FASILITASI
RESTITUSI OLEH
LPSK
POIN PEMBELAJARAN
Peserta mampu :
1.
Memahami konsep restitusi secara umum
2.
Memahami langkah yang harus dilakukan untuk
perkara TPESA dengan permohonan restitusi
3.
Memahami cara mengidentifikasi perkara TPESA
ISI MATERI
1. Gambaran umum restitusia. Pengertian dan ruang lingkup pengertian restitusi
b. Dasar hukum restitusi
c. Syarat permohonan restitusi dalam hukum nasional TPESA
2. Penanganan permohonan restitusi di persidangan perkara TPESA a. Cara identifikasi permohonan restitusi
b. Pemeriksaan berkas permohonan restitusi
c. Pertimbangan hukum atas permohonan restitusi
d. Langkah koordinasi dengan LPSK
e. Draft peraturan MA tentang tata cara penyelesaian permohonan pemberian restitusi kepada korban tindak pidana
“Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban yang selanjutnya disingkat LPSK adalah Lembaga yang bertugas dan berwenang untuk memberikan perlindungan dan hak-hak lain kepada Saksi dan/atau Korban sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Ini”
- Pasal 1 angka 5 UU No. 31 Tahun 2014 -
Lembaga perlindungan Saksi dan Korban kali pertama terbentuk pada 8
Agustus 2008 dengan tugas dan kewenangan berdasarkan UU No. 13
tahun 2006 yang kemudian pada 17 Oktober 2014
direvisi menjadi UU No. 31 Tahun 2014
a. Saksi (Pasal 1 angka 1)
b. Saksi Pelaku (Pasal 1 angka 2) c. Korban (Pasal 1 angka 3)
d. Pelapor (Pasal 1 angka 4) e. Saksi Ahli (Pasal 5 ayat (3))
f. O r a n g ya n g d ap a t m e m b e r i k a n keterangan yang berhubungan dengan suatu perkara pidana meskipun ia tidak dengar sendiri, tidak ia lihat sendiri dan tidak ia alami sendiri, sepanjang keterangan orang tersebut berhubungan dengan tindak pidana (Pasal 5 ayat (3))
MANDAT LPSK
1
Memberikanperlindungan kepada saksi dan korban dalam proses peradilan pidana. Pemenuhan Hak Prosedural, Perlindungan Fisik, Perlindungan Hukum, dll.
2
Memfasilitasi hak pemulihan bagi korban kejahatan: Bantuan Medis; Bantuan Rehabilitasi Psikologis; Bantuan Rehabilitasi Psikososial; Fasilitasi Kompensasi; Fasilitasi Restitusi.Perlindungan Hukum
HAK SAKSI DAN KORBAN (Berdasarkan UU 31 Tahun 2014)
Bantuan Medis
Bantuan yang diberikan untuk memulihkan kesehatan fisik Korban, termasuk melakukan pengurusan dalam hal Terlindung meninggal dunia misalnya pengurusan jenazah
hingga pemakaman.
Rehabilitasi Psikososial
Semua bentuk pelayanan dan bantuan psikologis, serta sosial yang ditujukan untuk membantu meringankan, melindungi, dan memulihkan kondisi fisik, psikologis,
sosial, dan spiritual Terlindung, sehingga mampu menjalankan fungsi sosialnya kembali secara wajar,
Rehabilitasi Psikologis
Bantuan yang diberikan oleh psikolog kepada Terlindung yang
menderita trauma atau masalah kejiwaan lainnya untuk memulihkan kembali kondisi kejiwaan Korban.
Restitusi
Ganti kerugian yang diberikan kepada Korban atau Keluarganya oleh pelaku atau pihak ketiga berdasarkan putusan pengadilan yang
berkekuatan hukum tetap atas kerugian materiil dan/atau immateriil yang diderita korban atau ahli warisnya.
DEFINISI RESTITUSI
8
Tindak Pidana Undang-Undang/ PP Definisi Restitusi
Merujuk Keputusan
LPSK UU Nomor 31 Tahun 2014
Pasal 1 angka 11
Ganti kerugian yang diberikan kepada Korban atau Keluarganya oleh pelaku atau pihak Ketiga.
Perdagangan Orang UU Nomor 21 Tahun 2007
Pasal 1 angka 13
Pembayaran ganti kerugian yang dibebankan kepada pelaku berdasarkan putusan pengadilan yang
berkekuatan hukum tetap atas kerugian materiil dan/ atau immateriil yang diderita korban atau ahli warisnya.
Perlindungan Anak PP Nomr 43 Tahun 2017
Pasal 1 angka 1
Pembayaran ganti kerugian yang dibebankan kepada pelaku berdasarkan putusan pengadilan yang
berkekuatan hukum tetap atas kerugian materiil/ immateriil yang diderita korban atau ahli warisnya.
Pemberian restitusi kepada korban diharapkan mampu untuk meringankan dan/atau memulihkan kondisi korban. Oleh karena itu restitusi juga dapat disebut sebagai bagian dari realisasi prinsip keadilan restoratif. Sehingga prinsip keadilan restoratif yang bertujuan untuk memulihkan keadaan antara pihak pelaku dan korban tidak hanya diterapkan bagi anak berkonflik dengan hukum, tetapi juga jika pelakunya dewasa.
RUANG LINGKUP RESTITUSI
1. Anak yang berhadapan dengan hukum
2. Anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual
3. Anak yang menjadi korban pornografi
4. Anak korban penculikan, penjualan, dan/atau perdagangan
5. Anak korban kekerasan fisik dan/atau dan
KERJASAMA DAN KOORDINASI
DALAM MEMFASILITASI RESTITUSI
Restitusi membutuhkan Kerjasama dan Koordinasi antara anak korban, orang tua/pendamping/penyidik/penuntut umum maupun LPSK serta unsur pengadilan. Restitusi juga berperan sebagai salah satu bentuk upaya pemulihan yang diberikan oleh pelaku atas
PERBANDINGAN KOMPONEN GANTI KERUGIAN
DALAM PERMOHONAN RESTITUSI
UU TPPO
(UU No. 21 Th. 2007)
UU Perlindungan Anak (UU N0. 35 Th. 2014 /
PP No. 43 Th. 2017)
UU Perlindungan Saksi dan Korban (UU No.31 Th. 2014/
PP No 7 Th. 2018)
Komponen Kerugian ( Pasal 48 ayat 2)
a. kehilangan kekayaan atau penghasilan;
b. penderitaan;
c. biaya untuk tindakan perawatan medis dan/ atau psikologis; dan/ atau d. kerugian lain yang diderita korban
sebagai akibat perdagangan orang. Penjelasan kerugian lain :
i. kehilangan harta milik; ii. biaya transportasi dasar;
iii. biaya pengacara atau biaya lain yang berhubungan dengan proses hukum; atau
iv. kehilangan penghasilan yang dijanjikan pelaku.
Komponen Kerugian (Pasal 7A)
a. ganti kerugian atas kekayaan atau penghasilan;
b. ganti kerugian yang ditimbulkan akibat
penderitaan yang berkaitan langsung sebagai akibat tindak pidana; dan/ atau
c. penggantian biaya perawatan medis dan/ atau psikologis.
Komponen Kerugian (Pasal 3 PP) :
a. ganti kerugian atas kekayaan
b. ganti kerugian atas penderitaan sebagai akibat tindak pidana: dan/ atau
c. penggantian biaya perawatan medis dan/ atau psikologis.
MAJELIS HAKIM DIHARAPKAN MELIHAT KEMBALI PERMOHONAN RESTITUSI YANG MEMUAT SYARAT-SYARAT PENGAJUAN
PERMOHONAN RESTITUSI YANG DIAJUKAN OLEH PEMOHON YANG SETIDAKNYA DIBAGI MENJADI SYARAT FORMIL DAN MATERIL
Syarat Formil Meliputi : 1. Identitas pemohon 2. Identitas pelaku
3. Uraian tentang peristiwa pidana yang dialami
4. Uraian kerugian akibat tindak pidana
5. Besaran jumlah restitusi
Syarat Materil dapat meliputi : 1. Fotocopy identitas anak
korban yang dilegalisasi pejabat berwenang
2. Bukti kerugian yang sah
3. Fotocopy surat kematian jika anak meninggal dunia
4. Surat kuasa jika pemohon
berstatus kuasa orang tua, wali atau ahli waris anak
DASAR HUKUM RESTITUSI
1. UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
2. UU No. 31 Tahun 2014 Jo. UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban 3. UU No. 35 Tahun 2014 Jo. UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
4. UU No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang 5. UU No. 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme
6. PP No. 35 Tahun 2020 Jo. PP No. 7 Tahun 2018 tentang Pemberian Kompensasi, Restitusi dan Bantuan Kepada Saksi dan Korban
7. PP No. 43 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Restitusi Bagi Anak Yang Menjadi Korban Tindak Pidana 8. Peraturan LPSK No. 1 Tahun 2010 tentang SOP Permohonan dan Pelaksanaan Restitusi
9. Keputusan Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban Nomor 407/1.5.2.HSKR/LPSK/05/2018 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Restitusi Oleh Petugas Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban
PENANGANAN PERMOHONAN
RESTITUSI DI PERSIDANGAN
PERKARA TPESA
A. Identifikasi Permohonan Restitusi
Permohonan restitusi yang diajukan dapat diterima dari penuntut umum dan LPSK. Permohonan tersebut terdapat dalam berkas perkara dakwaan maupun tuntutan. Jika hakim tidak menemukan permohonan hakim melalui penuntut umum atau pendamping dapat memberitahukan kepada pihak korban mengenai hak untuk mendapatkan restitusi dan tata cara pengajuannya pada saat sebelum dan/atau proses persidangan. Hakim juga dapat mengingatkan kepada penuntut umum dan korban atau pendamping bahwa restitusi tidak bisa diajukan dalam pemeriksaan ditingkat banding kasasi dan peninjauan Kembali, untuk itu hakim juga mengingatkan kepada Penuntu Umum dan korban atau pendamping bahwa restitusi dapat diajukan pasca putusan berkekuatan hukum tetap melalui LPSK yang hasilnya berupa penetapan pengadilan.
PEMERIKSAAN BERKAS
PERMOHONAN
1. Orang Tua atau Wali Anak yang menjadi korban tindak pidana
2. Ahli waris Anak yang menjadi korban tindak pidana; dan
3. Orang yang diberi kuasa oleh Orang Tua, Wali, atau ahli waris Anak yang menjadi korban tindak pidana dengan surat kuasa khusus. Jika ketiga pemohon tersebut sebagai pelaku, permohonan Restitusi dapat diajukan oleh LPSK
Adapun pihak pemohon yang dapat
mengajukan restitusi berdasarkan pasal 4 PP No. 43/ 2017 antara lain :
PENGAJUAN PERMOHONAN RESTITUSI
Tindak
Pidana Undang-Undang/ PP Pengajuan Keterangan
Merujuk Keputusan LPSK UU No. 31 tahun 2014 Pasal 7 ayat (3)
Pengajuan dapat dilakukan sebelum atau setelah
putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap.
PP 3/ 2017 Pasal 31 ayat (4)
teknis pelaksanaan permohonan restitusi setelah putusan
berkekuatan hukum tetap akan diatur dengan Peraturan
Mahkamah Agung
Perdagangan
Orang UU No. 21 Tahun 2007
Penjelasan Pasal 48 ayat (1)
Pengajuan dilaksanakn sejak Korban melaporkan kasus yang dialaminya.
Mekanisme restitusi tidak menghilangkan hak korban mengajukan gugatan atas kerugiannya
Perlindungan
Anak PP No. 43 Tahun 2017
Pasal 5 dan pasal 6
Pasal 5 ayat (2) diajukan melalui tahap penyidikan dan penunututan
Pasal 6 diajukan setelah putusan pengasialn
berkekuatan hukum tetap.
Pasal 5 ayat (3) : selain melalui tahap penyidikan dan
penunututan dapat diajukan melalui LPSK
PELAKSANAAN RESTITUSI
Tindak Pidana
Undang-Undang/
PP Jangka Waktu Pelaksanaan Tambahan Waktu
Perdagangan
Orang UU No. 21 Tahun 2007
Pasal 48 ayat (6) Pasal 50 (3)
Dilakukan dalam 14 hari sejak diberitahukan putusan telah berkekuatan hukum tetap.
14 hari
Jika tidak dilaksanakan
pengadilan memerintahakan untuk menyita dan melelang harta kekayaan
Perlindungan
Anak PP No. 43 Tahun 2017
Pasal 5 dan pasal 6
Pelaku melaksnakan putusan paling lama 30 hari sejak menerima salinan putusan dan berita acara pelaksanaan putusan
PENGAJUAN RESTITUSI SEBELUM
PUTUSAN PENGADILAN
PENGAJUAN RESTITUSI SEBELUM
PUTUSAN PENGADILAN
BAGAIMANA JIKA RESTITUSI TIDAK
DIBAYARKAN OLEH PELAKU? PP NO.
35 TAHUN 2020
JO. PP NO. 7 TAHUN 2018
mengatur mekanisme bagaimana jika restitusi tidak dibayarkan korban/ahli waris menyampaikan ke pengadilan pengadilan menerbitkan surat peringatan jaksa melakukan mekanisme sita dan lelang harta kekayaan terpidana, hingga pidana
SETELAH PUTUSAN PENGADILAN
PP Nomor 35 Tahun 2020 Jo. PP Nomor 7 tahun 2018 Pasal 28
Dalam hal permohonan restitusi diajukan setelah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (3) dan pelaku tindak pidana dinyatakan bersalah, LPSK menyampaikan permohonan tersebut beserta keputusan dan pertimbangannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 kepada pengadilan yang berwenang.
Pasal 29
Salinan surat pengantar penyampaian permohonan beserta keputusan dan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dan Pasal 28 disampaikan oleh LPSK kepada korban, keluarga, atau kuasanya, dan kepada pelaku tindak pidana dan/atau pihak ketiga.
ASPIRASI LPSK
1. Perlunya dibuat peraturan tentang Pengajuan Restitusi Pasca Putusan Pengadilan perlu ditegaskan melalui prosedur
penetapan atau melalui prosedur gugatan ganti kerugian oleh Mahkamah Agung.
2. Mahkamah Agung perlu membuat peraturan tentang
pelaksanaan sita harta terpidana jika terpidana tidak mau atau tidak mampu membayar restitusi.
3. Untuk eksekusi restitusi perlu dibuat aturan bersama antara Mahkamah Agung, Jaksa Agung dan LPSK
www.lpsk.go.id Humas
LPSK RI Humas LPSK
infoLPSK 148 infoLPSK 0857-7001-0048
LPSK (Lembaga
Perlindungan Saksi dan
Korban)
Jl Raya Bogor KM 24 No 47-49, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur 13750 Telp. (021) 29681560, Fax : (021) 29681551 Email : [email protected] Hotline LPSK