabatan yang ditandai oleh kehangatan hubungan antar pribadi, kesediaan menerima dan mengenal lebih jauh topik, diskusi, keantusiasan berpartisipasi, serta kesediaan menghargai pendapat orang lain, serta dapat merasa aman dan bebas mengemukakan pendapatnya.

Menurut Sunaryo (2002: 72) metode diskusi dalam belajar kelompok

(8)

dapat direncanakan dalam tiga bentuk, antara lain :

 Diarahkan pengajar. Diskusi kelompok dikendalikan pengajar, pertanyaan yang diajukan pengajar dijawab oleh siswa secara perorangan, memberikan peluang terbatas untuk bertukar pikiran dalam kelompok.

 Berpusat pada kelompok. Pertukaran pendapat secara bebas tanpa dipengaruhi pengendalian oleh pengajar, bersifat kerjasama karena siswa mengarahkan dan mengendalikan kecepatan; terbuka, karena diskusi dapat berlangsung ke segala arah bergantung pada interaksi dan reaksi siswa.

 Kerjasama. Diskusi sering berpusat pada pemecahan masalah khusus; pengajar tidak dominan dan juga tidak pasif, namun berbagai tanggung jawab dalam membuat keputusan dan harus menerima dan memadukan semua pendapat yang dikemukakan dan secara cermat menilai berbagai pemecahan alternatif, bentuk diskusi yang paling sukar dilaksanakan; paling baik digunakan setelah kelompok mendapatkan pengalaman dari kedua bentuk diskusi terdahulu.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa metode diskusi dapat direncanakan dengan diarahkannya, pengajar, berpusat pada kelompok dan adanya kerjasarna sehingga bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan para anggota kelompok belajar yang tujuan akhirnya adalah mendapat persamaan atau kesepakatan.

Menurut Fatimah, Chamsijatin, dan Kusniarti (2004:70), beberapa

keuntungan dan kelemahan diskusi kelompok adalah sebagai berikut: Keuntungan Metode Diskusi Kelompok

 Hasil keputusan kelompok diskusi lebih kaya, (besar dari berbagai sumber), dari hasil pemikiran individu.

 Anggota kelompok diskusi sering dimotivasi oleh kehadiran kelompok lain.

 Anggota kelompok lebih merasa terikat melaksanakan keputusan kelompok sebagai hasil dari kegiatan diskusi, karena mereka terlibat di dalam proses pengambilan keputusan.

 Diskusi kelompok dapat

meningkatkan pemahaman terdapat diri sendiri maupun pemahaman terhadap orang lain (meningkatkan kemampuan individu untuk berinteraksi).

Kelemahan Metode Diskusi Kelompok

 Diskusi kelompok memerlukan waktu yang lebih banyak daripada cara belajar biasa.

 Dapat memboroskan waktu, terutama jika terjadi hal-hal yang negatif, seperti pengarahan yang kurang tepat, pembicaraan yang berlarut-larut, penyimpangan yang tidak ditegur, penampilan yang kurang baik.

 Anggota yang pendiam atau pemalu sering tidak mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya, akibatnya ia menarik diri atau frustasi.

 Jika pimpinan kelompok kurang bijaksana, diskusi hanya akan didominasi oleh orang-orang tertentu.

Keingintahuan siswa terhadap materi-materi atau hal-hal baru dari

(9)

metode yang diharapkan pembimbing harus mendorong keterlibatan siswa dalam metode diskusi kelompok sehingga proses belajar mengajar akan berfungsi dan mencapai tujuan pembelajaran. Metode inilah yang merupakan salah satu cara pembelajaran aktif. Belajar aktif inilah yang mengandung implikasi berbagai kiat untuk menumbuhkan kemampuan aktif pada diri siswa dan menggali potensi siswa serta guru untuk bersama-sama berkembang dan berbagi pengetahuan, ketrampilan, serta pengalaman.

Agar pelaksanaan diskusi kelompok mampu memberikan keuntungan yang maksimal, baik bagi guru maupun siswa sendiri, maka ada beberapa hal yang perlu dihindari dalam metode ini, yaitu sebagai berikut:

 Menyelenggarakan diskusi dengan topik yang tidak sesuai dengan minat dan latar belakang pengetahuan siswa.

 Mendominasi pembicaraan dengan pertanyaan yang terlampau banyak dan menjawab yang banyak pula.

 Membiarkan siswa tertentu saja yang memonopoli pembicaraan.

 Membiarkan terjadinya

penyimpangan-penyimpangan atau pembicaraan yang tidak relevan.

 Tergesa-gesa meminta respon siswa atau terus mengawasi waktu dengan berbicara, siswa tidak sempat berpikir.

 Membiarkan siswa yang enggan berpartisipasi

 Tidak memperjelas atau mendukung usulan siswa.

 Gagal mengakhiri diskusi secara efektif

METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dirancang dengan model siklus.Pendekatan ini merupakan pendekatan untuk mengetahui dampak sutau tindakan atau penerapan konsep pembelajaran tertentu terhadap hasil tertentu yang diharapkan.Dalam hal ini, tindakan tertentu yang dimaksud adalah pelaksanaan diskusi kelompok dan dampak tertentu yang dimaksud adalah intensitas interaksi sosial peserta didik.Sementara itu, pendekatan kualitatif digunakan untuk mendiskribsikan hasil pelaksanaan tindakan kelas yaitu pelaksanaan diskusi terhadap intensitas interaksi sosial peserta didik.

Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat atau lokasi penelitian adalah di tempat dimana peneliti melaksanakan pengajaran yaitu di Kelas VIIIA SMP Negeri 4 Batui Kabuapten Banggai.Peneliti telah menerapkan mekanisme diskusi guna pendalaman materi setelah ceramah guru dilakukan.Tempat atau lokasi penelitian adalah di tempat dimana peneliti melaksanakan pengajaran yaitu di Kelas VIIIA SMP Negeri 4 Batui, Kabuapten Banggai.Adapun waktu penelitian adalah dari bulan Juli sampai bulan Agustus Tahun 2015.

Populasi dan sampel

Sampel merupakan sebagian anggota populasi yang mampu menggambarkan keadaan sebenarnya dari populasi yang diteliti, sedangkan populasi merupakan keseluruhan dari unit analisis dalam penelitian (Arikunto, Suharsimi, 2002: 117)

(10)

Sampel dalam penelitian ini diambil dari seluruh populasi yang ada yaitu 20 orang peserta didik kelas Kelas VIIIA SMP Negeri 4 Batui Kabuapten Banggai, sehingga disebut sebagai sampel populatif.Alasan pemilihan subyek adalah peserta didik kelas VIIIA merupakan peserta didik yang sangat merespon kegiatan diskusi yang diselenggarakan. Disamping itu, penyelengaraan proses diskusi mulai terlihat efektif untuk peserta didik kelas VIIIA semester genap, dimana peserta didik mulai mudah diatur dan diarahkan untuk mencapai tujuan kegiatan diskusi yang efektif dan efisien. Disamping itu, jumlah peserta didik yang cukup sedikit, sehingga dirasa kurang efektif apabila subyek diambil dari sebagian populasi peserta didik kelas VIIIA Semester genap yang ada.

Teknik Pengumpulan Data

Oleh karena model tindakan kelas yang digunakan adalah dengan model siklus, maka teknik pengambilan datanya dilakukan dengan observasi dalam setiap siklusnya, yang mana observasi merupakan bagian dalam tahap pelaksanaan metode siklus. Prosedur Penelitian

Peneliti melakukan analisis data penelitian dengan menggunakan metode kualitatif dalam model siklus. Adapun rancangan desain siklus yang digunakan adalah sebagai berikut: Rancangan siklus I

Perencanaan tindakan (planning) Perencanaan merupakan tahap

paling awal dalam satu

siklus.Perencanaan tindakan merupakan kegiatan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan

kegiatan penelitian, mulai dari perangkat pembelajaran sampai pada alat ukur untuk menegtahui atau mengevaluasi tindakan penelitian tanpa mengesampingkan kendala-kendala tindakan.

Dalam tahap persiapan penelitian ini dilakukan dengan mempersiapkan rancangan penelitian, pengalokasian waktu untuk penyelenggaraan proses diskusi, penyiapan pokok-pokok bahasan yang

dianggap efektif untuk

penyelengaaraan proses diskusi, dan mempersiapakan pokok-pokok masalah interaksi peserta didik dalam diskusi. Disamping itu peneliti mempersiapkan bahan-bahan berupa teksbook yang mendukung untuk referensi peserta didik selama proses diskusi serta penyiapan preparasi dalam bentuk diagram-diagram teknik pelaksaan diskusi, serta diagram untuk menjelaskan jawaban-jawaban persoalan dalam diskusi peserta didik.

Pelaksanaan tindakan (action)

Merupakan implementasi dari rancangan penelitian yang telah ditetapkan.Pelaksanaan dilakukan dalam waktu yang sedikit lebih awal dari observasi. Dalam pertengahan tahap pelaksanaan tindakan ini, disisipkan langkah observasi atau pengamatan, yaitu dengan mengamati kecenderungan pola berkomunikasi peserta didik, pola berperilaku dalam kelompok, kendala-kendala peserta didik dalam berinteraksi dengan kelompok, dominanitas peserta didik dalam kelompok, serta dampak-dampak dari perilaku peserta didik yang cenderung dominan.

(11)

Merupakan pengamatan-pengamatan selama tahap penelitian yang bertujuan untuk merekam (recording) kondisi-kondisi yang ada disaat penelitian serta hasil dari pelaksanaan tindakan penelitian. Pada dasarnya pengamatan ini tidak dilakukan secara terpisah dalam penelitian, akan tetapi dilakukan bersamaan atau disisipkan dengan pelaksanaan penelitian.

 Refleksi tindakan

Refleksi merupakan tindak lanjut dari perolehan informasi dari observasi.Dalam refleksi ini dilakukan pengkajian berdasarkan data observasi guna menghilangkan elemen yang tidak diperlukan atau merugikan penelitian, serta untuk mempertahankan hal-hal yang dianggap mampu mempengaruhi hasil penelitian. Dengan kata lain, refleksi dimaksudkan untuk menggali strategi penyusunan alternatif penyempurnaan, sehingga terbentuk suatu langkah yang lebih sempurna di tahap berikutnya.

Rancangan siklus II

Pada siklus ke dua ini dilakukan dengan mengacu pada rancangan siklus pertama dengan penyempurnaan-penyempurnaan yang berupa penambanhan atau pengurangan hal yang yang dianggap perlu. Siklus II merupakan penyempurnaan dari siklus I. Dalam tahap ini masih dilakukan refleksi ulang untuk menghasilkan tindakan yang lebih baik dalam siklus berikutnya.

Rancangan siklus III

Pada siklus tiga ini dilakukan dengan penyempurnaan dari siklus ke

dua.Siklus III merupakan

penyempurnaan tindakan dalam siklus II.Dalam siklus III refleksi dilakukan untuk menggali hal-hal yang memang sekiranya menguntungkan atau merugikan yang mana hal-hal tersebut merupakan faktor yang benar-benar sebagi pengaruh kuat dalam hasil pelaksanaan siklus. Faktor-faktor merugikan yang masih muncul dalam siklus III merupakan faktor yang akan dijelskan mengapa hal tersebut terjadi, untuk dijadikan kesimpulan dalam sebuah pelaksanaan siklus.

Teknik Analisis data

Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa kualitatif, artinya data yang dihimpun disusun secara sistematis kemudian diinterprestasikan, dianalisa sehingga dapat menjelaskan pengertian dan pemahaman tentang gejala yang diteliti. Adapun mengenai teknik analisis data diatas yang dikemukakan oleh Miles dan Hubermen dalam Jam’an Satori dan Aan Komariah (2010:39) dapat diterapkan melalui 3 alur penerapan sebagai berikut:

Reduksi Data

Reduksi data dapat diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data ”kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis yang di butuhkan, reduksi data bukan hal yang terpisah dari analisis, tetapi merupakan bagian dari analisis. Reduksi data merupakan sebuah bentuk analisis menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan akhirnya dapat ditarik dan di verifikasi. Penyajian Data

(12)

Penyajian data dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam bentuk yang padu dan mudah diraih, misalnya dituangkan dalam berbagai jenis matriks, grafik, jaringan, dan bagan. Lebih lajut Miles dan Huberman (Sugiyono, 2010:341) menjelaskan bahwa yang paling sering digunakan untuk penyajian data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.

Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi data

Penarikan kesimpulan merupakan kegiatan mencari arti, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin sesuai dengan alur sebab akibat, dan proporsi. Kesimpulan juga diverifikasi, yaitu pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran penganalisis selama penyimpulan, tinjauan ulang pada catatan lapangan atau meminta respon atau komentar responden yang telah dijaring datanya untuk membaca kesimpulan yang telah disimpulkan peneliti, kekokohan dan kecocokannya HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Guru Pendidikan

Kewarganegaraan SMPN 4 Batui Kabupaten Banggai mengembangkan kegiatan belajar kelompok di sekolah.Kegiatan ini dikembangkan dalam bentuk pelaksanaan diskusi-di sekolah.Adapun tujuan pelaksanaan belajar kelompok ini adalah untuk meningkatkan kualitas akademik peserta didik dan mengembangkan kemampuan bersosial peserta didik.Sementera itu, salah satu aspek penting dalam kemampuan bersosial adalah bagaimana melakukan suatu

interaksi sosial yang normatis dan demokratis sebagaimana tuntutan perkemgangan zaman.

Pelaksanaan belajar kelompok peserta didik Kelas VIIIA di SMPN 4 Batui dilakukan dengan metode siklus, yaitu sesi-sesi diskusi dilakukan dengan tiga siklus sebagai siklus I, II, dan III.Studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus untuk

bidang studi Pendidikan

Kewarganegaraan materi Demokrasi di Indonesia. Terdapat empat kelompok yang digunakan dalam penelitian ini, berikut adalah daftar kelompok tersebut.

Pelaksanaan siklus I

Perencanaan. Adapun perencanaan tersebut mencakup:

Perencanaan materi diskusi. Perencanaan dilakukan dengan mempersiapkan dua materi diskusi untuk dua sesi diskusi. Materi yang direncanakan dalam siklus pertama ini adalah materi pengertian demokrasi dan prinsip dasar demokrasi. Adapun alasan pemilihan dua materi ini adalah kedua materi ini memiliki hubungan yang cukup erat. Disamping itu, bobot berfikir yang dituntut untuk peserta didik kelas VIIIA SMPN 4 Batui cukup berat, sehingga dirasa perlu bagi peserta didik untuk tukar pendapat dengan rekan-rekan, serta perlunya pendalaman materi melalui umpan-umpan pertanyaan yang diberikan sebagai materi diskusi. Secara umum, peserta didik tingkat SMP masih awam dengan definisi tentang demokrasi. Dengan demikian, maka dirasa perlu pemahaman mendalam tentang pengertian-pengertian dalam lingkup demokrasi di Indonesia. Melalui diskusi, maka peserta didik diharapkan untuk

(13)

menggali informasi lebih benyak memlalui pembelajaran mandiri dengan teks book dan melalui tukar fikiran dengan siswa lainnya. Dengan demikian, maka peserta didik akan mengingat apa-apa yang telah membuatnya kesulitan dan jawaban dari kesulitan tentang pemahaman kedua hal tersebut. Peserta didik juga perlu untuk mengamati dan memperhatikan kondisi lingkungannya tentang demokrasi dan peran demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi topik yang menarik untuk penyelenggaraan diskusi peserta didik. Termasuk dalam perencanaan materi ini adalah perencanaan tentang pertanyaan-pertanyaan yang dianggap menyasar untuk pemahaman siswa.

Perencanaan teks book dan media pembantu untuk peserta didik. Guru mempersiapkan bahan-bahan berupa teks book dan media pembantu seperti gambar-gambar visual tentang pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Guru mempersiapkan bahan-bahan pembantu yang dapat membantu pemahaman peserta didik seperti data-data tentang pelaksanaan demokrasi di sekitar sekolah, sehingga diharapkan akan mampu menumbuhkan gambaran (image) dalam fikiran peserta didik tentang pelaksanaan demokrasi.

 Perencanaan alokasi waktu pelaksanaan tindakan diskusi peserta didik. Setiap diskusi dilakukan hampir satu jam pelajaran untuk peserta didik dikurangi dengan alokasi waktu untuk penjelasan materi secara singkat sebelum dilakukan diskusi, alokasi waktu untuk penyusunan tata ruang,

mempersiapkan alat peraga, teksbook dan media lainnya yang dibutuhkan. Jumlah alokasi waktu tersebut sekitar 15 menit. Alokasi waktu daiatur dengan mebagi tiga waktu untuk pelaksanaan diskusi yaitu waktu persiapan, pelaksanaan, dan penutupan untuk diskusi. Waktu penutupan sekitar 15 menit.

 Perencanaan media data. Media data yang dimaksud adalah alat pencatatan data-data yang diperlukan dalam penelitian. Alat-alat tersebut seperti tabel kendala-kendala yang dialami dalam pelaksanaan proses diskusi, tabel hasil diskusi peserta didik, tabel pola tingakah laku peserta didik dalam diskusi, tabel nilai dari jawaban-jawaban peserta didik dalam diskusi, serta tabel tentang kondisi saat pelaksanaan diskusi.

 Perencanaan tata ruang. Tata ruang direncanakan dalam kondisi melingkar untuk masing-masing kelompok. Pengertian melingkar bukan berarti membentuk lingkaran, akan tetapi dalam posisi yang memungkinkan peserta didik untuk saling berhadapan, dengan meja di tengah para siswa yang berhadapan dalam satu kelompok. Jumlah kelompok adalah empat kelompok, sehingga setiap kelompok terdiri atas delapan orang dan tujuh orang. Sementara itu, di papan tulis dibuat atau ditempel gambar-gambar yang dipersiapkan oleh guru guna mendukung dalam mempermudah pemahaman peserta didik tentang materi yang di diskusikan. Posisi untuk masing-masing kelompok dibuat cukup jauh sehingga mengurangi interaksi berlebihan antar kelompok.

(14)

Pelaksanaan tindakan (action) . Tindakan diskusi peserta didik dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Guru menginformasikan tema diskusi, memberikan penjelasan singkat tentang materi yang dianggap penting, menunjukkan aturan-aturan dalam diskusi termasuk pengaturan waktu, kelompok, dan aturan tentang peran setiap peserta didik dalam kelompok. Guru memberikan pertanyaan umpan dalam tahap pembukaan yang mengundang rasa ingin tahu peserta didik, seperti pertanyaan “apa yang anda ketahui tentang demokrasi?” Kemudian menjelaskan tentang demokrasi dan pelaksanaan demokrasi secara singkatkepada peserta didik. Setelah ada sedikit pemahaman tentang demokrasi, guru memberikan pertanyaan tentang prinsip dasar demokrasi. Pertanyaan umpan dalam diskusi tentang apa prinsip demokrasi yang telah kalian laksanakan?”. Setelah itu guru memberi sedikit penjelasan,

dan kemudian memberikan

pertanyaan-pertanyaan lanjutan sebagai bahan diskusi peserta didik. Dalam proses diskusi, guru membimbing masing-masing kelompok berdasarkan kebutuhan dan pertanyaan-pertanyaan yang diutarakan oleh masing-masing kelompok peserta didik. Terkadang guru menjawab pertanyaan melaui pertanyaan pancingan yang mengarahkan cara berfikir peserta didik. Guru juga berperan dalam mengendalikan sikap siswa yang terkadang kurang kendali, mendominasi kelompok, melakukan interaksi berlebihan atau yang tidak perlu, mengelola waktu pelaksanaan,

serta menutup kegiatan diskusi dengan mempersilakhkan masing-masing wakil kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi, dan guru merangkum secara singkat hasil diskusi peserta didik. Observasi. Peran guru sebagai peneliti adalah merekam seluruh data yang dianggappenting pada media data. Adapun data-data yang terekam dalam kegiatan diskusi peserta didik dalam siklus pertama adalah sebagai berikut:

 Dari empat kelompok yang masing-masing beranggotakan limapeserta didik, terlihat ada tiga kelompok yang mana terdapat dominasi pengambilan keputusan dalam membuat jawaban pada salah satu peserta didik. peserta didik yang dominan adalah peserta didik yang memiliki prestasi bagus (ranking kelas). peserta didik yang tidak memiliki ranking kurang percaya diri dan cenderung menyerahkan jawaban pada peserta didik yang berprestasi.

 Peserta didik sangat memerlukan penjelasan-penjelasan tentang persoalan yang diutarakan, sehingga guru cenderung kewalahan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terlalu banyak dikemukakan peserta didik. Guru dituntut untuk benar-benar memahami kekurangmampuan peserta didik dalam memahami masalah, sehingga perlu mengarahkan cara berfikir peserta didik dan menunjukkan bagian teksbook yang berkaitan secara langsung.

 Peserta didik banyak melakukan perdebatan yang kurang terarah sehingga guru dituntut aktif dalam membantu pemikiran peserta didik.

(15)

Terdapat 40% peserta didik atau 8 orang peserta didik yang kurang berani mengemukakan pendapat atau merasa tidak mampu memecahkan masalah yang ada, hal ini terlihat pada nilai peserta didik yang hanya mendapat nilai 4 dan 5 yang. Sehingga mengakibatkan guru harus intensif memberikan motivasi secara langsung pada peserta didik tersebut.

a. Refleksi tindakan Dari data tentang kendala dan pengukuran hasil yang dicapai, maka ditempuh tindakan sebagai berikut:

 Penyebaran siswa berprestasi secara hampir merata pada kelompok-kelompok peserta didik. Hal ini dilakukan untuk memberikan kepercayaan diri pada kelompok yang sebelumnya kurang mampu memecahkan masalah.

 Pemberian motivasi melalui sanjungan dan pemberian keyakinan pada peserta didik yang kurang berani berpendapat bahwa dirinya memiliki jawaban yang cukup bagus. Hal ini diikuti dengan pemberian peran untuk menyampaikan jawaban kelompoknya pada sesi penutupan diskusi.

 Guru mengarahkan peserta didik dengan sering memberikan pertanyaan-pertanyaan umpan yang menggiring pada jawaban yang dikehendaki di tengah proses diskusi agar perdebatan peserta didik lebih menyesar. Hal ini untuk mengurangi banyaknya perdebatan peserta didik yang kurang terarah.

 Siswa diberi penjelasan banhwa mereka bebas mengemukakan pendapat dengan acuan teksbook yang disediakan.

 Untuk mencegah dominasi peserta

didik yang berprestasi, guru menggilir setiap anggota kelompok untuk mengemukakan jawaban. Pelaksanaan Siklus II

Perencanaan.

Perencanaan Materi. Adapun materi yang direncanakan untuk siklus II adalah materi arti penting demokrasi dan Nilai-nilai demokratis. Materi ini terkait dengan dua materi dalam siklus I sehingga dianggap menguntungkan untuk proses didkusi

Perencanaan teksbook. Sesua dengan refleksi dalam siklus I, teksbook diperbanyak dan sebelum digandakan guru menandai bagian-bagian yang dianggap penting. peserta didik diberi penjelasan untuk mempelajari bagian-bagian tersebut sebelumnya

Perencanaan media data, waktu alokasi diskusi dan tata ruang. Perencanaan ini dilakukan sama dengan pada siklus pertama tanpa perubahan.

Pelaksanaan (action).

Pelaksanaan siklus II dilakukan sesuai dengan perencaaan pada siklus II dan hasil refleksi pada siklus I, diantaranya adalah guru menyebarkan peserta didik berprestasi agar merata untuk setiap kelompok, memberikan motivasi untuk memupuk kepercayaan diri dan keberanian mengemukakan pendapat, menggilir setiap peserta didik dalam kelompok untuk mengemukakan jawaban, dan memberi kesempatan pada peserta didik yang tidak berprestasi untuk menyampaikan hasil diskusi pada tahap penutupan diskusi. Guru juga memberikan umpan-umpan pertanyaan yang menggiring pada jawaban persoalan yang

(16)

dikehendaki dalam pertengahan proses diskusi.

Observasi

Dalam siklus II, kendala yang dihadapi jauh berkurang. Kendala yang masih terasa adalah masih terdapatnya sebagian kecil peserta didik (sejumlah 3 peserta didik) yang terlihat kurang percaya diri terhadap rekan lainnya, tidak berani mengemukakan pendapat, dan tidak dapat mengambil sikap sehingga cenderung menurut saja dengan lainnya. Setelah guru melakukan wawancara tentang maslah dan kendalanya yaitu ketidak percayaan dirinya dalam diskusi, diperoleh informasi bahwa dirinya selalu merasa tidak bisa dan rendah diri.

Refleksi Dari kendala yang dihadapi, maka guru perlu memberikan perhatian lebih pada peserta didik tersebut dalam bentuk memberikan semangat dan motivasi berupa sanjungan agar peserta didik bersedia belajar lebih giat, memberikan teksbook lebih awal pada hari-hari sebelum dilaksanakannya diskusi, serta secara intensif memperhatikan perkembangan peserta didik. Sementara itu, dari hasil nilai jawaban dan ulangan yang diberikan, terlihat jelas adanya pengurangan kendala yang dihadapi dan adanya peningkatan prestasi peserta didik.

Perencanaan siklus III Perencanaan

Perencanaan materi. Materi yang digunakan untuk diskusi dalam siklus III ini adalah materi materi mamfaat hidup demokrasi dan kelemahan demokrasi.Materi ini

diberikan dengan tujuan agar peserta didik memahami bagaimana mamfaat berdemokrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Perencanan teksbook, alokasi waktu, media data dan tata ruang. Pelaksanaan ini dilakukan sama dengan perencanaan pada siklus II tanpa perubahan oleh karena tidak adanya kendala tentang alokasi waktu, tata ruang dan teksbook dala siklus II.

Pelaksanaan Pelaksanaan proses diskusi dilakukan sesuai dengan perencanaan dalam suklis III dan refleksi dalam siklus II.

Observasi

Observasi pada siklus III merupakan observasi terhadap kendala yang dihadapi dengan diketahui bahwa kendala yang ada pada siklus III mengalami penurunan dibanding pada siklus I dan II. Tiga peserta didik yang memiliki sifat rendah diri mulai berani bertanya dan berpendapat dalam kelompok, akan tetapi belum berani tampil dimuka kelas, hal ini jelas terlihat pada nilai dari ketiga peserta didik tersebut yang sudah meningkat dari siklus-siklus sebelumnya yaitu siklus I dan Siklus II.

Refleksi

Dari hasil pelaksanaan siklus III, maka terlihat penurunan kendala-kendala dalam proses diskusi dan terlihat adanya peningkatan kondisi kejiwaan peserta didik yang mempengaruhi caranya berinteraksi dengan rekannya, yaitu mulai terbangun kepercayaan diri dan mulai memiliki keberanian membangun komunikasi secara perlahan.

(17)

Pelaksanaan siklus I merupakan awal dalam rangkaian pelaksanaan metode siklus. Dalam pelaksanaan siklus I, dapat ditemukan adanya masalah-masalah interaksi peserta didik dalam kelompok yaitu masalah dominasi peserta didik dalam belajar kelompok. Dominasi merupakan sutau bentuk sikap sosial yang cenderung menguasai kelompok sehingga mengakibatkan kurang mampu berperannya peserta didik lain. Kondisi ini berakibat pada lemahnya peran peserta didik lain dalam berpendapat maupun mengambil keputusan serta mengakibatkan kurang bergairahnya peserta didik lain akibat tidak benyak berperan dan tidak banyak dibutuhkan dalam kelompok. Dampak lain yang

muncul adalah munculnya

ketergantungan pada siswa yang resesif kepada peserta didik yang dominan. Kondisi-kondisi tersebut berkaitan erat dengan adanya 40% peserta didik dalam kelompok yang tidak berani mengemukakan pendapat. Masalah ini cukup mengganggu jalannya interaksi sosial peserta didik dalam kelompok, dimana sebagian peserta didik menjadi terisolasi, tidak mampu berkomunikasi dan berperan. Solusi bagi maslah ini perlu diupayakan untuk menumbuhkan keberanian, semangat, dan rasa percaya diri bagi peserta didik lain dalam melakukan interaksi sosila dalam kelompok.

Masalah lain yang muncul dalam siklus I adalah banyaknya perdebatan-perdebatan yang kurang terarah. Perdebatan berkembang jauh diluar tema belajar kelompok yang mengakibatkan tidak efisiennya pelaksanaan kegiata. Perdebatan-perdebatan yang kurang terarah

merupakan mesalah interaksi, dimana sisa tidak fokus dan dapat mengakibatkan gagalnya tujuan bersama yaitu menyelesaikan masalah. Permasalahan ini perlu ditanggulangi

guna meminimalkan resiko

ketidakpuasan dalam belajar kelompok akibat tidak terpenuhinya tujuan kelompok nantinya.

Masalah lain yang ada adanya banhwa dalam pelaksanaan siklus I, terdapat kelompok yang mana mayoritas beranggotakan peserta didik berprestasi lemah. Hal ini mnegkibatkan tidak percaya dirinya peserta didik dalam mengemukakan jawaban-jawaban penelitian akibat kurang percaya diri terhadap kelompok lain. Solusi bagi masalah ini perlu diupayakan guna membangun kepercayaan diri anggota-anggota kelompok dan memberikan semangat dalam kegiatan belajar kelompok yang dilaksanakan.

Permasalahan-permasalahan tersebut diselesaikan dengan menyebarkan peserta didik berprestasi pada kelompok yang banyak beranggotakan peserta didikpeserta didik yang berprestasi lemah. Hal ini diupayakan untuk membangun kepercayaan diri kelompok terhadap kelompok lain, dan menimbulkan semangat kelompok yang berprestasi lemah. Langkah ini diikuti dengan pemberian motivasi secara langsung melalui dorongan untuk berperan aktif bagi semua anggota kelompok, dan peserta didik secara bergiliran diminta mengemukakan jawaban kelompok dimuka kelas. Hal ini dimaksudkan untuk melatih penyebaran peran dan membangun kepercayaan diri peserta didik yang resesif dari dominasi peserta didik yang kuat. Dengan solusi ini, maka

(18)

diharpkan terjadi suatu pembiasaan dan pembelajaran pada peserta didik tentang bagiamana mengembangkan suatu mekanisme interaksi sosial yang positif dalam belajar kelompok. Motivasi diberikan guna membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi dan berperan, serta menunjukkan bahwa semua peserta didik akan dihargai pendapatnya oleh guru dan peserta didik lain, sehingga timbul dorongan-dorongan dari dalam diri peserta didik untuk memunculkan

gagasan-gagasannya secara

meyakinkan dan tidak takut salah. Peran-peran tersebut lebih banyak menyasar pada pembentukan mental keberanian, kepercayan diri, dan menghilangka unsur-unsur merasa tidak dibutuhkan, merasa tidak penting, dan perasan lainnya yang muncul akibat rendah diri.

Upaya-upaya solusi yang dirumuskan dalam refleksi di Siklus I diimplementasikan dalam siklus II. Hasil pelaksanaan cukup positif, dimana peserta didik yang berprestasi mulai berkurang dominasinya, dan peserta didik yang kurang berprestasi mulai memiliki hal untuk mengemukakan ide dan berperan aktif dalam belajar kelompok. Hal ini menunjukkan adanya peningkayan interaksi sosial dalam kelompok oleh peserta didik yang semula pasif, resesif dan tidak percaya diri. peserta didik menjadi terbiasa dengan mekanisme yang menar dalam suatu forum belajar kelompok yang diikuti oleh siswa-siswa lain yang berbeda-beda kemauan, karakter, dan cara berfikir. peserta didik dilatih dengan keberanian berpendapat dan menghormati hak pendapat orang lain meskipun prestasinya kurang baik. Refleksi dan perbaikan terus dilakukan

pada siklus III, dan terjadi peningkatan-peningkatan interaksi sosial yang lebih baik. Permasalahan yang masih muncul dalam kelompok II yaitu masih terdapatnya beberapa peserta didik yang kurang percaya diri akibat merasa tidak mampu berperan apapun terus diberikan solusi dalam bentuk pemberian motivasi oleh guru dalam pelaksanaan suklus III.

Bimbingan interaksi sosial dalam belajar kelompok ini terjadi dalam beberapa aspek, yaitu:

 Pembelajaran dalam memupuk kepercayaan diri dalam suatu interaksi sosial dalam kemompok. Pembelajaran ini merupakan perbaikan mentalitas individu dalam menekan ketidak beranian berperan atau melakukan interaksi dalam suatu kegiatan bersama yang penting.

 Pembelajaran dalam melatih menghormati pendapat dan peranan orang lain. Pembelajaran ini dilakukan untuk mengurangi sifat dominan yang berlebihan, yang berakibat pada lemahnya partisipasi orang lain dan menghilangkan kesempatan orang lian.

 Pembelajaran berinteraksi didepan umum. Setiap siswa diberi kesempatan dan dibiasakan menjadi

wakil kelompok dalam

mengemukakan pendapat didapan umum. Hal ini meningkatkan keberanian peserta didik guna melakukan komunikasi formal, sehingga akan bermanfaat dalam mendorong keberanian dan kepercayaan diri dalam berinteraksi.

 Pembelajaran mekanisme. peserta didik diberi konsep-konsep belajar kelompk dengan cara yang demokratis, prosedural, dan fikus.

(19)

Pembelajaran mekanisme cukup

berperan dalam memberi

pemahaman tentang suatu nilai yang harus dijaga dalam forum dan pembelajaran tidak langsung tentang hak dan kewajiban setiap anggota kelompok.

Pengaruh pelaksanan pembelajaran kelompok terhadap intensitas interaksi sosial peserta didik baru terlihat dalam kegiatan belajar kelompok dikelas itu sendiri. peserta didik yang semula lemah, tidak percaya diri, dan pasif telah mengalami banyak peningkatan yang signifikan. Interaksi sosial tampak lebih seimbang dan hidup. Sementara itu, dalam interaksi sosial diluar belajar kelompk belum terlihat cukup jelas. Hal ini disebabkan oleh proses yang masih terlalu pendek dalam pembangunan suatu karakter, keberanian, dan pembangunan konsepsi suatu interaksi dengan orang lain. Sangat diperlukan proses yang lebih panjang guna melihat dampak yang signifikan.

PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa pengaruh pelaksanaan diskusi kelompok terhadap intensitas interaksi sosial peserta didik baru terlihat dalam kegiatan diskusi kelompok dikelas itu sendiri. Peserta didik yang semula lemah, tidak percaya diri, dan pasif telah mengalami banyak peningkatan yang signifikan. Interaksi sosial tampak lebih seimbang dan hidup. Sementara itu, dalam interaksi sosial diluar belajar kelompk belum terlihat cukup jelas. Hal ini disebabkan oleh proses yang masih terlalu pendek dalam pembangunan suatu karakter, keberanian, dan

pembanguna konsepsi suatu interaksi dengan orang lain.

Saran

 Pelaksanaan diskusi kelompok dengan model siklus memiliki pengaruh yang cukup positif terhadap peningkatan interaksi sosial peserta didik, sehingga guru dirasa perlu menyelenggarakannya guna meningkatkan kualitas bersosial peserta didik atau untuk tujuan lain yang relevan

 Peserta didik sebaiknya mengikuti proses penyelenggaraan diskusi kelompok dengan baik, dan peserta didik diharapkan lebih terbuka kepada guru dalam mengutarakan keluhan atau kendala-kendala yang dirasakan, sehingga guru dapat memberikan tindakan yang lebih jelas untuk memperbaiki pelaksanaan diskusi kelompok

REFERENSI

Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

E. Mulyasa. (2007). Menjadi Guru

Profesional. Bandung:

Remaja Rosda

Moloeng, L.J. 2000. Metodologi

Penelitian Kualitatif.

Bandung: Remaja Rosda Karya

Mudhofir. (1987). Teknologi

Instruksional. Bandung:

Remadja Karya

Nasir, M. (1988). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia Purwanto, M. Ngalim. (1998). Ilmu

(20)

Praktis. Bandung: Remaja Rosda

Poerwodarminto, W.J.S. (1976). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Sutopo, S. (2002). Teknik Analisis

Kualitatif. Surakarta:

Universitas Megeri Surakarta

Tuwu, Alimudin. (1994). Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: Universitas Indonesia

(21)

Referensi

Dokumen terkait

Penilaian hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan pada UN dan aspek kognitif dan/ atau

Respon peserta didik dari ketiga kelas terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk melatihkan kerjsama sangat baik dengan presentase rata-

Penilaian hasil belajar untuk semua mata pelajaran pada kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan melalui ujian sekolah/madrasah untuk menentukan kelulusan peserta didik

C. Peserta didik kelas VIII SMP dapat menentukan median dari suatu data melalui kegiatan diskusi kelompok menggunakan LKPD dengan tepat. Peserta didik kelas VIII SMP menentukan

Peneliti melakukan monitoring ketika proses pelaksanaan tindakan berlangsung, dengan menggunakan lembar pengamatan yang berisi butir-butir pengamatan pelaksanaan pembelajaran

pembelajaran video terhadap hasil belajar mata pelajaran dasar listrik dan elektronika peserta didik kelas X TITL SMK Negeri 2 Kupang. 2) adanya pengaruh

Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk lembar kegiatan peserta didik (LKPD) berbasis saintifik mata pelajaran layanan lembaga keuangan syariah kelas

Penggunaan model pembelajaran dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas bertujuan untuk meningkatkan minat peserta didik dalam belajar khususnya pada mata pelajaran IPA materi