KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas RahmatNya telah dapat disusun Buku Statistik Ketahanan Pangan Provinsi Riau Tahun 2012, dimana buku ini berisikan data-data tentang perkembangan situasi pangan di Provinsi Riau pada tahun 2011.
Disadari sepenuhnya bahwa buku ini belumlah sempurna dan masih banyak kekurangannya, untuk itu sumbang saran dari semua pihak sangatlah diharapkan demi kesempuranaan di masa akan datang, semoga buku ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang memerlukan.
Demikianlah disampaikan, akhirnya ucapan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dan berperan aktif dalam penyusunan buku Statistik ini.
PEKANBARU, OKTOBER 2012 KEPALA BADAN KETAHANAN PANGAN
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ________________________________________________________ i DAFTAR ISI ______________________________________________________________ ii I. PENDAHULUAN __________________________________________________ 1 II. KEADAAN UMUM PROVINSI RIAU ___________________________________ 3
A. Keadaan Umum ________________________________________________ 3 B. Penduduk _____________________________________________________ 5 Tabel 1. Penduduk Provinsi Riau menurut Kabupaten/Kota _______________________ 6 C. Iklim __________________________________________________________ 7
III. KONDISI KETAHANAN PANGAN ____________________________________ 8
Tabel 2. Produksi Pangan Riau Tahun 2007 - 2011 (Ton) __________________________ 8 Tabel 3. Ketersediaan Pangan Riau Tahun 2007-2011 ___________________________ 9 Tabel 5. Pasokan Pangan dari luar Propinsi Riau Tahun 2007-2011 (Ton) ___________ 11 Tabel 7. Perkembangan Harga Rata-Rata Komoditi Pangan Tahun 2007-2011 _______ 12 Tabel 8. Konsumsi Pangan Riil Penduduk Riau Tahun 2007-2011 _________________ 13 Tabel 9. Kebutuhan Konsumsi Riau Th.2007-2011 ______________________________ 14 Tabel 10. Perkembangan Konsumsi Pangan Provinsi Riau Tahun 2007-2011 ________ 15 Tabel 11. Keragaman Konsumsi energi perkapita menurut kelompok bahan pangan tahun 2007-2011 __________________________________________________________ 16 Tabel 12. Rincian Konsumsi Pangan Penduduk Riau Tahun 2011 (Kg/Kap/Th) ______ 17 Tabel 13. Konsumsi Energi Penduduk Riau Tahun 2011 (Kkal/Kap/Hari) ____________ 18 Tabel.14. Rasio Produksi Dan Kebutuhan Beras Provinsi Riau Tahun 2011 _________ 19 Tabel.15. Rasio Produksi Dan Kebutuhan Jagung Propinsi Riau Tahun 2011 _______ 20 Tabel.17. Rasio Produksi Dan Kebutuhan Umbi-Umbian Provinsi Riau Tahun 2011 __ 22 Tabel.18. Rasio Produksi Dan Kebutuhan Kedelai Provinsi Riau Tahun 2011 _______ 23
IV. PROGRAM STRATEGIS _________________________________________________ 24
IV.1. Lokasi Desa Mandiri Pangan Provinsi Riau _______________________________ 24 IV.2. Lumbung Pangan Tahun 2012 __________________________________________ 29 IV.3.Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) ___________________________ 30
I. PENDAHULUAN
Berdasarkan Undang-Undang No 7 Tahun 1996 tentang pangan, Ketahanan Pangan merupakan kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Ketahanan pangan merupakan hal yang penting dan strategis, karena berdasarkan pengalaman di banyak negara menunjukkan bahwa tidak ada satu negarapun yang dapat melaksanakan pembangunan secara mantap sebelum mampu mewujudkan ketahanan pangan terlebih dahulu (Penjelasan PP No 68 Tahun 2002).
Perwujudan Ketahanan Pangan yang mantap dan berkesinambungan dibangun berdasarkan tiga pilar ketahanan pangan, yaitu: (1) ketersediaan pangan yang cukup dan merata; (2) distribusi pangan yang efektif dan efisien; serta (3) konsumsi pangan yang beragam dan bergizi seimbang. Ketahanan Pangan merupakan masalah pembangunan berkelanjutan yang kompleks, berhubungan tidak hanya dengan pangan dan pertanian tetapi juga berhubungan dengan kesehatan, pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, lingkungan dan juga perdagangan. Sehingga dalam pelaksanaannya, pembangunan ketahanan pangan yang berkesinambungan terkait dengan semua sektor pembangunan nasional.
Pencapain pembangunan ketahanan pangan sebagai salah satu bagian dari pembangunan nasional tidak dapat terlepas dari ketersediaan data yang berkesinambungan dalam berbagai tahapan pembangunan
Indikator-indikator statistik ketahanan pangan mencakup data-data sektor dan non-sektoral yang terkait dengan ketahanan pangan yang dihimpun sebagai statistik ketahanan pangan, mencakup: (1) Aspek Ketersediaan dan
Kerawanan Pangan, meliputi: Ketersediaan Energi dan Protein,
Perkembangan Produksi Beberapa Komoditas Pangan Penting,
Pertumbuhan Ketersediaan Komoditas Pangan Penting, dan Proyeksi Kebutuhan Pangan Penting ; (2) Aspek Distribusi Pangan, meliputi: Perubahan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), Pemasukan dan Pengeluaran Beras, perkembangan Harga Gabag Kering Panen di Tingkat Petani, dan Perkembangan Harga-Harga Komoditas Penting; (3) Aspek Konsumsi dan Keamanan Pangan, meliputi: Tingkat Konsumsi Pangan Nasional berdasarkan Pola Pangan Harapan, Perkembangan Rata-rata Konsumsi Energi dan Protein, Rata-rata Konsumsi Kelompok Pangan Rumah Tangga, Konsumsi Penduduk Indonesia Terhadap Berbagai Kelompok Makanan, Sasaran Pola Pangan Harapan Tahun 2010 sampai 2015 , Perkembangan Kualitas Konsumsi Pangan Penduduk Indonesia Tahun 2007 – 2011, Perkembangan Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan, Data Kejadian Keracunan Pangan, dan Hasil Uji Laboratorium Keamanan Pangan Beberapa Komoditas dari 12 Kabupaten/Kota ; (4) Aspek Kegiatan Strategis Ketahanan Pangan, meliputi: Program Aksi Desa Mandiri Pangan,
Pengembangan Lumbung, Program Kegiatan Percepatan
Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP), Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (Penguatan-LDPM), Peta Kerawanan dan Kerentanan Pangan / Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA; serta (5) Aspek Umum yang terkait dengan ketahanan pangan lainnya, meliputi: perkembangan jumlah penduduk miskin, serta bentuk kelembagaan Ketahanan Pangan.
II. KEADAAN UMUM PROVINSI RIAU
A.
Keadaan UmumProvinsi Riau terdiri dari daerah daratan dan perairan, dengan luas lebih kurang 8.915.015,09 Ha (89.150 Km2), Keberadaannya membentang dari lereng Bukit Barisan sampai dengan Selat Malaka terletak antara 01° 05’ 00” Lintang Selatan - 02° 25’ 00” Lintang Utara atau antara 100° 00’ 00” - 105° 05’ 00” Bujur Timur. Disamping itu sesuai Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 terdapat wilayah lautan sejauh 12 mil dari garis pantai.
Di daratan terdapat 15 sungai, diantaranya ada 4 sungai besar yang mempunyai arti penting sebagai sarana perhubungan seperti Sungai Siak (300 Km) dengan kedalaman 8 -12 m, Sungai Rokan (400 Km) dengan kedalaman 6-8 m, Sungai Kampar (400 Km) dengan kedalaman lebih kurang 6 m dan Sungai Indragiri (500 Km) dengan kedalaman 6-8 m. Ke 4 sungai yang membelah dari pegunungan daratan tinggi Bukit Barisan Bermuara di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan itu dipengaruhi pasang surut laut.
Adapun batas-batas Provinsi Riau bila dilihat posisinya dengan negara tetangga dan provinsi lainnya adalah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara : Selat Malaka dan Provinsi Sumatera Utara b. Sebelah Selatan : Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Barat
Pada Tahun 2009 Provinsi Riau terdiri dari 10 (sepuluh) Kabupaten dan 2 (dua) Kota, dimana pada tahun 2009 berdasarkan UU 12 tahun 2009 dibentuk Kabupaten Kepulauan Meranti, luas wilayah masing-masing Kabupaten/Kota seperti terlihat pada tabel berikut ini :
Nama-nama Ibukota dan Luas Wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Riau
NO KABUPATEN/KOTA IBUKOTA LUAS (Ha) LUAS AREA (%)
1 2 3 4 5
1. Kuantan Singingi Taluk Kuantan 520.216,13 5,84
2.
Indragiri Hulu Rengat 767,626,66 8,61
3.
Indragiri Hilir Tembilahan 1.379.837,12 15,48
4.
Pelalawan Pangkalan Kerinci 1.240.413,95 13,9
5.
Siak Siak Sri Indrapura 823.357,00 9,24
6.
Kampar Bangkinang 1.092.819,71 12,26
7.
Rokan Hulu Pasir Pangaraiyan 722.977,68 8,11
8.
Bengkalis Bengkalis 1.200.715,21 13,47
9.
Rokan Hilir Bagan Siapi-api 896.142,93 10,05
10.
Pekanbaru Pekanbaru 63.300,86 0,71
11.
Dumai Dumai 203.900,00 2,29
12.
Kepulauan Meranti Selat Panjang 3.707,84 0,04
dan Laut Cina Selatan serta berhadapan dengan negara-negara di Asia tenggara yaitu Malaysia – Singapura – Thailand – Kamboja dan Vietnam. Singapura sebagai negara pusat perdagangan dunia di belahan Timur merupakan negara yang secara langsung berbatasan dengan wilayah Provinsi Riau.
Wilayah daratan Provinsi Riau terdapat 15 sungai, 4 (empat) diantaranya mempunyai arti penting sebagai prasarana perhubungan dan tempat domisili serta sumber penghasilan sebahagian penduduk. Sungai – sungai tersebut adalah Sungai Siak (300 km) dengan kedalaman 8 – 12 meter, Sungai Rokan (400 km) dengan kedalaman 6 – 8 meter, Sungai Kampar (400 km) dengan kedalaman lebih kurang 6 meter dan Sungai Indragiri (500 km) dengan kedalaman 6 – 8 meter. Ke 4 sungai yang membelah dari pegunungan dataran tinggi Bukit Barisan bermuara di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan itu dipengaruhi pasang surut air laut. Provinsi Riau memiliki keunggulan komparatif selain posisi strategis berbatasan dengan kawasan perdagangan dan pelayaran internasional, juga memiliki cadangan sumberdaya alam baik yang bersifat
non-renewable resources berupa kandungan minyak dan bahan tambang
galian di perairan dan daratan serta renewable resources berupa potensi sumberdaya hutan dan pertanian.
jumlah penduduk per Kabupaten/Kota se Provinsi Riau dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Penduduk Provinsi Riau menurut Kabupaten/Kota
Kabupaten/Kota 2005 2006 2007 2010* 2011** Kuantan Singingi 243.471 249.320 270.320 291 044 302.674 Indragiri Hulu 286.467 295.148 317.549 362 961 376.578 Indragiri Hilir 630.863 647.401 658.079 662 305 685.698 Pelalawan 237.991 253.156 271.662 303 021 312.738 Siak 289.894 301.496 318.585 377 232 390.359 Kampar 535.149 554.989 590.467 686 030 713.078 Rokan Hulu 331.477 346.635 383.417 475 011 492.006 Bengkalis 672.603 708.382 738.996 498 384 516.348 Rokan Hilir 409.002 421.584 510.857 552 433 573.211 Pekanbaru 722.951 754.467 779.899 903 902 930.215 Dumai 219.351 230.075 231.121 254 337 262.976 Kepulauan Meranti 176 371 182.662 Provinsi Riau 4.579.219 4.762.653 5.070.952 5 543 031 5.738.543
Ket:
- Tahun 2005-2005 Sumber BPS- Tahun 2007 Olahan SUPAS dan Proyeksi Susenas - * Hasil Sensus Penduduk 2010
C. Iklim
Daerah Riau beriklim tropis basah dengan rata-rata curah hujan berkisar antara 2000-3000 mm per tahun yang dipengaruhi oleh musim kemarau dan musim hujan.
Daerah yang paling sering ditimpa hujan setiap tahun adalah Rokan Hulu yaitu 217 hari, Pekanbaru 207 hari, Kabupaten Indragiri Hulu dan Kota Dumai 190 dan 169 hari, dan yang terakhir adalah Kabupaten Rokan Hilir dengan jumlah hari hujan 63 hari.
Jumlah Curah Hujan tertinggi pada tahun 2010 terjadi di Kota Pekanbaru dengan curah hujan sebesar 3 068,3 mm, disusul Kota Dumai sebesar 2 794,5 mm, sedangkan curah hujan terendah terjadi di Kabupaten Rokan Hilir sebesar 1 944,0 mm.
Selanjutnya menurut catatan Stasiun Meteorologi Simpang Tiga, suhu udara rata-rata di Kota Pekanbaru tahun 2010 menunjukkan 27,2 celcius dengan suhu maksimum 34,6 celcius dan suhu minimum 22,0 celcius.
III. KONDISI KETAHANAN PANGAN
Tabel 2. Produksi Pangan Riau Tahun 2007 - 2011 (Ton)
2007
2008
2009
2010
2011
1 Beras
310.816,34
312.372,00
332.825,10
363.314,04
340.225,38
2 Jagung
40.410,00
47.959,00
49.476,00
41.862,00
33.197,00
3 Kedelai
2.419,00
4.689,00
5.985,00
5.830,00
7.100,00
4 Kacang Tanah
3.225,00
2.240,00
1.937,00
2.007,00
1.692,00
5 Kacang hijau
1.739,00
1.688,00
989,00
1.228,00
995,00
6 Ubi Jalar
12.814,00
11.330,00
10.189,00
9.967,00
9.912,00
7 Ubi Kayu
51.784,00
50.772,00
52.214,00
75.904,00
79.480,00
8 sagu
159.574,75
159.574,00
159.574,00
222.097,00
249.497
9 Buah-buahan
209.666,50
208.245,00 208.245,00
108.199,00
108.199
10 Sayuran
92.711,85
66.822,00
66.822,00
81.395,00
81.395
11 Daging
49.697,74
53.792,13
46.019,00
37.983,04
38.349
12 Telur
9.035,32
9.888,61
9.888,61
6.176,15
4.161
13 Ikan
174.437,04
132.161,30
123.851,68
130.481,36
149.939
Jumlah
943.893,50
929.371,74
944.163,71
955.962,23
954.202,61
Tabel 3. Ketersediaan Pangan Riau Tahun 2007-2011
2007
2008
2009
2010
2011
1 Beras
766.363,95
778.042,32
810.629,42
846.877,08
834.980,00
2 Jagung
44.059,70
56.484,00
57.906,98
50.398,62
41.892,00
3 Kedelai
54.776,00
62.281,70
77.956,66
78.676,39
72.489,00
4 Kacang Tanah
14.569,00
14.719,50
15.010,15
15.242,71
14.927,71
5 Kacang hijau
11.505,00
12.418,50
11.789,01
12.162,32
11.929,32
6 Ubi Jalar
14.038,00
12.555,00
11.895,17
16.685,89
16.630,89
7 Ubi Kayu
55.540,00
69.122,00
56.283,97
80.026,57
83.602,57
8 sagu
159.574,75
171.594,00
171.594,00
222.097,00
249.497,00
9 Buah-buahan
315.431,00
327.440,00
307.370,03
244.760,72
268.802,00
10 Sayuran
315.384,00
258.799,00
329.668,12
356.543,70
378.460,00
11 Daging
56.154,74
59.731,00
56.265,55
48.363,54
48.729,73
12 Telur
46.610,32
50.269,70
53.652,44
52.110,31
54.280,00
13 Ikan
176.404,10
189.746,30
182.428,68
191.754,36
211.212,00
Jumlah
1.854.006,46
1.873.456,72
1.960.021,50
2.023.944,86
2.287.432,22
Tabel 4. Ketersediaan Energi dan Protein Provinsi Riau Tahun 2007-2011
No.
Zat Gizi
2007
2008
2009
2010
2011
1 Energi (Kkal)
2.768,16 2.886,89 2.905,24 2.965,00 3.002,00
Energi Nabati
2.032,62
2.139,89
2.739,68
2.786,00
2.823
Enargi Hewani
735,54
747,00
165,56
179,00
179
2 Protein (Gram)
75,29
79,09
72,33
76,61
73,31
-Nabati
56,53
59,67
54,47
58,38
53,55
-Hewani
18,76
19,42
17,86
18,23
19,76
3 Skor PPH
83,5
81,5
80,3
82,6
83,13
Tabel 5. Pasokan Pangan dari luar Propinsi Riau Tahun 2007-2011 (Ton)
2007
2008
2009
2010
2011
1 Beras
455.650,00
465.670,00
477.804,32
483.563,04
496.362,00
2 Jagung
7.750,00
8.525,00
8.430,98
8.536,62
8.695,00
3 Kedelai
52.357,00
57.592,70
61.900,63
72.846,39
65.389,00
4 Kacang Tanah
11.345,00
12.479,50
10.800,01
13.235,71
13.235,71
5 Kacang Hijau
9.765,00
10.730,50
4.700,00
10.934,32
10.934,32
6 Ubi Jalar
1.225,00
1.225,00
4.069,97
6.718,89
6.718,89
7 Ubi Kayu
3.755,00
4.042,18
4.069,97
4.122,57
4.122,57
8 Buah-buahan
105.765,00
119.621,38
134.930,03
136.561,72
160.603,00
9 Sayuran
234.765,00
252.765,02
271.869,12
275.148,70
297.065,00
10 Daging
6.457,00
8.170,00
18.703,88
10.380,50
10.380,50
11 Telur
37.575,00
42.000,00
90.765,48
45.934,17
50.119,00
12 Ikan
27.500,00
52.494,88
65.618,60
61.273,00
61.273,00
JUMLAH
953.909,00
1.035.316,16
1.153.662,99
1.129.255,63
1.184.897,99
Tabel 7. Perkembangan Harga Rata-Rata Komoditi Pangan Tahun 2007-2011
2007 2008 2009 2010 2011
Beras Premium 6.404 7.205 7.152 8.119 11.204 Beras Medium 5.992 6.619 6.541 7.686 10.328 Beras Termurah 4.823 5.212 5.221 6.178 8.283 Cabe Merah Keritang 21.851 24.616 23.764 30.947 25.792 Cabe Merah Besar 18.881 23.221 15.431 26.775 23.823 Bawang Merah 9.879 12.969 11.596 15.392 16.313 Bawang Putih 9.413 9.964 8.922 21.061 22.250 Tomat Medan 5.937 6.350 4.096 6.294 6.313 Wortel 5.492 6.464 4.463 7.810 7.500 Kentang 4.558 5.140 4.317 5.182 6.979 Minyak Goreng Curah 8.214 9.630 10.188 9.088 10.281 Gula Pasir Lokal 7.447 8.166 11.708 10.770 11.144 Tepung Terigu Segitiga Biru 5.481 6.791 7.479 7.494 7.479 Daging Sapi 59.184 64.046 48.479 61.210 68.583 Daging Ayam Ras 17.543 21.543 26.137 20.013 23.969 Daging Ayam Kampung 27.556 37.133 27.528 38.759 41.125 Telur Ayam Ras 606 875 875 930 993 Telur Ayam Kampung 1.187 1.272 1.271 1.507 1.425 Ikan Kakap 24.658 25.744 25.625 38.822 46.542 Ikan Kembung 16.731 19.517 19.385 22.776 27.760 Ikan Tongkol Sisik 16.762 21.265 19.772 23.069 27.630 Ikan Serai 15.766 19.379 19.424 19.724 21.885 Udang 46.268 43.981 50.049 35.142 50.458 Ikan Patin 16.473 16.517 11.569 15.138 17.104 Ikan Mas 17.051 19.976 18.934 19.166 22.271 Ikan Mujair 15.456 18.321 15.128 19.892 23.656 Lele 16.766 18.853 16.702 15.054 16.177 KOMODITI TAHUN
Tabel 8. Konsumsi Pangan Riil Penduduk Riau Tahun 2007-2011
2007
2008
2009
2010
2011
1 Beras
115,3
106,8
105
104
106
2 Jagung
0,6
5,7
12,5
9,4
8,7
3 Terigu
6,8
10,5
7,0
9,6
9,1
4 Umbi-umbian
13,5
18,1
18,9
18,4
15,8
5 Sagu
0,8
6,5
0,9
0,9
1,0
6 Daging
7,5
6,0
3,3
2,7
3,0
7 Susu
2,3
3,8
2,4
1,6
1,0
8 Telur
6,2
3,8
11,3
12,7
6,0
9 Ikan
12,8
7,8
28,4
27,8
9,0
10 Minyak
11,4
6,3
11,5
10,9
25,0
11 Kelapa
11,9
11,8
4,8
5,5
5,0
12 Kacang-kacangan
11,3
21,4
14,1
12,7
6,0
13 Gula
12,3
11,7
14,6
14,5
15,0
14 Sayuran
23,5
14,9
43,6
37,6
36,0
Tabel 9. Kebutuhan Konsumsi Riau Th.2007-2011
2007
2008
2009
2010
2011
1 Beras
552.270,06
577.028,85
557.359,24
576.475,22
611.763,00
2 Jagung
11.294,89
12.194,51
11.916,74
47.115,76
52.814,00
3 Kedelai
42.920,59
46.287,25
45.232,89
37.249,17
56.335,00
4 Kc. Tanah
4.768,95
5.137,26
5.020,24
6.097,33
6.455,00
5 Kc. Hijau
5.019,95
5.396,72
5.273,79
6.097,33
6.455,00
6 Ubi Jlar
9.788,91
10.533,98
10.294,03
16.629,09
17.604,00
7 Ubi Kayu
27.107,74
29.214,94
28.549,46
74.276,62
78.634,00
8 Sagu
1.003,99
1.089,72
1.064,90
1.662,91
1.662,00
9 Buah-buahan
123.490,83
133.101,80
130.069,92
138.021,47
82.155,00
10 Sayuran
250.345,03
269.887,90
263.740,21
144.673,11
152.574,08
11 Daging
37.379,82
40.319,73
39.401,30
46.007,16
48.706,34
12 Telur
39.211,35
42.291,61
41.328,26
48.778,67
51.640,46
13 Ikan
124.563,84
134.295,31
131.236
149.329
157.268,67
JUMLAH
1.229.165,95
1.306.779,58
1.270.487,22
1.292.413,11
1.324.066,56
No
Komoditi
Kebuuthan Konsumsi Pangan (Ton)
Tabel 10. Perkembangan Konsumsi Pangan Provinsi Riau Tahun 2007-2011 Padi-Padian Umbi-umbian Pangan Hewani Kacang-kacangan Sayur dan Buah Buah/Biji Berminyak Minyak dan
Lemak Gula Lainnya 2007 Kg/Kap/Th 123 14 29 11 43 12 11 12,30 0 Gr/Kap/Hr 337 39 79 31 118 33 31 34 0 Energi Kkal/Kap/Hr 1081 175 121 244 130 38 22 44 0 2008 Kg/Kap/Th 123 25 21 21 25 12 6 12 0 Gr/Kap/Hr 337 67 57 59 69 32 17 32 0 Energi Kkal/Kap/Hr 1207 73 152 75 57 62 265 134 0 2009 Kg/Kap/Th 123 19 45 13 48 5 11 15 0 Gr/Kap/Hr 337 53 123 35 132 15 30 40 0 Energi Kkal/Kap/Hr 1.200 72 171 74 66 60 254 147 0 2010 Kg/Kap/Th 123 19 45 13 48 5 11 15 0 Gr/Kap/Hr 337 53 123 35 132 15 30 40 0 Energi Kkal/Kap/Hr 1.200 72 171 74 66 60 254 147 0 2011 Kg/Kap/Th 122 17 44 8 59 6 41 11 0 Gr/Kap/Hr 334 47 121 22 162 16 112 30 0 Tahun Kelompok Pangan
Tabel 11. Keragaman Konsumsi energi perkapita menurut kelompok bahan pangan tahun 2007-2011
1 2 15 16
1 Padi-padian 1213 25,00 1.207 60,33 1.207 60,00 1.200 60,00 1.201 60,10 2 Umbi-umbian 73 1,6 73 3,8 72,5 3,6 72,2 3,6 73,0 3,7 3 Pangan Hewani 132 12,22 152 7,58 152 8,6 171 8,6 173 8,7 4 Minyak dan Lemak 75 4,83 265 13,23 265 12,70 254 12,70 253 12,70 5 Buah/Biji Berminyak 48 1,00 62 3,08 61,50 3,00 60,00 3,00 60,00 3,00 6 Kacang-kacangan 63 6,60 75 3,73 75 3,70 74 3,70 75 3,80
7 Gula 275 2,50 134 6,70 134 7,35 147 7,35 147 7,40
8 Sayur dan Buah 121 18,75 57 2,85 57 3,30 66 3,30 68 3,40
Total 1.999,89 72,50 2.022,00 101,28 2.022 102 2.043 102 2.050 103
Skor AKG Skor AKG Kkal/Kap/
Hari Skor AKG
Kkal/Kap/
Hari Skor AKG
Kkal/Kap/ Hari Kkal/Kap/
Hari Skor AKG Kkal/Kap/ Hari
2011
2007 2008 2009 2010
Tabel 12. Rincian Konsumsi Pangan Penduduk Riau Tahun 2011 (Kg/Kap/Th)
Beras Jagung Terigu U,Kayu U.Jalar Kentang Sagu Daging Susu Telur Ikan M.Kelapa L.Hewan Kelapa Kemiri Kedelai K.Tanah K.Hijau G.Pasir G.Kelapa Sayur Buah
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 1 Kampar 103 8 10 16 1 1 1 10 1 7 28 21 14 4 2 4 2 3 7 3 45 20 2 Pekanbaru 103 8 10 17 1 1 1 8 1 7 26 23 21 6 1 4 1 3 7 4 25 45 3 Rokan Hulu 106 8 10 15 1 1 1 7 0 8 28 22 18 5 1 4 2 1 8 3 45 15 4 Kuansing 102 10 8 11 2 1 1 9 0 8 29 23 13 5 1 3 2 2 8 1 35 25 5 Inhu 105 8 10 9 3 1 1 6 0 9 28 21 16 5 2 4 1 2 7 5 35 20 6 Inhil 104 6 12 14 1 1 1 10 1 7 24 22 24 6 0 4 2 2 6 6 40 15 7 Pelalawan 104 6 11 15 1 1 1 9 0 8 21 25 28 4 2 4 2 2 5 6 25 35 8 Siak 105 11 7 10 3 1 1 10 1 7 27 24 17 3 3 4 3 2 8 3 40 20 9 Rokan Hilir 106 9 9 13 2 1 0 7 0 8 30 22 15 4 2 4 1 2 8 3 30 25 Bh/Biji
berminyak Kacang-kacangan Gula
Sayur dan Buah
No Kabupaten
Tabel 13. Konsumsi Energi Penduduk Riau Tahun 2011 (Kkal/Kap/Hari)
Kabupaten
Padi-Padian
Umbi-umbian
Pangan
Hewani
Minyak
dan
Lemak
Bh/Biji
berminyak
Kacang-kacangan
Gula
Sayur dan
Buah
TOTAL
Kampar
1.189 73 178 244 60 85 147 68 2.044
Pekanbaru
1.193 73 168 265 60 71 147 72 2.049
Rokan Hulu 1.218 73 173 250 60 71 147 68 2.060
Kuansing
1.183 73 182 251 60 71 135 68 2.023
Inhu
1.213 73 177 236 60 60 158 68 2.045
Inhil
1.198 73 164 259 60 71 147 68 2.040
Pelalawan
1.203 73 157 296 60 71 147 67 2.074
Siak
1.211 73 175 268 60 85 147 68 2.087
Rokan Hilir
1.223 73 178 240 60 71 147 67 2.059
Dumai
1.188 73 183 220 60 82 147 68 2.021
Kep. Meranti 1.208 73 163 240 60 71 147 63 2.025
Bengkalis
1.191 73 172 268 60 89 147 67 2.067
Riau
1.202 73 173 254 61 76 148 69 2.050
Tabel.14. Rasio Produksi Dan Kebutuhan Beras Provinsi Riau Tahun 2011
Produksi Kebutuhan Perimbangan
Rokan Hulu
492.006
31.850
51.169
(19.319)
0,62
Defisit
K a m p a r
713.078
24.571
74.160
(49.589)
0,33
Defisit
Pelalawan
312.738
23.804
32.525
(8.721)
0,73
Defisit
S i a k
390.359
17.291
40.597
(23.306)
0,43
Defisit
Rokan Hilir
573.211
99.757
59.614
40.143
1,67
Surplus
Bengkalis
516.348
17.168
53.700
(36.533)
0,32
Defisit
Kuantan Singingi.
302.674
27.901
31.478
(3.577)
0,89
Defisit
D u m a i
262.976
2.718
27.350
(24.632)
0,10
Defisit
Indragiri Hulu
376.578
11.160
39.164
(28.004)
0,28
Defisit
Indragiri Hilir
685.698
77.889
71.313
6.576
1,09
Berimbang
Pekanbaru
930.215
24
96.742
(96.718)
0,00
Defisit
Kep.Meranti
182.662
3.414
18.997
(15.583)
0,18
Defisit
Jumlah
5.738.543
337.546
596.808
(259.262)
Kabupaten/Kota
Jumlah
Penduduk
Beras (Ton)
Rasio
0,57
Ket : Surplus > 1,14 Berimbang 0,95 - 1,14 Defisit <0,95Tabel.15. Rasio Produksi Dan Kebutuhan Jagung Propinsi Riau Tahun 2011
Produksi Kebutuhan Perimbangan
Rokan Hulu
492.006
1.267
3.936
(2.669)
0,32
Defisit
K a m p a r
713.078
3.146
5.705
(2.559)
0,55
Defisit
Pelalawan
312.738
18.361
2.502
15.859
7,34
Surplus
S i a k
390.359
491
3.123
(2.632)
0,16
Defisit
Rokan Hilir
573.211
774
4.586
(3.812)
0,17
Defisit
Bengkalis
516.348
469
4.131
(3.662)
0,11
Defisit
Kuantan Singingi.
302.674
389
2.421
(2.032)
0,16
Defisit
D u m a i
262.976
225
2.104
(1.879)
0,11
Defisit
Indragiri Hulu
376.578
841
3.013
(2.172)
0,28
Defisit
Indragiri Hilir
685.698
5.844
5.486
358
1,07
Berimbang
Pekanbaru
930.215
1.312
7.442
(6.130)
0,18
Defisit
Kep.Meranti
182.662
78
1.461
(1.383)
0,05
Defisit
Jumlah
5.738.543
33.197
45.908
(12.711)
Kabupaten/Kota
Jumlah
Penduduk
Jagung (Ton)
Rasio
0,72
Ket : Surplus > 1,14 Berimbang 0,95 - 1,14 Defisit <0,95Tabel.16. Rasio Produksi Dan Kebutuhan Kacang-Kacangan Provinsi Riau Tahun 2011
Produksi Kebutuhan Perimbangan
Rokan Hulu
492.006
745
1.968
(1.223)
0,38
Defisit
K a m p a r
713.078
983
2.852
(1.869)
0,34
Defisit
Pelalawan
312.738
56
1.251
(1.195)
0,04
Defisit
S i a k
390.359
107
1.561
(1.454)
0,07
Defisit
Rokan Hilir
573.211
95
2.293
(2.198)
0,04
Defisit
Bengkalis
516.348
48
2.065
(2.017)
0,02
Defisit
Kuantan Singingi.
302.674
174
1.211
(1.037)
0,14
Defisit
D u m a i
262.976
141
1.052
(911)
0,13
Defisit
Indragiri Hulu
376.578
148
1.506
(1.358)
0,10
Defisit
Indragiri Hilir
685.698
51
2.743
(2.692)
0,02
Defisit
Pekanbaru
930.215
133
3.721
(3.588)
0,04
Defisit
Kep.Meranti
182.662
6
731
(725)
0,01
Defisit
Jumlah
5.738.543
2.687
22.954
(20.267)
Kabupaten/Kota
Jumlah Penduduk
(Jiwa)
Kacang-kacangan (Ton)
Rasio
0,12
Ket : Surplus > 1,14 Berimbang 0,95 - 1,14 Defisit <0,95Tabel.17. Rasio Produksi Dan Kebutuhan Umbi-Umbian Provinsi Riau Tahun 2011
Produksi Kebutuhan Perimbangan
Rokan Hulu
492.006
6.925
3.444
3.481
2,01
Surplus
K a m p a r
713.078
21.556
4.992
16.564
4,32
Surplus
Pelalawan
312.738
5.991
2.189
3.802
2,74
Surplus
S i a k
390.359
5.199
2.733
2.466
1,90
Surplus
Rokan Hilir
573.211
4.027
4.012
15
1,00
Berimbang
Bengkalis
516.348
5.589
3.614
1.975
1,55
Surplus
Kuantan Singingi.
302.674
5.088
2.119
2.969
2,40
Surplus
D u m a i
262.976
7.210
1.841
5.369
3,92
Surplus
Indragiri Hulu
376.578
7.696
2.636
5.060
2,92
Surplus
Indragiri Hilir
685.698
3.887
4.800
(913)
0,81
Defisit
Pekanbaru
930.215
12.896
6.512
6.384
1,98
Surplus
Kep.Meranti
182.662
2.709
1.279
1.430
2,12
Surplus
Jumlah
5.738.543
88.773
40.170
48.603
Kabupaten/Kota
Jumlah
Penduduk
Umbi-umbian(Ton)
Rasio
2,21
Ket : Surplus > 1,14 Berimbang 0,95 - 1,14 Defisit <0,95Tabel.18. Rasio Produksi Dan Kebutuhan Kedelai Provinsi Riau Tahun 2011
Produksi Kebutuhan Perimbangan
Rokan Hulu
492.006 2.638 1.968 670 1,34 SurplusK a m p a r
713.078 731 2.852 (2.121) 0,26 DefisitPelalawan
312.738 53 1.251 (1.198) 0,04 DefisitS i a k
390.359 15 1.561 (1.546) 0,01 DefisitRokan Hilir
573.211 2.956 2.293 663 1,29 SurplusBengkalis
516.348 56 2.065 (2.009) 0,03 DefisitKuantan Singingi.
302.674 13 1.211 (1.198) 0,01 DefisitD u m a i
262.976 36 1.052 (1.016) 0,03 DefisitIndragiri Hulu
376.578 374 1.506 (1.132) 0,25 DefisitIndragiri Hilir
685.698 209 2.743 (2.534) 0,08 DefisitPekanbaru
930.215 19 3.721 (3.702) 0,01 DefisitKep.Meranti
182.662 - 731 (731) 0,00 Defisit Jumlah 5.738.543 7.100 22.954 (15.854) Kabupaten/KotaJumlah
Penduduk
Beras (Ton) Rasio 0,31 Ket : Surplus > 1,14 Berimbang 0,95 - 1,14 Defisit <0,95IV. PROGRAM STRATEGIS
IV.1. Lokasi Desa Mandiri Pangan Provinsi Riau
1 2 3 4 6 7 8 9
1. Kampar 1. Kampar Kiri 1. Sei Geringging 2006 60.000.000 2. Kampar Kiri Hulu 2.Tj Belit Selatan 2006 60.000.000
3. Kampar Kiri Hilir 3. Sei Petai 2007 80.000.000 4. Sei Simpang Duo 2007 80.000.000
4, XIII KotoKampar 5. Binamang 2007 80.000.000
6. PK Istqomah 2007 80.000.000
5, Tambang 7. Palung Raya 2008 80.000.000
-6. Kampar Kiri 8. Sei. Paku 2009 100.000.000
7. Kampar Utara 9. Sei. Jalau 2009 - 123.000.000
8. Kampar Kiri Tengah 10. Lubuk Sakai 2009 - 123.000.000
9.Salo 11. Sipungguk 2010 50.000.000
12.Rantau kasih 2010 100.000.000
10. XIII Koto Kampar 13. Koto Mesjid 2011 50.000.000
2. Pelalawan 1. Pelalawan 1. Sharing 2005 - 300.000.000
2. Langgam 2. Tambak 2006 60.000.000 3. Segati 2006 60.000.000 4. Sotol 2007 80.000.000 5. Langgam 2007 80.000.000
3. Teluk Meranti 6. Segamai 2008 - 100.000.000
7. Gambut Mutiara 2008 100.000.000
8. Teluk Binjai 2009 100.000.000
4. Pangkalan Kerinci 9. Rantau Baru 2009 100.000.000
5. Pelalawan 10. Tolam 2009 100.000.000
11 Rangsang 2009 100.000.000
12. Sei Ara 2008 80.000.000
6. Pangkalan Kuras 13. Betung 2010 50.000.000
7. Kerumutan 14. Tanjung Air Hitam 2010 100.000.000
8. Pkln Kerinci 15. Kuala Terusan 2011 50.000.000
APBD I APBD II
No. Kabupaten Kecamatan Desa Tahun Sumber dana
1 2 3 4 6 7 8 9 3. Indragiri Hulu 1. Kuala Cinaku 1. Kuala Cinaku 2006 60.000.000
2. Rengat 2. Rawa Bangun 2006 60.000.000
3. Kelayang 3. Pelangko 2007 80.000.000
4. Rakit Kulim 4. Kelayang 2007 80.000.000
5. Rakit Kulim 5. Lbk Sitarak 2007 - 80.000.000
6. Rengat Barat 6. Sei Dawu 2007 - 80.000.000
7. Batang Peranap 7. Suka Maju 2008 80.000.000
-8. Rengat Barat 8. Tanah Datar 2009 100.000.000
-9. Lirik 9. Wonosari 2010 50.000.000
10. Siberida 10. Paya Rumbai 2010 100.000.000
11. Rengat 11. Kampung Pulau 2011 50.000.000
4. Kuantan Singingi 1. Gunung Toar 1. Seberabah 2006 60.000.000 -2. Pulau Rumput 2006 60.000.000
-2. Pangean 3. Tanah Bakali 2007 80.000.000 -4. Pulau Deras 2007 80.000.000
-3. Kuantan Hilir 5. Pengalian 2007 - 80.000.000 6. Kpg. Tengah 2007 - 80.000.000 7. Kepala Pulau 2008 80.000.000
-APBD I APBD II
No. Kabupaten Kecamatan Desa Tahun Sumber dana
1 2 3 4 6 7 8 9
5. Indragiri Hilir 1. Batang Tuaka 1. Gemilang 2006 60.000.000
2. GaungAnak Serka 2. Rambaian 2006 60.000.000
3. GaungAnak Serka 3. Lahang Hulu 2007 80.000.000
4. Tbh. Hulu 4. Sialang Panjang 2007 80.000.000
5. Enok 5. Syuhada 2008 80.000.000
6. Tempuling 6. Teluk Jira 2009 100.000.000
7. Pekan Tua 2009 100.000.000
7. Gaung Anak Serka 8. Teluk Tuasan 2010 50.000.000
8. Tempuling 9. Teluk Kiambang 2011 50.000.000
6. Rokan Hulu 1. Bangun Purba 1. Bangun Purba Barat 2006 60.000.000
2. Kunto Darussalam 2. Sei Kuti 2006 60.000.000
3. Rambah Hilir 3. Lubuk Kerapat 2008 80.000.000 -
-4. Kepenuhan Hulu 4. Kepenuhan Hulu 2008 80.000.000
-5. Rambah 5. Sialang Jaya 2009 100.000.000
6. Karya Mulya 2009 100.000.000
6. Rambah Samo 7. Pasir Makmur 2010 50.000.000
7. Tambusai Utara 8. Simpang Harapan 2010 100.000.000
8. Rambah Hilir 9. Serembou Indah 2011 50.000.000
9. 2012 100.000.000
2012
APBD I APBD II
No. Kabupaten Kecamatan Desa Tahun Sumber dana
1 2 3 4 6 7 8 9
7. Bengkalis 1. Bengkalis 1. Tameran 2006 60.000.000
2. Siak Kecil 2. Lubuk Garam 2006 60.000.000
3. Bantan 3. Muntai 2007 80.000.000
4. Bukit Batu 4. Tj. Leban 2007 80.000.000
5. SiakKecil 5. Tj. Damai 2008 80.000.000
-6. Mandau 6. Kesumbu Ampai 2009 100.000.000
7. Balai Raja 50.000.000
7. Rupat 8. Teluk Pecah 50.000.000
8. Bukit Batu 9. Temiang 2010 50.000.000
9. Siak Kecil 10. Lubuk Muda 2011 50.000.000
8 Siak 1. Pusako 1 Dosan 2006 100.000.000
2 Sei Berbari 2006 100.000.000
2. Menpura 3. Kampung Tengah 50.000.000
3. Kota Gasip 4.Buatan I 2010 100.000.000
4. Kota Gasip 5. Teluk Rimba 2010 100.000.000
5. Sabak Auh 6. Sungai Tengah 2011 50.000.000
7.Blading 2011 100.000.000
6. 2012 100.000.000
100.000.000
9. Rokan Hilir 1. Batu Hampar 1. Bantaian 2006 100.000.000
2. Sinaboi 2 Sei. Nyamuk 2009 100.000.000
APBD I APBD II No. Kabupaten Kecamatan Desa Tahun Sumber dana
1 2 3 4 6 7 8 9
10. Dumai 1. Sei. Sembilan 1. Tanjung Penyembal 2009 100.000.000
2. Basilam Baru 2009 100.000.000
2. Medang Kampai 3. Basilam 2010 50.000.000
3. Medang Kampai 4. Mundam 2011 50.000.000
4. 2012 100.000.000
11. Kepulauan 1. Tebing Tinggi Barat 1. Alai 2009 100.000.000 Meranti
2. Tebing Tinggi 2. Banglas Barat 2011 50.000.000
12 Pekanbaru 1. Rumbai 1. Kel. Palas 2010 50.000.000
2. Rumbai 2.Muara Fajar 2010 100.000.000 3. Rumbai Pesisir 3. Tebing Tinggi 100.000.000
4. Rumbai Pesisir 4.Lembah Damai 2011 50.000.000
5. 2012 100.000.000
105 Desa 5.040.000.000 2.580.000.000 746.000.000 60 Desa 37 Desa 8 Desa
APBD I APBD II
No. Kabupaten Kecamatan Desa Tahun Sumber dana
IV.2. Lumbung Pangan Tahun 2012
No. Nama Kelompok Jumlah Bantuan Keterangan
1. Kabupaten : Indragiri Hulu Lumbung Pangan Mekar Jaya Rp. 20.000.000,- Penguatan Modal Lumbung Kecamatan : Kuala Cenaku
Desa : Tanjung Sari
2. Kabupaten : Indragiri Hulu Lumbung Pangan Karya Tani Rp. 20.000.000,- Penguatan Modal Lumbung Kecamatan : Kuala Cenaku
Desa : Kuala Cenaku
3. Kabupaten : Indragiri Hulu Lumbung Pangan Bina Sejahtera Rp. 20.000.000,- Penguatan Modal Lumbung Kecamatan : Kuala Cenaku
Desa : Pulau Jum'at
4. Kabupaten : Siak Lumbung Pangan Anugrah Utama Rp. 20.000.000,- Penguatan Modal Lumbung Kecamatan : Bunga Raya
Desa : Bunga Raya
5. Kabupaten : Siak Lumbung Pangan Gapoktan Rp. 20.000.000,- Penguatan Modal Lumbung Kecamatan : Sabak Auh Harapan Maju
Desa : Belading
6. Kabupaten : Kampar Lumbung Pangan Mekar Sari Rp. 20.000.000,- Penguatan Modal Lumbung Kecamatan : Kampar Kiri Hilir
Desa : Sungai Simpang Dua
7. Kabupaten : Rokan Hulu Lumbung Pangan Karya Makmur Rp. 20.000.000,- Penguatan Modal Lumbung Kecamatan : Rambah Samo
Desa : Karya Mulia
8. Kabupaten : Bengkalis Lumbung Pangan Suka Jadi Rp. 20.000.000,- Penguatan Modal Lumbung Kecamatan : Siak Kecil
IV.3.Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM)
Penumbuhan Penguatan Penumbuhan Penguatan Penumbuhan Penguatan
1 Bangun Tani
Rokan Hulu
Rambah
Pasir Baru
-
75.000.000
-
-
-
-
225.000.000
2 Rambah Baru
Rokan Hulu
Rambah samo Rambah Baru
-
75.000.000
-
-
-
-
225.000.000
3 Basilam Bersatu Dumai
Sungai Sembilan Basilam Baru
-
75.000.000
-
-
-
-
225.000.000
4 Lapoase
Indragiri Hilir
Reteh
Sanglar
-
-
150.000.000
-
-
75.000.000
225.000.000
5 Usaha Baru
Indragiri Hilir
Sungai Batang Benteng Utara
-
-
150.000.000
-
-
75.000.000
225.000.000
6 Bina tani
Rokan Hilir
Bangko
Parit Aman
-
-
150.000.000
-
-
75.000.000
225.000.000
7 Lemang Jaya
Indragiri Hilir
Keritang
Kuala Lemang
-
-
150.000.000
150.000.000
8 Maju Bersama
Indragiri Hilir
Keritang
Kuala Keritang
-
-
150.000.000
150.000.000
9 Tani Maju
Rokan Hilir
Rimba Melintang Pematang Sikek
-
-
150.000.000
150.000.000
Provinsi Riau ---
1.800.000.000
TAHUN 2012
TOTAL BANSOS
(Rp.)
NO NAMA KELOMPOK
KABUPATEN/
KOTA
KECAMATAN
TAHUN 2010
TAHUN 2011
DESA
ISTILAH
1. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak, diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan atau pembuatan makanan dan minuman.
2. Ketahanan pangan (UU NO.7 Tahun 1996) adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.
3. Mandiri pangan diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan yang dapat dicukupi oleh kemampuan sumberdaya yang dimiliki, dilihat dari bekerjanya subsistem ketersediaan, subsistem distribusi dan subsistem konsumsi pangan.
4. Desa Mandiri Pangan adalah desa/kelurahan yang
masyarakatnya mempunyai kemampuan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi melalui pengembangan subsistem ketersediaan, subsistem distribusi, dan subsistem konsumsi pangan dengan memanfaatkan sumberdaya setempat secara berkelanjutan.
5. Program Aksi adalah rancangan kegiatan untuk melaksanakan tujuan yang akan dicapai.
6. Program Aksi Desa Mandiri Pangan adalah gerakan yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan berkesinambungan untuk mewujudkan ketahanan pangan masyarakat, melalui pendekatan sub sistem ketersediaan, sub sistem distribusi dan sub sistem konsumsi.
9. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu proses dimana masyarakat atau mereka yang kurang beruntung dalam
sumberdaya pembangunan didorong untuk mandiri dan
mengembangkan kehidupan sendiri. Dalam proses ini masyarakat dibantu untuk mengkaji kebutuhan, masalah dan peluang dalam
pembangunan sesuai dengan lingkungan sosial ekonomi
kehidupan mereka sendiri.
10. Ketahanan pangan masyarakat adalah kondisi dimana seluruh anggota masyarakat (rumah tangga/individu) mendapatkan pangan yang aman, dapat diterima secara kultural, cukup, bergizi, secara berkelanjutan dengan memaksimalkan kemandirian masyarakat dan keadilan sosial.
11. Desa rawan pangan adalah kondisi suatu daerah yang tingkat ketersediaan, akses, dan/atau keamanan pangan sebagian masyarakat dan rumah tangganya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan.
12. Kemandirian adalah sikap kesadaran/kemampuan untuk
mengembalikan keadaan ke normal setelah terjadinya suatu tekanan, gejolak, atau bencana. Dalam keadaan normal, dimana tidak terjadi tekanan, bencana atau gejolak, maka kemandirian
dapat diartikan sebagai kesadaran/kemampuan untuk
meningkatkan keadaan masa depannya menjadi lebih baik tanpa bergantung pada orang lain.
13. Kemandirian pangan (UU No. 41 Tahun 2009) adalah kemampuan produksi pangan dalam negeri yang didukung kelembagaan ketahanan pangan yang mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup di tingkat rumah tangga, baik dalam jumlah, mutu, keamanan, maupun harga yang terjangkau, yang didukung oleh sumber-sumber pangan yang beragam sesuai dengan keragaman lokal.
14. Kelompok afinitas adalah kelompok yang tumbuh atas dasar ikatan kebersamaan dan kecocokan antar anggota yang mempunyai kesamaan visi dan misi dengan memperhatikan sosial budaya setempat.
15. Kelompok wanita adalah sekumpulan wanita dengan jumlah 20 - 30 orang dari anggota dasa wisma yang bergabung menjadi satu kelompok untuk melakukan gerakan penganekaragaman konsumsi
Kelompok sasaran adalah kelompok yang telah ada atau kelompok baru yang memiliki potensi untuk pengembangan lumbung pangan yang berasal dari desa tersebut, belum pernah mendapat penguatan modal, atau fasilitasi lain pada saat yang bersamaan atau pada tahun-tahun sebelumnya, menyediakan lahan yang mudah dijangkau dan tidak bersengketa untuk pembangunan fisik lumbung atas nama kelompok (Pedoman Teknis Pemberdayaan Lumbung Pangan Masyarakat)
17. Sekolah Lapangan Desa Mapan (SL-DMP) merupakan
pendekatan penyuluhan yang dilakukan melalui proses belajar orang dewasa di desa mandiri pangan dengan berbagi pengalaman antara pemandu dan peserta SL-DMP (desa replikasi) untuk menemukan dan mengembangkan sendiri pengetahuan, teknologi dan upaya mewujudkan kemandirian pangan.
18. Data Dasar Rumah Tangga (DDRT) adalah kegiatan pendataan lengkap (Sensus) rumah tangga untuk memperoleh gambaran karakteristik rumah tangga yang berada di dalamnya. Hasil dari pendataan tersebut adalah data dasar seluruh rumahtangga yang ada di suatu wilayah dan dapat melihat karakteristik rumah tangga serta mengidentifikasi rumah tangga miskin dan tidak miskin.
19. Rumah tangga miskin (RTM) adalah rumah tangga sasaran yang ditetapkan melalui survei DDRT dengan 13 indikator kemiskinan. Indikator Kemiskinan yang digunakan meliputi: (1). tingkat pendidikan, (2) jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan, (3) konsumsi pangan, (4) konsumsi non pangan, (5) modal (lahan, tabungan, hewan ternak), (6) sarana transportasi, (7) perabotan rumahtangga, (8) luas tempat tinggal, (9) kondisi tempat tinggal, (10) sumber air minum, (11) sumber penerangan, (12) asupan gizi, (13) porsi pangan antar anggota rumahtangga.
memupuk cadangan pangan dan memupuk modal dari usahanya dan dari anggotanya yang tergabung dalam wadah Gapoktan. Kegiatan Penguatan–LDPM dibiayai melalui APBN TA 2010 dengan mekanisme dana bantuan sosial (Bansos) yang disalurkan langsung kepada rekening Gapoktan.
23. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) adalah harga pembelian pemerintah untuk komoditas gabah/beras sesuai dengan Instruksi Presiden No. 7 tahun 2009 tentang Kebijakan Perberasan.
24. Harga Referensi Daerah (HRD) adalah harga referensi daerah untuk komoditas jagung yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Gubernur setempat.
25. Gabungan Kelompoktani (Gapoktan) adalah kumpulan beberapa kelompoktani yang bergabung dan bekerja sama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha (Permentan No: 273/Kpts/OT.160/ 4/2007).
26. Kelompok Tani (Poktan) adalah kumpulan petani yang tumbuh
berdasarkan kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi
lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk bekerjasama dalam meningkatkan, mengembangkan produktivitas usahatani, memanfaatkan sumberdaya pertanian, mendistribusikan hasil produksinya dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya. 27. Rencana Usaha Gapoktan (RUG) adalah rencana usaha yang
disusun oleh anggota kelompoktani secara sistematis dan partisipatif dalam memecahkan permasalahan–permasalahan yang
dihadapi petani/Poktan dalam
mendistribusikan/memasarkan/mengolah/menyimpan yang tidak dapat diselesaikan oleh petani/Poktan tersebut sehingga membutuhkan kerja sama dan dukungan dalam skala yang lebih besar.
28. Unit usaha distribusi/pemasaran milik Gapoktan adalah unit usaha yang dibentuk atas keinginan, kebutuhan, dan kesepakatan dari anggota Gapoktan untuk dapat mendistribusikan atau memasarkan hasil produksi (gabah/beras/ jagung) petani anggotanya dengan melakukan pembelian dan penjualan sehingga harga stabil di tingkat petani.
29. Unit usaha pengolahan milik Gapoktan adalah unit usaha yang dibentuk atas keinginan, kebutuhan, dan kesepakatan dari anggota
jagung hasil produksi petani anggotanya sehingga mampu meningkatkan nilai tambah produk petani.
30. Unit pengelola cadangan pangan adalah unit pengelolaan cadangan pangan yang dibentuk atas keinginan, kebutuhan dan kesepakatan dari anggota Gapoktan untuk dapat menyimpan pangan dalam jumlah yang cukup bagi anggotanya sehingga mampu mendekatkan akses pangan sepanjang waktu khususnya saat menghadapi musim paceklik.
31. Sentra produksi pangan (padi dan/atau jagung) adalah provinsi dan/atau kabupaten/kota yang produksi pangannya didominasi oleh komoditas padi dan/atau jagung.
32. Pemberdayaan Gapoktan adalah upaya untuk menciptakan, meningkatkan kapasitas dan kemandirian Gapoktan secara partisipatif agar mereka: (a) mampu menemukenali permasalahan yang terkait dalam penyediaan pangan di saat menghadapi musim
paceklik dan pendistribusian/pemasaran/pengolahan hasil
produksi petani; dan (b) mencari, merumuskan, dan memutuskan cara yang cepat dan tepat bagi anggotanya terhadap persoalan ketidakstabilan harga di tingkat petani, pemasaran hasil produksi petani, dan ketidak tersediaan pangan disaat paceklik.
33. Pendamping Penyuluh adalah Pertanian atau Petugas Lapangan yang diutamakan berpengalaman di bidang penyuluhan pertanian; 34. Pendampingan adalah proses pembimbingan dan pembinaan
yang dilakukan secara rutin oleh seorang pendamping kepada Gapoktan binaannya agar mereka mampu menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan secara partisipatif; menyusun dan menetapkan aturan dan sanksi secara musyawarah dan mufakat; memupuk dan mengatur dana sendiri; membangun dan mengembangkan jejaring kemitraan usaha dengan pihak lain diluar wilayahnya; memupuk rasa tanggungjawab terhadap organisasi
umum dikonsumsi/dimakan penduduk dalam jangka waktu tertentu.
38. Pangan Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman adalah aneka ragam bahan pangan, baik sumber karbohidrat, protein, maupun vitamin dan mineral, yang bila dikonsumsi dalam jumlah berimbang dapat memenuhi kecukupan gizi yang dianjurkan.
39. Pola Pangan Harapan (PPH) adalah susunan beragam pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari kelompok pangan utama (baik secara absolut maupun dari suatu pola ketersediaan dan atau konsumsi pangan)
40. Pangan Lokal adalah pangan baik sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral yang diproduksi dan dikembangkan sesuai dengan potensi sumber daya wilayah dan budaya setempat.
41. Pekarangan menurut G.J.A. Terra (ahli pertanian Belanda) adalah sebidang tanah darat (mencakup kolam) yang terletak langsung di sekeliling rumah, dengan batas-batas yang jelas (boleh berpagar, boleh tidak berpagar) ditanami dengan berbagai jenis tanaman. Oleh Mahfoedi (ahli pertanian Indonesia) definisi
ditambah dengan “masih mempunyai hubungan
pemilikan/fungsional dengan penghuninya. Menurut Prof. Otto
Sumarwoto, pekarangan merupakan suatu ekosistem yang
ditanami dengan berbagai tanaman yang masih mempunyai hubungan fungsional, sosial budaya, ekonomi dan biofisik.
42. Sosialisasi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman adalah menginformasikan (transfer kebiasaan) pola konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman kepada anak didik dan masyarakat, agar pengetahuan dan pemahamannya tentang penganekaragaman konsumsi pangan meningkat
43. Desa atau yang disebut dalam UU No. 32/2004 diartikan sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, berwewenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
44. Desa Pelaksana P2KP adalah desa yang melaksanakan kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) yang berlokasi di Desa PUAP, Desa Mandiri Pangan tahun ke-3, 4 (desa
45. Desa PUAP adalah desa pelaksana pengembangan agribisnis pedesaan sesuai dengan potensi pertanian desa sasaran melalui bantuan modal usaha.
46. Desa P4K adalah desa pelaksana gerakan penanggulangan
kemiskinan melalui pembinaan dan pendidikan untuk
memberdayakan Petani Nelayan Kecil (PNK) beserta keluarganya yang hidup di bawah garis kemiskinan, yaitu 320 kg setara beras per kapita per tahun.
47. Desa P4MI adalah desa pelaksana program peningkatan pendapatan petani melalui inovasi yang dananya bersumber dari ADB (Asian Development Bank).
48. Desa PIDRA (Participatory Integrated Development in Rainfed
Areas) adalah desa pelaksana program pemberdayaan
masyarakat di lahan kering yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga miskin di pedesaan.
49. SPFS (Special Programme For Food Security) adalah program peningkatan ketahanan pangan, revitalisasi ekonomi pedesaan dan pemberantasan kemiskinan yang bertujuan untuk peningkatan pendapatan dan perbaikan status gizi.
50. PRIMA TANI adalah suatu program rintisan dan akselerasi diseminasi inovasi teknologi dalam pembangunan pertanian dan pedesaan yang dilaksanakan bersifat integrative secara vertikal dan horizontal, diharapkan dapat menghasilkan keluaran yang
bermuara pada ketahanan pangan, daya saing melalui
peningkatan nilai tambah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
51. Dasa Wisma adalah kelompok yang terdiri atas 10 – 20 kepala keluarga di satu Rukun Tetangga (RT) dan dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.